Monday, November 13, 2017

474. TULIS

PENULISAN DAN METODE TAFSIR
Oleh: Drs. H. M. Yusron Hadi, M.M.


       Beberapa orang bertanya,”Mohon dijelaskan tentang “Penulisan dan metode tafsir Al-Quran?” Profesor Quraish Shihab menjelaskannya
      Perkembangan dalam penulisan atau “kodifikasi” ayat Al-Quran dapat dilihat dalam tiga periode.
    Periode pertama, yaitu pada zaman Nabi, para sahabat, dan awal zaman tabiin, pada zaman ini  tafsir Al-Quran belum tertulis dan secara umum periwayatan disampaikan dan tersebar secara lisan.
    Periode kedua, diawali dengan penulisan (kodifikasi) hadis Nabi secara resmi pada zaman pemerintahan Umar bin Abdul Aziz (99-101 Hijriah), ketika itu tafsir Al-Quran ditulis bergabung dengan hadis Nabi, dan dihimpun dalam suatu bab seperti bab-bab hadis, penafsiran yang ditulis itu umumnya adalah “Tafsir bil Ma'tsur”.
      Periode ketiga, dimulai dengan penyusunan kitab tafsir Al-Quran secara khusus dalam “buku” tersendiri dan berdiri sendiri, yang diduga dimulai oleh Al-Farra (wafat tahun 207 Hijriah, dengan kitabnya yang berjudul “Ma'ani Al-Qur'an”.
      Perkembangan Tafsir Al-Quran dapat ditinjau dari sudut “metode penafsiran”, meskipun disadari bahwa setiap “mufassir” (orang yang menafsirkan Al-Quran) mempunyai metode yang berbeda dengan “mufassir” lain.
      Secara umum dapat diamati bahwa sejak periode ketiga dalam penulisan kitab Tafsir Al-Quran sampai tahun 1960 Masehi, para mufassir menafsirkan Al-Quran secara ayat per ayat, sesuai dengan susunannya dalam mushaf Al-Quran.
     Penafsiran ayat Al-Quran berdasarkan urutan mushaf ini dapat menjadikan petunjuk dalam Al-Quran terpisah-pisah, dan tidak disodorkan kepada pembaca secara utuh dan menyeluruh, karena suatu masalah dalam Al-Quran sering ditampilkan secara terpisah dalam beberapa surah yang berbeda.
     Misalnya, masalah riba, yang ditampilkan dalam surah Al-Baqarah, Ali 'Imran, dan Ar-Rum, sehingga untuk mengetahui pandangan Al-Quran secara menyeluruh tentang riba dibutuhkan pembahasan yang mencakup semua ayat tersebut dalam surah yang berlainan itu.
     Para ulama menyadari bahwa dalam setiap surah, mekipun masalah yang dikemukakan berbeda-beda, tetapi terdapat “benang merah” yang mengikat dan menghubungkan masalah yang berlainan tersebut.
      Pada bulan Januari 1960, Syaikh Mahmud Syaltut menyusun kitab tafsirnya, “Tafsir Al-Qur'an Al-Karim”, yang tidak menafsirkan ayat per ayat, tetapi membahas surat per surat, atau bagian tertentu dalam satu surat, dan merangkainya dengan tema tertentu, metode ini kemudian dinamakan “Metode Maudhui”.
     Penafsiran Syaltut belum membahas tentang petunjuk Al-Quran dapat dipaparkan dalam bentuk menyeluruh, karena suatu masalah ditemukan dalam berbagai surah, kemudian muncul ide untuk menghimpun semua ayat yang berbicara tentang satu masalah tertentu, kemudian mengaitkannya, dan menafsirkan secara utuh dan menyeluruh.
       Ide ini di Mesir dikembangkan oleh Prof. Dr. Ahmad Sayyid Al-Kumiy pada akhir tahun 1960-an yang pada hakikatnya kelanjutan dari “Metode Maudhui” gaya Mahmud Syaltut.
      Sehingga tafsir Al-Quran Metode Maudhui mempunyai dua pengertian.
      Pertama, penafsiran suatu surah dalam Al-Quran dengan menjelaskan tujuannya secara umum dengan tema sentralnya, dan menghubungkan masalah yang beraneka ragam dengan temanya, sehingga suatu surah dengan berbagai masalahnya adalah satu kesatuan yang tidak terpisahkan.
      Kedua, penafsiran dengan menghimpun ayat Al-Quran yang membahas suatu tema tertentu dari berbagai ayat atau surah Al-Quran yang disusun sesuai urutan kronologis turunnya, kemudian menjelaskan pengertian ayat itu secara menyeluruh untuk menyimpulkan petunjuk Al-Quran secara utuh tentang masalah yang dibahas.
Daftar Pustaka
1. Shihab, M.Quraish. Lentera Hati. Kisah dan Hikmah Kehidupan. Penerbit Mizan, 1994.   
2. Shihab, M. Quraish Shihab. Wawasan Al-Quran. Tafsir Maudhui atas Perbagai Persoalan Umat. Penerbit Mizan, 2009.
3. Shihab, M.Quraish. E-book Membumikan Al-Quran.
4. Al-Quran Digital, Versi 3.2. Digital Qur’an Ver 3.2
5. Tafsirq.com online

Related Posts:

0 comments:

Post a Comment