Organisasi Profesi Guru

Presiden Jokowi memberi hormat kepada Guru-Guru se Indonesia.

Tema Gambar Slide 2

Deskripsi gambar slide bisa dituliskan disini dengan beberapa kalimat yang menggambarkan gambar slide yang anda pasang, edit slide ini melalui edit HTML template.

Tema Gambar Slide 3

Deskripsi gambar slide bisa dituliskan disini dengan beberapa kalimat yang menggambarkan gambar slide yang anda pasang, edit slide ini melalui edit HTML template.

Friday, June 30, 2017

121. SALMAN ALFARISI

SALMAN AL-FARISI,
MENCARI NABI DARI PERSIA HINGGA MADINAH
oleh: Drs. H. Yusron Hadi, M.M.
Kepala SMP Negeri 1 Balongbendo, Sidoarjo

      Salman Al-Farisi lahir tahun 568 Masehi di Persia, Iran. Meninggal tahun 657 Masehi di Irak. Selama di Madinah dipanggil Abu Abdullah.
      Salman Al-Farisi bercerita. Riwayat perjalanan hidupnya. Lahir di Desa Jayyu, Asfahah di Persia, Iran. Anak kesayangan seorang pemimpin desa. Yang beragama Majusi. Menyembah api.
      Salman Al-Farisi masih remaja. Bertugas menjaga api. Agar api menyala terus. Ketika Salman dalam perjalanan menuju ladang. Terdengar suara kebaktian di gereja.   Salman tertarik belajar agama Kristen.
      Orang Kristen berasal dari negeri Syam. Datang mengunjungi orang tua Salman. Ayahnya melarang bergaul dengan mereka. Salman Al-Farisi dikurung di rumah.
     Salman Al-Farisi “minggat” dari rumah. Mengikuti rombongan pedagang Syam. Kembali ke negeri mereka. Salman Al-Farisi menempati “kompleks” gereja di Syam. Sebagai pelayan jemaat gereja. Bersama seorang uskup. Ternyata,  uskup orang jahat. Menyalahgunakan jabatannya. Memerintahkan orang bersedekah. Hasilnya, untuk kekayaan pribadi uskup sendiri.
    Uskup meninggal. Masyarakat akan melakukan “prosesi pemakaman”. Salman Al-Farisi membuka rahasia. Uskup  orang jahat. Ditunjukkan tempat tersembunyi. Tempat penyimpanan perhiasan. Ditemukan 7 kotak emas dan perak. Masyarakat marah. Jenazah uskup dilempari batu. Mereka menunjuk uskup baru.
    Uskup baru orang baik. Tekun beribadah. Berbudi pekerti luhur. Uskup yang baik meninggal. Sebelum wafat uskup memberikan rekomendasi. Agar Salman Al-Farisi menjumpai seorang uskup di Al-Maushil. Salman Al-Farisi mendatanginya. Menjelaskan masalahnya.
     Uskup di Al-Maushil bagus. Sikap dan perilkunya terpuji. Uskup meninggal. Juga, memberikan rekomendasi. Agar Salman Al-Farisi menjumpai seorang uskup di Nashibin. Uskup, orang yang baik. Uskup Meninggal. Sebelum wafat memberikan saran agar  Salman Al-Farisi menemui seorang uskup di Ammuriyah, Romawi.
     Salman Al-Farisi datang ke Romawi. Menjumpai uskup yang ditunjuk. Salman Al-Farisi memiliki sejumlah sapi dan kambing. Uskup meninggal dunia. Sebelum wafat  uskup sudah berwasiat. Akan muncul “Nabi Baru”. Membawa ajaran agama Ibrahim. Di negeri Arab.
    Uskup memberikan ciri-ciri “topografi”. Keadaan muka bumi pada suatu kawasan atau daerah tertentu. Lokasi hijrah nabi baru. Berada di wilayah Arab. Diapit gunung berbatu hitam. Banyak ditumbuhi pohon kurma. Uskup berpesan, “Jika kamu sanggup, pergilah ke sana.”
     Uskup menyampaikan “tanda” kenabian. Ciri “yang tampak dari luar”. Yang bisa dilihat dan disaksikan dengan indra manusia. Tanda “khusus” nabi baru. Pertama, dia tidak mau menerima sedekah. Kedua, dia mau menerima hadiah. Ketiga,  terdapat “stempel kenabian”. Berupa “benjolan kecil” di punggung belakang. Di antara kedua bahunya.
     Beberapa waktu kemudian. Rombongan pedagang dari Arab datang.  Salman Al-Farisi menjumpai mereka. Menyampaikan maksudnya.  Rombongan bersedia membawa ke negeri Arab. Dengan imbalan beberapa ekor sapi dan kambing.
     Rombongan pedagang Arab berbuat jahat. Salman Al-Farisi diperlakukan sebagai budak. Diperdagangkan di pasar “perbudakan’. Salman Al-Farisi dibeli orang Madinah. Di Madinah banyak tumbuh pohon kurma. Tetapi, Salman Al-Farisi belum yakin itu wilayah nabi baru.
     Salman Al-Farisi dibeli kaum Yahudi Bani Quraizah. Dibawa ke daerah Bani Quraizah di Madinah. Salman mulai yakin itu daerah yang dituju. Seperti yang disampaikan seorang uskup di Ammuriyah.
   Nabi Muhammad masih berada di Mekah. Salman Al-Farisi bekerja sebagai budak. Bekerja untuk majikannya. Nabi hijrah dari Mekah ke Madinah. Nabi tiba di Quba.
      Salman Al-Farisi berada di atas sebuah pohon kurma. Seseorang berteriak kepada temannya, “Orang-orang sedang berkumpul di Quba. Menyambut kedatangan orang dari Mekah. Mereka mengatakan orang tersebut adalah nabi.” Salman Al-Farisi hampir terjatuh. Mendengar teriakan orang tersebut.  
     Pertemuan pertama. Sore hari. Salman Al-Farisi mendatangi Nabi di Quba. Membawa beberapa  makanan. Salman Al-Farisi berkata, “Aku mendengar kabar. Engkau orang baik.  Engkau memiliki sahabat yang membutuhkan bantuan. Aku membawa sedekah untuk kalian.” Nabi menerimanya. Diberikan kepada para sahabat. Para sahabat memakannya. Nabi tak ikut makan.
      Salman Al-Farisi bergumam, “Ini merupakan bukti pertama. Nabi tidak mau makan harta sedekah.” Salman Al-Farisi izin pulang. Kembali ke rumah majikan.
   Pertemuan kedua. Nabi Muhammad pindah ke Madinah. Salman Al-Farisi mendatangi Nabi. Membawa beberapa makanan. Salman Al-Farisi berkata, “Saya melihat engkau tidak makan harta sedekah. Saya datang membawa hadiah untukmu. Terimalah hadiah khusus dariku untukmu.” Nabi menerimanya.
      Nabi makan hadiah itu bersama para sahabat. Salman Al-Farisi bergumam,”Ini adalah bukti kedua. Nabi mau makan harta hadiah.”  
      Pertemuan ketiga. Nabi Muhammad mengantar jenazah sahabatnya. Di pemakamam Baqi, Madinah. Nabi duduk bersama para sahabat. Salman Al-Farisi memilih duduk di belakang Nabi. 
      Salman Al-Farisi ingin melihat punggung Nabi. Nabi menyadarinya.  Nabi melepaskan baju dari punggungnya. Salman Al-Farisi melihat “stempel” tanda kenabian.  Yang berada di antara punggung Nabi. Seperti yang disampaikan uskup di Ammuriyah.
     Salman Al-Farisi menangis. Mendekat ke arah Nabi, merangkul, dan menciumnya.  Nabi bersabda, “Berbaliklah, menghadap kepadaku. Ceritakan semuanya.” Salman Al-Farisi bercerita riwayat hidupnya. Kisah perjalanannya “mencari” Nabi. Berangkat dari Persia, Iran hingga di Madinah, Arab Saudi. Nabi dan para sahabat mendengarkan dengan saksama.
      Salman Al-Farisi kembali bekerja. Sebagai seorang budak. Salman Al-Farisi tidak ikut Perang Badar, dan Perang Uhud. Masih “berstatus” seorang budak.
      Nabi bersabda,”Wahai Salman. Tulislah perjanjian dengan majikanmu. Agar kamu bebas.”Salman Al-Farisi menulis perjanjian dengan majikannya. Supaya terlepas dari “status” budak. Dengan menanam 300 pohon kurma, dan membayar 40 ons emas.
     Nabi bersabda, “Wahai para sahabat. Bantulah saudaramu Salman Al-Farisi. Untuk membebaskan dirinya.” Semua para sahabat berebut membantu. Nabi ikut menanam pohon kurma dengan tangan beliau sendiri. Nabi membawa emas sebesar telur ayam. Seberat 40 ons diberikan kepada Salman. Untuk ongkos membayar kebebasan dirinya.
    Salman Al-Farisi menjadi orang merdeka. Mengikuti Perang Khandaq atau Perang Parit. Salman Al-Farisi mengusulkan ide yang cemerlang. Membuat parit mengelilingi Madinah. Untuk menghambat pergerakan pasukan kafir.
     Pasukan kafir frustasi. Berjumlah lebih banyak. Tetapi hanya berputar-putar saja. Tak bisa masuk menyerang. Pasukan Islam hanya bertahan. Pengepungan berlangsung lebih dari sebulan. Tidak menghasilkan apa-apa.
      Muncul angin topan. Pasukan kafir kocar-kacir. Mereka kembali ke tempat asal masing-masing. Umat Islam selamat. Sejak saat itu, Salman Al-Farisi  selalu terlibat dalam peperangan membela Islam.
Daftar Pustaka
1.    Al-Mubarakfury, Syaikh Shafiyurrahman. Sirah Nabawiyah. Pustaka Al-Kautsar. Jakarta. 2006.
2.    Ghani, Muhammad Ilyas Abdul. Sejarah Masjid Nabawi. Madinah 2004.
3.    Ghani, Muhammad Ilyas Abdul. Sejarah Mekah. Mekah 2004
4.    Al-Kandahlawi, Maulana Muhammad Zakaria. Himpunan Fadhilah Amal. Penerbit Ash-Shaff. Jogyakarta. 2000.

5.    Hisyam, Ibnu. Sirah Nabawiyah. Sejarah Lengkap Kehidupan Rasulullah. 

121. SALMAN ALFARISI

SALMAN AL-FARISI,
MENCARI NABI DARI PERSIA HINGGA MADINAH
oleh: Drs. H. Yusron Hadi, M.M.
Kepala SMP Negeri 1 Balongbendo, Sidoarjo

      Salman Al-Farisi lahir tahun 568 Masehi di Persia, Iran. Meninggal tahun 657 Masehi di Irak. Selama di Madinah dipanggil Abu Abdullah.
      Salman Al-Farisi bercerita. Riwayat perjalanan hidupnya. Lahir di Desa Jayyu, Asfahah di Persia, Iran. Anak kesayangan seorang pemimpin desa. Yang beragama Majusi. Menyembah api.
      Salman Al-Farisi masih remaja. Bertugas menjaga api. Agar api menyala terus. Ketika Salman dalam perjalanan menuju ladang. Terdengar suara kebaktian di gereja.   Salman tertarik belajar agama Kristen.
      Orang Kristen berasal dari negeri Syam. Datang mengunjungi orang tua Salman. Ayahnya melarang bergaul dengan mereka. Salman Al-Farisi dikurung di rumah.
     Salman Al-Farisi “minggat” dari rumah. Mengikuti rombongan pedagang Syam. Kembali ke negeri mereka. Salman Al-Farisi menempati “kompleks” gereja di Syam. Sebagai pelayan jemaat gereja. Bersama seorang uskup. Ternyata,  uskup orang jahat. Menyalahgunakan jabatannya. Memerintahkan orang bersedekah. Hasilnya, untuk kekayaan pribadi uskup sendiri.
    Uskup meninggal. Masyarakat akan melakukan “prosesi pemakaman”. Salman Al-Farisi membuka rahasia. Uskup  orang jahat. Ditunjukkan tempat tersembunyi. Tempat penyimpanan perhiasan. Ditemukan 7 kotak emas dan perak. Masyarakat marah. Jenazah uskup dilempari batu. Mereka menunjuk uskup baru.
    Uskup baru orang baik. Tekun beribadah. Berbudi pekerti luhur. Uskup yang baik meninggal. Sebelum wafat uskup memberikan rekomendasi. Agar Salman Al-Farisi menjumpai seorang uskup di Al-Maushil. Salman Al-Farisi mendatanginya. Menjelaskan masalahnya.
     Uskup di Al-Maushil bagus. Sikap dan perilkunya terpuji. Uskup meninggal. Juga, memberikan rekomendasi. Agar Salman Al-Farisi menjumpai seorang uskup di Nashibin. Uskup, orang yang baik. Uskup Meninggal. Sebelum wafat memberikan saran agar  Salman Al-Farisi menemui seorang uskup di Ammuriyah, Romawi.
     Salman Al-Farisi datang ke Romawi. Menjumpai uskup yang ditunjuk. Salman Al-Farisi memiliki sejumlah sapi dan kambing. Uskup meninggal dunia. Sebelum wafat  uskup sudah berwasiat. Akan muncul “Nabi Baru”. Membawa ajaran agama Ibrahim. Di negeri Arab.
    Uskup memberikan ciri-ciri “topografi”. Keadaan muka bumi pada suatu kawasan atau daerah tertentu. Lokasi hijrah nabi baru. Berada di wilayah Arab. Diapit gunung berbatu hitam. Banyak ditumbuhi pohon kurma. Uskup berpesan, “Jika kamu sanggup, pergilah ke sana.”
     Uskup menyampaikan “tanda” kenabian. Ciri “yang tampak dari luar”. Yang bisa dilihat dan disaksikan dengan indra manusia. Tanda “khusus” nabi baru. Pertama, dia tidak mau menerima sedekah. Kedua, dia mau menerima hadiah. Ketiga,  terdapat “stempel kenabian”. Berupa “benjolan kecil” di punggung belakang. Di antara kedua bahunya.
     Beberapa waktu kemudian. Rombongan pedagang dari Arab datang.  Salman Al-Farisi menjumpai mereka. Menyampaikan maksudnya.  Rombongan bersedia membawa ke negeri Arab. Dengan imbalan beberapa ekor sapi dan kambing.
     Rombongan pedagang Arab berbuat jahat. Salman Al-Farisi diperlakukan sebagai budak. Diperdagangkan di pasar “perbudakan’. Salman Al-Farisi dibeli orang Madinah. Di Madinah banyak tumbuh pohon kurma. Tetapi, Salman Al-Farisi belum yakin itu wilayah nabi baru.
     Salman Al-Farisi dibeli kaum Yahudi Bani Quraizah. Dibawa ke daerah Bani Quraizah di Madinah. Salman mulai yakin itu daerah yang dituju. Seperti yang disampaikan seorang uskup di Ammuriyah.
   Nabi Muhammad masih berada di Mekah. Salman Al-Farisi bekerja sebagai budak. Bekerja untuk majikannya. Nabi hijrah dari Mekah ke Madinah. Nabi tiba di Quba.
      Salman Al-Farisi berada di atas sebuah pohon kurma. Seseorang berteriak kepada temannya, “Orang-orang sedang berkumpul di Quba. Menyambut kedatangan orang dari Mekah. Mereka mengatakan orang tersebut adalah nabi.” Salman Al-Farisi hampir terjatuh. Mendengar teriakan orang tersebut.  
     Pertemuan pertama. Sore hari. Salman Al-Farisi mendatangi Nabi di Quba. Membawa beberapa  makanan. Salman Al-Farisi berkata, “Aku mendengar kabar. Engkau orang baik.  Engkau memiliki sahabat yang membutuhkan bantuan. Aku membawa sedekah untuk kalian.” Nabi menerimanya. Diberikan kepada para sahabat. Para sahabat memakannya. Nabi tak ikut makan.
      Salman Al-Farisi bergumam, “Ini merupakan bukti pertama. Nabi tidak mau makan harta sedekah.” Salman Al-Farisi izin pulang. Kembali ke rumah majikan.
   Pertemuan kedua. Nabi Muhammad pindah ke Madinah. Salman Al-Farisi mendatangi Nabi. Membawa beberapa makanan. Salman Al-Farisi berkata, “Saya melihat engkau tidak makan harta sedekah. Saya datang membawa hadiah untukmu. Terimalah hadiah khusus dariku untukmu.” Nabi menerimanya.
      Nabi makan hadiah itu bersama para sahabat. Salman Al-Farisi bergumam,”Ini adalah bukti kedua. Nabi mau makan harta hadiah.”  
      Pertemuan ketiga. Nabi Muhammad mengantar jenazah sahabatnya. Di pemakamam Baqi, Madinah. Nabi duduk bersama para sahabat. Salman Al-Farisi memilih duduk di belakang Nabi. 
      Salman Al-Farisi ingin melihat punggung Nabi. Nabi menyadarinya.  Nabi melepaskan baju dari punggungnya. Salman Al-Farisi melihat “stempel” tanda kenabian.  Yang berada di antara punggung Nabi. Seperti yang disampaikan uskup di Ammuriyah.
     Salman Al-Farisi menangis. Mendekat ke arah Nabi, merangkul, dan menciumnya.  Nabi bersabda, “Berbaliklah, menghadap kepadaku. Ceritakan semuanya.” Salman Al-Farisi bercerita riwayat hidupnya. Kisah perjalanannya “mencari” Nabi. Berangkat dari Persia, Iran hingga di Madinah, Arab Saudi. Nabi dan para sahabat mendengarkan dengan saksama.
      Salman Al-Farisi kembali bekerja. Sebagai seorang budak. Salman Al-Farisi tidak ikut Perang Badar, dan Perang Uhud. Masih “berstatus” seorang budak.
      Nabi bersabda,”Wahai Salman. Tulislah perjanjian dengan majikanmu. Agar kamu bebas.”Salman Al-Farisi menulis perjanjian dengan majikannya. Supaya terlepas dari “status” budak. Dengan menanam 300 pohon kurma, dan membayar 40 ons emas.
     Nabi bersabda, “Wahai para sahabat. Bantulah saudaramu Salman Al-Farisi. Untuk membebaskan dirinya.” Semua para sahabat berebut membantu. Nabi ikut menanam pohon kurma dengan tangan beliau sendiri. Nabi membawa emas sebesar telur ayam. Seberat 40 ons diberikan kepada Salman. Untuk ongkos membayar kebebasan dirinya.
    Salman Al-Farisi menjadi orang merdeka. Mengikuti Perang Khandaq atau Perang Parit. Salman Al-Farisi mengusulkan ide yang cemerlang. Membuat parit mengelilingi Madinah. Untuk menghambat pergerakan pasukan kafir.
     Pasukan kafir frustasi. Berjumlah lebih banyak. Tetapi hanya berputar-putar saja. Tak bisa masuk menyerang. Pasukan Islam hanya bertahan. Pengepungan berlangsung lebih dari sebulan. Tidak menghasilkan apa-apa.
      Muncul angin topan. Pasukan kafir kocar-kacir. Mereka kembali ke tempat asal masing-masing. Umat Islam selamat. Sejak saat itu, Salman Al-Farisi  selalu terlibat dalam peperangan membela Islam.
Daftar Pustaka
1.    Al-Mubarakfury, Syaikh Shafiyurrahman. Sirah Nabawiyah. Pustaka Al-Kautsar. Jakarta. 2006.
2.    Ghani, Muhammad Ilyas Abdul. Sejarah Masjid Nabawi. Madinah 2004.
3.    Ghani, Muhammad Ilyas Abdul. Sejarah Mekah. Mekah 2004
4.    Al-Kandahlawi, Maulana Muhammad Zakaria. Himpunan Fadhilah Amal. Penerbit Ash-Shaff. Jogyakarta. 2000.

5.    Hisyam, Ibnu. Sirah Nabawiyah. Sejarah Lengkap Kehidupan Rasulullah. 

120. ALI BIN ABI THALIB

ALI BIN ABI THALIB LELAKI PERTAMA MASUK ISLAM
Oleh: Drs. H. Yusron Hadi, M.M.
Kepala SMP Negeri 1 Balongbendo, Sidoarjo

      Ali bin Abi Thalib lahir 13 Rajab 23 tahun Pra-Hijriah di Mekah. Bertepatan dengan 599 Masehi. Wafat 21 Ramadan 40 Hijriah di Najaf, Irak. Bertepatan 26 Januari 661 Masehi. Abi Thalib, ayah Ali bin Abi Thalib. Ibu Ali bin Abi Thalib bernama Fatimah bin Asad.
      Nabi berumur 30 tahun, Ali bin Thalib lahir. Dikisahkan Nabi sempat memindahkan air liurnya. Langsung ke dalam mulut Ali bin Abi Thalib, yang masih bayi.
      Abi Thalib mengalami kesulitan ekonomi. Nabi Muhammad membawa Ali bin Abi Thalib “bergabung” dalam keluarga Nabi. Ali bin Abi Thalib sejak kecil berkumpul dan  berinteraksi dengan Nabi.
        Nabi tidak memiliki anak laki-laki remaja. Semua anak laki-laki meninggal waktu kecil. Ali bin Abi Thalib dijadikan anak angkat dan hiburan bagi Nabi. Juga, untuk membalas jasa Abu Thalib yang mengasuh Nabi sejak umur 8 tahun.
      Ali bin Abi Thalib tinggal di rumah Nabi. Mengikuti kegiatan Nabi sejak kecil. Ali bin Abi Thalib mendapatkan “ilmu spiritual” yang tidak dipunyai orang lain. Memiliki “ilmu kebatinan” yang langsung diperoleh dari Nabi. 
     Nabi berumur 40 tahun. Wahyu pertama turun. Melalui malaikat Jibril. Di gua Hira. Di tebing tertinggi gunung Jabal Nur Mekah. 
      Nabi mulai berdakwah secara tertutup. Dalam lingkungan keluarganya sendiri. Khadijah, istri Nabi, pemeluk Islam pertama. Ali bin Abi Thalib lelaki pertama yang masuk Islam. Ketika masih berumur 10 tahun.   
      Nabi dan Ali bin Abi Thalib sering melakukan “salat” di tempat tersembunyi. Perintah salat lima waktu belum ada. Peristiwa Isra Mikraj belum terjadi.
      Alquran surah Almukmin. Surah ke-40 ayat 55. “Maka bersabarlah kamu. Sesungguhnya janji Allah itu benar. Mohonlah ampunan untuk dosamu dan bertasbih memuji Tuhanmu pada waktu petang dan pagi.”
      Muqatil bin Sulaiman berkata,”Pada awal Islam. Allah mewajibkan salat dua rakaat pagi hari, dan dua rakaat petang hari. Berdasarkan ayat Al-Quran di atas.  
      Ada pendapat yang berbeda. Waktu salat pada waktu itu sebelum terbit matahari, dan sebelum terbenam matahari.
      Abi Thalib memergoki Nabi dan Ali bin Abi Thalib sedang salat. Abi Thalib bertanya,”Wahai keponakanku, agama apakah yang kau peluk itu?” Nabi menjelaskan,” Wahai, Paman. Ini adalah agama Allah. Agama Nabi Ibrahim. Marilah Paman mengikutinya.”
      Abi Thalib menjawab,”Sungguh, aku tidak bisa meninggalkan agama dan tradisi leluhurku. Demi Allah, aku akan melindungimu dari orang yang berbuat jahat.”
      Ali bin Abi Thalib mendapatkan gelar di belakang, “Radhiyallahu Anhu”. Yang bermakna “Semoga Allah rida padanya”. Tambahan ini juga diberikan kepada sahabat Nabi yang lain. Ali bin Abi Thalib diberi titel “Karramallahu Wajhah”. Yang berarti “Semoga Allah memuliakan wajahnya”. Karena Ali bin Abi Thalib tidak pernah melihat aurat siapa pun. 
      Ali bin Abi Thalib amat dekat dengan Nabi. Dianggap kaum sufi sebagai “Imam” alias “Pemimpin”. Dalam ilmu “hikmah” atau “spiritual”.  Hampir semua cabang “tarekat” berasal dari keturunan Ali bin Abi Thalib. Misalnya, Tarekat Qadiriyah. Yang didirikan Syekh Abdul Qadir Jaelani. Merupakan keturunan Hasan bin Ali.  
      Ali bin Abi Thalib berusia remaja. Wahyu turun dari langit. Ali banyak belajar langsung dari Nabi. Berkesempatan selalu dekat dengan Nabi. Berlanjut sebagai menantu Nabi.
      Membuktikan Ali bin Abi Thalib menerima “ilmu tertentu” langsung dari Nabi. Yang tidak diberikan kepada orang lain.  Menerima “ilmu kanuragan” yang tak diberikan kepada sahabat yang lain. Nabi mendidik langsung. Sehingga Ali bin Abi Thalib menjadi pemuda tangguh, cerdas, berani, dan bijak.
      Rumah Nabi dikepung pasukan pembunuh Quraisy. Ali bin Abi Thalib tidur di kamar Nabi. Mengesankan Nabi masih tertidur. Padahal Nabi sudah meloloskan diri ke gua Tsur di puncak gunung Jabal Tsur.
       Nabi hijrah ke Madinah. Ali bin Abi Thalib mengembalikan semua barang titipan kepada yang berhak. Ali menyusul hijrah berjumpa Nabi di Quba.
        Nabi berumur 55 tahun. Ali bin Abi Thalib, 25, menikah dengan Fatimah Zahra, 18. Fatimah, keturunan Nabi Muhammad dengan Khadijah. Ali bin Abi Thalib, tidak menikah dengan wanita lain ketika Fatimah masih hidup.
      Ali masih pengantin baru. Terjadi Perang Badar. Perang pertama dalam sejarah Islam. Ali bin Abi Thalib dan Hamzah bin Abdul Muththalib, paman Nabi menjadi “Pahlawan Perang”. Banyak musuh  yang tewas di tangan mereka.
       Perang Khandaq, atau “Perang Parit”. Ali bin Abi Thalib dengan pedang ”Zulfikar”nya, berhasil mengalahkan Amar bin Abdi Wud, seorang jagoan Quraisy.
      Kaum Yahudi mengkhianati Perjanjian Hudaibiyah. Perjanjian perdamaian kaum Muslimin dengan kaum Yahudi. Terjadi Perang Khaibar. Para sahabat tidak mampu membuka benteng Khaibar.
     Nabi bersabda. “Bendera perang aku serahkan kepada orang yang tidak akan melarikan diri. Dia akan menyerang berulang-ulang. Allah akan memberikan kemenangan baginya. Allah dan rasul-Nya mencintainya. Dia mencintai Allah dan Rasul-Nya".
      Semua sahabat berangan-angan mendapatkan kemuliaan tersebut. Ternyata, Ali bin Abi Thalib yang mendapat kehormatan. Mampu menghancurkan benteng Khaibar. Berhasil membunuh seorang komandan prajurit musuh.
      Ali bin Abi Thalib mengikuti semua perang. Kecuali perang Tabuk. Karena diserahi menjaga kota Madinah.
      Nabi wafat umur 63 tahun. Ali bin Abi Thalib berumur 33 tahun. Abu Bakar menjadi Khalifah selama 2 tahun. Mulai tahun 632 sampai 634 Masehi. Abu Bakar meninggal karena sakit.
       Umar bin Khattab menjadi Khalifah 10 tahun. Sejak 634 sampai 644 Masehi. Umar bin Khattab mati dibunuh Abu Luluk. Seorang budak berasal dari Persia. 
      Usman bin Affan menjadi khalifah 12 tahun. Mulai 644 sampai 656 Masehi. Usman bin Affan mati dibunuh pemberontak.
      Ali bin Abi Thalib menjadi khalifah selama 5 tahun.  Mulai tahun 656 sampai 661 Masehi.
      Khalifah Usman bin Affan terbunuh. Dunia Islam genting. Yang sudah membentang sampai ke Persia dan Afrika Utara. Pemberontak memaksa Ali bin Abi Thalib menjadi khalifah. Para sahabat juga memaksa. Akhirnya, Ali bin Abi Thalib menerimanya.
        Ali bin Abi Thalib mewarisi kekacauan. Terjadi perang saudara.  Pasukan Ali bin Abi Thalib menghadapi pasukan Aisyah, istri Nabi. Penyebabnya, Ali bin Abi Thalib tidak menghukum pembunuh Usman bin Affan.  
       Ali bin Abi Thalib mahir dalam berperang. Tetapi kesulitan mengatasi konflik intern yang berkepanjangan. Fitnah dan hasutan telanjur meluas. Sesuatu yang sudah diisyaratkan terjadi oleh Nabi Muhammad semasa masih hidup.
      Bulan Ramadan tahun 40 Hijriah. Bertepatan dengan 27 Januari 661 Masehi. Ali bin Abi Thalib salat di masjid Kufah, Irak. Pemberontak datang menyerang. Ali bin Abi Thalib terkena pedang beracun. Ali bin Abi Thalib melarang membalasnya.
      Ali bin Abi Thalib berkata, “Jika saya selamat. Pemberontak akan kuampuni. Jika saya meninggal akan dihukum dengan satu pukulan.” Dua hari kemudian Ali bin Abi Thalib wafat. Pemberontak dihukum mati.
       Setelah Fatimah wafat. Ali menikah 8 kali. Banyak keturunan Ali yang tewas terbunuh di Karbala. Yang ada sampai sekarang berasal dari Hasan bin Ali dan Husein bin Ali, keturunan Ali bin Abi Thalib dengan Fatimah. Muhammad Hanafiyah bin Ali, anak Ali dengan Haulah. Abbas bin Ali, keturunan Ali dengan Umul Banin. Umar bin Ali, putra Ali bin Abi Thalib dengan Sahba.
      Keturunan Ali dengan Fatimah disebut “Syarif” atau “Sayyid”. Gelar kehormatan dalam bahasa Arab. Syarif berarti “Bangsawan”, dan Sayyid bermakna “Tuan”.
      Keturunan Ali keseluruhan dari semua istrinya dikenal dengan “Alawiyin” atau “Alawiyah”.
ISTRI DAN ANAK ALI BIN ABI THALIB
      Pertama, Fatimah Zahra, puteri Nabi dengan Khadijah.  Memperoleh  5 anak. Hasan bin Ali.  Husein bin Ali.  Muhsin bin Ali, meninggal waktu kecil.  Umi Kulsum binti Ali. dan  Zainab binti Ali.  Fatimah meninggal umur 26 tahun. Enam bulan setelah Nabi wafat.
      Kedua, Umu Banin binti Haram. Mempunyai 4 anak. Jakfar, Abbas, Abdullah, dan Usman. Ketiga, Laila binti Masud. Mendapatkan 2 anak. Ubaidullah, dan Abu Bakar.
      Keempat, Asma binti Umais. Mendapatkan 2 anak. Yahya, dan Muhammad Ashgar. Kelima, Sahba binti Rabia. Memperoleh 2 anak. Umar, dan Rukiyah. Keenam, Umamah binti Abil Ash. Memperoleh 1 anak. Muhammad Awsad.
      Ketujuh, Haulah binti Jakfar. Mendapatkan 1 anak. Muhammad Hanafiyah. Kedelapan, Umu Said binti Urwah. Mendapatkan 2 anak. Ummul Hasan, dan Ramlah Kubra. Kesembilan, Mahabba binti Imrul Qais. Mendapatkan seorang anak putri. Meninggal masih kecil.
Daftar Pustaka
1.    Al-Mubarakfury, Syaikh Shafiyurrahman. Sirah Nabawiyah. Pustaka Al-Kautsar. Jakarta. 2006.
2.    Ghani, Muhammad Ilyas Abdul. Sejarah Masjid Nabawi. Madinah 2004.
3.    Ghani, Muhammad Ilyas Abdul. Sejarah Mekah. Mekah 2004
4.    Al-Kandahlawi, Maulana Muhammad Zakaria. Himpunan Fadhilah Amal. Penerbit Ash-Shaff. Yogyakarta. 2000.


120. ALI BIN ABI THALIB

ALI BIN ABI THALIB LELAKI PERTAMA MASUK ISLAM
Oleh: Drs. H. Yusron Hadi, M.M.
Kepala SMP Negeri 1 Balongbendo, Sidoarjo

      Ali bin Abi Thalib lahir 13 Rajab 23 tahun Pra-Hijriah di Mekah. Bertepatan dengan 599 Masehi. Wafat 21 Ramadan 40 Hijriah di Najaf, Irak. Bertepatan 26 Januari 661 Masehi. Abi Thalib, ayah Ali bin Abi Thalib. Ibu Ali bin Abi Thalib bernama Fatimah bin Asad.
      Nabi berumur 30 tahun, Ali bin Thalib lahir. Dikisahkan Nabi sempat memindahkan air liurnya. Langsung ke dalam mulut Ali bin Abi Thalib, yang masih bayi.
      Abi Thalib mengalami kesulitan ekonomi. Nabi Muhammad membawa Ali bin Abi Thalib “bergabung” dalam keluarga Nabi. Ali bin Abi Thalib sejak kecil berkumpul dan  berinteraksi dengan Nabi.
        Nabi tidak memiliki anak laki-laki remaja. Semua anak laki-laki meninggal waktu kecil. Ali bin Abi Thalib dijadikan anak angkat dan hiburan bagi Nabi. Juga, untuk membalas jasa Abu Thalib yang mengasuh Nabi sejak umur 8 tahun.
      Ali bin Abi Thalib tinggal di rumah Nabi. Mengikuti kegiatan Nabi sejak kecil. Ali bin Abi Thalib mendapatkan “ilmu spiritual” yang tidak dipunyai orang lain. Memiliki “ilmu kebatinan” yang langsung diperoleh dari Nabi. 
     Nabi berumur 40 tahun. Wahyu pertama turun. Melalui malaikat Jibril. Di gua Hira. Di tebing tertinggi gunung Jabal Nur Mekah. 
      Nabi mulai berdakwah secara tertutup. Dalam lingkungan keluarganya sendiri. Khadijah, istri Nabi, pemeluk Islam pertama. Ali bin Abi Thalib lelaki pertama yang masuk Islam. Ketika masih berumur 10 tahun.   
      Nabi dan Ali bin Abi Thalib sering melakukan “salat” di tempat tersembunyi. Perintah salat lima waktu belum ada. Peristiwa Isra Mikraj belum terjadi.
      Alquran surah Almukmin. Surah ke-40 ayat 55. “Maka bersabarlah kamu. Sesungguhnya janji Allah itu benar. Mohonlah ampunan untuk dosamu dan bertasbih memuji Tuhanmu pada waktu petang dan pagi.”
      Muqatil bin Sulaiman berkata,”Pada awal Islam. Allah mewajibkan salat dua rakaat pagi hari, dan dua rakaat petang hari. Berdasarkan ayat Al-Quran di atas.  
      Ada pendapat yang berbeda. Waktu salat pada waktu itu sebelum terbit matahari, dan sebelum terbenam matahari.
      Abi Thalib memergoki Nabi dan Ali bin Abi Thalib sedang salat. Abi Thalib bertanya,”Wahai keponakanku, agama apakah yang kau peluk itu?” Nabi menjelaskan,” Wahai, Paman. Ini adalah agama Allah. Agama Nabi Ibrahim. Marilah Paman mengikutinya.”
      Abi Thalib menjawab,”Sungguh, aku tidak bisa meninggalkan agama dan tradisi leluhurku. Demi Allah, aku akan melindungimu dari orang yang berbuat jahat.”
      Ali bin Abi Thalib mendapatkan gelar di belakang, “Radhiyallahu Anhu”. Yang bermakna “Semoga Allah rida padanya”. Tambahan ini juga diberikan kepada sahabat Nabi yang lain. Ali bin Abi Thalib diberi titel “Karramallahu Wajhah”. Yang berarti “Semoga Allah memuliakan wajahnya”. Karena Ali bin Abi Thalib tidak pernah melihat aurat siapa pun. 
      Ali bin Abi Thalib amat dekat dengan Nabi. Dianggap kaum sufi sebagai “Imam” alias “Pemimpin”. Dalam ilmu “hikmah” atau “spiritual”.  Hampir semua cabang “tarekat” berasal dari keturunan Ali bin Abi Thalib. Misalnya, Tarekat Qadiriyah. Yang didirikan Syekh Abdul Qadir Jaelani. Merupakan keturunan Hasan bin Ali.  
      Ali bin Abi Thalib berusia remaja. Wahyu turun dari langit. Ali banyak belajar langsung dari Nabi. Berkesempatan selalu dekat dengan Nabi. Berlanjut sebagai menantu Nabi.
      Membuktikan Ali bin Abi Thalib menerima “ilmu tertentu” langsung dari Nabi. Yang tidak diberikan kepada orang lain.  Menerima “ilmu kanuragan” yang tak diberikan kepada sahabat yang lain. Nabi mendidik langsung. Sehingga Ali bin Abi Thalib menjadi pemuda tangguh, cerdas, berani, dan bijak.
      Rumah Nabi dikepung pasukan pembunuh Quraisy. Ali bin Abi Thalib tidur di kamar Nabi. Mengesankan Nabi masih tertidur. Padahal Nabi sudah meloloskan diri ke gua Tsur di puncak gunung Jabal Tsur.
       Nabi hijrah ke Madinah. Ali bin Abi Thalib mengembalikan semua barang titipan kepada yang berhak. Ali menyusul hijrah berjumpa Nabi di Quba.
        Nabi berumur 55 tahun. Ali bin Abi Thalib, 25, menikah dengan Fatimah Zahra, 18. Fatimah, keturunan Nabi Muhammad dengan Khadijah. Ali bin Abi Thalib, tidak menikah dengan wanita lain ketika Fatimah masih hidup.
      Ali masih pengantin baru. Terjadi Perang Badar. Perang pertama dalam sejarah Islam. Ali bin Abi Thalib dan Hamzah bin Abdul Muththalib, paman Nabi menjadi “Pahlawan Perang”. Banyak musuh  yang tewas di tangan mereka.
       Perang Khandaq, atau “Perang Parit”. Ali bin Abi Thalib dengan pedang ”Zulfikar”nya, berhasil mengalahkan Amar bin Abdi Wud, seorang jagoan Quraisy.
      Kaum Yahudi mengkhianati Perjanjian Hudaibiyah. Perjanjian perdamaian kaum Muslimin dengan kaum Yahudi. Terjadi Perang Khaibar. Para sahabat tidak mampu membuka benteng Khaibar.
     Nabi bersabda. “Bendera perang aku serahkan kepada orang yang tidak akan melarikan diri. Dia akan menyerang berulang-ulang. Allah akan memberikan kemenangan baginya. Allah dan rasul-Nya mencintainya. Dia mencintai Allah dan Rasul-Nya".
      Semua sahabat berangan-angan mendapatkan kemuliaan tersebut. Ternyata, Ali bin Abi Thalib yang mendapat kehormatan. Mampu menghancurkan benteng Khaibar. Berhasil membunuh seorang komandan prajurit musuh.
      Ali bin Abi Thalib mengikuti semua perang. Kecuali perang Tabuk. Karena diserahi menjaga kota Madinah.
      Nabi wafat umur 63 tahun. Ali bin Abi Thalib berumur 33 tahun. Abu Bakar menjadi Khalifah selama 2 tahun. Mulai tahun 632 sampai 634 Masehi. Abu Bakar meninggal karena sakit.
       Umar bin Khattab menjadi Khalifah 10 tahun. Sejak 634 sampai 644 Masehi. Umar bin Khattab mati dibunuh Abu Luluk. Seorang budak berasal dari Persia. 
      Usman bin Affan menjadi khalifah 12 tahun. Mulai 644 sampai 656 Masehi. Usman bin Affan mati dibunuh pemberontak.
      Ali bin Abi Thalib menjadi khalifah selama 5 tahun.  Mulai tahun 656 sampai 661 Masehi.
      Khalifah Usman bin Affan terbunuh. Dunia Islam genting. Yang sudah membentang sampai ke Persia dan Afrika Utara. Pemberontak memaksa Ali bin Abi Thalib menjadi khalifah. Para sahabat juga memaksa. Akhirnya, Ali bin Abi Thalib menerimanya.
        Ali bin Abi Thalib mewarisi kekacauan. Terjadi perang saudara.  Pasukan Ali bin Abi Thalib menghadapi pasukan Aisyah, istri Nabi. Penyebabnya, Ali bin Abi Thalib tidak menghukum pembunuh Usman bin Affan.  
       Ali bin Abi Thalib mahir dalam berperang. Tetapi kesulitan mengatasi konflik intern yang berkepanjangan. Fitnah dan hasutan telanjur meluas. Sesuatu yang sudah diisyaratkan terjadi oleh Nabi Muhammad semasa masih hidup.
      Bulan Ramadan tahun 40 Hijriah. Bertepatan dengan 27 Januari 661 Masehi. Ali bin Abi Thalib salat di masjid Kufah, Irak. Pemberontak datang menyerang. Ali bin Abi Thalib terkena pedang beracun. Ali bin Abi Thalib melarang membalasnya.
      Ali bin Abi Thalib berkata, “Jika saya selamat. Pemberontak akan kuampuni. Jika saya meninggal akan dihukum dengan satu pukulan.” Dua hari kemudian Ali bin Abi Thalib wafat. Pemberontak dihukum mati.
       Setelah Fatimah wafat. Ali menikah 8 kali. Banyak keturunan Ali yang tewas terbunuh di Karbala. Yang ada sampai sekarang berasal dari Hasan bin Ali dan Husein bin Ali, keturunan Ali bin Abi Thalib dengan Fatimah. Muhammad Hanafiyah bin Ali, anak Ali dengan Haulah. Abbas bin Ali, keturunan Ali dengan Umul Banin. Umar bin Ali, putra Ali bin Abi Thalib dengan Sahba.
      Keturunan Ali dengan Fatimah disebut “Syarif” atau “Sayyid”. Gelar kehormatan dalam bahasa Arab. Syarif berarti “Bangsawan”, dan Sayyid bermakna “Tuan”.
      Keturunan Ali keseluruhan dari semua istrinya dikenal dengan “Alawiyin” atau “Alawiyah”.
ISTRI DAN ANAK ALI BIN ABI THALIB
      Pertama, Fatimah Zahra, puteri Nabi dengan Khadijah.  Memperoleh  5 anak. Hasan bin Ali.  Husein bin Ali.  Muhsin bin Ali, meninggal waktu kecil.  Umi Kulsum binti Ali. dan  Zainab binti Ali.  Fatimah meninggal umur 26 tahun. Enam bulan setelah Nabi wafat.
      Kedua, Umu Banin binti Haram. Mempunyai 4 anak. Jakfar, Abbas, Abdullah, dan Usman. Ketiga, Laila binti Masud. Mendapatkan 2 anak. Ubaidullah, dan Abu Bakar.
      Keempat, Asma binti Umais. Mendapatkan 2 anak. Yahya, dan Muhammad Ashgar. Kelima, Sahba binti Rabia. Memperoleh 2 anak. Umar, dan Rukiyah. Keenam, Umamah binti Abil Ash. Memperoleh 1 anak. Muhammad Awsad.
      Ketujuh, Haulah binti Jakfar. Mendapatkan 1 anak. Muhammad Hanafiyah. Kedelapan, Umu Said binti Urwah. Mendapatkan 2 anak. Ummul Hasan, dan Ramlah Kubra. Kesembilan, Mahabba binti Imrul Qais. Mendapatkan seorang anak putri. Meninggal masih kecil.
Daftar Pustaka
1.    Al-Mubarakfury, Syaikh Shafiyurrahman. Sirah Nabawiyah. Pustaka Al-Kautsar. Jakarta. 2006.
2.    Ghani, Muhammad Ilyas Abdul. Sejarah Masjid Nabawi. Madinah 2004.
3.    Ghani, Muhammad Ilyas Abdul. Sejarah Mekah. Mekah 2004
4.    Al-Kandahlawi, Maulana Muhammad Zakaria. Himpunan Fadhilah Amal. Penerbit Ash-Shaff. Yogyakarta. 2000.


120. ALI BIN ABI THALIB

ALI BIN ABI THALIB LELAKI PERTAMA MASUK ISLAM
Oleh: Drs. H. Yusron Hadi, M.M.
Kepala SMP Negeri 1 Balongbendo, Sidoarjo

      Ali bin Abi Thalib lahir 13 Rajab 23 tahun Pra-Hijriah di Mekah. Bertepatan dengan 599 Masehi. Wafat 21 Ramadan 40 Hijriah di Najaf, Irak. Bertepatan 26 Januari 661 Masehi. Abi Thalib, ayah Ali bin Abi Thalib. Ibu Ali bin Abi Thalib bernama Fatimah bin Asad.
      Nabi berumur 30 tahun, Ali bin Thalib lahir. Dikisahkan Nabi sempat memindahkan air liurnya. Langsung ke dalam mulut Ali bin Abi Thalib, yang masih bayi.
      Abi Thalib mengalami kesulitan ekonomi. Nabi Muhammad membawa Ali bin Abi Thalib “bergabung” dalam keluarga Nabi. Ali bin Abi Thalib sejak kecil berkumpul dan  berinteraksi dengan Nabi.
        Nabi tidak memiliki anak laki-laki remaja. Semua anak laki-laki meninggal waktu kecil. Ali bin Abi Thalib dijadikan anak angkat dan hiburan bagi Nabi. Juga, untuk membalas jasa Abu Thalib yang mengasuh Nabi sejak umur 8 tahun.
      Ali bin Abi Thalib tinggal di rumah Nabi. Mengikuti kegiatan Nabi sejak kecil. Ali bin Abi Thalib mendapatkan “ilmu spiritual” yang tidak dipunyai orang lain. Memiliki “ilmu kebatinan” yang langsung diperoleh dari Nabi. 
     Nabi berumur 40 tahun. Wahyu pertama turun. Melalui malaikat Jibril. Di gua Hira. Di tebing tertinggi gunung Jabal Nur Mekah. 
      Nabi mulai berdakwah secara tertutup. Dalam lingkungan keluarganya sendiri. Khadijah, istri Nabi, pemeluk Islam pertama. Ali bin Abi Thalib lelaki pertama yang masuk Islam. Ketika masih berumur 10 tahun.   
      Nabi dan Ali bin Abi Thalib sering melakukan “salat” di tempat tersembunyi. Perintah salat lima waktu belum ada. Peristiwa Isra Mikraj belum terjadi.
      Alquran surah Almukmin. Surah ke-40 ayat 55. “Maka bersabarlah kamu. Sesungguhnya janji Allah itu benar. Mohonlah ampunan untuk dosamu dan bertasbih memuji Tuhanmu pada waktu petang dan pagi.”
      Muqatil bin Sulaiman berkata,”Pada awal Islam. Allah mewajibkan salat dua rakaat pagi hari, dan dua rakaat petang hari. Berdasarkan ayat Al-Quran di atas.  
      Ada pendapat yang berbeda. Waktu salat pada waktu itu sebelum terbit matahari, dan sebelum terbenam matahari.
      Abi Thalib memergoki Nabi dan Ali bin Abi Thalib sedang salat. Abi Thalib bertanya,”Wahai keponakanku, agama apakah yang kau peluk itu?” Nabi menjelaskan,” Wahai, Paman. Ini adalah agama Allah. Agama Nabi Ibrahim. Marilah Paman mengikutinya.”
      Abi Thalib menjawab,”Sungguh, aku tidak bisa meninggalkan agama dan tradisi leluhurku. Demi Allah, aku akan melindungimu dari orang yang berbuat jahat.”
      Ali bin Abi Thalib mendapatkan gelar di belakang, “Radhiyallahu Anhu”. Yang bermakna “Semoga Allah rida padanya”. Tambahan ini juga diberikan kepada sahabat Nabi yang lain. Ali bin Abi Thalib diberi titel “Karramallahu Wajhah”. Yang berarti “Semoga Allah memuliakan wajahnya”. Karena Ali bin Abi Thalib tidak pernah melihat aurat siapa pun. 
      Ali bin Abi Thalib amat dekat dengan Nabi. Dianggap kaum sufi sebagai “Imam” alias “Pemimpin”. Dalam ilmu “hikmah” atau “spiritual”.  Hampir semua cabang “tarekat” berasal dari keturunan Ali bin Abi Thalib. Misalnya, Tarekat Qadiriyah. Yang didirikan Syekh Abdul Qadir Jaelani. Merupakan keturunan Hasan bin Ali.  
      Ali bin Abi Thalib berusia remaja. Wahyu turun dari langit. Ali banyak belajar langsung dari Nabi. Berkesempatan selalu dekat dengan Nabi. Berlanjut sebagai menantu Nabi.
      Membuktikan Ali bin Abi Thalib menerima “ilmu tertentu” langsung dari Nabi. Yang tidak diberikan kepada orang lain.  Menerima “ilmu kanuragan” yang tak diberikan kepada sahabat yang lain. Nabi mendidik langsung. Sehingga Ali bin Abi Thalib menjadi pemuda tangguh, cerdas, berani, dan bijak.
      Rumah Nabi dikepung pasukan pembunuh Quraisy. Ali bin Abi Thalib tidur di kamar Nabi. Mengesankan Nabi masih tertidur. Padahal Nabi sudah meloloskan diri ke gua Tsur di puncak gunung Jabal Tsur.
       Nabi hijrah ke Madinah. Ali bin Abi Thalib mengembalikan semua barang titipan kepada yang berhak. Ali menyusul hijrah berjumpa Nabi di Quba.
        Nabi berumur 55 tahun. Ali bin Abi Thalib, 25, menikah dengan Fatimah Zahra, 18. Fatimah, keturunan Nabi Muhammad dengan Khadijah. Ali bin Abi Thalib, tidak menikah dengan wanita lain ketika Fatimah masih hidup.
      Ali masih pengantin baru. Terjadi Perang Badar. Perang pertama dalam sejarah Islam. Ali bin Abi Thalib dan Hamzah bin Abdul Muththalib, paman Nabi menjadi “Pahlawan Perang”. Banyak musuh  yang tewas di tangan mereka.
       Perang Khandaq, atau “Perang Parit”. Ali bin Abi Thalib dengan pedang ”Zulfikar”nya, berhasil mengalahkan Amar bin Abdi Wud, seorang jagoan Quraisy.
      Kaum Yahudi mengkhianati Perjanjian Hudaibiyah. Perjanjian perdamaian kaum Muslimin dengan kaum Yahudi. Terjadi Perang Khaibar. Para sahabat tidak mampu membuka benteng Khaibar.
     Nabi bersabda. “Bendera perang aku serahkan kepada orang yang tidak akan melarikan diri. Dia akan menyerang berulang-ulang. Allah akan memberikan kemenangan baginya. Allah dan rasul-Nya mencintainya. Dia mencintai Allah dan Rasul-Nya".
      Semua sahabat berangan-angan mendapatkan kemuliaan tersebut. Ternyata, Ali bin Abi Thalib yang mendapat kehormatan. Mampu menghancurkan benteng Khaibar. Berhasil membunuh seorang komandan prajurit musuh.
      Ali bin Abi Thalib mengikuti semua perang. Kecuali perang Tabuk. Karena diserahi menjaga kota Madinah.
      Nabi wafat umur 63 tahun. Ali bin Abi Thalib berumur 33 tahun. Abu Bakar menjadi Khalifah selama 2 tahun. Mulai tahun 632 sampai 634 Masehi. Abu Bakar meninggal karena sakit.
       Umar bin Khattab menjadi Khalifah 10 tahun. Sejak 634 sampai 644 Masehi. Umar bin Khattab mati dibunuh Abu Luluk. Seorang budak berasal dari Persia. 
      Usman bin Affan menjadi khalifah 12 tahun. Mulai 644 sampai 656 Masehi. Usman bin Affan mati dibunuh pemberontak.
      Ali bin Abi Thalib menjadi khalifah selama 5 tahun.  Mulai tahun 656 sampai 661 Masehi.
      Khalifah Usman bin Affan terbunuh. Dunia Islam genting. Yang sudah membentang sampai ke Persia dan Afrika Utara. Pemberontak memaksa Ali bin Abi Thalib menjadi khalifah. Para sahabat juga memaksa. Akhirnya, Ali bin Abi Thalib menerimanya.
        Ali bin Abi Thalib mewarisi kekacauan. Terjadi perang saudara.  Pasukan Ali bin Abi Thalib menghadapi pasukan Aisyah, istri Nabi. Penyebabnya, Ali bin Abi Thalib tidak menghukum pembunuh Usman bin Affan.  
       Ali bin Abi Thalib mahir dalam berperang. Tetapi kesulitan mengatasi konflik intern yang berkepanjangan. Fitnah dan hasutan telanjur meluas. Sesuatu yang sudah diisyaratkan terjadi oleh Nabi Muhammad semasa masih hidup.
      Bulan Ramadan tahun 40 Hijriah. Bertepatan dengan 27 Januari 661 Masehi. Ali bin Abi Thalib salat di masjid Kufah, Irak. Pemberontak datang menyerang. Ali bin Abi Thalib terkena pedang beracun. Ali bin Abi Thalib melarang membalasnya.
      Ali bin Abi Thalib berkata, “Jika saya selamat. Pemberontak akan kuampuni. Jika saya meninggal akan dihukum dengan satu pukulan.” Dua hari kemudian Ali bin Abi Thalib wafat. Pemberontak dihukum mati.
       Setelah Fatimah wafat. Ali menikah 8 kali. Banyak keturunan Ali yang tewas terbunuh di Karbala. Yang ada sampai sekarang berasal dari Hasan bin Ali dan Husein bin Ali, keturunan Ali bin Abi Thalib dengan Fatimah. Muhammad Hanafiyah bin Ali, anak Ali dengan Haulah. Abbas bin Ali, keturunan Ali dengan Umul Banin. Umar bin Ali, putra Ali bin Abi Thalib dengan Sahba.
      Keturunan Ali dengan Fatimah disebut “Syarif” atau “Sayyid”. Gelar kehormatan dalam bahasa Arab. Syarif berarti “Bangsawan”, dan Sayyid bermakna “Tuan”.
      Keturunan Ali keseluruhan dari semua istrinya dikenal dengan “Alawiyin” atau “Alawiyah”.
ISTRI DAN ANAK ALI BIN ABI THALIB
      Pertama, Fatimah Zahra, puteri Nabi dengan Khadijah.  Memperoleh  5 anak. Hasan bin Ali.  Husein bin Ali.  Muhsin bin Ali, meninggal waktu kecil.  Umi Kulsum binti Ali. dan  Zainab binti Ali.  Fatimah meninggal umur 26 tahun. Enam bulan setelah Nabi wafat.
      Kedua, Umu Banin binti Haram. Mempunyai 4 anak. Jakfar, Abbas, Abdullah, dan Usman. Ketiga, Laila binti Masud. Mendapatkan 2 anak. Ubaidullah, dan Abu Bakar.
      Keempat, Asma binti Umais. Mendapatkan 2 anak. Yahya, dan Muhammad Ashgar. Kelima, Sahba binti Rabia. Memperoleh 2 anak. Umar, dan Rukiyah. Keenam, Umamah binti Abil Ash. Memperoleh 1 anak. Muhammad Awsad.
      Ketujuh, Haulah binti Jakfar. Mendapatkan 1 anak. Muhammad Hanafiyah. Kedelapan, Umu Said binti Urwah. Mendapatkan 2 anak. Ummul Hasan, dan Ramlah Kubra. Kesembilan, Mahabba binti Imrul Qais. Mendapatkan seorang anak putri. Meninggal masih kecil.
Daftar Pustaka
1.    Al-Mubarakfury, Syaikh Shafiyurrahman. Sirah Nabawiyah. Pustaka Al-Kautsar. Jakarta. 2006.
2.    Ghani, Muhammad Ilyas Abdul. Sejarah Masjid Nabawi. Madinah 2004.
3.    Ghani, Muhammad Ilyas Abdul. Sejarah Mekah. Mekah 2004
4.    Al-Kandahlawi, Maulana Muhammad Zakaria. Himpunan Fadhilah Amal. Penerbit Ash-Shaff. Yogyakarta. 2000.