Wednesday, June 7, 2017

88. AHLI SHUFFAH

AHLI SHUFFAH.
“SANTRI KELELAWAR” MASJID NABAWI
Oleh: Drs. H. Yusron Hadi, M.M.
Kepala SMP Negeri 1 Balongbendo, Sidoarjo

      Shuffah merupakan sebuah lokasi di Madinah.  Tempat menampung para pendatang dan fakir miskin. Kaum Muhajirin yang hijrah dari Mekah. Para pendatang yang belum memiliki rumah. Tidak mempunyai kerabat di Madinah. Mereka tinggal di Shuffah. Menginap di Masjid Nabawi.
      Mereka datang dari jauh. Bermaksud belajar ilmu agama. Laksana santri di sebuah pondok pesantren. Mereka orang “bebas” dan “nomaden”. Tak memiliki tempat tinggal tetap. Bisa disebut “santri kelelawar”. Mereka “hinggap” di mana-mana.
      Mereka menuntut ilmu agama. Agar mampu menyebarkan kepada kaumnya. Bertugas memberikan bimbingan dan pencerahan. Sekembalinya dari belajar agama.
      Al-Quran surah At-Taubah. Surah ke-9 ayat 122. “Tidak sepatutnya orang-orang mukmin semuanya pergi berperang. Mengapa tidak pergi di antara mereka. Memperdalam pengetahuan tentang agama. Untuk memberi peringatan kepada kaumnya. Apabila mereka telah kembali kepadanya. Agar mereka dapat menjaga dirinya.”
        Para Ahli Shuffah merupakan pemeluk Islam pendatang. Dianggap sebagai  tamu Islam oleh Nabi. Mereka tidak punya tempat tinggal. Tak memiliki kerabat di Madinah. Zaman dahulu, mereka tinggal di “teras” Masjid Nabawi. Di sebelah utara rumah Aisyah, istri Nabi.
    Jumlah para Ahli Shuffah tak menentu.  Jumlah penghuni “normal” sekitar 70 orang. Mereka bisa bertambah. Apabila banyak tamu dari luar kota. Jumlahnya bisa mencapai 700 orang. Bisa berkurang. Ketika sebagian mereka bepergian.
      Para Ahli Shuffah yang terkenal. Abu Hurairah, perawi hadis ternama, berasal dari Yaman. Salman Al-Farisi, pencetus Perang Parit, berasal dari Persia. Bilal bin Rabah, mantan budak, muazin Nabi. Hanzalah bin Abi Amr, mati syahid dalam Perang Uhud. Hanzalah, si pengantin baru belum mandi junub, dimandikan malaikat. Banyak lagi lainnya.
      Jika Nabi mendapatkan sedekah. Beliau segera mengirimkan kepada Ahli Shuffah. Nabi tidak mengambil sedikit pun. Kalau mendapatkan hadiah, maka Nabi mengirimkan kepada Ahli Shuffah. Beliau ikut makan bersama mereka.
      Luas daerah Shuffah tidak diketahui secara pasti. Mampu menampung banyak orang. Nabi pernah menjadikan tempat itu untuk “walimah”. Yang hadir sekitar 300 orang. Sebagian duduk di sekitar kamar istri Nabi. Yang berdempetan dengan Masjid Nabawi.
      Penghuni pertama Shuffah ialah kaum Muhajirin. Sering disebut “Shuffatul Muhajirin”. Tempat ini juga dipakai para tamu.  Orang yang menunggu Nabi. Untuk menyatakan masuk Islam. Siap melaksanakan perintah. Berjuang bersama Nabi.
     Abu Hurairah, penangung jawab Shuffah. Yang mengatur penghuni Shuffah. Singgah sebentar atau menetap lama. Beberapa kaum Ansar ikut bergabung. Meskipun mereka punya rumah. Mereka ingin “zuhud.”  Misalnya, Kaab bin Malik, Hanzhalah bin Abi Amir, dan Haritsah bin Nukman.
     Kegiatan penghuni Shuffah. Belajar agama dan berjihad. Mereka terbiasa hidup “prihatin”. Sudah terlatih hidup kekurangan. Mereka banyak iktikaf di masjid. Salat berjamaah, dan berzikir. Belajar dan mengajar Al-Quran. Belajar membaca dan menulis. Ada “murid” yang memberikan hadiah busur panah kepada “guru” yang mengajarinya. 
      Shuffah melahirkan banyak “ilmuwan’. Abu Hurairah, penghafal banyak hadis. Hudzaifah bin Yaman, spesialis hadis fitnah. Mereka tekun beribadah. Rajin berperang mengikuti Nabi. Beberapa orang penghuni Shuffah mati syahid.
     Penghuni Shuffah sudah terbiasa dengan hidup susah. Kebanyakan mereka tidak memiliki pakaian yang memadai. Untuk menutupi seluruh badan. Melindungi dari dinginnya udara.
      Abu Hurairah berkata,” Saya melihat 70 orang penghuni Shuffah. Tak ada yang memakai “rida”. Kain penutup tubuh bagian atas. Hanya mengenakan “kisa”, semacam sarung. Mengikatkan “kisa” pada leher. Ada yang menjulur sampai kaki. Menyatukan dengan tangan. Khawatir terlihat auratnya.
      Mereka sering mengosumsi kurma kering. Nabi mengirimkan kurma setengah  “mud” setiap hari. Sekitar segenggam tangan. Ada yang merasakan perutnya panas. Terlalu banyak makan kurma kering.
    Nabi sering memberikan motivasi. Agar mereka tetap tegar dan bersabar.  Kadang kala mereka diundang makan. Dibawakan susu dan makanan istimewa. Misalnya “tsarid”. Berupa bubur gandum bercampur minyak samin.
      Nabi sering mengunjungi mereka. Menanyakan kondisi. Duduk bersama. Memotivasi mereka. Agar tekun belajar Al-Quran. Jika ada sedekah, Nabi memberikan semuanya. Jika ada hadiah,  Nabi ikut menikmati bersama mereka. .
      Fatimah, puteri Nabi melahirkan Hasan bin Ali. Nabi menyuruh bersedekah kepada penghuni Shuffah. Seharga perak seberat rambut Hasan yang dicukur. Nabi sering mengutamakan penghuni Shuffah dibandingkan kepetingan keluarga Nabi sendiri.
     Nabi menganjurkan kepada para sahabat. Agar sering membantu para penghuni Shuffah. Nabi sering mengirimkan para Ahli Shffah berdakwah ke luar daerah.
      Al-Quran surah Al-Baqarah. Surah ke-2 ayat 273. “(Berinfaklah) kepada orang-orang fakir yang terikat (oleh jihad) di jalan Allah. Mereka tidak dapat (berusaha) di muka bumi. Orang yang tidak tahu menyangka mereka orang kaya, karena menjaga diri dari minta-minta. Kamu kenal mereka dengan melihat sifat-sifatnya. Mereka tidak meminta kepada orang secara mendesak. Apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan (di jalan Allah). Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui.”
      Demikian potret kehidupan awal Islam. Kehidupan yang dibangun dengan gotong royong. Kebersamaan dan saling menolong. Islam dibangun dengan prinsip pihak yang “kelebihan” membantu kebutuhan pihak yang “kekurangan”. 
Daftar Pustaka
1. Syaikh Shafiyurrahman Al-Mubarakfury. Sirah Nabawiyah. Pustaka Al-Kautsar. Jakarta. 2006.
2. Ghani, Muhammad Ilyas Abdul. Sejarah Masjid Nabawi. Madinah 2004.
3. Ghani, Muhammad Ilyas Abdul. Sejarah Mekah. Mekah 2004   
4. Kisah Para Sahabat.

Related Posts:

0 comments:

Post a Comment