M. NAJIKH ANGGAP IBUNYA RATU
Oleh: Drs. HM Yusron Hadi, MM

1. PWMU.CO – Mohammad Nadjikh telah
meninggal, hari Jumat (17/4).
2. Antusiasme
dan ide Pak Nadjikh dalam aktivitas sosial kemasyarakatan di Muhammadiyah, di
Institut Pertanian Bogor (IPB), dan kegiatan kemanusiaan lainnya diapresiasi
banyak kalangan.
3. Sosok
Pak Nadjikh perlu dicontoh.
4. Masa Sulit Kuliah di IPB
5. Demikian
juga di lingkungan IPB, kampus tempat Pak Najikh menuntut ilmu hingga menjadi
mahasiswa berprestasi.
6. Almarhum
telah memberikan kontribusi besar terutama dalam menumbuhkan jiwa entrepreneurship di
kalangan mahasiswa.
7. Penulis
menggarap bukunya: Mohammad Nadjikh sang Teri Menggurita tahun
2019 lalu.
8. Pak
Nadjikh tidak segan mengajak diskusi dan memberi motivasi kepada mahasiswa IPB baru lulus.
9. Pak
Nadjikh mengundang para mahasiswa IPB makan di restoran di Mall Kemang Village
Jakarta.
10. Pak
Nadjikh antusias menjamu mahasiswa makanan enak.
11. Dia
merasa betapa pahitnya menjadi mahasiswa IPB.
12. Ketika
itu orangtuanya hanya mampu membiayainya selama setahun setelah menjual harta
kekayaan di kampong.
13. Orangtua Pak Nadjikh, yaitu Moenardjo dan
Asnah, angkat tangan menyerah tidak mampu membiayai sekolah anak-anaknya.
14. Mohammad
Nadjikh mencari uang sendiri untuk kuliah dan biaya hidup di IPB dalam 3,5
tahun.
15. Kisah Penulisan Buku Biografi
1) Suatu
waktu pada bulan September 2018, saya tiba-tiba ditelpon Pak Nadjikh. “Pak
Tjahja, apa kabar? Masih ingat saya?” tanyanya di ujung telepon.
2) “Alhamdulillah
sehat. Kalau dari suaranya sih, ini pasti konglomerat dari Gresik. Tumben
telepon. Ada apa nih Pak?” jawab saya to the point.
3) Saya kenal
sejak 1990-an dan 2 kali berkunjung ke pabriknya di Kawasan Industri Gresik.
4) Saya
ke PT Kelola Mina Laut (KML), bukan undangan Pak Nadjikh, tapi pengusaha.
5) Kedua
pengusaha membawa saya mengunjungi pabril PT KML.
6) Keduanya
memiliki impresi kuat tentang Pak Nadjikh, seorang pengusaha daerah ulet dan
tangguh, sebagian produknya ikan hasil olah diekspor ke mancanegara.
7) Kesempatan
1, saya diajak dokter internist ahli finance yakni almarhum Tjptono Darmadji.
8) Berikutnya,
saya diajak Chairul Tanjung (CT), ketika mengerjakan biografi Chairul
Tanjung, si Anak Singkong, tahun 2011.
9) Pak
Nadjikh minta saya menulis perjalanan perusahaan PT KML jadi Kelola Grup pada
ulang tahun ke-25 September 2019.
10) Saya
katakan, “Kalau hanya menulis perusahaan kurang menarik, lebih menarik menulis
perjalanan hidup Pak Nadjikh sejak kecil sampai sekarang. Mulai dari nol hingga
mampu mengembangkan perusahaan selama 25 tahun.”
16. Pengorbanan Orangtua
1) Beliau
setuju dan saya mulai wawancara sana-sini.
2) Tidak
hanya ngobrol dengan karyawan dan direksi perusahaan, saya ke tempat kelahiran Pak Nadjikh di Desa
Karangrejo, Kecamatan Manyar, Kabupaten Gresik, Jawa Timur.
3) Menemui
keluarga dan kerabat Pak Nadjikh dan mendatangi Pondok Pesantren Maskumambang,
di Desa Sembungan Kidul, Kec Dukun, Kab Gresik.
4) Orangtuanya
ingin anak sulung 7 saudara bisa menguasai ilmu agama.
5) Orangtua
Pak Nadjikh pedagang ikan dan di Muhammadiyah.
6) Rumah
pasangan Pak Moenardjo dan Bu Asnah—keduanya sudah almarhum—sering digunakan berbagai
kegiatan Muhammadiyah di Desa Karangrejo.
7) Orangtuanya
kagum sosok KH Nadjih Ahjad, generasi terdahulu Ponpes Maskumambang.
8) Sehingga
orang tuanya menanamakan anak sulungnya Mohammad Nadjikh.
9) Dalam obrolan
dengan Pak Nadjikh, dia berkaca-kaca menetes air mata ketika menyinggung
pengorbanan orangtuanya.
10) Demikian
juga adik-adiknya Pak Nadjikh.
11) Mereka
sangat terharu perjalanan hidup kedua
orangtuanya.
12) Pak
Moenardjo pedagang ikan, ketika usahanya bangkrut, Bu Asnah berjualan bubur.
13) Untuk
dijual dan sarapan pagi anak-anaknya masih kecil.
14) Orang
tua tidak mampu membiayai sekolah anak-anaknya, tanggung jawab diambil Mohammad
Nadjikh anak tertua.
15) Kuliah
di IPB, Mohammad Nadjikh harus membiayai
kuliah dan biaya hidup di Bogor.
16) Dia
juga harus mengirim uang untuk orangtua dan adik-adiknya di kampung.
17) Bagaimana
mencari uang di IPB diceritakan lengkap dalam Buku Mohammad Nadjikh,
sang Teri Menggurita”, diterbitkan PT Gramedia Pustaka Utama (GPU).
17. Perlakukan Ibu seperti Ratu
1) Menjadi
pengusaha sukses seperti Mohammad Nadjikh atau Chairul Tanjung, bukan semata
karena cita-cita mereka, tetapi lebih
karena kondisi lingkungan memaksa
menjadi pengusaha.
2) Sekarang
Pak CT, sapaan akrab Chairul Tanjung, sudah menjadi konglomerat.
3) Demikian
juga Pak Nadjikh, salah satu pengusaha dari daerah yang sukses.
4) Keduanya
bukan anak orang kaya atau anak pejabat pemerintah.
5) Orangtua
kedua pengusaha orang sederhana.
6) Pak CT
maupun Pak Nadjikh sukses karena memperlakukan orangtuanya, terutama ibunya,
bagaikan ratu.
7) Adab
mereka perlu dicontoh siapa pun terutama generasi muda.
8) Saya
sebagai penulis ikut merinding mendengar, melihat langsung, menuangkan dalam
tulisan keteladanan dan sikap mereka terhadap orangtuanya.
9) Mereka
paham betul hadis Nabi,”Rida Allah tergantung pada rida orangtua dan murka
Allah tergantung pada murka orangtua.”
10) Kamu akan
menjadi raja, jika kamu memperlakukan orangtua sebagai raja.
18. Buku Biografi untuk Menginspirasi
1) Sebelum
menulis buku biografinya, Pak Nadjikh menekankan pada saya jika dirinya tidak
bermaksud pamer melalui bukunya.
2) “Saya ingin
orang lain melihat saya apa adanya.
3) Buku biografi
saya dibuat agar orang lain tahu yang saya lakukan merintis dan mengembangkan
perusahaan selama 25 tahun.
4) Semoga
nilai positif dalam dalam buku ini dijadikan bahan pembelajaran masyarakat
luas,” kata Pak Nadjikh.
5) Menjadi
sarana pembelajaran siapa pun yang ingin terjun ke swasta.
6) “Buku
ini diharapkan memberi inspirasi dan motivasi bagi siapa saja, tentunya
setidaknya bagi keluarga kami,” begitu kata pengantar Pak Nadjikh dalam buku
biografinya.
7) Nadijikh
sosok sederhana dan low profile.
8) Skala
perusahaannya membesar dan tumbuh pesat.
9) Ketokohannya
tidak banyak dimuat di media massa.
10) Ketika
penulis masih bekerja sebagai wartawan media mainstream di ibu kota, saya berulang
kali membujuk dan meyakinkan Nadjikh agar dia mau ditulis cerita sukses
membangun usahanya.
11) Waktu
itu, kata Nadjikh, tidak penting siapa dirinya, yang lebih utama usahanya bisa
berkembang menjadi perusahaan yang besar dan bermanfaat bagi masyarakat dan
bisa bersaing di dunia global.
(Sumber: internet)
0 comments:
Post a Comment