Rabu, 29 Maret 2017

43. Mukmin bersaudara

"Sesama orang mukmin adalah bersaudara".
1. ”Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara. Oleh karena itu, damaikanlah antara kedua saudaramu ( yang berselisih), dan bertakwalah kepada Allah agar kamu mendapat rahmat “ QS Al-Hujurat (49:10)
2. Rasulullah SAW  bersabda: “Perumpamaan orang-orang mukmin dalam hal saling menyayangi, mencintai, dan mengasihi bagaikan satu tubuh. Apabila ada salah satu anggota tubuh yang sakit, maka seluruh tubuhnya akan merasakan sakit dan demam” (Hadis Sahih Muslim No.4685)
3. Mukmin (KBBI)=  adalah orang yang beriman kepada Allah SWT.

Selasa, 28 Maret 2017

42. Rektor ITS

Oleh : Joni Hermana.
Rektor ITS Surabaya.

Selamat pagi...
Sering saya ditanya mengapa ITS sekarang lebih mengutamakan kehidupan  spiritual kepada mahasiswanya. Saya sering menjawab, bukankah itu merupakan pengejawantahan dari sila pertama Pancasila yang menjadi ideologi negara kita, Indonesia.

Maka sangat wajar kalau saya memfasilitasi penuh kehidupan keberagamaan seluruh mahasiswanya. Yang muslim ya didorong jadi muslim yang baik, yang nasrani juga jadi kristen yang baik, yang hindu juga jadi hindu yang baik dan yang budha juga jagu budha yang baik.

Ini penting, sebab hidup kita akan lebih bermakna bila kita paham bahwa capaian dunia ini hanyalah sebagian kecil saja dari perjalanan panjang kehidupan kita sesungguhnya yang lebih abadi.

Ciba simak kutipan inspiratif di bawah ini yang menggugah...

Kutipan Inspiratif:

🍃 _*LIFE  GUIDE*_
     (Inspiration story)

Dulu dikala aku kecil, aku sll  mendpt peringkat 1 baik di tingkat SD, SMP, SMA

Semua merasa senang, ibu & ayah pun sll memelukku dg bangga.  Klrg  sgt senang melihat anaknya pintar & berprestasi.

Aku masuk perguruan tinggi ternama pun, tnp  embel2 test.

Org tua & teman2 ku merasa bangga thd diriku.

Tatkala aku kuliah IPK ku sll 4 & lulus  dg predikat cum laude.

Semua bahagia, para rektor menyalami ku &  merasa bangga memiliki mahasiswa spt diriku, jgn ditanya ttg org tua ku, tentunya mrk org yg paling bangga, bangga melihat anaknya lulus dg predikat cum laude. Teman2  seperjuangan ku pun gembira. Semua wajah memancarkan kebahagiaan.

Lulus dr perguruan tinggi aku bekerja disbh perusahan bonafit. Karirku sgt melejit & gajiku sgt besar.

Semua pun merasa bangga dg  diriku, semua rekan bisnisku sll menjabat tgn-ku, semua hormat &  mnghargai diriku, teman2 lama pun sll menyebut namaku sbg slh satu org sukses.

Namun ada sesuatu yg tak prnh kudptkan dlm perjalamnan hifupku slm ini. Hatiku sll kosomg & risau. Perasaan sepi sll memghantui hari2ku. Ya..aku terlalu mengejar dumiaku & mengabaikan akhiratku. Aku sedih...

Ketika aku berikrar utk berjuang bersama barisan pembela Rasulullah saw &  ku buang sgl title keduniaanku, kutinggalkan dunia ku utk mengejar akhirat & ridhaNya. Seketika itu pula dunia terasa berbalik. Yaa... Dunia spt berbalik. Ku putuskan utk mrantau &  memilih mempelajari ilmu Al-Qur'an & hadist & kuhafalkan Al-Qur'an 30 juz.

Semua org mencemooh &  memaki diriku. Tak ada lg pujian,  senyum kebanggan, peluk hangat dll. Yg ada hanyalah cacian.

Terkadang org memaki diriku, _"buat apa sekolah tinggi2 kalau akhirnya masuk pesantren._
_Dia itu org bodoh..! Udh punya pekerjaan enak ditinggalin..._

Berbagai caci & maki tertuju pd diriku, bahkan dr  klrg yg tak jarang membuat diriku sedih....

_"Apa ada lulusan perguruan tinggi terkenal masuk pondok tahfidz..?  Ga sayang apa udh dpt kerja enak, mau makan apa & dr mana lg..?_

Kata mereka..

Ya, pertanyaan2 itu trs menyerang & menyudutkan diriku.

Hingga suatu ketika..

Ketika fajar mulai menyingsing ku ajak ibu utk shalat berjamaah di masjid, masjid tmpt dimn aku biasa mnjd imam.

Ini adalah shalat subuh yg akan sll ku kenang.

Ku angkat tangan seraya mengucapkan takbir. _" Allaaahuu akbaar"_
ku agungkan Allah dg seagung2nya.

Ku baca doa iftitah dlm hati ku, berdesir hati ini rasanya....
Kulanjutkan membaca Al-Fatihah,
_Bismillahirrahmaanirrahiiim,_ (smp disini hati ku begetar), ku sebut namaNya yg maha pengasih & maha penyayang..

_Alhamdulillahirabbil alamiin..._
Ku panjatkan puji2an utk Rabb semesta alam..

Kulanjutkan bacaan lamat2, ku hayati surah al-fatihah dg seindah2nya tadabur, tnp terasa air mata jatuh membasahi wajahku....

Berat lidah ku utk melanjutkan ayat, _Arrahmaanirrahiim_,
ku lanjutkan ayat dg nada yg mulai bergetar....

_Malikiyaumiddin,_ kali ini aku sdh tak kuasa menahan tangisku.

_Iyyaka na'budu wa iyyaka nastaiin,_   "yaa Allah hanya kpdMu lah kami menyembah & hanya kpdMu lah kami meminta pertolongan."
Hati ku terasa tercabik2,  sering kali diri ini menuntut kpd  Allah utk memenuhi kebutuhanku, tp  aku lalai melaksanakan kewajibanku kpd-Mu.

Smp lah aku pd  akhir ayat dlm surah Al-Fatihah. Ku seka air mata &  ku tenangkan sejenak diriku.

Selanjutnya aku putuskan utk  membaca surah _Abasa'_. Ku hanyut dlm bacaan ku, terasa syahdu, hingga terdengar isak tangis jamaah sesekali. Bacaan trs mengalun, hingga smp lah pd ayat 34. Tangisku memecah sejadi2nya.

_Yauma yafirrul mar'u min akhii, wa ummihii wa abiih, wa shaahibatihi wa baniih, likullimriim minhum yauma idzin sya'nuy yughniih..._

Tangisku pun memecah, tak mampu ku lanjutkan ayat tsb, tubuhku terasa lemas....

Stlh shalat subuh selesai, dlm perjlnan plg, ibu bertanya : _"mengapa kamu menangis saat membaca ayat tadi, apa artinya..?"_

Aku hentikan langkahku & aku jelaskan pd ibu. Kutatap wajahnya dlm2 & aku berkata :

_"wahai ibu.._
_Ayat itu mnjelaskan ttg huru hara padang mahsyar saat kiamat nanti, semua akan lari meninggalkan sudaranya..._

_Ibunya..._
_Bapaknya.._
_Istri & anak2nya.._

_Semuanya sibuk dg urusannya masing2._

_Bila kita kaya org akan memuji dg  sebutan org yg berjaya...,_

_Namun ketika kiamat trjd apalah gunanya sgl puji2an manusia itu...._

_Semua akan meninggalkan kita. Bahkan ibupun akan meninggalkan aku.._

Ibu pun meneteskan air mata, ku seka air matanya...

Ku lanjutkan, _"Aku pun takut bu bila dimahsyar bekal yg ku bawa sedikit.."_

Pujian org yg ramai slm bertahun2 pun kini tak berguna lg...

Lalu knp org beramai2 menginginkan pujian & takut mendpt celaan. Apakah mrk tak menghiraukan kehidupan akhiratnya kelak...?

Ibu kembali memelukku &  tersenyum. Ibu mengatakan, _"betapa bahagianya punya anak spt dirimu..."_
Baru kali ini aku merasa bahagia, krn ibuku bangga thd diriku.

Brbagai pencapaian yg aku dpt dulu, walaupun ibu sama memeluk ku namun baru kali ini pelukan itu sgt membekas dlm jiwaku.

Wahai manusia sebenarnya apa yg kalian kejar..?
Dan apa pula yg mngejar kalian..?
Bukankah maut semakin hari semakin mndekat...?

Dunia yg menipu jgn smp menipu & membuat diri lupa pd negeri akhirat kelak...

Wahai saudaraku,
apakah kalian sadar nafas kalian hanya bbrp saat lagi..?

Seblm lubang kubur kalian akan digali..
Apa yg aku & kalian banggakan dihadapan Allah &  RasulNya kelak...?

Wallahua'lam...

https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=10155137818621950&id=718896949

Senin, 27 Maret 2017

42. BANK ES- A- TE

“BANK ES-A-TE”
Oleh: Drs. H. Yusron Hadi, M.M.
Kepala SMP Negeri 1 Balongbendo, Sidoarjo

         Lima tahun lalu. Kepala SMP Negeri Sidoarjo. Sebanyak 44 orang. Dari sekolah masing-masing. Berangkat menuju ke Malang. Memakai kendaraan sendiri. Beberapa orang bergabung dengan temannya. Termasuk saya. Dengan satu tujuan. Hotel Purnama, Batu, Malang.  Dalam acara Program MKKS Bermutu.
       Saya ikut menumpang mobil teman. Berangkat dari Bogi, Pademo Negoro, Sukodono. Pak Rodhi, sebagai joki yang mengendalikan “kuda”. Agar baik jalannya. Duduk di sebelah kiri Pak Rodhi adalah Pak Azhari. Si “Ahli Hisap”. Tentu saja, sambil kebul-kebul. Duduk dengan santai sambil merokok. Pak Azhari,  si “Kepala Suku”. Yang menentukan “abang ijonya” rombongan. Kapan berangkat. Jalur yang dilewati. Di mana mampir. Kapan berhenti untuk makan dan “pipis”.
       Di belakang Pak Rodhi, duduk Pak Hariono. Si “Raja Lokal” yang memiliki IP tinggi. Makna IP di sini, bukan hanya berarti Indeks Prestasi waktu kuliah.   Juga bermakna “Ilmu Pendekatan”. Terbukti, selama bertugas sebagai kepala sekolah. Selalu berada di lokasi yang dekat tinggalnya.       Pak Ari, berada di sebelah kiri Pak Hariono. Pak Ari mendapatkan julukan si “Panglima Pinggiran”. Laksana sebuah peperangan. Mulai dari pinggiran, kemudian menguasai pusat kota. Artinya, Pak Ari merasa “senang” dan “nyaman” bertugas di sekolah pinggiran. Sedangkan saya, duduk di dekat pintu mobil. Sebagai “kernet” yang membuka dan menutup pintu mobil. Agak mirip dengan Pak Ari.
      Kami menunggang mobil Toyota Avanza. Warna silver. Toyota Avanza, jenis mobil yang “ditakuti” sopir bis. Mengapa? Tidak bisa disalip. Percuma mendahului mobil Toyota Avanza. Ketika berhasil mendahului satu mobil Avanza. Ternyata, di depan bis, masih ada mobil Avanza lagi. Menyalip lagi. Masih ada lagi. Begitu seterusnya. Saking banyaknya.
      Selama perjalananan. Kami membahas topik “ngalor ngidul”. Bicara “nggedabrus”. Juga “ngomong blek”.  Sambil mendengarkan radio SS, Radio Suara Surabaya. Saat itu, Yoyong Burhanuddin, penyiar SS  menyampaikan telah terjadi peristiwa kejahatan. Di suatu Bank Surabaya.   Si pelaku menggunakan semacam isolasi “double tape”. Berusaha menghambat lubang masuk dan keluar Kartu ATM.  Kemudian penjahat memanfaatkan kejadian tersebut. Untuk melaksanakan niat jahatnya.

      Saya mengawali pembicaraan, “Bank yang ditakuti pedagang adalah Bank Krut”. Karena  pedagang yang “bangkrut”, berarti barang dagangan habis. Tetapi, uangnya juga ludes. Tak bersisa. “Bank yang amat menjengkelkan adalah Bank ES-A-TE,” ujar Pak Azhari. “Bank apa itu?” tanya Pak Hariono. “Bangsat!”, seru Pak Azhari. Kami tertawa bersama. Tapi, Pak Ari diam saja. Mengapa? “Gak lucu”, teriak Pak Ari. Sambil tersenyum. Kami tertawa meledak. Ya,  sungguh lucu. Wong humor kok tidak lucu. Berarti kan lucu!

41. BANK ES_A_TE

“BANK ES-A-TE”
Oleh: Drs. H. Yusron Hadi, M.M.
Kepala SMP Negeri 1 Balongbendo, Sidoarjo

         Lima tahun lalu. Kepala SMP Negeri Sidoarjo. Sebanyak 44 orang. Dari sekolah masing-masing. Berangkat menuju ke Malang. Memakai kendaraan sendiri. Beberapa orang bergabung dengan temannya. Termasuk saya. Dengan satu tujuan. Hotel Purnama, Batu, Malang.  Dalam acara Program MKKS Bermutu.
       Saya ikut menumpang mobil teman. Berangkat dari Bogi, Pademo Negoro, Sukodono. Pak Rodhi, sebagai joki yang mengendalikan “kuda”. Agar baik jalannya. Duduk di sebelah kiri Pak Rodhi adalah Pak Azhari. Si “Ahli Hisap”. Tentu saja, sambil kebul-kebul. Duduk dengan santai sambil merokok. Pak Azhari,  si “Kepala Suku”. Yang menentukan “abang ijonya” rombongan. Kapan berangkat. Jalur yang dilewati. Di mana mampir. Kapan berhenti untuk makan dan “pipis”.
       Di belakang Pak Rodhi, duduk Pak Hariono. Si “Raja Lokal” yang memiliki IP tinggi. Makna IP di sini, bukan hanya berarti Indeks Prestasi waktu kuliah.   Juga bermakna “Ilmu Pendekatan”. Terbukti, selama bertugas sebagai kepala sekolah. Selalu berada di lokasi yang dekat tinggalnya.       Pak Ari, berada di sebelah kiri Pak Hariono. Pak Ari mendapatkan julukan si “Panglima Pinggiran”. Laksana sebuah peperangan. Mulai dari pinggiran, kemudian menguasai pusat kota. Artinya, Pak Ari merasa “senang” dan “nyaman” bertugas di sekolah pinggiran. Sedangkan saya, duduk di dekat pintu mobil. Sebagai “kernet” yang membuka dan menutup pintu mobil. Agak mirip dengan Pak Ari.
      Kami menunggang mobil Toyota Avanza. Warna silver. Toyota Avanza, jenis mobil yang “ditakuti” sopir bis. Mengapa? Tidak bisa disalip. Percuma mendahului mobil Toyota Avanza. Ketika berhasil mendahului satu mobil Avanza. Ternyata, di depan bis, masih ada mobil Avanza lagi. Menyalip lagi. Masih ada lagi. Begitu seterusnya. Saking banyaknya.
      Selama perjalananan. Kami membahas topik “ngalor ngidul”. Bicara “nggedabrus”. Juga “ngomong blek”.  Sambil mendengarkan radio SS, Radio Suara Surabaya. Saat itu, Yoyong Burhanuddin, penyiar SS  menyampaikan telah terjadi peristiwa kejahatan. Di suatu Bank Surabaya.   Si pelaku menggunakan semacam isolasi “double tape”. Berusaha menghambat lubang masuk dan keluar Kartu ATM.  Kemudian penjahat memanfaatkan kejadian tersebut. Untuk melaksanakan niat jahatnya.

      Saya mengawali pembicaraan, “Bank yang ditakuti pedagang adalah Bank Krut”. Karena  pedagang yang “bangkrut”, berarti barang dagangan habis. Tetapi, uangnya juga ludes. Tak bersisa. “Bank yang amat menjengkelkan adalah Bank ES-A-TE,” ujar Pak Azhari. “Bank apa itu?” tanya Pak Hariono. “Bangsat!”, seru Pak Azhari. Kami tertawa bersama. Tapi, Pak Ari diam saja. Mengapa? “Gak lucu”, teriak Pak Ari. Sambil tersenyum. Kami tertawa meledak. Ya,  sungguh lucu. Wong humor kok tidak lucu. Berarti kan lucu!

Jumat, 24 Maret 2017

41. MANJAKAN ANAK

MANJAKAN ANAK

Cara menghancurkan anak paling mudah adalah dengan memanjakannya | memudahkannya dalam semua hal, menyediakan baginya semuanya

mungkin orangtua berpikir "dulu aku boleh susah, anakku jangan sampai sama" | jarang orangtua memahami, proses itu yang utama, bukan hasil

padahal susah itu yang membentuk seseorang, yang membuatnya tahan | sementara kemudahan yang datang sebelum waktunya itu merusak

apalagi kemudahan yang datang tanpa proses yang benar | akan jadi alasan, untuk tidak berjuang, untuk tidak berpayah dalam sesuatu

dan anak-anak kita berubah, jadi manusia yang tak kenal nikmat sejati | yaitu bahagia yang didapat setelah bersusah payah, melebihi batas

dan orangtua sering lupa, bahwa kesulitanlah yang membentuk mereka | bukan dimanja senantiasa, bukan dituruti segala maunya

ajarkan anak-anak kita untuk terbiasa dengan kehidupan | bimbing mereka menjalani prosesnya bukan hasilnya

bahwa tak semua yang mereka inginkan bisa mereka dapatkan | bahwa tak semua kondisi ideal, mereka harus terbiasa dengan itu

agar mereka mampu berkarya dalam keterbatasan | bersabar saat penantian dan bersyukur saat memiliki

yang terpenting, agar mereka memahami dunia ini bukan tujuan | tapi merekalah yang harus kendalikan dunia agar jadi bekal akhirat

Felix Siauw

Senin, 20 Maret 2017

39. SOLUSI MENGATASI MASALAH

39. SOLUSI MENGATASI MASALAH HIDUP SEHARI-HARI
Oleh: Drs. H. Yusron Hadi, M.M.
Kepala SMP Negeri 1 Balongbendo, Sidoarjo
      Dalam kehidupan sehari-hari. Sebagai manusia biasa, kita pasti tidak akan luput dari masalah atau persoalan hidup. Kalau kita cermati dengan seksama. Dalam menghadapi masalah atau persoalan yang hampir sama. Ternyata sikap kita berbeda-beda. Tidak sama. Ada orang yang menjadi panik, bingung, gugup, takut,  dan stres. Tetapi, ada pula yang tetap tenang dan adem ayem saja. Hal ini, dapat disimpulkan, bahwa masalah sebenarnya bukan terletak pada masalahnya. Bukan pada persoalannya. Tetapi, pada sikap kita dalam menghadapi masalah tersebut.
      KH. Abdullah Gymnastiar, pendakwah berasal dari Bandung. Mencoba memberikan resep dalam menghadapi masalah atau persoalan sehari-hari.
     Pertama, siap.  Yaitu siap menghadapi sesuatu yang sesuai dengan keinginan kita. Juga, bersedia menerima kenyataan yang tidak cocok dengan harapan kita. Sebagai manusia biasa, kita memang harus mempunyai cita-cita. Memiliki  keinginan yang benar dalam kehidupan ini. Bahkan, kita harus gigih berikhtiar. Berusaha sekuat pikiran dan tenaga untuk mencapai yang terbaik. Dalam kehidupan kita di dunia dan akhirat. Tetapi bersamaan dengan itu, kita harus sadar, Insaf,  dan tahu diri. Manusia hanya makhluk yang amat terbatas. 
      Dalam kehidupan ini. Sering terjadi sesuatu di luar kemampuan kita. Kita tidak mampu mencegahnya. Tak kuasa menolaknya. Jika kita salah bersikap, maka kita akan kecewa. Penuh keluh kesah. Hati menjadi kacau dan bancuh. Pikiran kusut tidak karuan.  Sungguh rugi, karena hidup di dunia hanya sekali. Kejadian yang tidak terduga pasti akan terjadi lagi. Manusia boleh mempunyai rencana. Allah Yang Mahakuasa juga memiliki rencana. Yakinlah, yang pasti terjadi adalah rencana Allah.
      Yang menarik, kita sering marah dan kecewa dengan suatu peristiwa. Tetapi setelah waktu berlalu, ternyata kejadian tersebut sangat menguntungkan. Membawa hikmah yang besar. Bahkan lebih baik daripada yang diharapkan. Percayalah, bahwa desain dan rancangan Allah Yang Mahahebat pasti lebih indah dan mengagumkan.
       Alkisah, seorang penjual tahu berangkat dini hari. Dari rumahnya  di desa. Setelah salat Subuh. Dia berjalan kaki melewati pematang sawah. Memanggul dagangannya. Ketika di pematang sawah, tiba-tiba pikulannya patah. Tampah berisi tahu di pikulan sebelah kiri masuk ke sawah. Yang sebelah kanan terbenam ke dalam kolam. Betapa kaget, sedih, dan merasa sangat sial. Belum berjualan modal sudah habis. Terbenam ke dalam lumpur. Dengan murung, kecewa, dan bercampur marah. Dia kembali ke rumah.
      Tetapi dua jam kemudian, datanglah berita yang sangat mengejutkan. Kendaraan yang ditumpangi para penjual tahu, mengalami musibah kecelakaan. Semua penumpangnya mengalami cedera berat, bahkan ada yang meninggal dunia. Hanya seorang penjual tahu yang selamat. Yang biasanya naik kendaraan tersebut. Yaitu dirinya. Subhanallah. Maha Suci Allah. Dua jam sebelumnya, patah pikulan dianggap kesialan. Nasib yang amat buruk. Tetapi, dua jam kemudian patah pikulan dianggap kemujuran luar biasa.
      Jadi, dalam menghadapi kegiatan apapun. Mari kita sempurnakan niat dan ikhtiar. Tetapi, bersamaan dengan itu, marilah kita siapkan hati kita. Untuk menerima apa pun yang terbaik menurut Allah Yang Mahamulia.
      Kedua, rida. Yaitu rela, suka, senang hati, dan ikhlas menerima sesuatu yang sudah terjadi. Meskipun kita marah dan kecewa. Kenyataannya sudah terjadi. Jadi, rela atau tidak rela terbukti sudah terjadi. Lebih baik kita rela saja menerimanya. Sikap ikhlas atau rela ini hanya amalan dalam hati. Kita menerima kenyataan yang sudah terjadi, tetapi pikiran dan tubuh kita wajib berusaha memperbaiki kenyataan. Dengan cara yang diridai Allah Yang Mahaadil. Kondisi hati yang tenang ini sangat membantu proses ikhtiar. Menjadi positif dan optimal.
      Mengapa? Orang yang stres adalah orang yang tidak siap mental. Tidak mau menerima kenyataan yang ada. Pikirannya selalu tidak sesuai dengan kenyataan. Sibuk menyesali sesuatu yang sudah tidak ada. Mengharapkan yang tidak mungkin terjadi. Sungguh sengsara yang dibuat sendiri. Jadi, hati kita harus rela menerima kenyataan apa pun yang sudah terjadi. Sambil berusaha memperbaiki kenyataan pada jalan yang diridahi Allah Swt. Swt. kependekan dari “Subhanahu wa taala.” Yang bermakna “Mahasuci lagi Mahatinggi.”
      Ketiga, jangan mempersulit diri. Allah berfirman dalam Alquran surah Alam Nasrah. Surah ke-94 ayat 5 dan 6. “ Sesungguhnya, bersama kesulitan itu ada kemudahan.” Sampai dua kali Allah Swt. menyampaikan janji-Nya. Tidak mungkin dalam hidup ini terus menerus dalam kesusahan. Dunia ini bukan neraka. Juga, tidak mungkin dalam hidup ini selamanya mudah dan lapang. Dunia ini bukan surga.
      Karena itu, dalam menghadapi persoalan hidup. Dalam menghadapi masalah. Jangan membesar-besarkan. Jangan mempersulit diri. Hal ini, akan menambah masalah menjadi lebih seram. Tampak Lebih ngeri daripada kenyataan sebenarnya. Yakinlah, bahwa Allah Yang Mahateliti pasti telah mengukur ujian yang menimpa kita. Pasti sesuai dengan takaran yang tepat dan presisi. Sesuai dengan keadaan dan kemampuan kita.
      Keempat, evaluasi diri. Yaitu menilai diri kita sendiri. Hidup ini laksana suara gaung di pegunungan. Apa yang kita bunyikan, suara itu akan kembali kepada diri kita sendiri. Segala yang terjadi adalah hasil perilaku yang kita kerjakan. Allah berfirman dalam Alquran surat Alzalzalah. Surat ke-99 ayat 7 dan 8. “Siapa saja yang megerjakan kebaikan seberat zarah, dia akan melihat balasannya. Siapa saja yang mengerjakan kejahatan seberat zarah, dia akan melihat balasannya.”
      Misalnya, sebuah kerikil mengenai kening kita. Kita harus rela. Kita pun harus merenung, mengapa Allah Swt. menimpakan kerikil ke kita. Lapangan sangat luas. Kepala begitu kecil. Mungkin itu peringatan bahwa kita sering lupa bersujud. Atau sujud kita lalai dari mengingat-Nya. Allah Swt. tidak mungkin menciptakan sesuatu dengan sia-sia. Pasti ada hikmahnya. Jangan kita terjebak hanya menyalahkan orang lain.
      Sikap emosi hanya memberikan  sedikit nilai tambah bagi pribadi kita. Bahkan bisa menimbulkan masalah baru. Jadi, marilah kita jadikan setiap masalah untuk mengevaluasi diri. Memperbaiki diri kita.
      Kelima, hanya Allah penolong kita. Allah berfirman dalam Alquran surah Attalak. Yang bermakna “perceraian”. Surat ke-65 ayat 2 dan 3. “Siapa saja yang bertakwa kepada Allah. Akan diberikan  jalan keluar dari setiap urusannya. Diberi rezeki dari arah yang tidak diduga. Siapa saja yang bertakwa kepada Allah. Akan dicukupi segala keperluannya”.
      Sesungguhnya, segala sesuatu bisa terjadi. Berupa nikmat atau musibah. Hanya dengan izin Allah Swt. Meskipun manusia dan jin bergabung untuk menjanjikan sesuatu, tidak akan pernah berhasil. Apabila  Allah Swt. tidak mengizinkan. Oleh karena itu, manusia paling bodoh yang berharap dan takut kepada selain Allah Swt.
      Jadi, hanya Allah Swt. penolong kita. Manusia hanya berasal (maaf) setetes sperma. Berjalan kemana-mana membawa kotoran dalam perutnya. Kelak ujungnya akan menjadi bangkai. Pendek kata, kita jangan takut menghadapi masalah. Tetapi, takutlah tidak mendapat pertolongan dari Allah Swt.
      Dengan lima pedoman. Yaitu siap, rida, jangan mempersulit diri, evaluasi diri, dan hanya Allah Swt. penolong kita. Semoga membuat masalah yang ada menjadi jalan pendidikan. Agar  kita semakin dewasa. Meluaskan pengalaman. Juga, Melipatgandakan pahala. Amin.

40. SOLUSI MENGATASI MASALAH

SOLUSI MENGATASI MASALAH HIDUP SEHARI-HARI
            Oleh: Drs. H. Yusron Hadi, M.M.
Kepala SMP Negeri 1 Balongbendo, Sidoarjo

      Dalam kehidupan sehari-hari. Sebagai manusia biasa, kita pasti tidak akan luput dari masalah atau persoalan hidup. Kalau kita cermati dengan seksama. Dalam menghadapi masalah atau persoalan yang hampir sama. Ternyata sikap kita berbeda-beda. Tidak sama. Ada orang yang menjadi panik, bingung, gugup, takut,  dan stres. Tetapi, ada pula yang tetap tenang dan adem ayem saja. Hal ini, dapat disimpulkan, bahwa masalah sebenarnya bukan terletak pada masalahnya. Bukan pada persoalannya. Tetapi, pada sikap kita dalam menghadapi masalah tersebut.
      KH. Abdullah Gymnastiar, pendakwah berasal dari Bandung. Mencoba memberikan resep dalam menghadapi masalah atau persoalan sehari-hari.
     Pertama, siap.  Yaitu siap menghadapi sesuatu yang sesuai dengan keinginan kita. Juga, bersedia menerima kenyataan yang tidak cocok dengan harapan kita. Sebagai manusia biasa, kita memang harus mempunyai cita-cita. Memiliki  keinginan yang benar dalam kehidupan ini. Bahkan, kita harus gigih berikhtiar. Berusaha sekuat pikiran dan tenaga untuk mencapai yang terbaik. Dalam kehidupan kita di dunia dan akhirat. Tetapi bersamaan dengan itu, kita harus sadar, Insaf,  dan tahu diri. Manusia hanya makhluk yang amat terbatas.  
      Dalam kehidupan ini. Sering terjadi sesuatu di luar kemampuan kita. Kita tidak mampu mencegahnya. Tak kuasa menolaknya. Jika kita salah bersikap, maka kita akan kecewa. Penuh keluh kesah. Hati menjadi kacau dan bancuh. Pikiran kusut tidak karuan.  Sungguh rugi, karena hidup di dunia hanya sekali. Kejadian yang tidak terduga pasti akan terjadi lagi. Manusia boleh mempunyai rencana. Allah Yang Mahakuasa juga memiliki rencana. Yakinlah, yang pasti terjadi adalah rencana Allah.
      Yang menarik, kita sering marah dan kecewa dengan suatu peristiwa. Tetapi setelah waktu berlalu, ternyata kejadian tersebut sangat menguntungkan. Membawa hikmah yang besar. Bahkan lebih baik daripada yang diharapkan. Percayalah, bahwa desain dan rancangan Allah Yang Mahahebat pasti lebih indah dan mengagumkan.
       Alkisah, seorang penjual tahu berangkat dini hari. Dari rumahnya  di desa. Setelah salat Subuh. Dia berjalan kaki melewati pematang sawah. Memanggul dagangannya. Ketika di pematang sawah, tiba-tiba pikulannya patah. Tampah berisi tahu di pikulan sebelah kiri masuk ke sawah. Yang sebelah kanan terbenam ke dalam kolam. Betapa kaget, sedih, dan merasa sangat sial. Belum berjualan modal sudah habis. Terbenam ke dalam lumpur. Dengan murung, kecewa, dan bercampur marah. Dia kembali ke rumah.
      Tetapi dua jam kemudian, datanglah berita yang sangat mengejutkan. Kendaraan yang ditumpangi para penjual tahu, mengalami musibah kecelakaan. Semua penumpangnya mengalami cedera berat, bahkan ada yang meninggal dunia. Hanya seorang penjual tahu yang selamat. Yang biasanya naik kendaraan tersebut. Yaitu dirinya. Subhanallah. Maha Suci Allah. Dua jam sebelumnya, patah pikulan dianggap kesialan. Nasib yang amat buruk. Tetapi, dua jam kemudian patah pikulan dianggap kemujuran luar biasa.
      Jadi, dalam menghadapi kegiatan apapun. Mari kita sempurnakan niat dan ikhtiar. Tetapi, bersamaan dengan itu, marilah kita siapkan hati kita. Untuk menerima apa pun yang terbaik menurut Allah Yang Mahamulia.
      Kedua, rida. Yaitu rela, suka, senang hati, dan ikhlas menerima sesuatu yang sudah terjadi. Meskipun kita marah dan kecewa. Kenyataannya sudah terjadi. Jadi, rela atau tidak rela terbukti sudah terjadi. Lebih baik kita rela saja menerimanya. Sikap ikhlas atau rela ini hanya amalan dalam hati. Kita menerima kenyataan yang sudah terjadi, tetapi pikiran dan tubuh kita wajib berusaha memperbaiki kenyataan. Dengan cara yang diridai Allah Yang Mahaadil. Kondisi hati yang tenang ini sangat membantu proses ikhtiar. Menjadi positif dan optimal.
      Mengapa? Orang yang stres adalah orang yang tidak siap mental. Tidak mau menerima kenyataan yang ada. Pikirannya selalu tidak sesuai dengan kenyataan. Sibuk menyesali sesuatu yang sudah tidak ada. Mengharapkan yang tidak mungkin terjadi. Sungguh sengsara yang dibuat sendiri. Jadi, hati kita harus rela menerima kenyataan apa pun yang sudah terjadi. Sambil berusaha memperbaiki kenyataan pada jalan yang diridahi Allah Swt. Swt. kependekan dari “Subhanahu wa taala.” Yang bermakna “Mahasuci lagi Mahatinggi.”
      Ketiga, jangan mempersulit diri. Allah berfirman dalam Alquran surah Alam Nasrah. Surah ke-94 ayat 5 dan 6. “ Sesungguhnya, bersama kesulitan itu ada kemudahan.” Sampai dua kali Allah Swt. menyampaikan janji-Nya. Tidak mungkin dalam hidup ini terus menerus dalam kesusahan. Dunia ini bukan neraka. Juga, tidak mungkin dalam hidup ini selamanya mudah dan lapang. Dunia ini bukan surga.
      Karena itu, dalam menghadapi persoalan hidup. Dalam menghadapi masalah. Jangan membesar-besarkan. Jangan mempersulit diri. Hal ini, akan menambah masalah menjadi lebih seram. Tampak Lebih ngeri daripada kenyataan sebenarnya. Yakinlah, bahwa Allah Yang Mahateliti pasti telah mengukur ujian yang menimpa kita. Pasti sesuai dengan takaran yang tepat dan presisi. Sesuai dengan keadaan dan kemampuan kita.
      Keempat, evaluasi diri. Yaitu menilai diri kita sendiri. Hidup ini laksana suara gaung di pegunungan. Apa yang kita bunyikan, suara itu akan kembali kepada diri kita sendiri. Segala yang terjadi adalah hasil perilaku yang kita kerjakan. Allah berfirman dalam Alquran surat Alzalzalah. Surat ke-99 ayat 7 dan 8. “Siapa saja yang megerjakan kebaikan seberat zarah, dia akan melihat balasannya. Siapa saja yang mengerjakan kejahatan seberat zarah, dia akan melihat balasannya.”
      Misalnya, sebuah kerikil mengenai kening kita. Kita harus rela. Kita pun harus merenung, mengapa Allah Swt. menimpakan kerikil ke kita. Lapangan sangat luas. Kepala begitu kecil. Mungkin itu peringatan bahwa kita sering lupa bersujud. Atau sujud kita lalai dari mengingat-Nya. Allah Swt. tidak mungkin menciptakan sesuatu dengan sia-sia. Pasti ada hikmahnya. Jangan kita terjebak hanya menyalahkan orang lain.
      Sikap emosi hanya memberikan  sedikit nilai tambah bagi pribadi kita. Bahkan bisa menimbulkan masalah baru. Jadi, marilah kita jadikan setiap masalah untuk mengevaluasi diri. Memperbaiki diri kita.
      Kelima, hanya Allah penolong kita. Allah berfirman dalam Alquran surah Attalak. Yang bermakna “perceraian”. Surat ke-65 ayat 2 dan 3. “Siapa saja yang bertakwa kepada Allah. Akan diberikan  jalan keluar dari setiap urusannya. Diberi rezeki dari arah yang tidak diduga. Siapa saja yang bertakwa kepada Allah. Akan dicukupi segala keperluannya”.
      Sesungguhnya, segala sesuatu bisa terjadi. Berupa nikmat atau musibah. Hanya dengan izin Allah Swt. Meskipun manusia dan jin bergabung untuk menjanjikan sesuatu, tidak akan pernah berhasil. Apabila  Allah Swt. tidak mengizinkan. Oleh karena itu, manusia paling bodoh yang berharap dan takut kepada selain Allah Swt.
      Jadi, hanya Allah Swt. penolong kita. Manusia hanya berasal (maaf) setetes sperma. Berjalan kemana-mana membawa kotoran dalam perutnya. Kelak ujungnya akan menjadi bangkai. Pendek kata, kita jangan takut menghadapi masalah. Tetapi, takutlah tidak mendapat pertolongan dari Allah Swt.
      Dengan lima pedoman. Yaitu siap, rida, jangan mempersulit diri, evaluasi diri, dan hanya Allah Swt. penolong kita. Semoga membuat masalah yang ada menjadi jalan pendidikan. Agar  kita semakin dewasa. Meluaskan pengalaman. Juga, Melipatgandakan pahala. Amin.