BEDANYA SALAM PAHAM DAN PAHAM
SALAH
Oleh: Drs. H.M. Yusron Hadi, M.M.
Salah paham. Paham salah.
Penting sekali 'kecerdasan' seseorang dilengkapi
kecerdasan literasi.
Apa itu kecerdasan literasi?
Saat dia bisa menilai, mengukur,
menyerap, merasakan kata demi kata sebuah tulisan dengan baik.
Saya kasih contoh.
Sebuah hadis sangat terkenal:
“Permisalan teman yang baik dan teman
yang buruk ibarat seorang penjual minyak wangi dan seorang pandai besi.
Penjual minyak wangi mungkin akan
memberimu minyak wangi atau engkau bisa membeli minyak wangi darinya.
Dan kalaupun tidak engkau tetap mendapat
bau harum darinya.
Sedangkan pandai besi, bisa jadi
(percikan apinya) mengenai pakaianmu dan kalau pun tidak, engkau tetap mendapat
bau asapnya yang tak sedap.”
(HR Bukhari 5534 dan Muslim 2628)
Kalimat2 di atas, jika dibaca oleh orang
yang terlalu cerdas.
Tapi dia tidak punya kecerdasan literasi.
Apa komentarnya?
Dia akan komentar:
Ini kok jahat banget sih sama pandai
besi.
Jadi kita nggak boleh temanan sama
pandai besi dong?
Kalau temanan sama dia nanti kita ikut
jahat?
Kok sentimen banget sama pandai besi?
Padahal apa salah pandai besi, kok dia
dibully begitu?
Perhatikan komentar tsb.
Di zaman modern, komen ini bisa masuk
akal sekali bukan?
Yes.
Masuk akal.
Pandai besi telah dijadikan korban
bullying di hadis ini.
Tapi tahan dulu sejenak, adik2 sekalian,
tahaaan.
Inilah momen paling penting kenapa
kecerdasan literasi harus masuk.
Ayo, baca lagi hadis tersebut.
Baca, lantas renungkan:
Hadis itu sama sekali tidak sedang
menyebut siapa yang jahat, siapa yang baik secara langsung.
Itu cuma misal.
Pengandaian.
Kalimat hadis tsb simpel gaya bahasa.
Kamu berteman dengan penjual minyak,
tentu ikut wangi.
Berteman dengan penjual duren, tentu
ikut bau duren.
Berteman pandai besi, tentu kalau
nongkrong di tempat dia kerja, kena percik api, dll.
Karena memang kerjaannya begitu.
Masa berteman dengan pandai besi jadi
bau duren?
Dan adalah pemahaman umum, wangi vs
percik api, maka wangi dianggap oke.
Duuh, cintaku kepadamu bagai lautan
luas.
Mana ada lautan luas kayak cinta.
Tapi itu misal.
Indah sekali bukan sebenarnya
perumpamaan tsb?
Simpel tapi ngena.
Dan sama sekali tidak ada yang sedang
menistakan pandai besi.
Malah, kalau pandai besi yang paham, dia akan
tertawa, benar sekali.
Permisalan itu akurat sekali.
Hari ini, kecerdasan literasi ini
penting sekali.
Ayo, mari melatih masing2.
Bagaimana caranya?
Sering2lah baca buku, sering2lah ikut
kajian.
Sering2lah menulis, membuat kalimat2
keren.
Atau memperhatikan kok bisaaa ya
kalimat2 orang lain itu keren.
Lama2, kita bisa ketularan jadi paham.
Lama2, pemahaman kita luas bagai
samudera.
Lapang.
Tidak sempit.
Ternyata maksudnya begini.
Nah, jika kamu cuma modal baca quote2
pendek.
Sibuk baca2 tweet pendek.
Apalagi cuma lihat instagram, video2
unfaedah orang pamer, dll, duuuh.
Bahkan saat baca postingan,
'Pak Asep suka makan nasi goreng',
Kamu bisa ngamuk dan lapor polisi.
Kok bisa ngamuk?
Karena Pak Asep yang kamu kenal sukanya
makan nasi kuning.
Kamu ngamuk, berseru, ini penistaan.
Ini hoax.
Ayo, mari lapangkan kecerdasan literasi
kita.
Tidak semua tulisan orang lain itu
sesuai apa yang kita simpulkan.
Boleh jadi.
Lain sekali maksudnya.
(Sumber Tere Liye)
0 comments:
Post a Comment