Thursday, March 27, 2025

40110. STM TEKNIK MESIN MENJADI GURU (2)

 




LULUSAN STM TEKNIK MESIN MENJADI GURU (2)

Oleh:  Drs. HM. Yusron Hadi, M.M.

 

 

 

 

Semua interaksi antara saya dengan “mantan” murid, membuat saya merasa sebagai guru selebriti. 

 

Mungkin saya berlebihan. Tetapi, mohon dimaklumi, itulah yang saya rasakan. 

 

 Sering terjadi pertemuan saya dengan “mantan” murid di suatu tempat. Atau ketika reuni alumni, memaksa untuk mengingatkan suasana nostalgia yang menyenangkan dan  menggemaskan.

 

Bagaimana tidak menggemaskan?

Kami bercerita “gedabrus” dan “ngalor ngidul” tentang zaman tempo dulu yang masih imut, lucu, agak norak, menyenangkan sekaligus menyebalkan.

 

Tetapi, semuanya terlalu indah untuk dikenangkan, dan sayang untuk dilupakan.

 

Adakah hal lain yang lebih indah dan menggemaskan?

 

Selain mengenang peristiwa masa lalu yang indah ketika masih remaja?

 

Selain kisah kasih waktu lampau yang tidak akan terulang?


KECELAKAAN YANG MEMBAWA NIKMAT


      Bagaimana riwayat saya, yang lulusan STM Teknik Mesin bisa menjadi seorang guru? Kisahnya, dimulai ketika saya lulus STM tahun 1976.

 

Saya mendaftar masuk ke ITS (Institut Teknologi Sepuluh November Surabaya).

Dengan sepeda motor. Beberapa kali saya membonceng ayah dari desa Panjunan, Sukodono, Sidoarjo mengunjungi tempat pendaftaran masuk ITS Surabaya.

 

 Untuk mencatat dan melengkapi syarat pendaftaran.


      Setelah sekian hari mengikuti bimbingan masuk ke ITS oleh para tentor. Tiba saatnya mengikuti tes masuk ITS.

 

Hasilnya? Ternyata dalam pengumuman penerimaan mahasiswa baru, nama saya tidak muncul.

 

Kecewa? Tentu saja, saya kecewa. Saya batal menjadi “tukang” insinyur.

 

Saya gagal masuk ITS karena nilainya tidak mencukupi. Ataukah sebab ada aturan lulusan STM harus mengabdi selama dua tahun di perusahaan lebih dulu. 

 

Entahlah. Yang pasti, itulah awal saya mengalami “kecelakaan yang membawa nikmat” menjadi calon seorang guru. 

    
      Setelah gagal masuk ITS, saya menjadi mahasiswa PGSLP YD (Pendidikan Guru Sekolah Lanjutan Pertama Yang Disempurnakan) yang diselenggarakan oleh IKIP (Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan) Negeri Surabaya di kampus Ketintang, Surabaya.

 

PGSLP YD adalah sebuah program darurat untuk memenuhi kebutuhan guru di Indonesia.

 

Bahkan dalam perjanjian tertulis yang saya tanda tangani.

 

Setelah lulus kelak, harus bersedia menjadi guru di seluruh Indonesia atau negara lain yang ditunjuk pemerintah.


GURU PEMULA   

  
      Pada 1 Februari 1978, Alhamdulillah saya lulus dari PGSLP YD Jurusan Keterampilan Elektronika.

 

Sejak 1 Maret 1978 saya resmi menjadi calon guru PNS di SMP Negeri 1 Sidoarjo.

 

Saya amat bersyukur ditempatkan di daerah asal, sedangkan banyak teman saya ditempatkan di luar Jawa.

 

Misalnya, di Pulau Kalimantan dan Madura. Barangkali, salah satu kriteria menentukan lokasi menempatan adalah hasil nilai selama kuliah.

Nilai saya termasuk bagus. Maka saya ditugaskan di sekolah terbaik di Sidoarjo. Alhamdulillah.


      Sebagai calon guru PNS golongan ruang II/a dengan pangkat Pengatur Muda.  Nomor Induk Pegawai 130684046.

 

Saya menerima gaji Rp16.960,00 per bulan. Yakni sebesar 80 persen dari gaji pokok Rp21.200,00.

 

Saya menerima gaji pertama saya dengan gembira. Belum memiliki sepeda motor. Setiap hari sekolah, berangkat dan pulang sekolah naik kendaran umum.

 

Sering juga dibonceng sepeda motor bersama orang yang searah dengan saya.


      Masa ltu, hanya satu jenis kendaran umum yang melayani rute dari Sidoarjo ke Sukodono, dan sebaliknya.

 

Yaitu mobil lin G warna merah.  Yang terbuka bagian belakangnya. Sehingga, penumpang naik dan turun lewat pintu belakang.

 

Bukan lewat samping. Penumpang duduk saling berhadapan, beradu dengkul. Menghadap ke samping.

 

Bukan ke depan atau ke belakang. “Bemo” tersebut berpangkalan di Pasar Dayu, Sidoarjo dan Pasar Sukodono.

 

Saya biasanya menunggu kendaraan di depan rumah, lalu turun di Baba Layar, Sidoarjo.

 

Kemudian berjalan kaki ke SMP Negeri 1 Sidoarjo. Melewati alun-alun Sidoarjo.

 

Saat itu.

Gedung SMP N 1 Sidoarjo.

Berdampingan dengan Pendapo Bupati Sidoarjo.

 

Pendopo Bupati Sidoarjo menghadap Selatan.

Gedung SMP N 1 Sidoarjo menghadap timur.

Berdampingan dengan SDN Pucang.

 

(bersambung…)

 

 

 

ber

Related Posts:

0 comments:

Post a Comment