Organisasi Profesi Guru

Presiden Jokowi memberi hormat kepada Guru-Guru se Indonesia.

Tema Gambar Slide 2

Deskripsi gambar slide bisa dituliskan disini dengan beberapa kalimat yang menggambarkan gambar slide yang anda pasang, edit slide ini melalui edit HTML template.

Tema Gambar Slide 3

Deskripsi gambar slide bisa dituliskan disini dengan beberapa kalimat yang menggambarkan gambar slide yang anda pasang, edit slide ini melalui edit HTML template.

Saturday, August 12, 2017

197. HAJI

Buat ibu2 yg galak

*Pesan Ibu Elly Risman*
*Senior Psikolog UI, Konsultan Parenting Nasional*

*Inilah pesan untuk para Orangtua :*

Kalau Anda dititipi anak Presiden, kira-kira bagaimana mengasuh dan menjaganya ?

Beranikah Anda membentaknya sekali saja ?
Pasti enggak, kan ?

Nah, yang sekarang menitip bukan Presiden, tapi yang jauh lebih berkuasa dari Presiden, yaitu Allah.

Beranikah Anda membentak, memarahi, mencubit, menyentil, bahkan memukul ?

Jika Anda pernah melakukannya, kira-kira nanti di hari akhir, apa yang Anda jawab ketika ditanya Pemiliknya ?

*Jiwa anakmu lebih mahal* dari susu termahal yang ditumpahkannya.
*Jaga lisanmu,* duhai orangtua.
*Jangan pernah* engkau *memarahi* anakmu hanya gara-gara ia menumpahkan susunya atau karena ia *melakukan hal* yang menurutmu *salah.*

Anakmu tidak tahu kalau apa yang ia *lakukan adalah kesalahan.*
*Otaknya belum mempunyai konsep* itu.

*Jaga Jiwa Anakmu.*
Lihatlah *tatapan mata* anakmu yang *tidak berdosa* itu ketika *engkau marah-marah.*
Ia diam dan mencoba mencerna apa yang engkau katakan.
*Apakah ia mengerti ?*

Mungkin iya, tapi cobalah perhatikan apa yang ia lakukan.                        *setelah* engkau *pukul dan engkau marahi.*
Anakmu *tetap memelukmu*, masih ingin *engkau belai.*
Bukankah inilah tanda si anak *memaafkanmu ?*

Namun, jika engkau terus-menerus mengumbar kata-kata kasarmu kepadanya, *otak anakmu akan merekamnya* dan akhirnya, *cadangan ‘maaf’ di otaknya hilang.*

*Apa yang akan terjadi* selanjutnya, duhai orangtua ?
Anakmu akan *tumbuh menjadi anak yang ‘ganas’* dan ia pun akan *membencimu sedikit demi sedikit* hingga *tidak tahan* hidup bersamamu.

*Jiwa anak yang terluka itu akan mendendam.*
Pernahkah engkau *saksikan* anak-anak yang *‘malas’ *merawat orangtuanya ketika tua ?*
*Jangan salahkan* anak-anaknya.
*Cobalah memahami* apa yang sudah *dilakukan* oleh orangtua itu kepada anak-anaknya ketika mereka *masih kecil.*

Orangtua.., anakmu itu *bukan kaset* yang bisa kau rekam untuk *kata-kata kasarmu.*
Bersabarlah.
*Jagalah kata-katamu* agar anak hanya tahu bahwa ayah ibunya adalah *contoh yang baik, yang bisa menahan amarahnya.*

Duhai orangtua, engkau pasti kesal kalau anakmu nakal.

Tapi pernahkan engkau *berpikir* bahwa kenakalannya mungkin adalah *efek rusaknya* jiwa anakmu karena *kesalahanmu...*
Kau *pukul & kau cubit anakmu* hanya karena melakukan *hal-hal sepele*.
Kau hina dina anakmu hanya karena ia *tidak mau melakukan* hal-hal yang engkau *perintahkan.*

Cobalah duduk dan *merenungi* apa saja *yang telah engkau lakukan* kepada anakmu.
Apakah engkau lebih sayang pada susu paling mahal yang tertumpah?
Anakmu pasti *menyadari* dan tahu ketika kemarahan itu *selalu hadir di depan matanya.*
*Jiwanya* pun menjadi memerah bagai bara api.
*Apa yang mungkin terjadi ketika jiwa anak sudah terusik ?*

Anak *tidak hormat* pada orangtua.
Anak *menjadi musuh* orangtua.
Anak *menjadi sumber kekesalan* orangtua.
Anak tidak bermimpi hidup bersama dengan orangtua.
*Hal-hal inikah yang engkau inginkan, duhai orangtua ?*

*Ingatlah, jiwa anakmu lebih mahal* dari apa pun termahal yang ada di dunia
*Jaga lisan* dan *perlakukanmu* kepada anakmu.

👶👦👧👶👦👧👶👦👧 

Untuk saya dan bapak ibu semua..
..☺🙏

197. HAJI

Buat ibu2 yg galak

*Pesan Ibu Elly Risman*
*Senior Psikolog UI, Konsultan Parenting Nasional*

*Inilah pesan untuk para Orangtua :*

Kalau Anda dititipi anak Presiden, kira-kira bagaimana mengasuh dan menjaganya ?

Beranikah Anda membentaknya sekali saja ?
Pasti enggak, kan ?

Nah, yang sekarang menitip bukan Presiden, tapi yang jauh lebih berkuasa dari Presiden, yaitu Allah.

Beranikah Anda membentak, memarahi, mencubit, menyentil, bahkan memukul ?

Jika Anda pernah melakukannya, kira-kira nanti di hari akhir, apa yang Anda jawab ketika ditanya Pemiliknya ?

*Jiwa anakmu lebih mahal* dari susu termahal yang ditumpahkannya.
*Jaga lisanmu,* duhai orangtua.
*Jangan pernah* engkau *memarahi* anakmu hanya gara-gara ia menumpahkan susunya atau karena ia *melakukan hal* yang menurutmu *salah.*

Anakmu tidak tahu kalau apa yang ia *lakukan adalah kesalahan.*
*Otaknya belum mempunyai konsep* itu.

*Jaga Jiwa Anakmu.*
Lihatlah *tatapan mata* anakmu yang *tidak berdosa* itu ketika *engkau marah-marah.*
Ia diam dan mencoba mencerna apa yang engkau katakan.
*Apakah ia mengerti ?*

Mungkin iya, tapi cobalah perhatikan apa yang ia lakukan.                        *setelah* engkau *pukul dan engkau marahi.*
Anakmu *tetap memelukmu*, masih ingin *engkau belai.*
Bukankah inilah tanda si anak *memaafkanmu ?*

Namun, jika engkau terus-menerus mengumbar kata-kata kasarmu kepadanya, *otak anakmu akan merekamnya* dan akhirnya, *cadangan ‘maaf’ di otaknya hilang.*

*Apa yang akan terjadi* selanjutnya, duhai orangtua ?
Anakmu akan *tumbuh menjadi anak yang ‘ganas’* dan ia pun akan *membencimu sedikit demi sedikit* hingga *tidak tahan* hidup bersamamu.

*Jiwa anak yang terluka itu akan mendendam.*
Pernahkah engkau *saksikan* anak-anak yang *‘malas’ *merawat orangtuanya ketika tua ?*
*Jangan salahkan* anak-anaknya.
*Cobalah memahami* apa yang sudah *dilakukan* oleh orangtua itu kepada anak-anaknya ketika mereka *masih kecil.*

Orangtua.., anakmu itu *bukan kaset* yang bisa kau rekam untuk *kata-kata kasarmu.*
Bersabarlah.
*Jagalah kata-katamu* agar anak hanya tahu bahwa ayah ibunya adalah *contoh yang baik, yang bisa menahan amarahnya.*

Duhai orangtua, engkau pasti kesal kalau anakmu nakal.

Tapi pernahkan engkau *berpikir* bahwa kenakalannya mungkin adalah *efek rusaknya* jiwa anakmu karena *kesalahanmu...*
Kau *pukul & kau cubit anakmu* hanya karena melakukan *hal-hal sepele*.
Kau hina dina anakmu hanya karena ia *tidak mau melakukan* hal-hal yang engkau *perintahkan.*

Cobalah duduk dan *merenungi* apa saja *yang telah engkau lakukan* kepada anakmu.
Apakah engkau lebih sayang pada susu paling mahal yang tertumpah?
Anakmu pasti *menyadari* dan tahu ketika kemarahan itu *selalu hadir di depan matanya.*
*Jiwanya* pun menjadi memerah bagai bara api.
*Apa yang mungkin terjadi ketika jiwa anak sudah terusik ?*

Anak *tidak hormat* pada orangtua.
Anak *menjadi musuh* orangtua.
Anak *menjadi sumber kekesalan* orangtua.
Anak tidak bermimpi hidup bersama dengan orangtua.
*Hal-hal inikah yang engkau inginkan, duhai orangtua ?*

*Ingatlah, jiwa anakmu lebih mahal* dari apa pun termahal yang ada di dunia
*Jaga lisan* dan *perlakukanmu* kepada anakmu.

👶👦👧👶👦👧👶👦👧 

Untuk saya dan bapak ibu semua..
..☺🙏

197. HAJI

Buat ibu2 yg galak

*Pesan Ibu Elly Risman*
*Senior Psikolog UI, Konsultan Parenting Nasional*

*Inilah pesan untuk para Orangtua :*

Kalau Anda dititipi anak Presiden, kira-kira bagaimana mengasuh dan menjaganya ?

Beranikah Anda membentaknya sekali saja ?
Pasti enggak, kan ?

Nah, yang sekarang menitip bukan Presiden, tapi yang jauh lebih berkuasa dari Presiden, yaitu Allah.

Beranikah Anda membentak, memarahi, mencubit, menyentil, bahkan memukul ?

Jika Anda pernah melakukannya, kira-kira nanti di hari akhir, apa yang Anda jawab ketika ditanya Pemiliknya ?

*Jiwa anakmu lebih mahal* dari susu termahal yang ditumpahkannya.
*Jaga lisanmu,* duhai orangtua.
*Jangan pernah* engkau *memarahi* anakmu hanya gara-gara ia menumpahkan susunya atau karena ia *melakukan hal* yang menurutmu *salah.*

Anakmu tidak tahu kalau apa yang ia *lakukan adalah kesalahan.*
*Otaknya belum mempunyai konsep* itu.

*Jaga Jiwa Anakmu.*
Lihatlah *tatapan mata* anakmu yang *tidak berdosa* itu ketika *engkau marah-marah.*
Ia diam dan mencoba mencerna apa yang engkau katakan.
*Apakah ia mengerti ?*

Mungkin iya, tapi cobalah perhatikan apa yang ia lakukan.                        *setelah* engkau *pukul dan engkau marahi.*
Anakmu *tetap memelukmu*, masih ingin *engkau belai.*
Bukankah inilah tanda si anak *memaafkanmu ?*

Namun, jika engkau terus-menerus mengumbar kata-kata kasarmu kepadanya, *otak anakmu akan merekamnya* dan akhirnya, *cadangan ‘maaf’ di otaknya hilang.*

*Apa yang akan terjadi* selanjutnya, duhai orangtua ?
Anakmu akan *tumbuh menjadi anak yang ‘ganas’* dan ia pun akan *membencimu sedikit demi sedikit* hingga *tidak tahan* hidup bersamamu.

*Jiwa anak yang terluka itu akan mendendam.*
Pernahkah engkau *saksikan* anak-anak yang *‘malas’ *merawat orangtuanya ketika tua ?*
*Jangan salahkan* anak-anaknya.
*Cobalah memahami* apa yang sudah *dilakukan* oleh orangtua itu kepada anak-anaknya ketika mereka *masih kecil.*

Orangtua.., anakmu itu *bukan kaset* yang bisa kau rekam untuk *kata-kata kasarmu.*
Bersabarlah.
*Jagalah kata-katamu* agar anak hanya tahu bahwa ayah ibunya adalah *contoh yang baik, yang bisa menahan amarahnya.*

Duhai orangtua, engkau pasti kesal kalau anakmu nakal.

Tapi pernahkan engkau *berpikir* bahwa kenakalannya mungkin adalah *efek rusaknya* jiwa anakmu karena *kesalahanmu...*
Kau *pukul & kau cubit anakmu* hanya karena melakukan *hal-hal sepele*.
Kau hina dina anakmu hanya karena ia *tidak mau melakukan* hal-hal yang engkau *perintahkan.*

Cobalah duduk dan *merenungi* apa saja *yang telah engkau lakukan* kepada anakmu.
Apakah engkau lebih sayang pada susu paling mahal yang tertumpah?
Anakmu pasti *menyadari* dan tahu ketika kemarahan itu *selalu hadir di depan matanya.*
*Jiwanya* pun menjadi memerah bagai bara api.
*Apa yang mungkin terjadi ketika jiwa anak sudah terusik ?*

Anak *tidak hormat* pada orangtua.
Anak *menjadi musuh* orangtua.
Anak *menjadi sumber kekesalan* orangtua.
Anak tidak bermimpi hidup bersama dengan orangtua.
*Hal-hal inikah yang engkau inginkan, duhai orangtua ?*

*Ingatlah, jiwa anakmu lebih mahal* dari apa pun termahal yang ada di dunia
*Jaga lisan* dan *perlakukanmu* kepada anakmu.

👶👦👧👶👦👧👶👦👧 

Untuk saya dan bapak ibu semua..
..☺🙏

196. ANAK

Buat ibu2 yg galak

*Pesan Ibu Elly Risman*
*Senior Psikolog UI, Konsultan Parenting Nasional*

*Inilah pesan untuk para Orangtua :*

Kalau Anda dititipi anak Presiden, kira-kira bagaimana mengasuh dan menjaganya ?

Beranikah Anda membentaknya sekali saja ?
Pasti enggak, kan ?

Nah, yang sekarang menitip bukan Presiden, tapi yang jauh lebih berkuasa dari Presiden, yaitu Allah.

Beranikah Anda membentak, memarahi, mencubit, menyentil, bahkan memukul ?

Jika Anda pernah melakukannya, kira-kira nanti di hari akhir, apa yang Anda jawab ketika ditanya Pemiliknya ?

*Jiwa anakmu lebih mahal* dari susu termahal yang ditumpahkannya.
*Jaga lisanmu,* duhai orangtua.
*Jangan pernah* engkau *memarahi* anakmu hanya gara-gara ia menumpahkan susunya atau karena ia *melakukan hal* yang menurutmu *salah.*

Anakmu tidak tahu kalau apa yang ia *lakukan adalah kesalahan.*
*Otaknya belum mempunyai konsep* itu.

*Jaga Jiwa Anakmu.*
Lihatlah *tatapan mata* anakmu yang *tidak berdosa* itu ketika *engkau marah-marah.*
Ia diam dan mencoba mencerna apa yang engkau katakan.
*Apakah ia mengerti ?*

Mungkin iya, tapi cobalah perhatikan apa yang ia lakukan.                        *setelah* engkau *pukul dan engkau marahi.*
Anakmu *tetap memelukmu*, masih ingin *engkau belai.*
Bukankah inilah tanda si anak *memaafkanmu ?*

Namun, jika engkau terus-menerus mengumbar kata-kata kasarmu kepadanya, *otak anakmu akan merekamnya* dan akhirnya, *cadangan ‘maaf’ di otaknya hilang.*

*Apa yang akan terjadi* selanjutnya, duhai orangtua ?
Anakmu akan *tumbuh menjadi anak yang ‘ganas’* dan ia pun akan *membencimu sedikit demi sedikit* hingga *tidak tahan* hidup bersamamu.

*Jiwa anak yang terluka itu akan mendendam.*
Pernahkah engkau *saksikan* anak-anak yang *‘malas’ *merawat orangtuanya ketika tua ?*
*Jangan salahkan* anak-anaknya.
*Cobalah memahami* apa yang sudah *dilakukan* oleh orangtua itu kepada anak-anaknya ketika mereka *masih kecil.*

Orangtua.., anakmu itu *bukan kaset* yang bisa kau rekam untuk *kata-kata kasarmu.*
Bersabarlah.
*Jagalah kata-katamu* agar anak hanya tahu bahwa ayah ibunya adalah *contoh yang baik, yang bisa menahan amarahnya.*

Duhai orangtua, engkau pasti kesal kalau anakmu nakal.

Tapi pernahkan engkau *berpikir* bahwa kenakalannya mungkin adalah *efek rusaknya* jiwa anakmu karena *kesalahanmu...*
Kau *pukul & kau cubit anakmu* hanya karena melakukan *hal-hal sepele*.
Kau hina dina anakmu hanya karena ia *tidak mau melakukan* hal-hal yang engkau *perintahkan.*

Cobalah duduk dan *merenungi* apa saja *yang telah engkau lakukan* kepada anakmu.
Apakah engkau lebih sayang pada susu paling mahal yang tertumpah?
Anakmu pasti *menyadari* dan tahu ketika kemarahan itu *selalu hadir di depan matanya.*
*Jiwanya* pun menjadi memerah bagai bara api.
*Apa yang mungkin terjadi ketika jiwa anak sudah terusik ?*

Anak *tidak hormat* pada orangtua.
Anak *menjadi musuh* orangtua.
Anak *menjadi sumber kekesalan* orangtua.
Anak tidak bermimpi hidup bersama dengan orangtua.
*Hal-hal inikah yang engkau inginkan, duhai orangtua ?*

*Ingatlah, jiwa anakmu lebih mahal* dari apa pun termahal yang ada di dunia
*Jaga lisan* dan *perlakukanmu* kepada anakmu.

👶👦👧👶👦👧👶👦👧 

Untuk saya dan bapak ibu semua..
..☺🙏

195. MUTAH

NIKAH MUT’AH ZAMAN NABI MUHAMMAD
Oleh: Drs. H. Yusron Hadi, M.M.
Kepala SMP Negeri 1 Balongbendo, Sidoarjo

      Beberapa orang bertanya,”Bagaimana sejarah terjadinya Nikah Mut’ah atau “Kawin Kontrak”? Mohon dijelaskan sejarah terjadinya Nikah Mut’ah atau “Kawin Kontrak” pada zaman Nabi Muhammad? Berikut ini penjelasannya.
      Nikah (menurut KBBI V) adalah ikatan atau akad perkawinan yang dilakukan seorang suami dan istri sesuai dengan ketentuan hukum dan ajaran agama.
      Mut’ah (menurut KBBI V) adalah sesuatu berupa uang atau barang yang diberikan seorang suami kepada istri yang diceraikannya sebagai bekal hidup atau penghibur hati bekas istrinya.
      Nikah mut’ah atau “kawin kontrak” adalah pernikahan atau perkawinan antara suami dan istri dalam jangka waktu tertentu.
      Al-Quran surah An-Nisa, surah ke-4 ayat 24.
      “Dan (diharamkan juga kamu mengawini) wanita yang bersuami, kecuali budak-budak yang kamu miliki (Allah telah menetapkan hukum itu) sebagai ketetapan-Nya atas kamu. Dan dihalalkan bagi kamu selain yang demikian (yaitu) mencari istri-istri  dengan hartamu untuk dikawini bukan untuk berzina. Maka istri-istri yang telah kamu nikmati (campuri) di antara mereka, berikan kepada mereka maharnya (dengan sempurna), sebagai suatu kewajiban; dan tidak mengapa bagi kamu terhadap sesuatu yang kamu telah saling merelakannya, sesudah menentukan mahar itu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.”
      Al-Quran surah Al-Baqarah, surah ke-2 ayat 236.
      “Tidak ada kewajiban membayar (mahar) atas kamu, jika kamu menceraikan istri-istrimu sebelum kamu bercampur dengan mereka dan sebelum kamu menentukan maharnya. Hendaklah kamu memberikan suatu mut-ah (pemberian) kepada mereka. Orang yang mampu menurut kemampuannya dan orang yang miskin menurut kemampuannya (pula), yaitu pemberian menurut yang patut. Yang demikian itu merupakan ketentuan bagi orang-orang yang berbuat kebajikan.”
      Al-Quran surah Al-Baqarah, surah ke-2 ayat 241. “Kepada wanita-wanita yang diceraikan (hendaklah diberikan oleh suaminya) mut`ah menurut yang makruf, sebagai suatu kewajiban bagi orang-orang yang takwa.”
      Al-Quran surah Al-Ahzab, surah ke-33 ayat 28. “Hai Nabi, katakan kepada istri-istrimu,”Jika kamu sekalian menginginkan kehidupan dunia dan perhiasannya, maka mari kuberikan kepadamu mut`ah dan aku ceraikan kamu dengan cara yang baik.”
      Al-Quran surah A-Ahzab, surah ke-33 ayat 49.
     “Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu menikahi perempuan-perempuan yang beriman, kemudian kamu ceraikan mereka sebelum kamu mencampurinya maka sekali-kali tidak wajib atas mereka 'iddah bagimu yang kamu minta menyempurnakannya, Maka beri mereka mut`ah dan lepaskan mereka dengan cara yang sebaik-baiknya.”
      AL-Quran surah Al-Maarij, surah ke-70 ayat 29-31. “Dan orang-orang yang memelihara kemaluannya, kecuali terhadap istri-istri mereka atau budak-budak yang mereka miliki, maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tidak tercela. Barangsiapa mencari yang di balik itu, maka mereka orang-orang yang melampaui batas.”
      Nabi bersabda,“Wahai manusia, aku pernah membolehkan kamu melakukan (nikah) mut’ah dengan wanita. Kemudian Allah telah mengharamkan hal itu sampai hari kiamat. Oleh karena itu, jika masih ada yang memiliki wanita yang diperoleh melalui jalan mut’ah maka hendaklah ia melepaskannya dan kamu jangan mengambil sedikit pun dari apa yang telah kamu berikan kepada mereka.” (HR Muslim)
      Sahabat berkata, “Nabi pernah memberikan keringanan atau “rukhsah” pada tahun Autas atau Perang Hunain untuk nikah mut’ah selama tiga hari, kemudian Nabi melarangnya”. (HR Muslim)
     Ibnu Abbas berkata,”Sesungguhnya Nabi melarang nikah mut’ah dan makan daging keledai pada masa Perang `Khaibar”.(HR Muslim)
      Sabroh berkata,”Kami berperang dan menetap selama 30 hari. Awalnya Nabi mengizinkan kami untuk melakukan nikah mut’ah atau “kawin kontrak” dengan wanita setempat. Kemudian aku melakukan nikah mut’ah atau “kawin kontrak” dengan seorang gadis. Ketika kami keluar Mekah, maka Nabi melarang nikah mut’ah. (HR Muslim). 
      Nikah mut’ah atau “kawin kontrak” pernah dilakukan para sahabat ketika berada di medan perang. Kala itu, mayoritas tentara Islam adalah para pemuda lajang yang tidak sempat menikah.
     Sebagai  manusia biasa dan lelaki yang normal, dengan semangat perang jihad di padang pasir untuk mempertahankan syiar Islam. Tetapi gelora birahi mereka ikut menggejolak menuntut untuk segera dipenuhi.
      Tentara Islam mencoba menahan goncangan syahwat dengan berpuasa. Padahal mereka harus melakukan kontak senjata dengan tentara musuh, maka puasa bukan solusi efektif karena fisik mereka menjadi lemah.
     Kondisi ini yang kemudian mengantar ide dibolehkan nikah mut’ah atau masyhur disebut “kawin kontrak”, karena dalam kondisi darurat.
     Pada zaman perang, Nabi mengizinkan tentara Islam yang terpisah jauh dari istrinya untuk melakukan nikah mut’ah atau “kawin kontrak”, daripada melakukan penyimpangan.
     Nabi memberikan keringanan tentara Islam untuk melakukan nikah mut’ah atau “kawin kontrak” dengan wanita setempat, selama mereka mempertaruhkan nyawa untuk berperang membela agama Islam.
      Kemudian Nabi mengharamkan nikah mut’ah atau “kawin kontrak” ketika melakukan pembebasan kota Mekah pada tahun 8 Hijriah atau 630 Masehi.
Daftar Pustaka.
1. Al-Quran Digital, Versi 3.2. Digital Qur’an Ver 3.2

195. MUTAH

NIKAH MUT’AH ZAMAN NABI MUHAMMAD
Oleh: Drs. H. Yusron Hadi, M.M.
Kepala SMP Negeri 1 Balongbendo, Sidoarjo

      Beberapa orang bertanya,”Bagaimana sejarah terjadinya Nikah Mut’ah atau “Kawin Kontrak”? Mohon dijelaskan sejarah terjadinya Nikah Mut’ah atau “Kawin Kontrak” pada zaman Nabi Muhammad? Berikut ini penjelasannya.
      Nikah (menurut KBBI V) adalah ikatan atau akad perkawinan yang dilakukan seorang suami dan istri sesuai dengan ketentuan hukum dan ajaran agama.
      Mut’ah (menurut KBBI V) adalah sesuatu berupa uang atau barang yang diberikan seorang suami kepada istri yang diceraikannya sebagai bekal hidup atau penghibur hati bekas istrinya.
      Nikah mut’ah atau “kawin kontrak” adalah pernikahan atau perkawinan antara suami dan istri dalam jangka waktu tertentu.
      Al-Quran surah An-Nisa, surah ke-4 ayat 24.
      “Dan (diharamkan juga kamu mengawini) wanita yang bersuami, kecuali budak-budak yang kamu miliki (Allah telah menetapkan hukum itu) sebagai ketetapan-Nya atas kamu. Dan dihalalkan bagi kamu selain yang demikian (yaitu) mencari istri-istri  dengan hartamu untuk dikawini bukan untuk berzina. Maka istri-istri yang telah kamu nikmati (campuri) di antara mereka, berikan kepada mereka maharnya (dengan sempurna), sebagai suatu kewajiban; dan tidak mengapa bagi kamu terhadap sesuatu yang kamu telah saling merelakannya, sesudah menentukan mahar itu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.”
      Al-Quran surah Al-Baqarah, surah ke-2 ayat 236.
      “Tidak ada kewajiban membayar (mahar) atas kamu, jika kamu menceraikan istri-istrimu sebelum kamu bercampur dengan mereka dan sebelum kamu menentukan maharnya. Hendaklah kamu memberikan suatu mut-ah (pemberian) kepada mereka. Orang yang mampu menurut kemampuannya dan orang yang miskin menurut kemampuannya (pula), yaitu pemberian menurut yang patut. Yang demikian itu merupakan ketentuan bagi orang-orang yang berbuat kebajikan.”
      Al-Quran surah Al-Baqarah, surah ke-2 ayat 241. “Kepada wanita-wanita yang diceraikan (hendaklah diberikan oleh suaminya) mut`ah menurut yang makruf, sebagai suatu kewajiban bagi orang-orang yang takwa.”
      Al-Quran surah Al-Ahzab, surah ke-33 ayat 28. “Hai Nabi, katakan kepada istri-istrimu,”Jika kamu sekalian menginginkan kehidupan dunia dan perhiasannya, maka mari kuberikan kepadamu mut`ah dan aku ceraikan kamu dengan cara yang baik.”
      Al-Quran surah A-Ahzab, surah ke-33 ayat 49.
     “Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu menikahi perempuan-perempuan yang beriman, kemudian kamu ceraikan mereka sebelum kamu mencampurinya maka sekali-kali tidak wajib atas mereka 'iddah bagimu yang kamu minta menyempurnakannya, Maka beri mereka mut`ah dan lepaskan mereka dengan cara yang sebaik-baiknya.”
      AL-Quran surah Al-Maarij, surah ke-70 ayat 29-31. “Dan orang-orang yang memelihara kemaluannya, kecuali terhadap istri-istri mereka atau budak-budak yang mereka miliki, maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tidak tercela. Barangsiapa mencari yang di balik itu, maka mereka orang-orang yang melampaui batas.”
      Nabi bersabda,“Wahai manusia, aku pernah membolehkan kamu melakukan (nikah) mut’ah dengan wanita. Kemudian Allah telah mengharamkan hal itu sampai hari kiamat. Oleh karena itu, jika masih ada yang memiliki wanita yang diperoleh melalui jalan mut’ah maka hendaklah ia melepaskannya dan kamu jangan mengambil sedikit pun dari apa yang telah kamu berikan kepada mereka.” (HR Muslim)
      Sahabat berkata, “Nabi pernah memberikan keringanan atau “rukhsah” pada tahun Autas atau Perang Hunain untuk nikah mut’ah selama tiga hari, kemudian Nabi melarangnya”. (HR Muslim)
     Ibnu Abbas berkata,”Sesungguhnya Nabi melarang nikah mut’ah dan makan daging keledai pada masa Perang `Khaibar”.(HR Muslim)
      Sabroh berkata,”Kami berperang dan menetap selama 30 hari. Awalnya Nabi mengizinkan kami untuk melakukan nikah mut’ah atau “kawin kontrak” dengan wanita setempat. Kemudian aku melakukan nikah mut’ah atau “kawin kontrak” dengan seorang gadis. Ketika kami keluar Mekah, maka Nabi melarang nikah mut’ah. (HR Muslim). 
      Nikah mut’ah atau “kawin kontrak” pernah dilakukan para sahabat ketika berada di medan perang. Kala itu, mayoritas tentara Islam adalah para pemuda lajang yang tidak sempat menikah.
     Sebagai  manusia biasa dan lelaki yang normal, dengan semangat perang jihad di padang pasir untuk mempertahankan syiar Islam. Tetapi gelora birahi mereka ikut menggejolak menuntut untuk segera dipenuhi.
      Tentara Islam mencoba menahan goncangan syahwat dengan berpuasa. Padahal mereka harus melakukan kontak senjata dengan tentara musuh, maka puasa bukan solusi efektif karena fisik mereka menjadi lemah.
     Kondisi ini yang kemudian mengantar ide dibolehkan nikah mut’ah atau masyhur disebut “kawin kontrak”, karena dalam kondisi darurat.
     Pada zaman perang, Nabi mengizinkan tentara Islam yang terpisah jauh dari istrinya untuk melakukan nikah mut’ah atau “kawin kontrak”, daripada melakukan penyimpangan.
     Nabi memberikan keringanan tentara Islam untuk melakukan nikah mut’ah atau “kawin kontrak” dengan wanita setempat, selama mereka mempertaruhkan nyawa untuk berperang membela agama Islam.
      Kemudian Nabi mengharamkan nikah mut’ah atau “kawin kontrak” ketika melakukan pembebasan kota Mekah pada tahun 8 Hijriah atau 630 Masehi.
Daftar Pustaka.
1. Al-Quran Digital, Versi 3.2. Digital Qur’an Ver 3.2

195. MUTAH

NIKAH MUT’AH ZAMAN NABI MUHAMMAD
Oleh: Drs. H. Yusron Hadi, M.M.
Kepala SMP Negeri 1 Balongbendo, Sidoarjo

      Beberapa orang bertanya,”Bagaimana sejarah terjadinya Nikah Mut’ah atau “Kawin Kontrak”? Mohon dijelaskan sejarah terjadinya Nikah Mut’ah atau “Kawin Kontrak” pada zaman Nabi Muhammad? Berikut ini penjelasannya.
      Nikah (menurut KBBI V) adalah ikatan atau akad perkawinan yang dilakukan seorang suami dan istri sesuai dengan ketentuan hukum dan ajaran agama.
      Mut’ah (menurut KBBI V) adalah sesuatu berupa uang atau barang yang diberikan seorang suami kepada istri yang diceraikannya sebagai bekal hidup atau penghibur hati bekas istrinya.
      Nikah mut’ah atau “kawin kontrak” adalah pernikahan atau perkawinan antara suami dan istri dalam jangka waktu tertentu.
      Al-Quran surah An-Nisa, surah ke-4 ayat 24.
      “Dan (diharamkan juga kamu mengawini) wanita yang bersuami, kecuali budak-budak yang kamu miliki (Allah telah menetapkan hukum itu) sebagai ketetapan-Nya atas kamu. Dan dihalalkan bagi kamu selain yang demikian (yaitu) mencari istri-istri  dengan hartamu untuk dikawini bukan untuk berzina. Maka istri-istri yang telah kamu nikmati (campuri) di antara mereka, berikan kepada mereka maharnya (dengan sempurna), sebagai suatu kewajiban; dan tidak mengapa bagi kamu terhadap sesuatu yang kamu telah saling merelakannya, sesudah menentukan mahar itu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.”
      Al-Quran surah Al-Baqarah, surah ke-2 ayat 236.
      “Tidak ada kewajiban membayar (mahar) atas kamu, jika kamu menceraikan istri-istrimu sebelum kamu bercampur dengan mereka dan sebelum kamu menentukan maharnya. Hendaklah kamu memberikan suatu mut-ah (pemberian) kepada mereka. Orang yang mampu menurut kemampuannya dan orang yang miskin menurut kemampuannya (pula), yaitu pemberian menurut yang patut. Yang demikian itu merupakan ketentuan bagi orang-orang yang berbuat kebajikan.”
      Al-Quran surah Al-Baqarah, surah ke-2 ayat 241. “Kepada wanita-wanita yang diceraikan (hendaklah diberikan oleh suaminya) mut`ah menurut yang makruf, sebagai suatu kewajiban bagi orang-orang yang takwa.”
      Al-Quran surah Al-Ahzab, surah ke-33 ayat 28. “Hai Nabi, katakan kepada istri-istrimu,”Jika kamu sekalian menginginkan kehidupan dunia dan perhiasannya, maka mari kuberikan kepadamu mut`ah dan aku ceraikan kamu dengan cara yang baik.”
      Al-Quran surah A-Ahzab, surah ke-33 ayat 49.
     “Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu menikahi perempuan-perempuan yang beriman, kemudian kamu ceraikan mereka sebelum kamu mencampurinya maka sekali-kali tidak wajib atas mereka 'iddah bagimu yang kamu minta menyempurnakannya, Maka beri mereka mut`ah dan lepaskan mereka dengan cara yang sebaik-baiknya.”
      AL-Quran surah Al-Maarij, surah ke-70 ayat 29-31. “Dan orang-orang yang memelihara kemaluannya, kecuali terhadap istri-istri mereka atau budak-budak yang mereka miliki, maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tidak tercela. Barangsiapa mencari yang di balik itu, maka mereka orang-orang yang melampaui batas.”
      Nabi bersabda,“Wahai manusia, aku pernah membolehkan kamu melakukan (nikah) mut’ah dengan wanita. Kemudian Allah telah mengharamkan hal itu sampai hari kiamat. Oleh karena itu, jika masih ada yang memiliki wanita yang diperoleh melalui jalan mut’ah maka hendaklah ia melepaskannya dan kamu jangan mengambil sedikit pun dari apa yang telah kamu berikan kepada mereka.” (HR Muslim)
      Sahabat berkata, “Nabi pernah memberikan keringanan atau “rukhsah” pada tahun Autas atau Perang Hunain untuk nikah mut’ah selama tiga hari, kemudian Nabi melarangnya”. (HR Muslim)
     Ibnu Abbas berkata,”Sesungguhnya Nabi melarang nikah mut’ah dan makan daging keledai pada masa Perang `Khaibar”.(HR Muslim)
      Sabroh berkata,”Kami berperang dan menetap selama 30 hari. Awalnya Nabi mengizinkan kami untuk melakukan nikah mut’ah atau “kawin kontrak” dengan wanita setempat. Kemudian aku melakukan nikah mut’ah atau “kawin kontrak” dengan seorang gadis. Ketika kami keluar Mekah, maka Nabi melarang nikah mut’ah. (HR Muslim). 
      Nikah mut’ah atau “kawin kontrak” pernah dilakukan para sahabat ketika berada di medan perang. Kala itu, mayoritas tentara Islam adalah para pemuda lajang yang tidak sempat menikah.
     Sebagai  manusia biasa dan lelaki yang normal, dengan semangat perang jihad di padang pasir untuk mempertahankan syiar Islam. Tetapi gelora birahi mereka ikut menggejolak menuntut untuk segera dipenuhi.
      Tentara Islam mencoba menahan goncangan syahwat dengan berpuasa. Padahal mereka harus melakukan kontak senjata dengan tentara musuh, maka puasa bukan solusi efektif karena fisik mereka menjadi lemah.
     Kondisi ini yang kemudian mengantar ide dibolehkan nikah mut’ah atau masyhur disebut “kawin kontrak”, karena dalam kondisi darurat.
     Pada zaman perang, Nabi mengizinkan tentara Islam yang terpisah jauh dari istrinya untuk melakukan nikah mut’ah atau “kawin kontrak”, daripada melakukan penyimpangan.
     Nabi memberikan keringanan tentara Islam untuk melakukan nikah mut’ah atau “kawin kontrak” dengan wanita setempat, selama mereka mempertaruhkan nyawa untuk berperang membela agama Islam.
      Kemudian Nabi mengharamkan nikah mut’ah atau “kawin kontrak” ketika melakukan pembebasan kota Mekah pada tahun 8 Hijriah atau 630 Masehi.
Daftar Pustaka.
1. Al-Quran Digital, Versi 3.2. Digital Qur’an Ver 3.2

195. MUTAH

NIKAH MUT’AH ZAMAN NABI MUHAMMAD
Oleh: Drs. H. Yusron Hadi, M.M.
Kepala SMP Negeri 1 Balongbendo, Sidoarjo

      Beberapa orang bertanya,”Bagaimana sejarah terjadinya Nikah Mut’ah atau “Kawin Kontrak”? Mohon dijelaskan sejarah terjadinya Nikah Mut’ah atau “Kawin Kontrak” pada zaman Nabi Muhammad? Berikut ini penjelasannya.
      Nikah (menurut KBBI V) adalah ikatan atau akad perkawinan yang dilakukan seorang suami dan istri sesuai dengan ketentuan hukum dan ajaran agama.
      Mut’ah (menurut KBBI V) adalah sesuatu berupa uang atau barang yang diberikan seorang suami kepada istri yang diceraikannya sebagai bekal hidup atau penghibur hati bekas istrinya.
      Nikah mut’ah atau “kawin kontrak” adalah pernikahan atau perkawinan antara suami dan istri dalam jangka waktu tertentu.
      Al-Quran surah An-Nisa, surah ke-4 ayat 24.
      “Dan (diharamkan juga kamu mengawini) wanita yang bersuami, kecuali budak-budak yang kamu miliki (Allah telah menetapkan hukum itu) sebagai ketetapan-Nya atas kamu. Dan dihalalkan bagi kamu selain yang demikian (yaitu) mencari istri-istri  dengan hartamu untuk dikawini bukan untuk berzina. Maka istri-istri yang telah kamu nikmati (campuri) di antara mereka, berikan kepada mereka maharnya (dengan sempurna), sebagai suatu kewajiban; dan tidak mengapa bagi kamu terhadap sesuatu yang kamu telah saling merelakannya, sesudah menentukan mahar itu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.”
      Al-Quran surah Al-Baqarah, surah ke-2 ayat 236.
      “Tidak ada kewajiban membayar (mahar) atas kamu, jika kamu menceraikan istri-istrimu sebelum kamu bercampur dengan mereka dan sebelum kamu menentukan maharnya. Hendaklah kamu memberikan suatu mut-ah (pemberian) kepada mereka. Orang yang mampu menurut kemampuannya dan orang yang miskin menurut kemampuannya (pula), yaitu pemberian menurut yang patut. Yang demikian itu merupakan ketentuan bagi orang-orang yang berbuat kebajikan.”
      Al-Quran surah Al-Baqarah, surah ke-2 ayat 241. “Kepada wanita-wanita yang diceraikan (hendaklah diberikan oleh suaminya) mut`ah menurut yang makruf, sebagai suatu kewajiban bagi orang-orang yang takwa.”
      Al-Quran surah Al-Ahzab, surah ke-33 ayat 28. “Hai Nabi, katakan kepada istri-istrimu,”Jika kamu sekalian menginginkan kehidupan dunia dan perhiasannya, maka mari kuberikan kepadamu mut`ah dan aku ceraikan kamu dengan cara yang baik.”
      Al-Quran surah A-Ahzab, surah ke-33 ayat 49.
     “Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu menikahi perempuan-perempuan yang beriman, kemudian kamu ceraikan mereka sebelum kamu mencampurinya maka sekali-kali tidak wajib atas mereka 'iddah bagimu yang kamu minta menyempurnakannya, Maka beri mereka mut`ah dan lepaskan mereka dengan cara yang sebaik-baiknya.”
      AL-Quran surah Al-Maarij, surah ke-70 ayat 29-31. “Dan orang-orang yang memelihara kemaluannya, kecuali terhadap istri-istri mereka atau budak-budak yang mereka miliki, maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tidak tercela. Barangsiapa mencari yang di balik itu, maka mereka orang-orang yang melampaui batas.”
      Nabi bersabda,“Wahai manusia, aku pernah membolehkan kamu melakukan (nikah) mut’ah dengan wanita. Kemudian Allah telah mengharamkan hal itu sampai hari kiamat. Oleh karena itu, jika masih ada yang memiliki wanita yang diperoleh melalui jalan mut’ah maka hendaklah ia melepaskannya dan kamu jangan mengambil sedikit pun dari apa yang telah kamu berikan kepada mereka.” (HR Muslim)
      Sahabat berkata, “Nabi pernah memberikan keringanan atau “rukhsah” pada tahun Autas atau Perang Hunain untuk nikah mut’ah selama tiga hari, kemudian Nabi melarangnya”. (HR Muslim)
     Ibnu Abbas berkata,”Sesungguhnya Nabi melarang nikah mut’ah dan makan daging keledai pada masa Perang `Khaibar”.(HR Muslim)
      Sabroh berkata,”Kami berperang dan menetap selama 30 hari. Awalnya Nabi mengizinkan kami untuk melakukan nikah mut’ah atau “kawin kontrak” dengan wanita setempat. Kemudian aku melakukan nikah mut’ah atau “kawin kontrak” dengan seorang gadis. Ketika kami keluar Mekah, maka Nabi melarang nikah mut’ah. (HR Muslim). 
      Nikah mut’ah atau “kawin kontrak” pernah dilakukan para sahabat ketika berada di medan perang. Kala itu, mayoritas tentara Islam adalah para pemuda lajang yang tidak sempat menikah.
     Sebagai  manusia biasa dan lelaki yang normal, dengan semangat perang jihad di padang pasir untuk mempertahankan syiar Islam. Tetapi gelora birahi mereka ikut menggejolak menuntut untuk segera dipenuhi.
      Tentara Islam mencoba menahan goncangan syahwat dengan berpuasa. Padahal mereka harus melakukan kontak senjata dengan tentara musuh, maka puasa bukan solusi efektif karena fisik mereka menjadi lemah.
     Kondisi ini yang kemudian mengantar ide dibolehkan nikah mut’ah atau masyhur disebut “kawin kontrak”, karena dalam kondisi darurat.
     Pada zaman perang, Nabi mengizinkan tentara Islam yang terpisah jauh dari istrinya untuk melakukan nikah mut’ah atau “kawin kontrak”, daripada melakukan penyimpangan.
     Nabi memberikan keringanan tentara Islam untuk melakukan nikah mut’ah atau “kawin kontrak” dengan wanita setempat, selama mereka mempertaruhkan nyawa untuk berperang membela agama Islam.
      Kemudian Nabi mengharamkan nikah mut’ah atau “kawin kontrak” ketika melakukan pembebasan kota Mekah pada tahun 8 Hijriah atau 630 Masehi.
Daftar Pustaka.
1. Al-Quran Digital, Versi 3.2. Digital Qur’an Ver 3.2

195. MUTAH

NIKAH MUT’AH ZAMAN NABI MUHAMMAD
Oleh: Drs. H. Yusron Hadi, M.M.
Kepala SMP Negeri 1 Balongbendo, Sidoarjo

      Beberapa orang bertanya,”Bagaimana sejarah terjadinya Nikah Mut’ah atau “Kawin Kontrak”? Mohon dijelaskan sejarah terjadinya Nikah Mut’ah atau “Kawin Kontrak” pada zaman Nabi Muhammad? Berikut ini penjelasannya.
      Nikah (menurut KBBI V) adalah ikatan atau akad perkawinan yang dilakukan seorang suami dan istri sesuai dengan ketentuan hukum dan ajaran agama.
      Mut’ah (menurut KBBI V) adalah sesuatu berupa uang atau barang yang diberikan seorang suami kepada istri yang diceraikannya sebagai bekal hidup atau penghibur hati bekas istrinya.
      Nikah mut’ah atau “kawin kontrak” adalah pernikahan atau perkawinan antara suami dan istri dalam jangka waktu tertentu.
      Al-Quran surah An-Nisa, surah ke-4 ayat 24.
      “Dan (diharamkan juga kamu mengawini) wanita yang bersuami, kecuali budak-budak yang kamu miliki (Allah telah menetapkan hukum itu) sebagai ketetapan-Nya atas kamu. Dan dihalalkan bagi kamu selain yang demikian (yaitu) mencari istri-istri  dengan hartamu untuk dikawini bukan untuk berzina. Maka istri-istri yang telah kamu nikmati (campuri) di antara mereka, berikan kepada mereka maharnya (dengan sempurna), sebagai suatu kewajiban; dan tidak mengapa bagi kamu terhadap sesuatu yang kamu telah saling merelakannya, sesudah menentukan mahar itu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.”
      Al-Quran surah Al-Baqarah, surah ke-2 ayat 236.
      “Tidak ada kewajiban membayar (mahar) atas kamu, jika kamu menceraikan istri-istrimu sebelum kamu bercampur dengan mereka dan sebelum kamu menentukan maharnya. Hendaklah kamu memberikan suatu mut-ah (pemberian) kepada mereka. Orang yang mampu menurut kemampuannya dan orang yang miskin menurut kemampuannya (pula), yaitu pemberian menurut yang patut. Yang demikian itu merupakan ketentuan bagi orang-orang yang berbuat kebajikan.”
      Al-Quran surah Al-Baqarah, surah ke-2 ayat 241. “Kepada wanita-wanita yang diceraikan (hendaklah diberikan oleh suaminya) mut`ah menurut yang makruf, sebagai suatu kewajiban bagi orang-orang yang takwa.”
      Al-Quran surah Al-Ahzab, surah ke-33 ayat 28. “Hai Nabi, katakan kepada istri-istrimu,”Jika kamu sekalian menginginkan kehidupan dunia dan perhiasannya, maka mari kuberikan kepadamu mut`ah dan aku ceraikan kamu dengan cara yang baik.”
      Al-Quran surah A-Ahzab, surah ke-33 ayat 49.
     “Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu menikahi perempuan-perempuan yang beriman, kemudian kamu ceraikan mereka sebelum kamu mencampurinya maka sekali-kali tidak wajib atas mereka 'iddah bagimu yang kamu minta menyempurnakannya, Maka beri mereka mut`ah dan lepaskan mereka dengan cara yang sebaik-baiknya.”
      AL-Quran surah Al-Maarij, surah ke-70 ayat 29-31. “Dan orang-orang yang memelihara kemaluannya, kecuali terhadap istri-istri mereka atau budak-budak yang mereka miliki, maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tidak tercela. Barangsiapa mencari yang di balik itu, maka mereka orang-orang yang melampaui batas.”
      Nabi bersabda,“Wahai manusia, aku pernah membolehkan kamu melakukan (nikah) mut’ah dengan wanita. Kemudian Allah telah mengharamkan hal itu sampai hari kiamat. Oleh karena itu, jika masih ada yang memiliki wanita yang diperoleh melalui jalan mut’ah maka hendaklah ia melepaskannya dan kamu jangan mengambil sedikit pun dari apa yang telah kamu berikan kepada mereka.” (HR Muslim)
      Sahabat berkata, “Nabi pernah memberikan keringanan atau “rukhsah” pada tahun Autas atau Perang Hunain untuk nikah mut’ah selama tiga hari, kemudian Nabi melarangnya”. (HR Muslim)
     Ibnu Abbas berkata,”Sesungguhnya Nabi melarang nikah mut’ah dan makan daging keledai pada masa Perang `Khaibar”.(HR Muslim)
      Sabroh berkata,”Kami berperang dan menetap selama 30 hari. Awalnya Nabi mengizinkan kami untuk melakukan nikah mut’ah atau “kawin kontrak” dengan wanita setempat. Kemudian aku melakukan nikah mut’ah atau “kawin kontrak” dengan seorang gadis. Ketika kami keluar Mekah, maka Nabi melarang nikah mut’ah. (HR Muslim). 
      Nikah mut’ah atau “kawin kontrak” pernah dilakukan para sahabat ketika berada di medan perang. Kala itu, mayoritas tentara Islam adalah para pemuda lajang yang tidak sempat menikah.
     Sebagai  manusia biasa dan lelaki yang normal, dengan semangat perang jihad di padang pasir untuk mempertahankan syiar Islam. Tetapi gelora birahi mereka ikut menggejolak menuntut untuk segera dipenuhi.
      Tentara Islam mencoba menahan goncangan syahwat dengan berpuasa. Padahal mereka harus melakukan kontak senjata dengan tentara musuh, maka puasa bukan solusi efektif karena fisik mereka menjadi lemah.
     Kondisi ini yang kemudian mengantar ide dibolehkan nikah mut’ah atau masyhur disebut “kawin kontrak”, karena dalam kondisi darurat.
     Pada zaman perang, Nabi mengizinkan tentara Islam yang terpisah jauh dari istrinya untuk melakukan nikah mut’ah atau “kawin kontrak”, daripada melakukan penyimpangan.
     Nabi memberikan keringanan tentara Islam untuk melakukan nikah mut’ah atau “kawin kontrak” dengan wanita setempat, selama mereka mempertaruhkan nyawa untuk berperang membela agama Islam.
      Kemudian Nabi mengharamkan nikah mut’ah atau “kawin kontrak” ketika melakukan pembebasan kota Mekah pada tahun 8 Hijriah atau 630 Masehi.
Daftar Pustaka.
1. Al-Quran Digital, Versi 3.2. Digital Qur’an Ver 3.2

195. MUTAH

NIKAH MUT’AH ZAMAN NABI MUHAMMAD
Oleh: Drs. H. Yusron Hadi, M.M.
Kepala SMP Negeri 1 Balongbendo, Sidoarjo

      Beberapa orang bertanya,”Bagaimana sejarah terjadinya Nikah Mut’ah atau “Kawin Kontrak”? Mohon dijelaskan sejarah terjadinya Nikah Mut’ah atau “Kawin Kontrak” pada zaman Nabi Muhammad? Berikut ini penjelasannya.
      Nikah (menurut KBBI V) adalah ikatan atau akad perkawinan yang dilakukan seorang suami dan istri sesuai dengan ketentuan hukum dan ajaran agama.
      Mut’ah (menurut KBBI V) adalah sesuatu berupa uang atau barang yang diberikan seorang suami kepada istri yang diceraikannya sebagai bekal hidup atau penghibur hati bekas istrinya.
      Nikah mut’ah atau “kawin kontrak” adalah pernikahan atau perkawinan antara suami dan istri dalam jangka waktu tertentu.
      Al-Quran surah An-Nisa, surah ke-4 ayat 24.
      “Dan (diharamkan juga kamu mengawini) wanita yang bersuami, kecuali budak-budak yang kamu miliki (Allah telah menetapkan hukum itu) sebagai ketetapan-Nya atas kamu. Dan dihalalkan bagi kamu selain yang demikian (yaitu) mencari istri-istri  dengan hartamu untuk dikawini bukan untuk berzina. Maka istri-istri yang telah kamu nikmati (campuri) di antara mereka, berikan kepada mereka maharnya (dengan sempurna), sebagai suatu kewajiban; dan tidak mengapa bagi kamu terhadap sesuatu yang kamu telah saling merelakannya, sesudah menentukan mahar itu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.”
      Al-Quran surah Al-Baqarah, surah ke-2 ayat 236.
      “Tidak ada kewajiban membayar (mahar) atas kamu, jika kamu menceraikan istri-istrimu sebelum kamu bercampur dengan mereka dan sebelum kamu menentukan maharnya. Hendaklah kamu memberikan suatu mut-ah (pemberian) kepada mereka. Orang yang mampu menurut kemampuannya dan orang yang miskin menurut kemampuannya (pula), yaitu pemberian menurut yang patut. Yang demikian itu merupakan ketentuan bagi orang-orang yang berbuat kebajikan.”
      Al-Quran surah Al-Baqarah, surah ke-2 ayat 241. “Kepada wanita-wanita yang diceraikan (hendaklah diberikan oleh suaminya) mut`ah menurut yang makruf, sebagai suatu kewajiban bagi orang-orang yang takwa.”
      Al-Quran surah Al-Ahzab, surah ke-33 ayat 28. “Hai Nabi, katakan kepada istri-istrimu,”Jika kamu sekalian menginginkan kehidupan dunia dan perhiasannya, maka mari kuberikan kepadamu mut`ah dan aku ceraikan kamu dengan cara yang baik.”
      Al-Quran surah A-Ahzab, surah ke-33 ayat 49.
     “Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu menikahi perempuan-perempuan yang beriman, kemudian kamu ceraikan mereka sebelum kamu mencampurinya maka sekali-kali tidak wajib atas mereka 'iddah bagimu yang kamu minta menyempurnakannya, Maka beri mereka mut`ah dan lepaskan mereka dengan cara yang sebaik-baiknya.”
      AL-Quran surah Al-Maarij, surah ke-70 ayat 29-31. “Dan orang-orang yang memelihara kemaluannya, kecuali terhadap istri-istri mereka atau budak-budak yang mereka miliki, maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tidak tercela. Barangsiapa mencari yang di balik itu, maka mereka orang-orang yang melampaui batas.”
      Nabi bersabda,“Wahai manusia, aku pernah membolehkan kamu melakukan (nikah) mut’ah dengan wanita. Kemudian Allah telah mengharamkan hal itu sampai hari kiamat. Oleh karena itu, jika masih ada yang memiliki wanita yang diperoleh melalui jalan mut’ah maka hendaklah ia melepaskannya dan kamu jangan mengambil sedikit pun dari apa yang telah kamu berikan kepada mereka.” (HR Muslim)
      Sahabat berkata, “Nabi pernah memberikan keringanan atau “rukhsah” pada tahun Autas atau Perang Hunain untuk nikah mut’ah selama tiga hari, kemudian Nabi melarangnya”. (HR Muslim)
     Ibnu Abbas berkata,”Sesungguhnya Nabi melarang nikah mut’ah dan makan daging keledai pada masa Perang `Khaibar”.(HR Muslim)
      Sabroh berkata,”Kami berperang dan menetap selama 30 hari. Awalnya Nabi mengizinkan kami untuk melakukan nikah mut’ah atau “kawin kontrak” dengan wanita setempat. Kemudian aku melakukan nikah mut’ah atau “kawin kontrak” dengan seorang gadis. Ketika kami keluar Mekah, maka Nabi melarang nikah mut’ah. (HR Muslim). 
      Nikah mut’ah atau “kawin kontrak” pernah dilakukan para sahabat ketika berada di medan perang. Kala itu, mayoritas tentara Islam adalah para pemuda lajang yang tidak sempat menikah.
     Sebagai  manusia biasa dan lelaki yang normal, dengan semangat perang jihad di padang pasir untuk mempertahankan syiar Islam. Tetapi gelora birahi mereka ikut menggejolak menuntut untuk segera dipenuhi.
      Tentara Islam mencoba menahan goncangan syahwat dengan berpuasa. Padahal mereka harus melakukan kontak senjata dengan tentara musuh, maka puasa bukan solusi efektif karena fisik mereka menjadi lemah.
     Kondisi ini yang kemudian mengantar ide dibolehkan nikah mut’ah atau masyhur disebut “kawin kontrak”, karena dalam kondisi darurat.
     Pada zaman perang, Nabi mengizinkan tentara Islam yang terpisah jauh dari istrinya untuk melakukan nikah mut’ah atau “kawin kontrak”, daripada melakukan penyimpangan.
     Nabi memberikan keringanan tentara Islam untuk melakukan nikah mut’ah atau “kawin kontrak” dengan wanita setempat, selama mereka mempertaruhkan nyawa untuk berperang membela agama Islam.
      Kemudian Nabi mengharamkan nikah mut’ah atau “kawin kontrak” ketika melakukan pembebasan kota Mekah pada tahun 8 Hijriah atau 630 Masehi.
Daftar Pustaka.
1. Al-Quran Digital, Versi 3.2. Digital Qur’an Ver 3.2

195. MUTAH

NIKAH MUT’AH ZAMAN NABI MUHAMMAD
Oleh: Drs. H. Yusron Hadi, M.M.
Kepala SMP Negeri 1 Balongbendo, Sidoarjo

      Beberapa orang bertanya,”Bagaimana sejarah terjadinya Nikah Mut’ah atau “Kawin Kontrak”? Mohon dijelaskan sejarah terjadinya Nikah Mut’ah atau “Kawin Kontrak” pada zaman Nabi Muhammad? Berikut ini penjelasannya.
      Nikah (menurut KBBI V) adalah ikatan atau akad perkawinan yang dilakukan seorang suami dan istri sesuai dengan ketentuan hukum dan ajaran agama.
      Mut’ah (menurut KBBI V) adalah sesuatu berupa uang atau barang yang diberikan seorang suami kepada istri yang diceraikannya sebagai bekal hidup atau penghibur hati bekas istrinya.
      Nikah mut’ah atau “kawin kontrak” adalah pernikahan atau perkawinan antara suami dan istri dalam jangka waktu tertentu.
      Al-Quran surah An-Nisa, surah ke-4 ayat 24.
      “Dan (diharamkan juga kamu mengawini) wanita yang bersuami, kecuali budak-budak yang kamu miliki (Allah telah menetapkan hukum itu) sebagai ketetapan-Nya atas kamu. Dan dihalalkan bagi kamu selain yang demikian (yaitu) mencari istri-istri  dengan hartamu untuk dikawini bukan untuk berzina. Maka istri-istri yang telah kamu nikmati (campuri) di antara mereka, berikan kepada mereka maharnya (dengan sempurna), sebagai suatu kewajiban; dan tidak mengapa bagi kamu terhadap sesuatu yang kamu telah saling merelakannya, sesudah menentukan mahar itu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.”
      Al-Quran surah Al-Baqarah, surah ke-2 ayat 236.
      “Tidak ada kewajiban membayar (mahar) atas kamu, jika kamu menceraikan istri-istrimu sebelum kamu bercampur dengan mereka dan sebelum kamu menentukan maharnya. Hendaklah kamu memberikan suatu mut-ah (pemberian) kepada mereka. Orang yang mampu menurut kemampuannya dan orang yang miskin menurut kemampuannya (pula), yaitu pemberian menurut yang patut. Yang demikian itu merupakan ketentuan bagi orang-orang yang berbuat kebajikan.”
      Al-Quran surah Al-Baqarah, surah ke-2 ayat 241. “Kepada wanita-wanita yang diceraikan (hendaklah diberikan oleh suaminya) mut`ah menurut yang makruf, sebagai suatu kewajiban bagi orang-orang yang takwa.”
      Al-Quran surah Al-Ahzab, surah ke-33 ayat 28. “Hai Nabi, katakan kepada istri-istrimu,”Jika kamu sekalian menginginkan kehidupan dunia dan perhiasannya, maka mari kuberikan kepadamu mut`ah dan aku ceraikan kamu dengan cara yang baik.”
      Al-Quran surah A-Ahzab, surah ke-33 ayat 49.
     “Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu menikahi perempuan-perempuan yang beriman, kemudian kamu ceraikan mereka sebelum kamu mencampurinya maka sekali-kali tidak wajib atas mereka 'iddah bagimu yang kamu minta menyempurnakannya, Maka beri mereka mut`ah dan lepaskan mereka dengan cara yang sebaik-baiknya.”
      AL-Quran surah Al-Maarij, surah ke-70 ayat 29-31. “Dan orang-orang yang memelihara kemaluannya, kecuali terhadap istri-istri mereka atau budak-budak yang mereka miliki, maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tidak tercela. Barangsiapa mencari yang di balik itu, maka mereka orang-orang yang melampaui batas.”
      Nabi bersabda,“Wahai manusia, aku pernah membolehkan kamu melakukan (nikah) mut’ah dengan wanita. Kemudian Allah telah mengharamkan hal itu sampai hari kiamat. Oleh karena itu, jika masih ada yang memiliki wanita yang diperoleh melalui jalan mut’ah maka hendaklah ia melepaskannya dan kamu jangan mengambil sedikit pun dari apa yang telah kamu berikan kepada mereka.” (HR Muslim)
      Sahabat berkata, “Nabi pernah memberikan keringanan atau “rukhsah” pada tahun Autas atau Perang Hunain untuk nikah mut’ah selama tiga hari, kemudian Nabi melarangnya”. (HR Muslim)
     Ibnu Abbas berkata,”Sesungguhnya Nabi melarang nikah mut’ah dan makan daging keledai pada masa Perang `Khaibar”.(HR Muslim)
      Sabroh berkata,”Kami berperang dan menetap selama 30 hari. Awalnya Nabi mengizinkan kami untuk melakukan nikah mut’ah atau “kawin kontrak” dengan wanita setempat. Kemudian aku melakukan nikah mut’ah atau “kawin kontrak” dengan seorang gadis. Ketika kami keluar Mekah, maka Nabi melarang nikah mut’ah. (HR Muslim). 
      Nikah mut’ah atau “kawin kontrak” pernah dilakukan para sahabat ketika berada di medan perang. Kala itu, mayoritas tentara Islam adalah para pemuda lajang yang tidak sempat menikah.
     Sebagai  manusia biasa dan lelaki yang normal, dengan semangat perang jihad di padang pasir untuk mempertahankan syiar Islam. Tetapi gelora birahi mereka ikut menggejolak menuntut untuk segera dipenuhi.
      Tentara Islam mencoba menahan goncangan syahwat dengan berpuasa. Padahal mereka harus melakukan kontak senjata dengan tentara musuh, maka puasa bukan solusi efektif karena fisik mereka menjadi lemah.
     Kondisi ini yang kemudian mengantar ide dibolehkan nikah mut’ah atau masyhur disebut “kawin kontrak”, karena dalam kondisi darurat.
     Pada zaman perang, Nabi mengizinkan tentara Islam yang terpisah jauh dari istrinya untuk melakukan nikah mut’ah atau “kawin kontrak”, daripada melakukan penyimpangan.
     Nabi memberikan keringanan tentara Islam untuk melakukan nikah mut’ah atau “kawin kontrak” dengan wanita setempat, selama mereka mempertaruhkan nyawa untuk berperang membela agama Islam.
      Kemudian Nabi mengharamkan nikah mut’ah atau “kawin kontrak” ketika melakukan pembebasan kota Mekah pada tahun 8 Hijriah atau 630 Masehi.
Daftar Pustaka.
1. Al-Quran Digital, Versi 3.2. Digital Qur’an Ver 3.2

195. MUTAH

NIKAH MUT’AH ZAMAN NABI MUHAMMAD
Oleh: Drs. H. Yusron Hadi, M.M.
Kepala SMP Negeri 1 Balongbendo, Sidoarjo

      Beberapa orang bertanya,”Bagaimana sejarah terjadinya Nikah Mut’ah atau “Kawin Kontrak”? Mohon dijelaskan sejarah terjadinya Nikah Mut’ah atau “Kawin Kontrak” pada zaman Nabi Muhammad? Berikut ini penjelasannya.
      Nikah (menurut KBBI V) adalah ikatan atau akad perkawinan yang dilakukan seorang suami dan istri sesuai dengan ketentuan hukum dan ajaran agama.
      Mut’ah (menurut KBBI V) adalah sesuatu berupa uang atau barang yang diberikan seorang suami kepada istri yang diceraikannya sebagai bekal hidup atau penghibur hati bekas istrinya.
      Nikah mut’ah atau “kawin kontrak” adalah pernikahan atau perkawinan antara suami dan istri dalam jangka waktu tertentu.
      Al-Quran surah An-Nisa, surah ke-4 ayat 24.
      “Dan (diharamkan juga kamu mengawini) wanita yang bersuami, kecuali budak-budak yang kamu miliki (Allah telah menetapkan hukum itu) sebagai ketetapan-Nya atas kamu. Dan dihalalkan bagi kamu selain yang demikian (yaitu) mencari istri-istri  dengan hartamu untuk dikawini bukan untuk berzina. Maka istri-istri yang telah kamu nikmati (campuri) di antara mereka, berikan kepada mereka maharnya (dengan sempurna), sebagai suatu kewajiban; dan tidak mengapa bagi kamu terhadap sesuatu yang kamu telah saling merelakannya, sesudah menentukan mahar itu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.”
      Al-Quran surah Al-Baqarah, surah ke-2 ayat 236.
      “Tidak ada kewajiban membayar (mahar) atas kamu, jika kamu menceraikan istri-istrimu sebelum kamu bercampur dengan mereka dan sebelum kamu menentukan maharnya. Hendaklah kamu memberikan suatu mut-ah (pemberian) kepada mereka. Orang yang mampu menurut kemampuannya dan orang yang miskin menurut kemampuannya (pula), yaitu pemberian menurut yang patut. Yang demikian itu merupakan ketentuan bagi orang-orang yang berbuat kebajikan.”
      Al-Quran surah Al-Baqarah, surah ke-2 ayat 241. “Kepada wanita-wanita yang diceraikan (hendaklah diberikan oleh suaminya) mut`ah menurut yang makruf, sebagai suatu kewajiban bagi orang-orang yang takwa.”
      Al-Quran surah Al-Ahzab, surah ke-33 ayat 28. “Hai Nabi, katakan kepada istri-istrimu,”Jika kamu sekalian menginginkan kehidupan dunia dan perhiasannya, maka mari kuberikan kepadamu mut`ah dan aku ceraikan kamu dengan cara yang baik.”
      Al-Quran surah A-Ahzab, surah ke-33 ayat 49.
     “Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu menikahi perempuan-perempuan yang beriman, kemudian kamu ceraikan mereka sebelum kamu mencampurinya maka sekali-kali tidak wajib atas mereka 'iddah bagimu yang kamu minta menyempurnakannya, Maka beri mereka mut`ah dan lepaskan mereka dengan cara yang sebaik-baiknya.”
      AL-Quran surah Al-Maarij, surah ke-70 ayat 29-31. “Dan orang-orang yang memelihara kemaluannya, kecuali terhadap istri-istri mereka atau budak-budak yang mereka miliki, maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tidak tercela. Barangsiapa mencari yang di balik itu, maka mereka orang-orang yang melampaui batas.”
      Nabi bersabda,“Wahai manusia, aku pernah membolehkan kamu melakukan (nikah) mut’ah dengan wanita. Kemudian Allah telah mengharamkan hal itu sampai hari kiamat. Oleh karena itu, jika masih ada yang memiliki wanita yang diperoleh melalui jalan mut’ah maka hendaklah ia melepaskannya dan kamu jangan mengambil sedikit pun dari apa yang telah kamu berikan kepada mereka.” (HR Muslim)
      Sahabat berkata, “Nabi pernah memberikan keringanan atau “rukhsah” pada tahun Autas atau Perang Hunain untuk nikah mut’ah selama tiga hari, kemudian Nabi melarangnya”. (HR Muslim)
     Ibnu Abbas berkata,”Sesungguhnya Nabi melarang nikah mut’ah dan makan daging keledai pada masa Perang `Khaibar”.(HR Muslim)
      Sabroh berkata,”Kami berperang dan menetap selama 30 hari. Awalnya Nabi mengizinkan kami untuk melakukan nikah mut’ah atau “kawin kontrak” dengan wanita setempat. Kemudian aku melakukan nikah mut’ah atau “kawin kontrak” dengan seorang gadis. Ketika kami keluar Mekah, maka Nabi melarang nikah mut’ah. (HR Muslim). 
      Nikah mut’ah atau “kawin kontrak” pernah dilakukan para sahabat ketika berada di medan perang. Kala itu, mayoritas tentara Islam adalah para pemuda lajang yang tidak sempat menikah.
     Sebagai  manusia biasa dan lelaki yang normal, dengan semangat perang jihad di padang pasir untuk mempertahankan syiar Islam. Tetapi gelora birahi mereka ikut menggejolak menuntut untuk segera dipenuhi.
      Tentara Islam mencoba menahan goncangan syahwat dengan berpuasa. Padahal mereka harus melakukan kontak senjata dengan tentara musuh, maka puasa bukan solusi efektif karena fisik mereka menjadi lemah.
     Kondisi ini yang kemudian mengantar ide dibolehkan nikah mut’ah atau masyhur disebut “kawin kontrak”, karena dalam kondisi darurat.
     Pada zaman perang, Nabi mengizinkan tentara Islam yang terpisah jauh dari istrinya untuk melakukan nikah mut’ah atau “kawin kontrak”, daripada melakukan penyimpangan.
     Nabi memberikan keringanan tentara Islam untuk melakukan nikah mut’ah atau “kawin kontrak” dengan wanita setempat, selama mereka mempertaruhkan nyawa untuk berperang membela agama Islam.
      Kemudian Nabi mengharamkan nikah mut’ah atau “kawin kontrak” ketika melakukan pembebasan kota Mekah pada tahun 8 Hijriah atau 630 Masehi.
Daftar Pustaka.
1. Al-Quran Digital, Versi 3.2. Digital Qur’an Ver 3.2

195. MUTAH

NIKAH MUT’AH ZAMAN NABI MUHAMMAD
Oleh: Drs. H. Yusron Hadi, M.M.
Kepala SMP Negeri 1 Balongbendo, Sidoarjo

      Beberapa orang bertanya,”Bagaimana sejarah terjadinya Nikah Mut’ah atau “Kawin Kontrak”? Mohon dijelaskan sejarah terjadinya Nikah Mut’ah atau “Kawin Kontrak” pada zaman Nabi Muhammad? Berikut ini penjelasannya.
      Nikah (menurut KBBI V) adalah ikatan atau akad perkawinan yang dilakukan seorang suami dan istri sesuai dengan ketentuan hukum dan ajaran agama.
      Mut’ah (menurut KBBI V) adalah sesuatu berupa uang atau barang yang diberikan seorang suami kepada istri yang diceraikannya sebagai bekal hidup atau penghibur hati bekas istrinya.
      Nikah mut’ah atau “kawin kontrak” adalah pernikahan atau perkawinan antara suami dan istri dalam jangka waktu tertentu.
      Al-Quran surah An-Nisa, surah ke-4 ayat 24.
      “Dan (diharamkan juga kamu mengawini) wanita yang bersuami, kecuali budak-budak yang kamu miliki (Allah telah menetapkan hukum itu) sebagai ketetapan-Nya atas kamu. Dan dihalalkan bagi kamu selain yang demikian (yaitu) mencari istri-istri  dengan hartamu untuk dikawini bukan untuk berzina. Maka istri-istri yang telah kamu nikmati (campuri) di antara mereka, berikan kepada mereka maharnya (dengan sempurna), sebagai suatu kewajiban; dan tidak mengapa bagi kamu terhadap sesuatu yang kamu telah saling merelakannya, sesudah menentukan mahar itu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.”
      Al-Quran surah Al-Baqarah, surah ke-2 ayat 236.
      “Tidak ada kewajiban membayar (mahar) atas kamu, jika kamu menceraikan istri-istrimu sebelum kamu bercampur dengan mereka dan sebelum kamu menentukan maharnya. Hendaklah kamu memberikan suatu mut-ah (pemberian) kepada mereka. Orang yang mampu menurut kemampuannya dan orang yang miskin menurut kemampuannya (pula), yaitu pemberian menurut yang patut. Yang demikian itu merupakan ketentuan bagi orang-orang yang berbuat kebajikan.”
      Al-Quran surah Al-Baqarah, surah ke-2 ayat 241. “Kepada wanita-wanita yang diceraikan (hendaklah diberikan oleh suaminya) mut`ah menurut yang makruf, sebagai suatu kewajiban bagi orang-orang yang takwa.”
      Al-Quran surah Al-Ahzab, surah ke-33 ayat 28. “Hai Nabi, katakan kepada istri-istrimu,”Jika kamu sekalian menginginkan kehidupan dunia dan perhiasannya, maka mari kuberikan kepadamu mut`ah dan aku ceraikan kamu dengan cara yang baik.”
      Al-Quran surah A-Ahzab, surah ke-33 ayat 49.
     “Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu menikahi perempuan-perempuan yang beriman, kemudian kamu ceraikan mereka sebelum kamu mencampurinya maka sekali-kali tidak wajib atas mereka 'iddah bagimu yang kamu minta menyempurnakannya, Maka beri mereka mut`ah dan lepaskan mereka dengan cara yang sebaik-baiknya.”
      AL-Quran surah Al-Maarij, surah ke-70 ayat 29-31. “Dan orang-orang yang memelihara kemaluannya, kecuali terhadap istri-istri mereka atau budak-budak yang mereka miliki, maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tidak tercela. Barangsiapa mencari yang di balik itu, maka mereka orang-orang yang melampaui batas.”
      Nabi bersabda,“Wahai manusia, aku pernah membolehkan kamu melakukan (nikah) mut’ah dengan wanita. Kemudian Allah telah mengharamkan hal itu sampai hari kiamat. Oleh karena itu, jika masih ada yang memiliki wanita yang diperoleh melalui jalan mut’ah maka hendaklah ia melepaskannya dan kamu jangan mengambil sedikit pun dari apa yang telah kamu berikan kepada mereka.” (HR Muslim)
      Sahabat berkata, “Nabi pernah memberikan keringanan atau “rukhsah” pada tahun Autas atau Perang Hunain untuk nikah mut’ah selama tiga hari, kemudian Nabi melarangnya”. (HR Muslim)
     Ibnu Abbas berkata,”Sesungguhnya Nabi melarang nikah mut’ah dan makan daging keledai pada masa Perang `Khaibar”.(HR Muslim)
      Sabroh berkata,”Kami berperang dan menetap selama 30 hari. Awalnya Nabi mengizinkan kami untuk melakukan nikah mut’ah atau “kawin kontrak” dengan wanita setempat. Kemudian aku melakukan nikah mut’ah atau “kawin kontrak” dengan seorang gadis. Ketika kami keluar Mekah, maka Nabi melarang nikah mut’ah. (HR Muslim). 
      Nikah mut’ah atau “kawin kontrak” pernah dilakukan para sahabat ketika berada di medan perang. Kala itu, mayoritas tentara Islam adalah para pemuda lajang yang tidak sempat menikah.
     Sebagai  manusia biasa dan lelaki yang normal, dengan semangat perang jihad di padang pasir untuk mempertahankan syiar Islam. Tetapi gelora birahi mereka ikut menggejolak menuntut untuk segera dipenuhi.
      Tentara Islam mencoba menahan goncangan syahwat dengan berpuasa. Padahal mereka harus melakukan kontak senjata dengan tentara musuh, maka puasa bukan solusi efektif karena fisik mereka menjadi lemah.
     Kondisi ini yang kemudian mengantar ide dibolehkan nikah mut’ah atau masyhur disebut “kawin kontrak”, karena dalam kondisi darurat.
     Pada zaman perang, Nabi mengizinkan tentara Islam yang terpisah jauh dari istrinya untuk melakukan nikah mut’ah atau “kawin kontrak”, daripada melakukan penyimpangan.
     Nabi memberikan keringanan tentara Islam untuk melakukan nikah mut’ah atau “kawin kontrak” dengan wanita setempat, selama mereka mempertaruhkan nyawa untuk berperang membela agama Islam.
      Kemudian Nabi mengharamkan nikah mut’ah atau “kawin kontrak” ketika melakukan pembebasan kota Mekah pada tahun 8 Hijriah atau 630 Masehi.
Daftar Pustaka.
1. Al-Quran Digital, Versi 3.2. Digital Qur’an Ver 3.2