Organisasi Profesi Guru

Presiden Jokowi memberi hormat kepada Guru-Guru se Indonesia.

Tema Gambar Slide 2

Deskripsi gambar slide bisa dituliskan disini dengan beberapa kalimat yang menggambarkan gambar slide yang anda pasang, edit slide ini melalui edit HTML template.

Tema Gambar Slide 3

Deskripsi gambar slide bisa dituliskan disini dengan beberapa kalimat yang menggambarkan gambar slide yang anda pasang, edit slide ini melalui edit HTML template.

Wednesday, May 23, 2018

844. MUSA2

NABI MUSA INGIN MELIHAT ALLAH.
MENGAPA ALLAH TAK DAPAT DILIHAT?
Oleh: Drs. H. M. Yusron Hadi, M.M.

Al-Quran surah Al-A’raf, surah ke-7 ayat 143.
وَلَمَّا جَاءَ مُوسَىٰ لِمِيقَاتِنَا وَكَلَّمَهُ رَبُّهُ قَالَ رَبِّ أَرِنِي أَنْظُرْ إِلَيْكَ ۚ قَالَ لَنْ تَرَانِي وَلَٰكِنِ انْظُرْ إِلَى الْجَبَلِ فَإِنِ اسْتَقَرَّ مَكَانَهُ فَسَوْفَ تَرَانِي ۚ فَلَمَّا تَجَلَّىٰ رَبُّهُ لِلْجَبَلِ جَعَلَهُ دَكًّا وَخَرَّ مُوسَىٰ صَعِقًا ۚ فَلَمَّا أَفَاقَ قَالَ سُبْحَانَكَ تُبْتُ إِلَيْكَ وَأَنَا أَوَّلُ الْمُؤْمِنِينَ

      “Tatkala Musa datang bermunajat kepada Kami. Pada waktu yang telah Kami tentukan. Tuhan berfirman (langsung) kepadanya. Musa berkata, "Ya Tuhanku. Tampakkan (diri Engkau) kepadaku. Agar aku dapat melihat Engkau". Tuhan berfirman,"Kamu tidak akan sanggup melihat-Ku. Tetapi lihatlah ke bukit itu. Jika dia tetap di tempatnya seperti semula. Niscaya kamu dapat melihat-Ku". Tatkala Tuhannya menampakkan diri kepada gunung itu. Dijadikan gunung itu hancur luluh. Musa jatuh pingsan. Setelah Musa sadar kembali. Dia berkata,"Maha Suci Engkau. Aku bertobat kepada Engkau. Aku orang yang pertama kali beriman".
      Al-Quran surah Al-Mulk, surah ke-67 ayat 3.

الَّذِي خَلَقَ سَبْعَ سَمَاوَاتٍ طِبَاقًا ۖ مَا تَرَىٰ فِي خَلْقِ الرَّحْمَٰنِ مِنْ تَفَاوُتٍ ۖ فَارْجِعِ الْبَصَرَ هَلْ تَرَىٰ مِنْ فُطُورٍ

      “Yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis. Kamu tidak akan melihat ciptaan Tuhan Yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang. Lihatlah berulang-ulang. Apakah kamu melihat sesuatu yang tidak presisi?”
      Al-Quran surah At-Tallak, surah ke-65 ayat 12.

اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ سَبْعَ سَمَاوَاتٍ وَمِنَ الْأَرْضِ مِثْلَهُنَّ يَتَنَزَّلُ الْأَمْرُ بَيْنَهُنَّ لِتَعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ وَأَنَّ اللَّهَ قَدْ أَحَاطَ بِكُلِّ شَيْءٍ عِلْمًا

      “Allah menciptakan tujuh langit dan seperti itu pula bumi. Perintah Allah berlaku padanya. Agar kamu mengetahui Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. Sungguh, ilmu Allah benar-benar meliputi segala sesuatu.”
      Para ulama berusaha menjelaskan mengapa Allah tidak dapat dilihat? Mengapa mata manusia tidak mampu melihat Allah? Salah satu Jawabannya adalah “Allahu akbar” (Allah Yang Maha Lebih Besar).
      Emha Ainun Nadjib menjelaskan perbedaan antara “kabir” dan “akbar” serta perbedaan antara “Allahu kabir” dengan “Allahu akbar”.
      Dalam bahasa Arab, kata “besar” adalah “kabir” dengan “biir” panjang untuk Allah dan “kaa” panjang untuk selain Allah, sehingga “Akbar” bermakna “lebih besar” dan “Allahu kabir” berarti “Allah Yang Maha Besar”, sedangkan “Allahu Akbar” artinya “Allah Yang Maha Lebih Besar”.
      Allah selalu Maha Lebih Besar dan terus Maha Lebih Besar, seirama dengan dinamika penghayatan manusia sebagai hamba Allah yang selalu berkembang pengalaman hidupnya.
      Manusia selama hidupnya dapat menemukan tanpa henti sesuai dengan perkembangannya, sehingga Allah selalu Maha Lebih Besar dibandingkan yang dirasakan manusia sebelumnya, begitu seterusnya.
     Khalid Basalamah menjawab pertanyaan, “Mengapa Allah tidak mampu dilihat oleh mata manusia?” Salah satu jawabnya adalah karena “Allahu akbar” (Allah Maha Amat Sangat Besar Sekali), karena “Allah Maha Sangat Luar Biasa Besar Sekali”, maka mata manusia tidak mampu melihat-Nya.
      Nabi bersabda, “Perumpamaan besarnya bumi dibandingkan dengan besarnya langit pertama adalah bagaikan perbandingan sebuah cincin diletakkan di lautan padang pasir yang sangat luas.”
      Para ulama menjelaskan bahwa bumi, bulan, matahari, planet, dan bintang kemintang yang kita lihat setiap hari semuanya berada di bawah langit pertama, serta para ilmuwan belum mengetahui batas terjauh langit pertama, sampai sekarang.
      Nabi bersabda,“Perumpamaan luasnya langit pertama beserta isinya dibandingkan dengan luasnya langit kedua adalah bagaikan sebuah cincin diletakkan di lautan padang pasir yang sangat luas.”
      Luasnya langit ke-2 yang berisi langit ke-1 dan ke-2, beserta isinya dibandingkan dengan luasnya langit ke-3 adalah seperti sebuah cincin dibuang di lautan padang pasir yang sangat luas.
      Luasnya langit ke-3, yang berisi langit ke-1, ke-2, dan ke-3 beserta isinya dibandingkan dengan luasnya langit ke-4 adalah seperti sebuah cincin dibuang di lautan padang pasir yang sangat luas.
      Begitu seterusnya perumpamaan ukuran perbandingan langit ke-4, ke-5, ke-6 , sampai langit ke-7.
      Luasnya langit ke-7 yang berisi langit ke-1, ke-2, ke-3, ke-4, ke-5, ke-6, apabila dibandingkan dengan luasnya langit ke-8 ibarat sebuah cincin yang dilemparkan ke lautan padang pasir yang sangat luas.
      Luasnya langit ke-8 yang berisi langit ke-1, ke-2, ke-3, ke-4, ke-5, ke-6, dank e-7 apabila dibandingkan dengan luasnya langit di atasnya ibarat sebuah cincin yang dilemparkan ke lautan padang pasir yang sangat luas.
      Langit ke-8 adalah “Arsy” suatu “tempat” (padahal Allah tidak butuh tempat) Allah “bertahta”. Sungguh, “Allahu akbar”. “Allah Maha Lebih Besar. “ Allah Yang Maha Mengetahui.
      Al-Quran surah Al-Buruj, surah ke-85 ayat 13-16.

وَهُوَ الْغَفُورُ الْوَدُودُ ذُو الْعَرْشِ الْمَجِيدُ فَعَّالٌ لِمَا يُرِيدُ

      “Dia (Allah) Yang Maha Pengampun lagi Maha Pengasih, yang mempunyai 'Arsy, lagi Maha Mulia, Maha Kuasa berbuat apa yang dikehendaki-Nya.”

قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ اللَّهُ الصَّمَدُ لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ

      “Katakanlah: "Dia Allah, Yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tidak beranak dan tidak pula diperanakkan, dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia".
     Ya Allah, ampunilah dosa, kesalahan, dan kelemahan kami. Amin.
Daftar Pustaka
1. Bahjat, Ahmad. Nabi Nabi Allah. Penerbit Qisthi Press. Jakarta, 2015.
2. Katsir, Ibnu. Kisah Para Nabi. Penerbit Pustaka Azzam. Jakarta, 2011.
3. Al-Quran Digital, Versi 3.2. Digital Qur’an Ver 3.2.
4. Tafsirq.com online.

844. MUSA2

NABI MUSA INGIN MELIHAT ALLAH.
MENGAPA ALLAH TAK DAPAT DILIHAT?
Oleh: Drs. H. M. Yusron Hadi, M.M.

Al-Quran surah Al-A’raf, surah ke-7 ayat 143.
وَلَمَّا جَاءَ مُوسَىٰ لِمِيقَاتِنَا وَكَلَّمَهُ رَبُّهُ قَالَ رَبِّ أَرِنِي أَنْظُرْ إِلَيْكَ ۚ قَالَ لَنْ تَرَانِي وَلَٰكِنِ انْظُرْ إِلَى الْجَبَلِ فَإِنِ اسْتَقَرَّ مَكَانَهُ فَسَوْفَ تَرَانِي ۚ فَلَمَّا تَجَلَّىٰ رَبُّهُ لِلْجَبَلِ جَعَلَهُ دَكًّا وَخَرَّ مُوسَىٰ صَعِقًا ۚ فَلَمَّا أَفَاقَ قَالَ سُبْحَانَكَ تُبْتُ إِلَيْكَ وَأَنَا أَوَّلُ الْمُؤْمِنِينَ

      “Tatkala Musa datang bermunajat kepada Kami. Pada waktu yang telah Kami tentukan. Tuhan berfirman (langsung) kepadanya. Musa berkata, "Ya Tuhanku. Tampakkan (diri Engkau) kepadaku. Agar aku dapat melihat Engkau". Tuhan berfirman,"Kamu tidak akan sanggup melihat-Ku. Tetapi lihatlah ke bukit itu. Jika dia tetap di tempatnya seperti semula. Niscaya kamu dapat melihat-Ku". Tatkala Tuhannya menampakkan diri kepada gunung itu. Dijadikan gunung itu hancur luluh. Musa jatuh pingsan. Setelah Musa sadar kembali. Dia berkata,"Maha Suci Engkau. Aku bertobat kepada Engkau. Aku orang yang pertama kali beriman".
      Al-Quran surah Al-Mulk, surah ke-67 ayat 3.

الَّذِي خَلَقَ سَبْعَ سَمَاوَاتٍ طِبَاقًا ۖ مَا تَرَىٰ فِي خَلْقِ الرَّحْمَٰنِ مِنْ تَفَاوُتٍ ۖ فَارْجِعِ الْبَصَرَ هَلْ تَرَىٰ مِنْ فُطُورٍ

      “Yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis. Kamu tidak akan melihat ciptaan Tuhan Yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang. Lihatlah berulang-ulang. Apakah kamu melihat sesuatu yang tidak presisi?”
      Al-Quran surah At-Tallak, surah ke-65 ayat 12.

اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ سَبْعَ سَمَاوَاتٍ وَمِنَ الْأَرْضِ مِثْلَهُنَّ يَتَنَزَّلُ الْأَمْرُ بَيْنَهُنَّ لِتَعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ وَأَنَّ اللَّهَ قَدْ أَحَاطَ بِكُلِّ شَيْءٍ عِلْمًا

      “Allah menciptakan tujuh langit dan seperti itu pula bumi. Perintah Allah berlaku padanya. Agar kamu mengetahui Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. Sungguh, ilmu Allah benar-benar meliputi segala sesuatu.”
      Para ulama berusaha menjelaskan mengapa Allah tidak dapat dilihat? Mengapa mata manusia tidak mampu melihat Allah? Salah satu Jawabannya adalah “Allahu akbar” (Allah Yang Maha Lebih Besar).
      Emha Ainun Nadjib menjelaskan perbedaan antara “kabir” dan “akbar” serta perbedaan antara “Allahu kabir” dengan “Allahu akbar”.
      Dalam bahasa Arab, kata “besar” adalah “kabir” dengan “biir” panjang untuk Allah dan “kaa” panjang untuk selain Allah, sehingga “Akbar” bermakna “lebih besar” dan “Allahu kabir” berarti “Allah Yang Maha Besar”, sedangkan “Allahu Akbar” artinya “Allah Yang Maha Lebih Besar”.
      Allah selalu Maha Lebih Besar dan terus Maha Lebih Besar, seirama dengan dinamika penghayatan manusia sebagai hamba Allah yang selalu berkembang pengalaman hidupnya.
      Manusia selama hidupnya dapat menemukan tanpa henti sesuai dengan perkembangannya, sehingga Allah selalu Maha Lebih Besar dibandingkan yang dirasakan manusia sebelumnya, begitu seterusnya.
     Khalid Basalamah menjawab pertanyaan, “Mengapa Allah tidak mampu dilihat oleh mata manusia?” Salah satu jawabnya adalah karena “Allahu akbar” (Allah Maha Amat Sangat Besar Sekali), karena “Allah Maha Sangat Luar Biasa Besar Sekali”, maka mata manusia tidak mampu melihat-Nya.
      Nabi bersabda, “Perumpamaan besarnya bumi dibandingkan dengan besarnya langit pertama adalah bagaikan perbandingan sebuah cincin diletakkan di lautan padang pasir yang sangat luas.”
      Para ulama menjelaskan bahwa bumi, bulan, matahari, planet, dan bintang kemintang yang kita lihat setiap hari semuanya berada di bawah langit pertama, serta para ilmuwan belum mengetahui batas terjauh langit pertama, sampai sekarang.
      Nabi bersabda,“Perumpamaan luasnya langit pertama beserta isinya dibandingkan dengan luasnya langit kedua adalah bagaikan sebuah cincin diletakkan di lautan padang pasir yang sangat luas.”
      Luasnya langit ke-2 yang berisi langit ke-1 dan ke-2, beserta isinya dibandingkan dengan luasnya langit ke-3 adalah seperti sebuah cincin dibuang di lautan padang pasir yang sangat luas.
      Luasnya langit ke-3, yang berisi langit ke-1, ke-2, dan ke-3 beserta isinya dibandingkan dengan luasnya langit ke-4 adalah seperti sebuah cincin dibuang di lautan padang pasir yang sangat luas.
      Begitu seterusnya perumpamaan ukuran perbandingan langit ke-4, ke-5, ke-6 , sampai langit ke-7.
      Luasnya langit ke-7 yang berisi langit ke-1, ke-2, ke-3, ke-4, ke-5, ke-6, apabila dibandingkan dengan luasnya langit ke-8 ibarat sebuah cincin yang dilemparkan ke lautan padang pasir yang sangat luas.
      Luasnya langit ke-8 yang berisi langit ke-1, ke-2, ke-3, ke-4, ke-5, ke-6, dank e-7 apabila dibandingkan dengan luasnya langit di atasnya ibarat sebuah cincin yang dilemparkan ke lautan padang pasir yang sangat luas.
      Langit ke-8 adalah “Arsy” suatu “tempat” (padahal Allah tidak butuh tempat) Allah “bertahta”. Sungguh, “Allahu akbar”. “Allah Maha Lebih Besar. “ Allah Yang Maha Mengetahui.
      Al-Quran surah Al-Buruj, surah ke-85 ayat 13-16.

وَهُوَ الْغَفُورُ الْوَدُودُ ذُو الْعَرْشِ الْمَجِيدُ فَعَّالٌ لِمَا يُرِيدُ

      “Dia (Allah) Yang Maha Pengampun lagi Maha Pengasih, yang mempunyai 'Arsy, lagi Maha Mulia, Maha Kuasa berbuat apa yang dikehendaki-Nya.”

قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ اللَّهُ الصَّمَدُ لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ

      “Katakanlah: "Dia Allah, Yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tidak beranak dan tidak pula diperanakkan, dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia".
     Ya Allah, ampunilah dosa, kesalahan, dan kelemahan kami. Amin.
Daftar Pustaka
1. Bahjat, Ahmad. Nabi Nabi Allah. Penerbit Qisthi Press. Jakarta, 2015.
2. Katsir, Ibnu. Kisah Para Nabi. Penerbit Pustaka Azzam. Jakarta, 2011.
3. Al-Quran Digital, Versi 3.2. Digital Qur’an Ver 3.2.
4. Tafsirq.com online.

843. MUSA

NABI MUSA INGIN MENYAKSIKAN KEADILAN ALLAH
Oleh: Drs. H. M. Yusron Hadi, M.M.

         Beberapa orang bertanya,”Mohon dijelaskan tentang kisah Nabi  Musa yang ingin menyaksikan keadilan Allah?” berikut ini penjelasannya.
         Al-Quran surah At-Tin, surah ke-95 ayat 1-6.

وَالتِّينِ وَالزَّيْتُونِ وَطُورِ سِينِينَ وَهَٰذَا الْبَلَدِ الْأَمِينِ لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ فِي أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ ثُمَّ رَدَدْنَاهُ أَسْفَلَ سَافِلِينَ  إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ فَلَهُمْ أَجْرٌ غَيْرُ مَمْنُونٍ

      “Demi buah Tin dan buah Zaitun. Demi bukit Sinai. Demi kota Mekah yang aman. Sungguh, Kami menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya. Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya (neraka), kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, bagi mereka pahala yang tidak terputus.”
      Alkisah, Nabi Musa berada di bukit Sinai yang lebih dikenal dengan nama bukit  “Thursina” selama 40 hari, karena Nabi Musa sedang menerima wahyu dari Allah melalui Malaikat Jibril, berupa Kitab Taurat.
      Bukit adalah tumpukan tanah yang lebih tinggi daripada tempat sekelilingnya, tetapi lebih rendah daripada gunung, sedangkan gunung adalah bukit yang amat besar dan tinggi, biasanya lebih dari 600 meter.
      Pada hari ke-30, Nabi Musa berdoa,”Ya Allah, ampunilah dosa hamba, karena hamba amat lancang, hamba ingin menyaksikan sendiri dengan mata secara langsung bahwa Engkau Maha Adil.”
      Malaikat Jibril turun,”Wahai Musa, Allah mendengarkan doamu, apakah kamu masih tidak yakin bahwa Allah Maha Adil?” Musa Menjawab,”Ya Allah, ampunilah hamba, sebenarnya hamba sudah yakin bahwa Allah Maha Adil, tetapi hamba ingin lebih yakin dan mantap apabila menyaksikannya sendiri.”
      Malaikat Jibril turun lagi,“Wahai Musa, Allah memberi salam kepadamu apabila  kamu ingin menyaksikan keadilan Allah pergilah mendekat ke sebuah sumber air.” Kemudian Nabi Musa pergi mendekati sebuah sumber air dan Nabi Musa bersembunyi dari kejauhan ingin menyaksikan peristiwa yang akan terjadi.
      Tidak berapa lama kemudian muncul seorang ksatria penunggang kuda yang  membawa sebilah pedang dengan sarungnya yang diselipkan di punggungnya dengan sekantung uang yang menggantung di pinggang kirinya.
      Penunggang kuda langsung turun menuju sumber air lalu dia mencuci muka dan menikmati air sepuasnya. Beberapa saat kemudian, dia meninggalkan sumber air, tetapi sekantung uangnya tertinggal dan tergeletak di atas bebatuan dekat sumber air.
     Penunggang kuda sudah berlalu, lalu muncul seorang anak kecil yang berumur sekitar 9 tahun. Dia menuju sumber air dan mengisi kantung airnya dan anak kecil itu menemukan sekantung uang dan membawanya pergi.
      Anak kecil telah menjauh, kemudian datang seorang tua buta yang  mendengar dan mendekati sumber air, kemudian si orang tua buta mencuci muka dan “bersuci”, lalu dia melaksanakan “salat”.
      Beberapa saat kemudian si ksatria berkuda kembali lagi, dengan cepat dia turun menuju sumber air untuk mencari uangnya yang hilang, tetapi dia tidak menemukannya.
      Dia berteriak, “Hai orang tua, apakah kamu mengambil uangku sekantung yang tertinggal di sini?” Si orang tua menjawab,”Maaf Nak, saya buta, sehingga saya  tidak mengetahui jika ada uang yang tertinggal.”
      Kemudian si penunggang kuda dan orang tua buta bertengkar dan akhirnya si orang tua buta mati terbunuh, lalu si penunggang kuda beranjak pergi meninggalkan mayat si orang tua buta, sedangkan Nabi Musa menyaksikan semuanya dari tempat persembunyian.
     Nabi Musa bergumam, “Sungguh, peristiwa yang tidak adil, sebenarnya yang salah adalah anak kecil, karena dia yang mengambil uangnya. Seandainya, si anak kecil tidak mengambil uang itu, maka si orang tua buta tidak akan mati terbunuh.”
      Malaikat Jibril turun, “Wahai Musa, kamu tidak bisa menilai keadilan Allah, karena kamu hanya menyaksikan peristiwa “sesaat” saja, yang kamu lihat hanya kejadian satu “episode” saja dan kamu tidak mampu melihat seluruh rangkaian kisah yang terjadi.”
      Malaikat Jibril berkata, “Orang tua si anak kecil itu pernah ikut bekerja kepada si penunggang kuda dan dia belum menerima gajinya, karena si penunggang kuda belum membayar gajinya selama bekerja.”
      Malaikat Jibril melanjutkan, “Uang yang belum dibayarkan kepada orang tua si anak kecil, besarnya persis sama dengan jumlah uang yang ditemukan anak itu, yaitu sebesar gaji yang belum dibayarkan, tepat sama dengan jumlah uang dalam kantung penunggang kuda, padahal si penunggang kuda tidak pernah merencanakan membawa uang dalam kantung sejumlah itu.”
      “Orang tua si anak kecil tersebut sudah meninggal dunia, karena dibunuh oleh seseorang dan pembunuhnya adalah si orang tua yang buta itu,” lanjut malaikat Jibril.
     Nabi Musa berkata, “Allah Maha Adil. Ya Allah, ampunilah hamba-Mu yang lemah, hina, daif, dan bodoh ini yang gampang dan cepat menilai sesuatu kejadian hanya berdasarkan penglihatan dan pengetahuan yang sedikit saja.”  
Daftar Pustaka
1. Bahjat, Ahmad. Nabi Nabi Allah. Penerbit Qisthi Press. Jakarta, 2015.
2. Katsir, Ibnu. Kisah Para Nabi. Penerbit Pustaka Azzam. Jakarta, 2011.
3. Al-Quran Digital, Versi 3.2. Digital Qur’an Ver 3.2.
4. Tafsirq.com online.

843. MUSA

NABI MUSA INGIN MENYAKSIKAN KEADILAN ALLAH
Oleh: Drs. H. M. Yusron Hadi, M.M.

         Beberapa orang bertanya,”Mohon dijelaskan tentang kisah Nabi  Musa yang ingin menyaksikan keadilan Allah?” berikut ini penjelasannya.
         Al-Quran surah At-Tin, surah ke-95 ayat 1-6.

وَالتِّينِ وَالزَّيْتُونِ وَطُورِ سِينِينَ وَهَٰذَا الْبَلَدِ الْأَمِينِ لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ فِي أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ ثُمَّ رَدَدْنَاهُ أَسْفَلَ سَافِلِينَ  إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ فَلَهُمْ أَجْرٌ غَيْرُ مَمْنُونٍ

      “Demi buah Tin dan buah Zaitun. Demi bukit Sinai. Demi kota Mekah yang aman. Sungguh, Kami menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya. Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya (neraka), kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, bagi mereka pahala yang tidak terputus.”
      Alkisah, Nabi Musa berada di bukit Sinai yang lebih dikenal dengan nama bukit  “Thursina” selama 40 hari, karena Nabi Musa sedang menerima wahyu dari Allah melalui Malaikat Jibril, berupa Kitab Taurat.
      Bukit adalah tumpukan tanah yang lebih tinggi daripada tempat sekelilingnya, tetapi lebih rendah daripada gunung, sedangkan gunung adalah bukit yang amat besar dan tinggi, biasanya lebih dari 600 meter.
      Pada hari ke-30, Nabi Musa berdoa,”Ya Allah, ampunilah dosa hamba, karena hamba amat lancang, hamba ingin menyaksikan sendiri dengan mata secara langsung bahwa Engkau Maha Adil.”
      Malaikat Jibril turun,”Wahai Musa, Allah mendengarkan doamu, apakah kamu masih tidak yakin bahwa Allah Maha Adil?” Musa Menjawab,”Ya Allah, ampunilah hamba, sebenarnya hamba sudah yakin bahwa Allah Maha Adil, tetapi hamba ingin lebih yakin dan mantap apabila menyaksikannya sendiri.”
      Malaikat Jibril turun lagi,“Wahai Musa, Allah memberi salam kepadamu apabila  kamu ingin menyaksikan keadilan Allah pergilah mendekat ke sebuah sumber air.” Kemudian Nabi Musa pergi mendekati sebuah sumber air dan Nabi Musa bersembunyi dari kejauhan ingin menyaksikan peristiwa yang akan terjadi.
      Tidak berapa lama kemudian muncul seorang ksatria penunggang kuda yang  membawa sebilah pedang dengan sarungnya yang diselipkan di punggungnya dengan sekantung uang yang menggantung di pinggang kirinya.
      Penunggang kuda langsung turun menuju sumber air lalu dia mencuci muka dan menikmati air sepuasnya. Beberapa saat kemudian, dia meninggalkan sumber air, tetapi sekantung uangnya tertinggal dan tergeletak di atas bebatuan dekat sumber air.
     Penunggang kuda sudah berlalu, lalu muncul seorang anak kecil yang berumur sekitar 9 tahun. Dia menuju sumber air dan mengisi kantung airnya dan anak kecil itu menemukan sekantung uang dan membawanya pergi.
      Anak kecil telah menjauh, kemudian datang seorang tua buta yang  mendengar dan mendekati sumber air, kemudian si orang tua buta mencuci muka dan “bersuci”, lalu dia melaksanakan “salat”.
      Beberapa saat kemudian si ksatria berkuda kembali lagi, dengan cepat dia turun menuju sumber air untuk mencari uangnya yang hilang, tetapi dia tidak menemukannya.
      Dia berteriak, “Hai orang tua, apakah kamu mengambil uangku sekantung yang tertinggal di sini?” Si orang tua menjawab,”Maaf Nak, saya buta, sehingga saya  tidak mengetahui jika ada uang yang tertinggal.”
      Kemudian si penunggang kuda dan orang tua buta bertengkar dan akhirnya si orang tua buta mati terbunuh, lalu si penunggang kuda beranjak pergi meninggalkan mayat si orang tua buta, sedangkan Nabi Musa menyaksikan semuanya dari tempat persembunyian.
     Nabi Musa bergumam, “Sungguh, peristiwa yang tidak adil, sebenarnya yang salah adalah anak kecil, karena dia yang mengambil uangnya. Seandainya, si anak kecil tidak mengambil uang itu, maka si orang tua buta tidak akan mati terbunuh.”
      Malaikat Jibril turun, “Wahai Musa, kamu tidak bisa menilai keadilan Allah, karena kamu hanya menyaksikan peristiwa “sesaat” saja, yang kamu lihat hanya kejadian satu “episode” saja dan kamu tidak mampu melihat seluruh rangkaian kisah yang terjadi.”
      Malaikat Jibril berkata, “Orang tua si anak kecil itu pernah ikut bekerja kepada si penunggang kuda dan dia belum menerima gajinya, karena si penunggang kuda belum membayar gajinya selama bekerja.”
      Malaikat Jibril melanjutkan, “Uang yang belum dibayarkan kepada orang tua si anak kecil, besarnya persis sama dengan jumlah uang yang ditemukan anak itu, yaitu sebesar gaji yang belum dibayarkan, tepat sama dengan jumlah uang dalam kantung penunggang kuda, padahal si penunggang kuda tidak pernah merencanakan membawa uang dalam kantung sejumlah itu.”
      “Orang tua si anak kecil tersebut sudah meninggal dunia, karena dibunuh oleh seseorang dan pembunuhnya adalah si orang tua yang buta itu,” lanjut malaikat Jibril.
     Nabi Musa berkata, “Allah Maha Adil. Ya Allah, ampunilah hamba-Mu yang lemah, hina, daif, dan bodoh ini yang gampang dan cepat menilai sesuatu kejadian hanya berdasarkan penglihatan dan pengetahuan yang sedikit saja.”  
Daftar Pustaka
1. Bahjat, Ahmad. Nabi Nabi Allah. Penerbit Qisthi Press. Jakarta, 2015.
2. Katsir, Ibnu. Kisah Para Nabi. Penerbit Pustaka Azzam. Jakarta, 2011.
3. Al-Quran Digital, Versi 3.2. Digital Qur’an Ver 3.2.
4. Tafsirq.com online.

843. MUSA

NABI MUSA INGIN MENYAKSIKAN KEADILAN ALLAH
Oleh: Drs. H. M. Yusron Hadi, M.M.

         Beberapa orang bertanya,”Mohon dijelaskan tentang kisah Nabi  Musa yang ingin menyaksikan keadilan Allah?” berikut ini penjelasannya.
         Al-Quran surah At-Tin, surah ke-95 ayat 1-6.

وَالتِّينِ وَالزَّيْتُونِ وَطُورِ سِينِينَ وَهَٰذَا الْبَلَدِ الْأَمِينِ لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ فِي أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ ثُمَّ رَدَدْنَاهُ أَسْفَلَ سَافِلِينَ  إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ فَلَهُمْ أَجْرٌ غَيْرُ مَمْنُونٍ

      “Demi buah Tin dan buah Zaitun. Demi bukit Sinai. Demi kota Mekah yang aman. Sungguh, Kami menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya. Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya (neraka), kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, bagi mereka pahala yang tidak terputus.”
      Alkisah, Nabi Musa berada di bukit Sinai yang lebih dikenal dengan nama bukit  “Thursina” selama 40 hari, karena Nabi Musa sedang menerima wahyu dari Allah melalui Malaikat Jibril, berupa Kitab Taurat.
      Bukit adalah tumpukan tanah yang lebih tinggi daripada tempat sekelilingnya, tetapi lebih rendah daripada gunung, sedangkan gunung adalah bukit yang amat besar dan tinggi, biasanya lebih dari 600 meter.
      Pada hari ke-30, Nabi Musa berdoa,”Ya Allah, ampunilah dosa hamba, karena hamba amat lancang, hamba ingin menyaksikan sendiri dengan mata secara langsung bahwa Engkau Maha Adil.”
      Malaikat Jibril turun,”Wahai Musa, Allah mendengarkan doamu, apakah kamu masih tidak yakin bahwa Allah Maha Adil?” Musa Menjawab,”Ya Allah, ampunilah hamba, sebenarnya hamba sudah yakin bahwa Allah Maha Adil, tetapi hamba ingin lebih yakin dan mantap apabila menyaksikannya sendiri.”
      Malaikat Jibril turun lagi,“Wahai Musa, Allah memberi salam kepadamu apabila  kamu ingin menyaksikan keadilan Allah pergilah mendekat ke sebuah sumber air.” Kemudian Nabi Musa pergi mendekati sebuah sumber air dan Nabi Musa bersembunyi dari kejauhan ingin menyaksikan peristiwa yang akan terjadi.
      Tidak berapa lama kemudian muncul seorang ksatria penunggang kuda yang  membawa sebilah pedang dengan sarungnya yang diselipkan di punggungnya dengan sekantung uang yang menggantung di pinggang kirinya.
      Penunggang kuda langsung turun menuju sumber air lalu dia mencuci muka dan menikmati air sepuasnya. Beberapa saat kemudian, dia meninggalkan sumber air, tetapi sekantung uangnya tertinggal dan tergeletak di atas bebatuan dekat sumber air.
     Penunggang kuda sudah berlalu, lalu muncul seorang anak kecil yang berumur sekitar 9 tahun. Dia menuju sumber air dan mengisi kantung airnya dan anak kecil itu menemukan sekantung uang dan membawanya pergi.
      Anak kecil telah menjauh, kemudian datang seorang tua buta yang  mendengar dan mendekati sumber air, kemudian si orang tua buta mencuci muka dan “bersuci”, lalu dia melaksanakan “salat”.
      Beberapa saat kemudian si ksatria berkuda kembali lagi, dengan cepat dia turun menuju sumber air untuk mencari uangnya yang hilang, tetapi dia tidak menemukannya.
      Dia berteriak, “Hai orang tua, apakah kamu mengambil uangku sekantung yang tertinggal di sini?” Si orang tua menjawab,”Maaf Nak, saya buta, sehingga saya  tidak mengetahui jika ada uang yang tertinggal.”
      Kemudian si penunggang kuda dan orang tua buta bertengkar dan akhirnya si orang tua buta mati terbunuh, lalu si penunggang kuda beranjak pergi meninggalkan mayat si orang tua buta, sedangkan Nabi Musa menyaksikan semuanya dari tempat persembunyian.
     Nabi Musa bergumam, “Sungguh, peristiwa yang tidak adil, sebenarnya yang salah adalah anak kecil, karena dia yang mengambil uangnya. Seandainya, si anak kecil tidak mengambil uang itu, maka si orang tua buta tidak akan mati terbunuh.”
      Malaikat Jibril turun, “Wahai Musa, kamu tidak bisa menilai keadilan Allah, karena kamu hanya menyaksikan peristiwa “sesaat” saja, yang kamu lihat hanya kejadian satu “episode” saja dan kamu tidak mampu melihat seluruh rangkaian kisah yang terjadi.”
      Malaikat Jibril berkata, “Orang tua si anak kecil itu pernah ikut bekerja kepada si penunggang kuda dan dia belum menerima gajinya, karena si penunggang kuda belum membayar gajinya selama bekerja.”
      Malaikat Jibril melanjutkan, “Uang yang belum dibayarkan kepada orang tua si anak kecil, besarnya persis sama dengan jumlah uang yang ditemukan anak itu, yaitu sebesar gaji yang belum dibayarkan, tepat sama dengan jumlah uang dalam kantung penunggang kuda, padahal si penunggang kuda tidak pernah merencanakan membawa uang dalam kantung sejumlah itu.”
      “Orang tua si anak kecil tersebut sudah meninggal dunia, karena dibunuh oleh seseorang dan pembunuhnya adalah si orang tua yang buta itu,” lanjut malaikat Jibril.
     Nabi Musa berkata, “Allah Maha Adil. Ya Allah, ampunilah hamba-Mu yang lemah, hina, daif, dan bodoh ini yang gampang dan cepat menilai sesuatu kejadian hanya berdasarkan penglihatan dan pengetahuan yang sedikit saja.”  
Daftar Pustaka
1. Bahjat, Ahmad. Nabi Nabi Allah. Penerbit Qisthi Press. Jakarta, 2015.
2. Katsir, Ibnu. Kisah Para Nabi. Penerbit Pustaka Azzam. Jakarta, 2011.
3. Al-Quran Digital, Versi 3.2. Digital Qur’an Ver 3.2.
4. Tafsirq.com online.

843. MUSA

NABI MUSA INGIN MENYAKSIKAN KEADILAN ALLAH
Oleh: Drs. H. M. Yusron Hadi, M.M.

         Beberapa orang bertanya,”Mohon dijelaskan tentang kisah Nabi  Musa yang ingin menyaksikan keadilan Allah?” berikut ini penjelasannya.
         Al-Quran surah At-Tin, surah ke-95 ayat 1-6.

وَالتِّينِ وَالزَّيْتُونِ وَطُورِ سِينِينَ وَهَٰذَا الْبَلَدِ الْأَمِينِ لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ فِي أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ ثُمَّ رَدَدْنَاهُ أَسْفَلَ سَافِلِينَ  إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ فَلَهُمْ أَجْرٌ غَيْرُ مَمْنُونٍ

      “Demi buah Tin dan buah Zaitun. Demi bukit Sinai. Demi kota Mekah yang aman. Sungguh, Kami menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya. Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya (neraka), kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, bagi mereka pahala yang tidak terputus.”
      Alkisah, Nabi Musa berada di bukit Sinai yang lebih dikenal dengan nama bukit  “Thursina” selama 40 hari, karena Nabi Musa sedang menerima wahyu dari Allah melalui Malaikat Jibril, berupa Kitab Taurat.
      Bukit adalah tumpukan tanah yang lebih tinggi daripada tempat sekelilingnya, tetapi lebih rendah daripada gunung, sedangkan gunung adalah bukit yang amat besar dan tinggi, biasanya lebih dari 600 meter.
      Pada hari ke-30, Nabi Musa berdoa,”Ya Allah, ampunilah dosa hamba, karena hamba amat lancang, hamba ingin menyaksikan sendiri dengan mata secara langsung bahwa Engkau Maha Adil.”
      Malaikat Jibril turun,”Wahai Musa, Allah mendengarkan doamu, apakah kamu masih tidak yakin bahwa Allah Maha Adil?” Musa Menjawab,”Ya Allah, ampunilah hamba, sebenarnya hamba sudah yakin bahwa Allah Maha Adil, tetapi hamba ingin lebih yakin dan mantap apabila menyaksikannya sendiri.”
      Malaikat Jibril turun lagi,“Wahai Musa, Allah memberi salam kepadamu apabila  kamu ingin menyaksikan keadilan Allah pergilah mendekat ke sebuah sumber air.” Kemudian Nabi Musa pergi mendekati sebuah sumber air dan Nabi Musa bersembunyi dari kejauhan ingin menyaksikan peristiwa yang akan terjadi.
      Tidak berapa lama kemudian muncul seorang ksatria penunggang kuda yang  membawa sebilah pedang dengan sarungnya yang diselipkan di punggungnya dengan sekantung uang yang menggantung di pinggang kirinya.
      Penunggang kuda langsung turun menuju sumber air lalu dia mencuci muka dan menikmati air sepuasnya. Beberapa saat kemudian, dia meninggalkan sumber air, tetapi sekantung uangnya tertinggal dan tergeletak di atas bebatuan dekat sumber air.
     Penunggang kuda sudah berlalu, lalu muncul seorang anak kecil yang berumur sekitar 9 tahun. Dia menuju sumber air dan mengisi kantung airnya dan anak kecil itu menemukan sekantung uang dan membawanya pergi.
      Anak kecil telah menjauh, kemudian datang seorang tua buta yang  mendengar dan mendekati sumber air, kemudian si orang tua buta mencuci muka dan “bersuci”, lalu dia melaksanakan “salat”.
      Beberapa saat kemudian si ksatria berkuda kembali lagi, dengan cepat dia turun menuju sumber air untuk mencari uangnya yang hilang, tetapi dia tidak menemukannya.
      Dia berteriak, “Hai orang tua, apakah kamu mengambil uangku sekantung yang tertinggal di sini?” Si orang tua menjawab,”Maaf Nak, saya buta, sehingga saya  tidak mengetahui jika ada uang yang tertinggal.”
      Kemudian si penunggang kuda dan orang tua buta bertengkar dan akhirnya si orang tua buta mati terbunuh, lalu si penunggang kuda beranjak pergi meninggalkan mayat si orang tua buta, sedangkan Nabi Musa menyaksikan semuanya dari tempat persembunyian.
     Nabi Musa bergumam, “Sungguh, peristiwa yang tidak adil, sebenarnya yang salah adalah anak kecil, karena dia yang mengambil uangnya. Seandainya, si anak kecil tidak mengambil uang itu, maka si orang tua buta tidak akan mati terbunuh.”
      Malaikat Jibril turun, “Wahai Musa, kamu tidak bisa menilai keadilan Allah, karena kamu hanya menyaksikan peristiwa “sesaat” saja, yang kamu lihat hanya kejadian satu “episode” saja dan kamu tidak mampu melihat seluruh rangkaian kisah yang terjadi.”
      Malaikat Jibril berkata, “Orang tua si anak kecil itu pernah ikut bekerja kepada si penunggang kuda dan dia belum menerima gajinya, karena si penunggang kuda belum membayar gajinya selama bekerja.”
      Malaikat Jibril melanjutkan, “Uang yang belum dibayarkan kepada orang tua si anak kecil, besarnya persis sama dengan jumlah uang yang ditemukan anak itu, yaitu sebesar gaji yang belum dibayarkan, tepat sama dengan jumlah uang dalam kantung penunggang kuda, padahal si penunggang kuda tidak pernah merencanakan membawa uang dalam kantung sejumlah itu.”
      “Orang tua si anak kecil tersebut sudah meninggal dunia, karena dibunuh oleh seseorang dan pembunuhnya adalah si orang tua yang buta itu,” lanjut malaikat Jibril.
     Nabi Musa berkata, “Allah Maha Adil. Ya Allah, ampunilah hamba-Mu yang lemah, hina, daif, dan bodoh ini yang gampang dan cepat menilai sesuatu kejadian hanya berdasarkan penglihatan dan pengetahuan yang sedikit saja.”  
Daftar Pustaka
1. Bahjat, Ahmad. Nabi Nabi Allah. Penerbit Qisthi Press. Jakarta, 2015.
2. Katsir, Ibnu. Kisah Para Nabi. Penerbit Pustaka Azzam. Jakarta, 2011.
3. Al-Quran Digital, Versi 3.2. Digital Qur’an Ver 3.2.
4. Tafsirq.com online.

843. MUSA

NABI MUSA INGIN MENYAKSIKAN KEADILAN ALLAH
Oleh: Drs. H. M. Yusron Hadi, M.M.

         Beberapa orang bertanya,”Mohon dijelaskan tentang kisah Nabi  Musa yang ingin menyaksikan keadilan Allah?” berikut ini penjelasannya.
         Al-Quran surah At-Tin, surah ke-95 ayat 1-6.

وَالتِّينِ وَالزَّيْتُونِ وَطُورِ سِينِينَ وَهَٰذَا الْبَلَدِ الْأَمِينِ لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ فِي أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ ثُمَّ رَدَدْنَاهُ أَسْفَلَ سَافِلِينَ  إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ فَلَهُمْ أَجْرٌ غَيْرُ مَمْنُونٍ

      “Demi buah Tin dan buah Zaitun. Demi bukit Sinai. Demi kota Mekah yang aman. Sungguh, Kami menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya. Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya (neraka), kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, bagi mereka pahala yang tidak terputus.”
      Alkisah, Nabi Musa berada di bukit Sinai yang lebih dikenal dengan nama bukit  “Thursina” selama 40 hari, karena Nabi Musa sedang menerima wahyu dari Allah melalui Malaikat Jibril, berupa Kitab Taurat.
      Bukit adalah tumpukan tanah yang lebih tinggi daripada tempat sekelilingnya, tetapi lebih rendah daripada gunung, sedangkan gunung adalah bukit yang amat besar dan tinggi, biasanya lebih dari 600 meter.
      Pada hari ke-30, Nabi Musa berdoa,”Ya Allah, ampunilah dosa hamba, karena hamba amat lancang, hamba ingin menyaksikan sendiri dengan mata secara langsung bahwa Engkau Maha Adil.”
      Malaikat Jibril turun,”Wahai Musa, Allah mendengarkan doamu, apakah kamu masih tidak yakin bahwa Allah Maha Adil?” Musa Menjawab,”Ya Allah, ampunilah hamba, sebenarnya hamba sudah yakin bahwa Allah Maha Adil, tetapi hamba ingin lebih yakin dan mantap apabila menyaksikannya sendiri.”
      Malaikat Jibril turun lagi,“Wahai Musa, Allah memberi salam kepadamu apabila  kamu ingin menyaksikan keadilan Allah pergilah mendekat ke sebuah sumber air.” Kemudian Nabi Musa pergi mendekati sebuah sumber air dan Nabi Musa bersembunyi dari kejauhan ingin menyaksikan peristiwa yang akan terjadi.
      Tidak berapa lama kemudian muncul seorang ksatria penunggang kuda yang  membawa sebilah pedang dengan sarungnya yang diselipkan di punggungnya dengan sekantung uang yang menggantung di pinggang kirinya.
      Penunggang kuda langsung turun menuju sumber air lalu dia mencuci muka dan menikmati air sepuasnya. Beberapa saat kemudian, dia meninggalkan sumber air, tetapi sekantung uangnya tertinggal dan tergeletak di atas bebatuan dekat sumber air.
     Penunggang kuda sudah berlalu, lalu muncul seorang anak kecil yang berumur sekitar 9 tahun. Dia menuju sumber air dan mengisi kantung airnya dan anak kecil itu menemukan sekantung uang dan membawanya pergi.
      Anak kecil telah menjauh, kemudian datang seorang tua buta yang  mendengar dan mendekati sumber air, kemudian si orang tua buta mencuci muka dan “bersuci”, lalu dia melaksanakan “salat”.
      Beberapa saat kemudian si ksatria berkuda kembali lagi, dengan cepat dia turun menuju sumber air untuk mencari uangnya yang hilang, tetapi dia tidak menemukannya.
      Dia berteriak, “Hai orang tua, apakah kamu mengambil uangku sekantung yang tertinggal di sini?” Si orang tua menjawab,”Maaf Nak, saya buta, sehingga saya  tidak mengetahui jika ada uang yang tertinggal.”
      Kemudian si penunggang kuda dan orang tua buta bertengkar dan akhirnya si orang tua buta mati terbunuh, lalu si penunggang kuda beranjak pergi meninggalkan mayat si orang tua buta, sedangkan Nabi Musa menyaksikan semuanya dari tempat persembunyian.
     Nabi Musa bergumam, “Sungguh, peristiwa yang tidak adil, sebenarnya yang salah adalah anak kecil, karena dia yang mengambil uangnya. Seandainya, si anak kecil tidak mengambil uang itu, maka si orang tua buta tidak akan mati terbunuh.”
      Malaikat Jibril turun, “Wahai Musa, kamu tidak bisa menilai keadilan Allah, karena kamu hanya menyaksikan peristiwa “sesaat” saja, yang kamu lihat hanya kejadian satu “episode” saja dan kamu tidak mampu melihat seluruh rangkaian kisah yang terjadi.”
      Malaikat Jibril berkata, “Orang tua si anak kecil itu pernah ikut bekerja kepada si penunggang kuda dan dia belum menerima gajinya, karena si penunggang kuda belum membayar gajinya selama bekerja.”
      Malaikat Jibril melanjutkan, “Uang yang belum dibayarkan kepada orang tua si anak kecil, besarnya persis sama dengan jumlah uang yang ditemukan anak itu, yaitu sebesar gaji yang belum dibayarkan, tepat sama dengan jumlah uang dalam kantung penunggang kuda, padahal si penunggang kuda tidak pernah merencanakan membawa uang dalam kantung sejumlah itu.”
      “Orang tua si anak kecil tersebut sudah meninggal dunia, karena dibunuh oleh seseorang dan pembunuhnya adalah si orang tua yang buta itu,” lanjut malaikat Jibril.
     Nabi Musa berkata, “Allah Maha Adil. Ya Allah, ampunilah hamba-Mu yang lemah, hina, daif, dan bodoh ini yang gampang dan cepat menilai sesuatu kejadian hanya berdasarkan penglihatan dan pengetahuan yang sedikit saja.”  
Daftar Pustaka
1. Bahjat, Ahmad. Nabi Nabi Allah. Penerbit Qisthi Press. Jakarta, 2015.
2. Katsir, Ibnu. Kisah Para Nabi. Penerbit Pustaka Azzam. Jakarta, 2011.
3. Al-Quran Digital, Versi 3.2. Digital Qur’an Ver 3.2.
4. Tafsirq.com online.

843. MUSA

NABI MUSA INGIN MENYAKSIKAN KEADILAN ALLAH
Oleh: Drs. H. M. Yusron Hadi, M.M.

         Beberapa orang bertanya,”Mohon dijelaskan tentang kisah Nabi  Musa yang ingin menyaksikan keadilan Allah?” berikut ini penjelasannya.
         Al-Quran surah At-Tin, surah ke-95 ayat 1-6.

وَالتِّينِ وَالزَّيْتُونِ وَطُورِ سِينِينَ وَهَٰذَا الْبَلَدِ الْأَمِينِ لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ فِي أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ ثُمَّ رَدَدْنَاهُ أَسْفَلَ سَافِلِينَ  إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ فَلَهُمْ أَجْرٌ غَيْرُ مَمْنُونٍ

      “Demi buah Tin dan buah Zaitun. Demi bukit Sinai. Demi kota Mekah yang aman. Sungguh, Kami menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya. Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya (neraka), kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, bagi mereka pahala yang tidak terputus.”
      Alkisah, Nabi Musa berada di bukit Sinai yang lebih dikenal dengan nama bukit  “Thursina” selama 40 hari, karena Nabi Musa sedang menerima wahyu dari Allah melalui Malaikat Jibril, berupa Kitab Taurat.
      Bukit adalah tumpukan tanah yang lebih tinggi daripada tempat sekelilingnya, tetapi lebih rendah daripada gunung, sedangkan gunung adalah bukit yang amat besar dan tinggi, biasanya lebih dari 600 meter.
      Pada hari ke-30, Nabi Musa berdoa,”Ya Allah, ampunilah dosa hamba, karena hamba amat lancang, hamba ingin menyaksikan sendiri dengan mata secara langsung bahwa Engkau Maha Adil.”
      Malaikat Jibril turun,”Wahai Musa, Allah mendengarkan doamu, apakah kamu masih tidak yakin bahwa Allah Maha Adil?” Musa Menjawab,”Ya Allah, ampunilah hamba, sebenarnya hamba sudah yakin bahwa Allah Maha Adil, tetapi hamba ingin lebih yakin dan mantap apabila menyaksikannya sendiri.”
      Malaikat Jibril turun lagi,“Wahai Musa, Allah memberi salam kepadamu apabila  kamu ingin menyaksikan keadilan Allah pergilah mendekat ke sebuah sumber air.” Kemudian Nabi Musa pergi mendekati sebuah sumber air dan Nabi Musa bersembunyi dari kejauhan ingin menyaksikan peristiwa yang akan terjadi.
      Tidak berapa lama kemudian muncul seorang ksatria penunggang kuda yang  membawa sebilah pedang dengan sarungnya yang diselipkan di punggungnya dengan sekantung uang yang menggantung di pinggang kirinya.
      Penunggang kuda langsung turun menuju sumber air lalu dia mencuci muka dan menikmati air sepuasnya. Beberapa saat kemudian, dia meninggalkan sumber air, tetapi sekantung uangnya tertinggal dan tergeletak di atas bebatuan dekat sumber air.
     Penunggang kuda sudah berlalu, lalu muncul seorang anak kecil yang berumur sekitar 9 tahun. Dia menuju sumber air dan mengisi kantung airnya dan anak kecil itu menemukan sekantung uang dan membawanya pergi.
      Anak kecil telah menjauh, kemudian datang seorang tua buta yang  mendengar dan mendekati sumber air, kemudian si orang tua buta mencuci muka dan “bersuci”, lalu dia melaksanakan “salat”.
      Beberapa saat kemudian si ksatria berkuda kembali lagi, dengan cepat dia turun menuju sumber air untuk mencari uangnya yang hilang, tetapi dia tidak menemukannya.
      Dia berteriak, “Hai orang tua, apakah kamu mengambil uangku sekantung yang tertinggal di sini?” Si orang tua menjawab,”Maaf Nak, saya buta, sehingga saya  tidak mengetahui jika ada uang yang tertinggal.”
      Kemudian si penunggang kuda dan orang tua buta bertengkar dan akhirnya si orang tua buta mati terbunuh, lalu si penunggang kuda beranjak pergi meninggalkan mayat si orang tua buta, sedangkan Nabi Musa menyaksikan semuanya dari tempat persembunyian.
     Nabi Musa bergumam, “Sungguh, peristiwa yang tidak adil, sebenarnya yang salah adalah anak kecil, karena dia yang mengambil uangnya. Seandainya, si anak kecil tidak mengambil uang itu, maka si orang tua buta tidak akan mati terbunuh.”
      Malaikat Jibril turun, “Wahai Musa, kamu tidak bisa menilai keadilan Allah, karena kamu hanya menyaksikan peristiwa “sesaat” saja, yang kamu lihat hanya kejadian satu “episode” saja dan kamu tidak mampu melihat seluruh rangkaian kisah yang terjadi.”
      Malaikat Jibril berkata, “Orang tua si anak kecil itu pernah ikut bekerja kepada si penunggang kuda dan dia belum menerima gajinya, karena si penunggang kuda belum membayar gajinya selama bekerja.”
      Malaikat Jibril melanjutkan, “Uang yang belum dibayarkan kepada orang tua si anak kecil, besarnya persis sama dengan jumlah uang yang ditemukan anak itu, yaitu sebesar gaji yang belum dibayarkan, tepat sama dengan jumlah uang dalam kantung penunggang kuda, padahal si penunggang kuda tidak pernah merencanakan membawa uang dalam kantung sejumlah itu.”
      “Orang tua si anak kecil tersebut sudah meninggal dunia, karena dibunuh oleh seseorang dan pembunuhnya adalah si orang tua yang buta itu,” lanjut malaikat Jibril.
     Nabi Musa berkata, “Allah Maha Adil. Ya Allah, ampunilah hamba-Mu yang lemah, hina, daif, dan bodoh ini yang gampang dan cepat menilai sesuatu kejadian hanya berdasarkan penglihatan dan pengetahuan yang sedikit saja.”  
Daftar Pustaka
1. Bahjat, Ahmad. Nabi Nabi Allah. Penerbit Qisthi Press. Jakarta, 2015.
2. Katsir, Ibnu. Kisah Para Nabi. Penerbit Pustaka Azzam. Jakarta, 2011.
3. Al-Quran Digital, Versi 3.2. Digital Qur’an Ver 3.2.
4. Tafsirq.com online.

843. MUSA

NABI MUSA INGIN MENYAKSIKAN KEADILAN ALLAH
Oleh: Drs. H. M. Yusron Hadi, M.M.

         Beberapa orang bertanya,”Mohon dijelaskan tentang kisah Nabi  Musa yang ingin menyaksikan keadilan Allah?” berikut ini penjelasannya.
         Al-Quran surah At-Tin, surah ke-95 ayat 1-6.

وَالتِّينِ وَالزَّيْتُونِ وَطُورِ سِينِينَ وَهَٰذَا الْبَلَدِ الْأَمِينِ لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ فِي أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ ثُمَّ رَدَدْنَاهُ أَسْفَلَ سَافِلِينَ  إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ فَلَهُمْ أَجْرٌ غَيْرُ مَمْنُونٍ

      “Demi buah Tin dan buah Zaitun. Demi bukit Sinai. Demi kota Mekah yang aman. Sungguh, Kami menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya. Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya (neraka), kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, bagi mereka pahala yang tidak terputus.”
      Alkisah, Nabi Musa berada di bukit Sinai yang lebih dikenal dengan nama bukit  “Thursina” selama 40 hari, karena Nabi Musa sedang menerima wahyu dari Allah melalui Malaikat Jibril, berupa Kitab Taurat.
      Bukit adalah tumpukan tanah yang lebih tinggi daripada tempat sekelilingnya, tetapi lebih rendah daripada gunung, sedangkan gunung adalah bukit yang amat besar dan tinggi, biasanya lebih dari 600 meter.
      Pada hari ke-30, Nabi Musa berdoa,”Ya Allah, ampunilah dosa hamba, karena hamba amat lancang, hamba ingin menyaksikan sendiri dengan mata secara langsung bahwa Engkau Maha Adil.”
      Malaikat Jibril turun,”Wahai Musa, Allah mendengarkan doamu, apakah kamu masih tidak yakin bahwa Allah Maha Adil?” Musa Menjawab,”Ya Allah, ampunilah hamba, sebenarnya hamba sudah yakin bahwa Allah Maha Adil, tetapi hamba ingin lebih yakin dan mantap apabila menyaksikannya sendiri.”
      Malaikat Jibril turun lagi,“Wahai Musa, Allah memberi salam kepadamu apabila  kamu ingin menyaksikan keadilan Allah pergilah mendekat ke sebuah sumber air.” Kemudian Nabi Musa pergi mendekati sebuah sumber air dan Nabi Musa bersembunyi dari kejauhan ingin menyaksikan peristiwa yang akan terjadi.
      Tidak berapa lama kemudian muncul seorang ksatria penunggang kuda yang  membawa sebilah pedang dengan sarungnya yang diselipkan di punggungnya dengan sekantung uang yang menggantung di pinggang kirinya.
      Penunggang kuda langsung turun menuju sumber air lalu dia mencuci muka dan menikmati air sepuasnya. Beberapa saat kemudian, dia meninggalkan sumber air, tetapi sekantung uangnya tertinggal dan tergeletak di atas bebatuan dekat sumber air.
     Penunggang kuda sudah berlalu, lalu muncul seorang anak kecil yang berumur sekitar 9 tahun. Dia menuju sumber air dan mengisi kantung airnya dan anak kecil itu menemukan sekantung uang dan membawanya pergi.
      Anak kecil telah menjauh, kemudian datang seorang tua buta yang  mendengar dan mendekati sumber air, kemudian si orang tua buta mencuci muka dan “bersuci”, lalu dia melaksanakan “salat”.
      Beberapa saat kemudian si ksatria berkuda kembali lagi, dengan cepat dia turun menuju sumber air untuk mencari uangnya yang hilang, tetapi dia tidak menemukannya.
      Dia berteriak, “Hai orang tua, apakah kamu mengambil uangku sekantung yang tertinggal di sini?” Si orang tua menjawab,”Maaf Nak, saya buta, sehingga saya  tidak mengetahui jika ada uang yang tertinggal.”
      Kemudian si penunggang kuda dan orang tua buta bertengkar dan akhirnya si orang tua buta mati terbunuh, lalu si penunggang kuda beranjak pergi meninggalkan mayat si orang tua buta, sedangkan Nabi Musa menyaksikan semuanya dari tempat persembunyian.
     Nabi Musa bergumam, “Sungguh, peristiwa yang tidak adil, sebenarnya yang salah adalah anak kecil, karena dia yang mengambil uangnya. Seandainya, si anak kecil tidak mengambil uang itu, maka si orang tua buta tidak akan mati terbunuh.”
      Malaikat Jibril turun, “Wahai Musa, kamu tidak bisa menilai keadilan Allah, karena kamu hanya menyaksikan peristiwa “sesaat” saja, yang kamu lihat hanya kejadian satu “episode” saja dan kamu tidak mampu melihat seluruh rangkaian kisah yang terjadi.”
      Malaikat Jibril berkata, “Orang tua si anak kecil itu pernah ikut bekerja kepada si penunggang kuda dan dia belum menerima gajinya, karena si penunggang kuda belum membayar gajinya selama bekerja.”
      Malaikat Jibril melanjutkan, “Uang yang belum dibayarkan kepada orang tua si anak kecil, besarnya persis sama dengan jumlah uang yang ditemukan anak itu, yaitu sebesar gaji yang belum dibayarkan, tepat sama dengan jumlah uang dalam kantung penunggang kuda, padahal si penunggang kuda tidak pernah merencanakan membawa uang dalam kantung sejumlah itu.”
      “Orang tua si anak kecil tersebut sudah meninggal dunia, karena dibunuh oleh seseorang dan pembunuhnya adalah si orang tua yang buta itu,” lanjut malaikat Jibril.
     Nabi Musa berkata, “Allah Maha Adil. Ya Allah, ampunilah hamba-Mu yang lemah, hina, daif, dan bodoh ini yang gampang dan cepat menilai sesuatu kejadian hanya berdasarkan penglihatan dan pengetahuan yang sedikit saja.”  
Daftar Pustaka
1. Bahjat, Ahmad. Nabi Nabi Allah. Penerbit Qisthi Press. Jakarta, 2015.
2. Katsir, Ibnu. Kisah Para Nabi. Penerbit Pustaka Azzam. Jakarta, 2011.
3. Al-Quran Digital, Versi 3.2. Digital Qur’an Ver 3.2.
4. Tafsirq.com online.

843. MUSA

NABI MUSA INGIN MENYAKSIKAN KEADILAN ALLAH
Oleh: Drs. H. M. Yusron Hadi, M.M.

         Beberapa orang bertanya,”Mohon dijelaskan tentang kisah Nabi  Musa yang ingin menyaksikan keadilan Allah?” berikut ini penjelasannya.
         Al-Quran surah At-Tin, surah ke-95 ayat 1-6.

وَالتِّينِ وَالزَّيْتُونِ وَطُورِ سِينِينَ وَهَٰذَا الْبَلَدِ الْأَمِينِ لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ فِي أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ ثُمَّ رَدَدْنَاهُ أَسْفَلَ سَافِلِينَ  إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ فَلَهُمْ أَجْرٌ غَيْرُ مَمْنُونٍ

      “Demi buah Tin dan buah Zaitun. Demi bukit Sinai. Demi kota Mekah yang aman. Sungguh, Kami menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya. Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya (neraka), kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, bagi mereka pahala yang tidak terputus.”
      Alkisah, Nabi Musa berada di bukit Sinai yang lebih dikenal dengan nama bukit  “Thursina” selama 40 hari, karena Nabi Musa sedang menerima wahyu dari Allah melalui Malaikat Jibril, berupa Kitab Taurat.
      Bukit adalah tumpukan tanah yang lebih tinggi daripada tempat sekelilingnya, tetapi lebih rendah daripada gunung, sedangkan gunung adalah bukit yang amat besar dan tinggi, biasanya lebih dari 600 meter.
      Pada hari ke-30, Nabi Musa berdoa,”Ya Allah, ampunilah dosa hamba, karena hamba amat lancang, hamba ingin menyaksikan sendiri dengan mata secara langsung bahwa Engkau Maha Adil.”
      Malaikat Jibril turun,”Wahai Musa, Allah mendengarkan doamu, apakah kamu masih tidak yakin bahwa Allah Maha Adil?” Musa Menjawab,”Ya Allah, ampunilah hamba, sebenarnya hamba sudah yakin bahwa Allah Maha Adil, tetapi hamba ingin lebih yakin dan mantap apabila menyaksikannya sendiri.”
      Malaikat Jibril turun lagi,“Wahai Musa, Allah memberi salam kepadamu apabila  kamu ingin menyaksikan keadilan Allah pergilah mendekat ke sebuah sumber air.” Kemudian Nabi Musa pergi mendekati sebuah sumber air dan Nabi Musa bersembunyi dari kejauhan ingin menyaksikan peristiwa yang akan terjadi.
      Tidak berapa lama kemudian muncul seorang ksatria penunggang kuda yang  membawa sebilah pedang dengan sarungnya yang diselipkan di punggungnya dengan sekantung uang yang menggantung di pinggang kirinya.
      Penunggang kuda langsung turun menuju sumber air lalu dia mencuci muka dan menikmati air sepuasnya. Beberapa saat kemudian, dia meninggalkan sumber air, tetapi sekantung uangnya tertinggal dan tergeletak di atas bebatuan dekat sumber air.
     Penunggang kuda sudah berlalu, lalu muncul seorang anak kecil yang berumur sekitar 9 tahun. Dia menuju sumber air dan mengisi kantung airnya dan anak kecil itu menemukan sekantung uang dan membawanya pergi.
      Anak kecil telah menjauh, kemudian datang seorang tua buta yang  mendengar dan mendekati sumber air, kemudian si orang tua buta mencuci muka dan “bersuci”, lalu dia melaksanakan “salat”.
      Beberapa saat kemudian si ksatria berkuda kembali lagi, dengan cepat dia turun menuju sumber air untuk mencari uangnya yang hilang, tetapi dia tidak menemukannya.
      Dia berteriak, “Hai orang tua, apakah kamu mengambil uangku sekantung yang tertinggal di sini?” Si orang tua menjawab,”Maaf Nak, saya buta, sehingga saya  tidak mengetahui jika ada uang yang tertinggal.”
      Kemudian si penunggang kuda dan orang tua buta bertengkar dan akhirnya si orang tua buta mati terbunuh, lalu si penunggang kuda beranjak pergi meninggalkan mayat si orang tua buta, sedangkan Nabi Musa menyaksikan semuanya dari tempat persembunyian.
     Nabi Musa bergumam, “Sungguh, peristiwa yang tidak adil, sebenarnya yang salah adalah anak kecil, karena dia yang mengambil uangnya. Seandainya, si anak kecil tidak mengambil uang itu, maka si orang tua buta tidak akan mati terbunuh.”
      Malaikat Jibril turun, “Wahai Musa, kamu tidak bisa menilai keadilan Allah, karena kamu hanya menyaksikan peristiwa “sesaat” saja, yang kamu lihat hanya kejadian satu “episode” saja dan kamu tidak mampu melihat seluruh rangkaian kisah yang terjadi.”
      Malaikat Jibril berkata, “Orang tua si anak kecil itu pernah ikut bekerja kepada si penunggang kuda dan dia belum menerima gajinya, karena si penunggang kuda belum membayar gajinya selama bekerja.”
      Malaikat Jibril melanjutkan, “Uang yang belum dibayarkan kepada orang tua si anak kecil, besarnya persis sama dengan jumlah uang yang ditemukan anak itu, yaitu sebesar gaji yang belum dibayarkan, tepat sama dengan jumlah uang dalam kantung penunggang kuda, padahal si penunggang kuda tidak pernah merencanakan membawa uang dalam kantung sejumlah itu.”
      “Orang tua si anak kecil tersebut sudah meninggal dunia, karena dibunuh oleh seseorang dan pembunuhnya adalah si orang tua yang buta itu,” lanjut malaikat Jibril.
     Nabi Musa berkata, “Allah Maha Adil. Ya Allah, ampunilah hamba-Mu yang lemah, hina, daif, dan bodoh ini yang gampang dan cepat menilai sesuatu kejadian hanya berdasarkan penglihatan dan pengetahuan yang sedikit saja.”  
Daftar Pustaka
1. Bahjat, Ahmad. Nabi Nabi Allah. Penerbit Qisthi Press. Jakarta, 2015.
2. Katsir, Ibnu. Kisah Para Nabi. Penerbit Pustaka Azzam. Jakarta, 2011.
3. Al-Quran Digital, Versi 3.2. Digital Qur’an Ver 3.2.
4. Tafsirq.com online.

843. MUSA

NABI MUSA INGIN MENYAKSIKAN KEADILAN ALLAH
Oleh: Drs. H. M. Yusron Hadi, M.M.

         Beberapa orang bertanya,”Mohon dijelaskan tentang kisah Nabi  Musa yang ingin menyaksikan keadilan Allah?” berikut ini penjelasannya.
         Al-Quran surah At-Tin, surah ke-95 ayat 1-6.

وَالتِّينِ وَالزَّيْتُونِ وَطُورِ سِينِينَ وَهَٰذَا الْبَلَدِ الْأَمِينِ لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ فِي أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ ثُمَّ رَدَدْنَاهُ أَسْفَلَ سَافِلِينَ  إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ فَلَهُمْ أَجْرٌ غَيْرُ مَمْنُونٍ

      “Demi buah Tin dan buah Zaitun. Demi bukit Sinai. Demi kota Mekah yang aman. Sungguh, Kami menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya. Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya (neraka), kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, bagi mereka pahala yang tidak terputus.”
      Alkisah, Nabi Musa berada di bukit Sinai yang lebih dikenal dengan nama bukit  “Thursina” selama 40 hari, karena Nabi Musa sedang menerima wahyu dari Allah melalui Malaikat Jibril, berupa Kitab Taurat.
      Bukit adalah tumpukan tanah yang lebih tinggi daripada tempat sekelilingnya, tetapi lebih rendah daripada gunung, sedangkan gunung adalah bukit yang amat besar dan tinggi, biasanya lebih dari 600 meter.
      Pada hari ke-30, Nabi Musa berdoa,”Ya Allah, ampunilah dosa hamba, karena hamba amat lancang, hamba ingin menyaksikan sendiri dengan mata secara langsung bahwa Engkau Maha Adil.”
      Malaikat Jibril turun,”Wahai Musa, Allah mendengarkan doamu, apakah kamu masih tidak yakin bahwa Allah Maha Adil?” Musa Menjawab,”Ya Allah, ampunilah hamba, sebenarnya hamba sudah yakin bahwa Allah Maha Adil, tetapi hamba ingin lebih yakin dan mantap apabila menyaksikannya sendiri.”
      Malaikat Jibril turun lagi,“Wahai Musa, Allah memberi salam kepadamu apabila  kamu ingin menyaksikan keadilan Allah pergilah mendekat ke sebuah sumber air.” Kemudian Nabi Musa pergi mendekati sebuah sumber air dan Nabi Musa bersembunyi dari kejauhan ingin menyaksikan peristiwa yang akan terjadi.
      Tidak berapa lama kemudian muncul seorang ksatria penunggang kuda yang  membawa sebilah pedang dengan sarungnya yang diselipkan di punggungnya dengan sekantung uang yang menggantung di pinggang kirinya.
      Penunggang kuda langsung turun menuju sumber air lalu dia mencuci muka dan menikmati air sepuasnya. Beberapa saat kemudian, dia meninggalkan sumber air, tetapi sekantung uangnya tertinggal dan tergeletak di atas bebatuan dekat sumber air.
     Penunggang kuda sudah berlalu, lalu muncul seorang anak kecil yang berumur sekitar 9 tahun. Dia menuju sumber air dan mengisi kantung airnya dan anak kecil itu menemukan sekantung uang dan membawanya pergi.
      Anak kecil telah menjauh, kemudian datang seorang tua buta yang  mendengar dan mendekati sumber air, kemudian si orang tua buta mencuci muka dan “bersuci”, lalu dia melaksanakan “salat”.
      Beberapa saat kemudian si ksatria berkuda kembali lagi, dengan cepat dia turun menuju sumber air untuk mencari uangnya yang hilang, tetapi dia tidak menemukannya.
      Dia berteriak, “Hai orang tua, apakah kamu mengambil uangku sekantung yang tertinggal di sini?” Si orang tua menjawab,”Maaf Nak, saya buta, sehingga saya  tidak mengetahui jika ada uang yang tertinggal.”
      Kemudian si penunggang kuda dan orang tua buta bertengkar dan akhirnya si orang tua buta mati terbunuh, lalu si penunggang kuda beranjak pergi meninggalkan mayat si orang tua buta, sedangkan Nabi Musa menyaksikan semuanya dari tempat persembunyian.
     Nabi Musa bergumam, “Sungguh, peristiwa yang tidak adil, sebenarnya yang salah adalah anak kecil, karena dia yang mengambil uangnya. Seandainya, si anak kecil tidak mengambil uang itu, maka si orang tua buta tidak akan mati terbunuh.”
      Malaikat Jibril turun, “Wahai Musa, kamu tidak bisa menilai keadilan Allah, karena kamu hanya menyaksikan peristiwa “sesaat” saja, yang kamu lihat hanya kejadian satu “episode” saja dan kamu tidak mampu melihat seluruh rangkaian kisah yang terjadi.”
      Malaikat Jibril berkata, “Orang tua si anak kecil itu pernah ikut bekerja kepada si penunggang kuda dan dia belum menerima gajinya, karena si penunggang kuda belum membayar gajinya selama bekerja.”
      Malaikat Jibril melanjutkan, “Uang yang belum dibayarkan kepada orang tua si anak kecil, besarnya persis sama dengan jumlah uang yang ditemukan anak itu, yaitu sebesar gaji yang belum dibayarkan, tepat sama dengan jumlah uang dalam kantung penunggang kuda, padahal si penunggang kuda tidak pernah merencanakan membawa uang dalam kantung sejumlah itu.”
      “Orang tua si anak kecil tersebut sudah meninggal dunia, karena dibunuh oleh seseorang dan pembunuhnya adalah si orang tua yang buta itu,” lanjut malaikat Jibril.
     Nabi Musa berkata, “Allah Maha Adil. Ya Allah, ampunilah hamba-Mu yang lemah, hina, daif, dan bodoh ini yang gampang dan cepat menilai sesuatu kejadian hanya berdasarkan penglihatan dan pengetahuan yang sedikit saja.”  
Daftar Pustaka
1. Bahjat, Ahmad. Nabi Nabi Allah. Penerbit Qisthi Press. Jakarta, 2015.
2. Katsir, Ibnu. Kisah Para Nabi. Penerbit Pustaka Azzam. Jakarta, 2011.
3. Al-Quran Digital, Versi 3.2. Digital Qur’an Ver 3.2.
4. Tafsirq.com online.

843. MUSA

NABI MUSA INGIN MENYAKSIKAN KEADILAN ALLAH
Oleh: Drs. H. M. Yusron Hadi, M.M.

         Beberapa orang bertanya,”Mohon dijelaskan tentang kisah Nabi  Musa yang ingin menyaksikan keadilan Allah?” berikut ini penjelasannya.
         Al-Quran surah At-Tin, surah ke-95 ayat 1-6.

وَالتِّينِ وَالزَّيْتُونِ وَطُورِ سِينِينَ وَهَٰذَا الْبَلَدِ الْأَمِينِ لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ فِي أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ ثُمَّ رَدَدْنَاهُ أَسْفَلَ سَافِلِينَ  إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ فَلَهُمْ أَجْرٌ غَيْرُ مَمْنُونٍ

      “Demi buah Tin dan buah Zaitun. Demi bukit Sinai. Demi kota Mekah yang aman. Sungguh, Kami menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya. Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya (neraka), kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, bagi mereka pahala yang tidak terputus.”
      Alkisah, Nabi Musa berada di bukit Sinai yang lebih dikenal dengan nama bukit  “Thursina” selama 40 hari, karena Nabi Musa sedang menerima wahyu dari Allah melalui Malaikat Jibril, berupa Kitab Taurat.
      Bukit adalah tumpukan tanah yang lebih tinggi daripada tempat sekelilingnya, tetapi lebih rendah daripada gunung, sedangkan gunung adalah bukit yang amat besar dan tinggi, biasanya lebih dari 600 meter.
      Pada hari ke-30, Nabi Musa berdoa,”Ya Allah, ampunilah dosa hamba, karena hamba amat lancang, hamba ingin menyaksikan sendiri dengan mata secara langsung bahwa Engkau Maha Adil.”
      Malaikat Jibril turun,”Wahai Musa, Allah mendengarkan doamu, apakah kamu masih tidak yakin bahwa Allah Maha Adil?” Musa Menjawab,”Ya Allah, ampunilah hamba, sebenarnya hamba sudah yakin bahwa Allah Maha Adil, tetapi hamba ingin lebih yakin dan mantap apabila menyaksikannya sendiri.”
      Malaikat Jibril turun lagi,“Wahai Musa, Allah memberi salam kepadamu apabila  kamu ingin menyaksikan keadilan Allah pergilah mendekat ke sebuah sumber air.” Kemudian Nabi Musa pergi mendekati sebuah sumber air dan Nabi Musa bersembunyi dari kejauhan ingin menyaksikan peristiwa yang akan terjadi.
      Tidak berapa lama kemudian muncul seorang ksatria penunggang kuda yang  membawa sebilah pedang dengan sarungnya yang diselipkan di punggungnya dengan sekantung uang yang menggantung di pinggang kirinya.
      Penunggang kuda langsung turun menuju sumber air lalu dia mencuci muka dan menikmati air sepuasnya. Beberapa saat kemudian, dia meninggalkan sumber air, tetapi sekantung uangnya tertinggal dan tergeletak di atas bebatuan dekat sumber air.
     Penunggang kuda sudah berlalu, lalu muncul seorang anak kecil yang berumur sekitar 9 tahun. Dia menuju sumber air dan mengisi kantung airnya dan anak kecil itu menemukan sekantung uang dan membawanya pergi.
      Anak kecil telah menjauh, kemudian datang seorang tua buta yang  mendengar dan mendekati sumber air, kemudian si orang tua buta mencuci muka dan “bersuci”, lalu dia melaksanakan “salat”.
      Beberapa saat kemudian si ksatria berkuda kembali lagi, dengan cepat dia turun menuju sumber air untuk mencari uangnya yang hilang, tetapi dia tidak menemukannya.
      Dia berteriak, “Hai orang tua, apakah kamu mengambil uangku sekantung yang tertinggal di sini?” Si orang tua menjawab,”Maaf Nak, saya buta, sehingga saya  tidak mengetahui jika ada uang yang tertinggal.”
      Kemudian si penunggang kuda dan orang tua buta bertengkar dan akhirnya si orang tua buta mati terbunuh, lalu si penunggang kuda beranjak pergi meninggalkan mayat si orang tua buta, sedangkan Nabi Musa menyaksikan semuanya dari tempat persembunyian.
     Nabi Musa bergumam, “Sungguh, peristiwa yang tidak adil, sebenarnya yang salah adalah anak kecil, karena dia yang mengambil uangnya. Seandainya, si anak kecil tidak mengambil uang itu, maka si orang tua buta tidak akan mati terbunuh.”
      Malaikat Jibril turun, “Wahai Musa, kamu tidak bisa menilai keadilan Allah, karena kamu hanya menyaksikan peristiwa “sesaat” saja, yang kamu lihat hanya kejadian satu “episode” saja dan kamu tidak mampu melihat seluruh rangkaian kisah yang terjadi.”
      Malaikat Jibril berkata, “Orang tua si anak kecil itu pernah ikut bekerja kepada si penunggang kuda dan dia belum menerima gajinya, karena si penunggang kuda belum membayar gajinya selama bekerja.”
      Malaikat Jibril melanjutkan, “Uang yang belum dibayarkan kepada orang tua si anak kecil, besarnya persis sama dengan jumlah uang yang ditemukan anak itu, yaitu sebesar gaji yang belum dibayarkan, tepat sama dengan jumlah uang dalam kantung penunggang kuda, padahal si penunggang kuda tidak pernah merencanakan membawa uang dalam kantung sejumlah itu.”
      “Orang tua si anak kecil tersebut sudah meninggal dunia, karena dibunuh oleh seseorang dan pembunuhnya adalah si orang tua yang buta itu,” lanjut malaikat Jibril.
     Nabi Musa berkata, “Allah Maha Adil. Ya Allah, ampunilah hamba-Mu yang lemah, hina, daif, dan bodoh ini yang gampang dan cepat menilai sesuatu kejadian hanya berdasarkan penglihatan dan pengetahuan yang sedikit saja.”  
Daftar Pustaka
1. Bahjat, Ahmad. Nabi Nabi Allah. Penerbit Qisthi Press. Jakarta, 2015.
2. Katsir, Ibnu. Kisah Para Nabi. Penerbit Pustaka Azzam. Jakarta, 2011.
3. Al-Quran Digital, Versi 3.2. Digital Qur’an Ver 3.2.
4. Tafsirq.com online.

Monday, May 21, 2018

842.MAKNA

MEMAHAMI MAKNA RAMADAN
Oleh: Drs. H. M. Yusron Hadi, M.M

    Beberapa orang bertanya,”Mohon dijelaskan tentang makna Ramadan menurut Al-Quran?” Profesor Quraish Shihab menjelaskannya.
      Kata “Ramadan” terambil dari akar kata yang artinya “membakar” atau “mengasah”, dan dinamakan bulan “Ramadan” (membakar) karena pada bulan ini semua dosa manusia pupus, habis terbakar, disebabkan kesadaran dan amal kebaikannya.
    Dinamakan bulan “Ramadan” (mengasah) karena bulan tersebut dijadikan sebagai waktu untuk “mengasah” dan “mengasuh” jiwa manusia, dan bulan Ramadan juga diibaratkan sebagai tanah subur yang siap ditaburi benih-benih kebajikan.
    Semua orang dipersilakan untuk menabur, kemudian pada waktunya menuai hasil sesuai dengan benih yang ditanamnya, dan bagi yang lalai, maka  tanah garapannya hanya akan ditumbuhi rerumputan yang tidak berguna.
     Berpuasa selama bulan Ramadan adalah usaha manusia sebagai makhluk Allah dengan sekuat kemampuannya untuk mencontoh sifat-sifat yang mulia dari Allah, misalnya sifat-sifat Allah yang “tidak makan dan tidak minum, bahkan memberikan makan dan minum”, serta “tidak mempunyai anak dan tidak dilahirkan”.
     Manusia yang berpuasa berusaha mencontoh sifat Allah yang tidak makan dan tidak minum, padahal makan dan minum adalah kebutuhan primer manusia, sehingga apabila manusia mampu mengendalikannya, maka kebutuhan yang lainnya akan mudah dikendalikan.
     Dalam segi hikmah dan tujuan berpuasa, manusia seharusnya mencontoh dalam keseluruhan sifat-sifat Allah yang mulia, dan hakikat berpuasa adalah menabur benih yang dapat manusia mengantarkan kepada "bersikap dan bersifat dengan sikap dan sifat Allah”, sehingga sikap dan sifat yang mulia tersebut dapat menghiasi dirinya  dalam bersikap, berperilaku dan cara berpikirnya.
      Allah Maha Hidup, Maha Berpengetahuan, Maha Kaya, Maha Pengasih, Maha Damai, terhadap semua makhluk-Nya, serta perlu dicatat bahwa yang dimaksudkan dengan “hidup” bukan sekadar menarik dan menghembuskan nafas.
    Tetapi, yang diamksudkan dengan “hidup” adalah yang sejalan dengan sifat Allah Maha Yang Hidup yang sesuai dengan kemampuan manusia, yakni hidup  berkesinambungan yang melampaui batas generasi, umat, dan bangsa, yang akan dapat  dicapai melalui kerja keras tanpa berhenti.
      Al-Quran surah ke-55 ayat 29 menyatakan bahwa Allah setiap saat dalam kesibukan.

يَسْأَلُهُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۚ كُلَّ يَوْمٍ هُوَ فِي شَأْنٍ
    
    “Semua yang ada di langit dan di bumi selalu meminta kepada-Nya. Setiap waktu Dia dalam kesibukan”.
      Karya besar Nabi justru terjadi pada bulan Ramadan, misalnya kemenangan dalam Perang Badar, dan keberhasilan menguasai kota Mekah tanpa pertumpahan darah, dan sebagainya.
     Kemenangan umat Islam sepeninggal Nabi yang terjadi dalam bulan Ramadan,  misalnya kemenangan pasukan Muslim di Spanyol terjadi pada bulan Ramadan  (91 H/710 M), kemenangan dalam Perang Salib (584 H/1188 M), kemenangan melawan pasukan Tartar (658 H/1168 M), dan banyak lainnya.
     Proklamasi Kemerdekaan bangsa Indonesia juga tercapai pada hari Jumat Legi bulan  Ramadan, sehingga selama bulan Ramadan tetap semangat kerja seperti bulan lainnya untuk membangun peradaban manusia yang lebih baik.

Daftar Pustaka
1. Shihab, M.Quraish. Lentera Hati. Kisah dan Hikmah Kehidupan. Penerbit Mizan, 1994.   
2. Shihab, M. Quraish Shihab. Wawasan Al-Quran. Tafsir Maudhui atas Perbagai Persoalan Umat. Penerbit Mizan, 2009.
3. Shihab, M.Quraish. E-book Membumikan Al-Quran.
4. Al-Quran Digital, Versi 3.2. Digital Qur’an Ver 3.2
5. Tafsirq.com online