LULUSAN STM TEKNIK MESIN MENJADI GURU (3)
Oleh: Drs. HM. Yusron Hadi, M.M.
Don’t judge a book by its cover.
Jangan menilai sebuah buku hanya dengan melihat penampilan
luarnya saja.
Jangan suka menilai seseorang cuma dari penampilan
“casing”nya, hanya dari “bungkus”nya.
Pepatah tersebut cocok dengan pengalaman saya. Sewaktu
pulang dari sekolah. Biasanya, saya menunggu antrean “bemo” di Pasar Dayu,
Sidoarjo.
Kendaraan akan berangkat, jika penumpang sudah penuh.
Selama menunggu, saya menonton para “kru” dan calon
penumpang bermain catur. Bergantian.
Cak Mat, salah seorang pemain catur jalanan.
Penampilannya sungguh tidak mengesankan.
Rambut awut-awutan. Mengenakan pakaian “kebesaran”. Karena
memang berukuran amat besar dan “gelombyor”.
Tetapi, jangan tertipu penampilan. Dia pemain catur ulung.
Dia menggerakkan buah catur secepat kilat, sebelum musuhnya
menempatkan buah catur dengan sempurna.
Tingkahnya sungguh “menghenyek” lawannya.
Tanpa berpikir. Dia memindahkan buah catur, tanpa
konsentrasi melihat papan catur. Seolah dia bisa “membaca” pikiran
lawannya.
Awalnya, saya
memandangnya dengan “sebelah mata”. Saya menganggapnya sebagai pemain
“ecek-ecek”.
Pemain catur pemula. Tapi saya keliru! Ternyata, saya sulit
mengalahkan dia dalam bermain catur.
Yang sering hanya bermain seri. Hanya seimbang, tidak
ada yang kalah. Bahkan, saya pernah kalah.
Tahun 2010. Cak Mat mengunjungi saya. Di
SMP Negeri 2 Buduran, Sidoarjo.
Setelah 30-an tahun
tidak berjumpa. Dengan penampilan yang rapi. Dia menyapa saya, megingatkan
zaman tempo dulu. Kami bernostalgia.
Dia mengingatkan, bahwa saya adalah lawan tanding bermain
catur yang seimbang.
Setelah beberapa saat, dia pamit dengan membawa uang
transpor sekadarnya.
Sekarang, saya merasa kehilangan. Pemuda
berbadan kekar. Dia, seorang sopir perusahaan.
Setiap pagi lewat di depan rumah. Dia naik sepeda motor
butut. Tidak memakai jaket. Juga, tanpa helm.
Menuju ke tempat kerjanya. Setiap pagi berangkat kerja, dia
acap kali mengajak saya bersama. Saya membonceng ke Sidoarjo.
Saya ikut “nebeng”. Naik sepeda motor “gundul”. Bisa pula
disebut sepeda motor “miskin”. Tidak punya apa-apa.
Hanya mampu “gelundung” saja. Kasihan. Namun, anehnya,
meskipun “miskin”, tapi sangat berjasa. Terutama kepada saya.
Sayangnya, saya tidak tahu tempat tinggalnya.
Sudah puluhan tahun, saya tidak pernah berjumpa lagi dengannya.
Semoga Allah yang Maha Kuasa membalas semua kebaikannya.
Amin.
(Bersambung…)
0 comments:
Post a Comment