Organisasi Profesi Guru

Presiden Jokowi memberi hormat kepada Guru-Guru se Indonesia.

Tema Gambar Slide 2

Deskripsi gambar slide bisa dituliskan disini dengan beberapa kalimat yang menggambarkan gambar slide yang anda pasang, edit slide ini melalui edit HTML template.

Tema Gambar Slide 3

Deskripsi gambar slide bisa dituliskan disini dengan beberapa kalimat yang menggambarkan gambar slide yang anda pasang, edit slide ini melalui edit HTML template.

Friday, August 18, 2017

212. DALIL

DALIL AL-QURAN TENTANG AGAMA ALLAH
Oleh: Drs. H. Yusron Hadi, M.M.
Kepala SMP Negeri 1 Balongbendo, Sidoarjo

     Beberapa orang bertanya,”Mohon dijelaskan dalil Al-Quran tentang agama Allah? Berikut ini penjelasannya.

      AL-Quran surah Al-Baqarah, surah ke-2 ayat 112.
      ”(Tidak demikian) bahkan barangsiapa yang menyerahkan diri kepada Allah, sedangkan dia berbuat kebajikan, maka baginya pahala pada sisi Tuhannya dan tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.”
      AL-Quran surah Al-Baqarah, surah ke-2 ayat 113.
    “Dan orang-orang Yahudi berkata, “Orang-orang Nasrani tidak mempunyai suatu pegangan”, dan orang-orang Nasrani berkata, “Orang-orang Yahudi tidak mempunyai sesuatu pegangan”, padahal mereka (sama-sama) membaca Al-Kitab. Demikian pula orang-orang yang tidak mengetahui, mengatakan seperti ucapan mereka itu. Maka Allah akan mengadili di antara mereka pada hari kiamat, tentang apa-apa yang mereka berselisih padanya.”
      AL-Quran surah Ali Imran,surah ke-3 ayat 19.
      “Sesungguhnya agama (yang diridai) di sisi Allah hanya Islam. Tidak berselisih orang-orang yang telah diberi Al-Kitab, kecuali sesudah datang pengetahuan kepada mereka, karena kedengkian (yang ada) di antara mereka. Barangsiapa yang kafir terhadap ayat-ayat Allah maka sesungguhnya Allah sangat cepat hisab-Nya”.
      AL-Quran surah Ali Imran, surah ke-3 ayat 83.
       “Maka apakah mereka mencari agama yang lain dari agama Allah? Padahal kepada Allah berserah diri segala yang di langit dan di bumi dengan suka maupun terpaksa dan hanya kepada Allah mereka dikembalikan”.
      AL-Quran surah Ali Imran, surah ke-3 ayat 85. 
      “Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka tidak akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.”
      AL-Quran surah Ali Imran, surah ke-3 ayat 102. 
      “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya, dan kamu jangan mati melainkan dalam keadaan beragama Islam”.
      AL-Quran surah An-Nisa’, surah ke-4 ayat 125. 
      “Dan siapakah yang lebih baik agamanya daripada orang yang ikhlas menyerahkan dirinya kepada Allah, sedangkan dia mengerjakan kebaikan, dan dia mengikuti agama Ibrahim yang lurus? Dan Allah mengambil Ibrahim menjadi kesayangan-Nya”.
      AL-Quran surah Al-Maidah, surah ke-5 ayat 3. 
      “Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, (daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah, yang tercekik, yang dipukul, yang jatuh, yang ditanduk, dan yang diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu menyembelihnya, dan (diharamkan bagimu) yang disembelih untuk berhala. Dan (diharamkan juga) mengundi nasib dengan anak panah, (mengundi nasib dengan anak panah itu) adalah kefasikan. Pada hari ini orang-orang kafir telah putus asa untuk (mengalahkan) agamamu, sebab itu kamu jangan takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku. Pada hari ini telah Aku sempurnakan untukmu agamamu, dan telah Aku cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Aku ridai Islam menjadi agamamu.  Maka barangsiapa terpaksa karena kelaparan tanpa sengaja berbuat dosa, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”.
      AL-Quran surah Al-An’am, surah ke-6 ayat 14. 
      “Katakan, “Apakah saya akan menjadikan pelindung selain Allah yang menjadikan langit dan bumi, padahal Allah memberikan makan dan tidak diberi makan?” Katakan,”Sesungguhnya saya diperintah agar menjadi orang yang pertama  menyerahkan diri (kepada Allah), dan kamu jangan termasuk golongan orang-orang musyrik.”
      AL-Quran surah Al-An’am, surah ke-6 ayat 70. 
      “Dan tinggalkan orang-orang yang menjadikan agama mereka sebagai permainan dan senda-gurau, dan mereka telah ditipu oleh kehidupan dunia. Peringatkan (mereka) dengan Al-Quran agar masing-masing tidak dijerumuskan ke dalam neraka, karena perbuatannya sendiri. Tidak akan ada baginya pelindung dan tidak (pula) pemberi syafaat selain dari Allah. Dan jika dia menebus dengan segala macam tebusan, niscaya tidak akan diterima. Mereka orang-orang yang dijerumuskan ke dalam neraka, disebabkan perbuatan mereka sendiri. Bagi mereka (disediakan) minuman air yang mendidih dan azab yang pedih disebabkan kekafiran mereka dahulu”.
      AL-Quran surah Al-An’am, surah ke-6 ayat 125.
      “ Barangsiapa Allah menghendaki memberikan kepadanya petunjuk, niscaya Allah melapangkan dadanya untuk (memeluk agama) Islam. Dan barangsiapa yang dikehendaki Allah kesesatannya, niscaya Allah menjadikan dadanya sesak lagi sempit, seolah-olah dia sedang mendaki ke langit. Begitulah Allah menimpakan siksa kepada orang-orang yang tidak beriman”.
      AL-Quran surah Al-An’am, surah ke-6 ayat 161.
      “Katakan, “Sesungguhnya aku telah ditunjuki oleh Tuhanku kepada jalan yang lurus, (yaitu) agama yang benar, agama Ibrahim yang lurus, dan Ibrahim itu bukan termasuk orang-orang yang musyrik”.
      AL-Quran surah Al-An’am, surah ke-6 ayat 162.
      “Katakan, “Sesungguhnya salatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanya untuk Allah, Tuhan semesta alam.”
      AL-Quran surah Al-An’am, surah ke-27 ayat 91.
      “Aku hanya diperintahkan untuk menyembah Tuhan negeri ini (Mekah) Yang telah menjadikannya suci dan kepunyaan Allah segala sesuatu, dan aku diperintahkan agar aku termasuk orang-orang yang berserah diri”.
Daftar Pustaka
1. Hatta, DR. Ahmad. Tafsir Quran Per Kata, Dilengkapi dengan Asbabun Nuzul dan Terjemah. Penerbit Pustaka Maghfirah, Jakarta 2011.
2. Al-Quran Digital, Versi 3.2. Digital Qur’an Ver 3.2

212. DALIL

DALIL AL-QURAN TENTANG AGAMA ALLAH
Oleh: Drs. H. Yusron Hadi, M.M.
Kepala SMP Negeri 1 Balongbendo, Sidoarjo

     Beberapa orang bertanya,”Mohon dijelaskan dalil Al-Quran tentang agama Allah? Berikut ini penjelasannya.

      AL-Quran surah Al-Baqarah, surah ke-2 ayat 112.
      ”(Tidak demikian) bahkan barangsiapa yang menyerahkan diri kepada Allah, sedangkan dia berbuat kebajikan, maka baginya pahala pada sisi Tuhannya dan tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.”
      AL-Quran surah Al-Baqarah, surah ke-2 ayat 113.
    “Dan orang-orang Yahudi berkata, “Orang-orang Nasrani tidak mempunyai suatu pegangan”, dan orang-orang Nasrani berkata, “Orang-orang Yahudi tidak mempunyai sesuatu pegangan”, padahal mereka (sama-sama) membaca Al-Kitab. Demikian pula orang-orang yang tidak mengetahui, mengatakan seperti ucapan mereka itu. Maka Allah akan mengadili di antara mereka pada hari kiamat, tentang apa-apa yang mereka berselisih padanya.”
      AL-Quran surah Ali Imran,surah ke-3 ayat 19.
      “Sesungguhnya agama (yang diridai) di sisi Allah hanya Islam. Tidak berselisih orang-orang yang telah diberi Al-Kitab, kecuali sesudah datang pengetahuan kepada mereka, karena kedengkian (yang ada) di antara mereka. Barangsiapa yang kafir terhadap ayat-ayat Allah maka sesungguhnya Allah sangat cepat hisab-Nya”.
      AL-Quran surah Ali Imran, surah ke-3 ayat 83.
       “Maka apakah mereka mencari agama yang lain dari agama Allah? Padahal kepada Allah berserah diri segala yang di langit dan di bumi dengan suka maupun terpaksa dan hanya kepada Allah mereka dikembalikan”.
      AL-Quran surah Ali Imran, surah ke-3 ayat 85. 
      “Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka tidak akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.”
      AL-Quran surah Ali Imran, surah ke-3 ayat 102. 
      “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya, dan kamu jangan mati melainkan dalam keadaan beragama Islam”.
      AL-Quran surah An-Nisa’, surah ke-4 ayat 125. 
      “Dan siapakah yang lebih baik agamanya daripada orang yang ikhlas menyerahkan dirinya kepada Allah, sedangkan dia mengerjakan kebaikan, dan dia mengikuti agama Ibrahim yang lurus? Dan Allah mengambil Ibrahim menjadi kesayangan-Nya”.
      AL-Quran surah Al-Maidah, surah ke-5 ayat 3. 
      “Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, (daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah, yang tercekik, yang dipukul, yang jatuh, yang ditanduk, dan yang diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu menyembelihnya, dan (diharamkan bagimu) yang disembelih untuk berhala. Dan (diharamkan juga) mengundi nasib dengan anak panah, (mengundi nasib dengan anak panah itu) adalah kefasikan. Pada hari ini orang-orang kafir telah putus asa untuk (mengalahkan) agamamu, sebab itu kamu jangan takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku. Pada hari ini telah Aku sempurnakan untukmu agamamu, dan telah Aku cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Aku ridai Islam menjadi agamamu.  Maka barangsiapa terpaksa karena kelaparan tanpa sengaja berbuat dosa, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”.
      AL-Quran surah Al-An’am, surah ke-6 ayat 14. 
      “Katakan, “Apakah saya akan menjadikan pelindung selain Allah yang menjadikan langit dan bumi, padahal Allah memberikan makan dan tidak diberi makan?” Katakan,”Sesungguhnya saya diperintah agar menjadi orang yang pertama  menyerahkan diri (kepada Allah), dan kamu jangan termasuk golongan orang-orang musyrik.”
      AL-Quran surah Al-An’am, surah ke-6 ayat 70. 
      “Dan tinggalkan orang-orang yang menjadikan agama mereka sebagai permainan dan senda-gurau, dan mereka telah ditipu oleh kehidupan dunia. Peringatkan (mereka) dengan Al-Quran agar masing-masing tidak dijerumuskan ke dalam neraka, karena perbuatannya sendiri. Tidak akan ada baginya pelindung dan tidak (pula) pemberi syafaat selain dari Allah. Dan jika dia menebus dengan segala macam tebusan, niscaya tidak akan diterima. Mereka orang-orang yang dijerumuskan ke dalam neraka, disebabkan perbuatan mereka sendiri. Bagi mereka (disediakan) minuman air yang mendidih dan azab yang pedih disebabkan kekafiran mereka dahulu”.
      AL-Quran surah Al-An’am, surah ke-6 ayat 125.
      “ Barangsiapa Allah menghendaki memberikan kepadanya petunjuk, niscaya Allah melapangkan dadanya untuk (memeluk agama) Islam. Dan barangsiapa yang dikehendaki Allah kesesatannya, niscaya Allah menjadikan dadanya sesak lagi sempit, seolah-olah dia sedang mendaki ke langit. Begitulah Allah menimpakan siksa kepada orang-orang yang tidak beriman”.
      AL-Quran surah Al-An’am, surah ke-6 ayat 161.
      “Katakan, “Sesungguhnya aku telah ditunjuki oleh Tuhanku kepada jalan yang lurus, (yaitu) agama yang benar, agama Ibrahim yang lurus, dan Ibrahim itu bukan termasuk orang-orang yang musyrik”.
      AL-Quran surah Al-An’am, surah ke-6 ayat 162.
      “Katakan, “Sesungguhnya salatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanya untuk Allah, Tuhan semesta alam.”
      AL-Quran surah Al-An’am, surah ke-27 ayat 91.
      “Aku hanya diperintahkan untuk menyembah Tuhan negeri ini (Mekah) Yang telah menjadikannya suci dan kepunyaan Allah segala sesuatu, dan aku diperintahkan agar aku termasuk orang-orang yang berserah diri”.
Daftar Pustaka
1. Hatta, DR. Ahmad. Tafsir Quran Per Kata, Dilengkapi dengan Asbabun Nuzul dan Terjemah. Penerbit Pustaka Maghfirah, Jakarta 2011.
2. Al-Quran Digital, Versi 3.2. Digital Qur’an Ver 3.2

212. DALIL

DALIL AL-QURAN TENTANG AGAMA ALLAH
Oleh: Drs. H. Yusron Hadi, M.M.
Kepala SMP Negeri 1 Balongbendo, Sidoarjo

     Beberapa orang bertanya,”Mohon dijelaskan dalil Al-Quran tentang agama Allah? Berikut ini penjelasannya.

      AL-Quran surah Al-Baqarah, surah ke-2 ayat 112.
      ”(Tidak demikian) bahkan barangsiapa yang menyerahkan diri kepada Allah, sedangkan dia berbuat kebajikan, maka baginya pahala pada sisi Tuhannya dan tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.”
      AL-Quran surah Al-Baqarah, surah ke-2 ayat 113.
    “Dan orang-orang Yahudi berkata, “Orang-orang Nasrani tidak mempunyai suatu pegangan”, dan orang-orang Nasrani berkata, “Orang-orang Yahudi tidak mempunyai sesuatu pegangan”, padahal mereka (sama-sama) membaca Al-Kitab. Demikian pula orang-orang yang tidak mengetahui, mengatakan seperti ucapan mereka itu. Maka Allah akan mengadili di antara mereka pada hari kiamat, tentang apa-apa yang mereka berselisih padanya.”
      AL-Quran surah Ali Imran,surah ke-3 ayat 19.
      “Sesungguhnya agama (yang diridai) di sisi Allah hanya Islam. Tidak berselisih orang-orang yang telah diberi Al-Kitab, kecuali sesudah datang pengetahuan kepada mereka, karena kedengkian (yang ada) di antara mereka. Barangsiapa yang kafir terhadap ayat-ayat Allah maka sesungguhnya Allah sangat cepat hisab-Nya”.
      AL-Quran surah Ali Imran, surah ke-3 ayat 83.
       “Maka apakah mereka mencari agama yang lain dari agama Allah? Padahal kepada Allah berserah diri segala yang di langit dan di bumi dengan suka maupun terpaksa dan hanya kepada Allah mereka dikembalikan”.
      AL-Quran surah Ali Imran, surah ke-3 ayat 85. 
      “Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka tidak akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.”
      AL-Quran surah Ali Imran, surah ke-3 ayat 102. 
      “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya, dan kamu jangan mati melainkan dalam keadaan beragama Islam”.
      AL-Quran surah An-Nisa’, surah ke-4 ayat 125. 
      “Dan siapakah yang lebih baik agamanya daripada orang yang ikhlas menyerahkan dirinya kepada Allah, sedangkan dia mengerjakan kebaikan, dan dia mengikuti agama Ibrahim yang lurus? Dan Allah mengambil Ibrahim menjadi kesayangan-Nya”.
      AL-Quran surah Al-Maidah, surah ke-5 ayat 3. 
      “Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, (daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah, yang tercekik, yang dipukul, yang jatuh, yang ditanduk, dan yang diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu menyembelihnya, dan (diharamkan bagimu) yang disembelih untuk berhala. Dan (diharamkan juga) mengundi nasib dengan anak panah, (mengundi nasib dengan anak panah itu) adalah kefasikan. Pada hari ini orang-orang kafir telah putus asa untuk (mengalahkan) agamamu, sebab itu kamu jangan takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku. Pada hari ini telah Aku sempurnakan untukmu agamamu, dan telah Aku cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Aku ridai Islam menjadi agamamu.  Maka barangsiapa terpaksa karena kelaparan tanpa sengaja berbuat dosa, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”.
      AL-Quran surah Al-An’am, surah ke-6 ayat 14. 
      “Katakan, “Apakah saya akan menjadikan pelindung selain Allah yang menjadikan langit dan bumi, padahal Allah memberikan makan dan tidak diberi makan?” Katakan,”Sesungguhnya saya diperintah agar menjadi orang yang pertama  menyerahkan diri (kepada Allah), dan kamu jangan termasuk golongan orang-orang musyrik.”
      AL-Quran surah Al-An’am, surah ke-6 ayat 70. 
      “Dan tinggalkan orang-orang yang menjadikan agama mereka sebagai permainan dan senda-gurau, dan mereka telah ditipu oleh kehidupan dunia. Peringatkan (mereka) dengan Al-Quran agar masing-masing tidak dijerumuskan ke dalam neraka, karena perbuatannya sendiri. Tidak akan ada baginya pelindung dan tidak (pula) pemberi syafaat selain dari Allah. Dan jika dia menebus dengan segala macam tebusan, niscaya tidak akan diterima. Mereka orang-orang yang dijerumuskan ke dalam neraka, disebabkan perbuatan mereka sendiri. Bagi mereka (disediakan) minuman air yang mendidih dan azab yang pedih disebabkan kekafiran mereka dahulu”.
      AL-Quran surah Al-An’am, surah ke-6 ayat 125.
      “ Barangsiapa Allah menghendaki memberikan kepadanya petunjuk, niscaya Allah melapangkan dadanya untuk (memeluk agama) Islam. Dan barangsiapa yang dikehendaki Allah kesesatannya, niscaya Allah menjadikan dadanya sesak lagi sempit, seolah-olah dia sedang mendaki ke langit. Begitulah Allah menimpakan siksa kepada orang-orang yang tidak beriman”.
      AL-Quran surah Al-An’am, surah ke-6 ayat 161.
      “Katakan, “Sesungguhnya aku telah ditunjuki oleh Tuhanku kepada jalan yang lurus, (yaitu) agama yang benar, agama Ibrahim yang lurus, dan Ibrahim itu bukan termasuk orang-orang yang musyrik”.
      AL-Quran surah Al-An’am, surah ke-6 ayat 162.
      “Katakan, “Sesungguhnya salatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanya untuk Allah, Tuhan semesta alam.”
      AL-Quran surah Al-An’am, surah ke-27 ayat 91.
      “Aku hanya diperintahkan untuk menyembah Tuhan negeri ini (Mekah) Yang telah menjadikannya suci dan kepunyaan Allah segala sesuatu, dan aku diperintahkan agar aku termasuk orang-orang yang berserah diri”.
Daftar Pustaka
1. Hatta, DR. Ahmad. Tafsir Quran Per Kata, Dilengkapi dengan Asbabun Nuzul dan Terjemah. Penerbit Pustaka Maghfirah, Jakarta 2011.
2. Al-Quran Digital, Versi 3.2. Digital Qur’an Ver 3.2

212. DALIL

DALIL AL-QURAN TENTANG AGAMA ALLAH
Oleh: Drs. H. Yusron Hadi, M.M.
Kepala SMP Negeri 1 Balongbendo, Sidoarjo

     Beberapa orang bertanya,”Mohon dijelaskan dalil Al-Quran tentang agama Allah? Berikut ini penjelasannya.

      AL-Quran surah Al-Baqarah, surah ke-2 ayat 112.
      ”(Tidak demikian) bahkan barangsiapa yang menyerahkan diri kepada Allah, sedangkan dia berbuat kebajikan, maka baginya pahala pada sisi Tuhannya dan tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.”
      AL-Quran surah Al-Baqarah, surah ke-2 ayat 113.
    “Dan orang-orang Yahudi berkata, “Orang-orang Nasrani tidak mempunyai suatu pegangan”, dan orang-orang Nasrani berkata, “Orang-orang Yahudi tidak mempunyai sesuatu pegangan”, padahal mereka (sama-sama) membaca Al-Kitab. Demikian pula orang-orang yang tidak mengetahui, mengatakan seperti ucapan mereka itu. Maka Allah akan mengadili di antara mereka pada hari kiamat, tentang apa-apa yang mereka berselisih padanya.”
      AL-Quran surah Ali Imran,surah ke-3 ayat 19.
      “Sesungguhnya agama (yang diridai) di sisi Allah hanya Islam. Tidak berselisih orang-orang yang telah diberi Al-Kitab, kecuali sesudah datang pengetahuan kepada mereka, karena kedengkian (yang ada) di antara mereka. Barangsiapa yang kafir terhadap ayat-ayat Allah maka sesungguhnya Allah sangat cepat hisab-Nya”.
      AL-Quran surah Ali Imran, surah ke-3 ayat 83.
       “Maka apakah mereka mencari agama yang lain dari agama Allah? Padahal kepada Allah berserah diri segala yang di langit dan di bumi dengan suka maupun terpaksa dan hanya kepada Allah mereka dikembalikan”.
      AL-Quran surah Ali Imran, surah ke-3 ayat 85. 
      “Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka tidak akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.”
      AL-Quran surah Ali Imran, surah ke-3 ayat 102. 
      “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya, dan kamu jangan mati melainkan dalam keadaan beragama Islam”.
      AL-Quran surah An-Nisa’, surah ke-4 ayat 125. 
      “Dan siapakah yang lebih baik agamanya daripada orang yang ikhlas menyerahkan dirinya kepada Allah, sedangkan dia mengerjakan kebaikan, dan dia mengikuti agama Ibrahim yang lurus? Dan Allah mengambil Ibrahim menjadi kesayangan-Nya”.
      AL-Quran surah Al-Maidah, surah ke-5 ayat 3. 
      “Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, (daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah, yang tercekik, yang dipukul, yang jatuh, yang ditanduk, dan yang diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu menyembelihnya, dan (diharamkan bagimu) yang disembelih untuk berhala. Dan (diharamkan juga) mengundi nasib dengan anak panah, (mengundi nasib dengan anak panah itu) adalah kefasikan. Pada hari ini orang-orang kafir telah putus asa untuk (mengalahkan) agamamu, sebab itu kamu jangan takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku. Pada hari ini telah Aku sempurnakan untukmu agamamu, dan telah Aku cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Aku ridai Islam menjadi agamamu.  Maka barangsiapa terpaksa karena kelaparan tanpa sengaja berbuat dosa, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”.
      AL-Quran surah Al-An’am, surah ke-6 ayat 14. 
      “Katakan, “Apakah saya akan menjadikan pelindung selain Allah yang menjadikan langit dan bumi, padahal Allah memberikan makan dan tidak diberi makan?” Katakan,”Sesungguhnya saya diperintah agar menjadi orang yang pertama  menyerahkan diri (kepada Allah), dan kamu jangan termasuk golongan orang-orang musyrik.”
      AL-Quran surah Al-An’am, surah ke-6 ayat 70. 
      “Dan tinggalkan orang-orang yang menjadikan agama mereka sebagai permainan dan senda-gurau, dan mereka telah ditipu oleh kehidupan dunia. Peringatkan (mereka) dengan Al-Quran agar masing-masing tidak dijerumuskan ke dalam neraka, karena perbuatannya sendiri. Tidak akan ada baginya pelindung dan tidak (pula) pemberi syafaat selain dari Allah. Dan jika dia menebus dengan segala macam tebusan, niscaya tidak akan diterima. Mereka orang-orang yang dijerumuskan ke dalam neraka, disebabkan perbuatan mereka sendiri. Bagi mereka (disediakan) minuman air yang mendidih dan azab yang pedih disebabkan kekafiran mereka dahulu”.
      AL-Quran surah Al-An’am, surah ke-6 ayat 125.
      “ Barangsiapa Allah menghendaki memberikan kepadanya petunjuk, niscaya Allah melapangkan dadanya untuk (memeluk agama) Islam. Dan barangsiapa yang dikehendaki Allah kesesatannya, niscaya Allah menjadikan dadanya sesak lagi sempit, seolah-olah dia sedang mendaki ke langit. Begitulah Allah menimpakan siksa kepada orang-orang yang tidak beriman”.
      AL-Quran surah Al-An’am, surah ke-6 ayat 161.
      “Katakan, “Sesungguhnya aku telah ditunjuki oleh Tuhanku kepada jalan yang lurus, (yaitu) agama yang benar, agama Ibrahim yang lurus, dan Ibrahim itu bukan termasuk orang-orang yang musyrik”.
      AL-Quran surah Al-An’am, surah ke-6 ayat 162.
      “Katakan, “Sesungguhnya salatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanya untuk Allah, Tuhan semesta alam.”
      AL-Quran surah Al-An’am, surah ke-27 ayat 91.
      “Aku hanya diperintahkan untuk menyembah Tuhan negeri ini (Mekah) Yang telah menjadikannya suci dan kepunyaan Allah segala sesuatu, dan aku diperintahkan agar aku termasuk orang-orang yang berserah diri”.
Daftar Pustaka
1. Hatta, DR. Ahmad. Tafsir Quran Per Kata, Dilengkapi dengan Asbabun Nuzul dan Terjemah. Penerbit Pustaka Maghfirah, Jakarta 2011.
2. Al-Quran Digital, Versi 3.2. Digital Qur’an Ver 3.2

212. DALIL

DALIL AL-QURAN TENTANG AGAMA ALLAH
Oleh: Drs. H. Yusron Hadi, M.M.
Kepala SMP Negeri 1 Balongbendo, Sidoarjo

     Beberapa orang bertanya,”Mohon dijelaskan dalil Al-Quran tentang agama Allah? Berikut ini penjelasannya.

      AL-Quran surah Al-Baqarah, surah ke-2 ayat 112.
      ”(Tidak demikian) bahkan barangsiapa yang menyerahkan diri kepada Allah, sedangkan dia berbuat kebajikan, maka baginya pahala pada sisi Tuhannya dan tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.”
      AL-Quran surah Al-Baqarah, surah ke-2 ayat 113.
    “Dan orang-orang Yahudi berkata, “Orang-orang Nasrani tidak mempunyai suatu pegangan”, dan orang-orang Nasrani berkata, “Orang-orang Yahudi tidak mempunyai sesuatu pegangan”, padahal mereka (sama-sama) membaca Al-Kitab. Demikian pula orang-orang yang tidak mengetahui, mengatakan seperti ucapan mereka itu. Maka Allah akan mengadili di antara mereka pada hari kiamat, tentang apa-apa yang mereka berselisih padanya.”
      AL-Quran surah Ali Imran,surah ke-3 ayat 19.
      “Sesungguhnya agama (yang diridai) di sisi Allah hanya Islam. Tidak berselisih orang-orang yang telah diberi Al-Kitab, kecuali sesudah datang pengetahuan kepada mereka, karena kedengkian (yang ada) di antara mereka. Barangsiapa yang kafir terhadap ayat-ayat Allah maka sesungguhnya Allah sangat cepat hisab-Nya”.
      AL-Quran surah Ali Imran, surah ke-3 ayat 83.
       “Maka apakah mereka mencari agama yang lain dari agama Allah? Padahal kepada Allah berserah diri segala yang di langit dan di bumi dengan suka maupun terpaksa dan hanya kepada Allah mereka dikembalikan”.
      AL-Quran surah Ali Imran, surah ke-3 ayat 85. 
      “Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka tidak akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.”
      AL-Quran surah Ali Imran, surah ke-3 ayat 102. 
      “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya, dan kamu jangan mati melainkan dalam keadaan beragama Islam”.
      AL-Quran surah An-Nisa’, surah ke-4 ayat 125. 
      “Dan siapakah yang lebih baik agamanya daripada orang yang ikhlas menyerahkan dirinya kepada Allah, sedangkan dia mengerjakan kebaikan, dan dia mengikuti agama Ibrahim yang lurus? Dan Allah mengambil Ibrahim menjadi kesayangan-Nya”.
      AL-Quran surah Al-Maidah, surah ke-5 ayat 3. 
      “Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, (daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah, yang tercekik, yang dipukul, yang jatuh, yang ditanduk, dan yang diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu menyembelihnya, dan (diharamkan bagimu) yang disembelih untuk berhala. Dan (diharamkan juga) mengundi nasib dengan anak panah, (mengundi nasib dengan anak panah itu) adalah kefasikan. Pada hari ini orang-orang kafir telah putus asa untuk (mengalahkan) agamamu, sebab itu kamu jangan takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku. Pada hari ini telah Aku sempurnakan untukmu agamamu, dan telah Aku cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Aku ridai Islam menjadi agamamu.  Maka barangsiapa terpaksa karena kelaparan tanpa sengaja berbuat dosa, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”.
      AL-Quran surah Al-An’am, surah ke-6 ayat 14. 
      “Katakan, “Apakah saya akan menjadikan pelindung selain Allah yang menjadikan langit dan bumi, padahal Allah memberikan makan dan tidak diberi makan?” Katakan,”Sesungguhnya saya diperintah agar menjadi orang yang pertama  menyerahkan diri (kepada Allah), dan kamu jangan termasuk golongan orang-orang musyrik.”
      AL-Quran surah Al-An’am, surah ke-6 ayat 70. 
      “Dan tinggalkan orang-orang yang menjadikan agama mereka sebagai permainan dan senda-gurau, dan mereka telah ditipu oleh kehidupan dunia. Peringatkan (mereka) dengan Al-Quran agar masing-masing tidak dijerumuskan ke dalam neraka, karena perbuatannya sendiri. Tidak akan ada baginya pelindung dan tidak (pula) pemberi syafaat selain dari Allah. Dan jika dia menebus dengan segala macam tebusan, niscaya tidak akan diterima. Mereka orang-orang yang dijerumuskan ke dalam neraka, disebabkan perbuatan mereka sendiri. Bagi mereka (disediakan) minuman air yang mendidih dan azab yang pedih disebabkan kekafiran mereka dahulu”.
      AL-Quran surah Al-An’am, surah ke-6 ayat 125.
      “ Barangsiapa Allah menghendaki memberikan kepadanya petunjuk, niscaya Allah melapangkan dadanya untuk (memeluk agama) Islam. Dan barangsiapa yang dikehendaki Allah kesesatannya, niscaya Allah menjadikan dadanya sesak lagi sempit, seolah-olah dia sedang mendaki ke langit. Begitulah Allah menimpakan siksa kepada orang-orang yang tidak beriman”.
      AL-Quran surah Al-An’am, surah ke-6 ayat 161.
      “Katakan, “Sesungguhnya aku telah ditunjuki oleh Tuhanku kepada jalan yang lurus, (yaitu) agama yang benar, agama Ibrahim yang lurus, dan Ibrahim itu bukan termasuk orang-orang yang musyrik”.
      AL-Quran surah Al-An’am, surah ke-6 ayat 162.
      “Katakan, “Sesungguhnya salatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanya untuk Allah, Tuhan semesta alam.”
      AL-Quran surah Al-An’am, surah ke-27 ayat 91.
      “Aku hanya diperintahkan untuk menyembah Tuhan negeri ini (Mekah) Yang telah menjadikannya suci dan kepunyaan Allah segala sesuatu, dan aku diperintahkan agar aku termasuk orang-orang yang berserah diri”.
Daftar Pustaka
1. Hatta, DR. Ahmad. Tafsir Quran Per Kata, Dilengkapi dengan Asbabun Nuzul dan Terjemah. Penerbit Pustaka Maghfirah, Jakarta 2011.
2. Al-Quran Digital, Versi 3.2. Digital Qur’an Ver 3.2

212. DALIL

DALIL AL-QURAN TENTANG AGAMA ALLAH
Oleh: Drs. H. Yusron Hadi, M.M.
Kepala SMP Negeri 1 Balongbendo, Sidoarjo

     Beberapa orang bertanya,”Mohon dijelaskan dalil Al-Quran tentang agama Allah? Berikut ini penjelasannya.

      AL-Quran surah Al-Baqarah, surah ke-2 ayat 112.
      ”(Tidak demikian) bahkan barangsiapa yang menyerahkan diri kepada Allah, sedangkan dia berbuat kebajikan, maka baginya pahala pada sisi Tuhannya dan tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.”
      AL-Quran surah Al-Baqarah, surah ke-2 ayat 113.
    “Dan orang-orang Yahudi berkata, “Orang-orang Nasrani tidak mempunyai suatu pegangan”, dan orang-orang Nasrani berkata, “Orang-orang Yahudi tidak mempunyai sesuatu pegangan”, padahal mereka (sama-sama) membaca Al-Kitab. Demikian pula orang-orang yang tidak mengetahui, mengatakan seperti ucapan mereka itu. Maka Allah akan mengadili di antara mereka pada hari kiamat, tentang apa-apa yang mereka berselisih padanya.”
      AL-Quran surah Ali Imran,surah ke-3 ayat 19.
      “Sesungguhnya agama (yang diridai) di sisi Allah hanya Islam. Tidak berselisih orang-orang yang telah diberi Al-Kitab, kecuali sesudah datang pengetahuan kepada mereka, karena kedengkian (yang ada) di antara mereka. Barangsiapa yang kafir terhadap ayat-ayat Allah maka sesungguhnya Allah sangat cepat hisab-Nya”.
      AL-Quran surah Ali Imran, surah ke-3 ayat 83.
       “Maka apakah mereka mencari agama yang lain dari agama Allah? Padahal kepada Allah berserah diri segala yang di langit dan di bumi dengan suka maupun terpaksa dan hanya kepada Allah mereka dikembalikan”.
      AL-Quran surah Ali Imran, surah ke-3 ayat 85. 
      “Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka tidak akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.”
      AL-Quran surah Ali Imran, surah ke-3 ayat 102. 
      “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya, dan kamu jangan mati melainkan dalam keadaan beragama Islam”.
      AL-Quran surah An-Nisa’, surah ke-4 ayat 125. 
      “Dan siapakah yang lebih baik agamanya daripada orang yang ikhlas menyerahkan dirinya kepada Allah, sedangkan dia mengerjakan kebaikan, dan dia mengikuti agama Ibrahim yang lurus? Dan Allah mengambil Ibrahim menjadi kesayangan-Nya”.
      AL-Quran surah Al-Maidah, surah ke-5 ayat 3. 
      “Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, (daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah, yang tercekik, yang dipukul, yang jatuh, yang ditanduk, dan yang diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu menyembelihnya, dan (diharamkan bagimu) yang disembelih untuk berhala. Dan (diharamkan juga) mengundi nasib dengan anak panah, (mengundi nasib dengan anak panah itu) adalah kefasikan. Pada hari ini orang-orang kafir telah putus asa untuk (mengalahkan) agamamu, sebab itu kamu jangan takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku. Pada hari ini telah Aku sempurnakan untukmu agamamu, dan telah Aku cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Aku ridai Islam menjadi agamamu.  Maka barangsiapa terpaksa karena kelaparan tanpa sengaja berbuat dosa, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”.
      AL-Quran surah Al-An’am, surah ke-6 ayat 14. 
      “Katakan, “Apakah saya akan menjadikan pelindung selain Allah yang menjadikan langit dan bumi, padahal Allah memberikan makan dan tidak diberi makan?” Katakan,”Sesungguhnya saya diperintah agar menjadi orang yang pertama  menyerahkan diri (kepada Allah), dan kamu jangan termasuk golongan orang-orang musyrik.”
      AL-Quran surah Al-An’am, surah ke-6 ayat 70. 
      “Dan tinggalkan orang-orang yang menjadikan agama mereka sebagai permainan dan senda-gurau, dan mereka telah ditipu oleh kehidupan dunia. Peringatkan (mereka) dengan Al-Quran agar masing-masing tidak dijerumuskan ke dalam neraka, karena perbuatannya sendiri. Tidak akan ada baginya pelindung dan tidak (pula) pemberi syafaat selain dari Allah. Dan jika dia menebus dengan segala macam tebusan, niscaya tidak akan diterima. Mereka orang-orang yang dijerumuskan ke dalam neraka, disebabkan perbuatan mereka sendiri. Bagi mereka (disediakan) minuman air yang mendidih dan azab yang pedih disebabkan kekafiran mereka dahulu”.
      AL-Quran surah Al-An’am, surah ke-6 ayat 125.
      “ Barangsiapa Allah menghendaki memberikan kepadanya petunjuk, niscaya Allah melapangkan dadanya untuk (memeluk agama) Islam. Dan barangsiapa yang dikehendaki Allah kesesatannya, niscaya Allah menjadikan dadanya sesak lagi sempit, seolah-olah dia sedang mendaki ke langit. Begitulah Allah menimpakan siksa kepada orang-orang yang tidak beriman”.
      AL-Quran surah Al-An’am, surah ke-6 ayat 161.
      “Katakan, “Sesungguhnya aku telah ditunjuki oleh Tuhanku kepada jalan yang lurus, (yaitu) agama yang benar, agama Ibrahim yang lurus, dan Ibrahim itu bukan termasuk orang-orang yang musyrik”.
      AL-Quran surah Al-An’am, surah ke-6 ayat 162.
      “Katakan, “Sesungguhnya salatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanya untuk Allah, Tuhan semesta alam.”
      AL-Quran surah Al-An’am, surah ke-27 ayat 91.
      “Aku hanya diperintahkan untuk menyembah Tuhan negeri ini (Mekah) Yang telah menjadikannya suci dan kepunyaan Allah segala sesuatu, dan aku diperintahkan agar aku termasuk orang-orang yang berserah diri”.
Daftar Pustaka
1. Hatta, DR. Ahmad. Tafsir Quran Per Kata, Dilengkapi dengan Asbabun Nuzul dan Terjemah. Penerbit Pustaka Maghfirah, Jakarta 2011.
2. Al-Quran Digital, Versi 3.2. Digital Qur’an Ver 3.2

211. JUMAT

SALAT JUMAT MENURUT EMPAT MAZHAB
Oleh: Drs. H. Yusron Hadi, M.M.
Kepala SMP Negeri 1 Balongbendo, Sidoarjo


      Beberapa orang bertanya,”Bagaimana cara salat Jumat menurut 4 mazhab? Mohon dijelaskan cara salat Jumat menurut 4 mazhab? Berikut ini penjelasannya
      Ajaran Islam bersumber kepada Al-Quran dan Sunah, serta memiliki beberapa cabang ilmu, salah satunya “Ilmu Fikih”.
     Ilmu Fikih mempelajari tentang Hukum Islam. Dunia Islam mengenal 4 mazhab terbesar, yaitu Mazhab Hanafi, Maliki, Syafii, dan Hambali.
       Mazhab adalah haluan atau aliran mengenai hukum fikih yang menjadi ikutan umat Islam.
      Masing-masing mazhab mempunyai “karakter” dan “keistimewaan” tersendiri. Mazhab Hanafi didirikan oleh Nukman bin Tsabit, yang lahir tahun 89 Hijriah, dan wafat tahun 150 Hijirah. Nukman bin Tsabit seorang guru besar ilmu fikih di Irak.
      Mazhab Maliki didirikan oleh Imam Malik bin Anas, yang lahir tahun 93 Hijriah, dan wafat tahun 179 Hijriah. Imam Malik bin Anas berasal dari Madinah.
     Mazhab Syafii didirikan oleh Muhammad bin Idris, yang lahir tahun 150 Hijriah, dan wafat tahun 200 Hijirah. Muhammad bin Idris berasal dari Gaza, Palestina.
     Mazhab Hambali didirikan oleh Ahmad bin Hambal, yang lahir tahun 164 Hijriah, dan wafat tahun 241 Hijriah. Ahmad bin Hambal berasal dari Baghdad, Irak.
    Semua mazhab sepakat dasar hukum salat Jumat adalah Al-Quran surah Al-Jumuah, surah ke-62 ayat 9.
   “Hai orang-orang yang beriman, apabila diseru untuk menunaikan salat Jumat, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkan jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui.”
    Lokasi atau tempat salat Jumat. Menurut Imam Hanafi, Syafii, Hambali lokasi atau tempat melakukan salat Jumat boleh dikerjakan di masjid, dan boleh dilaksanakan di tempat lain, selain masjid.
     Sedangkan menurut Imam Maliki salat Jumat harus dilaksanakan di masjid dan dilarang dilakukan di tempat selain masjid.
    Jumlah minimal Jamaah salat Jumat. Menurut Imam Hanafi jumlah jamaah salat Jumat minimal 5 orang termasuk imam, dan menurut Imam Maliki jumlah jamaah salat Jumat minimal 13 orang termasuk imam.
      Menurut Imam Hambali dan Syafii jumlah jamaah salat Jumat minimal 41 orang termasuk imam.
    Posisi khatib ketika sedang berkhutbah. Menurut Imam Maliki dan  Syafii ketika khatib sedang berkhutbah Jumat, maka seorang khatib wajib berdiri. Menurut Imam Hanafi dan Hambali ketika khatib sedang berkhutbah Jumat, maka seorang khatib tidak wajib berdiri
    Materi minimal yang disampaikan seorang khatib ketika berkhutbah Jumat. Menurut Imam Hanafi seorang khatib ketika berkhutbah salat Jumat minimal membacakan “hamdalah” dan “istighfar”.
    Menurut Imam Maliki seorang khatib ketika berkhutbah salat Jumat minimal mengucapkan pesan takwa kepada Allah.
    Menurut Imam Syafii seorang khatib ketika berkhutbah salat Jumat, pada khutbah pertama minimal menyampaikan “hamdalah”, “selawat Nabi”, pesan takwa, dan membacakan ayat Al-Quran. Pada khutbah kedua minimal mengucapkan “hamdalah”, selawat Nabi, pesan takwa, dan doa untuk semua umat Islam.
      Menurut Imam Hambali seorang khatib ketika berkhutbah salat Jumat minimal mengucapkan “hamdalah”, selawat Nabi, pesan takwa, dan membacakan ayat Al-Quran.
    Posisi khatib ketika duduk di antara dua khutbah Jumat. Menurut Imam Maliki, dan Hanafi, khatib saat Jumat tidak wajib duduk di antara dua khutbah.
      Menurut Imam Syafii, khatib salat Jumat wajib duduk sebentar di antara dua khutbah. Imam Hambali menyatakan khatib boleh duduk atau tidak duduk di antara dua khutbah.
    Bahasa yang digunakan khatib ketika berkhutbah Jumat. Menurut Imam Maliki, ketika khatib berkhutbah Jumat, maka khatib wajib menggunakan bahasa Arab. Menurut Imam  Hanafi, Syafii, dan Hambali, khatib tidak wajib menggunakan bahasa Arab ketika berkhutbah.
      Bacaan surat Al-Quran setelah membaca surah Al-Fatihah dalam salat Jumat. Menurut Imam Maliki pada rakaat pertama, imam salat Jumat harus membaca surah Al-Jumuah atau surah ke-62. Sedangkan pada rakaat kedua, imam harus membaca surah  Al-Ghosiyah, surah ke-88, setelah membaca surah Al-Fatihah.
     Menurut Imam Syafii pada rakaat pertama, imam salat Jumat harus membaca surah Al-Jumuah atau surah ke-62. Sedangkan pada rakaat kedua, imam harus membaca surah  Al-Munafikun, surah ke-63, setelah membaca surah Al-Fatihah.
       Menurut Imam Hanafi, hukumnya makruh, jika imam salat Jumat, ditentukan bacaan suratnya, setelah membaca surah Al-Fatihah.
     Wajib adalah perbuatan yang harus dilakukan, dan tidak boleh ditinggalkan. Sunah adalah perbuatan apabila dilakukan mendapatkan pahala dan apabila tidak dikerjakan tidak berdosa.
     Mubah adalah perbuatan yang boleh dilakukan dan boleh tidak dikerjakan. Makruh adalah perbuatan yang dianjurkan untuk ditinggalkan, tetapi tidak berdosa apabila dikerjakan. Haram adalah perbuatan yang terlarang untuk dikerjakan.
Daftar Pustaka.
1. Mughniyah, Muhammad Jawad. Fiqih 5 mazhab, Muhammad Jawad Mughniyah. Penerbit Lentera Jakarta, 2007)
2. Asy-Syinawi, Abdul Aziz. Biografi Empat Mazhab. Penerbit Beirut Publishing. Ummul Qura. Jakarta, 2013.

211. JUMAT

SALAT JUMAT MENURUT EMPAT MAZHAB
Oleh: Drs. H. Yusron Hadi, M.M.
Kepala SMP Negeri 1 Balongbendo, Sidoarjo


      Beberapa orang bertanya,”Bagaimana cara salat Jumat menurut 4 mazhab? Mohon dijelaskan cara salat Jumat menurut 4 mazhab? Berikut ini penjelasannya
      Ajaran Islam bersumber kepada Al-Quran dan Sunah, serta memiliki beberapa cabang ilmu, salah satunya “Ilmu Fikih”.
     Ilmu Fikih mempelajari tentang Hukum Islam. Dunia Islam mengenal 4 mazhab terbesar, yaitu Mazhab Hanafi, Maliki, Syafii, dan Hambali.
       Mazhab adalah haluan atau aliran mengenai hukum fikih yang menjadi ikutan umat Islam.
      Masing-masing mazhab mempunyai “karakter” dan “keistimewaan” tersendiri. Mazhab Hanafi didirikan oleh Nukman bin Tsabit, yang lahir tahun 89 Hijriah, dan wafat tahun 150 Hijirah. Nukman bin Tsabit seorang guru besar ilmu fikih di Irak.
      Mazhab Maliki didirikan oleh Imam Malik bin Anas, yang lahir tahun 93 Hijriah, dan wafat tahun 179 Hijriah. Imam Malik bin Anas berasal dari Madinah.
     Mazhab Syafii didirikan oleh Muhammad bin Idris, yang lahir tahun 150 Hijriah, dan wafat tahun 200 Hijirah. Muhammad bin Idris berasal dari Gaza, Palestina.
     Mazhab Hambali didirikan oleh Ahmad bin Hambal, yang lahir tahun 164 Hijriah, dan wafat tahun 241 Hijriah. Ahmad bin Hambal berasal dari Baghdad, Irak.
    Semua mazhab sepakat dasar hukum salat Jumat adalah Al-Quran surah Al-Jumuah, surah ke-62 ayat 9.
   “Hai orang-orang yang beriman, apabila diseru untuk menunaikan salat Jumat, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkan jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui.”
    Lokasi atau tempat salat Jumat. Menurut Imam Hanafi, Syafii, Hambali lokasi atau tempat melakukan salat Jumat boleh dikerjakan di masjid, dan boleh dilaksanakan di tempat lain, selain masjid.
     Sedangkan menurut Imam Maliki salat Jumat harus dilaksanakan di masjid dan dilarang dilakukan di tempat selain masjid.
    Jumlah minimal Jamaah salat Jumat. Menurut Imam Hanafi jumlah jamaah salat Jumat minimal 5 orang termasuk imam, dan menurut Imam Maliki jumlah jamaah salat Jumat minimal 13 orang termasuk imam.
      Menurut Imam Hambali dan Syafii jumlah jamaah salat Jumat minimal 41 orang termasuk imam.
    Posisi khatib ketika sedang berkhutbah. Menurut Imam Maliki dan  Syafii ketika khatib sedang berkhutbah Jumat, maka seorang khatib wajib berdiri. Menurut Imam Hanafi dan Hambali ketika khatib sedang berkhutbah Jumat, maka seorang khatib tidak wajib berdiri
    Materi minimal yang disampaikan seorang khatib ketika berkhutbah Jumat. Menurut Imam Hanafi seorang khatib ketika berkhutbah salat Jumat minimal membacakan “hamdalah” dan “istighfar”.
    Menurut Imam Maliki seorang khatib ketika berkhutbah salat Jumat minimal mengucapkan pesan takwa kepada Allah.
    Menurut Imam Syafii seorang khatib ketika berkhutbah salat Jumat, pada khutbah pertama minimal menyampaikan “hamdalah”, “selawat Nabi”, pesan takwa, dan membacakan ayat Al-Quran. Pada khutbah kedua minimal mengucapkan “hamdalah”, selawat Nabi, pesan takwa, dan doa untuk semua umat Islam.
      Menurut Imam Hambali seorang khatib ketika berkhutbah salat Jumat minimal mengucapkan “hamdalah”, selawat Nabi, pesan takwa, dan membacakan ayat Al-Quran.
    Posisi khatib ketika duduk di antara dua khutbah Jumat. Menurut Imam Maliki, dan Hanafi, khatib saat Jumat tidak wajib duduk di antara dua khutbah.
      Menurut Imam Syafii, khatib salat Jumat wajib duduk sebentar di antara dua khutbah. Imam Hambali menyatakan khatib boleh duduk atau tidak duduk di antara dua khutbah.
    Bahasa yang digunakan khatib ketika berkhutbah Jumat. Menurut Imam Maliki, ketika khatib berkhutbah Jumat, maka khatib wajib menggunakan bahasa Arab. Menurut Imam  Hanafi, Syafii, dan Hambali, khatib tidak wajib menggunakan bahasa Arab ketika berkhutbah.
      Bacaan surat Al-Quran setelah membaca surah Al-Fatihah dalam salat Jumat. Menurut Imam Maliki pada rakaat pertama, imam salat Jumat harus membaca surah Al-Jumuah atau surah ke-62. Sedangkan pada rakaat kedua, imam harus membaca surah  Al-Ghosiyah, surah ke-88, setelah membaca surah Al-Fatihah.
     Menurut Imam Syafii pada rakaat pertama, imam salat Jumat harus membaca surah Al-Jumuah atau surah ke-62. Sedangkan pada rakaat kedua, imam harus membaca surah  Al-Munafikun, surah ke-63, setelah membaca surah Al-Fatihah.
       Menurut Imam Hanafi, hukumnya makruh, jika imam salat Jumat, ditentukan bacaan suratnya, setelah membaca surah Al-Fatihah.
     Wajib adalah perbuatan yang harus dilakukan, dan tidak boleh ditinggalkan. Sunah adalah perbuatan apabila dilakukan mendapatkan pahala dan apabila tidak dikerjakan tidak berdosa.
     Mubah adalah perbuatan yang boleh dilakukan dan boleh tidak dikerjakan. Makruh adalah perbuatan yang dianjurkan untuk ditinggalkan, tetapi tidak berdosa apabila dikerjakan. Haram adalah perbuatan yang terlarang untuk dikerjakan.
Daftar Pustaka.
1. Mughniyah, Muhammad Jawad. Fiqih 5 mazhab, Muhammad Jawad Mughniyah. Penerbit Lentera Jakarta, 2007)
2. Asy-Syinawi, Abdul Aziz. Biografi Empat Mazhab. Penerbit Beirut Publishing. Ummul Qura. Jakarta, 2013.

211. JUMAT

SALAT JUMAT MENURUT EMPAT MAZHAB
Oleh: Drs. H. Yusron Hadi, M.M.
Kepala SMP Negeri 1 Balongbendo, Sidoarjo


      Beberapa orang bertanya,”Bagaimana cara salat Jumat menurut 4 mazhab? Mohon dijelaskan cara salat Jumat menurut 4 mazhab? Berikut ini penjelasannya
      Ajaran Islam bersumber kepada Al-Quran dan Sunah, serta memiliki beberapa cabang ilmu, salah satunya “Ilmu Fikih”.
     Ilmu Fikih mempelajari tentang Hukum Islam. Dunia Islam mengenal 4 mazhab terbesar, yaitu Mazhab Hanafi, Maliki, Syafii, dan Hambali.
       Mazhab adalah haluan atau aliran mengenai hukum fikih yang menjadi ikutan umat Islam.
      Masing-masing mazhab mempunyai “karakter” dan “keistimewaan” tersendiri. Mazhab Hanafi didirikan oleh Nukman bin Tsabit, yang lahir tahun 89 Hijriah, dan wafat tahun 150 Hijirah. Nukman bin Tsabit seorang guru besar ilmu fikih di Irak.
      Mazhab Maliki didirikan oleh Imam Malik bin Anas, yang lahir tahun 93 Hijriah, dan wafat tahun 179 Hijriah. Imam Malik bin Anas berasal dari Madinah.
     Mazhab Syafii didirikan oleh Muhammad bin Idris, yang lahir tahun 150 Hijriah, dan wafat tahun 200 Hijirah. Muhammad bin Idris berasal dari Gaza, Palestina.
     Mazhab Hambali didirikan oleh Ahmad bin Hambal, yang lahir tahun 164 Hijriah, dan wafat tahun 241 Hijriah. Ahmad bin Hambal berasal dari Baghdad, Irak.
    Semua mazhab sepakat dasar hukum salat Jumat adalah Al-Quran surah Al-Jumuah, surah ke-62 ayat 9.
   “Hai orang-orang yang beriman, apabila diseru untuk menunaikan salat Jumat, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkan jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui.”
    Lokasi atau tempat salat Jumat. Menurut Imam Hanafi, Syafii, Hambali lokasi atau tempat melakukan salat Jumat boleh dikerjakan di masjid, dan boleh dilaksanakan di tempat lain, selain masjid.
     Sedangkan menurut Imam Maliki salat Jumat harus dilaksanakan di masjid dan dilarang dilakukan di tempat selain masjid.
    Jumlah minimal Jamaah salat Jumat. Menurut Imam Hanafi jumlah jamaah salat Jumat minimal 5 orang termasuk imam, dan menurut Imam Maliki jumlah jamaah salat Jumat minimal 13 orang termasuk imam.
      Menurut Imam Hambali dan Syafii jumlah jamaah salat Jumat minimal 41 orang termasuk imam.
    Posisi khatib ketika sedang berkhutbah. Menurut Imam Maliki dan  Syafii ketika khatib sedang berkhutbah Jumat, maka seorang khatib wajib berdiri. Menurut Imam Hanafi dan Hambali ketika khatib sedang berkhutbah Jumat, maka seorang khatib tidak wajib berdiri
    Materi minimal yang disampaikan seorang khatib ketika berkhutbah Jumat. Menurut Imam Hanafi seorang khatib ketika berkhutbah salat Jumat minimal membacakan “hamdalah” dan “istighfar”.
    Menurut Imam Maliki seorang khatib ketika berkhutbah salat Jumat minimal mengucapkan pesan takwa kepada Allah.
    Menurut Imam Syafii seorang khatib ketika berkhutbah salat Jumat, pada khutbah pertama minimal menyampaikan “hamdalah”, “selawat Nabi”, pesan takwa, dan membacakan ayat Al-Quran. Pada khutbah kedua minimal mengucapkan “hamdalah”, selawat Nabi, pesan takwa, dan doa untuk semua umat Islam.
      Menurut Imam Hambali seorang khatib ketika berkhutbah salat Jumat minimal mengucapkan “hamdalah”, selawat Nabi, pesan takwa, dan membacakan ayat Al-Quran.
    Posisi khatib ketika duduk di antara dua khutbah Jumat. Menurut Imam Maliki, dan Hanafi, khatib saat Jumat tidak wajib duduk di antara dua khutbah.
      Menurut Imam Syafii, khatib salat Jumat wajib duduk sebentar di antara dua khutbah. Imam Hambali menyatakan khatib boleh duduk atau tidak duduk di antara dua khutbah.
    Bahasa yang digunakan khatib ketika berkhutbah Jumat. Menurut Imam Maliki, ketika khatib berkhutbah Jumat, maka khatib wajib menggunakan bahasa Arab. Menurut Imam  Hanafi, Syafii, dan Hambali, khatib tidak wajib menggunakan bahasa Arab ketika berkhutbah.
      Bacaan surat Al-Quran setelah membaca surah Al-Fatihah dalam salat Jumat. Menurut Imam Maliki pada rakaat pertama, imam salat Jumat harus membaca surah Al-Jumuah atau surah ke-62. Sedangkan pada rakaat kedua, imam harus membaca surah  Al-Ghosiyah, surah ke-88, setelah membaca surah Al-Fatihah.
     Menurut Imam Syafii pada rakaat pertama, imam salat Jumat harus membaca surah Al-Jumuah atau surah ke-62. Sedangkan pada rakaat kedua, imam harus membaca surah  Al-Munafikun, surah ke-63, setelah membaca surah Al-Fatihah.
       Menurut Imam Hanafi, hukumnya makruh, jika imam salat Jumat, ditentukan bacaan suratnya, setelah membaca surah Al-Fatihah.
     Wajib adalah perbuatan yang harus dilakukan, dan tidak boleh ditinggalkan. Sunah adalah perbuatan apabila dilakukan mendapatkan pahala dan apabila tidak dikerjakan tidak berdosa.
     Mubah adalah perbuatan yang boleh dilakukan dan boleh tidak dikerjakan. Makruh adalah perbuatan yang dianjurkan untuk ditinggalkan, tetapi tidak berdosa apabila dikerjakan. Haram adalah perbuatan yang terlarang untuk dikerjakan.
Daftar Pustaka.
1. Mughniyah, Muhammad Jawad. Fiqih 5 mazhab, Muhammad Jawad Mughniyah. Penerbit Lentera Jakarta, 2007)
2. Asy-Syinawi, Abdul Aziz. Biografi Empat Mazhab. Penerbit Beirut Publishing. Ummul Qura. Jakarta, 2013.

211. JUMAT

SALAT JUMAT MENURUT EMPAT MAZHAB
Oleh: Drs. H. Yusron Hadi, M.M.
Kepala SMP Negeri 1 Balongbendo, Sidoarjo


      Beberapa orang bertanya,”Bagaimana cara salat Jumat menurut 4 mazhab? Mohon dijelaskan cara salat Jumat menurut 4 mazhab? Berikut ini penjelasannya
      Ajaran Islam bersumber kepada Al-Quran dan Sunah, serta memiliki beberapa cabang ilmu, salah satunya “Ilmu Fikih”.
     Ilmu Fikih mempelajari tentang Hukum Islam. Dunia Islam mengenal 4 mazhab terbesar, yaitu Mazhab Hanafi, Maliki, Syafii, dan Hambali.
       Mazhab adalah haluan atau aliran mengenai hukum fikih yang menjadi ikutan umat Islam.
      Masing-masing mazhab mempunyai “karakter” dan “keistimewaan” tersendiri. Mazhab Hanafi didirikan oleh Nukman bin Tsabit, yang lahir tahun 89 Hijriah, dan wafat tahun 150 Hijirah. Nukman bin Tsabit seorang guru besar ilmu fikih di Irak.
      Mazhab Maliki didirikan oleh Imam Malik bin Anas, yang lahir tahun 93 Hijriah, dan wafat tahun 179 Hijriah. Imam Malik bin Anas berasal dari Madinah.
     Mazhab Syafii didirikan oleh Muhammad bin Idris, yang lahir tahun 150 Hijriah, dan wafat tahun 200 Hijirah. Muhammad bin Idris berasal dari Gaza, Palestina.
     Mazhab Hambali didirikan oleh Ahmad bin Hambal, yang lahir tahun 164 Hijriah, dan wafat tahun 241 Hijriah. Ahmad bin Hambal berasal dari Baghdad, Irak.
    Semua mazhab sepakat dasar hukum salat Jumat adalah Al-Quran surah Al-Jumuah, surah ke-62 ayat 9.
   “Hai orang-orang yang beriman, apabila diseru untuk menunaikan salat Jumat, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkan jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui.”
    Lokasi atau tempat salat Jumat. Menurut Imam Hanafi, Syafii, Hambali lokasi atau tempat melakukan salat Jumat boleh dikerjakan di masjid, dan boleh dilaksanakan di tempat lain, selain masjid.
     Sedangkan menurut Imam Maliki salat Jumat harus dilaksanakan di masjid dan dilarang dilakukan di tempat selain masjid.
    Jumlah minimal Jamaah salat Jumat. Menurut Imam Hanafi jumlah jamaah salat Jumat minimal 5 orang termasuk imam, dan menurut Imam Maliki jumlah jamaah salat Jumat minimal 13 orang termasuk imam.
      Menurut Imam Hambali dan Syafii jumlah jamaah salat Jumat minimal 41 orang termasuk imam.
    Posisi khatib ketika sedang berkhutbah. Menurut Imam Maliki dan  Syafii ketika khatib sedang berkhutbah Jumat, maka seorang khatib wajib berdiri. Menurut Imam Hanafi dan Hambali ketika khatib sedang berkhutbah Jumat, maka seorang khatib tidak wajib berdiri
    Materi minimal yang disampaikan seorang khatib ketika berkhutbah Jumat. Menurut Imam Hanafi seorang khatib ketika berkhutbah salat Jumat minimal membacakan “hamdalah” dan “istighfar”.
    Menurut Imam Maliki seorang khatib ketika berkhutbah salat Jumat minimal mengucapkan pesan takwa kepada Allah.
    Menurut Imam Syafii seorang khatib ketika berkhutbah salat Jumat, pada khutbah pertama minimal menyampaikan “hamdalah”, “selawat Nabi”, pesan takwa, dan membacakan ayat Al-Quran. Pada khutbah kedua minimal mengucapkan “hamdalah”, selawat Nabi, pesan takwa, dan doa untuk semua umat Islam.
      Menurut Imam Hambali seorang khatib ketika berkhutbah salat Jumat minimal mengucapkan “hamdalah”, selawat Nabi, pesan takwa, dan membacakan ayat Al-Quran.
    Posisi khatib ketika duduk di antara dua khutbah Jumat. Menurut Imam Maliki, dan Hanafi, khatib saat Jumat tidak wajib duduk di antara dua khutbah.
      Menurut Imam Syafii, khatib salat Jumat wajib duduk sebentar di antara dua khutbah. Imam Hambali menyatakan khatib boleh duduk atau tidak duduk di antara dua khutbah.
    Bahasa yang digunakan khatib ketika berkhutbah Jumat. Menurut Imam Maliki, ketika khatib berkhutbah Jumat, maka khatib wajib menggunakan bahasa Arab. Menurut Imam  Hanafi, Syafii, dan Hambali, khatib tidak wajib menggunakan bahasa Arab ketika berkhutbah.
      Bacaan surat Al-Quran setelah membaca surah Al-Fatihah dalam salat Jumat. Menurut Imam Maliki pada rakaat pertama, imam salat Jumat harus membaca surah Al-Jumuah atau surah ke-62. Sedangkan pada rakaat kedua, imam harus membaca surah  Al-Ghosiyah, surah ke-88, setelah membaca surah Al-Fatihah.
     Menurut Imam Syafii pada rakaat pertama, imam salat Jumat harus membaca surah Al-Jumuah atau surah ke-62. Sedangkan pada rakaat kedua, imam harus membaca surah  Al-Munafikun, surah ke-63, setelah membaca surah Al-Fatihah.
       Menurut Imam Hanafi, hukumnya makruh, jika imam salat Jumat, ditentukan bacaan suratnya, setelah membaca surah Al-Fatihah.
     Wajib adalah perbuatan yang harus dilakukan, dan tidak boleh ditinggalkan. Sunah adalah perbuatan apabila dilakukan mendapatkan pahala dan apabila tidak dikerjakan tidak berdosa.
     Mubah adalah perbuatan yang boleh dilakukan dan boleh tidak dikerjakan. Makruh adalah perbuatan yang dianjurkan untuk ditinggalkan, tetapi tidak berdosa apabila dikerjakan. Haram adalah perbuatan yang terlarang untuk dikerjakan.
Daftar Pustaka.
1. Mughniyah, Muhammad Jawad. Fiqih 5 mazhab, Muhammad Jawad Mughniyah. Penerbit Lentera Jakarta, 2007)
2. Asy-Syinawi, Abdul Aziz. Biografi Empat Mazhab. Penerbit Beirut Publishing. Ummul Qura. Jakarta, 2013.

211. JUMAT

SALAT JUMAT MENURUT EMPAT MAZHAB
Oleh: Drs. H. Yusron Hadi, M.M.
Kepala SMP Negeri 1 Balongbendo, Sidoarjo


      Beberapa orang bertanya,”Bagaimana cara salat Jumat menurut 4 mazhab? Mohon dijelaskan cara salat Jumat menurut 4 mazhab? Berikut ini penjelasannya
      Ajaran Islam bersumber kepada Al-Quran dan Sunah, serta memiliki beberapa cabang ilmu, salah satunya “Ilmu Fikih”.
     Ilmu Fikih mempelajari tentang Hukum Islam. Dunia Islam mengenal 4 mazhab terbesar, yaitu Mazhab Hanafi, Maliki, Syafii, dan Hambali.
       Mazhab adalah haluan atau aliran mengenai hukum fikih yang menjadi ikutan umat Islam.
      Masing-masing mazhab mempunyai “karakter” dan “keistimewaan” tersendiri. Mazhab Hanafi didirikan oleh Nukman bin Tsabit, yang lahir tahun 89 Hijriah, dan wafat tahun 150 Hijirah. Nukman bin Tsabit seorang guru besar ilmu fikih di Irak.
      Mazhab Maliki didirikan oleh Imam Malik bin Anas, yang lahir tahun 93 Hijriah, dan wafat tahun 179 Hijriah. Imam Malik bin Anas berasal dari Madinah.
     Mazhab Syafii didirikan oleh Muhammad bin Idris, yang lahir tahun 150 Hijriah, dan wafat tahun 200 Hijirah. Muhammad bin Idris berasal dari Gaza, Palestina.
     Mazhab Hambali didirikan oleh Ahmad bin Hambal, yang lahir tahun 164 Hijriah, dan wafat tahun 241 Hijriah. Ahmad bin Hambal berasal dari Baghdad, Irak.
    Semua mazhab sepakat dasar hukum salat Jumat adalah Al-Quran surah Al-Jumuah, surah ke-62 ayat 9.
   “Hai orang-orang yang beriman, apabila diseru untuk menunaikan salat Jumat, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkan jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui.”
    Lokasi atau tempat salat Jumat. Menurut Imam Hanafi, Syafii, Hambali lokasi atau tempat melakukan salat Jumat boleh dikerjakan di masjid, dan boleh dilaksanakan di tempat lain, selain masjid.
     Sedangkan menurut Imam Maliki salat Jumat harus dilaksanakan di masjid dan dilarang dilakukan di tempat selain masjid.
    Jumlah minimal Jamaah salat Jumat. Menurut Imam Hanafi jumlah jamaah salat Jumat minimal 5 orang termasuk imam, dan menurut Imam Maliki jumlah jamaah salat Jumat minimal 13 orang termasuk imam.
      Menurut Imam Hambali dan Syafii jumlah jamaah salat Jumat minimal 41 orang termasuk imam.
    Posisi khatib ketika sedang berkhutbah. Menurut Imam Maliki dan  Syafii ketika khatib sedang berkhutbah Jumat, maka seorang khatib wajib berdiri. Menurut Imam Hanafi dan Hambali ketika khatib sedang berkhutbah Jumat, maka seorang khatib tidak wajib berdiri
    Materi minimal yang disampaikan seorang khatib ketika berkhutbah Jumat. Menurut Imam Hanafi seorang khatib ketika berkhutbah salat Jumat minimal membacakan “hamdalah” dan “istighfar”.
    Menurut Imam Maliki seorang khatib ketika berkhutbah salat Jumat minimal mengucapkan pesan takwa kepada Allah.
    Menurut Imam Syafii seorang khatib ketika berkhutbah salat Jumat, pada khutbah pertama minimal menyampaikan “hamdalah”, “selawat Nabi”, pesan takwa, dan membacakan ayat Al-Quran. Pada khutbah kedua minimal mengucapkan “hamdalah”, selawat Nabi, pesan takwa, dan doa untuk semua umat Islam.
      Menurut Imam Hambali seorang khatib ketika berkhutbah salat Jumat minimal mengucapkan “hamdalah”, selawat Nabi, pesan takwa, dan membacakan ayat Al-Quran.
    Posisi khatib ketika duduk di antara dua khutbah Jumat. Menurut Imam Maliki, dan Hanafi, khatib saat Jumat tidak wajib duduk di antara dua khutbah.
      Menurut Imam Syafii, khatib salat Jumat wajib duduk sebentar di antara dua khutbah. Imam Hambali menyatakan khatib boleh duduk atau tidak duduk di antara dua khutbah.
    Bahasa yang digunakan khatib ketika berkhutbah Jumat. Menurut Imam Maliki, ketika khatib berkhutbah Jumat, maka khatib wajib menggunakan bahasa Arab. Menurut Imam  Hanafi, Syafii, dan Hambali, khatib tidak wajib menggunakan bahasa Arab ketika berkhutbah.
      Bacaan surat Al-Quran setelah membaca surah Al-Fatihah dalam salat Jumat. Menurut Imam Maliki pada rakaat pertama, imam salat Jumat harus membaca surah Al-Jumuah atau surah ke-62. Sedangkan pada rakaat kedua, imam harus membaca surah  Al-Ghosiyah, surah ke-88, setelah membaca surah Al-Fatihah.
     Menurut Imam Syafii pada rakaat pertama, imam salat Jumat harus membaca surah Al-Jumuah atau surah ke-62. Sedangkan pada rakaat kedua, imam harus membaca surah  Al-Munafikun, surah ke-63, setelah membaca surah Al-Fatihah.
       Menurut Imam Hanafi, hukumnya makruh, jika imam salat Jumat, ditentukan bacaan suratnya, setelah membaca surah Al-Fatihah.
     Wajib adalah perbuatan yang harus dilakukan, dan tidak boleh ditinggalkan. Sunah adalah perbuatan apabila dilakukan mendapatkan pahala dan apabila tidak dikerjakan tidak berdosa.
     Mubah adalah perbuatan yang boleh dilakukan dan boleh tidak dikerjakan. Makruh adalah perbuatan yang dianjurkan untuk ditinggalkan, tetapi tidak berdosa apabila dikerjakan. Haram adalah perbuatan yang terlarang untuk dikerjakan.
Daftar Pustaka.
1. Mughniyah, Muhammad Jawad. Fiqih 5 mazhab, Muhammad Jawad Mughniyah. Penerbit Lentera Jakarta, 2007)
2. Asy-Syinawi, Abdul Aziz. Biografi Empat Mazhab. Penerbit Beirut Publishing. Ummul Qura. Jakarta, 2013.

211. JUMAT

SALAT JUMAT MENURUT EMPAT MAZHAB
Oleh: Drs. H. Yusron Hadi, M.M.
Kepala SMP Negeri 1 Balongbendo, Sidoarjo


      Beberapa orang bertanya,”Bagaimana cara salat Jumat menurut 4 mazhab? Mohon dijelaskan cara salat Jumat menurut 4 mazhab? Berikut ini penjelasannya
      Ajaran Islam bersumber kepada Al-Quran dan Sunah, serta memiliki beberapa cabang ilmu, salah satunya “Ilmu Fikih”.
     Ilmu Fikih mempelajari tentang Hukum Islam. Dunia Islam mengenal 4 mazhab terbesar, yaitu Mazhab Hanafi, Maliki, Syafii, dan Hambali.
       Mazhab adalah haluan atau aliran mengenai hukum fikih yang menjadi ikutan umat Islam.
      Masing-masing mazhab mempunyai “karakter” dan “keistimewaan” tersendiri. Mazhab Hanafi didirikan oleh Nukman bin Tsabit, yang lahir tahun 89 Hijriah, dan wafat tahun 150 Hijirah. Nukman bin Tsabit seorang guru besar ilmu fikih di Irak.
      Mazhab Maliki didirikan oleh Imam Malik bin Anas, yang lahir tahun 93 Hijriah, dan wafat tahun 179 Hijriah. Imam Malik bin Anas berasal dari Madinah.
     Mazhab Syafii didirikan oleh Muhammad bin Idris, yang lahir tahun 150 Hijriah, dan wafat tahun 200 Hijirah. Muhammad bin Idris berasal dari Gaza, Palestina.
     Mazhab Hambali didirikan oleh Ahmad bin Hambal, yang lahir tahun 164 Hijriah, dan wafat tahun 241 Hijriah. Ahmad bin Hambal berasal dari Baghdad, Irak.
    Semua mazhab sepakat dasar hukum salat Jumat adalah Al-Quran surah Al-Jumuah, surah ke-62 ayat 9.
   “Hai orang-orang yang beriman, apabila diseru untuk menunaikan salat Jumat, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkan jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui.”
    Lokasi atau tempat salat Jumat. Menurut Imam Hanafi, Syafii, Hambali lokasi atau tempat melakukan salat Jumat boleh dikerjakan di masjid, dan boleh dilaksanakan di tempat lain, selain masjid.
     Sedangkan menurut Imam Maliki salat Jumat harus dilaksanakan di masjid dan dilarang dilakukan di tempat selain masjid.
    Jumlah minimal Jamaah salat Jumat. Menurut Imam Hanafi jumlah jamaah salat Jumat minimal 5 orang termasuk imam, dan menurut Imam Maliki jumlah jamaah salat Jumat minimal 13 orang termasuk imam.
      Menurut Imam Hambali dan Syafii jumlah jamaah salat Jumat minimal 41 orang termasuk imam.
    Posisi khatib ketika sedang berkhutbah. Menurut Imam Maliki dan  Syafii ketika khatib sedang berkhutbah Jumat, maka seorang khatib wajib berdiri. Menurut Imam Hanafi dan Hambali ketika khatib sedang berkhutbah Jumat, maka seorang khatib tidak wajib berdiri
    Materi minimal yang disampaikan seorang khatib ketika berkhutbah Jumat. Menurut Imam Hanafi seorang khatib ketika berkhutbah salat Jumat minimal membacakan “hamdalah” dan “istighfar”.
    Menurut Imam Maliki seorang khatib ketika berkhutbah salat Jumat minimal mengucapkan pesan takwa kepada Allah.
    Menurut Imam Syafii seorang khatib ketika berkhutbah salat Jumat, pada khutbah pertama minimal menyampaikan “hamdalah”, “selawat Nabi”, pesan takwa, dan membacakan ayat Al-Quran. Pada khutbah kedua minimal mengucapkan “hamdalah”, selawat Nabi, pesan takwa, dan doa untuk semua umat Islam.
      Menurut Imam Hambali seorang khatib ketika berkhutbah salat Jumat minimal mengucapkan “hamdalah”, selawat Nabi, pesan takwa, dan membacakan ayat Al-Quran.
    Posisi khatib ketika duduk di antara dua khutbah Jumat. Menurut Imam Maliki, dan Hanafi, khatib saat Jumat tidak wajib duduk di antara dua khutbah.
      Menurut Imam Syafii, khatib salat Jumat wajib duduk sebentar di antara dua khutbah. Imam Hambali menyatakan khatib boleh duduk atau tidak duduk di antara dua khutbah.
    Bahasa yang digunakan khatib ketika berkhutbah Jumat. Menurut Imam Maliki, ketika khatib berkhutbah Jumat, maka khatib wajib menggunakan bahasa Arab. Menurut Imam  Hanafi, Syafii, dan Hambali, khatib tidak wajib menggunakan bahasa Arab ketika berkhutbah.
      Bacaan surat Al-Quran setelah membaca surah Al-Fatihah dalam salat Jumat. Menurut Imam Maliki pada rakaat pertama, imam salat Jumat harus membaca surah Al-Jumuah atau surah ke-62. Sedangkan pada rakaat kedua, imam harus membaca surah  Al-Ghosiyah, surah ke-88, setelah membaca surah Al-Fatihah.
     Menurut Imam Syafii pada rakaat pertama, imam salat Jumat harus membaca surah Al-Jumuah atau surah ke-62. Sedangkan pada rakaat kedua, imam harus membaca surah  Al-Munafikun, surah ke-63, setelah membaca surah Al-Fatihah.
       Menurut Imam Hanafi, hukumnya makruh, jika imam salat Jumat, ditentukan bacaan suratnya, setelah membaca surah Al-Fatihah.
     Wajib adalah perbuatan yang harus dilakukan, dan tidak boleh ditinggalkan. Sunah adalah perbuatan apabila dilakukan mendapatkan pahala dan apabila tidak dikerjakan tidak berdosa.
     Mubah adalah perbuatan yang boleh dilakukan dan boleh tidak dikerjakan. Makruh adalah perbuatan yang dianjurkan untuk ditinggalkan, tetapi tidak berdosa apabila dikerjakan. Haram adalah perbuatan yang terlarang untuk dikerjakan.
Daftar Pustaka.
1. Mughniyah, Muhammad Jawad. Fiqih 5 mazhab, Muhammad Jawad Mughniyah. Penerbit Lentera Jakarta, 2007)
2. Asy-Syinawi, Abdul Aziz. Biografi Empat Mazhab. Penerbit Beirut Publishing. Ummul Qura. Jakarta, 2013.

211. JUMAT

SALAT JUMAT MENURUT EMPAT MAZHAB
Oleh: Drs. H. Yusron Hadi, M.M.
Kepala SMP Negeri 1 Balongbendo, Sidoarjo


      Beberapa orang bertanya,”Bagaimana cara salat Jumat menurut 4 mazhab? Mohon dijelaskan cara salat Jumat menurut 4 mazhab? Berikut ini penjelasannya
      Ajaran Islam bersumber kepada Al-Quran dan Sunah, serta memiliki beberapa cabang ilmu, salah satunya “Ilmu Fikih”.
     Ilmu Fikih mempelajari tentang Hukum Islam. Dunia Islam mengenal 4 mazhab terbesar, yaitu Mazhab Hanafi, Maliki, Syafii, dan Hambali.
       Mazhab adalah haluan atau aliran mengenai hukum fikih yang menjadi ikutan umat Islam.
      Masing-masing mazhab mempunyai “karakter” dan “keistimewaan” tersendiri. Mazhab Hanafi didirikan oleh Nukman bin Tsabit, yang lahir tahun 89 Hijriah, dan wafat tahun 150 Hijirah. Nukman bin Tsabit seorang guru besar ilmu fikih di Irak.
      Mazhab Maliki didirikan oleh Imam Malik bin Anas, yang lahir tahun 93 Hijriah, dan wafat tahun 179 Hijriah. Imam Malik bin Anas berasal dari Madinah.
     Mazhab Syafii didirikan oleh Muhammad bin Idris, yang lahir tahun 150 Hijriah, dan wafat tahun 200 Hijirah. Muhammad bin Idris berasal dari Gaza, Palestina.
     Mazhab Hambali didirikan oleh Ahmad bin Hambal, yang lahir tahun 164 Hijriah, dan wafat tahun 241 Hijriah. Ahmad bin Hambal berasal dari Baghdad, Irak.
    Semua mazhab sepakat dasar hukum salat Jumat adalah Al-Quran surah Al-Jumuah, surah ke-62 ayat 9.
   “Hai orang-orang yang beriman, apabila diseru untuk menunaikan salat Jumat, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkan jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui.”
    Lokasi atau tempat salat Jumat. Menurut Imam Hanafi, Syafii, Hambali lokasi atau tempat melakukan salat Jumat boleh dikerjakan di masjid, dan boleh dilaksanakan di tempat lain, selain masjid.
     Sedangkan menurut Imam Maliki salat Jumat harus dilaksanakan di masjid dan dilarang dilakukan di tempat selain masjid.
    Jumlah minimal Jamaah salat Jumat. Menurut Imam Hanafi jumlah jamaah salat Jumat minimal 5 orang termasuk imam, dan menurut Imam Maliki jumlah jamaah salat Jumat minimal 13 orang termasuk imam.
      Menurut Imam Hambali dan Syafii jumlah jamaah salat Jumat minimal 41 orang termasuk imam.
    Posisi khatib ketika sedang berkhutbah. Menurut Imam Maliki dan  Syafii ketika khatib sedang berkhutbah Jumat, maka seorang khatib wajib berdiri. Menurut Imam Hanafi dan Hambali ketika khatib sedang berkhutbah Jumat, maka seorang khatib tidak wajib berdiri
    Materi minimal yang disampaikan seorang khatib ketika berkhutbah Jumat. Menurut Imam Hanafi seorang khatib ketika berkhutbah salat Jumat minimal membacakan “hamdalah” dan “istighfar”.
    Menurut Imam Maliki seorang khatib ketika berkhutbah salat Jumat minimal mengucapkan pesan takwa kepada Allah.
    Menurut Imam Syafii seorang khatib ketika berkhutbah salat Jumat, pada khutbah pertama minimal menyampaikan “hamdalah”, “selawat Nabi”, pesan takwa, dan membacakan ayat Al-Quran. Pada khutbah kedua minimal mengucapkan “hamdalah”, selawat Nabi, pesan takwa, dan doa untuk semua umat Islam.
      Menurut Imam Hambali seorang khatib ketika berkhutbah salat Jumat minimal mengucapkan “hamdalah”, selawat Nabi, pesan takwa, dan membacakan ayat Al-Quran.
    Posisi khatib ketika duduk di antara dua khutbah Jumat. Menurut Imam Maliki, dan Hanafi, khatib saat Jumat tidak wajib duduk di antara dua khutbah.
      Menurut Imam Syafii, khatib salat Jumat wajib duduk sebentar di antara dua khutbah. Imam Hambali menyatakan khatib boleh duduk atau tidak duduk di antara dua khutbah.
    Bahasa yang digunakan khatib ketika berkhutbah Jumat. Menurut Imam Maliki, ketika khatib berkhutbah Jumat, maka khatib wajib menggunakan bahasa Arab. Menurut Imam  Hanafi, Syafii, dan Hambali, khatib tidak wajib menggunakan bahasa Arab ketika berkhutbah.
      Bacaan surat Al-Quran setelah membaca surah Al-Fatihah dalam salat Jumat. Menurut Imam Maliki pada rakaat pertama, imam salat Jumat harus membaca surah Al-Jumuah atau surah ke-62. Sedangkan pada rakaat kedua, imam harus membaca surah  Al-Ghosiyah, surah ke-88, setelah membaca surah Al-Fatihah.
     Menurut Imam Syafii pada rakaat pertama, imam salat Jumat harus membaca surah Al-Jumuah atau surah ke-62. Sedangkan pada rakaat kedua, imam harus membaca surah  Al-Munafikun, surah ke-63, setelah membaca surah Al-Fatihah.
       Menurut Imam Hanafi, hukumnya makruh, jika imam salat Jumat, ditentukan bacaan suratnya, setelah membaca surah Al-Fatihah.
     Wajib adalah perbuatan yang harus dilakukan, dan tidak boleh ditinggalkan. Sunah adalah perbuatan apabila dilakukan mendapatkan pahala dan apabila tidak dikerjakan tidak berdosa.
     Mubah adalah perbuatan yang boleh dilakukan dan boleh tidak dikerjakan. Makruh adalah perbuatan yang dianjurkan untuk ditinggalkan, tetapi tidak berdosa apabila dikerjakan. Haram adalah perbuatan yang terlarang untuk dikerjakan.
Daftar Pustaka.
1. Mughniyah, Muhammad Jawad. Fiqih 5 mazhab, Muhammad Jawad Mughniyah. Penerbit Lentera Jakarta, 2007)
2. Asy-Syinawi, Abdul Aziz. Biografi Empat Mazhab. Penerbit Beirut Publishing. Ummul Qura. Jakarta, 2013.