TAFSIR ANALISIS DAN MAUDHUI
Oleh: Drs. H. M. Yusron Hadi, M.M.
Beberapa orang bertanya,”Tolong dijelaskan perbedaan antara tafsir Al-Quran metode analisis dengan metode “maudhui” (tematik)?” Profesor Quraish Shihab menjelaskannya.
Metode adalah cara teratur yang digunakan untuk melaksanakan suatu pekerjaan agar tercapai sesuai dengan yang dikehendaki, sedangkan tafsir metode analisis adalah suatu metode penafsiran Al-Quran dengan cara memberikan penjelasan arti dan maksud ayat Al-Quran dari banyak sudut.
Dalam tafsir metode analisis, para mufasir menjelaskan ayat per ayat sesuai urutan dalam mushaf Al-Quran melalui penafsiran kosakata, penjelasan “asbabun nuzul” (penyebab turunnya), “munasabah” (kesesuaian), dan kandungan ayat-Al-Quran sesuai dengan keahlian mufasir.
Tafsir metode maudhui (tematik) adalah suatu metode penafsiran Al-Quran, dengan cara para mufasir berupaya mengumpulkan ayat Al-Quran dari berbagai surat yang memiliki tema yang sama, sehingga mengarah kepada pengertian dan tujuan yang sama.
Perbedaan tafsir Al-Quran metode analisis dengan metode maudhui (tematik) adalah berikut ini.
Ke-1, Para mufasir metode analisis memperhatikan susunan ayat per ayat seperti tercantum dalam mushaf Al-Quran, sedangkan para mufasir metode maudhui (tematik) dalam menafsirkan ayat Al-Quran tidak terikat susunan ayat dalam mushaf, tetapi terikat urutan masa turunnya atau kronologis ayat Al-Quran.
Ke-2, Para mufasir metode analisis berusaha berbicara segala sesuatu yang ditemukan dalam setiap ayat, sedangkan para mufasir metode maudhui (tematik) tidak membahas segala masalah yang dikandung oleh satu ayat, tetapi hanya membahas yang berkaitan dengan tema atau pokok bahasannya.
Ke-3, Para mufasir metode analisis membahas arti kosakata, “asbabun nuzul” (penyebab turunnya), “munasabah” (kesesuaian), dan urutan kronologis ayat Al-Quran, sedangkan mufasir metode maudhui (tematik) hanya membahas yang sesuai dengan tema atau pokok bahasan.
Ke-4, Para mufasir analisis biasanya hanya mengemukakan penafsiran ayat-ayat Al-Quran secara terpisah, sehingga masalah yang dibahas menjadi tidak tuntas, karena ayat yang ditafsirkan sering kali ditemukan kaitannya dalam ayat lain pada bagian lain surah tersebut atau dalam surah yang lain, sedangkan para mufasir maudhui (tematik) berusaha untuk menuntaskan masalah yang menjadi pokok bahasannya.
Daftar Pustaka
1. Shihab, M.Quraish. Lentera Hati. Kisah dan Hikmah Kehidupan. Penerbit Mizan, 1994.
2. Shihab, M.Quraish. E-book Membumikan Al-Quran
Sunday, July 8, 2018
Home »
» 950. BEDA
950. BEDA
Related Posts:
5495. TANGGUNG JAWAB SENDIRIAN DI AKHIRAT TANGGUNG JAWAB SENDIRIAN DI AKHIRAT Oleh: Drs. H. M. Yusron Hadi, MM A. … Read More
5495. TANGGUNG JAWAB SENDIRIAN A DI AKHIRAT TANGGUNG JAWAB SENDIRIAN DI AKHIRAT Oleh: Drs. H. M. Yusron Hadi, MM A. … Read More
5484. DUA AIR LAUT BERTEMU DALAM AL-QURAN AIR LAUT BERTEMU DALAM AL-QURAN Oleh: Drs. H. M. YusronHadi, M.M A. Air laut b… Read More
5496. BUKTI LOGIKA ADANYA AKHIRAT BUKTI LOGIKA ADANYA HARI AKHIR Oleh: Drs. H. M. Yusron Hadi, MM A. Cara membuk… Read More
5496. BUKTI LOGIKA ADANYA AKHIRAT BUKTI LOGIKA ADANYA HARI AKHIR Oleh: Drs. H. M. Yusron Hadi, MM A. Cara membuk… Read More
0 comments:
Post a Comment