VIRUS
MANTAN MENTERI KESEHATAN
Oleh:
Drs. H. M. YusronHadi, M.M

1. Siti
Fadilah: Saya hanya bisa menangis karena tak bisa berbuat apa-apa
2. Eks
Wakil Ketua DPR Fahri Hamzah bahkan telah menyerukan pembebasan Siti jauh
sebelum petisi itu diluncurkan.
3. Menurut
Fahri, Siti dijebloskan ke penjara karena membongkar konspirasi antara World
Health Organization (WHO) dan Amerika Serikat dalam bisnis vaksin.
A. Bagaimana
pengalaman pandemi flu burung dan flu babi?
1. Pada
waktu flu burung, saya bisa mematahkan secara saintifik pernyataan WHO yang
mengatakan sudah terjadi human to human transmission itu bohong.
2. Mereka
hanya memakai kriteria epidemiologi, saya menggunakan virologi yang lebih
definit.
3. Saya
protes ke PBB dan pernyataan pandemik dicabut oleh WHO pada 2006.
4. Saya
membuat resolusi didukung 128 negara.
5. (Kami)
menghadapi adidaya membiayai WHO yang membuat sistem tidak adil.
6. Resolusi
Indonesia yang saya pimpin berhasil disetujui dunia tahun 2011.
7. Mulai
saat itu, lalu lintas virus ganas harus transparan.
8. Saya
tidak hanya menduga kongkalingkong WHO dengan perusahaan farmasi.
9. Tapi,
saya melihat buktinya ketika parlemen Uni Eropa menggerebek WHO.
B. Untuk
flu babi seperti apa?
1. Terjadi
tahun 2009.
2. Pertengahan
2008, saya tahu virus H1N1 Puerto Rico disebut flu babiitu berada di CDC
(Centre for Disease Control and Prevention) Atlanta. Saya tahu dan
berkomunikasi dengan pejabatnya di sana.
3. Sewaktu
WHO mengembalikan virus H5N1 yang saya minta, ternyata ada yang tercampur
dengan H1N1.
4. Ketika
pandemi flu babi merebak, saya meneriakkan bahwa virus itu berasal dari lab
besar bukan berasal dari binatang seperti yang dikatakan WHO.
5. Suara
saya gayung bersambut para ahli dari Kanada dan Eropa.
6. Akhirnya,
pandemi itu berhenti, hanya Meksiko hancur ekonominya.
7. Indonesia
belum terimbas karena saya kerja sama dengan negara yang ada di perbatasan
dengan Indonesia.
8. Yaitu
Singapura, Brunei, Malaysia yakni, bila ada WNI H1N1 positif dilarang masuk
Indonesia.
9. Saya
minta tolong diobati di negara Singapura, Malaysia atau Brunei.
10. Saya handle
sendiri mengumumkan hasil pemeriksaan spesimen yang suspect.
C. Apa
kunci keberhasilan pemerintah ketika itu?
1. Ke-1:
Pemimpin dalam mengatasi pandemik flu burung.
1) Menkes,
menguasai substansi ilmiah virus outbreak dan substansi politik kesehatan.
2. Ke-2:
Menguasai aturan internasional tentang kesehatan.
2) Antara
lain IHR (International Health Regulation) tahun 2005. K
3) apan
pandemik boleh di-declare dan sebagainya.
4) Jadi,
kita tidak bisa ditipu lembaga WHO.
3. Ke-3:
Tidak takut dengan siapa pun untuk melindungi bangsa dan negaranya.
4. Ke-4:
Menggalang kekuatan politik antarnegara
di dunia dengan transparency, equity dan fairness.
1) Ternyata
negara besar seperti Inggris, Rusia, Prancis, Jerman, India, dan China langsung
berdiri di belakang kita.
2) Kita berhasil
meyakinkan mereka yang kita perjuangkan adalah keselamatan dunia.
D. Saat
ini, pemerintah pusat kerap terlibat silang pendapat dengan pemerintah daerah
dalam penanganan Covid-19. Pada saat Anda memimpin penanganan flu burung,
apakah situasi seperti ini juga terjadi?
1. Waktu
saya mimpin penanganan flu burung, tidak ada tarik-menarik antara pusat dan
daerah.
2. Sepertinya
ada UU Otonomi Daerah, kalau ada bencana nasional, the leader adalah pusat.
3. Waktu
itu kompak banget.
4. Saya
yang mimpin, Bapak SBY tut wuri handayani.
5. Kalau beliau kurang paham atau punya pandangan
lain, saya dipanggil untuk diskusi.
6. Saya
sangat apresiasi sikap beliau dalam memimpin, menempatkan ahli di tempatnya.
7. Beliau
mengikuti, menolong bila dibutuhkan, memberi semangat, dan menguatkan aturan
birokrasi yang kami perlukan.
E. Apa
saja aset yang dimiliki bangsa ini untuk melawan pandemi Covid-19?
1. Terus
terang saya menangis.
2. Covid-19
bisa dilawan di China ketika mulai muncul pada 1 Januari - 31 Januari.
3. Tapi,
tidak dilakukan China dan berlanjut ke tanggal 11 Maret ketika Covid-19
dinyatakan pandemi.
4. Tidak
orang protes apakah kriteria PHEIC (Public Health Emergency of International
Concern) dari WHO, 31 Januari itu benar?
5. Kriteria
pandemik saat itu apakah sudah sesuai?
6. Semuanya
terjadi begitu saja.
7. Padahal,
waktu antara itu sangat penting untuk kita bersiap-bersiap.
8. Tapi,
tidak ada perhatian.
9. Akhirnya
(Covid-19 sampai) ke negara kita.
10. Saya meskipun
di penjara, saya ikuti terus detik demi detik.
11. Saya
hanya bisa menangis karena saya tidak bisa berbuat apa-apa.
12. Berteriak
tidak akan didengarkan.
13. Di
sini para pemimpin lupa.
14. Tim
saya, waktu itu adalah aset berharga karena berpengalaman langsung dengan
pandemi dan bisa melihat solusinya.
15. Tapi,
tidak ada yang ingat.
16. Mungkin,
saya di penjara, dipikir saya sudah tolol.
17. Ya,
sudah, saya melihat sdengan menangis.
18. Rumus
saya orang mimpin penanggulangan Covid-19, apa pun namanya harus menguasai
substansi ilmiah dan politik kesehatan sekaligus.
19. Tampaknya,
ini tidak terjadi dalam (penanganan) Covid-19 di Indonesia.
20. Ini
bencana kesehatan, bukan bencana gempa atau tsunami.
21. Penanganannya
sangat beda.
22. Aset
fisik dari (penangangan) flu burung sangat bisa digunakan.
23. Misalnya,
saya dulu membuat 100 ICU (intenstive care unit) khusus flu burung di seluruh
Indonesia.
24. Saya
dulu sangat dekat ahli virologi seluruh Indonesia membuat program pencegahan
dan sebagainya.
25. Lab
litbangkes sekarang adalah peninggalan (penanganan) flu burung yang sangat
baik, misalnya, di RS Sulianti Saroso dan sebagainya.
F. Para
guru besar Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia menganggap
institusi dan fasilitas kesehatan kita tidak mampu mengatasi pertambahan pasien
masif karena Covid-19. Anda sepakat?
1. Fasilitas
rumah sakit tidak mampu mengatasi ledakan sakit karena Covid-19.
2. Harus
dikerjakan pencegahan efektif, yaitu physical distancing dan screening masif dan
serentak.
3. Akan
jelas yang positif dan negatif Covid-19.
4. Screening
harus memakai swab test sesuai virus, setara pemeriksaan PCR (polymerase chain
reaction), hasilnya langsung dibaca.
5. Yang
memamakai metode ini Korea, Singapura, Middle East.
6. Kita
belum punya.
7. Tapi,
(alat) rapid test yang dibeli ada harus dilihat juga.
8. Ada
risikonya karena virusnya memang tidak sama.
9. Selain
itu, membuat isolasi mandiri.
10. Itu
untuk yang positif asimtomatik dan akan mengurangi penderita berat.
11. Membuka
rumah sakit menampung banyak pasien baik, tapi disertai infrastruktur betul.
G. Hari-hari
ini, Jakarta dengan fasilitas dan infrastruktur kesehatan relatif komplet kewalahan. Kondisi daerah tentu lebih parah.
Solusinya apa?
1. Memang
infrastruktur kesehatan kita tidak bisa menampung penderita Covid-19 bila cara
pencegahannya seperti ini.
H. Jokowi
menetapkan status darurat kesehatan masyarakat dan mengeluarkan kebijakan
pembatasan sosial berskala besar (PSBB) untuk meredam wabah Covid-19. Anda
menilai itu cukup?
1. PSBB
baik jika dijalankan dengan disiplin.
2. Tapi
tidak efektif bila tidak disertai screening masif serentak dengan swab rapid
test sesuai dengan virus kita.
I. Anda
sepakat tidak perlu karantina wilayah atau lockdown?
1. Tidak
perlu lockdown.
2. Keputusan
politik Pak Jokowi sudah tepat karena lockdown akan berdampak buruk terhadap
kondisi sosial, politik, dan ekonomi.
3. Untuk
dampak kesehatannya tidak banyak berbeda dengan PSBB.
4. Lockdown
risiko ekonominya lebih berat dari PSBB dan risiko politiknya kita bisa kehilangan kedaulatan bangsa.
5. Untuk
mencegah penyebaran Covid-19 dengan screening masif dan serentak dan pemberlakuan PSBB, yang positif diisolasi.
J. Sejumlah
negara tidak menempuh lockdown dan berhasil melawan Covid-19, contohnya Korsel.
Tapi Korsel bertindak cepat melakukan screening luas. Indonesia tidak. Pendapat
Anda?
1. Kunci
Korsel mencegah penularan terletak screening masif dan serentak waktu penderita
positif masih sedikit.
K. PSBB
dianggap belum efektif di lapangan. Apa yang membuat Anda yakin kebijakan ini
lebih baik ketimbang lockdown?
1. PSBB lebih
diaktifkan berkeadilan sosial, tapi harus sesuai UUD 45 bahwa pemerintah harus
melindungi rakyat sebaik-baiknya.
L. Khusus
screening massal, apa saran Anda supaya efektif? Perlukah tes massal Covid-19 gratis
bagi warga miskin seperti di AS dan Korsel?
1. Syarat
ke-1: Screening masal harus masif serentak terhadap jumlah yang besar.
2. Syarat
ke-2: Mamakai alat tes cepat setara PCR sesuai virus.
3. Syarat
ke-3: Dilaksanakan sistematis dan gratis.
M. Untuk
deteksi Covid-19, Indonesia masih kebingungan. Semula pakai RT-PCR. Dikritik
hasilnya terlalu lama, pemerintah menambah rapid test. Dikritik tidak akurat.
Kini, diusulkan pakai TCM biasa dipakai untuk mendeteksi TBC. Menurut Anda,
mana cocok untuk Indonesia?
1. Untuk
mendeteksi virus, saya sarankan PCR spesifikasi primer sesuai dengan virus.
2. Untuk TCM,
saya tidak tahu apa kompatibel untuk Indonesia.
3. Kuncinya
screening masif serentak dengan swab rapid test sesuai virus.
N. Banyak
pihak menilai pemerintah terlambat merespons Covid-19. Pemerintah dinilai
meremehkan. Anda setuju itu?
1. Saya
tidak mau menjawab.
O. Seperti
negara lain, Indonesia berjuang menemukan vaksin Covid-19. Anda yakin?
1. Menurut
saya, tidak perlu vaksin sekarang ini.
P. Menurut
Anda, apakah kerja sama internasional menangani pandemi Covid-19 sudah baik?
1. Saya
tidak melihat kerja sama internasional menonjol untuk meringankan beban negara
kita dalam menghadapi Covid-19.
(Sumber:
internet)
0 comments:
Post a Comment