Thursday, March 27, 2025

40111. STM TEKNIK MESIN MENJADI GURU (3)

 





LULUSAN STM TEKNIK MESIN MENJADI GURU (3)

Oleh:  Drs. HM. Yusron Hadi, M.M.

     

 

 

 

Don’t judge a book by its cover.

Jangan menilai sebuah buku hanya dengan melihat penampilan luarnya saja.

 

Jangan suka menilai seseorang cuma dari penampilan “casing”nya, hanya dari “bungkus”nya.

 

Pepatah tersebut cocok dengan pengalaman saya. Sewaktu pulang dari sekolah. Biasanya, saya menunggu antrean “bemo” di Pasar Dayu, Sidoarjo.

 

Kendaraan akan berangkat, jika penumpang sudah penuh.

Selama menunggu, saya menonton para “kru” dan calon penumpang bermain catur. Bergantian.


      Cak Mat, salah seorang pemain catur jalanan. Penampilannya sungguh tidak mengesankan.

Rambut awut-awutan. Mengenakan pakaian “kebesaran”. Karena memang  berukuran amat besar dan “gelombyor”.

 

Tetapi, jangan tertipu penampilan. Dia pemain catur ulung.

Dia menggerakkan buah catur secepat kilat, sebelum musuhnya menempatkan buah catur dengan sempurna.

 

Tingkahnya sungguh “menghenyek” lawannya.

 

Tanpa berpikir. Dia memindahkan buah catur, tanpa konsentrasi melihat papan catur. Seolah dia bisa “membaca” pikiran lawannya. 

 

 Awalnya, saya memandangnya dengan “sebelah mata”. Saya menganggapnya sebagai pemain “ecek-ecek”.

 

Pemain catur pemula. Tapi saya keliru! Ternyata, saya sulit mengalahkan dia dalam bermain catur. 

 

Yang sering  hanya bermain seri. Hanya seimbang, tidak ada yang kalah. Bahkan, saya pernah kalah.


       Tahun 2010. Cak Mat mengunjungi saya. Di SMP Negeri 2 Buduran, Sidoarjo.

 

 Setelah 30-an tahun tidak berjumpa. Dengan penampilan yang rapi. Dia menyapa saya, megingatkan zaman tempo dulu. Kami bernostalgia.

 

Dia mengingatkan, bahwa saya adalah lawan tanding bermain catur yang seimbang.

 

Setelah beberapa saat, dia pamit dengan membawa uang transpor sekadarnya.


      Sekarang, saya merasa kehilangan. Pemuda berbadan kekar. Dia, seorang sopir perusahaan.

 

Setiap pagi lewat di depan rumah. Dia naik sepeda motor butut. Tidak memakai jaket. Juga, tanpa helm.

 

Menuju ke tempat kerjanya. Setiap pagi berangkat kerja, dia acap kali mengajak saya bersama. Saya membonceng ke Sidoarjo.

 

Saya ikut “nebeng”. Naik sepeda motor “gundul”. Bisa pula disebut sepeda motor “miskin”. Tidak punya apa-apa.

 

Hanya mampu “gelundung” saja. Kasihan. Namun, anehnya, meskipun “miskin”, tapi sangat berjasa. Terutama kepada saya. 


      Sayangnya, saya tidak tahu tempat tinggalnya. Sudah puluhan tahun, saya tidak pernah berjumpa lagi dengannya.

 

Semoga Allah yang Maha Kuasa membalas semua kebaikannya. Amin.

 

(Bersambung…)



Related Posts:

0 comments:

Post a Comment