Organisasi Profesi Guru

Presiden Jokowi memberi hormat kepada Guru-Guru se Indonesia.

Tema Gambar Slide 2

Deskripsi gambar slide bisa dituliskan disini dengan beberapa kalimat yang menggambarkan gambar slide yang anda pasang, edit slide ini melalui edit HTML template.

Tema Gambar Slide 3

Deskripsi gambar slide bisa dituliskan disini dengan beberapa kalimat yang menggambarkan gambar slide yang anda pasang, edit slide ini melalui edit HTML template.

Sunday, November 12, 2017

469. SEBAB 1

PENYEBAB TAFSIR ILMIAH MELUAS
(Seri ke-1)
Oleh: Drs. H. M. Yusron Hadi, M.M.


       Beberapa orang bertanya,”Mohon dijelaskan tentang “Penyebab tafsir ilmiah terhadap Al-Quran meluas?” Profesor Quraish Shihab menjelaskannya.
      Sejak pertengahan abad ke-19, umat Islam menghadapi tantangan hebat, bukan hanya terbatas dalam bidang politik dan militer, tetapi meluas hingga meliputi bidang sosial dan budaya.
     Tantangan ini memberikan pengaruh sangat besar dalam pandangan hidup dan pemikiran umat Islam, karena umat Islam melihat kekuatan dan kemajuan ilmu pengetahuan Barat, serta sebaliknya umat Islam merasakan kemunduran dalam lapangan kehidupan dan ilmu pengetahuan.
     Keadaan ini menimbulkan perasaan “inferiority complex” (rendah diri) pada sebagian besar umat Islam, kemudian para cendekiawan Islam berusaha memberikan reaksi, meskipun kadang kala dengan cara yang tidak tepat.
      Sebagian cendekiawan bersifat apatis dan acuh tak acuh terhadap kemajuan Barat, dan sebagian dengan spontan “meletakkan senjata” sebagai tanda “menyerah” dengan cara mengikuti segala sesuatu yang bercorak Barat, termasuk yang menyangkut kepribadian dan adat-istiadat.
      Sebagian cendekiawan Muslim mencoba menantang kemajuan Barat dengan mengajak masyarakat Islam menerima dan mempelajari ilmu pengetahuan dan sistem yang dipergunakan oleh Barat dalam mencapai kemajuan, tanpa meninggalkan kepribadian dan prinsip agama.
     Sebagian besar umat Islam sejak pertengahan abad ke-19 diliputi perasaan “rendah diri” dan berusaha mencari “kompensasi” dengan berbagai cara, salah satunya dengan cara mengingat kejayaan Islam dan peninggalan nenek moyang pada zaman lampau, yang kemudian memunculkan “adab al-fakhri wa al-tamjid” (sastra kebanggaan dan kejayaan).
    Kondisi tersebut sangat berpengaruh terhadap perkembangan pemikiran masyarakat Islam dalam menafsirkan Al-Quran, sehingga setiap ada “penemuan ilmiah yang baru”, para cendekiawan Muslim dengan cepat berkata, “Al-Quran sudah menyatakan hal itu sejak beberapa abad yang lampau”.
      Umat Islam berkata,”Al-Quran sudah mendahului ilmu pengetahuan dalam penemuannya dan semacamnya”. Yang semuanya adalah “kompensasi” dari perasaan “inferiority complex” (rendah diri).
     Para penemu Barat hanya “tersenyum sinis” melihat keadaan umat Islam, dan senyuman itu terkadang disertai dengan kalimat yang mencemooh,”Kalau demikian, mengapa Tuan-Tuan tidak menyampaikan hal ini sebelum kami menghabiskan waktu dan biaya yang sangat besar dalam penelitian?”
     Memang mengingat kejayaan umat Islam pada masa lampau adalah obat bius yang dapat meredakan rasa sakit untuk sementara, tetapi bukan menyembuhkannya, dan hanya sekadar memberikan jawaban sementara terhadap tantangan Barat.
     Mengingat kejayaan generasi Islam pada zaman lampau, kadang kala dapat menjadi pendorong untuk maju ke depan, dan menjadi “kebanggaan” untuk menjaga kepribadian masyarakat.
     Membanggakan kejayaan pada zaman dahulu, dapat membangkitkan emosi dan memberikan kepuasan, tetapi dapat juga menimbulkan sikap “negativisme” dan “konservatisme” yang membekukan akal dan pikiran, yang tidak sejalan dengan prinsip ilmu pengetahuan yang bersifat dinamis dan progresif.
      Faktor lainnya yang menjadikan sebagian cendekiawan Islam membenarkan suatu teori ilmiah, karena terjadinya pertentangan yang hebat antara pihak gereja dengan para ilmuwan sejak abad ke-18 di Eropa.
     Pertentangan ini disebabkan para penafsir Kitab Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru yang menganut teori tertentu yang diyakini kebenaran dan kesuciannya, sehingga siapa pun yang menolaknya dianggap “kafir” (keluar dari agama) dan berhak mendapatkan kutukan.
   Sedangkan, para ilmuwan yang mengadakan penelitian dan penyelidikan ilmiah, tetapi hasilnya ternyata bertentangan dengan kepercayaan yang dianut oleh gereja, pertentangan para ilmuwan dengan pihak gereja terjadi karena hasil penelitian umur bumi berdasarkan penelitian geologi, ternyata berusia lebih tua daripada umur yang ditetapkan oleh gereja yang berdasarkan penafsiran Kitab Suci.
     Pertentangan ini memuncak dengan lahirnya teori Charles Darwin (1859) tentang “The Origin of Man” dan teori-teori lainnya, yang semuanya dihadapi oleh gereja dengan cara penindasan dan kekejaman.
      Akibatnya banyak ahli ilmu pengetahuan yang menjadi korban hasil penemuannya sendiri, seperti Galileo, Arius, Bruno Bauer, George van Paris, dan lain-lain, hal itu kemudian menimbulkan keyakinan dalam masyarakat bahwa ilmu pengetahuan bertentangan dengan agama (Kristen).

Daftar Pustaka
1. Shihab, M.Quraish. Lentera Hati. Kisah dan Hikmah Kehidupan. Penerbit Mizan, 1994.   
2. Shihab, M. Quraish Shihab. Wawasan Al-Quran. Tafsir Maudhui atas Perbagai Persoalan Umat. Penerbit Mizan, 2009.
3. Shihab, M.Quraish. E-book Membumikan Al-Quran.
4. Al-Quran Digital, Versi 3.2. Digital Qur’an Ver 3.2
5. Tafsirq.com online

469. SEBAB 1

PENYEBAB TAFSIR ILMIAH MELUAS
(Seri ke-1)
Oleh: Drs. H. M. Yusron Hadi, M.M.


       Beberapa orang bertanya,”Mohon dijelaskan tentang “Penyebab tafsir ilmiah terhadap Al-Quran meluas?” Profesor Quraish Shihab menjelaskannya.
      Sejak pertengahan abad ke-19, umat Islam menghadapi tantangan hebat, bukan hanya terbatas dalam bidang politik dan militer, tetapi meluas hingga meliputi bidang sosial dan budaya.
     Tantangan ini memberikan pengaruh sangat besar dalam pandangan hidup dan pemikiran umat Islam, karena umat Islam melihat kekuatan dan kemajuan ilmu pengetahuan Barat, serta sebaliknya umat Islam merasakan kemunduran dalam lapangan kehidupan dan ilmu pengetahuan.
     Keadaan ini menimbulkan perasaan “inferiority complex” (rendah diri) pada sebagian besar umat Islam, kemudian para cendekiawan Islam berusaha memberikan reaksi, meskipun kadang kala dengan cara yang tidak tepat.
      Sebagian cendekiawan bersifat apatis dan acuh tak acuh terhadap kemajuan Barat, dan sebagian dengan spontan “meletakkan senjata” sebagai tanda “menyerah” dengan cara mengikuti segala sesuatu yang bercorak Barat, termasuk yang menyangkut kepribadian dan adat-istiadat.
      Sebagian cendekiawan Muslim mencoba menantang kemajuan Barat dengan mengajak masyarakat Islam menerima dan mempelajari ilmu pengetahuan dan sistem yang dipergunakan oleh Barat dalam mencapai kemajuan, tanpa meninggalkan kepribadian dan prinsip agama.
     Sebagian besar umat Islam sejak pertengahan abad ke-19 diliputi perasaan “rendah diri” dan berusaha mencari “kompensasi” dengan berbagai cara, salah satunya dengan cara mengingat kejayaan Islam dan peninggalan nenek moyang pada zaman lampau, yang kemudian memunculkan “adab al-fakhri wa al-tamjid” (sastra kebanggaan dan kejayaan).
    Kondisi tersebut sangat berpengaruh terhadap perkembangan pemikiran masyarakat Islam dalam menafsirkan Al-Quran, sehingga setiap ada “penemuan ilmiah yang baru”, para cendekiawan Muslim dengan cepat berkata, “Al-Quran sudah menyatakan hal itu sejak beberapa abad yang lampau”.
      Umat Islam berkata,”Al-Quran sudah mendahului ilmu pengetahuan dalam penemuannya dan semacamnya”. Yang semuanya adalah “kompensasi” dari perasaan “inferiority complex” (rendah diri).
     Para penemu Barat hanya “tersenyum sinis” melihat keadaan umat Islam, dan senyuman itu terkadang disertai dengan kalimat yang mencemooh,”Kalau demikian, mengapa Tuan-Tuan tidak menyampaikan hal ini sebelum kami menghabiskan waktu dan biaya yang sangat besar dalam penelitian?”
     Memang mengingat kejayaan umat Islam pada masa lampau adalah obat bius yang dapat meredakan rasa sakit untuk sementara, tetapi bukan menyembuhkannya, dan hanya sekadar memberikan jawaban sementara terhadap tantangan Barat.
     Mengingat kejayaan generasi Islam pada zaman lampau, kadang kala dapat menjadi pendorong untuk maju ke depan, dan menjadi “kebanggaan” untuk menjaga kepribadian masyarakat.
     Membanggakan kejayaan pada zaman dahulu, dapat membangkitkan emosi dan memberikan kepuasan, tetapi dapat juga menimbulkan sikap “negativisme” dan “konservatisme” yang membekukan akal dan pikiran, yang tidak sejalan dengan prinsip ilmu pengetahuan yang bersifat dinamis dan progresif.
      Faktor lainnya yang menjadikan sebagian cendekiawan Islam membenarkan suatu teori ilmiah, karena terjadinya pertentangan yang hebat antara pihak gereja dengan para ilmuwan sejak abad ke-18 di Eropa.
     Pertentangan ini disebabkan para penafsir Kitab Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru yang menganut teori tertentu yang diyakini kebenaran dan kesuciannya, sehingga siapa pun yang menolaknya dianggap “kafir” (keluar dari agama) dan berhak mendapatkan kutukan.
   Sedangkan, para ilmuwan yang mengadakan penelitian dan penyelidikan ilmiah, tetapi hasilnya ternyata bertentangan dengan kepercayaan yang dianut oleh gereja, pertentangan para ilmuwan dengan pihak gereja terjadi karena hasil penelitian umur bumi berdasarkan penelitian geologi, ternyata berusia lebih tua daripada umur yang ditetapkan oleh gereja yang berdasarkan penafsiran Kitab Suci.
     Pertentangan ini memuncak dengan lahirnya teori Charles Darwin (1859) tentang “The Origin of Man” dan teori-teori lainnya, yang semuanya dihadapi oleh gereja dengan cara penindasan dan kekejaman.
      Akibatnya banyak ahli ilmu pengetahuan yang menjadi korban hasil penemuannya sendiri, seperti Galileo, Arius, Bruno Bauer, George van Paris, dan lain-lain, hal itu kemudian menimbulkan keyakinan dalam masyarakat bahwa ilmu pengetahuan bertentangan dengan agama (Kristen).

Daftar Pustaka
1. Shihab, M.Quraish. Lentera Hati. Kisah dan Hikmah Kehidupan. Penerbit Mizan, 1994.   
2. Shihab, M. Quraish Shihab. Wawasan Al-Quran. Tafsir Maudhui atas Perbagai Persoalan Umat. Penerbit Mizan, 2009.
3. Shihab, M.Quraish. E-book Membumikan Al-Quran.
4. Al-Quran Digital, Versi 3.2. Digital Qur’an Ver 3.2
5. Tafsirq.com online

469. SEBAB 1

PENYEBAB TAFSIR ILMIAH MELUAS
(Seri ke-1)
Oleh: Drs. H. M. Yusron Hadi, M.M.


       Beberapa orang bertanya,”Mohon dijelaskan tentang “Penyebab tafsir ilmiah terhadap Al-Quran meluas?” Profesor Quraish Shihab menjelaskannya.
      Sejak pertengahan abad ke-19, umat Islam menghadapi tantangan hebat, bukan hanya terbatas dalam bidang politik dan militer, tetapi meluas hingga meliputi bidang sosial dan budaya.
     Tantangan ini memberikan pengaruh sangat besar dalam pandangan hidup dan pemikiran umat Islam, karena umat Islam melihat kekuatan dan kemajuan ilmu pengetahuan Barat, serta sebaliknya umat Islam merasakan kemunduran dalam lapangan kehidupan dan ilmu pengetahuan.
     Keadaan ini menimbulkan perasaan “inferiority complex” (rendah diri) pada sebagian besar umat Islam, kemudian para cendekiawan Islam berusaha memberikan reaksi, meskipun kadang kala dengan cara yang tidak tepat.
      Sebagian cendekiawan bersifat apatis dan acuh tak acuh terhadap kemajuan Barat, dan sebagian dengan spontan “meletakkan senjata” sebagai tanda “menyerah” dengan cara mengikuti segala sesuatu yang bercorak Barat, termasuk yang menyangkut kepribadian dan adat-istiadat.
      Sebagian cendekiawan Muslim mencoba menantang kemajuan Barat dengan mengajak masyarakat Islam menerima dan mempelajari ilmu pengetahuan dan sistem yang dipergunakan oleh Barat dalam mencapai kemajuan, tanpa meninggalkan kepribadian dan prinsip agama.
     Sebagian besar umat Islam sejak pertengahan abad ke-19 diliputi perasaan “rendah diri” dan berusaha mencari “kompensasi” dengan berbagai cara, salah satunya dengan cara mengingat kejayaan Islam dan peninggalan nenek moyang pada zaman lampau, yang kemudian memunculkan “adab al-fakhri wa al-tamjid” (sastra kebanggaan dan kejayaan).
    Kondisi tersebut sangat berpengaruh terhadap perkembangan pemikiran masyarakat Islam dalam menafsirkan Al-Quran, sehingga setiap ada “penemuan ilmiah yang baru”, para cendekiawan Muslim dengan cepat berkata, “Al-Quran sudah menyatakan hal itu sejak beberapa abad yang lampau”.
      Umat Islam berkata,”Al-Quran sudah mendahului ilmu pengetahuan dalam penemuannya dan semacamnya”. Yang semuanya adalah “kompensasi” dari perasaan “inferiority complex” (rendah diri).
     Para penemu Barat hanya “tersenyum sinis” melihat keadaan umat Islam, dan senyuman itu terkadang disertai dengan kalimat yang mencemooh,”Kalau demikian, mengapa Tuan-Tuan tidak menyampaikan hal ini sebelum kami menghabiskan waktu dan biaya yang sangat besar dalam penelitian?”
     Memang mengingat kejayaan umat Islam pada masa lampau adalah obat bius yang dapat meredakan rasa sakit untuk sementara, tetapi bukan menyembuhkannya, dan hanya sekadar memberikan jawaban sementara terhadap tantangan Barat.
     Mengingat kejayaan generasi Islam pada zaman lampau, kadang kala dapat menjadi pendorong untuk maju ke depan, dan menjadi “kebanggaan” untuk menjaga kepribadian masyarakat.
     Membanggakan kejayaan pada zaman dahulu, dapat membangkitkan emosi dan memberikan kepuasan, tetapi dapat juga menimbulkan sikap “negativisme” dan “konservatisme” yang membekukan akal dan pikiran, yang tidak sejalan dengan prinsip ilmu pengetahuan yang bersifat dinamis dan progresif.
      Faktor lainnya yang menjadikan sebagian cendekiawan Islam membenarkan suatu teori ilmiah, karena terjadinya pertentangan yang hebat antara pihak gereja dengan para ilmuwan sejak abad ke-18 di Eropa.
     Pertentangan ini disebabkan para penafsir Kitab Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru yang menganut teori tertentu yang diyakini kebenaran dan kesuciannya, sehingga siapa pun yang menolaknya dianggap “kafir” (keluar dari agama) dan berhak mendapatkan kutukan.
   Sedangkan, para ilmuwan yang mengadakan penelitian dan penyelidikan ilmiah, tetapi hasilnya ternyata bertentangan dengan kepercayaan yang dianut oleh gereja, pertentangan para ilmuwan dengan pihak gereja terjadi karena hasil penelitian umur bumi berdasarkan penelitian geologi, ternyata berusia lebih tua daripada umur yang ditetapkan oleh gereja yang berdasarkan penafsiran Kitab Suci.
     Pertentangan ini memuncak dengan lahirnya teori Charles Darwin (1859) tentang “The Origin of Man” dan teori-teori lainnya, yang semuanya dihadapi oleh gereja dengan cara penindasan dan kekejaman.
      Akibatnya banyak ahli ilmu pengetahuan yang menjadi korban hasil penemuannya sendiri, seperti Galileo, Arius, Bruno Bauer, George van Paris, dan lain-lain, hal itu kemudian menimbulkan keyakinan dalam masyarakat bahwa ilmu pengetahuan bertentangan dengan agama (Kristen).

Daftar Pustaka
1. Shihab, M.Quraish. Lentera Hati. Kisah dan Hikmah Kehidupan. Penerbit Mizan, 1994.   
2. Shihab, M. Quraish Shihab. Wawasan Al-Quran. Tafsir Maudhui atas Perbagai Persoalan Umat. Penerbit Mizan, 2009.
3. Shihab, M.Quraish. E-book Membumikan Al-Quran.
4. Al-Quran Digital, Versi 3.2. Digital Qur’an Ver 3.2
5. Tafsirq.com online

469. SEBAB 1

PENYEBAB TAFSIR ILMIAH MELUAS
(Seri ke-1)
Oleh: Drs. H. M. Yusron Hadi, M.M.


       Beberapa orang bertanya,”Mohon dijelaskan tentang “Penyebab tafsir ilmiah terhadap Al-Quran meluas?” Profesor Quraish Shihab menjelaskannya.
      Sejak pertengahan abad ke-19, umat Islam menghadapi tantangan hebat, bukan hanya terbatas dalam bidang politik dan militer, tetapi meluas hingga meliputi bidang sosial dan budaya.
     Tantangan ini memberikan pengaruh sangat besar dalam pandangan hidup dan pemikiran umat Islam, karena umat Islam melihat kekuatan dan kemajuan ilmu pengetahuan Barat, serta sebaliknya umat Islam merasakan kemunduran dalam lapangan kehidupan dan ilmu pengetahuan.
     Keadaan ini menimbulkan perasaan “inferiority complex” (rendah diri) pada sebagian besar umat Islam, kemudian para cendekiawan Islam berusaha memberikan reaksi, meskipun kadang kala dengan cara yang tidak tepat.
      Sebagian cendekiawan bersifat apatis dan acuh tak acuh terhadap kemajuan Barat, dan sebagian dengan spontan “meletakkan senjata” sebagai tanda “menyerah” dengan cara mengikuti segala sesuatu yang bercorak Barat, termasuk yang menyangkut kepribadian dan adat-istiadat.
      Sebagian cendekiawan Muslim mencoba menantang kemajuan Barat dengan mengajak masyarakat Islam menerima dan mempelajari ilmu pengetahuan dan sistem yang dipergunakan oleh Barat dalam mencapai kemajuan, tanpa meninggalkan kepribadian dan prinsip agama.
     Sebagian besar umat Islam sejak pertengahan abad ke-19 diliputi perasaan “rendah diri” dan berusaha mencari “kompensasi” dengan berbagai cara, salah satunya dengan cara mengingat kejayaan Islam dan peninggalan nenek moyang pada zaman lampau, yang kemudian memunculkan “adab al-fakhri wa al-tamjid” (sastra kebanggaan dan kejayaan).
    Kondisi tersebut sangat berpengaruh terhadap perkembangan pemikiran masyarakat Islam dalam menafsirkan Al-Quran, sehingga setiap ada “penemuan ilmiah yang baru”, para cendekiawan Muslim dengan cepat berkata, “Al-Quran sudah menyatakan hal itu sejak beberapa abad yang lampau”.
      Umat Islam berkata,”Al-Quran sudah mendahului ilmu pengetahuan dalam penemuannya dan semacamnya”. Yang semuanya adalah “kompensasi” dari perasaan “inferiority complex” (rendah diri).
     Para penemu Barat hanya “tersenyum sinis” melihat keadaan umat Islam, dan senyuman itu terkadang disertai dengan kalimat yang mencemooh,”Kalau demikian, mengapa Tuan-Tuan tidak menyampaikan hal ini sebelum kami menghabiskan waktu dan biaya yang sangat besar dalam penelitian?”
     Memang mengingat kejayaan umat Islam pada masa lampau adalah obat bius yang dapat meredakan rasa sakit untuk sementara, tetapi bukan menyembuhkannya, dan hanya sekadar memberikan jawaban sementara terhadap tantangan Barat.
     Mengingat kejayaan generasi Islam pada zaman lampau, kadang kala dapat menjadi pendorong untuk maju ke depan, dan menjadi “kebanggaan” untuk menjaga kepribadian masyarakat.
     Membanggakan kejayaan pada zaman dahulu, dapat membangkitkan emosi dan memberikan kepuasan, tetapi dapat juga menimbulkan sikap “negativisme” dan “konservatisme” yang membekukan akal dan pikiran, yang tidak sejalan dengan prinsip ilmu pengetahuan yang bersifat dinamis dan progresif.
      Faktor lainnya yang menjadikan sebagian cendekiawan Islam membenarkan suatu teori ilmiah, karena terjadinya pertentangan yang hebat antara pihak gereja dengan para ilmuwan sejak abad ke-18 di Eropa.
     Pertentangan ini disebabkan para penafsir Kitab Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru yang menganut teori tertentu yang diyakini kebenaran dan kesuciannya, sehingga siapa pun yang menolaknya dianggap “kafir” (keluar dari agama) dan berhak mendapatkan kutukan.
   Sedangkan, para ilmuwan yang mengadakan penelitian dan penyelidikan ilmiah, tetapi hasilnya ternyata bertentangan dengan kepercayaan yang dianut oleh gereja, pertentangan para ilmuwan dengan pihak gereja terjadi karena hasil penelitian umur bumi berdasarkan penelitian geologi, ternyata berusia lebih tua daripada umur yang ditetapkan oleh gereja yang berdasarkan penafsiran Kitab Suci.
     Pertentangan ini memuncak dengan lahirnya teori Charles Darwin (1859) tentang “The Origin of Man” dan teori-teori lainnya, yang semuanya dihadapi oleh gereja dengan cara penindasan dan kekejaman.
      Akibatnya banyak ahli ilmu pengetahuan yang menjadi korban hasil penemuannya sendiri, seperti Galileo, Arius, Bruno Bauer, George van Paris, dan lain-lain, hal itu kemudian menimbulkan keyakinan dalam masyarakat bahwa ilmu pengetahuan bertentangan dengan agama (Kristen).

Daftar Pustaka
1. Shihab, M.Quraish. Lentera Hati. Kisah dan Hikmah Kehidupan. Penerbit Mizan, 1994.   
2. Shihab, M. Quraish Shihab. Wawasan Al-Quran. Tafsir Maudhui atas Perbagai Persoalan Umat. Penerbit Mizan, 2009.
3. Shihab, M.Quraish. E-book Membumikan Al-Quran.
4. Al-Quran Digital, Versi 3.2. Digital Qur’an Ver 3.2
5. Tafsirq.com online

469. SEBAB 1

PENYEBAB TAFSIR ILMIAH MELUAS
(Seri ke-1)
Oleh: Drs. H. M. Yusron Hadi, M.M.


       Beberapa orang bertanya,”Mohon dijelaskan tentang “Penyebab tafsir ilmiah terhadap Al-Quran meluas?” Profesor Quraish Shihab menjelaskannya.
      Sejak pertengahan abad ke-19, umat Islam menghadapi tantangan hebat, bukan hanya terbatas dalam bidang politik dan militer, tetapi meluas hingga meliputi bidang sosial dan budaya.
     Tantangan ini memberikan pengaruh sangat besar dalam pandangan hidup dan pemikiran umat Islam, karena umat Islam melihat kekuatan dan kemajuan ilmu pengetahuan Barat, serta sebaliknya umat Islam merasakan kemunduran dalam lapangan kehidupan dan ilmu pengetahuan.
     Keadaan ini menimbulkan perasaan “inferiority complex” (rendah diri) pada sebagian besar umat Islam, kemudian para cendekiawan Islam berusaha memberikan reaksi, meskipun kadang kala dengan cara yang tidak tepat.
      Sebagian cendekiawan bersifat apatis dan acuh tak acuh terhadap kemajuan Barat, dan sebagian dengan spontan “meletakkan senjata” sebagai tanda “menyerah” dengan cara mengikuti segala sesuatu yang bercorak Barat, termasuk yang menyangkut kepribadian dan adat-istiadat.
      Sebagian cendekiawan Muslim mencoba menantang kemajuan Barat dengan mengajak masyarakat Islam menerima dan mempelajari ilmu pengetahuan dan sistem yang dipergunakan oleh Barat dalam mencapai kemajuan, tanpa meninggalkan kepribadian dan prinsip agama.
     Sebagian besar umat Islam sejak pertengahan abad ke-19 diliputi perasaan “rendah diri” dan berusaha mencari “kompensasi” dengan berbagai cara, salah satunya dengan cara mengingat kejayaan Islam dan peninggalan nenek moyang pada zaman lampau, yang kemudian memunculkan “adab al-fakhri wa al-tamjid” (sastra kebanggaan dan kejayaan).
    Kondisi tersebut sangat berpengaruh terhadap perkembangan pemikiran masyarakat Islam dalam menafsirkan Al-Quran, sehingga setiap ada “penemuan ilmiah yang baru”, para cendekiawan Muslim dengan cepat berkata, “Al-Quran sudah menyatakan hal itu sejak beberapa abad yang lampau”.
      Umat Islam berkata,”Al-Quran sudah mendahului ilmu pengetahuan dalam penemuannya dan semacamnya”. Yang semuanya adalah “kompensasi” dari perasaan “inferiority complex” (rendah diri).
     Para penemu Barat hanya “tersenyum sinis” melihat keadaan umat Islam, dan senyuman itu terkadang disertai dengan kalimat yang mencemooh,”Kalau demikian, mengapa Tuan-Tuan tidak menyampaikan hal ini sebelum kami menghabiskan waktu dan biaya yang sangat besar dalam penelitian?”
     Memang mengingat kejayaan umat Islam pada masa lampau adalah obat bius yang dapat meredakan rasa sakit untuk sementara, tetapi bukan menyembuhkannya, dan hanya sekadar memberikan jawaban sementara terhadap tantangan Barat.
     Mengingat kejayaan generasi Islam pada zaman lampau, kadang kala dapat menjadi pendorong untuk maju ke depan, dan menjadi “kebanggaan” untuk menjaga kepribadian masyarakat.
     Membanggakan kejayaan pada zaman dahulu, dapat membangkitkan emosi dan memberikan kepuasan, tetapi dapat juga menimbulkan sikap “negativisme” dan “konservatisme” yang membekukan akal dan pikiran, yang tidak sejalan dengan prinsip ilmu pengetahuan yang bersifat dinamis dan progresif.
      Faktor lainnya yang menjadikan sebagian cendekiawan Islam membenarkan suatu teori ilmiah, karena terjadinya pertentangan yang hebat antara pihak gereja dengan para ilmuwan sejak abad ke-18 di Eropa.
     Pertentangan ini disebabkan para penafsir Kitab Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru yang menganut teori tertentu yang diyakini kebenaran dan kesuciannya, sehingga siapa pun yang menolaknya dianggap “kafir” (keluar dari agama) dan berhak mendapatkan kutukan.
   Sedangkan, para ilmuwan yang mengadakan penelitian dan penyelidikan ilmiah, tetapi hasilnya ternyata bertentangan dengan kepercayaan yang dianut oleh gereja, pertentangan para ilmuwan dengan pihak gereja terjadi karena hasil penelitian umur bumi berdasarkan penelitian geologi, ternyata berusia lebih tua daripada umur yang ditetapkan oleh gereja yang berdasarkan penafsiran Kitab Suci.
     Pertentangan ini memuncak dengan lahirnya teori Charles Darwin (1859) tentang “The Origin of Man” dan teori-teori lainnya, yang semuanya dihadapi oleh gereja dengan cara penindasan dan kekejaman.
      Akibatnya banyak ahli ilmu pengetahuan yang menjadi korban hasil penemuannya sendiri, seperti Galileo, Arius, Bruno Bauer, George van Paris, dan lain-lain, hal itu kemudian menimbulkan keyakinan dalam masyarakat bahwa ilmu pengetahuan bertentangan dengan agama (Kristen).

Daftar Pustaka
1. Shihab, M.Quraish. Lentera Hati. Kisah dan Hikmah Kehidupan. Penerbit Mizan, 1994.   
2. Shihab, M. Quraish Shihab. Wawasan Al-Quran. Tafsir Maudhui atas Perbagai Persoalan Umat. Penerbit Mizan, 2009.
3. Shihab, M.Quraish. E-book Membumikan Al-Quran.
4. Al-Quran Digital, Versi 3.2. Digital Qur’an Ver 3.2
5. Tafsirq.com online

469. SEBAB 1

PENYEBAB TAFSIR ILMIAH MELUAS
(Seri ke-1)
Oleh: Drs. H. M. Yusron Hadi, M.M.


       Beberapa orang bertanya,”Mohon dijelaskan tentang “Penyebab tafsir ilmiah terhadap Al-Quran meluas?” Profesor Quraish Shihab menjelaskannya.
      Sejak pertengahan abad ke-19, umat Islam menghadapi tantangan hebat, bukan hanya terbatas dalam bidang politik dan militer, tetapi meluas hingga meliputi bidang sosial dan budaya.
     Tantangan ini memberikan pengaruh sangat besar dalam pandangan hidup dan pemikiran umat Islam, karena umat Islam melihat kekuatan dan kemajuan ilmu pengetahuan Barat, serta sebaliknya umat Islam merasakan kemunduran dalam lapangan kehidupan dan ilmu pengetahuan.
     Keadaan ini menimbulkan perasaan “inferiority complex” (rendah diri) pada sebagian besar umat Islam, kemudian para cendekiawan Islam berusaha memberikan reaksi, meskipun kadang kala dengan cara yang tidak tepat.
      Sebagian cendekiawan bersifat apatis dan acuh tak acuh terhadap kemajuan Barat, dan sebagian dengan spontan “meletakkan senjata” sebagai tanda “menyerah” dengan cara mengikuti segala sesuatu yang bercorak Barat, termasuk yang menyangkut kepribadian dan adat-istiadat.
      Sebagian cendekiawan Muslim mencoba menantang kemajuan Barat dengan mengajak masyarakat Islam menerima dan mempelajari ilmu pengetahuan dan sistem yang dipergunakan oleh Barat dalam mencapai kemajuan, tanpa meninggalkan kepribadian dan prinsip agama.
     Sebagian besar umat Islam sejak pertengahan abad ke-19 diliputi perasaan “rendah diri” dan berusaha mencari “kompensasi” dengan berbagai cara, salah satunya dengan cara mengingat kejayaan Islam dan peninggalan nenek moyang pada zaman lampau, yang kemudian memunculkan “adab al-fakhri wa al-tamjid” (sastra kebanggaan dan kejayaan).
    Kondisi tersebut sangat berpengaruh terhadap perkembangan pemikiran masyarakat Islam dalam menafsirkan Al-Quran, sehingga setiap ada “penemuan ilmiah yang baru”, para cendekiawan Muslim dengan cepat berkata, “Al-Quran sudah menyatakan hal itu sejak beberapa abad yang lampau”.
      Umat Islam berkata,”Al-Quran sudah mendahului ilmu pengetahuan dalam penemuannya dan semacamnya”. Yang semuanya adalah “kompensasi” dari perasaan “inferiority complex” (rendah diri).
     Para penemu Barat hanya “tersenyum sinis” melihat keadaan umat Islam, dan senyuman itu terkadang disertai dengan kalimat yang mencemooh,”Kalau demikian, mengapa Tuan-Tuan tidak menyampaikan hal ini sebelum kami menghabiskan waktu dan biaya yang sangat besar dalam penelitian?”
     Memang mengingat kejayaan umat Islam pada masa lampau adalah obat bius yang dapat meredakan rasa sakit untuk sementara, tetapi bukan menyembuhkannya, dan hanya sekadar memberikan jawaban sementara terhadap tantangan Barat.
     Mengingat kejayaan generasi Islam pada zaman lampau, kadang kala dapat menjadi pendorong untuk maju ke depan, dan menjadi “kebanggaan” untuk menjaga kepribadian masyarakat.
     Membanggakan kejayaan pada zaman dahulu, dapat membangkitkan emosi dan memberikan kepuasan, tetapi dapat juga menimbulkan sikap “negativisme” dan “konservatisme” yang membekukan akal dan pikiran, yang tidak sejalan dengan prinsip ilmu pengetahuan yang bersifat dinamis dan progresif.
      Faktor lainnya yang menjadikan sebagian cendekiawan Islam membenarkan suatu teori ilmiah, karena terjadinya pertentangan yang hebat antara pihak gereja dengan para ilmuwan sejak abad ke-18 di Eropa.
     Pertentangan ini disebabkan para penafsir Kitab Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru yang menganut teori tertentu yang diyakini kebenaran dan kesuciannya, sehingga siapa pun yang menolaknya dianggap “kafir” (keluar dari agama) dan berhak mendapatkan kutukan.
   Sedangkan, para ilmuwan yang mengadakan penelitian dan penyelidikan ilmiah, tetapi hasilnya ternyata bertentangan dengan kepercayaan yang dianut oleh gereja, pertentangan para ilmuwan dengan pihak gereja terjadi karena hasil penelitian umur bumi berdasarkan penelitian geologi, ternyata berusia lebih tua daripada umur yang ditetapkan oleh gereja yang berdasarkan penafsiran Kitab Suci.
     Pertentangan ini memuncak dengan lahirnya teori Charles Darwin (1859) tentang “The Origin of Man” dan teori-teori lainnya, yang semuanya dihadapi oleh gereja dengan cara penindasan dan kekejaman.
      Akibatnya banyak ahli ilmu pengetahuan yang menjadi korban hasil penemuannya sendiri, seperti Galileo, Arius, Bruno Bauer, George van Paris, dan lain-lain, hal itu kemudian menimbulkan keyakinan dalam masyarakat bahwa ilmu pengetahuan bertentangan dengan agama (Kristen).

Daftar Pustaka
1. Shihab, M.Quraish. Lentera Hati. Kisah dan Hikmah Kehidupan. Penerbit Mizan, 1994.   
2. Shihab, M. Quraish Shihab. Wawasan Al-Quran. Tafsir Maudhui atas Perbagai Persoalan Umat. Penerbit Mizan, 2009.
3. Shihab, M.Quraish. E-book Membumikan Al-Quran.
4. Al-Quran Digital, Versi 3.2. Digital Qur’an Ver 3.2
5. Tafsirq.com online

469. SEBAB 1

PENYEBAB TAFSIR ILMIAH MELUAS
(Seri ke-1)
Oleh: Drs. H. M. Yusron Hadi, M.M.


       Beberapa orang bertanya,”Mohon dijelaskan tentang “Penyebab tafsir ilmiah terhadap Al-Quran meluas?” Profesor Quraish Shihab menjelaskannya.
      Sejak pertengahan abad ke-19, umat Islam menghadapi tantangan hebat, bukan hanya terbatas dalam bidang politik dan militer, tetapi meluas hingga meliputi bidang sosial dan budaya.
     Tantangan ini memberikan pengaruh sangat besar dalam pandangan hidup dan pemikiran umat Islam, karena umat Islam melihat kekuatan dan kemajuan ilmu pengetahuan Barat, serta sebaliknya umat Islam merasakan kemunduran dalam lapangan kehidupan dan ilmu pengetahuan.
     Keadaan ini menimbulkan perasaan “inferiority complex” (rendah diri) pada sebagian besar umat Islam, kemudian para cendekiawan Islam berusaha memberikan reaksi, meskipun kadang kala dengan cara yang tidak tepat.
      Sebagian cendekiawan bersifat apatis dan acuh tak acuh terhadap kemajuan Barat, dan sebagian dengan spontan “meletakkan senjata” sebagai tanda “menyerah” dengan cara mengikuti segala sesuatu yang bercorak Barat, termasuk yang menyangkut kepribadian dan adat-istiadat.
      Sebagian cendekiawan Muslim mencoba menantang kemajuan Barat dengan mengajak masyarakat Islam menerima dan mempelajari ilmu pengetahuan dan sistem yang dipergunakan oleh Barat dalam mencapai kemajuan, tanpa meninggalkan kepribadian dan prinsip agama.
     Sebagian besar umat Islam sejak pertengahan abad ke-19 diliputi perasaan “rendah diri” dan berusaha mencari “kompensasi” dengan berbagai cara, salah satunya dengan cara mengingat kejayaan Islam dan peninggalan nenek moyang pada zaman lampau, yang kemudian memunculkan “adab al-fakhri wa al-tamjid” (sastra kebanggaan dan kejayaan).
    Kondisi tersebut sangat berpengaruh terhadap perkembangan pemikiran masyarakat Islam dalam menafsirkan Al-Quran, sehingga setiap ada “penemuan ilmiah yang baru”, para cendekiawan Muslim dengan cepat berkata, “Al-Quran sudah menyatakan hal itu sejak beberapa abad yang lampau”.
      Umat Islam berkata,”Al-Quran sudah mendahului ilmu pengetahuan dalam penemuannya dan semacamnya”. Yang semuanya adalah “kompensasi” dari perasaan “inferiority complex” (rendah diri).
     Para penemu Barat hanya “tersenyum sinis” melihat keadaan umat Islam, dan senyuman itu terkadang disertai dengan kalimat yang mencemooh,”Kalau demikian, mengapa Tuan-Tuan tidak menyampaikan hal ini sebelum kami menghabiskan waktu dan biaya yang sangat besar dalam penelitian?”
     Memang mengingat kejayaan umat Islam pada masa lampau adalah obat bius yang dapat meredakan rasa sakit untuk sementara, tetapi bukan menyembuhkannya, dan hanya sekadar memberikan jawaban sementara terhadap tantangan Barat.
     Mengingat kejayaan generasi Islam pada zaman lampau, kadang kala dapat menjadi pendorong untuk maju ke depan, dan menjadi “kebanggaan” untuk menjaga kepribadian masyarakat.
     Membanggakan kejayaan pada zaman dahulu, dapat membangkitkan emosi dan memberikan kepuasan, tetapi dapat juga menimbulkan sikap “negativisme” dan “konservatisme” yang membekukan akal dan pikiran, yang tidak sejalan dengan prinsip ilmu pengetahuan yang bersifat dinamis dan progresif.
      Faktor lainnya yang menjadikan sebagian cendekiawan Islam membenarkan suatu teori ilmiah, karena terjadinya pertentangan yang hebat antara pihak gereja dengan para ilmuwan sejak abad ke-18 di Eropa.
     Pertentangan ini disebabkan para penafsir Kitab Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru yang menganut teori tertentu yang diyakini kebenaran dan kesuciannya, sehingga siapa pun yang menolaknya dianggap “kafir” (keluar dari agama) dan berhak mendapatkan kutukan.
   Sedangkan, para ilmuwan yang mengadakan penelitian dan penyelidikan ilmiah, tetapi hasilnya ternyata bertentangan dengan kepercayaan yang dianut oleh gereja, pertentangan para ilmuwan dengan pihak gereja terjadi karena hasil penelitian umur bumi berdasarkan penelitian geologi, ternyata berusia lebih tua daripada umur yang ditetapkan oleh gereja yang berdasarkan penafsiran Kitab Suci.
     Pertentangan ini memuncak dengan lahirnya teori Charles Darwin (1859) tentang “The Origin of Man” dan teori-teori lainnya, yang semuanya dihadapi oleh gereja dengan cara penindasan dan kekejaman.
      Akibatnya banyak ahli ilmu pengetahuan yang menjadi korban hasil penemuannya sendiri, seperti Galileo, Arius, Bruno Bauer, George van Paris, dan lain-lain, hal itu kemudian menimbulkan keyakinan dalam masyarakat bahwa ilmu pengetahuan bertentangan dengan agama (Kristen).

Daftar Pustaka
1. Shihab, M.Quraish. Lentera Hati. Kisah dan Hikmah Kehidupan. Penerbit Mizan, 1994.   
2. Shihab, M. Quraish Shihab. Wawasan Al-Quran. Tafsir Maudhui atas Perbagai Persoalan Umat. Penerbit Mizan, 2009.
3. Shihab, M.Quraish. E-book Membumikan Al-Quran.
4. Al-Quran Digital, Versi 3.2. Digital Qur’an Ver 3.2
5. Tafsirq.com online

469. SEBAB 1

PENYEBAB TAFSIR ILMIAH MELUAS
(Seri ke-1)
Oleh: Drs. H. M. Yusron Hadi, M.M.


       Beberapa orang bertanya,”Mohon dijelaskan tentang “Penyebab tafsir ilmiah terhadap Al-Quran meluas?” Profesor Quraish Shihab menjelaskannya.
      Sejak pertengahan abad ke-19, umat Islam menghadapi tantangan hebat, bukan hanya terbatas dalam bidang politik dan militer, tetapi meluas hingga meliputi bidang sosial dan budaya.
     Tantangan ini memberikan pengaruh sangat besar dalam pandangan hidup dan pemikiran umat Islam, karena umat Islam melihat kekuatan dan kemajuan ilmu pengetahuan Barat, serta sebaliknya umat Islam merasakan kemunduran dalam lapangan kehidupan dan ilmu pengetahuan.
     Keadaan ini menimbulkan perasaan “inferiority complex” (rendah diri) pada sebagian besar umat Islam, kemudian para cendekiawan Islam berusaha memberikan reaksi, meskipun kadang kala dengan cara yang tidak tepat.
      Sebagian cendekiawan bersifat apatis dan acuh tak acuh terhadap kemajuan Barat, dan sebagian dengan spontan “meletakkan senjata” sebagai tanda “menyerah” dengan cara mengikuti segala sesuatu yang bercorak Barat, termasuk yang menyangkut kepribadian dan adat-istiadat.
      Sebagian cendekiawan Muslim mencoba menantang kemajuan Barat dengan mengajak masyarakat Islam menerima dan mempelajari ilmu pengetahuan dan sistem yang dipergunakan oleh Barat dalam mencapai kemajuan, tanpa meninggalkan kepribadian dan prinsip agama.
     Sebagian besar umat Islam sejak pertengahan abad ke-19 diliputi perasaan “rendah diri” dan berusaha mencari “kompensasi” dengan berbagai cara, salah satunya dengan cara mengingat kejayaan Islam dan peninggalan nenek moyang pada zaman lampau, yang kemudian memunculkan “adab al-fakhri wa al-tamjid” (sastra kebanggaan dan kejayaan).
    Kondisi tersebut sangat berpengaruh terhadap perkembangan pemikiran masyarakat Islam dalam menafsirkan Al-Quran, sehingga setiap ada “penemuan ilmiah yang baru”, para cendekiawan Muslim dengan cepat berkata, “Al-Quran sudah menyatakan hal itu sejak beberapa abad yang lampau”.
      Umat Islam berkata,”Al-Quran sudah mendahului ilmu pengetahuan dalam penemuannya dan semacamnya”. Yang semuanya adalah “kompensasi” dari perasaan “inferiority complex” (rendah diri).
     Para penemu Barat hanya “tersenyum sinis” melihat keadaan umat Islam, dan senyuman itu terkadang disertai dengan kalimat yang mencemooh,”Kalau demikian, mengapa Tuan-Tuan tidak menyampaikan hal ini sebelum kami menghabiskan waktu dan biaya yang sangat besar dalam penelitian?”
     Memang mengingat kejayaan umat Islam pada masa lampau adalah obat bius yang dapat meredakan rasa sakit untuk sementara, tetapi bukan menyembuhkannya, dan hanya sekadar memberikan jawaban sementara terhadap tantangan Barat.
     Mengingat kejayaan generasi Islam pada zaman lampau, kadang kala dapat menjadi pendorong untuk maju ke depan, dan menjadi “kebanggaan” untuk menjaga kepribadian masyarakat.
     Membanggakan kejayaan pada zaman dahulu, dapat membangkitkan emosi dan memberikan kepuasan, tetapi dapat juga menimbulkan sikap “negativisme” dan “konservatisme” yang membekukan akal dan pikiran, yang tidak sejalan dengan prinsip ilmu pengetahuan yang bersifat dinamis dan progresif.
      Faktor lainnya yang menjadikan sebagian cendekiawan Islam membenarkan suatu teori ilmiah, karena terjadinya pertentangan yang hebat antara pihak gereja dengan para ilmuwan sejak abad ke-18 di Eropa.
     Pertentangan ini disebabkan para penafsir Kitab Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru yang menganut teori tertentu yang diyakini kebenaran dan kesuciannya, sehingga siapa pun yang menolaknya dianggap “kafir” (keluar dari agama) dan berhak mendapatkan kutukan.
   Sedangkan, para ilmuwan yang mengadakan penelitian dan penyelidikan ilmiah, tetapi hasilnya ternyata bertentangan dengan kepercayaan yang dianut oleh gereja, pertentangan para ilmuwan dengan pihak gereja terjadi karena hasil penelitian umur bumi berdasarkan penelitian geologi, ternyata berusia lebih tua daripada umur yang ditetapkan oleh gereja yang berdasarkan penafsiran Kitab Suci.
     Pertentangan ini memuncak dengan lahirnya teori Charles Darwin (1859) tentang “The Origin of Man” dan teori-teori lainnya, yang semuanya dihadapi oleh gereja dengan cara penindasan dan kekejaman.
      Akibatnya banyak ahli ilmu pengetahuan yang menjadi korban hasil penemuannya sendiri, seperti Galileo, Arius, Bruno Bauer, George van Paris, dan lain-lain, hal itu kemudian menimbulkan keyakinan dalam masyarakat bahwa ilmu pengetahuan bertentangan dengan agama (Kristen).

Daftar Pustaka
1. Shihab, M.Quraish. Lentera Hati. Kisah dan Hikmah Kehidupan. Penerbit Mizan, 1994.   
2. Shihab, M. Quraish Shihab. Wawasan Al-Quran. Tafsir Maudhui atas Perbagai Persoalan Umat. Penerbit Mizan, 2009.
3. Shihab, M.Quraish. E-book Membumikan Al-Quran.
4. Al-Quran Digital, Versi 3.2. Digital Qur’an Ver 3.2
5. Tafsirq.com online

469. SEBAB 1

PENYEBAB TAFSIR ILMIAH MELUAS
(Seri ke-1)
Oleh: Drs. H. M. Yusron Hadi, M.M.


       Beberapa orang bertanya,”Mohon dijelaskan tentang “Penyebab tafsir ilmiah terhadap Al-Quran meluas?” Profesor Quraish Shihab menjelaskannya.
      Sejak pertengahan abad ke-19, umat Islam menghadapi tantangan hebat, bukan hanya terbatas dalam bidang politik dan militer, tetapi meluas hingga meliputi bidang sosial dan budaya.
     Tantangan ini memberikan pengaruh sangat besar dalam pandangan hidup dan pemikiran umat Islam, karena umat Islam melihat kekuatan dan kemajuan ilmu pengetahuan Barat, serta sebaliknya umat Islam merasakan kemunduran dalam lapangan kehidupan dan ilmu pengetahuan.
     Keadaan ini menimbulkan perasaan “inferiority complex” (rendah diri) pada sebagian besar umat Islam, kemudian para cendekiawan Islam berusaha memberikan reaksi, meskipun kadang kala dengan cara yang tidak tepat.
      Sebagian cendekiawan bersifat apatis dan acuh tak acuh terhadap kemajuan Barat, dan sebagian dengan spontan “meletakkan senjata” sebagai tanda “menyerah” dengan cara mengikuti segala sesuatu yang bercorak Barat, termasuk yang menyangkut kepribadian dan adat-istiadat.
      Sebagian cendekiawan Muslim mencoba menantang kemajuan Barat dengan mengajak masyarakat Islam menerima dan mempelajari ilmu pengetahuan dan sistem yang dipergunakan oleh Barat dalam mencapai kemajuan, tanpa meninggalkan kepribadian dan prinsip agama.
     Sebagian besar umat Islam sejak pertengahan abad ke-19 diliputi perasaan “rendah diri” dan berusaha mencari “kompensasi” dengan berbagai cara, salah satunya dengan cara mengingat kejayaan Islam dan peninggalan nenek moyang pada zaman lampau, yang kemudian memunculkan “adab al-fakhri wa al-tamjid” (sastra kebanggaan dan kejayaan).
    Kondisi tersebut sangat berpengaruh terhadap perkembangan pemikiran masyarakat Islam dalam menafsirkan Al-Quran, sehingga setiap ada “penemuan ilmiah yang baru”, para cendekiawan Muslim dengan cepat berkata, “Al-Quran sudah menyatakan hal itu sejak beberapa abad yang lampau”.
      Umat Islam berkata,”Al-Quran sudah mendahului ilmu pengetahuan dalam penemuannya dan semacamnya”. Yang semuanya adalah “kompensasi” dari perasaan “inferiority complex” (rendah diri).
     Para penemu Barat hanya “tersenyum sinis” melihat keadaan umat Islam, dan senyuman itu terkadang disertai dengan kalimat yang mencemooh,”Kalau demikian, mengapa Tuan-Tuan tidak menyampaikan hal ini sebelum kami menghabiskan waktu dan biaya yang sangat besar dalam penelitian?”
     Memang mengingat kejayaan umat Islam pada masa lampau adalah obat bius yang dapat meredakan rasa sakit untuk sementara, tetapi bukan menyembuhkannya, dan hanya sekadar memberikan jawaban sementara terhadap tantangan Barat.
     Mengingat kejayaan generasi Islam pada zaman lampau, kadang kala dapat menjadi pendorong untuk maju ke depan, dan menjadi “kebanggaan” untuk menjaga kepribadian masyarakat.
     Membanggakan kejayaan pada zaman dahulu, dapat membangkitkan emosi dan memberikan kepuasan, tetapi dapat juga menimbulkan sikap “negativisme” dan “konservatisme” yang membekukan akal dan pikiran, yang tidak sejalan dengan prinsip ilmu pengetahuan yang bersifat dinamis dan progresif.
      Faktor lainnya yang menjadikan sebagian cendekiawan Islam membenarkan suatu teori ilmiah, karena terjadinya pertentangan yang hebat antara pihak gereja dengan para ilmuwan sejak abad ke-18 di Eropa.
     Pertentangan ini disebabkan para penafsir Kitab Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru yang menganut teori tertentu yang diyakini kebenaran dan kesuciannya, sehingga siapa pun yang menolaknya dianggap “kafir” (keluar dari agama) dan berhak mendapatkan kutukan.
   Sedangkan, para ilmuwan yang mengadakan penelitian dan penyelidikan ilmiah, tetapi hasilnya ternyata bertentangan dengan kepercayaan yang dianut oleh gereja, pertentangan para ilmuwan dengan pihak gereja terjadi karena hasil penelitian umur bumi berdasarkan penelitian geologi, ternyata berusia lebih tua daripada umur yang ditetapkan oleh gereja yang berdasarkan penafsiran Kitab Suci.
     Pertentangan ini memuncak dengan lahirnya teori Charles Darwin (1859) tentang “The Origin of Man” dan teori-teori lainnya, yang semuanya dihadapi oleh gereja dengan cara penindasan dan kekejaman.
      Akibatnya banyak ahli ilmu pengetahuan yang menjadi korban hasil penemuannya sendiri, seperti Galileo, Arius, Bruno Bauer, George van Paris, dan lain-lain, hal itu kemudian menimbulkan keyakinan dalam masyarakat bahwa ilmu pengetahuan bertentangan dengan agama (Kristen).

Daftar Pustaka
1. Shihab, M.Quraish. Lentera Hati. Kisah dan Hikmah Kehidupan. Penerbit Mizan, 1994.   
2. Shihab, M. Quraish Shihab. Wawasan Al-Quran. Tafsir Maudhui atas Perbagai Persoalan Umat. Penerbit Mizan, 2009.
3. Shihab, M.Quraish. E-book Membumikan Al-Quran.
4. Al-Quran Digital, Versi 3.2. Digital Qur’an Ver 3.2
5. Tafsirq.com online

Saturday, November 11, 2017

468. HIKMAH

HIKMAH AYAT ILMIAH AL-QURAN
Oleh: Drs. H. M. Yusron Hadi, M.M.


       Beberapa orang bertanya,”Mohon dijelaskan tentang “Hikmah ayat ilmiah dalam Al-Quran?” Profesor Quraish Shihab menjelaskannya.
     Banyak ayat kebenaran ilmiah yang dipaparkan dalam Al-Quran, tetapi tujuan pemaparan ayat Al-Quran tersebut adalah untuk menunjukkan kebesaran Allah dan kemahaesaan Allah, serta mendorong manusia seluruhnya untuk mengadakan observasi dan penelitian untuk lebih memperkuat iman dan keyakinan kepada Allah.
      Para ulama berpendapat bahwa, “Sesungguhnya Allah tidak menurunkan Al-Quran untuk menjadi sebuah kitab yang menerangkan kepada manusia tentang teori ilmiah dan masalah seni, serta aneka warna pengetahuan secara mendetail.
      Dalam “asbabun nuzul” (penyebab diturunkan ayat Al-Quran)  diterangkan bahwa pada suatu hari seseorang bertanya kepada Nabi, “Mengapakah bulan kelihatan kecil bagaikan benang, kemudian membesar sampai menjadi bulan purnama?"
      Kemudian turun Al-Quran surah Al-Baqarah, surah ke-2 ayat 189.

۞ يَسْأَلُونَكَ عَنِ الْأَهِلَّةِ ۖ قُلْ هِيَ مَوَاقِيتُ لِلنَّاسِ وَالْحَجِّ ۗ وَلَيْسَ الْبِرُّ بِأَنْ تَأْتُوا الْبُيُوتَ مِنْ ظُهُورِهَا وَلَٰكِنَّ الْبِرَّ مَنِ اتَّقَىٰ ۗ وَأْتُوا الْبُيُوتَ مِنْ أَبْوَابِهَا ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

      “Mereka bertanya kepadamu tentang bulan sabit. Katakanlah,”Bulan sabit itu adalah tanda-tanda waktu bagi manusia dan (bagi ibadah) haji; Dan bukanlah kebajikan memasuki rumah-rumah dari belakangnya, akan tetapi kebajikan itu ialah kebajikan orang yang bertakwa. Dan masuklah ke rumah-rumah itu dari pintunya; dan bertakwalah kepada Allah agar kamu beruntung”.
      Jawaban Al-Quran seperti bukanlah jawaban ilmiah, tetapi jawaban  yang sesuai dengan tujuan pokoknya, dan ada orang yang bertanya tentang roh.
      Al-Quran surah Al-Isra, surah ke-17 ayat 85.

وَيَسْأَلُونَكَ عَنِ الرُّوحِ ۖ قُلِ الرُّوحُ مِنْ أَمْرِ رَبِّي وَمَا أُوتِيتُمْ مِنَ الْعِلْمِ إِلَّا قَلِيلًا

      “Dan mereka bertanya kepadamu tentang roh. Katakanlah,”Roh itu termasuk urusan Tuhan-ku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit".
     Al-Quran tidak menerangkan hakikat roh, karena tujuan pokok Al-Quran bukan menerangkan masalah ilmiah, tetapi tujuan Al-Quran adalah memberikan petunjuk dan pedoman kepada manusia untuk kebahagiaan hidupnya di dunia dan akhirat kelak.
      Al-Quran surah Al-An’am, surah ke-6 ayat 38.

وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا طَائِرٍ يَطِيرُ بِجَنَاحَيْهِ إِلَّا أُمَمٌ أَمْثَالُكُمْ ۚ مَا فَرَّطْنَا فِي الْكِتَابِ مِنْ شَيْءٍ ۚ ثُمَّ إِلَىٰ رَبِّهِمْ يُحْشَرُونَ
  
   “Dan tidaklah binatang-binatang yang ada di bumi dan burung-burung yang terbang dengan kedua sayapnya, melainkan umat-umat (juga) seperti kamu. Tidaklah Kami alpakan sesuatu pun di dalam Al-Kitab, kemudian kepada Tuhanlah mereka dihimpunkan”.
      Al-Quran surah An-Nahl, surah ke-16 ayat 89.

وَيَوْمَ نَبْعَثُ فِي كُلِّ أُمَّةٍ شَهِيدًا عَلَيْهِمْ مِنْ أَنْفُسِهِمْ ۖ وَجِئْنَا بِكَ شَهِيدًا عَلَىٰ هَٰؤُلَاءِ ۚ وَنَزَّلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ تِبْيَانًا لِكُلِّ شَيْءٍ وَهُدًى وَرَحْمَةً وَبُشْرَىٰ لِلْمُسْلِمِينَ
   
  “(Dan ingatlah) akan hari (ketika) Kami, bangkitkan pada tiap-tiap umat seorang saksi atas mereka dari mereka sendiri, dan Kami datangkan kamu (Muhammad) menjadi saksi atas seluruh umat manusia. Dan Kami turunkan kepadamu Al-Kitab (Al-Quran) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri”.
      Al-Quran surah Al-An’am, surah ke-6 ayat 38 dalam kalimat “ma farrathna fi al-kitab min syaik” (tidaklah Kami alpakan sesuatu pun dalam Al-Quran) dan Al-Quran surah An-Nahl, surah ke-16 ayat 89 dalam kalimat “wa nazzalna 'alayka al-kitab tibyanan likulli syaik” (Dan Kami turunkan kepadamu Al-Kitab (Al-Quran) untuk menjelaskan segala sesuatu).
    Hal itu menunjukkan bahwa Al-Quran sudah menjelaskan dengan terang semua hal yang berhubungan dengan tujuan pokok Al-Quran, yaitu masalah akidah, syariah, dan akhlak, tetapi bukan  mencakup semua ilmu pengetahuan secara mendetail.
Daftar Pustaka
1. Shihab, M.Quraish. Lentera Hati. Kisah dan Hikmah Kehidupan. Penerbit Mizan, 1994.   
2. Shihab, M. Quraish Shihab. Wawasan Al-Quran. Tafsir Maudhui atas Perbagai Persoalan Umat. Penerbit Mizan, 2009.
3. Shihab, M.Quraish. E-book Membumikan Al-Quran.
4. Al-Quran Digital, Versi 3.2. Digital Qur’an Ver 3.2
5. Tafsirq.com online

468. HIKMAH

HIKMAH AYAT ILMIAH AL-QURAN
Oleh: Drs. H. M. Yusron Hadi, M.M.


       Beberapa orang bertanya,”Mohon dijelaskan tentang “Hikmah ayat ilmiah dalam Al-Quran?” Profesor Quraish Shihab menjelaskannya.
     Banyak ayat kebenaran ilmiah yang dipaparkan dalam Al-Quran, tetapi tujuan pemaparan ayat Al-Quran tersebut adalah untuk menunjukkan kebesaran Allah dan kemahaesaan Allah, serta mendorong manusia seluruhnya untuk mengadakan observasi dan penelitian untuk lebih memperkuat iman dan keyakinan kepada Allah.
      Para ulama berpendapat bahwa, “Sesungguhnya Allah tidak menurunkan Al-Quran untuk menjadi sebuah kitab yang menerangkan kepada manusia tentang teori ilmiah dan masalah seni, serta aneka warna pengetahuan secara mendetail.
      Dalam “asbabun nuzul” (penyebab diturunkan ayat Al-Quran)  diterangkan bahwa pada suatu hari seseorang bertanya kepada Nabi, “Mengapakah bulan kelihatan kecil bagaikan benang, kemudian membesar sampai menjadi bulan purnama?"
      Kemudian turun Al-Quran surah Al-Baqarah, surah ke-2 ayat 189.

۞ يَسْأَلُونَكَ عَنِ الْأَهِلَّةِ ۖ قُلْ هِيَ مَوَاقِيتُ لِلنَّاسِ وَالْحَجِّ ۗ وَلَيْسَ الْبِرُّ بِأَنْ تَأْتُوا الْبُيُوتَ مِنْ ظُهُورِهَا وَلَٰكِنَّ الْبِرَّ مَنِ اتَّقَىٰ ۗ وَأْتُوا الْبُيُوتَ مِنْ أَبْوَابِهَا ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

      “Mereka bertanya kepadamu tentang bulan sabit. Katakanlah,”Bulan sabit itu adalah tanda-tanda waktu bagi manusia dan (bagi ibadah) haji; Dan bukanlah kebajikan memasuki rumah-rumah dari belakangnya, akan tetapi kebajikan itu ialah kebajikan orang yang bertakwa. Dan masuklah ke rumah-rumah itu dari pintunya; dan bertakwalah kepada Allah agar kamu beruntung”.
      Jawaban Al-Quran seperti bukanlah jawaban ilmiah, tetapi jawaban  yang sesuai dengan tujuan pokoknya, dan ada orang yang bertanya tentang roh.
      Al-Quran surah Al-Isra, surah ke-17 ayat 85.

وَيَسْأَلُونَكَ عَنِ الرُّوحِ ۖ قُلِ الرُّوحُ مِنْ أَمْرِ رَبِّي وَمَا أُوتِيتُمْ مِنَ الْعِلْمِ إِلَّا قَلِيلًا

      “Dan mereka bertanya kepadamu tentang roh. Katakanlah,”Roh itu termasuk urusan Tuhan-ku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit".
     Al-Quran tidak menerangkan hakikat roh, karena tujuan pokok Al-Quran bukan menerangkan masalah ilmiah, tetapi tujuan Al-Quran adalah memberikan petunjuk dan pedoman kepada manusia untuk kebahagiaan hidupnya di dunia dan akhirat kelak.
      Al-Quran surah Al-An’am, surah ke-6 ayat 38.

وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا طَائِرٍ يَطِيرُ بِجَنَاحَيْهِ إِلَّا أُمَمٌ أَمْثَالُكُمْ ۚ مَا فَرَّطْنَا فِي الْكِتَابِ مِنْ شَيْءٍ ۚ ثُمَّ إِلَىٰ رَبِّهِمْ يُحْشَرُونَ
  
   “Dan tidaklah binatang-binatang yang ada di bumi dan burung-burung yang terbang dengan kedua sayapnya, melainkan umat-umat (juga) seperti kamu. Tidaklah Kami alpakan sesuatu pun di dalam Al-Kitab, kemudian kepada Tuhanlah mereka dihimpunkan”.
      Al-Quran surah An-Nahl, surah ke-16 ayat 89.

وَيَوْمَ نَبْعَثُ فِي كُلِّ أُمَّةٍ شَهِيدًا عَلَيْهِمْ مِنْ أَنْفُسِهِمْ ۖ وَجِئْنَا بِكَ شَهِيدًا عَلَىٰ هَٰؤُلَاءِ ۚ وَنَزَّلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ تِبْيَانًا لِكُلِّ شَيْءٍ وَهُدًى وَرَحْمَةً وَبُشْرَىٰ لِلْمُسْلِمِينَ
   
  “(Dan ingatlah) akan hari (ketika) Kami, bangkitkan pada tiap-tiap umat seorang saksi atas mereka dari mereka sendiri, dan Kami datangkan kamu (Muhammad) menjadi saksi atas seluruh umat manusia. Dan Kami turunkan kepadamu Al-Kitab (Al-Quran) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri”.
      Al-Quran surah Al-An’am, surah ke-6 ayat 38 dalam kalimat “ma farrathna fi al-kitab min syaik” (tidaklah Kami alpakan sesuatu pun dalam Al-Quran) dan Al-Quran surah An-Nahl, surah ke-16 ayat 89 dalam kalimat “wa nazzalna 'alayka al-kitab tibyanan likulli syaik” (Dan Kami turunkan kepadamu Al-Kitab (Al-Quran) untuk menjelaskan segala sesuatu).
    Hal itu menunjukkan bahwa Al-Quran sudah menjelaskan dengan terang semua hal yang berhubungan dengan tujuan pokok Al-Quran, yaitu masalah akidah, syariah, dan akhlak, tetapi bukan  mencakup semua ilmu pengetahuan secara mendetail.
Daftar Pustaka
1. Shihab, M.Quraish. Lentera Hati. Kisah dan Hikmah Kehidupan. Penerbit Mizan, 1994.   
2. Shihab, M. Quraish Shihab. Wawasan Al-Quran. Tafsir Maudhui atas Perbagai Persoalan Umat. Penerbit Mizan, 2009.
3. Shihab, M.Quraish. E-book Membumikan Al-Quran.
4. Al-Quran Digital, Versi 3.2. Digital Qur’an Ver 3.2
5. Tafsirq.com online

468. HIKMAH

HIKMAH AYAT ILMIAH AL-QURAN
Oleh: Drs. H. M. Yusron Hadi, M.M.


       Beberapa orang bertanya,”Mohon dijelaskan tentang “Hikmah ayat ilmiah dalam Al-Quran?” Profesor Quraish Shihab menjelaskannya.
     Banyak ayat kebenaran ilmiah yang dipaparkan dalam Al-Quran, tetapi tujuan pemaparan ayat Al-Quran tersebut adalah untuk menunjukkan kebesaran Allah dan kemahaesaan Allah, serta mendorong manusia seluruhnya untuk mengadakan observasi dan penelitian untuk lebih memperkuat iman dan keyakinan kepada Allah.
      Para ulama berpendapat bahwa, “Sesungguhnya Allah tidak menurunkan Al-Quran untuk menjadi sebuah kitab yang menerangkan kepada manusia tentang teori ilmiah dan masalah seni, serta aneka warna pengetahuan secara mendetail.
      Dalam “asbabun nuzul” (penyebab diturunkan ayat Al-Quran)  diterangkan bahwa pada suatu hari seseorang bertanya kepada Nabi, “Mengapakah bulan kelihatan kecil bagaikan benang, kemudian membesar sampai menjadi bulan purnama?"
      Kemudian turun Al-Quran surah Al-Baqarah, surah ke-2 ayat 189.

۞ يَسْأَلُونَكَ عَنِ الْأَهِلَّةِ ۖ قُلْ هِيَ مَوَاقِيتُ لِلنَّاسِ وَالْحَجِّ ۗ وَلَيْسَ الْبِرُّ بِأَنْ تَأْتُوا الْبُيُوتَ مِنْ ظُهُورِهَا وَلَٰكِنَّ الْبِرَّ مَنِ اتَّقَىٰ ۗ وَأْتُوا الْبُيُوتَ مِنْ أَبْوَابِهَا ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

      “Mereka bertanya kepadamu tentang bulan sabit. Katakanlah,”Bulan sabit itu adalah tanda-tanda waktu bagi manusia dan (bagi ibadah) haji; Dan bukanlah kebajikan memasuki rumah-rumah dari belakangnya, akan tetapi kebajikan itu ialah kebajikan orang yang bertakwa. Dan masuklah ke rumah-rumah itu dari pintunya; dan bertakwalah kepada Allah agar kamu beruntung”.
      Jawaban Al-Quran seperti bukanlah jawaban ilmiah, tetapi jawaban  yang sesuai dengan tujuan pokoknya, dan ada orang yang bertanya tentang roh.
      Al-Quran surah Al-Isra, surah ke-17 ayat 85.

وَيَسْأَلُونَكَ عَنِ الرُّوحِ ۖ قُلِ الرُّوحُ مِنْ أَمْرِ رَبِّي وَمَا أُوتِيتُمْ مِنَ الْعِلْمِ إِلَّا قَلِيلًا

      “Dan mereka bertanya kepadamu tentang roh. Katakanlah,”Roh itu termasuk urusan Tuhan-ku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit".
     Al-Quran tidak menerangkan hakikat roh, karena tujuan pokok Al-Quran bukan menerangkan masalah ilmiah, tetapi tujuan Al-Quran adalah memberikan petunjuk dan pedoman kepada manusia untuk kebahagiaan hidupnya di dunia dan akhirat kelak.
      Al-Quran surah Al-An’am, surah ke-6 ayat 38.

وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا طَائِرٍ يَطِيرُ بِجَنَاحَيْهِ إِلَّا أُمَمٌ أَمْثَالُكُمْ ۚ مَا فَرَّطْنَا فِي الْكِتَابِ مِنْ شَيْءٍ ۚ ثُمَّ إِلَىٰ رَبِّهِمْ يُحْشَرُونَ
  
   “Dan tidaklah binatang-binatang yang ada di bumi dan burung-burung yang terbang dengan kedua sayapnya, melainkan umat-umat (juga) seperti kamu. Tidaklah Kami alpakan sesuatu pun di dalam Al-Kitab, kemudian kepada Tuhanlah mereka dihimpunkan”.
      Al-Quran surah An-Nahl, surah ke-16 ayat 89.

وَيَوْمَ نَبْعَثُ فِي كُلِّ أُمَّةٍ شَهِيدًا عَلَيْهِمْ مِنْ أَنْفُسِهِمْ ۖ وَجِئْنَا بِكَ شَهِيدًا عَلَىٰ هَٰؤُلَاءِ ۚ وَنَزَّلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ تِبْيَانًا لِكُلِّ شَيْءٍ وَهُدًى وَرَحْمَةً وَبُشْرَىٰ لِلْمُسْلِمِينَ
   
  “(Dan ingatlah) akan hari (ketika) Kami, bangkitkan pada tiap-tiap umat seorang saksi atas mereka dari mereka sendiri, dan Kami datangkan kamu (Muhammad) menjadi saksi atas seluruh umat manusia. Dan Kami turunkan kepadamu Al-Kitab (Al-Quran) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri”.
      Al-Quran surah Al-An’am, surah ke-6 ayat 38 dalam kalimat “ma farrathna fi al-kitab min syaik” (tidaklah Kami alpakan sesuatu pun dalam Al-Quran) dan Al-Quran surah An-Nahl, surah ke-16 ayat 89 dalam kalimat “wa nazzalna 'alayka al-kitab tibyanan likulli syaik” (Dan Kami turunkan kepadamu Al-Kitab (Al-Quran) untuk menjelaskan segala sesuatu).
    Hal itu menunjukkan bahwa Al-Quran sudah menjelaskan dengan terang semua hal yang berhubungan dengan tujuan pokok Al-Quran, yaitu masalah akidah, syariah, dan akhlak, tetapi bukan  mencakup semua ilmu pengetahuan secara mendetail.
Daftar Pustaka
1. Shihab, M.Quraish. Lentera Hati. Kisah dan Hikmah Kehidupan. Penerbit Mizan, 1994.   
2. Shihab, M. Quraish Shihab. Wawasan Al-Quran. Tafsir Maudhui atas Perbagai Persoalan Umat. Penerbit Mizan, 2009.
3. Shihab, M.Quraish. E-book Membumikan Al-Quran.
4. Al-Quran Digital, Versi 3.2. Digital Qur’an Ver 3.2
5. Tafsirq.com online

468. HIKMAH

HIKMAH AYAT ILMIAH AL-QURAN
Oleh: Drs. H. M. Yusron Hadi, M.M.


       Beberapa orang bertanya,”Mohon dijelaskan tentang “Hikmah ayat ilmiah dalam Al-Quran?” Profesor Quraish Shihab menjelaskannya.
     Banyak ayat kebenaran ilmiah yang dipaparkan dalam Al-Quran, tetapi tujuan pemaparan ayat Al-Quran tersebut adalah untuk menunjukkan kebesaran Allah dan kemahaesaan Allah, serta mendorong manusia seluruhnya untuk mengadakan observasi dan penelitian untuk lebih memperkuat iman dan keyakinan kepada Allah.
      Para ulama berpendapat bahwa, “Sesungguhnya Allah tidak menurunkan Al-Quran untuk menjadi sebuah kitab yang menerangkan kepada manusia tentang teori ilmiah dan masalah seni, serta aneka warna pengetahuan secara mendetail.
      Dalam “asbabun nuzul” (penyebab diturunkan ayat Al-Quran)  diterangkan bahwa pada suatu hari seseorang bertanya kepada Nabi, “Mengapakah bulan kelihatan kecil bagaikan benang, kemudian membesar sampai menjadi bulan purnama?"
      Kemudian turun Al-Quran surah Al-Baqarah, surah ke-2 ayat 189.

۞ يَسْأَلُونَكَ عَنِ الْأَهِلَّةِ ۖ قُلْ هِيَ مَوَاقِيتُ لِلنَّاسِ وَالْحَجِّ ۗ وَلَيْسَ الْبِرُّ بِأَنْ تَأْتُوا الْبُيُوتَ مِنْ ظُهُورِهَا وَلَٰكِنَّ الْبِرَّ مَنِ اتَّقَىٰ ۗ وَأْتُوا الْبُيُوتَ مِنْ أَبْوَابِهَا ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

      “Mereka bertanya kepadamu tentang bulan sabit. Katakanlah,”Bulan sabit itu adalah tanda-tanda waktu bagi manusia dan (bagi ibadah) haji; Dan bukanlah kebajikan memasuki rumah-rumah dari belakangnya, akan tetapi kebajikan itu ialah kebajikan orang yang bertakwa. Dan masuklah ke rumah-rumah itu dari pintunya; dan bertakwalah kepada Allah agar kamu beruntung”.
      Jawaban Al-Quran seperti bukanlah jawaban ilmiah, tetapi jawaban  yang sesuai dengan tujuan pokoknya, dan ada orang yang bertanya tentang roh.
      Al-Quran surah Al-Isra, surah ke-17 ayat 85.

وَيَسْأَلُونَكَ عَنِ الرُّوحِ ۖ قُلِ الرُّوحُ مِنْ أَمْرِ رَبِّي وَمَا أُوتِيتُمْ مِنَ الْعِلْمِ إِلَّا قَلِيلًا

      “Dan mereka bertanya kepadamu tentang roh. Katakanlah,”Roh itu termasuk urusan Tuhan-ku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit".
     Al-Quran tidak menerangkan hakikat roh, karena tujuan pokok Al-Quran bukan menerangkan masalah ilmiah, tetapi tujuan Al-Quran adalah memberikan petunjuk dan pedoman kepada manusia untuk kebahagiaan hidupnya di dunia dan akhirat kelak.
      Al-Quran surah Al-An’am, surah ke-6 ayat 38.

وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا طَائِرٍ يَطِيرُ بِجَنَاحَيْهِ إِلَّا أُمَمٌ أَمْثَالُكُمْ ۚ مَا فَرَّطْنَا فِي الْكِتَابِ مِنْ شَيْءٍ ۚ ثُمَّ إِلَىٰ رَبِّهِمْ يُحْشَرُونَ
  
   “Dan tidaklah binatang-binatang yang ada di bumi dan burung-burung yang terbang dengan kedua sayapnya, melainkan umat-umat (juga) seperti kamu. Tidaklah Kami alpakan sesuatu pun di dalam Al-Kitab, kemudian kepada Tuhanlah mereka dihimpunkan”.
      Al-Quran surah An-Nahl, surah ke-16 ayat 89.

وَيَوْمَ نَبْعَثُ فِي كُلِّ أُمَّةٍ شَهِيدًا عَلَيْهِمْ مِنْ أَنْفُسِهِمْ ۖ وَجِئْنَا بِكَ شَهِيدًا عَلَىٰ هَٰؤُلَاءِ ۚ وَنَزَّلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ تِبْيَانًا لِكُلِّ شَيْءٍ وَهُدًى وَرَحْمَةً وَبُشْرَىٰ لِلْمُسْلِمِينَ
   
  “(Dan ingatlah) akan hari (ketika) Kami, bangkitkan pada tiap-tiap umat seorang saksi atas mereka dari mereka sendiri, dan Kami datangkan kamu (Muhammad) menjadi saksi atas seluruh umat manusia. Dan Kami turunkan kepadamu Al-Kitab (Al-Quran) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri”.
      Al-Quran surah Al-An’am, surah ke-6 ayat 38 dalam kalimat “ma farrathna fi al-kitab min syaik” (tidaklah Kami alpakan sesuatu pun dalam Al-Quran) dan Al-Quran surah An-Nahl, surah ke-16 ayat 89 dalam kalimat “wa nazzalna 'alayka al-kitab tibyanan likulli syaik” (Dan Kami turunkan kepadamu Al-Kitab (Al-Quran) untuk menjelaskan segala sesuatu).
    Hal itu menunjukkan bahwa Al-Quran sudah menjelaskan dengan terang semua hal yang berhubungan dengan tujuan pokok Al-Quran, yaitu masalah akidah, syariah, dan akhlak, tetapi bukan  mencakup semua ilmu pengetahuan secara mendetail.
Daftar Pustaka
1. Shihab, M.Quraish. Lentera Hati. Kisah dan Hikmah Kehidupan. Penerbit Mizan, 1994.   
2. Shihab, M. Quraish Shihab. Wawasan Al-Quran. Tafsir Maudhui atas Perbagai Persoalan Umat. Penerbit Mizan, 2009.
3. Shihab, M.Quraish. E-book Membumikan Al-Quran.
4. Al-Quran Digital, Versi 3.2. Digital Qur’an Ver 3.2
5. Tafsirq.com online