Organisasi Profesi Guru

Presiden Jokowi memberi hormat kepada Guru-Guru se Indonesia.

Tema Gambar Slide 2

Deskripsi gambar slide bisa dituliskan disini dengan beberapa kalimat yang menggambarkan gambar slide yang anda pasang, edit slide ini melalui edit HTML template.

Tema Gambar Slide 3

Deskripsi gambar slide bisa dituliskan disini dengan beberapa kalimat yang menggambarkan gambar slide yang anda pasang, edit slide ini melalui edit HTML template.

Tuesday, October 6, 2020

5723. BENARKAH: BERI KAIL, JANGAN BERI IKAN

 


BENARKAH: BERI KAIL, JANGAN BERI IKAN

Oleh: Drs. H. M. YusronHadi, M.M

 

 

A.  Para nelayan diberi alat canggih.

 

1.  Mereka mendapat banyak hasil.

2.  Tak lama kemudian, mereka berhenti bekerja.

3.  Mereka berfoya-foya.

4.  Yang harus diubah adalah pandangan hidupnya.

 

 

5.  Semua penduduk Indonesia ingin berkembang maju, ingin duduk sama rendah, dan berdiri sama tinggi dengan Negara maju lainnya.

 

6.  Bangsa Indonesia ingin membangun peradaban baru yang lebih baik bersama bangsa lainnya.

 

 

7.  Faktor utama yang harus disiapkan oleh bangsa Indonesia apabila ingin maju bersama bangsa lainnya, bukanlah factor suku bangsa, ras, dan lingkungan geografisnya, serta bukan factor persenjataan militernya.

 

8.  Terdapat bangsa yang pernah berhasil menaklukkan bangsa lainnya, tetapi ternyata berjalan di tempat dan bangsa jajahannya berhasil lebih maju.

 

 

9.  Faktor kemajuan suatu bangsa juga bukan karena factor peralatan ilmu pengetahuan dan teknologinya.

 

10.      Pernah dilakukan pengamatan terhadap sekelompok nelayan pada suatu masyarakat terbelakang dan ternyata hasilnya mengecewakan.

 

 

11.      Para nelayan diberikan alat-alat yang canggih hasil iptek mutakhir dan diberikan keterampilan teknis penggunaannya dan hasilnya sangat mengagumkan, karena hasil ikan yang mereka peroleh bertambah sangat banyak.

 

12.      Tetapi beberapa lama kemudian, sebagian para nelayan berhenti bekerja dengan alasan perolehan mereka sudah cukup untuk bekal hidup beberapa lama.

 

 

13.      Sebagian sisa hasil kerja mereka habiskan untuk berfoya-foya, sehingga kelompok tersebut tidak mengalami kemajuan apalagi menciptakan peradaban baru yang lebih baik.

 

14.      Muncul keraguan terhadap kebenaran ungkapan,”Berilah mereka kail, dan jangan beri mereka ikan”.

 

 

15.      Ternyata kail yang canggih pun gagal mengantarkan suatu penduduk kepada kemajuan peradaban yang baru.

 

16.      Kalau begitu, dari mana kita memulainya?

 

 

17.      Al-Quran menjelaskan, “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum, sehingga mereka mengubahapa yang ada di dalam diri mereka sendiri”.

 

18.      Al-Quran surah Ar-Ra’du (surah ke-13) ayat 11.

 

لَهُۥ مُعَقِّبَٰتٌ مِّنۢ بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهِۦ يَحْفَظُونَهُۥ مِنْ أَمْرِ ٱللَّهِ ۗ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا۟ مَا بِأَنفُسِهِمْ ۗ وَإِذَآ أَرَادَ ٱللَّهُ بِقَوْمٍ سُوٓءًا فَلَا مَرَدَّ لَهُۥ ۚ وَمَا لَهُم مِّن دُونِهِۦ مِن وَالٍ

     Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia.

 

19.      Al-Quran menjelaskan bahwa factor utama apabila ingin mengubah keadaan suatu kaum adalah dengan cara mengubah “sesuatu” yang terdapat dalam diri manusianya.

 

20.      Sesuatu itu adalah nilai yang menjadi  pandangan hidup, kehendak, dan tekadnya.

 

 

21.      Jika nilaiyang dianut dan pandangan hidupnya hanya terbatas untuk sesuatu yang “di sini dan masa kini saja”, maka terbatas pula kehendak dan usahanya hanya “sampai kini dan di sini saja”.

 

22.      Nilai dan pandangan hidup seorang Muslim harus mengarah kepada satu Wujud Mutlak yang tidak terbatas, yaitu Allah Yang Maha Kuasa dan sampai ke alam akhirat yang melampaui batas waktu hidup di dunia ini.

 

 

23.      Nilai dan pandangan tersebut harus tertancap ke dalam jiwa, antara lain dan terutama, melalui bacaan dan sajian yang diberikan kepada masyarakat.

 

24.      Seorang guru besar di Universitas Harvard Amerika Serikat melakukan penelitian terhadap 40 negara yang berkaitan dengan periode kemajuan dan kemunduran yang dialami negara-negara tersebut dalam sejarahnya.

 

 

25.      Hasil penelitian menunjukkan bahwa salah satu factor utama yang dapat menentukan kemajuan atau kemunduran suatu Negara adalah bahan dan materi bacaan yang disajikan kepada generasi muda mereka.

 

26.      Hasilnya menujukkan bahwa 20 tahun menjelang kemajuan atau kemunduran suatu negara, para generasi muda dibekali dengan bahan dan materi bacaan yang mengantarkan mereka kepada kemajuan atau kemunduran masyarakatnya.

 

 

27.      Para murid itulah, setelah 20 tahun kemudian yang akan sangat berperan dalam berbagai aktivitas di negaranya, dan peranan mereka ditentukan oleh bacaan dan sajian yang disuguhkan yang kemudian membentuk pandangan hidup dan nilai-nilai yang dianut.

 

28.      Kesimpulannya, apabila kita ingin anak-anak kita berhasil memajukan bangsa dan negara Indonesia di masa mendatang seperti bangsa lainnya.

 

 

29.      Harus disiapkan bahan dan materi bacaan yang baik dan bermutu.

 

30.      Bacaan itu harus bisa dinikmati semua lapisan masyarakat dengan mudah, murah, dan meriah.

 

 

DaftarPustaka

1.  Shihab, M.Quraish. Lentera Hati. Kisah dan Hikmah Kehidupan. PenerbitMizan, 1994.   

2.  Shihab, M. Quraish Shihab. Wawasan Al-Quran. Tafsir Maudhui atas Perbagai Persoalan Umat. Penerbit Mizan, 2009.

3.  Shihab, M.Quraish. E-book Membumikan Al-Quran.

4.  Al-Quran Digital, Versi 3.2. Digital Qur’an Ver 3.2

5.  Tafsirq.com online

 

 

 

 

6. 

5722. ALLAH TAK UBAH NASIB, JIKA TAK USAHA

 


ALLAH TAK UBAH NASIB, JIKA TAK USAHA

Oleh: Drs. H. M. YusronHadi, M.M

 

 

A.  Allah tak akan mengubah suatu nasib, jika dia tak berusaha mengubahnya.

 

1.  Semua penduduk Indonesia ingin berkembang maju, ingin duduk sama rendah, dan berdiri sama tinggi dengan Negara maju lainnya.

 

2.  Bangsa Indonesia ingin membangun peradaban baru yang lebih baik bersama bangsa lainnya.

 

 

3.  Faktor utama yang harus disiapkan oleh bangsa Indonesia apabila ingin maju bersama bangsa lainnya, bukanlah factor suku bangsa, ras, dan lingkungan geografisnya, serta bukan factor persenjataan militernya.

 

4.  Terdapat bangsa yang pernah berhasil menaklukkan bangsa lainnya, tetapi ternyata berjalan di tempat dan bangsa jajahannya berhasil lebih maju.

 

 

5.  Faktor kemajuan suatu bangsa juga bukan karena factor peralatan ilmu pengetahuan dan teknologinya.

 

6.  Pernah dilakukan pengamatan terhadap sekelompok nelayan pada suatu masyarakat terbelakang dan ternyata hasilnya mengecewakan.

 

 

7.  Para nelayan diberikan alat-alat yang canggih hasil iptek mutakhir dan diberikan keterampilan teknis penggunaannya dan hasilnya sangat mengagumkan, karena hasil ikan yang mereka peroleh bertambah sangat banyak.

 

8.  Tetapi beberapa lama kemudian, sebagian para nelayan berhenti bekerja dengan alasan perolehan mereka sudah cukup untuk bekal hidup beberapa lama.

 

 

9.  Sebagian sisa hasil kerja mereka habiskan untuk berfoya-foya, sehingga kelompok tersebut tidak mengalami kemajuan apalagi menciptakan peradaban baru yang lebih baik.

 

10.      Muncul keraguan terhadap kebenaran ungkapan,”Berilah mereka kail, dan jangan beri mereka ikan”.

 

 

11.      Ternyata kail yang canggih pun gagal mengantarkan suatu penduduk kepada kemajuan peradaban yang baru.

 

12.      Kalau begitu, dari mana kita memulainya?

 

 

13.      Al-Quran menjelaskan, “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum, sehingga mereka mengubahapa yang ada di dalam diri mereka sendiri”.

 

14.      Al-Quran surah Ar-Ra’du (surah ke-13) ayat 11.

 

لَهُۥ مُعَقِّبَٰتٌ مِّنۢ بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهِۦ يَحْفَظُونَهُۥ مِنْ أَمْرِ ٱللَّهِ ۗ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا۟ مَا بِأَنفُسِهِمْ ۗ وَإِذَآ أَرَادَ ٱللَّهُ بِقَوْمٍ سُوٓءًا فَلَا مَرَدَّ لَهُۥ ۚ وَمَا لَهُم مِّن دُونِهِۦ مِن وَالٍ

     Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia.

 

15.      Al-Quran menjelaskan bahwa factor utama apabila ingin mengubah keadaan suatu kaum adalah dengan cara mengubah “sesuatu” yang terdapat dalam diri manusianya.

 

16.      Sesuatu itu adalah nilai yang menjadi  pandangan hidup, kehendak, dan tekadnya.

 

 

17.      Jika nilaiyang dianut dan pandangan hidupnya hanya terbatas untuk sesuatu yang “di sini dan masa kini saja”, maka terbatas pula kehendak dan usahanya hanya “sampai kini dan di sini saja”.

 

18.      Nilai dan pandangan hidup seorang Muslim harus mengarah kepada satu Wujud Mutlak yang tidak terbatas, yaitu Allah Yang Maha Kuasa dan sampai ke alam akhirat yang melampaui batas waktu hidup di dunia ini.

 

 

19.      Nilai dan pandangan tersebut harus tertancap ke dalam jiwa, antara lain dan terutama, melalui bacaan dan sajian yang diberikan kepada masyarakat.

 

20.      Seorang guru besar di Universitas Harvard Amerika Serikat melakukan penelitian terhadap 40 negara yang berkaitan dengan periode kemajuan dan kemunduran yang dialami negara-negara tersebut dalam sejarahnya.

 

 

21.      Hasil penelitian menunjukkan bahwa salah satu factor utama yang dapat menentukan kemajuan atau kemunduran suatu Negara adalah bahan dan materi bacaan yang disajikan kepada generasi muda mereka.

 

22.      Hasilnya menujukkan bahwa 20 tahun menjelang kemajuan atau kemunduran suatu negara, para generasi muda dibekali dengan bahan dan materi bacaan yang mengantarkan mereka kepada kemajuan atau kemunduran masyarakatnya.

 

 

23.      Para murid itulah, setelah 20 tahun kemudian yang akan sangat berperan dalam berbagai aktivitas di negaranya, dan peranan mereka ditentukan oleh bacaan dan sajian yang disuguhkan yang kemudian membentuk pandangan hidup dan nilai-nilai yang dianut.

 

24.      Kesimpulannya, apabila kita ingin anak-anak kita berhasil memajukan bangsa dan negara Indonesia di masa mendatang seperti bangsa lainnya.

 

 

25.      Harus disiapkan bahan dan materi bacaan yang baik dan bermutu.

 

26.      Bacaan itu harus bisa dinikmati semua lapisan masyarakat dengan mudah, murah, dan meriah.

 

 

DaftarPustaka

1.  Shihab, M.Quraish. Lentera Hati. Kisah dan Hikmah Kehidupan. PenerbitMizan, 1994.   

2.  Shihab, M. Quraish Shihab. Wawasan Al-Quran. Tafsir Maudhui atas Perbagai Persoalan Umat. Penerbit Mizan, 2009.

3.  Shihab, M.Quraish. E-book Membumikan Al-Quran.

4.  Al-Quran Digital, Versi 3.2. Digital Qur’an Ver 3.2

5.  Tafsirq.com online

 

 

6. 

7.  Hasil gambar untuk buku quraish membumikan

8. 

5720. MUTAWATIR BANYAK SANAD DAN PERAWI

 




MUTAWATIR BANYAK SANAD DAN PERAWI

Oleh: Drs. H. M. Yusron Hadi, M.M.

 

 

 

 

 

A.  Hadis mutawatir adalah hadis yang punya banyak sanad dan  diriwayatkan banyak perawi pada tingkat sanadnya.

 

1.  Sehingga para perawi mustahil sepakat untuk berbohong atau memalsukan hadis.

 

 

2.  Hadis (menurut KBBI V) adalah sabda, perbuatan, dan takrir (ketetapan) Nabi Muhammad yang diriwayatkan atau diceritakan oleh para sahabat untuk menjelaskan hukum Islam.

 

3.  Hadis adalah segala sesuatu yang dinisbahkan kepada Nabi Muhammad tentang  ucapan, perilaku, perbuatan, dan ketetapan yang bersifat fisik dan psikis sebelum menjadi Rasulullah dan sesudahnya.

 

 

4.  Ulama Ushul Fiqih membatasi pengertian Hadis adalah perkataan Nabi Muhammad yang berkaitan dengan hukum Islam. 

 

5.  Sunah adalah perkataan, perbuatan, dan ketetapan  Nabi Muhammad yang berkaitan dengan hukum Islam.

 

 

6.  Perintah patuh kepada Allah dan Rasul-Nya ditemukan dalam Al-Quran dengan 2 redaksi berbeda.

 

1)  Ke-1: Perintah pertama adalah “Athi’u Allah wa Rasul (patuhi Allah dan Rasul).

 

2)  Ke-2: Perintah kedua adalah “Athi’u Allah wa athi’u Rasul” (Patuhi Allah dan patuhi Rasul).

 

 

7.  Perintah pertama mencakup kewajiban patuh dan taat kepada Nabi Muhammad dalam hal yang sejalan dengan perintah Allah, karena redaksi yang digunakan mencukupkan sekali saja penggunaan kata “athi’u” (taati/patuhi).

 

8.  Perintah kedua mencakup kewajiban patuh dan taat kepada Nabi Muhammad, meskipun dalam hal yang tidak disebutkan secara eksplisit oleh Allah dalam Al-Quran.

 

 

9.  Dalaam perintah kedua, bahkan kewajiban patuh dan taat kepada Rasulullah  dilakukan terlebih dahulu, dalam kondisi tertentu, meskipun seseorang sedang melaksanakan perintah Allah.

 

10.      Misalnya, kasus Ubay bin Kaab ketika sedang mengerjakan salat, Ubay bin Kaab dipanggil oleh Rasulullah, Ubay bin Kaab menghentikan salatnya kemudian mendatangi Nabi Muhammad, meskipun salatnya belum selesai.

 

 

 

11.      Al-Quran surah An-Nisa (surah ke-4) ayat 59.

 

   يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ ۖ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ۚ ذَٰلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا

 

 

      Hai orang-orang beriman, taati Allah dan taati Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berbeda pendapat tentang sesuatu, maka kembalikan kepada Allah (Al-Quran) dan Rasul (sunah), jika kamu benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.

 

 

12.      Al-Quran surah An-Nisa (surah ke-4) ayat 65.

 

      فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّىٰ يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

 

     Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakikatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap keputusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.

 

 

13.      Orang yang beriman akan menerima semua ketetapan Nabi Muhammad dengan penuh kesadaran, kerelaan tanpa perasaan enggan, dan tanpa pembangkangan sedikit pun, itulah syarat keabsahan keimanan seseorang.

 

14.      Harus diakui ada perbedaan menonjol antara hadis Nabi dan Al-Quran dari segi redaksi dan cara penyampaian atau penerimaannya.

 

 

B.  Wahyu Allah.

 

1.  Dalam segi redaksi, diyakini bahwa wahyu Al-Quran disusun langsung oleh Allah.

 

2.  Malaikat Jibril hanya sekadar menyampaikannya kepada Nabi Muhammad.

 

 

3.  Nabi Muhammad pun langsung menyampaikannya kepada umatnya, demikian seterusnya dari satu ke generasi berikutnya.

 

4.  Redaksi wahyu Al-Quran dipastikan tidak mengalami perubahan apa pun, karena sejak diterima oleh Nabi, disampaikan kepada para sahabat, ditulis dan dihafal oleh  banyak sahabat, disampaikan secara mutawatir oleh banyak orang yang mustahil akan bersepakat untuk berbohong.

 

 

5.  Atas dasar ini, wahyu dalam Al-Quran adalah bersifat “qath’iy wurud” (dalil yang meyakinkan) bahwa datangnya dari Allah berupa Al-Quran atau berasal dari Nabi Muhammad berupa hadis mutawatir.

 

6.  Hadis mutawatir adalah sifat hadis yang memiliki banyak sanad, yang diriwayatkan oleh banyak perawi pada tingkat sanadnya, sehingga para perawi mustahil bersepakat untuk berdusta atau memalsukan hadis.

 

 

C. Hadis Nabi.

 

1.  Pada umumnya hadis Nabi disampaikan secara orang per orang dan sering kali muncul dengan redaksi yang agak berbeda dengan redaksi yang diucapkan oleh Rasulullah.

 

2.  Para ulama hadis menjelaskan bahwa para sahabat sudah ada yang menuliskan teks hadis, tetapi umumnya penyampaian atau penerimaan kebanyakan hadis yang ada sekarang hanya berdasarkan hafalan para sahabat dan tabiin.

 

 

3.  Sahabat adalah para pemeluk Islam yang hidup sezaman dengan Nabi Muhammad.

 

4.  Tabiin adalah para penganut ajaran Nabi Muhammad yang merupakan generasi kedua setelah para sahabat.

 

 

5.  Hal ini menjadikan kedudukan hadis dari segi autentiknya adalah bersifat “zhanniy wurud” (kesan yang kuat/perkiraan yang kuat) bahwa datangnya dari Nabi. 

 

6.  Hal ini, tidak berarti terdapat keraguan terhadap keabsahan hadis karena banyak faktor dalam diri Nabi dan para sahabat serta kondisi sosial masyarakat ketika itu yang saling menopang.

 

 

7.  Hal itu yang membuat generasi berikutnya merasa tenang dan yakin bahwa hadis Nabi sangat terjaga keasliannya.

 

 

Daftar Pustaka

1.  Shihab, M.Quraish. Lentera Hati. Kisah dan Hikmah Kehidupan. Penerbit Mizan, 1994.  

2.  Shihab, M. Quraish Shihab. Wawasan Al-Quran. Tafsir Maudhui atas Perbagai Persoalan Umat. Penerbit Mizan, 2009.

3.  Shihab, M.Quraish. E-book Membumikan Al-Quran.

4.  Al-Quran Digital, Versi 3.2. Digital Qur’an Ver 3.2,

5.  Tafsirq.com online.