Organisasi Profesi Guru
Presiden Jokowi memberi hormat kepada Guru-Guru se Indonesia.
Tema Gambar Slide 2
Deskripsi gambar slide bisa dituliskan disini dengan beberapa kalimat yang menggambarkan gambar slide yang anda pasang, edit slide ini melalui edit HTML template.
Tema Gambar Slide 3
Deskripsi gambar slide bisa dituliskan disini dengan beberapa kalimat yang menggambarkan gambar slide yang anda pasang, edit slide ini melalui edit HTML template.
Friday, May 1, 2026
55462. GUYON MKKS SIDOARJO TENIS HOTEL PURNAMA BATU
GUYON MKKS SIDOARJO TENIS
HOTEL PURNAMA BATU
Oleh: Drs. H.
M. Yusron Hadi, M.M.
Beberapa
tahun lalu. Kepala SMP Negeri Sidoarjo. Sebanyak 44 orang. Dari sekolah
masing-masing. Berangkat menuju ke Malang. Memakai kendaraan sendiri. Beberapa
orang bergabung dengan temannya. Termasuk saya. Dengan satu tujuan. Hotel
Purnama, Batu, Malang. Dalam acara Program MKKS Bermutu.
Saya
ikut menumpang mobil teman. Berangkat dari Bogi, Pademo Negoro, Sukodono. Pak
Rodhi, sebagai joki yang mengendalikan “kuda”. Agar baik jalannya.
Duduk di sebelah kiri
Pak Rodhi adalah Pak Azhari. Si “Ahli Hisap”. Tentu saja, sambil kebul-kebul.
Duduk dengan santai sambil merokok. Pak Azhari, si “Kepala Suku”.
Yang menentukan “abang ijonya” rombongan. Kapan berangkat. Jalur yang dilewati.
Di mana mampir. Kapan berhenti untuk makan dan “pipis”.
Di
belakang Pak Rodhi, duduk Pak Hariono. Si “Raja Lokal” yang memiliki IP tinggi.
Makna IP di sini, bukan hanya berarti Indeks Prestasi waktu
kuliah. Juga bermakna “Ilmu Pendekatan”. Terbukti, selama
bertugas sebagai kepala sekolah. Selalu berada di lokasi yang dekat
tinggalnya.
Pak Ari, berada di
sebelah kiri Pak Hariono. Pak Ari mendapatkan julukan si “Panglima Pinggiran”.
Laksana sebuah peperangan. Mulai dari pinggiran, kemudian menguasai pusat kota.
Artinya, Pak Ari merasa
“senang” dan “nyaman” bertugas di sekolah pinggiran.
Sedangkan saya, duduk di dekat pintu mobil.
Sebagai “kernet” yang membuka dan menutup pintu mobil. Agak mirip dengan Pak
Ari.
Kami
menunggang mobil Toyota Avanza. Warna silver. Toyota Avanza, jenis mobil yang
“ditakuti” sopir bus.
Mengapa? Tidak bisa
disalip. Percuma mendahului mobil Toyota Avanza. Ketika berhasil mendahului
satu mobil Avanza.
Ternyata, di depan bus,
masih ada mobil Avanza lagi. Menyalib lagi. Masih ada lagi. Begitu seterusnya.
Saking banyaknya.
Selama
perjalananan. Kami membahas topik “ngalor ngidul”. Bicara “nggedabrus”. Juga
“ngomong blek”.
Sambil mendengarkan
radio SS, Radio Suara Surabaya.
Saat itu, Yoyong
Burhanuddin, penyiar SS menyampaikan telah terjadi peristiwa
kejahatan. Di suatu Bank Surabaya.
Si pelaku menggunakan
semacam isolasi “double tape”. Berusaha menghambat lubang masuk dan keluar
Kartu ATM. Kemudian penjahat memanfaatkan kejadian tersebut. Untuk
melaksanakan niat jahatnya.
Saya
mengawali pembicaraan, “Bank yang ditakuti pedagang adalah Bank Krut”.
Karena pedagang yang “bangkrut”, berarti barang dagangan habis.
Tetapi, uangnya juga ludes. Tak bersisa.
“Bank yang amat menjengkelkan adalah Bank
ES-A-TE,” ujar Pak Azhari.
“Bank apa itu?” tanya
Pak Hariono.
“Bangsat!”, seru Pak
Azhari. Kami tertawa bersama. Tapi, Pak Ari diam saja.
Mengapa? “Gak lucu”,
teriak Pak Ari. Sambil tersenyum. Kami tertawa meledak.
Ya, sungguh
lucu. Wong humor kok tidak lucu. Berarti kan lucu!
Setelah
salat Subuh, beberapa orang sudah siap berpakaian olah raga. Mereka membawa
peralatan tenis lapangan, berangkat dari kamar masing-masing menuju lapangan
tenis di pojok hotel Purnama, Batu, Malang.
Para
pemain tenis lapangan sudah melakukan pemanasan di lapangan. Pak Hartoyo, Pak
Solik, Pak Arie, Pak Wahid, sudah berkeringat sejak langit masih gelap.
Saya, Pak Mujib, Pak
Kayis, Pak Afani, dan beberapa orang dari kabupaten lain duduk manis di kursi
tepi lapangan menyaksikan permainan.
Permainan
tenis kelompok pertama selesai. Pak Wahid berkata,”Ayo, sekarang giliran Pak
Yusron, pemain tenis rasa badminton untuk turun ke lapangan.”
Saya
berpasangan dengan Pak Hartoyo berhadapan dengan pasangan Pak Solik dan Pak
Wahid.
Saya
mengenal olahraga badminton sejak kecil. Paman saya (Pak Chusyairi) adalah
seorang mantri kesehatan yang mempunyai lapangan badminton di samping rumahnya
di Desa Panjunan, Sukodono, Sidoarjo. Saya sering ikut menonton dan bermain
bersama teman-teman sebaya.
Tangan
saya sudah terbentuk lama untuk bermain badminton. Saya bermain tenis lapangan
baru ikut belajar setelah menjadi kepala sekolah dan biasanya bermain tenis
ketika ada kegiatan di luar kota yang ada lapangan tenisnya.
Saya
mempunyai raket tenis lapangan bekas pakai merk BB di Pasar Sepanjang, Taman,
Sidoarjo seharga Rp. 100.000,- dan sepatu olah raga merk Kodachi
seharga Rp. 85.000,- di Toko Santi Jaya Sukodono.
Permainan
baru dimulai, saya menerima bola yang diserve oleh Pak Wahid
Dan bola terbang
melambung jauh di atas pagar besi setinggi sekitar 5 meter dan jatuh di luar
pagar lapangan tenis.
Pak
Wahid berteriak,”Hebat, ini adalah permainan tingkat tinggi.” “Ya, sungguh
hebat! Pak Yusron adalah pemain tingkat tinggi, karena pukulannya jauh meninggi
melewati atas pagar lapangan tenis,” teriak Pak Arie dengan sumringah.
Pak
Hartoyo dan Pak Solik berteriak bersamaan,” Ya, Pak Yusron adalah pemain tenis
lapangan rasa badminton!”
Semua orang yang
menyaksikan bola melambung tinggi keluar lapangan, tertawa membahana.
Saya
juga ikut gembira dengan pukulan menyentak ala badminton ternyata
mampu menghilangkan bola tenis dan membuat semua orang tertawa
terbahak-bahak.
Menertawakan
diri sendiri dan tidak menyinggung orang lain adalah salah satu hiburan yang
menyenangkan.
55461. HUMOR MKKS SIDOARJO TENIS HOTEL PURNAMA BATU
HUMOR MKKS SIDOARJO TENIS
HOTEL PURNAMA BATU
Oleh: Drs. H.
M. Yusron Hadi, M.M.
Beberapa
tahun lalu. Kepala SMP Negeri Sidoarjo. Sebanyak 44 orang. Dari sekolah
masing-masing. Berangkat menuju ke Malang. Memakai kendaraan sendiri. Beberapa
orang bergabung dengan temannya. Termasuk saya. Dengan satu tujuan. Hotel
Purnama, Batu, Malang. Dalam acara Program MKKS Bermutu.
Saya
ikut menumpang mobil teman. Berangkat dari Bogi, Pademo Negoro, Sukodono. Pak
Rodhi, sebagai joki yang mengendalikan “kuda”. Agar baik jalannya.
Duduk di sebelah kiri
Pak Rodhi adalah Pak Azhari. Si “Ahli Hisap”. Tentu saja, sambil kebul-kebul.
Duduk dengan santai sambil merokok. Pak Azhari, si “Kepala Suku”.
Yang menentukan “abang ijonya” rombongan. Kapan berangkat. Jalur yang dilewati.
Di mana mampir. Kapan berhenti untuk makan dan “pipis”.
Di
belakang Pak Rodhi, duduk Pak Hariono. Si “Raja Lokal” yang memiliki IP tinggi.
Makna IP di sini, bukan hanya berarti Indeks Prestasi waktu
kuliah. Juga bermakna “Ilmu Pendekatan”. Terbukti, selama
bertugas sebagai kepala sekolah. Selalu berada di lokasi yang dekat
tinggalnya.
Pak Ari, berada di
sebelah kiri Pak Hariono. Pak Ari mendapatkan julukan si “Panglima Pinggiran”.
Laksana sebuah peperangan. Mulai dari pinggiran, kemudian menguasai pusat kota.
Artinya, Pak Ari merasa
“senang” dan “nyaman” bertugas di sekolah pinggiran.
Sedangkan saya, duduk di dekat pintu mobil.
Sebagai “kernet” yang membuka dan menutup pintu mobil. Agak mirip dengan Pak
Ari.
Kami
menunggang mobil Toyota Avanza. Warna silver. Toyota Avanza, jenis mobil yang
“ditakuti” sopir bus.
Mengapa? Tidak bisa
disalip. Percuma mendahului mobil Toyota Avanza. Ketika berhasil mendahului
satu mobil Avanza.
Ternyata, di depan bus,
masih ada mobil Avanza lagi. Menyalib lagi. Masih ada lagi. Begitu seterusnya.
Saking banyaknya.
Selama
perjalananan. Kami membahas topik “ngalor ngidul”. Bicara “nggedabrus”. Juga
“ngomong blek”.
Sambil mendengarkan
radio SS, Radio Suara Surabaya.
Saat itu, Yoyong
Burhanuddin, penyiar SS menyampaikan telah terjadi peristiwa
kejahatan. Di suatu Bank Surabaya.
Si pelaku menggunakan
semacam isolasi “double tape”. Berusaha menghambat lubang masuk dan keluar
Kartu ATM. Kemudian penjahat memanfaatkan kejadian tersebut. Untuk
melaksanakan niat jahatnya.
Saya
mengawali pembicaraan, “Bank yang ditakuti pedagang adalah Bank Krut”.
Karena pedagang yang “bangkrut”, berarti barang dagangan habis.
Tetapi, uangnya juga ludes. Tak bersisa.
“Bank yang amat menjengkelkan adalah Bank
ES-A-TE,” ujar Pak Azhari.
“Bank apa itu?” tanya
Pak Hariono.
“Bangsat!”, seru Pak
Azhari. Kami tertawa bersama. Tapi, Pak Ari diam saja.
Mengapa? “Gak lucu”,
teriak Pak Ari. Sambil tersenyum. Kami tertawa meledak.
Ya, sungguh
lucu. Wong humor kok tidak lucu. Berarti kan lucu!
Setelah
salat Subuh, beberapa orang sudah siap berpakaian olah raga. Mereka membawa
peralatan tenis lapangan, berangkat dari kamar masing-masing menuju lapangan
tenis di pojok hotel Purnama, Batu, Malang.
Para
pemain tenis lapangan sudah melakukan pemanasan di lapangan. Pak Hartoyo, Pak
Solik, Pak Arie, Pak Wahid, sudah berkeringat sejak langit masih gelap.
Saya, Pak Mujib, Pak
Kayis, Pak Afani, dan beberapa orang dari kabupaten lain duduk manis di kursi
tepi lapangan menyaksikan permainan.
Permainan
tenis kelompok pertama selesai. Pak Wahid berkata,”Ayo, sekarang giliran Pak
Yusron, pemain tenis rasa badminton untuk turun ke lapangan.”
Saya
berpasangan dengan Pak Hartoyo berhadapan dengan pasangan Pak Solik dan Pak
Wahid.
Saya
mengenal olahraga badminton sejak kecil. Paman saya (Pak Chusyairi) adalah
seorang mantri kesehatan yang mempunyai lapangan badminton di samping rumahnya
di Desa Panjunan, Sukodono, Sidoarjo. Saya sering ikut menonton dan bermain
bersama teman-teman sebaya.
Tangan
saya sudah terbentuk lama untuk bermain badminton. Saya bermain tenis lapangan
baru ikut belajar setelah menjadi kepala sekolah dan biasanya bermain tenis
ketika ada kegiatan di luar kota yang ada lapangan tenisnya.
Saya
mempunyai raket tenis lapangan bekas pakai merk BB di Pasar Sepanjang, Taman,
Sidoarjo seharga Rp. 100.000,- dan sepatu olah raga merk Kodachi
seharga Rp. 85.000,- di Toko Santi Jaya Sukodono.
Permainan
baru dimulai, saya menerima bola yang diserve oleh Pak Wahid
Dan bola terbang
melambung jauh di atas pagar besi setinggi sekitar 5 meter dan jatuh di luar
pagar lapangan tenis.
Pak
Wahid berteriak,”Hebat, ini adalah permainan tingkat tinggi.” “Ya, sungguh
hebat! Pak Yusron adalah pemain tingkat tinggi, karena pukulannya jauh meninggi
melewati atas pagar lapangan tenis,” teriak Pak Arie dengan sumringah.
Pak
Hartoyo dan Pak Solik berteriak bersamaan,” Ya, Pak Yusron adalah pemain tenis
lapangan rasa badminton!”
Semua orang yang
menyaksikan bola melambung tinggi keluar lapangan, tertawa membahana.
Saya
juga ikut gembira dengan pukulan menyentak ala badminton ternyata
mampu menghilangkan bola tenis dan membuat semua orang tertawa
terbahak-bahak.
Menertawakan
diri sendiri dan tidak menyinggung orang lain adalah salah satu hiburan yang
menyenangkan.
55460. GUYON MKKS SIDOARJO HOTEL PURNAMA BATU
GUYON MKKS SIDOARJO HOTEL
PURNAMA BATU
Oleh: Drs. H. M. Yusron
Hadi, MM.
Beberapa tahun lalu
Sebanyak 44 orang kepala
SMP Negeri Sidoarjo, dari sekolah masing-masing, berangkat menuju ke Malang.
Sebagian besar memakai
kendaraan sendiri, tetapi beberapa orang bergabung dengan temannya, termasuk
saya.
Dengan satu tujuan,
hotel Purnama, Batu, Malang, mengikuti acara Program MKKS Bermutu.
Saya ikut menumpang
mobil teman, berangkat dari Bogi, Pademo Negoro, Sukodono.
Pak Rodhi, sebagai joki
yang mengendalikan “kuda”, agar baik jalannya.
Duduk di sebelah kiri
Pak Rodhi adalah Pak Azhari, si “ahli hisab”.
Tentu saja, sambil
kebul-kebul, duduk dengan santai sambil merokok.
Pak Azhari, si “kepala
suku” yang menentukan “abang ijonya” rombongan.
Kapan berangkat, jalur
yang dilewati, di mana mampir, kapan berhenti untuk makan dan “pipis”.
Di belakang Pak Rodhi,
duduk Pak Hariono, si “raja lokal” yang memiliki IP tinggi.
Makna IP di sini, bukan
hanya berarti Indeks Prestasi waktu kuliah, juga bermakna “ilmu pendekatan”.
Terbukti, selama
bertugas sebagai kepala sekolah selalu berada di lokasi dekat tinggalnya.
Pak Ari, duduk di kursi
sebelah kiri Pak Hariono.
Pak Ari mendapat julukan
si “panglima pinggiran”.
Laksana sebuah
peperangan, mulai dari pinggiran, kemudian menguasai pusat kota.
Artinya, Pak Ari merasa
“senang” dan “nyaman” bertugas di sekolah pinggiran.
Sedangkan saya, duduk di
dekat pintu mobil, bertugas sebagai “kernet” yang membuka dan menutup pintu
mobil, agak mirip dengan Pak Ari.
Kami menunggang mobil
Toyota Avanza, berwarna silver.
Toyota Avanza adalah
jenis mobil yang “ditakuti” oleh para sopir bus.
Mengapa?
Karena tidak dapat
disalip.
Percuma mendahului mobil
Toyota Avanza.
Ketika berhasil
mendahului satu mobil Avanza.
Ternyata, di depan bus,
masih ada mobil Avanza lagi.
Menyalip lagi, masih ada
lagi, begitu seterusnya, saking banyaknya.
Selama perjalananan,
kami membahas topik “ngalor ngidul”, bicara “nggedabrus”, dan “ngomong blek”,
sambil mendengarkan radio SS, Radio Suara Surabaya.
Saat itu, Yoyong
Burhanuddin, penyiar SS menyampaikan telah terjadi peristiwa kejahatan yang
terjadi di suatu Bank Surabaya.
Si penjahat memakai
semacam isolasi “double tape” untuk menghambat jalan masuk dan keluarnya kartu
yang dipasang di mulut lubang masuk dan keluar Kartu ATM.
Dengan modus itu,
penjahat memanfaatkan model itu untuk melakukan niat jahatnya.
Saya mengawali
pembicaraan, “Bank yang ditakuti pedagang adalah Bank Krut, karena pedagang
yang “bangkrut”, artinya barang dagangannya telah habis, tetapi uangnya juga
ludes tidak ada sisanya.
“Bank yang amat
menjengkelkan adalah Bank ES-A-TE,” ujar Pak Azhari.
“Bank apa itu?” tanya
kami serentak.
“Bangsat!”, seru Pak
Azhari dan kami tertawa meledak berderai bersama.
Tetapi Pak Ari diam
saja.
Mengapa?
“Gak lucu”, teriak Pak
Ari, sambil tersenyum.
Kami tambah tertawa
meledak.
Ya, sungguh lucu, wong
humor kok tidak lucu.
Berarti kan lucu!









