Wednesday, April 22, 2020

4233.SELAMAT DATANG RAMADAN


SELAMAT DATANG RAMADAN
Oleh: Drs. H. M. Yusron Hadi, M.M.
1.    Kata “marhaban” (menurut KBBI V) dapat diartikan “kata seru (afektif) untuk menyambut atau menghormati kedatangan tamu (yang berarti selamat datang)”, dan “lagu puji-pujian”.
2.    Kata “ya” dapat diartikan “kata untuk menyatakan setuju (membenarkan dan sebagainya)”, “ia”, “kata untuk memastikan, menegaskan dalam bertanya (…bukan)”, “tah”, “gerangan”, “kata untuk memberi tekanan pada suatu pernyataan”, “(kata seru) hai”, “o”, “kata untuk meyahut panggilan”, dan “nama huruf ke-29 abjad Arab”.
3.    Marhaban sama dengan “ahlan wa sahlan” artinya “selamat datang”.
4.    Meskipun keduanya bermakna “selamat datang”, tetapi penggunaannya berbeda.

5.    Para ulama tidak menggunakan “ahlan wa sahlan” untuk menyambut datangnya bulan Ramadan, tetapi memakai “marhaban ya Ramadan”.
6.    Kata “ahlan” terambil dari kata “ahl” yang artinya “keluarga”.
7.    Kata “sahlan” berasal dari kata “sahl” yang maknanya “mudah”, dan “dataran rendah” karena mudah dilalui, tidak seperti “jalan mendaki”.
8.    Ahlan wa sahlan adalah ungkapan selamat datang.
9.    Yang dicelahnya terdapat kalimat tersirat yaitu, “Anda berada di tengah keluarga dan melangkahkan kaki di dataran rendah yang mudah”.
10. Kata “marhaban” terambil dari kata “rahb” yang artinya “luas” dan “lapang”.
11. Marhaban menggambarkan.
1)    Tamu disambut dan diterima dengan dada lapang.
2)    Penuh kegembiraan.
3)    Dipersiapkan baginya ruang luas untuk melakukan apa pun yang diinginkannya.

12. Dari akar kata “marhaban”, terbentuk kata “rahbat” yang bermakna “ruangan luas untuk kendaraan, untuk memperoleh perbaikan atau kebutuhan pengendara guna melanjutkan perjalanan.”

13. Marhaban Ya Ramadhan berarti “Selamat datang Ramadan” mengandung arti.
1)    Kita menyambutnya dengan lapang dada.
2)    Penuh kegembiraan.
3)    Tidak dengan menggerutu.
4)    Tidak menganggap kehadirannya akan mengganggu ketenangan dan suasana nyaman kita.

14. Marhaban Ya Ramadan, kita ucapkan untuk menyambut bulan suci itu.
15. Kita mengharapkan jiwa raga kita diasah dan diasuh guna melanjutkan perjalanan menuju Allah.
16. Ada gunung tinggi harus ditelusuri guna menemui Allah, itulah nafsu.
17. Dan di gunung itu ada lereng curam, belukar lebat, dan perampok  mengancam, serta iblis merayu agar tidak melanjutkan perjalanan.
18. Bertambah tinggi gunung didaki, bertambah hebat ancaman dan rayuan, serta semakin curam dan ganas pula perjalanan.
19. Jika tekad tetap membaja, maka sebentar lagi akan tampak cahaya benderang.
20. Pada saat itu tampak dengan jelas rambu-rambu jalan, tampak tempat-tempat indah untuk berteduh, serta telaga-telaga jernih untuk melepaskan dahaga.
21. Jika perjalanan dilanjutkan akan menemukan kendaraan “Ar-Rahman” untuk mengantar musafir bertemu kekasih, yaitu Allah Yang Maha Pengasih lagi Penyayang.

22. Umat Islam perlu mempersiapkan bekal guna menelusuri jalan itu
1)    Benih-benih kebajikan yang harus kita tabur di lahan jiwa kita.
2)    Tekad membaja memerangi nafsu.
3)    Agar kita mampu menghidupkan malam Ramadan dengan salat dan tadarus.
4)    Dan siangnya ibadah kepada Allah melalui pengabdian untuk agama, bangsa dan negara.

23. Semoga kita berhasil, amin.

Daftar Pustaka
1.    Shihab, M.Quraish. Lentera Hati. Kisah dan Hikmah Kehidupan. Penerbit Mizan, 1994.
2.    Shihab, M. Quraish Shihab. Wawasan Al-Quran. Tafsir Maudhui atas Perbagai Persoalan Umat. Penerbit Mizan, 2009.
3.    Shihab, M.Quraish. E-book Membumikan Al-Quran.
4.    Al-Quran Digital, Versi 3.2. Digital Qur’an Ver 3.2
5.    Tafsirq.com online.

Related Posts:

0 comments:

Post a Comment