HUKUM
ASAL SEMUANYA BOLEH
Oleh:
Drs. H. M. Yusron Hadi, M.M.

1. Dasar
pertama yang ditetapkan ajaran Islam adalah asalnya segala sesuatu yang
diciptakan oleh Allah hukumnya adalah halal dan mubah (boleh).
2. Tidak
ada satu pun yang haram, kecuali ada ketentuan yang sah dan jelas dari Allah
dan Rasulullah yang mengharamkannya.
3. Jika
tidak ada ketentuan yang sah dan tegas, misalnya ada sebagian hadis daif
(lemah) atau tidak ada hukum yang tegas dan sahih yang menunjukkan
haramnya, maka hukumnya adalah mubah
(boleh).
4. Para
ulama menjelaskan segala sesuatu asalnya adalah mubah (boleh) dan tidak
terlarang.
5. Al-Quran
surah Al-Baqarah (surah ke-2) ayat 29.
هُوَ ٱلَّذِى خَلَقَ لَكُم مَّا فِى ٱلْأَرْضِ جَمِيعًا
ثُمَّ ٱسْتَوَىٰٓ إِلَى ٱلسَّمَآءِ فَسَوَّىٰهُنَّ سَبْعَ سَمَٰوَٰتٍ ۚ وَهُوَ بِكُلِّ
شَىْءٍ عَلِيمٌ
Dia Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untukmu dan Dia berkehendak menuju langit, lalu dijadikan-Nya tujuh langit. Dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu.
Dia Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untukmu dan Dia berkehendak menuju langit, lalu dijadikan-Nya tujuh langit. Dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu.
6. Al-Quran
surah Al-Jatsiyah (surah ke-45) ayat 13.
وَسَخَّرَ لَكُم مَّا فِى ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَمَا فِى
ٱلْأَرْضِ جَمِيعًا مِّنْهُ ۚ إِنَّ فِى ذَٰلِكَ لَءَايَٰتٍ لِّقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ
Dan Dia menundukkan untukmu apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi semuanya, (sebagai rahmat) daripada-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang berpikir.
Dan Dia menundukkan untukmu apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi semuanya, (sebagai rahmat) daripada-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang berpikir.
7. Al-Quran
surah Lukman (surah ke-31) ayat 20.
أَلَمْ تَرَوْا۟
أَنَّ ٱللَّهَ سَخَّرَ لَكُم مَّا فِى ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَمَا فِى ٱلْأَرْضِ وَأَسْبَغَ
عَلَيْكُمْ نِعَمَهُۥ ظَٰهِرَةً وَبَاطِنَةً ۗ وَمِنَ ٱلنَّاسِ مَن يُجَٰدِلُ فِى ٱللَّهِ
بِغَيْرِ عِلْمٍ وَلَا هُدًى وَلَا كِتَٰبٍ مُّنِيرٍ
Tidakkah kamu perhatikan sesungguhnya Allah telah menundukkan untuk (kepentingan) mu apa yang di langit dan apa yang di bumi dan menyempurnakan untukmu nikmat-Nya lahir dan batin. Dan di antara manusia ada yang membantah tentang (keesaan) Allah tanpa ilmu pengetahuan atau petunjuk dan tanpa Kitab yang memberi penerangan.
Tidakkah kamu perhatikan sesungguhnya Allah telah menundukkan untuk (kepentingan) mu apa yang di langit dan apa yang di bumi dan menyempurnakan untukmu nikmat-Nya lahir dan batin. Dan di antara manusia ada yang membantah tentang (keesaan) Allah tanpa ilmu pengetahuan atau petunjuk dan tanpa Kitab yang memberi penerangan.
8. Allah
menjadikan alam semesta dengan semua isinya sebagai karunia untuk manusia.
9. Kecuali
beberapa hal yang diharamkan oleh Allah dengan sebab yang dijelaskan nantinya.
10. Dalam
agama Islam, wilayah halal dan boleh terbentang sangat luas.
11. Wilayah
haram sangat sempit sekali.
12. Aturan
yang tegas dan jelas tentang sesuatu hal yang diharamkan jumlahnya sangat minim
sekali.
13. Hal
yang tidak ada keterangan halal dan haramnya, maka termasuk dalam hukum asalnya
yaitu mubah (boleh).
14. Rasulullah
bersabda,”Apa saja yang dihalalkan Allah, maka menjadi halal, dan apa saja yang
diharamkan, maka menjadi haram. Sedangkan apa yang didiamkan, maka dibolehkan.
Oleh karena itu terimalah dari Allah kemaafannya, sesungguhnya Allah tidak bakal lupa
sedikitpun."
15. Kemudian
Rasulullah membaca ayat: dan Tuhanmu tidak lupa.
16. Al-Quran
surah Maryam (surah ke-19) ayat 64.
وَمَا نَتَنَزَّلُ
إِلَّا بِأَمْرِ رَبِّكَ ۖ لَهُۥ مَا بَيْنَ أَيْدِينَا وَمَا خَلْفَنَا وَمَا بَيْنَ
ذَٰلِكَ ۚ وَمَا كَانَ رَبُّكَ نَسِيًّا
Dan tidaklah kami (Jibril) turun, kecuali dengan perintah Tuhanmu. Kepunyaan-Nya-lah apa-apa yang ada di hadapan kita, apa-apa yang ada di belakang kita dan apa-apa yang ada di antara keduanya, dan tidaklah Tuhanmu lupa.
Dan tidaklah kami (Jibril) turun, kecuali dengan perintah Tuhanmu. Kepunyaan-Nya-lah apa-apa yang ada di hadapan kita, apa-apa yang ada di belakang kita dan apa-apa yang ada di antara keduanya, dan tidaklah Tuhanmu lupa.
17. Masalah
halal dan haram bukan hanya menyangkut benda, tetapi termasuk muamalah
(perbuatan) yang bukan menyangkut ibadah.
18. Pokok
asalnya adalah tidak haram dan tidak terikat, kecuali sesuatu yang jelas dan
tegas diharamkan oleh Allah dan Rasulullah.
19. Al-Quran
surah Al-An’am (surah ke-6) ayat 119.
وَمَا لَكُمْ أَلَّا تَأْكُلُوا۟ مِمَّا ذُكِرَ
ٱسْمُ ٱللَّهِ عَلَيْهِ وَقَدْ فَصَّلَ لَكُم مَّا حَرَّمَ عَلَيْكُمْ إِلَّا مَا ٱضْطُرِرْتُمْ
إِلَيْهِ ۗ وَإِنَّ كَثِيرًا لَّيُضِلُّونَ بِأَهْوَآئِهِم بِغَيْرِ عِلْمٍ ۗ إِنَّ
رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِٱلْمُعْتَدِينَ
Mengapa kamu tidak mau makan (binatang-binatang yang halal) yang disebut nama Allah ketika menyembelihnya, padahal sesungguhnya Allah telah menjelaskan kepadamu apa yang diharamkan-Nya atasmu, kecuali apa yang terpaksa kamu memakannya. Dan sesungguhnya kebanyakan (dari manusia) benar-benar hendak menyesatkan (orang lain) dengan hawa nafsu mereka tanpa pengetahuan. Sesungguhnya Tuhanmu, Dia yang lebih mengetahui orang-orang yang melampaui batas.
Mengapa kamu tidak mau makan (binatang-binatang yang halal) yang disebut nama Allah ketika menyembelihnya, padahal sesungguhnya Allah telah menjelaskan kepadamu apa yang diharamkan-Nya atasmu, kecuali apa yang terpaksa kamu memakannya. Dan sesungguhnya kebanyakan (dari manusia) benar-benar hendak menyesatkan (orang lain) dengan hawa nafsu mereka tanpa pengetahuan. Sesungguhnya Tuhanmu, Dia yang lebih mengetahui orang-orang yang melampaui batas.
20. Ayat
ini bersifat umum, meliputi masalah makanan, perbuatan, dan hal lainnya.
21. Dalam masalah
ibadah, harus sesuai dengan perintah Allah dan Rasulullah, dan dilarang membuat
model ibadah sendiri.
22. Rasulullah
bersabda,”Barang siapa membuat cara baru dalam urusan kami, dengan sesuatu yang
tidak ada contohnya, maka dia itu tertolak."
23. Dalam
masalah ibadah, tercermin 2 hal yaitu:
1) Hanya
Allah saja yang berhak yang disembah.
2) Untuk
menyembah Allah, hanya dapat dilakukan menurut cara yang disyariatkan oleh
Rasulullah.
24. Ibnu
Taimiyah berkata, "Sesungguhnya sikap manusia dalam bentuk perkataan dan perbuatan terbagi 2 macam, yaitu
beribadah untuk agamanya dan adat kebiasaan untuk urusan dunianya.”
25. Al-Quran
surah Asy-Syura (surah ke-42) ayat 21.
أَمْ لَهُمْ شُرَكَٰٓؤُا۟ شَرَعُوا۟ لَهُم مِّنَ
ٱلدِّينِ مَا لَمْ يَأْذَنۢ بِهِ ٱللَّهُ ۚ وَلَوْلَا كَلِمَةُ ٱلْفَصْلِ لَقُضِىَ
بَيْنَهُمْ ۗ وَإِنَّ ٱلظَّٰلِمِينَ لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ
Apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan selain Allah yang mensyariatkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan Allah? Sekiranya tak ada ketetapan yang menentukan (dari Allah) tentulah mereka telah dibinasakan. Dan sesungguhnya orang-orang yang dzalim itu akan memperoleh adzab yang amat pedih.
Apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan selain Allah yang mensyariatkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan Allah? Sekiranya tak ada ketetapan yang menentukan (dari Allah) tentulah mereka telah dibinasakan. Dan sesungguhnya orang-orang yang dzalim itu akan memperoleh adzab yang amat pedih.
26. Dalam
masalah adat kebiasaan prinsipnya semuanya boleh dan tidak terlarang, kecuali
yang memang telah diharamkan.
27. Manusia
boleh melakukan jual-beli dan sewa-menyewa, makan minum sesuka hatinya, selama
tidak diharamkan oleh syariat.
28. Kesimpulannya:
1) Dalam
masalah ibadah harus sesuai dengan syariat yang ditetapkan oleh Allah.
2) Dalam
adat kebiasaan semuanya dibolehkan, kecuali yang diharamkan oleh Allah dan
Rasulullah.
Daftar
Pustaka.
1. Qardhawi,
Syekh Muhammad Yusuf Qardhawi. Halal dan Haram dalam Islam. Alih bahasa: H.
Mu'ammal Hamidy. Penerbit: PT. Bina Ilmu, 1993
2. Al-Quran
Digital, Versi 3.2. Digital Qur’an Ver 3.2
3. Tafsirq.com
online.
0 comments:
Post a Comment