Organisasi Profesi Guru

Presiden Jokowi memberi hormat kepada Guru-Guru se Indonesia.

Tema Gambar Slide 2

Deskripsi gambar slide bisa dituliskan disini dengan beberapa kalimat yang menggambarkan gambar slide yang anda pasang, edit slide ini melalui edit HTML template.

Tema Gambar Slide 3

Deskripsi gambar slide bisa dituliskan disini dengan beberapa kalimat yang menggambarkan gambar slide yang anda pasang, edit slide ini melalui edit HTML template.

Wednesday, November 12, 2025

53976. KENAPA ALLAH MEMBIARKAN KEJAHATAN



KENAPA ALLAH MEMBIARKAN KEJAHATAN

Oleh: Drs. H. M. Yusron Hadi, MM

 

 

Kenapa Allah membiarkan

Kejahatan terjadi?

 

Salah satu pertanyaan penting.

Dalam akidah dan filsafat Islam.

 

Al-Qur’an menjawab.

Dalam beberapa sisi.

 

Yaitu:

1)        Keadilan.

2)        Hikmah (kebijaksanaan).

 

3)        Ujian.

4)        Kebebasan manusia.

 

A.       Kejahatan bagian ujian hidup

 

QS. Al-Baqarah [2]: 155.


وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ ۗ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ

 

Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikan berita gembira kepada orang-orang yang sabar.

 

 

Catatan.

 

1)        Al-Qur’an tegaskan.

2)        Bahwa hidup dunia tempat ujian.

 

3)        Bukan tempat balasan.

 

4)        Allah tak membiarkan kejahatan tanpa alasan.

 

5)        Tapi alat menguji iman, sabar, dan keadilan manusia.

 

B.       Kebebasan manusia untuk memilih

 

QS. Al-Balad [90]: 10.


وَهَدَيْنَاهُ النَّجْدَيْنِ

 

Dan Kami telah menunjukkan kepadanya 2 jalan (kebaikan dan kejahatan).

 

Catatan.

 

1)        Allah memberi manusia akal.

2)        Bebas (ikhtiar) untuk memilih.

 

3)        Jika Allah langsung menghentikan semua kejahatan.

 

4)        Maka tak ada lagi ujian, tanggung jawab, atau pahala.

 

5)        Dunia hilang makna keadilan moral.

 

C.       Kejahatan sering membawa hikmah tersembunyi

 

QS. Al-Baqarah [2]: 216.


كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِتَالُ وَهُوَ كُرْهٌ لَكُمْ ۖ وَعَسَىٰ أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ ۖ وَعَسَىٰ أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

 

Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.

 

Catatan.

 

1)        Tidak semua keburukan benar-benar buruk dalam pandangan Allah.

 

2)        Terkadang dari musibah lahir kekuatan.

3)        Dari kezaliman lahir kesadaran.

 

4)        Dari derita lahir tobat.

5)        Hikmahnya sering tampak kemudian.

 

D.       Allah menunda, tapi tak melupakan

 

QS. Ali ‘Imran [3]: 178


وَلَا يَحْسَبَنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا أَنَّمَا نُمْلِي لَهُمْ خَيْرٌ لِأَنْفُسِهِمْ ۚ إِنَّمَا نُمْلِي لَهُمْ لِيَزْدَادُوا إِثْمًا ۚ وَلَهُمْ عَذَابٌ مُهِينٌ

 

Dan jangan sekali-kali orang-orang kafir menyangka, bahwa pemberian tangguh Kami kepada mereka lebih baik bagi mereka. Sesungguhnya Kami memberi tangguh kepada mereka hanya supaya bertambah-tambah dosa mereka; dan bagi mereka azab yang menghinakan.

 

Catatan.

 

1)        Allah memberi waktu.

2)        Bukan karena lalai.

 

3)        Tapi beri kesempatan bertobat.

4)        Menegakkan keadilan yang tepat.

 

5)        Balasan sempurna di akhirat.

6)        Bukan di dunia.

 

E.       Akhirat  tempat keadilan sempurna

 

QS. Az-Zalzalah [99]: 7-8.

 


فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ


7. Barangsiapa mengerjakan kebaikan seberat zarah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya.

 

وَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ

 

8. Dan barangsiapa mengerjakan kejahatan sebesar zarah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula.

 

Catatan.

 

1)        Dunia tak memuat semua keadilan.

2)        Akhirat adalah solusinya.

 

3)        Kejahatan yang tampak “dibiarkan” di dunia.

 

4)        Akan dibalas sempurna di akhirat.

 

Kesimpulan:

Menurut Al-Qur’an.

Allah membiarkan kejahatan terjadi.

 

Bukan tidak berdaya.

Atau tidak adil.

 

Tapi karena:

 

1)                Dunia adalah tempat ujian, bukan balasan.

 

2)                Allah memberi kebebasan memilih kepada manusia.

 

3)                Hikmah sering tersembunyi di balik peristiwa pahit.

 

4)                Balasan akhir hanya di akhirat, bukan di dunia.

 

Kalimat ringkas

 

1)        Allah tak membiarkan kejahatan tanpa tujuan.

 

2)        Allah menundanya demi ujian, kebebasan, dan keadilan yang sempurna kelak.

 

 

 

Sumber

1)        Tafsir Quran Perkata DR M Hatta.

2)        ChatGPT.

 

3)        Copilot.

4)        Cici.

 

5)        Claude.

6)        Grok.

 

Tuesday, November 11, 2025

53972. HIDUP WIRAI SELALU HATI HATI

 




CARA HIDUP WIRAI SELALU HATI-HATI

Oleh: Drs. H. M. Yusron Hadi, MM

 

 

 

 

1)        “Wira’i” (الورع)

2)        Menjaga diri dari hal haram dan syubhat (meragukan)

 

3)        Agar tak terjatuh dalam dosa.

 

Dalam Al-Qur’an.

Kata “wara’” tak disebut langsung.

 

Tapi konsep dan cara hidup wira’i

Dijelaskan dalam ayat tentang:

 

1)        Takwa.

2)        Menjaga diri.

 

3)        Menahan hawa nafsu.

4)        Menjauhi dosa.

 

Gaya hidup wira’i

Menurut Al-Qur’an.

 

Yaitu:

1)        Menjauhi yang haram dan syubhat

2)        Menjaga diri dari dosa sekecil apa pun.

 

3)        Takwa: pengendalian diri total

4)        Tidak memakan yang haram.

 

5)        Menahan hawa nafsu

6)        Selalu merasa diawasi Allah

A.       Menjauhi yang haram dan syubhat

 

QS. Al-Mukminun [23]: 3


وَالَّذِينَ هُمْ عَنِ اللَّغْوِ مُعْرِضُونَ

 

Dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (ucapan dan perbuatan) yang tak berguna.

 

Catatan.

 

1)        Orang wira’i tak hanya menjauhi yang haram.

2)        Tapi juga hindari hal sia-sia dan meragukan.

 

3)        Selalu berhati-hati.

4)        Agar amalnya tetap bersih.

 

B.       Menjaga diri dari dosa sekecil apa pun

 

QS. Al-Najm [53]: 32


الَّذِينَ يَجْتَنِبُونَ كَبَائِرَ الْإِثْمِ وَالْفَوَاحِشَ إِلَّا اللَّمَمَ ۚ إِنَّ رَبَّكَ وَاسِعُ الْمَغْفِرَةِ ۚ هُوَ أَعْلَمُ بِكُمْ إِذْ أَنْشَأَكُمْ مِنَ الْأَرْضِ وَإِذْ أَنْتُمْ أَجِنَّةٌ فِي بُطُونِ أُمَّهَاتِكُمْ ۖ فَلَا تُزَكُّوا أَنْفُسَكُمْ ۖ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ اتَّقَىٰ

 

 (Yaitu) orang yang menjauhi dosa besar dan perbuatan keji selain kesalahan kecil. Sesungguhnya Tuhanmu Maha Luas ampunan-Nya. Dan Dia lebih tahu (tentang keadaan)mu ketika Dia menjadikan kamu dari tanah dan ketika kamu masih janin dalam perut ibumu; maka jangan kamu mengatakan dirimu suci. Dia yang paling tahu tentang orang yang bertakwa.

 

Catatan.

 

1)        Orang Wira’i menjauh dari dosa besar.

 

2)         Berhati-hati dari dosa kecil.

3)        Yang bisa menumpuk.

 

C.       Takwa: pengendalian diri total

 

QS. Al-Hasyr [59]: 18


يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ


Hai orang-orang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah tiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.

Catatan.

 

1)        Takwa adalah inti dari wara’.

2)        Orang wira’i selalu introspeksi diri.

 

3)        Menimbang perbuatannya dengan neraca akhirat.

 

D.        Tidak memakan yang haram

 

QS. Al-Baqarah [2]: 168


يَا أَيُّهَا النَّاسُ كُلُوا مِمَّا فِي الْأَرْضِ حَلَالًا طَيِّبًا وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ ۚ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ

 

Hai manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang ada di bumi, dan jangan kamu ikuti langkah setan; karena sesungguhnya setan adalah musuh nyata bagimu.

 

 

Catatan.

 

1)        Sumber makanan dan rezeki halal.

2)        Fondasi hidup wira’i.

 

3)        Menjauhi harta syubhat.

4)        Hindari hasil tak jelas halalnya.

 

E.       Menahan hawa nafsu

 

QS. An-Nazi‘at [79]: 40-41


وَأَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوَىٰ

 

40. Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya.

 

إِنَّ الْجَنَّةَ هِيَ الْمَأْوَىٰ


41. maka sesungguhnya surga tempat tinggal(nya).

 

Catatan.

 

1)        Wira’i kendali penuh atas hawa nafsu.

2)         Tak ikuti keinginan duniawi.

3)        Yang menjauhkan dari Allah.

 

F.        Selalu merasa diawasi Allah

 

QS. Al-Mulk [67]: 12

Sesungguhnya orang-orang yang takut kepada Tuhannya yang tidak terlihat oleh mereka, bagi mereka ampunan dan pahala yang besar.

 

Catatan.

 

1)        Hidup wira’i lahir dari rasa muraqabah.

2)        Merasa selalu diawasi Allah.

3)        Meskipun sendirian.

 

Kesimpulan:

 

Hidup wira’i

Dalam Al-Qur’an.

 

Yaitu:

1)        Menjauhi yang haram dan syubhat.

2)        Mengontrol hawa nafsu.

 

3)        Menjaga diri dengan takwa.

4)        Memilih rezeki yang halal.

 

5)        Berhati-hati dalam ucapan dan tindakan.

6)        Merasa selalu diawasi Allah.

 

 

Sumber

1)        Tafsir Quran Perkata DR M Hatta.

2)        ChatGPT.

 

3)        Copilot.

4)        Cici.

 

5)        Claude.

6)        Grok.