Organisasi Profesi Guru

Presiden Jokowi memberi hormat kepada Guru-Guru se Indonesia.

Tema Gambar Slide 2

Deskripsi gambar slide bisa dituliskan disini dengan beberapa kalimat yang menggambarkan gambar slide yang anda pasang, edit slide ini melalui edit HTML template.

Tema Gambar Slide 3

Deskripsi gambar slide bisa dituliskan disini dengan beberapa kalimat yang menggambarkan gambar slide yang anda pasang, edit slide ini melalui edit HTML template.

Tuesday, November 9, 2021

11586. PERINTAH MANFAATKAN WAKTU OPTIMAL

 



PERINTAH MANFAATKAN WAKTU OPTIMAL

Oleh:Drs. H. M. Yusron Hadi, M.M.

 

 

Al-Quran surah Al-Ashri (surah ke-103) ayat 1-3.

 

وَالْعَصْرِ . إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ. إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ

 

      Demi masa. Sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang beriman dan mengerjakan amal saleh dan saling menasihati agar menaati kebenaran dan saling menasihati agar menetapi kesabaran.

 

 

Al-Quran memerintahkan umat Islam untuk memanfaatkan waktu semaksimal mungkin.

 

Umat manusia dituntun oleh Al-Quran.

Untuk mengisi seluruh “ashr” (waktu).

Dengan berbagai amal perbuatan.

Memaksimalkan semua daya yang dimilikinya.

 

 

Al-Quran surah Adz-Dzariyat (surah ke-51) ayat 56.

 

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

 

      Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia, melainkan supaya mereka menyembah-Ku.

 

Sebagian ulama berpendapat.

Bahwa jin dan manusia diciptakan oleh Allah.

Untuk beribadah.

Dalam pengertian sempit.

 

 

Pemahaman dan penerjemahan ini rancu.

 

Karena memahami kata “lam”.

Dalam “li ya'budun”.

 

Kata “li” diartikan “agar”.

 

 

Dalam bahasa Al-Quran.

Kata “lam” tidak selalu berarti “agar”.

 

Tapi dapat berarti “kesudahannya”.

Atau “akibatnya”.

 

 

Al-Quran surah Al-Qashash (surah ke-28) ayat 8.

 

Menguraikan dipungutnya Nabi Musa oleh keluarga Firaun.

 

 

فَالْتَقَطَهُ آلُ فِرْعَوْنَ لِيَكُونَ لَهُمْ عَدُوًّا وَحَزَنًا ۗ إِنَّ فِرْعَوْنَ وَهَامَانَ وَجُنُودَهُمَا كَانُوا خَاطِئِينَ

     

Maka dipungutlah dia oleh keluarga Fir’aun yang akibatnya dia menjadi musuh dan kesedihan bagi mereka. Sesungguhnya Fir'aun dan Haman beserta tentaranya adalah orang bersalah.

 

 

Jika  kata “lam” dalam Al-Quran surah Al-Qashshas (surah ke-28) ayat 8.

 

Diterjemahkan “agar”.

Artinya,

 “Maka dipungutlah dia (Musa) oleh keluarga Firaun “agar”.

Dia menjadi musuh dan kesedihan bagi mereka.”

 

 

Kalimat seperti itu tidak logis.

 

Tapi jika kata “lam”.

Dipahami “akibat atau kesudahan”.

 

Maka terjemah berbunyi,

 

“Maka dipungutlah dia (Musa) oleh keluarga Firaun.

Dan kesudahannya dia menjadi musuh bagi mereka.”

 

 

Dalam Al-Quran surah Adz-Dzariyat (surah ke-51) ayat 56.

 

Dapat disimpulkan.

Bahwa Al-Quran menuntut agar kesudahan semua pekerjaan manusia.

Hendaknya menjadi ibadah kepada Allah.

 

Apa pun jenis dan bentuknya.

 

 

Al-Quran memerintahkan untuk melakukan kegiatan apa pun.

 

Setelah selesai ibadah ritual.

 

 

Al-Quran surah Al-Jumuah (surah ke-62) ayat 10.

 

فَإِذَا قُضِيَتِ الصَّلَاةُ فَانْتَشِرُوا فِي الْأَرْضِ وَابْتَغُوا مِنْ فَضْلِ اللَّهِ وَاذْكُرُوا اللَّهَ كَثِيرًا لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

 

      Apabila telah ditunaikan salat (Jumat), maka bertebaran kamu di muka bumi dan cari karunia Allah dan banyak ingat Allah agar kamu beruntung.

 

 

Al-Quran mengecam orang mengisi waktunya.

 

1.      Bermain tanpa tujuan.

Seperti anak kecil.

 

2.      Melalaikan yang lebih penting.

Seperti sebagian remaja.

 

3.      Sekadar bersolek.

Seperti sebagian wanita.

 

4.      Menumpuk kekayaan.

Dan memperbanyak anak.

Dengan tujuan kebanggaan.

Seperti dilakukan sebagian orang tua.

 

 

Al-Quran surah Al-Jumuah (surah ke-57) ayat 20.

 

اعْلَمُوا أَنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرٌ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِي الْأَمْوَالِ وَالْأَوْلَادِ ۖ كَمَثَلِ غَيْثٍ أَعْجَبَ الْكُفَّارَ نَبَاتُهُ ثُمَّ يَهِيجُ فَتَرَاهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَكُونُ حُطَامًا ۖ وَفِي الْآخِرَةِ عَذَابٌ شَدِيدٌ وَمَغْفِرَةٌ مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانٌ ۚ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ

 

       Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia itu hanya permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-bangga tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanya kesenangan menipu.

 

 

Pekerjaan atau amal perbuatan dalam bahasa Al-Quran.

 

Sering ditampilkan dalam bentuk “indefinitif” (nakirah).

 

Yang dapat dipahami makna “keumuman”.

 

Sehingga “amal perbuatan”.

Yang dimaksud mencakup “segala macam pekerjaan”.

 

 

Al-Quran surah Ali Imran (surah ke-3) ayat 195.

Menyatakan Allah tidak menyia-nyiakan amal perbuatan.

 

 

فَاسْتَجَابَ لَهُمْ رَبُّهُمْ أَنِّي لَا أُضِيعُ عَمَلَ عَامِلٍ مِنْكُمْ مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَىٰ ۖ بَعْضُكُمْ مِنْ بَعْضٍ ۖ فَالَّذِينَ هَاجَرُوا وَأُخْرِجُوا مِنْ دِيَارِهِمْ وَأُوذُوا فِي سَبِيلِي وَقَاتَلُوا وَقُتِلُوا لَأُكَفِّرَنَّ عَنْهُمْ سَيِّئَاتِهِمْ وَلَأُدْخِلَنَّهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ ثَوَابًا مِنْ عِنْدِ اللَّهِ ۗ وَاللَّهُ عِنْدَهُ حُسْنُ الثَّوَابِ

 

      Maka Tuhan mereka memperkenankan permohonannya (dengan berfirman), "Sesungguhnya Aku tidak menyia-nyiakan amal orang-orang yang beramal di antaramu, baik laki-laki atau perempuan, (karena) sebagian kamu adalah turunan dari sebagian lain. Maka orang-orang yang berhijrah, yang diusir dari kampung halamannya, yang disakiti pada jalan-Ku, yang berperang dan yang dibunuh, pastilah akan Ku-hapuskan kesalahan-kesalahan mereka dan pastilah Aku masukkan mereka ke dalam surga yang mengalir sungai-sungai di bawahnya sebagai pahala di sisi Allah. Dan Allah pada sisi-Nya pahala yang baik.

 

 

Al-Quran surah Al-Anam (surah ke-6) ayat 135.

Perintah bekerja sungguh-sungguh.

 

قُلْ يَا قَوْمِ اعْمَلُوا عَلَىٰ مَكَانَتِكُمْ إِنِّي عَامِلٌ ۖ فَسَوْفَ تَعْلَمُونَ مَنْ تَكُونُ لَهُ عَاقِبَةُ الدَّارِ ۗ إِنَّهُ لَا يُفْلِحُ الظَّالِمُونَ

 

      Katakan:”Hai kaumku, berbuatlah sepenuh kemampuanmu, sesungguhnya aku pun berbuat (pula). Kelak kamu akan mengetahui, siapakah (di antara kita) yang akan memperoleh hasil baik dari dunia ini. Sesungguhnya, orang zalim  tidak akan mendapat keberuntungan.

 

 

Al-Quran surah Alam-Nasrah (surah ke-94) ayat 5-6.

 

فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا

 

     Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.

 

 

Sesungguhnya bersama satu kesulitan yang sama.

 

Ada 2 kemudahan berbeda.

 

Kata “al-ushr” terulang 2 kali.

Dalam bentuk “definitif” (ma'rufah).

 

Yaitu memakai “al” atau “alif dan lam”.

 

Kata “yusra” terulang 2 kali dalam bentuk “indefinitif”.

 

Karena tidak memakai “alif dan lam”.

 

Al-Quran surah Alam-Nasrah (surah ke-94) ayat 7.

 

فَإِذَا فَرَغْتَ فَانْصَبْ

 

     Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakan dengan sungguh-sungguh (urusan) lain.

Kata “faraghta” terambil dari kata “faragha”.

Ditemukan dalam Al-Quran 6 kali.

Dengan berbagai bentuk derivasinya.

 

 

Dari segi bahasa.

Kata “faraghta”.

Artinya “kosong setelah sebelumnya penuh.

Yang berisi material atau non-material”.

 

 Misalnya,

 

1)             Seperti gelas yang penuh dengan air.

Kemudian airnya diminum atau tumpah.

Sehingga gelas menjadi kosong.

 

2)             Hati gelisah penuh ketakutan dan kesedihan.

Kemudian merasa plong.

 

 

Jika orang yang telah memenuhi waktunya dengan pekerjaan.

 

Kemudian dia menyelesaikan pekerjaannya.

Maka jarak waktu antara selesai pekerjaan pertama.

Dengan mulai pekerjaan selanjutnya.

 

Disebut “faragh”.

 

Saat kita dalam “keluangan” (faragh).

 

Dan sebelumnya telah memenuhi waktu dengan kerja keras.

 

Maka itu yang disebbut “fanshab”.

 

 

Kata “fanshab”.

Artinya “berat” atau “letih”.

 

Kata “fanshab”.

Pada mulanya artinya,

 “Menegakkan sesuatu sampai nyata dan mantap”.

 

 

Al-Quran surah Al-Ghasiyah (surah ke-88) ayat 17-19.

 

أَفَلَا يَنْظُرُونَ إِلَى الْإِبِلِ كَيْفَ خُلِقَتْ وَإِلَى السَّمَاءِ كَيْفَ رُفِعَتْ وَإِلَى الْجِبَالِ كَيْفَ نُصِبَتْ

 

     Maka apakah mereka tidak memperhatikan unta bagaimana diciptakan, Dan langit, bagaimana ditinggikan? Dan gunung-gunung bagaimana ditegakkan (sehingga menjadi nyata)?

 

 

Kalimat terakhir pada terjemahan dijelaskan dalam Al-Quran.

 

Dengan kata berakar sama dengan “fanshab”.

 

 Yaitu “nushibat”.

Dalam kalimat “Wa ilal jibali kaifa nushibat”.

 

Dari kata “nushibat” dibentuk kata “nashib” (nasib).

 

Artinya “bagian tertentu yang diperoleh dari kehidupan yang telah ditegakkan.

Sehingga menjadi nyata, jelas, dan sulit dielakkan”.

 

 

Ayat Al-Quran ini tidak memberi peluang kepada manusia.

 

Untuk menganggur.

 

Selama masih ada “waktu”.

 

Karena setelah selesai satu kesibukan.

 

Dituntut melakukan kesibukan lain.

 

Untuk menghasilkan karya nyata.

 

Rasulullah Muhammad menganjurkan umat Islam meneladani sifat Allah.

 

Sesuai kemampuan sebagai makhluk.

 

 

Salah satu contoh sikap Allah.

Yaitu selalu dalam kesibukan.

 

 

Al-Quran surah Ar-Rahman (surah ke-55) ayat 29.

 

يَسْأَلُهُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۚ كُلَّ يَوْمٍ هُوَ فِي شَأْنٍ

 

     Semua yang ada di langit dan di bumi selalu meminta kepada-Nya. Tiap waktu Allah dalam kesibukan.

 

 

 

Daftar Pustaka

1.                Shihab, M.Quraish. Lentera Hati. Kisah dan Hikmah Kehidupan. Penerbit Mizan, 1994.

2.                Shihab, M. Quraish Shihab. Wawasan Al-Quran. Tafsir Maudhui atas Perbagai Persoalan Umat. Penerbit Mizan, 2009.

3.                Shihab, M.Quraish. E-book Membumikan Al-Quran.

4.                Al-Quran Digital, Versi 3.2. Digital Qur’an Ver 3.2

5.                Tafsirq.com online.

11581. AL-QURAN INGIN ADIL TEGAK LURUS DALAM SEMUA HAL

 




AL-QURAN INGIN ADIL TEGAK LURUS DALAM SEMUA HAL

Oleh: Drs. H. M. Yusron Hadi, M.M.

 

 

Keadilan yang dituntut Al-Quran amat beragam.

 

Tak hanya pada proses penetapan hokum.

Atau terhadap pihak yang berselisih.

 

Tapi Al-Quran juga menuntut keadilan terhadap diri sendiri.

 

Saat berucap, menulis.

Atau bersikap batin.

 

 

Al-Quran surah Al-An’am (surah ke-6) ayat 152.

Memerintahkan berbuat adil.

Meskipun terhadap kerabat sendiri.

 

وَلَا تَقْرَبُوا مَالَ الْيَتِيمِ إِلَّا بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ حَتَّىٰ يَبْلُغَ أَشُدَّهُ ۖ وَأَوْفُوا الْكَيْلَ وَالْمِيزَانَ بِالْقِسْطِ ۖ لَا نُكَلِّفُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا ۖ وَإِذَا قُلْتُمْ فَاعْدِلُوا وَلَوْ كَانَ ذَا قُرْبَىٰ ۖ وَبِعَهْدِ اللَّهِ أَوْفُوا ۚ ذَٰلِكُمْ وَصَّاكُمْ بِهِ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ

 

      Dan janganlah kamu dekati harta anak yatim, kecuali dengan cara yang lebih bermanfaat, hingga sampai dia dewasa, dan sempurnakan takaran dan timbangan dengan adil. Kami tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan sekedar kesanggupannya, dan apabila kamu berkata, maka hendaklah kamu berlaku adil meskipun dia kerabat (mu), dan penuhi janji Allah, yang demikian diperintahkan Allah kepadamu agar kamu ingat.

 

 

Al-Quran surah Al-Baqarah (surah ke-2) ayat  282.

Menerangkan hendaknya penulis bertugas dengan adil.

 

 

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا تَدَايَنْتُمْ بِدَيْنٍ إِلَىٰ أَجَلٍ مُسَمًّى فَاكْتُبُوهُ ۚ وَلْيَكْتُبْ بَيْنَكُمْ كَاتِبٌ بِالْعَدْلِ ۚ وَلَا يَأْبَ كَاتِبٌ أَنْ يَكْتُبَ كَمَا عَلَّمَهُ اللَّهُ ۚ فَلْيَكْتُبْ وَلْيُمْلِلِ الَّذِي عَلَيْهِ الْحَقُّ وَلْيَتَّقِ اللَّهَ رَبَّهُ وَلَا يَبْخَسْ مِنْهُ شَيْئًا ۚ فَإِنْ كَانَ الَّذِي عَلَيْهِ الْحَقُّ سَفِيهًا أَوْ ضَعِيفًا أَوْ لَا يَسْتَطِيعُ أَنْ يُمِلَّ هُوَ فَلْيُمْلِلْ وَلِيُّهُ بِالْعَدْلِ ۚ وَاسْتَشْهِدُوا شَهِيدَيْنِ مِنْ رِجَالِكُمْ ۖ فَإِنْ لَمْ يَكُونَا رَجُلَيْنِ فَرَجُلٌ وَامْرَأَتَانِ مِمَّنْ تَرْضَوْنَ مِنَ الشُّهَدَاءِ أَنْ تَضِلَّ إِحْدَاهُمَا فَتُذَكِّرَ إِحْدَاهُمَا الْأُخْرَىٰ ۚ وَلَا يَأْبَ الشُّهَدَاءُ إِذَا مَا دُعُوا ۚ وَلَا تَسْأَمُوا أَنْ تَكْتُبُوهُ صَغِيرًا أَوْ كَبِيرًا إِلَىٰ أَجَلِهِ ۚ ذَٰلِكُمْ أَقْسَطُ عِنْدَ اللَّهِ وَأَقْوَمُ لِلشَّهَادَةِ وَأَدْنَىٰ أَلَّا تَرْتَابُوا ۖ إِلَّا أَنْ تَكُونَ تِجَارَةً حَاضِرَةً تُدِيرُونَهَا بَيْنَكُمْ فَلَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ أَلَّا تَكْتُبُوهَا ۗ وَأَشْهِدُوا إِذَا تَبَايَعْتُمْ ۚ وَلَا يُضَارَّ كَاتِبٌ وَلَا شَهِيدٌ ۚ وَإِنْ تَفْعَلُوا فَإِنَّهُ فُسُوقٌ بِكُمْ ۗ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۖ وَيُعَلِّمُكُمُ اللَّهُ ۗ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

 

      Hai orang-orang beriman, apabila kamu bermuamalah tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya, dan hendaklah seorang penulis di antaramu menuliskannya dengan benar. Dan janganlah penulis enggan menuliskannya sebagaimana Allah telah mengajarkannya, maka hendaklah dia menulis, dan hendaklah orang yang berutang itu mengimlakan (apa yang akan ditulis itu), dan hendaklah dia bertakwa kepada Allah Tuhannya, dan janganlah dia mengurangi sedikit pun utangnya. Jika yang berutang itu orang yang lemah akalnya atau lemah (keadaannya) atau dia sendiri tidak mampu mengimlakan, maka hendaklah walinya mengimlakan dengan jujur. Dan persaksikan dengan dua orang saksi dari orang-orang lelaki di antaramu). Jika tidak ada dua orang lelaki, maka (boleh) seorang lelaki dan dua orang perempuan dari saksi yang kamu ridai, supaya jika seorang lupa maka seorang lagi mengingatkannya. Janganlah saksi enggan (memberikan keterangan) apabila mereka dipanggil; dan janganlah kamu jemu menulis utang itu, baik kecil maupun besar sampai batas waktu membayarnya. Yang demikian lebih adil di sisi Allah dan lebih dapat menguatkan persaksian dan lebih dekat kepada tidak (menimbulkan) keraguanmu, (Tulislah muamalahmu itu), kecuali jika muamalah itu perdagangan tunai yang kamu jalankan di antaramu, maka tidak ada dosa bagimu, (jika) kamu tidak menulisnya. Dan persaksikan apabila kamu berjual beli, dan janganlah penulis dan saksi saling mempersulit. Jika kamu lakukan (yang demikian), maka sesungguhnya itu adalah suatu kefasikan pada dirimu. Dan bertakwalah kepada Allah; Allah mengajarmu; dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.

 

 

Al-Quran surah Al-Hadid (surah ke-57) ayat 25.

Menjelaskan hadirnya para Rasul untuk menegakkan sistem keadilan.

 

 

 

لَقَدْ أَرْسَلْنَا رُسُلَنَا بِالْبَيِّنَاتِ وَأَنْزَلْنَا مَعَهُمُ الْكِتَابَ وَالْمِيزَانَ لِيَقُومَ النَّاسُ بِالْقِسْطِ ۖ وَأَنْزَلْنَا الْحَدِيدَ فِيهِ بَأْسٌ شَدِيدٌ وَمَنَافِعُ لِلنَّاسِ وَلِيَعْلَمَ اللَّهُ مَنْ يَنْصُرُهُ وَرُسُلَهُ بِالْغَيْبِ ۚ إِنَّ اللَّهَ قَوِيٌّ عَزِيزٌ

 

    Sesungguhnya Kami telah mengutus rasul-rasul Kami dengan membawa bukti-bukti yang nyata dan telah Kami turunkan bersama mereka Al-Kitab dan neraca (keadilan) supaya manusia dapat melaksanakan keadilan. Dan Kami ciptakan besi yang padanya terdapat kekuatan yang hebat dan berbagai manfaat bagi manusia, (supaya mereka mempergunakan besi itu) dan supaya Allah mengetahui siapa yang menolong (agama) Nya dan rasul-rasul-Nya padahal Allah tidak dilihatnya. Sesungguhnya Allah Maha Kuat lagi Maha Perkasa.

 

 

Menurut Al-Quran.

Bahwa kepemimpinan bukan sekadar kontrak social.

 

Tapi juga kontrak perjanjian antara Allah dan pemimpin.

 

Untuk menegakkan keadilan.

 

Al-Quran surah Ar-Rahman (surah ke-55) ayat 7.

 

Menegaskan alam semesta ditegakkan berdasar  keadilan.

 

وَالسَّمَاءَ رَفَعَهَا وَوَضَعَ الْمِيزَانَ

 

      Dan Allah telah menegakkan langit dan Dia menetapkan mizan (neraca (keseimbangan).

 

 

Kesimpulannya.

Dalam Al-Quran ditemukan  tentang keadilan.

 

Mulai dari tauhid.

Keyakinan hari kiamat.

Kenabian.

 

Kepemimpinan.

Individu.

Dan masyarakat.

 

Keadilan syarat utama  terciptanya pribadi sempurna.

 

Standar masyarakat sejahtera.

Dan jalan terdekat menuju bahagia akhirat.

 

 

Daftar Pustaka

1.              Shihab, M.Quraish. Lentera Hati. Kisah dan Hikmah Kehidupan. Penerbit Mizan, 1994.  

2.              Shihab, M. Quraish Shihab. Wawasan Al-Quran. Tafsir Maudhui atas Perbagai Persoalan Umat. Penerbit Mizan, 2009.

3.              Shihab, M.Quraish. E-book Membumikan Al-Quran.

4.              Al-Quran Digital, Versi 3.2. Digital Qur’an Ver 3.2

5.              Tafsirq.com online.