TEGURAN
SIDOGIRI PASURUAN
Oleh:
Drs. H. M. Yusron Hadi, M.M.

1. SIKAP
RESMI MAJELIS KELUARGA PONDOK PESANTREN SIDOGIRI
بسم الله
الرحمن الرحيم
الحمد لله
رب العالمين والصلاة والسلام على أشرف الأنبياء والمرسلين سيدنا محمد ( وعلى آله وصحبه
أجمعين.
2. Sehubungan
dengan beredarnya ceramah dari Saudara Muwafiq yang saat ini sedang ramai
dibicarakan orang.
3. Dan
setelah menyimak isi pidato tersebut secara utuh dan lengkap, berikut
pernyataan tabayun dari yang bersangkutan.
1) Kami
Majelis Keluarga Pondok Pesantren Sidogiri menyimpulkan bahwa:
2) Ceramah
Saudara Muwafiq mengandung unsur-unsur yang terkesan merendahkan kemuliaan Nabi.
3) Seperti
kalimat: Nabi lahir biasa-biasa saja, tidak bersinar; saat kecil rembes; tidak
terlalu terurus karena ikut kakeknya.
4) Kesenangannya
bermain kesana-kemari sehingga tidak sekolah akhirnya tidak bisa baca-tulis.
5) Jika
saat itu ada jambu maka beliau akan mencuri jambu itu.
6) Saudara
Muwafiq juga terkesan meragukan riwayat tentang keistimewaan Nabi pada masa
kecil yang telah diyakini kebenarannya oleh kalangan pesantren.
7) Dengan
mengatakan, “Kita tidak boleh angkuh karena semuanya hanya katanya dan tidak
menyaksikan peristiwa itu sendiri secara langsung”.
8) Penjelasan
tabayun yang dilakukan oleh Saudara Muwafiq setelah ramainya ceramah tersebut
tidak mengandung pernyataan menarik ucapannya dan bertaubat dari kesalahan itu.
4. Mengingat
hal tersebut di atas, serta mengingat:
5. Adanya
sebagian umat Islam yang masih memberikan pembelaan terhadap Saudara Muwafiq
terkait hal ini.
6. Pesan
tegas dari Hadratusy-Syaikh KH. Muhammad Hasyim Asy’ari dalam kitab
“at-Tanbihatul-Wajibat” sebagai berikut:
فَتَأَمَّلْ
– وَفَّقَكَ اللهُ – مَا ذَكَرْنَاهُ فيِ هَذِهِ التَّنْبِيْهَاتِ الثَّلَاثِ مِنْ
وُجُوبِ حُرْمَةِ النَّبِيِّ ( وَتَوْقِيْرِهِ وَتَعْظِيْمِهِ عِنْدَ ذِكْرِ مَوْلِدِهِ
وَذِكْرِ حَدِيْثِهِ وَسَمَاعِ اِسْمِهِ وَحُرْمَةِ اسْتِعْمَالِ مَا وُضِعَ لِلتَّعْظِيْمِ
فِي غَيْرِ مَحَلِّ التَّعْظِيْمِ، وَأَنَّهُ إِلَى الِإسْتِهْزَاءِ وَالْإِزْرَاءِ
أَقْرَبُ، وَقَتْلِ مُتَنَقِّصِهِ ( وَمُؤْذِيْهِ بِاْلإِجْمَاعِ – يَظْهَرُ لَكَ
– إِنْ كَانَ لَكَ أَدْنَى بَصِيْرَةٍ – قُبْحُ هَذِهِ الْفِعْلَةِ الْمُخْزِيَةِ،
وَمَزِيْدُ فُحْشِهَا، وَعَظِيْمُ مَا يَتَرَتَّبُ عَلَيْهَا مِنَ الْعُقُوْبَاتِ.
وَإِذَا ظَهَرَ لَكَ ذَلِكَ رَجَعْتَ وَتُبْتَ إِلَى اللهِ تَعَالَى عَنْ هَذِهِ الْفَاحِشَةِ
الْمُهْلِكَةِ فِي الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ.
1) Artinya:
“Renungkan apa yang telah kami sampaikan dalam 3 keterangan pengingat tentang:
2) Wajibnya
menghormati, memuliakan dan mengagungkan Nabi Muhammad, pada saat menyebut
kelahiran, menyebut Hadis serta nama beliau.
3) Haramnya
menggunakan kata yang ditetapkan untuk dimuliakan bukan di tempat memuliakan,
dan bahwa hal itu lebih dekat dengan pelecehan dan penghinaan.
4) Ijmak
ulama mengenai hukuman mati untuk orang yang melecehkan dan menyakiti (menghina) Nabi.
5) Dengan
merenungkan hal tersebut, maka akan menjadi jelas bagimu (jika kamu masih punya
sedikit mata hati).
6) Bahwa
perbuatan ini suatu yang sangat buruk dan tercela, serta memiliki konsekwensi
hukuman yang sangat berat.
7) Jika kau
menyadari hal tersebut, maka kembalilah dan bertobatlah kepada Allah dari
keburukan yang akan membuatmu celaka di dunia dan akhirat.”
7. Dengan
pertimbangan di atas, maka Pondok Pesantren Sidogiri menegaskan pernyataan
sebagai berikut:
1) Menyesalkan
dan mengecam pernyataan-pernyataan Saudara Muwafiq dalam ceramah dimaksud,
karena tidak menjaga adab dan terkesan merendahkan pribadi Rasulullah.
2) Meminta
Saudara Muwafiq untuk segera menarik ucapan-ucapannya tersebut serta
mentaubatinya.
3) Menghimbau
kepada masyarakat untuk meningkatkan kecintaan kepada Rasulullah.
4) Tidak
melakukan pembelaan kepada siapa pun yang merendahkan martabat beliau, dengan
senantiasa berpegang teguh pada ajaran Ahlusunah wal-Jamaah.
5) Serta
tidak fanatik buta dalam membela maupun membenci figur tertentu.
6) Menghimbau
umat Islam untuk tetap menjaga persatuan umat, kepatuhan terhadap hukum agama
dan negara.
7) Serta
tidak melakukan tindakan-tindakan yang merugikan, dengan tanpa mengurangi
ketegasan dalam menolak segala penyimpangan dan penodaan.
8. Pasuruan,
8 Rabiu-Tsani 1441 H.
9. Pengasuh
Pondok Pesantren Sidogiri
(KHA.
Nawawi Abd. Djalil)
10. Majelis
Keluarga Pondok Pesantren Sidogiri
1) (KHA.
Fuad Noerhasan)
2) (KH.
Abdulloh Syaukat Siradj)
3) (H.
Bahruddin Thoyyib)
4) (d.
Nawawy Sadoellah).
(Sumber:
internet)
0 comments:
Post a Comment