Organisasi Profesi Guru

Presiden Jokowi memberi hormat kepada Guru-Guru se Indonesia.

Tema Gambar Slide 2

Deskripsi gambar slide bisa dituliskan disini dengan beberapa kalimat yang menggambarkan gambar slide yang anda pasang, edit slide ini melalui edit HTML template.

Tema Gambar Slide 3

Deskripsi gambar slide bisa dituliskan disini dengan beberapa kalimat yang menggambarkan gambar slide yang anda pasang, edit slide ini melalui edit HTML template.

Tuesday, September 7, 2021

10848. SAMPAI SEKARANG CUKUP JANGAN CEMAS REZEKI BESOK

 

 








SAMPAI SAAT INI  CUKUP JANGAN CEMAS REZEKI BESOK

Oleh Drs. HM Yusron Hadi,MM

 

 

Nasihat lmam Syafii tentang rezeki.

 

Seperti Tuhanmu mencukupi rezekimu pada hari kemarin.

 

Maka jangan cemas dengan rezekimu untuk hari esok.

  

Rezeki (menurut KBBI V) bisa diartikan:

 

1.      Segala segala sesuatu yang dipakai untuk memelihara kehidupan (yang diberikan oleh Tuhan).

 

2.      Makanan (sehari-hari).

3.      Nafkah.

4.      Penghidupan.

 

5.      Pendapatan (uang dan sebagainya untuk memelihara kehidupan).

 

6.      Keuntungan.

7.      Kesempatan mendapat makan.

 

Manusia sering gelisah memikirkan rezekinya.

 

Termasuk para mahasiswa cemas tentang rezekinya.

 

Sehingga muncul pertanyaan:

 1.      Besok akan menjadi apa?

2.      Besok bisa makan apa tidak?

3.      Besok bisa bayar kuliah apa tidak?

4.      Dan seterusnya.

 

 Imam Syafii memberi nasihat.

 Jika dulu kamu belum menjadi mahasiswa.

 

Rezekimu sudah dijamin oleh Allah.

Lewat berbagai cara.

 

Padahal kamu belum mandiri

 

Tapi rezeki dari Allah tetap ada

Dengan berbagai cara.

 Bisa lewat orang tua

Atau cara lainnya.

 

Jika sebelumnya Allah mencukupi rezekimu

 

Yakinlah di masa depan, Allah juga akan mencukupi rezekimu.

 

Maka jangan cemas dan gelisah dengan rezeki.

 

Sehingga dalam hidup ini tak  perlu menerjang aturan.

 

Tak perlu menabrak larangan  untuk mendapat rezeki.

 Dalam mencari rezeki harus dengan cara yang halal.

 Jangan mencari rezeki dengan cara haram.

 

Rezeki sudah ada yang mengatur.

 

Jika kita tak punya pekerjaan.

Lalu menjadi gelisah.

Hal itu manusiawi.

 

Karena tugas manusia menurut fitrahnya adalah bekerja.

 

Fitrah manusia punya kegiatan  dan penghasilan.

 

Tapi jangan gelisah dengan hasilnya.

 

Masalah rezeki jangan dicemaskan.

 Tugas manusia adalah bekerja dengan baik sesuai bidangnya.

 

Kemudian hasilnya tawakal kepada Allah.

  

Mari kita kerjakan tugas kita dengan sebaik-baiknya.

 

Urusan rezeki kembalikan kepada Allah.

 Rezeki itu urusan Allah Yang Maha Pemberi rezeki.

 

Allah yang mengatur dan mencukupkan rezeki.

 

Maka jangan dicampur uang yang halal dan yang haram.

 

Agar rezeki kita menjadi berkah.

 

Rezeki yang berkah akan mendatangkan kebaikan bagi pemiliknya.

 

Rezeki yang tak berkah malah akan menyusahkan dan membuat celaka pemiliknya.

 

Al-Quran surah Hud (surah ke-11 ) ayat 6.

 

۞ وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ إِلَّا عَلَى اللَّهِ رِزْقُهَا وَيَعْلَمُ مُسْتَقَرَّهَا وَمُسْتَوْدَعَهَا ۚ كُلٌّ فِي كِتَابٍ مُبِينٍ

 

Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah yang memberi rezekinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam Kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh).

 

 

(Sumber Ngaji Filsafat Dr Fahrudin Faiz)

Monday, September 6, 2021

10846. SIAPA MAKIN BANYAK MEMBERI DIA MAKIN BANYAK MENERIMA

 



SIAPA MAKIN BANYAK MEMBERI DIA MAKIN BANYAK MENERIMA

Oleh: Drs. HM. Yusron Hadi, M.M.

 

 

 Prinsip kebijaksanaan Yin dan Yang.

 

1.      Dalam kebenaran ada setitik kesalahan.

Dalam kesalahan ada setitik kebenaran.

 

Kebenaran yang diyakini manusia pasti tak sempurna.

Dan kesalahan yang dilakukan manusia juga tak gelap total.

 

Mungkin masih ada sedikit titik kebenaran.

 

Kisah wanita pelacur yang masuk surga.

Karena memberi minum anjing yang kehausan.

 

Dalam norma agama dan sosial.

Wanita pelacur hidup dalam wilayah yang hitam.

Tapi dalam wilayah hitam ada setitik putih kecil.

 

Yaitu rasa kasih sayangnya terhadap anjing yang kehausan.

 

Dia mengambil air minum untuk anjing yang kehausan

 

Yang bisa membawanya masuk surga.

 

Artinya wilayah hitam yang sangat luas.

 

Terhapus oleh titik putih yang sangat kecil.

 

Kisah kiai ambil secuil kayu selilit untuk tusuk gigi.

Tak peduli halal dan haramnya.

 

Yang membawanya tak selamat di akhirat.

 

Seorang kiai pulang dari kenduri.

 

Karena sudah tua, ada sedikit sisa makanan di  sela-sela giginya.

 

Yaitu selilitan.

 

Sambil tak sadar, kiai mematahkan sedikit kayu pagar tetangganya.

 

Dipakai tusuk gigi.

Untuk mengambil selilit di sela-sela giginya.

 

Mungkin tetangganya juga tak peduli dengan diambilnya secuil kayu pagarnya.

 

Tapi karena kiai tak peduli dengan hukum halal dan haramnya.

Terhadap milik orang lain.

 

Membuat Allah tak rida.

Sehingga kiai tak selamat di akhirat.

 

Artinya kiai yang putih.

Gara-gara titik hitam yang sangat kecil.

Akhirnya tak selamat di akhirat.

 

Pelajaran yang bisa diambil

 

1.      Dalam kebaikan dan kebenaran tetap hati-hati dan waspada.

Jangan sampai ada setitik kesalahan yang menghancurkan.

 

Misalnya, semua amal baik tergantung kepada niatnya.

 

Yaitu niatnya hanya mencari rida Allah.

Jangan sampai keliru niatnya.

 

 

2.      Dalam kesalahan jangan putus asa.

Semoga masih ada titik-titik kebenaran.

 

Allah Maha Pengampun lagi Penyayang.

 

Dengan tobat nasuha.

Menyesal telah berbuat dosa.

 

Dan menutupi kesalahan dengan banyak berbuat baik.

 

Semoga Allah mengampuni semua dosa yang pernah dilakukan.

 

KEBAIKAN BERLEBIHAN MENJADI JELEK

Kebaikan yang berlebih, akan berbah kejelekan.

 

Sedekah itu baik

Tapi sedekah berlebihan

Sampai tak memperhatikan kebutuhan dirinya, itu jelek.

 

Salat itu baik.

Tapi salat terus menerus, itu jelek.

 

Kisah para sahabat

Para sahabat bertamu kepada Rasulullah.

Rasulullah tak di rumah.

Mereka ditemui istri Rasulullah.

 

Sambil menunggu datangnya Rasulullah.

 

Istri Rasulullah bercerita tentang ibadah beliau.

Yaitu Rasulullah salat malam, sering puasa, dam ibadah lainnya.

 

Para tamu merasa ibadahnya kurang dibanding Rasulullah.

 

Sahabat berkata,

“Wah Rasulullah yang dijamin diampuni Allah.

Dijamin masuk surga.

Ibadahnya hebat.

Bagimana dengan kami?”

Maka kami harus berlipat ibadahnya dibanding Rasulullah.

 

Orang ke-1 berkata,

“Saya akan salat malam terus menerus.

Saya tak akan tidur.”

 

Orang ke-2 berkata,

“Saya akan puasa terus menerus.”

Saya akan berpuasa tiap hari.”

 

Orang ke-3 berkata,

“Saya akan fokus pada agama.

Saya tidak akan menikah.

Hidupku kuserahkan kepada Allah.”

 

Rasulullah datang.

Dan mendengar ucapan para sahabat.

 

Rasulullah bersabda,

“Aku lebih bertakwa kepada Allah.

Dan lebih takut kepada Allah dibanding kalian.

 

Tapi aku berpuasa, tapi juga berbuka.

Aku salat malam, tapi juga tidur.

Dan aku juga menikah.”

 

Kemudian Rasulullah menutupnya dengan bersabda,

 

“Barang siapa membenci sunahku. Maka dia bukan bagian dari umatku.”

 

Artinya kebaikan itu jangan over dosis.

Kebaikan yang over dosis menjadi jelek.

 

Jadi, jeleknya karena faktor over dosis itu.

Bukan pada kebaikannya.

 

Orang tua sayang pada anaknya, itu wajar.

Tapi jika memanjakan anak.

Maka  menjadi jelek.

 

Sikap tegas itu bagus.

Tapi jika berlebihan menjadi otoriter.

Maka itu jelek.

 

Ternyata kebaikan berlebihan berdampingan dengan kejelekan.

 

 

SIAPA MAIN BANYAK MEMBERI DIA MAKIN BANYAK MENERIMA

 

Orang yang makin banyak memberi kepada orang lain.

Maka dia makin banyak menerima.

 

Orang dermawan yang suka berbagi harta kepada orang lain.

Biasanya justru rezekinya malah bertambah lancar dan makmur.

 

 

Logikanya sederhana.

Orang yang mau berbagi  harta kepada orang lain.

Artinya dia posisinya menjadi jalan rezekinya orang lain.

 

Dia makin banyak menjadi jalan rezekinya orang lain.

Maka Allah makin banyak menitipkan rezekinya orang lain lewat dia.

 

Ibarat talang yang dilewati air.

Maka talang itu selalu basah.

 

Termasuk juga ilmu.

Siapa yang suka berbagi ilmu kepada orang lain.

Allah akan menambah ilmunya sehingga tambah banyak.

 

Makin banyak memberi.

Maka makin banyak menerima.

 

Memberi dan menerima itu pasangan Yin dan Yang.

 

Orang yang mau menghargai dan menghormati orang lain.

Justru akan mendapat penghargaan lebih banyak.

 

 (Sumber Ngaji Filsafat Dr Fahrudin Faiz)