ANIES BASWEDAN 6 DARI 100 ANAK MISKIN KULIAH
Oleh: Drs. H. M. Yusron Hadi, M.M.
Dari Anies Baswedan.
Tak ada yang mewah.
Dalam warung pecel lele.
Di pinggir jalan itu.
Alat masaknya sederhana.
Kursinya dari plastik tipis.
Beberapa sudut mejanya.
Sedikit berlubang.
Tapi ada 1 keistimewaan.
Dalam warung pecel lele itu:
Penjualnya Wanita tangguh.
Ibu penjual pecel lele.
Hijrah ke ibukota dari Brebes.
Salah satu wilayah.
Tingkat kemiskinan tinggi.
Di Jawa Tengah.
Ratusan kilometer.
Dia tempuh.
Demi masa depan.
Yang lebih baik.
Bagi buah hatinya.
Sejatinya.
Dia tak hanya berdagang.
Di warung kecilnya.
Dia merancang generasi baru.
Yang cemerlang.
Rosi, sang buah hati.
Lahir dari tempat sederhana.
Tapi mimpinya menjulang tinggi.
Dia ingin jadi pengusaha.
Ia susun kepingan mimpinya.
Dengan jalur pendidikan formal.
Di sekolah.
Warung pecel itu.
Semacam lab. mini.
Untuk gapai cita-citanya.
Jadi pengusaha.
Di warung pecel itu.
Kami jadi saksi.
Potret Wanita.
Yang melukis.
Generasi masa depan.
Dalam tiap perjalanan Tirakat.
Untuk mendengar, menyerap, dan merasakan.
Kondisi terkini rakyat.
Di berbagai penjuru Republik.
Kami temui banyak Wanita.
Dalam kesederhanaan.
Tanpa disadari.
Dia mendidik buah hatinya.
Jadi pribadi tangguh.
Perempuan tiang tegaknya bangsa.
Penopang hidupan masyarakat.
Di mana pun kita berada.
Kita temui pribadi penggerak.
Pribadi
penggerak itu.
Kebanyakan wanita.
Di Jakarta.
Ada program Ibu Ibukota.
Yang temukan wanita penggerak.
Dampak peran mereka.
Dirasakan warga.
Meskipun mereka.
Tak terdengar .
Dan jadi berita.
Mereka tak nampak di permukaan.
Tapi membuat perubahan.
Zalim rasanya.
Jika negeri ini.
Membiarkan Wanita.
Berjuang sendirian.
Saat negara.
Tak melindungi Wanita dan anak.
Masa depan bangsa terancam.
Negara harus memuliakan.
Semua Wanita dan anak.
Tanpa kecuali.
Masalah Perempuan.
Masalah Bangsa
Republik ini.
Tak pernah kurang wanita.
Yang luar biasa.
Para Wanita Tangguh.
Tersebar di seluruh negeri.
Ibu penjual pecel lele.
Berjuang cari rezeki.
Mahasiswi semangat menata mimpi.
Simbok pedagang pasar.
Bersiap sejak dini hari.
Wanita pekerja kantor.
Berpeluh sedari pagi.
Wanita buruh pabrik.
Telaten bekerja.
Sampai ibu rumah tangga.
Kerap berjuang sendiri.
Tak terhitung.
Pengorbanan wanita.
Untuk Republik ini.
Negeri ini.
Perlu pahami Wanita.
Dengan sepenuh hati.
Bukan menghakiminya.
Dengan beragam persepsi.
Selama ini.
Para Wanita.
Menata satu per satu bata.
Untuk bangunan.
Masa depan.
Negeri ini.
Masa depan bangsa ini.
Dipertaruhkan.
Jika gagal.
Memuliakan Wanita.
Sayangnya.
Hari-hari ini.
Tak adil terpampang nyata.
Dalam tiap Langkah.
Kehidupan Wanita.
Sejak lahir.
Wanita sering tak diberi.
Kesempatan sama.
Bertumbuh dalam lingkungan.
Rawan kekerasan.
Dapat upah lebih rendah.
Saat bekerja.
Dalam keluarga.
Kerap emban tanggung jawab.
Mengasuh sendirian.
Ketika buah hati lahir.
Dari rahimnya.
Ibu bertemu kenyataan pahit.
Yaitu 1
dari 5 anak Indonesia.
Alami stunting.
Kurang gizi kronis.
Saat buah hatinya.
Tempuh pendidikan.
Wanita dihadapkan.
Kondisi tak
adil.
Meskipun 70 tahun lebih.
Negeri ini merdeka.
Tapi 7 dari 10 anak.
Putus sekolah.
Karena faktor ekonomi.
Hanya 6 dari 100 anak.
Dalam keluarga miskin.
Mampu akses pendidikan.
Sampai perguruan tinggi.
Kita perlu ingat .
Di mana pun lokasi lahirnya.
Apa pun status ekonominya.
Tiap anak di Indonesia.
Punya hak untuk tercerdaskan.
Perih rasanya.
Ketika doa ibu.
Untuk pendidikan anaknya.
Terbentur kenyataan.
Bahwa negeri ini.
Belum bisa penuhi janjinya.
Mencerdaskan kehidupan.
Tiap anak bangsa.
Bukan hanya soal wanita.
Tak cuma problem keluarga.
Hal ini.
Masalah bangsa.
Jika soal ini dibiarkan.
Maka generasi masa depan.
Terancam tak terdidik.
Bonus demografi.
Selama ini digaungkan.
Bisa berubah jadi bom waktu.
Untuk negeri ini.
Perlakuan negara.
Pada wanita dan anak.
Wajib berubah.
Ketika negara komitmen.
Berpihak pada perempuan.
Efek masa depannya dahsyat.
Hal itu ikhtiar jangka Panjang.
Hasilnya tak kasat mata.
Tak bisa langsung difoto.
Tapi layak terus diperjuangkan.
Kelak disyukuri hasilnya.
Gelar Keadilan.
Hadirkan Kesempatan
Jika bicara Indonesia maju dan adil.
Di masa depan.
Maka perlu focus.
Tingkatkan mutu manusia.
Tempatkan kesehatan, pendidikan, dan kebahagiaan.
Tiap anak bangsa.
Sebagai prioritas.
Bukan jadikan manusia.
Hanya salah satu komponen produksi.
Cara terbaik.
Merancang mutu manusia Indonesia.
Dengan focus.
Pada generasi masa depan.
Tugas negara.
Untuk memastikan.
Bahwa tiap anak.
Punya kesempatan sama.
Untuk berkembang.
Hal itu.
Bentuk konkret.
Keadilan social.
Bagi seluruh rakyat Indonesia.
Kita dorong 3 gagasan keadilan.
Beri kesempatan sama.
Bagi generasi masa depan.
Yaitu:
1)
Adil pemenuhan gizi.
2)
Adil pendidikan.
3)
Adil perlindungan.
1.
Pemenuhan gizi.
Tiap anak di wilayah negeri ini.
Berhak mendapat asupan gizi layak.
Hal itu.
Bukan sekadar soal kesehatan.
Tapi
masa depan negeri ini.
Pendekatan
tak sekadar program.
Tapi
kerja kolektif semua elemen.
Peran negara.
Bukan
sekadar administrator.
Tapi
orkestra kolaborasi.
Semua
elemen bangsa.
Negara
perlu rendah hati.
Rangkul
semua kepentingan.
Khususnya
para perempuan.
Demi
penuhi hak gizi layak.
Bagi
semua anak.
Ikhtiar ini.
Kami
jalankan di Jakarta.
Dengan
Kartu Anak Jakarta (KAJ).
Untuk
penuhi gizi anak.
Pendekatan
tak hanya.
Pada
bantuan social.
Tapi
kolaborasi penuhi gizi anak.
Bersyukur upaya tingkatkan gizi.
Pemberian Makanan Tambahan Untuk Anak Sekolah
(PMTAS).
Berhasil
jangkau 200.000 pelajar.
Khususnya
kampung pra-sejahtera.
Pemberian makanan tambahan.
Asupan
gizi sesuai anak.
Misalnya.
Kami
tak ingin.
Anak-anak
dapat asupan gula berlebih.
Negara ini.
Hadapi
2 titik ekstrem.
Kesehatan
anak-anak.
Yaitu
angka:
1)
Stunting
tinggi.
2)
Obesitas tinggi.
Jadi momok bagi anak negeri ini.
Kondisi itu cermin buram.
Belum adil gizi pada anak.
Tugas negara pastikan.
Tiap anak berhak dan mudah.
Dapat akses gizi seimbang.
Bukan hanya soal dampak.
Kami pikir proses kolaboratif.
Wanita seringa tidak dilibatkan.
Dalam beragam inisiatif pembangunan.
Kami ubah perspektif itu.
Yaitu para Wanita.
Penggerak utama Gerakan.
Dalam 600 lebih komite sekolah.
Para Wanita jadi aktor penting.
Dalam program ini.
Mulai rancang strategi.
Hingga eksekusi Gerakan.
Tingkatkan asupan gizi.
Tak 1-2 kali.
Kami tempatkan wanita.
Sebagai aktor penggerak.
Pada saat pandemic.
Para ibu PKK.
Berperan sentral.
Mulai data bantuan bagi warga.
Sampai percepat vaksinasi.
Kami jadi saksi.
Para Wanita.
Penggerak paling paham lingkungan.
2. Keadilan pendidikan bagi semua.
Tingkatkan SDM manusia.
PR terbesar negeri ini.
Pendidikan kunci kembangkan
Mutu manusia Indonesia.
Eskalator sosial ekonomi.
Bagi jutaan anak.
Tiap wilayah negeri ini.
Anak sudut negeri.
Capai pendidikan tinggi.
Disebut hebat.
Dan luar biasa.
Kita ubah hal "luar biasa".
Jadi "lumrah".
Mewujudkan normal baru.
Bahwa di mana pun lahirnya.
Dari mana pun asalnya.
Tiap anak layak dan normal.
Dapat pendidikan tertinggi.
Kita ingin tiap anak.
Tak hanya belajar 12 tahun.
Tapi hingga tertinggi.
Negara hadir sejak usia emas anak.
Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD).
Kita ingin masif PAUD Inpres.
Tiap sudut negeri ini.
PAUD Inpres.
Komitmen kami.
Pada jutaan keluarga.
Bahwa Republik ini.
Setia temani perjuangan ibu.
Mendidik buah hatinya.
Sejak usia dini.
Saat jadi Gubernuir Jakarta.
Kami wujudkan komitmen.
Siap Pendidikan.
Sejak usia dini.
Hingga pendidikan tinggi.
Mulai hadirkan:
1)
167 PAUD
negeri gratis.
2)
900.000 lebih
penerima Kartu Jakarta Pintar (KJP) Plus.
3)
Bantuan
pendidikan masuk sekolah swasta.
4)
14.000 lebih penerima
manfaat Kartu Jakarta Mahasiswa Unggul.
Semua
itu.
Upaya
hadirkan kesempatan sama.
Bagi
tiap anak.
Dapat
pendidikan terbaik.
Kami
ingin.
Negara
hadir buka “kesempatan”.
Bagi
mereka yang lahir.
Dalam
"kesempitan".
3. Keadilan perlindungan bagi anak.
Rasa
aman hak dasar dan utama.
Semua
anak berhak.
Dapat
rasa aman.
Tapi lingkungan.
Dan
institusi pendidikan.
Belum jadi ruang aman.
Bagi
anak.
Mimpi
Ki Hadjar Dewantara.
Jadikan
sekolah.
Layaknya
taman bermain.
Membahagiakan
anak-anak.
Ternodai
kasus kekerasan.
Dan
perundungan.
Di
sekolah.
Sejak lama.
Perlindungan
pada anak.
Jadi
prioritas kami.
Komitmen
itu kami tuangkan.
Saat
kelola Pendidikan.
Permendikbud No. 82 tahun 2015.
Tentang
Pencegahan dan Penanggulangan Tindak Kekerasan di Sekolah.
Peran negara.
Tak
hanya lindungi fisik anak.
Tapi
juga kesehatan mental anak.
Tiap
anak di negeri ini.
Layak
dapat mudah
Akses
layanan kesehatan mental.
Bersyukur.
Selama
di Jakarta.
Kami
siap puluhan psikolog gratis.
Di
Puskesmas.
Hal itu.
Komitmen kami.
Bahwa
negara harus penuhi.
Hak
anak dapat rasa aman.
Termasuk
hak anak difabel.
Dapat
perlakuan adil.
Ketika bicara anak-anak.
Visinya
tidak parsial.
Mustahil
bicara generasi masa depan.
Tanpa
muliakan perempuan.
Berpihak Pada Perempuan
Salah satu janji kami.
Saat
jadi Gubernur Jakarta.
Periode
2017- 2022.
Yaitu
Memuliakan Perempuan.
Kami
menyebut janji.
Bukan
sekadar program.
Karena
janji harus dilunasi.
Keberpihakan
pada perempuan dan anak.
Kami
tuangkan konkret.
Jadi
Kegiatan Strategis Daerah.
Ikhtiar
itu.
Alhamdulillah.
Kini
telah tuntas.
Visi dan gagasan.
Terus
kami dorong.
Upaya
penuhi hak perempuan.
Memuliakan
posisi perempuan.
1.
Pertama dan
terutama.
Tak ada toleransi.
Bagi kekerasan pada perempuan.
Negara berpihak 100 persen
Pada korban.
Selama bertugas di Jakarta.
Kami tegaskan.
Bahwa negara hadir dan melindungi.
Termasuk aspek biaya.
Mulai:
1)
Pencegahan.
2)
Respons.
3)
Rehabilitasi korban
kekerasan.
Bukti konkret komitmen.
Yaitu layanan pelaporan kekerasan.
Lewat Jakarta Siaga 112.
Terintegrasi kepolisian.
Siap 300 gerai lebih.
Pelaporan di:
Kantor pemerintah.
Perguruan tinggi.
Transportasi publik.
Korban kekerasan.
Bisa manfaatkan fasilitas 2 rumah aman.
Dan pelayanan medis 32 Rumah Sakit .
Termasuk fasilitas visum gratis.
Tugas negara.
Jamin keselamatan ibu.
Banyak ibu dan bayi.
Meninggal dunia.
Saat melahirkan.
Menggendong buah hati.
Momen paling bahagia.
Bagi seorang ibu.
Bayangkan.
Betapa hancur hatinya.
Ketika momen itu.
Berganti menguburkan.
Sang buah hati.
Negara tak boleh.
Pertaruhkan nyawa ibu.
Dan buah hatinya.
Negara harus jamin nyawa.
Tiap ibu dan anak.
Yang lahir dari rahimnya.
Misi kami.
Angka Kematian Ibu (AKI).
Dan Angka Kematian Bayi (AKB).
Harus diturunkan.
Jika ada 1 saja.
Kasus kematian ibu atau anak.
Angka terlalu besar .
Tak bisa ditoleransi.
Komitmen kami berikutnya.
Menciptakan ekosistem.
Memuliakan perempuan.
Selama ini.
Seakan-akan tanggung jawab.
Mengasuh dan menyiapkan.
Masa depan anak-anak.
Hanya disematkan pada perempuan.
Persepsi itu keliru.
Tanggung jawab kembangkan.
Mutu generasi masa depan.
Yaitu kerja kolektif Bersama.
Tak hanya ibu.
Tapi juga ayah.
Dan lingkungan.
Bahkan negara.
Kita ingin pastikan.
Semua pemangku kepentingan
Mulai pemerintah, sektor industry.
Dan warga berpihak perempuan.
Ikhtiar itu.
Sudah kami jalankan.
Di Jakarta.
Lewat beberapa inisiatif.
Dalam Pemerintah
Daerah.
Kami mulai langkah kebijakan.
1)
Cuti ayah 1
bulan.
Saat istrinya melahirkan.
Kehadiran ayah diharapkan.
Bisa optimalkan.
Masa penting tumbuh anak.
Dan kurangi beban domestik perempuan.
Tiap tempat kerja.
Harus jadi ruang ramah.
Bagi pekerja perempuan.
Bagi ibu yang bekerja.
Tugas negara hadirkan.
Ruang tumbuh kembang.
Bagi anak yang aman.
Mendengar aspirasi perempuan.
Kami dorong siap daycare.
Tempat penitipan anak.
Mulai kantor pemerintah.
Dan dan pasar tradisional.
Hak perempuan mulai:
1)
Cuti hamil.
2)
Cuti haid.
3)
Bebas dari
kekerasan.
4)
Layanan
pendukung.
Seperti ruang laktasi menyusui .
Wajib dipenuhi.
Perempuan berhak.
Dapat upah setara.
Tak boleh diskriminasi upah.
Bagi pekerja perempuan.
Pada saat perempuan berkembang.
Semua warga dapat manfaat.
Generasi penerus.
Dapat awal lebih baik.
Dalam hidup.
Negara ini perlu tegas berkomitmen menghasilkan
kebijakan yang berempati dan berpihak pada perempuan.
Kepada para perempuan tangguh di negeri ini:
1)
Ibu rumah
tangga.
2)
Pekerja
kantoran.
3)
Pedagang
kecil.
4)
Mahasiswi.
5)
Remaja putri.
6)
Calon ibu.
7)
Single parent.
8)
Jutaan
perempuan tangguh di sudut-sudut negeri ini.
Izinkan kami membersamai perjuangan sunyi yang
sudah perempuan jalani selama ini.
Ikhtiar kami negara ini tak boleh membiarkan
perempuan berjuang sendirian.
Ini memang jalan yang jarang diperhatikan, tapi
akan terus kita perjuangkan sekuat-kuatnya, layaknya perjuangan seorang ibu
demi masa depan buah hatinya.
(Anies Rasyid Baswedan, Ph.D.)
Gubernur
DKI Jakarta.
Periode
2017-2022
0 comments:
Post a Comment