Organisasi Profesi Guru

Presiden Jokowi memberi hormat kepada Guru-Guru se Indonesia.

Tema Gambar Slide 2

Deskripsi gambar slide bisa dituliskan disini dengan beberapa kalimat yang menggambarkan gambar slide yang anda pasang, edit slide ini melalui edit HTML template.

Tema Gambar Slide 3

Deskripsi gambar slide bisa dituliskan disini dengan beberapa kalimat yang menggambarkan gambar slide yang anda pasang, edit slide ini melalui edit HTML template.

Thursday, November 9, 2017

462. BUKTI 1

BUKTI KEBENARAN AL-QURAN
(Seri ke-1)
Oleh: Drs. H. M. Yusron Hadi, M.M.


       Beberapa orang bertanya,”Mohon dijelaskan tentang “Bukti kebenaran Al-Quran?” Profesor Quraish Shihab menjelaskannya
      Al-Quran mempunyai banyak fungsi, di antaranya adalah menjadi bukti kebenaran Nabi Muhammad, dan bukti kebenaran itu ditampilkan dalam tantangan yang sifatnya bertahap.
     Pertama, menantang siapa pun yang meragukan kebenaran Al-Quran untuk menyusun semacam Al-Quran secara keseluruhan.
      Al-Quran surah Al-Baqarah, surah  ke-2 ayat 24.

فَإِنْ لَمْ تَفْعَلُوا وَلَنْ تَفْعَلُوا فَاتَّقُوا النَّارَ الَّتِي وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ ۖ أُعِدَّتْ لِلْكَافِرِينَ

      “Maka jika kamu tidak dapat membuat (nya) dan pasti kamu tidak akan dapat membuat (nya), peliharalah dirimu dari neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu, yang disediakan bagi orang-orang kafir”.
      Kedua, menantang siapa pun uang meragukan kebenaran Al-Quran untuk menyusun sepuluh surah semacam Al-Quran, padahal dalam Al-Quran terdapat 114 surah.
      Al-Quran surah Hud, surah  ke-11 ayat 13.

أَمْ يَقُولُونَ افْتَرَاهُ ۖ قُلْ فَأْتُوا بِعَشْرِ سُوَرٍ مِثْلِهِ مُفْتَرَيَاتٍ وَادْعُوا مَنِ اسْتَطَعْتُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ

      “Bahkan mereka mengatakan,”Muhammad telah membuat-buat Al-Quran itu”, Katakanlah,”(Kalau demikian), maka datangkanlah sepuluh surat-surat yang dibuat-buat yang menyamainya, dan panggillah orang-orang yang kamu sanggup (memanggilnya) selain Allah, jika kamu memang orang-orang yang benar”.
      Ketiga, menantang siapa pun yang meragukan kebenaran Al-Quran untuk menyusun surah saja semacam Al-Quran, padahal dalam Al-Quran terdapat 114 surah.
      Al-Quran surah Yunus, surah  ke-10 ayat 38.

أَمْ يَقُولُونَ افْتَرَاهُ ۖ قُلْ فَأْتُوا بِسُورَةٍ مِثْلِهِ وَادْعُوا مَنِ اسْتَطَعْتُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ
 
    “Atau (patutkah) mereka mengatakan,”Muhammad membuat-buatnya.” Katakanlah,”(Kalau benar yang kamu katakan itu), maka cobalah datangkan sebuah surat seumpamanya dan panggillah siapa-siapa yang dapat kamu panggil (untuk membuatnya) selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar.”
      Al-Quran surah Al-Baqarah, surah  ke-2 ayat 23.

وَإِنْ كُنْتُمْ فِي رَيْبٍ مِمَّا نَزَّلْنَا عَلَىٰ عَبْدِنَا فَأْتُوا بِسُورَةٍ مِنْ مِثْلِهِ وَادْعُوا شُهَدَاءَكُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ

      “Dan jika kamu (tetap) dalam keraguan tentang Al-Quran yang Kami wahyukan kepada hamba Kami (Muhammad), buatlah satu surat (saja) yang semisal Al-Quran itu dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar”.
      Al-Quran surah Al-Isra, surah ke-17 ayat 88.

قُلْ لَئِنِ اجْتَمَعَتِ الْإِنْسُ وَالْجِنُّ عَلَىٰ أَنْ يَأْتُوا بِمِثْلِ هَٰذَا الْقُرْآنِ لَا يَأْتُونَ بِمِثْلِهِ وَلَوْ كَانَ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ ظَهِيرًا

      “Katakanlah,”Sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa Al-Quran ini, niscaya mereka tidak akan dapat membuat yang serupa dengan dia, sekalipun sebagian mereka menjadi pembantu bagi sebagian yang lain”.
     Para ahli berkomentar bahwa tantangan yang sangat lantang seperti ini tidak akan ditampilkan oleh seseorang, kecuali apabila orang itu mempunyai satu dari dua sifat, yaitu  orang itu gila atau orang itu sangat yakin.
      Nabi Muhammad sangat yakin tentang wahyu dari Allah, karena “wahyu” adalah “informasi yang diyakini dengan sebenarnya memang bersumber dari Allah”.
      Meskipun Al-Quran menjadi bukti kebenaran Nabi Muhammad, tetapi fungsi utama Al-Quran adalah menjadi “petunjuk untuk seluruh umat manusia”, dan petunjuk yang dimaksudkan adalah petunjuk agama, atau yang biasanya dikatakan sebagai “syariat agama”.
      Kata “syari'at” dari segi pengertian kebahasaan artinya “jalan menuju sumber air”, serta jasmani manusia dan seluruh makhluk hidup pasti membutuhkan air untuk  kelangsungan hidupnya, dan rohani juga membutuhkan “air kehidupan”, sehingga “syari'at” akan  mengantarkan seseorang menuju “air kehidupan” itu.
     Dalam “syari'at” ditemukan banyak rambu-rambu jalan, yaitu ada yang berwarna “merah” artinya “larangan”, ada yang berwarna “kuning”, yang memerlukan “kehati-hatian”, dan ada yang berwarna “hijau” yang melambangkan “Kebolehan melanjutkan perjalanan”.
     Hal itu sama dengan lampu lalulintas, karena “lampu merah” tidak memperlambat seseorang sampai ke tujuan, bahkan “lampu merah” adalah faktor utama yang menjaga manusia dari bahaya kecelakaan, maka “lampu merah” atau “larangan” dalam agama juga berfungsi “menyelamatkan manusia”.
      Manusia sangat membutuhkan peraturan lalu lintas untuk menjaga keselamatannya, demikian juga dengan “peraturan lalu lintas” menuju kehidupan yang sangat jauh, yaitu kehidupan di akhirat sesudah kematian.
      Siapakah yang seharusnya membuat peraturan menuju perjalanan yang sangat jauh itu? Sedangkan manusia mempunyai kelemahan, yaitu manusia sering kali bersifat egoistis dan pengetahuannya sangat terbatas.
      Apabila manusia yang diserahi tugas menyusun “peraturan lalulintas” menuju kehidupan sesudah mati, maka diduga manusia hanya akan menguntungkan dirinya sendiri, bahkan bisa salah dan  keliru, karena manusia tidak mengetahui sesuatu yang akan terjadi setelah kematian.
    Sehingga pihak yang harus menyusunnya adalah “sesuatu” yang tidak bersifat egoistis, yang bebas dari kepentingan apa pun, dan yang memiliki pengetahuan yang sangat luas, maka “sesuatu” itu adalah Tuhan Yang Maha Kuasa,  dan peraturan yang dibuatnya itu dinamakan “agama”".
      Tetapi, tidak semua manusia dapat berhubungan langsung secara jelas dengan Tuhan untuk memperoleh informasi-Nya, sehingga Tuhan Yang Maha Kuasa memilih orang-orang tertentu, yang memiliki kesucian jiwa dan kecerdasan pikiran untuk menyampaikan informasi tersebut kepada manusia yang lain, dan orang yang terpilih itu disebut Nabi dan Rasul.
      Karena manusia bersifat egoistis, maka manusia tidak mempercayai informasi Tuhan yang disampaikan oleh para Nabi, bahkan tidak percaya bahwa manusia terpilih itu adalah Nabi yang mendapat tugas khusus dari Tuhan.
      Untuk meyakinkan umat manusia, para Nabi dan Rasul diberikan bukti oleh Allah Yang Maha Kuasa yang tidak mungkin dapat dijangkau oleh manusia biasa yang bukan pilihan Allah, dan bukti itu dalam bahasa agama dinamakan “mukjizat”.
     Para Nabi dan Rasul terdahulu memiliki mukjizat yang bersifat sesaat, lokal, dan material, karena tugas dan misi mereka terbatas pada daerah tertentu dan waktu tertentu, hal ini berbeda dengan misi Nabi Muhammad, karena beliau diutus untuk seluruh umat manusia, di mana pun dan kapan pun hingga akhir zaman.
      Nabi Muhammad memerlukan mukjizat yang bersifat universal, kekal, dapat dipikirkan dan dibuktikan kebenarannya oleh akal manusia, di sinilah terletak fungsi Al-Quran sebagai mukjizat.
     Paling tidak terdapat tiga aspek dalam Al-Quran yang dapat menjadi bukti kebenaran Nabi Muhammad dan menjadi bukti bahwa seluruh informasi dan petunjuk yang disampaikan adalah benar bersumber dari Allah.
      Ketiga aspek tersebut akan lebih meyakinkan lagi ketika diketahui bahwa Nabi Muhammad bukan orang yang pandai membaca dan menulis, serta tidak hidup dan bermukim dalam masyarakat yang relatif telah mengenal peradaban, seperti Mesir, Persia atau Romawi.
      Nabi Muhammad dibesarkan dan hidup di tengah-tengah kaum yang oleh beliau sendiri dilukiskan sebagai, “Kami adalah masyarakat yang tidak pandai menulis dan berhitung."
    Hal itulah sebabnya, angka tertinggi yang mereka ketahui adalah tujuh, sehingga  mereka mengartikan “tujuh langit” maksudnya adalah “banyak langit”. Al-Quran juga menyatakan bahwa seandainya Nabi Muhammad pandai membaca dan menulis pasti akan ada yang meragukan kenabian beliau.
      Al-Quran surah Al-Ankabut, surat ke-29 ayat 48.

وَمَا كُنْتَ تَتْلُو مِنْ قَبْلِهِ مِنْ كِتَابٍ وَلَا تَخُطُّهُ بِيَمِينِكَ ۖ إِذًا لَارْتَابَ الْمُبْطِلُونَ

      “Dan kamu tidak pernah membaca sebelumnya (Al-Quran) sesuatu Kitab pun dan kamu tidak (pernah) menulis suatu kitab dengan tangan kananmu, andaikata (kamu pernah membaca dan menulis), benar-benar ragulah orang yang mengingkari (mu)”.
     Ketiga aspek yang menjadi bukti kebenaran Nabi Muhammad dan kebenaran Al-Quran adalah berikut ini.
      Pertama, aspek keindahan dan ketelitian redaksi ayat Al-Quran. Agak sulit untuk menguraikan masalah keindahan dan ketelitian redaksi Al-Quran terhadap orang  yang tidak memahami dan memiliki “rasa bahasa Arab”, karena keindahan diperoleh melalui “perasaan" bukan melalui penalaran.
      Tetapi terdapat beberapa hal yang dapat membantu memahami keindahan dan ketelitian redaksi Al-Quran, yaitu sering kali Al-Quran “turun” secara spontan untuk menjawab pertanyaan dan mengomentari peristiwa yang terjadi.
     Misalnya pertanyaan seorang Yahudi tentang hakikat roh, dan pertanyaan ini dijawab secara langsung yang tentunya jawaban spontan itu tidak memberikan peluang untuk berpikir dan menyusun dengan redaksi yang indah dan teliti.
     Tetapi setelah Al-Quran rampung diturunkan dan kemudian dilakukan analisis dan  perhitungan tentang redaksinya, ternyata ditemukan hal-hal yang sangat menakjubkan dan mengherankan.
     Yaitu ditemukan adanya keseimbangan yang sangat serasi antara kata-kata yang digunakannya, seperti keserasian jumlah dua kata yang bertolak belakang.
Daftar Pustaka
1. Shihab, M.Quraish. Lentera Hati. Kisah dan Hikmah Kehidupan. Penerbit Mizan, 1994.   
2. Shihab, M. Quraish Shihab. Wawasan Al-Quran. Tafsir Maudhui atas Perbagai Persoalan Umat. Penerbit Mizan, 2009.
3. Shihab, M.Quraish. E-book Membumikan Al-Quran.
4. Al-Quran Digital, Versi 3.2. Digital Qur’an Ver 3.2
5. Tafsirq.com online.

462. BUKTI 1

BUKTI KEBENARAN AL-QURAN
(Seri ke-1)
Oleh: Drs. H. M. Yusron Hadi, M.M.


       Beberapa orang bertanya,”Mohon dijelaskan tentang “Bukti kebenaran Al-Quran?” Profesor Quraish Shihab menjelaskannya
      Al-Quran mempunyai banyak fungsi, di antaranya adalah menjadi bukti kebenaran Nabi Muhammad, dan bukti kebenaran itu ditampilkan dalam tantangan yang sifatnya bertahap.
     Pertama, menantang siapa pun yang meragukan kebenaran Al-Quran untuk menyusun semacam Al-Quran secara keseluruhan.
      Al-Quran surah Al-Baqarah, surah  ke-2 ayat 24.

فَإِنْ لَمْ تَفْعَلُوا وَلَنْ تَفْعَلُوا فَاتَّقُوا النَّارَ الَّتِي وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ ۖ أُعِدَّتْ لِلْكَافِرِينَ

      “Maka jika kamu tidak dapat membuat (nya) dan pasti kamu tidak akan dapat membuat (nya), peliharalah dirimu dari neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu, yang disediakan bagi orang-orang kafir”.
      Kedua, menantang siapa pun uang meragukan kebenaran Al-Quran untuk menyusun sepuluh surah semacam Al-Quran, padahal dalam Al-Quran terdapat 114 surah.
      Al-Quran surah Hud, surah  ke-11 ayat 13.

أَمْ يَقُولُونَ افْتَرَاهُ ۖ قُلْ فَأْتُوا بِعَشْرِ سُوَرٍ مِثْلِهِ مُفْتَرَيَاتٍ وَادْعُوا مَنِ اسْتَطَعْتُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ

      “Bahkan mereka mengatakan,”Muhammad telah membuat-buat Al-Quran itu”, Katakanlah,”(Kalau demikian), maka datangkanlah sepuluh surat-surat yang dibuat-buat yang menyamainya, dan panggillah orang-orang yang kamu sanggup (memanggilnya) selain Allah, jika kamu memang orang-orang yang benar”.
      Ketiga, menantang siapa pun yang meragukan kebenaran Al-Quran untuk menyusun surah saja semacam Al-Quran, padahal dalam Al-Quran terdapat 114 surah.
      Al-Quran surah Yunus, surah  ke-10 ayat 38.

أَمْ يَقُولُونَ افْتَرَاهُ ۖ قُلْ فَأْتُوا بِسُورَةٍ مِثْلِهِ وَادْعُوا مَنِ اسْتَطَعْتُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ
 
    “Atau (patutkah) mereka mengatakan,”Muhammad membuat-buatnya.” Katakanlah,”(Kalau benar yang kamu katakan itu), maka cobalah datangkan sebuah surat seumpamanya dan panggillah siapa-siapa yang dapat kamu panggil (untuk membuatnya) selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar.”
      Al-Quran surah Al-Baqarah, surah  ke-2 ayat 23.

وَإِنْ كُنْتُمْ فِي رَيْبٍ مِمَّا نَزَّلْنَا عَلَىٰ عَبْدِنَا فَأْتُوا بِسُورَةٍ مِنْ مِثْلِهِ وَادْعُوا شُهَدَاءَكُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ

      “Dan jika kamu (tetap) dalam keraguan tentang Al-Quran yang Kami wahyukan kepada hamba Kami (Muhammad), buatlah satu surat (saja) yang semisal Al-Quran itu dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar”.
      Al-Quran surah Al-Isra, surah ke-17 ayat 88.

قُلْ لَئِنِ اجْتَمَعَتِ الْإِنْسُ وَالْجِنُّ عَلَىٰ أَنْ يَأْتُوا بِمِثْلِ هَٰذَا الْقُرْآنِ لَا يَأْتُونَ بِمِثْلِهِ وَلَوْ كَانَ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ ظَهِيرًا

      “Katakanlah,”Sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa Al-Quran ini, niscaya mereka tidak akan dapat membuat yang serupa dengan dia, sekalipun sebagian mereka menjadi pembantu bagi sebagian yang lain”.
     Para ahli berkomentar bahwa tantangan yang sangat lantang seperti ini tidak akan ditampilkan oleh seseorang, kecuali apabila orang itu mempunyai satu dari dua sifat, yaitu  orang itu gila atau orang itu sangat yakin.
      Nabi Muhammad sangat yakin tentang wahyu dari Allah, karena “wahyu” adalah “informasi yang diyakini dengan sebenarnya memang bersumber dari Allah”.
      Meskipun Al-Quran menjadi bukti kebenaran Nabi Muhammad, tetapi fungsi utama Al-Quran adalah menjadi “petunjuk untuk seluruh umat manusia”, dan petunjuk yang dimaksudkan adalah petunjuk agama, atau yang biasanya dikatakan sebagai “syariat agama”.
      Kata “syari'at” dari segi pengertian kebahasaan artinya “jalan menuju sumber air”, serta jasmani manusia dan seluruh makhluk hidup pasti membutuhkan air untuk  kelangsungan hidupnya, dan rohani juga membutuhkan “air kehidupan”, sehingga “syari'at” akan  mengantarkan seseorang menuju “air kehidupan” itu.
     Dalam “syari'at” ditemukan banyak rambu-rambu jalan, yaitu ada yang berwarna “merah” artinya “larangan”, ada yang berwarna “kuning”, yang memerlukan “kehati-hatian”, dan ada yang berwarna “hijau” yang melambangkan “Kebolehan melanjutkan perjalanan”.
     Hal itu sama dengan lampu lalulintas, karena “lampu merah” tidak memperlambat seseorang sampai ke tujuan, bahkan “lampu merah” adalah faktor utama yang menjaga manusia dari bahaya kecelakaan, maka “lampu merah” atau “larangan” dalam agama juga berfungsi “menyelamatkan manusia”.
      Manusia sangat membutuhkan peraturan lalu lintas untuk menjaga keselamatannya, demikian juga dengan “peraturan lalu lintas” menuju kehidupan yang sangat jauh, yaitu kehidupan di akhirat sesudah kematian.
      Siapakah yang seharusnya membuat peraturan menuju perjalanan yang sangat jauh itu? Sedangkan manusia mempunyai kelemahan, yaitu manusia sering kali bersifat egoistis dan pengetahuannya sangat terbatas.
      Apabila manusia yang diserahi tugas menyusun “peraturan lalulintas” menuju kehidupan sesudah mati, maka diduga manusia hanya akan menguntungkan dirinya sendiri, bahkan bisa salah dan  keliru, karena manusia tidak mengetahui sesuatu yang akan terjadi setelah kematian.
    Sehingga pihak yang harus menyusunnya adalah “sesuatu” yang tidak bersifat egoistis, yang bebas dari kepentingan apa pun, dan yang memiliki pengetahuan yang sangat luas, maka “sesuatu” itu adalah Tuhan Yang Maha Kuasa,  dan peraturan yang dibuatnya itu dinamakan “agama”".
      Tetapi, tidak semua manusia dapat berhubungan langsung secara jelas dengan Tuhan untuk memperoleh informasi-Nya, sehingga Tuhan Yang Maha Kuasa memilih orang-orang tertentu, yang memiliki kesucian jiwa dan kecerdasan pikiran untuk menyampaikan informasi tersebut kepada manusia yang lain, dan orang yang terpilih itu disebut Nabi dan Rasul.
      Karena manusia bersifat egoistis, maka manusia tidak mempercayai informasi Tuhan yang disampaikan oleh para Nabi, bahkan tidak percaya bahwa manusia terpilih itu adalah Nabi yang mendapat tugas khusus dari Tuhan.
      Untuk meyakinkan umat manusia, para Nabi dan Rasul diberikan bukti oleh Allah Yang Maha Kuasa yang tidak mungkin dapat dijangkau oleh manusia biasa yang bukan pilihan Allah, dan bukti itu dalam bahasa agama dinamakan “mukjizat”.
     Para Nabi dan Rasul terdahulu memiliki mukjizat yang bersifat sesaat, lokal, dan material, karena tugas dan misi mereka terbatas pada daerah tertentu dan waktu tertentu, hal ini berbeda dengan misi Nabi Muhammad, karena beliau diutus untuk seluruh umat manusia, di mana pun dan kapan pun hingga akhir zaman.
      Nabi Muhammad memerlukan mukjizat yang bersifat universal, kekal, dapat dipikirkan dan dibuktikan kebenarannya oleh akal manusia, di sinilah terletak fungsi Al-Quran sebagai mukjizat.
     Paling tidak terdapat tiga aspek dalam Al-Quran yang dapat menjadi bukti kebenaran Nabi Muhammad dan menjadi bukti bahwa seluruh informasi dan petunjuk yang disampaikan adalah benar bersumber dari Allah.
      Ketiga aspek tersebut akan lebih meyakinkan lagi ketika diketahui bahwa Nabi Muhammad bukan orang yang pandai membaca dan menulis, serta tidak hidup dan bermukim dalam masyarakat yang relatif telah mengenal peradaban, seperti Mesir, Persia atau Romawi.
      Nabi Muhammad dibesarkan dan hidup di tengah-tengah kaum yang oleh beliau sendiri dilukiskan sebagai, “Kami adalah masyarakat yang tidak pandai menulis dan berhitung."
    Hal itulah sebabnya, angka tertinggi yang mereka ketahui adalah tujuh, sehingga  mereka mengartikan “tujuh langit” maksudnya adalah “banyak langit”. Al-Quran juga menyatakan bahwa seandainya Nabi Muhammad pandai membaca dan menulis pasti akan ada yang meragukan kenabian beliau.
      Al-Quran surah Al-Ankabut, surat ke-29 ayat 48.

وَمَا كُنْتَ تَتْلُو مِنْ قَبْلِهِ مِنْ كِتَابٍ وَلَا تَخُطُّهُ بِيَمِينِكَ ۖ إِذًا لَارْتَابَ الْمُبْطِلُونَ

      “Dan kamu tidak pernah membaca sebelumnya (Al-Quran) sesuatu Kitab pun dan kamu tidak (pernah) menulis suatu kitab dengan tangan kananmu, andaikata (kamu pernah membaca dan menulis), benar-benar ragulah orang yang mengingkari (mu)”.
     Ketiga aspek yang menjadi bukti kebenaran Nabi Muhammad dan kebenaran Al-Quran adalah berikut ini.
      Pertama, aspek keindahan dan ketelitian redaksi ayat Al-Quran. Agak sulit untuk menguraikan masalah keindahan dan ketelitian redaksi Al-Quran terhadap orang  yang tidak memahami dan memiliki “rasa bahasa Arab”, karena keindahan diperoleh melalui “perasaan" bukan melalui penalaran.
      Tetapi terdapat beberapa hal yang dapat membantu memahami keindahan dan ketelitian redaksi Al-Quran, yaitu sering kali Al-Quran “turun” secara spontan untuk menjawab pertanyaan dan mengomentari peristiwa yang terjadi.
     Misalnya pertanyaan seorang Yahudi tentang hakikat roh, dan pertanyaan ini dijawab secara langsung yang tentunya jawaban spontan itu tidak memberikan peluang untuk berpikir dan menyusun dengan redaksi yang indah dan teliti.
     Tetapi setelah Al-Quran rampung diturunkan dan kemudian dilakukan analisis dan  perhitungan tentang redaksinya, ternyata ditemukan hal-hal yang sangat menakjubkan dan mengherankan.
     Yaitu ditemukan adanya keseimbangan yang sangat serasi antara kata-kata yang digunakannya, seperti keserasian jumlah dua kata yang bertolak belakang.
Daftar Pustaka
1. Shihab, M.Quraish. Lentera Hati. Kisah dan Hikmah Kehidupan. Penerbit Mizan, 1994.   
2. Shihab, M. Quraish Shihab. Wawasan Al-Quran. Tafsir Maudhui atas Perbagai Persoalan Umat. Penerbit Mizan, 2009.
3. Shihab, M.Quraish. E-book Membumikan Al-Quran.
4. Al-Quran Digital, Versi 3.2. Digital Qur’an Ver 3.2
5. Tafsirq.com online.

461. BUKTI

MEMAHAMI KEASLIAN AL-QURAN
Oleh: Drs. H. M. Yusron Hadi, M.M.


       Beberapa orang bertanya,”Mohon dijelaskan tentang “Keaslian Al-Quran?” Profesor Quraish Shihab menjelaskannya.
      Al-Quran memperkenalkan dirinya dengan berbagai ciri dan sifat, salah satu di antaranya adalah bahwa Al-Quran adalah kitab yang keotentikannya dijamin oleh Allah, dan sebuah kitab yang selalu dijaga oleh Allah.
      Al-Quran surah , surah Al-Hijr, ke-15 ayat 9.

إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ

      “Sesungguhnya Kami yang menurunkan Al-Quran, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya”.
     Allah menjamin keotentikan dan keaslian Al-Quran, jaminan yang diberikan oleh Allah Yang Maha Kuasa dan Yang Maha Tahu, serta berkat upaya yang dilakukan oleh makhluk Allah, terutama oleh manusia.
     Dengan jaminan ayat Al-Quran di atas, setiap umat Islam yakin dan percaya bahwa apa yang dibaca dan didengarnya seperti dalam mushaf Al-Quran sekarang ini sama dengan yang pernah dibaca oleh Nabi Muhammad dan para sahabat zaman dahulu.
     Keyakinan atas keaslian Al-Quran bisa dibuktikan untuk meyakinkan umat manusia yang beriman dan orang yang tidak beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, karena para orientalis sejak zaman dahulu sampai sekarang yang ingin mencari kelemahan dan kesalahan Al-Quran tidak menemukan celah untuk meragukan kebenaran Al-Quran, berdasarkan bukti sejarah yang sangat meyakinkan.
      Sejarah Al-Quran sejak pertama kali diturunkan sampai sekarang sangat jelas dan terbuka, karena Al-Quran dibaca oleh umat Islam sejak zaman dahulu sampai sekarang, sehingga pada hakikatnya Al-Quran tidak membutuhkan sejarah untuk membuktikan keasliannya.
      Al-Quran adalah kitab suci umat Islam yang memperkenalkan dirinya sebagai firman dari Allah dan membuktikan hal tersebut dengan menantang siapa pun untuk menyusun “buku” lain semacam Al-Quran.
      Hal itu sudah cukup menjadi bukti, meskipun tanpa bukti kesejarahan, dan salah satu bukti bahwa Al-Quran yang berada di tangan kita sekarang adalah Al-Quran yang turun kepada Nabi tanpa pergantian dan perubahan adalah yang berkaitan dengan sifat dan ciri-ciri yang diperkenalkannya menyangkut dirinya, yang tetap dapat ditemui sebagaimana keadaannya pada zaman dahulu.
      Para ulama mengemukakan bahwa dalam Al-Quran sendiri terdapat bukti dan  jaminan akan keotentikannya untuk Al-Quran sendiri, misalnya “huruf Hijaiah” (abjad Arab atau sistem aksara Arab) yang terdapat pada awal beberapa surah dalam Al-Quran adalah jaminan keutuhan Al-Quran tetap seperti ketika diterima oleh Nabi Muhammad.
     Huruf Hijaiah yang terdapat dalam beberapa awal surah Al-Quran tidak bertambah dan tidak berkurang satu huruf pun dari kata-kata yang dipakai oleh Al-Quran, semuanya habis dibagi 19, sesuai dengan jumlah huruf dalam, “Bismillahir Rahmanir Rahim”.
      Al-Quran surah Al-Fatihah, surah ke-1 ayat 1.

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ

      “Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang”.
      Terdapat 19 huruf bahasa Arab dalam “Bismillahir Rahmanir Rahim” yaitu: bak, sin, mim, alif, lam, lam, hak, alif, lam, rak, hak, mim, nun, alif, lam, rak, hak, yak, dan mim”.
ب س م - ا ل ل ه – ا ل ر ح م ن – ا ل ر ح ي م

     “Terdapat 19 huruf dalam bahasa Arab”.
      Huruf “ق“ (qaf) yang merupakan awal dari surah Qaf, surah ke-50, ditemukan terulang sebanyak 57 kali atau 3 X 19.
     Huruf-huruf ) " كهي عص " kaf, ha', ya', 'ain, shad( dalam surah Maryam, surah ke-19 ditemukan sebanyak 798 kali atau 42 X 19.
     Huruf  "ن" (nun) yang memulai surah Al-Qalam, surah ke-68 ditemukan sebanyak 133 atau 7 X 19.
   Huruf يس"   “   (ya') dan (sin) pada surah Yasin, surah ke-36 masing-masing ditemukan sebanyak 285 atau 15 X 19.
    Huruf  “طه “ (tha') dan (ha') pada surah Thaha, surah ke-20  masing-masing berulang sebanyak 342 kali atau sama dengan 19 X 18.
   Huruf-huruf حم"” (ha') dan (mim) yang terdapat pada keseluruhan surah Fusshilat, surah ke-41 yang dimulai dengan kedua huruf ini, semuanya adalah perkalian dari 114 X 19, yakni masing masing berjumlah 2.166.
     Bilangan-bilangan ini, yang dapat ditemukan langsung dari celah ayat Al-Quran, oleh Rasyad Khalifah, dijadikan sebagai bukti keaslian Al-Quran, karena seandainya ada ayat yang berkurang atau berlebih atau ditukar kata dan kalimatnya dengan kata atau kalimat yang lain, maka pasti perkalian tersebut akan menjadi kacau.
     Angka 19 diambil dari pernyataan Al-Quran sendiri, yakni yang termuat dalam surah Al-Muddasir, surah ke-74 ayat 30 yang turun dalam konteks ancaman terhadap orang yang meragukan kebenaran Al-Quran, dan 19 adalah bilangan istimewa karena 19 adalah bilangan prima, yaitu bilangan yang hanya habis dibagi 1 dan dirinya sendiri.
      Al-Quran surah Al-Muddasir, surah ke-74 ayat 30.

عَلَيْهَا تِسْعَةَ عَشَرَ

      “Di atasnya ada 19 (malaikat penjaga)”.

Daftar Pustaka
1. Shihab, M.Quraish. Lentera Hati. Kisah dan Hikmah Kehidupan. Penerbit Mizan, 1994.   
2. Shihab, M. Quraish Shihab. Wawasan Al-Quran. Tafsir Maudhui atas Perbagai Persoalan Umat. Penerbit Mizan, 2009.
3. Shihab, M.Quraish. E-book Membumikan Al-Quran.
4. Al-Quran Digital, Versi 3.2. Digital Qur’an Ver 3.2
5. Tafsirq.com online.

461. BUKTI

MEMAHAMI KEASLIAN AL-QURAN
Oleh: Drs. H. M. Yusron Hadi, M.M.


       Beberapa orang bertanya,”Mohon dijelaskan tentang “Keaslian Al-Quran?” Profesor Quraish Shihab menjelaskannya.
      Al-Quran memperkenalkan dirinya dengan berbagai ciri dan sifat, salah satu di antaranya adalah bahwa Al-Quran adalah kitab yang keotentikannya dijamin oleh Allah, dan sebuah kitab yang selalu dijaga oleh Allah.
      Al-Quran surah , surah Al-Hijr, ke-15 ayat 9.

إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ

      “Sesungguhnya Kami yang menurunkan Al-Quran, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya”.
     Allah menjamin keotentikan dan keaslian Al-Quran, jaminan yang diberikan oleh Allah Yang Maha Kuasa dan Yang Maha Tahu, serta berkat upaya yang dilakukan oleh makhluk Allah, terutama oleh manusia.
     Dengan jaminan ayat Al-Quran di atas, setiap umat Islam yakin dan percaya bahwa apa yang dibaca dan didengarnya seperti dalam mushaf Al-Quran sekarang ini sama dengan yang pernah dibaca oleh Nabi Muhammad dan para sahabat zaman dahulu.
     Keyakinan atas keaslian Al-Quran bisa dibuktikan untuk meyakinkan umat manusia yang beriman dan orang yang tidak beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, karena para orientalis sejak zaman dahulu sampai sekarang yang ingin mencari kelemahan dan kesalahan Al-Quran tidak menemukan celah untuk meragukan kebenaran Al-Quran, berdasarkan bukti sejarah yang sangat meyakinkan.
      Sejarah Al-Quran sejak pertama kali diturunkan sampai sekarang sangat jelas dan terbuka, karena Al-Quran dibaca oleh umat Islam sejak zaman dahulu sampai sekarang, sehingga pada hakikatnya Al-Quran tidak membutuhkan sejarah untuk membuktikan keasliannya.
      Al-Quran adalah kitab suci umat Islam yang memperkenalkan dirinya sebagai firman dari Allah dan membuktikan hal tersebut dengan menantang siapa pun untuk menyusun “buku” lain semacam Al-Quran.
      Hal itu sudah cukup menjadi bukti, meskipun tanpa bukti kesejarahan, dan salah satu bukti bahwa Al-Quran yang berada di tangan kita sekarang adalah Al-Quran yang turun kepada Nabi tanpa pergantian dan perubahan adalah yang berkaitan dengan sifat dan ciri-ciri yang diperkenalkannya menyangkut dirinya, yang tetap dapat ditemui sebagaimana keadaannya pada zaman dahulu.
      Para ulama mengemukakan bahwa dalam Al-Quran sendiri terdapat bukti dan  jaminan akan keotentikannya untuk Al-Quran sendiri, misalnya “huruf Hijaiah” (abjad Arab atau sistem aksara Arab) yang terdapat pada awal beberapa surah dalam Al-Quran adalah jaminan keutuhan Al-Quran tetap seperti ketika diterima oleh Nabi Muhammad.
     Huruf Hijaiah yang terdapat dalam beberapa awal surah Al-Quran tidak bertambah dan tidak berkurang satu huruf pun dari kata-kata yang dipakai oleh Al-Quran, semuanya habis dibagi 19, sesuai dengan jumlah huruf dalam, “Bismillahir Rahmanir Rahim”.
      Al-Quran surah Al-Fatihah, surah ke-1 ayat 1.

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ

      “Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang”.
      Terdapat 19 huruf bahasa Arab dalam “Bismillahir Rahmanir Rahim” yaitu: bak, sin, mim, alif, lam, lam, hak, alif, lam, rak, hak, mim, nun, alif, lam, rak, hak, yak, dan mim”.
ب س م - ا ل ل ه – ا ل ر ح م ن – ا ل ر ح ي م

     “Terdapat 19 huruf dalam bahasa Arab”.
      Huruf “ق“ (qaf) yang merupakan awal dari surah Qaf, surah ke-50, ditemukan terulang sebanyak 57 kali atau 3 X 19.
     Huruf-huruf ) " كهي عص " kaf, ha', ya', 'ain, shad( dalam surah Maryam, surah ke-19 ditemukan sebanyak 798 kali atau 42 X 19.
     Huruf  "ن" (nun) yang memulai surah Al-Qalam, surah ke-68 ditemukan sebanyak 133 atau 7 X 19.
   Huruf يس"   “   (ya') dan (sin) pada surah Yasin, surah ke-36 masing-masing ditemukan sebanyak 285 atau 15 X 19.
    Huruf  “طه “ (tha') dan (ha') pada surah Thaha, surah ke-20  masing-masing berulang sebanyak 342 kali atau sama dengan 19 X 18.
   Huruf-huruf حم"” (ha') dan (mim) yang terdapat pada keseluruhan surah Fusshilat, surah ke-41 yang dimulai dengan kedua huruf ini, semuanya adalah perkalian dari 114 X 19, yakni masing masing berjumlah 2.166.
     Bilangan-bilangan ini, yang dapat ditemukan langsung dari celah ayat Al-Quran, oleh Rasyad Khalifah, dijadikan sebagai bukti keaslian Al-Quran, karena seandainya ada ayat yang berkurang atau berlebih atau ditukar kata dan kalimatnya dengan kata atau kalimat yang lain, maka pasti perkalian tersebut akan menjadi kacau.
     Angka 19 diambil dari pernyataan Al-Quran sendiri, yakni yang termuat dalam surah Al-Muddasir, surah ke-74 ayat 30 yang turun dalam konteks ancaman terhadap orang yang meragukan kebenaran Al-Quran, dan 19 adalah bilangan istimewa karena 19 adalah bilangan prima, yaitu bilangan yang hanya habis dibagi 1 dan dirinya sendiri.
      Al-Quran surah Al-Muddasir, surah ke-74 ayat 30.

عَلَيْهَا تِسْعَةَ عَشَرَ

      “Di atasnya ada 19 (malaikat penjaga)”.

Daftar Pustaka
1. Shihab, M.Quraish. Lentera Hati. Kisah dan Hikmah Kehidupan. Penerbit Mizan, 1994.   
2. Shihab, M. Quraish Shihab. Wawasan Al-Quran. Tafsir Maudhui atas Perbagai Persoalan Umat. Penerbit Mizan, 2009.
3. Shihab, M.Quraish. E-book Membumikan Al-Quran.
4. Al-Quran Digital, Versi 3.2. Digital Qur’an Ver 3.2
5. Tafsirq.com online.

461. BUKTI

MEMAHAMI KEASLIAN AL-QURAN
Oleh: Drs. H. M. Yusron Hadi, M.M.


       Beberapa orang bertanya,”Mohon dijelaskan tentang “Keaslian Al-Quran?” Profesor Quraish Shihab menjelaskannya.
      Al-Quran memperkenalkan dirinya dengan berbagai ciri dan sifat, salah satu di antaranya adalah bahwa Al-Quran adalah kitab yang keotentikannya dijamin oleh Allah, dan sebuah kitab yang selalu dijaga oleh Allah.
      Al-Quran surah , surah Al-Hijr, ke-15 ayat 9.

إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ

      “Sesungguhnya Kami yang menurunkan Al-Quran, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya”.
     Allah menjamin keotentikan dan keaslian Al-Quran, jaminan yang diberikan oleh Allah Yang Maha Kuasa dan Yang Maha Tahu, serta berkat upaya yang dilakukan oleh makhluk Allah, terutama oleh manusia.
     Dengan jaminan ayat Al-Quran di atas, setiap umat Islam yakin dan percaya bahwa apa yang dibaca dan didengarnya seperti dalam mushaf Al-Quran sekarang ini sama dengan yang pernah dibaca oleh Nabi Muhammad dan para sahabat zaman dahulu.
     Keyakinan atas keaslian Al-Quran bisa dibuktikan untuk meyakinkan umat manusia yang beriman dan orang yang tidak beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, karena para orientalis sejak zaman dahulu sampai sekarang yang ingin mencari kelemahan dan kesalahan Al-Quran tidak menemukan celah untuk meragukan kebenaran Al-Quran, berdasarkan bukti sejarah yang sangat meyakinkan.
      Sejarah Al-Quran sejak pertama kali diturunkan sampai sekarang sangat jelas dan terbuka, karena Al-Quran dibaca oleh umat Islam sejak zaman dahulu sampai sekarang, sehingga pada hakikatnya Al-Quran tidak membutuhkan sejarah untuk membuktikan keasliannya.
      Al-Quran adalah kitab suci umat Islam yang memperkenalkan dirinya sebagai firman dari Allah dan membuktikan hal tersebut dengan menantang siapa pun untuk menyusun “buku” lain semacam Al-Quran.
      Hal itu sudah cukup menjadi bukti, meskipun tanpa bukti kesejarahan, dan salah satu bukti bahwa Al-Quran yang berada di tangan kita sekarang adalah Al-Quran yang turun kepada Nabi tanpa pergantian dan perubahan adalah yang berkaitan dengan sifat dan ciri-ciri yang diperkenalkannya menyangkut dirinya, yang tetap dapat ditemui sebagaimana keadaannya pada zaman dahulu.
      Para ulama mengemukakan bahwa dalam Al-Quran sendiri terdapat bukti dan  jaminan akan keotentikannya untuk Al-Quran sendiri, misalnya “huruf Hijaiah” (abjad Arab atau sistem aksara Arab) yang terdapat pada awal beberapa surah dalam Al-Quran adalah jaminan keutuhan Al-Quran tetap seperti ketika diterima oleh Nabi Muhammad.
     Huruf Hijaiah yang terdapat dalam beberapa awal surah Al-Quran tidak bertambah dan tidak berkurang satu huruf pun dari kata-kata yang dipakai oleh Al-Quran, semuanya habis dibagi 19, sesuai dengan jumlah huruf dalam, “Bismillahir Rahmanir Rahim”.
      Al-Quran surah Al-Fatihah, surah ke-1 ayat 1.

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ

      “Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang”.
      Terdapat 19 huruf bahasa Arab dalam “Bismillahir Rahmanir Rahim” yaitu: bak, sin, mim, alif, lam, lam, hak, alif, lam, rak, hak, mim, nun, alif, lam, rak, hak, yak, dan mim”.
ب س م - ا ل ل ه – ا ل ر ح م ن – ا ل ر ح ي م

     “Terdapat 19 huruf dalam bahasa Arab”.
      Huruf “ق“ (qaf) yang merupakan awal dari surah Qaf, surah ke-50, ditemukan terulang sebanyak 57 kali atau 3 X 19.
     Huruf-huruf ) " كهي عص " kaf, ha', ya', 'ain, shad( dalam surah Maryam, surah ke-19 ditemukan sebanyak 798 kali atau 42 X 19.
     Huruf  "ن" (nun) yang memulai surah Al-Qalam, surah ke-68 ditemukan sebanyak 133 atau 7 X 19.
   Huruf يس"   “   (ya') dan (sin) pada surah Yasin, surah ke-36 masing-masing ditemukan sebanyak 285 atau 15 X 19.
    Huruf  “طه “ (tha') dan (ha') pada surah Thaha, surah ke-20  masing-masing berulang sebanyak 342 kali atau sama dengan 19 X 18.
   Huruf-huruf حم"” (ha') dan (mim) yang terdapat pada keseluruhan surah Fusshilat, surah ke-41 yang dimulai dengan kedua huruf ini, semuanya adalah perkalian dari 114 X 19, yakni masing masing berjumlah 2.166.
     Bilangan-bilangan ini, yang dapat ditemukan langsung dari celah ayat Al-Quran, oleh Rasyad Khalifah, dijadikan sebagai bukti keaslian Al-Quran, karena seandainya ada ayat yang berkurang atau berlebih atau ditukar kata dan kalimatnya dengan kata atau kalimat yang lain, maka pasti perkalian tersebut akan menjadi kacau.
     Angka 19 diambil dari pernyataan Al-Quran sendiri, yakni yang termuat dalam surah Al-Muddasir, surah ke-74 ayat 30 yang turun dalam konteks ancaman terhadap orang yang meragukan kebenaran Al-Quran, dan 19 adalah bilangan istimewa karena 19 adalah bilangan prima, yaitu bilangan yang hanya habis dibagi 1 dan dirinya sendiri.
      Al-Quran surah Al-Muddasir, surah ke-74 ayat 30.

عَلَيْهَا تِسْعَةَ عَشَرَ

      “Di atasnya ada 19 (malaikat penjaga)”.

Daftar Pustaka
1. Shihab, M.Quraish. Lentera Hati. Kisah dan Hikmah Kehidupan. Penerbit Mizan, 1994.   
2. Shihab, M. Quraish Shihab. Wawasan Al-Quran. Tafsir Maudhui atas Perbagai Persoalan Umat. Penerbit Mizan, 2009.
3. Shihab, M.Quraish. E-book Membumikan Al-Quran.
4. Al-Quran Digital, Versi 3.2. Digital Qur’an Ver 3.2
5. Tafsirq.com online.

461. BUKTI

MEMAHAMI KEASLIAN AL-QURAN
Oleh: Drs. H. M. Yusron Hadi, M.M.


       Beberapa orang bertanya,”Mohon dijelaskan tentang “Keaslian Al-Quran?” Profesor Quraish Shihab menjelaskannya.
      Al-Quran memperkenalkan dirinya dengan berbagai ciri dan sifat, salah satu di antaranya adalah bahwa Al-Quran adalah kitab yang keotentikannya dijamin oleh Allah, dan sebuah kitab yang selalu dijaga oleh Allah.
      Al-Quran surah , surah Al-Hijr, ke-15 ayat 9.

إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ

      “Sesungguhnya Kami yang menurunkan Al-Quran, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya”.
     Allah menjamin keotentikan dan keaslian Al-Quran, jaminan yang diberikan oleh Allah Yang Maha Kuasa dan Yang Maha Tahu, serta berkat upaya yang dilakukan oleh makhluk Allah, terutama oleh manusia.
     Dengan jaminan ayat Al-Quran di atas, setiap umat Islam yakin dan percaya bahwa apa yang dibaca dan didengarnya seperti dalam mushaf Al-Quran sekarang ini sama dengan yang pernah dibaca oleh Nabi Muhammad dan para sahabat zaman dahulu.
     Keyakinan atas keaslian Al-Quran bisa dibuktikan untuk meyakinkan umat manusia yang beriman dan orang yang tidak beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, karena para orientalis sejak zaman dahulu sampai sekarang yang ingin mencari kelemahan dan kesalahan Al-Quran tidak menemukan celah untuk meragukan kebenaran Al-Quran, berdasarkan bukti sejarah yang sangat meyakinkan.
      Sejarah Al-Quran sejak pertama kali diturunkan sampai sekarang sangat jelas dan terbuka, karena Al-Quran dibaca oleh umat Islam sejak zaman dahulu sampai sekarang, sehingga pada hakikatnya Al-Quran tidak membutuhkan sejarah untuk membuktikan keasliannya.
      Al-Quran adalah kitab suci umat Islam yang memperkenalkan dirinya sebagai firman dari Allah dan membuktikan hal tersebut dengan menantang siapa pun untuk menyusun “buku” lain semacam Al-Quran.
      Hal itu sudah cukup menjadi bukti, meskipun tanpa bukti kesejarahan, dan salah satu bukti bahwa Al-Quran yang berada di tangan kita sekarang adalah Al-Quran yang turun kepada Nabi tanpa pergantian dan perubahan adalah yang berkaitan dengan sifat dan ciri-ciri yang diperkenalkannya menyangkut dirinya, yang tetap dapat ditemui sebagaimana keadaannya pada zaman dahulu.
      Para ulama mengemukakan bahwa dalam Al-Quran sendiri terdapat bukti dan  jaminan akan keotentikannya untuk Al-Quran sendiri, misalnya “huruf Hijaiah” (abjad Arab atau sistem aksara Arab) yang terdapat pada awal beberapa surah dalam Al-Quran adalah jaminan keutuhan Al-Quran tetap seperti ketika diterima oleh Nabi Muhammad.
     Huruf Hijaiah yang terdapat dalam beberapa awal surah Al-Quran tidak bertambah dan tidak berkurang satu huruf pun dari kata-kata yang dipakai oleh Al-Quran, semuanya habis dibagi 19, sesuai dengan jumlah huruf dalam, “Bismillahir Rahmanir Rahim”.
      Al-Quran surah Al-Fatihah, surah ke-1 ayat 1.

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ

      “Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang”.
      Terdapat 19 huruf bahasa Arab dalam “Bismillahir Rahmanir Rahim” yaitu: bak, sin, mim, alif, lam, lam, hak, alif, lam, rak, hak, mim, nun, alif, lam, rak, hak, yak, dan mim”.
ب س م - ا ل ل ه – ا ل ر ح م ن – ا ل ر ح ي م

     “Terdapat 19 huruf dalam bahasa Arab”.
      Huruf “ق“ (qaf) yang merupakan awal dari surah Qaf, surah ke-50, ditemukan terulang sebanyak 57 kali atau 3 X 19.
     Huruf-huruf ) " كهي عص " kaf, ha', ya', 'ain, shad( dalam surah Maryam, surah ke-19 ditemukan sebanyak 798 kali atau 42 X 19.
     Huruf  "ن" (nun) yang memulai surah Al-Qalam, surah ke-68 ditemukan sebanyak 133 atau 7 X 19.
   Huruf يس"   “   (ya') dan (sin) pada surah Yasin, surah ke-36 masing-masing ditemukan sebanyak 285 atau 15 X 19.
    Huruf  “طه “ (tha') dan (ha') pada surah Thaha, surah ke-20  masing-masing berulang sebanyak 342 kali atau sama dengan 19 X 18.
   Huruf-huruf حم"” (ha') dan (mim) yang terdapat pada keseluruhan surah Fusshilat, surah ke-41 yang dimulai dengan kedua huruf ini, semuanya adalah perkalian dari 114 X 19, yakni masing masing berjumlah 2.166.
     Bilangan-bilangan ini, yang dapat ditemukan langsung dari celah ayat Al-Quran, oleh Rasyad Khalifah, dijadikan sebagai bukti keaslian Al-Quran, karena seandainya ada ayat yang berkurang atau berlebih atau ditukar kata dan kalimatnya dengan kata atau kalimat yang lain, maka pasti perkalian tersebut akan menjadi kacau.
     Angka 19 diambil dari pernyataan Al-Quran sendiri, yakni yang termuat dalam surah Al-Muddasir, surah ke-74 ayat 30 yang turun dalam konteks ancaman terhadap orang yang meragukan kebenaran Al-Quran, dan 19 adalah bilangan istimewa karena 19 adalah bilangan prima, yaitu bilangan yang hanya habis dibagi 1 dan dirinya sendiri.
      Al-Quran surah Al-Muddasir, surah ke-74 ayat 30.

عَلَيْهَا تِسْعَةَ عَشَرَ

      “Di atasnya ada 19 (malaikat penjaga)”.

Daftar Pustaka
1. Shihab, M.Quraish. Lentera Hati. Kisah dan Hikmah Kehidupan. Penerbit Mizan, 1994.   
2. Shihab, M. Quraish Shihab. Wawasan Al-Quran. Tafsir Maudhui atas Perbagai Persoalan Umat. Penerbit Mizan, 2009.
3. Shihab, M.Quraish. E-book Membumikan Al-Quran.
4. Al-Quran Digital, Versi 3.2. Digital Qur’an Ver 3.2
5. Tafsirq.com online.

461. BUKTI

MEMAHAMI KEASLIAN AL-QURAN
Oleh: Drs. H. M. Yusron Hadi, M.M.


       Beberapa orang bertanya,”Mohon dijelaskan tentang “Keaslian Al-Quran?” Profesor Quraish Shihab menjelaskannya.
      Al-Quran memperkenalkan dirinya dengan berbagai ciri dan sifat, salah satu di antaranya adalah bahwa Al-Quran adalah kitab yang keotentikannya dijamin oleh Allah, dan sebuah kitab yang selalu dijaga oleh Allah.
      Al-Quran surah , surah Al-Hijr, ke-15 ayat 9.

إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ

      “Sesungguhnya Kami yang menurunkan Al-Quran, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya”.
     Allah menjamin keotentikan dan keaslian Al-Quran, jaminan yang diberikan oleh Allah Yang Maha Kuasa dan Yang Maha Tahu, serta berkat upaya yang dilakukan oleh makhluk Allah, terutama oleh manusia.
     Dengan jaminan ayat Al-Quran di atas, setiap umat Islam yakin dan percaya bahwa apa yang dibaca dan didengarnya seperti dalam mushaf Al-Quran sekarang ini sama dengan yang pernah dibaca oleh Nabi Muhammad dan para sahabat zaman dahulu.
     Keyakinan atas keaslian Al-Quran bisa dibuktikan untuk meyakinkan umat manusia yang beriman dan orang yang tidak beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, karena para orientalis sejak zaman dahulu sampai sekarang yang ingin mencari kelemahan dan kesalahan Al-Quran tidak menemukan celah untuk meragukan kebenaran Al-Quran, berdasarkan bukti sejarah yang sangat meyakinkan.
      Sejarah Al-Quran sejak pertama kali diturunkan sampai sekarang sangat jelas dan terbuka, karena Al-Quran dibaca oleh umat Islam sejak zaman dahulu sampai sekarang, sehingga pada hakikatnya Al-Quran tidak membutuhkan sejarah untuk membuktikan keasliannya.
      Al-Quran adalah kitab suci umat Islam yang memperkenalkan dirinya sebagai firman dari Allah dan membuktikan hal tersebut dengan menantang siapa pun untuk menyusun “buku” lain semacam Al-Quran.
      Hal itu sudah cukup menjadi bukti, meskipun tanpa bukti kesejarahan, dan salah satu bukti bahwa Al-Quran yang berada di tangan kita sekarang adalah Al-Quran yang turun kepada Nabi tanpa pergantian dan perubahan adalah yang berkaitan dengan sifat dan ciri-ciri yang diperkenalkannya menyangkut dirinya, yang tetap dapat ditemui sebagaimana keadaannya pada zaman dahulu.
      Para ulama mengemukakan bahwa dalam Al-Quran sendiri terdapat bukti dan  jaminan akan keotentikannya untuk Al-Quran sendiri, misalnya “huruf Hijaiah” (abjad Arab atau sistem aksara Arab) yang terdapat pada awal beberapa surah dalam Al-Quran adalah jaminan keutuhan Al-Quran tetap seperti ketika diterima oleh Nabi Muhammad.
     Huruf Hijaiah yang terdapat dalam beberapa awal surah Al-Quran tidak bertambah dan tidak berkurang satu huruf pun dari kata-kata yang dipakai oleh Al-Quran, semuanya habis dibagi 19, sesuai dengan jumlah huruf dalam, “Bismillahir Rahmanir Rahim”.
      Al-Quran surah Al-Fatihah, surah ke-1 ayat 1.

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ

      “Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang”.
      Terdapat 19 huruf bahasa Arab dalam “Bismillahir Rahmanir Rahim” yaitu: bak, sin, mim, alif, lam, lam, hak, alif, lam, rak, hak, mim, nun, alif, lam, rak, hak, yak, dan mim”.
ب س م - ا ل ل ه – ا ل ر ح م ن – ا ل ر ح ي م

     “Terdapat 19 huruf dalam bahasa Arab”.
      Huruf “ق“ (qaf) yang merupakan awal dari surah Qaf, surah ke-50, ditemukan terulang sebanyak 57 kali atau 3 X 19.
     Huruf-huruf ) " كهي عص " kaf, ha', ya', 'ain, shad( dalam surah Maryam, surah ke-19 ditemukan sebanyak 798 kali atau 42 X 19.
     Huruf  "ن" (nun) yang memulai surah Al-Qalam, surah ke-68 ditemukan sebanyak 133 atau 7 X 19.
   Huruf يس"   “   (ya') dan (sin) pada surah Yasin, surah ke-36 masing-masing ditemukan sebanyak 285 atau 15 X 19.
    Huruf  “طه “ (tha') dan (ha') pada surah Thaha, surah ke-20  masing-masing berulang sebanyak 342 kali atau sama dengan 19 X 18.
   Huruf-huruf حم"” (ha') dan (mim) yang terdapat pada keseluruhan surah Fusshilat, surah ke-41 yang dimulai dengan kedua huruf ini, semuanya adalah perkalian dari 114 X 19, yakni masing masing berjumlah 2.166.
     Bilangan-bilangan ini, yang dapat ditemukan langsung dari celah ayat Al-Quran, oleh Rasyad Khalifah, dijadikan sebagai bukti keaslian Al-Quran, karena seandainya ada ayat yang berkurang atau berlebih atau ditukar kata dan kalimatnya dengan kata atau kalimat yang lain, maka pasti perkalian tersebut akan menjadi kacau.
     Angka 19 diambil dari pernyataan Al-Quran sendiri, yakni yang termuat dalam surah Al-Muddasir, surah ke-74 ayat 30 yang turun dalam konteks ancaman terhadap orang yang meragukan kebenaran Al-Quran, dan 19 adalah bilangan istimewa karena 19 adalah bilangan prima, yaitu bilangan yang hanya habis dibagi 1 dan dirinya sendiri.
      Al-Quran surah Al-Muddasir, surah ke-74 ayat 30.

عَلَيْهَا تِسْعَةَ عَشَرَ

      “Di atasnya ada 19 (malaikat penjaga)”.

Daftar Pustaka
1. Shihab, M.Quraish. Lentera Hati. Kisah dan Hikmah Kehidupan. Penerbit Mizan, 1994.   
2. Shihab, M. Quraish Shihab. Wawasan Al-Quran. Tafsir Maudhui atas Perbagai Persoalan Umat. Penerbit Mizan, 2009.
3. Shihab, M.Quraish. E-book Membumikan Al-Quran.
4. Al-Quran Digital, Versi 3.2. Digital Qur’an Ver 3.2
5. Tafsirq.com online.

461. BUKTI

MEMAHAMI KEASLIAN AL-QURAN
Oleh: Drs. H. M. Yusron Hadi, M.M.


       Beberapa orang bertanya,”Mohon dijelaskan tentang “Keaslian Al-Quran?” Profesor Quraish Shihab menjelaskannya.
      Al-Quran memperkenalkan dirinya dengan berbagai ciri dan sifat, salah satu di antaranya adalah bahwa Al-Quran adalah kitab yang keotentikannya dijamin oleh Allah, dan sebuah kitab yang selalu dijaga oleh Allah.
      Al-Quran surah , surah Al-Hijr, ke-15 ayat 9.

إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ

      “Sesungguhnya Kami yang menurunkan Al-Quran, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya”.
     Allah menjamin keotentikan dan keaslian Al-Quran, jaminan yang diberikan oleh Allah Yang Maha Kuasa dan Yang Maha Tahu, serta berkat upaya yang dilakukan oleh makhluk Allah, terutama oleh manusia.
     Dengan jaminan ayat Al-Quran di atas, setiap umat Islam yakin dan percaya bahwa apa yang dibaca dan didengarnya seperti dalam mushaf Al-Quran sekarang ini sama dengan yang pernah dibaca oleh Nabi Muhammad dan para sahabat zaman dahulu.
     Keyakinan atas keaslian Al-Quran bisa dibuktikan untuk meyakinkan umat manusia yang beriman dan orang yang tidak beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, karena para orientalis sejak zaman dahulu sampai sekarang yang ingin mencari kelemahan dan kesalahan Al-Quran tidak menemukan celah untuk meragukan kebenaran Al-Quran, berdasarkan bukti sejarah yang sangat meyakinkan.
      Sejarah Al-Quran sejak pertama kali diturunkan sampai sekarang sangat jelas dan terbuka, karena Al-Quran dibaca oleh umat Islam sejak zaman dahulu sampai sekarang, sehingga pada hakikatnya Al-Quran tidak membutuhkan sejarah untuk membuktikan keasliannya.
      Al-Quran adalah kitab suci umat Islam yang memperkenalkan dirinya sebagai firman dari Allah dan membuktikan hal tersebut dengan menantang siapa pun untuk menyusun “buku” lain semacam Al-Quran.
      Hal itu sudah cukup menjadi bukti, meskipun tanpa bukti kesejarahan, dan salah satu bukti bahwa Al-Quran yang berada di tangan kita sekarang adalah Al-Quran yang turun kepada Nabi tanpa pergantian dan perubahan adalah yang berkaitan dengan sifat dan ciri-ciri yang diperkenalkannya menyangkut dirinya, yang tetap dapat ditemui sebagaimana keadaannya pada zaman dahulu.
      Para ulama mengemukakan bahwa dalam Al-Quran sendiri terdapat bukti dan  jaminan akan keotentikannya untuk Al-Quran sendiri, misalnya “huruf Hijaiah” (abjad Arab atau sistem aksara Arab) yang terdapat pada awal beberapa surah dalam Al-Quran adalah jaminan keutuhan Al-Quran tetap seperti ketika diterima oleh Nabi Muhammad.
     Huruf Hijaiah yang terdapat dalam beberapa awal surah Al-Quran tidak bertambah dan tidak berkurang satu huruf pun dari kata-kata yang dipakai oleh Al-Quran, semuanya habis dibagi 19, sesuai dengan jumlah huruf dalam, “Bismillahir Rahmanir Rahim”.
      Al-Quran surah Al-Fatihah, surah ke-1 ayat 1.

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ

      “Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang”.
      Terdapat 19 huruf bahasa Arab dalam “Bismillahir Rahmanir Rahim” yaitu: bak, sin, mim, alif, lam, lam, hak, alif, lam, rak, hak, mim, nun, alif, lam, rak, hak, yak, dan mim”.
ب س م - ا ل ل ه – ا ل ر ح م ن – ا ل ر ح ي م

     “Terdapat 19 huruf dalam bahasa Arab”.
      Huruf “ق“ (qaf) yang merupakan awal dari surah Qaf, surah ke-50, ditemukan terulang sebanyak 57 kali atau 3 X 19.
     Huruf-huruf ) " كهي عص " kaf, ha', ya', 'ain, shad( dalam surah Maryam, surah ke-19 ditemukan sebanyak 798 kali atau 42 X 19.
     Huruf  "ن" (nun) yang memulai surah Al-Qalam, surah ke-68 ditemukan sebanyak 133 atau 7 X 19.
   Huruf يس"   “   (ya') dan (sin) pada surah Yasin, surah ke-36 masing-masing ditemukan sebanyak 285 atau 15 X 19.
    Huruf  “طه “ (tha') dan (ha') pada surah Thaha, surah ke-20  masing-masing berulang sebanyak 342 kali atau sama dengan 19 X 18.
   Huruf-huruf حم"” (ha') dan (mim) yang terdapat pada keseluruhan surah Fusshilat, surah ke-41 yang dimulai dengan kedua huruf ini, semuanya adalah perkalian dari 114 X 19, yakni masing masing berjumlah 2.166.
     Bilangan-bilangan ini, yang dapat ditemukan langsung dari celah ayat Al-Quran, oleh Rasyad Khalifah, dijadikan sebagai bukti keaslian Al-Quran, karena seandainya ada ayat yang berkurang atau berlebih atau ditukar kata dan kalimatnya dengan kata atau kalimat yang lain, maka pasti perkalian tersebut akan menjadi kacau.
     Angka 19 diambil dari pernyataan Al-Quran sendiri, yakni yang termuat dalam surah Al-Muddasir, surah ke-74 ayat 30 yang turun dalam konteks ancaman terhadap orang yang meragukan kebenaran Al-Quran, dan 19 adalah bilangan istimewa karena 19 adalah bilangan prima, yaitu bilangan yang hanya habis dibagi 1 dan dirinya sendiri.
      Al-Quran surah Al-Muddasir, surah ke-74 ayat 30.

عَلَيْهَا تِسْعَةَ عَشَرَ

      “Di atasnya ada 19 (malaikat penjaga)”.

Daftar Pustaka
1. Shihab, M.Quraish. Lentera Hati. Kisah dan Hikmah Kehidupan. Penerbit Mizan, 1994.   
2. Shihab, M. Quraish Shihab. Wawasan Al-Quran. Tafsir Maudhui atas Perbagai Persoalan Umat. Penerbit Mizan, 2009.
3. Shihab, M.Quraish. E-book Membumikan Al-Quran.
4. Al-Quran Digital, Versi 3.2. Digital Qur’an Ver 3.2
5. Tafsirq.com online.

461. BUKTI

MEMAHAMI KEASLIAN AL-QURAN
Oleh: Drs. H. M. Yusron Hadi, M.M.


       Beberapa orang bertanya,”Mohon dijelaskan tentang “Keaslian Al-Quran?” Profesor Quraish Shihab menjelaskannya.
      Al-Quran memperkenalkan dirinya dengan berbagai ciri dan sifat, salah satu di antaranya adalah bahwa Al-Quran adalah kitab yang keotentikannya dijamin oleh Allah, dan sebuah kitab yang selalu dijaga oleh Allah.
      Al-Quran surah , surah Al-Hijr, ke-15 ayat 9.

إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ

      “Sesungguhnya Kami yang menurunkan Al-Quran, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya”.
     Allah menjamin keotentikan dan keaslian Al-Quran, jaminan yang diberikan oleh Allah Yang Maha Kuasa dan Yang Maha Tahu, serta berkat upaya yang dilakukan oleh makhluk Allah, terutama oleh manusia.
     Dengan jaminan ayat Al-Quran di atas, setiap umat Islam yakin dan percaya bahwa apa yang dibaca dan didengarnya seperti dalam mushaf Al-Quran sekarang ini sama dengan yang pernah dibaca oleh Nabi Muhammad dan para sahabat zaman dahulu.
     Keyakinan atas keaslian Al-Quran bisa dibuktikan untuk meyakinkan umat manusia yang beriman dan orang yang tidak beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, karena para orientalis sejak zaman dahulu sampai sekarang yang ingin mencari kelemahan dan kesalahan Al-Quran tidak menemukan celah untuk meragukan kebenaran Al-Quran, berdasarkan bukti sejarah yang sangat meyakinkan.
      Sejarah Al-Quran sejak pertama kali diturunkan sampai sekarang sangat jelas dan terbuka, karena Al-Quran dibaca oleh umat Islam sejak zaman dahulu sampai sekarang, sehingga pada hakikatnya Al-Quran tidak membutuhkan sejarah untuk membuktikan keasliannya.
      Al-Quran adalah kitab suci umat Islam yang memperkenalkan dirinya sebagai firman dari Allah dan membuktikan hal tersebut dengan menantang siapa pun untuk menyusun “buku” lain semacam Al-Quran.
      Hal itu sudah cukup menjadi bukti, meskipun tanpa bukti kesejarahan, dan salah satu bukti bahwa Al-Quran yang berada di tangan kita sekarang adalah Al-Quran yang turun kepada Nabi tanpa pergantian dan perubahan adalah yang berkaitan dengan sifat dan ciri-ciri yang diperkenalkannya menyangkut dirinya, yang tetap dapat ditemui sebagaimana keadaannya pada zaman dahulu.
      Para ulama mengemukakan bahwa dalam Al-Quran sendiri terdapat bukti dan  jaminan akan keotentikannya untuk Al-Quran sendiri, misalnya “huruf Hijaiah” (abjad Arab atau sistem aksara Arab) yang terdapat pada awal beberapa surah dalam Al-Quran adalah jaminan keutuhan Al-Quran tetap seperti ketika diterima oleh Nabi Muhammad.
     Huruf Hijaiah yang terdapat dalam beberapa awal surah Al-Quran tidak bertambah dan tidak berkurang satu huruf pun dari kata-kata yang dipakai oleh Al-Quran, semuanya habis dibagi 19, sesuai dengan jumlah huruf dalam, “Bismillahir Rahmanir Rahim”.
      Al-Quran surah Al-Fatihah, surah ke-1 ayat 1.

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ

      “Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang”.
      Terdapat 19 huruf bahasa Arab dalam “Bismillahir Rahmanir Rahim” yaitu: bak, sin, mim, alif, lam, lam, hak, alif, lam, rak, hak, mim, nun, alif, lam, rak, hak, yak, dan mim”.
ب س م - ا ل ل ه – ا ل ر ح م ن – ا ل ر ح ي م

     “Terdapat 19 huruf dalam bahasa Arab”.
      Huruf “ق“ (qaf) yang merupakan awal dari surah Qaf, surah ke-50, ditemukan terulang sebanyak 57 kali atau 3 X 19.
     Huruf-huruf ) " كهي عص " kaf, ha', ya', 'ain, shad( dalam surah Maryam, surah ke-19 ditemukan sebanyak 798 kali atau 42 X 19.
     Huruf  "ن" (nun) yang memulai surah Al-Qalam, surah ke-68 ditemukan sebanyak 133 atau 7 X 19.
   Huruf يس"   “   (ya') dan (sin) pada surah Yasin, surah ke-36 masing-masing ditemukan sebanyak 285 atau 15 X 19.
    Huruf  “طه “ (tha') dan (ha') pada surah Thaha, surah ke-20  masing-masing berulang sebanyak 342 kali atau sama dengan 19 X 18.
   Huruf-huruf حم"” (ha') dan (mim) yang terdapat pada keseluruhan surah Fusshilat, surah ke-41 yang dimulai dengan kedua huruf ini, semuanya adalah perkalian dari 114 X 19, yakni masing masing berjumlah 2.166.
     Bilangan-bilangan ini, yang dapat ditemukan langsung dari celah ayat Al-Quran, oleh Rasyad Khalifah, dijadikan sebagai bukti keaslian Al-Quran, karena seandainya ada ayat yang berkurang atau berlebih atau ditukar kata dan kalimatnya dengan kata atau kalimat yang lain, maka pasti perkalian tersebut akan menjadi kacau.
     Angka 19 diambil dari pernyataan Al-Quran sendiri, yakni yang termuat dalam surah Al-Muddasir, surah ke-74 ayat 30 yang turun dalam konteks ancaman terhadap orang yang meragukan kebenaran Al-Quran, dan 19 adalah bilangan istimewa karena 19 adalah bilangan prima, yaitu bilangan yang hanya habis dibagi 1 dan dirinya sendiri.
      Al-Quran surah Al-Muddasir, surah ke-74 ayat 30.

عَلَيْهَا تِسْعَةَ عَشَرَ

      “Di atasnya ada 19 (malaikat penjaga)”.

Daftar Pustaka
1. Shihab, M.Quraish. Lentera Hati. Kisah dan Hikmah Kehidupan. Penerbit Mizan, 1994.   
2. Shihab, M. Quraish Shihab. Wawasan Al-Quran. Tafsir Maudhui atas Perbagai Persoalan Umat. Penerbit Mizan, 2009.
3. Shihab, M.Quraish. E-book Membumikan Al-Quran.
4. Al-Quran Digital, Versi 3.2. Digital Qur’an Ver 3.2
5. Tafsirq.com online.

461. BUKTI

MEMAHAMI KEASLIAN AL-QURAN
Oleh: Drs. H. M. Yusron Hadi, M.M.


       Beberapa orang bertanya,”Mohon dijelaskan tentang “Keaslian Al-Quran?” Profesor Quraish Shihab menjelaskannya.
      Al-Quran memperkenalkan dirinya dengan berbagai ciri dan sifat, salah satu di antaranya adalah bahwa Al-Quran adalah kitab yang keotentikannya dijamin oleh Allah, dan sebuah kitab yang selalu dijaga oleh Allah.
      Al-Quran surah , surah Al-Hijr, ke-15 ayat 9.

إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ

      “Sesungguhnya Kami yang menurunkan Al-Quran, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya”.
     Allah menjamin keotentikan dan keaslian Al-Quran, jaminan yang diberikan oleh Allah Yang Maha Kuasa dan Yang Maha Tahu, serta berkat upaya yang dilakukan oleh makhluk Allah, terutama oleh manusia.
     Dengan jaminan ayat Al-Quran di atas, setiap umat Islam yakin dan percaya bahwa apa yang dibaca dan didengarnya seperti dalam mushaf Al-Quran sekarang ini sama dengan yang pernah dibaca oleh Nabi Muhammad dan para sahabat zaman dahulu.
     Keyakinan atas keaslian Al-Quran bisa dibuktikan untuk meyakinkan umat manusia yang beriman dan orang yang tidak beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, karena para orientalis sejak zaman dahulu sampai sekarang yang ingin mencari kelemahan dan kesalahan Al-Quran tidak menemukan celah untuk meragukan kebenaran Al-Quran, berdasarkan bukti sejarah yang sangat meyakinkan.
      Sejarah Al-Quran sejak pertama kali diturunkan sampai sekarang sangat jelas dan terbuka, karena Al-Quran dibaca oleh umat Islam sejak zaman dahulu sampai sekarang, sehingga pada hakikatnya Al-Quran tidak membutuhkan sejarah untuk membuktikan keasliannya.
      Al-Quran adalah kitab suci umat Islam yang memperkenalkan dirinya sebagai firman dari Allah dan membuktikan hal tersebut dengan menantang siapa pun untuk menyusun “buku” lain semacam Al-Quran.
      Hal itu sudah cukup menjadi bukti, meskipun tanpa bukti kesejarahan, dan salah satu bukti bahwa Al-Quran yang berada di tangan kita sekarang adalah Al-Quran yang turun kepada Nabi tanpa pergantian dan perubahan adalah yang berkaitan dengan sifat dan ciri-ciri yang diperkenalkannya menyangkut dirinya, yang tetap dapat ditemui sebagaimana keadaannya pada zaman dahulu.
      Para ulama mengemukakan bahwa dalam Al-Quran sendiri terdapat bukti dan  jaminan akan keotentikannya untuk Al-Quran sendiri, misalnya “huruf Hijaiah” (abjad Arab atau sistem aksara Arab) yang terdapat pada awal beberapa surah dalam Al-Quran adalah jaminan keutuhan Al-Quran tetap seperti ketika diterima oleh Nabi Muhammad.
     Huruf Hijaiah yang terdapat dalam beberapa awal surah Al-Quran tidak bertambah dan tidak berkurang satu huruf pun dari kata-kata yang dipakai oleh Al-Quran, semuanya habis dibagi 19, sesuai dengan jumlah huruf dalam, “Bismillahir Rahmanir Rahim”.
      Al-Quran surah Al-Fatihah, surah ke-1 ayat 1.

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ

      “Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang”.
      Terdapat 19 huruf bahasa Arab dalam “Bismillahir Rahmanir Rahim” yaitu: bak, sin, mim, alif, lam, lam, hak, alif, lam, rak, hak, mim, nun, alif, lam, rak, hak, yak, dan mim”.
ب س م - ا ل ل ه – ا ل ر ح م ن – ا ل ر ح ي م

     “Terdapat 19 huruf dalam bahasa Arab”.
      Huruf “ق“ (qaf) yang merupakan awal dari surah Qaf, surah ke-50, ditemukan terulang sebanyak 57 kali atau 3 X 19.
     Huruf-huruf ) " كهي عص " kaf, ha', ya', 'ain, shad( dalam surah Maryam, surah ke-19 ditemukan sebanyak 798 kali atau 42 X 19.
     Huruf  "ن" (nun) yang memulai surah Al-Qalam, surah ke-68 ditemukan sebanyak 133 atau 7 X 19.
   Huruf يس"   “   (ya') dan (sin) pada surah Yasin, surah ke-36 masing-masing ditemukan sebanyak 285 atau 15 X 19.
    Huruf  “طه “ (tha') dan (ha') pada surah Thaha, surah ke-20  masing-masing berulang sebanyak 342 kali atau sama dengan 19 X 18.
   Huruf-huruf حم"” (ha') dan (mim) yang terdapat pada keseluruhan surah Fusshilat, surah ke-41 yang dimulai dengan kedua huruf ini, semuanya adalah perkalian dari 114 X 19, yakni masing masing berjumlah 2.166.
     Bilangan-bilangan ini, yang dapat ditemukan langsung dari celah ayat Al-Quran, oleh Rasyad Khalifah, dijadikan sebagai bukti keaslian Al-Quran, karena seandainya ada ayat yang berkurang atau berlebih atau ditukar kata dan kalimatnya dengan kata atau kalimat yang lain, maka pasti perkalian tersebut akan menjadi kacau.
     Angka 19 diambil dari pernyataan Al-Quran sendiri, yakni yang termuat dalam surah Al-Muddasir, surah ke-74 ayat 30 yang turun dalam konteks ancaman terhadap orang yang meragukan kebenaran Al-Quran, dan 19 adalah bilangan istimewa karena 19 adalah bilangan prima, yaitu bilangan yang hanya habis dibagi 1 dan dirinya sendiri.
      Al-Quran surah Al-Muddasir, surah ke-74 ayat 30.

عَلَيْهَا تِسْعَةَ عَشَرَ

      “Di atasnya ada 19 (malaikat penjaga)”.

Daftar Pustaka
1. Shihab, M.Quraish. Lentera Hati. Kisah dan Hikmah Kehidupan. Penerbit Mizan, 1994.   
2. Shihab, M. Quraish Shihab. Wawasan Al-Quran. Tafsir Maudhui atas Perbagai Persoalan Umat. Penerbit Mizan, 2009.
3. Shihab, M.Quraish. E-book Membumikan Al-Quran.
4. Al-Quran Digital, Versi 3.2. Digital Qur’an Ver 3.2
5. Tafsirq.com online.

461. BUKTI

MEMAHAMI KEASLIAN AL-QURAN
Oleh: Drs. H. M. Yusron Hadi, M.M.


       Beberapa orang bertanya,”Mohon dijelaskan tentang “Keaslian Al-Quran?” Profesor Quraish Shihab menjelaskannya.
      Al-Quran memperkenalkan dirinya dengan berbagai ciri dan sifat, salah satu di antaranya adalah bahwa Al-Quran adalah kitab yang keotentikannya dijamin oleh Allah, dan sebuah kitab yang selalu dijaga oleh Allah.
      Al-Quran surah , surah Al-Hijr, ke-15 ayat 9.

إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ

      “Sesungguhnya Kami yang menurunkan Al-Quran, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya”.
     Allah menjamin keotentikan dan keaslian Al-Quran, jaminan yang diberikan oleh Allah Yang Maha Kuasa dan Yang Maha Tahu, serta berkat upaya yang dilakukan oleh makhluk Allah, terutama oleh manusia.
     Dengan jaminan ayat Al-Quran di atas, setiap umat Islam yakin dan percaya bahwa apa yang dibaca dan didengarnya seperti dalam mushaf Al-Quran sekarang ini sama dengan yang pernah dibaca oleh Nabi Muhammad dan para sahabat zaman dahulu.
     Keyakinan atas keaslian Al-Quran bisa dibuktikan untuk meyakinkan umat manusia yang beriman dan orang yang tidak beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, karena para orientalis sejak zaman dahulu sampai sekarang yang ingin mencari kelemahan dan kesalahan Al-Quran tidak menemukan celah untuk meragukan kebenaran Al-Quran, berdasarkan bukti sejarah yang sangat meyakinkan.
      Sejarah Al-Quran sejak pertama kali diturunkan sampai sekarang sangat jelas dan terbuka, karena Al-Quran dibaca oleh umat Islam sejak zaman dahulu sampai sekarang, sehingga pada hakikatnya Al-Quran tidak membutuhkan sejarah untuk membuktikan keasliannya.
      Al-Quran adalah kitab suci umat Islam yang memperkenalkan dirinya sebagai firman dari Allah dan membuktikan hal tersebut dengan menantang siapa pun untuk menyusun “buku” lain semacam Al-Quran.
      Hal itu sudah cukup menjadi bukti, meskipun tanpa bukti kesejarahan, dan salah satu bukti bahwa Al-Quran yang berada di tangan kita sekarang adalah Al-Quran yang turun kepada Nabi tanpa pergantian dan perubahan adalah yang berkaitan dengan sifat dan ciri-ciri yang diperkenalkannya menyangkut dirinya, yang tetap dapat ditemui sebagaimana keadaannya pada zaman dahulu.
      Para ulama mengemukakan bahwa dalam Al-Quran sendiri terdapat bukti dan  jaminan akan keotentikannya untuk Al-Quran sendiri, misalnya “huruf Hijaiah” (abjad Arab atau sistem aksara Arab) yang terdapat pada awal beberapa surah dalam Al-Quran adalah jaminan keutuhan Al-Quran tetap seperti ketika diterima oleh Nabi Muhammad.
     Huruf Hijaiah yang terdapat dalam beberapa awal surah Al-Quran tidak bertambah dan tidak berkurang satu huruf pun dari kata-kata yang dipakai oleh Al-Quran, semuanya habis dibagi 19, sesuai dengan jumlah huruf dalam, “Bismillahir Rahmanir Rahim”.
      Al-Quran surah Al-Fatihah, surah ke-1 ayat 1.

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ

      “Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang”.
      Terdapat 19 huruf bahasa Arab dalam “Bismillahir Rahmanir Rahim” yaitu: bak, sin, mim, alif, lam, lam, hak, alif, lam, rak, hak, mim, nun, alif, lam, rak, hak, yak, dan mim”.
ب س م - ا ل ل ه – ا ل ر ح م ن – ا ل ر ح ي م

     “Terdapat 19 huruf dalam bahasa Arab”.
      Huruf “ق“ (qaf) yang merupakan awal dari surah Qaf, surah ke-50, ditemukan terulang sebanyak 57 kali atau 3 X 19.
     Huruf-huruf ) " كهي عص " kaf, ha', ya', 'ain, shad( dalam surah Maryam, surah ke-19 ditemukan sebanyak 798 kali atau 42 X 19.
     Huruf  "ن" (nun) yang memulai surah Al-Qalam, surah ke-68 ditemukan sebanyak 133 atau 7 X 19.
   Huruf يس"   “   (ya') dan (sin) pada surah Yasin, surah ke-36 masing-masing ditemukan sebanyak 285 atau 15 X 19.
    Huruf  “طه “ (tha') dan (ha') pada surah Thaha, surah ke-20  masing-masing berulang sebanyak 342 kali atau sama dengan 19 X 18.
   Huruf-huruf حم"” (ha') dan (mim) yang terdapat pada keseluruhan surah Fusshilat, surah ke-41 yang dimulai dengan kedua huruf ini, semuanya adalah perkalian dari 114 X 19, yakni masing masing berjumlah 2.166.
     Bilangan-bilangan ini, yang dapat ditemukan langsung dari celah ayat Al-Quran, oleh Rasyad Khalifah, dijadikan sebagai bukti keaslian Al-Quran, karena seandainya ada ayat yang berkurang atau berlebih atau ditukar kata dan kalimatnya dengan kata atau kalimat yang lain, maka pasti perkalian tersebut akan menjadi kacau.
     Angka 19 diambil dari pernyataan Al-Quran sendiri, yakni yang termuat dalam surah Al-Muddasir, surah ke-74 ayat 30 yang turun dalam konteks ancaman terhadap orang yang meragukan kebenaran Al-Quran, dan 19 adalah bilangan istimewa karena 19 adalah bilangan prima, yaitu bilangan yang hanya habis dibagi 1 dan dirinya sendiri.
      Al-Quran surah Al-Muddasir, surah ke-74 ayat 30.

عَلَيْهَا تِسْعَةَ عَشَرَ

      “Di atasnya ada 19 (malaikat penjaga)”.

Daftar Pustaka
1. Shihab, M.Quraish. Lentera Hati. Kisah dan Hikmah Kehidupan. Penerbit Mizan, 1994.   
2. Shihab, M. Quraish Shihab. Wawasan Al-Quran. Tafsir Maudhui atas Perbagai Persoalan Umat. Penerbit Mizan, 2009.
3. Shihab, M.Quraish. E-book Membumikan Al-Quran.
4. Al-Quran Digital, Versi 3.2. Digital Qur’an Ver 3.2
5. Tafsirq.com online.

Wednesday, November 8, 2017

460. AMAL

MEMAHAMI AMAL KEBAIKAN
Oleh: Drs. H. M. Yusron Hadi, M.M.

       Beberapa orang bertanya,”Mohon dijelaskan tentang “Amal kebaikan menurut Al-Quran?” Profesor Quraish Shihab menjelaskannya

      Al-Quran surah Al-Ashri, surah ke-103 ayat 1-3.

وَالْعَصْرِ . إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ. إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ

      “Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan saling menasihati supaya menaati kebenaran dan saling menasihati supaya menetapi kesabaran”.  
      Para ulama menegaskan bahwa waktu harus diisi dengan berbagai kegiatan yang  positif, yang dalam Al-Quran surah Al-Ashri, surah ke-103 ayat 1-3 disebutkan empat hal yang dapat menyelamatkan manusia dari kerugian dan kecelakaan besar, yaitu  (a) beriman, (b) beramal saleh, (c) saling berwasiat dalam kebenaran, dan (d) saling berwasiat dengan kesabaran.
      Setelah beriman kepada Allah, maka hal kedua adalah “amilush-shalihat” (yang melakukan amal-amal kebaikan), dan kata “amal” (pekerjaan) digunakan oleh Al-Quran untuk menggambarkan “perbuatan yang disadari oleh manusia dan jin”.
    Sebagian ulama berpendapat bahwa kata “amal” dalam Al-Quran tidak semuanya mengandung arti “berwujudnya suatu pekerjaan di alam nyata”, seperti “niat untuk melakukan sesuatu yang baik” juga dinamakan “amal”, sehingga “niat yang baik” sudah dinilai sebagai “amal”.
      Al-Quran surah Al-Zalzalah, surah ke-99 ayat 7.

فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ

        “Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat zarah pun, niscaya dia akan melihat (balasan) nya.”
       Amal perbuatan manusia yang beraneka ragam itu bersumber dari empat daya yang dimilikinya. Pertama, adanya daya tubuh, yang memungkinkan manusia memiliki      kemampuan dan keterampilan teknis.   
         Kedua, adanya daya akal, yang memungkinkan manusia memiliki kemampuan mengembangkan ilmu dan teknologi, serta memahami dan memanfaatkan “sunnatullah”.
      Ketiga, adanya daya kalbu, yang memungkinkan manusia memiliki kemampuan moral, estetika, etika, serta mampu berkhayal, beriman, dan merasakan kebesaran Allah.  
      Keempat, adanya daya hidup, yang memungkinkan manusia memiliki      kemampuan menyesuaikan diri dengan lingkungan, mempertahankan hidup, dan menghadapi tantangan dalam kehidupan.
      Keempat daya ini apabila digunakan sesuai petunjuk AIlah, akan menjadikan perbuatan tersebut sebagai “amal saleh”, dan kata “shalih” terambil dari akar kata  “shaluha”  yang  dalam kamus  bahasa  Al-Quran, maknanya adalah “antonim”  (lawan kata) dari kata “fasid”(rusak). 
      Kata “saleh” diartikan sebagai “terhentinya kerusakan”, serta kata “shalih” juga diartikan “bermanfaat” dan “sesuai”, karena “amal saleh” adalah pekerjaan yang apabila dilakukan tidak menyebabkan “madharrat” (kerusakan), atau bila pekerjaan  tersebut dilakukan akan menghasilakn “manfaat” dan “kesesuaian”.  
      Kata “shaluha” dalam berbagai bentuknya terulang dalam Al-Quran sebanyak 180 kali, dan secara umum dapat dikatakan bahwa kata “shaluha” ada yang dibentuk,  sehingga “membutuhkan objek” (transitif),  dan  ada  yang “tidak membutuhkan objek”  (intransitif).
      Bentuk pertama menyangkut kegiatan mengenai objek penderita, yang memberikan kesan objek itu mengandung kerusakan dan ketidaksesuaian, sehingga  pekerjaan yang dilakukan akan menjadikan objeknya rusak, sedangkan bentuk kedua menunjukkan terpenuhinya nilai manfaat dan kesesuaian  pekerjaan yang  dilakukan. 
      Usaha untuk menghindarkan kerusakan pada sesuatu dan menyingkirkan  “madharrat” (kerusakan) yang ada padanya dinamakan “ishlah”, sedangkan usaha memelihara kesesuaian dan manfaat yang terdapat pada sesuatu disebut “shalah”.
      Al-Quran tidak menjelaskan tolok ukur pemenuhan nilai keserasian, sehingga para ulama berbeda pendapat tentang definisi “amal saleh”, sebagian ulama berpendapat bahwa “amal saleh” adalah “segala perbuatan yang berguna bagi pribadi, keluarga, kelompok, dan manusia secara keseluruhan”.
     Apabila seseorang mampu melakukan “amal saleh” disertai “iman”, maka dia telah memenuhi 2 hal (beriman dan amal saleh) dari 4 hal yang harus dipenuhi untuk membebaskan diri dari kerugian total, yang ke-3 dan ke-4 adalah “Tawashauw bil haq” dan “tawashauw bish-shabr” (saling menasihati tentang kebenaran dan kesabaran
       Kata “haq” dapat diartikan “kebenaran yang diperoleh melalui pencarian ilmu” dan kata “shabr” adalah “ketabahan menghadapi segala sesuatu”, dan “kemampuan  untuk menahan rayuan nafsu untuk mencapai yang terbaik”.
      Surah Al-Ashri, surah ke-103 ayat 1-3 secara keseluruhan berpesan agar  seseorang tidak  hanya mengandalkan “iman” saja,  tetapi juga “amal saleh” , bahkan “iman” dan “amal saleh” belum cukup, karena masih membutuhkan “ilmu”.
        Sebagian ulama berpendapat bahwa iman, amal saleh, dan ilmu sudah cukup memadai bagi seseorang, tetapi seseorang masih memerlukan “saling memberikan nasihat agar tetap tabah dan sabar dalam kebenaran”. 
       Al-Quran menjelaskan bahwa amal perbuatan bukan sekadar upaya memenuhi kebutuhan manusia untuk makan, minum, dan rekreasi, tetapi bekerja yang beraneka  ragam sesuai dengan bakat dan minat manusia.
       Nabi bersabda,”Manusia yang akalnya belum terkalahkan oleh nafsunya, berkewajiban mengatur waktunya, sebagian untuk “bermunajat” dengan Allah, introspeksi dan memikirkan ciptaan Allah, serta untuk diri dan keluarganya guna memenuhi kebutuhan makan dan minum”.  
      Imam Syafii berkata,”Apabila manusia memahami dan memikirkan kandungan      surah Al-Ashri, surah ke-103 ayat 1-3, sesungguhnya sudah cukup menjadi petunjuk bagi kehidupan manusia”.
Daftar Pustaka
1. Shihab, M.Quraish. Lentera Hati. Kisah dan Hikmah Kehidupan. Penerbit Mizan, 1994.   
2. Shihab, M. Quraish Shihab. Wawasan Al-Quran. Tafsir Maudhui atas Perbagai Persoalan Umat. Penerbit Mizan, 2009.
3. Shihab, M.Quraish. E-book Membumikan Al-Quran.
4. Al-Quran Digital, Versi 3.2. Digital Qur’an Ver 3.2
5. Tafsirq.com online.