Organisasi Profesi Guru

Presiden Jokowi memberi hormat kepada Guru-Guru se Indonesia.

Tema Gambar Slide 2

Deskripsi gambar slide bisa dituliskan disini dengan beberapa kalimat yang menggambarkan gambar slide yang anda pasang, edit slide ini melalui edit HTML template.

Tema Gambar Slide 3

Deskripsi gambar slide bisa dituliskan disini dengan beberapa kalimat yang menggambarkan gambar slide yang anda pasang, edit slide ini melalui edit HTML template.

Thursday, August 24, 2017

225. IMAM

SIFAT KHALIFAH YANG TERPUJI
Oleh: Drs. H. Yusron Hadi, M.M.


       Beberapa orang bertanya,”Mohon dijelaskan tentang sifat-sifat yang terpuji seorang khalifah di bumi? Profesor Quraish Shihab menjelaskannya.
         Para ulama menjelaskan dalam tafsirnya bahwa kata “imam” mempunyai makna yang sama dengan “khalifah’, tetapi kata “imam” digunakan untuk keteladanan, karena terambil dari kata yang mengandung arti “depan”, sedangkan kata “khalifah” terambil dari kata “belakang”.
     Informasi tentang sifat terpuji dari seorang khalifah dapat ditelusuri melalui ayat yang menggunakan kata Imam.
     Dalam Al-Quran, kata “imam” terulang sebanyak 7 kali dengan makna yang berbeda, tetapi semuanya bertumpu pada arti “sesuatu yang dituju atau diteladani”.        Al-Quran surah Al-Baqarah, surah ke-2 ayat 124.
           ••              
      “Dan (ingatlah), ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan), lalu Ibrahim menunaikannya. Allah berfirman, “Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu imam bagi seluruh manusia”. Ibrahim berkata, “(Dan saya mohon juga) dari keturunanku”. Allah berfirman, “Janji-Ku tidak mengenai orang yang zalim”.
      Al-Quran surah Al-Furqan, surah ke-25 ayat 74.
            •   
      “Dan orang berkata, “Ya Tuhan kami, anugerahkan kepada kami isteri-isteri dan keturunan kami sebagai penyenang hati, dan Jadikan kami imam bagi orang-orang yang bertakwa”.
      Nabi Ibrahim dijanjikan oleh Allah untuk dijadikan imam, dan ketika beliau bermohon agar kehormatan ini diperoleh pula oleh anak cucunya, Allah memberikan syarat, yaitu “Janji-Ku ini tidak akan diperoleh oleh orang yang berlaku aniaya”.
      Jadi, salah satu sifat imam atau khalifah adalah sifat adil terhadap diri, keluarga, manusia,  lingkungan, dan terhadap Allah.
       Khalifah yang disebutkan namanya dalam Al-Quran, yaitu Nabi Adam dan Daud, keduanya pernah melakukan penganiayaan terhadap diri dan orang lain, tetapi mereka  bertobat dan mendapatkan pengampunan.
     Peristiwa Nabi Adam dan penyesalannya cukup populer, yaitu Al-Quran surah Al-A’raf, surah-7 ayat 23.
         •     
      “Keduanya berkata, “Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi”.
      Al-Quran surah Shad, surah ke-38 ayat 22.
                             
      “Ketika mereka masuk (menemui) Daud, lalu dia terkejut karena kedatangan mereka. Mereka berkata, “Kamu jangan merasa takut, kami adalah dua orang yang berperkara yang salah seorang dari kami berbuat zalim kepada yang lain, maka beri keputusan dengan adil dan kamu jangan menyimpang dari kebenaran dan tunjuki kami ke jalan yang lurus”.
        ••          •               
      “Hai Daud, sesungguhnya Kami menjadikanmu khalifah (penguasa) di muka bumi, maka berilah keputusan (perkara) di antara manusia dengan adil dan jangan kamu mengikuti hawa nafsu, karena akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Sesungguhnya orang-orang yang sesat dari jalan Allah akan mendapat azab yang berat, karena mereka melupakan hari perhitungan”.
      Para ulama menegaskan bahwa seorang khalifah harus mampu menunjukkan jalan yang benar dan mengantarkan umatnya menuju kesejahteraan. Seorang khalifah harus menunjukkan arah yang benar, dan memberikan teladan untuk mencapainya.
      Kesimpulannya, seorang khalifah yang ideal harus memiliki sifat luhur yang telah membudaya pada dirinya. Yaitu yang pertama, menggambarkan tingkat keimanan yang bersemi di dalam dadanya, sedangkan yang kedua, menggambarkan contoh teladan nyata yang dilakukan dalam kehidupan sehari-hari.  
Daftar Pustaka
1. Shihab, M.Quraish. Lentera Hati. Kisah dan Hikmah Kehidupan. Penerbit Mizan, 1994.  
2. Shihab, M.Quraish. E-book Membumikan Al-Quran.
3. Al-Quran Digital, Versi 3.2. Digital Qur’an Ver 3.2

225. IMAM

SIFAT KHALIFAH YANG TERPUJI
Oleh: Drs. H. Yusron Hadi, M.M.


       Beberapa orang bertanya,”Mohon dijelaskan tentang sifat-sifat yang terpuji seorang khalifah di bumi? Profesor Quraish Shihab menjelaskannya.
         Para ulama menjelaskan dalam tafsirnya bahwa kata “imam” mempunyai makna yang sama dengan “khalifah’, tetapi kata “imam” digunakan untuk keteladanan, karena terambil dari kata yang mengandung arti “depan”, sedangkan kata “khalifah” terambil dari kata “belakang”.
     Informasi tentang sifat terpuji dari seorang khalifah dapat ditelusuri melalui ayat yang menggunakan kata Imam.
     Dalam Al-Quran, kata “imam” terulang sebanyak 7 kali dengan makna yang berbeda, tetapi semuanya bertumpu pada arti “sesuatu yang dituju atau diteladani”.        Al-Quran surah Al-Baqarah, surah ke-2 ayat 124.
           ••              
      “Dan (ingatlah), ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan), lalu Ibrahim menunaikannya. Allah berfirman, “Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu imam bagi seluruh manusia”. Ibrahim berkata, “(Dan saya mohon juga) dari keturunanku”. Allah berfirman, “Janji-Ku tidak mengenai orang yang zalim”.
      Al-Quran surah Al-Furqan, surah ke-25 ayat 74.
            •   
      “Dan orang berkata, “Ya Tuhan kami, anugerahkan kepada kami isteri-isteri dan keturunan kami sebagai penyenang hati, dan Jadikan kami imam bagi orang-orang yang bertakwa”.
      Nabi Ibrahim dijanjikan oleh Allah untuk dijadikan imam, dan ketika beliau bermohon agar kehormatan ini diperoleh pula oleh anak cucunya, Allah memberikan syarat, yaitu “Janji-Ku ini tidak akan diperoleh oleh orang yang berlaku aniaya”.
      Jadi, salah satu sifat imam atau khalifah adalah sifat adil terhadap diri, keluarga, manusia,  lingkungan, dan terhadap Allah.
       Khalifah yang disebutkan namanya dalam Al-Quran, yaitu Nabi Adam dan Daud, keduanya pernah melakukan penganiayaan terhadap diri dan orang lain, tetapi mereka  bertobat dan mendapatkan pengampunan.
     Peristiwa Nabi Adam dan penyesalannya cukup populer, yaitu Al-Quran surah Al-A’raf, surah-7 ayat 23.
         •     
      “Keduanya berkata, “Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi”.
      Al-Quran surah Shad, surah ke-38 ayat 22.
                             
      “Ketika mereka masuk (menemui) Daud, lalu dia terkejut karena kedatangan mereka. Mereka berkata, “Kamu jangan merasa takut, kami adalah dua orang yang berperkara yang salah seorang dari kami berbuat zalim kepada yang lain, maka beri keputusan dengan adil dan kamu jangan menyimpang dari kebenaran dan tunjuki kami ke jalan yang lurus”.
        ••          •               
      “Hai Daud, sesungguhnya Kami menjadikanmu khalifah (penguasa) di muka bumi, maka berilah keputusan (perkara) di antara manusia dengan adil dan jangan kamu mengikuti hawa nafsu, karena akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Sesungguhnya orang-orang yang sesat dari jalan Allah akan mendapat azab yang berat, karena mereka melupakan hari perhitungan”.
      Para ulama menegaskan bahwa seorang khalifah harus mampu menunjukkan jalan yang benar dan mengantarkan umatnya menuju kesejahteraan. Seorang khalifah harus menunjukkan arah yang benar, dan memberikan teladan untuk mencapainya.
      Kesimpulannya, seorang khalifah yang ideal harus memiliki sifat luhur yang telah membudaya pada dirinya. Yaitu yang pertama, menggambarkan tingkat keimanan yang bersemi di dalam dadanya, sedangkan yang kedua, menggambarkan contoh teladan nyata yang dilakukan dalam kehidupan sehari-hari.  
Daftar Pustaka
1. Shihab, M.Quraish. Lentera Hati. Kisah dan Hikmah Kehidupan. Penerbit Mizan, 1994.  
2. Shihab, M.Quraish. E-book Membumikan Al-Quran.
3. Al-Quran Digital, Versi 3.2. Digital Qur’an Ver 3.2

225. IMAM

SIFAT KHALIFAH YANG TERPUJI
Oleh: Drs. H. Yusron Hadi, M.M.


       Beberapa orang bertanya,”Mohon dijelaskan tentang sifat-sifat yang terpuji seorang khalifah di bumi? Profesor Quraish Shihab menjelaskannya.
         Para ulama menjelaskan dalam tafsirnya bahwa kata “imam” mempunyai makna yang sama dengan “khalifah’, tetapi kata “imam” digunakan untuk keteladanan, karena terambil dari kata yang mengandung arti “depan”, sedangkan kata “khalifah” terambil dari kata “belakang”.
     Informasi tentang sifat terpuji dari seorang khalifah dapat ditelusuri melalui ayat yang menggunakan kata Imam.
     Dalam Al-Quran, kata “imam” terulang sebanyak 7 kali dengan makna yang berbeda, tetapi semuanya bertumpu pada arti “sesuatu yang dituju atau diteladani”.        Al-Quran surah Al-Baqarah, surah ke-2 ayat 124.
           ••              
      “Dan (ingatlah), ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan), lalu Ibrahim menunaikannya. Allah berfirman, “Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu imam bagi seluruh manusia”. Ibrahim berkata, “(Dan saya mohon juga) dari keturunanku”. Allah berfirman, “Janji-Ku tidak mengenai orang yang zalim”.
      Al-Quran surah Al-Furqan, surah ke-25 ayat 74.
            •   
      “Dan orang berkata, “Ya Tuhan kami, anugerahkan kepada kami isteri-isteri dan keturunan kami sebagai penyenang hati, dan Jadikan kami imam bagi orang-orang yang bertakwa”.
      Nabi Ibrahim dijanjikan oleh Allah untuk dijadikan imam, dan ketika beliau bermohon agar kehormatan ini diperoleh pula oleh anak cucunya, Allah memberikan syarat, yaitu “Janji-Ku ini tidak akan diperoleh oleh orang yang berlaku aniaya”.
      Jadi, salah satu sifat imam atau khalifah adalah sifat adil terhadap diri, keluarga, manusia,  lingkungan, dan terhadap Allah.
       Khalifah yang disebutkan namanya dalam Al-Quran, yaitu Nabi Adam dan Daud, keduanya pernah melakukan penganiayaan terhadap diri dan orang lain, tetapi mereka  bertobat dan mendapatkan pengampunan.
     Peristiwa Nabi Adam dan penyesalannya cukup populer, yaitu Al-Quran surah Al-A’raf, surah-7 ayat 23.
         •     
      “Keduanya berkata, “Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi”.
      Al-Quran surah Shad, surah ke-38 ayat 22.
                             
      “Ketika mereka masuk (menemui) Daud, lalu dia terkejut karena kedatangan mereka. Mereka berkata, “Kamu jangan merasa takut, kami adalah dua orang yang berperkara yang salah seorang dari kami berbuat zalim kepada yang lain, maka beri keputusan dengan adil dan kamu jangan menyimpang dari kebenaran dan tunjuki kami ke jalan yang lurus”.
        ••          •               
      “Hai Daud, sesungguhnya Kami menjadikanmu khalifah (penguasa) di muka bumi, maka berilah keputusan (perkara) di antara manusia dengan adil dan jangan kamu mengikuti hawa nafsu, karena akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Sesungguhnya orang-orang yang sesat dari jalan Allah akan mendapat azab yang berat, karena mereka melupakan hari perhitungan”.
      Para ulama menegaskan bahwa seorang khalifah harus mampu menunjukkan jalan yang benar dan mengantarkan umatnya menuju kesejahteraan. Seorang khalifah harus menunjukkan arah yang benar, dan memberikan teladan untuk mencapainya.
      Kesimpulannya, seorang khalifah yang ideal harus memiliki sifat luhur yang telah membudaya pada dirinya. Yaitu yang pertama, menggambarkan tingkat keimanan yang bersemi di dalam dadanya, sedangkan yang kedua, menggambarkan contoh teladan nyata yang dilakukan dalam kehidupan sehari-hari.  
Daftar Pustaka
1. Shihab, M.Quraish. Lentera Hati. Kisah dan Hikmah Kehidupan. Penerbit Mizan, 1994.  
2. Shihab, M.Quraish. E-book Membumikan Al-Quran.
3. Al-Quran Digital, Versi 3.2. Digital Qur’an Ver 3.2

225. IMAM

SIFAT KHALIFAH YANG TERPUJI
Oleh: Drs. H. Yusron Hadi, M.M.


       Beberapa orang bertanya,”Mohon dijelaskan tentang sifat-sifat yang terpuji seorang khalifah di bumi? Profesor Quraish Shihab menjelaskannya.
         Para ulama menjelaskan dalam tafsirnya bahwa kata “imam” mempunyai makna yang sama dengan “khalifah’, tetapi kata “imam” digunakan untuk keteladanan, karena terambil dari kata yang mengandung arti “depan”, sedangkan kata “khalifah” terambil dari kata “belakang”.
     Informasi tentang sifat terpuji dari seorang khalifah dapat ditelusuri melalui ayat yang menggunakan kata Imam.
     Dalam Al-Quran, kata “imam” terulang sebanyak 7 kali dengan makna yang berbeda, tetapi semuanya bertumpu pada arti “sesuatu yang dituju atau diteladani”.        Al-Quran surah Al-Baqarah, surah ke-2 ayat 124.
           ••              
      “Dan (ingatlah), ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan), lalu Ibrahim menunaikannya. Allah berfirman, “Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu imam bagi seluruh manusia”. Ibrahim berkata, “(Dan saya mohon juga) dari keturunanku”. Allah berfirman, “Janji-Ku tidak mengenai orang yang zalim”.
      Al-Quran surah Al-Furqan, surah ke-25 ayat 74.
            •   
      “Dan orang berkata, “Ya Tuhan kami, anugerahkan kepada kami isteri-isteri dan keturunan kami sebagai penyenang hati, dan Jadikan kami imam bagi orang-orang yang bertakwa”.
      Nabi Ibrahim dijanjikan oleh Allah untuk dijadikan imam, dan ketika beliau bermohon agar kehormatan ini diperoleh pula oleh anak cucunya, Allah memberikan syarat, yaitu “Janji-Ku ini tidak akan diperoleh oleh orang yang berlaku aniaya”.
      Jadi, salah satu sifat imam atau khalifah adalah sifat adil terhadap diri, keluarga, manusia,  lingkungan, dan terhadap Allah.
       Khalifah yang disebutkan namanya dalam Al-Quran, yaitu Nabi Adam dan Daud, keduanya pernah melakukan penganiayaan terhadap diri dan orang lain, tetapi mereka  bertobat dan mendapatkan pengampunan.
     Peristiwa Nabi Adam dan penyesalannya cukup populer, yaitu Al-Quran surah Al-A’raf, surah-7 ayat 23.
         •     
      “Keduanya berkata, “Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi”.
      Al-Quran surah Shad, surah ke-38 ayat 22.
                             
      “Ketika mereka masuk (menemui) Daud, lalu dia terkejut karena kedatangan mereka. Mereka berkata, “Kamu jangan merasa takut, kami adalah dua orang yang berperkara yang salah seorang dari kami berbuat zalim kepada yang lain, maka beri keputusan dengan adil dan kamu jangan menyimpang dari kebenaran dan tunjuki kami ke jalan yang lurus”.
        ••          •               
      “Hai Daud, sesungguhnya Kami menjadikanmu khalifah (penguasa) di muka bumi, maka berilah keputusan (perkara) di antara manusia dengan adil dan jangan kamu mengikuti hawa nafsu, karena akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Sesungguhnya orang-orang yang sesat dari jalan Allah akan mendapat azab yang berat, karena mereka melupakan hari perhitungan”.
      Para ulama menegaskan bahwa seorang khalifah harus mampu menunjukkan jalan yang benar dan mengantarkan umatnya menuju kesejahteraan. Seorang khalifah harus menunjukkan arah yang benar, dan memberikan teladan untuk mencapainya.
      Kesimpulannya, seorang khalifah yang ideal harus memiliki sifat luhur yang telah membudaya pada dirinya. Yaitu yang pertama, menggambarkan tingkat keimanan yang bersemi di dalam dadanya, sedangkan yang kedua, menggambarkan contoh teladan nyata yang dilakukan dalam kehidupan sehari-hari.  
Daftar Pustaka
1. Shihab, M.Quraish. Lentera Hati. Kisah dan Hikmah Kehidupan. Penerbit Mizan, 1994.  
2. Shihab, M.Quraish. E-book Membumikan Al-Quran.
3. Al-Quran Digital, Versi 3.2. Digital Qur’an Ver 3.2

225. IMAM

SIFAT KHALIFAH YANG TERPUJI
Oleh: Drs. H. Yusron Hadi, M.M.


       Beberapa orang bertanya,”Mohon dijelaskan tentang sifat-sifat yang terpuji seorang khalifah di bumi? Profesor Quraish Shihab menjelaskannya.
         Para ulama menjelaskan dalam tafsirnya bahwa kata “imam” mempunyai makna yang sama dengan “khalifah’, tetapi kata “imam” digunakan untuk keteladanan, karena terambil dari kata yang mengandung arti “depan”, sedangkan kata “khalifah” terambil dari kata “belakang”.
     Informasi tentang sifat terpuji dari seorang khalifah dapat ditelusuri melalui ayat yang menggunakan kata Imam.
     Dalam Al-Quran, kata “imam” terulang sebanyak 7 kali dengan makna yang berbeda, tetapi semuanya bertumpu pada arti “sesuatu yang dituju atau diteladani”.        Al-Quran surah Al-Baqarah, surah ke-2 ayat 124.
           ••              
      “Dan (ingatlah), ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan), lalu Ibrahim menunaikannya. Allah berfirman, “Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu imam bagi seluruh manusia”. Ibrahim berkata, “(Dan saya mohon juga) dari keturunanku”. Allah berfirman, “Janji-Ku tidak mengenai orang yang zalim”.
      Al-Quran surah Al-Furqan, surah ke-25 ayat 74.
            •   
      “Dan orang berkata, “Ya Tuhan kami, anugerahkan kepada kami isteri-isteri dan keturunan kami sebagai penyenang hati, dan Jadikan kami imam bagi orang-orang yang bertakwa”.
      Nabi Ibrahim dijanjikan oleh Allah untuk dijadikan imam, dan ketika beliau bermohon agar kehormatan ini diperoleh pula oleh anak cucunya, Allah memberikan syarat, yaitu “Janji-Ku ini tidak akan diperoleh oleh orang yang berlaku aniaya”.
      Jadi, salah satu sifat imam atau khalifah adalah sifat adil terhadap diri, keluarga, manusia,  lingkungan, dan terhadap Allah.
       Khalifah yang disebutkan namanya dalam Al-Quran, yaitu Nabi Adam dan Daud, keduanya pernah melakukan penganiayaan terhadap diri dan orang lain, tetapi mereka  bertobat dan mendapatkan pengampunan.
     Peristiwa Nabi Adam dan penyesalannya cukup populer, yaitu Al-Quran surah Al-A’raf, surah-7 ayat 23.
         •     
      “Keduanya berkata, “Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi”.
      Al-Quran surah Shad, surah ke-38 ayat 22.
                             
      “Ketika mereka masuk (menemui) Daud, lalu dia terkejut karena kedatangan mereka. Mereka berkata, “Kamu jangan merasa takut, kami adalah dua orang yang berperkara yang salah seorang dari kami berbuat zalim kepada yang lain, maka beri keputusan dengan adil dan kamu jangan menyimpang dari kebenaran dan tunjuki kami ke jalan yang lurus”.
        ••          •               
      “Hai Daud, sesungguhnya Kami menjadikanmu khalifah (penguasa) di muka bumi, maka berilah keputusan (perkara) di antara manusia dengan adil dan jangan kamu mengikuti hawa nafsu, karena akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Sesungguhnya orang-orang yang sesat dari jalan Allah akan mendapat azab yang berat, karena mereka melupakan hari perhitungan”.
      Para ulama menegaskan bahwa seorang khalifah harus mampu menunjukkan jalan yang benar dan mengantarkan umatnya menuju kesejahteraan. Seorang khalifah harus menunjukkan arah yang benar, dan memberikan teladan untuk mencapainya.
      Kesimpulannya, seorang khalifah yang ideal harus memiliki sifat luhur yang telah membudaya pada dirinya. Yaitu yang pertama, menggambarkan tingkat keimanan yang bersemi di dalam dadanya, sedangkan yang kedua, menggambarkan contoh teladan nyata yang dilakukan dalam kehidupan sehari-hari.  
Daftar Pustaka
1. Shihab, M.Quraish. Lentera Hati. Kisah dan Hikmah Kehidupan. Penerbit Mizan, 1994.  
2. Shihab, M.Quraish. E-book Membumikan Al-Quran.
3. Al-Quran Digital, Versi 3.2. Digital Qur’an Ver 3.2

225. IMAM

SIFAT KHALIFAH YANG TERPUJI
Oleh: Drs. H. Yusron Hadi, M.M.


       Beberapa orang bertanya,”Mohon dijelaskan tentang sifat-sifat yang terpuji seorang khalifah di bumi? Profesor Quraish Shihab menjelaskannya.
         Para ulama menjelaskan dalam tafsirnya bahwa kata “imam” mempunyai makna yang sama dengan “khalifah’, tetapi kata “imam” digunakan untuk keteladanan, karena terambil dari kata yang mengandung arti “depan”, sedangkan kata “khalifah” terambil dari kata “belakang”.
     Informasi tentang sifat terpuji dari seorang khalifah dapat ditelusuri melalui ayat yang menggunakan kata Imam.
     Dalam Al-Quran, kata “imam” terulang sebanyak 7 kali dengan makna yang berbeda, tetapi semuanya bertumpu pada arti “sesuatu yang dituju atau diteladani”.        Al-Quran surah Al-Baqarah, surah ke-2 ayat 124.
           ••              
      “Dan (ingatlah), ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan), lalu Ibrahim menunaikannya. Allah berfirman, “Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu imam bagi seluruh manusia”. Ibrahim berkata, “(Dan saya mohon juga) dari keturunanku”. Allah berfirman, “Janji-Ku tidak mengenai orang yang zalim”.
      Al-Quran surah Al-Furqan, surah ke-25 ayat 74.
            •   
      “Dan orang berkata, “Ya Tuhan kami, anugerahkan kepada kami isteri-isteri dan keturunan kami sebagai penyenang hati, dan Jadikan kami imam bagi orang-orang yang bertakwa”.
      Nabi Ibrahim dijanjikan oleh Allah untuk dijadikan imam, dan ketika beliau bermohon agar kehormatan ini diperoleh pula oleh anak cucunya, Allah memberikan syarat, yaitu “Janji-Ku ini tidak akan diperoleh oleh orang yang berlaku aniaya”.
      Jadi, salah satu sifat imam atau khalifah adalah sifat adil terhadap diri, keluarga, manusia,  lingkungan, dan terhadap Allah.
       Khalifah yang disebutkan namanya dalam Al-Quran, yaitu Nabi Adam dan Daud, keduanya pernah melakukan penganiayaan terhadap diri dan orang lain, tetapi mereka  bertobat dan mendapatkan pengampunan.
     Peristiwa Nabi Adam dan penyesalannya cukup populer, yaitu Al-Quran surah Al-A’raf, surah-7 ayat 23.
         •     
      “Keduanya berkata, “Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi”.
      Al-Quran surah Shad, surah ke-38 ayat 22.
                             
      “Ketika mereka masuk (menemui) Daud, lalu dia terkejut karena kedatangan mereka. Mereka berkata, “Kamu jangan merasa takut, kami adalah dua orang yang berperkara yang salah seorang dari kami berbuat zalim kepada yang lain, maka beri keputusan dengan adil dan kamu jangan menyimpang dari kebenaran dan tunjuki kami ke jalan yang lurus”.
        ••          •               
      “Hai Daud, sesungguhnya Kami menjadikanmu khalifah (penguasa) di muka bumi, maka berilah keputusan (perkara) di antara manusia dengan adil dan jangan kamu mengikuti hawa nafsu, karena akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Sesungguhnya orang-orang yang sesat dari jalan Allah akan mendapat azab yang berat, karena mereka melupakan hari perhitungan”.
      Para ulama menegaskan bahwa seorang khalifah harus mampu menunjukkan jalan yang benar dan mengantarkan umatnya menuju kesejahteraan. Seorang khalifah harus menunjukkan arah yang benar, dan memberikan teladan untuk mencapainya.
      Kesimpulannya, seorang khalifah yang ideal harus memiliki sifat luhur yang telah membudaya pada dirinya. Yaitu yang pertama, menggambarkan tingkat keimanan yang bersemi di dalam dadanya, sedangkan yang kedua, menggambarkan contoh teladan nyata yang dilakukan dalam kehidupan sehari-hari.  
Daftar Pustaka
1. Shihab, M.Quraish. Lentera Hati. Kisah dan Hikmah Kehidupan. Penerbit Mizan, 1994.  
2. Shihab, M.Quraish. E-book Membumikan Al-Quran.
3. Al-Quran Digital, Versi 3.2. Digital Qur’an Ver 3.2

225. IMAM

SIFAT KHALIFAH YANG TERPUJI
Oleh: Drs. H. Yusron Hadi, M.M.


       Beberapa orang bertanya,”Mohon dijelaskan tentang sifat-sifat yang terpuji seorang khalifah di bumi? Profesor Quraish Shihab menjelaskannya.
         Para ulama menjelaskan dalam tafsirnya bahwa kata “imam” mempunyai makna yang sama dengan “khalifah’, tetapi kata “imam” digunakan untuk keteladanan, karena terambil dari kata yang mengandung arti “depan”, sedangkan kata “khalifah” terambil dari kata “belakang”.
     Informasi tentang sifat terpuji dari seorang khalifah dapat ditelusuri melalui ayat yang menggunakan kata Imam.
     Dalam Al-Quran, kata “imam” terulang sebanyak 7 kali dengan makna yang berbeda, tetapi semuanya bertumpu pada arti “sesuatu yang dituju atau diteladani”.        Al-Quran surah Al-Baqarah, surah ke-2 ayat 124.
           ••              
      “Dan (ingatlah), ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan), lalu Ibrahim menunaikannya. Allah berfirman, “Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu imam bagi seluruh manusia”. Ibrahim berkata, “(Dan saya mohon juga) dari keturunanku”. Allah berfirman, “Janji-Ku tidak mengenai orang yang zalim”.
      Al-Quran surah Al-Furqan, surah ke-25 ayat 74.
            •   
      “Dan orang berkata, “Ya Tuhan kami, anugerahkan kepada kami isteri-isteri dan keturunan kami sebagai penyenang hati, dan Jadikan kami imam bagi orang-orang yang bertakwa”.
      Nabi Ibrahim dijanjikan oleh Allah untuk dijadikan imam, dan ketika beliau bermohon agar kehormatan ini diperoleh pula oleh anak cucunya, Allah memberikan syarat, yaitu “Janji-Ku ini tidak akan diperoleh oleh orang yang berlaku aniaya”.
      Jadi, salah satu sifat imam atau khalifah adalah sifat adil terhadap diri, keluarga, manusia,  lingkungan, dan terhadap Allah.
       Khalifah yang disebutkan namanya dalam Al-Quran, yaitu Nabi Adam dan Daud, keduanya pernah melakukan penganiayaan terhadap diri dan orang lain, tetapi mereka  bertobat dan mendapatkan pengampunan.
     Peristiwa Nabi Adam dan penyesalannya cukup populer, yaitu Al-Quran surah Al-A’raf, surah-7 ayat 23.
         •     
      “Keduanya berkata, “Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi”.
      Al-Quran surah Shad, surah ke-38 ayat 22.
                             
      “Ketika mereka masuk (menemui) Daud, lalu dia terkejut karena kedatangan mereka. Mereka berkata, “Kamu jangan merasa takut, kami adalah dua orang yang berperkara yang salah seorang dari kami berbuat zalim kepada yang lain, maka beri keputusan dengan adil dan kamu jangan menyimpang dari kebenaran dan tunjuki kami ke jalan yang lurus”.
        ••          •               
      “Hai Daud, sesungguhnya Kami menjadikanmu khalifah (penguasa) di muka bumi, maka berilah keputusan (perkara) di antara manusia dengan adil dan jangan kamu mengikuti hawa nafsu, karena akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Sesungguhnya orang-orang yang sesat dari jalan Allah akan mendapat azab yang berat, karena mereka melupakan hari perhitungan”.
      Para ulama menegaskan bahwa seorang khalifah harus mampu menunjukkan jalan yang benar dan mengantarkan umatnya menuju kesejahteraan. Seorang khalifah harus menunjukkan arah yang benar, dan memberikan teladan untuk mencapainya.
      Kesimpulannya, seorang khalifah yang ideal harus memiliki sifat luhur yang telah membudaya pada dirinya. Yaitu yang pertama, menggambarkan tingkat keimanan yang bersemi di dalam dadanya, sedangkan yang kedua, menggambarkan contoh teladan nyata yang dilakukan dalam kehidupan sehari-hari.  
Daftar Pustaka
1. Shihab, M.Quraish. Lentera Hati. Kisah dan Hikmah Kehidupan. Penerbit Mizan, 1994.  
2. Shihab, M.Quraish. E-book Membumikan Al-Quran.
3. Al-Quran Digital, Versi 3.2. Digital Qur’an Ver 3.2

Wednesday, August 23, 2017

224. KHALIF

MEMAHAMI ARTI KATA KHALIFAH
Oleh: Drs. H. Yusron Hadi, M.M.


       Beberapa orang bertanya,”Apakah arti kata Khalifah? Mohon dijelaskan tentang arti kata Khalifah? Profesor Quraish Shihab menjelaskannya.
      Kata “khalifah” dalam bentuk tunggal terulang 2 kali dalam Al-Quran, yaitu dalam surah Al-Baqarah ayat 30 dan Shad ayat 26.
       Al-Quran surah Al-Baqarah, surah ke-2 ayat 30.
                     •           
      “Dan Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi”. Mereka berkata,” mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan menyucikan Engkau?” Tuhan berfirman, “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui”.
       Al-Quran surah Shad, surah ke-38 ayat 26.
        ••          •               
     “Hai Daud, Sesungguhnya Kami menjadikan kamu khalifah (penguasa) di muka bumi, Maka berilah keputusan (perkara) di antara manusia dengan adil dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena dia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah. Sesungguhnya orang-orang yang sesat dari jalan Allah akan mendapatkan azab yang berat, karena mereka melupakan hari perhitungan”.
      Ada dua bentuk plural yang digunakan oleh Al-Quran. pertama,“Khalaif” yang terulang sebanyak 4, yakni pada surah Al-An'am 165, Yunus 14, 73, dan Fathir 39.
     Kedua, “Khulafa” yang  terulang sebanyak 3 kali, yaitu pada surah Al-A'raf 7:69, 74, dan Al-Naml 27:62.
      Keseluruhan kata tersebut berakar dari kata “khulafa” yang pada mulanya berarti “dibelakang”, maka kata “khalifah” sering kali diartikan sebagai “pengganti”, karena yang menggantikan selalu berada atau datang di belakang, sesudah yang digantikannya.
    Para ulama menjelaskan bahwa seseorang menggantikan yang lain berarti melaksanakan sesuatu atas nama yang digantikan, bersama yang digantikannya maupun sesudahnya.
     Penggantian kekhalifahan dapat terlaksana akibat ketiadaan di tempat, kematian, atau ketidakmampuan orang yang digantikan, dan dapat juga akibat penghormatan yang diberikan kepada yang menggantikan.
      Para mufasir melihat perbedaan bentuk kata di atas, yaitu “khalifah”, “khalaif”, dan “khulafa” masing-masing mempunyai konteks makna tersendiri yang  berbeda.
     Kalau merujuk kepada Al-Quran untuk mengetahui kandungan makna kata khalifah, karena ayat Al-Quran berfungsi pula sebagai penjelas terhadap ayat lainnya, maka kata “khalifah” yang hanya terulang 2 kali dan konteks pembicaraannya, kita dapat menarik beberapa kesimpulan makna, khususnya dengan memperhatikan ayat surah Shad yang menguraikan sebagian dari sejarah kehidupan Nabi Daud.
     Nabi Daud diceritakan oleh Al-Quran, berhasil membunuh Jalut, dan Allah memberikan Daud kekuasaan atau kerajaan dan hikmah serta mengajarkannya apa yang Allah kehendaki.
    Kekhalifahan yang dianugerahkan kepada Daud bertalian dengan kekuasaan mengelola wilayah tertentu. Hal ini diperolehnya berkat anugerah Allah yang mengajarkan kepadanya hikmah dan ilmu pengetahuan.
     Makna “pengelolaan wilayah tertentu”, atau pengelolaan yang  berkaitan dengan kekuasaan politik, dipahami pula pada ayat yang menggunakan bentuk “khulafa”, berbeda dengan kata “khalaif” yang tidak mengesankan adanya kekuasaan.
      Kesimpulannya, bahwa sejumlah orang yang tidak memiliki kekuasaan politik dinamai oleh Al-Quran “khalaif” , tanpa menggunakan bentuk mufrad atau tunggal.
     Bentuk mufrad atau tunggal tidak dipakai untuk makna tersebut agaknya mengisyaratkan bahwa kekhalifahan yang diemban oleh setiap orang tidak dapat terlaksana tanpa bantuan orang lain, berbeda dengan khalifah yang bermakna penguasa dalam bidang politik.
     Hal ini dapat terwujud dalam diri pribadi seseorang atau diwujudkannya dalam bentuk otoriter atau diktator.
      Nabi Adam dan Daud keduanya sebagai khalifah digambarkan oleh Al-Quran  pernah tergelincir, tetapi diampuni Tuhan, baca Al-Quran QS 2: 36, 37, dan QS 38: 22-25).
     Kesimpulannya, Pertama, kata “khalifah” digunakan oleh Al-Quran untuk siapa pun yang diberi kekuasaan untuk mengelola wilayah yang luas maupun terbatas.
    Dalam hal ini Daud (947-1000 S.M.) mengelola wilayah Palestina, sedangkan Nabi Adam secara potensial atau aktual diberi tugas mengelola bumi keseluruhannya pada awal masa sejarah kemanusiaan.
      Kedua, Bahwa seorang khalifah berpotensi dapat melakukan kekeliruan dan kesalahan akibat mengikuti hawa nafsu. Oleh karena itu, Nabi Adam dan Daud diperingatkan agar tidak mengikuti hawa nafsu.
       •     
     “Maka sekali-kali janganlah kamu dipalingkan daripadanya oleh orang yang tidak beriman kepadanya dan oleh orang yang mengikuti hawa nafsunya, yang menyebabkan kamu Jadi binasa”.
Daftar Pustaka
1. Shihab, M.Quraish. Lentera Hati. Kisah dan Hikmah Kehidupan. Penerbit Mizan, 1994.  
2. Shihab, M.Quraish. E-book Membumikan Al-Quran.
3. Al-Quran Digital, Versi 3.2. Digital Qur’an Ver 3.2

224. KHALIF

MEMAHAMI ARTI KATA KHALIFAH
Oleh: Drs. H. Yusron Hadi, M.M.


       Beberapa orang bertanya,”Apakah arti kata Khalifah? Mohon dijelaskan tentang arti kata Khalifah? Profesor Quraish Shihab menjelaskannya.
      Kata “khalifah” dalam bentuk tunggal terulang 2 kali dalam Al-Quran, yaitu dalam surah Al-Baqarah ayat 30 dan Shad ayat 26.
       Al-Quran surah Al-Baqarah, surah ke-2 ayat 30.
                     •           
      “Dan Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi”. Mereka berkata,” mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan menyucikan Engkau?” Tuhan berfirman, “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui”.
       Al-Quran surah Shad, surah ke-38 ayat 26.
        ••          •               
     “Hai Daud, Sesungguhnya Kami menjadikan kamu khalifah (penguasa) di muka bumi, Maka berilah keputusan (perkara) di antara manusia dengan adil dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena dia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah. Sesungguhnya orang-orang yang sesat dari jalan Allah akan mendapatkan azab yang berat, karena mereka melupakan hari perhitungan”.
      Ada dua bentuk plural yang digunakan oleh Al-Quran. pertama,“Khalaif” yang terulang sebanyak 4, yakni pada surah Al-An'am 165, Yunus 14, 73, dan Fathir 39.
     Kedua, “Khulafa” yang  terulang sebanyak 3 kali, yaitu pada surah Al-A'raf 7:69, 74, dan Al-Naml 27:62.
      Keseluruhan kata tersebut berakar dari kata “khulafa” yang pada mulanya berarti “dibelakang”, maka kata “khalifah” sering kali diartikan sebagai “pengganti”, karena yang menggantikan selalu berada atau datang di belakang, sesudah yang digantikannya.
    Para ulama menjelaskan bahwa seseorang menggantikan yang lain berarti melaksanakan sesuatu atas nama yang digantikan, bersama yang digantikannya maupun sesudahnya.
     Penggantian kekhalifahan dapat terlaksana akibat ketiadaan di tempat, kematian, atau ketidakmampuan orang yang digantikan, dan dapat juga akibat penghormatan yang diberikan kepada yang menggantikan.
      Para mufasir melihat perbedaan bentuk kata di atas, yaitu “khalifah”, “khalaif”, dan “khulafa” masing-masing mempunyai konteks makna tersendiri yang  berbeda.
     Kalau merujuk kepada Al-Quran untuk mengetahui kandungan makna kata khalifah, karena ayat Al-Quran berfungsi pula sebagai penjelas terhadap ayat lainnya, maka kata “khalifah” yang hanya terulang 2 kali dan konteks pembicaraannya, kita dapat menarik beberapa kesimpulan makna, khususnya dengan memperhatikan ayat surah Shad yang menguraikan sebagian dari sejarah kehidupan Nabi Daud.
     Nabi Daud diceritakan oleh Al-Quran, berhasil membunuh Jalut, dan Allah memberikan Daud kekuasaan atau kerajaan dan hikmah serta mengajarkannya apa yang Allah kehendaki.
    Kekhalifahan yang dianugerahkan kepada Daud bertalian dengan kekuasaan mengelola wilayah tertentu. Hal ini diperolehnya berkat anugerah Allah yang mengajarkan kepadanya hikmah dan ilmu pengetahuan.
     Makna “pengelolaan wilayah tertentu”, atau pengelolaan yang  berkaitan dengan kekuasaan politik, dipahami pula pada ayat yang menggunakan bentuk “khulafa”, berbeda dengan kata “khalaif” yang tidak mengesankan adanya kekuasaan.
      Kesimpulannya, bahwa sejumlah orang yang tidak memiliki kekuasaan politik dinamai oleh Al-Quran “khalaif” , tanpa menggunakan bentuk mufrad atau tunggal.
     Bentuk mufrad atau tunggal tidak dipakai untuk makna tersebut agaknya mengisyaratkan bahwa kekhalifahan yang diemban oleh setiap orang tidak dapat terlaksana tanpa bantuan orang lain, berbeda dengan khalifah yang bermakna penguasa dalam bidang politik.
     Hal ini dapat terwujud dalam diri pribadi seseorang atau diwujudkannya dalam bentuk otoriter atau diktator.
      Nabi Adam dan Daud keduanya sebagai khalifah digambarkan oleh Al-Quran  pernah tergelincir, tetapi diampuni Tuhan, baca Al-Quran QS 2: 36, 37, dan QS 38: 22-25).
     Kesimpulannya, Pertama, kata “khalifah” digunakan oleh Al-Quran untuk siapa pun yang diberi kekuasaan untuk mengelola wilayah yang luas maupun terbatas.
    Dalam hal ini Daud (947-1000 S.M.) mengelola wilayah Palestina, sedangkan Nabi Adam secara potensial atau aktual diberi tugas mengelola bumi keseluruhannya pada awal masa sejarah kemanusiaan.
      Kedua, Bahwa seorang khalifah berpotensi dapat melakukan kekeliruan dan kesalahan akibat mengikuti hawa nafsu. Oleh karena itu, Nabi Adam dan Daud diperingatkan agar tidak mengikuti hawa nafsu.
       •     
     “Maka sekali-kali janganlah kamu dipalingkan daripadanya oleh orang yang tidak beriman kepadanya dan oleh orang yang mengikuti hawa nafsunya, yang menyebabkan kamu Jadi binasa”.
Daftar Pustaka
1. Shihab, M.Quraish. Lentera Hati. Kisah dan Hikmah Kehidupan. Penerbit Mizan, 1994.  
2. Shihab, M.Quraish. E-book Membumikan Al-Quran.
3. Al-Quran Digital, Versi 3.2. Digital Qur’an Ver 3.2

224. KHALIF

MEMAHAMI ARTI KATA KHALIFAH
Oleh: Drs. H. Yusron Hadi, M.M.


       Beberapa orang bertanya,”Apakah arti kata Khalifah? Mohon dijelaskan tentang arti kata Khalifah? Profesor Quraish Shihab menjelaskannya.
      Kata “khalifah” dalam bentuk tunggal terulang 2 kali dalam Al-Quran, yaitu dalam surah Al-Baqarah ayat 30 dan Shad ayat 26.
       Al-Quran surah Al-Baqarah, surah ke-2 ayat 30.
                     •           
      “Dan Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi”. Mereka berkata,” mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan menyucikan Engkau?” Tuhan berfirman, “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui”.
       Al-Quran surah Shad, surah ke-38 ayat 26.
        ••          •               
     “Hai Daud, Sesungguhnya Kami menjadikan kamu khalifah (penguasa) di muka bumi, Maka berilah keputusan (perkara) di antara manusia dengan adil dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena dia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah. Sesungguhnya orang-orang yang sesat dari jalan Allah akan mendapatkan azab yang berat, karena mereka melupakan hari perhitungan”.
      Ada dua bentuk plural yang digunakan oleh Al-Quran. pertama,“Khalaif” yang terulang sebanyak 4, yakni pada surah Al-An'am 165, Yunus 14, 73, dan Fathir 39.
     Kedua, “Khulafa” yang  terulang sebanyak 3 kali, yaitu pada surah Al-A'raf 7:69, 74, dan Al-Naml 27:62.
      Keseluruhan kata tersebut berakar dari kata “khulafa” yang pada mulanya berarti “dibelakang”, maka kata “khalifah” sering kali diartikan sebagai “pengganti”, karena yang menggantikan selalu berada atau datang di belakang, sesudah yang digantikannya.
    Para ulama menjelaskan bahwa seseorang menggantikan yang lain berarti melaksanakan sesuatu atas nama yang digantikan, bersama yang digantikannya maupun sesudahnya.
     Penggantian kekhalifahan dapat terlaksana akibat ketiadaan di tempat, kematian, atau ketidakmampuan orang yang digantikan, dan dapat juga akibat penghormatan yang diberikan kepada yang menggantikan.
      Para mufasir melihat perbedaan bentuk kata di atas, yaitu “khalifah”, “khalaif”, dan “khulafa” masing-masing mempunyai konteks makna tersendiri yang  berbeda.
     Kalau merujuk kepada Al-Quran untuk mengetahui kandungan makna kata khalifah, karena ayat Al-Quran berfungsi pula sebagai penjelas terhadap ayat lainnya, maka kata “khalifah” yang hanya terulang 2 kali dan konteks pembicaraannya, kita dapat menarik beberapa kesimpulan makna, khususnya dengan memperhatikan ayat surah Shad yang menguraikan sebagian dari sejarah kehidupan Nabi Daud.
     Nabi Daud diceritakan oleh Al-Quran, berhasil membunuh Jalut, dan Allah memberikan Daud kekuasaan atau kerajaan dan hikmah serta mengajarkannya apa yang Allah kehendaki.
    Kekhalifahan yang dianugerahkan kepada Daud bertalian dengan kekuasaan mengelola wilayah tertentu. Hal ini diperolehnya berkat anugerah Allah yang mengajarkan kepadanya hikmah dan ilmu pengetahuan.
     Makna “pengelolaan wilayah tertentu”, atau pengelolaan yang  berkaitan dengan kekuasaan politik, dipahami pula pada ayat yang menggunakan bentuk “khulafa”, berbeda dengan kata “khalaif” yang tidak mengesankan adanya kekuasaan.
      Kesimpulannya, bahwa sejumlah orang yang tidak memiliki kekuasaan politik dinamai oleh Al-Quran “khalaif” , tanpa menggunakan bentuk mufrad atau tunggal.
     Bentuk mufrad atau tunggal tidak dipakai untuk makna tersebut agaknya mengisyaratkan bahwa kekhalifahan yang diemban oleh setiap orang tidak dapat terlaksana tanpa bantuan orang lain, berbeda dengan khalifah yang bermakna penguasa dalam bidang politik.
     Hal ini dapat terwujud dalam diri pribadi seseorang atau diwujudkannya dalam bentuk otoriter atau diktator.
      Nabi Adam dan Daud keduanya sebagai khalifah digambarkan oleh Al-Quran  pernah tergelincir, tetapi diampuni Tuhan, baca Al-Quran QS 2: 36, 37, dan QS 38: 22-25).
     Kesimpulannya, Pertama, kata “khalifah” digunakan oleh Al-Quran untuk siapa pun yang diberi kekuasaan untuk mengelola wilayah yang luas maupun terbatas.
    Dalam hal ini Daud (947-1000 S.M.) mengelola wilayah Palestina, sedangkan Nabi Adam secara potensial atau aktual diberi tugas mengelola bumi keseluruhannya pada awal masa sejarah kemanusiaan.
      Kedua, Bahwa seorang khalifah berpotensi dapat melakukan kekeliruan dan kesalahan akibat mengikuti hawa nafsu. Oleh karena itu, Nabi Adam dan Daud diperingatkan agar tidak mengikuti hawa nafsu.
       •     
     “Maka sekali-kali janganlah kamu dipalingkan daripadanya oleh orang yang tidak beriman kepadanya dan oleh orang yang mengikuti hawa nafsunya, yang menyebabkan kamu Jadi binasa”.
Daftar Pustaka
1. Shihab, M.Quraish. Lentera Hati. Kisah dan Hikmah Kehidupan. Penerbit Mizan, 1994.  
2. Shihab, M.Quraish. E-book Membumikan Al-Quran.
3. Al-Quran Digital, Versi 3.2. Digital Qur’an Ver 3.2