HAK WANITA DALAM POLITIK
Oleh: Drs. H. Yusron Hadi, M.M.
Beberapa orang bertanya,”Mohon dijelaskan tentang hak wanita dalam politik menurut Islam? Profesor Quraish Shihab menjelaskannya
Al-Quran berbicara tentang wanita dalam segala sisi kehidupan, ada ayat yang berbicara tentang hak dan kewajibannya, ada yang menguraikan keistimewaan tokoh wanita dalam sejarah agama atau kemanusiaan.
Al-Quran surah An-Nisa, surah ke-4 ayat 32.
• •
“Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebagian kamu lebih banyak dari sebagian yang lain. (Karena) bagi orang laki-laki ada bagian dari pada apa yang mereka usahakan, dan bagi para wanita (pun) ada bagian dari apa yang mereka usahakan, dan mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui segala sesuatu”.
Secara umum ayat tersebut menunjukkan hak lelaki dan wanita atas anugerah Allah kepada manusia.
Hak wanita dalam politik menurut pandangan ajaran Islam, para ulama menampilkan Al-Quran surah At-Taubah, surah ke-9 ayat 71.
• •
“Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang makruf, mencegah dari yang mungkar, mendirikan salat, menunaikan zakat dan mereka taat pada Allah dan Rasul-Nya. Mereka akan diberi rahmat oleh Allah. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”.
Secara umum, ayat di atas dipahami sebagai gambaran tentang kewajiban melakukan kerja sama lelaki dan wanita dalam berbagai bidang kehidupan dengan kalimat menyuruh mengerjakan yang makruf dan mencegah yang mungkar.
Kata “aulia”', dalam pengertiannya, mencakup “kerja sama”, “bantuan” dan “penguasaan”, sedangkan pengertian kalimat “menyuruh mengerjakan yang makruf” adalah mencakup segala segi kebaikan dan perbaikan kehidupan masyarakat termasuk memberikan saran, nasihat, dan kritik kepada penguasa.
Diharapkan semua umat Islam yang lelaki dan wanita hendaknya mengikuti perkembangan masyarakat agar mampu melihat dan memberikan saran, nasihat, dan kritik dalam berbagai bidang kehidupan.
Nabi Muhammad bersabda,”Barangsiapa yang tidak memperhatikan kepentingan dan urusan umat Islam, maka dia tidak termasuk golongan mereka”.
Kepentingan dan urusan umat Islam mencakup banyak sisi kehidupan yang dapat menyempit atau meluas sesuai dengan latar belakang dan tingkat pendidikan seseorang, termasuk kehidupan politik.
Al-Quran surah Asy-Syura, surah ke-42 ayat 38 mengajak umat Islam lelaki dan wanita untuk bermusyawarah.
“Dan (bagi) orang-orang yang menerima (mematuhi) seruan Tuhannya dan mendirikan salat, sedang urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarah di antara mereka, dan mereka menafkahkan sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka”.
Ayat Al-Quran ini dijadikan dasar oleh banyak ulama untuk membuktikan adanya hak berpolitik bagi setiap lelaki dan wanita.
Bermusyawarah merupakan salah satu prinsip pengelolaan bidang kehidupan bersama menurut Al-Quran, termasuk kehidupan politik, dalam arti setiap warga masyarakat dalam kehidupan bersama dituntut senantiasa mengadakan musyawarah.
Dapat dikatakan bahwa setiap lelaki dan wanita memiliki hak berpolitik, karena tidak ditemukan satu ketentuan agama pun yang dapat dipahami sebagai melarang keterlibatan wanita untuk bermasyarakat, termasuk dalam bidang politik.
Data sejarah Islam menunjukkan bahwa kaum wanita terlibat dalam berbagai bidang kemasyarakatan.
Al-Quran juga menguraikan permintaan para wanita pada zaman Nabi untuk melakukan baiat berjanji setia kepada Nabi.
Al-Quran surah Al-Mumtahanah, surah ke-60 ayat 12.
• •
“Hai Nabi, apabila datang kepadamu wanita yang beriman untuk mengadakan janji setia, bahwa mereka tidak akan menyekutukan Allah, tidak akan mencuri, tidak akan berzina, tidak akan membunuh anak-anaknya, tidak akan berdusta yang mereka adakan antara tangan dan kaki mereka dan tidak akan mendurhakaimu dalam urusan yang baik, maka terimalah janji setia mereka dan mohonkan ampunan kepada Allah untuk mereka. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”.
Para ulama menjadikan baiat para wanita sebagai bukti kebebasan wanita untuk menentukan pilihan atau pandangannya yang berkaitan dengan kehidupan dan hak mereka.
Para wanita dibebaskan mempunyai pilihan sendiri yang mungkin berbeda dengan kelompok lain dalam masyarakat, bahkan mungkin berbeda dengan pandangan suami dan ayahnya sendiri.
Sebagian ulama berpendapat bahwa lelaki adalah pemimpin wanita, seperti dalam Al-Quran surah An-Nisa, surah ke-4 ayat 34, maka ayat ini sebagai bukti bahwa wanita tidak boleh terlibat dalam masalah politik.
•
“Kaum laki-laki adalah pemimpin bagi kaum wanita, karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. Oleh sebab itu, maka wanita yang saleh, adalah yang taat kepada Allah lagi menjaga diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah menjaga mereka. Wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya, maka nasehati mereka dan pisahkan mereka di tempat tidur mereka, dan pukul mereka. kemudian jika mereka menaatimu, maka janganlah kamu mencari jalan untuk menyusahkannya. Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar”.
Sebagian ulama berpendapat karena “kepemimpinan berada di tangan lelaki”, maka “hak berpolitik” wanita telah berada di tangan lelaki.
Ulama yang lain berpendapat bahwa pandangan ini tidak sejalan dengan ayat yang dikutip di atas, dan tidak sejalan dengan makna sebenarnya yang diamanatkan oleh ayat Al-Quran surah An-Nisa, surah ke-4 ayat 34.
Surah An-Nisa ayat 34 berbicara tentang kepemimpinan lelaki, yaitu seorang suami sebagai seorang pemimpin terhadap seluruh keluarganya dalam bidang kehidupan rumah tangga.
Kepemimpinan seorang suami tidak mencabut hak seorang istri dalam berbagai segi kehidupan, termasuk dalam hak pemilikan harta pribadi dan hak pengelolaannya meskipun tanpa persetujuan suami.
Sejarah menunjukkan banyak kaum wanita yang terlibat dalam politik praktis. Misalnya, Ummu Hani sikapnya dibenarkan oleh Nabi Muhammad ketika Ummu Hani memberikan jaminan keamanan kepada beberapa orang musyrik, padahal jaminan keamanan adalah salah satu aspek bidang politik.
Bahkan Aisyah, istri Nabi Muhammad, memimpin langsung peperangan melawan Ali bin Abi Thalib yang ketika itu menduduki jabatan Kepala Negara.
Isu terbesar dalam peperangan tersebut adalah soal suksesi setelah terbunuhnya Khalifah Usman bin Affan, dan peperangan itu disebut Perang Unta.
Keterlibatan Aisyah, istri Nabi, dengan beberapa sahabat Nabi dan kepemimpinannya dalam peperangan, menunjukkan bahwa Aisyah dan para pengikutnya menganut paham bahwa wanita boleh terlibat dalam politik praktis.
Daftar Pustaka
1. Shihab, M.Quraish. Lentera Hati. Kisah dan Hikmah Kehidupan. Penerbit Mizan, 1994.
2. Shihab, M.Quraish. E-book Membumikan Al-Quran.
3. Al-Quran Digital, Versi 3.2. Digital Qur’an Ver 3.
Organisasi Profesi Guru
Presiden Jokowi memberi hormat kepada Guru-Guru se Indonesia.
Tema Gambar Slide 2
Deskripsi gambar slide bisa dituliskan disini dengan beberapa kalimat yang menggambarkan gambar slide yang anda pasang, edit slide ini melalui edit HTML template.
Tema Gambar Slide 3
Deskripsi gambar slide bisa dituliskan disini dengan beberapa kalimat yang menggambarkan gambar slide yang anda pasang, edit slide ini melalui edit HTML template.
Tuesday, August 29, 2017
234. POLITIK
234. POLITIK
HAK WANITA DALAM POLITIK
Oleh: Drs. H. Yusron Hadi, M.M.
Beberapa orang bertanya,”Mohon dijelaskan tentang hak wanita dalam politik menurut Islam? Profesor Quraish Shihab menjelaskannya
Al-Quran berbicara tentang wanita dalam segala sisi kehidupan, ada ayat yang berbicara tentang hak dan kewajibannya, ada yang menguraikan keistimewaan tokoh wanita dalam sejarah agama atau kemanusiaan.
Al-Quran surah An-Nisa, surah ke-4 ayat 32.
• •
“Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebagian kamu lebih banyak dari sebagian yang lain. (Karena) bagi orang laki-laki ada bagian dari pada apa yang mereka usahakan, dan bagi para wanita (pun) ada bagian dari apa yang mereka usahakan, dan mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui segala sesuatu”.
Secara umum ayat tersebut menunjukkan hak lelaki dan wanita atas anugerah Allah kepada manusia.
Hak wanita dalam politik menurut pandangan ajaran Islam, para ulama menampilkan Al-Quran surah At-Taubah, surah ke-9 ayat 71.
• •
“Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang makruf, mencegah dari yang mungkar, mendirikan salat, menunaikan zakat dan mereka taat pada Allah dan Rasul-Nya. Mereka akan diberi rahmat oleh Allah. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”.
Secara umum, ayat di atas dipahami sebagai gambaran tentang kewajiban melakukan kerja sama lelaki dan wanita dalam berbagai bidang kehidupan dengan kalimat menyuruh mengerjakan yang makruf dan mencegah yang mungkar.
Kata “aulia”', dalam pengertiannya, mencakup “kerja sama”, “bantuan” dan “penguasaan”, sedangkan pengertian kalimat “menyuruh mengerjakan yang makruf” adalah mencakup segala segi kebaikan dan perbaikan kehidupan masyarakat termasuk memberikan saran, nasihat, dan kritik kepada penguasa.
Diharapkan semua umat Islam yang lelaki dan wanita hendaknya mengikuti perkembangan masyarakat agar mampu melihat dan memberikan saran, nasihat, dan kritik dalam berbagai bidang kehidupan.
Nabi Muhammad bersabda,”Barangsiapa yang tidak memperhatikan kepentingan dan urusan umat Islam, maka dia tidak termasuk golongan mereka”.
Kepentingan dan urusan umat Islam mencakup banyak sisi kehidupan yang dapat menyempit atau meluas sesuai dengan latar belakang dan tingkat pendidikan seseorang, termasuk kehidupan politik.
Al-Quran surah Asy-Syura, surah ke-42 ayat 38 mengajak umat Islam lelaki dan wanita untuk bermusyawarah.
“Dan (bagi) orang-orang yang menerima (mematuhi) seruan Tuhannya dan mendirikan salat, sedang urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarah di antara mereka, dan mereka menafkahkan sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka”.
Ayat Al-Quran ini dijadikan dasar oleh banyak ulama untuk membuktikan adanya hak berpolitik bagi setiap lelaki dan wanita.
Bermusyawarah merupakan salah satu prinsip pengelolaan bidang kehidupan bersama menurut Al-Quran, termasuk kehidupan politik, dalam arti setiap warga masyarakat dalam kehidupan bersama dituntut senantiasa mengadakan musyawarah.
Dapat dikatakan bahwa setiap lelaki dan wanita memiliki hak berpolitik, karena tidak ditemukan satu ketentuan agama pun yang dapat dipahami sebagai melarang keterlibatan wanita untuk bermasyarakat, termasuk dalam bidang politik.
Data sejarah Islam menunjukkan bahwa kaum wanita terlibat dalam berbagai bidang kemasyarakatan.
Al-Quran juga menguraikan permintaan para wanita pada zaman Nabi untuk melakukan baiat berjanji setia kepada Nabi.
Al-Quran surah Al-Mumtahanah, surah ke-60 ayat 12.
• •
“Hai Nabi, apabila datang kepadamu wanita yang beriman untuk mengadakan janji setia, bahwa mereka tidak akan menyekutukan Allah, tidak akan mencuri, tidak akan berzina, tidak akan membunuh anak-anaknya, tidak akan berdusta yang mereka adakan antara tangan dan kaki mereka dan tidak akan mendurhakaimu dalam urusan yang baik, maka terimalah janji setia mereka dan mohonkan ampunan kepada Allah untuk mereka. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”.
Para ulama menjadikan baiat para wanita sebagai bukti kebebasan wanita untuk menentukan pilihan atau pandangannya yang berkaitan dengan kehidupan dan hak mereka.
Para wanita dibebaskan mempunyai pilihan sendiri yang mungkin berbeda dengan kelompok lain dalam masyarakat, bahkan mungkin berbeda dengan pandangan suami dan ayahnya sendiri.
Sebagian ulama berpendapat bahwa lelaki adalah pemimpin wanita, seperti dalam Al-Quran surah An-Nisa, surah ke-4 ayat 34, maka ayat ini sebagai bukti bahwa wanita tidak boleh terlibat dalam masalah politik.
•
“Kaum laki-laki adalah pemimpin bagi kaum wanita, karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. Oleh sebab itu, maka wanita yang saleh, adalah yang taat kepada Allah lagi menjaga diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah menjaga mereka. Wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya, maka nasehati mereka dan pisahkan mereka di tempat tidur mereka, dan pukul mereka. kemudian jika mereka menaatimu, maka janganlah kamu mencari jalan untuk menyusahkannya. Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar”.
Sebagian ulama berpendapat karena “kepemimpinan berada di tangan lelaki”, maka “hak berpolitik” wanita telah berada di tangan lelaki.
Ulama yang lain berpendapat bahwa pandangan ini tidak sejalan dengan ayat yang dikutip di atas, dan tidak sejalan dengan makna sebenarnya yang diamanatkan oleh ayat Al-Quran surah An-Nisa, surah ke-4 ayat 34.
Surah An-Nisa ayat 34 berbicara tentang kepemimpinan lelaki, yaitu seorang suami sebagai seorang pemimpin terhadap seluruh keluarganya dalam bidang kehidupan rumah tangga.
Kepemimpinan seorang suami tidak mencabut hak seorang istri dalam berbagai segi kehidupan, termasuk dalam hak pemilikan harta pribadi dan hak pengelolaannya meskipun tanpa persetujuan suami.
Sejarah menunjukkan banyak kaum wanita yang terlibat dalam politik praktis. Misalnya, Ummu Hani sikapnya dibenarkan oleh Nabi Muhammad ketika Ummu Hani memberikan jaminan keamanan kepada beberapa orang musyrik, padahal jaminan keamanan adalah salah satu aspek bidang politik.
Bahkan Aisyah, istri Nabi Muhammad, memimpin langsung peperangan melawan Ali bin Abi Thalib yang ketika itu menduduki jabatan Kepala Negara.
Isu terbesar dalam peperangan tersebut adalah soal suksesi setelah terbunuhnya Khalifah Usman bin Affan, dan peperangan itu disebut Perang Unta.
Keterlibatan Aisyah, istri Nabi, dengan beberapa sahabat Nabi dan kepemimpinannya dalam peperangan, menunjukkan bahwa Aisyah dan para pengikutnya menganut paham bahwa wanita boleh terlibat dalam politik praktis.
Daftar Pustaka
1. Shihab, M.Quraish. Lentera Hati. Kisah dan Hikmah Kehidupan. Penerbit Mizan, 1994.
2. Shihab, M.Quraish. E-book Membumikan Al-Quran.
3. Al-Quran Digital, Versi 3.2. Digital Qur’an Ver 3.
233. POSISI
ASAL MULA KEJADIAN WANITA
Oleh: Drs. H. Yusron Hadi, M.M.
Beberapa orang bertanya,”Mohon dijelaskan tentang asal mula kejadian wanita atau perempuan dalam Al-Quran? Profesor Quraish Shihab menjelaskannya.
Al-Quran surah An-Nisa’, surah ke-4 ayat 1.
•• • •
“Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakanmu dari seorang diri, dan dari padanya Allah menciptakan isterinya, dan dari pada keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (jagalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasimu”.
Dalam penjelasan ayat ini diterangkan bahwa pengertian “dari padanya“ menurut para ulama adalah dari bagian tubuh, yaitu tulang rusuk Nabi Adam berdasarkan hadis riwayat Bukhari dan Muslim, tetapi ada pula ulama yang menafsirkan “dari padanya” artinya terbuat dari unsur yang serupa yaitu tanah yang dari padanya Nabi Adam diciptakan.
Al-Quran surah Ali Imran, surah ke-3 ayat 195.
• • • •
“Maka Allah memperkenankan permohonannya dengan berfirman,“Sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan amal orang yang beramal di antaramu, baik laki-laki atau perempuan, (karena) sebagian kamu adalah keturunan dari sebagian yang lain. Maka orang-orang yang berhijrah, yang diusir dari kampung halamannya, yang disakiti pada jalan-Ku, yang berperang dan yang dibunuh, pastilah akan Ku-hapuskan kesalahan mereka dan pastilah Aku masukkan mereka ke dalam surga yang mengalir sungai di bawahnya, sebagai pahala di sisi Allah. Pada sisi Allah pahala yang baik."
Dalam penjelasan ayat ini diuraikan bahwa sebagaimana seorang laki-laki berasal dari orang tua laki-laki dan perempuan, maka seorang wanita juga berasal dari orang tua laki-laki dan perempuan.
Lelaki dan wanita sama-sama manusia, yang tidak ada kelebihan yang satu dari yang lain tentang penilaian iman dan amalnya.
Sebagian kamu adalah bagian dari sebagian yang lain, dalam arti bahwa “sebagian kamu, yaitu lelaki, berasal dari pertemuan ovum perempuan dan sperma lelaki dan sebagian yang lain, yaitu perempuan demikian juga halnya.”
Kedua jenis kelamin ini, yaitu lelaki dan wanita adalah sesama manusia, dan pria dan wanita adalah sama dari segi asal kejadian dan kemanusiaannya.
Nabi bersabda,“Saling pesan-memesanlah untuk berbuat baik kepada perempuan, karena mereka diciptakan dari tulang rusuk yang bengkok”.
Sebagian ulama ada yang memahami secara keliru bahwa perempuan diciptakan dari tulang rusuk Adam, yang menimbulkan kesan bahwa wanita rendah derajat kemanusiaannya dibandingkan dengan lelaki.
Tetapi banyak ulama yang telah menjelaskan makna hadis sesungguhnya, yaitu “tulang rusuk yang bengkok” harus dipahami dalam pengertian “majazi” atau kiasan, artinya bahwa hadis itu memperingatkan para lelaki agar menghadapi perempuan dengan bijaksana.
Karena wanita mempunyai sifat, karakter, dan kecenderungan yang tidak sama dengan lelaki, apabila hal ini tidak disadari dapat mengantarkan kaum lelaki bersikap tidak wajar terhadap wanita.
Para lelaki sulit dan tidak akan mampu mengubah karakter dan sifat bawaan perempuan, kalaupun para lelaki berusaha akibatnya bisa fatal, sebagaimana fatalnya meluruskan tulang rusuk yang bengkok.
Memahami hadis di atas seperti yang telah dikemukakan di atas, justru mengakui kepribadian perempuan yang telah menjadi kodrat dan bawaannya sejak lahir.
Al-Quran Al-Isra, surah ke- ayat 70.
“Dan Sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan”.
Kalimat “anak-anak Adam” adalah mencakup lelaki dan perempuan, demikian pula penghormatan yang diberikan oleh Allah mencakup anak Adam seluruhnya, yaitu perempuan dan lelaki.
Pandangan masyarakat yang mengantar kepada perbedaan antara lelaki dan perempuan dikikis oleh Al-Quran. Oleh karena itu, dikecamnya orang yang bergembira dengan kelahiran seorang anak lelaki, tetapi bersedih bila memperoleh anak perempuan.
Al-Quran surah An-Nahl, surah ke-16 ayat 58-59.
•
“Dan apabila seseorang dari mereka diberi kabar dengan (kelahiran) anak perempuan, hitamlah (merah padamlah) mukanya, dan dia sangat marah”.
“Dia Menyembunyikan dirinya dari orang banyak, disebabkan buruknya berita yang disampaikan kepadanya. Apakah dia akan memeliharanya dengan menanggung kehinaan ataukah akan menguburkannya ke dalam tanah (hidup-hidup)? Ketahuilah, alangkah buruknya apa yang mereka tetapkan”.
Ayat Al-Quran semacam ini diturunkan dalam rangka usaha mengikis habis segala macam pandangan diskriminasi yang membedakan lelaki dengan perempuan, khususnya dalam bidang kemanusiaan.
Ayat Al-Quran menjelaskan bahwa godaan dan rayuan Iblis ditujukan kepada perempuan dan lelaki.
Al-Quran surah Al-A’raf, surah ke-7 ayat 20.
•
“Maka setan membisikkan pikiran jahat kepada keduanya untuk menampakkan kepada keduanya apa yang tertutup dari mereka yaitu auratnya dan setan berkata, “Tuhan kamu tidak melarangmu dan mendekati pohon ini, melainkan supaya kamu berdua tidak menjadi malaikat atau tidak menjadi orang-orang yang kekal (dalam surga)”.
Ayat Al-Quran membicarakan godaan, rayuan setan dan tergelincirnya Nabi Adam dan Hawa dibentuk dalam kata yang menunjukkan kebersamaan keduanya tanpa perbedaan.
Al-Quran surah Al-Baqarah, surah ke-2 ayat 36.
“Lalu keduanya digelincirkan oleh setan dari surga dan dikeluarkan dari keadaan semula dan Kami berfirman, “Turunlah kamu! sebagian kamu menjadi musuh bagi yang lain, dan bagi kamu ada tempat kediaman di bumi, dan kesenangan hidup sampai waktu yang ditentukan.”
Yang berbentuk tunggal justru menunjuk kepada kaum lelaki, yaitu Nabi Adam, yang bertindak sebagai pemimpin terhadap istrinya.
Al-Quran surah Thaha, surah ke-20 ayat 120.
“Kemudian setan membisikkan pikiran jahat kepadanya, dengan berkata, “Hai Adam, maukah saya tunjukkan kepada kamu pohon khuldi dan kerajaan yang tidak akan binasa?”
Demikian Al-Quran mendudukkan posisi dan kedudukan wanita pada tempat yang sewajarnya, dan meluruskan pandangan yang salah dan keliru yang berkaitan dengan kedudukan dan asal kejadian perempuan.
Daftar Pustaka
1. Shihab, M.Quraish. Lentera Hati. Kisah dan Hikmah Kehidupan. Penerbit Mizan, 1994.
2. Shihab, M.Quraish. E-book Membumikan Al-Quran.
3. Al-Quran Digital, Versi 3.2. Digital Qur’an Ver 3.2
233. POSISI
ASAL MULA KEJADIAN WANITA
Oleh: Drs. H. Yusron Hadi, M.M.
Beberapa orang bertanya,”Mohon dijelaskan tentang asal mula kejadian wanita atau perempuan dalam Al-Quran? Profesor Quraish Shihab menjelaskannya.
Al-Quran surah An-Nisa’, surah ke-4 ayat 1.
•• • •
“Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakanmu dari seorang diri, dan dari padanya Allah menciptakan isterinya, dan dari pada keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (jagalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasimu”.
Dalam penjelasan ayat ini diterangkan bahwa pengertian “dari padanya“ menurut para ulama adalah dari bagian tubuh, yaitu tulang rusuk Nabi Adam berdasarkan hadis riwayat Bukhari dan Muslim, tetapi ada pula ulama yang menafsirkan “dari padanya” artinya terbuat dari unsur yang serupa yaitu tanah yang dari padanya Nabi Adam diciptakan.
Al-Quran surah Ali Imran, surah ke-3 ayat 195.
• • • •
“Maka Allah memperkenankan permohonannya dengan berfirman,“Sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan amal orang yang beramal di antaramu, baik laki-laki atau perempuan, (karena) sebagian kamu adalah keturunan dari sebagian yang lain. Maka orang-orang yang berhijrah, yang diusir dari kampung halamannya, yang disakiti pada jalan-Ku, yang berperang dan yang dibunuh, pastilah akan Ku-hapuskan kesalahan mereka dan pastilah Aku masukkan mereka ke dalam surga yang mengalir sungai di bawahnya, sebagai pahala di sisi Allah. Pada sisi Allah pahala yang baik."
Dalam penjelasan ayat ini diuraikan bahwa sebagaimana seorang laki-laki berasal dari orang tua laki-laki dan perempuan, maka seorang wanita juga berasal dari orang tua laki-laki dan perempuan.
Lelaki dan wanita sama-sama manusia, yang tidak ada kelebihan yang satu dari yang lain tentang penilaian iman dan amalnya.
Sebagian kamu adalah bagian dari sebagian yang lain, dalam arti bahwa “sebagian kamu, yaitu lelaki, berasal dari pertemuan ovum perempuan dan sperma lelaki dan sebagian yang lain, yaitu perempuan demikian juga halnya.”
Kedua jenis kelamin ini, yaitu lelaki dan wanita adalah sesama manusia, dan pria dan wanita adalah sama dari segi asal kejadian dan kemanusiaannya.
Nabi bersabda,“Saling pesan-memesanlah untuk berbuat baik kepada perempuan, karena mereka diciptakan dari tulang rusuk yang bengkok”.
Sebagian ulama ada yang memahami secara keliru bahwa perempuan diciptakan dari tulang rusuk Adam, yang menimbulkan kesan bahwa wanita rendah derajat kemanusiaannya dibandingkan dengan lelaki.
Tetapi banyak ulama yang telah menjelaskan makna hadis sesungguhnya, yaitu “tulang rusuk yang bengkok” harus dipahami dalam pengertian “majazi” atau kiasan, artinya bahwa hadis itu memperingatkan para lelaki agar menghadapi perempuan dengan bijaksana.
Karena wanita mempunyai sifat, karakter, dan kecenderungan yang tidak sama dengan lelaki, apabila hal ini tidak disadari dapat mengantarkan kaum lelaki bersikap tidak wajar terhadap wanita.
Para lelaki sulit dan tidak akan mampu mengubah karakter dan sifat bawaan perempuan, kalaupun para lelaki berusaha akibatnya bisa fatal, sebagaimana fatalnya meluruskan tulang rusuk yang bengkok.
Memahami hadis di atas seperti yang telah dikemukakan di atas, justru mengakui kepribadian perempuan yang telah menjadi kodrat dan bawaannya sejak lahir.
Al-Quran Al-Isra, surah ke- ayat 70.
“Dan Sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan”.
Kalimat “anak-anak Adam” adalah mencakup lelaki dan perempuan, demikian pula penghormatan yang diberikan oleh Allah mencakup anak Adam seluruhnya, yaitu perempuan dan lelaki.
Pandangan masyarakat yang mengantar kepada perbedaan antara lelaki dan perempuan dikikis oleh Al-Quran. Oleh karena itu, dikecamnya orang yang bergembira dengan kelahiran seorang anak lelaki, tetapi bersedih bila memperoleh anak perempuan.
Al-Quran surah An-Nahl, surah ke-16 ayat 58-59.
•
“Dan apabila seseorang dari mereka diberi kabar dengan (kelahiran) anak perempuan, hitamlah (merah padamlah) mukanya, dan dia sangat marah”.
“Dia Menyembunyikan dirinya dari orang banyak, disebabkan buruknya berita yang disampaikan kepadanya. Apakah dia akan memeliharanya dengan menanggung kehinaan ataukah akan menguburkannya ke dalam tanah (hidup-hidup)? Ketahuilah, alangkah buruknya apa yang mereka tetapkan”.
Ayat Al-Quran semacam ini diturunkan dalam rangka usaha mengikis habis segala macam pandangan diskriminasi yang membedakan lelaki dengan perempuan, khususnya dalam bidang kemanusiaan.
Ayat Al-Quran menjelaskan bahwa godaan dan rayuan Iblis ditujukan kepada perempuan dan lelaki.
Al-Quran surah Al-A’raf, surah ke-7 ayat 20.
•
“Maka setan membisikkan pikiran jahat kepada keduanya untuk menampakkan kepada keduanya apa yang tertutup dari mereka yaitu auratnya dan setan berkata, “Tuhan kamu tidak melarangmu dan mendekati pohon ini, melainkan supaya kamu berdua tidak menjadi malaikat atau tidak menjadi orang-orang yang kekal (dalam surga)”.
Ayat Al-Quran membicarakan godaan, rayuan setan dan tergelincirnya Nabi Adam dan Hawa dibentuk dalam kata yang menunjukkan kebersamaan keduanya tanpa perbedaan.
Al-Quran surah Al-Baqarah, surah ke-2 ayat 36.
“Lalu keduanya digelincirkan oleh setan dari surga dan dikeluarkan dari keadaan semula dan Kami berfirman, “Turunlah kamu! sebagian kamu menjadi musuh bagi yang lain, dan bagi kamu ada tempat kediaman di bumi, dan kesenangan hidup sampai waktu yang ditentukan.”
Yang berbentuk tunggal justru menunjuk kepada kaum lelaki, yaitu Nabi Adam, yang bertindak sebagai pemimpin terhadap istrinya.
Al-Quran surah Thaha, surah ke-20 ayat 120.
“Kemudian setan membisikkan pikiran jahat kepadanya, dengan berkata, “Hai Adam, maukah saya tunjukkan kepada kamu pohon khuldi dan kerajaan yang tidak akan binasa?”
Demikian Al-Quran mendudukkan posisi dan kedudukan wanita pada tempat yang sewajarnya, dan meluruskan pandangan yang salah dan keliru yang berkaitan dengan kedudukan dan asal kejadian perempuan.
Daftar Pustaka
1. Shihab, M.Quraish. Lentera Hati. Kisah dan Hikmah Kehidupan. Penerbit Mizan, 1994.
2. Shihab, M.Quraish. E-book Membumikan Al-Quran.
3. Al-Quran Digital, Versi 3.2. Digital Qur’an Ver 3.2
233. POSISI
ASAL MULA KEJADIAN WANITA
Oleh: Drs. H. Yusron Hadi, M.M.
Beberapa orang bertanya,”Mohon dijelaskan tentang asal mula kejadian wanita atau perempuan dalam Al-Quran? Profesor Quraish Shihab menjelaskannya.
Al-Quran surah An-Nisa’, surah ke-4 ayat 1.
•• • •
“Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakanmu dari seorang diri, dan dari padanya Allah menciptakan isterinya, dan dari pada keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (jagalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasimu”.
Dalam penjelasan ayat ini diterangkan bahwa pengertian “dari padanya“ menurut para ulama adalah dari bagian tubuh, yaitu tulang rusuk Nabi Adam berdasarkan hadis riwayat Bukhari dan Muslim, tetapi ada pula ulama yang menafsirkan “dari padanya” artinya terbuat dari unsur yang serupa yaitu tanah yang dari padanya Nabi Adam diciptakan.
Al-Quran surah Ali Imran, surah ke-3 ayat 195.
• • • •
“Maka Allah memperkenankan permohonannya dengan berfirman,“Sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan amal orang yang beramal di antaramu, baik laki-laki atau perempuan, (karena) sebagian kamu adalah keturunan dari sebagian yang lain. Maka orang-orang yang berhijrah, yang diusir dari kampung halamannya, yang disakiti pada jalan-Ku, yang berperang dan yang dibunuh, pastilah akan Ku-hapuskan kesalahan mereka dan pastilah Aku masukkan mereka ke dalam surga yang mengalir sungai di bawahnya, sebagai pahala di sisi Allah. Pada sisi Allah pahala yang baik."
Dalam penjelasan ayat ini diuraikan bahwa sebagaimana seorang laki-laki berasal dari orang tua laki-laki dan perempuan, maka seorang wanita juga berasal dari orang tua laki-laki dan perempuan.
Lelaki dan wanita sama-sama manusia, yang tidak ada kelebihan yang satu dari yang lain tentang penilaian iman dan amalnya.
Sebagian kamu adalah bagian dari sebagian yang lain, dalam arti bahwa “sebagian kamu, yaitu lelaki, berasal dari pertemuan ovum perempuan dan sperma lelaki dan sebagian yang lain, yaitu perempuan demikian juga halnya.”
Kedua jenis kelamin ini, yaitu lelaki dan wanita adalah sesama manusia, dan pria dan wanita adalah sama dari segi asal kejadian dan kemanusiaannya.
Nabi bersabda,“Saling pesan-memesanlah untuk berbuat baik kepada perempuan, karena mereka diciptakan dari tulang rusuk yang bengkok”.
Sebagian ulama ada yang memahami secara keliru bahwa perempuan diciptakan dari tulang rusuk Adam, yang menimbulkan kesan bahwa wanita rendah derajat kemanusiaannya dibandingkan dengan lelaki.
Tetapi banyak ulama yang telah menjelaskan makna hadis sesungguhnya, yaitu “tulang rusuk yang bengkok” harus dipahami dalam pengertian “majazi” atau kiasan, artinya bahwa hadis itu memperingatkan para lelaki agar menghadapi perempuan dengan bijaksana.
Karena wanita mempunyai sifat, karakter, dan kecenderungan yang tidak sama dengan lelaki, apabila hal ini tidak disadari dapat mengantarkan kaum lelaki bersikap tidak wajar terhadap wanita.
Para lelaki sulit dan tidak akan mampu mengubah karakter dan sifat bawaan perempuan, kalaupun para lelaki berusaha akibatnya bisa fatal, sebagaimana fatalnya meluruskan tulang rusuk yang bengkok.
Memahami hadis di atas seperti yang telah dikemukakan di atas, justru mengakui kepribadian perempuan yang telah menjadi kodrat dan bawaannya sejak lahir.
Al-Quran Al-Isra, surah ke- ayat 70.
“Dan Sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan”.
Kalimat “anak-anak Adam” adalah mencakup lelaki dan perempuan, demikian pula penghormatan yang diberikan oleh Allah mencakup anak Adam seluruhnya, yaitu perempuan dan lelaki.
Pandangan masyarakat yang mengantar kepada perbedaan antara lelaki dan perempuan dikikis oleh Al-Quran. Oleh karena itu, dikecamnya orang yang bergembira dengan kelahiran seorang anak lelaki, tetapi bersedih bila memperoleh anak perempuan.
Al-Quran surah An-Nahl, surah ke-16 ayat 58-59.
•
“Dan apabila seseorang dari mereka diberi kabar dengan (kelahiran) anak perempuan, hitamlah (merah padamlah) mukanya, dan dia sangat marah”.
“Dia Menyembunyikan dirinya dari orang banyak, disebabkan buruknya berita yang disampaikan kepadanya. Apakah dia akan memeliharanya dengan menanggung kehinaan ataukah akan menguburkannya ke dalam tanah (hidup-hidup)? Ketahuilah, alangkah buruknya apa yang mereka tetapkan”.
Ayat Al-Quran semacam ini diturunkan dalam rangka usaha mengikis habis segala macam pandangan diskriminasi yang membedakan lelaki dengan perempuan, khususnya dalam bidang kemanusiaan.
Ayat Al-Quran menjelaskan bahwa godaan dan rayuan Iblis ditujukan kepada perempuan dan lelaki.
Al-Quran surah Al-A’raf, surah ke-7 ayat 20.
•
“Maka setan membisikkan pikiran jahat kepada keduanya untuk menampakkan kepada keduanya apa yang tertutup dari mereka yaitu auratnya dan setan berkata, “Tuhan kamu tidak melarangmu dan mendekati pohon ini, melainkan supaya kamu berdua tidak menjadi malaikat atau tidak menjadi orang-orang yang kekal (dalam surga)”.
Ayat Al-Quran membicarakan godaan, rayuan setan dan tergelincirnya Nabi Adam dan Hawa dibentuk dalam kata yang menunjukkan kebersamaan keduanya tanpa perbedaan.
Al-Quran surah Al-Baqarah, surah ke-2 ayat 36.
“Lalu keduanya digelincirkan oleh setan dari surga dan dikeluarkan dari keadaan semula dan Kami berfirman, “Turunlah kamu! sebagian kamu menjadi musuh bagi yang lain, dan bagi kamu ada tempat kediaman di bumi, dan kesenangan hidup sampai waktu yang ditentukan.”
Yang berbentuk tunggal justru menunjuk kepada kaum lelaki, yaitu Nabi Adam, yang bertindak sebagai pemimpin terhadap istrinya.
Al-Quran surah Thaha, surah ke-20 ayat 120.
“Kemudian setan membisikkan pikiran jahat kepadanya, dengan berkata, “Hai Adam, maukah saya tunjukkan kepada kamu pohon khuldi dan kerajaan yang tidak akan binasa?”
Demikian Al-Quran mendudukkan posisi dan kedudukan wanita pada tempat yang sewajarnya, dan meluruskan pandangan yang salah dan keliru yang berkaitan dengan kedudukan dan asal kejadian perempuan.
Daftar Pustaka
1. Shihab, M.Quraish. Lentera Hati. Kisah dan Hikmah Kehidupan. Penerbit Mizan, 1994.
2. Shihab, M.Quraish. E-book Membumikan Al-Quran.
3. Al-Quran Digital, Versi 3.2. Digital Qur’an Ver 3.2
233. POSISI
ASAL MULA KEJADIAN WANITA
Oleh: Drs. H. Yusron Hadi, M.M.
Beberapa orang bertanya,”Mohon dijelaskan tentang asal mula kejadian wanita atau perempuan dalam Al-Quran? Profesor Quraish Shihab menjelaskannya.
Al-Quran surah An-Nisa’, surah ke-4 ayat 1.
•• • •
“Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakanmu dari seorang diri, dan dari padanya Allah menciptakan isterinya, dan dari pada keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (jagalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasimu”.
Dalam penjelasan ayat ini diterangkan bahwa pengertian “dari padanya“ menurut para ulama adalah dari bagian tubuh, yaitu tulang rusuk Nabi Adam berdasarkan hadis riwayat Bukhari dan Muslim, tetapi ada pula ulama yang menafsirkan “dari padanya” artinya terbuat dari unsur yang serupa yaitu tanah yang dari padanya Nabi Adam diciptakan.
Al-Quran surah Ali Imran, surah ke-3 ayat 195.
• • • •
“Maka Allah memperkenankan permohonannya dengan berfirman,“Sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan amal orang yang beramal di antaramu, baik laki-laki atau perempuan, (karena) sebagian kamu adalah keturunan dari sebagian yang lain. Maka orang-orang yang berhijrah, yang diusir dari kampung halamannya, yang disakiti pada jalan-Ku, yang berperang dan yang dibunuh, pastilah akan Ku-hapuskan kesalahan mereka dan pastilah Aku masukkan mereka ke dalam surga yang mengalir sungai di bawahnya, sebagai pahala di sisi Allah. Pada sisi Allah pahala yang baik."
Dalam penjelasan ayat ini diuraikan bahwa sebagaimana seorang laki-laki berasal dari orang tua laki-laki dan perempuan, maka seorang wanita juga berasal dari orang tua laki-laki dan perempuan.
Lelaki dan wanita sama-sama manusia, yang tidak ada kelebihan yang satu dari yang lain tentang penilaian iman dan amalnya.
Sebagian kamu adalah bagian dari sebagian yang lain, dalam arti bahwa “sebagian kamu, yaitu lelaki, berasal dari pertemuan ovum perempuan dan sperma lelaki dan sebagian yang lain, yaitu perempuan demikian juga halnya.”
Kedua jenis kelamin ini, yaitu lelaki dan wanita adalah sesama manusia, dan pria dan wanita adalah sama dari segi asal kejadian dan kemanusiaannya.
Nabi bersabda,“Saling pesan-memesanlah untuk berbuat baik kepada perempuan, karena mereka diciptakan dari tulang rusuk yang bengkok”.
Sebagian ulama ada yang memahami secara keliru bahwa perempuan diciptakan dari tulang rusuk Adam, yang menimbulkan kesan bahwa wanita rendah derajat kemanusiaannya dibandingkan dengan lelaki.
Tetapi banyak ulama yang telah menjelaskan makna hadis sesungguhnya, yaitu “tulang rusuk yang bengkok” harus dipahami dalam pengertian “majazi” atau kiasan, artinya bahwa hadis itu memperingatkan para lelaki agar menghadapi perempuan dengan bijaksana.
Karena wanita mempunyai sifat, karakter, dan kecenderungan yang tidak sama dengan lelaki, apabila hal ini tidak disadari dapat mengantarkan kaum lelaki bersikap tidak wajar terhadap wanita.
Para lelaki sulit dan tidak akan mampu mengubah karakter dan sifat bawaan perempuan, kalaupun para lelaki berusaha akibatnya bisa fatal, sebagaimana fatalnya meluruskan tulang rusuk yang bengkok.
Memahami hadis di atas seperti yang telah dikemukakan di atas, justru mengakui kepribadian perempuan yang telah menjadi kodrat dan bawaannya sejak lahir.
Al-Quran Al-Isra, surah ke- ayat 70.
“Dan Sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan”.
Kalimat “anak-anak Adam” adalah mencakup lelaki dan perempuan, demikian pula penghormatan yang diberikan oleh Allah mencakup anak Adam seluruhnya, yaitu perempuan dan lelaki.
Pandangan masyarakat yang mengantar kepada perbedaan antara lelaki dan perempuan dikikis oleh Al-Quran. Oleh karena itu, dikecamnya orang yang bergembira dengan kelahiran seorang anak lelaki, tetapi bersedih bila memperoleh anak perempuan.
Al-Quran surah An-Nahl, surah ke-16 ayat 58-59.
•
“Dan apabila seseorang dari mereka diberi kabar dengan (kelahiran) anak perempuan, hitamlah (merah padamlah) mukanya, dan dia sangat marah”.
“Dia Menyembunyikan dirinya dari orang banyak, disebabkan buruknya berita yang disampaikan kepadanya. Apakah dia akan memeliharanya dengan menanggung kehinaan ataukah akan menguburkannya ke dalam tanah (hidup-hidup)? Ketahuilah, alangkah buruknya apa yang mereka tetapkan”.
Ayat Al-Quran semacam ini diturunkan dalam rangka usaha mengikis habis segala macam pandangan diskriminasi yang membedakan lelaki dengan perempuan, khususnya dalam bidang kemanusiaan.
Ayat Al-Quran menjelaskan bahwa godaan dan rayuan Iblis ditujukan kepada perempuan dan lelaki.
Al-Quran surah Al-A’raf, surah ke-7 ayat 20.
•
“Maka setan membisikkan pikiran jahat kepada keduanya untuk menampakkan kepada keduanya apa yang tertutup dari mereka yaitu auratnya dan setan berkata, “Tuhan kamu tidak melarangmu dan mendekati pohon ini, melainkan supaya kamu berdua tidak menjadi malaikat atau tidak menjadi orang-orang yang kekal (dalam surga)”.
Ayat Al-Quran membicarakan godaan, rayuan setan dan tergelincirnya Nabi Adam dan Hawa dibentuk dalam kata yang menunjukkan kebersamaan keduanya tanpa perbedaan.
Al-Quran surah Al-Baqarah, surah ke-2 ayat 36.
“Lalu keduanya digelincirkan oleh setan dari surga dan dikeluarkan dari keadaan semula dan Kami berfirman, “Turunlah kamu! sebagian kamu menjadi musuh bagi yang lain, dan bagi kamu ada tempat kediaman di bumi, dan kesenangan hidup sampai waktu yang ditentukan.”
Yang berbentuk tunggal justru menunjuk kepada kaum lelaki, yaitu Nabi Adam, yang bertindak sebagai pemimpin terhadap istrinya.
Al-Quran surah Thaha, surah ke-20 ayat 120.
“Kemudian setan membisikkan pikiran jahat kepadanya, dengan berkata, “Hai Adam, maukah saya tunjukkan kepada kamu pohon khuldi dan kerajaan yang tidak akan binasa?”
Demikian Al-Quran mendudukkan posisi dan kedudukan wanita pada tempat yang sewajarnya, dan meluruskan pandangan yang salah dan keliru yang berkaitan dengan kedudukan dan asal kejadian perempuan.
Daftar Pustaka
1. Shihab, M.Quraish. Lentera Hati. Kisah dan Hikmah Kehidupan. Penerbit Mizan, 1994.
2. Shihab, M.Quraish. E-book Membumikan Al-Quran.
3. Al-Quran Digital, Versi 3.2. Digital Qur’an Ver 3.2


