Friday, February 8, 2019

1873. TAMBAHAN IDHOFAH















TAMBAHAN IDHOFAH
Oleh: Drs. H. M. Yusron Hadi, M.M
      Beberapa orang bertanya,”Mohon dijelaskan tentang syarat idhofah dalam bahasa Arab?” Tim Badar Online menjelaskannya.
1.    Idhofah  اَلإِضَافَةُ   adalah bentuk penyandaran antara satu kata dengan kata yang lain.
2.    Contoh bentuk idhofah.
a.    رَسُوْلُ اللهِ ~ (ra-suu-lu-lla-hi = (utusan Allah).
b.    Terdiri atas dua kata,  yaitu  رَسُوْلُ  (ra-suu-lu/utusan ) disandarkan terhadap Allah   اللهِ yang mengutusnya.
c.    Kata “ra-suu-lu” yang akan disandarkan disebut “mudhof”,  مُضَافٌ .
d.    Kata “Allahi” yang disandari disebut “mudhof ilaih”,  مُضَافٌإِلَيْهِ  
3.    “Mudhof” tidak boleh ditanwin.
4.    “Mudhof ilaih” biasanya berharakat akhir kasrah.
5.    “Mudhof” dan “mudhof ilaih” keduanya  adalah isim (kata benda).
6.    Gabungan kata yang akan disandarkan (mudhof) dan yang disandari (mudhof  ilaih) disebut “idhofah”.
7.    Syarat idhofah (mudhof-mudhof ilaih),  شُرُوْطُ الإِضَافَةِ  terdapat 3 ketentuan.
a.    Mudhof tidak boleh ditanwin.
b.    Huruf “nun mutsanna” atau “jamak” pada mudhof dihilangkan.
c.    Huruf  “alif lam” pada mudhof dihilangkan.

8.    Contoh penggunaan mudhof yang tidak boleh ditanwin dalam sebuah kalimat.
a.    Asalnya adalah “ha-qii-bi-TUN”   حَقِيْبِةٌ (tas), mudhof
b.    Asalnya adalah “mu-ham-ma-dun”  مُحَمَّدٌ (muhammad), mudhof ilaihi
c.    Jika digabungkan, maka menjadi idhofah:
حَقِيْبَةُ مُحَمَّدٍ (ha-qii-bi-TU mu-ham-ma-DIN) = (Tas Muhammad).
9.    Contoh penggunaan mudhof yang tidak boleh ditanwin dalam sebuah kalimat.
a.    Asalnya adalah “jaw-waa-LUN”   جَوَّالٌ    (handphone), mudhof
b.    Asalnya adalah “mu-ham-ma-dun”  مُحَمَّدٌ (muhammad), mudhof ilaihi
c.    Jika digabungkan, maka menjadi idhofah:
     جَوَّالُ مُحَمَّدٍ    (jaw-waa-LU mu-ham-ma-DIN) = (Handphone Muhammad).
10. Contoh menghilangkan “nun mutsanna” atau “jamak” pada mudhof dalam sebuah kalimat.
a.    Asalnya adalah “ki-taa-baa-ni” كِتَابَانِ (dua buku) , mudhof
b.    Asalnya adalah “mu-ham-ma-dun”  مُحَمَّدٌ (muhammad), mudhof ilaihi
c.    Jika digabungkan, maka menjadi idhofah:
        كِتَابَا مُحَمَّدٍ    (ki-taa-BAA mu-ham-ma-DIN) = (Kitab Muhammad).
11. Contoh menghilangkan “nun mutsanna” atau “jamak” pada mudhof dalam sebuah kalimat.
a.    Asalnya adalah “mu-dar-ri-suu-na”    مُدَرِّسُوْنَ ( para guru) =  mudhof
b.    Asalnya adalah “ma’-ha-DUN”     مَعْهَدٌ (pesantren)  = mudhof ilaihi.
c.    Jika digabungkan, maka menjadi idhofah:
     مُدَرِّسُوْ مَعْهَدٍ    (mu-dar-ri-su ma’-ha-DIN) = (Para guru pesantren).
12. Contoh menghilangkan “alif lam” dari mudhof dalam sebuah kalimat.
a.    Asalnya adalah “al-ra-suu-lu”   الرَّسُوْلُ (seorang rasul) = mudhof
b.     Asalnya adalah “allahu”      اللهُ   (Allah) ,  mudhof ilaih
c.    Jika digabungkan, maka menjadi idhofah:
               رَسُوْلُ اللهِ     (ra-suu-lu a-lla-hi) = (Rasulullah).
13. Contoh menghilangkan “alif lam” dari mudhof dalam sebuah kalimat.
a.    Asalnya adalah “al-baa-bu” البَابُ (pintu), mudhof.
b.    Asalnya adalah “al-mas-ji-du” الْمَسْجِدُ (masjid), mudhof ilaih.
c.    Jika digabungkan, maka menjadi idhofah:
     بَابُ الْمَسْجِدِ     (baa-bu al-mas-jidi) = (Pintu Masjid)
14. Ketentuan tambahan tentang idhofah.
a.    Secara umum, makna “idhofah” mempunyai tiga arti:
1)    Dari,  مِنْ  (min) = (dari)
2)    Milik,  لِ  (li) = (milik)
3)    Di dalam,  فِي    (fii) = (di dalam)
b.    Jika “mudhof” berupa isim (kata benda) yang berakhiran dengan alif, dan “mudhof ilaih” berupa “yak mutakallim” (yang berbicara), maka “yak” ditulis dengan harakat manshub (nashob/fathah.
c.    Jika “mudhof” berupa isim (kata benda) yang berakhiran dengan “yak” dan “mudhof ilaih” berupa “yak mutakallim” (yang berbicara), maka “ya” ditulis dengan “fathah yang ditasdid” (saddah).

15. Contoh penggunaan idhofah dalam sebuah kalimat.
a.    خَاتَمُ حَدِيْدٍ (Cincin besi), artinya adalah   خَاتَمٌ مِنْ حَدِيْدٍ (Cincin DARI besi).
b.    بَيْتُ عَلِيٍّ (Rumah Ali), artinya adalah   بَيْتٌ لِعَلِيٍّ (Rumah MILIK Ali)
c.    عَذَابُ القَبْرِ (Azab Kubur), artinya adalah   عَذَابٌ فِي القَبْرِ (Azab DI DALAM kubur).

16. Contoh penggunaan mudhof berupa isim yang berakhiran dengan alif, dan mudhof ilaih berupa ya’ mutakallim, sehingga yak ditulis dengan harakat fathah.
a.    يَدَايَ     (ya-daa-ya) = (Kedua tanganku)
1)    Asal mudhofnya adalah “ya-daa-ni”  يَدَانِ (dua tangan), lalu huruf “nun” dihilangkan, sehingga bentuknya menjadi “ya-daa” يَدَا   (berakhir dengan huruf alif).
2)    Digabung dengan “yak mutakalim” (orang yang berbicara), sehingga menjadi “ya-daa-ya”      يَدَايَ (kedua tanganku)

b.    هُدَايَ   (hu-daa-ya) = (Petunjukku)
1)    Asal mudhofnya adalah “al-hu-daa” اَلْهُدَى  huruf “alim dan lam” dihilangkan, maka berakhir dengan huruf alif bengkong.
2)    Digabung dengan mudhof ilaih “yak mutakalim” (orang yang berbicara), sehingga menjadi “hu-daa-ya”         هُدَايَ               (petunjukku)

c.    سِوَايَ    (si-waa-ya) = (Selainku)
1)    Asal mudhofnya adalah “si-waa” , سِوَى (berakhir dengan alif bengkong).
2)    Digabung dengan mudhof ilaih “yak mutakallim” (orang yang berbicara), sehingga menjadi “si-waa-ya”  سِوَايَ  (Selainku.)

17. Contoh penggunaan “mudhof” berupa isim yang “berakhiran dengan yak”, dan “mudhof ilaih” berupa “yak mutakallim” (orang yang bicara), maka “ya” ditulis dengan fathah yang ditasdid (saddah).
a.    مُدَرِّسِيَّ    (mu-dar-ri-siy-ya) = (Para guruku)
1)    Asal mudhofnya adalah “mu-dar-ri-sii-na”  مُدَرِّسِيْنَ   (para guru), lalu dihilangkan huruf nun nya, menjadi  “mu-dar-ri-siy” (berakhir dengan huruf yak).
2)    Digabung dengan mudhof ilaih  “ya’ mutakallim” (orang yang bicara), sehingga menjadi   مُدَرِّسِيَّ    (mu-dar-ri-siy-ya) = (Para guruku)

b.    مُحَامِيَّ    (mu-haa-miy-ya) = (Pengacaraku)
1)    Asal mudhofnya adalah “almuhaamiy”  اَلْمُحَامِي  , lalu huruf alif dan lam dihilangkan.  (berakhir dengan huruf yak).
2)    Digabung dengan mudhof ilaih “ya’ mutakallim” (yang bicara), sehingga menjadi “mu-haa-miy-ya”   مُحَامِيَّ    (Pengacaraku)

c.    مُفْتِيَّ (Muftiku)
1)    Asal mudhofnya adalah, مُفْتِي    (berakhir dengan huruf yak).
2)    Digabung dengan mudhof ilaih “ya’ mutakallim” (yang bicara), sehingga menjadi      مُفْتِيَّ   (muftiku).

Daftar Pustaka.
1.    Tim Badar Online Wisma Misfallah Thalabul Ilmi (MTI), Pogung Kidul 8C, RT 01/RW 49, Sinduadi, Mlati, Sleman, Yogyakarta, 55284
2.    E-mail: onlinebadar@yahoo.com


Related Posts:

0 comments:

Post a Comment