Organisasi Profesi Guru

Presiden Jokowi memberi hormat kepada Guru-Guru se Indonesia.

Tema Gambar Slide 2

Deskripsi gambar slide bisa dituliskan disini dengan beberapa kalimat yang menggambarkan gambar slide yang anda pasang, edit slide ini melalui edit HTML template.

Tema Gambar Slide 3

Deskripsi gambar slide bisa dituliskan disini dengan beberapa kalimat yang menggambarkan gambar slide yang anda pasang, edit slide ini melalui edit HTML template.

Friday, November 10, 2017

465. NALAR

SISTEM PENALARAN AL-QURAN
Oleh: Drs. H. M. Yusron Hadi, M.M.


       Beberapa orang bertanya,”Mohon dijelaskan tentang “Sistem penalaran menurut  Al-Quran?” Profesor Quraish Shihab menjelaskannya
      Salah satu faktor penting yang dapat menghalangi perkembangan ilmu pengetahuan terdapat dalam diri manusia sendiri, para psikolog menerangkan bahwa tahap perkembangan kejiwaan dan alam pikiran manusia dalam menilai suatu ide umumnya melalui tiga fase.
     Fase pertama, orang yang menilai suatu gagasan dan ide itu baik atau buruk berdasarkan ukuran alam kebendaan materi dan berdasarkan  pancaindera.
      Fase kedua, orang yang menilai suatu ide berdasarkan contoh dari seseorang dan  berdasarkan “bintang iklannya”, artinya apabila idolanya menyatakan baik maka ikut menyatakan baik, dan apabila tokohnya menyatakan jelek, maka ikut menyatakan jelek.
     Fase ketiga, adalah fase kedewasaan, yaitu orang yang menilai suatu ide dan gagasan berdasarkan nilai yang terdapat dalam unsur ide dan gagasan itu sendiri, tanpa terpengaruh oleh faktor dari luar.
      Sejarah menunjukkan bahwa pada zaman awal pembinaan masyarakat Islam, penilaian umat Islam terhadap nilai “ide yang dibawa oleh Al-Quran” adalah bahwa ide tersebut berhubungan sangat erat dengan pribadi Nabi Muhammad.
      Sehingga dalam Perang Uhud sekelompok pasukan Islam dengan cepat meninggalkan medan pertempuran, ketika mendengar berita bahwa Nabi telah wafat yang diisukan oleh kaum musyrik.
     Sikap sebagian pasukan Islam yang keliru ini, muncul akibat pandangan mereka terhadap nilai suatu ide, baru sampai pada tahap fase kedua, atau dengan kata lain belum mencapai tingkat kedewasaannya.
      Al-Quran tidak menginginkan masyarakat baru yang dibentuk dalam menilai suatu ide apa pun coraknya hanya terbatas sampai tahap fase kedua saja, maka turunlah ayat Al-Quran yang menyatakan bahwa Nabi Muhammad hanya seorang Rasul, yang sebelumnya sudah terdapat beberapa Rasul utusan Allah.
      Al-Quran surah Ali Imran, surah ke-3 ayat 144.

وَمَا مُحَمَّدٌ إِلَّا رَسُولٌ قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِهِ الرُّسُلُ ۚ أَفَإِنْ مَاتَ أَوْ قُتِلَ انْقَلَبْتُمْ عَلَىٰ أَعْقَابِكُمْ ۚ وَمَنْ يَنْقَلِبْ عَلَىٰ عَقِبَيْهِ فَلَنْ يَضُرَّ اللَّهَ شَيْئًا ۗ وَسَيَجْزِي اللَّهُ الشَّاكِرِينَ

      “Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul. Apakah jika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad)? Barangsiapa yang berbalik ke belakang, maka dia tidak dapat mendatangkan mudarat kepada Allah sedikit pun; dan Allah akan memberikan balasan kepada orang-orang yang bersyukur”.
     Al-Quran surah Ali Imran, surah ke-3 ayat 144 ini adalah dorongan kepada umat Islam agar lebih meningkatkan penilaiannya atas suatu ide dan gagasan ke tingkat yang lebih tinggi sampai pada tahap fase ketiga yaitu fase kedewasaan, dan ayat Al-Quran ini dapat melepaskan belenggu yang menghambat kemajuan ilmu pengetahuan dalam alam pikiran manusia.
      Al-Quran surah Az-Zumar, surah ke-39 ayat 9.

أَمَّنْ هُوَ قَانِتٌ آنَاءَ اللَّيْلِ سَاجِدًا وَقَائِمًا يَحْذَرُ الْآخِرَةَ وَيَرْجُو رَحْمَةَ رَبِّهِ ۗ قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ ۗ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُولُو الْأَلْبَابِ

      “(Apakah kamu hai orang musyrik yang lebih beruntung) ataukah orang yang beribadah di waktu-waktu malam dengan sujud dan berdiri, sedangkan dia takut kepada (azab) akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya? Katakanlah,”Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran”.
     Al-Quran surah Az-Zumar, surah ke-39 ayat 9  ini menekankan kepada masyarakat betapa besar manfaat dan nilai ilmu pengetahuan serta kedudukan cendekiawan dalam masyarakat.
      Al-Quran surah Ali Imran, surah ke-3 ayat 66.

هَا أَنْتُمْ هَٰؤُلَاءِ حَاجَجْتُمْ فِيمَا لَكُمْ بِهِ عِلْمٌ فَلِمَ تُحَاجُّونَ فِيمَا لَيْسَ لَكُمْ بِهِ عِلْمٌ ۚ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

      “Beginilah kamu, kamu ini (sewajarnya) bantah membantah tentang hal yang kamu ketahui, maka kenapa kamu bantah-membantah tentang hal yang tidak kamu ketahui?; Allah mengetahui sedangkan kamu tidak mengetahui”.
      Al-Quran surah Ali Imran, surah ke-3 ayat 66 ini adalah kritik pedas terhadap orang yang berbicara dan membantah suatu masalah tanpa adanya data objektif lagi ilmiah yang berkaitan dengan masalahnya.
     Ayat Al-Quran semacam inilah yang kemudian membentuk iklim baru dalam masyarakat yang mewujudkan dan mendorong kemajuan ilmu pengetahuan, sehingga mampu menghasilkan tokoh besar seperti Ibnu Sina, Al-Farabi, Al-Ghazali, Ibnu Khaldun, Jabir Ibnu Hayyan, dan lainnya.
          Ayat Al-Quran semacam inilah yang membantu Muhammad bin Ahmad menemukan angka nol pada tahun 976 Masehi, yang akhirnya mendorong Muhammad bin Musa Al-Khawarizmiy menemukan perhitungan Aljabar, tanpa penemuan tersebut, maka ilmu pengetahuan dan sains modern akan tetap merangkak dan meraba-raba dalam alam gelap gulita.
      Mewujudkan iklim ilmu pengetahuan jauh lebih penting daripada menemukan teori ilmiah, karena tanpa wujudnya iklim ilmu pengetahuan, para ahli yang menemukan teori itu akan mengalami nasib seperti Galileo, yang menjadi korban hasil penemuannya sendiri.
     Al-Quran adalah kitab petunjuk yang memberikan pedoman kepada manusia untuk kebahagiaan hidupnya di dunia dan di akhirat, sedangkan dalam hubungannya dengan ilmu pengetahuan, Al-Quran mendorong manusia seluruhnya untuk mempergunakan akal pikirannya dan menambah ilmu pengetahuannya seoptimal  mungkin.
Daftar Pustaka
1. Shihab, M.Quraish. Lentera Hati. Kisah dan Hikmah Kehidupan. Penerbit Mizan, 1994.   
2. Shihab, M. Quraish Shihab. Wawasan Al-Quran. Tafsir Maudhui atas Perbagai Persoalan Umat. Penerbit Mizan, 2009.
3. Shihab, M.Quraish. E-book Membumikan Al-Quran.
4. Al-Quran Digital, Versi 3.2. Digital Qur’an Ver 3.2
5. Tafsirq.com online

465. NALAR

SISTEM PENALARAN AL-QURAN
Oleh: Drs. H. M. Yusron Hadi, M.M.


       Beberapa orang bertanya,”Mohon dijelaskan tentang “Sistem penalaran menurut  Al-Quran?” Profesor Quraish Shihab menjelaskannya
      Salah satu faktor penting yang dapat menghalangi perkembangan ilmu pengetahuan terdapat dalam diri manusia sendiri, para psikolog menerangkan bahwa tahap perkembangan kejiwaan dan alam pikiran manusia dalam menilai suatu ide umumnya melalui tiga fase.
     Fase pertama, orang yang menilai suatu gagasan dan ide itu baik atau buruk berdasarkan ukuran alam kebendaan materi dan berdasarkan  pancaindera.
      Fase kedua, orang yang menilai suatu ide berdasarkan contoh dari seseorang dan  berdasarkan “bintang iklannya”, artinya apabila idolanya menyatakan baik maka ikut menyatakan baik, dan apabila tokohnya menyatakan jelek, maka ikut menyatakan jelek.
     Fase ketiga, adalah fase kedewasaan, yaitu orang yang menilai suatu ide dan gagasan berdasarkan nilai yang terdapat dalam unsur ide dan gagasan itu sendiri, tanpa terpengaruh oleh faktor dari luar.
      Sejarah menunjukkan bahwa pada zaman awal pembinaan masyarakat Islam, penilaian umat Islam terhadap nilai “ide yang dibawa oleh Al-Quran” adalah bahwa ide tersebut berhubungan sangat erat dengan pribadi Nabi Muhammad.
      Sehingga dalam Perang Uhud sekelompok pasukan Islam dengan cepat meninggalkan medan pertempuran, ketika mendengar berita bahwa Nabi telah wafat yang diisukan oleh kaum musyrik.
     Sikap sebagian pasukan Islam yang keliru ini, muncul akibat pandangan mereka terhadap nilai suatu ide, baru sampai pada tahap fase kedua, atau dengan kata lain belum mencapai tingkat kedewasaannya.
      Al-Quran tidak menginginkan masyarakat baru yang dibentuk dalam menilai suatu ide apa pun coraknya hanya terbatas sampai tahap fase kedua saja, maka turunlah ayat Al-Quran yang menyatakan bahwa Nabi Muhammad hanya seorang Rasul, yang sebelumnya sudah terdapat beberapa Rasul utusan Allah.
      Al-Quran surah Ali Imran, surah ke-3 ayat 144.

وَمَا مُحَمَّدٌ إِلَّا رَسُولٌ قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِهِ الرُّسُلُ ۚ أَفَإِنْ مَاتَ أَوْ قُتِلَ انْقَلَبْتُمْ عَلَىٰ أَعْقَابِكُمْ ۚ وَمَنْ يَنْقَلِبْ عَلَىٰ عَقِبَيْهِ فَلَنْ يَضُرَّ اللَّهَ شَيْئًا ۗ وَسَيَجْزِي اللَّهُ الشَّاكِرِينَ

      “Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul. Apakah jika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad)? Barangsiapa yang berbalik ke belakang, maka dia tidak dapat mendatangkan mudarat kepada Allah sedikit pun; dan Allah akan memberikan balasan kepada orang-orang yang bersyukur”.
     Al-Quran surah Ali Imran, surah ke-3 ayat 144 ini adalah dorongan kepada umat Islam agar lebih meningkatkan penilaiannya atas suatu ide dan gagasan ke tingkat yang lebih tinggi sampai pada tahap fase ketiga yaitu fase kedewasaan, dan ayat Al-Quran ini dapat melepaskan belenggu yang menghambat kemajuan ilmu pengetahuan dalam alam pikiran manusia.
      Al-Quran surah Az-Zumar, surah ke-39 ayat 9.

أَمَّنْ هُوَ قَانِتٌ آنَاءَ اللَّيْلِ سَاجِدًا وَقَائِمًا يَحْذَرُ الْآخِرَةَ وَيَرْجُو رَحْمَةَ رَبِّهِ ۗ قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ ۗ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُولُو الْأَلْبَابِ

      “(Apakah kamu hai orang musyrik yang lebih beruntung) ataukah orang yang beribadah di waktu-waktu malam dengan sujud dan berdiri, sedangkan dia takut kepada (azab) akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya? Katakanlah,”Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran”.
     Al-Quran surah Az-Zumar, surah ke-39 ayat 9  ini menekankan kepada masyarakat betapa besar manfaat dan nilai ilmu pengetahuan serta kedudukan cendekiawan dalam masyarakat.
      Al-Quran surah Ali Imran, surah ke-3 ayat 66.

هَا أَنْتُمْ هَٰؤُلَاءِ حَاجَجْتُمْ فِيمَا لَكُمْ بِهِ عِلْمٌ فَلِمَ تُحَاجُّونَ فِيمَا لَيْسَ لَكُمْ بِهِ عِلْمٌ ۚ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

      “Beginilah kamu, kamu ini (sewajarnya) bantah membantah tentang hal yang kamu ketahui, maka kenapa kamu bantah-membantah tentang hal yang tidak kamu ketahui?; Allah mengetahui sedangkan kamu tidak mengetahui”.
      Al-Quran surah Ali Imran, surah ke-3 ayat 66 ini adalah kritik pedas terhadap orang yang berbicara dan membantah suatu masalah tanpa adanya data objektif lagi ilmiah yang berkaitan dengan masalahnya.
     Ayat Al-Quran semacam inilah yang kemudian membentuk iklim baru dalam masyarakat yang mewujudkan dan mendorong kemajuan ilmu pengetahuan, sehingga mampu menghasilkan tokoh besar seperti Ibnu Sina, Al-Farabi, Al-Ghazali, Ibnu Khaldun, Jabir Ibnu Hayyan, dan lainnya.
          Ayat Al-Quran semacam inilah yang membantu Muhammad bin Ahmad menemukan angka nol pada tahun 976 Masehi, yang akhirnya mendorong Muhammad bin Musa Al-Khawarizmiy menemukan perhitungan Aljabar, tanpa penemuan tersebut, maka ilmu pengetahuan dan sains modern akan tetap merangkak dan meraba-raba dalam alam gelap gulita.
      Mewujudkan iklim ilmu pengetahuan jauh lebih penting daripada menemukan teori ilmiah, karena tanpa wujudnya iklim ilmu pengetahuan, para ahli yang menemukan teori itu akan mengalami nasib seperti Galileo, yang menjadi korban hasil penemuannya sendiri.
     Al-Quran adalah kitab petunjuk yang memberikan pedoman kepada manusia untuk kebahagiaan hidupnya di dunia dan di akhirat, sedangkan dalam hubungannya dengan ilmu pengetahuan, Al-Quran mendorong manusia seluruhnya untuk mempergunakan akal pikirannya dan menambah ilmu pengetahuannya seoptimal  mungkin.
Daftar Pustaka
1. Shihab, M.Quraish. Lentera Hati. Kisah dan Hikmah Kehidupan. Penerbit Mizan, 1994.   
2. Shihab, M. Quraish Shihab. Wawasan Al-Quran. Tafsir Maudhui atas Perbagai Persoalan Umat. Penerbit Mizan, 2009.
3. Shihab, M.Quraish. E-book Membumikan Al-Quran.
4. Al-Quran Digital, Versi 3.2. Digital Qur’an Ver 3.2
5. Tafsirq.com online

465. NALAR

SISTEM PENALARAN AL-QURAN
Oleh: Drs. H. M. Yusron Hadi, M.M.


       Beberapa orang bertanya,”Mohon dijelaskan tentang “Sistem penalaran menurut  Al-Quran?” Profesor Quraish Shihab menjelaskannya
      Salah satu faktor penting yang dapat menghalangi perkembangan ilmu pengetahuan terdapat dalam diri manusia sendiri, para psikolog menerangkan bahwa tahap perkembangan kejiwaan dan alam pikiran manusia dalam menilai suatu ide umumnya melalui tiga fase.
     Fase pertama, orang yang menilai suatu gagasan dan ide itu baik atau buruk berdasarkan ukuran alam kebendaan materi dan berdasarkan  pancaindera.
      Fase kedua, orang yang menilai suatu ide berdasarkan contoh dari seseorang dan  berdasarkan “bintang iklannya”, artinya apabila idolanya menyatakan baik maka ikut menyatakan baik, dan apabila tokohnya menyatakan jelek, maka ikut menyatakan jelek.
     Fase ketiga, adalah fase kedewasaan, yaitu orang yang menilai suatu ide dan gagasan berdasarkan nilai yang terdapat dalam unsur ide dan gagasan itu sendiri, tanpa terpengaruh oleh faktor dari luar.
      Sejarah menunjukkan bahwa pada zaman awal pembinaan masyarakat Islam, penilaian umat Islam terhadap nilai “ide yang dibawa oleh Al-Quran” adalah bahwa ide tersebut berhubungan sangat erat dengan pribadi Nabi Muhammad.
      Sehingga dalam Perang Uhud sekelompok pasukan Islam dengan cepat meninggalkan medan pertempuran, ketika mendengar berita bahwa Nabi telah wafat yang diisukan oleh kaum musyrik.
     Sikap sebagian pasukan Islam yang keliru ini, muncul akibat pandangan mereka terhadap nilai suatu ide, baru sampai pada tahap fase kedua, atau dengan kata lain belum mencapai tingkat kedewasaannya.
      Al-Quran tidak menginginkan masyarakat baru yang dibentuk dalam menilai suatu ide apa pun coraknya hanya terbatas sampai tahap fase kedua saja, maka turunlah ayat Al-Quran yang menyatakan bahwa Nabi Muhammad hanya seorang Rasul, yang sebelumnya sudah terdapat beberapa Rasul utusan Allah.
      Al-Quran surah Ali Imran, surah ke-3 ayat 144.

وَمَا مُحَمَّدٌ إِلَّا رَسُولٌ قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِهِ الرُّسُلُ ۚ أَفَإِنْ مَاتَ أَوْ قُتِلَ انْقَلَبْتُمْ عَلَىٰ أَعْقَابِكُمْ ۚ وَمَنْ يَنْقَلِبْ عَلَىٰ عَقِبَيْهِ فَلَنْ يَضُرَّ اللَّهَ شَيْئًا ۗ وَسَيَجْزِي اللَّهُ الشَّاكِرِينَ

      “Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul. Apakah jika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad)? Barangsiapa yang berbalik ke belakang, maka dia tidak dapat mendatangkan mudarat kepada Allah sedikit pun; dan Allah akan memberikan balasan kepada orang-orang yang bersyukur”.
     Al-Quran surah Ali Imran, surah ke-3 ayat 144 ini adalah dorongan kepada umat Islam agar lebih meningkatkan penilaiannya atas suatu ide dan gagasan ke tingkat yang lebih tinggi sampai pada tahap fase ketiga yaitu fase kedewasaan, dan ayat Al-Quran ini dapat melepaskan belenggu yang menghambat kemajuan ilmu pengetahuan dalam alam pikiran manusia.
      Al-Quran surah Az-Zumar, surah ke-39 ayat 9.

أَمَّنْ هُوَ قَانِتٌ آنَاءَ اللَّيْلِ سَاجِدًا وَقَائِمًا يَحْذَرُ الْآخِرَةَ وَيَرْجُو رَحْمَةَ رَبِّهِ ۗ قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ ۗ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُولُو الْأَلْبَابِ

      “(Apakah kamu hai orang musyrik yang lebih beruntung) ataukah orang yang beribadah di waktu-waktu malam dengan sujud dan berdiri, sedangkan dia takut kepada (azab) akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya? Katakanlah,”Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran”.
     Al-Quran surah Az-Zumar, surah ke-39 ayat 9  ini menekankan kepada masyarakat betapa besar manfaat dan nilai ilmu pengetahuan serta kedudukan cendekiawan dalam masyarakat.
      Al-Quran surah Ali Imran, surah ke-3 ayat 66.

هَا أَنْتُمْ هَٰؤُلَاءِ حَاجَجْتُمْ فِيمَا لَكُمْ بِهِ عِلْمٌ فَلِمَ تُحَاجُّونَ فِيمَا لَيْسَ لَكُمْ بِهِ عِلْمٌ ۚ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

      “Beginilah kamu, kamu ini (sewajarnya) bantah membantah tentang hal yang kamu ketahui, maka kenapa kamu bantah-membantah tentang hal yang tidak kamu ketahui?; Allah mengetahui sedangkan kamu tidak mengetahui”.
      Al-Quran surah Ali Imran, surah ke-3 ayat 66 ini adalah kritik pedas terhadap orang yang berbicara dan membantah suatu masalah tanpa adanya data objektif lagi ilmiah yang berkaitan dengan masalahnya.
     Ayat Al-Quran semacam inilah yang kemudian membentuk iklim baru dalam masyarakat yang mewujudkan dan mendorong kemajuan ilmu pengetahuan, sehingga mampu menghasilkan tokoh besar seperti Ibnu Sina, Al-Farabi, Al-Ghazali, Ibnu Khaldun, Jabir Ibnu Hayyan, dan lainnya.
          Ayat Al-Quran semacam inilah yang membantu Muhammad bin Ahmad menemukan angka nol pada tahun 976 Masehi, yang akhirnya mendorong Muhammad bin Musa Al-Khawarizmiy menemukan perhitungan Aljabar, tanpa penemuan tersebut, maka ilmu pengetahuan dan sains modern akan tetap merangkak dan meraba-raba dalam alam gelap gulita.
      Mewujudkan iklim ilmu pengetahuan jauh lebih penting daripada menemukan teori ilmiah, karena tanpa wujudnya iklim ilmu pengetahuan, para ahli yang menemukan teori itu akan mengalami nasib seperti Galileo, yang menjadi korban hasil penemuannya sendiri.
     Al-Quran adalah kitab petunjuk yang memberikan pedoman kepada manusia untuk kebahagiaan hidupnya di dunia dan di akhirat, sedangkan dalam hubungannya dengan ilmu pengetahuan, Al-Quran mendorong manusia seluruhnya untuk mempergunakan akal pikirannya dan menambah ilmu pengetahuannya seoptimal  mungkin.
Daftar Pustaka
1. Shihab, M.Quraish. Lentera Hati. Kisah dan Hikmah Kehidupan. Penerbit Mizan, 1994.   
2. Shihab, M. Quraish Shihab. Wawasan Al-Quran. Tafsir Maudhui atas Perbagai Persoalan Umat. Penerbit Mizan, 2009.
3. Shihab, M.Quraish. E-book Membumikan Al-Quran.
4. Al-Quran Digital, Versi 3.2. Digital Qur’an Ver 3.2
5. Tafsirq.com online

465. NALAR

SISTEM PENALARAN AL-QURAN
Oleh: Drs. H. M. Yusron Hadi, M.M.


       Beberapa orang bertanya,”Mohon dijelaskan tentang “Sistem penalaran menurut  Al-Quran?” Profesor Quraish Shihab menjelaskannya
      Salah satu faktor penting yang dapat menghalangi perkembangan ilmu pengetahuan terdapat dalam diri manusia sendiri, para psikolog menerangkan bahwa tahap perkembangan kejiwaan dan alam pikiran manusia dalam menilai suatu ide umumnya melalui tiga fase.
     Fase pertama, orang yang menilai suatu gagasan dan ide itu baik atau buruk berdasarkan ukuran alam kebendaan materi dan berdasarkan  pancaindera.
      Fase kedua, orang yang menilai suatu ide berdasarkan contoh dari seseorang dan  berdasarkan “bintang iklannya”, artinya apabila idolanya menyatakan baik maka ikut menyatakan baik, dan apabila tokohnya menyatakan jelek, maka ikut menyatakan jelek.
     Fase ketiga, adalah fase kedewasaan, yaitu orang yang menilai suatu ide dan gagasan berdasarkan nilai yang terdapat dalam unsur ide dan gagasan itu sendiri, tanpa terpengaruh oleh faktor dari luar.
      Sejarah menunjukkan bahwa pada zaman awal pembinaan masyarakat Islam, penilaian umat Islam terhadap nilai “ide yang dibawa oleh Al-Quran” adalah bahwa ide tersebut berhubungan sangat erat dengan pribadi Nabi Muhammad.
      Sehingga dalam Perang Uhud sekelompok pasukan Islam dengan cepat meninggalkan medan pertempuran, ketika mendengar berita bahwa Nabi telah wafat yang diisukan oleh kaum musyrik.
     Sikap sebagian pasukan Islam yang keliru ini, muncul akibat pandangan mereka terhadap nilai suatu ide, baru sampai pada tahap fase kedua, atau dengan kata lain belum mencapai tingkat kedewasaannya.
      Al-Quran tidak menginginkan masyarakat baru yang dibentuk dalam menilai suatu ide apa pun coraknya hanya terbatas sampai tahap fase kedua saja, maka turunlah ayat Al-Quran yang menyatakan bahwa Nabi Muhammad hanya seorang Rasul, yang sebelumnya sudah terdapat beberapa Rasul utusan Allah.
      Al-Quran surah Ali Imran, surah ke-3 ayat 144.

وَمَا مُحَمَّدٌ إِلَّا رَسُولٌ قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِهِ الرُّسُلُ ۚ أَفَإِنْ مَاتَ أَوْ قُتِلَ انْقَلَبْتُمْ عَلَىٰ أَعْقَابِكُمْ ۚ وَمَنْ يَنْقَلِبْ عَلَىٰ عَقِبَيْهِ فَلَنْ يَضُرَّ اللَّهَ شَيْئًا ۗ وَسَيَجْزِي اللَّهُ الشَّاكِرِينَ

      “Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul. Apakah jika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad)? Barangsiapa yang berbalik ke belakang, maka dia tidak dapat mendatangkan mudarat kepada Allah sedikit pun; dan Allah akan memberikan balasan kepada orang-orang yang bersyukur”.
     Al-Quran surah Ali Imran, surah ke-3 ayat 144 ini adalah dorongan kepada umat Islam agar lebih meningkatkan penilaiannya atas suatu ide dan gagasan ke tingkat yang lebih tinggi sampai pada tahap fase ketiga yaitu fase kedewasaan, dan ayat Al-Quran ini dapat melepaskan belenggu yang menghambat kemajuan ilmu pengetahuan dalam alam pikiran manusia.
      Al-Quran surah Az-Zumar, surah ke-39 ayat 9.

أَمَّنْ هُوَ قَانِتٌ آنَاءَ اللَّيْلِ سَاجِدًا وَقَائِمًا يَحْذَرُ الْآخِرَةَ وَيَرْجُو رَحْمَةَ رَبِّهِ ۗ قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ ۗ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُولُو الْأَلْبَابِ

      “(Apakah kamu hai orang musyrik yang lebih beruntung) ataukah orang yang beribadah di waktu-waktu malam dengan sujud dan berdiri, sedangkan dia takut kepada (azab) akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya? Katakanlah,”Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran”.
     Al-Quran surah Az-Zumar, surah ke-39 ayat 9  ini menekankan kepada masyarakat betapa besar manfaat dan nilai ilmu pengetahuan serta kedudukan cendekiawan dalam masyarakat.
      Al-Quran surah Ali Imran, surah ke-3 ayat 66.

هَا أَنْتُمْ هَٰؤُلَاءِ حَاجَجْتُمْ فِيمَا لَكُمْ بِهِ عِلْمٌ فَلِمَ تُحَاجُّونَ فِيمَا لَيْسَ لَكُمْ بِهِ عِلْمٌ ۚ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

      “Beginilah kamu, kamu ini (sewajarnya) bantah membantah tentang hal yang kamu ketahui, maka kenapa kamu bantah-membantah tentang hal yang tidak kamu ketahui?; Allah mengetahui sedangkan kamu tidak mengetahui”.
      Al-Quran surah Ali Imran, surah ke-3 ayat 66 ini adalah kritik pedas terhadap orang yang berbicara dan membantah suatu masalah tanpa adanya data objektif lagi ilmiah yang berkaitan dengan masalahnya.
     Ayat Al-Quran semacam inilah yang kemudian membentuk iklim baru dalam masyarakat yang mewujudkan dan mendorong kemajuan ilmu pengetahuan, sehingga mampu menghasilkan tokoh besar seperti Ibnu Sina, Al-Farabi, Al-Ghazali, Ibnu Khaldun, Jabir Ibnu Hayyan, dan lainnya.
          Ayat Al-Quran semacam inilah yang membantu Muhammad bin Ahmad menemukan angka nol pada tahun 976 Masehi, yang akhirnya mendorong Muhammad bin Musa Al-Khawarizmiy menemukan perhitungan Aljabar, tanpa penemuan tersebut, maka ilmu pengetahuan dan sains modern akan tetap merangkak dan meraba-raba dalam alam gelap gulita.
      Mewujudkan iklim ilmu pengetahuan jauh lebih penting daripada menemukan teori ilmiah, karena tanpa wujudnya iklim ilmu pengetahuan, para ahli yang menemukan teori itu akan mengalami nasib seperti Galileo, yang menjadi korban hasil penemuannya sendiri.
     Al-Quran adalah kitab petunjuk yang memberikan pedoman kepada manusia untuk kebahagiaan hidupnya di dunia dan di akhirat, sedangkan dalam hubungannya dengan ilmu pengetahuan, Al-Quran mendorong manusia seluruhnya untuk mempergunakan akal pikirannya dan menambah ilmu pengetahuannya seoptimal  mungkin.
Daftar Pustaka
1. Shihab, M.Quraish. Lentera Hati. Kisah dan Hikmah Kehidupan. Penerbit Mizan, 1994.   
2. Shihab, M. Quraish Shihab. Wawasan Al-Quran. Tafsir Maudhui atas Perbagai Persoalan Umat. Penerbit Mizan, 2009.
3. Shihab, M.Quraish. E-book Membumikan Al-Quran.
4. Al-Quran Digital, Versi 3.2. Digital Qur’an Ver 3.2
5. Tafsirq.com online

465. NALAR

SISTEM PENALARAN AL-QURAN
Oleh: Drs. H. M. Yusron Hadi, M.M.


       Beberapa orang bertanya,”Mohon dijelaskan tentang “Sistem penalaran menurut  Al-Quran?” Profesor Quraish Shihab menjelaskannya
      Salah satu faktor penting yang dapat menghalangi perkembangan ilmu pengetahuan terdapat dalam diri manusia sendiri, para psikolog menerangkan bahwa tahap perkembangan kejiwaan dan alam pikiran manusia dalam menilai suatu ide umumnya melalui tiga fase.
     Fase pertama, orang yang menilai suatu gagasan dan ide itu baik atau buruk berdasarkan ukuran alam kebendaan materi dan berdasarkan  pancaindera.
      Fase kedua, orang yang menilai suatu ide berdasarkan contoh dari seseorang dan  berdasarkan “bintang iklannya”, artinya apabila idolanya menyatakan baik maka ikut menyatakan baik, dan apabila tokohnya menyatakan jelek, maka ikut menyatakan jelek.
     Fase ketiga, adalah fase kedewasaan, yaitu orang yang menilai suatu ide dan gagasan berdasarkan nilai yang terdapat dalam unsur ide dan gagasan itu sendiri, tanpa terpengaruh oleh faktor dari luar.
      Sejarah menunjukkan bahwa pada zaman awal pembinaan masyarakat Islam, penilaian umat Islam terhadap nilai “ide yang dibawa oleh Al-Quran” adalah bahwa ide tersebut berhubungan sangat erat dengan pribadi Nabi Muhammad.
      Sehingga dalam Perang Uhud sekelompok pasukan Islam dengan cepat meninggalkan medan pertempuran, ketika mendengar berita bahwa Nabi telah wafat yang diisukan oleh kaum musyrik.
     Sikap sebagian pasukan Islam yang keliru ini, muncul akibat pandangan mereka terhadap nilai suatu ide, baru sampai pada tahap fase kedua, atau dengan kata lain belum mencapai tingkat kedewasaannya.
      Al-Quran tidak menginginkan masyarakat baru yang dibentuk dalam menilai suatu ide apa pun coraknya hanya terbatas sampai tahap fase kedua saja, maka turunlah ayat Al-Quran yang menyatakan bahwa Nabi Muhammad hanya seorang Rasul, yang sebelumnya sudah terdapat beberapa Rasul utusan Allah.
      Al-Quran surah Ali Imran, surah ke-3 ayat 144.

وَمَا مُحَمَّدٌ إِلَّا رَسُولٌ قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِهِ الرُّسُلُ ۚ أَفَإِنْ مَاتَ أَوْ قُتِلَ انْقَلَبْتُمْ عَلَىٰ أَعْقَابِكُمْ ۚ وَمَنْ يَنْقَلِبْ عَلَىٰ عَقِبَيْهِ فَلَنْ يَضُرَّ اللَّهَ شَيْئًا ۗ وَسَيَجْزِي اللَّهُ الشَّاكِرِينَ

      “Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul. Apakah jika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad)? Barangsiapa yang berbalik ke belakang, maka dia tidak dapat mendatangkan mudarat kepada Allah sedikit pun; dan Allah akan memberikan balasan kepada orang-orang yang bersyukur”.
     Al-Quran surah Ali Imran, surah ke-3 ayat 144 ini adalah dorongan kepada umat Islam agar lebih meningkatkan penilaiannya atas suatu ide dan gagasan ke tingkat yang lebih tinggi sampai pada tahap fase ketiga yaitu fase kedewasaan, dan ayat Al-Quran ini dapat melepaskan belenggu yang menghambat kemajuan ilmu pengetahuan dalam alam pikiran manusia.
      Al-Quran surah Az-Zumar, surah ke-39 ayat 9.

أَمَّنْ هُوَ قَانِتٌ آنَاءَ اللَّيْلِ سَاجِدًا وَقَائِمًا يَحْذَرُ الْآخِرَةَ وَيَرْجُو رَحْمَةَ رَبِّهِ ۗ قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ ۗ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُولُو الْأَلْبَابِ

      “(Apakah kamu hai orang musyrik yang lebih beruntung) ataukah orang yang beribadah di waktu-waktu malam dengan sujud dan berdiri, sedangkan dia takut kepada (azab) akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya? Katakanlah,”Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran”.
     Al-Quran surah Az-Zumar, surah ke-39 ayat 9  ini menekankan kepada masyarakat betapa besar manfaat dan nilai ilmu pengetahuan serta kedudukan cendekiawan dalam masyarakat.
      Al-Quran surah Ali Imran, surah ke-3 ayat 66.

هَا أَنْتُمْ هَٰؤُلَاءِ حَاجَجْتُمْ فِيمَا لَكُمْ بِهِ عِلْمٌ فَلِمَ تُحَاجُّونَ فِيمَا لَيْسَ لَكُمْ بِهِ عِلْمٌ ۚ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

      “Beginilah kamu, kamu ini (sewajarnya) bantah membantah tentang hal yang kamu ketahui, maka kenapa kamu bantah-membantah tentang hal yang tidak kamu ketahui?; Allah mengetahui sedangkan kamu tidak mengetahui”.
      Al-Quran surah Ali Imran, surah ke-3 ayat 66 ini adalah kritik pedas terhadap orang yang berbicara dan membantah suatu masalah tanpa adanya data objektif lagi ilmiah yang berkaitan dengan masalahnya.
     Ayat Al-Quran semacam inilah yang kemudian membentuk iklim baru dalam masyarakat yang mewujudkan dan mendorong kemajuan ilmu pengetahuan, sehingga mampu menghasilkan tokoh besar seperti Ibnu Sina, Al-Farabi, Al-Ghazali, Ibnu Khaldun, Jabir Ibnu Hayyan, dan lainnya.
          Ayat Al-Quran semacam inilah yang membantu Muhammad bin Ahmad menemukan angka nol pada tahun 976 Masehi, yang akhirnya mendorong Muhammad bin Musa Al-Khawarizmiy menemukan perhitungan Aljabar, tanpa penemuan tersebut, maka ilmu pengetahuan dan sains modern akan tetap merangkak dan meraba-raba dalam alam gelap gulita.
      Mewujudkan iklim ilmu pengetahuan jauh lebih penting daripada menemukan teori ilmiah, karena tanpa wujudnya iklim ilmu pengetahuan, para ahli yang menemukan teori itu akan mengalami nasib seperti Galileo, yang menjadi korban hasil penemuannya sendiri.
     Al-Quran adalah kitab petunjuk yang memberikan pedoman kepada manusia untuk kebahagiaan hidupnya di dunia dan di akhirat, sedangkan dalam hubungannya dengan ilmu pengetahuan, Al-Quran mendorong manusia seluruhnya untuk mempergunakan akal pikirannya dan menambah ilmu pengetahuannya seoptimal  mungkin.
Daftar Pustaka
1. Shihab, M.Quraish. Lentera Hati. Kisah dan Hikmah Kehidupan. Penerbit Mizan, 1994.   
2. Shihab, M. Quraish Shihab. Wawasan Al-Quran. Tafsir Maudhui atas Perbagai Persoalan Umat. Penerbit Mizan, 2009.
3. Shihab, M.Quraish. E-book Membumikan Al-Quran.
4. Al-Quran Digital, Versi 3.2. Digital Qur’an Ver 3.2
5. Tafsirq.com online

465. NALAR

SISTEM PENALARAN AL-QURAN
Oleh: Drs. H. M. Yusron Hadi, M.M.


       Beberapa orang bertanya,”Mohon dijelaskan tentang “Sistem penalaran menurut  Al-Quran?” Profesor Quraish Shihab menjelaskannya
      Salah satu faktor penting yang dapat menghalangi perkembangan ilmu pengetahuan terdapat dalam diri manusia sendiri, para psikolog menerangkan bahwa tahap perkembangan kejiwaan dan alam pikiran manusia dalam menilai suatu ide umumnya melalui tiga fase.
     Fase pertama, orang yang menilai suatu gagasan dan ide itu baik atau buruk berdasarkan ukuran alam kebendaan materi dan berdasarkan  pancaindera.
      Fase kedua, orang yang menilai suatu ide berdasarkan contoh dari seseorang dan  berdasarkan “bintang iklannya”, artinya apabila idolanya menyatakan baik maka ikut menyatakan baik, dan apabila tokohnya menyatakan jelek, maka ikut menyatakan jelek.
     Fase ketiga, adalah fase kedewasaan, yaitu orang yang menilai suatu ide dan gagasan berdasarkan nilai yang terdapat dalam unsur ide dan gagasan itu sendiri, tanpa terpengaruh oleh faktor dari luar.
      Sejarah menunjukkan bahwa pada zaman awal pembinaan masyarakat Islam, penilaian umat Islam terhadap nilai “ide yang dibawa oleh Al-Quran” adalah bahwa ide tersebut berhubungan sangat erat dengan pribadi Nabi Muhammad.
      Sehingga dalam Perang Uhud sekelompok pasukan Islam dengan cepat meninggalkan medan pertempuran, ketika mendengar berita bahwa Nabi telah wafat yang diisukan oleh kaum musyrik.
     Sikap sebagian pasukan Islam yang keliru ini, muncul akibat pandangan mereka terhadap nilai suatu ide, baru sampai pada tahap fase kedua, atau dengan kata lain belum mencapai tingkat kedewasaannya.
      Al-Quran tidak menginginkan masyarakat baru yang dibentuk dalam menilai suatu ide apa pun coraknya hanya terbatas sampai tahap fase kedua saja, maka turunlah ayat Al-Quran yang menyatakan bahwa Nabi Muhammad hanya seorang Rasul, yang sebelumnya sudah terdapat beberapa Rasul utusan Allah.
      Al-Quran surah Ali Imran, surah ke-3 ayat 144.

وَمَا مُحَمَّدٌ إِلَّا رَسُولٌ قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِهِ الرُّسُلُ ۚ أَفَإِنْ مَاتَ أَوْ قُتِلَ انْقَلَبْتُمْ عَلَىٰ أَعْقَابِكُمْ ۚ وَمَنْ يَنْقَلِبْ عَلَىٰ عَقِبَيْهِ فَلَنْ يَضُرَّ اللَّهَ شَيْئًا ۗ وَسَيَجْزِي اللَّهُ الشَّاكِرِينَ

      “Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul. Apakah jika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad)? Barangsiapa yang berbalik ke belakang, maka dia tidak dapat mendatangkan mudarat kepada Allah sedikit pun; dan Allah akan memberikan balasan kepada orang-orang yang bersyukur”.
     Al-Quran surah Ali Imran, surah ke-3 ayat 144 ini adalah dorongan kepada umat Islam agar lebih meningkatkan penilaiannya atas suatu ide dan gagasan ke tingkat yang lebih tinggi sampai pada tahap fase ketiga yaitu fase kedewasaan, dan ayat Al-Quran ini dapat melepaskan belenggu yang menghambat kemajuan ilmu pengetahuan dalam alam pikiran manusia.
      Al-Quran surah Az-Zumar, surah ke-39 ayat 9.

أَمَّنْ هُوَ قَانِتٌ آنَاءَ اللَّيْلِ سَاجِدًا وَقَائِمًا يَحْذَرُ الْآخِرَةَ وَيَرْجُو رَحْمَةَ رَبِّهِ ۗ قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ ۗ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُولُو الْأَلْبَابِ

      “(Apakah kamu hai orang musyrik yang lebih beruntung) ataukah orang yang beribadah di waktu-waktu malam dengan sujud dan berdiri, sedangkan dia takut kepada (azab) akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya? Katakanlah,”Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran”.
     Al-Quran surah Az-Zumar, surah ke-39 ayat 9  ini menekankan kepada masyarakat betapa besar manfaat dan nilai ilmu pengetahuan serta kedudukan cendekiawan dalam masyarakat.
      Al-Quran surah Ali Imran, surah ke-3 ayat 66.

هَا أَنْتُمْ هَٰؤُلَاءِ حَاجَجْتُمْ فِيمَا لَكُمْ بِهِ عِلْمٌ فَلِمَ تُحَاجُّونَ فِيمَا لَيْسَ لَكُمْ بِهِ عِلْمٌ ۚ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

      “Beginilah kamu, kamu ini (sewajarnya) bantah membantah tentang hal yang kamu ketahui, maka kenapa kamu bantah-membantah tentang hal yang tidak kamu ketahui?; Allah mengetahui sedangkan kamu tidak mengetahui”.
      Al-Quran surah Ali Imran, surah ke-3 ayat 66 ini adalah kritik pedas terhadap orang yang berbicara dan membantah suatu masalah tanpa adanya data objektif lagi ilmiah yang berkaitan dengan masalahnya.
     Ayat Al-Quran semacam inilah yang kemudian membentuk iklim baru dalam masyarakat yang mewujudkan dan mendorong kemajuan ilmu pengetahuan, sehingga mampu menghasilkan tokoh besar seperti Ibnu Sina, Al-Farabi, Al-Ghazali, Ibnu Khaldun, Jabir Ibnu Hayyan, dan lainnya.
          Ayat Al-Quran semacam inilah yang membantu Muhammad bin Ahmad menemukan angka nol pada tahun 976 Masehi, yang akhirnya mendorong Muhammad bin Musa Al-Khawarizmiy menemukan perhitungan Aljabar, tanpa penemuan tersebut, maka ilmu pengetahuan dan sains modern akan tetap merangkak dan meraba-raba dalam alam gelap gulita.
      Mewujudkan iklim ilmu pengetahuan jauh lebih penting daripada menemukan teori ilmiah, karena tanpa wujudnya iklim ilmu pengetahuan, para ahli yang menemukan teori itu akan mengalami nasib seperti Galileo, yang menjadi korban hasil penemuannya sendiri.
     Al-Quran adalah kitab petunjuk yang memberikan pedoman kepada manusia untuk kebahagiaan hidupnya di dunia dan di akhirat, sedangkan dalam hubungannya dengan ilmu pengetahuan, Al-Quran mendorong manusia seluruhnya untuk mempergunakan akal pikirannya dan menambah ilmu pengetahuannya seoptimal  mungkin.
Daftar Pustaka
1. Shihab, M.Quraish. Lentera Hati. Kisah dan Hikmah Kehidupan. Penerbit Mizan, 1994.   
2. Shihab, M. Quraish Shihab. Wawasan Al-Quran. Tafsir Maudhui atas Perbagai Persoalan Umat. Penerbit Mizan, 2009.
3. Shihab, M.Quraish. E-book Membumikan Al-Quran.
4. Al-Quran Digital, Versi 3.2. Digital Qur’an Ver 3.2
5. Tafsirq.com online

465. NALAR

SISTEM PENALARAN AL-QURAN
Oleh: Drs. H. M. Yusron Hadi, M.M.


       Beberapa orang bertanya,”Mohon dijelaskan tentang “Sistem penalaran menurut  Al-Quran?” Profesor Quraish Shihab menjelaskannya
      Salah satu faktor penting yang dapat menghalangi perkembangan ilmu pengetahuan terdapat dalam diri manusia sendiri, para psikolog menerangkan bahwa tahap perkembangan kejiwaan dan alam pikiran manusia dalam menilai suatu ide umumnya melalui tiga fase.
     Fase pertama, orang yang menilai suatu gagasan dan ide itu baik atau buruk berdasarkan ukuran alam kebendaan materi dan berdasarkan  pancaindera.
      Fase kedua, orang yang menilai suatu ide berdasarkan contoh dari seseorang dan  berdasarkan “bintang iklannya”, artinya apabila idolanya menyatakan baik maka ikut menyatakan baik, dan apabila tokohnya menyatakan jelek, maka ikut menyatakan jelek.
     Fase ketiga, adalah fase kedewasaan, yaitu orang yang menilai suatu ide dan gagasan berdasarkan nilai yang terdapat dalam unsur ide dan gagasan itu sendiri, tanpa terpengaruh oleh faktor dari luar.
      Sejarah menunjukkan bahwa pada zaman awal pembinaan masyarakat Islam, penilaian umat Islam terhadap nilai “ide yang dibawa oleh Al-Quran” adalah bahwa ide tersebut berhubungan sangat erat dengan pribadi Nabi Muhammad.
      Sehingga dalam Perang Uhud sekelompok pasukan Islam dengan cepat meninggalkan medan pertempuran, ketika mendengar berita bahwa Nabi telah wafat yang diisukan oleh kaum musyrik.
     Sikap sebagian pasukan Islam yang keliru ini, muncul akibat pandangan mereka terhadap nilai suatu ide, baru sampai pada tahap fase kedua, atau dengan kata lain belum mencapai tingkat kedewasaannya.
      Al-Quran tidak menginginkan masyarakat baru yang dibentuk dalam menilai suatu ide apa pun coraknya hanya terbatas sampai tahap fase kedua saja, maka turunlah ayat Al-Quran yang menyatakan bahwa Nabi Muhammad hanya seorang Rasul, yang sebelumnya sudah terdapat beberapa Rasul utusan Allah.
      Al-Quran surah Ali Imran, surah ke-3 ayat 144.

وَمَا مُحَمَّدٌ إِلَّا رَسُولٌ قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِهِ الرُّسُلُ ۚ أَفَإِنْ مَاتَ أَوْ قُتِلَ انْقَلَبْتُمْ عَلَىٰ أَعْقَابِكُمْ ۚ وَمَنْ يَنْقَلِبْ عَلَىٰ عَقِبَيْهِ فَلَنْ يَضُرَّ اللَّهَ شَيْئًا ۗ وَسَيَجْزِي اللَّهُ الشَّاكِرِينَ

      “Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul. Apakah jika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad)? Barangsiapa yang berbalik ke belakang, maka dia tidak dapat mendatangkan mudarat kepada Allah sedikit pun; dan Allah akan memberikan balasan kepada orang-orang yang bersyukur”.
     Al-Quran surah Ali Imran, surah ke-3 ayat 144 ini adalah dorongan kepada umat Islam agar lebih meningkatkan penilaiannya atas suatu ide dan gagasan ke tingkat yang lebih tinggi sampai pada tahap fase ketiga yaitu fase kedewasaan, dan ayat Al-Quran ini dapat melepaskan belenggu yang menghambat kemajuan ilmu pengetahuan dalam alam pikiran manusia.
      Al-Quran surah Az-Zumar, surah ke-39 ayat 9.

أَمَّنْ هُوَ قَانِتٌ آنَاءَ اللَّيْلِ سَاجِدًا وَقَائِمًا يَحْذَرُ الْآخِرَةَ وَيَرْجُو رَحْمَةَ رَبِّهِ ۗ قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ ۗ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُولُو الْأَلْبَابِ

      “(Apakah kamu hai orang musyrik yang lebih beruntung) ataukah orang yang beribadah di waktu-waktu malam dengan sujud dan berdiri, sedangkan dia takut kepada (azab) akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya? Katakanlah,”Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran”.
     Al-Quran surah Az-Zumar, surah ke-39 ayat 9  ini menekankan kepada masyarakat betapa besar manfaat dan nilai ilmu pengetahuan serta kedudukan cendekiawan dalam masyarakat.
      Al-Quran surah Ali Imran, surah ke-3 ayat 66.

هَا أَنْتُمْ هَٰؤُلَاءِ حَاجَجْتُمْ فِيمَا لَكُمْ بِهِ عِلْمٌ فَلِمَ تُحَاجُّونَ فِيمَا لَيْسَ لَكُمْ بِهِ عِلْمٌ ۚ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

      “Beginilah kamu, kamu ini (sewajarnya) bantah membantah tentang hal yang kamu ketahui, maka kenapa kamu bantah-membantah tentang hal yang tidak kamu ketahui?; Allah mengetahui sedangkan kamu tidak mengetahui”.
      Al-Quran surah Ali Imran, surah ke-3 ayat 66 ini adalah kritik pedas terhadap orang yang berbicara dan membantah suatu masalah tanpa adanya data objektif lagi ilmiah yang berkaitan dengan masalahnya.
     Ayat Al-Quran semacam inilah yang kemudian membentuk iklim baru dalam masyarakat yang mewujudkan dan mendorong kemajuan ilmu pengetahuan, sehingga mampu menghasilkan tokoh besar seperti Ibnu Sina, Al-Farabi, Al-Ghazali, Ibnu Khaldun, Jabir Ibnu Hayyan, dan lainnya.
          Ayat Al-Quran semacam inilah yang membantu Muhammad bin Ahmad menemukan angka nol pada tahun 976 Masehi, yang akhirnya mendorong Muhammad bin Musa Al-Khawarizmiy menemukan perhitungan Aljabar, tanpa penemuan tersebut, maka ilmu pengetahuan dan sains modern akan tetap merangkak dan meraba-raba dalam alam gelap gulita.
      Mewujudkan iklim ilmu pengetahuan jauh lebih penting daripada menemukan teori ilmiah, karena tanpa wujudnya iklim ilmu pengetahuan, para ahli yang menemukan teori itu akan mengalami nasib seperti Galileo, yang menjadi korban hasil penemuannya sendiri.
     Al-Quran adalah kitab petunjuk yang memberikan pedoman kepada manusia untuk kebahagiaan hidupnya di dunia dan di akhirat, sedangkan dalam hubungannya dengan ilmu pengetahuan, Al-Quran mendorong manusia seluruhnya untuk mempergunakan akal pikirannya dan menambah ilmu pengetahuannya seoptimal  mungkin.
Daftar Pustaka
1. Shihab, M.Quraish. Lentera Hati. Kisah dan Hikmah Kehidupan. Penerbit Mizan, 1994.   
2. Shihab, M. Quraish Shihab. Wawasan Al-Quran. Tafsir Maudhui atas Perbagai Persoalan Umat. Penerbit Mizan, 2009.
3. Shihab, M.Quraish. E-book Membumikan Al-Quran.
4. Al-Quran Digital, Versi 3.2. Digital Qur’an Ver 3.2
5. Tafsirq.com online

464. ILMIAH

KEBENARAN ILMIAH AL-QURAN
Oleh: Drs. H. M. Yusron Hadi, M.M.


       Beberapa orang bertanya,”Mohon dijelaskan tentang “Bukti kebenaran ilmiah Al-Quran?” Profesor Quraish Shihab menjelaskannya
     Al-Quran adalah kitab petunjuk untuk manusia dan penjelasan tentang petunjuk serta pemisah antara kebenaran dan kebatilan seperti dalam Al-Quran surah Al-Baqarah, surah ke-2 ayat 185.

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَىٰ وَالْفُرْقَانِ ۚ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ ۖ وَمَنْ كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ ۗ يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

   “(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al-Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang batil). Karena itu, barangsiapa di antaramu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur”.
       Para ulama dalam membahas membahas hubungan Al-Quran dengan ilmu pengetahuan bukan dinilai dengan banyaknya cabang ilmu pengetahuan yang tersimpul di dalamnya, dan bukan dengan menunjukkan kebenaran teori ilmiah, tetapi pembahasan hendaknya diletakkan pada proporsi yang sesuai dengan kesucian Al-Quran dan logika ilmu pengetahuan itu sendiri.
     Membahas hubungan antara Al-Quran dengan ilmu pengetahuan bukan dengan membahas, “Apakah terdapat “teori relativitas”, tentang angkasa luar, dan ilmu komputer tercantum dalam Al-Quran?”.
     Tetapi yang lebih utama adalah melihat, “Adakah jiwa ayat Al-Quran yang menghalangi kemajuan ilmu pengetahuan atau mendorongnya, serta adakah satu ayat Al-Quran yang bertentangan dengan hasil penemuan ilmiah yang telah mapan?”
      Yaitu meletakkan Al-Quran pada sisi “psikologi sosial” bukan pada sisi “sejarah perkembangan ilmu pengetahuan”, misalnya anggaplah bahwa setiap ayat dari 6.226 ayat yang tercantum dalam Al-Quran mengandung suatu teori ilmiah, kemudian apakah hasilnya?
      Apakah keuntungan yang diperoleh dengan mengetahui teori-teori tersebut apabila masyarakat tidak diberikan “hidayah” atau petunjuk guna kemajuan ilmu pengetahuan atau menyingkirkan hal-hal yang dapat menghambatnya?
      Para ulama menjelaskan bahwa “Ilmu pengetahuan” adalah “sekumpulan masalah serta sekumpulan metode yang dipergunakan menuju tercapainya masalah tersebut”.
      sehingga kemajuan ilmu pengetahuan bukan hanya terbatas dalam bidang-bidang tersebut, tetapi bergantung pula pada sekumpulan syarat psikologis dan sosial yang mempunyai pengaruh negatif dan positif sehingga dapat menghambat kemajuan ilmu pengetahuan atau mendorongnya lebih jauh.
      Hal ini menunjukkan bahwa kemajuan ilmu pengetahuan tidak hanya dinilai dengan hasil yang dipersembahkannya kepada masyarakat, tetapi juga diukur dengan adanya suatu iklim yang dapat mendorong kemajuan ilmu pengetahuan itu.
     Sejarah membuktikan bahwa Galileo, ketika mengungkapkan penemuannya bahwa bumi ini beredar, tidak mendapatkan “perlawaan” dari suatu lembaga ilmiah, tetapi, masyarakatnya memberikan tantangan kepadanya atas dasar-dasar kepercayaan dogma agama Kristen, sehingga Galileo pada akhirnya menjadi korban dari penemuannya sendiri.
    Hal ini adalah akibat belum terwujudnya syarat sosial dan psikologis yang mendorongnya, dan dari segi inilah kita dapat menilai hubungan Al-Quran dengan ilmu pengetahuan, karena dalam Al-Quran tersimpul ayat-ayat yang menganjurkan untuk mempergunakan akal pikiran untuk mencapai hasil.
      Al-Quran surah Al-Baqarah, surah ke-2 ayat 242.

كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ آيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُون

       “Demikianlah Allah menerangkan kepadamu ayat-ayat-Nya supaya kamu memahami.”
     Al-Quran memerintahkan agar umat manusia mau berpikir dan menggunakan akalnya dengan baik, karena banyak ayat Al-Quran yang mendukung penjelasan ini dalam bentuk pertanyaan.

أَفَلَا تْعقِلُونَ‏ / أَفَلَا تَتَفَكَّرُونَ

    “Apakah kalian tidak berpikir?”
      Demikianlah Al-Quran telah membentuk satu iklim baru yang dapat mengembangkan akal pikiran manusia, serta menyingkirkan hal-hal yang dapat menghalangi kemajuannya.
Daftar Pustaka
1. Shihab, M.Quraish. Lentera Hati. Kisah dan Hikmah Kehidupan. Penerbit Mizan, 1994.   
2. Shihab, M. Quraish Shihab. Wawasan Al-Quran. Tafsir Maudhui atas Perbagai Persoalan Umat. Penerbit Mizan, 2009.
3. Shihab, M.Quraish. E-book Membumikan Al-Quran.
4. Al-Quran Digital, Versi 3.2. Digital Qur’an Ver 3.2
5. Tafsirq.com online.

464. ILMIAH

KEBENARAN ILMIAH AL-QURAN
Oleh: Drs. H. M. Yusron Hadi, M.M.


       Beberapa orang bertanya,”Mohon dijelaskan tentang “Bukti kebenaran ilmiah Al-Quran?” Profesor Quraish Shihab menjelaskannya
     Al-Quran adalah kitab petunjuk untuk manusia dan penjelasan tentang petunjuk serta pemisah antara kebenaran dan kebatilan seperti dalam Al-Quran surah Al-Baqarah, surah ke-2 ayat 185.

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَىٰ وَالْفُرْقَانِ ۚ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ ۖ وَمَنْ كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ ۗ يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

   “(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al-Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang batil). Karena itu, barangsiapa di antaramu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur”.
       Para ulama dalam membahas membahas hubungan Al-Quran dengan ilmu pengetahuan bukan dinilai dengan banyaknya cabang ilmu pengetahuan yang tersimpul di dalamnya, dan bukan dengan menunjukkan kebenaran teori ilmiah, tetapi pembahasan hendaknya diletakkan pada proporsi yang sesuai dengan kesucian Al-Quran dan logika ilmu pengetahuan itu sendiri.
     Membahas hubungan antara Al-Quran dengan ilmu pengetahuan bukan dengan membahas, “Apakah terdapat “teori relativitas”, tentang angkasa luar, dan ilmu komputer tercantum dalam Al-Quran?”.
     Tetapi yang lebih utama adalah melihat, “Adakah jiwa ayat Al-Quran yang menghalangi kemajuan ilmu pengetahuan atau mendorongnya, serta adakah satu ayat Al-Quran yang bertentangan dengan hasil penemuan ilmiah yang telah mapan?”
      Yaitu meletakkan Al-Quran pada sisi “psikologi sosial” bukan pada sisi “sejarah perkembangan ilmu pengetahuan”, misalnya anggaplah bahwa setiap ayat dari 6.226 ayat yang tercantum dalam Al-Quran mengandung suatu teori ilmiah, kemudian apakah hasilnya?
      Apakah keuntungan yang diperoleh dengan mengetahui teori-teori tersebut apabila masyarakat tidak diberikan “hidayah” atau petunjuk guna kemajuan ilmu pengetahuan atau menyingkirkan hal-hal yang dapat menghambatnya?
      Para ulama menjelaskan bahwa “Ilmu pengetahuan” adalah “sekumpulan masalah serta sekumpulan metode yang dipergunakan menuju tercapainya masalah tersebut”.
      sehingga kemajuan ilmu pengetahuan bukan hanya terbatas dalam bidang-bidang tersebut, tetapi bergantung pula pada sekumpulan syarat psikologis dan sosial yang mempunyai pengaruh negatif dan positif sehingga dapat menghambat kemajuan ilmu pengetahuan atau mendorongnya lebih jauh.
      Hal ini menunjukkan bahwa kemajuan ilmu pengetahuan tidak hanya dinilai dengan hasil yang dipersembahkannya kepada masyarakat, tetapi juga diukur dengan adanya suatu iklim yang dapat mendorong kemajuan ilmu pengetahuan itu.
     Sejarah membuktikan bahwa Galileo, ketika mengungkapkan penemuannya bahwa bumi ini beredar, tidak mendapatkan “perlawaan” dari suatu lembaga ilmiah, tetapi, masyarakatnya memberikan tantangan kepadanya atas dasar-dasar kepercayaan dogma agama Kristen, sehingga Galileo pada akhirnya menjadi korban dari penemuannya sendiri.
    Hal ini adalah akibat belum terwujudnya syarat sosial dan psikologis yang mendorongnya, dan dari segi inilah kita dapat menilai hubungan Al-Quran dengan ilmu pengetahuan, karena dalam Al-Quran tersimpul ayat-ayat yang menganjurkan untuk mempergunakan akal pikiran untuk mencapai hasil.
      Al-Quran surah Al-Baqarah, surah ke-2 ayat 242.

كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ آيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُون

       “Demikianlah Allah menerangkan kepadamu ayat-ayat-Nya supaya kamu memahami.”
     Al-Quran memerintahkan agar umat manusia mau berpikir dan menggunakan akalnya dengan baik, karena banyak ayat Al-Quran yang mendukung penjelasan ini dalam bentuk pertanyaan.

أَفَلَا تْعقِلُونَ‏ / أَفَلَا تَتَفَكَّرُونَ

    “Apakah kalian tidak berpikir?”
      Demikianlah Al-Quran telah membentuk satu iklim baru yang dapat mengembangkan akal pikiran manusia, serta menyingkirkan hal-hal yang dapat menghalangi kemajuannya.
Daftar Pustaka
1. Shihab, M.Quraish. Lentera Hati. Kisah dan Hikmah Kehidupan. Penerbit Mizan, 1994.   
2. Shihab, M. Quraish Shihab. Wawasan Al-Quran. Tafsir Maudhui atas Perbagai Persoalan Umat. Penerbit Mizan, 2009.
3. Shihab, M.Quraish. E-book Membumikan Al-Quran.
4. Al-Quran Digital, Versi 3.2. Digital Qur’an Ver 3.2
5. Tafsirq.com online.

464. ILMIAH

KEBENARAN ILMIAH AL-QURAN
Oleh: Drs. H. M. Yusron Hadi, M.M.


       Beberapa orang bertanya,”Mohon dijelaskan tentang “Bukti kebenaran ilmiah Al-Quran?” Profesor Quraish Shihab menjelaskannya
     Al-Quran adalah kitab petunjuk untuk manusia dan penjelasan tentang petunjuk serta pemisah antara kebenaran dan kebatilan seperti dalam Al-Quran surah Al-Baqarah, surah ke-2 ayat 185.

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَىٰ وَالْفُرْقَانِ ۚ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ ۖ وَمَنْ كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ ۗ يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

   “(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al-Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang batil). Karena itu, barangsiapa di antaramu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur”.
       Para ulama dalam membahas membahas hubungan Al-Quran dengan ilmu pengetahuan bukan dinilai dengan banyaknya cabang ilmu pengetahuan yang tersimpul di dalamnya, dan bukan dengan menunjukkan kebenaran teori ilmiah, tetapi pembahasan hendaknya diletakkan pada proporsi yang sesuai dengan kesucian Al-Quran dan logika ilmu pengetahuan itu sendiri.
     Membahas hubungan antara Al-Quran dengan ilmu pengetahuan bukan dengan membahas, “Apakah terdapat “teori relativitas”, tentang angkasa luar, dan ilmu komputer tercantum dalam Al-Quran?”.
     Tetapi yang lebih utama adalah melihat, “Adakah jiwa ayat Al-Quran yang menghalangi kemajuan ilmu pengetahuan atau mendorongnya, serta adakah satu ayat Al-Quran yang bertentangan dengan hasil penemuan ilmiah yang telah mapan?”
      Yaitu meletakkan Al-Quran pada sisi “psikologi sosial” bukan pada sisi “sejarah perkembangan ilmu pengetahuan”, misalnya anggaplah bahwa setiap ayat dari 6.226 ayat yang tercantum dalam Al-Quran mengandung suatu teori ilmiah, kemudian apakah hasilnya?
      Apakah keuntungan yang diperoleh dengan mengetahui teori-teori tersebut apabila masyarakat tidak diberikan “hidayah” atau petunjuk guna kemajuan ilmu pengetahuan atau menyingkirkan hal-hal yang dapat menghambatnya?
      Para ulama menjelaskan bahwa “Ilmu pengetahuan” adalah “sekumpulan masalah serta sekumpulan metode yang dipergunakan menuju tercapainya masalah tersebut”.
      sehingga kemajuan ilmu pengetahuan bukan hanya terbatas dalam bidang-bidang tersebut, tetapi bergantung pula pada sekumpulan syarat psikologis dan sosial yang mempunyai pengaruh negatif dan positif sehingga dapat menghambat kemajuan ilmu pengetahuan atau mendorongnya lebih jauh.
      Hal ini menunjukkan bahwa kemajuan ilmu pengetahuan tidak hanya dinilai dengan hasil yang dipersembahkannya kepada masyarakat, tetapi juga diukur dengan adanya suatu iklim yang dapat mendorong kemajuan ilmu pengetahuan itu.
     Sejarah membuktikan bahwa Galileo, ketika mengungkapkan penemuannya bahwa bumi ini beredar, tidak mendapatkan “perlawaan” dari suatu lembaga ilmiah, tetapi, masyarakatnya memberikan tantangan kepadanya atas dasar-dasar kepercayaan dogma agama Kristen, sehingga Galileo pada akhirnya menjadi korban dari penemuannya sendiri.
    Hal ini adalah akibat belum terwujudnya syarat sosial dan psikologis yang mendorongnya, dan dari segi inilah kita dapat menilai hubungan Al-Quran dengan ilmu pengetahuan, karena dalam Al-Quran tersimpul ayat-ayat yang menganjurkan untuk mempergunakan akal pikiran untuk mencapai hasil.
      Al-Quran surah Al-Baqarah, surah ke-2 ayat 242.

كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ آيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُون

       “Demikianlah Allah menerangkan kepadamu ayat-ayat-Nya supaya kamu memahami.”
     Al-Quran memerintahkan agar umat manusia mau berpikir dan menggunakan akalnya dengan baik, karena banyak ayat Al-Quran yang mendukung penjelasan ini dalam bentuk pertanyaan.

أَفَلَا تْعقِلُونَ‏ / أَفَلَا تَتَفَكَّرُونَ

    “Apakah kalian tidak berpikir?”
      Demikianlah Al-Quran telah membentuk satu iklim baru yang dapat mengembangkan akal pikiran manusia, serta menyingkirkan hal-hal yang dapat menghalangi kemajuannya.
Daftar Pustaka
1. Shihab, M.Quraish. Lentera Hati. Kisah dan Hikmah Kehidupan. Penerbit Mizan, 1994.   
2. Shihab, M. Quraish Shihab. Wawasan Al-Quran. Tafsir Maudhui atas Perbagai Persoalan Umat. Penerbit Mizan, 2009.
3. Shihab, M.Quraish. E-book Membumikan Al-Quran.
4. Al-Quran Digital, Versi 3.2. Digital Qur’an Ver 3.2
5. Tafsirq.com online.

464. ILMIAH

KEBENARAN ILMIAH AL-QURAN
Oleh: Drs. H. M. Yusron Hadi, M.M.


       Beberapa orang bertanya,”Mohon dijelaskan tentang “Bukti kebenaran ilmiah Al-Quran?” Profesor Quraish Shihab menjelaskannya
     Al-Quran adalah kitab petunjuk untuk manusia dan penjelasan tentang petunjuk serta pemisah antara kebenaran dan kebatilan seperti dalam Al-Quran surah Al-Baqarah, surah ke-2 ayat 185.

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَىٰ وَالْفُرْقَانِ ۚ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ ۖ وَمَنْ كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ ۗ يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

   “(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al-Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang batil). Karena itu, barangsiapa di antaramu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur”.
       Para ulama dalam membahas membahas hubungan Al-Quran dengan ilmu pengetahuan bukan dinilai dengan banyaknya cabang ilmu pengetahuan yang tersimpul di dalamnya, dan bukan dengan menunjukkan kebenaran teori ilmiah, tetapi pembahasan hendaknya diletakkan pada proporsi yang sesuai dengan kesucian Al-Quran dan logika ilmu pengetahuan itu sendiri.
     Membahas hubungan antara Al-Quran dengan ilmu pengetahuan bukan dengan membahas, “Apakah terdapat “teori relativitas”, tentang angkasa luar, dan ilmu komputer tercantum dalam Al-Quran?”.
     Tetapi yang lebih utama adalah melihat, “Adakah jiwa ayat Al-Quran yang menghalangi kemajuan ilmu pengetahuan atau mendorongnya, serta adakah satu ayat Al-Quran yang bertentangan dengan hasil penemuan ilmiah yang telah mapan?”
      Yaitu meletakkan Al-Quran pada sisi “psikologi sosial” bukan pada sisi “sejarah perkembangan ilmu pengetahuan”, misalnya anggaplah bahwa setiap ayat dari 6.226 ayat yang tercantum dalam Al-Quran mengandung suatu teori ilmiah, kemudian apakah hasilnya?
      Apakah keuntungan yang diperoleh dengan mengetahui teori-teori tersebut apabila masyarakat tidak diberikan “hidayah” atau petunjuk guna kemajuan ilmu pengetahuan atau menyingkirkan hal-hal yang dapat menghambatnya?
      Para ulama menjelaskan bahwa “Ilmu pengetahuan” adalah “sekumpulan masalah serta sekumpulan metode yang dipergunakan menuju tercapainya masalah tersebut”.
      sehingga kemajuan ilmu pengetahuan bukan hanya terbatas dalam bidang-bidang tersebut, tetapi bergantung pula pada sekumpulan syarat psikologis dan sosial yang mempunyai pengaruh negatif dan positif sehingga dapat menghambat kemajuan ilmu pengetahuan atau mendorongnya lebih jauh.
      Hal ini menunjukkan bahwa kemajuan ilmu pengetahuan tidak hanya dinilai dengan hasil yang dipersembahkannya kepada masyarakat, tetapi juga diukur dengan adanya suatu iklim yang dapat mendorong kemajuan ilmu pengetahuan itu.
     Sejarah membuktikan bahwa Galileo, ketika mengungkapkan penemuannya bahwa bumi ini beredar, tidak mendapatkan “perlawaan” dari suatu lembaga ilmiah, tetapi, masyarakatnya memberikan tantangan kepadanya atas dasar-dasar kepercayaan dogma agama Kristen, sehingga Galileo pada akhirnya menjadi korban dari penemuannya sendiri.
    Hal ini adalah akibat belum terwujudnya syarat sosial dan psikologis yang mendorongnya, dan dari segi inilah kita dapat menilai hubungan Al-Quran dengan ilmu pengetahuan, karena dalam Al-Quran tersimpul ayat-ayat yang menganjurkan untuk mempergunakan akal pikiran untuk mencapai hasil.
      Al-Quran surah Al-Baqarah, surah ke-2 ayat 242.

كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ آيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُون

       “Demikianlah Allah menerangkan kepadamu ayat-ayat-Nya supaya kamu memahami.”
     Al-Quran memerintahkan agar umat manusia mau berpikir dan menggunakan akalnya dengan baik, karena banyak ayat Al-Quran yang mendukung penjelasan ini dalam bentuk pertanyaan.

أَفَلَا تْعقِلُونَ‏ / أَفَلَا تَتَفَكَّرُونَ

    “Apakah kalian tidak berpikir?”
      Demikianlah Al-Quran telah membentuk satu iklim baru yang dapat mengembangkan akal pikiran manusia, serta menyingkirkan hal-hal yang dapat menghalangi kemajuannya.
Daftar Pustaka
1. Shihab, M.Quraish. Lentera Hati. Kisah dan Hikmah Kehidupan. Penerbit Mizan, 1994.   
2. Shihab, M. Quraish Shihab. Wawasan Al-Quran. Tafsir Maudhui atas Perbagai Persoalan Umat. Penerbit Mizan, 2009.
3. Shihab, M.Quraish. E-book Membumikan Al-Quran.
4. Al-Quran Digital, Versi 3.2. Digital Qur’an Ver 3.2
5. Tafsirq.com online.