LULUSAN STM TEKNIK MESIN MENJADI GURU (2)
Oleh: Drs. HM. Yusron Hadi, M.M.
Semua interaksi antara saya dengan “mantan” murid, membuat
saya merasa sebagai guru selebriti.
Mungkin saya berlebihan. Tetapi, mohon dimaklumi, itulah
yang saya rasakan.
Sering terjadi
pertemuan saya dengan “mantan” murid di suatu tempat. Atau ketika reuni alumni,
memaksa untuk mengingatkan suasana nostalgia yang menyenangkan dan
menggemaskan.
Bagaimana tidak menggemaskan?
Kami bercerita “gedabrus” dan “ngalor ngidul” tentang zaman
tempo dulu yang masih imut, lucu, agak norak, menyenangkan sekaligus
menyebalkan.
Tetapi, semuanya terlalu indah untuk dikenangkan, dan
sayang untuk dilupakan.
Adakah hal lain yang lebih indah dan menggemaskan?
Selain mengenang peristiwa masa lalu yang indah ketika
masih remaja?
Selain kisah kasih waktu lampau yang tidak akan terulang?
KECELAKAAN YANG MEMBAWA NIKMAT
Bagaimana riwayat saya, yang lulusan STM Teknik
Mesin bisa menjadi seorang guru? Kisahnya, dimulai ketika saya lulus STM tahun
1976.
Saya mendaftar masuk ke ITS (Institut Teknologi Sepuluh
November Surabaya).
Dengan sepeda motor. Beberapa kali saya membonceng ayah
dari desa Panjunan, Sukodono, Sidoarjo mengunjungi tempat pendaftaran masuk ITS
Surabaya.
Untuk mencatat dan
melengkapi syarat pendaftaran.
Setelah sekian hari mengikuti bimbingan masuk ke
ITS oleh para tentor. Tiba saatnya mengikuti tes masuk ITS.
Hasilnya? Ternyata dalam pengumuman penerimaan mahasiswa
baru, nama saya tidak muncul.
Kecewa? Tentu saja, saya kecewa. Saya batal menjadi
“tukang” insinyur.
Saya gagal masuk ITS karena nilainya tidak mencukupi.
Ataukah sebab ada aturan lulusan STM harus mengabdi selama dua tahun di
perusahaan lebih dulu.
Entahlah. Yang pasti, itulah awal saya mengalami
“kecelakaan yang membawa nikmat” menjadi calon seorang guru.
Setelah gagal masuk ITS, saya menjadi mahasiswa
PGSLP YD (Pendidikan Guru Sekolah Lanjutan Pertama Yang Disempurnakan) yang
diselenggarakan oleh IKIP (Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan) Negeri
Surabaya di kampus Ketintang, Surabaya.
PGSLP YD adalah sebuah program darurat untuk memenuhi
kebutuhan guru di Indonesia.
Bahkan dalam perjanjian tertulis yang saya tanda tangani.
Setelah lulus kelak, harus bersedia menjadi guru di seluruh
Indonesia atau negara lain yang ditunjuk pemerintah.
GURU PEMULA
Pada 1 Februari 1978, Alhamdulillah saya lulus
dari PGSLP YD Jurusan Keterampilan Elektronika.
Sejak 1 Maret 1978 saya resmi menjadi calon guru PNS di SMP
Negeri 1 Sidoarjo.
Saya amat bersyukur ditempatkan di daerah asal, sedangkan
banyak teman saya ditempatkan di luar Jawa.
Misalnya, di Pulau Kalimantan dan Madura. Barangkali, salah
satu kriteria menentukan lokasi menempatan adalah hasil nilai selama kuliah.
Nilai saya termasuk bagus. Maka saya ditugaskan di sekolah
terbaik di Sidoarjo. Alhamdulillah.
Sebagai calon guru PNS golongan ruang II/a
dengan pangkat Pengatur Muda. Nomor Induk Pegawai 130684046.
Saya menerima gaji Rp16.960,00 per bulan. Yakni sebesar 80
persen dari gaji pokok Rp21.200,00.
Saya menerima gaji pertama saya dengan gembira. Belum
memiliki sepeda motor. Setiap hari sekolah, berangkat dan pulang sekolah naik
kendaran umum.
Sering juga dibonceng sepeda motor bersama orang yang
searah dengan saya.
Masa ltu, hanya satu jenis kendaran umum yang
melayani rute dari Sidoarjo ke Sukodono, dan sebaliknya.
Yaitu mobil lin G warna merah. Yang terbuka bagian
belakangnya. Sehingga, penumpang naik dan turun lewat pintu belakang.
Bukan lewat samping. Penumpang duduk saling berhadapan,
beradu dengkul. Menghadap ke samping.
Bukan ke depan atau ke belakang. “Bemo” tersebut
berpangkalan di Pasar Dayu, Sidoarjo dan Pasar Sukodono.
Saya biasanya menunggu kendaraan di depan rumah, lalu turun
di Baba Layar, Sidoarjo.
Kemudian berjalan kaki ke SMP Negeri 1 Sidoarjo. Melewati
alun-alun Sidoarjo.
Saat itu.
Gedung SMP N 1 Sidoarjo.
Berdampingan dengan Pendapo Bupati Sidoarjo.
Pendopo Bupati Sidoarjo menghadap Selatan.
Gedung SMP N 1 Sidoarjo menghadap timur.
Berdampingan dengan SDN Pucang.
(bersambung…)
ber
0 comments:
Post a Comment