Organisasi Profesi Guru

Presiden Jokowi memberi hormat kepada Guru-Guru se Indonesia.

Tema Gambar Slide 2

Deskripsi gambar slide bisa dituliskan disini dengan beberapa kalimat yang menggambarkan gambar slide yang anda pasang, edit slide ini melalui edit HTML template.

Tema Gambar Slide 3

Deskripsi gambar slide bisa dituliskan disini dengan beberapa kalimat yang menggambarkan gambar slide yang anda pasang, edit slide ini melalui edit HTML template.

Monday, August 9, 2021

10817. TAKDIR TAK DISEBUT RUKUN OLEH AL-QURAN

 



TAKDIR TAK DISEBUT RUKUN OLEH AL-QURAN

Oleh: Drs. H.M. Yusron Hadi, MM

  

Menurut studi Al-Quran, kewajiban meyakini adanya takdir tidak otomatis menyatakannya sebagai rukun iman.

  

Al-Quran tidak memakai istilah “rukun” untuk “takdir”.

  

Rasulullah juga tidak pakai istilah “rukun” untuk “takdir” dalam hadis beliau.

 

 Umar bin Khattab berkisah.

 Suatu ketika datang orang berpakaian serba putih, berambut hitam teratur, dan penampilannya tidak menampakkan seorang pendatang.

 

Tetapi para sahabat tidak ada yang mengenalnya.

  

Orang itu bertanya kepada Rasulullah tentang Islam, Iman, Ihsan, hari kiamat dan tanda-tandanya.

 

Kemudian Rasulullah menjawab dengan menyebut 6 hal iman, yaitu beriman kepada:

 1)             Allah.

2)             Malaikat-Nya.

 3)             Kitab-Nya.

4)             Rasul-Nya.

 5)             Hari Kemudian.

6)             Takdir baik dan buruk.

 

 Setelah sang penanya pergi.

 Rasulullah bersabda,”Dia adalah malaikat  Jibril datang mengajari kalian, tentang agama kalian”.

 

 Para ulama merumuskan 6 rukun Iman dari hadis itu.

 

 Al-Quran tidak pakai kata “rukun” untuk “takdir”.

 

Al-Quran tidak pernah menyebut kata “takdir”dalam satu rangkaian ayat yang bicara tentang 5 hal lain di atas.

  

Al-Quran surah Al-Baqarah (surah ke-2) ayat 285.

 

ءَامَنَ ٱلرَّسُولُ بِمَآ أُنزِلَ إِلَيْهِ مِن رَّبِّهِۦ وَٱلْمُؤْمِنُونَ ۚ كُلٌّ ءَامَنَ بِٱللَّهِ وَمَلَٰٓئِكَتِهِۦ وَكُتُبِهِۦ وَرُسُلِهِۦ لَا نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ مِّن رُّسُلِهِۦ ۚ وَقَالُوا۟ سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا ۖ غُفْرَانَكَ رَبَّنَا وَإِلَيْكَ ٱلْمَصِيرُ


Rasul telah beriman kepada Al-Quran yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan rasul-rasul-Nya. (Mereka mengatakan), “Kami tidak membedakan seseorang pun (dengan yang lain) dari rasul rasul-Nya”, dan mereka mengatakan, “Kami dengar dan kami taat”. (Mereka berdoa), “Ampuni kami, Ya Tuhan kami, dan kepada Engkau tempat kembali”.

 

 

Al-Quran surah An-Nisa (surah ke-4) ayat 136.

 

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ ءَامِنُوا۟ بِٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦ وَٱلْكِتَٰبِ ٱلَّذِى نَزَّلَ عَلَىٰ رَسُولِهِۦ وَٱلْكِتَٰبِ ٱلَّذِىٓ أَنزَلَ مِن قَبْلُ ۚ وَمَن يَكْفُرْ بِٱللَّهِ وَمَلَٰٓئِكَتِهِۦ وَكُتُبِهِۦ وَرُسُلِهِۦ وَٱلْيَوْمِ ٱلْءَاخِرِ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَٰلًۢا بَعِيدًا


Wahai orang-orang beriman, tetaplah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan kepada kitab yang Allah turunkan kepada Rasul-Nya, serta kitab yang Allah turunkan sebelumnya. Barangsiapa yang kafir kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya dan hari kemudian, maka sesungguhnya orang itu telah sesat sejauh-jauhnya.

  

Ke-2 ayat Al-Quran di atas tidak menyebutkan  “takdir”.

 

Hal ini bukan berarti takdir tidak wajib diyakini.

  

Tetapi yang ingin ditampilkan adalah Al-Quran tidak menyebutkan “takdir” sebagai “rukun”, dan tidak merangkaikannya dengan 5 hal lain yang disebut dalam hadis di atas.

 

 

Sehingga, bisa dipahami jika ada ulama yang tidak menjadikan “takdir” sebagai salah satu rukun iman.

  

Sebagian ulama hanya menyebut 3 hal pokok saja, yaitu beriman:

 

1)    kepada Allah.

2)    Malaikat.

 3)    Hari kemudian.

 

Sebagian ulama berpendapat beriman kepada malaikat mencakup iman tentang wahyu yang disampaikan, Rasulullah, dan Rasul yang menerima wahyu.

 Beberapa hadis Rasulullah, sering beliau hanya menyebut 2 hal saja, yaitu beriman:

 1)    Kepada Allah.

2)    Hari kemudian.

  

Rasulullah bersabda.

 ”Barang siapa percaya kepada Allah dan hari kemudian, maka hendaklah dia menghormati tamunya”.

 

 “Barang siapa percaya kepada Allah dan hari kemudian, maka hendaklah dia menyambung talikerabatnya”.

 

 

“Barang siapa percaya kepada Allah dan hari kemudian, maka hendaklah dia berkata benar atau diam”.

  

Al-Quran surah Al-Baqarah (surah ke-2) ayat 62.

 

إِنَّالَّذِينَآمَنُواوَالَّذِينَهَادُواوَالنَّصَارَىٰوَالصَّابِئِينَمَنْآمَنَبِاللَّهِوَالْيَوْمِالْآخِرِوَعَمِلَصَالِحًافَلَهُمْأَجْرُهُمْعِنْدَرَبِّهِمْوَلَاخَوْفٌعَلَيْهِمْوَلَاهُمْيَحْزَنُونَ

 

 

Sesungguhnya orang-orang mukmin, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani dan orang-orang Shabiin, siapa saja di antara mereka yang benar-benar beriman kepada Allah, hari kemudian dan beramal saleh, mereka akan menerima pahala dari Tuhan mereka, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati.

 

 Ayat Al-Quran ini bukan menunjukkan yang dituntut dari semua kelompok yang disebut di atas hanya beriman kepada Allah dan hari kemudian saja.

 

 Tetapi bersama keduanya adalah beriman kepada Rasul, kitab suci, malaikat, dan takdir.

 

 

Meskipun, ayat Al-Quran itu dan semacamnya hanya menyebutkan 2 hal pokok saja.

 

Tetapi tetap menuntut keimanan menyangkut yang disampaikan Rasulullah dalam 6 hal keimanan yang disebutkan dalam hadis di atas, dan hal lainnya yang tidak disebutkan.

 

 

Daftar Pustaka

1.    Shihab, M.Quraish. Lentera Hati. Kisah dan Hikmah Kehidupan. Penerbit Mizan, 1994.  

2.    Shihab, M. Quraish Shihab. Wawasan Al-Quran. Tafsir Maudhui atas Perbagai Persoalan Umat. Penerbit Mizan, 2009.

3.    Shihab, M.Quraish. E-book Membumikan Al-Quran.

4.    Al-Quran Digital, Versi 3.2. Digital Qur’an Ver 3.2

5.    Tafsirq.com online.

 

10816. BID'AH PERLU UNTUK CIPTAKAN KREATIVITAS

 




BID’AH PERLU UNTUK CIPTAKAN KREATIVITAS

Oleh: Drs. H. M. Yusron Hadi, M.M

  

 

Pendapat Ali Syariati tentang potensi manusia.

1.      Manusia adalah satu-satunya makhluk Allah.

Yang bisa mengubah dirinya.

Dari makhluk biasa (being) menjadi sempurna (becoming).

2.      Becoming adalah bergerak, maju, mencari kesempurnaan, merindukan keabadian, tak pernah terhambat dan berhenti, terus menerus bergerak menuju kempurnaan.

 

3.      Untuk melakukan gerakan becoming, manusia dibekali 3 potensi dasar.

Yaitu: kesadaran diri, kehendak bebas, dan kreativitas.

 

4.      Dengan 3 potensi itu, manusia diundang dan ditantang oleh Allah untuk bertindak seperti tindakan Allah.

Yaitu meniru akhlak Allah.

 

Kesimpulannya

Agar jasmani dan rohani manusia tetap sehat.

 

Maka jasmani dan rohaninya harus aktif bergerak.

Jangan mandek dan diam.

 

Termasuk fisik, mental,  dan pikiran manusia harus aktif terus bergerak agar tetap sehat.

 

Jika ada remaja.

Tapi cara berpikirnya seperti anak kecil.

Misalnya masih suka bermain-main saja.

Maka dia tak berkembang.

 

Jika ada orang dewasa.

Tapi cara berpikirnya tetap seperti remaja.

Misalnya, masih suka keluyuran saja.

Maka dia tak berkembang.

 

Semua manusia harus bergerak ke arah yang lebih sempurna.

 

Jika ada yang berkata,

“Kamu tak seperti dulu lagi.”

 

Justru hal itu lebih baik.

Yaitu bergerak dan berubah menjadi lebih sempurna.

 

Jangan statis dan mandek dalam hal apa pun.

 

Termasuk dalam hal tulisan.

Jangan dianggap final tulisan yang sudah dimuat media massa.

 

Tapi harus terus dikembangkan agar lebih sempurna.

 

Yang belum mulai.

Ayo segera mengawalinya.

 

 

Ada 3 potensi dasar manusia, yaitu:

1.      Sadar diri.

2.      Kehendak bebas.

3.      Kreativitas.

 

SADAR DIRI

Sadar diri artinya paham posisi dirinya.

Sadar potensi, bakat, dan minatnya.

 

Misalnya, dalam bermain sepak bola harus sadar diri.

 

Apakah sebagai kiper, penyerang, pemain bertahan, atau wasit.

Atau hanya sebagai penonton saja.

 

Jika hanya sebagai penonton.

Tapi merasa sebagai wasit.

Maka kacau jadinya.

 

KEHENDAK BEBAS

Kehendak bebas artinya selama masih banyak tergantung kepada apa pun.

Maka tak bisa bergerak bebas.

 

Misalnya masih tergantung kepada benda, aturan, atau apa pun.

Maka tak bisa bergerak bebas.

 

Agar bisa bergerak bebas.

Maka kita harus membebaskan diri dari kungkungan apa pun.

 

KREATIVITAS

Kreatif artinya ada hal baru.

Yang berbeda dengan kemarin.

 

Dalam bahasa agama, kreativitas  disebut bid’ah.

Yaitu hal yang baru.

 

Bid’ah malah dibutuhkan untuk kreatifitas.

 

Jika tak berani kreatif.

Maka tak ada yang berubah.

 

Kekuatan imajinasi, kreasi, dan intuisi manusia harus banyak dimainkan.

 

Misalnya, temukan cara belajar baru.

Yang berbeda dengan sebelumnya.

 

Dengan cara itu, diharapkan manusia bisa menjadi khalifah dengan baik.

 

Manusia harus meniru sifat Allah sesuai dengan kekuatan makhluk.

 

Misalnya, Allah menciptakan matahari.

Manusia menciptakan lampu.

 

Allah menciptakan manusia. Manusia menciptakan boneka dan robot.

 

Manusia sebagai khalifah di bumi bertugas mengelola dan merawat dunia agar tetap baik.

 

Jangan malah menjadi sponsor untuk merusak lingkungan.

 

 

(Sumber Ngaji Filsafat Dr Fahrudin Faiz)