Organisasi Profesi Guru

Presiden Jokowi memberi hormat kepada Guru-Guru se Indonesia.

Tema Gambar Slide 2

Deskripsi gambar slide bisa dituliskan disini dengan beberapa kalimat yang menggambarkan gambar slide yang anda pasang, edit slide ini melalui edit HTML template.

Tema Gambar Slide 3

Deskripsi gambar slide bisa dituliskan disini dengan beberapa kalimat yang menggambarkan gambar slide yang anda pasang, edit slide ini melalui edit HTML template.

Friday, July 5, 2019

2554. PENGARUH HARI KIAMAT


PENGARUH HARI KIAMAT
Oleh: Drs. H. M. Yusron Hadi, M.M.
        Beberapa orang bertanya,”Mohon dijelaskan tentang pengaruh keyakinan adanya hari kiamat?” Profesor Quraish Shihab menjelaskannya.
1.    Al-Quran menghendaki agar keyakinan akan adanya hari kiamat mampu mengantarkan manusia untuk melakukan aktivitas dan kegiatan yang positif dalam hidupnya.
2.    Meskipun aktivitas dan kegiatan itu dinilainya tidak menghasilkan keuntungan materi dalam kehidupan dunianya sekarang ini.
3.    Al-Quran surah Al-Maun (surah ke-107) ayat 1-7.

أَرَأَيْتَالَّذِييُكَذِّبُبِالدِّينِفَذَٰلِكَالَّذِييَدُعُّالْيَتِيمَوَلَايَحُضُّعَلَىٰطَعَامِالْمِسْكِينِفَوَيْلٌلِلْمُصَلِّينَالَّذِينَهُمْعَنْصَلَاتِهِمْسَاهُونَالَّذِينَهُمْيُرَاءُونَوَيَمْنَعُونَالْمَاعُونَ

      Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim, dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin. Maka kecelakaan bagi orang-orang yang salat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari salatnya, orang-orang yang berbuat ria dan enggan (menolong dengan) barang berguna.  
4.    Dalam beberapa riwayat, dikemukakan bahwa surat Al-Maun (surah ke-107)  tersebut turun berkenaan dengan Abu Sufyan dan Abu Jahal, yang setiap minggu menyembelih seekor unta.
5.    Suatu ketika, seorang anak yatim datang kepadanya meminta sedikit daging yang telah disembelih itu, tetapi dia tidak diberinya daging, malahan dihardik dan diusirnya.
6.    Surat Al-Maun (surah ke-107) dimulai dengan satu pertanyaan, “Tahukah kamu orang yang mendustakan “ad-din”?
7.    Kata “ad-din” dalam surah ini yang sangat populer, diartikan dengan “agama”, tetapi “ad-din” dapat berarti “pembalasan”.
8.    Maka “yukadzdzibu biddin” bisa diartikan menolak adanya hari kiamat atau hari pembalasan atau menolak adanya hari akhir.
9.    Terdapat ayat Al-Quran yang menggandengkan kata “ad-din” dengan “yukadzdzibu”, maka konteksnya adalah “pengingkaran terhadap hari kiamat”.

10.  Al-Quran surah Al-Infithar (surah ke-82) ayat 9.

كَلَّابَلْتُكَذِّبُونَبِالدِّينِ
      Bukan hanya durhaka saja, bahkan kamu mendustakan hari pembalasan.
11. Al-Quran surah At-Tin (surah ke-95) ayat 7.

فَمَايُكَذِّبُكَبَعْدُبِالدِّينِ
      Maka apakah yang menyebabkan kamu mendustakan (hari) pembalasan sesudah (adanya keterangan-keterangan) itu?
12. Sikap orang yang enggan membantu anak yatim dan orang miskin karena mereka menduga (menurut pikirannya) bahwa bantuannya tidak menghasilkan apa-apa.
13. Hal ini muncul pada hakikatnya karena mereka tidak percaya akan datangnya hari kiamat dan tidak yakin adanya hari pembalasan.
14. Orang yang beriman dan yakin akan datangnya hari kiamat dan hari pembalasan, pasti meyakini bahwa semua bantuan yang telah diberikan kepada anak yatim dan fakir miskin (yang menurut pikirannya tidak menghasilkan sesuatu di dunia sekarang  ini), maka pasti ganjaran atau balasan perbuatannya akan diperoleh di akhirat kelak.
15. Orang yang meyakini terjadinya hari kiamat dan hari pembalasan, pasti yakin dan percaya  bahwa Allah akan membalas semua amal baik seseorang, sekecil apa pun bentuknya.
16. Orang yang hanya memandang segala sesuatu berlaku di dunia saja, dan tidak meyakini adanya hari kiamat, akan menimbulkan sikap penolakan dan pendustaan terhadap “ad-din” dalam arti “agama” maupun “hari pembalasan”.
17. Kata “ad-din” menuntut adanya kepercayaan kepada yang gaib, bukan sekadar yakin kepada Allah dan malaikat-Nya,  tetapi berkaitan dengan banyak hal.
18. Termasuk yakin dengan janji Allah yang akan melipatgandakan anugerah-Nya kepada setiap orang yang memberikan bantuan.
19. Kepercayaan dan keyakinan terhadap semua janji Allah, akan melebihi keyakinannya menyangkut segala sesuatu yang didasari oleh perhitungan untung dan rugi menurut akalnya saja.
20. Meskipun akalnya membisikkan bahwa “sikap yang akan diambilnya akan merugikan dan tidak menguntungkan”, tetapi dorongan jiwanya yang yakin dan percaya akan mengantarkan untuk melakukannya karena sejalan dengan keyakinannya.
21. Dia yakin bahwa apa yang berada di tangan Allah lebih meyakinkan daripada apa yang terdapat dalam genggaman tangan sendiri.
22. Dengan pertanyaan tersebut, ayat pertama surat Al-Ma’un (surah ke-107) ini mengajak manusia untuk menyadari salah satu bukti utama kesadaran beragama atau kesadaran berkeyakinan tentang adanya hari akhir.
23. Surat Al-Maun (surah ke-107) yang terdiri atas 7 ayat pendek berbicara tentang suatu hakikat yang sangat penting, yang terlihat secara tegas dan jelas bahwa ajaran Islam tidak memisahkan upacara ritual dan ibadah sosial.
24. Ajaran Islam sebagaimana tergambar dalam ayat Al-Quran di atas menekankan bahwa ibadah dalam pengertiannya yang sempit pun mengandung dalam jiwanya dimensi sosial.
25. Jika jiwa ajaran tersebut tidak dipenuhi, maka pelaksanaan ibadah dimaksud tidak akan banyak artinya.
26. Hakikat pembenaran “ad-din” bukan hanya dengan ucapan dengan lidah, tetapi  perubahan dalam jiwa yang mendorong kepada kebaikan dan kebajikan terhadap sesama manusia yang membutuhkan pelayanan dan perlindungan.
27. Allah tidak menghendaki dari manusia kalimat yang hanya dituturkan di bibir saja, tetapi yang dikehendaki-Nya adalah karya nyata, yang membenarkan (kalimat yang diucapkan itu).
28. Para ahli berdiskusi banyak menghabiskan waktu dan energi mereka, khususnya detail kebangkitan tersebut apakah kebangkitan ruh dan jasad atau hanya ruh saja.
29. Apa pun bentuk kebangkitan tersebut, apakah dengan ruh dan jasad atau dengan ruh saja, yang pokok adalah bahwa ketika itu setiap manusia mengenal dirinya, tidak kurang dari pengenalannya ketika dia hidup di dunia.
30. Adapun keterangan tentang hakikat kebangkitan, bentuk, waktu, dan tempatnya, maka semuanya berada di luar tuntunan agama.
31. Karena itu, sangat boleh jadi pembahasan para filosof, ulama, dan ahli tentang soal tersebut lebih banyak didorong oleh kepentingan kepuasan penalaran akal pikiran manusia daripada dorongan kehangatan iman.

Daftar Pustaka
1.    Shihab, M.Quraish. Lentera Hati. Kisah dan Hikmah Kehidupan. Penerbit Mizan, 1994.  
2.    Shihab, M. Quraish Shihab. Wawasan Al-Quran. Tafsir Maudhui atas Perbagai Persoalan Umat. Penerbit Mizan, 2009.
3.    Shihab, M.Quraish. E-book Membumikan Al-Quran.
4.    Al-Quran Digital, Versi 3.2. Digital Qur’an Ver 3.2
5.    Tafsirq.com online.

2554. PENGARUH HARI KIAMAT


PENGARUH HARI KIAMAT
Oleh: Drs. H. M. Yusron Hadi, M.M.
        Beberapa orang bertanya,”Mohon dijelaskan tentang pengaruh keyakinan adanya hari kiamat?” Profesor Quraish Shihab menjelaskannya.
1.    Al-Quran menghendaki agar keyakinan akan adanya hari kiamat mampu mengantarkan manusia untuk melakukan aktivitas dan kegiatan yang positif dalam hidupnya.
2.    Meskipun aktivitas dan kegiatan itu dinilainya tidak menghasilkan keuntungan materi dalam kehidupan dunianya sekarang ini.
3.    Al-Quran surah Al-Maun (surah ke-107) ayat 1-7.

أَرَأَيْتَالَّذِييُكَذِّبُبِالدِّينِفَذَٰلِكَالَّذِييَدُعُّالْيَتِيمَوَلَايَحُضُّعَلَىٰطَعَامِالْمِسْكِينِفَوَيْلٌلِلْمُصَلِّينَالَّذِينَهُمْعَنْصَلَاتِهِمْسَاهُونَالَّذِينَهُمْيُرَاءُونَوَيَمْنَعُونَالْمَاعُونَ

      Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim, dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin. Maka kecelakaan bagi orang-orang yang salat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari salatnya, orang-orang yang berbuat ria dan enggan (menolong dengan) barang berguna.  
4.    Dalam beberapa riwayat, dikemukakan bahwa surat Al-Maun (surah ke-107)  tersebut turun berkenaan dengan Abu Sufyan dan Abu Jahal, yang setiap minggu menyembelih seekor unta.
5.    Suatu ketika, seorang anak yatim datang kepadanya meminta sedikit daging yang telah disembelih itu, tetapi dia tidak diberinya daging, malahan dihardik dan diusirnya.
6.    Surat Al-Maun (surah ke-107) dimulai dengan satu pertanyaan, “Tahukah kamu orang yang mendustakan “ad-din”?
7.    Kata “ad-din” dalam surah ini yang sangat populer, diartikan dengan “agama”, tetapi “ad-din” dapat berarti “pembalasan”.
8.    Maka “yukadzdzibu biddin” bisa diartikan menolak adanya hari kiamat atau hari pembalasan atau menolak adanya hari akhir.
9.    Terdapat ayat Al-Quran yang menggandengkan kata “ad-din” dengan “yukadzdzibu”, maka konteksnya adalah “pengingkaran terhadap hari kiamat”.

10.  Al-Quran surah Al-Infithar (surah ke-82) ayat 9.

كَلَّابَلْتُكَذِّبُونَبِالدِّينِ
      Bukan hanya durhaka saja, bahkan kamu mendustakan hari pembalasan.
11. Al-Quran surah At-Tin (surah ke-95) ayat 7.

فَمَايُكَذِّبُكَبَعْدُبِالدِّينِ
      Maka apakah yang menyebabkan kamu mendustakan (hari) pembalasan sesudah (adanya keterangan-keterangan) itu?
12. Sikap orang yang enggan membantu anak yatim dan orang miskin karena mereka menduga (menurut pikirannya) bahwa bantuannya tidak menghasilkan apa-apa.
13. Hal ini muncul pada hakikatnya karena mereka tidak percaya akan datangnya hari kiamat dan tidak yakin adanya hari pembalasan.
14. Orang yang beriman dan yakin akan datangnya hari kiamat dan hari pembalasan, pasti meyakini bahwa semua bantuan yang telah diberikan kepada anak yatim dan fakir miskin (yang menurut pikirannya tidak menghasilkan sesuatu di dunia sekarang  ini), maka pasti ganjaran atau balasan perbuatannya akan diperoleh di akhirat kelak.
15. Orang yang meyakini terjadinya hari kiamat dan hari pembalasan, pasti yakin dan percaya  bahwa Allah akan membalas semua amal baik seseorang, sekecil apa pun bentuknya.
16. Orang yang hanya memandang segala sesuatu berlaku di dunia saja, dan tidak meyakini adanya hari kiamat, akan menimbulkan sikap penolakan dan pendustaan terhadap “ad-din” dalam arti “agama” maupun “hari pembalasan”.
17. Kata “ad-din” menuntut adanya kepercayaan kepada yang gaib, bukan sekadar yakin kepada Allah dan malaikat-Nya,  tetapi berkaitan dengan banyak hal.
18. Termasuk yakin dengan janji Allah yang akan melipatgandakan anugerah-Nya kepada setiap orang yang memberikan bantuan.
19. Kepercayaan dan keyakinan terhadap semua janji Allah, akan melebihi keyakinannya menyangkut segala sesuatu yang didasari oleh perhitungan untung dan rugi menurut akalnya saja.
20. Meskipun akalnya membisikkan bahwa “sikap yang akan diambilnya akan merugikan dan tidak menguntungkan”, tetapi dorongan jiwanya yang yakin dan percaya akan mengantarkan untuk melakukannya karena sejalan dengan keyakinannya.
21. Dia yakin bahwa apa yang berada di tangan Allah lebih meyakinkan daripada apa yang terdapat dalam genggaman tangan sendiri.
22. Dengan pertanyaan tersebut, ayat pertama surat Al-Ma’un (surah ke-107) ini mengajak manusia untuk menyadari salah satu bukti utama kesadaran beragama atau kesadaran berkeyakinan tentang adanya hari akhir.
23. Surat Al-Maun (surah ke-107) yang terdiri atas 7 ayat pendek berbicara tentang suatu hakikat yang sangat penting, yang terlihat secara tegas dan jelas bahwa ajaran Islam tidak memisahkan upacara ritual dan ibadah sosial.
24. Ajaran Islam sebagaimana tergambar dalam ayat Al-Quran di atas menekankan bahwa ibadah dalam pengertiannya yang sempit pun mengandung dalam jiwanya dimensi sosial.
25. Jika jiwa ajaran tersebut tidak dipenuhi, maka pelaksanaan ibadah dimaksud tidak akan banyak artinya.
26. Hakikat pembenaran “ad-din” bukan hanya dengan ucapan dengan lidah, tetapi  perubahan dalam jiwa yang mendorong kepada kebaikan dan kebajikan terhadap sesama manusia yang membutuhkan pelayanan dan perlindungan.
27. Allah tidak menghendaki dari manusia kalimat yang hanya dituturkan di bibir saja, tetapi yang dikehendaki-Nya adalah karya nyata, yang membenarkan (kalimat yang diucapkan itu).
28. Para ahli berdiskusi banyak menghabiskan waktu dan energi mereka, khususnya detail kebangkitan tersebut apakah kebangkitan ruh dan jasad atau hanya ruh saja.
29. Apa pun bentuk kebangkitan tersebut, apakah dengan ruh dan jasad atau dengan ruh saja, yang pokok adalah bahwa ketika itu setiap manusia mengenal dirinya, tidak kurang dari pengenalannya ketika dia hidup di dunia.
30. Adapun keterangan tentang hakikat kebangkitan, bentuk, waktu, dan tempatnya, maka semuanya berada di luar tuntunan agama.
31. Karena itu, sangat boleh jadi pembahasan para filosof, ulama, dan ahli tentang soal tersebut lebih banyak didorong oleh kepentingan kepuasan penalaran akal pikiran manusia daripada dorongan kehangatan iman.

Daftar Pustaka
1.    Shihab, M.Quraish. Lentera Hati. Kisah dan Hikmah Kehidupan. Penerbit Mizan, 1994.  
2.    Shihab, M. Quraish Shihab. Wawasan Al-Quran. Tafsir Maudhui atas Perbagai Persoalan Umat. Penerbit Mizan, 2009.
3.    Shihab, M.Quraish. E-book Membumikan Al-Quran.
4.    Al-Quran Digital, Versi 3.2. Digital Qur’an Ver 3.2
5.    Tafsirq.com online.

2553. DATANGNYA HARI KIAMAT


Oleh: Drs. H. M. Yusron Hadi, M.M.
      Beberapa orang bertanya,”Mohon dijelaskan tentang kapan datangnya hari kiamat?” Profesor Quraish Shihab menjelaskannya.
1.    Hari Kiamat (menurut KBBI V) adalah hari kebangkitan sesudah mati, yaitu orang yang telah meninggal dunia dihidupkan kembali untuk diadili perbuatannya, atau hari kiamat adalah hari akhir zaman, artinya dunia seisinya rusak binasa dan lenyap.
2.    Al-Quran dan hadis Nabi yang membahas tentang hari akhir dari bermacam-macam aspek, tidak membicarakan sedikit pun tentang kapan datangnya hari kiamat.
3.    Bahkan secara tegas dalam berbagai ayat Al-Quran dan hadis Nabi menyatakan bahwa tidak ada seorang pun yang mengetahui waktu datangnya hari kiamat.
4.    Al-Quran An-Naziat (surah ke-79) ayat 42-44.

يَسْأَلُونَكَعَنِالسَّاعَةِأَيَّانَمُرْسَاهَافِيمَأَنْتَمِنْذِكْرَاهَاإِلَىٰرَبِّكَمُنْتَهَاهَا

    
      (Orang-orang kafir) bertanya kepadamu (Muhammad) tentang hari berbangkit, kapankah terjadinya? Siapakah kamu (sehingga) dapat menyebutkan (waktunya)?
5.    Banyak ayat Al-Quran yang mengandung makna serupa, dan hadis Nabi menginformasikan bahwa malaikat Jibril pernah bertanya kepada Nabi Muhammad dalam rangka mendidik umat Islam, “Kapankah datangnya hari kiamat?”
6.    Rasulullah bersabda, “Yang ditanya tentang hari kiamat, tidak lebih mengetahui daripada yang bertanya.”
7.    Al-Quran Al-Isra (surah ke-17)  ayat 51.
أَوْخَلْقًامِمَّايَكْبُرُفِيصُدُورِكُمْ ۚ فَسَيَقُولُونَمَنْيُعِيدُنَا ۖ قُلِالَّذِيفَطَرَكُمْأَوَّلَمَرَّةٍ ۚ فَسَيُنْغِضُونَإِلَيْكَرُءُوسَهُمْوَيَقُولُونَمَتَىٰهُوَ ۖ قُلْعَسَىٰأَنْيَكُونَقَرِيبًا

       Atau suatu makhluk dari makhluk yang tidak mungkin (hidup) menurut pikiranmu". Maka mereka akan bertanya: "Siapa yang akan menghidupkan kami kembali?" Katakan: "Yang telah menciptakanmu pada kali yang pertama". Lalu mereka akan menggeleng-gelengkan kepala mereka kepadamu dan berkata, "Kapan itu (akan terjadi)?" Katakan: "Mudah-mudahan waktu berbangkit itu dekat",
8.    Al-Quran Al-Qamar (surah ke-54) ayat 1.

اقْتَرَبَتِالسَّاعَةُوَانْشَقَّالْقَمَرُ

      Telah dekat (datangnya) kiamat itu dan telah terbelah bulan.
9.    Al-Quran surah Al-Anbiya’(surah ke-21)  ayat 1.

اقْتَرَبَلِلنَّاسِحِسَابُهُمْوَهُمْفِيغَفْلَةٍمُعْرِضُونَ

     Telah dekat kepada manusia hari menghisab segala amalan mereka, sedangkan mereka berada dalam kelalaian lagi berpaling (darinya).
10. Nabi Muhammad bersabda, “Aku diutus dengan perbandingan waktu antara zaman diutusku dengan hari kiamat adalah seperti ini”. (Rasulullah menggandengkan jari telunjuk dan jari tengah tangan kanan beliau).
11. Hadis itu dapat diartikan bahwa saat terjadinya hari kiamat adalah dekat dengan zaman Nabi Muhammad diutus menjadi rasul.
12. Tetapi  arti dekat itu tidak bisa dipahami bahwa kedekatan itu hanya dalam arti besok, 1.000 atau 10.000 tahun ke depan.
13. Mungkin yang dimaksudkan “dekat” adalah apabila dibandingkan dengan umur alam semesta yang telah berlalu ratusan tahun, dapat juga hadis Nabi dan ayat Al-Quran tersebut tidak menginformasikan kedekatan dalam arti waktu.
14. Nabi Muhammad diperintahkan menjawab pertanyaan kapan terjadinya hari kiamat dengan jawaban, “Boleh jadi, hari kiamat sudah dekat”.
15. Al-Quran surah Al-Anbiya’(surah ke-21) ayat 1 di atas menggunakan kata kerja masa lampau untuk sesuatu yang belum terjadi, artinya hari kiamat adalah sesuatu yang pasti terjadi.
16. Yang dimaksudkan hari kiamat sudah “dekat” adalah hari kiamat “pasti datangnya”.
17. Semua hal yang akan datang adalah dekat, dan segala yang telah berlalu dan tidak akan kembali adalah jauh”.
18. Agaknya informasi Al-Quran tentang kedekatan terjadinya hari kiamat adalah lebih dimaksudkan agar menjadikan manusia selalu siap menghadapi kehadirannya.
19. Al-Quran surah Yusuf (surah ke-12)  ayat 107.

أَفَأَمِنُواأَنْتَأْتِيَهُمْغَاشِيَةٌمِنْعَذَابِاللَّهِأَوْتَأْتِيَهُمُالسَّاعَةُبَغْتَةًوَهُمْلَايَشْعُرُونَ

     Apakah mereka merasa aman dari kedatangan siksa Allah yang meliputi mereka, atau kedatangan kiamat kepada mereka secara mendadak, sedangkan mereka tidak menyadarinya?
20. Al-Quran menjelaskan bahwa pihak yang bertanya tentang waktu kedatangan hari kiamat adalah orang-orang musyrik, bukan orang-orang yang beriman.
21. Orang-orang musyrik meminta agar hari kiamat segera didatangkan, tetapi orang-orang yang beriman merasa takut akan kedatangan hari kiamat.
22. Orang-orang yang beriman sangat yakin bahwa hari kiamat adalah benar dan pasti terjadi.

23. Al-Quran surah Asy- Syura (surah ke-42)  ayat 18.

يَسْتَعْجِلُبِهَاالَّذِينَلَايُؤْمِنُونَبِهَا ۖ وَالَّذِينَآمَنُوامُشْفِقُونَمِنْهَاوَيَعْلَمُونَأَنَّهَاالْحَقُّ ۗ أَلَاإِنَّالَّذِينَيُمَارُونَفِيالسَّاعَةِلَفِيضَلَالٍبَعِيدٍ

    Orang-orang yang tidak beriman kepada hari kiamat meminta supaya hari itu segera didatangkan dan orang-orang yang beriman merasa takut kepadanya dan mereka yakin bahwa kiamat itu adalah benar (akan terjadi). Ketahuilah bahwa sesungguhnya orang-orang yang membantah tentang terjadinya kiamat itu benar-benar dalam kesesatan yang jauh.
24. Ketakutan dan kekhawatiran tentang terjadinya hari kiamat akan mengantarkan orang yang beriman untuk melakukan sebanyak mungkin amal perbuatan yang baik, sehingga mereka dapat memperoleh kebahagiaan abadi di akhirat.

DaftarPustaka
1.    Shihab, M. Quraish. Lentera Hati. Kisahdan Hikmah Kehidupan. Penerbit Mizan, 1994.  
2.    Shihab, M. Quraish Shihab. Wawasan Al-Quran. Tafsir Maudhui atas Perbagai Persoalan Umat. Penerbit Mizan, 2009.
3.    Shihab, M.Quraish. E-book Membumikan Al-Quran.
4.    Al-Quran Digital, Versi 3.2. Digital Qur’an Ver 3.2
5.    Tafsirq.com online.