Organisasi Profesi Guru

Presiden Jokowi memberi hormat kepada Guru-Guru se Indonesia.

Tema Gambar Slide 2

Deskripsi gambar slide bisa dituliskan disini dengan beberapa kalimat yang menggambarkan gambar slide yang anda pasang, edit slide ini melalui edit HTML template.

Tema Gambar Slide 3

Deskripsi gambar slide bisa dituliskan disini dengan beberapa kalimat yang menggambarkan gambar slide yang anda pasang, edit slide ini melalui edit HTML template.

Tuesday, August 15, 2017

206. KAUNI

AYAT KAUNIAH DALAM AL-QURAN
Oleh: Drs. H. Yusron Hadi, M.M.
Kepala SMP Negeri 1 Balongbendo, Sidoarjo

       Beberapa orang bertanya,”Apakah yang dimaksudkan dengan Ayat Kauniah? Mohon dijelaskan tentang Ayat Kauniah dalam Al-Quran? Profesor Quraish Shihab menjelaskannya.
     Ayat Kauniah adalah ayat Al-Quran yang membahas bukti yang ada dalam alam nyata atau maujud seperti binatang, bulan, dan matahari. Ayat Kauniah pada zaman Nabi adalah ayat yang membahas keadaan sekeliling Nabi Muhammad atau dalam diri kita masing-masing.
      Al-Quran terdiri atas 114 surah dan 6.236 ayat, yang membicarakan berbagai masalah hidup  dan kehidupan, antara lain menyangkut alam raya dan fenomenanya.
     Fenomena adalah hal-hal yang dapat disaksikan dengan pancaindra dan dapat diterangkan serta dinilai secara ilmiah, seperti fenomena alam.
     Dalam Al-Quran terdapat sekitar 750 ayat Kauniah, jumlah ini belum termasuk ayat yang menyinggung secara tersirat. Tersirat artinya ayat yang terkandung atau tersembunyi di dalamnya.
      Meskipun, Al-Quran memuat banyak ayat Kauniah, bukan berarti Al-Quran adalah sebuah Kitab Ilmu Pengetahuan, atau bertujuan menguraikan hakikat ilmiah.
       Al-Quran surah An-Nahl, surah ke-16 ayat 89.
     “(Dan ingatlah) akan hari (ketika) Kami bangkitkan pada tiap-tiap umat seorang saksi atas mereka dari mereka sendiri, dan Kami datangkan kamu (Muhammad) menjadi saksi atas seluruh umat manusia. Kami turunkan kepadamu Al-Kitab (Al-Quran) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri.”
      Ketika Al-Quran mengenalkan diri sebagai “tibyanan likulli syay'I”, yang artinya “menjelaskan segala sesuatu”, bukan berarti Al-Quran mengandung segala sesuatu, tetapi Al-Quran memuat segala pokok petunjuk menyangkut kebahagiaan hidup di duniawi dan akhirat.
            Al-Quran surah Al-A’raf, surah ke-7 ayat 89.
      “Sungguh kami mengadakan kebohongan yang besar terhadap Allah, jika kami kembali kepada agamamu, sesudah Allah melepaskan kami daripadanya. Dan tidaklah patut kami kembali kepadanya, kecuali jika Allah, Tuhan kami menghendaki (nya). Pengetahuan Tuhan kami meliputi segala sesuatu. Kepada Allah saja kami bertawakal. Ya Tuhan kami, berilah keputusan antara kami dan kaum kami dengan hak (adil) dan Engkaulah Pemberi keputusan yang sebaik-baiknya.”
            Al-Quran surah Asy-Syuara, surah ke-26 ayat 80. “Dan apabila aku sakit, Allah Yang menyembuhkan aku.”
      Meskipun “Pengetahuan Allah mencakup segala sesuatu”, dan “Bila aku sakit Allah Yang Menyembuhkan aku”. Tidak mungkin manusia dapat mengobati suatu penyakit apabila tidak mengetahui penyakit dan obatnya. Menurut para ulama ayat Al-Quran ini mengandung disiplin ilmu kedokteran.
      Pendapat para ulama yang menyatakan, “Para sahabat tentu lebih mengetahui tentang kandungan Al-Quran, maka kita harus memahami Al-Quran seperti dipahami oleh para sahabat. “ Pendapat ini kurang tepat.
     Pendapat seperti di atas kurang tepat , karena  Al-Quran diturunkan kepada Nabi Muhammad untuk dipikirkan bukan hanya kepada para sahabat, tetapi juga kepada generasi sesudahnya.
     Kesimpulannya, umat Islam harus selalu memikirkan ayat Al-Quran yang sesuai dengan perkembangan zaman, dari generasi ke generasi berikutnya.
Daftar Pustaka
1. Shihab, M.Quraish. Lentera Hati. Kisah dan Hikmah Kehidupan. Penerbit Mizan, 1994.  
2. Shihab, M.Quraish. E-book Membumikan Al-Quran

206. KAUNI

AYAT KAUNIAH DALAM AL-QURAN
Oleh: Drs. H. Yusron Hadi, M.M.
Kepala SMP Negeri 1 Balongbendo, Sidoarjo

       Beberapa orang bertanya,”Apakah yang dimaksudkan dengan Ayat Kauniah? Mohon dijelaskan tentang Ayat Kauniah dalam Al-Quran? Profesor Quraish Shihab menjelaskannya.
     Ayat Kauniah adalah ayat Al-Quran yang membahas bukti yang ada dalam alam nyata atau maujud seperti binatang, bulan, dan matahari. Ayat Kauniah pada zaman Nabi adalah ayat yang membahas keadaan sekeliling Nabi Muhammad atau dalam diri kita masing-masing.
      Al-Quran terdiri atas 114 surah dan 6.236 ayat, yang membicarakan berbagai masalah hidup  dan kehidupan, antara lain menyangkut alam raya dan fenomenanya.
     Fenomena adalah hal-hal yang dapat disaksikan dengan pancaindra dan dapat diterangkan serta dinilai secara ilmiah, seperti fenomena alam.
     Dalam Al-Quran terdapat sekitar 750 ayat Kauniah, jumlah ini belum termasuk ayat yang menyinggung secara tersirat. Tersirat artinya ayat yang terkandung atau tersembunyi di dalamnya.
      Meskipun, Al-Quran memuat banyak ayat Kauniah, bukan berarti Al-Quran adalah sebuah Kitab Ilmu Pengetahuan, atau bertujuan menguraikan hakikat ilmiah.
       Al-Quran surah An-Nahl, surah ke-16 ayat 89.
     “(Dan ingatlah) akan hari (ketika) Kami bangkitkan pada tiap-tiap umat seorang saksi atas mereka dari mereka sendiri, dan Kami datangkan kamu (Muhammad) menjadi saksi atas seluruh umat manusia. Kami turunkan kepadamu Al-Kitab (Al-Quran) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri.”
      Ketika Al-Quran mengenalkan diri sebagai “tibyanan likulli syay'I”, yang artinya “menjelaskan segala sesuatu”, bukan berarti Al-Quran mengandung segala sesuatu, tetapi Al-Quran memuat segala pokok petunjuk menyangkut kebahagiaan hidup di duniawi dan akhirat.
            Al-Quran surah Al-A’raf, surah ke-7 ayat 89.
      “Sungguh kami mengadakan kebohongan yang besar terhadap Allah, jika kami kembali kepada agamamu, sesudah Allah melepaskan kami daripadanya. Dan tidaklah patut kami kembali kepadanya, kecuali jika Allah, Tuhan kami menghendaki (nya). Pengetahuan Tuhan kami meliputi segala sesuatu. Kepada Allah saja kami bertawakal. Ya Tuhan kami, berilah keputusan antara kami dan kaum kami dengan hak (adil) dan Engkaulah Pemberi keputusan yang sebaik-baiknya.”
            Al-Quran surah Asy-Syuara, surah ke-26 ayat 80. “Dan apabila aku sakit, Allah Yang menyembuhkan aku.”
      Meskipun “Pengetahuan Allah mencakup segala sesuatu”, dan “Bila aku sakit Allah Yang Menyembuhkan aku”. Tidak mungkin manusia dapat mengobati suatu penyakit apabila tidak mengetahui penyakit dan obatnya. Menurut para ulama ayat Al-Quran ini mengandung disiplin ilmu kedokteran.
      Pendapat para ulama yang menyatakan, “Para sahabat tentu lebih mengetahui tentang kandungan Al-Quran, maka kita harus memahami Al-Quran seperti dipahami oleh para sahabat. “ Pendapat ini kurang tepat.
     Pendapat seperti di atas kurang tepat , karena  Al-Quran diturunkan kepada Nabi Muhammad untuk dipikirkan bukan hanya kepada para sahabat, tetapi juga kepada generasi sesudahnya.
     Kesimpulannya, umat Islam harus selalu memikirkan ayat Al-Quran yang sesuai dengan perkembangan zaman, dari generasi ke generasi berikutnya.
Daftar Pustaka
1. Shihab, M.Quraish. Lentera Hati. Kisah dan Hikmah Kehidupan. Penerbit Mizan, 1994.  
2. Shihab, M.Quraish. E-book Membumikan Al-Quran

206. KAUNI

AYAT KAUNIAH DALAM AL-QURAN
Oleh: Drs. H. Yusron Hadi, M.M.
Kepala SMP Negeri 1 Balongbendo, Sidoarjo

       Beberapa orang bertanya,”Apakah yang dimaksudkan dengan Ayat Kauniah? Mohon dijelaskan tentang Ayat Kauniah dalam Al-Quran? Profesor Quraish Shihab menjelaskannya.
     Ayat Kauniah adalah ayat Al-Quran yang membahas bukti yang ada dalam alam nyata atau maujud seperti binatang, bulan, dan matahari. Ayat Kauniah pada zaman Nabi adalah ayat yang membahas keadaan sekeliling Nabi Muhammad atau dalam diri kita masing-masing.
      Al-Quran terdiri atas 114 surah dan 6.236 ayat, yang membicarakan berbagai masalah hidup  dan kehidupan, antara lain menyangkut alam raya dan fenomenanya.
     Fenomena adalah hal-hal yang dapat disaksikan dengan pancaindra dan dapat diterangkan serta dinilai secara ilmiah, seperti fenomena alam.
     Dalam Al-Quran terdapat sekitar 750 ayat Kauniah, jumlah ini belum termasuk ayat yang menyinggung secara tersirat. Tersirat artinya ayat yang terkandung atau tersembunyi di dalamnya.
      Meskipun, Al-Quran memuat banyak ayat Kauniah, bukan berarti Al-Quran adalah sebuah Kitab Ilmu Pengetahuan, atau bertujuan menguraikan hakikat ilmiah.
       Al-Quran surah An-Nahl, surah ke-16 ayat 89.
     “(Dan ingatlah) akan hari (ketika) Kami bangkitkan pada tiap-tiap umat seorang saksi atas mereka dari mereka sendiri, dan Kami datangkan kamu (Muhammad) menjadi saksi atas seluruh umat manusia. Kami turunkan kepadamu Al-Kitab (Al-Quran) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri.”
      Ketika Al-Quran mengenalkan diri sebagai “tibyanan likulli syay'I”, yang artinya “menjelaskan segala sesuatu”, bukan berarti Al-Quran mengandung segala sesuatu, tetapi Al-Quran memuat segala pokok petunjuk menyangkut kebahagiaan hidup di duniawi dan akhirat.
            Al-Quran surah Al-A’raf, surah ke-7 ayat 89.
      “Sungguh kami mengadakan kebohongan yang besar terhadap Allah, jika kami kembali kepada agamamu, sesudah Allah melepaskan kami daripadanya. Dan tidaklah patut kami kembali kepadanya, kecuali jika Allah, Tuhan kami menghendaki (nya). Pengetahuan Tuhan kami meliputi segala sesuatu. Kepada Allah saja kami bertawakal. Ya Tuhan kami, berilah keputusan antara kami dan kaum kami dengan hak (adil) dan Engkaulah Pemberi keputusan yang sebaik-baiknya.”
            Al-Quran surah Asy-Syuara, surah ke-26 ayat 80. “Dan apabila aku sakit, Allah Yang menyembuhkan aku.”
      Meskipun “Pengetahuan Allah mencakup segala sesuatu”, dan “Bila aku sakit Allah Yang Menyembuhkan aku”. Tidak mungkin manusia dapat mengobati suatu penyakit apabila tidak mengetahui penyakit dan obatnya. Menurut para ulama ayat Al-Quran ini mengandung disiplin ilmu kedokteran.
      Pendapat para ulama yang menyatakan, “Para sahabat tentu lebih mengetahui tentang kandungan Al-Quran, maka kita harus memahami Al-Quran seperti dipahami oleh para sahabat. “ Pendapat ini kurang tepat.
     Pendapat seperti di atas kurang tepat , karena  Al-Quran diturunkan kepada Nabi Muhammad untuk dipikirkan bukan hanya kepada para sahabat, tetapi juga kepada generasi sesudahnya.
     Kesimpulannya, umat Islam harus selalu memikirkan ayat Al-Quran yang sesuai dengan perkembangan zaman, dari generasi ke generasi berikutnya.
Daftar Pustaka
1. Shihab, M.Quraish. Lentera Hati. Kisah dan Hikmah Kehidupan. Penerbit Mizan, 1994.  
2. Shihab, M.Quraish. E-book Membumikan Al-Quran

206. KAUNI

AYAT KAUNIAH DALAM AL-QURAN
Oleh: Drs. H. Yusron Hadi, M.M.
Kepala SMP Negeri 1 Balongbendo, Sidoarjo

       Beberapa orang bertanya,”Apakah yang dimaksudkan dengan Ayat Kauniah? Mohon dijelaskan tentang Ayat Kauniah dalam Al-Quran? Profesor Quraish Shihab menjelaskannya.
     Ayat Kauniah adalah ayat Al-Quran yang membahas bukti yang ada dalam alam nyata atau maujud seperti binatang, bulan, dan matahari. Ayat Kauniah pada zaman Nabi adalah ayat yang membahas keadaan sekeliling Nabi Muhammad atau dalam diri kita masing-masing.
      Al-Quran terdiri atas 114 surah dan 6.236 ayat, yang membicarakan berbagai masalah hidup  dan kehidupan, antara lain menyangkut alam raya dan fenomenanya.
     Fenomena adalah hal-hal yang dapat disaksikan dengan pancaindra dan dapat diterangkan serta dinilai secara ilmiah, seperti fenomena alam.
     Dalam Al-Quran terdapat sekitar 750 ayat Kauniah, jumlah ini belum termasuk ayat yang menyinggung secara tersirat. Tersirat artinya ayat yang terkandung atau tersembunyi di dalamnya.
      Meskipun, Al-Quran memuat banyak ayat Kauniah, bukan berarti Al-Quran adalah sebuah Kitab Ilmu Pengetahuan, atau bertujuan menguraikan hakikat ilmiah.
       Al-Quran surah An-Nahl, surah ke-16 ayat 89.
     “(Dan ingatlah) akan hari (ketika) Kami bangkitkan pada tiap-tiap umat seorang saksi atas mereka dari mereka sendiri, dan Kami datangkan kamu (Muhammad) menjadi saksi atas seluruh umat manusia. Kami turunkan kepadamu Al-Kitab (Al-Quran) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri.”
      Ketika Al-Quran mengenalkan diri sebagai “tibyanan likulli syay'I”, yang artinya “menjelaskan segala sesuatu”, bukan berarti Al-Quran mengandung segala sesuatu, tetapi Al-Quran memuat segala pokok petunjuk menyangkut kebahagiaan hidup di duniawi dan akhirat.
            Al-Quran surah Al-A’raf, surah ke-7 ayat 89.
      “Sungguh kami mengadakan kebohongan yang besar terhadap Allah, jika kami kembali kepada agamamu, sesudah Allah melepaskan kami daripadanya. Dan tidaklah patut kami kembali kepadanya, kecuali jika Allah, Tuhan kami menghendaki (nya). Pengetahuan Tuhan kami meliputi segala sesuatu. Kepada Allah saja kami bertawakal. Ya Tuhan kami, berilah keputusan antara kami dan kaum kami dengan hak (adil) dan Engkaulah Pemberi keputusan yang sebaik-baiknya.”
            Al-Quran surah Asy-Syuara, surah ke-26 ayat 80. “Dan apabila aku sakit, Allah Yang menyembuhkan aku.”
      Meskipun “Pengetahuan Allah mencakup segala sesuatu”, dan “Bila aku sakit Allah Yang Menyembuhkan aku”. Tidak mungkin manusia dapat mengobati suatu penyakit apabila tidak mengetahui penyakit dan obatnya. Menurut para ulama ayat Al-Quran ini mengandung disiplin ilmu kedokteran.
      Pendapat para ulama yang menyatakan, “Para sahabat tentu lebih mengetahui tentang kandungan Al-Quran, maka kita harus memahami Al-Quran seperti dipahami oleh para sahabat. “ Pendapat ini kurang tepat.
     Pendapat seperti di atas kurang tepat , karena  Al-Quran diturunkan kepada Nabi Muhammad untuk dipikirkan bukan hanya kepada para sahabat, tetapi juga kepada generasi sesudahnya.
     Kesimpulannya, umat Islam harus selalu memikirkan ayat Al-Quran yang sesuai dengan perkembangan zaman, dari generasi ke generasi berikutnya.
Daftar Pustaka
1. Shihab, M.Quraish. Lentera Hati. Kisah dan Hikmah Kehidupan. Penerbit Mizan, 1994.  
2. Shihab, M.Quraish. E-book Membumikan Al-Quran

206. KAUNI

AYAT KAUNIAH DALAM AL-QURAN
Oleh: Drs. H. Yusron Hadi, M.M.
Kepala SMP Negeri 1 Balongbendo, Sidoarjo

       Beberapa orang bertanya,”Apakah yang dimaksudkan dengan Ayat Kauniah? Mohon dijelaskan tentang Ayat Kauniah dalam Al-Quran? Profesor Quraish Shihab menjelaskannya.
     Ayat Kauniah adalah ayat Al-Quran yang membahas bukti yang ada dalam alam nyata atau maujud seperti binatang, bulan, dan matahari. Ayat Kauniah pada zaman Nabi adalah ayat yang membahas keadaan sekeliling Nabi Muhammad atau dalam diri kita masing-masing.
      Al-Quran terdiri atas 114 surah dan 6.236 ayat, yang membicarakan berbagai masalah hidup  dan kehidupan, antara lain menyangkut alam raya dan fenomenanya.
     Fenomena adalah hal-hal yang dapat disaksikan dengan pancaindra dan dapat diterangkan serta dinilai secara ilmiah, seperti fenomena alam.
     Dalam Al-Quran terdapat sekitar 750 ayat Kauniah, jumlah ini belum termasuk ayat yang menyinggung secara tersirat. Tersirat artinya ayat yang terkandung atau tersembunyi di dalamnya.
      Meskipun, Al-Quran memuat banyak ayat Kauniah, bukan berarti Al-Quran adalah sebuah Kitab Ilmu Pengetahuan, atau bertujuan menguraikan hakikat ilmiah.
       Al-Quran surah An-Nahl, surah ke-16 ayat 89.
     “(Dan ingatlah) akan hari (ketika) Kami bangkitkan pada tiap-tiap umat seorang saksi atas mereka dari mereka sendiri, dan Kami datangkan kamu (Muhammad) menjadi saksi atas seluruh umat manusia. Kami turunkan kepadamu Al-Kitab (Al-Quran) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri.”
      Ketika Al-Quran mengenalkan diri sebagai “tibyanan likulli syay'I”, yang artinya “menjelaskan segala sesuatu”, bukan berarti Al-Quran mengandung segala sesuatu, tetapi Al-Quran memuat segala pokok petunjuk menyangkut kebahagiaan hidup di duniawi dan akhirat.
            Al-Quran surah Al-A’raf, surah ke-7 ayat 89.
      “Sungguh kami mengadakan kebohongan yang besar terhadap Allah, jika kami kembali kepada agamamu, sesudah Allah melepaskan kami daripadanya. Dan tidaklah patut kami kembali kepadanya, kecuali jika Allah, Tuhan kami menghendaki (nya). Pengetahuan Tuhan kami meliputi segala sesuatu. Kepada Allah saja kami bertawakal. Ya Tuhan kami, berilah keputusan antara kami dan kaum kami dengan hak (adil) dan Engkaulah Pemberi keputusan yang sebaik-baiknya.”
            Al-Quran surah Asy-Syuara, surah ke-26 ayat 80. “Dan apabila aku sakit, Allah Yang menyembuhkan aku.”
      Meskipun “Pengetahuan Allah mencakup segala sesuatu”, dan “Bila aku sakit Allah Yang Menyembuhkan aku”. Tidak mungkin manusia dapat mengobati suatu penyakit apabila tidak mengetahui penyakit dan obatnya. Menurut para ulama ayat Al-Quran ini mengandung disiplin ilmu kedokteran.
      Pendapat para ulama yang menyatakan, “Para sahabat tentu lebih mengetahui tentang kandungan Al-Quran, maka kita harus memahami Al-Quran seperti dipahami oleh para sahabat. “ Pendapat ini kurang tepat.
     Pendapat seperti di atas kurang tepat , karena  Al-Quran diturunkan kepada Nabi Muhammad untuk dipikirkan bukan hanya kepada para sahabat, tetapi juga kepada generasi sesudahnya.
     Kesimpulannya, umat Islam harus selalu memikirkan ayat Al-Quran yang sesuai dengan perkembangan zaman, dari generasi ke generasi berikutnya.
Daftar Pustaka
1. Shihab, M.Quraish. Lentera Hati. Kisah dan Hikmah Kehidupan. Penerbit Mizan, 1994.  
2. Shihab, M.Quraish. E-book Membumikan Al-Quran

206. KAUNI

AYAT KAUNIAH DALAM AL-QURAN
Oleh: Drs. H. Yusron Hadi, M.M.
Kepala SMP Negeri 1 Balongbendo, Sidoarjo

       Beberapa orang bertanya,”Apakah yang dimaksudkan dengan Ayat Kauniah? Mohon dijelaskan tentang Ayat Kauniah dalam Al-Quran? Profesor Quraish Shihab menjelaskannya.
     Ayat Kauniah adalah ayat Al-Quran yang membahas bukti yang ada dalam alam nyata atau maujud seperti binatang, bulan, dan matahari. Ayat Kauniah pada zaman Nabi adalah ayat yang membahas keadaan sekeliling Nabi Muhammad atau dalam diri kita masing-masing.
      Al-Quran terdiri atas 114 surah dan 6.236 ayat, yang membicarakan berbagai masalah hidup  dan kehidupan, antara lain menyangkut alam raya dan fenomenanya.
     Fenomena adalah hal-hal yang dapat disaksikan dengan pancaindra dan dapat diterangkan serta dinilai secara ilmiah, seperti fenomena alam.
     Dalam Al-Quran terdapat sekitar 750 ayat Kauniah, jumlah ini belum termasuk ayat yang menyinggung secara tersirat. Tersirat artinya ayat yang terkandung atau tersembunyi di dalamnya.
      Meskipun, Al-Quran memuat banyak ayat Kauniah, bukan berarti Al-Quran adalah sebuah Kitab Ilmu Pengetahuan, atau bertujuan menguraikan hakikat ilmiah.
       Al-Quran surah An-Nahl, surah ke-16 ayat 89.
     “(Dan ingatlah) akan hari (ketika) Kami bangkitkan pada tiap-tiap umat seorang saksi atas mereka dari mereka sendiri, dan Kami datangkan kamu (Muhammad) menjadi saksi atas seluruh umat manusia. Kami turunkan kepadamu Al-Kitab (Al-Quran) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri.”
      Ketika Al-Quran mengenalkan diri sebagai “tibyanan likulli syay'I”, yang artinya “menjelaskan segala sesuatu”, bukan berarti Al-Quran mengandung segala sesuatu, tetapi Al-Quran memuat segala pokok petunjuk menyangkut kebahagiaan hidup di duniawi dan akhirat.
            Al-Quran surah Al-A’raf, surah ke-7 ayat 89.
      “Sungguh kami mengadakan kebohongan yang besar terhadap Allah, jika kami kembali kepada agamamu, sesudah Allah melepaskan kami daripadanya. Dan tidaklah patut kami kembali kepadanya, kecuali jika Allah, Tuhan kami menghendaki (nya). Pengetahuan Tuhan kami meliputi segala sesuatu. Kepada Allah saja kami bertawakal. Ya Tuhan kami, berilah keputusan antara kami dan kaum kami dengan hak (adil) dan Engkaulah Pemberi keputusan yang sebaik-baiknya.”
            Al-Quran surah Asy-Syuara, surah ke-26 ayat 80. “Dan apabila aku sakit, Allah Yang menyembuhkan aku.”
      Meskipun “Pengetahuan Allah mencakup segala sesuatu”, dan “Bila aku sakit Allah Yang Menyembuhkan aku”. Tidak mungkin manusia dapat mengobati suatu penyakit apabila tidak mengetahui penyakit dan obatnya. Menurut para ulama ayat Al-Quran ini mengandung disiplin ilmu kedokteran.
      Pendapat para ulama yang menyatakan, “Para sahabat tentu lebih mengetahui tentang kandungan Al-Quran, maka kita harus memahami Al-Quran seperti dipahami oleh para sahabat. “ Pendapat ini kurang tepat.
     Pendapat seperti di atas kurang tepat , karena  Al-Quran diturunkan kepada Nabi Muhammad untuk dipikirkan bukan hanya kepada para sahabat, tetapi juga kepada generasi sesudahnya.
     Kesimpulannya, umat Islam harus selalu memikirkan ayat Al-Quran yang sesuai dengan perkembangan zaman, dari generasi ke generasi berikutnya.
Daftar Pustaka
1. Shihab, M.Quraish. Lentera Hati. Kisah dan Hikmah Kehidupan. Penerbit Mizan, 1994.  
2. Shihab, M.Quraish. E-book Membumikan Al-Quran

206. KAUNI

AYAT KAUNIAH DALAM AL-QURAN
Oleh: Drs. H. Yusron Hadi, M.M.
Kepala SMP Negeri 1 Balongbendo, Sidoarjo

       Beberapa orang bertanya,”Apakah yang dimaksudkan dengan Ayat Kauniah? Mohon dijelaskan tentang Ayat Kauniah dalam Al-Quran? Profesor Quraish Shihab menjelaskannya.
     Ayat Kauniah adalah ayat Al-Quran yang membahas bukti yang ada dalam alam nyata atau maujud seperti binatang, bulan, dan matahari. Ayat Kauniah pada zaman Nabi adalah ayat yang membahas keadaan sekeliling Nabi Muhammad atau dalam diri kita masing-masing.
      Al-Quran terdiri atas 114 surah dan 6.236 ayat, yang membicarakan berbagai masalah hidup  dan kehidupan, antara lain menyangkut alam raya dan fenomenanya.
     Fenomena adalah hal-hal yang dapat disaksikan dengan pancaindra dan dapat diterangkan serta dinilai secara ilmiah, seperti fenomena alam.
     Dalam Al-Quran terdapat sekitar 750 ayat Kauniah, jumlah ini belum termasuk ayat yang menyinggung secara tersirat. Tersirat artinya ayat yang terkandung atau tersembunyi di dalamnya.
      Meskipun, Al-Quran memuat banyak ayat Kauniah, bukan berarti Al-Quran adalah sebuah Kitab Ilmu Pengetahuan, atau bertujuan menguraikan hakikat ilmiah.
       Al-Quran surah An-Nahl, surah ke-16 ayat 89.
     “(Dan ingatlah) akan hari (ketika) Kami bangkitkan pada tiap-tiap umat seorang saksi atas mereka dari mereka sendiri, dan Kami datangkan kamu (Muhammad) menjadi saksi atas seluruh umat manusia. Kami turunkan kepadamu Al-Kitab (Al-Quran) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri.”
      Ketika Al-Quran mengenalkan diri sebagai “tibyanan likulli syay'I”, yang artinya “menjelaskan segala sesuatu”, bukan berarti Al-Quran mengandung segala sesuatu, tetapi Al-Quran memuat segala pokok petunjuk menyangkut kebahagiaan hidup di duniawi dan akhirat.
            Al-Quran surah Al-A’raf, surah ke-7 ayat 89.
      “Sungguh kami mengadakan kebohongan yang besar terhadap Allah, jika kami kembali kepada agamamu, sesudah Allah melepaskan kami daripadanya. Dan tidaklah patut kami kembali kepadanya, kecuali jika Allah, Tuhan kami menghendaki (nya). Pengetahuan Tuhan kami meliputi segala sesuatu. Kepada Allah saja kami bertawakal. Ya Tuhan kami, berilah keputusan antara kami dan kaum kami dengan hak (adil) dan Engkaulah Pemberi keputusan yang sebaik-baiknya.”
            Al-Quran surah Asy-Syuara, surah ke-26 ayat 80. “Dan apabila aku sakit, Allah Yang menyembuhkan aku.”
      Meskipun “Pengetahuan Allah mencakup segala sesuatu”, dan “Bila aku sakit Allah Yang Menyembuhkan aku”. Tidak mungkin manusia dapat mengobati suatu penyakit apabila tidak mengetahui penyakit dan obatnya. Menurut para ulama ayat Al-Quran ini mengandung disiplin ilmu kedokteran.
      Pendapat para ulama yang menyatakan, “Para sahabat tentu lebih mengetahui tentang kandungan Al-Quran, maka kita harus memahami Al-Quran seperti dipahami oleh para sahabat. “ Pendapat ini kurang tepat.
     Pendapat seperti di atas kurang tepat , karena  Al-Quran diturunkan kepada Nabi Muhammad untuk dipikirkan bukan hanya kepada para sahabat, tetapi juga kepada generasi sesudahnya.
     Kesimpulannya, umat Islam harus selalu memikirkan ayat Al-Quran yang sesuai dengan perkembangan zaman, dari generasi ke generasi berikutnya.
Daftar Pustaka
1. Shihab, M.Quraish. Lentera Hati. Kisah dan Hikmah Kehidupan. Penerbit Mizan, 1994.  
2. Shihab, M.Quraish. E-book Membumikan Al-Quran

206. KAUNI

AYAT KAUNIAH DALAM AL-QURAN
Oleh: Drs. H. Yusron Hadi, M.M.
Kepala SMP Negeri 1 Balongbendo, Sidoarjo

       Beberapa orang bertanya,”Apakah yang dimaksudkan dengan Ayat Kauniah? Mohon dijelaskan tentang Ayat Kauniah dalam Al-Quran? Profesor Quraish Shihab menjelaskannya.
     Ayat Kauniah adalah ayat Al-Quran yang membahas bukti yang ada dalam alam nyata atau maujud seperti binatang, bulan, dan matahari. Ayat Kauniah pada zaman Nabi adalah ayat yang membahas keadaan sekeliling Nabi Muhammad atau dalam diri kita masing-masing.
      Al-Quran terdiri atas 114 surah dan 6.236 ayat, yang membicarakan berbagai masalah hidup  dan kehidupan, antara lain menyangkut alam raya dan fenomenanya.
     Fenomena adalah hal-hal yang dapat disaksikan dengan pancaindra dan dapat diterangkan serta dinilai secara ilmiah, seperti fenomena alam.
     Dalam Al-Quran terdapat sekitar 750 ayat Kauniah, jumlah ini belum termasuk ayat yang menyinggung secara tersirat. Tersirat artinya ayat yang terkandung atau tersembunyi di dalamnya.
      Meskipun, Al-Quran memuat banyak ayat Kauniah, bukan berarti Al-Quran adalah sebuah Kitab Ilmu Pengetahuan, atau bertujuan menguraikan hakikat ilmiah.
       Al-Quran surah An-Nahl, surah ke-16 ayat 89.
     “(Dan ingatlah) akan hari (ketika) Kami bangkitkan pada tiap-tiap umat seorang saksi atas mereka dari mereka sendiri, dan Kami datangkan kamu (Muhammad) menjadi saksi atas seluruh umat manusia. Kami turunkan kepadamu Al-Kitab (Al-Quran) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri.”
      Ketika Al-Quran mengenalkan diri sebagai “tibyanan likulli syay'I”, yang artinya “menjelaskan segala sesuatu”, bukan berarti Al-Quran mengandung segala sesuatu, tetapi Al-Quran memuat segala pokok petunjuk menyangkut kebahagiaan hidup di duniawi dan akhirat.
            Al-Quran surah Al-A’raf, surah ke-7 ayat 89.
      “Sungguh kami mengadakan kebohongan yang besar terhadap Allah, jika kami kembali kepada agamamu, sesudah Allah melepaskan kami daripadanya. Dan tidaklah patut kami kembali kepadanya, kecuali jika Allah, Tuhan kami menghendaki (nya). Pengetahuan Tuhan kami meliputi segala sesuatu. Kepada Allah saja kami bertawakal. Ya Tuhan kami, berilah keputusan antara kami dan kaum kami dengan hak (adil) dan Engkaulah Pemberi keputusan yang sebaik-baiknya.”
            Al-Quran surah Asy-Syuara, surah ke-26 ayat 80. “Dan apabila aku sakit, Allah Yang menyembuhkan aku.”
      Meskipun “Pengetahuan Allah mencakup segala sesuatu”, dan “Bila aku sakit Allah Yang Menyembuhkan aku”. Tidak mungkin manusia dapat mengobati suatu penyakit apabila tidak mengetahui penyakit dan obatnya. Menurut para ulama ayat Al-Quran ini mengandung disiplin ilmu kedokteran.
      Pendapat para ulama yang menyatakan, “Para sahabat tentu lebih mengetahui tentang kandungan Al-Quran, maka kita harus memahami Al-Quran seperti dipahami oleh para sahabat. “ Pendapat ini kurang tepat.
     Pendapat seperti di atas kurang tepat , karena  Al-Quran diturunkan kepada Nabi Muhammad untuk dipikirkan bukan hanya kepada para sahabat, tetapi juga kepada generasi sesudahnya.
     Kesimpulannya, umat Islam harus selalu memikirkan ayat Al-Quran yang sesuai dengan perkembangan zaman, dari generasi ke generasi berikutnya.
Daftar Pustaka
1. Shihab, M.Quraish. Lentera Hati. Kisah dan Hikmah Kehidupan. Penerbit Mizan, 1994.  
2. Shihab, M.Quraish. E-book Membumikan Al-Quran

206. KAUNI

AYAT KAUNIAH DALAM AL-QURAN
Oleh: Drs. H. Yusron Hadi, M.M.
Kepala SMP Negeri 1 Balongbendo, Sidoarjo

       Beberapa orang bertanya,”Apakah yang dimaksudkan dengan Ayat Kauniah? Mohon dijelaskan tentang Ayat Kauniah dalam Al-Quran? Profesor Quraish Shihab menjelaskannya.
     Ayat Kauniah adalah ayat Al-Quran yang membahas bukti yang ada dalam alam nyata atau maujud seperti binatang, bulan, dan matahari. Ayat Kauniah pada zaman Nabi adalah ayat yang membahas keadaan sekeliling Nabi Muhammad atau dalam diri kita masing-masing.
      Al-Quran terdiri atas 114 surah dan 6.236 ayat, yang membicarakan berbagai masalah hidup  dan kehidupan, antara lain menyangkut alam raya dan fenomenanya.
     Fenomena adalah hal-hal yang dapat disaksikan dengan pancaindra dan dapat diterangkan serta dinilai secara ilmiah, seperti fenomena alam.
     Dalam Al-Quran terdapat sekitar 750 ayat Kauniah, jumlah ini belum termasuk ayat yang menyinggung secara tersirat. Tersirat artinya ayat yang terkandung atau tersembunyi di dalamnya.
      Meskipun, Al-Quran memuat banyak ayat Kauniah, bukan berarti Al-Quran adalah sebuah Kitab Ilmu Pengetahuan, atau bertujuan menguraikan hakikat ilmiah.
       Al-Quran surah An-Nahl, surah ke-16 ayat 89.
     “(Dan ingatlah) akan hari (ketika) Kami bangkitkan pada tiap-tiap umat seorang saksi atas mereka dari mereka sendiri, dan Kami datangkan kamu (Muhammad) menjadi saksi atas seluruh umat manusia. Kami turunkan kepadamu Al-Kitab (Al-Quran) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri.”
      Ketika Al-Quran mengenalkan diri sebagai “tibyanan likulli syay'I”, yang artinya “menjelaskan segala sesuatu”, bukan berarti Al-Quran mengandung segala sesuatu, tetapi Al-Quran memuat segala pokok petunjuk menyangkut kebahagiaan hidup di duniawi dan akhirat.
            Al-Quran surah Al-A’raf, surah ke-7 ayat 89.
      “Sungguh kami mengadakan kebohongan yang besar terhadap Allah, jika kami kembali kepada agamamu, sesudah Allah melepaskan kami daripadanya. Dan tidaklah patut kami kembali kepadanya, kecuali jika Allah, Tuhan kami menghendaki (nya). Pengetahuan Tuhan kami meliputi segala sesuatu. Kepada Allah saja kami bertawakal. Ya Tuhan kami, berilah keputusan antara kami dan kaum kami dengan hak (adil) dan Engkaulah Pemberi keputusan yang sebaik-baiknya.”
            Al-Quran surah Asy-Syuara, surah ke-26 ayat 80. “Dan apabila aku sakit, Allah Yang menyembuhkan aku.”
      Meskipun “Pengetahuan Allah mencakup segala sesuatu”, dan “Bila aku sakit Allah Yang Menyembuhkan aku”. Tidak mungkin manusia dapat mengobati suatu penyakit apabila tidak mengetahui penyakit dan obatnya. Menurut para ulama ayat Al-Quran ini mengandung disiplin ilmu kedokteran.
      Pendapat para ulama yang menyatakan, “Para sahabat tentu lebih mengetahui tentang kandungan Al-Quran, maka kita harus memahami Al-Quran seperti dipahami oleh para sahabat. “ Pendapat ini kurang tepat.
     Pendapat seperti di atas kurang tepat , karena  Al-Quran diturunkan kepada Nabi Muhammad untuk dipikirkan bukan hanya kepada para sahabat, tetapi juga kepada generasi sesudahnya.
     Kesimpulannya, umat Islam harus selalu memikirkan ayat Al-Quran yang sesuai dengan perkembangan zaman, dari generasi ke generasi berikutnya.
Daftar Pustaka
1. Shihab, M.Quraish. Lentera Hati. Kisah dan Hikmah Kehidupan. Penerbit Mizan, 1994.  
2. Shihab, M.Quraish. E-book Membumikan Al-Quran

206. KAUNI

AYAT KAUNIAH DALAM AL-QURAN
Oleh: Drs. H. Yusron Hadi, M.M.
Kepala SMP Negeri 1 Balongbendo, Sidoarjo

       Beberapa orang bertanya,”Apakah yang dimaksudkan dengan Ayat Kauniah? Mohon dijelaskan tentang Ayat Kauniah dalam Al-Quran? Profesor Quraish Shihab menjelaskannya.
     Ayat Kauniah adalah ayat Al-Quran yang membahas bukti yang ada dalam alam nyata atau maujud seperti binatang, bulan, dan matahari. Ayat Kauniah pada zaman Nabi adalah ayat yang membahas keadaan sekeliling Nabi Muhammad atau dalam diri kita masing-masing.
      Al-Quran terdiri atas 114 surah dan 6.236 ayat, yang membicarakan berbagai masalah hidup  dan kehidupan, antara lain menyangkut alam raya dan fenomenanya.
     Fenomena adalah hal-hal yang dapat disaksikan dengan pancaindra dan dapat diterangkan serta dinilai secara ilmiah, seperti fenomena alam.
     Dalam Al-Quran terdapat sekitar 750 ayat Kauniah, jumlah ini belum termasuk ayat yang menyinggung secara tersirat. Tersirat artinya ayat yang terkandung atau tersembunyi di dalamnya.
      Meskipun, Al-Quran memuat banyak ayat Kauniah, bukan berarti Al-Quran adalah sebuah Kitab Ilmu Pengetahuan, atau bertujuan menguraikan hakikat ilmiah.
       Al-Quran surah An-Nahl, surah ke-16 ayat 89.
     “(Dan ingatlah) akan hari (ketika) Kami bangkitkan pada tiap-tiap umat seorang saksi atas mereka dari mereka sendiri, dan Kami datangkan kamu (Muhammad) menjadi saksi atas seluruh umat manusia. Kami turunkan kepadamu Al-Kitab (Al-Quran) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri.”
      Ketika Al-Quran mengenalkan diri sebagai “tibyanan likulli syay'I”, yang artinya “menjelaskan segala sesuatu”, bukan berarti Al-Quran mengandung segala sesuatu, tetapi Al-Quran memuat segala pokok petunjuk menyangkut kebahagiaan hidup di duniawi dan akhirat.
            Al-Quran surah Al-A’raf, surah ke-7 ayat 89.
      “Sungguh kami mengadakan kebohongan yang besar terhadap Allah, jika kami kembali kepada agamamu, sesudah Allah melepaskan kami daripadanya. Dan tidaklah patut kami kembali kepadanya, kecuali jika Allah, Tuhan kami menghendaki (nya). Pengetahuan Tuhan kami meliputi segala sesuatu. Kepada Allah saja kami bertawakal. Ya Tuhan kami, berilah keputusan antara kami dan kaum kami dengan hak (adil) dan Engkaulah Pemberi keputusan yang sebaik-baiknya.”
            Al-Quran surah Asy-Syuara, surah ke-26 ayat 80. “Dan apabila aku sakit, Allah Yang menyembuhkan aku.”
      Meskipun “Pengetahuan Allah mencakup segala sesuatu”, dan “Bila aku sakit Allah Yang Menyembuhkan aku”. Tidak mungkin manusia dapat mengobati suatu penyakit apabila tidak mengetahui penyakit dan obatnya. Menurut para ulama ayat Al-Quran ini mengandung disiplin ilmu kedokteran.
      Pendapat para ulama yang menyatakan, “Para sahabat tentu lebih mengetahui tentang kandungan Al-Quran, maka kita harus memahami Al-Quran seperti dipahami oleh para sahabat. “ Pendapat ini kurang tepat.
     Pendapat seperti di atas kurang tepat , karena  Al-Quran diturunkan kepada Nabi Muhammad untuk dipikirkan bukan hanya kepada para sahabat, tetapi juga kepada generasi sesudahnya.
     Kesimpulannya, umat Islam harus selalu memikirkan ayat Al-Quran yang sesuai dengan perkembangan zaman, dari generasi ke generasi berikutnya.
Daftar Pustaka
1. Shihab, M.Quraish. Lentera Hati. Kisah dan Hikmah Kehidupan. Penerbit Mizan, 1994.  
2. Shihab, M.Quraish. E-book Membumikan Al-Quran

Monday, August 14, 2017

205. FUNGSI

FUNGSI HADIS DALAM TAFSIR AL-QURAN
Oleh: Drs. H. Yusron Hadi, M.M.
Kepala SMP Negeri 1 Balongbendo, Sidoarjo


      Beberapa orang bertanya,”Apakah fungsi hadis dalam tafsir Al-Quran? Mohon dijelaskan fungsi hadis dalam tafsir Al-Quran? Profesor Quraish Shihab menjelaskannya.
     Hadis (menurut KBBI V) adalah sabda, perbuatan, takrir atau ketetapan Nabi Muhammad yang diriwayatkan atau diceritakan oleh para sahabat untuk menjelaskan dan menetapkan hukum Islam. Hadis adalah sumber ajaran Islam kedua setelah Al-Quran.
      Hadis dalam arti ucapan yang berasal dari Nabi Muhammad, pada umumnya diterima berdasarkan riwayat dengan makna, artinya teks hadis tidak sepenuhnya persis sama dengan yang diucapkan oleh Nabi.
     Tafsir adalah keterangan atau penjelasan tentang ayat Al-Quran agar maksudnya lebih mudah dipahami.
            Al-Quran surah An-Nahl, surah ke-16 ayat 44.
     “Keterangan-keterangan (mukjizat) dan kitab-kitab. Dan Kami turunkan kepadamu Al-Quran, agar kamu menerangkan kepada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan supaya mereka memikirkan.”
      Al-Quran surah An-Nahl, surah ke-16 ayat 64.
      “Dan Kami tidak menurunkan kepadamu Al-Kitab (Al-Quran) ini, melainkan agar kamu dapat menjelaskan kepada mereka apa yang mereka perselisihkan dan menjadi petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman.”
     Al-Quran diyakini kebenarannya oleh umat Islam: surat demi surat, ayat demi ayat, kata demi kata, bahkan huruf demi huruf.
     Semuanya telah disampaikan secara utuh oleh malaikat Jibril kepada Nabi Muhammad, yang kemudian memerintahkan para sahabatnya untuk menuliskan, menghapalkan dan mempelajarinya.
     Beberapa saat setelah Nabi wafat, para sahabat mengumpulkan semua naskah Al-Quran yang ditulis, menyalin, dan menyebarluaskan ke seluruh penjuru dunia Islam. Hingga kini, semua yang mereka lakukan itu diterima dan dijaga oleh generasi berikutnya.
     Mushaf Al-Quran yang dibaca sekarang ini tetap sama dan tidak berbeda sedikit pun dengan yang pernah dibaca oleh Nabi Muhammad dan para pengikutnya lima belas abad lampau.
     Nabi Muhammad ditugaskan untuk menjelaskan kandungan ayat Al-Quran.     Penjelasan Nabi Muhammad tidak dapat dipisahkan dari pemahaman maksud ayat Al-Quran. Beliau satu-satunya manusia yang mendapat wewenang penuh untuk menjelaskan Al-Quran.
            Al-Quran surah An-Nisa’, surah ke-4 ayat 105.
      “Sesungguhnya Kami telah menurunkan Kitab kepadamu dengan membawa kebenaran, supaya kamu mengadili antara manusia dengan apa yang telah Allah wahyukan kepadamu, dan kamu jangan menjadi penantang (orang yang tidak bersalah), karena (membela) orang-orang yang khianat.”
      Penjelasan Nabi pasti benar, dan tidak ada seorang pun yang dapat menggantikan keterangan Nabi dengan penjelasan yang lain, siapa pun orangnya.
     Penjelasan tentang  arti dan maksud ayat Al-Quran yang diberikan oleh Nabi Muhammad beraneka macam bentuknya, dapat berupa ucapan, perbuatan, tulisan atau “taqrir”.
      Takrir adalah pembenaran terhadap sesuatu berupa diamnya Nabi terhadap perbuatan yang dilakukan oleh orang lain.
      Segala ketetapan Nabi harus diikuti dan segala perilaku Nabi merupakan panutan terbaik bagi mereka yang mengharapkan rahmat Allah dan keselamatan di dunia dan akhirat.
            Al-Quran surah Al-Ahzab, surah ke-33 ayat 21.
      “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah teladan yang baik bagimu, (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat serta dia banyak menyebut Allah”.
     Dalam Al-Quran perintah “Athiu”, yang artinya “Taati” atau “Patuhi” disebutkan sebanyak 19 kali. 
     Kadang kala, perintah “Athiu” digabungkan antara taat dan patuh kepada Allah dan kepada Rasul, yaitu “Athi'u Allah wa Rasul”, artinya digabungkan “Patuhi Allah dan Rasul.”
            Al-Quran surah Ali Imran, surah ke-3 ayat 32. “Katakan,”Taati Allah dan Rasul-Nya. Jika kamu berpaling, maka sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang kafir”.
      Al-Quran surah Ali Imran, surah ke-3 ayat 132. “Dan taati Allah dan Rasul, supaya kamu diberi rahmat.”
      Al-Quran surah Al-Anfal, surah ke-8 ayat 1.
      “Mereka menanyakan kepadamu tentang (pembagian) harta rampasan perang. Katakan, “Harta rampasan perang itu kepunyaan Allah dan Rasul, sebab itu bertakwalah kepada Allah dan perbaikilah perhubungan di antara sesamamu, dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya, jika kamu adalah orang-orang yang beriman”.
      Al-Quran surah Al-Anfal, surah ke-8 ayat 46. “Dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan kamu jangan saling berbantah, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.”
     Kadang kala antara “Athiu Allah” dipisahkan dengan “Athiu Rasul”, artinya “Patuhi Allah” dan “Patuhi Rasul” dipisahkan. Kata “Athiu” dituliskan dua kali.
      Al-Quran surah An-Nisa’, surah ke-4 ayat 59. “Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur'an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.”
     Al-Quran surah An-Nur, surah ke-24 ayat 54.
      “Katakan,“Taatlah kepada Allah dan taatlah kepada rasul. Dan jika kamu berpaling, maka sesungguhnya kewajiban rasul adalah apa yang dibebankan kepadanya, dan kewajiban kamu sekalian adalah semata-mata apa yang dibebankan kepadamu. Dan jika kamu taat kepadanya, niscaya kamu mendapat petunjuk. Dan tidak lain kewajiban rasul itu melainkan menyampaikan (amanah Allah) dengan terang.”
      Para ulama berpendapat penggabungan dan pemisahan kata “Athiu”, yang artinya “patuhi” mengisyaratkan bahwa semua perintah dan larangan Nabi Muhammad harus diikuti dan dipatuhi.   
     Al-Quran surah Al-Hasyr, surah ke-59 ayat 7.
      “Apa saja harta rampasan yang diberikan Allah kepada Rasul-Nya yang berasal dari penduduk kota maka untuk Allah, Rasul, kerabat Rasul, anak yatim, orang miskin dan orang dalam perjalanan, supaya harta itu jangan hanya beredar di antara orang kaya saja di antaramu. Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah. Apa yang dilarangnya maka tinggalkan. Bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah sangat keras hukuman-Nya.”
     Al-Quran surah An-Nisa’, surah ke-4 ayat 80. “Barangsiapa menaati Rasul, sesungguhnya dia menaati Allah. Barangsiapa yang berpaling (dari ketaatan itu), maka Kami tidak mengutusmu untuk menjadi pemelihara bagi mereka”.
      Al-Quran surah An-Nisa’, surah ke-3 ayat 144.
      “Muhammad hanya seorang Rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul. Apakah jika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad)? Barangsiapa yang berbalik ke belakang, maka dia tidak dapat mendatangkan mudarat kepada Allah sedikit pun. Allah akan memberi balasan kepada orang yang bersyukur”.
      Al-Quran surah An-Nur, surah ke-24 ayat 62.
      “Sesungguhnya yang sebenar-benar orang mukmin ialah orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan apabila mereka bersama Rasulullah dalam sesuatu pertemuan, mereka tidak meninggalkan (Rasulullah) sebelum meminta izin kepadanya. Sesungguhnya orang yang meminta izin kepadamu (Muhammad) mereka orang yang beriman kepada Allah dan rasul-Nya, maka apabila mereka meminta izin kepadamu karena sesuatu keperluan, berilah izin kepada siapa yang kamu kehendaki di antara mereka, dan mohonkan ampunan untuk mereka kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
      Al-Quran surah An-Nisa’, surah ke-4 ayat 65.
      “Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakikatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikanmu hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusanmu, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.”
       Orang yang meragukan keaslian hadis Nabi, karena mereka menduga bahwa hadis baru ditulis pada masa pemerintahan Umar bin Abdul Aziz, yaitu pada tahun 99 Hijriah.
     Mereka tidak dapat membedakan antara penulisan hadis yang secara resmi, yang diperintahkan langsung oleh penguasa untuk disebarluaskan ke seluruh pelosok, dengan penulisan hadis yang dilakukan atas prakarsa perorangan yang  dimulai sejak zaman Nabi.
      Sebagian orang meragukan penulisan hadis pada zaman Nabi, disebabkan kekeliruan mereka dalam memahami riwayat yang terdapat dalam kitab hadis yang menyatakan bahwa para ulama menghapalkan ribuan hadis.
     Mereka menduga bahwa jumlah ribuan hadis adalah jumlah “matan” atau teks redaksi hadis, sehingga mereka menganggap mustahil penulisan hadis secara keseluruhan sejak awal sejarah Islam.
     Mereka tidak menyadari bahwa jumlah ribuan hadis tersebut, bukan “matan” atau teks redaksi hadis, tetapi jalur atau “thuruq” hadis.
      Kesimpulannya, kekeliruan pemahaman tentang kedudukan, fungsi dan sejarah perkembangan hadis timbul akibat dangkalnya pengetahuan agama dan akibat pendangkalan agama yang dilakukan oleh musuh Islam, terutama para orientalis yang tidak bertanggungjawab, yang mengatasnamakan penelitian ilmiah untuk “melemahkan” Islam.   Daftar Pustaka
1. Shihab, M.Quraish. Lentera Hati. Kisah dan Hikmah Kehidupan. Penerbit Mizan, 1994.  
2. Shihab, M.Quraish. E-book Membumikan Al-Quran

205. FUNGSI

FUNGSI HADIS DALAM TAFSIR AL-QURAN
Oleh: Drs. H. Yusron Hadi, M.M.
Kepala SMP Negeri 1 Balongbendo, Sidoarjo


      Beberapa orang bertanya,”Apakah fungsi hadis dalam tafsir Al-Quran? Mohon dijelaskan fungsi hadis dalam tafsir Al-Quran? Profesor Quraish Shihab menjelaskannya.
     Hadis (menurut KBBI V) adalah sabda, perbuatan, takrir atau ketetapan Nabi Muhammad yang diriwayatkan atau diceritakan oleh para sahabat untuk menjelaskan dan menetapkan hukum Islam. Hadis adalah sumber ajaran Islam kedua setelah Al-Quran.
      Hadis dalam arti ucapan yang berasal dari Nabi Muhammad, pada umumnya diterima berdasarkan riwayat dengan makna, artinya teks hadis tidak sepenuhnya persis sama dengan yang diucapkan oleh Nabi.
     Tafsir adalah keterangan atau penjelasan tentang ayat Al-Quran agar maksudnya lebih mudah dipahami.
            Al-Quran surah An-Nahl, surah ke-16 ayat 44.
     “Keterangan-keterangan (mukjizat) dan kitab-kitab. Dan Kami turunkan kepadamu Al-Quran, agar kamu menerangkan kepada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan supaya mereka memikirkan.”
      Al-Quran surah An-Nahl, surah ke-16 ayat 64.
      “Dan Kami tidak menurunkan kepadamu Al-Kitab (Al-Quran) ini, melainkan agar kamu dapat menjelaskan kepada mereka apa yang mereka perselisihkan dan menjadi petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman.”
     Al-Quran diyakini kebenarannya oleh umat Islam: surat demi surat, ayat demi ayat, kata demi kata, bahkan huruf demi huruf.
     Semuanya telah disampaikan secara utuh oleh malaikat Jibril kepada Nabi Muhammad, yang kemudian memerintahkan para sahabatnya untuk menuliskan, menghapalkan dan mempelajarinya.
     Beberapa saat setelah Nabi wafat, para sahabat mengumpulkan semua naskah Al-Quran yang ditulis, menyalin, dan menyebarluaskan ke seluruh penjuru dunia Islam. Hingga kini, semua yang mereka lakukan itu diterima dan dijaga oleh generasi berikutnya.
     Mushaf Al-Quran yang dibaca sekarang ini tetap sama dan tidak berbeda sedikit pun dengan yang pernah dibaca oleh Nabi Muhammad dan para pengikutnya lima belas abad lampau.
     Nabi Muhammad ditugaskan untuk menjelaskan kandungan ayat Al-Quran.     Penjelasan Nabi Muhammad tidak dapat dipisahkan dari pemahaman maksud ayat Al-Quran. Beliau satu-satunya manusia yang mendapat wewenang penuh untuk menjelaskan Al-Quran.
            Al-Quran surah An-Nisa’, surah ke-4 ayat 105.
      “Sesungguhnya Kami telah menurunkan Kitab kepadamu dengan membawa kebenaran, supaya kamu mengadili antara manusia dengan apa yang telah Allah wahyukan kepadamu, dan kamu jangan menjadi penantang (orang yang tidak bersalah), karena (membela) orang-orang yang khianat.”
      Penjelasan Nabi pasti benar, dan tidak ada seorang pun yang dapat menggantikan keterangan Nabi dengan penjelasan yang lain, siapa pun orangnya.
     Penjelasan tentang  arti dan maksud ayat Al-Quran yang diberikan oleh Nabi Muhammad beraneka macam bentuknya, dapat berupa ucapan, perbuatan, tulisan atau “taqrir”.
      Takrir adalah pembenaran terhadap sesuatu berupa diamnya Nabi terhadap perbuatan yang dilakukan oleh orang lain.
      Segala ketetapan Nabi harus diikuti dan segala perilaku Nabi merupakan panutan terbaik bagi mereka yang mengharapkan rahmat Allah dan keselamatan di dunia dan akhirat.
            Al-Quran surah Al-Ahzab, surah ke-33 ayat 21.
      “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah teladan yang baik bagimu, (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat serta dia banyak menyebut Allah”.
     Dalam Al-Quran perintah “Athiu”, yang artinya “Taati” atau “Patuhi” disebutkan sebanyak 19 kali. 
     Kadang kala, perintah “Athiu” digabungkan antara taat dan patuh kepada Allah dan kepada Rasul, yaitu “Athi'u Allah wa Rasul”, artinya digabungkan “Patuhi Allah dan Rasul.”
            Al-Quran surah Ali Imran, surah ke-3 ayat 32. “Katakan,”Taati Allah dan Rasul-Nya. Jika kamu berpaling, maka sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang kafir”.
      Al-Quran surah Ali Imran, surah ke-3 ayat 132. “Dan taati Allah dan Rasul, supaya kamu diberi rahmat.”
      Al-Quran surah Al-Anfal, surah ke-8 ayat 1.
      “Mereka menanyakan kepadamu tentang (pembagian) harta rampasan perang. Katakan, “Harta rampasan perang itu kepunyaan Allah dan Rasul, sebab itu bertakwalah kepada Allah dan perbaikilah perhubungan di antara sesamamu, dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya, jika kamu adalah orang-orang yang beriman”.
      Al-Quran surah Al-Anfal, surah ke-8 ayat 46. “Dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan kamu jangan saling berbantah, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.”
     Kadang kala antara “Athiu Allah” dipisahkan dengan “Athiu Rasul”, artinya “Patuhi Allah” dan “Patuhi Rasul” dipisahkan. Kata “Athiu” dituliskan dua kali.
      Al-Quran surah An-Nisa’, surah ke-4 ayat 59. “Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur'an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.”
     Al-Quran surah An-Nur, surah ke-24 ayat 54.
      “Katakan,“Taatlah kepada Allah dan taatlah kepada rasul. Dan jika kamu berpaling, maka sesungguhnya kewajiban rasul adalah apa yang dibebankan kepadanya, dan kewajiban kamu sekalian adalah semata-mata apa yang dibebankan kepadamu. Dan jika kamu taat kepadanya, niscaya kamu mendapat petunjuk. Dan tidak lain kewajiban rasul itu melainkan menyampaikan (amanah Allah) dengan terang.”
      Para ulama berpendapat penggabungan dan pemisahan kata “Athiu”, yang artinya “patuhi” mengisyaratkan bahwa semua perintah dan larangan Nabi Muhammad harus diikuti dan dipatuhi.   
     Al-Quran surah Al-Hasyr, surah ke-59 ayat 7.
      “Apa saja harta rampasan yang diberikan Allah kepada Rasul-Nya yang berasal dari penduduk kota maka untuk Allah, Rasul, kerabat Rasul, anak yatim, orang miskin dan orang dalam perjalanan, supaya harta itu jangan hanya beredar di antara orang kaya saja di antaramu. Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah. Apa yang dilarangnya maka tinggalkan. Bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah sangat keras hukuman-Nya.”
     Al-Quran surah An-Nisa’, surah ke-4 ayat 80. “Barangsiapa menaati Rasul, sesungguhnya dia menaati Allah. Barangsiapa yang berpaling (dari ketaatan itu), maka Kami tidak mengutusmu untuk menjadi pemelihara bagi mereka”.
      Al-Quran surah An-Nisa’, surah ke-3 ayat 144.
      “Muhammad hanya seorang Rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul. Apakah jika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad)? Barangsiapa yang berbalik ke belakang, maka dia tidak dapat mendatangkan mudarat kepada Allah sedikit pun. Allah akan memberi balasan kepada orang yang bersyukur”.
      Al-Quran surah An-Nur, surah ke-24 ayat 62.
      “Sesungguhnya yang sebenar-benar orang mukmin ialah orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan apabila mereka bersama Rasulullah dalam sesuatu pertemuan, mereka tidak meninggalkan (Rasulullah) sebelum meminta izin kepadanya. Sesungguhnya orang yang meminta izin kepadamu (Muhammad) mereka orang yang beriman kepada Allah dan rasul-Nya, maka apabila mereka meminta izin kepadamu karena sesuatu keperluan, berilah izin kepada siapa yang kamu kehendaki di antara mereka, dan mohonkan ampunan untuk mereka kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
      Al-Quran surah An-Nisa’, surah ke-4 ayat 65.
      “Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakikatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikanmu hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusanmu, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.”
       Orang yang meragukan keaslian hadis Nabi, karena mereka menduga bahwa hadis baru ditulis pada masa pemerintahan Umar bin Abdul Aziz, yaitu pada tahun 99 Hijriah.
     Mereka tidak dapat membedakan antara penulisan hadis yang secara resmi, yang diperintahkan langsung oleh penguasa untuk disebarluaskan ke seluruh pelosok, dengan penulisan hadis yang dilakukan atas prakarsa perorangan yang  dimulai sejak zaman Nabi.
      Sebagian orang meragukan penulisan hadis pada zaman Nabi, disebabkan kekeliruan mereka dalam memahami riwayat yang terdapat dalam kitab hadis yang menyatakan bahwa para ulama menghapalkan ribuan hadis.
     Mereka menduga bahwa jumlah ribuan hadis adalah jumlah “matan” atau teks redaksi hadis, sehingga mereka menganggap mustahil penulisan hadis secara keseluruhan sejak awal sejarah Islam.
     Mereka tidak menyadari bahwa jumlah ribuan hadis tersebut, bukan “matan” atau teks redaksi hadis, tetapi jalur atau “thuruq” hadis.
      Kesimpulannya, kekeliruan pemahaman tentang kedudukan, fungsi dan sejarah perkembangan hadis timbul akibat dangkalnya pengetahuan agama dan akibat pendangkalan agama yang dilakukan oleh musuh Islam, terutama para orientalis yang tidak bertanggungjawab, yang mengatasnamakan penelitian ilmiah untuk “melemahkan” Islam.   Daftar Pustaka
1. Shihab, M.Quraish. Lentera Hati. Kisah dan Hikmah Kehidupan. Penerbit Mizan, 1994.  
2. Shihab, M.Quraish. E-book Membumikan Al-Quran

205. FUNGSI

FUNGSI HADIS DALAM TAFSIR AL-QURAN
Oleh: Drs. H. Yusron Hadi, M.M.
Kepala SMP Negeri 1 Balongbendo, Sidoarjo


      Beberapa orang bertanya,”Apakah fungsi hadis dalam tafsir Al-Quran? Mohon dijelaskan fungsi hadis dalam tafsir Al-Quran? Profesor Quraish Shihab menjelaskannya.
     Hadis (menurut KBBI V) adalah sabda, perbuatan, takrir atau ketetapan Nabi Muhammad yang diriwayatkan atau diceritakan oleh para sahabat untuk menjelaskan dan menetapkan hukum Islam. Hadis adalah sumber ajaran Islam kedua setelah Al-Quran.
      Hadis dalam arti ucapan yang berasal dari Nabi Muhammad, pada umumnya diterima berdasarkan riwayat dengan makna, artinya teks hadis tidak sepenuhnya persis sama dengan yang diucapkan oleh Nabi.
     Tafsir adalah keterangan atau penjelasan tentang ayat Al-Quran agar maksudnya lebih mudah dipahami.
            Al-Quran surah An-Nahl, surah ke-16 ayat 44.
     “Keterangan-keterangan (mukjizat) dan kitab-kitab. Dan Kami turunkan kepadamu Al-Quran, agar kamu menerangkan kepada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan supaya mereka memikirkan.”
      Al-Quran surah An-Nahl, surah ke-16 ayat 64.
      “Dan Kami tidak menurunkan kepadamu Al-Kitab (Al-Quran) ini, melainkan agar kamu dapat menjelaskan kepada mereka apa yang mereka perselisihkan dan menjadi petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman.”
     Al-Quran diyakini kebenarannya oleh umat Islam: surat demi surat, ayat demi ayat, kata demi kata, bahkan huruf demi huruf.
     Semuanya telah disampaikan secara utuh oleh malaikat Jibril kepada Nabi Muhammad, yang kemudian memerintahkan para sahabatnya untuk menuliskan, menghapalkan dan mempelajarinya.
     Beberapa saat setelah Nabi wafat, para sahabat mengumpulkan semua naskah Al-Quran yang ditulis, menyalin, dan menyebarluaskan ke seluruh penjuru dunia Islam. Hingga kini, semua yang mereka lakukan itu diterima dan dijaga oleh generasi berikutnya.
     Mushaf Al-Quran yang dibaca sekarang ini tetap sama dan tidak berbeda sedikit pun dengan yang pernah dibaca oleh Nabi Muhammad dan para pengikutnya lima belas abad lampau.
     Nabi Muhammad ditugaskan untuk menjelaskan kandungan ayat Al-Quran.     Penjelasan Nabi Muhammad tidak dapat dipisahkan dari pemahaman maksud ayat Al-Quran. Beliau satu-satunya manusia yang mendapat wewenang penuh untuk menjelaskan Al-Quran.
            Al-Quran surah An-Nisa’, surah ke-4 ayat 105.
      “Sesungguhnya Kami telah menurunkan Kitab kepadamu dengan membawa kebenaran, supaya kamu mengadili antara manusia dengan apa yang telah Allah wahyukan kepadamu, dan kamu jangan menjadi penantang (orang yang tidak bersalah), karena (membela) orang-orang yang khianat.”
      Penjelasan Nabi pasti benar, dan tidak ada seorang pun yang dapat menggantikan keterangan Nabi dengan penjelasan yang lain, siapa pun orangnya.
     Penjelasan tentang  arti dan maksud ayat Al-Quran yang diberikan oleh Nabi Muhammad beraneka macam bentuknya, dapat berupa ucapan, perbuatan, tulisan atau “taqrir”.
      Takrir adalah pembenaran terhadap sesuatu berupa diamnya Nabi terhadap perbuatan yang dilakukan oleh orang lain.
      Segala ketetapan Nabi harus diikuti dan segala perilaku Nabi merupakan panutan terbaik bagi mereka yang mengharapkan rahmat Allah dan keselamatan di dunia dan akhirat.
            Al-Quran surah Al-Ahzab, surah ke-33 ayat 21.
      “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah teladan yang baik bagimu, (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat serta dia banyak menyebut Allah”.
     Dalam Al-Quran perintah “Athiu”, yang artinya “Taati” atau “Patuhi” disebutkan sebanyak 19 kali. 
     Kadang kala, perintah “Athiu” digabungkan antara taat dan patuh kepada Allah dan kepada Rasul, yaitu “Athi'u Allah wa Rasul”, artinya digabungkan “Patuhi Allah dan Rasul.”
            Al-Quran surah Ali Imran, surah ke-3 ayat 32. “Katakan,”Taati Allah dan Rasul-Nya. Jika kamu berpaling, maka sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang kafir”.
      Al-Quran surah Ali Imran, surah ke-3 ayat 132. “Dan taati Allah dan Rasul, supaya kamu diberi rahmat.”
      Al-Quran surah Al-Anfal, surah ke-8 ayat 1.
      “Mereka menanyakan kepadamu tentang (pembagian) harta rampasan perang. Katakan, “Harta rampasan perang itu kepunyaan Allah dan Rasul, sebab itu bertakwalah kepada Allah dan perbaikilah perhubungan di antara sesamamu, dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya, jika kamu adalah orang-orang yang beriman”.
      Al-Quran surah Al-Anfal, surah ke-8 ayat 46. “Dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan kamu jangan saling berbantah, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.”
     Kadang kala antara “Athiu Allah” dipisahkan dengan “Athiu Rasul”, artinya “Patuhi Allah” dan “Patuhi Rasul” dipisahkan. Kata “Athiu” dituliskan dua kali.
      Al-Quran surah An-Nisa’, surah ke-4 ayat 59. “Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur'an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.”
     Al-Quran surah An-Nur, surah ke-24 ayat 54.
      “Katakan,“Taatlah kepada Allah dan taatlah kepada rasul. Dan jika kamu berpaling, maka sesungguhnya kewajiban rasul adalah apa yang dibebankan kepadanya, dan kewajiban kamu sekalian adalah semata-mata apa yang dibebankan kepadamu. Dan jika kamu taat kepadanya, niscaya kamu mendapat petunjuk. Dan tidak lain kewajiban rasul itu melainkan menyampaikan (amanah Allah) dengan terang.”
      Para ulama berpendapat penggabungan dan pemisahan kata “Athiu”, yang artinya “patuhi” mengisyaratkan bahwa semua perintah dan larangan Nabi Muhammad harus diikuti dan dipatuhi.   
     Al-Quran surah Al-Hasyr, surah ke-59 ayat 7.
      “Apa saja harta rampasan yang diberikan Allah kepada Rasul-Nya yang berasal dari penduduk kota maka untuk Allah, Rasul, kerabat Rasul, anak yatim, orang miskin dan orang dalam perjalanan, supaya harta itu jangan hanya beredar di antara orang kaya saja di antaramu. Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah. Apa yang dilarangnya maka tinggalkan. Bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah sangat keras hukuman-Nya.”
     Al-Quran surah An-Nisa’, surah ke-4 ayat 80. “Barangsiapa menaati Rasul, sesungguhnya dia menaati Allah. Barangsiapa yang berpaling (dari ketaatan itu), maka Kami tidak mengutusmu untuk menjadi pemelihara bagi mereka”.
      Al-Quran surah An-Nisa’, surah ke-3 ayat 144.
      “Muhammad hanya seorang Rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul. Apakah jika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad)? Barangsiapa yang berbalik ke belakang, maka dia tidak dapat mendatangkan mudarat kepada Allah sedikit pun. Allah akan memberi balasan kepada orang yang bersyukur”.
      Al-Quran surah An-Nur, surah ke-24 ayat 62.
      “Sesungguhnya yang sebenar-benar orang mukmin ialah orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan apabila mereka bersama Rasulullah dalam sesuatu pertemuan, mereka tidak meninggalkan (Rasulullah) sebelum meminta izin kepadanya. Sesungguhnya orang yang meminta izin kepadamu (Muhammad) mereka orang yang beriman kepada Allah dan rasul-Nya, maka apabila mereka meminta izin kepadamu karena sesuatu keperluan, berilah izin kepada siapa yang kamu kehendaki di antara mereka, dan mohonkan ampunan untuk mereka kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
      Al-Quran surah An-Nisa’, surah ke-4 ayat 65.
      “Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakikatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikanmu hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusanmu, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.”
       Orang yang meragukan keaslian hadis Nabi, karena mereka menduga bahwa hadis baru ditulis pada masa pemerintahan Umar bin Abdul Aziz, yaitu pada tahun 99 Hijriah.
     Mereka tidak dapat membedakan antara penulisan hadis yang secara resmi, yang diperintahkan langsung oleh penguasa untuk disebarluaskan ke seluruh pelosok, dengan penulisan hadis yang dilakukan atas prakarsa perorangan yang  dimulai sejak zaman Nabi.
      Sebagian orang meragukan penulisan hadis pada zaman Nabi, disebabkan kekeliruan mereka dalam memahami riwayat yang terdapat dalam kitab hadis yang menyatakan bahwa para ulama menghapalkan ribuan hadis.
     Mereka menduga bahwa jumlah ribuan hadis adalah jumlah “matan” atau teks redaksi hadis, sehingga mereka menganggap mustahil penulisan hadis secara keseluruhan sejak awal sejarah Islam.
     Mereka tidak menyadari bahwa jumlah ribuan hadis tersebut, bukan “matan” atau teks redaksi hadis, tetapi jalur atau “thuruq” hadis.
      Kesimpulannya, kekeliruan pemahaman tentang kedudukan, fungsi dan sejarah perkembangan hadis timbul akibat dangkalnya pengetahuan agama dan akibat pendangkalan agama yang dilakukan oleh musuh Islam, terutama para orientalis yang tidak bertanggungjawab, yang mengatasnamakan penelitian ilmiah untuk “melemahkan” Islam.   Daftar Pustaka
1. Shihab, M.Quraish. Lentera Hati. Kisah dan Hikmah Kehidupan. Penerbit Mizan, 1994.  
2. Shihab, M.Quraish. E-book Membumikan Al-Quran