IMAM HANAFI TENTANG QADA
DAN QADAR
Oleh: Drs. H. M. Yusron Hadi, M.M.
Imam Hanafi tak mau membahas masalah takdir
bertele-tele.
lmam Hanafi berkata,
“Masalah takdir sangat sulit dipahami seperti
masalah yang tertutup, tapi kuncinya hilang.”
“Membahas masalah takdir seperti orang di
bawah terik matahari, semakin lama memandang, maka dia semakin bingung.”
Imam Hanafi membedakan
Qada dan Qadar.
1. Qada
adalah ketetapan Allah yang tercantum dalam wahyu-Nya.
2. Qadar
adalah tempat berlakunya kekuasaan-Nya.
Allah telah menetapkan
beberapa hal untuk manusia di zaman azali dan memerintahkan mereka berdasar
wahyu-Nya.
Perbuatan manusia
berlangsung berdasar ketetapan-Nya di zaman azali itu.
ZAMAN
AZALI
adalah
zaman hanya ada Allah saja dan belum ada ciptaan Allah.
lmam Hanafi membagi
Qada 2 bagian, yaitu:
1. Perintah.
2. Ketetapan
Qada
Perintah dibagi 2 macam, yaitu:
1. Perintah bersifat
kauniyah yang pasti terjadi.
2. Perintah berupa wahyu
yang harus dilaksanakan.
Perintah
bersifat kauniyah
adalah landasan
perbuatan manusia di dunia ini.
Perintah
berupa wahyu
adalah hal yang harus
dilaksanakan dan menjadi landasan pemberian balasan di akhirat.
Qada
Ketetapan berupa:
1. Allah tidak menakdirkan
manusia menjadi kafir.
2. Allah tidak
memerintahkan manusia menjadi kafir.
3. Bahkan Allah melarang
manusia menjadi kafir.
lmam Hanafi membahas
masalah takdir hanya dalam batas tertentu.
Yaitu beriman kepada
qada dan qadar, serta luasnya ilmu Allah atas alam semesta.
Amal manusia mustahil
bisa terjadi tanpa izin Allah.
Manusia diberi
kebebasan untuk memillih patuh atau ingkar kepada Allah, sehingga akan mendapat
balasan yang sesuai.
Daftar Pustaka
1. Asy-Syinawi, Abdul
Aziz. Biografi Empat Mazhab. Penerbit Beirut Publishing. Ummul Qura. Jakarta,
2013.
2. Al-Quran Digital, Versi
3.2. Digital Qur’an Ver 3.2
3. Tafsirq.com
online.
0 comments:
Post a Comment