Organisasi Profesi Guru

Presiden Jokowi memberi hormat kepada Guru-Guru se Indonesia.

Tema Gambar Slide 2

Deskripsi gambar slide bisa dituliskan disini dengan beberapa kalimat yang menggambarkan gambar slide yang anda pasang, edit slide ini melalui edit HTML template.

Tema Gambar Slide 3

Deskripsi gambar slide bisa dituliskan disini dengan beberapa kalimat yang menggambarkan gambar slide yang anda pasang, edit slide ini melalui edit HTML template.

Thursday, January 16, 2025

39065. DPRD SIDOARJO 1 KALI OMONG DIBAYAR 2,8 JUTA

 


DPRD SIDOARJO 1 KALI OMONG DIBAYAR 2,8 JUTA

 

 

 

Kiprah anggota DPRD Sidoarjo.

Jawa Timur (Jatim).

 

Jadi perbincangan.

Terkait jadi nara sumber.

 

 Acara OPD atau Dinas.

Pemkab Sidoarjo.

 

Jadi pembicara 1 kali omong.

Dibayar Rp 1,4 juta per jam.

 

Rata-rata tiap acara.

Jadi narsum 2 jam.

Jadi 1 omong dapat Rp2,8 juta

 

Jika bicara 3 jam.

Dapat honor Rp4,2 juta.

Tiap anggota DPRD.

 

Jika dalam 1 kegiatan.

Ada 3 anggota DPRD.

Maka biayanya cukup besar.

 

“Memang ada permintaan itu.

Tapi kami menyesuaikan.

 

Jika ada anggarannya.

Maka libatkan anggota DPRD.

Sebagai narsum.

 

Tapi jika tak ada anggarannya.

Maka bagaimana lagi,” ujar Kepala OPD.

 

 Rabu (15/1/2025).

 

Tapi beberapa pimpinan OPD.

 Merasa tertekan juga.

 

Mereka mengaku dibebani.

Agar ada kegiatan.

 

Anggota DPRD Kabupaten Sidoarjo.

Jadi narasumber kegiatan.

 

Belum ada yang berani keberatan.

Secara terus terang.

 

Tapi jadi perbincangan.

Dalam Pemkab dan DPRD Sidoarjo.

 

Cara membagi narsum.

Di kelola komisi DPRD Sidoarjo.

 

Komunikasi OPD mitranya.

 

Dalam 1 tahun anggaran 2025.

Tiap OPD ada anggaran.

 

Sekitar Rp500 juta - Rp600 juta.

Bagi narsum DPRD Sidoarjo.

 

Tiap anggota DPRD.

Bisa jadi narsum puluhan kali.

Dalam 1 bulan.

 

Tentu ratusan kali.

Dalam 1 tahun.

 

Dengan jumlah OPD.

Seperti Dinas, Badan dan lainnya.

 

Dalam 18 kecamatan.

Berapa miliar uang APBD.

 

Untuk biaya anggota DPRD.

Jadi narasumber.

 

Ketua DPRD Sidoarjo.

 Abdillah Nasih sebut.

 

Kegiatan narsum DPRD Sidoarjo.

Berjalan sesuai aturan.

 

Tak ada pemaksaan.

Kepada OPD.

 

Abdillah Nasih.

DPC PKB Sidoarjo jelaskan.

 

Semua anggota DPRD.

Punya kesempatan sama.

 

Jadi narsum.

Tak tebang pilih.

 

(Sumber tribun)

39064. KHOTBAH JUMAT QURAN USMANI




Khotbah Jumat,

“`SEJARAH MUSHAF ALQURAN USMANI   

Khutbah-1

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِين

إِنَّ الْحَمْدَ للهِ نَحْمَدُهُ وَ نَسْتَعِيْنُهُ وَ نَسْتَغْفِرُهُ وَ نَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْر

 أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَاِلنَا مَنْ يَهْدِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَ مَنْ يُضْلِلْ

 فَلاَ هَادِيَ لَهُ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ

 وَ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَ رَسُوْلُهُ

 اَللَّهُمَّ صَلِّ وَ سَلِّمْ عَلَى      مُحَمَّدٍ وَ عَلىَ اَلِهِ وَ أَصْحَابِهِ

وَ مَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ

 يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُون

 

Para jamaah yang berbahagia,

      Marilah kita selalu meningkatkan takwa kepada Allah swt. Menjalankan semua perintah-Nya. Menjauhi segala larangan-Nya.

Para jamaah yang berbahagia,  

Al-Quran surah Al-Hjir (surah ke-15)ayat 9.


إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ

 

Sesungguhnya Kami yang menurunkan Al Quran, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.

Sejarah Mushaf AlQuran Usmani.

 Al-Quran yaitu sumber utama agama Islam yang diwahyukan Allah melalui malaikat Jibril pada Nabi Muhammad secara mutawatir ketika terjadi suatu peristiwa.

 Mutawatir ialah sifat hadis yang memiliki banyak sanad, yang diriwayatkan banyak perawi pada sanadnya. Mustahil mereka sepakat dusta atau memalsukan hadis.

      Sanad yaitu rentetan rawi hadis pada Nabi Muhammad yang dapat dipercayai. Perawi ialah orang yang meriwayatkan hadis Nabi Muhammad.

     Nabi menghafalkan ayat Al-Quran secara pribadi dan mengajarkan kepada para sahabat untuk dipahami, dihafalkan, dan dilaksanakan.

      Ketika wahyu turun Nabi menyuruh Zaid bin Tsabit untuk menulisnya agar mudah dihafal para sahabat.  Zaid bin Tsabit salah seorang sahabat sangat cerdas.

      Zaid bin Tsabit diperintah Nabi belajar bahasa asing, agar Nabi bisa mengirimkan surat kepada para pemimpin bangsa lain. Zaid bin Tsabit mampu menguasai bahasa asing dengan amat cepat.

       Para sahabat secara rutin menulis teks Al-Quran untuk dimilikinya sendiri. Para sahabat selalu menyodorkan Al-Quran kepada Nabi dalam bentuk hafalan dan tulisan untuk diperiksa kebenarannya.

    Zaman Nabi alat tulis menulis amat terbatas. Para sahabat menuliskan naskah tulisan teks Al-Quran pada pelepah kurma, lempengan batu dan kepingan tulang hewan, dan lainnya. Zaman Nabi naskah teks Al-Quran sudah tertuliskan, tetapi masih berserakan. Tidak terkumpul dalam sebuah buku atau mushaf.

      Zaman Nabi sengaja dibentuk dengan hafalan  dan penulisan teks Al-Quran para sahabat.  Karena Nabi masih menunggu wahyu berikutnya. Sebagian ayat Al-Quran ada yang “nasikh” dan “mansukh”.

      Ayat “Nasikh” ialah ayat Al-Quran yang dibatalkan. Ayat “Mansukh” adalah ayat yang membatalkan,. Ayat “dimansukh” yaitu “diganti”, ayat “dinasikh” ayat yang “mengganti”.

       Zaman Nabi Al-Quran belum dibukukan, karena wahyu dari Allah melalui malaikat Jibril masih terus turun pada Nabi Muhammad untuk menjawab pertanyaan dan menerangkan suatu kejadian atau peristiwa.

 Zaman Khalifah Abu Bakar (632-634 M)

Nabi Muhammad wafat, Abu Bakar menjadi  Khalifah. Tahun 632 Masehi terjadi Perang Yamamah. Khalifah Abu Bakar mengirim pasukan menumpas pemberontak yang dipimpin Musailamah al-Kazzab yang mengaku sebagai nabi.  Khalid bin Walid, komandan pasukan Islam berhasil menumpas pemberontak.

     Banyak sahabat Nabi penghafal Quran yang gugur. Umar bin Khattab gelisah. Lalu mengusulkan agar tulisan Al-Quran dikumpulkan dalam sebuah buku. Khalifah Abu Bakar pada awalnya ragu melakukannya. Karena Nabi tidak pernah melakukannya.

    Umar bin Khattab berhasil meyakinkan Khalifah Abu Bakar untuk membukukan Al-Quran. Lalu dibentuk “Tim Pengumpulan” Al-Quran. Zaid bin Tsabit, salah seorang penulis wahyu pada zaman Nabi, diberi tugas sebagai ketua tim.

    Zaid bin Tsabit menerima tugas tersebut, meskipun awalnya menolak. Tim Penyusun pembukuan Al-Quran melaksanakan tugasnya. Khalifah Abu Bakar memerintahkan semua sahabat mengumpulkan naskah tulisan Al-Quran di Masjid Nabawi.

Syarat harus dipenuhi para penyetor naskah tulisan Al-Quran.

1.    Naskah tulisan yang dikumpulkan harus sesuai dengan hafalan para sahabat yang lain.

2.    Naskah tulisan ayat Al-Quran memang diperintah Nabi dan dituliskan dihadapan Nabi.  Beberapa sahabat menulis naskah atas inisiatif sendiri.

3.    Naskah tulisan harus dibuktikan 2 saksi.

      Tim Penyusun Mushaf Al-Quran berhasil melaksanakan tugasnya. Zaid bin Tsabit menyerahkan hasilnya kepada Khalifah Abu Bakar. Ketika Abu Bakr wafat buku mushaf Al-Quran disimpan Khalifah Umar Bin Khattab.

      Zaman Khalifah Umar Bin Khattab (634-644 M)

Tidak terjadi penyusunan dan permasalahan mushaf Al-Quran. Naskah mushaf Al-Quran sudah selesai, semua sahabat sepakat, dan tidak terjadi perselisihan.

    Khalifah Umar bin Khattab konsentrasi penyebaran Islam ke seluruh wilayah. Umar bin Khattab wafat, buku mushaf Al-Quran disimpan Khalifah Usman bin Affan.

      Zaman Khalifah Usman Bin Affan (644-656)

 Wilayah Islam semakin luas. Beragam suku bangsa yang masuk Islam. Terjadi perbedaan logat, dialek, aksen, dan cara membaca Al-Quran. 

     Khalifah Usman Bin Affan membentuk Tim Lajnah Al-Quran. Zaid bin Tsabit sebagai ketua, dengan anggota  Abdullah bin Zubair, Said ibnu Ash, dan Abdurahman bin Harits.

      Usman Bin Affan memerintahkan Zaid bin Tsabit mengambil mushaf di rumah Hafsah binti Umar, dan menyeragamkan bacaan dengan satu dialek. Menjadi dialek Nabi Muhammad,  yakni dialek suku Quraisy. 

      Usman Bin Affan memperbanyak menjadi 6 mushaf. Lima mushaf dikirimkan ke Mekah, Kuffah, Basrah dan Syria, yang satu mushaf disimpan sendiri. Mushaf tersebut dikenal dengan nama “Mushaf Usmani”.

 

Para jamaah yang berbahagia,

 Semoga kita bisa terus belajar mwngajar AlQuran

Semua hal itu kita lakukan agar dapat rida dan ampunan dari Allah. Sehingga kita bisa hidup bahagia dunia dan akhirat. Amin Ya Rabbal Alamin.

 

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ

وَ نَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلأَيَاتِ وَ ذِكْرِ الْحَكِيْمِ

وَ نَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلأَيَاتِ وَ ذِكْرِ الْحَكِيْم وَتَقَبَّلَ مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ

ِ-------duduk-----

 


39063. KHUTBAH JUMAT PEMBUKUAN QURAN




Khotbah Jumat,

“`SEJARAH MUSHAF ALQURAN USMANI   

Khutbah-1

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِين

إِنَّ الْحَمْدَ للهِ نَحْمَدُهُ وَ نَسْتَعِيْنُهُ وَ نَسْتَغْفِرُهُ وَ نَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْر

 أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَاِلنَا مَنْ يَهْدِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَ مَنْ يُضْلِلْ

 فَلاَ هَادِيَ لَهُ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ

 وَ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَ رَسُوْلُهُ

 اَللَّهُمَّ صَلِّ وَ سَلِّمْ عَلَى      مُحَمَّدٍ وَ عَلىَ اَلِهِ وَ أَصْحَابِهِ

وَ مَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ

 يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُون

 

Para jamaah yang berbahagia,

      Marilah kita selalu meningkatkan takwa kepada Allah swt. Menjalankan semua perintah-Nya. Menjauhi segala larangan-Nya.

Para jamaah yang berbahagia,  

Al-Quran surah Al-Hjir (surah ke-15)ayat 9.


إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ

 

Sesungguhnya Kami yang menurunkan Al Quran, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.

Sejarah Mushaf AlQuran Usmani.

 Al-Quran yaitu sumber utama agama Islam yang diwahyukan Allah melalui malaikat Jibril pada Nabi Muhammad secara mutawatir ketika terjadi suatu peristiwa.

 Mutawatir ialah sifat hadis yang memiliki banyak sanad, yang diriwayatkan banyak perawi pada sanadnya. Mustahil mereka sepakat dusta atau memalsukan hadis.

      Sanad yaitu rentetan rawi hadis pada Nabi Muhammad yang dapat dipercayai. Perawi ialah orang yang meriwayatkan hadis Nabi Muhammad.

     Nabi menghafalkan ayat Al-Quran secara pribadi dan mengajarkan kepada para sahabat untuk dipahami, dihafalkan, dan dilaksanakan.

      Ketika wahyu turun Nabi menyuruh Zaid bin Tsabit untuk menulisnya agar mudah dihafal para sahabat.  Zaid bin Tsabit salah seorang sahabat sangat cerdas.

      Zaid bin Tsabit diperintah Nabi belajar bahasa asing, agar Nabi bisa mengirimkan surat kepada para pemimpin bangsa lain. Zaid bin Tsabit mampu menguasai bahasa asing dengan amat cepat.

       Para sahabat secara rutin menulis teks Al-Quran untuk dimilikinya sendiri. Para sahabat selalu menyodorkan Al-Quran kepada Nabi dalam bentuk hafalan dan tulisan untuk diperiksa kebenarannya.

    Zaman Nabi alat tulis menulis amat terbatas. Para sahabat menuliskan naskah tulisan teks Al-Quran pada pelepah kurma, lempengan batu dan kepingan tulang hewan, dan lainnya. Zaman Nabi naskah teks Al-Quran sudah tertuliskan, tetapi masih berserakan. Tidak terkumpul dalam sebuah buku atau mushaf.

      Zaman Nabi sengaja dibentuk dengan hafalan  dan penulisan teks Al-Quran para sahabat.  Karena Nabi masih menunggu wahyu berikutnya. Sebagian ayat Al-Quran ada yang “nasikh” dan “mansukh”.

      Ayat “Nasikh” ialah ayat Al-Quran yang dibatalkan. Ayat “Mansukh” adalah ayat yang membatalkan,. Ayat “dimansukh” yaitu “diganti”, ayat “dinasikh” ayat yang “mengganti”.

       Zaman Nabi Al-Quran belum dibukukan, karena wahyu dari Allah melalui malaikat Jibril masih terus turun pada Nabi Muhammad untuk menjawab pertanyaan dan menerangkan suatu kejadian atau peristiwa.

 Zaman Khalifah Abu Bakar (632-634 M)

Nabi Muhammad wafat, Abu Bakar menjadi  Khalifah. Tahun 632 Masehi terjadi Perang Yamamah. Khalifah Abu Bakar mengirim pasukan menumpas pemberontak yang dipimpin Musailamah al-Kazzab yang mengaku sebagai nabi.  Khalid bin Walid, komandan pasukan Islam berhasil menumpas pemberontak.

     Banyak sahabat Nabi penghafal Quran yang gugur. Umar bin Khattab gelisah. Lalu mengusulkan agar tulisan Al-Quran dikumpulkan dalam sebuah buku. Khalifah Abu Bakar pada awalnya ragu melakukannya. Karena Nabi tidak pernah melakukannya.

    Umar bin Khattab berhasil meyakinkan Khalifah Abu Bakar untuk membukukan Al-Quran. Lalu dibentuk “Tim Pengumpulan” Al-Quran. Zaid bin Tsabit, salah seorang penulis wahyu pada zaman Nabi, diberi tugas sebagai ketua tim.

    Zaid bin Tsabit menerima tugas tersebut, meskipun awalnya menolak. Tim Penyusun pembukuan Al-Quran melaksanakan tugasnya. Khalifah Abu Bakar memerintahkan semua sahabat mengumpulkan naskah tulisan Al-Quran di Masjid Nabawi.

Syarat harus dipenuhi para penyetor naskah tulisan Al-Quran.

1.    Naskah tulisan yang dikumpulkan harus sesuai dengan hafalan para sahabat yang lain.

2.    Naskah tulisan ayat Al-Quran memang diperintah Nabi dan dituliskan dihadapan Nabi.  Beberapa sahabat menulis naskah atas inisiatif sendiri.

3.    Naskah tulisan harus dibuktikan 2 saksi.

      Tim Penyusun Mushaf Al-Quran berhasil melaksanakan tugasnya. Zaid bin Tsabit menyerahkan hasilnya kepada Khalifah Abu Bakar. Ketika Abu Bakr wafat buku mushaf Al-Quran disimpan Khalifah Umar Bin Khattab.

      Zaman Khalifah Umar Bin Khattab (634-644 M)

Tidak terjadi penyusunan dan permasalahan mushaf Al-Quran. Naskah mushaf Al-Quran sudah selesai, semua sahabat sepakat, dan tidak terjadi perselisihan.

    Khalifah Umar bin Khattab konsentrasi penyebaran Islam ke seluruh wilayah. Umar bin Khattab wafat, buku mushaf Al-Quran disimpan Khalifah Usman bin Affan.

      Zaman Khalifah Usman Bin Affan (644-656)

 Wilayah Islam semakin luas. Beragam suku bangsa yang masuk Islam. Terjadi perbedaan logat, dialek, aksen, dan cara membaca Al-Quran. 

     Khalifah Usman Bin Affan membentuk Tim Lajnah Al-Quran. Zaid bin Tsabit sebagai ketua, dengan anggota  Abdullah bin Zubair, Said ibnu Ash, dan Abdurahman bin Harits.

      Usman Bin Affan memerintahkan Zaid bin Tsabit mengambil mushaf di rumah Hafsah binti Umar, dan menyeragamkan bacaan dengan satu dialek. Menjadi dialek Nabi Muhammad,  yakni dialek suku Quraisy. 

      Usman Bin Affan memperbanyak menjadi 6 mushaf. Lima mushaf dikirimkan ke Mekah, Kuffah, Basrah dan Syria, yang satu mushaf disimpan sendiri. Mushaf tersebut dikenal dengan nama “Mushaf Usmani”.

 

Para jamaah yang berbahagia,

 Semoga kita bisa terus belajar mwngajar AlQuran

Semua hal itu kita lakukan agar dapat rida dan ampunan dari Allah. Sehingga kita bisa hidup bahagia dunia dan akhirat. Amin Ya Rabbal Alamin.

 

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ

وَ نَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلأَيَاتِ وَ ذِكْرِ الْحَكِيْمِ

وَ نَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلأَيَاتِ وَ ذِكْرِ الْحَكِيْم وَتَقَبَّلَ مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ

ِ-------duduk-----

 


39059. BERSYUKUR NIKMAT TAK ADA BENCANA

 


BERSYUKUR ATAS NIKMAT TAK ADA BENCANA

Oleh: Drs. H. M. Yusron Hadi, M.M.

 

 

 

Al-Quran surah Ali Imran (surah ke-3) ayat 174.

 

فَانْقَلَبُوا بِنِعْمَةٍ مِنَ اللَّهِ وَفَضْلٍ لَمْ يَمْسَسْهُمْ سُوءٌ وَاتَّبَعُوا رِضْوَانَ اللَّهِ ۗ وَاللَّهُ ذُو فَضْلٍ عَظِيمٍ

     

      Maka mereka kembali dengan nikmat dan karunia (yang besar) dari Allah, mereka tidak mendapat bencana apa-apa, mereka mengikuti keridaan Allah. Allah mempunyai karunia yang besar

 

Asbabun nuzul (penyebab turunnya) ayat 174.

 

Ibnu Abbas menjelaskan pada suatu hari, Abu Sufyan berkata kepada Rasulullah dan para sahabat,

 

”Kita akan berperang lagi di Badar, tempat kalian banyak membunuh teman kami.”

 

Mendengar gertakan Abu Sufyan, orang-orang yang penakut bergegas pulang.

Tetapi orang-orang yang berani segera menyiapkan perlengkapan perang dan perniagaan.

 

Mereka datang ke Badar, tetapi mereka tidak menemukan seorang pun di tempat tersebut.

 

Akhirnya, mereka berdagang.

 

Kemudian turun ayat 174.

 

 

 

Daftar Pustaka

1.    Hatta, DR. Ahmad. Tafsir Quran Per Kata, Dilengkapi dengan Asbabun Nuzul dan Terjemah. Penerbit Pustaka Maghfirah, Jakarta 2011.

2.    Al-Quran Digital, Versi 3.2. Digital Qur’an Ver 3.2.

3.    Tafsirq.com online.