Minggu, 24 September 2017

296. YAKIN

PENGARUH KEYAKINAN ADANYA HARI KIAMAT
Oleh: Drs. H. M. Yusron Hadi, M.M.

        Beberapa orang bertanya,”Mohon dijelaskan tentang Pengaruh Keyakinan Tentang Datangnya Hari Kiamat?” Profesor Quraish Shihab menjelaskannya.
       Al-Quran menghendaki agar keyakinan akan adanya hari kiamat bisa mengantarkan manusia untuk melakukan aktivitas dan kegiatan yang positif dalam hidupnya, meskipun aktivitas dan kegiatan itu tidak menghasilkan keuntungan materi dalam kehidupan dunianya.
      Al-Quran surah Al-Maun, surah ke-107 ayat 1-7.

أَرَأَيْتَ الَّذِي يُكَذِّبُ بِالدِّينِ  فَذَٰلِكَ الَّذِي يَدُعُّ الْيَتِيمَ   وَلَا يَحُضُّ عَلَىٰ طَعَامِ الْمِسْكِينِ فَوَيْلٌ لِلْمُصَلِّينَ الَّذِينَ هُمْ عَنْ صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ     الَّذِينَ هُمْ يُرَاءُونَ   وَيَمْنَعُونَ الْمَاعُونَ

      “Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama?  Itulah orang yang menghardik anak yatim, dan tidak menganjurkan memberikan makanan kepada orang miskin. Maka kecelakaan bagi orang-orang yang salat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari salatnya, orang-orang yang berbuat ria, dan enggan (menolong dengan) barang berguna”.
       Dalam beberapa riwayat, dikemukakan bahwa surat Al-Maun, surah ke-107  tersebut turun berkenaan dengan Abu Sufyan dan Abu Jahal, yang setiap minggu menyembelih seekor unta. Suatu ketika, seorang anak yatim datang kepadanya meminta sedikit daging yang telah disembelih itu, tetapi dia tidak diberinya daging, malahan dihardik dan diusirnya.
      Surat Al-Maun, surah ke-107 dimulai dengan satu pertanyaan, “Tahukah kamu orang yang mendustakan “ad-din”? Kata “ad-din” dalam surat ini yang sangat populer, diartikan dengan “agama”, tetapi “ad-din” dapat berarti “pembalasan”.
     Maka  “yukadzdzibu biddin” bisa diartikan “menolak adanya hari kiamat” atau hari pembalasan atau hari akhir, karena apabila terdapat ayat Al-Quran yang menggandengkan kata “ad-din” dengan “yukadzdzibu”, maka konteknya adalah “pengingkaran terhadap hari kiamat”.
      Al-Quran surah Al-Infithar, surah ke-82 ayat 9.

كَلَّا بَلْ تُكَذِّبُونَ بِالدِّينِ

      “Bukan hanya durhaka saja, bahkan kamu mendustakan hari pembalasan”.
      Al-Quran surah At-Tin, surah ke-95 ayat 7.

فَمَا يُكَذِّبُكَ بَعْدُ بِالدِّينِ

.     “Maka apakah yang menyebabkan kamu mendustakan (hari) pembalasan sesudah (adanya keterangan) itu?”
      Sikap orang yang enggan membantu anak yatim dan orang miskin karena mereka menduga bahwa bantuannya tidak menghasilkan apa-apa, hal ini  muncul pada hakikatnya karena mereka tidak percaya akan datangnya hari kiamat dan hari pembalasan.
     Orang yang beriman dan yakin akan datangnya hari kiamat dan hari pembalasan, pasti meyakini bahwa semua bantuan yang telah diberikan kepada anak yatim dan fakir miskin apabila tidak menghasilkan sesuatu di dunia sekarang  ini, maka pasti ganjaran atau balasan perbuatannya akan diperoleh di akhirat kelak.
     Orang yang meyakini terjadinya hari kiamat dan hari pembalasan, pasti percaya  bahwa Allah akan membalas semua amal baik seseorang, sekecil apa pun bentuknya.
     Orang yang hanya memandang segala sesuatu berlaku di dunia saja, dan tidak meyakini adanya hari kiamat, akan menimbulkan sikap penolakan dan pendustaan terhadap “ad-din”, dalam arti “agama” maupun “hari pembalasan”.
      Kata “ad-din” menuntut adanya kepercayaan kepada yang gaib, bukan sekadar yakin kepada Allah dan malaikat-Nya,  tetapi berkaitan dengan banyak hal, termasuk yakin dengan janji Allah yang akan melipatgandakan anugerah-Nya kepada setiap orang yang memberikan bantuan.
    Kepercayaan dan keyakinan terhadap semua janji Allah, akan melebihi keyakinannya menyangkut segala sesuatu yang didasari oleh perhitungan untung dan rugi menurut akalnya saja.
     Sehingga, meskipun akalnya membisikkan bahwa “sikap yang akan diambilnya akan merugikan dan tidak menguntungkan”, tetapi dorongan jiwanya yang percaya akan mengantarkan untuk melakukannya karena sejalan dengan keyakinannya.
     “Apa yang berada di tangan Allah lebih meyakinkan daripada apa yang terdapat dalam genggaman tangan sendiri”.
      Dengan pertanyaan tersebut, ayat pertama surat Al-Ma’un, surah ke-107 ini mengajak manusia untuk menyadari salah satu bukti utama kesadaran beragama atau kesadaran berkeyakinan tentang adanya hari akhir.
     Surat Al-Maun, surah ke-107 yang terdiri atas tujuh ayat pendek berbicara tentang suatu hakikat yang sangat penting, yang terlihat secara tegas dan jelas bahwa ajaran Islam tidak memisahkan upacara ritual dan ibadah sosial.
     Ajaran Islam sebagaimana tergambar dalam ayat Al-Quran di atas menekankan bahwa ibadah dalam pengertiannya yang sempit pun mengandung dalam jiwanya dimensi sosial, sehingga jika jiwa ajaran tersebut tidak dipenuhi maka pelaksanaan ibadah dimaksud tidak akan banyak artinya.
      Hakikat pembenaran “ad-din” bukan hanya dengan ucapan dengan lidah, tetapi  perubahan dalam jiwa yang mendorong kepada kebaikan dan kebajikan terhadap sesama manusia yang membutuhkan pelayanan dan perlindungan.
    Allah tidak menghendaki dari manusia kalimat yang hanya dituturkan saja, tetapi yang dikehendaki-Nya adalah karya nyata, yang membenarkan (kalimat yang diucapkan itu).
      Para ahli berdiskusi yang menyita waktu dan energi mereka, khususnya detail kebangkitan tersebut apakah kebangkitan ruh dan jasad atau hanya ruh saja.
      Apa pun bentuk kebangkitan tersebut, apakah dengan ruh dan jasad atau dengan ruh saja, yang pokok adalah bahwa ketika itu setiap manusia mengenal dirinya, tidak kurang dari pengenalannya ketika dia hidup di dunia.
      Adapun keterangan tentang hakikat kebangkitan, bentuk, waktu dan tempatnya, maka semuanya berada di luar tuntunan agama. Karena itu, sangat boleh jadi pembahasan para filosof dan ulama tentang soal tersebut lebih banyak didorong oleh kepentingan kepuasan penalaran akal daripada dorongan kehangatan iman.
Daftar Pustaka
1. Shihab, M.Quraish. Lentera Hati. Kisah dan Hikmah Kehidupan. Penerbit Mizan, 1994.  
2. Shihab, M. Quraish Shihab. Wawasan Al-Quran. Tafsir Maudhui atas Perbagai Persoalan Umat. Penerbit Mizan, 2009.
3. Shihab, M.Quraish. E-book Membumikan Al-Quran.
4. Al-Quran Digital, Versi 3.2. Digital Qur’an Ver 3.2
5. Tafsirq.com online.

296. YAKIN

PENGARUH KEYAKINAN ADANYA HARI KIAMAT
Oleh: Drs. H. M. Yusron Hadi, M.M.

        Beberapa orang bertanya,”Mohon dijelaskan tentang Pengaruh Keyakinan Tentang Datangnya Hari Kiamat?” Profesor Quraish Shihab menjelaskannya.
       Al-Quran menghendaki agar keyakinan akan adanya hari kiamat bisa mengantarkan manusia untuk melakukan aktivitas dan kegiatan yang positif dalam hidupnya, meskipun aktivitas dan kegiatan itu tidak menghasilkan keuntungan materi dalam kehidupan dunianya.
      Al-Quran surah Al-Maun, surah ke-107 ayat 1-7.

أَرَأَيْتَ الَّذِي يُكَذِّبُ بِالدِّينِ  فَذَٰلِكَ الَّذِي يَدُعُّ الْيَتِيمَ   وَلَا يَحُضُّ عَلَىٰ طَعَامِ الْمِسْكِينِ فَوَيْلٌ لِلْمُصَلِّينَ الَّذِينَ هُمْ عَنْ صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ     الَّذِينَ هُمْ يُرَاءُونَ   وَيَمْنَعُونَ الْمَاعُونَ

      “Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama?  Itulah orang yang menghardik anak yatim, dan tidak menganjurkan memberikan makanan kepada orang miskin. Maka kecelakaan bagi orang-orang yang salat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari salatnya, orang-orang yang berbuat ria, dan enggan (menolong dengan) barang berguna”.
       Dalam beberapa riwayat, dikemukakan bahwa surat Al-Maun, surah ke-107  tersebut turun berkenaan dengan Abu Sufyan dan Abu Jahal, yang setiap minggu menyembelih seekor unta. Suatu ketika, seorang anak yatim datang kepadanya meminta sedikit daging yang telah disembelih itu, tetapi dia tidak diberinya daging, malahan dihardik dan diusirnya.
      Surat Al-Maun, surah ke-107 dimulai dengan satu pertanyaan, “Tahukah kamu orang yang mendustakan “ad-din”? Kata “ad-din” dalam surat ini yang sangat populer, diartikan dengan “agama”, tetapi “ad-din” dapat berarti “pembalasan”.
     Maka  “yukadzdzibu biddin” bisa diartikan “menolak adanya hari kiamat” atau hari pembalasan atau hari akhir, karena apabila terdapat ayat Al-Quran yang menggandengkan kata “ad-din” dengan “yukadzdzibu”, maka konteknya adalah “pengingkaran terhadap hari kiamat”.
      Al-Quran surah Al-Infithar, surah ke-82 ayat 9.

كَلَّا بَلْ تُكَذِّبُونَ بِالدِّينِ

      “Bukan hanya durhaka saja, bahkan kamu mendustakan hari pembalasan”.
      Al-Quran surah At-Tin, surah ke-95 ayat 7.

فَمَا يُكَذِّبُكَ بَعْدُ بِالدِّينِ

.     “Maka apakah yang menyebabkan kamu mendustakan (hari) pembalasan sesudah (adanya keterangan) itu?”
      Sikap orang yang enggan membantu anak yatim dan orang miskin karena mereka menduga bahwa bantuannya tidak menghasilkan apa-apa, hal ini  muncul pada hakikatnya karena mereka tidak percaya akan datangnya hari kiamat dan hari pembalasan.
     Orang yang beriman dan yakin akan datangnya hari kiamat dan hari pembalasan, pasti meyakini bahwa semua bantuan yang telah diberikan kepada anak yatim dan fakir miskin apabila tidak menghasilkan sesuatu di dunia sekarang  ini, maka pasti ganjaran atau balasan perbuatannya akan diperoleh di akhirat kelak.
     Orang yang meyakini terjadinya hari kiamat dan hari pembalasan, pasti percaya  bahwa Allah akan membalas semua amal baik seseorang, sekecil apa pun bentuknya.
     Orang yang hanya memandang segala sesuatu berlaku di dunia saja, dan tidak meyakini adanya hari kiamat, akan menimbulkan sikap penolakan dan pendustaan terhadap “ad-din”, dalam arti “agama” maupun “hari pembalasan”.
      Kata “ad-din” menuntut adanya kepercayaan kepada yang gaib, bukan sekadar yakin kepada Allah dan malaikat-Nya,  tetapi berkaitan dengan banyak hal, termasuk yakin dengan janji Allah yang akan melipatgandakan anugerah-Nya kepada setiap orang yang memberikan bantuan.
    Kepercayaan dan keyakinan terhadap semua janji Allah, akan melebihi keyakinannya menyangkut segala sesuatu yang didasari oleh perhitungan untung dan rugi menurut akalnya saja.
     Sehingga, meskipun akalnya membisikkan bahwa “sikap yang akan diambilnya akan merugikan dan tidak menguntungkan”, tetapi dorongan jiwanya yang percaya akan mengantarkan untuk melakukannya karena sejalan dengan keyakinannya.
     “Apa yang berada di tangan Allah lebih meyakinkan daripada apa yang terdapat dalam genggaman tangan sendiri”.
      Dengan pertanyaan tersebut, ayat pertama surat Al-Ma’un, surah ke-107 ini mengajak manusia untuk menyadari salah satu bukti utama kesadaran beragama atau kesadaran berkeyakinan tentang adanya hari akhir.
     Surat Al-Maun, surah ke-107 yang terdiri atas tujuh ayat pendek berbicara tentang suatu hakikat yang sangat penting, yang terlihat secara tegas dan jelas bahwa ajaran Islam tidak memisahkan upacara ritual dan ibadah sosial.
     Ajaran Islam sebagaimana tergambar dalam ayat Al-Quran di atas menekankan bahwa ibadah dalam pengertiannya yang sempit pun mengandung dalam jiwanya dimensi sosial, sehingga jika jiwa ajaran tersebut tidak dipenuhi maka pelaksanaan ibadah dimaksud tidak akan banyak artinya.
      Hakikat pembenaran “ad-din” bukan hanya dengan ucapan dengan lidah, tetapi  perubahan dalam jiwa yang mendorong kepada kebaikan dan kebajikan terhadap sesama manusia yang membutuhkan pelayanan dan perlindungan.
    Allah tidak menghendaki dari manusia kalimat yang hanya dituturkan saja, tetapi yang dikehendaki-Nya adalah karya nyata, yang membenarkan (kalimat yang diucapkan itu).
      Para ahli berdiskusi yang menyita waktu dan energi mereka, khususnya detail kebangkitan tersebut apakah kebangkitan ruh dan jasad atau hanya ruh saja.
      Apa pun bentuk kebangkitan tersebut, apakah dengan ruh dan jasad atau dengan ruh saja, yang pokok adalah bahwa ketika itu setiap manusia mengenal dirinya, tidak kurang dari pengenalannya ketika dia hidup di dunia.
      Adapun keterangan tentang hakikat kebangkitan, bentuk, waktu dan tempatnya, maka semuanya berada di luar tuntunan agama. Karena itu, sangat boleh jadi pembahasan para filosof dan ulama tentang soal tersebut lebih banyak didorong oleh kepentingan kepuasan penalaran akal daripada dorongan kehangatan iman.
Daftar Pustaka
1. Shihab, M.Quraish. Lentera Hati. Kisah dan Hikmah Kehidupan. Penerbit Mizan, 1994.  
2. Shihab, M. Quraish Shihab. Wawasan Al-Quran. Tafsir Maudhui atas Perbagai Persoalan Umat. Penerbit Mizan, 2009.
3. Shihab, M.Quraish. E-book Membumikan Al-Quran.
4. Al-Quran Digital, Versi 3.2. Digital Qur’an Ver 3.2
5. Tafsirq.com online.

296. YAKIN

PENGARUH KEYAKINAN ADANYA HARI KIAMAT
Oleh: Drs. H. M. Yusron Hadi, M.M.

        Beberapa orang bertanya,”Mohon dijelaskan tentang Pengaruh Keyakinan Tentang Datangnya Hari Kiamat?” Profesor Quraish Shihab menjelaskannya.
       Al-Quran menghendaki agar keyakinan akan adanya hari kiamat bisa mengantarkan manusia untuk melakukan aktivitas dan kegiatan yang positif dalam hidupnya, meskipun aktivitas dan kegiatan itu tidak menghasilkan keuntungan materi dalam kehidupan dunianya.
      Al-Quran surah Al-Maun, surah ke-107 ayat 1-7.

أَرَأَيْتَ الَّذِي يُكَذِّبُ بِالدِّينِ  فَذَٰلِكَ الَّذِي يَدُعُّ الْيَتِيمَ   وَلَا يَحُضُّ عَلَىٰ طَعَامِ الْمِسْكِينِ فَوَيْلٌ لِلْمُصَلِّينَ الَّذِينَ هُمْ عَنْ صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ     الَّذِينَ هُمْ يُرَاءُونَ   وَيَمْنَعُونَ الْمَاعُونَ

      “Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama?  Itulah orang yang menghardik anak yatim, dan tidak menganjurkan memberikan makanan kepada orang miskin. Maka kecelakaan bagi orang-orang yang salat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari salatnya, orang-orang yang berbuat ria, dan enggan (menolong dengan) barang berguna”.
       Dalam beberapa riwayat, dikemukakan bahwa surat Al-Maun, surah ke-107  tersebut turun berkenaan dengan Abu Sufyan dan Abu Jahal, yang setiap minggu menyembelih seekor unta. Suatu ketika, seorang anak yatim datang kepadanya meminta sedikit daging yang telah disembelih itu, tetapi dia tidak diberinya daging, malahan dihardik dan diusirnya.
      Surat Al-Maun, surah ke-107 dimulai dengan satu pertanyaan, “Tahukah kamu orang yang mendustakan “ad-din”? Kata “ad-din” dalam surat ini yang sangat populer, diartikan dengan “agama”, tetapi “ad-din” dapat berarti “pembalasan”.
     Maka  “yukadzdzibu biddin” bisa diartikan “menolak adanya hari kiamat” atau hari pembalasan atau hari akhir, karena apabila terdapat ayat Al-Quran yang menggandengkan kata “ad-din” dengan “yukadzdzibu”, maka konteknya adalah “pengingkaran terhadap hari kiamat”.
      Al-Quran surah Al-Infithar, surah ke-82 ayat 9.

كَلَّا بَلْ تُكَذِّبُونَ بِالدِّينِ

      “Bukan hanya durhaka saja, bahkan kamu mendustakan hari pembalasan”.
      Al-Quran surah At-Tin, surah ke-95 ayat 7.

فَمَا يُكَذِّبُكَ بَعْدُ بِالدِّينِ

.     “Maka apakah yang menyebabkan kamu mendustakan (hari) pembalasan sesudah (adanya keterangan) itu?”
      Sikap orang yang enggan membantu anak yatim dan orang miskin karena mereka menduga bahwa bantuannya tidak menghasilkan apa-apa, hal ini  muncul pada hakikatnya karena mereka tidak percaya akan datangnya hari kiamat dan hari pembalasan.
     Orang yang beriman dan yakin akan datangnya hari kiamat dan hari pembalasan, pasti meyakini bahwa semua bantuan yang telah diberikan kepada anak yatim dan fakir miskin apabila tidak menghasilkan sesuatu di dunia sekarang  ini, maka pasti ganjaran atau balasan perbuatannya akan diperoleh di akhirat kelak.
     Orang yang meyakini terjadinya hari kiamat dan hari pembalasan, pasti percaya  bahwa Allah akan membalas semua amal baik seseorang, sekecil apa pun bentuknya.
     Orang yang hanya memandang segala sesuatu berlaku di dunia saja, dan tidak meyakini adanya hari kiamat, akan menimbulkan sikap penolakan dan pendustaan terhadap “ad-din”, dalam arti “agama” maupun “hari pembalasan”.
      Kata “ad-din” menuntut adanya kepercayaan kepada yang gaib, bukan sekadar yakin kepada Allah dan malaikat-Nya,  tetapi berkaitan dengan banyak hal, termasuk yakin dengan janji Allah yang akan melipatgandakan anugerah-Nya kepada setiap orang yang memberikan bantuan.
    Kepercayaan dan keyakinan terhadap semua janji Allah, akan melebihi keyakinannya menyangkut segala sesuatu yang didasari oleh perhitungan untung dan rugi menurut akalnya saja.
     Sehingga, meskipun akalnya membisikkan bahwa “sikap yang akan diambilnya akan merugikan dan tidak menguntungkan”, tetapi dorongan jiwanya yang percaya akan mengantarkan untuk melakukannya karena sejalan dengan keyakinannya.
     “Apa yang berada di tangan Allah lebih meyakinkan daripada apa yang terdapat dalam genggaman tangan sendiri”.
      Dengan pertanyaan tersebut, ayat pertama surat Al-Ma’un, surah ke-107 ini mengajak manusia untuk menyadari salah satu bukti utama kesadaran beragama atau kesadaran berkeyakinan tentang adanya hari akhir.
     Surat Al-Maun, surah ke-107 yang terdiri atas tujuh ayat pendek berbicara tentang suatu hakikat yang sangat penting, yang terlihat secara tegas dan jelas bahwa ajaran Islam tidak memisahkan upacara ritual dan ibadah sosial.
     Ajaran Islam sebagaimana tergambar dalam ayat Al-Quran di atas menekankan bahwa ibadah dalam pengertiannya yang sempit pun mengandung dalam jiwanya dimensi sosial, sehingga jika jiwa ajaran tersebut tidak dipenuhi maka pelaksanaan ibadah dimaksud tidak akan banyak artinya.
      Hakikat pembenaran “ad-din” bukan hanya dengan ucapan dengan lidah, tetapi  perubahan dalam jiwa yang mendorong kepada kebaikan dan kebajikan terhadap sesama manusia yang membutuhkan pelayanan dan perlindungan.
    Allah tidak menghendaki dari manusia kalimat yang hanya dituturkan saja, tetapi yang dikehendaki-Nya adalah karya nyata, yang membenarkan (kalimat yang diucapkan itu).
      Para ahli berdiskusi yang menyita waktu dan energi mereka, khususnya detail kebangkitan tersebut apakah kebangkitan ruh dan jasad atau hanya ruh saja.
      Apa pun bentuk kebangkitan tersebut, apakah dengan ruh dan jasad atau dengan ruh saja, yang pokok adalah bahwa ketika itu setiap manusia mengenal dirinya, tidak kurang dari pengenalannya ketika dia hidup di dunia.
      Adapun keterangan tentang hakikat kebangkitan, bentuk, waktu dan tempatnya, maka semuanya berada di luar tuntunan agama. Karena itu, sangat boleh jadi pembahasan para filosof dan ulama tentang soal tersebut lebih banyak didorong oleh kepentingan kepuasan penalaran akal daripada dorongan kehangatan iman.
Daftar Pustaka
1. Shihab, M.Quraish. Lentera Hati. Kisah dan Hikmah Kehidupan. Penerbit Mizan, 1994.  
2. Shihab, M. Quraish Shihab. Wawasan Al-Quran. Tafsir Maudhui atas Perbagai Persoalan Umat. Penerbit Mizan, 2009.
3. Shihab, M.Quraish. E-book Membumikan Al-Quran.
4. Al-Quran Digital, Versi 3.2. Digital Qur’an Ver 3.2
5. Tafsirq.com online.

296. YAKIN

PENGARUH KEYAKINAN ADANYA HARI KIAMAT
Oleh: Drs. H. M. Yusron Hadi, M.M.

        Beberapa orang bertanya,”Mohon dijelaskan tentang Pengaruh Keyakinan Tentang Datangnya Hari Kiamat?” Profesor Quraish Shihab menjelaskannya.
       Al-Quran menghendaki agar keyakinan akan adanya hari kiamat bisa mengantarkan manusia untuk melakukan aktivitas dan kegiatan yang positif dalam hidupnya, meskipun aktivitas dan kegiatan itu tidak menghasilkan keuntungan materi dalam kehidupan dunianya.
      Al-Quran surah Al-Maun, surah ke-107 ayat 1-7.

أَرَأَيْتَ الَّذِي يُكَذِّبُ بِالدِّينِ  فَذَٰلِكَ الَّذِي يَدُعُّ الْيَتِيمَ   وَلَا يَحُضُّ عَلَىٰ طَعَامِ الْمِسْكِينِ فَوَيْلٌ لِلْمُصَلِّينَ الَّذِينَ هُمْ عَنْ صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ     الَّذِينَ هُمْ يُرَاءُونَ   وَيَمْنَعُونَ الْمَاعُونَ

      “Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama?  Itulah orang yang menghardik anak yatim, dan tidak menganjurkan memberikan makanan kepada orang miskin. Maka kecelakaan bagi orang-orang yang salat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari salatnya, orang-orang yang berbuat ria, dan enggan (menolong dengan) barang berguna”.
       Dalam beberapa riwayat, dikemukakan bahwa surat Al-Maun, surah ke-107  tersebut turun berkenaan dengan Abu Sufyan dan Abu Jahal, yang setiap minggu menyembelih seekor unta. Suatu ketika, seorang anak yatim datang kepadanya meminta sedikit daging yang telah disembelih itu, tetapi dia tidak diberinya daging, malahan dihardik dan diusirnya.
      Surat Al-Maun, surah ke-107 dimulai dengan satu pertanyaan, “Tahukah kamu orang yang mendustakan “ad-din”? Kata “ad-din” dalam surat ini yang sangat populer, diartikan dengan “agama”, tetapi “ad-din” dapat berarti “pembalasan”.
     Maka  “yukadzdzibu biddin” bisa diartikan “menolak adanya hari kiamat” atau hari pembalasan atau hari akhir, karena apabila terdapat ayat Al-Quran yang menggandengkan kata “ad-din” dengan “yukadzdzibu”, maka konteknya adalah “pengingkaran terhadap hari kiamat”.
      Al-Quran surah Al-Infithar, surah ke-82 ayat 9.

كَلَّا بَلْ تُكَذِّبُونَ بِالدِّينِ

      “Bukan hanya durhaka saja, bahkan kamu mendustakan hari pembalasan”.
      Al-Quran surah At-Tin, surah ke-95 ayat 7.

فَمَا يُكَذِّبُكَ بَعْدُ بِالدِّينِ

.     “Maka apakah yang menyebabkan kamu mendustakan (hari) pembalasan sesudah (adanya keterangan) itu?”
      Sikap orang yang enggan membantu anak yatim dan orang miskin karena mereka menduga bahwa bantuannya tidak menghasilkan apa-apa, hal ini  muncul pada hakikatnya karena mereka tidak percaya akan datangnya hari kiamat dan hari pembalasan.
     Orang yang beriman dan yakin akan datangnya hari kiamat dan hari pembalasan, pasti meyakini bahwa semua bantuan yang telah diberikan kepada anak yatim dan fakir miskin apabila tidak menghasilkan sesuatu di dunia sekarang  ini, maka pasti ganjaran atau balasan perbuatannya akan diperoleh di akhirat kelak.
     Orang yang meyakini terjadinya hari kiamat dan hari pembalasan, pasti percaya  bahwa Allah akan membalas semua amal baik seseorang, sekecil apa pun bentuknya.
     Orang yang hanya memandang segala sesuatu berlaku di dunia saja, dan tidak meyakini adanya hari kiamat, akan menimbulkan sikap penolakan dan pendustaan terhadap “ad-din”, dalam arti “agama” maupun “hari pembalasan”.
      Kata “ad-din” menuntut adanya kepercayaan kepada yang gaib, bukan sekadar yakin kepada Allah dan malaikat-Nya,  tetapi berkaitan dengan banyak hal, termasuk yakin dengan janji Allah yang akan melipatgandakan anugerah-Nya kepada setiap orang yang memberikan bantuan.
    Kepercayaan dan keyakinan terhadap semua janji Allah, akan melebihi keyakinannya menyangkut segala sesuatu yang didasari oleh perhitungan untung dan rugi menurut akalnya saja.
     Sehingga, meskipun akalnya membisikkan bahwa “sikap yang akan diambilnya akan merugikan dan tidak menguntungkan”, tetapi dorongan jiwanya yang percaya akan mengantarkan untuk melakukannya karena sejalan dengan keyakinannya.
     “Apa yang berada di tangan Allah lebih meyakinkan daripada apa yang terdapat dalam genggaman tangan sendiri”.
      Dengan pertanyaan tersebut, ayat pertama surat Al-Ma’un, surah ke-107 ini mengajak manusia untuk menyadari salah satu bukti utama kesadaran beragama atau kesadaran berkeyakinan tentang adanya hari akhir.
     Surat Al-Maun, surah ke-107 yang terdiri atas tujuh ayat pendek berbicara tentang suatu hakikat yang sangat penting, yang terlihat secara tegas dan jelas bahwa ajaran Islam tidak memisahkan upacara ritual dan ibadah sosial.
     Ajaran Islam sebagaimana tergambar dalam ayat Al-Quran di atas menekankan bahwa ibadah dalam pengertiannya yang sempit pun mengandung dalam jiwanya dimensi sosial, sehingga jika jiwa ajaran tersebut tidak dipenuhi maka pelaksanaan ibadah dimaksud tidak akan banyak artinya.
      Hakikat pembenaran “ad-din” bukan hanya dengan ucapan dengan lidah, tetapi  perubahan dalam jiwa yang mendorong kepada kebaikan dan kebajikan terhadap sesama manusia yang membutuhkan pelayanan dan perlindungan.
    Allah tidak menghendaki dari manusia kalimat yang hanya dituturkan saja, tetapi yang dikehendaki-Nya adalah karya nyata, yang membenarkan (kalimat yang diucapkan itu).
      Para ahli berdiskusi yang menyita waktu dan energi mereka, khususnya detail kebangkitan tersebut apakah kebangkitan ruh dan jasad atau hanya ruh saja.
      Apa pun bentuk kebangkitan tersebut, apakah dengan ruh dan jasad atau dengan ruh saja, yang pokok adalah bahwa ketika itu setiap manusia mengenal dirinya, tidak kurang dari pengenalannya ketika dia hidup di dunia.
      Adapun keterangan tentang hakikat kebangkitan, bentuk, waktu dan tempatnya, maka semuanya berada di luar tuntunan agama. Karena itu, sangat boleh jadi pembahasan para filosof dan ulama tentang soal tersebut lebih banyak didorong oleh kepentingan kepuasan penalaran akal daripada dorongan kehangatan iman.
Daftar Pustaka
1. Shihab, M.Quraish. Lentera Hati. Kisah dan Hikmah Kehidupan. Penerbit Mizan, 1994.  
2. Shihab, M. Quraish Shihab. Wawasan Al-Quran. Tafsir Maudhui atas Perbagai Persoalan Umat. Penerbit Mizan, 2009.
3. Shihab, M.Quraish. E-book Membumikan Al-Quran.
4. Al-Quran Digital, Versi 3.2. Digital Qur’an Ver 3.2
5. Tafsirq.com online.

296. YAKIN

PENGARUH KEYAKINAN ADANYA HARI KIAMAT
Oleh: Drs. H. M. Yusron Hadi, M.M.

        Beberapa orang bertanya,”Mohon dijelaskan tentang Pengaruh Keyakinan Tentang Datangnya Hari Kiamat?” Profesor Quraish Shihab menjelaskannya.
       Al-Quran menghendaki agar keyakinan akan adanya hari kiamat bisa mengantarkan manusia untuk melakukan aktivitas dan kegiatan yang positif dalam hidupnya, meskipun aktivitas dan kegiatan itu tidak menghasilkan keuntungan materi dalam kehidupan dunianya.
      Al-Quran surah Al-Maun, surah ke-107 ayat 1-7.

أَرَأَيْتَ الَّذِي يُكَذِّبُ بِالدِّينِ  فَذَٰلِكَ الَّذِي يَدُعُّ الْيَتِيمَ   وَلَا يَحُضُّ عَلَىٰ طَعَامِ الْمِسْكِينِ فَوَيْلٌ لِلْمُصَلِّينَ الَّذِينَ هُمْ عَنْ صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ     الَّذِينَ هُمْ يُرَاءُونَ   وَيَمْنَعُونَ الْمَاعُونَ

      “Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama?  Itulah orang yang menghardik anak yatim, dan tidak menganjurkan memberikan makanan kepada orang miskin. Maka kecelakaan bagi orang-orang yang salat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari salatnya, orang-orang yang berbuat ria, dan enggan (menolong dengan) barang berguna”.
       Dalam beberapa riwayat, dikemukakan bahwa surat Al-Maun, surah ke-107  tersebut turun berkenaan dengan Abu Sufyan dan Abu Jahal, yang setiap minggu menyembelih seekor unta. Suatu ketika, seorang anak yatim datang kepadanya meminta sedikit daging yang telah disembelih itu, tetapi dia tidak diberinya daging, malahan dihardik dan diusirnya.
      Surat Al-Maun, surah ke-107 dimulai dengan satu pertanyaan, “Tahukah kamu orang yang mendustakan “ad-din”? Kata “ad-din” dalam surat ini yang sangat populer, diartikan dengan “agama”, tetapi “ad-din” dapat berarti “pembalasan”.
     Maka  “yukadzdzibu biddin” bisa diartikan “menolak adanya hari kiamat” atau hari pembalasan atau hari akhir, karena apabila terdapat ayat Al-Quran yang menggandengkan kata “ad-din” dengan “yukadzdzibu”, maka konteknya adalah “pengingkaran terhadap hari kiamat”.
      Al-Quran surah Al-Infithar, surah ke-82 ayat 9.

كَلَّا بَلْ تُكَذِّبُونَ بِالدِّينِ

      “Bukan hanya durhaka saja, bahkan kamu mendustakan hari pembalasan”.
      Al-Quran surah At-Tin, surah ke-95 ayat 7.

فَمَا يُكَذِّبُكَ بَعْدُ بِالدِّينِ

.     “Maka apakah yang menyebabkan kamu mendustakan (hari) pembalasan sesudah (adanya keterangan) itu?”
      Sikap orang yang enggan membantu anak yatim dan orang miskin karena mereka menduga bahwa bantuannya tidak menghasilkan apa-apa, hal ini  muncul pada hakikatnya karena mereka tidak percaya akan datangnya hari kiamat dan hari pembalasan.
     Orang yang beriman dan yakin akan datangnya hari kiamat dan hari pembalasan, pasti meyakini bahwa semua bantuan yang telah diberikan kepada anak yatim dan fakir miskin apabila tidak menghasilkan sesuatu di dunia sekarang  ini, maka pasti ganjaran atau balasan perbuatannya akan diperoleh di akhirat kelak.
     Orang yang meyakini terjadinya hari kiamat dan hari pembalasan, pasti percaya  bahwa Allah akan membalas semua amal baik seseorang, sekecil apa pun bentuknya.
     Orang yang hanya memandang segala sesuatu berlaku di dunia saja, dan tidak meyakini adanya hari kiamat, akan menimbulkan sikap penolakan dan pendustaan terhadap “ad-din”, dalam arti “agama” maupun “hari pembalasan”.
      Kata “ad-din” menuntut adanya kepercayaan kepada yang gaib, bukan sekadar yakin kepada Allah dan malaikat-Nya,  tetapi berkaitan dengan banyak hal, termasuk yakin dengan janji Allah yang akan melipatgandakan anugerah-Nya kepada setiap orang yang memberikan bantuan.
    Kepercayaan dan keyakinan terhadap semua janji Allah, akan melebihi keyakinannya menyangkut segala sesuatu yang didasari oleh perhitungan untung dan rugi menurut akalnya saja.
     Sehingga, meskipun akalnya membisikkan bahwa “sikap yang akan diambilnya akan merugikan dan tidak menguntungkan”, tetapi dorongan jiwanya yang percaya akan mengantarkan untuk melakukannya karena sejalan dengan keyakinannya.
     “Apa yang berada di tangan Allah lebih meyakinkan daripada apa yang terdapat dalam genggaman tangan sendiri”.
      Dengan pertanyaan tersebut, ayat pertama surat Al-Ma’un, surah ke-107 ini mengajak manusia untuk menyadari salah satu bukti utama kesadaran beragama atau kesadaran berkeyakinan tentang adanya hari akhir.
     Surat Al-Maun, surah ke-107 yang terdiri atas tujuh ayat pendek berbicara tentang suatu hakikat yang sangat penting, yang terlihat secara tegas dan jelas bahwa ajaran Islam tidak memisahkan upacara ritual dan ibadah sosial.
     Ajaran Islam sebagaimana tergambar dalam ayat Al-Quran di atas menekankan bahwa ibadah dalam pengertiannya yang sempit pun mengandung dalam jiwanya dimensi sosial, sehingga jika jiwa ajaran tersebut tidak dipenuhi maka pelaksanaan ibadah dimaksud tidak akan banyak artinya.
      Hakikat pembenaran “ad-din” bukan hanya dengan ucapan dengan lidah, tetapi  perubahan dalam jiwa yang mendorong kepada kebaikan dan kebajikan terhadap sesama manusia yang membutuhkan pelayanan dan perlindungan.
    Allah tidak menghendaki dari manusia kalimat yang hanya dituturkan saja, tetapi yang dikehendaki-Nya adalah karya nyata, yang membenarkan (kalimat yang diucapkan itu).
      Para ahli berdiskusi yang menyita waktu dan energi mereka, khususnya detail kebangkitan tersebut apakah kebangkitan ruh dan jasad atau hanya ruh saja.
      Apa pun bentuk kebangkitan tersebut, apakah dengan ruh dan jasad atau dengan ruh saja, yang pokok adalah bahwa ketika itu setiap manusia mengenal dirinya, tidak kurang dari pengenalannya ketika dia hidup di dunia.
      Adapun keterangan tentang hakikat kebangkitan, bentuk, waktu dan tempatnya, maka semuanya berada di luar tuntunan agama. Karena itu, sangat boleh jadi pembahasan para filosof dan ulama tentang soal tersebut lebih banyak didorong oleh kepentingan kepuasan penalaran akal daripada dorongan kehangatan iman.
Daftar Pustaka
1. Shihab, M.Quraish. Lentera Hati. Kisah dan Hikmah Kehidupan. Penerbit Mizan, 1994.  
2. Shihab, M. Quraish Shihab. Wawasan Al-Quran. Tafsir Maudhui atas Perbagai Persoalan Umat. Penerbit Mizan, 2009.
3. Shihab, M.Quraish. E-book Membumikan Al-Quran.
4. Al-Quran Digital, Versi 3.2. Digital Qur’an Ver 3.2
5. Tafsirq.com online.

296. YAKIN

PENGARUH KEYAKINAN ADANYA HARI KIAMAT
Oleh: Drs. H. M. Yusron Hadi, M.M.

        Beberapa orang bertanya,”Mohon dijelaskan tentang Pengaruh Keyakinan Tentang Datangnya Hari Kiamat?” Profesor Quraish Shihab menjelaskannya.
       Al-Quran menghendaki agar keyakinan akan adanya hari kiamat bisa mengantarkan manusia untuk melakukan aktivitas dan kegiatan yang positif dalam hidupnya, meskipun aktivitas dan kegiatan itu tidak menghasilkan keuntungan materi dalam kehidupan dunianya.
      Al-Quran surah Al-Maun, surah ke-107 ayat 1-7.

أَرَأَيْتَ الَّذِي يُكَذِّبُ بِالدِّينِ  فَذَٰلِكَ الَّذِي يَدُعُّ الْيَتِيمَ   وَلَا يَحُضُّ عَلَىٰ طَعَامِ الْمِسْكِينِ فَوَيْلٌ لِلْمُصَلِّينَ الَّذِينَ هُمْ عَنْ صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ     الَّذِينَ هُمْ يُرَاءُونَ   وَيَمْنَعُونَ الْمَاعُونَ

      “Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama?  Itulah orang yang menghardik anak yatim, dan tidak menganjurkan memberikan makanan kepada orang miskin. Maka kecelakaan bagi orang-orang yang salat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari salatnya, orang-orang yang berbuat ria, dan enggan (menolong dengan) barang berguna”.
       Dalam beberapa riwayat, dikemukakan bahwa surat Al-Maun, surah ke-107  tersebut turun berkenaan dengan Abu Sufyan dan Abu Jahal, yang setiap minggu menyembelih seekor unta. Suatu ketika, seorang anak yatim datang kepadanya meminta sedikit daging yang telah disembelih itu, tetapi dia tidak diberinya daging, malahan dihardik dan diusirnya.
      Surat Al-Maun, surah ke-107 dimulai dengan satu pertanyaan, “Tahukah kamu orang yang mendustakan “ad-din”? Kata “ad-din” dalam surat ini yang sangat populer, diartikan dengan “agama”, tetapi “ad-din” dapat berarti “pembalasan”.
     Maka  “yukadzdzibu biddin” bisa diartikan “menolak adanya hari kiamat” atau hari pembalasan atau hari akhir, karena apabila terdapat ayat Al-Quran yang menggandengkan kata “ad-din” dengan “yukadzdzibu”, maka konteknya adalah “pengingkaran terhadap hari kiamat”.
      Al-Quran surah Al-Infithar, surah ke-82 ayat 9.

كَلَّا بَلْ تُكَذِّبُونَ بِالدِّينِ

      “Bukan hanya durhaka saja, bahkan kamu mendustakan hari pembalasan”.
      Al-Quran surah At-Tin, surah ke-95 ayat 7.

فَمَا يُكَذِّبُكَ بَعْدُ بِالدِّينِ

.     “Maka apakah yang menyebabkan kamu mendustakan (hari) pembalasan sesudah (adanya keterangan) itu?”
      Sikap orang yang enggan membantu anak yatim dan orang miskin karena mereka menduga bahwa bantuannya tidak menghasilkan apa-apa, hal ini  muncul pada hakikatnya karena mereka tidak percaya akan datangnya hari kiamat dan hari pembalasan.
     Orang yang beriman dan yakin akan datangnya hari kiamat dan hari pembalasan, pasti meyakini bahwa semua bantuan yang telah diberikan kepada anak yatim dan fakir miskin apabila tidak menghasilkan sesuatu di dunia sekarang  ini, maka pasti ganjaran atau balasan perbuatannya akan diperoleh di akhirat kelak.
     Orang yang meyakini terjadinya hari kiamat dan hari pembalasan, pasti percaya  bahwa Allah akan membalas semua amal baik seseorang, sekecil apa pun bentuknya.
     Orang yang hanya memandang segala sesuatu berlaku di dunia saja, dan tidak meyakini adanya hari kiamat, akan menimbulkan sikap penolakan dan pendustaan terhadap “ad-din”, dalam arti “agama” maupun “hari pembalasan”.
      Kata “ad-din” menuntut adanya kepercayaan kepada yang gaib, bukan sekadar yakin kepada Allah dan malaikat-Nya,  tetapi berkaitan dengan banyak hal, termasuk yakin dengan janji Allah yang akan melipatgandakan anugerah-Nya kepada setiap orang yang memberikan bantuan.
    Kepercayaan dan keyakinan terhadap semua janji Allah, akan melebihi keyakinannya menyangkut segala sesuatu yang didasari oleh perhitungan untung dan rugi menurut akalnya saja.
     Sehingga, meskipun akalnya membisikkan bahwa “sikap yang akan diambilnya akan merugikan dan tidak menguntungkan”, tetapi dorongan jiwanya yang percaya akan mengantarkan untuk melakukannya karena sejalan dengan keyakinannya.
     “Apa yang berada di tangan Allah lebih meyakinkan daripada apa yang terdapat dalam genggaman tangan sendiri”.
      Dengan pertanyaan tersebut, ayat pertama surat Al-Ma’un, surah ke-107 ini mengajak manusia untuk menyadari salah satu bukti utama kesadaran beragama atau kesadaran berkeyakinan tentang adanya hari akhir.
     Surat Al-Maun, surah ke-107 yang terdiri atas tujuh ayat pendek berbicara tentang suatu hakikat yang sangat penting, yang terlihat secara tegas dan jelas bahwa ajaran Islam tidak memisahkan upacara ritual dan ibadah sosial.
     Ajaran Islam sebagaimana tergambar dalam ayat Al-Quran di atas menekankan bahwa ibadah dalam pengertiannya yang sempit pun mengandung dalam jiwanya dimensi sosial, sehingga jika jiwa ajaran tersebut tidak dipenuhi maka pelaksanaan ibadah dimaksud tidak akan banyak artinya.
      Hakikat pembenaran “ad-din” bukan hanya dengan ucapan dengan lidah, tetapi  perubahan dalam jiwa yang mendorong kepada kebaikan dan kebajikan terhadap sesama manusia yang membutuhkan pelayanan dan perlindungan.
    Allah tidak menghendaki dari manusia kalimat yang hanya dituturkan saja, tetapi yang dikehendaki-Nya adalah karya nyata, yang membenarkan (kalimat yang diucapkan itu).
      Para ahli berdiskusi yang menyita waktu dan energi mereka, khususnya detail kebangkitan tersebut apakah kebangkitan ruh dan jasad atau hanya ruh saja.
      Apa pun bentuk kebangkitan tersebut, apakah dengan ruh dan jasad atau dengan ruh saja, yang pokok adalah bahwa ketika itu setiap manusia mengenal dirinya, tidak kurang dari pengenalannya ketika dia hidup di dunia.
      Adapun keterangan tentang hakikat kebangkitan, bentuk, waktu dan tempatnya, maka semuanya berada di luar tuntunan agama. Karena itu, sangat boleh jadi pembahasan para filosof dan ulama tentang soal tersebut lebih banyak didorong oleh kepentingan kepuasan penalaran akal daripada dorongan kehangatan iman.
Daftar Pustaka
1. Shihab, M.Quraish. Lentera Hati. Kisah dan Hikmah Kehidupan. Penerbit Mizan, 1994.  
2. Shihab, M. Quraish Shihab. Wawasan Al-Quran. Tafsir Maudhui atas Perbagai Persoalan Umat. Penerbit Mizan, 2009.
3. Shihab, M.Quraish. E-book Membumikan Al-Quran.
4. Al-Quran Digital, Versi 3.2. Digital Qur’an Ver 3.2
5. Tafsirq.com online.

296. YAKIN

PENGARUH KEYAKINAN ADANYA HARI KIAMAT
Oleh: Drs. H. M. Yusron Hadi, M.M.

        Beberapa orang bertanya,”Mohon dijelaskan tentang Pengaruh Keyakinan Tentang Datangnya Hari Kiamat?” Profesor Quraish Shihab menjelaskannya.
       Al-Quran menghendaki agar keyakinan akan adanya hari kiamat bisa mengantarkan manusia untuk melakukan aktivitas dan kegiatan yang positif dalam hidupnya, meskipun aktivitas dan kegiatan itu tidak menghasilkan keuntungan materi dalam kehidupan dunianya.
      Al-Quran surah Al-Maun, surah ke-107 ayat 1-7.

أَرَأَيْتَ الَّذِي يُكَذِّبُ بِالدِّينِ  فَذَٰلِكَ الَّذِي يَدُعُّ الْيَتِيمَ   وَلَا يَحُضُّ عَلَىٰ طَعَامِ الْمِسْكِينِ فَوَيْلٌ لِلْمُصَلِّينَ الَّذِينَ هُمْ عَنْ صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ     الَّذِينَ هُمْ يُرَاءُونَ   وَيَمْنَعُونَ الْمَاعُونَ

      “Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama?  Itulah orang yang menghardik anak yatim, dan tidak menganjurkan memberikan makanan kepada orang miskin. Maka kecelakaan bagi orang-orang yang salat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari salatnya, orang-orang yang berbuat ria, dan enggan (menolong dengan) barang berguna”.
       Dalam beberapa riwayat, dikemukakan bahwa surat Al-Maun, surah ke-107  tersebut turun berkenaan dengan Abu Sufyan dan Abu Jahal, yang setiap minggu menyembelih seekor unta. Suatu ketika, seorang anak yatim datang kepadanya meminta sedikit daging yang telah disembelih itu, tetapi dia tidak diberinya daging, malahan dihardik dan diusirnya.
      Surat Al-Maun, surah ke-107 dimulai dengan satu pertanyaan, “Tahukah kamu orang yang mendustakan “ad-din”? Kata “ad-din” dalam surat ini yang sangat populer, diartikan dengan “agama”, tetapi “ad-din” dapat berarti “pembalasan”.
     Maka  “yukadzdzibu biddin” bisa diartikan “menolak adanya hari kiamat” atau hari pembalasan atau hari akhir, karena apabila terdapat ayat Al-Quran yang menggandengkan kata “ad-din” dengan “yukadzdzibu”, maka konteknya adalah “pengingkaran terhadap hari kiamat”.
      Al-Quran surah Al-Infithar, surah ke-82 ayat 9.

كَلَّا بَلْ تُكَذِّبُونَ بِالدِّينِ

      “Bukan hanya durhaka saja, bahkan kamu mendustakan hari pembalasan”.
      Al-Quran surah At-Tin, surah ke-95 ayat 7.

فَمَا يُكَذِّبُكَ بَعْدُ بِالدِّينِ

.     “Maka apakah yang menyebabkan kamu mendustakan (hari) pembalasan sesudah (adanya keterangan) itu?”
      Sikap orang yang enggan membantu anak yatim dan orang miskin karena mereka menduga bahwa bantuannya tidak menghasilkan apa-apa, hal ini  muncul pada hakikatnya karena mereka tidak percaya akan datangnya hari kiamat dan hari pembalasan.
     Orang yang beriman dan yakin akan datangnya hari kiamat dan hari pembalasan, pasti meyakini bahwa semua bantuan yang telah diberikan kepada anak yatim dan fakir miskin apabila tidak menghasilkan sesuatu di dunia sekarang  ini, maka pasti ganjaran atau balasan perbuatannya akan diperoleh di akhirat kelak.
     Orang yang meyakini terjadinya hari kiamat dan hari pembalasan, pasti percaya  bahwa Allah akan membalas semua amal baik seseorang, sekecil apa pun bentuknya.
     Orang yang hanya memandang segala sesuatu berlaku di dunia saja, dan tidak meyakini adanya hari kiamat, akan menimbulkan sikap penolakan dan pendustaan terhadap “ad-din”, dalam arti “agama” maupun “hari pembalasan”.
      Kata “ad-din” menuntut adanya kepercayaan kepada yang gaib, bukan sekadar yakin kepada Allah dan malaikat-Nya,  tetapi berkaitan dengan banyak hal, termasuk yakin dengan janji Allah yang akan melipatgandakan anugerah-Nya kepada setiap orang yang memberikan bantuan.
    Kepercayaan dan keyakinan terhadap semua janji Allah, akan melebihi keyakinannya menyangkut segala sesuatu yang didasari oleh perhitungan untung dan rugi menurut akalnya saja.
     Sehingga, meskipun akalnya membisikkan bahwa “sikap yang akan diambilnya akan merugikan dan tidak menguntungkan”, tetapi dorongan jiwanya yang percaya akan mengantarkan untuk melakukannya karena sejalan dengan keyakinannya.
     “Apa yang berada di tangan Allah lebih meyakinkan daripada apa yang terdapat dalam genggaman tangan sendiri”.
      Dengan pertanyaan tersebut, ayat pertama surat Al-Ma’un, surah ke-107 ini mengajak manusia untuk menyadari salah satu bukti utama kesadaran beragama atau kesadaran berkeyakinan tentang adanya hari akhir.
     Surat Al-Maun, surah ke-107 yang terdiri atas tujuh ayat pendek berbicara tentang suatu hakikat yang sangat penting, yang terlihat secara tegas dan jelas bahwa ajaran Islam tidak memisahkan upacara ritual dan ibadah sosial.
     Ajaran Islam sebagaimana tergambar dalam ayat Al-Quran di atas menekankan bahwa ibadah dalam pengertiannya yang sempit pun mengandung dalam jiwanya dimensi sosial, sehingga jika jiwa ajaran tersebut tidak dipenuhi maka pelaksanaan ibadah dimaksud tidak akan banyak artinya.
      Hakikat pembenaran “ad-din” bukan hanya dengan ucapan dengan lidah, tetapi  perubahan dalam jiwa yang mendorong kepada kebaikan dan kebajikan terhadap sesama manusia yang membutuhkan pelayanan dan perlindungan.
    Allah tidak menghendaki dari manusia kalimat yang hanya dituturkan saja, tetapi yang dikehendaki-Nya adalah karya nyata, yang membenarkan (kalimat yang diucapkan itu).
      Para ahli berdiskusi yang menyita waktu dan energi mereka, khususnya detail kebangkitan tersebut apakah kebangkitan ruh dan jasad atau hanya ruh saja.
      Apa pun bentuk kebangkitan tersebut, apakah dengan ruh dan jasad atau dengan ruh saja, yang pokok adalah bahwa ketika itu setiap manusia mengenal dirinya, tidak kurang dari pengenalannya ketika dia hidup di dunia.
      Adapun keterangan tentang hakikat kebangkitan, bentuk, waktu dan tempatnya, maka semuanya berada di luar tuntunan agama. Karena itu, sangat boleh jadi pembahasan para filosof dan ulama tentang soal tersebut lebih banyak didorong oleh kepentingan kepuasan penalaran akal daripada dorongan kehangatan iman.
Daftar Pustaka
1. Shihab, M.Quraish. Lentera Hati. Kisah dan Hikmah Kehidupan. Penerbit Mizan, 1994.  
2. Shihab, M. Quraish Shihab. Wawasan Al-Quran. Tafsir Maudhui atas Perbagai Persoalan Umat. Penerbit Mizan, 2009.
3. Shihab, M.Quraish. E-book Membumikan Al-Quran.
4. Al-Quran Digital, Versi 3.2. Digital Qur’an Ver 3.2
5. Tafsirq.com online.