DEBAT SOAL
TEOLOGI
Oleh:
Drs. H. M. Yusron Hadi, M.M

A. Dari
Metafisik ke Teologi Pembebasan
1. Oleh
Prof Syafiq A Mughni.
2. Teologi
adalah pengetahuan ketuhanan (tentang sifat Allah, dasar kepercayaan kepada
Allah dan agama, terutama berdasar pada kitab suci).
3. PWMU.CO
– Pada zaman Nabi dan sahabat akidah adalah fondasi ajaran Islam.
4. Umat
Islam pada zaman itu meyakini apa yang diinformasikan oleh Allah dalam al-Quran
dan Nabi dalam ucapannya.
5. Mereka
tidak pernah bertanya atau memperdebatkan secara detail.
6. Setelah
zaman itu, baru muncul pertanyaan yang dijawab secara rasional dengan
memanfaatkan falsafah yang diwariskan oleh para filsuf Yunani.
7. Perdebatan
ulama Islam dengan teolog Yahudi, Kristen, dan Majusi dan rujukan mereka
terhadap falsafah Yunani menyebabkan Ilmu Kalam (teologi) berkembang.
8. Perkembangan
itu ditandai dengan banyaknya aliran yang berbeda bahkan saling bertentangan.
9. Setiap
aliran kalam melahirkan pecahan.
10. Perbedaan
dan pertentangan aliran semakin nyata saling mengklaim pemahamannya paling
besar.
11. Saling
mengecam dan menyesatkan antarpemikiran menjadi fenomena nyata dalam
perkembangan kalam setelah zaman sahabat.
12. Sampai
sekarang kita hanya berputar-putar tanpa menemukan jalan keluar dari perdebatan
teologis itu.
13. Orang
hanya akan memilih antara:
1) Aliran
Salaf atau Muktazilah.
2) Ahlussunnah
atau Syiah.
3) Asy’ariyah
atau Maturidiyah.
4) Murji’ah
atau Khawarij.
14. Ada gagasan
memandang semua aliran sebagai warisan intelektual penting untuk dipelajari, tetapi
bukan untuk memasung kita.
15. Jebakan
teologi yang spekulatif dan metafisis sudah saatnya ditinggalkan.
16. Kita
harus mengambil sisi positif dari semuanya.
17. Dan meninggalkan
fanatisme aliran.
B. Sisi
Positif Aliran Teologi
1. Aliran
Khawarij:
1) Wataknya
radikal dan tradisi pengkafiran.
2) Sesungguhnya
menyimpan ideologi kesetaraan manusia.
3) Punya doktrin
egalitarian dan keadilan kolektif (collective justice) sehingga aliran ini bisa
disebut sebagai akar sosialisme Islam.
4) Punya konsep
kepemimpinan demokratis.
5) Yakni
setiap orang punya hak sama untuk jadi pemimpin, meskipun budak.
6) Tidak
ada hak prerogatif kaum Quraisy untuk menjadi pemimpin.
2. Aliran
Muktazilah:
1) Punya doktrin
keadilan sebagai salah satu kepercayaannya yang asasi.
2) Keadilan dalam aliran ini bersifat distributif
material dan kemanusiaan yang sebelumnya dimaknai oleh Muktazilah sebagai
keadilan Tuhan yang transenden.
3) Punya doktrin
amar makruf dan nahi mungkar yang menjadi spirit tanggung jawab sosial.
3. Aliran
Syiah:
1) Punya doktrin
tauhid dan keadilan.
2) Syiah
Qaramitah, meskipun sering bertindak anarkis punya sisi positif.
3) Yakni usahanya
mengkombinasikan doktrin agama dan gerakan revolusi, program keadilan sosial
dan pembagian kembali harta kekayaan kepada seluruh pengikutnya.
C. Akidah
Mengandung Moral
1. Selain
berfikir eclectic expedience itu, ada lagi cara berfikir yang bermanfaat.
2. Yakni
memandang ayat al-Quran berkaitan akidah harus diberi makna moral.
3. Semua
ayat berkaitan hari akhir, seperti surga dan neraka, harus diartikan dorongan berbuat
baik dan ancaman bagi yang berbuat jahat.
4. Tanpa
harus berdebat apakah di surga nanti ada bidadari atau tidak.
5. Apakah
di neraka nanti orang yang berbuat dosa itu kekal atau tidak.
6. Sayangnya,
banyak ayat yang hanya dijadikan intellecual exercise.
7. Hingga
kehilangan pesan moralnya.
8. Zaman sekarang
teologi seharusnya bisa membumi sesuai tuntutan kehidupan umat manusia.
9. Dan menjawab
soal kehidupan yang sedang dihadapi.
10. Teologi
seharusnya tidak hanya membahas problem transenden, seperti zat dan sifat Tuhan.
11. Tetapi
juga hal bersifat kongkrit duniawi.
12. Dekontruksi
teologi perlu dilakukan untuk membaca kembali wacana teologi klasik.
13. Yang
hanya memaknai teologi sebatas ilmu ketuhanan yang transenden.
14. Menjadi
teologi dalam makna antroposentris yang historis.
15. Tujuannya
adalah kecaman teologi atas praktek dehumanisasi.
16. Dengan
meletakkan teologi pada problem aktual kemanusiaan, kita membuat teologi selalu
dinamis sesuai karakter manusia dinamis.
17. Teologi
seperti ini berarti teologi berfungsi pembebasan dan pembelaan atas manusia
dari sistem atau struktur yang menindas dan berlaku tidak adil.
D. Teologi
Al-Maun.
1. Dalam
tradisi Muhammadiyah ada teologi al-Ma’un.
2. Dalam
tradisi gereja di Amerika Latin ada teologi pembebasan.
3. Teologi
al-Maun dan teologi pembebasan adalah rekonstruksi
teologi rasional yang diusung oleh Muhammad Abduh, Ahmad Khan, dan kelompok
modernis lainnya.
4. Dalam
pandangan teolog Muslim saat ini, teologi rasional terlalu teoritis dan
konseptual dalam memaknai teks normatif al-Quran.
5. Teologi
rasional memproklamasikan kebebasan berpikir.
6. Tapi tidak
mendorong secara praktis terhadap pembebasan masyarakat lemah (dhuafa) dan yang
tertindas (mustadhfin).
7. Asumsi
dasar dari teologi pembebasan adalah manusia sejak lahir ditakdirkan merdeka
dan resisten atas segala bentuk penindasan.
8. Manusia
diberi akal menolak perbudakan, diskriminasi, feodalisme, sistem kasta dan
kelas sosial yang berimplikasi ketidakadilan.
9. Teologi
pembebasan lebih bermakna bagi masyarakat dan bukan sekadar wacana bersifat
elitis.
10. Teologi
pembebasan juga berkembang di kalangan intelektual Muslim, seperti Ali Asghar
Engineer di India dan Muslim Abdurrahman di Indonesia dengan sebutan teologi
transformatif.
(Sumber
M. Nurfatoni).
0 comments:
Post a Comment