MENANTI OBAT CORONA
Oleh:
Drs. H.M. Yusron Hadi, M.M.

1. SSW
2. Oleh : Dahlan Iskan
3. Kita terbelalak melihat cepatnya
vaksin Covid-19 ditemukan.
4. Oleh jenderal wanita Chen Wei di
Wuhan itu (Baca DI’s Way: Bebas Wuhan).
5. Ternyata kalah cepat.
6. Kemarin TV pemerintah Tiongkok
mengumumkan baru lagi: ada 1 penemuan vaksin dinyatakan lulus uji klinik tahap
ke-2.
7. Vaksin penemuan Chen Wei baru masuk
uji klinik tahap ke-2.
8. Dua hari lalu.
9. Menurut WHO –organisasi kesehatan
dunia– vaksin penemuan Chen Wei satu-satunya yang tercatat melakukan uji klinik
tahap ke-2.
10. Berarti penemuan lebih cepat itu
belum didaftarkan ke WHO –entah dengan maksud apa.
11. Pemerintah Tiongkok menyebut vaksin
yang lebih cepat ini dikembangkan oleh perusahaan di Beijing dan Wuhan.
12. Yakni China Institute Biological
Sino Pharmaceutical Group (Wuhan) dan Kexing Zhongwei Biotechnology Co. Ltd
(Beijing).
13. Pemerintah mengatakan vaksin ini gelombang
1 yang sudah selesai uji klinik tahap 2.
14. Masih perlu tahap apa lagi?
15. Sebelum diproduksi massal?
16. Kalau zaman normal perlu 1 tahap uji
klinik lagi.
17. Atau jangan-jangan Tiongkok akan
menggunakan klausul pandemik mempercepat
produksi vaksin ini.
A. Prosedur penemuan obat baru perlu 3
tahap uji klinik.
1. Uji klinik ke-1: Untuk melihat bahaya
efek samping obat.
1) Jumlah orang diuji coba, tidak perlu
banyak.
2) Vaksin ditemukan Jenderal Chen Wei
sudah lolos.
3) Diputuskan dalam sidang jarak jauh 16
Maret lalu.
4) Sidangnya hanya berlangsung 2 jam.
5) Lalu dikeluarkan izin uji klinik
tahap ke-2.
2. Uji klinik ke-2: Untuk melihat
kemanjuran vaksin.
1) Chen Wei mencari relawan 500 orang.
2) Penyuntikan 1 uji klinik tahap 2 sudah
dilakukan: 13 April kemarin.
3) Termasuk kakek umur 84 tahun.
4) Mengapa kepada orang tua?
5) Karena banyak orang tua terserang
Covid-19.
6) Padahal dosis vaksin orang umur 80
harus beda dengan umur 60.
7) Uji coba tahap 2 untuk melihat
kemanjuran vaksin.
8) Jumlah orang diuji coba lebih banyak
lagi.
9) Tahap ini vaksin penemuan Chen Wei
kalah cepat dengan yang cepat tadi.
10) Vaksin ditemukan ahli Amerika
Serikat menunggu hasil uji klinik tahap 1.
11) Berarti Amerika kalah 2 langkah
–dari segi kecepatan.
12) Entah dari segi kualitas.
13) Saya menunggu perkembangan terbaru
dari Tiongkok.
14) Tadi malam. Saya berharap ada berita
susulan: tidak perlu uji klinik tahap 3.
15) Dengan alasan zaman pandemik.
16) Tapi yang saya nantikan tidak
datang.
17) Padahal saya menunggu sampai pukul
22.00.
18) Sampai saya terkantuk-kantuk.
19) Ya sudahlah. Mata sudah tidak kuat
lagi.
20) Sudah tidak seperti dulu –yang kuat
menunggu sepak bola Eropa sampai pukul 1 malam.
3. Uji klinik ke-3: Untuk extra
hati-hati.
1) Tujuannya: apakah vaksin keseluruhan menghasilkan seperti rencana.
2) Orang yang divaksin lebih banyak
lagi.
3) Seperti sudah digunakan masyarakat
luas.
4) Tujuan lainnya: dibandingkan dengan
obat sejenis di penyakit sama.
5) Vaksin Covid-19 mau dibandingkan
dengan vaksin mana?
6) Bukankah belum ada vaksin serupa?
7) Itulah. Sampai saya menunggu
jangan-jangan tahap ke-3 tidak perlu.
8) ”Sebenarnya ada klausul mempercepat
penemuan obat baru.
9) Yakni klausul pandemik,” ujar 1 dari
3 profesor yang saya ajak bicara tadi malam.
10) Tiga profesor aktif bidang
penelitian obat dan virus.
11) Saya menduga vaksin baru cukup uji
kliniknya sampai tahap 2 saja.
12) Berarti proses produksinya akan
segera dilakukan.
13) Di Beijing untuk wilayah utara dan
di Wuhan untuk wilayah tengah sampai Selatan.
14) Uji klinik tahap 3 bisa dilakukan
sambil jalan.
15) Ini kan zaman pandemik.
16) Dengan 2 penemuan vaksin Covid-19 di
Tiongkok, maka lengkap untuk yang terkena virus sudah ditemukan Carrimycin
(Baca DI’s Way: Pusing Ka-Li-Mi-Cin).
17) Untuk yang belum terkena Vovid-19
bisa divaksinasi.
18) Tapi kita harus lebih bersabar:
menunggu keduanya kapan sampai di Indonesia.
19) Kita senang ketika Covid tidak
kunjung bisa masuk Indonesia.
20) Dulu itu. Kita sangka perizinannya
sulit.
21) Kita berharap izin masuknya vaksin
nanti bisa SSW –set-set-wet.
22) Pinjam istilah kecepatan copet yang mulai
banyak beraksi.
(Sumber: internet Dahlan Iskan)
0 comments:
Post a Comment