PENJELASAN PENULIS KARTUN
ANAK NUSSA-RARA
Oleh: Drs. H. M. Yusron Hadi, M.M
·
Saya tidak menyangka esai saya terkait film kartun Nussa menarik
perhatian publik.
Sejak meningkatnya kesadaran kelas menengah atas eksistensi dan
pentingnya simbol-simbol Islam.
Hal ini berefek pada kebutuhan ketersediaan ruang keagamaan terutama
di kota besar.
Kehadiran Pusat Keislaman atau Islamic Centre bertebaran
di kota besar adalah salah satu faktanya.
Di titik posisi ini kartun Nussa dalam diskursus keberislaman sekarang.
Saat informasi keislaman di media sosial dijadikan rujukan
informasi keagamaan, maka harus ada penyesuaian dengan selera kelas menengah.
Fenomena ini karena kebangkitan Islam tahun 1980-an yang menyapu seluruh Indonesia.
Efek dominonya adalah pergeseran keislaman anak-anak.
Mereka sebelumnya terfokus interaksi dengan pengetahuan
keislaman belaka.
Hanya berkisar 2 hal yakni kultural dan pendidikan.
Sehingga kehadiran simbol Islam di ruang publik dalam kehidupan
anak-anak turut berubah.
Semuanya disesuaikan dengan pasar, monetisasi dan kreativitas.
Muncul model keislaman anak-anak disesuaikan gaya kelas menengah.
Seperti munculnya Sekolah Dasar Islam Terpadu (SDIT) untuk kebutuhan kelas menengah.
Untuk mencetak anak saleh (hafalan Al-Quran, hadis dan punya
akhlak bagus).
Kehadiran kartun Nussa adalah model keberislaman masyarakat selera
kelas menengah.
Kelahiran kartun Nussa yang dibidani kanal Youtube “Nussa
Official”, menjelaskan selera kelas menengah.
Saya ingin menegaskan kartun Ipin-Upin bukan tanpa kekurangan.
Tapi kartun itu punya keunggulan representasi ras, suku dan agama.
Ipin-Upin unggul menampilkan kehidupan anak-anak natural dengan
segala kejailan dan kegembiraannya.
Mungkin paling mudah disoroti ketika kartun Nussa dalam
visualisasi keberagaman hukum fiqih di masyarakat.
Di antaranya adegan Nussa dan Rara yang enggan bersalaman dengan
orang non-mahram.
Bagi saya, saat tim Nussa menampilkan fiqih beragam secara lugas dalam episode
“Bukan Mahram” adalah keputusan berani.
Ketika kita belajar fiqih dengan guru atau ustad secara langsung
dengan mudah dijelaskan mendalam.
Tim Nussa membangun realitas menurut mereka sebagai representasi
Islam yang benar.
Saya menyadari apa yang dilakukan oleh tim Nussa terlalu jauh masuk
ke wilayah hukum yang beragam.
Rupanya ada hubungan konstruksi tim Nussa membangun realitas Islam
yang mereka anggap “benar”.
(Sumber internet)
0 comments:
Post a Comment