Organisasi Profesi Guru

Presiden Jokowi memberi hormat kepada Guru-Guru se Indonesia.

Tema Gambar Slide 2

Deskripsi gambar slide bisa dituliskan disini dengan beberapa kalimat yang menggambarkan gambar slide yang anda pasang, edit slide ini melalui edit HTML template.

Tema Gambar Slide 3

Deskripsi gambar slide bisa dituliskan disini dengan beberapa kalimat yang menggambarkan gambar slide yang anda pasang, edit slide ini melalui edit HTML template.

Sunday, January 5, 2020

4196. HANYA TINGGAL KENANGAN


HANYA TINGGAL KENANGAN
Oleh: Drs. H. M. Yusron Hadi, M.M.
1.    MERAWAT BAKAL SEJARAH
2.    Catatan Eko Prasetyo
3.    Pemred MediaGuru
4.    Coba sesekali datang ke toko elektronik.
5.    Perhatikan apakah masih ada perangkat pemutar kaset.
6.    Kalaupun ada, boleh dibilang pembelinya sudah sangat jarang.
7.    Benar, kaset tinggal sejarah.
8.    Era digital benar-benar melahap banyak hal yang akhirnya hanya menyisakan kenangan.
9.    Kaset itu hanya contoh kecil.
10. Barangkali permainan tradisional juga mulai menuju jurang kepunahan karena game di gadget kian lekat dengan kids zaman now.
11. Lihat saja ritel Ramayana mulai tutup di beberapa kota.
12. Sebab, mal daring (online) membuat seseorang tak perlu mengeluarkan tenaga dan buang ongkos kendaraan umum untuk sekadar belanja sesuatu.
13. Angkot di kota-kota besar juga perlahan ditinggal hijrah peminatnya.
14. Pasalnya, transportasi umum berbasis aplikasi lebih memanjakan pelanggannya.
15. Kini saya tak perlu punya mobil dan mengeluarkan biaya perawatan.
16. Cukup pesan di aplikasi, driver dengan mobil bersih wangi langsung datang mengantar.
17. Biayanya pun terjangkau.
18. Saya berpikir ada benarnya pesan tersirat di film Ocean's Thirteen (2007) yang dibintangi George Clooney, Brad Pitt, dan Matt Dammon.
19. Dalam sebuah adegan, ada kalimat menarik yang saya catat.
20. Yakni, jangan menjadi manusia analog di zaman digital.
21. Saat ini, jika tak menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman yang ada, kita bakal hilang dilumat masa dan tinggal kenangan.
22. Kalau jadi sejarah, ini masih mending.
23. Lha kalau dilupakan?
24. Karena itu, saya rutin berkirim tulisan ke koran cetak.
25. Sebagai orang yang pernah menjadi bagian dunia media cetak, saya mafhum apabila industri koran cetak begitu tertatih-tatih.
26. Contoh paling sahih adalah tutupnya majalah Rolling Stones Indonesia dan bahkan versi web-nya pula pada akhir Desember 2017.
27. Sementara koran-koran lokal dan sebagian majalah lain sudah mengucapkan sayonara lebih dulu.
28. Lesunya bisnis media cetak bisa dipahami tidak hanya karena kedigdayaan media sosial yang aksesnya lebih cepat, mudah, dan murah.
29. Lebih dari itu, mahalnya harga kertas dan minimnya pemasukan iklan menjadi faktor lain mengapa napas koran kian sesak.
30. Dulu saya menulis di harian Sinar Harapan yang begitu legendaris di ibu kota.
31. Kini ia tinggal sejarah sejak ditutup pada 2015.
32. Begitu pula koran Tempo edisi Minggu dan harian Bola yang akhirnya juga ditutup.
33. Tanpa upaya konvergensi media, memang rasa-rasanya mustahil bisa mempertahankan hegemoni koran cetak.
34. Sekarang ini semuanya laksana politik: serbadinamis dan sukar diterka.
35. Maka, selain inovasi, dibutuhkan orang-orang "jadul" yang masih gemar baca koran pagi-pagi ditemani segelas kopi dan merdunya kicau derkuku.
36. Koran cetak itulah yang saya maksud sebagai bakal sejarah.
37. Sebab, bisa saja sewaktu-waktu koran sebesar Jawa Pos tutup seperti dialami The Washington Post pada 2007.
38. Sebelum itu terjadi, saya akan rajin menulis di Jawa Pos meski hanya surat pembaca.
39. Depok, 5 Januari 2017
(Sumber: internet Eko Prasetyo)


4195. ABDUL SOMAD BUKAN SOLMED


ABDUL SOMAD BUKAN SOLMED
Oleh: Drs. H. M. Yusron Hadi, M.M.

1.    Ustad Abdul Somad bukan Solmed.
2.    Menarik nih testimoni kawan saya, Jansen Sitindaon yang non Muslim tentang Ustad Abdul Somad
3.    Ust Abdul Somad yang ternyata bukan Ust. Solmed
4.    Karena mungkin saya Kristen ya, walau ditengah ramainya pemberitaan tentang Ust. Abdul Somad ini.
5.    Awalnya saya tidak ngehh dan juga tidak terlalu tertarik untuk mengetahui siapa Ustad ini.
6.    Malah di memori saya, saya pikir dia ini adalah Ust. Solmed yang populer itu.
7.    Ternyata sesudah kemarin, sekali lagi! baru kemarin.
8.    Pasca saya ikuti pemberitaan kasus cekal di Hongkong.
9.    Dan pasca saya baca secara tak sengaja tulisan Imam Samsi di Opini Detik.Com.
10. Baru saya tertarik mengetahui siapa Ustad ini.
11. Mosok sekelas Iman Samsi yang tinggal di benua lain saja menulis tentang dia.
12. Pikir saya.
13. Pastilah sesuatu orang ini.
14. Barulah kemudian saya mengikuti pemberitaan tentang Ustad ini.
15. Lihat wajahnya, kaget saya!
16. Selain karena ternyata Ust. Abdul Somad ini bukan Ust Solmed seperti dipikiran awal saya.
17. Yang kedua, wajahnya juga (mohon maaf) agak "unik", sangat lokal. Hehe..
18. Dan ini di luar dugaan saya.
19. Saya pikir awalnya dia sudah mentereng seperti Ustad yang lain.
20. Kemudian saya lanjutkan lagi penelusuran saya masuk ke Youtube.
21. Tambah kaget lagi saya.
22. Rekaman ceramahnya di banyak tempat di Indonesia ini ternyata sudah sangat banyak di Youtube.
23. Kemudian saya coba putar dan dengar beberapa ceramahnya.
24. Tambah kaget lagi saya!
25. Karena isinya ternyata sangat berkualitas.
1)    Berisi.
2)    Penuh ilmu.
3)    Penuh rujukan.
4)    Padat bacaan.
5)    Kontekstual.
6)    Geerrr.
7)    Dan yang utama lagi, gampang dipamahi dan tidak membosankan.
26. Inilah menurut saya ceramah: "rasa Indonesia berlogat daerah berilmu tinggi padat bacaan".
27. Walau Kristen, sejak dulu saya sangat suka mendengar ceramahnya KH. Zainuddin MZ almarhum.
28. Bahkan ada acara ceramah agama beliau (dulu) di TV One yang sampai sekarang acara itu juga masih ada.
29. Saya lupa apa namanya acaranya, dimana beliau sering jadi pengisi Khotbah-nya, sering saya tonton.
30. Karena memang enak dengar ceramah KH. Zainuddin MZ ini. Udahlah tinggi ilmunya.
31. Pengajarannya juga sangat bagus.
32. Ada gerrrr nya lagi, humornya, dan celetukan-celetukannya itu lo yang kita rindu karena buat mata melek terus nyimak tidak buat ngantuk.
33. Sesudah mendengar beberapa ceramah Ust. Abdul Somad ini di Youtube.
34. Saya berpikir "The New KH. Zainuddin MZ telah lahir".
35. Tidak persis sama.
36. Namun perasaan saya ketika mendengar ceramahnya terasa sama.
37. Banyak orang pintar, tinggi sekolahnya, tinggi ilmunya.
38. Namun ketika bicara, dia tidak bisa buat gerrrr dan menarik orang untuk terus mendengar apa yang dia sampaikan.
39. Dalam diri Ust. Abdul Somad saya melihat hal itu ada.
40. Dia mampu membuat Ummat duduk diam, anteng tenang mendengar dan menyimak apa yang dia sampaikan.
41. Sama dengan KH. Zainuddin MZ yang mampu menghipnotis "jutaan umat" ketika dia sudah mulai bicara dari atas mimbar.
42. Mencipta daya pikat!
43. Saya baca Wikipedia, ternyata Ust. Abdul Somad ini orang Asahan, Sumatera Utara.
44. Satu kampung kita ternyata "wak Abdul"!
45. Sama-sama orang Sumut.
46. Dan dia juga lama di Riau.
47. Lidah lokal yang melahirkan logat khas.
48. Ini yang menurut saya tambah membuat lengkap dan enak kita mendengar Ust. Abdul Somad ini kalau bicara.
49. Sama dengan KH. Zainuddin MZ dengan logat khas Betawinya.
50. Tarikan logat lokal ini yang "medok" inilah menurut saya yang semakin melengkapi Ustad Abdul Somed ini.
51. Kalau ilmu tak usah ditanya lagi lah.
52. Lulus dari Al-Azhar dan Institut Dar Al-Hadis Al-Hassania Maroko, rasanya sudah jaminan mutu untuk itu.
53. Maju terus Wak Abdul. Eh salah.
54. Pak Ustad Abdul Somad maksudnya. Hehee..
55. Lanjutkan terus "ceramah rasa Indonesia berlogat daerah berilmu tinggi" untuk mencerahkan Negeri ini.
56. Horasss wak..

(Sumber: internet Jansen Sitindaon)

4195. ABDUL SOMAD BUKAN SOLMED


ABDUL SOMAD BUKAN SOLMED
Oleh: Drs. H. M. Yusron Hadi, M.M.

1.    Ustad Abdul Somad bukan Solmed.
2.    Menarik nih testimoni kawan saya, Jansen Sitindaon yang non Muslim tentang Ustad Abdul Somad
3.    Ust Abdul Somad yang ternyata bukan Ust. Solmed
4.    Karena mungkin saya Kristen ya, walau ditengah ramainya pemberitaan tentang Ust. Abdul Somad ini.
5.    Awalnya saya tidak ngehh dan juga tidak terlalu tertarik untuk mengetahui siapa Ustad ini.
6.    Malah di memori saya, saya pikir dia ini adalah Ust. Solmed yang populer itu.
7.    Ternyata sesudah kemarin, sekali lagi! baru kemarin.
8.    Pasca saya ikuti pemberitaan kasus cekal di Hongkong.
9.    Dan pasca saya baca secara tak sengaja tulisan Imam Samsi di Opini Detik.Com.
10. Baru saya tertarik mengetahui siapa Ustad ini.
11. Mosok sekelas Iman Samsi yang tinggal di benua lain saja menulis tentang dia.
12. Pikir saya.
13. Pastilah sesuatu orang ini.
14. Barulah kemudian saya mengikuti pemberitaan tentang Ustad ini.
15. Lihat wajahnya, kaget saya!
16. Selain karena ternyata Ust. Abdul Somad ini bukan Ust Solmed seperti dipikiran awal saya.
17. Yang kedua, wajahnya juga (mohon maaf) agak "unik", sangat lokal. Hehe..
18. Dan ini di luar dugaan saya.
19. Saya pikir awalnya dia sudah mentereng seperti Ustad yang lain.
20. Kemudian saya lanjutkan lagi penelusuran saya masuk ke Youtube.
21. Tambah kaget lagi saya.
22. Rekaman ceramahnya di banyak tempat di Indonesia ini ternyata sudah sangat banyak di Youtube.
23. Kemudian saya coba putar dan dengar beberapa ceramahnya.
24. Tambah kaget lagi saya!
25. Karena isinya ternyata sangat berkualitas.
1)    Berisi.
2)    Penuh ilmu.
3)    Penuh rujukan.
4)    Padat bacaan.
5)    Kontekstual.
6)    Geerrr.
7)    Dan yang utama lagi, gampang dipamahi dan tidak membosankan.
26. Inilah menurut saya ceramah: "rasa Indonesia berlogat daerah berilmu tinggi padat bacaan".
27. Walau Kristen, sejak dulu saya sangat suka mendengar ceramahnya KH. Zainuddin MZ almarhum.
28. Bahkan ada acara ceramah agama beliau (dulu) di TV One yang sampai sekarang acara itu juga masih ada.
29. Saya lupa apa namanya acaranya, dimana beliau sering jadi pengisi Khotbah-nya, sering saya tonton.
30. Karena memang enak dengar ceramah KH. Zainuddin MZ ini. Udahlah tinggi ilmunya.
31. Pengajarannya juga sangat bagus.
32. Ada gerrrr nya lagi, humornya, dan celetukan-celetukannya itu lo yang kita rindu karena buat mata melek terus nyimak tidak buat ngantuk.
33. Sesudah mendengar beberapa ceramah Ust. Abdul Somad ini di Youtube.
34. Saya berpikir "The New KH. Zainuddin MZ telah lahir".
35. Tidak persis sama.
36. Namun perasaan saya ketika mendengar ceramahnya terasa sama.
37. Banyak orang pintar, tinggi sekolahnya, tinggi ilmunya.
38. Namun ketika bicara, dia tidak bisa buat gerrrr dan menarik orang untuk terus mendengar apa yang dia sampaikan.
39. Dalam diri Ust. Abdul Somad saya melihat hal itu ada.
40. Dia mampu membuat Ummat duduk diam, anteng tenang mendengar dan menyimak apa yang dia sampaikan.
41. Sama dengan KH. Zainuddin MZ yang mampu menghipnotis "jutaan umat" ketika dia sudah mulai bicara dari atas mimbar.
42. Mencipta daya pikat!
43. Saya baca Wikipedia, ternyata Ust. Abdul Somad ini orang Asahan, Sumatera Utara.
44. Satu kampung kita ternyata "wak Abdul"!
45. Sama-sama orang Sumut.
46. Dan dia juga lama di Riau.
47. Lidah lokal yang melahirkan logat khas.
48. Ini yang menurut saya tambah membuat lengkap dan enak kita mendengar Ust. Abdul Somad ini kalau bicara.
49. Sama dengan KH. Zainuddin MZ dengan logat khas Betawinya.
50. Tarikan logat lokal ini yang "medok" inilah menurut saya yang semakin melengkapi Ustad Abdul Somed ini.
51. Kalau ilmu tak usah ditanya lagi lah.
52. Lulus dari Al-Azhar dan Institut Dar Al-Hadis Al-Hassania Maroko, rasanya sudah jaminan mutu untuk itu.
53. Maju terus Wak Abdul. Eh salah.
54. Pak Ustad Abdul Somad maksudnya. Hehee..
55. Lanjutkan terus "ceramah rasa Indonesia berlogat daerah berilmu tinggi" untuk mencerahkan Negeri ini.
56. Horasss wak..

(Sumber: internet Jansen Sitindaon)