Organisasi Profesi Guru

Presiden Jokowi memberi hormat kepada Guru-Guru se Indonesia.

Tema Gambar Slide 2

Deskripsi gambar slide bisa dituliskan disini dengan beberapa kalimat yang menggambarkan gambar slide yang anda pasang, edit slide ini melalui edit HTML template.

Tema Gambar Slide 3

Deskripsi gambar slide bisa dituliskan disini dengan beberapa kalimat yang menggambarkan gambar slide yang anda pasang, edit slide ini melalui edit HTML template.

Friday, August 18, 2017

211. JUMAT

SALAT JUMAT MENURUT EMPAT MAZHAB
Oleh: Drs. H. Yusron Hadi, M.M.
Kepala SMP Negeri 1 Balongbendo, Sidoarjo


      Beberapa orang bertanya,”Bagaimana cara salat Jumat menurut 4 mazhab? Mohon dijelaskan cara salat Jumat menurut 4 mazhab? Berikut ini penjelasannya
      Ajaran Islam bersumber kepada Al-Quran dan Sunah, serta memiliki beberapa cabang ilmu, salah satunya “Ilmu Fikih”.
     Ilmu Fikih mempelajari tentang Hukum Islam. Dunia Islam mengenal 4 mazhab terbesar, yaitu Mazhab Hanafi, Maliki, Syafii, dan Hambali.
       Mazhab adalah haluan atau aliran mengenai hukum fikih yang menjadi ikutan umat Islam.
      Masing-masing mazhab mempunyai “karakter” dan “keistimewaan” tersendiri. Mazhab Hanafi didirikan oleh Nukman bin Tsabit, yang lahir tahun 89 Hijriah, dan wafat tahun 150 Hijirah. Nukman bin Tsabit seorang guru besar ilmu fikih di Irak.
      Mazhab Maliki didirikan oleh Imam Malik bin Anas, yang lahir tahun 93 Hijriah, dan wafat tahun 179 Hijriah. Imam Malik bin Anas berasal dari Madinah.
     Mazhab Syafii didirikan oleh Muhammad bin Idris, yang lahir tahun 150 Hijriah, dan wafat tahun 200 Hijirah. Muhammad bin Idris berasal dari Gaza, Palestina.
     Mazhab Hambali didirikan oleh Ahmad bin Hambal, yang lahir tahun 164 Hijriah, dan wafat tahun 241 Hijriah. Ahmad bin Hambal berasal dari Baghdad, Irak.
    Semua mazhab sepakat dasar hukum salat Jumat adalah Al-Quran surah Al-Jumuah, surah ke-62 ayat 9.
   “Hai orang-orang yang beriman, apabila diseru untuk menunaikan salat Jumat, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkan jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui.”
    Lokasi atau tempat salat Jumat. Menurut Imam Hanafi, Syafii, Hambali lokasi atau tempat melakukan salat Jumat boleh dikerjakan di masjid, dan boleh dilaksanakan di tempat lain, selain masjid.
     Sedangkan menurut Imam Maliki salat Jumat harus dilaksanakan di masjid dan dilarang dilakukan di tempat selain masjid.
    Jumlah minimal Jamaah salat Jumat. Menurut Imam Hanafi jumlah jamaah salat Jumat minimal 5 orang termasuk imam, dan menurut Imam Maliki jumlah jamaah salat Jumat minimal 13 orang termasuk imam.
      Menurut Imam Hambali dan Syafii jumlah jamaah salat Jumat minimal 41 orang termasuk imam.
    Posisi khatib ketika sedang berkhutbah. Menurut Imam Maliki dan  Syafii ketika khatib sedang berkhutbah Jumat, maka seorang khatib wajib berdiri. Menurut Imam Hanafi dan Hambali ketika khatib sedang berkhutbah Jumat, maka seorang khatib tidak wajib berdiri
    Materi minimal yang disampaikan seorang khatib ketika berkhutbah Jumat. Menurut Imam Hanafi seorang khatib ketika berkhutbah salat Jumat minimal membacakan “hamdalah” dan “istighfar”.
    Menurut Imam Maliki seorang khatib ketika berkhutbah salat Jumat minimal mengucapkan pesan takwa kepada Allah.
    Menurut Imam Syafii seorang khatib ketika berkhutbah salat Jumat, pada khutbah pertama minimal menyampaikan “hamdalah”, “selawat Nabi”, pesan takwa, dan membacakan ayat Al-Quran. Pada khutbah kedua minimal mengucapkan “hamdalah”, selawat Nabi, pesan takwa, dan doa untuk semua umat Islam.
      Menurut Imam Hambali seorang khatib ketika berkhutbah salat Jumat minimal mengucapkan “hamdalah”, selawat Nabi, pesan takwa, dan membacakan ayat Al-Quran.
    Posisi khatib ketika duduk di antara dua khutbah Jumat. Menurut Imam Maliki, dan Hanafi, khatib saat Jumat tidak wajib duduk di antara dua khutbah.
      Menurut Imam Syafii, khatib salat Jumat wajib duduk sebentar di antara dua khutbah. Imam Hambali menyatakan khatib boleh duduk atau tidak duduk di antara dua khutbah.
    Bahasa yang digunakan khatib ketika berkhutbah Jumat. Menurut Imam Maliki, ketika khatib berkhutbah Jumat, maka khatib wajib menggunakan bahasa Arab. Menurut Imam  Hanafi, Syafii, dan Hambali, khatib tidak wajib menggunakan bahasa Arab ketika berkhutbah.
      Bacaan surat Al-Quran setelah membaca surah Al-Fatihah dalam salat Jumat. Menurut Imam Maliki pada rakaat pertama, imam salat Jumat harus membaca surah Al-Jumuah atau surah ke-62. Sedangkan pada rakaat kedua, imam harus membaca surah  Al-Ghosiyah, surah ke-88, setelah membaca surah Al-Fatihah.
     Menurut Imam Syafii pada rakaat pertama, imam salat Jumat harus membaca surah Al-Jumuah atau surah ke-62. Sedangkan pada rakaat kedua, imam harus membaca surah  Al-Munafikun, surah ke-63, setelah membaca surah Al-Fatihah.
       Menurut Imam Hanafi, hukumnya makruh, jika imam salat Jumat, ditentukan bacaan suratnya, setelah membaca surah Al-Fatihah.
     Wajib adalah perbuatan yang harus dilakukan, dan tidak boleh ditinggalkan. Sunah adalah perbuatan apabila dilakukan mendapatkan pahala dan apabila tidak dikerjakan tidak berdosa.
     Mubah adalah perbuatan yang boleh dilakukan dan boleh tidak dikerjakan. Makruh adalah perbuatan yang dianjurkan untuk ditinggalkan, tetapi tidak berdosa apabila dikerjakan. Haram adalah perbuatan yang terlarang untuk dikerjakan.
Daftar Pustaka.
1. Mughniyah, Muhammad Jawad. Fiqih 5 mazhab, Muhammad Jawad Mughniyah. Penerbit Lentera Jakarta, 2007)
2. Asy-Syinawi, Abdul Aziz. Biografi Empat Mazhab. Penerbit Beirut Publishing. Ummul Qura. Jakarta, 2013.

211. JUMAT

SALAT JUMAT MENURUT EMPAT MAZHAB
Oleh: Drs. H. Yusron Hadi, M.M.
Kepala SMP Negeri 1 Balongbendo, Sidoarjo


      Beberapa orang bertanya,”Bagaimana cara salat Jumat menurut 4 mazhab? Mohon dijelaskan cara salat Jumat menurut 4 mazhab? Berikut ini penjelasannya
      Ajaran Islam bersumber kepada Al-Quran dan Sunah, serta memiliki beberapa cabang ilmu, salah satunya “Ilmu Fikih”.
     Ilmu Fikih mempelajari tentang Hukum Islam. Dunia Islam mengenal 4 mazhab terbesar, yaitu Mazhab Hanafi, Maliki, Syafii, dan Hambali.
       Mazhab adalah haluan atau aliran mengenai hukum fikih yang menjadi ikutan umat Islam.
      Masing-masing mazhab mempunyai “karakter” dan “keistimewaan” tersendiri. Mazhab Hanafi didirikan oleh Nukman bin Tsabit, yang lahir tahun 89 Hijriah, dan wafat tahun 150 Hijirah. Nukman bin Tsabit seorang guru besar ilmu fikih di Irak.
      Mazhab Maliki didirikan oleh Imam Malik bin Anas, yang lahir tahun 93 Hijriah, dan wafat tahun 179 Hijriah. Imam Malik bin Anas berasal dari Madinah.
     Mazhab Syafii didirikan oleh Muhammad bin Idris, yang lahir tahun 150 Hijriah, dan wafat tahun 200 Hijirah. Muhammad bin Idris berasal dari Gaza, Palestina.
     Mazhab Hambali didirikan oleh Ahmad bin Hambal, yang lahir tahun 164 Hijriah, dan wafat tahun 241 Hijriah. Ahmad bin Hambal berasal dari Baghdad, Irak.
    Semua mazhab sepakat dasar hukum salat Jumat adalah Al-Quran surah Al-Jumuah, surah ke-62 ayat 9.
   “Hai orang-orang yang beriman, apabila diseru untuk menunaikan salat Jumat, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkan jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui.”
    Lokasi atau tempat salat Jumat. Menurut Imam Hanafi, Syafii, Hambali lokasi atau tempat melakukan salat Jumat boleh dikerjakan di masjid, dan boleh dilaksanakan di tempat lain, selain masjid.
     Sedangkan menurut Imam Maliki salat Jumat harus dilaksanakan di masjid dan dilarang dilakukan di tempat selain masjid.
    Jumlah minimal Jamaah salat Jumat. Menurut Imam Hanafi jumlah jamaah salat Jumat minimal 5 orang termasuk imam, dan menurut Imam Maliki jumlah jamaah salat Jumat minimal 13 orang termasuk imam.
      Menurut Imam Hambali dan Syafii jumlah jamaah salat Jumat minimal 41 orang termasuk imam.
    Posisi khatib ketika sedang berkhutbah. Menurut Imam Maliki dan  Syafii ketika khatib sedang berkhutbah Jumat, maka seorang khatib wajib berdiri. Menurut Imam Hanafi dan Hambali ketika khatib sedang berkhutbah Jumat, maka seorang khatib tidak wajib berdiri
    Materi minimal yang disampaikan seorang khatib ketika berkhutbah Jumat. Menurut Imam Hanafi seorang khatib ketika berkhutbah salat Jumat minimal membacakan “hamdalah” dan “istighfar”.
    Menurut Imam Maliki seorang khatib ketika berkhutbah salat Jumat minimal mengucapkan pesan takwa kepada Allah.
    Menurut Imam Syafii seorang khatib ketika berkhutbah salat Jumat, pada khutbah pertama minimal menyampaikan “hamdalah”, “selawat Nabi”, pesan takwa, dan membacakan ayat Al-Quran. Pada khutbah kedua minimal mengucapkan “hamdalah”, selawat Nabi, pesan takwa, dan doa untuk semua umat Islam.
      Menurut Imam Hambali seorang khatib ketika berkhutbah salat Jumat minimal mengucapkan “hamdalah”, selawat Nabi, pesan takwa, dan membacakan ayat Al-Quran.
    Posisi khatib ketika duduk di antara dua khutbah Jumat. Menurut Imam Maliki, dan Hanafi, khatib saat Jumat tidak wajib duduk di antara dua khutbah.
      Menurut Imam Syafii, khatib salat Jumat wajib duduk sebentar di antara dua khutbah. Imam Hambali menyatakan khatib boleh duduk atau tidak duduk di antara dua khutbah.
    Bahasa yang digunakan khatib ketika berkhutbah Jumat. Menurut Imam Maliki, ketika khatib berkhutbah Jumat, maka khatib wajib menggunakan bahasa Arab. Menurut Imam  Hanafi, Syafii, dan Hambali, khatib tidak wajib menggunakan bahasa Arab ketika berkhutbah.
      Bacaan surat Al-Quran setelah membaca surah Al-Fatihah dalam salat Jumat. Menurut Imam Maliki pada rakaat pertama, imam salat Jumat harus membaca surah Al-Jumuah atau surah ke-62. Sedangkan pada rakaat kedua, imam harus membaca surah  Al-Ghosiyah, surah ke-88, setelah membaca surah Al-Fatihah.
     Menurut Imam Syafii pada rakaat pertama, imam salat Jumat harus membaca surah Al-Jumuah atau surah ke-62. Sedangkan pada rakaat kedua, imam harus membaca surah  Al-Munafikun, surah ke-63, setelah membaca surah Al-Fatihah.
       Menurut Imam Hanafi, hukumnya makruh, jika imam salat Jumat, ditentukan bacaan suratnya, setelah membaca surah Al-Fatihah.
     Wajib adalah perbuatan yang harus dilakukan, dan tidak boleh ditinggalkan. Sunah adalah perbuatan apabila dilakukan mendapatkan pahala dan apabila tidak dikerjakan tidak berdosa.
     Mubah adalah perbuatan yang boleh dilakukan dan boleh tidak dikerjakan. Makruh adalah perbuatan yang dianjurkan untuk ditinggalkan, tetapi tidak berdosa apabila dikerjakan. Haram adalah perbuatan yang terlarang untuk dikerjakan.
Daftar Pustaka.
1. Mughniyah, Muhammad Jawad. Fiqih 5 mazhab, Muhammad Jawad Mughniyah. Penerbit Lentera Jakarta, 2007)
2. Asy-Syinawi, Abdul Aziz. Biografi Empat Mazhab. Penerbit Beirut Publishing. Ummul Qura. Jakarta, 2013.

211. JUMAT

SALAT JUMAT MENURUT EMPAT MAZHAB
Oleh: Drs. H. Yusron Hadi, M.M.
Kepala SMP Negeri 1 Balongbendo, Sidoarjo


      Beberapa orang bertanya,”Bagaimana cara salat Jumat menurut 4 mazhab? Mohon dijelaskan cara salat Jumat menurut 4 mazhab? Berikut ini penjelasannya
      Ajaran Islam bersumber kepada Al-Quran dan Sunah, serta memiliki beberapa cabang ilmu, salah satunya “Ilmu Fikih”.
     Ilmu Fikih mempelajari tentang Hukum Islam. Dunia Islam mengenal 4 mazhab terbesar, yaitu Mazhab Hanafi, Maliki, Syafii, dan Hambali.
       Mazhab adalah haluan atau aliran mengenai hukum fikih yang menjadi ikutan umat Islam.
      Masing-masing mazhab mempunyai “karakter” dan “keistimewaan” tersendiri. Mazhab Hanafi didirikan oleh Nukman bin Tsabit, yang lahir tahun 89 Hijriah, dan wafat tahun 150 Hijirah. Nukman bin Tsabit seorang guru besar ilmu fikih di Irak.
      Mazhab Maliki didirikan oleh Imam Malik bin Anas, yang lahir tahun 93 Hijriah, dan wafat tahun 179 Hijriah. Imam Malik bin Anas berasal dari Madinah.
     Mazhab Syafii didirikan oleh Muhammad bin Idris, yang lahir tahun 150 Hijriah, dan wafat tahun 200 Hijirah. Muhammad bin Idris berasal dari Gaza, Palestina.
     Mazhab Hambali didirikan oleh Ahmad bin Hambal, yang lahir tahun 164 Hijriah, dan wafat tahun 241 Hijriah. Ahmad bin Hambal berasal dari Baghdad, Irak.
    Semua mazhab sepakat dasar hukum salat Jumat adalah Al-Quran surah Al-Jumuah, surah ke-62 ayat 9.
   “Hai orang-orang yang beriman, apabila diseru untuk menunaikan salat Jumat, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkan jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui.”
    Lokasi atau tempat salat Jumat. Menurut Imam Hanafi, Syafii, Hambali lokasi atau tempat melakukan salat Jumat boleh dikerjakan di masjid, dan boleh dilaksanakan di tempat lain, selain masjid.
     Sedangkan menurut Imam Maliki salat Jumat harus dilaksanakan di masjid dan dilarang dilakukan di tempat selain masjid.
    Jumlah minimal Jamaah salat Jumat. Menurut Imam Hanafi jumlah jamaah salat Jumat minimal 5 orang termasuk imam, dan menurut Imam Maliki jumlah jamaah salat Jumat minimal 13 orang termasuk imam.
      Menurut Imam Hambali dan Syafii jumlah jamaah salat Jumat minimal 41 orang termasuk imam.
    Posisi khatib ketika sedang berkhutbah. Menurut Imam Maliki dan  Syafii ketika khatib sedang berkhutbah Jumat, maka seorang khatib wajib berdiri. Menurut Imam Hanafi dan Hambali ketika khatib sedang berkhutbah Jumat, maka seorang khatib tidak wajib berdiri
    Materi minimal yang disampaikan seorang khatib ketika berkhutbah Jumat. Menurut Imam Hanafi seorang khatib ketika berkhutbah salat Jumat minimal membacakan “hamdalah” dan “istighfar”.
    Menurut Imam Maliki seorang khatib ketika berkhutbah salat Jumat minimal mengucapkan pesan takwa kepada Allah.
    Menurut Imam Syafii seorang khatib ketika berkhutbah salat Jumat, pada khutbah pertama minimal menyampaikan “hamdalah”, “selawat Nabi”, pesan takwa, dan membacakan ayat Al-Quran. Pada khutbah kedua minimal mengucapkan “hamdalah”, selawat Nabi, pesan takwa, dan doa untuk semua umat Islam.
      Menurut Imam Hambali seorang khatib ketika berkhutbah salat Jumat minimal mengucapkan “hamdalah”, selawat Nabi, pesan takwa, dan membacakan ayat Al-Quran.
    Posisi khatib ketika duduk di antara dua khutbah Jumat. Menurut Imam Maliki, dan Hanafi, khatib saat Jumat tidak wajib duduk di antara dua khutbah.
      Menurut Imam Syafii, khatib salat Jumat wajib duduk sebentar di antara dua khutbah. Imam Hambali menyatakan khatib boleh duduk atau tidak duduk di antara dua khutbah.
    Bahasa yang digunakan khatib ketika berkhutbah Jumat. Menurut Imam Maliki, ketika khatib berkhutbah Jumat, maka khatib wajib menggunakan bahasa Arab. Menurut Imam  Hanafi, Syafii, dan Hambali, khatib tidak wajib menggunakan bahasa Arab ketika berkhutbah.
      Bacaan surat Al-Quran setelah membaca surah Al-Fatihah dalam salat Jumat. Menurut Imam Maliki pada rakaat pertama, imam salat Jumat harus membaca surah Al-Jumuah atau surah ke-62. Sedangkan pada rakaat kedua, imam harus membaca surah  Al-Ghosiyah, surah ke-88, setelah membaca surah Al-Fatihah.
     Menurut Imam Syafii pada rakaat pertama, imam salat Jumat harus membaca surah Al-Jumuah atau surah ke-62. Sedangkan pada rakaat kedua, imam harus membaca surah  Al-Munafikun, surah ke-63, setelah membaca surah Al-Fatihah.
       Menurut Imam Hanafi, hukumnya makruh, jika imam salat Jumat, ditentukan bacaan suratnya, setelah membaca surah Al-Fatihah.
     Wajib adalah perbuatan yang harus dilakukan, dan tidak boleh ditinggalkan. Sunah adalah perbuatan apabila dilakukan mendapatkan pahala dan apabila tidak dikerjakan tidak berdosa.
     Mubah adalah perbuatan yang boleh dilakukan dan boleh tidak dikerjakan. Makruh adalah perbuatan yang dianjurkan untuk ditinggalkan, tetapi tidak berdosa apabila dikerjakan. Haram adalah perbuatan yang terlarang untuk dikerjakan.
Daftar Pustaka.
1. Mughniyah, Muhammad Jawad. Fiqih 5 mazhab, Muhammad Jawad Mughniyah. Penerbit Lentera Jakarta, 2007)
2. Asy-Syinawi, Abdul Aziz. Biografi Empat Mazhab. Penerbit Beirut Publishing. Ummul Qura. Jakarta, 2013.

Thursday, August 17, 2017

210. Quraish

Sebuah tulisan bertajuk “Nasehat Bapaknya Najwa Buat Anaknya” mendadak viral di sejumlah perangkat media sosial. Netizen merasa tulisan Prof. Dr. Quraish Shihab yang merupakan ayah dari Najwa Shihab tersebut sangat menginspirasi.

“Tulisan itu rangkuman dari isi beberapa ceramah dan tulisan Abi. Tapi tidak tahu siapa mengumpulkannya dalam bentuk narasi seperti itu,” demikian tulis Nana, panggilan akrab Najwa Shihab, saat dikonfirmasi.

Berikut ini adalah tulisan mantan Menteri Agama dan Rektor IAIN Jakarta tersebut:
   -----------------------------------------------------------------

“Keberuntungan” kadang memainkan perannya dalam kehidupan manusia, sekalipun kerap tidak masuk akal. Karena itulah takdir mereka.

Boleh jadi keterlambatanmu dari suatu perjalanan adalah keselamatanmu. Boleh jadi tertundanya pernikahanmu adalah suatu keberkahan. Boleh jadi dipecatnya engkau dari pekerjaan adalah suatu maslahat.

Boleh jadi sampai sekarang engkau belum dikarunia anak itu adalah kebaikan dalam hidupmu. Boleh jadi engkau membenci sesuatu tapi ternyata itu baik untukmu, karena Allah Maha Mengetahui Sedangkan engkau tidak mengetahui.

Sebab itu, jangan engkau merasa gundah terhadap segala sesuatu yang terjadi padamu, karena semuanya sudah atas izin Allah. Jangan banyak mengeluh karena hanya akan menambah kegelisahan.

Perbanyaklah bersyukur, Alhamdulillah, itu yang akan mendatangkan kebahagiaan. Terus ucap alhamdulillah, alhamdulillah, alhamdulillah, sampai engkau tak mampu lagi mengucapkannya.

Selama kita masih bisa tidur tanpa obat tidur, kita masih bisa bangun tidur hanya dengan satu bunyi suara, kita terbangun tanpa melihat adanya alat-alat medis yang menempel di tubuh kita, itu pertanda bahwa kita hidup sejahtera.

Alhamdulillah, Alhamdulillah, Alhamdulillah, ucapkan sampai engkau tak mampu lagi mengucapkannya.

Jangan selalu melihat ke belakang karena disana ada masa lalu yang menghantuimu. Jangan selalu melihat ke depan karena terkadang ada masa depan yang membuatmu gelisah. Namun lihatlah ke atas karena di sana ada Allah yang membuatmu bahagia.

Tidak harus banyak teman agar engkau menjadi populer, singa sang raja hutan lebih sering berjalan sendirian. Tapi kawanan domba selalu bergerombol. Jari-jari juga demikian; kelingking, jari manis, jari tengah, jari telunjuk, semuanya berjajar bersampingan kecuali jari jempol dia yang paling jauh diantara keempat itu.

Namun perhatikan engkau akan terkejut kalau semua jari-jari itu tidak akan bisa berfungsi dengan baik tanpa adanya jempol yang sendiri yang jauh dari mereka.

Karena itu, sebenarnya yang diperhitungkan bukanlah jumlah teman yang ada di sekelilingmu akan tetapi banyaknya cinta dan manfaat yang ada di sekitarmu, sekalipun engkau jauh dari mereka.

Menyibukkan diri dalam pekerjaan akan menyelamatkan dirimu dari tiga masalah; yaitu kebosanan, kehinaan, dan kemiskinan.

Aku tidak pernah mengetahui adanya rumus kesuksesan, tapi aku menyadari bahwa “rumus kegagalan adalah sikap asal semua orang”.

Teman itu seperti anak tangga, boleh jadi ia membawamu ke atas atau ternyata sebaliknya membawamu ke bawah, maka hati-hatilah anak tangga mana yang sedang engkau lalui.

Hidup ini akan terus berlanjut baik itu engkau tertawa ataupun menangis, karena itu jangan jadikan hidupmu penuh kesedihan yang tidak bermanfaat sama sekali.

Berlapang dadalah, maafkanlah, dan serahkan urusan manusia kepada Tuhan, karena engkau, mereka, dan kita semua, semuanya akan berpulang kepadaNya.

Jangan tinggalkan sholatmu sekali pun. Karena di sana, jutaan manusia yang berada di bawah tanah, sedang berharap sekiranya mereka diperbolehkan kembali hidup mereka akan bersujud kepada Allah SWT walau sekali sujud.

Jangan selalu bersandar pada cinta, karena itu jarang terjadi. Jangan bersandar kepada manusia karena ia akan pergi. Tapi bersandarlah kepada Allah SWT, Tuhan YME, karena Dialah yang menentukan segala nya.(Obsessionnews.com)

209. QABIL

QABIL MEMBUNUH HABIL,
PEMBUNUHAN PERTAMA KARENA WANITA
Oleh: Drs. H. Yusron Hadi, M.M.
Kepala SMP Negeri 1 Balongbendo, Sidoarjo


            Beberapa orang bertanya,”Bagaimana kisah tentang Qabil dan Habil keturunan Nabi Adam dan Hawa? Mohon dijelaskan tentang kisah tentang Qabil dan Habil keturunan Nabi Adam dan Hawa? Berikut ini penjelasannya.
     Para ulama berkata,”Nabi Adam dan istrinya, Hawa, selalu mendapatkan keturunan kembar yang berbeda jenis kelamin. Yang satu seorang bayi lelaki, dan kembarannya seorang bayi wanita. Begitu terjadi berkali-kali, sehingga Nabi Adam dan Hawa memiliki banyak keturunan.”
           Al-Quran surah An-Nisa, surah ke-4 ayat 1.
      “Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakanmu dari diri yang satu, dan darinya Allah menciptakan istrinya, dan dari keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan jagalah hubungan silaturahmi. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.”
      Al-Quran surah Al-A’raf, surah ke-7 ayat 189-190.
      “Allah yang menciptakan kamu dari diri yang satu dan darinya Allah menciptakan istrinya, agar dia merasa senang kepadanya. Maka setelah dicampurinya, istrinya itu mengandung kandungan yang ringan, dan teruslah dia merasa ringan (beberapa waktu). Kemudian tatkala dia merasa berat, keduanya (suami istri) bermohon kepada Allah, Tuhannya seraya berkata,”Sesungguhnya jika Engkau memberi kami anak yang sempurna, tentulah kami termasuk orang-orang yang bersyukur”.
      “Tatkala Allah memberikan kepada keduanya seorang anak yang sempurna, maka keduanya menjadikan sekutu bagi Allah terhadap anak yang telah dianugerahkan-Nya kepada keduanya itu. Maha Tinggi Allah dari apa yang mereka persekutukan.”
        Al-Quran surah Al-Mukminun, surah ke-23 ayat 12-13.
      “Dan sesungguhnya Kami menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah. Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim)”.
     Dikisahkan bahwa Nabi Adam menikahkan anaknya yang sudah dewasa secara silang. Misalnya si kakak, Qabil, dinikahkan dengan kembaran Habil, si adik, sebaliknya Habil, sang adik, dinikahkan dengan kembaran Qabil, sang kakak.
     Kembaran Qabil adalah putri Nabi Adam yang paling cantik. Qabil ingin menikah dengan kembarannya yang cantik, tetapi Nabi Adam ingin menikahkan Qabil dengan kembaran Habil, maka Qabil menolaknya.
     Qabil menolak rencana Habil menikah dengan kembarannya yang cantik, maka Nabi Adam memerintahkan Qabil dan Habil  untuk berkurban.
      Habil adalah seorang peternak, lalu dia memberikan kurban seekor kambing yang gemuk, sedangkan Qabil adalah seorang petani, tetapi dia memberikan kurban hasil pertanian yang jelek.
     Kurban Habil diterima, sedangkan kurban Qabil tidak diterima, maka Qabil marah dan berkata,”Aku akan membunuhmu, agar kamu tidak bisa menikahi saudara kembaranku yang cantik.” Habil menjawab,” Sesungguhnya Allah hanya menerima kurban dari orang yang bertakwa.”
            Al-Quran surah Al-Maidah, surah ke-5 ayat 27.
      “Ceriterakan kepada mereka kisah kedua putra Adam, yaitu Habil dan Kabil menurut yang sebenarnya, ketika keduanya mempersembahkan kurban, maka diterima dari salah seorang dari mereka, yaitu Habil dan tidak diterima dari yang lain, yaitu Kabil. Kabil berkata, “Aku pasti membunuhmu!” Berkata Habil, “Sesungguhnya Allah hanya menerima (kurban) dari orang-orang yang bertakwa”.
            Al-Quran surah Al-Maidah, surah ke-5 ayat 28.
      “Sungguh jika kamu menggerakkan tanganmu kepadaku untuk membunuhku, aku tidak akan menggerakkan tanganku kepadamu untuk membunuhmu. Sesungguhnya aku takut kepada Allah, Tuhan seru sekalian alam”.
           Al-Quran surah Al-Maidah, surah ke-5 ayat 29.
      "Sesungguhnya aku ingin agar kamu kembali dengan (membawa) dosa (membunuh) ku dan dosamu sendiri, maka kamu akan menjadi penghuni neraka, dan yang demikian pembalasan bagi orang-orang yang zalim”.
      Al-Quran surah Al-Maidah, surah ke-5 ayat 30.
     “Maka hawa nafsu Qabil menjadikannya menganggap mudah membunuh saudaranya, sebab itu dibunuhnya, maka dia menjadi seorang di antara orang-orang yang merugi.”
      Al-Quran surah Al-Maidah, surah ke-5 ayat 31.
      “Kemudian Allah menyuruh seekor burung gagak menggali bumi untuk memperlihatkan kepadanya, yaitu Qabil, cara seharusnya dia menguburkan mayat saudaranya. Berkata Qabil,”Aduhai aku celaka, mengapa aku tidak mampu berbuat seperti burung gagak, lalu aku dapat menguburkan mayat saudaraku?” Dia menjadi seorang di antara orang-orang yang menyesal”.
      Nabi bersabda,”Apabila dua orang Islam saling berhadapan dengan menghunus pedangnya masing-masing, maka orang yang membunuh dan orang yang terbunuh, keduanya masuk neraka.”
     Sahabat bertanya,”Ya Rasul, bagaimana dengan Qabil dan Habil?” Nabi menjawab,”Sesungguhnya, Habil tidak melawan dan tidak berusaha membunuh Qabil.”
     Demikian kisah Qabil yang menjadi manusia pembunuh pertama karena memperebutkan seorang wanita yang cantik.
Daftar Pustaka.
1. Katsir, Ibnu. Kisah Para Nabi. Penerbit Pustaka Azzam, Jakarta 2013
2. Bahjat, Ahmad. Nabi Nabi Allah. Penerbit Qisthi Press, Jakarta 2015
3. Al-Quran Digital, Versi 3.2. Digital Qur’an Ver 3.2

209. QABIL

QABIL MEMBUNUH HABIL,
PEMBUNUHAN PERTAMA KARENA WANITA
Oleh: Drs. H. Yusron Hadi, M.M.
Kepala SMP Negeri 1 Balongbendo, Sidoarjo


            Beberapa orang bertanya,”Bagaimana kisah tentang Qabil dan Habil keturunan Nabi Adam dan Hawa? Mohon dijelaskan tentang kisah tentang Qabil dan Habil keturunan Nabi Adam dan Hawa? Berikut ini penjelasannya.
     Para ulama berkata,”Nabi Adam dan istrinya, Hawa, selalu mendapatkan keturunan kembar yang berbeda jenis kelamin. Yang satu seorang bayi lelaki, dan kembarannya seorang bayi wanita. Begitu terjadi berkali-kali, sehingga Nabi Adam dan Hawa memiliki banyak keturunan.”
           Al-Quran surah An-Nisa, surah ke-4 ayat 1.
      “Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakanmu dari diri yang satu, dan darinya Allah menciptakan istrinya, dan dari keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan jagalah hubungan silaturahmi. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.”
      Al-Quran surah Al-A’raf, surah ke-7 ayat 189-190.
      “Allah yang menciptakan kamu dari diri yang satu dan darinya Allah menciptakan istrinya, agar dia merasa senang kepadanya. Maka setelah dicampurinya, istrinya itu mengandung kandungan yang ringan, dan teruslah dia merasa ringan (beberapa waktu). Kemudian tatkala dia merasa berat, keduanya (suami istri) bermohon kepada Allah, Tuhannya seraya berkata,”Sesungguhnya jika Engkau memberi kami anak yang sempurna, tentulah kami termasuk orang-orang yang bersyukur”.
      “Tatkala Allah memberikan kepada keduanya seorang anak yang sempurna, maka keduanya menjadikan sekutu bagi Allah terhadap anak yang telah dianugerahkan-Nya kepada keduanya itu. Maha Tinggi Allah dari apa yang mereka persekutukan.”
        Al-Quran surah Al-Mukminun, surah ke-23 ayat 12-13.
      “Dan sesungguhnya Kami menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah. Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim)”.
     Dikisahkan bahwa Nabi Adam menikahkan anaknya yang sudah dewasa secara silang. Misalnya si kakak, Qabil, dinikahkan dengan kembaran Habil, si adik, sebaliknya Habil, sang adik, dinikahkan dengan kembaran Qabil, sang kakak.
     Kembaran Qabil adalah putri Nabi Adam yang paling cantik. Qabil ingin menikah dengan kembarannya yang cantik, tetapi Nabi Adam ingin menikahkan Qabil dengan kembaran Habil, maka Qabil menolaknya.
     Qabil menolak rencana Habil menikah dengan kembarannya yang cantik, maka Nabi Adam memerintahkan Qabil dan Habil  untuk berkurban.
      Habil adalah seorang peternak, lalu dia memberikan kurban seekor kambing yang gemuk, sedangkan Qabil adalah seorang petani, tetapi dia memberikan kurban hasil pertanian yang jelek.
     Kurban Habil diterima, sedangkan kurban Qabil tidak diterima, maka Qabil marah dan berkata,”Aku akan membunuhmu, agar kamu tidak bisa menikahi saudara kembaranku yang cantik.” Habil menjawab,” Sesungguhnya Allah hanya menerima kurban dari orang yang bertakwa.”
            Al-Quran surah Al-Maidah, surah ke-5 ayat 27.
      “Ceriterakan kepada mereka kisah kedua putra Adam, yaitu Habil dan Kabil menurut yang sebenarnya, ketika keduanya mempersembahkan kurban, maka diterima dari salah seorang dari mereka, yaitu Habil dan tidak diterima dari yang lain, yaitu Kabil. Kabil berkata, “Aku pasti membunuhmu!” Berkata Habil, “Sesungguhnya Allah hanya menerima (kurban) dari orang-orang yang bertakwa”.
            Al-Quran surah Al-Maidah, surah ke-5 ayat 28.
      “Sungguh jika kamu menggerakkan tanganmu kepadaku untuk membunuhku, aku tidak akan menggerakkan tanganku kepadamu untuk membunuhmu. Sesungguhnya aku takut kepada Allah, Tuhan seru sekalian alam”.
           Al-Quran surah Al-Maidah, surah ke-5 ayat 29.
      "Sesungguhnya aku ingin agar kamu kembali dengan (membawa) dosa (membunuh) ku dan dosamu sendiri, maka kamu akan menjadi penghuni neraka, dan yang demikian pembalasan bagi orang-orang yang zalim”.
      Al-Quran surah Al-Maidah, surah ke-5 ayat 30.
     “Maka hawa nafsu Qabil menjadikannya menganggap mudah membunuh saudaranya, sebab itu dibunuhnya, maka dia menjadi seorang di antara orang-orang yang merugi.”
      Al-Quran surah Al-Maidah, surah ke-5 ayat 31.
      “Kemudian Allah menyuruh seekor burung gagak menggali bumi untuk memperlihatkan kepadanya, yaitu Qabil, cara seharusnya dia menguburkan mayat saudaranya. Berkata Qabil,”Aduhai aku celaka, mengapa aku tidak mampu berbuat seperti burung gagak, lalu aku dapat menguburkan mayat saudaraku?” Dia menjadi seorang di antara orang-orang yang menyesal”.
      Nabi bersabda,”Apabila dua orang Islam saling berhadapan dengan menghunus pedangnya masing-masing, maka orang yang membunuh dan orang yang terbunuh, keduanya masuk neraka.”
     Sahabat bertanya,”Ya Rasul, bagaimana dengan Qabil dan Habil?” Nabi menjawab,”Sesungguhnya, Habil tidak melawan dan tidak berusaha membunuh Qabil.”
     Demikian kisah Qabil yang menjadi manusia pembunuh pertama karena memperebutkan seorang wanita yang cantik.
Daftar Pustaka.
1. Katsir, Ibnu. Kisah Para Nabi. Penerbit Pustaka Azzam, Jakarta 2013
2. Bahjat, Ahmad. Nabi Nabi Allah. Penerbit Qisthi Press, Jakarta 2015
3. Al-Quran Digital, Versi 3.2. Digital Qur’an Ver 3.2

209. QABIL

QABIL MEMBUNUH HABIL,
PEMBUNUHAN PERTAMA KARENA WANITA
Oleh: Drs. H. Yusron Hadi, M.M.
Kepala SMP Negeri 1 Balongbendo, Sidoarjo


            Beberapa orang bertanya,”Bagaimana kisah tentang Qabil dan Habil keturunan Nabi Adam dan Hawa? Mohon dijelaskan tentang kisah tentang Qabil dan Habil keturunan Nabi Adam dan Hawa? Berikut ini penjelasannya.
     Para ulama berkata,”Nabi Adam dan istrinya, Hawa, selalu mendapatkan keturunan kembar yang berbeda jenis kelamin. Yang satu seorang bayi lelaki, dan kembarannya seorang bayi wanita. Begitu terjadi berkali-kali, sehingga Nabi Adam dan Hawa memiliki banyak keturunan.”
           Al-Quran surah An-Nisa, surah ke-4 ayat 1.
      “Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakanmu dari diri yang satu, dan darinya Allah menciptakan istrinya, dan dari keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan jagalah hubungan silaturahmi. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.”
      Al-Quran surah Al-A’raf, surah ke-7 ayat 189-190.
      “Allah yang menciptakan kamu dari diri yang satu dan darinya Allah menciptakan istrinya, agar dia merasa senang kepadanya. Maka setelah dicampurinya, istrinya itu mengandung kandungan yang ringan, dan teruslah dia merasa ringan (beberapa waktu). Kemudian tatkala dia merasa berat, keduanya (suami istri) bermohon kepada Allah, Tuhannya seraya berkata,”Sesungguhnya jika Engkau memberi kami anak yang sempurna, tentulah kami termasuk orang-orang yang bersyukur”.
      “Tatkala Allah memberikan kepada keduanya seorang anak yang sempurna, maka keduanya menjadikan sekutu bagi Allah terhadap anak yang telah dianugerahkan-Nya kepada keduanya itu. Maha Tinggi Allah dari apa yang mereka persekutukan.”
        Al-Quran surah Al-Mukminun, surah ke-23 ayat 12-13.
      “Dan sesungguhnya Kami menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah. Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim)”.
     Dikisahkan bahwa Nabi Adam menikahkan anaknya yang sudah dewasa secara silang. Misalnya si kakak, Qabil, dinikahkan dengan kembaran Habil, si adik, sebaliknya Habil, sang adik, dinikahkan dengan kembaran Qabil, sang kakak.
     Kembaran Qabil adalah putri Nabi Adam yang paling cantik. Qabil ingin menikah dengan kembarannya yang cantik, tetapi Nabi Adam ingin menikahkan Qabil dengan kembaran Habil, maka Qabil menolaknya.
     Qabil menolak rencana Habil menikah dengan kembarannya yang cantik, maka Nabi Adam memerintahkan Qabil dan Habil  untuk berkurban.
      Habil adalah seorang peternak, lalu dia memberikan kurban seekor kambing yang gemuk, sedangkan Qabil adalah seorang petani, tetapi dia memberikan kurban hasil pertanian yang jelek.
     Kurban Habil diterima, sedangkan kurban Qabil tidak diterima, maka Qabil marah dan berkata,”Aku akan membunuhmu, agar kamu tidak bisa menikahi saudara kembaranku yang cantik.” Habil menjawab,” Sesungguhnya Allah hanya menerima kurban dari orang yang bertakwa.”
            Al-Quran surah Al-Maidah, surah ke-5 ayat 27.
      “Ceriterakan kepada mereka kisah kedua putra Adam, yaitu Habil dan Kabil menurut yang sebenarnya, ketika keduanya mempersembahkan kurban, maka diterima dari salah seorang dari mereka, yaitu Habil dan tidak diterima dari yang lain, yaitu Kabil. Kabil berkata, “Aku pasti membunuhmu!” Berkata Habil, “Sesungguhnya Allah hanya menerima (kurban) dari orang-orang yang bertakwa”.
            Al-Quran surah Al-Maidah, surah ke-5 ayat 28.
      “Sungguh jika kamu menggerakkan tanganmu kepadaku untuk membunuhku, aku tidak akan menggerakkan tanganku kepadamu untuk membunuhmu. Sesungguhnya aku takut kepada Allah, Tuhan seru sekalian alam”.
           Al-Quran surah Al-Maidah, surah ke-5 ayat 29.
      "Sesungguhnya aku ingin agar kamu kembali dengan (membawa) dosa (membunuh) ku dan dosamu sendiri, maka kamu akan menjadi penghuni neraka, dan yang demikian pembalasan bagi orang-orang yang zalim”.
      Al-Quran surah Al-Maidah, surah ke-5 ayat 30.
     “Maka hawa nafsu Qabil menjadikannya menganggap mudah membunuh saudaranya, sebab itu dibunuhnya, maka dia menjadi seorang di antara orang-orang yang merugi.”
      Al-Quran surah Al-Maidah, surah ke-5 ayat 31.
      “Kemudian Allah menyuruh seekor burung gagak menggali bumi untuk memperlihatkan kepadanya, yaitu Qabil, cara seharusnya dia menguburkan mayat saudaranya. Berkata Qabil,”Aduhai aku celaka, mengapa aku tidak mampu berbuat seperti burung gagak, lalu aku dapat menguburkan mayat saudaraku?” Dia menjadi seorang di antara orang-orang yang menyesal”.
      Nabi bersabda,”Apabila dua orang Islam saling berhadapan dengan menghunus pedangnya masing-masing, maka orang yang membunuh dan orang yang terbunuh, keduanya masuk neraka.”
     Sahabat bertanya,”Ya Rasul, bagaimana dengan Qabil dan Habil?” Nabi menjawab,”Sesungguhnya, Habil tidak melawan dan tidak berusaha membunuh Qabil.”
     Demikian kisah Qabil yang menjadi manusia pembunuh pertama karena memperebutkan seorang wanita yang cantik.
Daftar Pustaka.
1. Katsir, Ibnu. Kisah Para Nabi. Penerbit Pustaka Azzam, Jakarta 2013
2. Bahjat, Ahmad. Nabi Nabi Allah. Penerbit Qisthi Press, Jakarta 2015
3. Al-Quran Digital, Versi 3.2. Digital Qur’an Ver 3.2

209. QABIL

QABIL MEMBUNUH HABIL,
PEMBUNUHAN PERTAMA KARENA WANITA
Oleh: Drs. H. Yusron Hadi, M.M.
Kepala SMP Negeri 1 Balongbendo, Sidoarjo


            Beberapa orang bertanya,”Bagaimana kisah tentang Qabil dan Habil keturunan Nabi Adam dan Hawa? Mohon dijelaskan tentang kisah tentang Qabil dan Habil keturunan Nabi Adam dan Hawa? Berikut ini penjelasannya.
     Para ulama berkata,”Nabi Adam dan istrinya, Hawa, selalu mendapatkan keturunan kembar yang berbeda jenis kelamin. Yang satu seorang bayi lelaki, dan kembarannya seorang bayi wanita. Begitu terjadi berkali-kali, sehingga Nabi Adam dan Hawa memiliki banyak keturunan.”
           Al-Quran surah An-Nisa, surah ke-4 ayat 1.
      “Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakanmu dari diri yang satu, dan darinya Allah menciptakan istrinya, dan dari keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan jagalah hubungan silaturahmi. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.”
      Al-Quran surah Al-A’raf, surah ke-7 ayat 189-190.
      “Allah yang menciptakan kamu dari diri yang satu dan darinya Allah menciptakan istrinya, agar dia merasa senang kepadanya. Maka setelah dicampurinya, istrinya itu mengandung kandungan yang ringan, dan teruslah dia merasa ringan (beberapa waktu). Kemudian tatkala dia merasa berat, keduanya (suami istri) bermohon kepada Allah, Tuhannya seraya berkata,”Sesungguhnya jika Engkau memberi kami anak yang sempurna, tentulah kami termasuk orang-orang yang bersyukur”.
      “Tatkala Allah memberikan kepada keduanya seorang anak yang sempurna, maka keduanya menjadikan sekutu bagi Allah terhadap anak yang telah dianugerahkan-Nya kepada keduanya itu. Maha Tinggi Allah dari apa yang mereka persekutukan.”
        Al-Quran surah Al-Mukminun, surah ke-23 ayat 12-13.
      “Dan sesungguhnya Kami menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah. Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim)”.
     Dikisahkan bahwa Nabi Adam menikahkan anaknya yang sudah dewasa secara silang. Misalnya si kakak, Qabil, dinikahkan dengan kembaran Habil, si adik, sebaliknya Habil, sang adik, dinikahkan dengan kembaran Qabil, sang kakak.
     Kembaran Qabil adalah putri Nabi Adam yang paling cantik. Qabil ingin menikah dengan kembarannya yang cantik, tetapi Nabi Adam ingin menikahkan Qabil dengan kembaran Habil, maka Qabil menolaknya.
     Qabil menolak rencana Habil menikah dengan kembarannya yang cantik, maka Nabi Adam memerintahkan Qabil dan Habil  untuk berkurban.
      Habil adalah seorang peternak, lalu dia memberikan kurban seekor kambing yang gemuk, sedangkan Qabil adalah seorang petani, tetapi dia memberikan kurban hasil pertanian yang jelek.
     Kurban Habil diterima, sedangkan kurban Qabil tidak diterima, maka Qabil marah dan berkata,”Aku akan membunuhmu, agar kamu tidak bisa menikahi saudara kembaranku yang cantik.” Habil menjawab,” Sesungguhnya Allah hanya menerima kurban dari orang yang bertakwa.”
            Al-Quran surah Al-Maidah, surah ke-5 ayat 27.
      “Ceriterakan kepada mereka kisah kedua putra Adam, yaitu Habil dan Kabil menurut yang sebenarnya, ketika keduanya mempersembahkan kurban, maka diterima dari salah seorang dari mereka, yaitu Habil dan tidak diterima dari yang lain, yaitu Kabil. Kabil berkata, “Aku pasti membunuhmu!” Berkata Habil, “Sesungguhnya Allah hanya menerima (kurban) dari orang-orang yang bertakwa”.
            Al-Quran surah Al-Maidah, surah ke-5 ayat 28.
      “Sungguh jika kamu menggerakkan tanganmu kepadaku untuk membunuhku, aku tidak akan menggerakkan tanganku kepadamu untuk membunuhmu. Sesungguhnya aku takut kepada Allah, Tuhan seru sekalian alam”.
           Al-Quran surah Al-Maidah, surah ke-5 ayat 29.
      "Sesungguhnya aku ingin agar kamu kembali dengan (membawa) dosa (membunuh) ku dan dosamu sendiri, maka kamu akan menjadi penghuni neraka, dan yang demikian pembalasan bagi orang-orang yang zalim”.
      Al-Quran surah Al-Maidah, surah ke-5 ayat 30.
     “Maka hawa nafsu Qabil menjadikannya menganggap mudah membunuh saudaranya, sebab itu dibunuhnya, maka dia menjadi seorang di antara orang-orang yang merugi.”
      Al-Quran surah Al-Maidah, surah ke-5 ayat 31.
      “Kemudian Allah menyuruh seekor burung gagak menggali bumi untuk memperlihatkan kepadanya, yaitu Qabil, cara seharusnya dia menguburkan mayat saudaranya. Berkata Qabil,”Aduhai aku celaka, mengapa aku tidak mampu berbuat seperti burung gagak, lalu aku dapat menguburkan mayat saudaraku?” Dia menjadi seorang di antara orang-orang yang menyesal”.
      Nabi bersabda,”Apabila dua orang Islam saling berhadapan dengan menghunus pedangnya masing-masing, maka orang yang membunuh dan orang yang terbunuh, keduanya masuk neraka.”
     Sahabat bertanya,”Ya Rasul, bagaimana dengan Qabil dan Habil?” Nabi menjawab,”Sesungguhnya, Habil tidak melawan dan tidak berusaha membunuh Qabil.”
     Demikian kisah Qabil yang menjadi manusia pembunuh pertama karena memperebutkan seorang wanita yang cantik.
Daftar Pustaka.
1. Katsir, Ibnu. Kisah Para Nabi. Penerbit Pustaka Azzam, Jakarta 2013
2. Bahjat, Ahmad. Nabi Nabi Allah. Penerbit Qisthi Press, Jakarta 2015
3. Al-Quran Digital, Versi 3.2. Digital Qur’an Ver 3.2

209. QABIL

QABIL MEMBUNUH HABIL,
PEMBUNUHAN PERTAMA KARENA WANITA
Oleh: Drs. H. Yusron Hadi, M.M.
Kepala SMP Negeri 1 Balongbendo, Sidoarjo


            Beberapa orang bertanya,”Bagaimana kisah tentang Qabil dan Habil keturunan Nabi Adam dan Hawa? Mohon dijelaskan tentang kisah tentang Qabil dan Habil keturunan Nabi Adam dan Hawa? Berikut ini penjelasannya.
     Para ulama berkata,”Nabi Adam dan istrinya, Hawa, selalu mendapatkan keturunan kembar yang berbeda jenis kelamin. Yang satu seorang bayi lelaki, dan kembarannya seorang bayi wanita. Begitu terjadi berkali-kali, sehingga Nabi Adam dan Hawa memiliki banyak keturunan.”
           Al-Quran surah An-Nisa, surah ke-4 ayat 1.
      “Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakanmu dari diri yang satu, dan darinya Allah menciptakan istrinya, dan dari keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan jagalah hubungan silaturahmi. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.”
      Al-Quran surah Al-A’raf, surah ke-7 ayat 189-190.
      “Allah yang menciptakan kamu dari diri yang satu dan darinya Allah menciptakan istrinya, agar dia merasa senang kepadanya. Maka setelah dicampurinya, istrinya itu mengandung kandungan yang ringan, dan teruslah dia merasa ringan (beberapa waktu). Kemudian tatkala dia merasa berat, keduanya (suami istri) bermohon kepada Allah, Tuhannya seraya berkata,”Sesungguhnya jika Engkau memberi kami anak yang sempurna, tentulah kami termasuk orang-orang yang bersyukur”.
      “Tatkala Allah memberikan kepada keduanya seorang anak yang sempurna, maka keduanya menjadikan sekutu bagi Allah terhadap anak yang telah dianugerahkan-Nya kepada keduanya itu. Maha Tinggi Allah dari apa yang mereka persekutukan.”
        Al-Quran surah Al-Mukminun, surah ke-23 ayat 12-13.
      “Dan sesungguhnya Kami menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah. Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim)”.
     Dikisahkan bahwa Nabi Adam menikahkan anaknya yang sudah dewasa secara silang. Misalnya si kakak, Qabil, dinikahkan dengan kembaran Habil, si adik, sebaliknya Habil, sang adik, dinikahkan dengan kembaran Qabil, sang kakak.
     Kembaran Qabil adalah putri Nabi Adam yang paling cantik. Qabil ingin menikah dengan kembarannya yang cantik, tetapi Nabi Adam ingin menikahkan Qabil dengan kembaran Habil, maka Qabil menolaknya.
     Qabil menolak rencana Habil menikah dengan kembarannya yang cantik, maka Nabi Adam memerintahkan Qabil dan Habil  untuk berkurban.
      Habil adalah seorang peternak, lalu dia memberikan kurban seekor kambing yang gemuk, sedangkan Qabil adalah seorang petani, tetapi dia memberikan kurban hasil pertanian yang jelek.
     Kurban Habil diterima, sedangkan kurban Qabil tidak diterima, maka Qabil marah dan berkata,”Aku akan membunuhmu, agar kamu tidak bisa menikahi saudara kembaranku yang cantik.” Habil menjawab,” Sesungguhnya Allah hanya menerima kurban dari orang yang bertakwa.”
            Al-Quran surah Al-Maidah, surah ke-5 ayat 27.
      “Ceriterakan kepada mereka kisah kedua putra Adam, yaitu Habil dan Kabil menurut yang sebenarnya, ketika keduanya mempersembahkan kurban, maka diterima dari salah seorang dari mereka, yaitu Habil dan tidak diterima dari yang lain, yaitu Kabil. Kabil berkata, “Aku pasti membunuhmu!” Berkata Habil, “Sesungguhnya Allah hanya menerima (kurban) dari orang-orang yang bertakwa”.
            Al-Quran surah Al-Maidah, surah ke-5 ayat 28.
      “Sungguh jika kamu menggerakkan tanganmu kepadaku untuk membunuhku, aku tidak akan menggerakkan tanganku kepadamu untuk membunuhmu. Sesungguhnya aku takut kepada Allah, Tuhan seru sekalian alam”.
           Al-Quran surah Al-Maidah, surah ke-5 ayat 29.
      "Sesungguhnya aku ingin agar kamu kembali dengan (membawa) dosa (membunuh) ku dan dosamu sendiri, maka kamu akan menjadi penghuni neraka, dan yang demikian pembalasan bagi orang-orang yang zalim”.
      Al-Quran surah Al-Maidah, surah ke-5 ayat 30.
     “Maka hawa nafsu Qabil menjadikannya menganggap mudah membunuh saudaranya, sebab itu dibunuhnya, maka dia menjadi seorang di antara orang-orang yang merugi.”
      Al-Quran surah Al-Maidah, surah ke-5 ayat 31.
      “Kemudian Allah menyuruh seekor burung gagak menggali bumi untuk memperlihatkan kepadanya, yaitu Qabil, cara seharusnya dia menguburkan mayat saudaranya. Berkata Qabil,”Aduhai aku celaka, mengapa aku tidak mampu berbuat seperti burung gagak, lalu aku dapat menguburkan mayat saudaraku?” Dia menjadi seorang di antara orang-orang yang menyesal”.
      Nabi bersabda,”Apabila dua orang Islam saling berhadapan dengan menghunus pedangnya masing-masing, maka orang yang membunuh dan orang yang terbunuh, keduanya masuk neraka.”
     Sahabat bertanya,”Ya Rasul, bagaimana dengan Qabil dan Habil?” Nabi menjawab,”Sesungguhnya, Habil tidak melawan dan tidak berusaha membunuh Qabil.”
     Demikian kisah Qabil yang menjadi manusia pembunuh pertama karena memperebutkan seorang wanita yang cantik.
Daftar Pustaka.
1. Katsir, Ibnu. Kisah Para Nabi. Penerbit Pustaka Azzam, Jakarta 2013
2. Bahjat, Ahmad. Nabi Nabi Allah. Penerbit Qisthi Press, Jakarta 2015
3. Al-Quran Digital, Versi 3.2. Digital Qur’an Ver 3.2

209. QABIL

QABIL MEMBUNUH HABIL,
PEMBUNUHAN PERTAMA KARENA WANITA
Oleh: Drs. H. Yusron Hadi, M.M.
Kepala SMP Negeri 1 Balongbendo, Sidoarjo


            Beberapa orang bertanya,”Bagaimana kisah tentang Qabil dan Habil keturunan Nabi Adam dan Hawa? Mohon dijelaskan tentang kisah tentang Qabil dan Habil keturunan Nabi Adam dan Hawa? Berikut ini penjelasannya.
     Para ulama berkata,”Nabi Adam dan istrinya, Hawa, selalu mendapatkan keturunan kembar yang berbeda jenis kelamin. Yang satu seorang bayi lelaki, dan kembarannya seorang bayi wanita. Begitu terjadi berkali-kali, sehingga Nabi Adam dan Hawa memiliki banyak keturunan.”
           Al-Quran surah An-Nisa, surah ke-4 ayat 1.
      “Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakanmu dari diri yang satu, dan darinya Allah menciptakan istrinya, dan dari keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan jagalah hubungan silaturahmi. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.”
      Al-Quran surah Al-A’raf, surah ke-7 ayat 189-190.
      “Allah yang menciptakan kamu dari diri yang satu dan darinya Allah menciptakan istrinya, agar dia merasa senang kepadanya. Maka setelah dicampurinya, istrinya itu mengandung kandungan yang ringan, dan teruslah dia merasa ringan (beberapa waktu). Kemudian tatkala dia merasa berat, keduanya (suami istri) bermohon kepada Allah, Tuhannya seraya berkata,”Sesungguhnya jika Engkau memberi kami anak yang sempurna, tentulah kami termasuk orang-orang yang bersyukur”.
      “Tatkala Allah memberikan kepada keduanya seorang anak yang sempurna, maka keduanya menjadikan sekutu bagi Allah terhadap anak yang telah dianugerahkan-Nya kepada keduanya itu. Maha Tinggi Allah dari apa yang mereka persekutukan.”
        Al-Quran surah Al-Mukminun, surah ke-23 ayat 12-13.
      “Dan sesungguhnya Kami menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah. Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim)”.
     Dikisahkan bahwa Nabi Adam menikahkan anaknya yang sudah dewasa secara silang. Misalnya si kakak, Qabil, dinikahkan dengan kembaran Habil, si adik, sebaliknya Habil, sang adik, dinikahkan dengan kembaran Qabil, sang kakak.
     Kembaran Qabil adalah putri Nabi Adam yang paling cantik. Qabil ingin menikah dengan kembarannya yang cantik, tetapi Nabi Adam ingin menikahkan Qabil dengan kembaran Habil, maka Qabil menolaknya.
     Qabil menolak rencana Habil menikah dengan kembarannya yang cantik, maka Nabi Adam memerintahkan Qabil dan Habil  untuk berkurban.
      Habil adalah seorang peternak, lalu dia memberikan kurban seekor kambing yang gemuk, sedangkan Qabil adalah seorang petani, tetapi dia memberikan kurban hasil pertanian yang jelek.
     Kurban Habil diterima, sedangkan kurban Qabil tidak diterima, maka Qabil marah dan berkata,”Aku akan membunuhmu, agar kamu tidak bisa menikahi saudara kembaranku yang cantik.” Habil menjawab,” Sesungguhnya Allah hanya menerima kurban dari orang yang bertakwa.”
            Al-Quran surah Al-Maidah, surah ke-5 ayat 27.
      “Ceriterakan kepada mereka kisah kedua putra Adam, yaitu Habil dan Kabil menurut yang sebenarnya, ketika keduanya mempersembahkan kurban, maka diterima dari salah seorang dari mereka, yaitu Habil dan tidak diterima dari yang lain, yaitu Kabil. Kabil berkata, “Aku pasti membunuhmu!” Berkata Habil, “Sesungguhnya Allah hanya menerima (kurban) dari orang-orang yang bertakwa”.
            Al-Quran surah Al-Maidah, surah ke-5 ayat 28.
      “Sungguh jika kamu menggerakkan tanganmu kepadaku untuk membunuhku, aku tidak akan menggerakkan tanganku kepadamu untuk membunuhmu. Sesungguhnya aku takut kepada Allah, Tuhan seru sekalian alam”.
           Al-Quran surah Al-Maidah, surah ke-5 ayat 29.
      "Sesungguhnya aku ingin agar kamu kembali dengan (membawa) dosa (membunuh) ku dan dosamu sendiri, maka kamu akan menjadi penghuni neraka, dan yang demikian pembalasan bagi orang-orang yang zalim”.
      Al-Quran surah Al-Maidah, surah ke-5 ayat 30.
     “Maka hawa nafsu Qabil menjadikannya menganggap mudah membunuh saudaranya, sebab itu dibunuhnya, maka dia menjadi seorang di antara orang-orang yang merugi.”
      Al-Quran surah Al-Maidah, surah ke-5 ayat 31.
      “Kemudian Allah menyuruh seekor burung gagak menggali bumi untuk memperlihatkan kepadanya, yaitu Qabil, cara seharusnya dia menguburkan mayat saudaranya. Berkata Qabil,”Aduhai aku celaka, mengapa aku tidak mampu berbuat seperti burung gagak, lalu aku dapat menguburkan mayat saudaraku?” Dia menjadi seorang di antara orang-orang yang menyesal”.
      Nabi bersabda,”Apabila dua orang Islam saling berhadapan dengan menghunus pedangnya masing-masing, maka orang yang membunuh dan orang yang terbunuh, keduanya masuk neraka.”
     Sahabat bertanya,”Ya Rasul, bagaimana dengan Qabil dan Habil?” Nabi menjawab,”Sesungguhnya, Habil tidak melawan dan tidak berusaha membunuh Qabil.”
     Demikian kisah Qabil yang menjadi manusia pembunuh pertama karena memperebutkan seorang wanita yang cantik.
Daftar Pustaka.
1. Katsir, Ibnu. Kisah Para Nabi. Penerbit Pustaka Azzam, Jakarta 2013
2. Bahjat, Ahmad. Nabi Nabi Allah. Penerbit Qisthi Press, Jakarta 2015
3. Al-Quran Digital, Versi 3.2. Digital Qur’an Ver 3.2

209. QABIL

QABIL MEMBUNUH HABIL,
PEMBUNUHAN PERTAMA KARENA WANITA
Oleh: Drs. H. Yusron Hadi, M.M.
Kepala SMP Negeri 1 Balongbendo, Sidoarjo


            Beberapa orang bertanya,”Bagaimana kisah tentang Qabil dan Habil keturunan Nabi Adam dan Hawa? Mohon dijelaskan tentang kisah tentang Qabil dan Habil keturunan Nabi Adam dan Hawa? Berikut ini penjelasannya.
     Para ulama berkata,”Nabi Adam dan istrinya, Hawa, selalu mendapatkan keturunan kembar yang berbeda jenis kelamin. Yang satu seorang bayi lelaki, dan kembarannya seorang bayi wanita. Begitu terjadi berkali-kali, sehingga Nabi Adam dan Hawa memiliki banyak keturunan.”
           Al-Quran surah An-Nisa, surah ke-4 ayat 1.
      “Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakanmu dari diri yang satu, dan darinya Allah menciptakan istrinya, dan dari keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan jagalah hubungan silaturahmi. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.”
      Al-Quran surah Al-A’raf, surah ke-7 ayat 189-190.
      “Allah yang menciptakan kamu dari diri yang satu dan darinya Allah menciptakan istrinya, agar dia merasa senang kepadanya. Maka setelah dicampurinya, istrinya itu mengandung kandungan yang ringan, dan teruslah dia merasa ringan (beberapa waktu). Kemudian tatkala dia merasa berat, keduanya (suami istri) bermohon kepada Allah, Tuhannya seraya berkata,”Sesungguhnya jika Engkau memberi kami anak yang sempurna, tentulah kami termasuk orang-orang yang bersyukur”.
      “Tatkala Allah memberikan kepada keduanya seorang anak yang sempurna, maka keduanya menjadikan sekutu bagi Allah terhadap anak yang telah dianugerahkan-Nya kepada keduanya itu. Maha Tinggi Allah dari apa yang mereka persekutukan.”
        Al-Quran surah Al-Mukminun, surah ke-23 ayat 12-13.
      “Dan sesungguhnya Kami menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah. Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim)”.
     Dikisahkan bahwa Nabi Adam menikahkan anaknya yang sudah dewasa secara silang. Misalnya si kakak, Qabil, dinikahkan dengan kembaran Habil, si adik, sebaliknya Habil, sang adik, dinikahkan dengan kembaran Qabil, sang kakak.
     Kembaran Qabil adalah putri Nabi Adam yang paling cantik. Qabil ingin menikah dengan kembarannya yang cantik, tetapi Nabi Adam ingin menikahkan Qabil dengan kembaran Habil, maka Qabil menolaknya.
     Qabil menolak rencana Habil menikah dengan kembarannya yang cantik, maka Nabi Adam memerintahkan Qabil dan Habil  untuk berkurban.
      Habil adalah seorang peternak, lalu dia memberikan kurban seekor kambing yang gemuk, sedangkan Qabil adalah seorang petani, tetapi dia memberikan kurban hasil pertanian yang jelek.
     Kurban Habil diterima, sedangkan kurban Qabil tidak diterima, maka Qabil marah dan berkata,”Aku akan membunuhmu, agar kamu tidak bisa menikahi saudara kembaranku yang cantik.” Habil menjawab,” Sesungguhnya Allah hanya menerima kurban dari orang yang bertakwa.”
            Al-Quran surah Al-Maidah, surah ke-5 ayat 27.
      “Ceriterakan kepada mereka kisah kedua putra Adam, yaitu Habil dan Kabil menurut yang sebenarnya, ketika keduanya mempersembahkan kurban, maka diterima dari salah seorang dari mereka, yaitu Habil dan tidak diterima dari yang lain, yaitu Kabil. Kabil berkata, “Aku pasti membunuhmu!” Berkata Habil, “Sesungguhnya Allah hanya menerima (kurban) dari orang-orang yang bertakwa”.
            Al-Quran surah Al-Maidah, surah ke-5 ayat 28.
      “Sungguh jika kamu menggerakkan tanganmu kepadaku untuk membunuhku, aku tidak akan menggerakkan tanganku kepadamu untuk membunuhmu. Sesungguhnya aku takut kepada Allah, Tuhan seru sekalian alam”.
           Al-Quran surah Al-Maidah, surah ke-5 ayat 29.
      "Sesungguhnya aku ingin agar kamu kembali dengan (membawa) dosa (membunuh) ku dan dosamu sendiri, maka kamu akan menjadi penghuni neraka, dan yang demikian pembalasan bagi orang-orang yang zalim”.
      Al-Quran surah Al-Maidah, surah ke-5 ayat 30.
     “Maka hawa nafsu Qabil menjadikannya menganggap mudah membunuh saudaranya, sebab itu dibunuhnya, maka dia menjadi seorang di antara orang-orang yang merugi.”
      Al-Quran surah Al-Maidah, surah ke-5 ayat 31.
      “Kemudian Allah menyuruh seekor burung gagak menggali bumi untuk memperlihatkan kepadanya, yaitu Qabil, cara seharusnya dia menguburkan mayat saudaranya. Berkata Qabil,”Aduhai aku celaka, mengapa aku tidak mampu berbuat seperti burung gagak, lalu aku dapat menguburkan mayat saudaraku?” Dia menjadi seorang di antara orang-orang yang menyesal”.
      Nabi bersabda,”Apabila dua orang Islam saling berhadapan dengan menghunus pedangnya masing-masing, maka orang yang membunuh dan orang yang terbunuh, keduanya masuk neraka.”
     Sahabat bertanya,”Ya Rasul, bagaimana dengan Qabil dan Habil?” Nabi menjawab,”Sesungguhnya, Habil tidak melawan dan tidak berusaha membunuh Qabil.”
     Demikian kisah Qabil yang menjadi manusia pembunuh pertama karena memperebutkan seorang wanita yang cantik.
Daftar Pustaka.
1. Katsir, Ibnu. Kisah Para Nabi. Penerbit Pustaka Azzam, Jakarta 2013
2. Bahjat, Ahmad. Nabi Nabi Allah. Penerbit Qisthi Press, Jakarta 2015
3. Al-Quran Digital, Versi 3.2. Digital Qur’an Ver 3.2

209. QABIL

QABIL MEMBUNUH HABIL,
PEMBUNUHAN PERTAMA KARENA WANITA
Oleh: Drs. H. Yusron Hadi, M.M.
Kepala SMP Negeri 1 Balongbendo, Sidoarjo


            Beberapa orang bertanya,”Bagaimana kisah tentang Qabil dan Habil keturunan Nabi Adam dan Hawa? Mohon dijelaskan tentang kisah tentang Qabil dan Habil keturunan Nabi Adam dan Hawa? Berikut ini penjelasannya.
     Para ulama berkata,”Nabi Adam dan istrinya, Hawa, selalu mendapatkan keturunan kembar yang berbeda jenis kelamin. Yang satu seorang bayi lelaki, dan kembarannya seorang bayi wanita. Begitu terjadi berkali-kali, sehingga Nabi Adam dan Hawa memiliki banyak keturunan.”
           Al-Quran surah An-Nisa, surah ke-4 ayat 1.
      “Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakanmu dari diri yang satu, dan darinya Allah menciptakan istrinya, dan dari keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan jagalah hubungan silaturahmi. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.”
      Al-Quran surah Al-A’raf, surah ke-7 ayat 189-190.
      “Allah yang menciptakan kamu dari diri yang satu dan darinya Allah menciptakan istrinya, agar dia merasa senang kepadanya. Maka setelah dicampurinya, istrinya itu mengandung kandungan yang ringan, dan teruslah dia merasa ringan (beberapa waktu). Kemudian tatkala dia merasa berat, keduanya (suami istri) bermohon kepada Allah, Tuhannya seraya berkata,”Sesungguhnya jika Engkau memberi kami anak yang sempurna, tentulah kami termasuk orang-orang yang bersyukur”.
      “Tatkala Allah memberikan kepada keduanya seorang anak yang sempurna, maka keduanya menjadikan sekutu bagi Allah terhadap anak yang telah dianugerahkan-Nya kepada keduanya itu. Maha Tinggi Allah dari apa yang mereka persekutukan.”
        Al-Quran surah Al-Mukminun, surah ke-23 ayat 12-13.
      “Dan sesungguhnya Kami menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah. Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim)”.
     Dikisahkan bahwa Nabi Adam menikahkan anaknya yang sudah dewasa secara silang. Misalnya si kakak, Qabil, dinikahkan dengan kembaran Habil, si adik, sebaliknya Habil, sang adik, dinikahkan dengan kembaran Qabil, sang kakak.
     Kembaran Qabil adalah putri Nabi Adam yang paling cantik. Qabil ingin menikah dengan kembarannya yang cantik, tetapi Nabi Adam ingin menikahkan Qabil dengan kembaran Habil, maka Qabil menolaknya.
     Qabil menolak rencana Habil menikah dengan kembarannya yang cantik, maka Nabi Adam memerintahkan Qabil dan Habil  untuk berkurban.
      Habil adalah seorang peternak, lalu dia memberikan kurban seekor kambing yang gemuk, sedangkan Qabil adalah seorang petani, tetapi dia memberikan kurban hasil pertanian yang jelek.
     Kurban Habil diterima, sedangkan kurban Qabil tidak diterima, maka Qabil marah dan berkata,”Aku akan membunuhmu, agar kamu tidak bisa menikahi saudara kembaranku yang cantik.” Habil menjawab,” Sesungguhnya Allah hanya menerima kurban dari orang yang bertakwa.”
            Al-Quran surah Al-Maidah, surah ke-5 ayat 27.
      “Ceriterakan kepada mereka kisah kedua putra Adam, yaitu Habil dan Kabil menurut yang sebenarnya, ketika keduanya mempersembahkan kurban, maka diterima dari salah seorang dari mereka, yaitu Habil dan tidak diterima dari yang lain, yaitu Kabil. Kabil berkata, “Aku pasti membunuhmu!” Berkata Habil, “Sesungguhnya Allah hanya menerima (kurban) dari orang-orang yang bertakwa”.
            Al-Quran surah Al-Maidah, surah ke-5 ayat 28.
      “Sungguh jika kamu menggerakkan tanganmu kepadaku untuk membunuhku, aku tidak akan menggerakkan tanganku kepadamu untuk membunuhmu. Sesungguhnya aku takut kepada Allah, Tuhan seru sekalian alam”.
           Al-Quran surah Al-Maidah, surah ke-5 ayat 29.
      "Sesungguhnya aku ingin agar kamu kembali dengan (membawa) dosa (membunuh) ku dan dosamu sendiri, maka kamu akan menjadi penghuni neraka, dan yang demikian pembalasan bagi orang-orang yang zalim”.
      Al-Quran surah Al-Maidah, surah ke-5 ayat 30.
     “Maka hawa nafsu Qabil menjadikannya menganggap mudah membunuh saudaranya, sebab itu dibunuhnya, maka dia menjadi seorang di antara orang-orang yang merugi.”
      Al-Quran surah Al-Maidah, surah ke-5 ayat 31.
      “Kemudian Allah menyuruh seekor burung gagak menggali bumi untuk memperlihatkan kepadanya, yaitu Qabil, cara seharusnya dia menguburkan mayat saudaranya. Berkata Qabil,”Aduhai aku celaka, mengapa aku tidak mampu berbuat seperti burung gagak, lalu aku dapat menguburkan mayat saudaraku?” Dia menjadi seorang di antara orang-orang yang menyesal”.
      Nabi bersabda,”Apabila dua orang Islam saling berhadapan dengan menghunus pedangnya masing-masing, maka orang yang membunuh dan orang yang terbunuh, keduanya masuk neraka.”
     Sahabat bertanya,”Ya Rasul, bagaimana dengan Qabil dan Habil?” Nabi menjawab,”Sesungguhnya, Habil tidak melawan dan tidak berusaha membunuh Qabil.”
     Demikian kisah Qabil yang menjadi manusia pembunuh pertama karena memperebutkan seorang wanita yang cantik.
Daftar Pustaka.
1. Katsir, Ibnu. Kisah Para Nabi. Penerbit Pustaka Azzam, Jakarta 2013
2. Bahjat, Ahmad. Nabi Nabi Allah. Penerbit Qisthi Press, Jakarta 2015
3. Al-Quran Digital, Versi 3.2. Digital Qur’an Ver 3.2

209. QABIL

QABIL MEMBUNUH HABIL,
PEMBUNUHAN PERTAMA KARENA WANITA
Oleh: Drs. H. Yusron Hadi, M.M.
Kepala SMP Negeri 1 Balongbendo, Sidoarjo


            Beberapa orang bertanya,”Bagaimana kisah tentang Qabil dan Habil keturunan Nabi Adam dan Hawa? Mohon dijelaskan tentang kisah tentang Qabil dan Habil keturunan Nabi Adam dan Hawa? Berikut ini penjelasannya.
     Para ulama berkata,”Nabi Adam dan istrinya, Hawa, selalu mendapatkan keturunan kembar yang berbeda jenis kelamin. Yang satu seorang bayi lelaki, dan kembarannya seorang bayi wanita. Begitu terjadi berkali-kali, sehingga Nabi Adam dan Hawa memiliki banyak keturunan.”
           Al-Quran surah An-Nisa, surah ke-4 ayat 1.
      “Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakanmu dari diri yang satu, dan darinya Allah menciptakan istrinya, dan dari keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan jagalah hubungan silaturahmi. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.”
      Al-Quran surah Al-A’raf, surah ke-7 ayat 189-190.
      “Allah yang menciptakan kamu dari diri yang satu dan darinya Allah menciptakan istrinya, agar dia merasa senang kepadanya. Maka setelah dicampurinya, istrinya itu mengandung kandungan yang ringan, dan teruslah dia merasa ringan (beberapa waktu). Kemudian tatkala dia merasa berat, keduanya (suami istri) bermohon kepada Allah, Tuhannya seraya berkata,”Sesungguhnya jika Engkau memberi kami anak yang sempurna, tentulah kami termasuk orang-orang yang bersyukur”.
      “Tatkala Allah memberikan kepada keduanya seorang anak yang sempurna, maka keduanya menjadikan sekutu bagi Allah terhadap anak yang telah dianugerahkan-Nya kepada keduanya itu. Maha Tinggi Allah dari apa yang mereka persekutukan.”
        Al-Quran surah Al-Mukminun, surah ke-23 ayat 12-13.
      “Dan sesungguhnya Kami menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah. Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim)”.
     Dikisahkan bahwa Nabi Adam menikahkan anaknya yang sudah dewasa secara silang. Misalnya si kakak, Qabil, dinikahkan dengan kembaran Habil, si adik, sebaliknya Habil, sang adik, dinikahkan dengan kembaran Qabil, sang kakak.
     Kembaran Qabil adalah putri Nabi Adam yang paling cantik. Qabil ingin menikah dengan kembarannya yang cantik, tetapi Nabi Adam ingin menikahkan Qabil dengan kembaran Habil, maka Qabil menolaknya.
     Qabil menolak rencana Habil menikah dengan kembarannya yang cantik, maka Nabi Adam memerintahkan Qabil dan Habil  untuk berkurban.
      Habil adalah seorang peternak, lalu dia memberikan kurban seekor kambing yang gemuk, sedangkan Qabil adalah seorang petani, tetapi dia memberikan kurban hasil pertanian yang jelek.
     Kurban Habil diterima, sedangkan kurban Qabil tidak diterima, maka Qabil marah dan berkata,”Aku akan membunuhmu, agar kamu tidak bisa menikahi saudara kembaranku yang cantik.” Habil menjawab,” Sesungguhnya Allah hanya menerima kurban dari orang yang bertakwa.”
            Al-Quran surah Al-Maidah, surah ke-5 ayat 27.
      “Ceriterakan kepada mereka kisah kedua putra Adam, yaitu Habil dan Kabil menurut yang sebenarnya, ketika keduanya mempersembahkan kurban, maka diterima dari salah seorang dari mereka, yaitu Habil dan tidak diterima dari yang lain, yaitu Kabil. Kabil berkata, “Aku pasti membunuhmu!” Berkata Habil, “Sesungguhnya Allah hanya menerima (kurban) dari orang-orang yang bertakwa”.
            Al-Quran surah Al-Maidah, surah ke-5 ayat 28.
      “Sungguh jika kamu menggerakkan tanganmu kepadaku untuk membunuhku, aku tidak akan menggerakkan tanganku kepadamu untuk membunuhmu. Sesungguhnya aku takut kepada Allah, Tuhan seru sekalian alam”.
           Al-Quran surah Al-Maidah, surah ke-5 ayat 29.
      "Sesungguhnya aku ingin agar kamu kembali dengan (membawa) dosa (membunuh) ku dan dosamu sendiri, maka kamu akan menjadi penghuni neraka, dan yang demikian pembalasan bagi orang-orang yang zalim”.
      Al-Quran surah Al-Maidah, surah ke-5 ayat 30.
     “Maka hawa nafsu Qabil menjadikannya menganggap mudah membunuh saudaranya, sebab itu dibunuhnya, maka dia menjadi seorang di antara orang-orang yang merugi.”
      Al-Quran surah Al-Maidah, surah ke-5 ayat 31.
      “Kemudian Allah menyuruh seekor burung gagak menggali bumi untuk memperlihatkan kepadanya, yaitu Qabil, cara seharusnya dia menguburkan mayat saudaranya. Berkata Qabil,”Aduhai aku celaka, mengapa aku tidak mampu berbuat seperti burung gagak, lalu aku dapat menguburkan mayat saudaraku?” Dia menjadi seorang di antara orang-orang yang menyesal”.
      Nabi bersabda,”Apabila dua orang Islam saling berhadapan dengan menghunus pedangnya masing-masing, maka orang yang membunuh dan orang yang terbunuh, keduanya masuk neraka.”
     Sahabat bertanya,”Ya Rasul, bagaimana dengan Qabil dan Habil?” Nabi menjawab,”Sesungguhnya, Habil tidak melawan dan tidak berusaha membunuh Qabil.”
     Demikian kisah Qabil yang menjadi manusia pembunuh pertama karena memperebutkan seorang wanita yang cantik.
Daftar Pustaka.
1. Katsir, Ibnu. Kisah Para Nabi. Penerbit Pustaka Azzam, Jakarta 2013
2. Bahjat, Ahmad. Nabi Nabi Allah. Penerbit Qisthi Press, Jakarta 2015
3. Al-Quran Digital, Versi 3.2. Digital Qur’an Ver 3.2