Organisasi Profesi Guru

Presiden Jokowi memberi hormat kepada Guru-Guru se Indonesia.

Tema Gambar Slide 2

Deskripsi gambar slide bisa dituliskan disini dengan beberapa kalimat yang menggambarkan gambar slide yang anda pasang, edit slide ini melalui edit HTML template.

Tema Gambar Slide 3

Deskripsi gambar slide bisa dituliskan disini dengan beberapa kalimat yang menggambarkan gambar slide yang anda pasang, edit slide ini melalui edit HTML template.

Monday, December 14, 2020

8053. ISLAM MELARANG BERBUAT ZALIM

 


ISLAM MELARANG BERBUAT ZALIM

Oleh: Drs. H. M. Yusron Hadi, M.M.

 

 

 

JANGAN BERBUAT ZALIM

 

 

Kezaliman adalah menempatkan sesuatu tidak pada tempatnya.

 

 

Lawan kata zalim adalah adil.

 

 

Jadi, jika ada kezaliman berarti tidak ada keadilan.

 

 

 

Virus Covid tempatnya di kelelawar, lalu diganggu manusia dan akhirnya pindah ke manusia, ini namanya zalim. 

 

 

 

Protokol kesehatan itu mesti disosialisasi dan difasilitasi terus-menerus oleh pemerintah, bukan untuk konsumsi politik. 

 

 

 

Vaksin itu harus dipastikan aman dan manjur, jika belum dipastikan, jangan buru-buru disuntikan. 

 

 

 

Bumi, air dan kekayaan alam harus dioptimalkan untuk kesejahteraan rakyat, bukan kekayaan segelintir orang. 

 

 

 

Silakan teruskan contoh-contohnya...

 

 

 

Orang zalim akan mengalami 4 fase hingga kehancurannya:

 

 

1.      Diberi tangguh oleh Allah, moga-moga insaf.

 

 

2.      Dibukakan akses harta, kuasa dll, tapi sebenarnya mulai ditarik pelan-pelan oleh Allah untuk menuju kehancuran.

 

 

3.      Orang zalim merasakan indah apa yang dilakukannya, sehingga tambah ladas...(ladas bahasa Palembang artinya keterusan). Apalagi orang-orang sekitarnya memuji-memujanya.

 

 

 

4.      Siksa Allah berupa penghentian kezaliman sekaligus mengakhiri si zalim.

 

 

 

Bagi yang zalim, masih ada kesempatan untuk berhenti berbuat zalim sampai fase 3. 

 

 

 

Bagaimana dengan yang terzalimi?

 

 

Apa yang harus dilakukan?

 

 

Ada 4 yaitu:

 

 

 

1.      Terus produktif bekerja & berbuat baik

 

2.      Menghindar dari fitnah

 

3.      Meningkatkan kesabaran

 

4.      Jangan bersimpati apalagi bergabung dg orang2 zalim.

 

 

Sumber Prof. Dr. dr . Yuwono, M. Biomed*

 

8052. BUTUH HUMOR CERDAS YANG TAK MENGHINA SIAPA PUN

 


BUTUH HUMOR CERDAS YANG TAK MENGHINA SIAPA PUN

Oleh: Drs. H. M. Yusron Hadi, M.M.

 

 

 

 

 

Tertawa yang wajar itu bagaikan obatbagi kesedihan dan laksana pil kuat untuk kegalauan. 

 

Pengaruh tertawa yang wajar amat kuat, akan membuat hati ceria dan lingkungan menjadi menyenangkan.

 

 

Sahabat Nabi berkata, ”Nabi Muhammad terkadang tertawa, sehingga tampak gigi gerahamnya.”

 

 

Tertawa adalah puncak kegembiraan, titik tertinggi keceriaan, dan ujung perasaan kesenangan.

 

 

 

Nabi bersabda, “Senyummu di depan saudaramu adalah sedekah.”

 

 

 

Al-Quran surah An-Naml (surah ke-27) ayat 19.

Maka Sulaiman tertawa karena mendengarkan perkataan semut.”

 

 

 

فَتَبَسَّمَ ضَاحِكًا مِّن قَوْلِهَا وَقَالَ رَبِّ أَوْزِعْنِىٓ أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ ٱلَّتِىٓ أَنْعَمْتَ عَلَىَّ وَعَلَىٰ وَٰلِدَىَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَٰلِحًا تَرْضَىٰهُ وَأَدْخِلْنِى بِرَحْمَتِكَ فِى عِبَادِكَ ٱلصَّٰلِحِينَ


 

Maka Sulaaiman tersenyum dengan tertawa karena (mendengar) perkataan semut itu. Dan dia berdoa: “Ya Tuhanku berilah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakku dan untuk mengerjakan amal saleh yang Engkau ridhai; dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang saleh”


 

 

 

Salah satu nikmat dari Allah untuk penghuni surga adalah tertawa.

 

 

 

Al-Quran surah Al-mutaffifin (surah ke-83) ayat 34.

فَٱلْيَوْمَ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ مِنَ ٱلْكُفَّارِ يَضْحَكُونَ


 

 

Maka pada hari ini, orang-orang yang beriman menertawakan orang-orang kafir.


 

Tetapi jangan tertawa berlebihan.

Rasulullah bersabda,“Jangan engkau banyak tertawa, karena banyak tertawa akan mematikan hati.”

 

 

Oleh karena itu, mari kita tertawa yang wajar saja.

 

 

Jangan tertawa sinis dan penuh kesombongan, seperti yang dilakukan oleh orang-orang kafir.

Al-Quran surah Azzukruf (surah ke-43) ayat 47.

 

 

 

فَلَمَّا جَآءَهُم بِـَٔايَٰتِنَآ إِذَا هُم مِّنْهَا يَضْحَكُونَ


 

 

 

Maka tatkala dia datang kepada mereka dengan membawa mukjizat-mukjizat Kami dengan serta merta mereka mentertawakannya.




 

Pada umumnya, semua orang senang wajah yang murah senyum, dan suka dengan

muka yang selalu tampak ceria.

 

 

 

Hal itu mencerminkan kemurahan hati, kelapangan dada, dan kedermawanan.

 

 

 

Pada dasarnya, Islam dibangun berdasarkan prinsip keseimbangan, serta moderat dalam hal akidah, ibadah, budi pekerti, dan perilaku.

 

 

 

Islam mengajarkan pertengahan dalam bersikap, tidak mengenal kemuraman yang menakutkan, maupun tertawa lepas tidak beraturan.

 

 

 

Islam senantiasa mengajarkan kesungguhan penuh wibawa dan ringan langkah yang terarah, serta menganjurkan perbuatan yang bermanfaat untuk diri, keluarga dan masyarakat sekitarnya.

 

 

 

Imam Gazali melontarkan humor, “Benda apakah yang paling tajam di dunia ini?”

 

 

 

Muridnya menjawab dengan berbagai jawaban, ada yang menjawab: pisau, silet, pedang dan semacamnya.

 

 

Imam Gazali berkata, “Betul, semua benda yang kalian sebutkan itu tajam, tetapi ada yang lebih tajam dari itu semua, yaitu lidah manusia”.

 

 

 

Abu Hurairah bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah engkau pernah bersenda gurau?”

 

 

Nabi Muhammad bersabda,” Benar, hanya saya selalu berkata benar.”

 

 

 

Rasulullah bergurau, “Naikkan barang-barangmu ke punggung anak unta di sebelah sana!”

 

 

Sahabat bingung, “Ya Rasulullah, bagaimana anak unta mampu memikul beban berat?”

 

 

 

Rasulullah bersabda,”Saya tidak bilang anak unta itu kecil, karena semua unta pasti lahir dari ibu unta.”

 

 

Seorang wanita tua bertanya, “Ya Rasulullah, apakah wanita tua seperti saya layak masuk surga?”

 

 

Nabi Muhammad bersabda, “Maaf, Bu, di surga tidak ada wanita tua”.

 

 

 

Wanita itu langsung menangis, lalu Nabi Muhammad menjelaskan,”Semua orang yang masuk surga, akan menjadi muda lagi.”

 

 

Mendengar penjelasan Rasulullah, wanita tua itu tersenyum gembira.

 

 

Sungguh, manusia membutuhkan senyuman, dan memerlukan humor yang menghibur yang tidak menghina siapa pun, tidak merendahkan apa pun.

 

Semua orang senang denganwajah yang selalu berseri-seri, hati yang lapang dalam menerima perbedaan, budi pekerti yang luhur, dan perilaku yang lembut, serta pembawaan yang tidak kasar.

 

 

 

Jadi, mari kita lontarkan humor yang cedas, yaitu humor yang tidak menyinggung siapa pun, dan tidak menghina apa pun.

 

 

Mari kita tersenyum dan tertawa yang wajar, agar kehidupan akan terasa lebih indah, ceria, dan mempesona.

 

 Semoga.

 

 

Daftar Pustaka

1.  Al-Qarni, Aidh. La Tahzan. Jangan Bersedih. Penerbit Qisthi Press. Jakarta 2007.

2.  Al-Quran Digital, Versi 3.2. Digital Qur’an Ver 3.2

3.  Tafsirq.com online.

 

 

8051. MARI TERTAWA YANG WAJAR

 




MARI TERTAWA YANG WAJAR

Oleh: Drs. H. M. Yusron Hadi, M.M.

 

 

 

 

 

Tertawa yang wajar itu bagaikan obatbagi kesedihan dan laksana pil kuat untuk kegalauan. 

 

Pengaruh tertawa yang wajar amat kuat, akan membuat hati ceria dan lingkungan menjadi menyenangkan.

 

 

Sahabat Nabi berkata, ”Nabi Muhammad terkadang tertawa, sehingga tampak gigi gerahamnya.”

 

 

Tertawa adalah puncak kegembiraan, titik tertinggi keceriaan, dan ujung perasaan kesenangan.

 

 

 

Nabi bersabda, “Senyummu di depan saudaramu adalah sedekah.”

 

 

 

Al-Quran surah An-Naml (surah ke-27) ayat 19.

Maka Sulaiman tertawa karena mendengarkan perkataan semut.”

 

 

 

فَتَبَسَّمَ ضَاحِكًا مِّن قَوْلِهَا وَقَالَ رَبِّ أَوْزِعْنِىٓ أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ ٱلَّتِىٓ أَنْعَمْتَ عَلَىَّ وَعَلَىٰ وَٰلِدَىَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَٰلِحًا تَرْضَىٰهُ وَأَدْخِلْنِى بِرَحْمَتِكَ فِى عِبَادِكَ ٱلصَّٰلِحِينَ


 

Maka Sulaaiman tersenyum dengan tertawa karena (mendengar) perkataan semut itu. Dan dia berdoa: “Ya Tuhanku berilah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakku dan untuk mengerjakan amal saleh yang Engkau ridhai; dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang saleh”


 

 

 

Salah satu nikmat dari Allah untuk penghuni surga adalah tertawa.

 

 

 

Al-Quran surah Al-mutaffifin (surah ke-83) ayat 34.

فَٱلْيَوْمَ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ مِنَ ٱلْكُفَّارِ يَضْحَكُونَ


 

 

Maka pada hari ini, orang-orang yang beriman menertawakan orang-orang kafir.


 

Tetapi jangan tertawa berlebihan.

Rasulullah bersabda,“Jangan engkau banyak tertawa, karena banyak tertawa akan mematikan hati.”

 

 

Oleh karena itu, mari kita tertawa yang wajar saja.

 

 

Jangan tertawa sinis dan penuh kesombongan, seperti yang dilakukan oleh orang-orang kafir.

Al-Quran surah Azzukruf (surah ke-43) ayat 47.

 

 

 

فَلَمَّا جَآءَهُم بِـَٔايَٰتِنَآ إِذَا هُم مِّنْهَا يَضْحَكُونَ


 

 

 

Maka tatkala dia datang kepada mereka dengan membawa mukjizat-mukjizat Kami dengan serta merta mereka mentertawakannya.




 

Pada umumnya, semua orang senang wajah yang murah senyum, dan suka dengan

muka yang selalu tampak ceria.

 

 

 

Hal itu mencerminkan kemurahan hati, kelapangan dada, dan kedermawanan.

 

 

 

Pada dasarnya, Islam dibangun berdasarkan prinsip keseimbangan, serta moderat dalam hal akidah, ibadah, budi pekerti, dan perilaku.

 

 

 

Islam mengajarkan pertengahan dalam bersikap, tidak mengenal kemuraman yang menakutkan, maupun tertawa lepas tidak beraturan.

 

 

 

Islam senantiasa mengajarkan kesungguhan penuh wibawa dan ringan langkah yang terarah, serta menganjurkan perbuatan yang bermanfaat untuk diri, keluarga dan masyarakat sekitarnya.

 

 

 

Imam Gazali melontarkan humor, “Benda apakah yang paling tajam di dunia ini?”

 

 

 

Muridnya menjawab dengan berbagai jawaban, ada yang menjawab: pisau, silet, pedang dan semacamnya.

 

 

Imam Gazali berkata, “Betul, semua benda yang kalian sebutkan itu tajam, tetapi ada yang lebih tajam dari itu semua, yaitu lidah manusia”.

 

 

 

Abu Hurairah bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah engkau pernah bersenda gurau?”

 

 

Nabi Muhammad bersabda,” Benar, hanya saya selalu berkata benar.”

 

 

 

Rasulullah bergurau, “Naikkan barang-barangmu ke punggung anak unta di sebelah sana!”

 

 

Sahabat bingung, “Ya Rasulullah, bagaimana anak unta mampu memikul beban berat?”

 

 

 

Rasulullah bersabda,”Saya tidak bilang anak unta itu kecil, karena semua unta pasti lahir dari ibu unta.”

 

 

Seorang wanita tua bertanya, “Ya Rasulullah, apakah wanita tua seperti saya layak masuk surga?”

 

 

Nabi Muhammad bersabda, “Maaf, Bu, di surga tidak ada wanita tua”.

 

 

 

Wanita itu langsung menangis, lalu Nabi Muhammad menjelaskan,”Semua orang yang masuk surga, akan menjadi muda lagi.”

 

 

Mendengar penjelasan Rasulullah, wanita tua itu tersenyum gembira.

 

 

Sungguh, manusia membutuhkan senyuman, dan memerlukan humor yang menghibur yang tidak menghina siapa pun, tidak merendahkan apa pun.

 

Semua orang senang denganwajah yang selalu berseri-seri, hati yang lapang dalam menerima perbedaan, budi pekerti yang luhur, dan perilaku yang lembut, serta pembawaan yang tidak kasar.

 

 

 

Jadi, mari kita lontarkan humor yang cedas, yaitu humor yang tidak menyinggung siapa pun, dan tidak menghina apa pun.

 

 

Mari kita tersenyum dan tertawa yang wajar, agar kehidupan akan terasa lebih indah, ceria, dan mempesona.

 

 Semoga.

 

 

Daftar Pustaka

1.  Al-Qarni, Aidh. La Tahzan. Jangan Bersedih. Penerbit Qisthi Press. Jakarta 2007.

2.  Al-Quran Digital, Versi 3.2. Digital Qur’an Ver 3.2

3.  Tafsirq.com online.