Organisasi Profesi Guru

Presiden Jokowi memberi hormat kepada Guru-Guru se Indonesia.

Tema Gambar Slide 2

Deskripsi gambar slide bisa dituliskan disini dengan beberapa kalimat yang menggambarkan gambar slide yang anda pasang, edit slide ini melalui edit HTML template.

Tema Gambar Slide 3

Deskripsi gambar slide bisa dituliskan disini dengan beberapa kalimat yang menggambarkan gambar slide yang anda pasang, edit slide ini melalui edit HTML template.

Tuesday, March 20, 2018

742. QADAR1

MALAM LAILATUL QADAR
(Seri ke-1)
Oleh: Drs. H.M. Yusron Hadi, M.M.



       Beberapa orang bertanya,”Mohon dijelaskan tentang malam Lailatul Qadar dalam   Al-Quran? Profesor Quraish Shihab menjelaskannya
      Surah Al-Qadar adalah surah ke-97 dari 114 surah dalam Al-Quran, menurut urutannya dalam mushaf Al-Quran diletakkan sesudah surah Iqra, surah ke-96.
     Para ulama Al-Quran menyatakan bahwa surah Al-Qadar, surah ke-97, turun  jauh sesudah turunnya surah Iqra, surah ke-96.
     Surah Iqra, surah ke-96, turun di Mekah, sedangkan para ulama menjelaskan  bahwa surah Al-Qadar, surah ke-97, turun setelah Nabi Muhammad berhijrah dari Mekah ke Madinah.
     Para ulama menjelaskan bahwa penempatan dan perurutan surah dalam Al-Quran dilakukan langsung atas perintah Allah, dan ternyata dari perurutannya ditemukan keserasian yang mengagumkan.
     Kalau dalam surah Iqra', surah ke-96, Nabi Muhammad dan umat Islam diperintahkan untuk membaca dan yang dibaca termasuk Al-Quran, maka sangat wajar apabila sesudah surah Iqra, surah ke-96, urutan berikutnya adalah surah Al-Qadr, surah ke-97, yang berbicara tentang turunnya Al-Quran dan malam kemuliaan yang terpilih sebagai malam awal turunnya Al-Quran.
    Bulan Ramadan memiliki banyak keistimewaan, salah satunya adalah malam “Lailatul Qadar”, yaitu satu malam yang oleh Al-Quran dikatakan “lebih baik daripada seribu bulan”.
    Tetapi, apa dan bagaimana malam “Lailatul Qadar” itu? Apakah hanya terjadi sekali saja, yaitu hanya pada malam ketika awal turunnya Al-Quran pada zaman Nabi atau terjadi setiap bulan Ramadan sepanjang sejarah?
    Bagaimana kedatangannya, apakah setiap orang yang menantinya pasti akan mendapatkannya? Benarkah terdapat tanda fisik material yang menyertai kehadirannya, seperti membekunya air, heningnya malam dan menunduknya pepohonan, dan sebagainya? Masih banyak lagi pertanyaan yang dapat dan sering muncul berkaitan dengan malam “Lailatul Qadar”.
     Yang pasti, dan ini harus diyakini oleh umat Islam berdasarkan pernyataan Al-Quran, bahwa “Ada suatu malam yang bernama Lailatul Qadar”.
    Al-Quran surah Al-Qadar, surah ke-97 ayat 1-5.

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِمْ مِنْ كُلِّ أَمْرٍ سَلَامٌ هِيَ حَتَّىٰ مَطْلَعِ الْفَجْرِ

     “Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Quran) pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu Apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik daripada seribu bulan. Pada malam itu turun para malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar”.
     Al-Quran surah Ad-Dukhan, surah ke-44 ayat 3.

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةٍ مُبَارَكَةٍ ۚ إِنَّا كُنَّا مُنْذِرِينَ

     “Sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi, dan Sesungguhnya Kami-lah yang memberikan peringatan”.
      Malam yang diberkahi adalah malam ketika Al-Quran pertama kali diturunkan kepada Nabi Muhammad.
Al-Quran surah Al-Baqarah, ke-2 ayat 185.

أُحِلَّ لَكُمْ لَيْلَةَ الصِّيَامِ الرَّفَثُ إِلَىٰ نِسَائِكُمْ ۚ هُنَّ لِبَاسٌ لَكُمْ وَأَنْتُمْ لِبَاسٌ لَهُنَّ ۗ عَلِمَ اللَّهُ أَنَّكُمْ كُنْتُمْ تَخْتَانُونَ أَنْفُسَكُمْ فَتَابَ عَلَيْكُمْ وَعَفَا عَنْكُمْ ۖ فَالْآنَ بَاشِرُوهُنَّ وَابْتَغُوا مَا كَتَبَ اللَّهُ لَكُمْ ۚ وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّىٰ يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الْأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الْأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ ۖ ثُمَّ أَتِمُّوا الصِّيَامَ إِلَى اللَّيْلِ ۚ وَلَا تُبَاشِرُوهُنَّ وَأَنْتُمْ عَاكِفُونَ فِي الْمَسَاجِدِ ۗ تِلْكَ حُدُودُ اللَّهِ فَلَا تَقْرَبُوهَا ۗ كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ آيَاتِهِ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَّقُونَ

      “(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al-Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang batil). Karena itu, barangsiapa di antaramu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya, pada hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur”.
     Malam tersebut adalah malam mulia, tidak mudah diketahui betapa besar kemuliaannya. Hal ini diisyaratkan dengan adanya “pertanyaan” dalam bentuk pengagungan, yaitu “Wa ma adraka ma lailatul Qadr?”, yang artinya, “Apakah malam kemuliaan itu?”
    Kalimat “Ma adraka” muncul 13 kali dalam Al-Quran, yang 10 kali bertanya tentang kehebatan yang terkait dengan hari kemudian, seperti “Ma adraka ma Yaumul Al-Fashl”, Ma adraka ma Al-Haqqah, Ma adraka ma 'illiyyun, dan sebagainya.
     Semuanya merupakan hal yang sulit dipahami bahkan mustahil dijangkau oleh akal pikiran manusia.
     Dalam 13 kali kalimat “Ma adraka” itu terdapat 3 kali yang mengatakan “Ma adraka math thariq”, “Ma adraka mal aqabah”, dan “Ma adraka malailatul qadr”.
     Kalau dilihat pemakaian Al-Quran tentang hal yang menjadi objek pertanyaan, maka semuanya adalah yang sangat hebat dan sulit dijangkau hakikatnya secara sempurna oleh akal pikiran manusia.
     Hal ini tentunya termasuk malam “Lailatul Qadar” yang menjadi pokok bahasan.
     Sebagian ulama membedakan antara pertanyaan “Ma adraka” dengan “Ma yudrika” yang juga digunakan oleh Al-Quran dalam 3 ayat.
     Al-Quran surah Al-Ahzab, surah ke-33 ayat 63.

يَسْأَلُكَ النَّاسُ عَنِ السَّاعَةِ ۖ قُلْ إِنَّمَا عِلْمُهَا عِنْدَ اللَّهِ ۚ وَمَا يُدْرِيكَ لَعَلَّ السَّاعَةَ تَكُونُ قَرِيبًا

      “Manusia bertanya kepadamu tentang hari berbangkit. Katakan, ‘Sesungguhnya pengetahuan tentang hari berbangkit hanya di sisi Allah’, dan tahukah kamu (Hai Muhammad), boleh Jadi hari berbangkit sudah dekat waktunya”.
     Al-Quran surah As-Syura, surah ke-42 ayat 17.

اللَّهُ الَّذِي أَنْزَلَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ وَالْمِيزَانَ ۗ وَمَا يُدْرِيكَ لَعَلَّ السَّاعَةَ قَرِيبٌ

     “Allah yang menurunkan kitab dengan (membawa) kebenaran dan (menurunkan) neraca (keadilan). dan tahukah kamu, boleh Jadi hari kiamat itu (sudah) dekat?”
     Al-Quran surah Abasa, surah ke-80 ayat 3.

وَمَا يُدْرِيكَ لَعَلَّهُ يَزَّكَّىٰ

     “Tahukah kamu barangkali dia ingin membersihkan dirinya (dari dosa)”.
      Dua hal yang dipertanyakan dengan “wa ma yudrika”., yang pertama, menyangkut waktu kedatangan hari kiamat, dan yang kedua,  hal yang berkaitan dengan kesucian jiwa manusia.
    Secara gamblang, Al-Quran dan hadis menyatakan bahwa Nabi Muhammad tidak mengetahui kapan datangnya hari kiamat, dan tidak pula mengetahui tentang hal-hal yang gaib.
     Hal ini berarti bahwa “Ma yudrika” digunakan oleh Al-Quran untuk menyatakan hal-hal yang tidak mungkin diketahui, meskipun oleh Nabi Muhammad sendiri, sedangkan “Wa ma adraka”, walaupun berupa pertanyaan, namun pada akhirnya Allah menyampaikannya kepada Nabi, sehingga informasi lanjutan dapat diperoleh dari beliau.
     Kesimpulannya, bahwa informasi tenang malam Lailatul Qadar harus merujuk kepada Al-Quran dan hadis Nabi. 
Daftar Pustaka
1. Shihab, M.Quraish. Lentera Hati. Kisah dan Hikmah Kehidupan. Penerbit Mizan, 1994.  
2. Shihab, M.Quraish. E-book Membumikan Al-Quran.
3. Al-Quran Digital, Versi 3.2. Digital Qur’an Ver 3.

742. QADAR1

MALAM LAILATUL QADAR
(Seri ke-1)
Oleh: Drs. H.M. Yusron Hadi, M.M.



       Beberapa orang bertanya,”Mohon dijelaskan tentang malam Lailatul Qadar dalam   Al-Quran? Profesor Quraish Shihab menjelaskannya
      Surah Al-Qadar adalah surah ke-97 dari 114 surah dalam Al-Quran, menurut urutannya dalam mushaf Al-Quran diletakkan sesudah surah Iqra, surah ke-96.
     Para ulama Al-Quran menyatakan bahwa surah Al-Qadar, surah ke-97, turun  jauh sesudah turunnya surah Iqra, surah ke-96.
     Surah Iqra, surah ke-96, turun di Mekah, sedangkan para ulama menjelaskan  bahwa surah Al-Qadar, surah ke-97, turun setelah Nabi Muhammad berhijrah dari Mekah ke Madinah.
     Para ulama menjelaskan bahwa penempatan dan perurutan surah dalam Al-Quran dilakukan langsung atas perintah Allah, dan ternyata dari perurutannya ditemukan keserasian yang mengagumkan.
     Kalau dalam surah Iqra', surah ke-96, Nabi Muhammad dan umat Islam diperintahkan untuk membaca dan yang dibaca termasuk Al-Quran, maka sangat wajar apabila sesudah surah Iqra, surah ke-96, urutan berikutnya adalah surah Al-Qadr, surah ke-97, yang berbicara tentang turunnya Al-Quran dan malam kemuliaan yang terpilih sebagai malam awal turunnya Al-Quran.
    Bulan Ramadan memiliki banyak keistimewaan, salah satunya adalah malam “Lailatul Qadar”, yaitu satu malam yang oleh Al-Quran dikatakan “lebih baik daripada seribu bulan”.
    Tetapi, apa dan bagaimana malam “Lailatul Qadar” itu? Apakah hanya terjadi sekali saja, yaitu hanya pada malam ketika awal turunnya Al-Quran pada zaman Nabi atau terjadi setiap bulan Ramadan sepanjang sejarah?
    Bagaimana kedatangannya, apakah setiap orang yang menantinya pasti akan mendapatkannya? Benarkah terdapat tanda fisik material yang menyertai kehadirannya, seperti membekunya air, heningnya malam dan menunduknya pepohonan, dan sebagainya? Masih banyak lagi pertanyaan yang dapat dan sering muncul berkaitan dengan malam “Lailatul Qadar”.
     Yang pasti, dan ini harus diyakini oleh umat Islam berdasarkan pernyataan Al-Quran, bahwa “Ada suatu malam yang bernama Lailatul Qadar”.
    Al-Quran surah Al-Qadar, surah ke-97 ayat 1-5.

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِمْ مِنْ كُلِّ أَمْرٍ سَلَامٌ هِيَ حَتَّىٰ مَطْلَعِ الْفَجْرِ

     “Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Quran) pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu Apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik daripada seribu bulan. Pada malam itu turun para malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar”.
     Al-Quran surah Ad-Dukhan, surah ke-44 ayat 3.

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةٍ مُبَارَكَةٍ ۚ إِنَّا كُنَّا مُنْذِرِينَ

     “Sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi, dan Sesungguhnya Kami-lah yang memberikan peringatan”.
      Malam yang diberkahi adalah malam ketika Al-Quran pertama kali diturunkan kepada Nabi Muhammad.
Al-Quran surah Al-Baqarah, ke-2 ayat 185.

أُحِلَّ لَكُمْ لَيْلَةَ الصِّيَامِ الرَّفَثُ إِلَىٰ نِسَائِكُمْ ۚ هُنَّ لِبَاسٌ لَكُمْ وَأَنْتُمْ لِبَاسٌ لَهُنَّ ۗ عَلِمَ اللَّهُ أَنَّكُمْ كُنْتُمْ تَخْتَانُونَ أَنْفُسَكُمْ فَتَابَ عَلَيْكُمْ وَعَفَا عَنْكُمْ ۖ فَالْآنَ بَاشِرُوهُنَّ وَابْتَغُوا مَا كَتَبَ اللَّهُ لَكُمْ ۚ وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّىٰ يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الْأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الْأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ ۖ ثُمَّ أَتِمُّوا الصِّيَامَ إِلَى اللَّيْلِ ۚ وَلَا تُبَاشِرُوهُنَّ وَأَنْتُمْ عَاكِفُونَ فِي الْمَسَاجِدِ ۗ تِلْكَ حُدُودُ اللَّهِ فَلَا تَقْرَبُوهَا ۗ كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ آيَاتِهِ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَّقُونَ

      “(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al-Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang batil). Karena itu, barangsiapa di antaramu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya, pada hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur”.
     Malam tersebut adalah malam mulia, tidak mudah diketahui betapa besar kemuliaannya. Hal ini diisyaratkan dengan adanya “pertanyaan” dalam bentuk pengagungan, yaitu “Wa ma adraka ma lailatul Qadr?”, yang artinya, “Apakah malam kemuliaan itu?”
    Kalimat “Ma adraka” muncul 13 kali dalam Al-Quran, yang 10 kali bertanya tentang kehebatan yang terkait dengan hari kemudian, seperti “Ma adraka ma Yaumul Al-Fashl”, Ma adraka ma Al-Haqqah, Ma adraka ma 'illiyyun, dan sebagainya.
     Semuanya merupakan hal yang sulit dipahami bahkan mustahil dijangkau oleh akal pikiran manusia.
     Dalam 13 kali kalimat “Ma adraka” itu terdapat 3 kali yang mengatakan “Ma adraka math thariq”, “Ma adraka mal aqabah”, dan “Ma adraka malailatul qadr”.
     Kalau dilihat pemakaian Al-Quran tentang hal yang menjadi objek pertanyaan, maka semuanya adalah yang sangat hebat dan sulit dijangkau hakikatnya secara sempurna oleh akal pikiran manusia.
     Hal ini tentunya termasuk malam “Lailatul Qadar” yang menjadi pokok bahasan.
     Sebagian ulama membedakan antara pertanyaan “Ma adraka” dengan “Ma yudrika” yang juga digunakan oleh Al-Quran dalam 3 ayat.
     Al-Quran surah Al-Ahzab, surah ke-33 ayat 63.

يَسْأَلُكَ النَّاسُ عَنِ السَّاعَةِ ۖ قُلْ إِنَّمَا عِلْمُهَا عِنْدَ اللَّهِ ۚ وَمَا يُدْرِيكَ لَعَلَّ السَّاعَةَ تَكُونُ قَرِيبًا

      “Manusia bertanya kepadamu tentang hari berbangkit. Katakan, ‘Sesungguhnya pengetahuan tentang hari berbangkit hanya di sisi Allah’, dan tahukah kamu (Hai Muhammad), boleh Jadi hari berbangkit sudah dekat waktunya”.
     Al-Quran surah As-Syura, surah ke-42 ayat 17.

اللَّهُ الَّذِي أَنْزَلَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ وَالْمِيزَانَ ۗ وَمَا يُدْرِيكَ لَعَلَّ السَّاعَةَ قَرِيبٌ

     “Allah yang menurunkan kitab dengan (membawa) kebenaran dan (menurunkan) neraca (keadilan). dan tahukah kamu, boleh Jadi hari kiamat itu (sudah) dekat?”
     Al-Quran surah Abasa, surah ke-80 ayat 3.

وَمَا يُدْرِيكَ لَعَلَّهُ يَزَّكَّىٰ

     “Tahukah kamu barangkali dia ingin membersihkan dirinya (dari dosa)”.
      Dua hal yang dipertanyakan dengan “wa ma yudrika”., yang pertama, menyangkut waktu kedatangan hari kiamat, dan yang kedua,  hal yang berkaitan dengan kesucian jiwa manusia.
    Secara gamblang, Al-Quran dan hadis menyatakan bahwa Nabi Muhammad tidak mengetahui kapan datangnya hari kiamat, dan tidak pula mengetahui tentang hal-hal yang gaib.
     Hal ini berarti bahwa “Ma yudrika” digunakan oleh Al-Quran untuk menyatakan hal-hal yang tidak mungkin diketahui, meskipun oleh Nabi Muhammad sendiri, sedangkan “Wa ma adraka”, walaupun berupa pertanyaan, namun pada akhirnya Allah menyampaikannya kepada Nabi, sehingga informasi lanjutan dapat diperoleh dari beliau.
     Kesimpulannya, bahwa informasi tenang malam Lailatul Qadar harus merujuk kepada Al-Quran dan hadis Nabi. 
Daftar Pustaka
1. Shihab, M.Quraish. Lentera Hati. Kisah dan Hikmah Kehidupan. Penerbit Mizan, 1994.  
2. Shihab, M.Quraish. E-book Membumikan Al-Quran.
3. Al-Quran Digital, Versi 3.2. Digital Qur’an Ver 3.

742. QADAR1

MALAM LAILATUL QADAR
(Seri ke-1)
Oleh: Drs. H.M. Yusron Hadi, M.M.



       Beberapa orang bertanya,”Mohon dijelaskan tentang malam Lailatul Qadar dalam   Al-Quran? Profesor Quraish Shihab menjelaskannya
      Surah Al-Qadar adalah surah ke-97 dari 114 surah dalam Al-Quran, menurut urutannya dalam mushaf Al-Quran diletakkan sesudah surah Iqra, surah ke-96.
     Para ulama Al-Quran menyatakan bahwa surah Al-Qadar, surah ke-97, turun  jauh sesudah turunnya surah Iqra, surah ke-96.
     Surah Iqra, surah ke-96, turun di Mekah, sedangkan para ulama menjelaskan  bahwa surah Al-Qadar, surah ke-97, turun setelah Nabi Muhammad berhijrah dari Mekah ke Madinah.
     Para ulama menjelaskan bahwa penempatan dan perurutan surah dalam Al-Quran dilakukan langsung atas perintah Allah, dan ternyata dari perurutannya ditemukan keserasian yang mengagumkan.
     Kalau dalam surah Iqra', surah ke-96, Nabi Muhammad dan umat Islam diperintahkan untuk membaca dan yang dibaca termasuk Al-Quran, maka sangat wajar apabila sesudah surah Iqra, surah ke-96, urutan berikutnya adalah surah Al-Qadr, surah ke-97, yang berbicara tentang turunnya Al-Quran dan malam kemuliaan yang terpilih sebagai malam awal turunnya Al-Quran.
    Bulan Ramadan memiliki banyak keistimewaan, salah satunya adalah malam “Lailatul Qadar”, yaitu satu malam yang oleh Al-Quran dikatakan “lebih baik daripada seribu bulan”.
    Tetapi, apa dan bagaimana malam “Lailatul Qadar” itu? Apakah hanya terjadi sekali saja, yaitu hanya pada malam ketika awal turunnya Al-Quran pada zaman Nabi atau terjadi setiap bulan Ramadan sepanjang sejarah?
    Bagaimana kedatangannya, apakah setiap orang yang menantinya pasti akan mendapatkannya? Benarkah terdapat tanda fisik material yang menyertai kehadirannya, seperti membekunya air, heningnya malam dan menunduknya pepohonan, dan sebagainya? Masih banyak lagi pertanyaan yang dapat dan sering muncul berkaitan dengan malam “Lailatul Qadar”.
     Yang pasti, dan ini harus diyakini oleh umat Islam berdasarkan pernyataan Al-Quran, bahwa “Ada suatu malam yang bernama Lailatul Qadar”.
    Al-Quran surah Al-Qadar, surah ke-97 ayat 1-5.

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِمْ مِنْ كُلِّ أَمْرٍ سَلَامٌ هِيَ حَتَّىٰ مَطْلَعِ الْفَجْرِ

     “Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Quran) pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu Apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik daripada seribu bulan. Pada malam itu turun para malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar”.
     Al-Quran surah Ad-Dukhan, surah ke-44 ayat 3.

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةٍ مُبَارَكَةٍ ۚ إِنَّا كُنَّا مُنْذِرِينَ

     “Sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi, dan Sesungguhnya Kami-lah yang memberikan peringatan”.
      Malam yang diberkahi adalah malam ketika Al-Quran pertama kali diturunkan kepada Nabi Muhammad.
Al-Quran surah Al-Baqarah, ke-2 ayat 185.

أُحِلَّ لَكُمْ لَيْلَةَ الصِّيَامِ الرَّفَثُ إِلَىٰ نِسَائِكُمْ ۚ هُنَّ لِبَاسٌ لَكُمْ وَأَنْتُمْ لِبَاسٌ لَهُنَّ ۗ عَلِمَ اللَّهُ أَنَّكُمْ كُنْتُمْ تَخْتَانُونَ أَنْفُسَكُمْ فَتَابَ عَلَيْكُمْ وَعَفَا عَنْكُمْ ۖ فَالْآنَ بَاشِرُوهُنَّ وَابْتَغُوا مَا كَتَبَ اللَّهُ لَكُمْ ۚ وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّىٰ يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الْأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الْأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ ۖ ثُمَّ أَتِمُّوا الصِّيَامَ إِلَى اللَّيْلِ ۚ وَلَا تُبَاشِرُوهُنَّ وَأَنْتُمْ عَاكِفُونَ فِي الْمَسَاجِدِ ۗ تِلْكَ حُدُودُ اللَّهِ فَلَا تَقْرَبُوهَا ۗ كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ آيَاتِهِ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَّقُونَ

      “(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al-Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang batil). Karena itu, barangsiapa di antaramu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya, pada hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur”.
     Malam tersebut adalah malam mulia, tidak mudah diketahui betapa besar kemuliaannya. Hal ini diisyaratkan dengan adanya “pertanyaan” dalam bentuk pengagungan, yaitu “Wa ma adraka ma lailatul Qadr?”, yang artinya, “Apakah malam kemuliaan itu?”
    Kalimat “Ma adraka” muncul 13 kali dalam Al-Quran, yang 10 kali bertanya tentang kehebatan yang terkait dengan hari kemudian, seperti “Ma adraka ma Yaumul Al-Fashl”, Ma adraka ma Al-Haqqah, Ma adraka ma 'illiyyun, dan sebagainya.
     Semuanya merupakan hal yang sulit dipahami bahkan mustahil dijangkau oleh akal pikiran manusia.
     Dalam 13 kali kalimat “Ma adraka” itu terdapat 3 kali yang mengatakan “Ma adraka math thariq”, “Ma adraka mal aqabah”, dan “Ma adraka malailatul qadr”.
     Kalau dilihat pemakaian Al-Quran tentang hal yang menjadi objek pertanyaan, maka semuanya adalah yang sangat hebat dan sulit dijangkau hakikatnya secara sempurna oleh akal pikiran manusia.
     Hal ini tentunya termasuk malam “Lailatul Qadar” yang menjadi pokok bahasan.
     Sebagian ulama membedakan antara pertanyaan “Ma adraka” dengan “Ma yudrika” yang juga digunakan oleh Al-Quran dalam 3 ayat.
     Al-Quran surah Al-Ahzab, surah ke-33 ayat 63.

يَسْأَلُكَ النَّاسُ عَنِ السَّاعَةِ ۖ قُلْ إِنَّمَا عِلْمُهَا عِنْدَ اللَّهِ ۚ وَمَا يُدْرِيكَ لَعَلَّ السَّاعَةَ تَكُونُ قَرِيبًا

      “Manusia bertanya kepadamu tentang hari berbangkit. Katakan, ‘Sesungguhnya pengetahuan tentang hari berbangkit hanya di sisi Allah’, dan tahukah kamu (Hai Muhammad), boleh Jadi hari berbangkit sudah dekat waktunya”.
     Al-Quran surah As-Syura, surah ke-42 ayat 17.

اللَّهُ الَّذِي أَنْزَلَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ وَالْمِيزَانَ ۗ وَمَا يُدْرِيكَ لَعَلَّ السَّاعَةَ قَرِيبٌ

     “Allah yang menurunkan kitab dengan (membawa) kebenaran dan (menurunkan) neraca (keadilan). dan tahukah kamu, boleh Jadi hari kiamat itu (sudah) dekat?”
     Al-Quran surah Abasa, surah ke-80 ayat 3.

وَمَا يُدْرِيكَ لَعَلَّهُ يَزَّكَّىٰ

     “Tahukah kamu barangkali dia ingin membersihkan dirinya (dari dosa)”.
      Dua hal yang dipertanyakan dengan “wa ma yudrika”., yang pertama, menyangkut waktu kedatangan hari kiamat, dan yang kedua,  hal yang berkaitan dengan kesucian jiwa manusia.
    Secara gamblang, Al-Quran dan hadis menyatakan bahwa Nabi Muhammad tidak mengetahui kapan datangnya hari kiamat, dan tidak pula mengetahui tentang hal-hal yang gaib.
     Hal ini berarti bahwa “Ma yudrika” digunakan oleh Al-Quran untuk menyatakan hal-hal yang tidak mungkin diketahui, meskipun oleh Nabi Muhammad sendiri, sedangkan “Wa ma adraka”, walaupun berupa pertanyaan, namun pada akhirnya Allah menyampaikannya kepada Nabi, sehingga informasi lanjutan dapat diperoleh dari beliau.
     Kesimpulannya, bahwa informasi tenang malam Lailatul Qadar harus merujuk kepada Al-Quran dan hadis Nabi. 
Daftar Pustaka
1. Shihab, M.Quraish. Lentera Hati. Kisah dan Hikmah Kehidupan. Penerbit Mizan, 1994.  
2. Shihab, M.Quraish. E-book Membumikan Al-Quran.
3. Al-Quran Digital, Versi 3.2. Digital Qur’an Ver 3.

742. QADAR1

MALAM LAILATUL QADAR
(Seri ke-1)
Oleh: Drs. H.M. Yusron Hadi, M.M.



       Beberapa orang bertanya,”Mohon dijelaskan tentang malam Lailatul Qadar dalam   Al-Quran? Profesor Quraish Shihab menjelaskannya
      Surah Al-Qadar adalah surah ke-97 dari 114 surah dalam Al-Quran, menurut urutannya dalam mushaf Al-Quran diletakkan sesudah surah Iqra, surah ke-96.
     Para ulama Al-Quran menyatakan bahwa surah Al-Qadar, surah ke-97, turun  jauh sesudah turunnya surah Iqra, surah ke-96.
     Surah Iqra, surah ke-96, turun di Mekah, sedangkan para ulama menjelaskan  bahwa surah Al-Qadar, surah ke-97, turun setelah Nabi Muhammad berhijrah dari Mekah ke Madinah.
     Para ulama menjelaskan bahwa penempatan dan perurutan surah dalam Al-Quran dilakukan langsung atas perintah Allah, dan ternyata dari perurutannya ditemukan keserasian yang mengagumkan.
     Kalau dalam surah Iqra', surah ke-96, Nabi Muhammad dan umat Islam diperintahkan untuk membaca dan yang dibaca termasuk Al-Quran, maka sangat wajar apabila sesudah surah Iqra, surah ke-96, urutan berikutnya adalah surah Al-Qadr, surah ke-97, yang berbicara tentang turunnya Al-Quran dan malam kemuliaan yang terpilih sebagai malam awal turunnya Al-Quran.
    Bulan Ramadan memiliki banyak keistimewaan, salah satunya adalah malam “Lailatul Qadar”, yaitu satu malam yang oleh Al-Quran dikatakan “lebih baik daripada seribu bulan”.
    Tetapi, apa dan bagaimana malam “Lailatul Qadar” itu? Apakah hanya terjadi sekali saja, yaitu hanya pada malam ketika awal turunnya Al-Quran pada zaman Nabi atau terjadi setiap bulan Ramadan sepanjang sejarah?
    Bagaimana kedatangannya, apakah setiap orang yang menantinya pasti akan mendapatkannya? Benarkah terdapat tanda fisik material yang menyertai kehadirannya, seperti membekunya air, heningnya malam dan menunduknya pepohonan, dan sebagainya? Masih banyak lagi pertanyaan yang dapat dan sering muncul berkaitan dengan malam “Lailatul Qadar”.
     Yang pasti, dan ini harus diyakini oleh umat Islam berdasarkan pernyataan Al-Quran, bahwa “Ada suatu malam yang bernama Lailatul Qadar”.
    Al-Quran surah Al-Qadar, surah ke-97 ayat 1-5.

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِمْ مِنْ كُلِّ أَمْرٍ سَلَامٌ هِيَ حَتَّىٰ مَطْلَعِ الْفَجْرِ

     “Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Quran) pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu Apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik daripada seribu bulan. Pada malam itu turun para malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar”.
     Al-Quran surah Ad-Dukhan, surah ke-44 ayat 3.

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةٍ مُبَارَكَةٍ ۚ إِنَّا كُنَّا مُنْذِرِينَ

     “Sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi, dan Sesungguhnya Kami-lah yang memberikan peringatan”.
      Malam yang diberkahi adalah malam ketika Al-Quran pertama kali diturunkan kepada Nabi Muhammad.
Al-Quran surah Al-Baqarah, ke-2 ayat 185.

أُحِلَّ لَكُمْ لَيْلَةَ الصِّيَامِ الرَّفَثُ إِلَىٰ نِسَائِكُمْ ۚ هُنَّ لِبَاسٌ لَكُمْ وَأَنْتُمْ لِبَاسٌ لَهُنَّ ۗ عَلِمَ اللَّهُ أَنَّكُمْ كُنْتُمْ تَخْتَانُونَ أَنْفُسَكُمْ فَتَابَ عَلَيْكُمْ وَعَفَا عَنْكُمْ ۖ فَالْآنَ بَاشِرُوهُنَّ وَابْتَغُوا مَا كَتَبَ اللَّهُ لَكُمْ ۚ وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّىٰ يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الْأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الْأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ ۖ ثُمَّ أَتِمُّوا الصِّيَامَ إِلَى اللَّيْلِ ۚ وَلَا تُبَاشِرُوهُنَّ وَأَنْتُمْ عَاكِفُونَ فِي الْمَسَاجِدِ ۗ تِلْكَ حُدُودُ اللَّهِ فَلَا تَقْرَبُوهَا ۗ كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ آيَاتِهِ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَّقُونَ

      “(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al-Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang batil). Karena itu, barangsiapa di antaramu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya, pada hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur”.
     Malam tersebut adalah malam mulia, tidak mudah diketahui betapa besar kemuliaannya. Hal ini diisyaratkan dengan adanya “pertanyaan” dalam bentuk pengagungan, yaitu “Wa ma adraka ma lailatul Qadr?”, yang artinya, “Apakah malam kemuliaan itu?”
    Kalimat “Ma adraka” muncul 13 kali dalam Al-Quran, yang 10 kali bertanya tentang kehebatan yang terkait dengan hari kemudian, seperti “Ma adraka ma Yaumul Al-Fashl”, Ma adraka ma Al-Haqqah, Ma adraka ma 'illiyyun, dan sebagainya.
     Semuanya merupakan hal yang sulit dipahami bahkan mustahil dijangkau oleh akal pikiran manusia.
     Dalam 13 kali kalimat “Ma adraka” itu terdapat 3 kali yang mengatakan “Ma adraka math thariq”, “Ma adraka mal aqabah”, dan “Ma adraka malailatul qadr”.
     Kalau dilihat pemakaian Al-Quran tentang hal yang menjadi objek pertanyaan, maka semuanya adalah yang sangat hebat dan sulit dijangkau hakikatnya secara sempurna oleh akal pikiran manusia.
     Hal ini tentunya termasuk malam “Lailatul Qadar” yang menjadi pokok bahasan.
     Sebagian ulama membedakan antara pertanyaan “Ma adraka” dengan “Ma yudrika” yang juga digunakan oleh Al-Quran dalam 3 ayat.
     Al-Quran surah Al-Ahzab, surah ke-33 ayat 63.

يَسْأَلُكَ النَّاسُ عَنِ السَّاعَةِ ۖ قُلْ إِنَّمَا عِلْمُهَا عِنْدَ اللَّهِ ۚ وَمَا يُدْرِيكَ لَعَلَّ السَّاعَةَ تَكُونُ قَرِيبًا

      “Manusia bertanya kepadamu tentang hari berbangkit. Katakan, ‘Sesungguhnya pengetahuan tentang hari berbangkit hanya di sisi Allah’, dan tahukah kamu (Hai Muhammad), boleh Jadi hari berbangkit sudah dekat waktunya”.
     Al-Quran surah As-Syura, surah ke-42 ayat 17.

اللَّهُ الَّذِي أَنْزَلَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ وَالْمِيزَانَ ۗ وَمَا يُدْرِيكَ لَعَلَّ السَّاعَةَ قَرِيبٌ

     “Allah yang menurunkan kitab dengan (membawa) kebenaran dan (menurunkan) neraca (keadilan). dan tahukah kamu, boleh Jadi hari kiamat itu (sudah) dekat?”
     Al-Quran surah Abasa, surah ke-80 ayat 3.

وَمَا يُدْرِيكَ لَعَلَّهُ يَزَّكَّىٰ

     “Tahukah kamu barangkali dia ingin membersihkan dirinya (dari dosa)”.
      Dua hal yang dipertanyakan dengan “wa ma yudrika”., yang pertama, menyangkut waktu kedatangan hari kiamat, dan yang kedua,  hal yang berkaitan dengan kesucian jiwa manusia.
    Secara gamblang, Al-Quran dan hadis menyatakan bahwa Nabi Muhammad tidak mengetahui kapan datangnya hari kiamat, dan tidak pula mengetahui tentang hal-hal yang gaib.
     Hal ini berarti bahwa “Ma yudrika” digunakan oleh Al-Quran untuk menyatakan hal-hal yang tidak mungkin diketahui, meskipun oleh Nabi Muhammad sendiri, sedangkan “Wa ma adraka”, walaupun berupa pertanyaan, namun pada akhirnya Allah menyampaikannya kepada Nabi, sehingga informasi lanjutan dapat diperoleh dari beliau.
     Kesimpulannya, bahwa informasi tenang malam Lailatul Qadar harus merujuk kepada Al-Quran dan hadis Nabi. 
Daftar Pustaka
1. Shihab, M.Quraish. Lentera Hati. Kisah dan Hikmah Kehidupan. Penerbit Mizan, 1994.  
2. Shihab, M.Quraish. E-book Membumikan Al-Quran.
3. Al-Quran Digital, Versi 3.2. Digital Qur’an Ver 3.

742. QADAR1

MALAM LAILATUL QADAR
(Seri ke-1)
Oleh: Drs. H.M. Yusron Hadi, M.M.



       Beberapa orang bertanya,”Mohon dijelaskan tentang malam Lailatul Qadar dalam   Al-Quran? Profesor Quraish Shihab menjelaskannya
      Surah Al-Qadar adalah surah ke-97 dari 114 surah dalam Al-Quran, menurut urutannya dalam mushaf Al-Quran diletakkan sesudah surah Iqra, surah ke-96.
     Para ulama Al-Quran menyatakan bahwa surah Al-Qadar, surah ke-97, turun  jauh sesudah turunnya surah Iqra, surah ke-96.
     Surah Iqra, surah ke-96, turun di Mekah, sedangkan para ulama menjelaskan  bahwa surah Al-Qadar, surah ke-97, turun setelah Nabi Muhammad berhijrah dari Mekah ke Madinah.
     Para ulama menjelaskan bahwa penempatan dan perurutan surah dalam Al-Quran dilakukan langsung atas perintah Allah, dan ternyata dari perurutannya ditemukan keserasian yang mengagumkan.
     Kalau dalam surah Iqra', surah ke-96, Nabi Muhammad dan umat Islam diperintahkan untuk membaca dan yang dibaca termasuk Al-Quran, maka sangat wajar apabila sesudah surah Iqra, surah ke-96, urutan berikutnya adalah surah Al-Qadr, surah ke-97, yang berbicara tentang turunnya Al-Quran dan malam kemuliaan yang terpilih sebagai malam awal turunnya Al-Quran.
    Bulan Ramadan memiliki banyak keistimewaan, salah satunya adalah malam “Lailatul Qadar”, yaitu satu malam yang oleh Al-Quran dikatakan “lebih baik daripada seribu bulan”.
    Tetapi, apa dan bagaimana malam “Lailatul Qadar” itu? Apakah hanya terjadi sekali saja, yaitu hanya pada malam ketika awal turunnya Al-Quran pada zaman Nabi atau terjadi setiap bulan Ramadan sepanjang sejarah?
    Bagaimana kedatangannya, apakah setiap orang yang menantinya pasti akan mendapatkannya? Benarkah terdapat tanda fisik material yang menyertai kehadirannya, seperti membekunya air, heningnya malam dan menunduknya pepohonan, dan sebagainya? Masih banyak lagi pertanyaan yang dapat dan sering muncul berkaitan dengan malam “Lailatul Qadar”.
     Yang pasti, dan ini harus diyakini oleh umat Islam berdasarkan pernyataan Al-Quran, bahwa “Ada suatu malam yang bernama Lailatul Qadar”.
    Al-Quran surah Al-Qadar, surah ke-97 ayat 1-5.

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِمْ مِنْ كُلِّ أَمْرٍ سَلَامٌ هِيَ حَتَّىٰ مَطْلَعِ الْفَجْرِ

     “Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Quran) pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu Apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik daripada seribu bulan. Pada malam itu turun para malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar”.
     Al-Quran surah Ad-Dukhan, surah ke-44 ayat 3.

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةٍ مُبَارَكَةٍ ۚ إِنَّا كُنَّا مُنْذِرِينَ

     “Sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi, dan Sesungguhnya Kami-lah yang memberikan peringatan”.
      Malam yang diberkahi adalah malam ketika Al-Quran pertama kali diturunkan kepada Nabi Muhammad.
Al-Quran surah Al-Baqarah, ke-2 ayat 185.

أُحِلَّ لَكُمْ لَيْلَةَ الصِّيَامِ الرَّفَثُ إِلَىٰ نِسَائِكُمْ ۚ هُنَّ لِبَاسٌ لَكُمْ وَأَنْتُمْ لِبَاسٌ لَهُنَّ ۗ عَلِمَ اللَّهُ أَنَّكُمْ كُنْتُمْ تَخْتَانُونَ أَنْفُسَكُمْ فَتَابَ عَلَيْكُمْ وَعَفَا عَنْكُمْ ۖ فَالْآنَ بَاشِرُوهُنَّ وَابْتَغُوا مَا كَتَبَ اللَّهُ لَكُمْ ۚ وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّىٰ يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الْأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الْأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ ۖ ثُمَّ أَتِمُّوا الصِّيَامَ إِلَى اللَّيْلِ ۚ وَلَا تُبَاشِرُوهُنَّ وَأَنْتُمْ عَاكِفُونَ فِي الْمَسَاجِدِ ۗ تِلْكَ حُدُودُ اللَّهِ فَلَا تَقْرَبُوهَا ۗ كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ آيَاتِهِ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَّقُونَ

      “(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al-Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang batil). Karena itu, barangsiapa di antaramu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya, pada hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur”.
     Malam tersebut adalah malam mulia, tidak mudah diketahui betapa besar kemuliaannya. Hal ini diisyaratkan dengan adanya “pertanyaan” dalam bentuk pengagungan, yaitu “Wa ma adraka ma lailatul Qadr?”, yang artinya, “Apakah malam kemuliaan itu?”
    Kalimat “Ma adraka” muncul 13 kali dalam Al-Quran, yang 10 kali bertanya tentang kehebatan yang terkait dengan hari kemudian, seperti “Ma adraka ma Yaumul Al-Fashl”, Ma adraka ma Al-Haqqah, Ma adraka ma 'illiyyun, dan sebagainya.
     Semuanya merupakan hal yang sulit dipahami bahkan mustahil dijangkau oleh akal pikiran manusia.
     Dalam 13 kali kalimat “Ma adraka” itu terdapat 3 kali yang mengatakan “Ma adraka math thariq”, “Ma adraka mal aqabah”, dan “Ma adraka malailatul qadr”.
     Kalau dilihat pemakaian Al-Quran tentang hal yang menjadi objek pertanyaan, maka semuanya adalah yang sangat hebat dan sulit dijangkau hakikatnya secara sempurna oleh akal pikiran manusia.
     Hal ini tentunya termasuk malam “Lailatul Qadar” yang menjadi pokok bahasan.
     Sebagian ulama membedakan antara pertanyaan “Ma adraka” dengan “Ma yudrika” yang juga digunakan oleh Al-Quran dalam 3 ayat.
     Al-Quran surah Al-Ahzab, surah ke-33 ayat 63.

يَسْأَلُكَ النَّاسُ عَنِ السَّاعَةِ ۖ قُلْ إِنَّمَا عِلْمُهَا عِنْدَ اللَّهِ ۚ وَمَا يُدْرِيكَ لَعَلَّ السَّاعَةَ تَكُونُ قَرِيبًا

      “Manusia bertanya kepadamu tentang hari berbangkit. Katakan, ‘Sesungguhnya pengetahuan tentang hari berbangkit hanya di sisi Allah’, dan tahukah kamu (Hai Muhammad), boleh Jadi hari berbangkit sudah dekat waktunya”.
     Al-Quran surah As-Syura, surah ke-42 ayat 17.

اللَّهُ الَّذِي أَنْزَلَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ وَالْمِيزَانَ ۗ وَمَا يُدْرِيكَ لَعَلَّ السَّاعَةَ قَرِيبٌ

     “Allah yang menurunkan kitab dengan (membawa) kebenaran dan (menurunkan) neraca (keadilan). dan tahukah kamu, boleh Jadi hari kiamat itu (sudah) dekat?”
     Al-Quran surah Abasa, surah ke-80 ayat 3.

وَمَا يُدْرِيكَ لَعَلَّهُ يَزَّكَّىٰ

     “Tahukah kamu barangkali dia ingin membersihkan dirinya (dari dosa)”.
      Dua hal yang dipertanyakan dengan “wa ma yudrika”., yang pertama, menyangkut waktu kedatangan hari kiamat, dan yang kedua,  hal yang berkaitan dengan kesucian jiwa manusia.
    Secara gamblang, Al-Quran dan hadis menyatakan bahwa Nabi Muhammad tidak mengetahui kapan datangnya hari kiamat, dan tidak pula mengetahui tentang hal-hal yang gaib.
     Hal ini berarti bahwa “Ma yudrika” digunakan oleh Al-Quran untuk menyatakan hal-hal yang tidak mungkin diketahui, meskipun oleh Nabi Muhammad sendiri, sedangkan “Wa ma adraka”, walaupun berupa pertanyaan, namun pada akhirnya Allah menyampaikannya kepada Nabi, sehingga informasi lanjutan dapat diperoleh dari beliau.
     Kesimpulannya, bahwa informasi tenang malam Lailatul Qadar harus merujuk kepada Al-Quran dan hadis Nabi. 
Daftar Pustaka
1. Shihab, M.Quraish. Lentera Hati. Kisah dan Hikmah Kehidupan. Penerbit Mizan, 1994.  
2. Shihab, M.Quraish. E-book Membumikan Al-Quran.
3. Al-Quran Digital, Versi 3.2. Digital Qur’an Ver 3.

Monday, March 19, 2018

741. HIKMAH

HIKMAH PUASA
Oleh: Drs. H. M. Yusron Hadi, M.M


      Beberapa orang bertanya,”Mohon dijelaskan tentang hikmah dan manfaat berpuasa menurut agama Islam?” Ustad Sulaiman Rasjid menjelaskannya.
      Kata “puasa” menurut KBBI V dapat diartikan “meniadakan makan, minum, dan sebagainya dengan sengaja (terutama berkaitan dengan keagamaan)”, “salah satu rukun Islam berupa ibadah menahan diri atau berpantang makan, minum, dan segala yang membatalkannya mulai terbit fajar sampai terbenam matahari”, atau “saum”.
      Ramadan adalah bulan ke-9 tahun Hijrah (sebanyak 29 atau 30 hari), pada bulan Ramadan ini semua orang Islam yang sudah akil balig diwajibkan berpuasa.
      Puasa (saumu) menurut bahasa Arab adalah menahan diri dari segala sesuatu, seperti menahan makan, minum, nafsu, menahan berbicara yang tidak bermanfaat dan sebagainya.
      Menurut istilah agama Islam, “puasa” adalah menahan diri dari sesuatu yang membatalkannya, satu hari lamanya, mulai terbit fajar sampai terbenam matahari dengan niat dan beberapa syarat.
      Al-Quran surah Al-Baqarah, surah ke-2 ayat 183.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
    
“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atasmu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelummu agar kamu bertakwa.”
      Al-Quran surah Al-Baqarah, surah ke-2 ayat 184.

أَيَّامًا مَعْدُودَاتٍ ۚ فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَرِيضًا أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ ۚ وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ ۖ فَمَنْ تَطَوَّعَ خَيْرًا فَهُوَ خَيْرٌ لَهُ ۚ وَأَنْ تَصُومُوا خَيْرٌ لَكُمْ ۖ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ

      “(Yaitu) dalam beberapa hari yang tertentu. Maka barangsiapa di antaramu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidiah, (yaitu): memberi makan seorang miskin. Barangsiapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka itulah yang lebih baik baginya. Dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.”
      Al-Quran surah Al-Baqarah, surah ke-2 ayat 185.

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَىٰ وَالْفُرْقَانِ ۚ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ ۖ وَمَنْ كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ ۗ يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

      “(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al-Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang batil). Karena itu, barangsiapa di antaramu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.”
      Al-Quran surah Al-Baqarah, surah ke-2 ayat 187.

أُحِلَّ لَكُمْ لَيْلَةَ الصِّيَامِ الرَّفَثُ إِلَىٰ نِسَائِكُمْ ۚ هُنَّ لِبَاسٌ لَكُمْ وَأَنْتُمْ لِبَاسٌ لَهُنَّ ۗ عَلِمَ اللَّهُ أَنَّكُمْ كُنْتُمْ تَخْتَانُونَ أَنْفُسَكُمْ فَتَابَ عَلَيْكُمْ وَعَفَا عَنْكُمْ ۖ فَالْآنَ بَاشِرُوهُنَّ وَابْتَغُوا مَا كَتَبَ اللَّهُ لَكُمْ ۚ وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّىٰ يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الْأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الْأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ ۖ ثُمَّ أَتِمُّوا الصِّيَامَ إِلَى اللَّيْلِ ۚ وَلَا تُبَاشِرُوهُنَّ وَأَنْتُمْ عَاكِفُونَ فِي الْمَسَاجِدِ ۗ تِلْكَ حُدُودُ اللَّهِ فَلَا تَقْرَبُوهَا ۗ كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ آيَاتِهِ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَّقُونَ

      “Dihalalkan bagimu pada malam hari bulan Puasa bercampur dengan istri-istrimu; mereka itu adalah pakaian bagimu, dan kamu pun adalah pakaian bagi mereka. Allah mengetahui bahwasanya kamu tidak dapat menahan nafsumu, karena itu Allah mengampunimu dan memberi maaf kepadamu. Maka sekarang campurilah mereka dan carilah apa yang telah ditetapkan Allah untukmu, dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakan puasa itu sampai (datang) malam, (tetapi) janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu beriktikaf dalam masjid. Itulah larangan Allah, maka janganlah kamu mendekatinya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia, supaya mereka bertakwa.”
      Syarat wajib berpuasa Ramadan adalah berikut ini. Pertama, orang yang berakal, orang gila tidak wajib berpuasa. Kedua, orang yang sudah balig, sekitar berumur 15 tahun. Anak-anak tidak wajib berpuasa, tetapi perlu berlatih berpuasa.
    Ketiga, orang yang kuat berpuasa. Orang yang tidak kuat berpuasa karena sudah tua atau sakit tidak wajib berpuasa, tetapi wajib membayar fidiah, yaitu memberi makan seorang miskin.
      Syarat sah orang yang berpuasa Ramadan adalah berikut ini. Ke-1, orang Islam. Orang yang bukan beragama Islam yang ikut berpuasa Ramadan, maka puasanya tidak sah. Ke-2, orang yang sudah “mumayiz”, yaitu orang yang sudah mampu membedakan hal-hal yang baik dan hal-hal yang tidak baik.
      Ke-3, suci dari darah “haid” (kotoran) dan darah “nifas” (darah wanita sehabis melahirkan bayi), tetapi wajib mengganti puasanya pada hari yang lain. Ke-4, pada waktu dibolehkan berpuasa. Waktu yang dilarang berpuasa adalah pada hari raya Idul Fitri, Idul Adha, dan tiga hari tasyrik yaitu tanggal 11, 12, dan 13 bulan Haji.
      Rukun adalah hal-hal yang harus dipenuhi untuk sahnya suatu pekerjaan, sehingga rukun berpuasa Ramadan adalah  hal-hal yang harus dipenuhi agar puasa Ramadan menjadi sah.   
      Rukun berpuasa Ramadan adalah berikut ini.
      Pertama, berniat puasa Ramadan pada malam hari sebelum berpuasa esok paginya, sedangkan berniat untuk puasa sunah boleh dikerjakan pada pagi hari sebelum masuk waktu salat Zuhur.
      Kedua, menahan segala hal yang membatalkan puasa sejak waktu Subuh (terbit fajar) sampai Magrib (terbenam matahari). Jika kedua rukun berpuasa Ramadan tersebut dilanggar, maka puasanya tidak sah.
      Hal-hal yang membatalkan puasa Ramadan adalah berikut ini. Ke-1, makan dan minum dengan sengaja. Ke-2, muntah dengan sengaja, meskipun tidak ada benda apa pun yang masuk ke dalam mulut.
      Ke-3, berhubungan suami istri. Ke-4, keluar darah haid atau darah nifas. Ke-5, gila. Ke-6, keluar air mani dengan sengaja. Jika hal-hal yang membatalkan puasa tersebut terjadi pada rentang waktu sejak terbit fajar sampai matahari terbenam, maka puasanya batal.
      Hikmah dan manfaat berpuasa adalah berikut ini.
      Ke-1, sebagai tanda syukur kepada Allah atas segala nikmat pemberian dari Allah yang tidak terhitung banyaknya. Ke-2, melatih disiplin dalam ketakwaan. Orang yang berpuasa sanggup menahan tidak makan dan tidak minum dari harta halal kepunyaannya sendiri karena perintah Allah, niscaya terlatih untuk  melaksanakan semua perintah Allah dan menjauhi larangan Allah.
      Ke-3, menanamkan perasaan empati terhadap kaum fakir miskin, sehingga mudah menolong orang yang membutuhkan. Ke-4,  menjaga kesehatan. Dengan berpuasa tubuh menjadi lebih sehat, karena makan dan minum yang teratur dan tidak berlebihan.
Daftar Pustaka
1. Rasjid, Sulaiman. Fikih Islam (Hukum Fikih Lengkap).  Penerbit Sinar Baru Algensindo. Cetakan ke-80, Bandung. 2017.
2. Al-Quran Digital, Versi 3.2. Digital Qur’an Ver 3.2
3. Tafsirq.com online

741. HIKMAH

HIKMAH PUASA
Oleh: Drs. H. M. Yusron Hadi, M.M


      Beberapa orang bertanya,”Mohon dijelaskan tentang hikmah dan manfaat berpuasa menurut agama Islam?” Ustad Sulaiman Rasjid menjelaskannya.
      Kata “puasa” menurut KBBI V dapat diartikan “meniadakan makan, minum, dan sebagainya dengan sengaja (terutama berkaitan dengan keagamaan)”, “salah satu rukun Islam berupa ibadah menahan diri atau berpantang makan, minum, dan segala yang membatalkannya mulai terbit fajar sampai terbenam matahari”, atau “saum”.
      Ramadan adalah bulan ke-9 tahun Hijrah (sebanyak 29 atau 30 hari), pada bulan Ramadan ini semua orang Islam yang sudah akil balig diwajibkan berpuasa.
      Puasa (saumu) menurut bahasa Arab adalah menahan diri dari segala sesuatu, seperti menahan makan, minum, nafsu, menahan berbicara yang tidak bermanfaat dan sebagainya.
      Menurut istilah agama Islam, “puasa” adalah menahan diri dari sesuatu yang membatalkannya, satu hari lamanya, mulai terbit fajar sampai terbenam matahari dengan niat dan beberapa syarat.
      Al-Quran surah Al-Baqarah, surah ke-2 ayat 183.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
    
“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atasmu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelummu agar kamu bertakwa.”
      Al-Quran surah Al-Baqarah, surah ke-2 ayat 184.

أَيَّامًا مَعْدُودَاتٍ ۚ فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَرِيضًا أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ ۚ وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ ۖ فَمَنْ تَطَوَّعَ خَيْرًا فَهُوَ خَيْرٌ لَهُ ۚ وَأَنْ تَصُومُوا خَيْرٌ لَكُمْ ۖ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ

      “(Yaitu) dalam beberapa hari yang tertentu. Maka barangsiapa di antaramu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidiah, (yaitu): memberi makan seorang miskin. Barangsiapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka itulah yang lebih baik baginya. Dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.”
      Al-Quran surah Al-Baqarah, surah ke-2 ayat 185.

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَىٰ وَالْفُرْقَانِ ۚ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ ۖ وَمَنْ كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ ۗ يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

      “(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al-Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang batil). Karena itu, barangsiapa di antaramu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.”
      Al-Quran surah Al-Baqarah, surah ke-2 ayat 187.

أُحِلَّ لَكُمْ لَيْلَةَ الصِّيَامِ الرَّفَثُ إِلَىٰ نِسَائِكُمْ ۚ هُنَّ لِبَاسٌ لَكُمْ وَأَنْتُمْ لِبَاسٌ لَهُنَّ ۗ عَلِمَ اللَّهُ أَنَّكُمْ كُنْتُمْ تَخْتَانُونَ أَنْفُسَكُمْ فَتَابَ عَلَيْكُمْ وَعَفَا عَنْكُمْ ۖ فَالْآنَ بَاشِرُوهُنَّ وَابْتَغُوا مَا كَتَبَ اللَّهُ لَكُمْ ۚ وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّىٰ يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الْأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الْأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ ۖ ثُمَّ أَتِمُّوا الصِّيَامَ إِلَى اللَّيْلِ ۚ وَلَا تُبَاشِرُوهُنَّ وَأَنْتُمْ عَاكِفُونَ فِي الْمَسَاجِدِ ۗ تِلْكَ حُدُودُ اللَّهِ فَلَا تَقْرَبُوهَا ۗ كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ آيَاتِهِ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَّقُونَ

      “Dihalalkan bagimu pada malam hari bulan Puasa bercampur dengan istri-istrimu; mereka itu adalah pakaian bagimu, dan kamu pun adalah pakaian bagi mereka. Allah mengetahui bahwasanya kamu tidak dapat menahan nafsumu, karena itu Allah mengampunimu dan memberi maaf kepadamu. Maka sekarang campurilah mereka dan carilah apa yang telah ditetapkan Allah untukmu, dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakan puasa itu sampai (datang) malam, (tetapi) janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu beriktikaf dalam masjid. Itulah larangan Allah, maka janganlah kamu mendekatinya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia, supaya mereka bertakwa.”
      Syarat wajib berpuasa Ramadan adalah berikut ini. Pertama, orang yang berakal, orang gila tidak wajib berpuasa. Kedua, orang yang sudah balig, sekitar berumur 15 tahun. Anak-anak tidak wajib berpuasa, tetapi perlu berlatih berpuasa.
    Ketiga, orang yang kuat berpuasa. Orang yang tidak kuat berpuasa karena sudah tua atau sakit tidak wajib berpuasa, tetapi wajib membayar fidiah, yaitu memberi makan seorang miskin.
      Syarat sah orang yang berpuasa Ramadan adalah berikut ini. Ke-1, orang Islam. Orang yang bukan beragama Islam yang ikut berpuasa Ramadan, maka puasanya tidak sah. Ke-2, orang yang sudah “mumayiz”, yaitu orang yang sudah mampu membedakan hal-hal yang baik dan hal-hal yang tidak baik.
      Ke-3, suci dari darah “haid” (kotoran) dan darah “nifas” (darah wanita sehabis melahirkan bayi), tetapi wajib mengganti puasanya pada hari yang lain. Ke-4, pada waktu dibolehkan berpuasa. Waktu yang dilarang berpuasa adalah pada hari raya Idul Fitri, Idul Adha, dan tiga hari tasyrik yaitu tanggal 11, 12, dan 13 bulan Haji.
      Rukun adalah hal-hal yang harus dipenuhi untuk sahnya suatu pekerjaan, sehingga rukun berpuasa Ramadan adalah  hal-hal yang harus dipenuhi agar puasa Ramadan menjadi sah.   
      Rukun berpuasa Ramadan adalah berikut ini.
      Pertama, berniat puasa Ramadan pada malam hari sebelum berpuasa esok paginya, sedangkan berniat untuk puasa sunah boleh dikerjakan pada pagi hari sebelum masuk waktu salat Zuhur.
      Kedua, menahan segala hal yang membatalkan puasa sejak waktu Subuh (terbit fajar) sampai Magrib (terbenam matahari). Jika kedua rukun berpuasa Ramadan tersebut dilanggar, maka puasanya tidak sah.
      Hal-hal yang membatalkan puasa Ramadan adalah berikut ini. Ke-1, makan dan minum dengan sengaja. Ke-2, muntah dengan sengaja, meskipun tidak ada benda apa pun yang masuk ke dalam mulut.
      Ke-3, berhubungan suami istri. Ke-4, keluar darah haid atau darah nifas. Ke-5, gila. Ke-6, keluar air mani dengan sengaja. Jika hal-hal yang membatalkan puasa tersebut terjadi pada rentang waktu sejak terbit fajar sampai matahari terbenam, maka puasanya batal.
      Hikmah dan manfaat berpuasa adalah berikut ini.
      Ke-1, sebagai tanda syukur kepada Allah atas segala nikmat pemberian dari Allah yang tidak terhitung banyaknya. Ke-2, melatih disiplin dalam ketakwaan. Orang yang berpuasa sanggup menahan tidak makan dan tidak minum dari harta halal kepunyaannya sendiri karena perintah Allah, niscaya terlatih untuk  melaksanakan semua perintah Allah dan menjauhi larangan Allah.
      Ke-3, menanamkan perasaan empati terhadap kaum fakir miskin, sehingga mudah menolong orang yang membutuhkan. Ke-4,  menjaga kesehatan. Dengan berpuasa tubuh menjadi lebih sehat, karena makan dan minum yang teratur dan tidak berlebihan.
Daftar Pustaka
1. Rasjid, Sulaiman. Fikih Islam (Hukum Fikih Lengkap).  Penerbit Sinar Baru Algensindo. Cetakan ke-80, Bandung. 2017.
2. Al-Quran Digital, Versi 3.2. Digital Qur’an Ver 3.2
3. Tafsirq.com online