QABIL MEMBUNUH HABIL,
PEMBUNUHAN PERTAMA KARENA WANITA
Oleh: Drs. H. Yusron Hadi, M.M.
Kepala SMP Negeri 1 Balongbendo, Sidoarjo
Beberapa orang bertanya,”Bagaimana kisah tentang Qabil dan Habil keturunan Nabi Adam dan Hawa? Mohon dijelaskan tentang kisah tentang Qabil dan Habil keturunan Nabi Adam dan Hawa? Berikut ini penjelasannya.
Para ulama berkata,”Nabi Adam dan istrinya, Hawa, selalu mendapatkan keturunan kembar yang berbeda jenis kelamin. Yang satu seorang bayi lelaki, dan kembarannya seorang bayi wanita. Begitu terjadi berkali-kali, sehingga Nabi Adam dan Hawa memiliki banyak keturunan.”
Al-Quran surah An-Nisa, surah ke-4 ayat 1.
“Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakanmu dari diri yang satu, dan darinya Allah menciptakan istrinya, dan dari keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan jagalah hubungan silaturahmi. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.”
Al-Quran surah Al-A’raf, surah ke-7 ayat 189-190.
“Allah yang menciptakan kamu dari diri yang satu dan darinya Allah menciptakan istrinya, agar dia merasa senang kepadanya. Maka setelah dicampurinya, istrinya itu mengandung kandungan yang ringan, dan teruslah dia merasa ringan (beberapa waktu). Kemudian tatkala dia merasa berat, keduanya (suami istri) bermohon kepada Allah, Tuhannya seraya berkata,”Sesungguhnya jika Engkau memberi kami anak yang sempurna, tentulah kami termasuk orang-orang yang bersyukur”.
“Tatkala Allah memberikan kepada keduanya seorang anak yang sempurna, maka keduanya menjadikan sekutu bagi Allah terhadap anak yang telah dianugerahkan-Nya kepada keduanya itu. Maha Tinggi Allah dari apa yang mereka persekutukan.”
Al-Quran surah Al-Mukminun, surah ke-23 ayat 12-13.
“Dan sesungguhnya Kami menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah. Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim)”.
Dikisahkan bahwa Nabi Adam menikahkan anaknya yang sudah dewasa secara silang. Misalnya si kakak, Qabil, dinikahkan dengan kembaran Habil, si adik, sebaliknya Habil, sang adik, dinikahkan dengan kembaran Qabil, sang kakak.
Kembaran Qabil adalah putri Nabi Adam yang paling cantik. Qabil ingin menikah dengan kembarannya yang cantik, tetapi Nabi Adam ingin menikahkan Qabil dengan kembaran Habil, maka Qabil menolaknya.
Qabil menolak rencana Habil menikah dengan kembarannya yang cantik, maka Nabi Adam memerintahkan Qabil dan Habil untuk berkurban.
Habil adalah seorang peternak, lalu dia memberikan kurban seekor kambing yang gemuk, sedangkan Qabil adalah seorang petani, tetapi dia memberikan kurban hasil pertanian yang jelek.
Kurban Habil diterima, sedangkan kurban Qabil tidak diterima, maka Qabil marah dan berkata,”Aku akan membunuhmu, agar kamu tidak bisa menikahi saudara kembaranku yang cantik.” Habil menjawab,” Sesungguhnya Allah hanya menerima kurban dari orang yang bertakwa.”
Al-Quran surah Al-Maidah, surah ke-5 ayat 27.
“Ceriterakan kepada mereka kisah kedua putra Adam, yaitu Habil dan Kabil menurut yang sebenarnya, ketika keduanya mempersembahkan kurban, maka diterima dari salah seorang dari mereka, yaitu Habil dan tidak diterima dari yang lain, yaitu Kabil. Kabil berkata, “Aku pasti membunuhmu!” Berkata Habil, “Sesungguhnya Allah hanya menerima (kurban) dari orang-orang yang bertakwa”.
Al-Quran surah Al-Maidah, surah ke-5 ayat 28.
“Sungguh jika kamu menggerakkan tanganmu kepadaku untuk membunuhku, aku tidak akan menggerakkan tanganku kepadamu untuk membunuhmu. Sesungguhnya aku takut kepada Allah, Tuhan seru sekalian alam”.
Al-Quran surah Al-Maidah, surah ke-5 ayat 29.
"Sesungguhnya aku ingin agar kamu kembali dengan (membawa) dosa (membunuh) ku dan dosamu sendiri, maka kamu akan menjadi penghuni neraka, dan yang demikian pembalasan bagi orang-orang yang zalim”.
Al-Quran surah Al-Maidah, surah ke-5 ayat 30.
“Maka hawa nafsu Qabil menjadikannya menganggap mudah membunuh saudaranya, sebab itu dibunuhnya, maka dia menjadi seorang di antara orang-orang yang merugi.”
Al-Quran surah Al-Maidah, surah ke-5 ayat 31.
“Kemudian Allah menyuruh seekor burung gagak menggali bumi untuk memperlihatkan kepadanya, yaitu Qabil, cara seharusnya dia menguburkan mayat saudaranya. Berkata Qabil,”Aduhai aku celaka, mengapa aku tidak mampu berbuat seperti burung gagak, lalu aku dapat menguburkan mayat saudaraku?” Dia menjadi seorang di antara orang-orang yang menyesal”.
Nabi bersabda,”Apabila dua orang Islam saling berhadapan dengan menghunus pedangnya masing-masing, maka orang yang membunuh dan orang yang terbunuh, keduanya masuk neraka.”
Sahabat bertanya,”Ya Rasul, bagaimana dengan Qabil dan Habil?” Nabi menjawab,”Sesungguhnya, Habil tidak melawan dan tidak berusaha membunuh Qabil.”
Demikian kisah Qabil yang menjadi manusia pembunuh pertama karena memperebutkan seorang wanita yang cantik.
Daftar Pustaka.
1. Katsir, Ibnu. Kisah Para Nabi. Penerbit Pustaka Azzam, Jakarta 2013
2. Bahjat, Ahmad. Nabi Nabi Allah. Penerbit Qisthi Press, Jakarta 2015
3. Al-Quran Digital, Versi 3.2. Digital Qur’an Ver 3.2
Organisasi Profesi Guru
Presiden Jokowi memberi hormat kepada Guru-Guru se Indonesia.
Tema Gambar Slide 2
Deskripsi gambar slide bisa dituliskan disini dengan beberapa kalimat yang menggambarkan gambar slide yang anda pasang, edit slide ini melalui edit HTML template.
Tema Gambar Slide 3
Deskripsi gambar slide bisa dituliskan disini dengan beberapa kalimat yang menggambarkan gambar slide yang anda pasang, edit slide ini melalui edit HTML template.
Thursday, August 17, 2017
209. QABIL
Wednesday, August 16, 2017
208. KOREL
BAHASA DAN KORELASI AYAT AL-QURAN
Oleh: Drs. H. Yusron Hadi, M.M.
Kepala SMP Negeri 1 Balongbendo, Sidoarjo
Beberapa orang bertanya,”Bagaimana pendapat para ulama tentang segi bahasa dan korelasi ayat Al-Quran? Mohon dijelaskan tentang pendapat para ulama tentang segi bahasa dan korelasi ayat Al-Quran? Profesor Quraish Shihab menjelaskannya.
Para ulama mengingatkan agar para mufasir dalam memahami atau menafsirkan ayat Al-Quran yang berkaitan dengan penafsiran ilmiah dituntut untuk memperhatikan segi bahasa dan korelasi di antara ayat Al-Quran.
Al-Quran surah An-Naml, surah ke-27 ayat 87-88.
“ Dan (ingatlah) hari (ketika) ditiup sangkakala, maka terkejutlah segala yang di langit dan segala yang di bumi, kecuali siapa yang dikehendaki Allah. Dan semua mereka datang menghadap-Nya dengan merendahkan diri.”
“Dan kamu lihat gunung-gunung itu, kamu sangka dia tetap di tempatnya, padahal dia berjalan sebagai jalannya awan. (Begitulah) perbuatan Allah yang membuat dengan kokoh tiap-tiap sesuatu; sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”.
Sebelum menetapkan bahwa ayat Al-Quran ini bersifat sains ilmiah, karena menginformasikan pergerakan gunung dan peredaran bumi, terlebih dahulu harus dipahami kaitan ayat ini dengan ayat sebelumnya, padahal ayat sebelumnya menjelaskan tentang kehidupan di akhirat.
Apakah ayat Al-Quran tersebut berbicara tentang keadaan gunung dalam kehidupan dunia kita sekarang ini atau keadaannya kelak di akhirat?.
Penyusunan ayat Al-Quran tidak berdasarkan pada kronologis waktu turunnya, tetapi pada korelasi makna ayatnya, sehingga kandungan ayat terdahulu selalu berkaitan dengan kandungan ayat berikutnya. Demikian pula halnya dengan segi kebahasaan.
Sebagian ulama berusaha memberikan legitimasi dari ayat Al-Quran terhadap penemuan ilmiah dengan mengabaikan kaidah kebahasaan.
Al-Quran surah Al-Hijr, surah ke-15 ayat 22. Diterjemahkan oleh Tim Departemen Agama.
“Dan Kami telah meniupkan angin untuk mengawinkan (tumbuh-tumbuhan) dan Kami turunkan hujan dari langit, lalu Kami beri minum kamu dengan air itu, dan sekali-kali bukanlah kamu yang menyimpannya”.
Terjemahan ini mengabaikan arti huruf “fa” dan menambahkan kata “tumbuh-tumbuhan” sebagai penjelasan, sehingga terjemahan tersebut menginformasikan bahwa angin berfungsi mengawinkan tumbuh-tumbuhan.
Seharusnya “fa anzalna min alsama'ma'a”, diterjemahkan dengan “maka Kami menurunkan hujan”.
Huruf “fa“ yang artinya “maka” menunjukkan adanya kaitan sebab dan akibat antara fungsi angin dan turunnya hujan atau perurutan logis antara keduanya sehingga tidak tepat huruf “fa” diterjemahkan “dengan” dan sebagaimana tidak tepat penyisipan kata “tumbuh tumbuhan” dalam terjemahan tersebut.
Terjemahan kata “lawaqiha” dengan “meniupkan” juga kurang tepat. Kamus-bahasa mengisyaratkan bahwa kata tersebut digunakan antara lain untuk menggambarkan “inseminasi”.
Sehingga, atas dasar ini, para ulama menjadikan ayat tersebut sebagai informasi tentang fungsi angin dalam menghasilkan atau mengantarkan turunnya hujan, yang semakna dengan Al-Quran surah Al-Nur, surah ke-24 ayat 43.
“Tidakkah kamu melihat bahwa Allah mengarak awan, kemudian mengumpulkan antara (bagian-bagian) nya, kemudian menjadikannya bertindih-tindih, maka kelihatanlah olehmu hujan keluar dari celah-celahnya dan Allah (juga) menurunkan (butiran-butiran) es dari langit, (yaitu) dari (gumpalan-gumpalan awan seperti) gunung-gunung, maka ditimpakan-Nya (butiran-butiran) es kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan dipalingkan-Nya dari siapa yang dikehendaki-Nya. Kilauan kilat awan itu hampir menghilangkan penglihatan.”
Kesalahan dan kekeliruan dalam memahami atau menafsirkan ayat Al-Quran disebabkan kelemahan dalam bidang bahasa Al-Quran dan kedangkalan pengetahuan menyangkut objek bahasan ayat.
Oleh karena itu, para ulama masih tetap menganjurkan kerja sama berbagai disiplin ilmu untuk mencapai pemahaman atau penafsiran yang tepat tentang ayat Al-Quran dan untuk membuktikan bahwa Al-Quran memang benar bersumber dari Allah Yang Maha Mengetahui segalanya. Daftar Pustaka
1. Shihab, M.Quraish. Lentera Hati. Kisah dan Hikmah Kehidupan. Penerbit Mizan, 1994.
2. Shihab, M.Quraish. E-book Membumikan Al-Qurana
208. KOREL
BAHASA DAN KORELASI AYAT AL-QURAN
Oleh: Drs. H. Yusron Hadi, M.M.
Kepala SMP Negeri 1 Balongbendo, Sidoarjo
Beberapa orang bertanya,”Bagaimana pendapat para ulama tentang segi bahasa dan korelasi ayat Al-Quran? Mohon dijelaskan tentang pendapat para ulama tentang segi bahasa dan korelasi ayat Al-Quran? Profesor Quraish Shihab menjelaskannya.
Para ulama mengingatkan agar para mufasir dalam memahami atau menafsirkan ayat Al-Quran yang berkaitan dengan penafsiran ilmiah dituntut untuk memperhatikan segi bahasa dan korelasi di antara ayat Al-Quran.
Al-Quran surah An-Naml, surah ke-27 ayat 87-88.
“ Dan (ingatlah) hari (ketika) ditiup sangkakala, maka terkejutlah segala yang di langit dan segala yang di bumi, kecuali siapa yang dikehendaki Allah. Dan semua mereka datang menghadap-Nya dengan merendahkan diri.”
“Dan kamu lihat gunung-gunung itu, kamu sangka dia tetap di tempatnya, padahal dia berjalan sebagai jalannya awan. (Begitulah) perbuatan Allah yang membuat dengan kokoh tiap-tiap sesuatu; sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”.
Sebelum menetapkan bahwa ayat Al-Quran ini bersifat sains ilmiah, karena menginformasikan pergerakan gunung dan peredaran bumi, terlebih dahulu harus dipahami kaitan ayat ini dengan ayat sebelumnya, padahal ayat sebelumnya menjelaskan tentang kehidupan di akhirat.
Apakah ayat Al-Quran tersebut berbicara tentang keadaan gunung dalam kehidupan dunia kita sekarang ini atau keadaannya kelak di akhirat?.
Penyusunan ayat Al-Quran tidak berdasarkan pada kronologis waktu turunnya, tetapi pada korelasi makna ayatnya, sehingga kandungan ayat terdahulu selalu berkaitan dengan kandungan ayat berikutnya. Demikian pula halnya dengan segi kebahasaan.
Sebagian ulama berusaha memberikan legitimasi dari ayat Al-Quran terhadap penemuan ilmiah dengan mengabaikan kaidah kebahasaan.
Al-Quran surah Al-Hijr, surah ke-15 ayat 22. Diterjemahkan oleh Tim Departemen Agama.
“Dan Kami telah meniupkan angin untuk mengawinkan (tumbuh-tumbuhan) dan Kami turunkan hujan dari langit, lalu Kami beri minum kamu dengan air itu, dan sekali-kali bukanlah kamu yang menyimpannya”.
Terjemahan ini mengabaikan arti huruf “fa” dan menambahkan kata “tumbuh-tumbuhan” sebagai penjelasan, sehingga terjemahan tersebut menginformasikan bahwa angin berfungsi mengawinkan tumbuh-tumbuhan.
Seharusnya “fa anzalna min alsama'ma'a”, diterjemahkan dengan “maka Kami menurunkan hujan”.
Huruf “fa“ yang artinya “maka” menunjukkan adanya kaitan sebab dan akibat antara fungsi angin dan turunnya hujan atau perurutan logis antara keduanya sehingga tidak tepat huruf “fa” diterjemahkan “dengan” dan sebagaimana tidak tepat penyisipan kata “tumbuh tumbuhan” dalam terjemahan tersebut.
Terjemahan kata “lawaqiha” dengan “meniupkan” juga kurang tepat. Kamus-bahasa mengisyaratkan bahwa kata tersebut digunakan antara lain untuk menggambarkan “inseminasi”.
Sehingga, atas dasar ini, para ulama menjadikan ayat tersebut sebagai informasi tentang fungsi angin dalam menghasilkan atau mengantarkan turunnya hujan, yang semakna dengan Al-Quran surah Al-Nur, surah ke-24 ayat 43.
“Tidakkah kamu melihat bahwa Allah mengarak awan, kemudian mengumpulkan antara (bagian-bagian) nya, kemudian menjadikannya bertindih-tindih, maka kelihatanlah olehmu hujan keluar dari celah-celahnya dan Allah (juga) menurunkan (butiran-butiran) es dari langit, (yaitu) dari (gumpalan-gumpalan awan seperti) gunung-gunung, maka ditimpakan-Nya (butiran-butiran) es kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan dipalingkan-Nya dari siapa yang dikehendaki-Nya. Kilauan kilat awan itu hampir menghilangkan penglihatan.”
Kesalahan dan kekeliruan dalam memahami atau menafsirkan ayat Al-Quran disebabkan kelemahan dalam bidang bahasa Al-Quran dan kedangkalan pengetahuan menyangkut objek bahasan ayat.
Oleh karena itu, para ulama masih tetap menganjurkan kerja sama berbagai disiplin ilmu untuk mencapai pemahaman atau penafsiran yang tepat tentang ayat Al-Quran dan untuk membuktikan bahwa Al-Quran memang benar bersumber dari Allah Yang Maha Mengetahui segalanya. Daftar Pustaka
1. Shihab, M.Quraish. Lentera Hati. Kisah dan Hikmah Kehidupan. Penerbit Mizan, 1994.
2. Shihab, M.Quraish. E-book Membumikan Al-Qurana
208. KOREL
BAHASA DAN KORELASI AYAT AL-QURAN
Oleh: Drs. H. Yusron Hadi, M.M.
Kepala SMP Negeri 1 Balongbendo, Sidoarjo
Beberapa orang bertanya,”Bagaimana pendapat para ulama tentang segi bahasa dan korelasi ayat Al-Quran? Mohon dijelaskan tentang pendapat para ulama tentang segi bahasa dan korelasi ayat Al-Quran? Profesor Quraish Shihab menjelaskannya.
Para ulama mengingatkan agar para mufasir dalam memahami atau menafsirkan ayat Al-Quran yang berkaitan dengan penafsiran ilmiah dituntut untuk memperhatikan segi bahasa dan korelasi di antara ayat Al-Quran.
Al-Quran surah An-Naml, surah ke-27 ayat 87-88.
“ Dan (ingatlah) hari (ketika) ditiup sangkakala, maka terkejutlah segala yang di langit dan segala yang di bumi, kecuali siapa yang dikehendaki Allah. Dan semua mereka datang menghadap-Nya dengan merendahkan diri.”
“Dan kamu lihat gunung-gunung itu, kamu sangka dia tetap di tempatnya, padahal dia berjalan sebagai jalannya awan. (Begitulah) perbuatan Allah yang membuat dengan kokoh tiap-tiap sesuatu; sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”.
Sebelum menetapkan bahwa ayat Al-Quran ini bersifat sains ilmiah, karena menginformasikan pergerakan gunung dan peredaran bumi, terlebih dahulu harus dipahami kaitan ayat ini dengan ayat sebelumnya, padahal ayat sebelumnya menjelaskan tentang kehidupan di akhirat.
Apakah ayat Al-Quran tersebut berbicara tentang keadaan gunung dalam kehidupan dunia kita sekarang ini atau keadaannya kelak di akhirat?.
Penyusunan ayat Al-Quran tidak berdasarkan pada kronologis waktu turunnya, tetapi pada korelasi makna ayatnya, sehingga kandungan ayat terdahulu selalu berkaitan dengan kandungan ayat berikutnya. Demikian pula halnya dengan segi kebahasaan.
Sebagian ulama berusaha memberikan legitimasi dari ayat Al-Quran terhadap penemuan ilmiah dengan mengabaikan kaidah kebahasaan.
Al-Quran surah Al-Hijr, surah ke-15 ayat 22. Diterjemahkan oleh Tim Departemen Agama.
“Dan Kami telah meniupkan angin untuk mengawinkan (tumbuh-tumbuhan) dan Kami turunkan hujan dari langit, lalu Kami beri minum kamu dengan air itu, dan sekali-kali bukanlah kamu yang menyimpannya”.
Terjemahan ini mengabaikan arti huruf “fa” dan menambahkan kata “tumbuh-tumbuhan” sebagai penjelasan, sehingga terjemahan tersebut menginformasikan bahwa angin berfungsi mengawinkan tumbuh-tumbuhan.
Seharusnya “fa anzalna min alsama'ma'a”, diterjemahkan dengan “maka Kami menurunkan hujan”.
Huruf “fa“ yang artinya “maka” menunjukkan adanya kaitan sebab dan akibat antara fungsi angin dan turunnya hujan atau perurutan logis antara keduanya sehingga tidak tepat huruf “fa” diterjemahkan “dengan” dan sebagaimana tidak tepat penyisipan kata “tumbuh tumbuhan” dalam terjemahan tersebut.
Terjemahan kata “lawaqiha” dengan “meniupkan” juga kurang tepat. Kamus-bahasa mengisyaratkan bahwa kata tersebut digunakan antara lain untuk menggambarkan “inseminasi”.
Sehingga, atas dasar ini, para ulama menjadikan ayat tersebut sebagai informasi tentang fungsi angin dalam menghasilkan atau mengantarkan turunnya hujan, yang semakna dengan Al-Quran surah Al-Nur, surah ke-24 ayat 43.
“Tidakkah kamu melihat bahwa Allah mengarak awan, kemudian mengumpulkan antara (bagian-bagian) nya, kemudian menjadikannya bertindih-tindih, maka kelihatanlah olehmu hujan keluar dari celah-celahnya dan Allah (juga) menurunkan (butiran-butiran) es dari langit, (yaitu) dari (gumpalan-gumpalan awan seperti) gunung-gunung, maka ditimpakan-Nya (butiran-butiran) es kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan dipalingkan-Nya dari siapa yang dikehendaki-Nya. Kilauan kilat awan itu hampir menghilangkan penglihatan.”
Kesalahan dan kekeliruan dalam memahami atau menafsirkan ayat Al-Quran disebabkan kelemahan dalam bidang bahasa Al-Quran dan kedangkalan pengetahuan menyangkut objek bahasan ayat.
Oleh karena itu, para ulama masih tetap menganjurkan kerja sama berbagai disiplin ilmu untuk mencapai pemahaman atau penafsiran yang tepat tentang ayat Al-Quran dan untuk membuktikan bahwa Al-Quran memang benar bersumber dari Allah Yang Maha Mengetahui segalanya. Daftar Pustaka
1. Shihab, M.Quraish. Lentera Hati. Kisah dan Hikmah Kehidupan. Penerbit Mizan, 1994.
2. Shihab, M.Quraish. E-book Membumikan Al-Qurana
208. KOREL
BAHASA DAN KORELASI AYAT AL-QURAN
Oleh: Drs. H. Yusron Hadi, M.M.
Kepala SMP Negeri 1 Balongbendo, Sidoarjo
Beberapa orang bertanya,”Bagaimana pendapat para ulama tentang segi bahasa dan korelasi ayat Al-Quran? Mohon dijelaskan tentang pendapat para ulama tentang segi bahasa dan korelasi ayat Al-Quran? Profesor Quraish Shihab menjelaskannya.
Para ulama mengingatkan agar para mufasir dalam memahami atau menafsirkan ayat Al-Quran yang berkaitan dengan penafsiran ilmiah dituntut untuk memperhatikan segi bahasa dan korelasi di antara ayat Al-Quran.
Al-Quran surah An-Naml, surah ke-27 ayat 87-88.
“ Dan (ingatlah) hari (ketika) ditiup sangkakala, maka terkejutlah segala yang di langit dan segala yang di bumi, kecuali siapa yang dikehendaki Allah. Dan semua mereka datang menghadap-Nya dengan merendahkan diri.”
“Dan kamu lihat gunung-gunung itu, kamu sangka dia tetap di tempatnya, padahal dia berjalan sebagai jalannya awan. (Begitulah) perbuatan Allah yang membuat dengan kokoh tiap-tiap sesuatu; sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”.
Sebelum menetapkan bahwa ayat Al-Quran ini bersifat sains ilmiah, karena menginformasikan pergerakan gunung dan peredaran bumi, terlebih dahulu harus dipahami kaitan ayat ini dengan ayat sebelumnya, padahal ayat sebelumnya menjelaskan tentang kehidupan di akhirat.
Apakah ayat Al-Quran tersebut berbicara tentang keadaan gunung dalam kehidupan dunia kita sekarang ini atau keadaannya kelak di akhirat?.
Penyusunan ayat Al-Quran tidak berdasarkan pada kronologis waktu turunnya, tetapi pada korelasi makna ayatnya, sehingga kandungan ayat terdahulu selalu berkaitan dengan kandungan ayat berikutnya. Demikian pula halnya dengan segi kebahasaan.
Sebagian ulama berusaha memberikan legitimasi dari ayat Al-Quran terhadap penemuan ilmiah dengan mengabaikan kaidah kebahasaan.
Al-Quran surah Al-Hijr, surah ke-15 ayat 22. Diterjemahkan oleh Tim Departemen Agama.
“Dan Kami telah meniupkan angin untuk mengawinkan (tumbuh-tumbuhan) dan Kami turunkan hujan dari langit, lalu Kami beri minum kamu dengan air itu, dan sekali-kali bukanlah kamu yang menyimpannya”.
Terjemahan ini mengabaikan arti huruf “fa” dan menambahkan kata “tumbuh-tumbuhan” sebagai penjelasan, sehingga terjemahan tersebut menginformasikan bahwa angin berfungsi mengawinkan tumbuh-tumbuhan.
Seharusnya “fa anzalna min alsama'ma'a”, diterjemahkan dengan “maka Kami menurunkan hujan”.
Huruf “fa“ yang artinya “maka” menunjukkan adanya kaitan sebab dan akibat antara fungsi angin dan turunnya hujan atau perurutan logis antara keduanya sehingga tidak tepat huruf “fa” diterjemahkan “dengan” dan sebagaimana tidak tepat penyisipan kata “tumbuh tumbuhan” dalam terjemahan tersebut.
Terjemahan kata “lawaqiha” dengan “meniupkan” juga kurang tepat. Kamus-bahasa mengisyaratkan bahwa kata tersebut digunakan antara lain untuk menggambarkan “inseminasi”.
Sehingga, atas dasar ini, para ulama menjadikan ayat tersebut sebagai informasi tentang fungsi angin dalam menghasilkan atau mengantarkan turunnya hujan, yang semakna dengan Al-Quran surah Al-Nur, surah ke-24 ayat 43.
“Tidakkah kamu melihat bahwa Allah mengarak awan, kemudian mengumpulkan antara (bagian-bagian) nya, kemudian menjadikannya bertindih-tindih, maka kelihatanlah olehmu hujan keluar dari celah-celahnya dan Allah (juga) menurunkan (butiran-butiran) es dari langit, (yaitu) dari (gumpalan-gumpalan awan seperti) gunung-gunung, maka ditimpakan-Nya (butiran-butiran) es kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan dipalingkan-Nya dari siapa yang dikehendaki-Nya. Kilauan kilat awan itu hampir menghilangkan penglihatan.”
Kesalahan dan kekeliruan dalam memahami atau menafsirkan ayat Al-Quran disebabkan kelemahan dalam bidang bahasa Al-Quran dan kedangkalan pengetahuan menyangkut objek bahasan ayat.
Oleh karena itu, para ulama masih tetap menganjurkan kerja sama berbagai disiplin ilmu untuk mencapai pemahaman atau penafsiran yang tepat tentang ayat Al-Quran dan untuk membuktikan bahwa Al-Quran memang benar bersumber dari Allah Yang Maha Mengetahui segalanya. Daftar Pustaka
1. Shihab, M.Quraish. Lentera Hati. Kisah dan Hikmah Kehidupan. Penerbit Mizan, 1994.
2. Shihab, M.Quraish. E-book Membumikan Al-Qurana
208. KOREL
BAHASA DAN KORELASI AYAT AL-QURAN
Oleh: Drs. H. Yusron Hadi, M.M.
Kepala SMP Negeri 1 Balongbendo, Sidoarjo
Beberapa orang bertanya,”Bagaimana pendapat para ulama tentang segi bahasa dan korelasi ayat Al-Quran? Mohon dijelaskan tentang pendapat para ulama tentang segi bahasa dan korelasi ayat Al-Quran? Profesor Quraish Shihab menjelaskannya.
Para ulama mengingatkan agar para mufasir dalam memahami atau menafsirkan ayat Al-Quran yang berkaitan dengan penafsiran ilmiah dituntut untuk memperhatikan segi bahasa dan korelasi di antara ayat Al-Quran.
Al-Quran surah An-Naml, surah ke-27 ayat 87-88.
“ Dan (ingatlah) hari (ketika) ditiup sangkakala, maka terkejutlah segala yang di langit dan segala yang di bumi, kecuali siapa yang dikehendaki Allah. Dan semua mereka datang menghadap-Nya dengan merendahkan diri.”
“Dan kamu lihat gunung-gunung itu, kamu sangka dia tetap di tempatnya, padahal dia berjalan sebagai jalannya awan. (Begitulah) perbuatan Allah yang membuat dengan kokoh tiap-tiap sesuatu; sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”.
Sebelum menetapkan bahwa ayat Al-Quran ini bersifat sains ilmiah, karena menginformasikan pergerakan gunung dan peredaran bumi, terlebih dahulu harus dipahami kaitan ayat ini dengan ayat sebelumnya, padahal ayat sebelumnya menjelaskan tentang kehidupan di akhirat.
Apakah ayat Al-Quran tersebut berbicara tentang keadaan gunung dalam kehidupan dunia kita sekarang ini atau keadaannya kelak di akhirat?.
Penyusunan ayat Al-Quran tidak berdasarkan pada kronologis waktu turunnya, tetapi pada korelasi makna ayatnya, sehingga kandungan ayat terdahulu selalu berkaitan dengan kandungan ayat berikutnya. Demikian pula halnya dengan segi kebahasaan.
Sebagian ulama berusaha memberikan legitimasi dari ayat Al-Quran terhadap penemuan ilmiah dengan mengabaikan kaidah kebahasaan.
Al-Quran surah Al-Hijr, surah ke-15 ayat 22. Diterjemahkan oleh Tim Departemen Agama.
“Dan Kami telah meniupkan angin untuk mengawinkan (tumbuh-tumbuhan) dan Kami turunkan hujan dari langit, lalu Kami beri minum kamu dengan air itu, dan sekali-kali bukanlah kamu yang menyimpannya”.
Terjemahan ini mengabaikan arti huruf “fa” dan menambahkan kata “tumbuh-tumbuhan” sebagai penjelasan, sehingga terjemahan tersebut menginformasikan bahwa angin berfungsi mengawinkan tumbuh-tumbuhan.
Seharusnya “fa anzalna min alsama'ma'a”, diterjemahkan dengan “maka Kami menurunkan hujan”.
Huruf “fa“ yang artinya “maka” menunjukkan adanya kaitan sebab dan akibat antara fungsi angin dan turunnya hujan atau perurutan logis antara keduanya sehingga tidak tepat huruf “fa” diterjemahkan “dengan” dan sebagaimana tidak tepat penyisipan kata “tumbuh tumbuhan” dalam terjemahan tersebut.
Terjemahan kata “lawaqiha” dengan “meniupkan” juga kurang tepat. Kamus-bahasa mengisyaratkan bahwa kata tersebut digunakan antara lain untuk menggambarkan “inseminasi”.
Sehingga, atas dasar ini, para ulama menjadikan ayat tersebut sebagai informasi tentang fungsi angin dalam menghasilkan atau mengantarkan turunnya hujan, yang semakna dengan Al-Quran surah Al-Nur, surah ke-24 ayat 43.
“Tidakkah kamu melihat bahwa Allah mengarak awan, kemudian mengumpulkan antara (bagian-bagian) nya, kemudian menjadikannya bertindih-tindih, maka kelihatanlah olehmu hujan keluar dari celah-celahnya dan Allah (juga) menurunkan (butiran-butiran) es dari langit, (yaitu) dari (gumpalan-gumpalan awan seperti) gunung-gunung, maka ditimpakan-Nya (butiran-butiran) es kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan dipalingkan-Nya dari siapa yang dikehendaki-Nya. Kilauan kilat awan itu hampir menghilangkan penglihatan.”
Kesalahan dan kekeliruan dalam memahami atau menafsirkan ayat Al-Quran disebabkan kelemahan dalam bidang bahasa Al-Quran dan kedangkalan pengetahuan menyangkut objek bahasan ayat.
Oleh karena itu, para ulama masih tetap menganjurkan kerja sama berbagai disiplin ilmu untuk mencapai pemahaman atau penafsiran yang tepat tentang ayat Al-Quran dan untuk membuktikan bahwa Al-Quran memang benar bersumber dari Allah Yang Maha Mengetahui segalanya. Daftar Pustaka
1. Shihab, M.Quraish. Lentera Hati. Kisah dan Hikmah Kehidupan. Penerbit Mizan, 1994.
2. Shihab, M.Quraish. E-book Membumikan Al-Qurana
208. KOREL
BAHASA DAN KORELASI AYAT AL-QURAN
Oleh: Drs. H. Yusron Hadi, M.M.
Kepala SMP Negeri 1 Balongbendo, Sidoarjo
Beberapa orang bertanya,”Bagaimana pendapat para ulama tentang segi bahasa dan korelasi ayat Al-Quran? Mohon dijelaskan tentang pendapat para ulama tentang segi bahasa dan korelasi ayat Al-Quran? Profesor Quraish Shihab menjelaskannya.
Para ulama mengingatkan agar para mufasir dalam memahami atau menafsirkan ayat Al-Quran yang berkaitan dengan penafsiran ilmiah dituntut untuk memperhatikan segi bahasa dan korelasi di antara ayat Al-Quran.
Al-Quran surah An-Naml, surah ke-27 ayat 87-88.
“ Dan (ingatlah) hari (ketika) ditiup sangkakala, maka terkejutlah segala yang di langit dan segala yang di bumi, kecuali siapa yang dikehendaki Allah. Dan semua mereka datang menghadap-Nya dengan merendahkan diri.”
“Dan kamu lihat gunung-gunung itu, kamu sangka dia tetap di tempatnya, padahal dia berjalan sebagai jalannya awan. (Begitulah) perbuatan Allah yang membuat dengan kokoh tiap-tiap sesuatu; sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”.
Sebelum menetapkan bahwa ayat Al-Quran ini bersifat sains ilmiah, karena menginformasikan pergerakan gunung dan peredaran bumi, terlebih dahulu harus dipahami kaitan ayat ini dengan ayat sebelumnya, padahal ayat sebelumnya menjelaskan tentang kehidupan di akhirat.
Apakah ayat Al-Quran tersebut berbicara tentang keadaan gunung dalam kehidupan dunia kita sekarang ini atau keadaannya kelak di akhirat?.
Penyusunan ayat Al-Quran tidak berdasarkan pada kronologis waktu turunnya, tetapi pada korelasi makna ayatnya, sehingga kandungan ayat terdahulu selalu berkaitan dengan kandungan ayat berikutnya. Demikian pula halnya dengan segi kebahasaan.
Sebagian ulama berusaha memberikan legitimasi dari ayat Al-Quran terhadap penemuan ilmiah dengan mengabaikan kaidah kebahasaan.
Al-Quran surah Al-Hijr, surah ke-15 ayat 22. Diterjemahkan oleh Tim Departemen Agama.
“Dan Kami telah meniupkan angin untuk mengawinkan (tumbuh-tumbuhan) dan Kami turunkan hujan dari langit, lalu Kami beri minum kamu dengan air itu, dan sekali-kali bukanlah kamu yang menyimpannya”.
Terjemahan ini mengabaikan arti huruf “fa” dan menambahkan kata “tumbuh-tumbuhan” sebagai penjelasan, sehingga terjemahan tersebut menginformasikan bahwa angin berfungsi mengawinkan tumbuh-tumbuhan.
Seharusnya “fa anzalna min alsama'ma'a”, diterjemahkan dengan “maka Kami menurunkan hujan”.
Huruf “fa“ yang artinya “maka” menunjukkan adanya kaitan sebab dan akibat antara fungsi angin dan turunnya hujan atau perurutan logis antara keduanya sehingga tidak tepat huruf “fa” diterjemahkan “dengan” dan sebagaimana tidak tepat penyisipan kata “tumbuh tumbuhan” dalam terjemahan tersebut.
Terjemahan kata “lawaqiha” dengan “meniupkan” juga kurang tepat. Kamus-bahasa mengisyaratkan bahwa kata tersebut digunakan antara lain untuk menggambarkan “inseminasi”.
Sehingga, atas dasar ini, para ulama menjadikan ayat tersebut sebagai informasi tentang fungsi angin dalam menghasilkan atau mengantarkan turunnya hujan, yang semakna dengan Al-Quran surah Al-Nur, surah ke-24 ayat 43.
“Tidakkah kamu melihat bahwa Allah mengarak awan, kemudian mengumpulkan antara (bagian-bagian) nya, kemudian menjadikannya bertindih-tindih, maka kelihatanlah olehmu hujan keluar dari celah-celahnya dan Allah (juga) menurunkan (butiran-butiran) es dari langit, (yaitu) dari (gumpalan-gumpalan awan seperti) gunung-gunung, maka ditimpakan-Nya (butiran-butiran) es kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan dipalingkan-Nya dari siapa yang dikehendaki-Nya. Kilauan kilat awan itu hampir menghilangkan penglihatan.”
Kesalahan dan kekeliruan dalam memahami atau menafsirkan ayat Al-Quran disebabkan kelemahan dalam bidang bahasa Al-Quran dan kedangkalan pengetahuan menyangkut objek bahasan ayat.
Oleh karena itu, para ulama masih tetap menganjurkan kerja sama berbagai disiplin ilmu untuk mencapai pemahaman atau penafsiran yang tepat tentang ayat Al-Quran dan untuk membuktikan bahwa Al-Quran memang benar bersumber dari Allah Yang Maha Mengetahui segalanya. Daftar Pustaka
1. Shihab, M.Quraish. Lentera Hati. Kisah dan Hikmah Kehidupan. Penerbit Mizan, 1994.
2. Shihab, M.Quraish. E-book Membumikan Al-Qurana
208. KOREL
BAHASA DAN KORELASI AYAT AL-QURAN
Oleh: Drs. H. Yusron Hadi, M.M.
Kepala SMP Negeri 1 Balongbendo, Sidoarjo
Beberapa orang bertanya,”Bagaimana pendapat para ulama tentang segi bahasa dan korelasi ayat Al-Quran? Mohon dijelaskan tentang pendapat para ulama tentang segi bahasa dan korelasi ayat Al-Quran? Profesor Quraish Shihab menjelaskannya.
Para ulama mengingatkan agar para mufasir dalam memahami atau menafsirkan ayat Al-Quran yang berkaitan dengan penafsiran ilmiah dituntut untuk memperhatikan segi bahasa dan korelasi di antara ayat Al-Quran.
Al-Quran surah An-Naml, surah ke-27 ayat 87-88.
“ Dan (ingatlah) hari (ketika) ditiup sangkakala, maka terkejutlah segala yang di langit dan segala yang di bumi, kecuali siapa yang dikehendaki Allah. Dan semua mereka datang menghadap-Nya dengan merendahkan diri.”
“Dan kamu lihat gunung-gunung itu, kamu sangka dia tetap di tempatnya, padahal dia berjalan sebagai jalannya awan. (Begitulah) perbuatan Allah yang membuat dengan kokoh tiap-tiap sesuatu; sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”.
Sebelum menetapkan bahwa ayat Al-Quran ini bersifat sains ilmiah, karena menginformasikan pergerakan gunung dan peredaran bumi, terlebih dahulu harus dipahami kaitan ayat ini dengan ayat sebelumnya, padahal ayat sebelumnya menjelaskan tentang kehidupan di akhirat.
Apakah ayat Al-Quran tersebut berbicara tentang keadaan gunung dalam kehidupan dunia kita sekarang ini atau keadaannya kelak di akhirat?.
Penyusunan ayat Al-Quran tidak berdasarkan pada kronologis waktu turunnya, tetapi pada korelasi makna ayatnya, sehingga kandungan ayat terdahulu selalu berkaitan dengan kandungan ayat berikutnya. Demikian pula halnya dengan segi kebahasaan.
Sebagian ulama berusaha memberikan legitimasi dari ayat Al-Quran terhadap penemuan ilmiah dengan mengabaikan kaidah kebahasaan.
Al-Quran surah Al-Hijr, surah ke-15 ayat 22. Diterjemahkan oleh Tim Departemen Agama.
“Dan Kami telah meniupkan angin untuk mengawinkan (tumbuh-tumbuhan) dan Kami turunkan hujan dari langit, lalu Kami beri minum kamu dengan air itu, dan sekali-kali bukanlah kamu yang menyimpannya”.
Terjemahan ini mengabaikan arti huruf “fa” dan menambahkan kata “tumbuh-tumbuhan” sebagai penjelasan, sehingga terjemahan tersebut menginformasikan bahwa angin berfungsi mengawinkan tumbuh-tumbuhan.
Seharusnya “fa anzalna min alsama'ma'a”, diterjemahkan dengan “maka Kami menurunkan hujan”.
Huruf “fa“ yang artinya “maka” menunjukkan adanya kaitan sebab dan akibat antara fungsi angin dan turunnya hujan atau perurutan logis antara keduanya sehingga tidak tepat huruf “fa” diterjemahkan “dengan” dan sebagaimana tidak tepat penyisipan kata “tumbuh tumbuhan” dalam terjemahan tersebut.
Terjemahan kata “lawaqiha” dengan “meniupkan” juga kurang tepat. Kamus-bahasa mengisyaratkan bahwa kata tersebut digunakan antara lain untuk menggambarkan “inseminasi”.
Sehingga, atas dasar ini, para ulama menjadikan ayat tersebut sebagai informasi tentang fungsi angin dalam menghasilkan atau mengantarkan turunnya hujan, yang semakna dengan Al-Quran surah Al-Nur, surah ke-24 ayat 43.
“Tidakkah kamu melihat bahwa Allah mengarak awan, kemudian mengumpulkan antara (bagian-bagian) nya, kemudian menjadikannya bertindih-tindih, maka kelihatanlah olehmu hujan keluar dari celah-celahnya dan Allah (juga) menurunkan (butiran-butiran) es dari langit, (yaitu) dari (gumpalan-gumpalan awan seperti) gunung-gunung, maka ditimpakan-Nya (butiran-butiran) es kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan dipalingkan-Nya dari siapa yang dikehendaki-Nya. Kilauan kilat awan itu hampir menghilangkan penglihatan.”
Kesalahan dan kekeliruan dalam memahami atau menafsirkan ayat Al-Quran disebabkan kelemahan dalam bidang bahasa Al-Quran dan kedangkalan pengetahuan menyangkut objek bahasan ayat.
Oleh karena itu, para ulama masih tetap menganjurkan kerja sama berbagai disiplin ilmu untuk mencapai pemahaman atau penafsiran yang tepat tentang ayat Al-Quran dan untuk membuktikan bahwa Al-Quran memang benar bersumber dari Allah Yang Maha Mengetahui segalanya. Daftar Pustaka
1. Shihab, M.Quraish. Lentera Hati. Kisah dan Hikmah Kehidupan. Penerbit Mizan, 1994.
2. Shihab, M.Quraish. E-book Membumikan Al-Qurana
208. KOREL
BAHASA DAN KORELASI AYAT AL-QURAN
Oleh: Drs. H. Yusron Hadi, M.M.
Kepala SMP Negeri 1 Balongbendo, Sidoarjo
Beberapa orang bertanya,”Bagaimana pendapat para ulama tentang segi bahasa dan korelasi ayat Al-Quran? Mohon dijelaskan tentang pendapat para ulama tentang segi bahasa dan korelasi ayat Al-Quran? Profesor Quraish Shihab menjelaskannya.
Para ulama mengingatkan agar para mufasir dalam memahami atau menafsirkan ayat Al-Quran yang berkaitan dengan penafsiran ilmiah dituntut untuk memperhatikan segi bahasa dan korelasi di antara ayat Al-Quran.
Al-Quran surah An-Naml, surah ke-27 ayat 87-88.
“ Dan (ingatlah) hari (ketika) ditiup sangkakala, maka terkejutlah segala yang di langit dan segala yang di bumi, kecuali siapa yang dikehendaki Allah. Dan semua mereka datang menghadap-Nya dengan merendahkan diri.”
“Dan kamu lihat gunung-gunung itu, kamu sangka dia tetap di tempatnya, padahal dia berjalan sebagai jalannya awan. (Begitulah) perbuatan Allah yang membuat dengan kokoh tiap-tiap sesuatu; sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”.
Sebelum menetapkan bahwa ayat Al-Quran ini bersifat sains ilmiah, karena menginformasikan pergerakan gunung dan peredaran bumi, terlebih dahulu harus dipahami kaitan ayat ini dengan ayat sebelumnya, padahal ayat sebelumnya menjelaskan tentang kehidupan di akhirat.
Apakah ayat Al-Quran tersebut berbicara tentang keadaan gunung dalam kehidupan dunia kita sekarang ini atau keadaannya kelak di akhirat?.
Penyusunan ayat Al-Quran tidak berdasarkan pada kronologis waktu turunnya, tetapi pada korelasi makna ayatnya, sehingga kandungan ayat terdahulu selalu berkaitan dengan kandungan ayat berikutnya. Demikian pula halnya dengan segi kebahasaan.
Sebagian ulama berusaha memberikan legitimasi dari ayat Al-Quran terhadap penemuan ilmiah dengan mengabaikan kaidah kebahasaan.
Al-Quran surah Al-Hijr, surah ke-15 ayat 22. Diterjemahkan oleh Tim Departemen Agama.
“Dan Kami telah meniupkan angin untuk mengawinkan (tumbuh-tumbuhan) dan Kami turunkan hujan dari langit, lalu Kami beri minum kamu dengan air itu, dan sekali-kali bukanlah kamu yang menyimpannya”.
Terjemahan ini mengabaikan arti huruf “fa” dan menambahkan kata “tumbuh-tumbuhan” sebagai penjelasan, sehingga terjemahan tersebut menginformasikan bahwa angin berfungsi mengawinkan tumbuh-tumbuhan.
Seharusnya “fa anzalna min alsama'ma'a”, diterjemahkan dengan “maka Kami menurunkan hujan”.
Huruf “fa“ yang artinya “maka” menunjukkan adanya kaitan sebab dan akibat antara fungsi angin dan turunnya hujan atau perurutan logis antara keduanya sehingga tidak tepat huruf “fa” diterjemahkan “dengan” dan sebagaimana tidak tepat penyisipan kata “tumbuh tumbuhan” dalam terjemahan tersebut.
Terjemahan kata “lawaqiha” dengan “meniupkan” juga kurang tepat. Kamus-bahasa mengisyaratkan bahwa kata tersebut digunakan antara lain untuk menggambarkan “inseminasi”.
Sehingga, atas dasar ini, para ulama menjadikan ayat tersebut sebagai informasi tentang fungsi angin dalam menghasilkan atau mengantarkan turunnya hujan, yang semakna dengan Al-Quran surah Al-Nur, surah ke-24 ayat 43.
“Tidakkah kamu melihat bahwa Allah mengarak awan, kemudian mengumpulkan antara (bagian-bagian) nya, kemudian menjadikannya bertindih-tindih, maka kelihatanlah olehmu hujan keluar dari celah-celahnya dan Allah (juga) menurunkan (butiran-butiran) es dari langit, (yaitu) dari (gumpalan-gumpalan awan seperti) gunung-gunung, maka ditimpakan-Nya (butiran-butiran) es kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan dipalingkan-Nya dari siapa yang dikehendaki-Nya. Kilauan kilat awan itu hampir menghilangkan penglihatan.”
Kesalahan dan kekeliruan dalam memahami atau menafsirkan ayat Al-Quran disebabkan kelemahan dalam bidang bahasa Al-Quran dan kedangkalan pengetahuan menyangkut objek bahasan ayat.
Oleh karena itu, para ulama masih tetap menganjurkan kerja sama berbagai disiplin ilmu untuk mencapai pemahaman atau penafsiran yang tepat tentang ayat Al-Quran dan untuk membuktikan bahwa Al-Quran memang benar bersumber dari Allah Yang Maha Mengetahui segalanya. Daftar Pustaka
1. Shihab, M.Quraish. Lentera Hati. Kisah dan Hikmah Kehidupan. Penerbit Mizan, 1994.
2. Shihab, M.Quraish. E-book Membumikan Al-Qurana
208. KOREL
BAHASA DAN KORELASI AYAT AL-QURAN
Oleh: Drs. H. Yusron Hadi, M.M.
Kepala SMP Negeri 1 Balongbendo, Sidoarjo
Beberapa orang bertanya,”Bagaimana pendapat para ulama tentang segi bahasa dan korelasi ayat Al-Quran? Mohon dijelaskan tentang pendapat para ulama tentang segi bahasa dan korelasi ayat Al-Quran? Profesor Quraish Shihab menjelaskannya.
Para ulama mengingatkan agar para mufasir dalam memahami atau menafsirkan ayat Al-Quran yang berkaitan dengan penafsiran ilmiah dituntut untuk memperhatikan segi bahasa dan korelasi di antara ayat Al-Quran.
Al-Quran surah An-Naml, surah ke-27 ayat 87-88.
“ Dan (ingatlah) hari (ketika) ditiup sangkakala, maka terkejutlah segala yang di langit dan segala yang di bumi, kecuali siapa yang dikehendaki Allah. Dan semua mereka datang menghadap-Nya dengan merendahkan diri.”
“Dan kamu lihat gunung-gunung itu, kamu sangka dia tetap di tempatnya, padahal dia berjalan sebagai jalannya awan. (Begitulah) perbuatan Allah yang membuat dengan kokoh tiap-tiap sesuatu; sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”.
Sebelum menetapkan bahwa ayat Al-Quran ini bersifat sains ilmiah, karena menginformasikan pergerakan gunung dan peredaran bumi, terlebih dahulu harus dipahami kaitan ayat ini dengan ayat sebelumnya, padahal ayat sebelumnya menjelaskan tentang kehidupan di akhirat.
Apakah ayat Al-Quran tersebut berbicara tentang keadaan gunung dalam kehidupan dunia kita sekarang ini atau keadaannya kelak di akhirat?.
Penyusunan ayat Al-Quran tidak berdasarkan pada kronologis waktu turunnya, tetapi pada korelasi makna ayatnya, sehingga kandungan ayat terdahulu selalu berkaitan dengan kandungan ayat berikutnya. Demikian pula halnya dengan segi kebahasaan.
Sebagian ulama berusaha memberikan legitimasi dari ayat Al-Quran terhadap penemuan ilmiah dengan mengabaikan kaidah kebahasaan.
Al-Quran surah Al-Hijr, surah ke-15 ayat 22. Diterjemahkan oleh Tim Departemen Agama.
“Dan Kami telah meniupkan angin untuk mengawinkan (tumbuh-tumbuhan) dan Kami turunkan hujan dari langit, lalu Kami beri minum kamu dengan air itu, dan sekali-kali bukanlah kamu yang menyimpannya”.
Terjemahan ini mengabaikan arti huruf “fa” dan menambahkan kata “tumbuh-tumbuhan” sebagai penjelasan, sehingga terjemahan tersebut menginformasikan bahwa angin berfungsi mengawinkan tumbuh-tumbuhan.
Seharusnya “fa anzalna min alsama'ma'a”, diterjemahkan dengan “maka Kami menurunkan hujan”.
Huruf “fa“ yang artinya “maka” menunjukkan adanya kaitan sebab dan akibat antara fungsi angin dan turunnya hujan atau perurutan logis antara keduanya sehingga tidak tepat huruf “fa” diterjemahkan “dengan” dan sebagaimana tidak tepat penyisipan kata “tumbuh tumbuhan” dalam terjemahan tersebut.
Terjemahan kata “lawaqiha” dengan “meniupkan” juga kurang tepat. Kamus-bahasa mengisyaratkan bahwa kata tersebut digunakan antara lain untuk menggambarkan “inseminasi”.
Sehingga, atas dasar ini, para ulama menjadikan ayat tersebut sebagai informasi tentang fungsi angin dalam menghasilkan atau mengantarkan turunnya hujan, yang semakna dengan Al-Quran surah Al-Nur, surah ke-24 ayat 43.
“Tidakkah kamu melihat bahwa Allah mengarak awan, kemudian mengumpulkan antara (bagian-bagian) nya, kemudian menjadikannya bertindih-tindih, maka kelihatanlah olehmu hujan keluar dari celah-celahnya dan Allah (juga) menurunkan (butiran-butiran) es dari langit, (yaitu) dari (gumpalan-gumpalan awan seperti) gunung-gunung, maka ditimpakan-Nya (butiran-butiran) es kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan dipalingkan-Nya dari siapa yang dikehendaki-Nya. Kilauan kilat awan itu hampir menghilangkan penglihatan.”
Kesalahan dan kekeliruan dalam memahami atau menafsirkan ayat Al-Quran disebabkan kelemahan dalam bidang bahasa Al-Quran dan kedangkalan pengetahuan menyangkut objek bahasan ayat.
Oleh karena itu, para ulama masih tetap menganjurkan kerja sama berbagai disiplin ilmu untuk mencapai pemahaman atau penafsiran yang tepat tentang ayat Al-Quran dan untuk membuktikan bahwa Al-Quran memang benar bersumber dari Allah Yang Maha Mengetahui segalanya. Daftar Pustaka
1. Shihab, M.Quraish. Lentera Hati. Kisah dan Hikmah Kehidupan. Penerbit Mizan, 1994.
2. Shihab, M.Quraish. E-book Membumikan Al-Qurana
208. KOREL
BAHASA DAN KORELASI AYAT AL-QURAN
Oleh: Drs. H. Yusron Hadi, M.M.
Kepala SMP Negeri 1 Balongbendo, Sidoarjo
Beberapa orang bertanya,”Bagaimana pendapat para ulama tentang segi bahasa dan korelasi ayat Al-Quran? Mohon dijelaskan tentang pendapat para ulama tentang segi bahasa dan korelasi ayat Al-Quran? Profesor Quraish Shihab menjelaskannya.
Para ulama mengingatkan agar para mufasir dalam memahami atau menafsirkan ayat Al-Quran yang berkaitan dengan penafsiran ilmiah dituntut untuk memperhatikan segi bahasa dan korelasi di antara ayat Al-Quran.
Al-Quran surah An-Naml, surah ke-27 ayat 87-88.
“ Dan (ingatlah) hari (ketika) ditiup sangkakala, maka terkejutlah segala yang di langit dan segala yang di bumi, kecuali siapa yang dikehendaki Allah. Dan semua mereka datang menghadap-Nya dengan merendahkan diri.”
“Dan kamu lihat gunung-gunung itu, kamu sangka dia tetap di tempatnya, padahal dia berjalan sebagai jalannya awan. (Begitulah) perbuatan Allah yang membuat dengan kokoh tiap-tiap sesuatu; sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”.
Sebelum menetapkan bahwa ayat Al-Quran ini bersifat sains ilmiah, karena menginformasikan pergerakan gunung dan peredaran bumi, terlebih dahulu harus dipahami kaitan ayat ini dengan ayat sebelumnya, padahal ayat sebelumnya menjelaskan tentang kehidupan di akhirat.
Apakah ayat Al-Quran tersebut berbicara tentang keadaan gunung dalam kehidupan dunia kita sekarang ini atau keadaannya kelak di akhirat?.
Penyusunan ayat Al-Quran tidak berdasarkan pada kronologis waktu turunnya, tetapi pada korelasi makna ayatnya, sehingga kandungan ayat terdahulu selalu berkaitan dengan kandungan ayat berikutnya. Demikian pula halnya dengan segi kebahasaan.
Sebagian ulama berusaha memberikan legitimasi dari ayat Al-Quran terhadap penemuan ilmiah dengan mengabaikan kaidah kebahasaan.
Al-Quran surah Al-Hijr, surah ke-15 ayat 22. Diterjemahkan oleh Tim Departemen Agama.
“Dan Kami telah meniupkan angin untuk mengawinkan (tumbuh-tumbuhan) dan Kami turunkan hujan dari langit, lalu Kami beri minum kamu dengan air itu, dan sekali-kali bukanlah kamu yang menyimpannya”.
Terjemahan ini mengabaikan arti huruf “fa” dan menambahkan kata “tumbuh-tumbuhan” sebagai penjelasan, sehingga terjemahan tersebut menginformasikan bahwa angin berfungsi mengawinkan tumbuh-tumbuhan.
Seharusnya “fa anzalna min alsama'ma'a”, diterjemahkan dengan “maka Kami menurunkan hujan”.
Huruf “fa“ yang artinya “maka” menunjukkan adanya kaitan sebab dan akibat antara fungsi angin dan turunnya hujan atau perurutan logis antara keduanya sehingga tidak tepat huruf “fa” diterjemahkan “dengan” dan sebagaimana tidak tepat penyisipan kata “tumbuh tumbuhan” dalam terjemahan tersebut.
Terjemahan kata “lawaqiha” dengan “meniupkan” juga kurang tepat. Kamus-bahasa mengisyaratkan bahwa kata tersebut digunakan antara lain untuk menggambarkan “inseminasi”.
Sehingga, atas dasar ini, para ulama menjadikan ayat tersebut sebagai informasi tentang fungsi angin dalam menghasilkan atau mengantarkan turunnya hujan, yang semakna dengan Al-Quran surah Al-Nur, surah ke-24 ayat 43.
“Tidakkah kamu melihat bahwa Allah mengarak awan, kemudian mengumpulkan antara (bagian-bagian) nya, kemudian menjadikannya bertindih-tindih, maka kelihatanlah olehmu hujan keluar dari celah-celahnya dan Allah (juga) menurunkan (butiran-butiran) es dari langit, (yaitu) dari (gumpalan-gumpalan awan seperti) gunung-gunung, maka ditimpakan-Nya (butiran-butiran) es kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan dipalingkan-Nya dari siapa yang dikehendaki-Nya. Kilauan kilat awan itu hampir menghilangkan penglihatan.”
Kesalahan dan kekeliruan dalam memahami atau menafsirkan ayat Al-Quran disebabkan kelemahan dalam bidang bahasa Al-Quran dan kedangkalan pengetahuan menyangkut objek bahasan ayat.
Oleh karena itu, para ulama masih tetap menganjurkan kerja sama berbagai disiplin ilmu untuk mencapai pemahaman atau penafsiran yang tepat tentang ayat Al-Quran dan untuk membuktikan bahwa Al-Quran memang benar bersumber dari Allah Yang Maha Mengetahui segalanya. Daftar Pustaka
1. Shihab, M.Quraish. Lentera Hati. Kisah dan Hikmah Kehidupan. Penerbit Mizan, 1994.
2. Shihab, M.Quraish. E-book Membumikan Al-Qurana
207. AHLI
PENDAPAT ULAMA TENTANG PENAFSIRAN ILMIAH
Oleh: Drs. H. Yusron Hadi, M.M.
Kepala SMP Negeri 1 Balongbendo, Sidoarjo
Beberapa orang bertanya,”Bagaimana pendapat para ulama tentang penafsiran ilmiah? Mohon dijelaskan tentang pendapat para ulama tentang penafsiran ilmiah ? Profesor Quraish Shihab menjelaskannya.
Pendapat para ulama tentang penafsiran Ilmiah disepakati oleh semua pihak bahwa penemuan ilmiah ada yang telah menjadi hakikat ilmiah yang telah memiliki kemapanan, tetapi masih ada yang relatif atau diperselisihkan sehingga tidak dapat dijamin kebenarannya.
Atas dasar larangan menafsirkan Al-Quran secara spekulatif, maka sebagian ulama Al-Quran tidak membenarkan penafsiran ayat Al-Quran berdasarkan penemuan ilmiah yang sifatnya belum mapan.
Seorang ulama berkata,“Kita tidak ingin mengulang sejarah ketika pemimpin gereja menafsirkan Kitab Perjanjian Lama, ternyata hasilnya bertentangan dengan penemuan para ilmuwan.”
Ulama yang lain berkata,”Kita berkewajiban menjelaskan Al-Quran secara ilmiah dan tugas generasi selanjutnya untuk menunjukkan kesalahan kita dan mengumumkannya.”
Ulama lainnya memberikan jalan tengah,“Sebaiknya jangan mengatasnamakan Al-Quran dalam pendapatnya, apalagi dalam perincian penemuan ilmiah yang tidak dikandung oleh redaksi ayat Al-Quran”.
Setiap umat Islam wajib meyakini semua yang terkandung dalam AlQuran, sehingga bila seseorang mengatasnamakan Al-Quran untuk membenarkan suatu penemuan atau hakikat ilmiah yang tidak dicakup oleh kandungan redaksi ayat AlQuran, berarti dia mewajibkan setiap umat Islam untuk mempercayainya, sedangkan kondisi sebenarnya belum tentu demikian.
Pendapat ini bukan berarti para ulama melarang dan menghalangi pemahaman suatu ayat Al-Quran berdasarkan perkembangan sains dan teknologi, karena pemahaman ayat Al-Quran yang disesuaikan dengan perkembangan sains dan teknologi merupakan ijtihad yang baik.
Tetapi jangan mewajibkan untuk meyakininya sebagai akidah Islam dan semua orang Islam harus megikutinya.
Para ulama mengingatkan perbedaan antara pemahaman dan penafsiran ayat Al-Quran. Penafsiran adalah keterangan atau penjelasan ayat Al-Quran agar maksudnya lebih mudah dipahami, sedangkan pemahaman ialah proses, perbuatan memahami, atau memahamkan ayat Al-Quran.
Ulama yang lain lebih senang menyebut penjelasan makna ayat Al-Quran secara ilmiah dengan nama “tathbiq” atau penerapan.
Semua para ulama sepakat bahwa tujuan utamanya adalah untuk menghindari jangan sampai ayat Al-Quran disalahkan, apabila dikemudian hari terbukti teori atau penemuan ilmiah ternyata salah dan keliru.
Daftar Pustaka
1. Shihab, M.Quraish. Lentera Hati. Kisah dan Hikmah Kehidupan. Penerbit Mizan, 1994.
2. Shihab, M.Quraish. E-book Membumikan Al-Qurana
207. AHLI
PENDAPAT ULAMA TENTANG PENAFSIRAN ILMIAH
Oleh: Drs. H. Yusron Hadi, M.M.
Kepala SMP Negeri 1 Balongbendo, Sidoarjo
Beberapa orang bertanya,”Bagaimana pendapat para ulama tentang penafsiran ilmiah? Mohon dijelaskan tentang pendapat para ulama tentang penafsiran ilmiah ? Profesor Quraish Shihab menjelaskannya.
Pendapat para ulama tentang penafsiran Ilmiah disepakati oleh semua pihak bahwa penemuan ilmiah ada yang telah menjadi hakikat ilmiah yang telah memiliki kemapanan, tetapi masih ada yang relatif atau diperselisihkan sehingga tidak dapat dijamin kebenarannya.
Atas dasar larangan menafsirkan Al-Quran secara spekulatif, maka sebagian ulama Al-Quran tidak membenarkan penafsiran ayat Al-Quran berdasarkan penemuan ilmiah yang sifatnya belum mapan.
Seorang ulama berkata,“Kita tidak ingin mengulang sejarah ketika pemimpin gereja menafsirkan Kitab Perjanjian Lama, ternyata hasilnya bertentangan dengan penemuan para ilmuwan.”
Ulama yang lain berkata,”Kita berkewajiban menjelaskan Al-Quran secara ilmiah dan tugas generasi selanjutnya untuk menunjukkan kesalahan kita dan mengumumkannya.”
Ulama lainnya memberikan jalan tengah,“Sebaiknya jangan mengatasnamakan Al-Quran dalam pendapatnya, apalagi dalam perincian penemuan ilmiah yang tidak dikandung oleh redaksi ayat Al-Quran”.
Setiap umat Islam wajib meyakini semua yang terkandung dalam AlQuran, sehingga bila seseorang mengatasnamakan Al-Quran untuk membenarkan suatu penemuan atau hakikat ilmiah yang tidak dicakup oleh kandungan redaksi ayat AlQuran, berarti dia mewajibkan setiap umat Islam untuk mempercayainya, sedangkan kondisi sebenarnya belum tentu demikian.
Pendapat ini bukan berarti para ulama melarang dan menghalangi pemahaman suatu ayat Al-Quran berdasarkan perkembangan sains dan teknologi, karena pemahaman ayat Al-Quran yang disesuaikan dengan perkembangan sains dan teknologi merupakan ijtihad yang baik.
Tetapi jangan mewajibkan untuk meyakininya sebagai akidah Islam dan semua orang Islam harus megikutinya.
Para ulama mengingatkan perbedaan antara pemahaman dan penafsiran ayat Al-Quran. Penafsiran adalah keterangan atau penjelasan ayat Al-Quran agar maksudnya lebih mudah dipahami, sedangkan pemahaman ialah proses, perbuatan memahami, atau memahamkan ayat Al-Quran.
Ulama yang lain lebih senang menyebut penjelasan makna ayat Al-Quran secara ilmiah dengan nama “tathbiq” atau penerapan.
Semua para ulama sepakat bahwa tujuan utamanya adalah untuk menghindari jangan sampai ayat Al-Quran disalahkan, apabila dikemudian hari terbukti teori atau penemuan ilmiah ternyata salah dan keliru.
Daftar Pustaka
1. Shihab, M.Quraish. Lentera Hati. Kisah dan Hikmah Kehidupan. Penerbit Mizan, 1994.
2. Shihab, M.Quraish. E-book Membumikan Al-Qurana


