Organisasi Profesi Guru

Presiden Jokowi memberi hormat kepada Guru-Guru se Indonesia.

Tema Gambar Slide 2

Deskripsi gambar slide bisa dituliskan disini dengan beberapa kalimat yang menggambarkan gambar slide yang anda pasang, edit slide ini melalui edit HTML template.

Tema Gambar Slide 3

Deskripsi gambar slide bisa dituliskan disini dengan beberapa kalimat yang menggambarkan gambar slide yang anda pasang, edit slide ini melalui edit HTML template.

Friday, August 25, 2017

226. JUMAT

Khutbah Jumat, 25-8-2017
“ ABU LAHAB DAN BUKTI KEBENARAN AL-QURAN”
Khutbah-1

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِين
إِنَّ الْحَمْدَ للهِ نَحْمَدُهُ وَ نَسْتَعِيْنُهُ وَ نَسْتَغْفِرُهُ وَ نَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْر
أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَاِلنَا مَنْ يَهْدِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَ مَنْ يُضْلِلْ
فَلاَ هَادِيَ لَهُ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ
وَ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَ رَسُوْلُهُ
اَللَّهُمَّ صَلِّ وَ سَلِّمْ عَلَى سيد نا      مُحَمَّدٍ وَ عَلىَ اَلِهِ وَ أَصْحَابِهِ
وَ مَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُون

Para jamaah yang berbahagia,
      Marilah kita selalu meningkatkan takwa kepada Allah SWT dengan menjalankan semua perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya.
Para jamaah yang berbahagia,

     Artinya: “Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan sesungguhnya dia akan binasa. Tidaklah berfaedah kepadanya harta bendanya dan apa yang ia usahakan.Kelak dia akan masuk ke dalam api yang bergejolak. Dan (begitu pula) istrinya, pembawa kayu bakar. Yang di lehernya ada tali dari sabut.”  
Para jamaah yang berbahagia,
      Banyak bukti yang menunjukkan kebenaran Al-Quran. Salah satunya, surat Al-Lahab. Surat Al-Lahab adalah surah ke-111 dari 114 surat dalam Al-Quran, dan berisi 5 ayat.
    Menurut Ibnu Abbas, “Azbabun nuzul” atau penyebab turunnya  ayat ini berkenaan dengan sikap dan perilaku Abu Lahab.
Para jamaah yang berbahagia,
      Abu Lahab adalah pakdenya Nabi dan besannya Nabi, serta lokasi  rumah Abu Lahab berdempetan dengan rumah Nabi. Dua putri Nabi dengan Khadijah, yaitu Ruqaiyah dan Umi Kulsum, dinikahkan dengan Utbah dan Utaibah, dua putra Abu Lahab. Mereka dinikahkan sebelum Nabi Muhammad diangkat  menjadi rasul.
      Nabi Muhammad mendapatkan wahyu pertama di Gua Hira di puncak gunung Jabal Nur melalui malaikat Jibril sekitar umur 40 tahun.
      Ketika Nabi diangkat menjadi Rasul, maka Abu Lahab amat murka. Kedua putranya diperintahkan agar menceraikan dua putri Nabi, dan sejak saat  itu, hampir setiap hari, Abu Lahab dan istrinya mengganggu Nabi dengan kasar dan biadab.
     Abu Lahab dan istrinya selalu menyebarkan kabar bohong tentang Nabi, memasang duri, melontarkan kotoran, melempari dengan batu, dan perbuatan jahat lainnya kepada Nabi.
    Ketika itu, Nabi diam saja, dan tidak membalasnya, karena  Abu Lahab adalah saudara kandung ayah Nabi sendiri, Abu Lahab adalah pakdenya Nabi.
      Ketika mendengar Abdullah, putra Nabi yang masih kecil wafat, maka Abu Lahab amat gembira, dan seketika itu, dia menjumpai teman-temannya, berteriak dengan keras bahwa Nabi Muhammad telah terputus dari rahmat Allah. 
      Setelah turun surat Asy-Syuara, surat ke-26 ayat 214.”Dan berilah peringatan kepada kerabatmu yang dekat.”, yang berisi perintah berdakwah secara terbuka, maka  Nabi mulai berdakwah.

“Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat”.
     Nabi mengundang keluarga Bani Hasyim, yang hadir 45 orang. Sebelum Nabi berbicara, Abu Lahab langsung menyela lebih dahulu, “Semua yang hadir di sini adalah paman-pamanmu sendiri dengan anak-anaknya. Segeralah kamu bicara, jika ingin berbicara, jangan bersikap kekanakan.”
      Abu Lahab melanjutkan, “Ketahuilah, bahwa tidak ada orang Arab yang berani mengernyitkan dahi kepada keluarga kami, dengan begitu, aku berhak menghukummu. Biarkan urusan keluarga bapakmu. Jika kamu tetap bertahan pada urusanmu ini, maka itu lebih mudah bagi mereka daripada semua kabilah Quraisy menyerangmu.”
       “Jangan sampai semua bangsa Arab ikut campur tangan, karena selama ini tidak ada seorang pun dari keluarga bapakmu yang berbuat macam-macam,” tegas Abu Lahab.      Ketika itu, Nabi diam saja. Nabi tidak berbicara sepatah pun.
       Pada kesempatan yang lain, Nabi mengundang keluarga Bani Hasyim lagi. Kali ini Nabi bersabda,”Segala puji bagi Allah dan saya memuji-Nya. Saya memohon pertolongan, percaya, dan tawakal kepada-Nya. Saya bersaksi bahwa tidak ada tuhan, selain Allah semata, dan tidak ada sekutu bagi Allah.”
      Nabi melanjutkan, ”Sesungguhnya, seorang pemandu tidak akan mendustakan keluarganya. Demi Allah, yang tidak ada tuhan selain Dia. Sesungguhnya saya adalah utusan Allah kepada kalian secara khusus dan kepada manusia secara umum.
     Demi Allah, sungguh, kalian akan mati layaknya orang tidur nyenyak, dan akan dibangkitkan lagi bagaikan bangun tidur. Kita akan dihisab terhadap apa saja yang kita perbuat. Kemudian, di sana nanti akan ada surga yang abadi dan neraka yang kekal pula.” 
     Abu Lahab berteriak, “Demi Allah, ini kabar buruk, maka ambil tindakan terhadapnya, sebelum orang lain yang melakukannya.” “Demi Allah, kami akan tetap melindunginya, selama kami masih hidup,“jawab Abu Thalib, paman Nabi yang lain, yang menjadi  Kepala Suku Quraisy saat itu. 
      Menurut sejarah, ayah Nabi, Abdullah, wafat umur 25 tahun, ketika Nabi belum lahir. Sedangkan Aminah, ibu Nabi,  meninggal saat usia Nabi 6 tahun.
     Kemudian Abdul Muththalib, kakeknya yang mengasuh Nabi selama 2 tahun, yaitu sejak Nabi berumur 6 sampai 8 tahun. Lalu Abu  Thalib, menjadi bapak asuh Nabi, sejak Nabi berusia 8 sampai 50 tahun
      Mulai saat itu, Nabi merasa yakin terhadap janji Abu Thalib untuk melindunginya, maka pada suatu hari Nabi mengundang semua suku berkumpul di bukit Safa. 
     Nabi berdiri di atas batu besar dan berseru, ”Wahai semua suku kaum Quraisy, bagaimana pendapat kalian, jika kukabarkan bahwa di sekitar lembah ini ada pasukan yang mengepung kalian, apakah kalian percaya kepadaku?” “Ya, benar,” jawab mereka, “Kami menyaksikan  engkau tidak pernah berbohong, pengalaman kami selama ini engkau selalu jujur.”
      Nabi melanjutkan,”Sesungguhnya, saya memberi peringatan kepada kalian, sebelum datangnya azab yang pedih.” Abu Lahab murka, “Celakalah kamu Muhammad, apakah kamu mengumpulkan kami hanya untuk ini!” Kemudian turunlah ayat, “Celakalah ke dua tangan Abu Lahab.”, inilah surat Al-Lahab.
     Surah Al-Lahab turun ketika Nabi berumur 43 tahun. Surah ini diterima Nabi melalui malaikat Jibril, 12  tahun sebelum Abu Lahab meninggal dunia.
      Surah Al-Lahab menjelaskan dengan yakin dan gamblang, bahwa Abu Lahab dan isterinya pasti dilemparkan ke dalam neraka Jahanam.
      Ketika itu, Abu Lahab dan isterinya masih segar bugar, padahal Abu Lahab masih hidup selama 12  tahun lagi sejak ayat tersebut diturunkan.
     Berarti, selama 12  tahun, masih banyak peristiwa yang akan terjadi. Tetapi, Al-Quran dengan tegas dan jelas sudah memastikan Abu Lahab dan istrinya akan dimasukkan  ke dalam neraka. Ternyata, Al-Quran terbukti benar
      Abu Lahab dan istrinya memiliki kesempatan selama 12  tahun untuk membuktikan Al-Quran salah dan keliru. Jika Abu Lahab ingin menunjukkan Al-Quran salah dan keliru caranya sangat gampang, yaitu Abu Lahab dan istrinya masuk Islam.
     Jika Abu Lahab membaca “Dua Kalimat Syahadat”, yaitu saya bersaksi tidak tuhan selain Allah, dan saya bersaksi Nabi Muhammad utusan Allah”, maka Abu Lahab sudah dianggap masuk Islam.
      Hanya itu saja, dan cukup itu saja sudah membuktikan bahwa Al-Quran salah. Jika Abu Lahab masuk Islam, maka surah Al-Lahab salah, dan terbukti ada ayat dalam Al-Quran yang salah dan keliru.
     Jika Abu Lahab dan istrinya masuk Islam berarti Al-Quran terbukti salah dan terbukti keliru! Tetapi kenyataanya, hal itu tidak pernah terjadi. Selama 12  tahun Abu Lahab hidup, sejak surah Al-Lahab turun, sampai matinya dia tetap kafir.
     Padahal selama 12  tahun itu  banyak saudara dan teman Abu Lahab yang berikrar masuk Islam. Tetapi, kenyataannya sampai meninggal dunia Abu Lahab tetap kafir, Abu Lahab tetap tidak  beriman kepada Allah dan rasul-Nya.
      Mengapa? Karena Al-Quran kalam Allah, wahyu dari Allah, bukan karangan Nabi Muhammad, dan Al-Quran bukan hasil literasi atau karya tulis Nabi Muhammad.
    Jadi, kisah Abu Lahab ini merupakan salah satu  bukti kebenaran Al-Quran. Surah Al-Lahab ini membuktikan Al-Quran benar. Maha Suci Allah.
 
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ
وَ نَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلأَيَاتِ وَ ذِكْرِ الْحَكِيْم
وَتَقَبَّلَ مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ

duduk

226. JUMAT

Khutbah Jumat, 25-8-2017
“ ABU LAHAB DAN BUKTI KEBENARAN AL-QURAN”
Khutbah-1

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِين
إِنَّ الْحَمْدَ للهِ نَحْمَدُهُ وَ نَسْتَعِيْنُهُ وَ نَسْتَغْفِرُهُ وَ نَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْر
أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَاِلنَا مَنْ يَهْدِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَ مَنْ يُضْلِلْ
فَلاَ هَادِيَ لَهُ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ
وَ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَ رَسُوْلُهُ
اَللَّهُمَّ صَلِّ وَ سَلِّمْ عَلَى سيد نا      مُحَمَّدٍ وَ عَلىَ اَلِهِ وَ أَصْحَابِهِ
وَ مَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُون

Para jamaah yang berbahagia,
      Marilah kita selalu meningkatkan takwa kepada Allah SWT dengan menjalankan semua perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya.
Para jamaah yang berbahagia,

     Artinya: “Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan sesungguhnya dia akan binasa. Tidaklah berfaedah kepadanya harta bendanya dan apa yang ia usahakan.Kelak dia akan masuk ke dalam api yang bergejolak. Dan (begitu pula) istrinya, pembawa kayu bakar. Yang di lehernya ada tali dari sabut.”  
Para jamaah yang berbahagia,
      Banyak bukti yang menunjukkan kebenaran Al-Quran. Salah satunya, surat Al-Lahab. Surat Al-Lahab adalah surah ke-111 dari 114 surat dalam Al-Quran, dan berisi 5 ayat.
    Menurut Ibnu Abbas, “Azbabun nuzul” atau penyebab turunnya  ayat ini berkenaan dengan sikap dan perilaku Abu Lahab.
Para jamaah yang berbahagia,
      Abu Lahab adalah pakdenya Nabi dan besannya Nabi, serta lokasi  rumah Abu Lahab berdempetan dengan rumah Nabi. Dua putri Nabi dengan Khadijah, yaitu Ruqaiyah dan Umi Kulsum, dinikahkan dengan Utbah dan Utaibah, dua putra Abu Lahab. Mereka dinikahkan sebelum Nabi Muhammad diangkat  menjadi rasul.
      Nabi Muhammad mendapatkan wahyu pertama di Gua Hira di puncak gunung Jabal Nur melalui malaikat Jibril sekitar umur 40 tahun.
      Ketika Nabi diangkat menjadi Rasul, maka Abu Lahab amat murka. Kedua putranya diperintahkan agar menceraikan dua putri Nabi, dan sejak saat  itu, hampir setiap hari, Abu Lahab dan istrinya mengganggu Nabi dengan kasar dan biadab.
     Abu Lahab dan istrinya selalu menyebarkan kabar bohong tentang Nabi, memasang duri, melontarkan kotoran, melempari dengan batu, dan perbuatan jahat lainnya kepada Nabi.
    Ketika itu, Nabi diam saja, dan tidak membalasnya, karena  Abu Lahab adalah saudara kandung ayah Nabi sendiri, Abu Lahab adalah pakdenya Nabi.
      Ketika mendengar Abdullah, putra Nabi yang masih kecil wafat, maka Abu Lahab amat gembira, dan seketika itu, dia menjumpai teman-temannya, berteriak dengan keras bahwa Nabi Muhammad telah terputus dari rahmat Allah. 
      Setelah turun surat Asy-Syuara, surat ke-26 ayat 214.”Dan berilah peringatan kepada kerabatmu yang dekat.”, yang berisi perintah berdakwah secara terbuka, maka  Nabi mulai berdakwah.

“Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat”.
     Nabi mengundang keluarga Bani Hasyim, yang hadir 45 orang. Sebelum Nabi berbicara, Abu Lahab langsung menyela lebih dahulu, “Semua yang hadir di sini adalah paman-pamanmu sendiri dengan anak-anaknya. Segeralah kamu bicara, jika ingin berbicara, jangan bersikap kekanakan.”
      Abu Lahab melanjutkan, “Ketahuilah, bahwa tidak ada orang Arab yang berani mengernyitkan dahi kepada keluarga kami, dengan begitu, aku berhak menghukummu. Biarkan urusan keluarga bapakmu. Jika kamu tetap bertahan pada urusanmu ini, maka itu lebih mudah bagi mereka daripada semua kabilah Quraisy menyerangmu.”
       “Jangan sampai semua bangsa Arab ikut campur tangan, karena selama ini tidak ada seorang pun dari keluarga bapakmu yang berbuat macam-macam,” tegas Abu Lahab.      Ketika itu, Nabi diam saja. Nabi tidak berbicara sepatah pun.
       Pada kesempatan yang lain, Nabi mengundang keluarga Bani Hasyim lagi. Kali ini Nabi bersabda,”Segala puji bagi Allah dan saya memuji-Nya. Saya memohon pertolongan, percaya, dan tawakal kepada-Nya. Saya bersaksi bahwa tidak ada tuhan, selain Allah semata, dan tidak ada sekutu bagi Allah.”
      Nabi melanjutkan, ”Sesungguhnya, seorang pemandu tidak akan mendustakan keluarganya. Demi Allah, yang tidak ada tuhan selain Dia. Sesungguhnya saya adalah utusan Allah kepada kalian secara khusus dan kepada manusia secara umum.
     Demi Allah, sungguh, kalian akan mati layaknya orang tidur nyenyak, dan akan dibangkitkan lagi bagaikan bangun tidur. Kita akan dihisab terhadap apa saja yang kita perbuat. Kemudian, di sana nanti akan ada surga yang abadi dan neraka yang kekal pula.” 
     Abu Lahab berteriak, “Demi Allah, ini kabar buruk, maka ambil tindakan terhadapnya, sebelum orang lain yang melakukannya.” “Demi Allah, kami akan tetap melindunginya, selama kami masih hidup,“jawab Abu Thalib, paman Nabi yang lain, yang menjadi  Kepala Suku Quraisy saat itu. 
      Menurut sejarah, ayah Nabi, Abdullah, wafat umur 25 tahun, ketika Nabi belum lahir. Sedangkan Aminah, ibu Nabi,  meninggal saat usia Nabi 6 tahun.
     Kemudian Abdul Muththalib, kakeknya yang mengasuh Nabi selama 2 tahun, yaitu sejak Nabi berumur 6 sampai 8 tahun. Lalu Abu  Thalib, menjadi bapak asuh Nabi, sejak Nabi berusia 8 sampai 50 tahun
      Mulai saat itu, Nabi merasa yakin terhadap janji Abu Thalib untuk melindunginya, maka pada suatu hari Nabi mengundang semua suku berkumpul di bukit Safa. 
     Nabi berdiri di atas batu besar dan berseru, ”Wahai semua suku kaum Quraisy, bagaimana pendapat kalian, jika kukabarkan bahwa di sekitar lembah ini ada pasukan yang mengepung kalian, apakah kalian percaya kepadaku?” “Ya, benar,” jawab mereka, “Kami menyaksikan  engkau tidak pernah berbohong, pengalaman kami selama ini engkau selalu jujur.”
      Nabi melanjutkan,”Sesungguhnya, saya memberi peringatan kepada kalian, sebelum datangnya azab yang pedih.” Abu Lahab murka, “Celakalah kamu Muhammad, apakah kamu mengumpulkan kami hanya untuk ini!” Kemudian turunlah ayat, “Celakalah ke dua tangan Abu Lahab.”, inilah surat Al-Lahab.
     Surah Al-Lahab turun ketika Nabi berumur 43 tahun. Surah ini diterima Nabi melalui malaikat Jibril, 12  tahun sebelum Abu Lahab meninggal dunia.
      Surah Al-Lahab menjelaskan dengan yakin dan gamblang, bahwa Abu Lahab dan isterinya pasti dilemparkan ke dalam neraka Jahanam.
      Ketika itu, Abu Lahab dan isterinya masih segar bugar, padahal Abu Lahab masih hidup selama 12  tahun lagi sejak ayat tersebut diturunkan.
     Berarti, selama 12  tahun, masih banyak peristiwa yang akan terjadi. Tetapi, Al-Quran dengan tegas dan jelas sudah memastikan Abu Lahab dan istrinya akan dimasukkan  ke dalam neraka. Ternyata, Al-Quran terbukti benar
      Abu Lahab dan istrinya memiliki kesempatan selama 12  tahun untuk membuktikan Al-Quran salah dan keliru. Jika Abu Lahab ingin menunjukkan Al-Quran salah dan keliru caranya sangat gampang, yaitu Abu Lahab dan istrinya masuk Islam.
     Jika Abu Lahab membaca “Dua Kalimat Syahadat”, yaitu saya bersaksi tidak tuhan selain Allah, dan saya bersaksi Nabi Muhammad utusan Allah”, maka Abu Lahab sudah dianggap masuk Islam.
      Hanya itu saja, dan cukup itu saja sudah membuktikan bahwa Al-Quran salah. Jika Abu Lahab masuk Islam, maka surah Al-Lahab salah, dan terbukti ada ayat dalam Al-Quran yang salah dan keliru.
     Jika Abu Lahab dan istrinya masuk Islam berarti Al-Quran terbukti salah dan terbukti keliru! Tetapi kenyataanya, hal itu tidak pernah terjadi. Selama 12  tahun Abu Lahab hidup, sejak surah Al-Lahab turun, sampai matinya dia tetap kafir.
     Padahal selama 12  tahun itu  banyak saudara dan teman Abu Lahab yang berikrar masuk Islam. Tetapi, kenyataannya sampai meninggal dunia Abu Lahab tetap kafir, Abu Lahab tetap tidak  beriman kepada Allah dan rasul-Nya.
      Mengapa? Karena Al-Quran kalam Allah, wahyu dari Allah, bukan karangan Nabi Muhammad, dan Al-Quran bukan hasil literasi atau karya tulis Nabi Muhammad.
    Jadi, kisah Abu Lahab ini merupakan salah satu  bukti kebenaran Al-Quran. Surah Al-Lahab ini membuktikan Al-Quran benar. Maha Suci Allah.
 
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ
وَ نَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلأَيَاتِ وَ ذِكْرِ الْحَكِيْم
وَتَقَبَّلَ مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ

duduk

226. JUMAT

Khutbah Jumat, 25-8-2017
“ ABU LAHAB DAN BUKTI KEBENARAN AL-QURAN”
Khutbah-1

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِين
إِنَّ الْحَمْدَ للهِ نَحْمَدُهُ وَ نَسْتَعِيْنُهُ وَ نَسْتَغْفِرُهُ وَ نَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْر
أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَاِلنَا مَنْ يَهْدِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَ مَنْ يُضْلِلْ
فَلاَ هَادِيَ لَهُ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ
وَ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَ رَسُوْلُهُ
اَللَّهُمَّ صَلِّ وَ سَلِّمْ عَلَى سيد نا      مُحَمَّدٍ وَ عَلىَ اَلِهِ وَ أَصْحَابِهِ
وَ مَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُون

Para jamaah yang berbahagia,
      Marilah kita selalu meningkatkan takwa kepada Allah SWT dengan menjalankan semua perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya.
Para jamaah yang berbahagia,

     Artinya: “Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan sesungguhnya dia akan binasa. Tidaklah berfaedah kepadanya harta bendanya dan apa yang ia usahakan.Kelak dia akan masuk ke dalam api yang bergejolak. Dan (begitu pula) istrinya, pembawa kayu bakar. Yang di lehernya ada tali dari sabut.”  
Para jamaah yang berbahagia,
      Banyak bukti yang menunjukkan kebenaran Al-Quran. Salah satunya, surat Al-Lahab. Surat Al-Lahab adalah surah ke-111 dari 114 surat dalam Al-Quran, dan berisi 5 ayat.
    Menurut Ibnu Abbas, “Azbabun nuzul” atau penyebab turunnya  ayat ini berkenaan dengan sikap dan perilaku Abu Lahab.
Para jamaah yang berbahagia,
      Abu Lahab adalah pakdenya Nabi dan besannya Nabi, serta lokasi  rumah Abu Lahab berdempetan dengan rumah Nabi. Dua putri Nabi dengan Khadijah, yaitu Ruqaiyah dan Umi Kulsum, dinikahkan dengan Utbah dan Utaibah, dua putra Abu Lahab. Mereka dinikahkan sebelum Nabi Muhammad diangkat  menjadi rasul.
      Nabi Muhammad mendapatkan wahyu pertama di Gua Hira di puncak gunung Jabal Nur melalui malaikat Jibril sekitar umur 40 tahun.
      Ketika Nabi diangkat menjadi Rasul, maka Abu Lahab amat murka. Kedua putranya diperintahkan agar menceraikan dua putri Nabi, dan sejak saat  itu, hampir setiap hari, Abu Lahab dan istrinya mengganggu Nabi dengan kasar dan biadab.
     Abu Lahab dan istrinya selalu menyebarkan kabar bohong tentang Nabi, memasang duri, melontarkan kotoran, melempari dengan batu, dan perbuatan jahat lainnya kepada Nabi.
    Ketika itu, Nabi diam saja, dan tidak membalasnya, karena  Abu Lahab adalah saudara kandung ayah Nabi sendiri, Abu Lahab adalah pakdenya Nabi.
      Ketika mendengar Abdullah, putra Nabi yang masih kecil wafat, maka Abu Lahab amat gembira, dan seketika itu, dia menjumpai teman-temannya, berteriak dengan keras bahwa Nabi Muhammad telah terputus dari rahmat Allah. 
      Setelah turun surat Asy-Syuara, surat ke-26 ayat 214.”Dan berilah peringatan kepada kerabatmu yang dekat.”, yang berisi perintah berdakwah secara terbuka, maka  Nabi mulai berdakwah.

“Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat”.
     Nabi mengundang keluarga Bani Hasyim, yang hadir 45 orang. Sebelum Nabi berbicara, Abu Lahab langsung menyela lebih dahulu, “Semua yang hadir di sini adalah paman-pamanmu sendiri dengan anak-anaknya. Segeralah kamu bicara, jika ingin berbicara, jangan bersikap kekanakan.”
      Abu Lahab melanjutkan, “Ketahuilah, bahwa tidak ada orang Arab yang berani mengernyitkan dahi kepada keluarga kami, dengan begitu, aku berhak menghukummu. Biarkan urusan keluarga bapakmu. Jika kamu tetap bertahan pada urusanmu ini, maka itu lebih mudah bagi mereka daripada semua kabilah Quraisy menyerangmu.”
       “Jangan sampai semua bangsa Arab ikut campur tangan, karena selama ini tidak ada seorang pun dari keluarga bapakmu yang berbuat macam-macam,” tegas Abu Lahab.      Ketika itu, Nabi diam saja. Nabi tidak berbicara sepatah pun.
       Pada kesempatan yang lain, Nabi mengundang keluarga Bani Hasyim lagi. Kali ini Nabi bersabda,”Segala puji bagi Allah dan saya memuji-Nya. Saya memohon pertolongan, percaya, dan tawakal kepada-Nya. Saya bersaksi bahwa tidak ada tuhan, selain Allah semata, dan tidak ada sekutu bagi Allah.”
      Nabi melanjutkan, ”Sesungguhnya, seorang pemandu tidak akan mendustakan keluarganya. Demi Allah, yang tidak ada tuhan selain Dia. Sesungguhnya saya adalah utusan Allah kepada kalian secara khusus dan kepada manusia secara umum.
     Demi Allah, sungguh, kalian akan mati layaknya orang tidur nyenyak, dan akan dibangkitkan lagi bagaikan bangun tidur. Kita akan dihisab terhadap apa saja yang kita perbuat. Kemudian, di sana nanti akan ada surga yang abadi dan neraka yang kekal pula.” 
     Abu Lahab berteriak, “Demi Allah, ini kabar buruk, maka ambil tindakan terhadapnya, sebelum orang lain yang melakukannya.” “Demi Allah, kami akan tetap melindunginya, selama kami masih hidup,“jawab Abu Thalib, paman Nabi yang lain, yang menjadi  Kepala Suku Quraisy saat itu. 
      Menurut sejarah, ayah Nabi, Abdullah, wafat umur 25 tahun, ketika Nabi belum lahir. Sedangkan Aminah, ibu Nabi,  meninggal saat usia Nabi 6 tahun.
     Kemudian Abdul Muththalib, kakeknya yang mengasuh Nabi selama 2 tahun, yaitu sejak Nabi berumur 6 sampai 8 tahun. Lalu Abu  Thalib, menjadi bapak asuh Nabi, sejak Nabi berusia 8 sampai 50 tahun
      Mulai saat itu, Nabi merasa yakin terhadap janji Abu Thalib untuk melindunginya, maka pada suatu hari Nabi mengundang semua suku berkumpul di bukit Safa. 
     Nabi berdiri di atas batu besar dan berseru, ”Wahai semua suku kaum Quraisy, bagaimana pendapat kalian, jika kukabarkan bahwa di sekitar lembah ini ada pasukan yang mengepung kalian, apakah kalian percaya kepadaku?” “Ya, benar,” jawab mereka, “Kami menyaksikan  engkau tidak pernah berbohong, pengalaman kami selama ini engkau selalu jujur.”
      Nabi melanjutkan,”Sesungguhnya, saya memberi peringatan kepada kalian, sebelum datangnya azab yang pedih.” Abu Lahab murka, “Celakalah kamu Muhammad, apakah kamu mengumpulkan kami hanya untuk ini!” Kemudian turunlah ayat, “Celakalah ke dua tangan Abu Lahab.”, inilah surat Al-Lahab.
     Surah Al-Lahab turun ketika Nabi berumur 43 tahun. Surah ini diterima Nabi melalui malaikat Jibril, 12  tahun sebelum Abu Lahab meninggal dunia.
      Surah Al-Lahab menjelaskan dengan yakin dan gamblang, bahwa Abu Lahab dan isterinya pasti dilemparkan ke dalam neraka Jahanam.
      Ketika itu, Abu Lahab dan isterinya masih segar bugar, padahal Abu Lahab masih hidup selama 12  tahun lagi sejak ayat tersebut diturunkan.
     Berarti, selama 12  tahun, masih banyak peristiwa yang akan terjadi. Tetapi, Al-Quran dengan tegas dan jelas sudah memastikan Abu Lahab dan istrinya akan dimasukkan  ke dalam neraka. Ternyata, Al-Quran terbukti benar
      Abu Lahab dan istrinya memiliki kesempatan selama 12  tahun untuk membuktikan Al-Quran salah dan keliru. Jika Abu Lahab ingin menunjukkan Al-Quran salah dan keliru caranya sangat gampang, yaitu Abu Lahab dan istrinya masuk Islam.
     Jika Abu Lahab membaca “Dua Kalimat Syahadat”, yaitu saya bersaksi tidak tuhan selain Allah, dan saya bersaksi Nabi Muhammad utusan Allah”, maka Abu Lahab sudah dianggap masuk Islam.
      Hanya itu saja, dan cukup itu saja sudah membuktikan bahwa Al-Quran salah. Jika Abu Lahab masuk Islam, maka surah Al-Lahab salah, dan terbukti ada ayat dalam Al-Quran yang salah dan keliru.
     Jika Abu Lahab dan istrinya masuk Islam berarti Al-Quran terbukti salah dan terbukti keliru! Tetapi kenyataanya, hal itu tidak pernah terjadi. Selama 12  tahun Abu Lahab hidup, sejak surah Al-Lahab turun, sampai matinya dia tetap kafir.
     Padahal selama 12  tahun itu  banyak saudara dan teman Abu Lahab yang berikrar masuk Islam. Tetapi, kenyataannya sampai meninggal dunia Abu Lahab tetap kafir, Abu Lahab tetap tidak  beriman kepada Allah dan rasul-Nya.
      Mengapa? Karena Al-Quran kalam Allah, wahyu dari Allah, bukan karangan Nabi Muhammad, dan Al-Quran bukan hasil literasi atau karya tulis Nabi Muhammad.
    Jadi, kisah Abu Lahab ini merupakan salah satu  bukti kebenaran Al-Quran. Surah Al-Lahab ini membuktikan Al-Quran benar. Maha Suci Allah.
 
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ
وَ نَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلأَيَاتِ وَ ذِكْرِ الْحَكِيْم
وَتَقَبَّلَ مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ

duduk

226. JUMAT

Khutbah Jumat, 25-8-2017
“ ABU LAHAB DAN BUKTI KEBENARAN AL-QURAN”
Khutbah-1

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِين
إِنَّ الْحَمْدَ للهِ نَحْمَدُهُ وَ نَسْتَعِيْنُهُ وَ نَسْتَغْفِرُهُ وَ نَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْر
أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَاِلنَا مَنْ يَهْدِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَ مَنْ يُضْلِلْ
فَلاَ هَادِيَ لَهُ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ
وَ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَ رَسُوْلُهُ
اَللَّهُمَّ صَلِّ وَ سَلِّمْ عَلَى سيد نا      مُحَمَّدٍ وَ عَلىَ اَلِهِ وَ أَصْحَابِهِ
وَ مَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُون

Para jamaah yang berbahagia,
      Marilah kita selalu meningkatkan takwa kepada Allah SWT dengan menjalankan semua perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya.
Para jamaah yang berbahagia,

     Artinya: “Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan sesungguhnya dia akan binasa. Tidaklah berfaedah kepadanya harta bendanya dan apa yang ia usahakan.Kelak dia akan masuk ke dalam api yang bergejolak. Dan (begitu pula) istrinya, pembawa kayu bakar. Yang di lehernya ada tali dari sabut.”  
Para jamaah yang berbahagia,
      Banyak bukti yang menunjukkan kebenaran Al-Quran. Salah satunya, surat Al-Lahab. Surat Al-Lahab adalah surah ke-111 dari 114 surat dalam Al-Quran, dan berisi 5 ayat.
    Menurut Ibnu Abbas, “Azbabun nuzul” atau penyebab turunnya  ayat ini berkenaan dengan sikap dan perilaku Abu Lahab.
Para jamaah yang berbahagia,
      Abu Lahab adalah pakdenya Nabi dan besannya Nabi, serta lokasi  rumah Abu Lahab berdempetan dengan rumah Nabi. Dua putri Nabi dengan Khadijah, yaitu Ruqaiyah dan Umi Kulsum, dinikahkan dengan Utbah dan Utaibah, dua putra Abu Lahab. Mereka dinikahkan sebelum Nabi Muhammad diangkat  menjadi rasul.
      Nabi Muhammad mendapatkan wahyu pertama di Gua Hira di puncak gunung Jabal Nur melalui malaikat Jibril sekitar umur 40 tahun.
      Ketika Nabi diangkat menjadi Rasul, maka Abu Lahab amat murka. Kedua putranya diperintahkan agar menceraikan dua putri Nabi, dan sejak saat  itu, hampir setiap hari, Abu Lahab dan istrinya mengganggu Nabi dengan kasar dan biadab.
     Abu Lahab dan istrinya selalu menyebarkan kabar bohong tentang Nabi, memasang duri, melontarkan kotoran, melempari dengan batu, dan perbuatan jahat lainnya kepada Nabi.
    Ketika itu, Nabi diam saja, dan tidak membalasnya, karena  Abu Lahab adalah saudara kandung ayah Nabi sendiri, Abu Lahab adalah pakdenya Nabi.
      Ketika mendengar Abdullah, putra Nabi yang masih kecil wafat, maka Abu Lahab amat gembira, dan seketika itu, dia menjumpai teman-temannya, berteriak dengan keras bahwa Nabi Muhammad telah terputus dari rahmat Allah. 
      Setelah turun surat Asy-Syuara, surat ke-26 ayat 214.”Dan berilah peringatan kepada kerabatmu yang dekat.”, yang berisi perintah berdakwah secara terbuka, maka  Nabi mulai berdakwah.

“Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat”.
     Nabi mengundang keluarga Bani Hasyim, yang hadir 45 orang. Sebelum Nabi berbicara, Abu Lahab langsung menyela lebih dahulu, “Semua yang hadir di sini adalah paman-pamanmu sendiri dengan anak-anaknya. Segeralah kamu bicara, jika ingin berbicara, jangan bersikap kekanakan.”
      Abu Lahab melanjutkan, “Ketahuilah, bahwa tidak ada orang Arab yang berani mengernyitkan dahi kepada keluarga kami, dengan begitu, aku berhak menghukummu. Biarkan urusan keluarga bapakmu. Jika kamu tetap bertahan pada urusanmu ini, maka itu lebih mudah bagi mereka daripada semua kabilah Quraisy menyerangmu.”
       “Jangan sampai semua bangsa Arab ikut campur tangan, karena selama ini tidak ada seorang pun dari keluarga bapakmu yang berbuat macam-macam,” tegas Abu Lahab.      Ketika itu, Nabi diam saja. Nabi tidak berbicara sepatah pun.
       Pada kesempatan yang lain, Nabi mengundang keluarga Bani Hasyim lagi. Kali ini Nabi bersabda,”Segala puji bagi Allah dan saya memuji-Nya. Saya memohon pertolongan, percaya, dan tawakal kepada-Nya. Saya bersaksi bahwa tidak ada tuhan, selain Allah semata, dan tidak ada sekutu bagi Allah.”
      Nabi melanjutkan, ”Sesungguhnya, seorang pemandu tidak akan mendustakan keluarganya. Demi Allah, yang tidak ada tuhan selain Dia. Sesungguhnya saya adalah utusan Allah kepada kalian secara khusus dan kepada manusia secara umum.
     Demi Allah, sungguh, kalian akan mati layaknya orang tidur nyenyak, dan akan dibangkitkan lagi bagaikan bangun tidur. Kita akan dihisab terhadap apa saja yang kita perbuat. Kemudian, di sana nanti akan ada surga yang abadi dan neraka yang kekal pula.” 
     Abu Lahab berteriak, “Demi Allah, ini kabar buruk, maka ambil tindakan terhadapnya, sebelum orang lain yang melakukannya.” “Demi Allah, kami akan tetap melindunginya, selama kami masih hidup,“jawab Abu Thalib, paman Nabi yang lain, yang menjadi  Kepala Suku Quraisy saat itu. 
      Menurut sejarah, ayah Nabi, Abdullah, wafat umur 25 tahun, ketika Nabi belum lahir. Sedangkan Aminah, ibu Nabi,  meninggal saat usia Nabi 6 tahun.
     Kemudian Abdul Muththalib, kakeknya yang mengasuh Nabi selama 2 tahun, yaitu sejak Nabi berumur 6 sampai 8 tahun. Lalu Abu  Thalib, menjadi bapak asuh Nabi, sejak Nabi berusia 8 sampai 50 tahun
      Mulai saat itu, Nabi merasa yakin terhadap janji Abu Thalib untuk melindunginya, maka pada suatu hari Nabi mengundang semua suku berkumpul di bukit Safa. 
     Nabi berdiri di atas batu besar dan berseru, ”Wahai semua suku kaum Quraisy, bagaimana pendapat kalian, jika kukabarkan bahwa di sekitar lembah ini ada pasukan yang mengepung kalian, apakah kalian percaya kepadaku?” “Ya, benar,” jawab mereka, “Kami menyaksikan  engkau tidak pernah berbohong, pengalaman kami selama ini engkau selalu jujur.”
      Nabi melanjutkan,”Sesungguhnya, saya memberi peringatan kepada kalian, sebelum datangnya azab yang pedih.” Abu Lahab murka, “Celakalah kamu Muhammad, apakah kamu mengumpulkan kami hanya untuk ini!” Kemudian turunlah ayat, “Celakalah ke dua tangan Abu Lahab.”, inilah surat Al-Lahab.
     Surah Al-Lahab turun ketika Nabi berumur 43 tahun. Surah ini diterima Nabi melalui malaikat Jibril, 12  tahun sebelum Abu Lahab meninggal dunia.
      Surah Al-Lahab menjelaskan dengan yakin dan gamblang, bahwa Abu Lahab dan isterinya pasti dilemparkan ke dalam neraka Jahanam.
      Ketika itu, Abu Lahab dan isterinya masih segar bugar, padahal Abu Lahab masih hidup selama 12  tahun lagi sejak ayat tersebut diturunkan.
     Berarti, selama 12  tahun, masih banyak peristiwa yang akan terjadi. Tetapi, Al-Quran dengan tegas dan jelas sudah memastikan Abu Lahab dan istrinya akan dimasukkan  ke dalam neraka. Ternyata, Al-Quran terbukti benar
      Abu Lahab dan istrinya memiliki kesempatan selama 12  tahun untuk membuktikan Al-Quran salah dan keliru. Jika Abu Lahab ingin menunjukkan Al-Quran salah dan keliru caranya sangat gampang, yaitu Abu Lahab dan istrinya masuk Islam.
     Jika Abu Lahab membaca “Dua Kalimat Syahadat”, yaitu saya bersaksi tidak tuhan selain Allah, dan saya bersaksi Nabi Muhammad utusan Allah”, maka Abu Lahab sudah dianggap masuk Islam.
      Hanya itu saja, dan cukup itu saja sudah membuktikan bahwa Al-Quran salah. Jika Abu Lahab masuk Islam, maka surah Al-Lahab salah, dan terbukti ada ayat dalam Al-Quran yang salah dan keliru.
     Jika Abu Lahab dan istrinya masuk Islam berarti Al-Quran terbukti salah dan terbukti keliru! Tetapi kenyataanya, hal itu tidak pernah terjadi. Selama 12  tahun Abu Lahab hidup, sejak surah Al-Lahab turun, sampai matinya dia tetap kafir.
     Padahal selama 12  tahun itu  banyak saudara dan teman Abu Lahab yang berikrar masuk Islam. Tetapi, kenyataannya sampai meninggal dunia Abu Lahab tetap kafir, Abu Lahab tetap tidak  beriman kepada Allah dan rasul-Nya.
      Mengapa? Karena Al-Quran kalam Allah, wahyu dari Allah, bukan karangan Nabi Muhammad, dan Al-Quran bukan hasil literasi atau karya tulis Nabi Muhammad.
    Jadi, kisah Abu Lahab ini merupakan salah satu  bukti kebenaran Al-Quran. Surah Al-Lahab ini membuktikan Al-Quran benar. Maha Suci Allah.
 
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ
وَ نَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلأَيَاتِ وَ ذِكْرِ الْحَكِيْم
وَتَقَبَّلَ مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ

duduk

226. JUMAT

Khutbah Jumat, 25-8-2017
“ ABU LAHAB DAN BUKTI KEBENARAN AL-QURAN”
Khutbah-1

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِين
إِنَّ الْحَمْدَ للهِ نَحْمَدُهُ وَ نَسْتَعِيْنُهُ وَ نَسْتَغْفِرُهُ وَ نَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْر
أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَاِلنَا مَنْ يَهْدِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَ مَنْ يُضْلِلْ
فَلاَ هَادِيَ لَهُ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ
وَ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَ رَسُوْلُهُ
اَللَّهُمَّ صَلِّ وَ سَلِّمْ عَلَى سيد نا      مُحَمَّدٍ وَ عَلىَ اَلِهِ وَ أَصْحَابِهِ
وَ مَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُون

Para jamaah yang berbahagia,
      Marilah kita selalu meningkatkan takwa kepada Allah SWT dengan menjalankan semua perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya.
Para jamaah yang berbahagia,

     Artinya: “Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan sesungguhnya dia akan binasa. Tidaklah berfaedah kepadanya harta bendanya dan apa yang ia usahakan.Kelak dia akan masuk ke dalam api yang bergejolak. Dan (begitu pula) istrinya, pembawa kayu bakar. Yang di lehernya ada tali dari sabut.”  
Para jamaah yang berbahagia,
      Banyak bukti yang menunjukkan kebenaran Al-Quran. Salah satunya, surat Al-Lahab. Surat Al-Lahab adalah surah ke-111 dari 114 surat dalam Al-Quran, dan berisi 5 ayat.
    Menurut Ibnu Abbas, “Azbabun nuzul” atau penyebab turunnya  ayat ini berkenaan dengan sikap dan perilaku Abu Lahab.
Para jamaah yang berbahagia,
      Abu Lahab adalah pakdenya Nabi dan besannya Nabi, serta lokasi  rumah Abu Lahab berdempetan dengan rumah Nabi. Dua putri Nabi dengan Khadijah, yaitu Ruqaiyah dan Umi Kulsum, dinikahkan dengan Utbah dan Utaibah, dua putra Abu Lahab. Mereka dinikahkan sebelum Nabi Muhammad diangkat  menjadi rasul.
      Nabi Muhammad mendapatkan wahyu pertama di Gua Hira di puncak gunung Jabal Nur melalui malaikat Jibril sekitar umur 40 tahun.
      Ketika Nabi diangkat menjadi Rasul, maka Abu Lahab amat murka. Kedua putranya diperintahkan agar menceraikan dua putri Nabi, dan sejak saat  itu, hampir setiap hari, Abu Lahab dan istrinya mengganggu Nabi dengan kasar dan biadab.
     Abu Lahab dan istrinya selalu menyebarkan kabar bohong tentang Nabi, memasang duri, melontarkan kotoran, melempari dengan batu, dan perbuatan jahat lainnya kepada Nabi.
    Ketika itu, Nabi diam saja, dan tidak membalasnya, karena  Abu Lahab adalah saudara kandung ayah Nabi sendiri, Abu Lahab adalah pakdenya Nabi.
      Ketika mendengar Abdullah, putra Nabi yang masih kecil wafat, maka Abu Lahab amat gembira, dan seketika itu, dia menjumpai teman-temannya, berteriak dengan keras bahwa Nabi Muhammad telah terputus dari rahmat Allah. 
      Setelah turun surat Asy-Syuara, surat ke-26 ayat 214.”Dan berilah peringatan kepada kerabatmu yang dekat.”, yang berisi perintah berdakwah secara terbuka, maka  Nabi mulai berdakwah.

“Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat”.
     Nabi mengundang keluarga Bani Hasyim, yang hadir 45 orang. Sebelum Nabi berbicara, Abu Lahab langsung menyela lebih dahulu, “Semua yang hadir di sini adalah paman-pamanmu sendiri dengan anak-anaknya. Segeralah kamu bicara, jika ingin berbicara, jangan bersikap kekanakan.”
      Abu Lahab melanjutkan, “Ketahuilah, bahwa tidak ada orang Arab yang berani mengernyitkan dahi kepada keluarga kami, dengan begitu, aku berhak menghukummu. Biarkan urusan keluarga bapakmu. Jika kamu tetap bertahan pada urusanmu ini, maka itu lebih mudah bagi mereka daripada semua kabilah Quraisy menyerangmu.”
       “Jangan sampai semua bangsa Arab ikut campur tangan, karena selama ini tidak ada seorang pun dari keluarga bapakmu yang berbuat macam-macam,” tegas Abu Lahab.      Ketika itu, Nabi diam saja. Nabi tidak berbicara sepatah pun.
       Pada kesempatan yang lain, Nabi mengundang keluarga Bani Hasyim lagi. Kali ini Nabi bersabda,”Segala puji bagi Allah dan saya memuji-Nya. Saya memohon pertolongan, percaya, dan tawakal kepada-Nya. Saya bersaksi bahwa tidak ada tuhan, selain Allah semata, dan tidak ada sekutu bagi Allah.”
      Nabi melanjutkan, ”Sesungguhnya, seorang pemandu tidak akan mendustakan keluarganya. Demi Allah, yang tidak ada tuhan selain Dia. Sesungguhnya saya adalah utusan Allah kepada kalian secara khusus dan kepada manusia secara umum.
     Demi Allah, sungguh, kalian akan mati layaknya orang tidur nyenyak, dan akan dibangkitkan lagi bagaikan bangun tidur. Kita akan dihisab terhadap apa saja yang kita perbuat. Kemudian, di sana nanti akan ada surga yang abadi dan neraka yang kekal pula.” 
     Abu Lahab berteriak, “Demi Allah, ini kabar buruk, maka ambil tindakan terhadapnya, sebelum orang lain yang melakukannya.” “Demi Allah, kami akan tetap melindunginya, selama kami masih hidup,“jawab Abu Thalib, paman Nabi yang lain, yang menjadi  Kepala Suku Quraisy saat itu. 
      Menurut sejarah, ayah Nabi, Abdullah, wafat umur 25 tahun, ketika Nabi belum lahir. Sedangkan Aminah, ibu Nabi,  meninggal saat usia Nabi 6 tahun.
     Kemudian Abdul Muththalib, kakeknya yang mengasuh Nabi selama 2 tahun, yaitu sejak Nabi berumur 6 sampai 8 tahun. Lalu Abu  Thalib, menjadi bapak asuh Nabi, sejak Nabi berusia 8 sampai 50 tahun
      Mulai saat itu, Nabi merasa yakin terhadap janji Abu Thalib untuk melindunginya, maka pada suatu hari Nabi mengundang semua suku berkumpul di bukit Safa. 
     Nabi berdiri di atas batu besar dan berseru, ”Wahai semua suku kaum Quraisy, bagaimana pendapat kalian, jika kukabarkan bahwa di sekitar lembah ini ada pasukan yang mengepung kalian, apakah kalian percaya kepadaku?” “Ya, benar,” jawab mereka, “Kami menyaksikan  engkau tidak pernah berbohong, pengalaman kami selama ini engkau selalu jujur.”
      Nabi melanjutkan,”Sesungguhnya, saya memberi peringatan kepada kalian, sebelum datangnya azab yang pedih.” Abu Lahab murka, “Celakalah kamu Muhammad, apakah kamu mengumpulkan kami hanya untuk ini!” Kemudian turunlah ayat, “Celakalah ke dua tangan Abu Lahab.”, inilah surat Al-Lahab.
     Surah Al-Lahab turun ketika Nabi berumur 43 tahun. Surah ini diterima Nabi melalui malaikat Jibril, 12  tahun sebelum Abu Lahab meninggal dunia.
      Surah Al-Lahab menjelaskan dengan yakin dan gamblang, bahwa Abu Lahab dan isterinya pasti dilemparkan ke dalam neraka Jahanam.
      Ketika itu, Abu Lahab dan isterinya masih segar bugar, padahal Abu Lahab masih hidup selama 12  tahun lagi sejak ayat tersebut diturunkan.
     Berarti, selama 12  tahun, masih banyak peristiwa yang akan terjadi. Tetapi, Al-Quran dengan tegas dan jelas sudah memastikan Abu Lahab dan istrinya akan dimasukkan  ke dalam neraka. Ternyata, Al-Quran terbukti benar
      Abu Lahab dan istrinya memiliki kesempatan selama 12  tahun untuk membuktikan Al-Quran salah dan keliru. Jika Abu Lahab ingin menunjukkan Al-Quran salah dan keliru caranya sangat gampang, yaitu Abu Lahab dan istrinya masuk Islam.
     Jika Abu Lahab membaca “Dua Kalimat Syahadat”, yaitu saya bersaksi tidak tuhan selain Allah, dan saya bersaksi Nabi Muhammad utusan Allah”, maka Abu Lahab sudah dianggap masuk Islam.
      Hanya itu saja, dan cukup itu saja sudah membuktikan bahwa Al-Quran salah. Jika Abu Lahab masuk Islam, maka surah Al-Lahab salah, dan terbukti ada ayat dalam Al-Quran yang salah dan keliru.
     Jika Abu Lahab dan istrinya masuk Islam berarti Al-Quran terbukti salah dan terbukti keliru! Tetapi kenyataanya, hal itu tidak pernah terjadi. Selama 12  tahun Abu Lahab hidup, sejak surah Al-Lahab turun, sampai matinya dia tetap kafir.
     Padahal selama 12  tahun itu  banyak saudara dan teman Abu Lahab yang berikrar masuk Islam. Tetapi, kenyataannya sampai meninggal dunia Abu Lahab tetap kafir, Abu Lahab tetap tidak  beriman kepada Allah dan rasul-Nya.
      Mengapa? Karena Al-Quran kalam Allah, wahyu dari Allah, bukan karangan Nabi Muhammad, dan Al-Quran bukan hasil literasi atau karya tulis Nabi Muhammad.
    Jadi, kisah Abu Lahab ini merupakan salah satu  bukti kebenaran Al-Quran. Surah Al-Lahab ini membuktikan Al-Quran benar. Maha Suci Allah.
 
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ
وَ نَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلأَيَاتِ وَ ذِكْرِ الْحَكِيْم
وَتَقَبَّلَ مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ

duduk

Thursday, August 24, 2017

225. IMAM

SIFAT KHALIFAH YANG TERPUJI
Oleh: Drs. H. Yusron Hadi, M.M.


       Beberapa orang bertanya,”Mohon dijelaskan tentang sifat-sifat yang terpuji seorang khalifah di bumi? Profesor Quraish Shihab menjelaskannya.
         Para ulama menjelaskan dalam tafsirnya bahwa kata “imam” mempunyai makna yang sama dengan “khalifah’, tetapi kata “imam” digunakan untuk keteladanan, karena terambil dari kata yang mengandung arti “depan”, sedangkan kata “khalifah” terambil dari kata “belakang”.
     Informasi tentang sifat terpuji dari seorang khalifah dapat ditelusuri melalui ayat yang menggunakan kata Imam.
     Dalam Al-Quran, kata “imam” terulang sebanyak 7 kali dengan makna yang berbeda, tetapi semuanya bertumpu pada arti “sesuatu yang dituju atau diteladani”.        Al-Quran surah Al-Baqarah, surah ke-2 ayat 124.
           ••              
      “Dan (ingatlah), ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan), lalu Ibrahim menunaikannya. Allah berfirman, “Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu imam bagi seluruh manusia”. Ibrahim berkata, “(Dan saya mohon juga) dari keturunanku”. Allah berfirman, “Janji-Ku tidak mengenai orang yang zalim”.
      Al-Quran surah Al-Furqan, surah ke-25 ayat 74.
            •   
      “Dan orang berkata, “Ya Tuhan kami, anugerahkan kepada kami isteri-isteri dan keturunan kami sebagai penyenang hati, dan Jadikan kami imam bagi orang-orang yang bertakwa”.
      Nabi Ibrahim dijanjikan oleh Allah untuk dijadikan imam, dan ketika beliau bermohon agar kehormatan ini diperoleh pula oleh anak cucunya, Allah memberikan syarat, yaitu “Janji-Ku ini tidak akan diperoleh oleh orang yang berlaku aniaya”.
      Jadi, salah satu sifat imam atau khalifah adalah sifat adil terhadap diri, keluarga, manusia,  lingkungan, dan terhadap Allah.
       Khalifah yang disebutkan namanya dalam Al-Quran, yaitu Nabi Adam dan Daud, keduanya pernah melakukan penganiayaan terhadap diri dan orang lain, tetapi mereka  bertobat dan mendapatkan pengampunan.
     Peristiwa Nabi Adam dan penyesalannya cukup populer, yaitu Al-Quran surah Al-A’raf, surah-7 ayat 23.
         •     
      “Keduanya berkata, “Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi”.
      Al-Quran surah Shad, surah ke-38 ayat 22.
                             
      “Ketika mereka masuk (menemui) Daud, lalu dia terkejut karena kedatangan mereka. Mereka berkata, “Kamu jangan merasa takut, kami adalah dua orang yang berperkara yang salah seorang dari kami berbuat zalim kepada yang lain, maka beri keputusan dengan adil dan kamu jangan menyimpang dari kebenaran dan tunjuki kami ke jalan yang lurus”.
        ••          •               
      “Hai Daud, sesungguhnya Kami menjadikanmu khalifah (penguasa) di muka bumi, maka berilah keputusan (perkara) di antara manusia dengan adil dan jangan kamu mengikuti hawa nafsu, karena akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Sesungguhnya orang-orang yang sesat dari jalan Allah akan mendapat azab yang berat, karena mereka melupakan hari perhitungan”.
      Para ulama menegaskan bahwa seorang khalifah harus mampu menunjukkan jalan yang benar dan mengantarkan umatnya menuju kesejahteraan. Seorang khalifah harus menunjukkan arah yang benar, dan memberikan teladan untuk mencapainya.
      Kesimpulannya, seorang khalifah yang ideal harus memiliki sifat luhur yang telah membudaya pada dirinya. Yaitu yang pertama, menggambarkan tingkat keimanan yang bersemi di dalam dadanya, sedangkan yang kedua, menggambarkan contoh teladan nyata yang dilakukan dalam kehidupan sehari-hari.  
Daftar Pustaka
1. Shihab, M.Quraish. Lentera Hati. Kisah dan Hikmah Kehidupan. Penerbit Mizan, 1994.  
2. Shihab, M.Quraish. E-book Membumikan Al-Quran.
3. Al-Quran Digital, Versi 3.2. Digital Qur’an Ver 3.2

225. IMAM

SIFAT KHALIFAH YANG TERPUJI
Oleh: Drs. H. Yusron Hadi, M.M.


       Beberapa orang bertanya,”Mohon dijelaskan tentang sifat-sifat yang terpuji seorang khalifah di bumi? Profesor Quraish Shihab menjelaskannya.
         Para ulama menjelaskan dalam tafsirnya bahwa kata “imam” mempunyai makna yang sama dengan “khalifah’, tetapi kata “imam” digunakan untuk keteladanan, karena terambil dari kata yang mengandung arti “depan”, sedangkan kata “khalifah” terambil dari kata “belakang”.
     Informasi tentang sifat terpuji dari seorang khalifah dapat ditelusuri melalui ayat yang menggunakan kata Imam.
     Dalam Al-Quran, kata “imam” terulang sebanyak 7 kali dengan makna yang berbeda, tetapi semuanya bertumpu pada arti “sesuatu yang dituju atau diteladani”.        Al-Quran surah Al-Baqarah, surah ke-2 ayat 124.
           ••              
      “Dan (ingatlah), ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan), lalu Ibrahim menunaikannya. Allah berfirman, “Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu imam bagi seluruh manusia”. Ibrahim berkata, “(Dan saya mohon juga) dari keturunanku”. Allah berfirman, “Janji-Ku tidak mengenai orang yang zalim”.
      Al-Quran surah Al-Furqan, surah ke-25 ayat 74.
            •   
      “Dan orang berkata, “Ya Tuhan kami, anugerahkan kepada kami isteri-isteri dan keturunan kami sebagai penyenang hati, dan Jadikan kami imam bagi orang-orang yang bertakwa”.
      Nabi Ibrahim dijanjikan oleh Allah untuk dijadikan imam, dan ketika beliau bermohon agar kehormatan ini diperoleh pula oleh anak cucunya, Allah memberikan syarat, yaitu “Janji-Ku ini tidak akan diperoleh oleh orang yang berlaku aniaya”.
      Jadi, salah satu sifat imam atau khalifah adalah sifat adil terhadap diri, keluarga, manusia,  lingkungan, dan terhadap Allah.
       Khalifah yang disebutkan namanya dalam Al-Quran, yaitu Nabi Adam dan Daud, keduanya pernah melakukan penganiayaan terhadap diri dan orang lain, tetapi mereka  bertobat dan mendapatkan pengampunan.
     Peristiwa Nabi Adam dan penyesalannya cukup populer, yaitu Al-Quran surah Al-A’raf, surah-7 ayat 23.
         •     
      “Keduanya berkata, “Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi”.
      Al-Quran surah Shad, surah ke-38 ayat 22.
                             
      “Ketika mereka masuk (menemui) Daud, lalu dia terkejut karena kedatangan mereka. Mereka berkata, “Kamu jangan merasa takut, kami adalah dua orang yang berperkara yang salah seorang dari kami berbuat zalim kepada yang lain, maka beri keputusan dengan adil dan kamu jangan menyimpang dari kebenaran dan tunjuki kami ke jalan yang lurus”.
        ••          •               
      “Hai Daud, sesungguhnya Kami menjadikanmu khalifah (penguasa) di muka bumi, maka berilah keputusan (perkara) di antara manusia dengan adil dan jangan kamu mengikuti hawa nafsu, karena akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Sesungguhnya orang-orang yang sesat dari jalan Allah akan mendapat azab yang berat, karena mereka melupakan hari perhitungan”.
      Para ulama menegaskan bahwa seorang khalifah harus mampu menunjukkan jalan yang benar dan mengantarkan umatnya menuju kesejahteraan. Seorang khalifah harus menunjukkan arah yang benar, dan memberikan teladan untuk mencapainya.
      Kesimpulannya, seorang khalifah yang ideal harus memiliki sifat luhur yang telah membudaya pada dirinya. Yaitu yang pertama, menggambarkan tingkat keimanan yang bersemi di dalam dadanya, sedangkan yang kedua, menggambarkan contoh teladan nyata yang dilakukan dalam kehidupan sehari-hari.  
Daftar Pustaka
1. Shihab, M.Quraish. Lentera Hati. Kisah dan Hikmah Kehidupan. Penerbit Mizan, 1994.  
2. Shihab, M.Quraish. E-book Membumikan Al-Quran.
3. Al-Quran Digital, Versi 3.2. Digital Qur’an Ver 3.2

225. IMAM

SIFAT KHALIFAH YANG TERPUJI
Oleh: Drs. H. Yusron Hadi, M.M.


       Beberapa orang bertanya,”Mohon dijelaskan tentang sifat-sifat yang terpuji seorang khalifah di bumi? Profesor Quraish Shihab menjelaskannya.
         Para ulama menjelaskan dalam tafsirnya bahwa kata “imam” mempunyai makna yang sama dengan “khalifah’, tetapi kata “imam” digunakan untuk keteladanan, karena terambil dari kata yang mengandung arti “depan”, sedangkan kata “khalifah” terambil dari kata “belakang”.
     Informasi tentang sifat terpuji dari seorang khalifah dapat ditelusuri melalui ayat yang menggunakan kata Imam.
     Dalam Al-Quran, kata “imam” terulang sebanyak 7 kali dengan makna yang berbeda, tetapi semuanya bertumpu pada arti “sesuatu yang dituju atau diteladani”.        Al-Quran surah Al-Baqarah, surah ke-2 ayat 124.
           ••              
      “Dan (ingatlah), ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan), lalu Ibrahim menunaikannya. Allah berfirman, “Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu imam bagi seluruh manusia”. Ibrahim berkata, “(Dan saya mohon juga) dari keturunanku”. Allah berfirman, “Janji-Ku tidak mengenai orang yang zalim”.
      Al-Quran surah Al-Furqan, surah ke-25 ayat 74.
            •   
      “Dan orang berkata, “Ya Tuhan kami, anugerahkan kepada kami isteri-isteri dan keturunan kami sebagai penyenang hati, dan Jadikan kami imam bagi orang-orang yang bertakwa”.
      Nabi Ibrahim dijanjikan oleh Allah untuk dijadikan imam, dan ketika beliau bermohon agar kehormatan ini diperoleh pula oleh anak cucunya, Allah memberikan syarat, yaitu “Janji-Ku ini tidak akan diperoleh oleh orang yang berlaku aniaya”.
      Jadi, salah satu sifat imam atau khalifah adalah sifat adil terhadap diri, keluarga, manusia,  lingkungan, dan terhadap Allah.
       Khalifah yang disebutkan namanya dalam Al-Quran, yaitu Nabi Adam dan Daud, keduanya pernah melakukan penganiayaan terhadap diri dan orang lain, tetapi mereka  bertobat dan mendapatkan pengampunan.
     Peristiwa Nabi Adam dan penyesalannya cukup populer, yaitu Al-Quran surah Al-A’raf, surah-7 ayat 23.
         •     
      “Keduanya berkata, “Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi”.
      Al-Quran surah Shad, surah ke-38 ayat 22.
                             
      “Ketika mereka masuk (menemui) Daud, lalu dia terkejut karena kedatangan mereka. Mereka berkata, “Kamu jangan merasa takut, kami adalah dua orang yang berperkara yang salah seorang dari kami berbuat zalim kepada yang lain, maka beri keputusan dengan adil dan kamu jangan menyimpang dari kebenaran dan tunjuki kami ke jalan yang lurus”.
        ••          •               
      “Hai Daud, sesungguhnya Kami menjadikanmu khalifah (penguasa) di muka bumi, maka berilah keputusan (perkara) di antara manusia dengan adil dan jangan kamu mengikuti hawa nafsu, karena akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Sesungguhnya orang-orang yang sesat dari jalan Allah akan mendapat azab yang berat, karena mereka melupakan hari perhitungan”.
      Para ulama menegaskan bahwa seorang khalifah harus mampu menunjukkan jalan yang benar dan mengantarkan umatnya menuju kesejahteraan. Seorang khalifah harus menunjukkan arah yang benar, dan memberikan teladan untuk mencapainya.
      Kesimpulannya, seorang khalifah yang ideal harus memiliki sifat luhur yang telah membudaya pada dirinya. Yaitu yang pertama, menggambarkan tingkat keimanan yang bersemi di dalam dadanya, sedangkan yang kedua, menggambarkan contoh teladan nyata yang dilakukan dalam kehidupan sehari-hari.  
Daftar Pustaka
1. Shihab, M.Quraish. Lentera Hati. Kisah dan Hikmah Kehidupan. Penerbit Mizan, 1994.  
2. Shihab, M.Quraish. E-book Membumikan Al-Quran.
3. Al-Quran Digital, Versi 3.2. Digital Qur’an Ver 3.2