Organisasi Profesi Guru

Presiden Jokowi memberi hormat kepada Guru-Guru se Indonesia.

Tema Gambar Slide 2

Deskripsi gambar slide bisa dituliskan disini dengan beberapa kalimat yang menggambarkan gambar slide yang anda pasang, edit slide ini melalui edit HTML template.

Tema Gambar Slide 3

Deskripsi gambar slide bisa dituliskan disini dengan beberapa kalimat yang menggambarkan gambar slide yang anda pasang, edit slide ini melalui edit HTML template.

Thursday, October 8, 2020

5773. IMAN BISA NAIK DAN TURUN

 


IMAN BISA NAIK DAN TURUN

Oleh: Drs. H.M. Yusron Hadi, MM

 

 

 

A. lman yang kokoh seperti pohon dengan akar teguh menghunjam ke dalam tanah.

 

1.  Al-Quran surah Ibrahim (surah ke-14) ayat 24-25.

 

      أَلَمْ تَرَ كَيْفَ ضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا كَلِمَةً طَيِّبَةً كَشَجَرَةٍ طَيِّبَةٍ أَصْلُهَا ثَابِتٌ وَفَرْعُهَا فِي السَّمَاءِ

      تُؤْتِي أُكُلَهَا كُلَّ حِينٍ بِإِذْنِ رَبِّهَا ۗ وَيَضْرِبُ اللَّهُ الْأَمْثَالَ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُونَ

    

    Tidakkah kamu memperhatikan bagaimana Allah  membuat perumpamaan kalimat yang baik, seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit, pohon itu memberi buahnya pada setiap musim dengan seizin Tuhannya. Allah membuat perumpamaan untuk manusia agar mereka selalu ingat.

 

2.  Pernahkah kita membayangkan pohon yang baik?

 

3.  Pohon dalam ayat ini diumpamakan kalimat yang baik, yaitu kalimat tauhid.

 

 

4.  Inilah pohon akarnya kuat menghunjam, batang dan cabangnya kokoh menjulang ke langit.

 

5.  Dalam kondisi ekstrem sekalipun, pohon ini akan tetap tegak berdiri.

 

 

6.  ltulah keyakinan yang mantap kepada Allah.

 

7.  Jika iman sudah kokoh, maka kondisi apa pun tidak akan menghancurkan kita.

 

 

8.  Kita tidak akan didominasi rasa takut, sedih, gelisah dan galau terhadap dunia yang hanya sementara.

 

9.  Orang yang yakin hidup dan matinya berada di tangan Allah, meskipun laras senjata sudah di jidatnya, dia akan tetap tenang.

 

10.     Dia yakin, kalau memang sudah waktunya mati, ya pasti mati.

 

11.     Semuanya juga pasti mati, yang membunuh dan yang dibunuh, yang mengobati dan yang diobati.

 

 

12.     Kuatnya keyakinan laksana pohon menjulang ke langit dan tercapainya husnulkhatimah.

 

13.     Tidak semua pohon bisa tumbuh baik.

 

14.     Ada Juga pohon buruk dan kurang tegak kokoh.

 

15.     Pohon yang baik itu pun tidak muncul secara tiba-tiba lalu menjulang kokoh.

 

 

16.     Layaknya pohon lain, dia pun tumbuh dari kecil, lalu hari demi hari dan bulan demi bulan tumbuh membesar dan kuat.

 

17.     Kemudian, ada pula faktor yang mempengaruhinya, yaitu kesuburan tanah dan hama.

 

18.     Demikian dengan iman.

 

19.     Imam Ahmad bin Hanbal berkata,”iman bisa bertambah sampai langit ke tujuh, dan menyusut sampai lapis bumi ke tujuh.”

 

 

20.     Jadi, iman kita ini bisa turun dan bisa naik.

 

21.     Orang yang beruntung adalah mereka yang senantiasa sadar turun naiknya iman.

 

 

22.     Abu Darda berkata,"Di antara inti pemahaman agama adalah dia tahu imannya bisa tambah atau kurang."

 

23.     Kita hanya diam saja.

 

24.     Kita sadar ketika iman mulai turun dan segera bangkit.

 

25.     Misalnya saat salat mulai tidak khusyuk atau zikir mulai ditinggalkan.

 

 

26.     Biasanya kita salat berjamaah di saf pertama, pelan-pelan pindah ke saf ketiga, lama lama di pintu, terus datang ketika salam, dan akhirnya salat Jumat pun di rumah.

 

27.     Sama halnya dengan membaca Al-Quran.

 

 

28.     Biasanya sehari setengah juz, turun tinggal dua lembar, turun lagi dua halaman, terus dua ayat, dua huruf.

 

29.     Sampai kemudian kita lupa tempat menyimpan Al-Quran.

 

 

30.     Kalau salat dan membaca Al-Quran sudah turun, ibadah lain biasanya ikut turun.

 

31.     Sedekah biasanya sehabis salat Subuh, mulai menghitung,“Nanti saja setelah salat Duha."

 

 

32.     Nanti menghitung pun tidak ada lagi, karena telah berpisah dengan sedekah.

 

33.     Biasanya kita menjaga hijab dengan para wanita, kini sudah jadi tidak risih lagi.

 

 

34.     Saat nonton televisi biasanya malu karena banyak yang kinclong, sekarang punya jadwal nonton sambil alasan melihat ciptaan Allah.

 

35.     Kalau sudah demikian, kita semakin akrab dengan maksiat.

 

 

36.     Layaknya pohon buruk yang mulai mengering dan melapuk.

 

37.     Kita harus segera bangkit saat menyadari terjadi penurunan.

 

 

38.     Kesadaran ini harus bermula ketika amal ibadah kita turun sedikit, sehingga kita berusaha menaikkan lebih banyak.

 

39.     Tujuannya agar semakin mantap, seperti pohon kokoh menjulang.

 

 

40.     Kita mencari pupuk menambah kesuburannya.

 

41.     Pupuk iman adalah ilmu.

 

42.     Kurang ilmu mengakibatkan kurang iman.

 

43.     Tidak ada ilmu, tidak ada iman.

 

 

44.     Ilmu terpenting harus dicari agar iman kuat adalah ilmu tentang Allah.

 

45.     Yaitu asma'ul husna (nama-nanam Allah yang baik) itu fondasi keimanan kita.

 

 

46.     Dalam sebuah bangunan, tiang, tembok, atap, pintu dan jendela penting itu perlu, tetapi paling penting fondasinya.

 

47.     Ketika mencari ilmu, kita nanti bisa melihat, mendengar dan membaca dari banyak orang yang menjelaskan tentang Allah.

 

 

48.     Kita mencari tahu dari yang tahu, agar tahu, itu tidak salah.

 

49.     Namanya ilmu yaqin, lalu kita mencari lagi yang sudah '”ainulyaqin”.

 

50.     Tentu paling enak mencari guru, tulisan dan rekaman dari orang yang sudah “haqqul yaqin” kepada Allah.

 

51.     Insya Allah  kita akan ketularan keyakinannya.

 

 

52.     Jika kita benar serius ingin mengenal Allah yang telah menciptakan dan menghidupkan kita, maka kita wajib meluangkan waktu memperhatikan kesempurnaan ciptaan-Nya.

 

53.     Jika serius ingin mengenal Allah yang memiliki dan menguasai langit dan bumi, maka kita dituntut untuk banyak merenungkan kehidupan ini.

 

 

54.     Tidak satu pun bisa terjadi, kecuali berada dalam pengetahuan dan pengaturan Allah.

 

55.     Untuk memperhatikan dan merenungkan kekuasaan Allah, tidak harus jauh-jauh.

 

 

56.     Bukan berarti tidak boleh mendaki puncak gunung, tetapi bagi yang belum punya kesanggupan dan kemampuan, maka cukup kita pandang  gunung dari jauh.

 

57.     Atau kita bisa mengamati pertumbuhan tanaman maupun pohon di sekitar kita, dan merenungkan pergantian malam dan siang.

 

 

58.     Al-Quran surah Ali Imran (surah ke-3) ayat 190-191.

 

   إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَآيَاتٍ لِأُولِي الْأَلْبَابِ

   الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَىٰ جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَٰذَا بَاطِلًا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

 

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda bagi orang yang berakal, (yaitu) orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka jaga kami dari siksa neraka.

 

 

Daftar Pustaka

1.  KH Abdullah Gymnastiar.

2.  Hatta, DR. Ahmad. Tafsir Quran Per Kata, Dilengkapi dengan Asbabun Nuzul dan Terjemah. Penerbit Pustaka Maghfirah, Jakarta 2011.

3.  Al-Quran Digital, Versi 3.2. Digital Qur’an Ver 3.2.

4.  Tafsirq.com online.

5772. IMAN KOKOH MIRIP POHON AKARNYA TEGUH

 


IMAN KOKOH MIRIP POHON AKARNYA TEGUH

Oleh: Drs. H.M. Yusron Hadi, MM

 

 

 

A. lman yang kokoh seperti pohon dengan akar teguh menghunjam ke dalam tanah.

 

1.  Al-Quran surah Ibrahim (surah ke-14) ayat 24-25.

 

      أَلَمْ تَرَ كَيْفَ ضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا كَلِمَةً طَيِّبَةً كَشَجَرَةٍ طَيِّبَةٍ أَصْلُهَا ثَابِتٌ وَفَرْعُهَا فِي السَّمَاءِ

      تُؤْتِي أُكُلَهَا كُلَّ حِينٍ بِإِذْنِ رَبِّهَا ۗ وَيَضْرِبُ اللَّهُ الْأَمْثَالَ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُونَ

    

    Tidakkah kamu memperhatikan bagaimana Allah  membuat perumpamaan kalimat yang baik, seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit, pohon itu memberi buahnya pada setiap musim dengan seizin Tuhannya. Allah membuat perumpamaan untuk manusia agar mereka selalu ingat.

 

2.  Pernahkah kita membayangkan pohon yang baik?

 

3.  Pohon dalam ayat ini diumpamakan kalimat yang baik, yaitu kalimat tauhid.

 

 

4.  Inilah pohon akarnya kuat menghunjam, batang dan cabangnya kokoh menjulang ke langit.

 

5.  Dalam kondisi ekstrem sekalipun, pohon ini akan tetap tegak berdiri.

 

 

6.  ltulah keyakinan yang mantap kepada Allah.

 

7.  Jika iman sudah kokoh, maka kondisi apa pun tidak akan menghancurkan kita.

 

 

8.  Kita tidak akan didominasi rasa takut, sedih, gelisah dan galau terhadap dunia yang hanya sementara.

 

9.  Orang yang yakin hidup dan matinya berada di tangan Allah, meskipun laras senjata sudah di jidatnya, dia akan tetap tenang.

 

10.     Dia yakin, kalau memang sudah waktunya mati, ya pasti mati.

 

11.     Semuanya juga pasti mati, yang membunuh dan yang dibunuh, yang mengobati dan yang diobati.

 

 

12.     Kuatnya keyakinan laksana pohon menjulang ke langit dan tercapainya husnulkhatimah.

 

13.     Tidak semua pohon bisa tumbuh baik.

 

14.     Ada Juga pohon buruk dan kurang tegak kokoh.

 

15.     Pohon yang baik itu pun tidak muncul secara tiba-tiba lalu menjulang kokoh.

 

 

16.     Layaknya pohon lain, dia pun tumbuh dari kecil, lalu hari demi hari dan bulan demi bulan tumbuh membesar dan kuat.

 

17.     Kemudian, ada pula faktor yang mempengaruhinya, yaitu kesuburan tanah dan hama.

 

18.     Demikian dengan iman.

 

19.     Imam Ahmad bin Hanbal berkata,”iman bisa bertambah sampai langit ke tujuh, dan menyusut sampai lapis bumi ke tujuh.”

 

 

20.     Jadi, iman kita ini bisa turun dan bisa naik.

 

21.     Orang yang beruntung adalah mereka yang senantiasa sadar turun naiknya iman.

 

 

22.     Abu Darda berkata,"Di antara inti pemahaman agama adalah dia tahu imannya bisa tambah atau kurang."

 

23.     Kita hanya diam saja.

 

24.     Kita sadar ketika iman mulai turun dan segera bangkit.

 

25.     Misalnya saat salat mulai tidak khusyuk atau zikir mulai ditinggalkan.

 

 

26.     Biasanya kita salat berjamaah di saf pertama, pelan-pelan pindah ke saf ketiga, lama lama di pintu, terus datang ketika salam, dan akhirnya salat Jumat pun di rumah.

 

27.     Sama halnya dengan membaca Al-Quran.

 

 

28.     Biasanya sehari setengah juz, turun tinggal dua lembar, turun lagi dua halaman, terus dua ayat, dua huruf.

 

29.     Sampai kemudian kita lupa tempat menyimpan Al-Quran.

 

 

30.     Kalau salat dan membaca Al-Quran sudah turun, ibadah lain biasanya ikut turun.

 

31.     Sedekah biasanya sehabis salat Subuh, mulai menghitung,“Nanti saja setelah salat Duha."

 

 

32.     Nanti menghitung pun tidak ada lagi, karena telah berpisah dengan sedekah.

 

33.     Biasanya kita menjaga hijab dengan para wanita, kini sudah jadi tidak risih lagi.

 

 

34.     Saat nonton televisi biasanya malu karena banyak yang kinclong, sekarang punya jadwal nonton sambil alasan melihat ciptaan Allah.

 

35.     Kalau sudah demikian, kita semakin akrab dengan maksiat.

 

 

36.     Layaknya pohon buruk yang mulai mengering dan melapuk.

 

37.     Kita harus segera bangkit saat menyadari terjadi penurunan.

 

 

38.     Kesadaran ini harus bermula ketika amal ibadah kita turun sedikit, sehingga kita berusaha menaikkan lebih banyak.

 

39.     Tujuannya agar semakin mantap, seperti pohon kokoh menjulang.

 

 

40.     Kita mencari pupuk menambah kesuburannya.

 

41.     Pupuk iman adalah ilmu.

 

42.     Kurang ilmu mengakibatkan kurang iman.

 

43.     Tidak ada ilmu, tidak ada iman.

 

 

44.     Ilmu terpenting harus dicari agar iman kuat adalah ilmu tentang Allah.

 

45.     Yaitu asma'ul husna (nama-nanam Allah yang baik) itu fondasi keimanan kita.

 

 

46.     Dalam sebuah bangunan, tiang, tembok, atap, pintu dan jendela penting itu perlu, tetapi paling penting fondasinya.

 

47.     Ketika mencari ilmu, kita nanti bisa melihat, mendengar dan membaca dari banyak orang yang menjelaskan tentang Allah.

 

 

48.     Kita mencari tahu dari yang tahu, agar tahu, itu tidak salah.

 

49.     Namanya ilmu yaqin, lalu kita mencari lagi yang sudah '”ainulyaqin”.

 

50.     Tentu paling enak mencari guru, tulisan dan rekaman dari orang yang sudah “haqqul yaqin” kepada Allah.

 

51.     Insya Allah  kita akan ketularan keyakinannya.

 

 

52.     Jika kita benar serius ingin mengenal Allah yang telah menciptakan dan menghidupkan kita, maka kita wajib meluangkan waktu memperhatikan kesempurnaan ciptaan-Nya.

 

53.     Jika serius ingin mengenal Allah yang memiliki dan menguasai langit dan bumi, maka kita dituntut untuk banyak merenungkan kehidupan ini.

 

 

54.     Tidak satu pun bisa terjadi, kecuali berada dalam pengetahuan dan pengaturan Allah.

 

55.     Untuk memperhatikan dan merenungkan kekuasaan Allah, tidak harus jauh-jauh.

 

 

56.     Bukan berarti tidak boleh mendaki puncak gunung, tetapi bagi yang belum punya kesanggupan dan kemampuan, maka cukup kita pandang  gunung dari jauh.

 

57.     Atau kita bisa mengamati pertumbuhan tanaman maupun pohon di sekitar kita, dan merenungkan pergantian malam dan siang.

 

 

58.     Al-Quran surah Ali Imran (surah ke-3) ayat 190-191.

 

   إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَآيَاتٍ لِأُولِي الْأَلْبَابِ

   الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَىٰ جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَٰذَا بَاطِلًا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

 

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda bagi orang yang berakal, (yaitu) orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka jaga kami dari siksa neraka.

 

 

Daftar Pustaka

1.  KH Abdullah Gymnastiar.

2.  Hatta, DR. Ahmad. Tafsir Quran Per Kata, Dilengkapi dengan Asbabun Nuzul dan Terjemah. Penerbit Pustaka Maghfirah, Jakarta 2011.

3.  Al-Quran Digital, Versi 3.2. Digital Qur’an Ver 3.2.

4.  Tafsirq.com online.

5771. MASKAWIN DISARANKAN BERUPA MATERI

 


MASKAWIN DISARANKAN BERUPA MATERI

Oleh: Drs. H. M. Yusron Hadi, M.M.

 

 

A. Maskawin disarankan berupa materi.

 

1.  Maskawin (menurut KBBI V) adalah mahar atau pemberian dari pihak pengantin pria, misalnya emas, barang, dan kitab suci, kepada pengantinwanita pada waktu akad nikah, yang dapat diberikan secara kontan atau utang.

 

2.  Dalam konteks pernikahan, Al-Quran secarategas memerintahkan kepada calon suami untuk memberikan mahar (maskawin).

 

3.  Al-Quran surah An-Nisa (surah ke-4) ayat 4.

 

     وَآتُوا النِّسَاءَ صَدُقَاتِهِنَّ نِحْلَةً ۚ فَإِنْ طِبْنَ لَكُمْ عَنْ شَيْءٍ مِنْهُ نَفْسًا فَكُلُوهُ هَنِيئًا مَرِيئًا

    

     Berikan maskawin (mahar) kepada wanita (yang kamu nikahi) sebagai pemberian dengan penuh kerelaan. Kemudian jika mereka menyerahkan kepada kamu sebagian dari maskawin itu dengan senang hati, maka makanlah (ambillah) pemberian itu (sebagai makanan) yang sedap lagi baik akibatnya.

 

 

4.  Calon suami wajib menyerahkan mahar (maskawin) kepada calonistrinya.

 

5.  Maskawin adalah lambang kesiapan dan kesediaan suami untuk memberi nafkah lahir batin kepada istri dan anak-anaknya.

 

 

6.  Maskawin (mahar) bersifat lambang, sehingga maskawin atau mahar yang sedikitpun dibolehkan.

 

7.  Rasulullah bersabda,”Sebaik-baik maskawin adalah yang seringan-ringannya”.

 

 

8.  Al-Quran tidak melarang pemberian maskawin (mahar) yang banyak.

 

9.  Al-Quran surah An-Nisa (surah ke-4) ayat 20.

 

     وَإِنْ أَرَدْتُمُ اسْتِبْدَالَ زَوْجٍ مَكَانَ زَوْجٍ وَآتَيْتُمْ إِحْدَاهُنَّ قِنْطَارًا فَلَا تَأْخُذُوا مِنْهُ شَيْئًا ۚ أَتَأْخُذُونَهُ بُهْتَانًا وَإِثْمًا مُبِينًا

 

Dan jika kamu ingin mengganti istrimu dengan istri yang lain, sedang kamu telah memberikan kepada seseorang di antara mereka harta yang banyak, maka janganlah kamu mengambil kembali daripadanya barang sedikit pun. Apakah kamu akan mengambilnya kembali dengan jalan tuduhan yang dusta dan dengan (menanggung) dosa yang nyata?

 

10.             Pernikahan bukan akad jual beli, dan mahar (maskawin) bukan harga seorang wanita.

 

11.             Suami tidak boleh mengambil kembali maskawin itu, kecuali jika istrinya merelakannya.  

 

12.             Al-Quran surah An-Nisa (surah ke-4) ayat 21.

 

     وَكَيْفَ تَأْخُذُونَهُ وَقَدْ أَفْضَىٰ بَعْضُكُمْ إِلَىٰ بَعْضٍ وَأَخَذْنَ مِنْكُمْ مِيثَاقًا غَلِيظًا

     Bagaimana kamu akan mengambilnya kembali, padahal sebagian kamu telah bergaul (bercampur) dengan yang lain sebagai suami-istri. Dan mereka (istri-istrimu) telah mengambil dari kamu perjanjian yang kuat.  

 

 

13.             Ajaran Islam menganjurkan agar maskawin (mahar) bersifat materi.

 

14.             Jika terpaksa maskawin boleh berupa cincin besi atau diganti dengan mengajarkan beberapa ayat Al-Quran.

 

 

15.             Ijab dan kabul dalam pernikahan pada hakikatnya adalah ikrar (janji) yang sungguh-sungguh dari calon istri melalui walinya, dan dari calon suami untuk hidup bersama mewujudkan keluarga sakinah, dengan melaksanakan segala tuntunan dan kewajiban.

 

16.             Kata “ijab” seakar dengan kata “wajib”.

 

17.             Ijab dapat diartikan “mewujudkan suatu kewajiban”.

 

 

18.             Yaitu berusaha sekuat kemampuan membangun rumah tangga sakinah.

 

19.             Penyerahan (Ijab) disambut dengan kabul (penerimaan) oleh calon suami.

 

 

20.             Kata  “zauwj”  artinya “pasangan”.

 

21.             Hubungan suami dan istri adalah hubungan kemitraan yang memberikan kesan saling membutuhkan.

 

 

22.             Artinya suami dan istri adalah dua orang yang saling membutuhkan.

 

23.             Kata “menikah” menurut bahasa bermakna “menghimpun”.

 

 

24.             Artinya suami dan istri sepakat  berhimpun membentuk keluarga sakinah, mawadah, dan rahmah yang diridai oleh Allah Yang Maha Pengasih lagi Penyayang.

 

 

Daftar Pustaka

1.  Shihab, M.Quraish. LenteraHati. Kisah dan Hikmah Kehidupan. Penerbit Mizan, 1994.  

2.  Shihab, M. Quraish Shihab. Wawasan Al-Quran. Tafsir Maudhui atas Perbagai Persoalan Umat. Penerbit Mizan, 2009.

3.  Shihab, M.Quraish. E-book Membumikan Al-Quran.

4.  Al-Quran Digital, Versi 3.2. Digital Qur’an Ver 3.2

5.  Tafsirq.com online.