Organisasi Profesi Guru

Presiden Jokowi memberi hormat kepada Guru-Guru se Indonesia.

Tema Gambar Slide 2

Deskripsi gambar slide bisa dituliskan disini dengan beberapa kalimat yang menggambarkan gambar slide yang anda pasang, edit slide ini melalui edit HTML template.

Tema Gambar Slide 3

Deskripsi gambar slide bisa dituliskan disini dengan beberapa kalimat yang menggambarkan gambar slide yang anda pasang, edit slide ini melalui edit HTML template.

Wednesday, February 5, 2020

4414. SEJARAH NABI MUHAMMAD (18)


SEJARAH NABI MUHAMMAD
(Seri ke-18)
Oleh: Drs. H. M. Yusron Hadi, M.M.

A.           Rasulullah berumur 55 tahun.
1.    Rasulullah mengadakan rapat militer.
1)    Komandan pasukan Muhajirin (Abu Bakar, Umar bin Khattab, dan Miqdad bin Amr) menyatakan siap membela Rasulullah untuk berperang melawan kaum Quraisy.
2)    Komandan pasukan Ansar, Saad bin Muadz (kepala suku Aus, Madinah) siap membela Rasulullah apa pun risikonya.
3)    Rasulullah gembira menyaksikan semangat para komandan perang.
4)    Rasulullah bersabda,”Majulah kalian dan terima kabar gembira, karena Allah telah menjanjikan kepadaku. Demi Allah, seolah-olah aku telah melihat tempat kematian mereka.”

2.    Rasulullah melakukan kegiatan mata-mata.
1)    Rasulullah dan Abu Bakar menyamar berputar-putar di sekitar pasukan Quraisy Mekah.
2)    Pada sore hari, Rasulullah mengirim mata-mata untuk mencari data pasukan Quraisy Mekah.
3)    Pasukan muslim menangkap 2 orang petugas pasukan Quraisy yang mengambil air minum di sumber mata air Badar.
4)    Rasululah memperkirakan jumlah pasukan Quraisy 900-1.000 orang, karena setiap hari menyembelih 9-10 ekor untuk konsumsi pasukan.

3.    Pasukan Rasulullah mengambil posisi strategis.
1)    Pada petang hari, pasukan Rasulullah tiba di dekat mata air Badar.
2)    Sahabat bertanya,”Ya Rasulullah, apakah Allah memerintahkan berhenti di tempat ini, atau ini siasat dan strategi perang?”
3)    Rasulullah bersabda,”Ini adalah pendapatku dan strategi perang.”
4)    Hubab bin Mundhir berkata,”Sebaiknya, kita mendekat ke sumber air dan menimbun kolam-kolam yang terletak di belakang pasukan Quraisy.
5)    “Kita akan mengisi kolam di belakang kita dengan air minum sampai penuh. Hingga setelah perang, kita dapat minum, tetapi mereka tidak bisa.”
6)    Rasulullah bersabda,”Pendapatmu benar.”
7)    Rasulullah berkeliling arena yang akan dijadikan medan perang.
8)    Rasulullah bersabda sambil menuding,”Ini tempat kematiannya si Fulan, insya Allah dan ini tempat kamatiannya si Fulan besuk,  insya Allah.”
9)    Pada malam hari, Rasulullah banyak mengerjakan salat di dekat pohon yang tumbuh di sana.
10) Pasukan muslim beristirahat dengan harapan besuk paginya dapat melihat kabar gembira dari Allah.

4.    Pasukan kafir Quraisy masuk medan perang.
1)    Pada pagi hari, pasukan Quraisy bergerak dari tempat persembunyian di belakang gunung pasir menuju lembah Badar.
2)    Mata-mata Quraisy memperkirakan pasukan muslim berjumlah 300-an orang.
3)    Beberapa orang Quraisy yang mengambil air minum di mata air Badar, mati terbunuh.
4)    Yang tidak dibunuh adalah Hakim bin Hisyam, setelah itu dia masuk lslam dan selalu membela Rasulullah.

5.    Rasulullah menyiapkan pasukan.
1)    Rasulullah sedang meluruskan barisan pasukan muslim.
2)    Sawad bib Ghaziyah bergeser dari barisannya.
3)    Rasulullah memukul dengan anak panah untuk meluruskannya.
4)    Rasulullah bersabda,”Luruskan barisanmu, wahai Sawad.”
5)    Sawad bin Ghaziyah menjawab,”Ya Rasulullah, engkau telah membuatku sakit, maka beri kesempatan kepadaku untuk membalasnya.”
6)    Rasulullah menyingkap baju beliau pada bagian perut, sambil bersabda,”Jika begitu, balaslah.”
7)    Sawad bin Ghaziyah langsung memeluk perut Rasulullah.
8)    Rasulullah bersabda,”Ada apa kamu ini, wahai Sawad.”
9)    Sawad bin Ghaziyah menjawab,”Ya Rasulullah, telah lama aku ingin agar kulitku bersentuhan dengan kulit engkau, pada saat-saat terakhir aku hidup bersama engkau.”
10) Rasulullah lalu mendoakan Sawad bin Ghaziyah.
11) Ketika pasukan sudah saling berhadapan Rasulullah berdoa,”Ya Allah, ini kaum Quraisy datang dengan kecongkakan dan kesombongan memusuhi-Mu dan mendustakan Rasul-Mu.”
12) “Ya Allah, yang aku harapkan adalah pertolongan-Mu seperti yang telah Engkau janjikan kepadaku. Ya Allah, binasakan mereka pagi ini.”

6.    Pasukan muslim dan pasukan Quraisy saling mengintai.
1)    Rasulullah memerintahkan pasukan muslim jangan menyerang musuh terlebih dahulu, sebelum mendapat perintah dari Rasulullah.
2)    Rasulullah bersabda,”Jika kalian merasa musuh jumlahnya terlalu besar, maka kalian harus mendahului melepaskan anak panah kepada mereka.”
3)    “Pedang hanya digunakan ketika musuh sudah dekat.”
4)    Rasulullah dan Abu Bakar masuk ke dalam tenda.
5)    Saad bin Muadz (kepala suku Aus, Madinah) bertugas menjaga keamanan Rasulullah.
6)    Abu Jahal berkata,”Ya Allah, siapakah yang lebih Engkau cintai dan Engkau ridai, maka berilah kemenangan kepadaku pada hari ini.
7)    Al-Quran surah Al-Anfal (surah ke-8) ayat 19.

إِنْ تَسْتَفْتِحُوا فَقَدْ جَاءَكُمُ الْفَتْحُ ۖ وَإِنْ تَنْتَهُوا فَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ ۖ وَإِنْ تَعُودُوا نَعُدْ وَلَنْ تُغْنِيَ عَنْكُمْ فِئَتُكُمْ شَيْئًا وَلَوْ كَثُرَتْ وَأَنَّ اللَّهَ مَعَ الْمُؤْمِنِينَ

    Jika kamu (orang-orang musyrik) mencari keputusan, maka telah datang keputusan kepadamu; dan jika kamu berhenti; maka itu lebih baik bagimu; dan jika kamu kembali, niscaya Kami kembali (pula); dan angkatan perangmu tidak akan pernah dapat menolak darimu sesuatu bahaya pun, biar pun jumlahnya banyak dan sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang beriman.


Daftar Pustaka
1.    Syaikh Shafiyurrahman Al-Mubarakfury. Sirah Nabawiyah. Pustaka Al-Kautsar. Jakarta. 2006.
2.    Ghani, Muhammad Ilyas Abdul. Sejarah Masjid Nabawi. Madinah 2017.
3.    Ghani, Muhammad Ilyas Abdul. Sejarah Mekah. Mekah 2017.
4.    Al-Quran Digital, Versi 3.2. Digital Qur’an Ver 3.2.
5.    Tafsirq.com online.

Tuesday, February 4, 2020

4413. MUHASABAH ORANG NU


MUHASABAH ORANG NU
Oleh: Drs. H. M. Yusron Hadi, M.M.

1.    MUHASABAH BAGI KITA ORANG NU
2.    Oleh Gus Baha
3.    NU itu terlalu banyak pengajian umum.
4.    Tradisi ngaji (kitab) mulai hilang.
5.     Itu lampu merah.
6.    Orang kaya suka ulama.
7.    Suka kiai.
8.    Tapi maunya ngatur ulama, tidak mau diatur ulama.
9.    Saya ga mau ngaji yang ribet itu.
10. Harus pasang panggung, sound system, yang penting bupati datang.
11. Ribet.
12. Mereka habis 50 juta, 100 juta tidak masalah.
13. Tapi sesuai mau mereka, yang datang jamaahnya banyak.
14. Coba, kalo nuruti maunya kiai, ulama, ngajinya menganalisa kitab, uangnya buat mencetak naskah, pasti tidak mau.
15. Saya ingin kebesaran ulama itu kembali, yaitu bisa mengatur orang kaya.
16. Bukan seperti sekarang, diatur orang kaya.
17. Banyak yang datang minta pengajian umun, bawa alphard, saya jawab kalo mau ngaji datang ke sini saja.
18. Kalo kiai diatur-atur, kan ribet.
19. Bukan saya anti.
20. Dan itu perlu.
21. Tapi sudah over.
22. Tapi tradisi ngaji yang sebenarnya, yang jadi standar NU, sudah mulai ditinggalkan.
23. Ditambah, kiai yang kedonyan, cinta dunia.
24. Klop.
25. Yang kaya, tahunya memuliakan kiai dengan uang, kiainya juga senang.
26. Musibah.
27. Terutama di Jawa Timur.
28. Saya keluar dari kantor PWNU Jawa Timur, langsung dikasih voucher umroh.
29. Saya jawab, tidak, saya kiai Jawa Tengah.
30. Makanya saat saya diundang di Tebu Ireng, Pondok Syaikhona Kholil, Termas ...
31. Saya mau asal, disediakan naskahnya Mbah Hasyim  Asy'ari, Mbah Kholil, Syaikh Mahfudz Termas.

32. Ya, saya ngajinya kitab para pendiri pesantren itu.
33. Bukan ngaji gus Baha tapi ngaji Mbah Hasyim Asy'ari, dll.
34. Ini kan musibah.
35. Selama ini dzurriyah, para cucu tidak peduli dengan naskah pendiri.
36. Padahal ada ahli filologi, pengumpul naskah.
37. Naskah masyayikh kita ada di luar negeri, cucunya ga punya.
38. Saya punya naskahnya Syaikh Mahfudz yang tidak ada di Termas.
39. Saya dikasih Mbah Moen.
40. Akhirnya, para cucu ngaji ke sini.
41. Coba, Sirojut Tholibin di cetak di mana-mana, termasuk Yaman.
42. Namun, kita tahu nasibnya di Jampes.
43. Kiai-kiai NU itu sudah alim.
44. Ngerti hukum secara tafsil, kok malah hobi bicara yang mujmal.
45.  Ini kan sudah mau pinter, di suruh goblok lagi.
46. Anda itu ngaji, sampai buka kamus, meneliti tiap kata, harusnya ngajarnya seperti itu.
47. Agar tetap alim.
48. Ada kiai yang sehari manggung 3 kali.
49. Padahal, pasti dia tidak paham problem dakwah di setiap tempat itu.
50. Dia tidak tahu objeknya, tidak tahu obatnya. 
51. Pasti bicaranya standar, itu-itu saja, yang penting lucu dan menarik.
52. Mana ada waktu untuk belajar lebih dalam?

53. Akhirnya ada orang ceramah ditambahi musik macam-macam.
54. Karena dia tidak alim. Tidak terkontrol, yang penting menarik.
55. Akhirnya ya goblok beneran.
56. Pondok NU juga ikut-ikutan tren.
57. Bikin acara, ya pengajian umum.
58. Yang datang banyak.
59. Masak, pondok NU mengundang Abdus Shomad dan Adi Hidayat. 
60. Karena ikut tren tadi.
61. Tidak tahu, keduanya itu kategorinya apa, detailnya mereka.
62. Musibah lagi, warga NU membaca tulisan Gus Ulil, Nusron bahkan Abu Janda tapi tidak tahu naskahnya Mbah Hasyim Asy'ari.
63. Saya hanya ingin, tradisi ilmiah di NU itu kembali.
64. Kiai tidak boleh diatur orang kaya.
65. Jika tidak, NU bisa habis (orang alimnya). Saya di NU ditugasi ini, bukan yang lain.
66. Maka, saat saya di Lirboyo, saya bilang 'Gus Kafa, saya lebih senang disambut 4 santri yang benar-benar niat ngaji, daripada banyak santri yang niatnya tidak jelas'.
67. Kemudian, setiap kali saya ke Lirboyo, anak, mantu, cucu dikumpulkan dulu ngaji sama saya.
68. Jika, kita 5 tahun saja memulai. NU akan hebat.
69. Jika bukan anak kita yang jadi alim, cucu kita akan jadi ulama.
70. Itulah NU.
71. NU itu harusnya melahirkan kiai - allamah, bukan kiai-mubaligh seperti sekarang.
72. Dan saya melihat sudah lampu merah.
73. Padahal di zaman kakek saya, bahasa Arab itu seperti bahasa Jawa.
74. Saya punya tulisannya Mbah Hasyim Asy'ari yang surat-suratan dengan kakek saya dengan bahasa Arab.
75. Keilmuan, kealiman ini jangan habis.
76. Dulu para pendiri, kakek kita, allamah, punya naskah. Jika kita terus begini, bisa habis.
-       ditulis secara bebas -
(Sumber: internet KH. Bahauddin Nur Salim)


4413. MUHASABAH ORANG NU


MUHASABAH ORANG NU
Oleh: Drs. H. M. Yusron Hadi, M.M.

1.    MUHASABAH BAGI KITA ORANG NU
2.    Oleh Gus Baha
3.    NU itu terlalu banyak pengajian umum.
4.    Tradisi ngaji (kitab) mulai hilang.
5.     Itu lampu merah.
6.    Orang kaya suka ulama.
7.    Suka kiai.
8.    Tapi maunya ngatur ulama, tidak mau diatur ulama.
9.    Saya ga mau ngaji yang ribet itu.
10. Harus pasang panggung, sound system, yang penting bupati datang.
11. Ribet.
12. Mereka habis 50 juta, 100 juta tidak masalah.
13. Tapi sesuai mau mereka, yang datang jamaahnya banyak.
14. Coba, kalo nuruti maunya kiai, ulama, ngajinya menganalisa kitab, uangnya buat mencetak naskah, pasti tidak mau.
15. Saya ingin kebesaran ulama itu kembali, yaitu bisa mengatur orang kaya.
16. Bukan seperti sekarang, diatur orang kaya.
17. Banyak yang datang minta pengajian umun, bawa alphard, saya jawab kalo mau ngaji datang ke sini saja.
18. Kalo kiai diatur-atur, kan ribet.
19. Bukan saya anti.
20. Dan itu perlu.
21. Tapi sudah over.
22. Tapi tradisi ngaji yang sebenarnya, yang jadi standar NU, sudah mulai ditinggalkan.
23. Ditambah, kiai yang kedonyan, cinta dunia.
24. Klop.
25. Yang kaya, tahunya memuliakan kiai dengan uang, kiainya juga senang.
26. Musibah.
27. Terutama di Jawa Timur.
28. Saya keluar dari kantor PWNU Jawa Timur, langsung dikasih voucher umroh.
29. Saya jawab, tidak, saya kiai Jawa Tengah.
30. Makanya saat saya diundang di Tebu Ireng, Pondok Syaikhona Kholil, Termas ...
31. Saya mau asal, disediakan naskahnya Mbah Hasyim  Asy'ari, Mbah Kholil, Syaikh Mahfudz Termas.

32. Ya, saya ngajinya kitab para pendiri pesantren itu.
33. Bukan ngaji gus Baha tapi ngaji Mbah Hasyim Asy'ari, dll.
34. Ini kan musibah.
35. Selama ini dzurriyah, para cucu tidak peduli dengan naskah pendiri.
36. Padahal ada ahli filologi, pengumpul naskah.
37. Naskah masyayikh kita ada di luar negeri, cucunya ga punya.
38. Saya punya naskahnya Syaikh Mahfudz yang tidak ada di Termas.
39. Saya dikasih Mbah Moen.
40. Akhirnya, para cucu ngaji ke sini.
41. Coba, Sirojut Tholibin di cetak di mana-mana, termasuk Yaman.
42. Namun, kita tahu nasibnya di Jampes.
43. Kiai-kiai NU itu sudah alim.
44. Ngerti hukum secara tafsil, kok malah hobi bicara yang mujmal.
45.  Ini kan sudah mau pinter, di suruh goblok lagi.
46. Anda itu ngaji, sampai buka kamus, meneliti tiap kata, harusnya ngajarnya seperti itu.
47. Agar tetap alim.
48. Ada kiai yang sehari manggung 3 kali.
49. Padahal, pasti dia tidak paham problem dakwah di setiap tempat itu.
50. Dia tidak tahu objeknya, tidak tahu obatnya. 
51. Pasti bicaranya standar, itu-itu saja, yang penting lucu dan menarik.
52. Mana ada waktu untuk belajar lebih dalam?

53. Akhirnya ada orang ceramah ditambahi musik macam-macam.
54. Karena dia tidak alim. Tidak terkontrol, yang penting menarik.
55. Akhirnya ya goblok beneran.
56. Pondok NU juga ikut-ikutan tren.
57. Bikin acara, ya pengajian umum.
58. Yang datang banyak.
59. Masak, pondok NU mengundang Abdus Shomad dan Adi Hidayat. 
60. Karena ikut tren tadi.
61. Tidak tahu, keduanya itu kategorinya apa, detailnya mereka.
62. Musibah lagi, warga NU membaca tulisan Gus Ulil, Nusron bahkan Abu Janda tapi tidak tahu naskahnya Mbah Hasyim Asy'ari.
63. Saya hanya ingin, tradisi ilmiah di NU itu kembali.
64. Kiai tidak boleh diatur orang kaya.
65. Jika tidak, NU bisa habis (orang alimnya). Saya di NU ditugasi ini, bukan yang lain.
66. Maka, saat saya di Lirboyo, saya bilang 'Gus Kafa, saya lebih senang disambut 4 santri yang benar-benar niat ngaji, daripada banyak santri yang niatnya tidak jelas'.
67. Kemudian, setiap kali saya ke Lirboyo, anak, mantu, cucu dikumpulkan dulu ngaji sama saya.
68. Jika, kita 5 tahun saja memulai. NU akan hebat.
69. Jika bukan anak kita yang jadi alim, cucu kita akan jadi ulama.
70. Itulah NU.
71. NU itu harusnya melahirkan kiai - allamah, bukan kiai-mubaligh seperti sekarang.
72. Dan saya melihat sudah lampu merah.
73. Padahal di zaman kakek saya, bahasa Arab itu seperti bahasa Jawa.
74. Saya punya tulisannya Mbah Hasyim Asy'ari yang surat-suratan dengan kakek saya dengan bahasa Arab.
75. Keilmuan, kealiman ini jangan habis.
76. Dulu para pendiri, kakek kita, allamah, punya naskah. Jika kita terus begini, bisa habis.
-       ditulis secara bebas -
(Sumber: internet KH. Bahauddin Nur Salim)