Wednesday, November 15, 2017

480. MATSUR

METODE TAFSIR BIL MA’TSUR
Oleh: Drs. H. M. Yusron Hadi, M.M.


       Beberapa orang bertanya,”Mohon dijelaskan tentang “Penafsiran Al-Quran dengan Metode Bil Ma’tsur (periwayatan)?” Profesor Quraish Shihab menjelaskannya
      Al-Quran adalah sumber ajaran Islam yang menempati posisi sentral dalam perkembangan dan pengembangan ilmu keislaman, serta inspirator, pemandu dan pemadu gerakan umat Islam sepanjang empat belas abad.
     Sehingga pemahaman terhadap ayat Al-Quran, melalui penafsiran ayat Al-Quran mempunyai peranan yang sangat besar bagi kemajuan atau kemunduran umat Islam, dan penafsiran itu dapat mencerminkan perkembangan serta corak pemikiran mereka.
     Metode penafsiran “Bil Ma'tsur” (periwayatan) adalah metode penafsiran dengan cara mengutip atau mengambil rujukan pada Al-Quran, hadis Nabi, kutipan para sahabat, dan para tabiin.
      Tafsir bil ma’tsur telah ada sejak zaman sahabat, dan pada zaman sekarang tafsir bil ma’tsur dilakukan dengan cara menukil penafsiran dari Nabi, atau dari para sahabat kepada tabiin dengan tata cara yang jelas periwayatannya, cara seperti ini biasanya dilakukan secara lisan.
      Al-Quran surah An-Nahl, surah ke-16 ayat 47.

أَوْ يَأْخُذَهُمْ عَلَىٰ تَخَوُّفٍ فَإِنَّ رَبَّكُمْ لَرَءُوفٌ رَحِيمٌ
   
  “Atau Allah mengazab mereka dengan berangsur-angsur (sampai binasa). Maka sesungguhnya Tuhanmu adalah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.”
      Umar bi Khattab pernah bertanya kepada para sahabat yang lain tentang arti “takhawwuf” dalam Al-Quran surah An-Nahl, surah ke-16 ayat 47, kemudian  seorang Arab dari kabilah Huzail menjelaskan bahwa kata “takhawwuf” artinya “pengurangan”, berdasarkan penggunaan bahasa yang dibuktikan dalam syair pra-Islam, dan Umar bin Khattab merasa puas, lalu menganjurkan umat Islam untuk mempelajari syair tersebut dalam rangka memahami Al-Quran.
      Setelah masa sahabat pun, maka para “tabiin” dan “atba' at-tabi'in” masih mengandalkan metode periwayatan dan kebahasaan seperti sebelumnya, dan para ulama  berpendapat bahwa Al-Farra' (wafat tahun 207 Hijriah) adalah orang pertama yang mendiktekan tafsirnya “Ma'ani Al-Qur'an”, maka dari tafsirnya kita dapat melihat bahwa faktor kebahasaan menjadi landasan yang sangat kokoh.
      Keistimewaan metode ma’tsur adalah  (a) Menekankan pentingnya bahasa dalam memahami Al-Quran, (b) Memaparkan ketelitian redaksi ayat Al-Quran ketika menyampaikan pesannya, (c) Mengikat mufasir dalam bingkai teks ayat Al-Quran, sehingga membatasinya subjektivitas yang berlebihan.
      Kelemahan metode ma’tsur adalah (a) Terjerumusnya sang mufasir dalam uraian kebahasaan dan kesusasteraan yang bertele-tele sehingga pesan pokok Al-Quran menjadi kabur, (b) Sering kali konteks turunnya ayat dan uraian asbabun nuzul atau sisi kronologis turunnya ayat hukum yang dipahami dari uraian nasikh dan mansukh,  dapat dikatakan terabaikan, sehingga ayat Al-Quran itu bagaikan turun di tengah masyarakat tanpa budaya.
      Bahwa mereka mengandalkan bahasa, dan menguraikan ketelitiannya adalah wajar, karena penguasaan dan rasa bahasa mereka masih baik, juga karena ingin membuktikan kemukjizatan Al-Quran dari segi bahasanya.
      Tetapi menerapkan metode ma’tsur (riwayat) dan membuktikan kemukjizatan itu untuk masa sekarang, agaknya sulit karena orang Arab sendiri sudah kehilangan kemampuan dan rasa bahasanya.
     Metode ma’tsur (riwayat) istimewa apabila ditinjau dari sudut informasi kesejarahannya yang luas, dan objektivitas dalam menguraikan riwayat, sampai ada yang menyampaikan riwayat tanpa melakukan penyeleksian yang ketat.
      Sebagian ulama menilai bahwa tafsir ma’tsur yang berdasarkan riwayat, seperti halnya riwayat tentang peperangan dan kepahlawanan, kesemuanya tidak mempunyai dasar yang kokoh.
      Sebagian ulama ahli riwayat menekankan bahwa “Kami hanya menyampaikan dan silakan meneliti kebenarannya”, dan pegangan ini, secara umum melemahkan metode ma’tsur (riwayat) meskipun diakui bahwa sanad dari suatu riwayat sering kali dapat ditemukan, tetapi sebagian lainnya tanpa adanya sanad.
     Riwayat yang mempunyai sanad pun membutuhkan penelitian yang cukup panjang untuk menetapkan kelemahan dan kesahihannya, dan kelemahan lainnya adalah bahwa mufasir sering kali disibukkan dengan pendapat si A dan si B, yang sering kali  berbeda dan bertentangan, sehingga pesan ayat Al-Quran terlupakan.
      Sikap ketika mengandalkan riwayat dalam penafsiran AlQuran, antara generasi mereka dengan generasi para sahabat dan tabiin masih cukup dekat dan perkembangan sosial belum sepesat, sehingga tidak terlalu jauh jurang di antara mereka.
    Penghormatan terhadap para sahabat, karena kedudukan mereka sebagai murid langsung Nabi dan orang-orang berjasa, dan para tabi'in adalah peringkat kedua  sebaik-baik generasi, masih sangat berkesan dalam jiwa mereka.
     Pengakuan akan keistimewaan generasi terdahulu oleh generasi berikutnya masih mantap, yang agak berbeda dengan keadaan zaman sesudahnya, apalagi zaman sekarang, sehingga dalam menggunakan metode ma’tsur (riwayat) membutuhkan pengembangan dan seleksi yang cukup ketat.
Daftar Pustaka
1. Shihab, M.Quraish. Lentera Hati. Kisah dan Hikmah Kehidupan. Penerbit Mizan, 1994.   
2. Shihab, M. Quraish Shihab. Wawasan Al-Quran. Tafsir Maudhui atas Perbagai Persoalan Umat. Penerbit Mizan, 2009.
3. Shihab, M.Quraish. E-book Membumikan Al-Quran.
4. Al-Quran Digital, Versi 3.2. Digital Qur’an Ver 3.2
5. Tafsirq.com online

Related Posts:

0 comments:

Post a Comment