Organisasi Profesi Guru

Presiden Jokowi memberi hormat kepada Guru-Guru se Indonesia.

Tema Gambar Slide 2

Deskripsi gambar slide bisa dituliskan disini dengan beberapa kalimat yang menggambarkan gambar slide yang anda pasang, edit slide ini melalui edit HTML template.

Tema Gambar Slide 3

Deskripsi gambar slide bisa dituliskan disini dengan beberapa kalimat yang menggambarkan gambar slide yang anda pasang, edit slide ini melalui edit HTML template.

Tuesday, October 5, 2021

11405. PERINTAH BERHIAS SAAT KE MASJID

 



PERINTAH BERHIAS SAAT  KE MASJID

Oleh: Drs. H. M. Yusron Hadi, M.M.

 

 

Berhias adalah berdandan untuk memperelok diri.

Dengan pakaian atau perhiasan indah.

 

 Al-Quran surah Al-A'raf (surah ke-7) ayat  31.

 

يَا بَنِي آدَمَ خُذُوا زِينَتَكُمْ عِنْدَ كُلِّ مَسْجِدٍ وَكُلُوا وَاشْرَبُوا وَلَا تُسْرِفُوا ۚ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ

     

 Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah tiap (masuk) masjid, makan dan minumlah, dan janganlah berlebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang berlebihan.

 

Perhiasan  dipakai  untuk   memperelok diri.

Pemakainya  harus  menganggap perhiasan  itu  indah.

 

Meskipun orang  lain  tidak menilai indah.

Atau pada hakikatnya memang tidak indah.  

 

Al-Quran   tidak  menjelaskan terperinci.

 

Apakah yang dimaksud perhiasan.

 

Atau sesuatu yang  “elok” dan “indah” itu.

 

 

Sesuatu yang elok adalah yang menghasilkan kebebasan dan serasi.

 

Misalnya bentuk tubuh elok adalah yang ramping.

 

Karena  gemuk membatasi  kebebasan  bergerak.

 

Sentuhan  indah  adalah sentuhan yang memberi kebebasan memegang.

 

Yaitu tidak  ada duri.

Atau  kekasaran  yang mengganggu tangan.

 

Suara elok adalah suara keluar dari tenggorokan tanpa  paksaan.

 

Atau dihadang  serak dan semacamnya.

 

Gagasan indah adalah ide yang tidak dipaksa.

 

Atau dihambat oleh ketidaktahuan.

 

Takhayul dan  semacamnya.

 

Pakaian  elok  adalah  yang memberi kebebasan pemakainya untuk  bergerak.

 Tetapi kebebasan harus disertai  tanggung jawab.

 

Maka keindahan harus menghasilkan kebebasan bertanggung jawab.

 

Kita dapat menerima atau menolak pendapat itu.

 

Meskipun  sepakat  bahwa  keindahan  adalah  dambaan manusia.

 

Tetapi keindahan  adalah  relatif dan tidak mutlak.

 

Yaitu tergantung  sudut pandang masing-masing.

 

 Sehingga Al-Quran tidak menjelaskan terperinci.

Tentang sesuatu yang dinilai indah.

 

Wahyu  ke-2  (atau  ke-3).

 

Dinilai oleh para ulama sebagai ayat Al-Quran.

 

Yang mengandung info pengangkatan Nabi Muhammad sebagai  Rasul.

Dengan menuntun beliau.

Agar terus menjaga.

Dan  meningkatkan  kebersihan  pakaiannya.

 

Al-Quran surah Al-Muddassir (surah ke-74) ayat 1-4.

 

يَا أَيُّهَا الْمُدَّثِّرُ قُمْ فَأَنْذِرْ  وَرَبَّكَ فَكَبِّرْ وَثِيَابَكَ فَطَهِّرْ

 

Hai orang yang berkemul (berselimut), bangunlah, lalu berilah peringatan! dan Tuhanmu agungkanlah, dan pakaianmu bersihkan.

 

Salah  satu  unsur indah adalah bersih.

 

Nabi  senang  memakai  pakaian bwarna putih.

 

Warna putih sesuai dengan iklim wilayah Arab Saudi yang panas.

 

Dan segera  tampakk  kotornya.

 

Sehingga terdorong untuk berganti pakaian lain yang bersih.

 

 Al-Quran memerintahkan  agar  umat Islam memakai busana  indah  saat ke  masjid.

 

Dan mengecam  orang  yang mengharamkan  perhiasan.

Yang  telah  diciptakan  Allah  untuk manusia.

 

Al-Quran surah Al-A'raf (surah ke-7) ayat 32.

 

قُلْ مَنْ حَرَّمَ زِينَةَ اللَّهِ الَّتِي أَخْرَجَ لِعِبَادِهِ وَالطَّيِّبَاتِ مِنَ الرِّزْقِ ۚ قُلْ هِيَ لِلَّذِينَ آمَنُوا فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا خَالِصَةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ ۗ كَذَٰلِكَ نُفَصِّلُ الْآيَاتِ لِقَوْمٍ يَعْلَمُونَ

 

Katakan: “Siapakah yang mengharamkan perhiasan dari Allah yang telah dikeluarkan-Nya untuk hamba-hamba-Nya dan (siapa pulakah yang mengharamkan) rezeki yang baik?” Katakan: “Semuanya itu (disediakan) bagi orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia, khusus (untuk mereka saja) di hari kiamat. Demikian Kami menjelaskan ayat-ayat bagi orang yang mengetahui”.

 

Berhias  adalah  naluri  manusia yang wajar.

 

Sahabat bertanya,

”Wahai Rasulullah.

Ada orang senang berpakaian indah dan alas kakinya indah.

Apakah itu keangkuhan?”

 

Nabi menjawab,

“Sesungguhnya Allah Maha Indah.

Senang kepada keindahan.

Keangkuhan adalah menolak kebenaran.

Dan menghina orang lain”.

 

 

Rasulullah banyak menganjurkan agar kuku manusia dirawat dan diperindah.

 

 Istri Nabi, Aisyah, meriwayatkan.

Ada wanita menyodorkan selembar surat.

Dengan tangannya kepada Nabi dari balik tirai.

 

Nabi berhenti sejenak sebelum menerimanya.

 

Nabi bersabda,

 

“Saya tidak tahu.

Apakah orang yang menyodorkan surat ini adalah lelaki atau wanita”.

 

 Aisyah berkata,

“Tangan seorang wanita”.

 

Nabi bersabda,

 

“Jika kamu seorang wanita.

Maka kamu merawat kukumu dengan mewarnainya dengan pacar atau daun inai”.

 

 

Nabi menganjurkan agar wanita berhias.

 

Tapi Al-Quran tidak  memerinci  jenis  perhiasan.

 

Dan bahan pakaian yang elok untuk digunakan.

 

Al-Quran bicara penghuni surga dan pakaian mereka.

 

Al-Quran surah Fathir (surah ke-35) ayat 33.

 

جَنَّاتُ عَدْنٍ يَدْخُلُونَهَا يُحَلَّوْنَ فِيهَا مِنْ أَسَاوِرَ مِنْ ذَهَبٍ وَلُؤْلُؤًا ۖ وَلِبَاسُهُمْ فِيهَا حَرِيرٌ

 

 (Bagi mereka) surga Adn, mereka masuk ke dalamnya, di dalamnya mereka diberi perhiasan dengan gelang dari emas, dan dengan mutiara, dan pakaian mereka di dalamnya adalah sutera.

 

 

Al-Quran surah Al-Kahfi (surah ke-18) ayat 31.

 

أُولَٰئِكَ لَهُمْ جَنَّاتُ عَدْنٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهِمُ الْأَنْهَارُ يُحَلَّوْنَ فِيهَا مِنْ أَسَاوِرَ مِنْ ذَهَبٍ وَيَلْبَسُونَ ثِيَابًا خُضْرًا مِنْ سُنْدُسٍ وَإِسْتَبْرَقٍ مُتَّكِئِينَ فِيهَا عَلَى الْأَرَائِكِ ۚ نِعْمَ الثَّوَابُ وَحَسُنَتْ مُرْتَفَقًا

 

 Mereka itu (orang-orang yang) bagi mereka surga Adn, mengalir sungai-sungai di bawahnya, dalam surga mereka dihiasi dengan gelang emas dan mereka memakai pakaian hijau dari sutera halus dan sutera tebal, sedangkan mereka duduk sambil bersandar di atas dipan-dipan yang indah. Itu pahala yang sebaik-baiknya, dan tempat-istirahat yang indah.

 

 

Bahan dalam surga seperti  disebutkan  Al-Quran.

 

Tidak dapat dianalogikan dengan nama bahan yang sama di dunia ini.

 

Para penghuni surga diberi rezeki berupa buah-buahan.

 

Orang menduga bahwa suguhan itu sama dengan yang pernah mereka  peroleh di  dunia.

 

 

Al-Quran surat Al-Baqarah (surah ke-2) ayat 25.

 

وَبَشِّرِ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ أَنَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ ۖ كُلَّمَا رُزِقُوا مِنْهَا مِنْ ثَمَرَةٍ رِزْقًا ۙ قَالُوا هَٰذَا الَّذِي رُزِقْنَا مِنْ قَبْلُ ۖ وَأُتُوا بِهِ مُتَشَابِهًا ۖ وَلَهُمْ فِيهَا أَزْوَاجٌ مُطَهَّرَةٌ ۖ وَهُمْ فِيهَا خَالِدُونَ

 

Dan sampaikan berita gembira kepada mereka yang beriman dan berbuat baik, bahwa bagi mereka disediakan surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya. Tiap mereka diberi rezeki buah-buahan dalam surga-surga itu, mereka mengatakan, “Inilah yang pernah diberikan kepada kami dahulu”. Mereka diberikan  buah-buahan yang serupa dan untuk mereka di dalamnya ada istri-istri yang suci dan mereka kekal di dalamnya.

 

Al-Quran menjelaskan penghuni surga.

Diberi buah-buahan YANG SERUPA, tetapi tidak sama.

 

Termasuk jenis perhiasan lainnya.

 

 

 

Daftar Pustaka

1.              Shihab, M.Quraish. Lentera Hati. Kisah dan Hikmah Kehidupan. Penerbit Mizan, 1994.  

2.              Shihab, M. Quraish Shihab. Wawasan Al-Quran. Tafsir Maudhui atas Perbagai Persoalan Umat. Penerbit Mizan, 2009.

3.              Shihab, M.Quraish. E-book Membumikan Al-Quran.

4.              Al-Quran Digital, Versi 3.2. Digital Qur’an Ver 3.2

5.              Tafsirq.com online.     

11404. PENGERTIAN REBO WEKASAN RABU TERAKHIR

 



PENGERTIAN REBO WEKASAN RABU TERAKHIR

Oleh: Drs. H. M. Yusron Hadi, M.M.

 

 

 

 

Pengertian Rebo wekasan (Rabu Terakhir) bulan Safar.

 

Rabu Terakhir (bahasa Jawa: Rebo Wekasan) adalah tradisi ritual pada hari Rabu terakhir bulan Safar.

Untuk mohon perlindungan kepada Allah dari berbagai macam bencana.

 

Bulan Safar adalah bulan ke-2 pada tahun Islam Hijriah.

 

Nama 12 bulan tahun Hijriah.

 1) Muharam (Suro)

2) Safar (Sapar)

 

3) Rabiul Awal (Mulud)

4) Rabiul Akhir (Bakdo Mulud)

 

5) Jumadil Awal

6) Jumadil Akhir

 

7) Rajab (Rejeb)

8) Syakban (Ruwah)

 

9) Ramadan (Poso)

10)             Syawal

 

11)             Zulkakdah (Selo)

12)             Zulhijah (Besar)

 

 Tradisi Rebo Wekasan sudah berlangsung secara turun-temurun.

Dalam masyarakat Jawa, Sunda, Madura, dan lainnya.

 

Kegiatan Rebo Wekasan:

 

1.  Salat sunah menolak bencana.

 2.  Berdoa dengan doa khusus.

 3.  Minum air jimat.

 

 4.  Selamatan, sedekah, silaturahmi, dan berbuat baik kepada sesama.

 

Asal mula munculnya Rebo Wekasan.

 

 Anjuran Syeikh Ahmad bin Umar Ad-Dairobi (w.1151 H) dalam kitab “Fathul Malik Al-Majid Al-Mu-Allaf Li Naf’il ‘Abid Wa Qam’i Kulli Jabbar ‘Anid.

Yang biasa disebut: Mujarrobat ad-Dairobi).

 

Anjuran serupa juga pada kitab: ”Al-Jawahir Al-Khams” karya Syeikh Muhammad bin Khathiruddin Al-‘Atthar (w. th 970 H), Hasyiyah As-Sittin.

Dan sebagainya.

 

Dalam kitab itu seorang wali berkata.

Bahwa pada tiap tahun pada Rabu terakhir bulan Shafar.

Allah menurunkan 320.000 macam bencana dalam satu malam.

 

Sehingga umat Islam disarankan untuk salat dan berdoa.

Mohon agar dihindarkan dari bencana tersebut.

  

Cara salat menolak bencana Rebo Wekasan.

 

1.  Dikerjakan waktu Duha (pagi hari).

2.  Salat sunah 4 rakaat.

 3.  Pada setiap rakaat membaca surah:

1) Fatihah.

2) Al-Kautsar 17 kali.

 3) Al-Ikhlas 5 kali.

4) Al-Falaq 1 kali.

 5)  An-Nas 1 kali.

 

 

4.  Setelah salam membaca doa khusus 3 kali.

 

Keterangan.

 

1.      Syekh KH. M. Hasyim Asy’ari pernah menjawab pertanyaan tentang Rebo Wekasan.

 

2.      Beliau berpendapat Rebo Wekasan tidak ada dasarnya dalam Islam.

 

3.      Umat Islam juga dilarang menyebarkan atau mengajak orang lain untuk mengerjakannya.

 

Berikut naskah lengkap beliau:

 

5.       بسم الله الرحمن الرحيم وبه نستعين على أمور الدنيا والدين وصلى الله على سيدنا محمد وعلى آله وصحبه وسلم.

6.       أورا وناع فيتوا أجاء – أجاء لن علاكوني صلاة ربو وكاسان لن صلاة هدية كاع كاسبوت إع سؤال، كرنا صلاة لورو إيكو ماهو دودو صلاة مشروعة في الشرع لن أورا أنا أصلي في الشرع. والدليل على ذلك خلو الكتب المعتمدة عن ذكرها، كيا كتاب تقريب، المنهاج القويم، فتح المعين، التحرير لن سأ فندوكور كيا كتاب النهاية، المهذب لن إحياء علوم الدين. كابيه ماهو أورا أنا كع نوتور صلاة كع كاسبوت.

7.       ومن المعلوم أنه لو كان لها أصل لبادروا إلى ذكرها وذكر فضلها، والعادة تحيل أن يكون مثل هذه السنة وتغيب عن هؤلاء وهم أعلم الدين وقدوة المؤمنين. لن أورا وناع أويه فيتوا أتوا عافيك حكوم ساكا كتاب مجربات لن كتاب نزهة المجالس. كتراعان سكع كتاب حواشى الأشباه والنظائر للإمام الحمدي قال: ولا يجوز الإفتاء من الكتب الغير المعتبرة، لن كتراعان سكع كتاب تذكرة الموضوعات للملا على القاري: لا يجوز نقل الأحاديث النبوية والمسائل الفقهية والتفاسير القرآنية إلا من الكتب المداولة (المشهورة) لعدم الإعتماد على غيرها من ودع الزنادقة والحاد الملاحدة بخلاف الكتب المحفوظة انتهى. لن كتراعان سكع كتاب تنقيح الفتوى الحميدية: ولا يحل الإفتاء من الكتب الغريبة. وقد عرفت أن نقل المجربات الديربية وحاشية الستين لاستحباب هذه الصلاة المذكورة يخالف كتب الفروع الفقهية فلا يصح ولا يجوز الإفتاء بها. لن ماليه حديث كع كاسبات وونتن كتاب حاشية الستين فونيكا حديث موضوع. كتراعان سكع كتاب القسطلاني على البخاري: ويسمى المختلف الموضوع ويحرم روايته مع العلم به مبينا والعمل به مطلقا. انتهى…. …… إلى أن قال: وَلَيْسَ لِأَحَدٍ أَنْ يَسْتَدِلَّ بِمَا صَحَّ عَنْ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ: الصَّلاَةُ خَيْرُ مَوْضُوْعٍ، فَمَنْ شَاءَ فَلْيَسْتَكْثِرْ وَمَنْ شَاءَ فَلْيَسْتَقْلِلْ، فَإِنَّ ذَلِكَ مُخْتَصٌّ بِصَلاَةٍ مَشْرُوْعَةٍ. سكيرا أورا بيصا تتف كسنتاني صلاة هديه كلوان دليل حديث موضوع، مك أورا بيصا تتف كسنتاني صلاة ربو وكاسان كلوان داووهي ستعاهي علماء العارفين، مالاه بيصا حرام، سبب إيكي بيصا تلبس بعبادة فاسدة. والله سبحانه وتعالى أعلم. (هذا جواب الفقير إليه تعالى محمد هاشم أشعري جومباع).

 

Tradisi Rebo Wekasan bukan syariat Islam.

 

 Tetapi tradisi yang baik, karena:

 1) Menganjurkan salat dan doa.

2) Menganjurkan banyak bersedekah.

 

3) Menghormati para wali.

 

Bagi orang yang meyakini Rebo Wekasan.

Boleh mengerjakan sesuai syariat Islam.  

 

Orang yang tidak meyakini jangan mencela atau menghinanya.

  

 

Daftar Pustaka

1.  A. Mubarok Yasin, Pengasuh Rubrik Tanya Jawab Fiqh Tebuireng online.