Organisasi Profesi Guru

Presiden Jokowi memberi hormat kepada Guru-Guru se Indonesia.

Tema Gambar Slide 2

Deskripsi gambar slide bisa dituliskan disini dengan beberapa kalimat yang menggambarkan gambar slide yang anda pasang, edit slide ini melalui edit HTML template.

Tema Gambar Slide 3

Deskripsi gambar slide bisa dituliskan disini dengan beberapa kalimat yang menggambarkan gambar slide yang anda pasang, edit slide ini melalui edit HTML template.

Wednesday, August 23, 2017

224. KHALIF

MEMAHAMI ARTI KATA KHALIFAH
Oleh: Drs. H. Yusron Hadi, M.M.


       Beberapa orang bertanya,”Apakah arti kata Khalifah? Mohon dijelaskan tentang arti kata Khalifah? Profesor Quraish Shihab menjelaskannya.
      Kata “khalifah” dalam bentuk tunggal terulang 2 kali dalam Al-Quran, yaitu dalam surah Al-Baqarah ayat 30 dan Shad ayat 26.
       Al-Quran surah Al-Baqarah, surah ke-2 ayat 30.
                     •           
      “Dan Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi”. Mereka berkata,” mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan menyucikan Engkau?” Tuhan berfirman, “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui”.
       Al-Quran surah Shad, surah ke-38 ayat 26.
        ••          •               
     “Hai Daud, Sesungguhnya Kami menjadikan kamu khalifah (penguasa) di muka bumi, Maka berilah keputusan (perkara) di antara manusia dengan adil dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena dia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah. Sesungguhnya orang-orang yang sesat dari jalan Allah akan mendapatkan azab yang berat, karena mereka melupakan hari perhitungan”.
      Ada dua bentuk plural yang digunakan oleh Al-Quran. pertama,“Khalaif” yang terulang sebanyak 4, yakni pada surah Al-An'am 165, Yunus 14, 73, dan Fathir 39.
     Kedua, “Khulafa” yang  terulang sebanyak 3 kali, yaitu pada surah Al-A'raf 7:69, 74, dan Al-Naml 27:62.
      Keseluruhan kata tersebut berakar dari kata “khulafa” yang pada mulanya berarti “dibelakang”, maka kata “khalifah” sering kali diartikan sebagai “pengganti”, karena yang menggantikan selalu berada atau datang di belakang, sesudah yang digantikannya.
    Para ulama menjelaskan bahwa seseorang menggantikan yang lain berarti melaksanakan sesuatu atas nama yang digantikan, bersama yang digantikannya maupun sesudahnya.
     Penggantian kekhalifahan dapat terlaksana akibat ketiadaan di tempat, kematian, atau ketidakmampuan orang yang digantikan, dan dapat juga akibat penghormatan yang diberikan kepada yang menggantikan.
      Para mufasir melihat perbedaan bentuk kata di atas, yaitu “khalifah”, “khalaif”, dan “khulafa” masing-masing mempunyai konteks makna tersendiri yang  berbeda.
     Kalau merujuk kepada Al-Quran untuk mengetahui kandungan makna kata khalifah, karena ayat Al-Quran berfungsi pula sebagai penjelas terhadap ayat lainnya, maka kata “khalifah” yang hanya terulang 2 kali dan konteks pembicaraannya, kita dapat menarik beberapa kesimpulan makna, khususnya dengan memperhatikan ayat surah Shad yang menguraikan sebagian dari sejarah kehidupan Nabi Daud.
     Nabi Daud diceritakan oleh Al-Quran, berhasil membunuh Jalut, dan Allah memberikan Daud kekuasaan atau kerajaan dan hikmah serta mengajarkannya apa yang Allah kehendaki.
    Kekhalifahan yang dianugerahkan kepada Daud bertalian dengan kekuasaan mengelola wilayah tertentu. Hal ini diperolehnya berkat anugerah Allah yang mengajarkan kepadanya hikmah dan ilmu pengetahuan.
     Makna “pengelolaan wilayah tertentu”, atau pengelolaan yang  berkaitan dengan kekuasaan politik, dipahami pula pada ayat yang menggunakan bentuk “khulafa”, berbeda dengan kata “khalaif” yang tidak mengesankan adanya kekuasaan.
      Kesimpulannya, bahwa sejumlah orang yang tidak memiliki kekuasaan politik dinamai oleh Al-Quran “khalaif” , tanpa menggunakan bentuk mufrad atau tunggal.
     Bentuk mufrad atau tunggal tidak dipakai untuk makna tersebut agaknya mengisyaratkan bahwa kekhalifahan yang diemban oleh setiap orang tidak dapat terlaksana tanpa bantuan orang lain, berbeda dengan khalifah yang bermakna penguasa dalam bidang politik.
     Hal ini dapat terwujud dalam diri pribadi seseorang atau diwujudkannya dalam bentuk otoriter atau diktator.
      Nabi Adam dan Daud keduanya sebagai khalifah digambarkan oleh Al-Quran  pernah tergelincir, tetapi diampuni Tuhan, baca Al-Quran QS 2: 36, 37, dan QS 38: 22-25).
     Kesimpulannya, Pertama, kata “khalifah” digunakan oleh Al-Quran untuk siapa pun yang diberi kekuasaan untuk mengelola wilayah yang luas maupun terbatas.
    Dalam hal ini Daud (947-1000 S.M.) mengelola wilayah Palestina, sedangkan Nabi Adam secara potensial atau aktual diberi tugas mengelola bumi keseluruhannya pada awal masa sejarah kemanusiaan.
      Kedua, Bahwa seorang khalifah berpotensi dapat melakukan kekeliruan dan kesalahan akibat mengikuti hawa nafsu. Oleh karena itu, Nabi Adam dan Daud diperingatkan agar tidak mengikuti hawa nafsu.
       •     
     “Maka sekali-kali janganlah kamu dipalingkan daripadanya oleh orang yang tidak beriman kepadanya dan oleh orang yang mengikuti hawa nafsunya, yang menyebabkan kamu Jadi binasa”.
Daftar Pustaka
1. Shihab, M.Quraish. Lentera Hati. Kisah dan Hikmah Kehidupan. Penerbit Mizan, 1994.  
2. Shihab, M.Quraish. E-book Membumikan Al-Quran.
3. Al-Quran Digital, Versi 3.2. Digital Qur’an Ver 3.2

224. KHALIF

MEMAHAMI ARTI KATA KHALIFAH
Oleh: Drs. H. Yusron Hadi, M.M.


       Beberapa orang bertanya,”Apakah arti kata Khalifah? Mohon dijelaskan tentang arti kata Khalifah? Profesor Quraish Shihab menjelaskannya.
      Kata “khalifah” dalam bentuk tunggal terulang 2 kali dalam Al-Quran, yaitu dalam surah Al-Baqarah ayat 30 dan Shad ayat 26.
       Al-Quran surah Al-Baqarah, surah ke-2 ayat 30.
                     •           
      “Dan Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi”. Mereka berkata,” mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan menyucikan Engkau?” Tuhan berfirman, “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui”.
       Al-Quran surah Shad, surah ke-38 ayat 26.
        ••          •               
     “Hai Daud, Sesungguhnya Kami menjadikan kamu khalifah (penguasa) di muka bumi, Maka berilah keputusan (perkara) di antara manusia dengan adil dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena dia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah. Sesungguhnya orang-orang yang sesat dari jalan Allah akan mendapatkan azab yang berat, karena mereka melupakan hari perhitungan”.
      Ada dua bentuk plural yang digunakan oleh Al-Quran. pertama,“Khalaif” yang terulang sebanyak 4, yakni pada surah Al-An'am 165, Yunus 14, 73, dan Fathir 39.
     Kedua, “Khulafa” yang  terulang sebanyak 3 kali, yaitu pada surah Al-A'raf 7:69, 74, dan Al-Naml 27:62.
      Keseluruhan kata tersebut berakar dari kata “khulafa” yang pada mulanya berarti “dibelakang”, maka kata “khalifah” sering kali diartikan sebagai “pengganti”, karena yang menggantikan selalu berada atau datang di belakang, sesudah yang digantikannya.
    Para ulama menjelaskan bahwa seseorang menggantikan yang lain berarti melaksanakan sesuatu atas nama yang digantikan, bersama yang digantikannya maupun sesudahnya.
     Penggantian kekhalifahan dapat terlaksana akibat ketiadaan di tempat, kematian, atau ketidakmampuan orang yang digantikan, dan dapat juga akibat penghormatan yang diberikan kepada yang menggantikan.
      Para mufasir melihat perbedaan bentuk kata di atas, yaitu “khalifah”, “khalaif”, dan “khulafa” masing-masing mempunyai konteks makna tersendiri yang  berbeda.
     Kalau merujuk kepada Al-Quran untuk mengetahui kandungan makna kata khalifah, karena ayat Al-Quran berfungsi pula sebagai penjelas terhadap ayat lainnya, maka kata “khalifah” yang hanya terulang 2 kali dan konteks pembicaraannya, kita dapat menarik beberapa kesimpulan makna, khususnya dengan memperhatikan ayat surah Shad yang menguraikan sebagian dari sejarah kehidupan Nabi Daud.
     Nabi Daud diceritakan oleh Al-Quran, berhasil membunuh Jalut, dan Allah memberikan Daud kekuasaan atau kerajaan dan hikmah serta mengajarkannya apa yang Allah kehendaki.
    Kekhalifahan yang dianugerahkan kepada Daud bertalian dengan kekuasaan mengelola wilayah tertentu. Hal ini diperolehnya berkat anugerah Allah yang mengajarkan kepadanya hikmah dan ilmu pengetahuan.
     Makna “pengelolaan wilayah tertentu”, atau pengelolaan yang  berkaitan dengan kekuasaan politik, dipahami pula pada ayat yang menggunakan bentuk “khulafa”, berbeda dengan kata “khalaif” yang tidak mengesankan adanya kekuasaan.
      Kesimpulannya, bahwa sejumlah orang yang tidak memiliki kekuasaan politik dinamai oleh Al-Quran “khalaif” , tanpa menggunakan bentuk mufrad atau tunggal.
     Bentuk mufrad atau tunggal tidak dipakai untuk makna tersebut agaknya mengisyaratkan bahwa kekhalifahan yang diemban oleh setiap orang tidak dapat terlaksana tanpa bantuan orang lain, berbeda dengan khalifah yang bermakna penguasa dalam bidang politik.
     Hal ini dapat terwujud dalam diri pribadi seseorang atau diwujudkannya dalam bentuk otoriter atau diktator.
      Nabi Adam dan Daud keduanya sebagai khalifah digambarkan oleh Al-Quran  pernah tergelincir, tetapi diampuni Tuhan, baca Al-Quran QS 2: 36, 37, dan QS 38: 22-25).
     Kesimpulannya, Pertama, kata “khalifah” digunakan oleh Al-Quran untuk siapa pun yang diberi kekuasaan untuk mengelola wilayah yang luas maupun terbatas.
    Dalam hal ini Daud (947-1000 S.M.) mengelola wilayah Palestina, sedangkan Nabi Adam secara potensial atau aktual diberi tugas mengelola bumi keseluruhannya pada awal masa sejarah kemanusiaan.
      Kedua, Bahwa seorang khalifah berpotensi dapat melakukan kekeliruan dan kesalahan akibat mengikuti hawa nafsu. Oleh karena itu, Nabi Adam dan Daud diperingatkan agar tidak mengikuti hawa nafsu.
       •     
     “Maka sekali-kali janganlah kamu dipalingkan daripadanya oleh orang yang tidak beriman kepadanya dan oleh orang yang mengikuti hawa nafsunya, yang menyebabkan kamu Jadi binasa”.
Daftar Pustaka
1. Shihab, M.Quraish. Lentera Hati. Kisah dan Hikmah Kehidupan. Penerbit Mizan, 1994.  
2. Shihab, M.Quraish. E-book Membumikan Al-Quran.
3. Al-Quran Digital, Versi 3.2. Digital Qur’an Ver 3.2

224. KHALIF

MEMAHAMI ARTI KATA KHALIFAH
Oleh: Drs. H. Yusron Hadi, M.M.


       Beberapa orang bertanya,”Apakah arti kata Khalifah? Mohon dijelaskan tentang arti kata Khalifah? Profesor Quraish Shihab menjelaskannya.
      Kata “khalifah” dalam bentuk tunggal terulang 2 kali dalam Al-Quran, yaitu dalam surah Al-Baqarah ayat 30 dan Shad ayat 26.
       Al-Quran surah Al-Baqarah, surah ke-2 ayat 30.
                     •           
      “Dan Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi”. Mereka berkata,” mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan menyucikan Engkau?” Tuhan berfirman, “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui”.
       Al-Quran surah Shad, surah ke-38 ayat 26.
        ••          •               
     “Hai Daud, Sesungguhnya Kami menjadikan kamu khalifah (penguasa) di muka bumi, Maka berilah keputusan (perkara) di antara manusia dengan adil dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena dia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah. Sesungguhnya orang-orang yang sesat dari jalan Allah akan mendapatkan azab yang berat, karena mereka melupakan hari perhitungan”.
      Ada dua bentuk plural yang digunakan oleh Al-Quran. pertama,“Khalaif” yang terulang sebanyak 4, yakni pada surah Al-An'am 165, Yunus 14, 73, dan Fathir 39.
     Kedua, “Khulafa” yang  terulang sebanyak 3 kali, yaitu pada surah Al-A'raf 7:69, 74, dan Al-Naml 27:62.
      Keseluruhan kata tersebut berakar dari kata “khulafa” yang pada mulanya berarti “dibelakang”, maka kata “khalifah” sering kali diartikan sebagai “pengganti”, karena yang menggantikan selalu berada atau datang di belakang, sesudah yang digantikannya.
    Para ulama menjelaskan bahwa seseorang menggantikan yang lain berarti melaksanakan sesuatu atas nama yang digantikan, bersama yang digantikannya maupun sesudahnya.
     Penggantian kekhalifahan dapat terlaksana akibat ketiadaan di tempat, kematian, atau ketidakmampuan orang yang digantikan, dan dapat juga akibat penghormatan yang diberikan kepada yang menggantikan.
      Para mufasir melihat perbedaan bentuk kata di atas, yaitu “khalifah”, “khalaif”, dan “khulafa” masing-masing mempunyai konteks makna tersendiri yang  berbeda.
     Kalau merujuk kepada Al-Quran untuk mengetahui kandungan makna kata khalifah, karena ayat Al-Quran berfungsi pula sebagai penjelas terhadap ayat lainnya, maka kata “khalifah” yang hanya terulang 2 kali dan konteks pembicaraannya, kita dapat menarik beberapa kesimpulan makna, khususnya dengan memperhatikan ayat surah Shad yang menguraikan sebagian dari sejarah kehidupan Nabi Daud.
     Nabi Daud diceritakan oleh Al-Quran, berhasil membunuh Jalut, dan Allah memberikan Daud kekuasaan atau kerajaan dan hikmah serta mengajarkannya apa yang Allah kehendaki.
    Kekhalifahan yang dianugerahkan kepada Daud bertalian dengan kekuasaan mengelola wilayah tertentu. Hal ini diperolehnya berkat anugerah Allah yang mengajarkan kepadanya hikmah dan ilmu pengetahuan.
     Makna “pengelolaan wilayah tertentu”, atau pengelolaan yang  berkaitan dengan kekuasaan politik, dipahami pula pada ayat yang menggunakan bentuk “khulafa”, berbeda dengan kata “khalaif” yang tidak mengesankan adanya kekuasaan.
      Kesimpulannya, bahwa sejumlah orang yang tidak memiliki kekuasaan politik dinamai oleh Al-Quran “khalaif” , tanpa menggunakan bentuk mufrad atau tunggal.
     Bentuk mufrad atau tunggal tidak dipakai untuk makna tersebut agaknya mengisyaratkan bahwa kekhalifahan yang diemban oleh setiap orang tidak dapat terlaksana tanpa bantuan orang lain, berbeda dengan khalifah yang bermakna penguasa dalam bidang politik.
     Hal ini dapat terwujud dalam diri pribadi seseorang atau diwujudkannya dalam bentuk otoriter atau diktator.
      Nabi Adam dan Daud keduanya sebagai khalifah digambarkan oleh Al-Quran  pernah tergelincir, tetapi diampuni Tuhan, baca Al-Quran QS 2: 36, 37, dan QS 38: 22-25).
     Kesimpulannya, Pertama, kata “khalifah” digunakan oleh Al-Quran untuk siapa pun yang diberi kekuasaan untuk mengelola wilayah yang luas maupun terbatas.
    Dalam hal ini Daud (947-1000 S.M.) mengelola wilayah Palestina, sedangkan Nabi Adam secara potensial atau aktual diberi tugas mengelola bumi keseluruhannya pada awal masa sejarah kemanusiaan.
      Kedua, Bahwa seorang khalifah berpotensi dapat melakukan kekeliruan dan kesalahan akibat mengikuti hawa nafsu. Oleh karena itu, Nabi Adam dan Daud diperingatkan agar tidak mengikuti hawa nafsu.
       •     
     “Maka sekali-kali janganlah kamu dipalingkan daripadanya oleh orang yang tidak beriman kepadanya dan oleh orang yang mengikuti hawa nafsunya, yang menyebabkan kamu Jadi binasa”.
Daftar Pustaka
1. Shihab, M.Quraish. Lentera Hati. Kisah dan Hikmah Kehidupan. Penerbit Mizan, 1994.  
2. Shihab, M.Quraish. E-book Membumikan Al-Quran.
3. Al-Quran Digital, Versi 3.2. Digital Qur’an Ver 3.2

224. KHALIF

MEMAHAMI ARTI KATA KHALIFAH
Oleh: Drs. H. Yusron Hadi, M.M.


       Beberapa orang bertanya,”Apakah arti kata Khalifah? Mohon dijelaskan tentang arti kata Khalifah? Profesor Quraish Shihab menjelaskannya.
      Kata “khalifah” dalam bentuk tunggal terulang 2 kali dalam Al-Quran, yaitu dalam surah Al-Baqarah ayat 30 dan Shad ayat 26.
       Al-Quran surah Al-Baqarah, surah ke-2 ayat 30.
                     •           
      “Dan Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi”. Mereka berkata,” mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan menyucikan Engkau?” Tuhan berfirman, “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui”.
       Al-Quran surah Shad, surah ke-38 ayat 26.
        ••          •               
     “Hai Daud, Sesungguhnya Kami menjadikan kamu khalifah (penguasa) di muka bumi, Maka berilah keputusan (perkara) di antara manusia dengan adil dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena dia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah. Sesungguhnya orang-orang yang sesat dari jalan Allah akan mendapatkan azab yang berat, karena mereka melupakan hari perhitungan”.
      Ada dua bentuk plural yang digunakan oleh Al-Quran. pertama,“Khalaif” yang terulang sebanyak 4, yakni pada surah Al-An'am 165, Yunus 14, 73, dan Fathir 39.
     Kedua, “Khulafa” yang  terulang sebanyak 3 kali, yaitu pada surah Al-A'raf 7:69, 74, dan Al-Naml 27:62.
      Keseluruhan kata tersebut berakar dari kata “khulafa” yang pada mulanya berarti “dibelakang”, maka kata “khalifah” sering kali diartikan sebagai “pengganti”, karena yang menggantikan selalu berada atau datang di belakang, sesudah yang digantikannya.
    Para ulama menjelaskan bahwa seseorang menggantikan yang lain berarti melaksanakan sesuatu atas nama yang digantikan, bersama yang digantikannya maupun sesudahnya.
     Penggantian kekhalifahan dapat terlaksana akibat ketiadaan di tempat, kematian, atau ketidakmampuan orang yang digantikan, dan dapat juga akibat penghormatan yang diberikan kepada yang menggantikan.
      Para mufasir melihat perbedaan bentuk kata di atas, yaitu “khalifah”, “khalaif”, dan “khulafa” masing-masing mempunyai konteks makna tersendiri yang  berbeda.
     Kalau merujuk kepada Al-Quran untuk mengetahui kandungan makna kata khalifah, karena ayat Al-Quran berfungsi pula sebagai penjelas terhadap ayat lainnya, maka kata “khalifah” yang hanya terulang 2 kali dan konteks pembicaraannya, kita dapat menarik beberapa kesimpulan makna, khususnya dengan memperhatikan ayat surah Shad yang menguraikan sebagian dari sejarah kehidupan Nabi Daud.
     Nabi Daud diceritakan oleh Al-Quran, berhasil membunuh Jalut, dan Allah memberikan Daud kekuasaan atau kerajaan dan hikmah serta mengajarkannya apa yang Allah kehendaki.
    Kekhalifahan yang dianugerahkan kepada Daud bertalian dengan kekuasaan mengelola wilayah tertentu. Hal ini diperolehnya berkat anugerah Allah yang mengajarkan kepadanya hikmah dan ilmu pengetahuan.
     Makna “pengelolaan wilayah tertentu”, atau pengelolaan yang  berkaitan dengan kekuasaan politik, dipahami pula pada ayat yang menggunakan bentuk “khulafa”, berbeda dengan kata “khalaif” yang tidak mengesankan adanya kekuasaan.
      Kesimpulannya, bahwa sejumlah orang yang tidak memiliki kekuasaan politik dinamai oleh Al-Quran “khalaif” , tanpa menggunakan bentuk mufrad atau tunggal.
     Bentuk mufrad atau tunggal tidak dipakai untuk makna tersebut agaknya mengisyaratkan bahwa kekhalifahan yang diemban oleh setiap orang tidak dapat terlaksana tanpa bantuan orang lain, berbeda dengan khalifah yang bermakna penguasa dalam bidang politik.
     Hal ini dapat terwujud dalam diri pribadi seseorang atau diwujudkannya dalam bentuk otoriter atau diktator.
      Nabi Adam dan Daud keduanya sebagai khalifah digambarkan oleh Al-Quran  pernah tergelincir, tetapi diampuni Tuhan, baca Al-Quran QS 2: 36, 37, dan QS 38: 22-25).
     Kesimpulannya, Pertama, kata “khalifah” digunakan oleh Al-Quran untuk siapa pun yang diberi kekuasaan untuk mengelola wilayah yang luas maupun terbatas.
    Dalam hal ini Daud (947-1000 S.M.) mengelola wilayah Palestina, sedangkan Nabi Adam secara potensial atau aktual diberi tugas mengelola bumi keseluruhannya pada awal masa sejarah kemanusiaan.
      Kedua, Bahwa seorang khalifah berpotensi dapat melakukan kekeliruan dan kesalahan akibat mengikuti hawa nafsu. Oleh karena itu, Nabi Adam dan Daud diperingatkan agar tidak mengikuti hawa nafsu.
       •     
     “Maka sekali-kali janganlah kamu dipalingkan daripadanya oleh orang yang tidak beriman kepadanya dan oleh orang yang mengikuti hawa nafsunya, yang menyebabkan kamu Jadi binasa”.
Daftar Pustaka
1. Shihab, M.Quraish. Lentera Hati. Kisah dan Hikmah Kehidupan. Penerbit Mizan, 1994.  
2. Shihab, M.Quraish. E-book Membumikan Al-Quran.
3. Al-Quran Digital, Versi 3.2. Digital Qur’an Ver 3.2

224. KHALIF

MEMAHAMI ARTI KATA KHALIFAH
Oleh: Drs. H. Yusron Hadi, M.M.


       Beberapa orang bertanya,”Apakah arti kata Khalifah? Mohon dijelaskan tentang arti kata Khalifah? Profesor Quraish Shihab menjelaskannya.
      Kata “khalifah” dalam bentuk tunggal terulang 2 kali dalam Al-Quran, yaitu dalam surah Al-Baqarah ayat 30 dan Shad ayat 26.
       Al-Quran surah Al-Baqarah, surah ke-2 ayat 30.
                     •           
      “Dan Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi”. Mereka berkata,” mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan menyucikan Engkau?” Tuhan berfirman, “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui”.
       Al-Quran surah Shad, surah ke-38 ayat 26.
        ••          •               
     “Hai Daud, Sesungguhnya Kami menjadikan kamu khalifah (penguasa) di muka bumi, Maka berilah keputusan (perkara) di antara manusia dengan adil dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena dia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah. Sesungguhnya orang-orang yang sesat dari jalan Allah akan mendapatkan azab yang berat, karena mereka melupakan hari perhitungan”.
      Ada dua bentuk plural yang digunakan oleh Al-Quran. pertama,“Khalaif” yang terulang sebanyak 4, yakni pada surah Al-An'am 165, Yunus 14, 73, dan Fathir 39.
     Kedua, “Khulafa” yang  terulang sebanyak 3 kali, yaitu pada surah Al-A'raf 7:69, 74, dan Al-Naml 27:62.
      Keseluruhan kata tersebut berakar dari kata “khulafa” yang pada mulanya berarti “dibelakang”, maka kata “khalifah” sering kali diartikan sebagai “pengganti”, karena yang menggantikan selalu berada atau datang di belakang, sesudah yang digantikannya.
    Para ulama menjelaskan bahwa seseorang menggantikan yang lain berarti melaksanakan sesuatu atas nama yang digantikan, bersama yang digantikannya maupun sesudahnya.
     Penggantian kekhalifahan dapat terlaksana akibat ketiadaan di tempat, kematian, atau ketidakmampuan orang yang digantikan, dan dapat juga akibat penghormatan yang diberikan kepada yang menggantikan.
      Para mufasir melihat perbedaan bentuk kata di atas, yaitu “khalifah”, “khalaif”, dan “khulafa” masing-masing mempunyai konteks makna tersendiri yang  berbeda.
     Kalau merujuk kepada Al-Quran untuk mengetahui kandungan makna kata khalifah, karena ayat Al-Quran berfungsi pula sebagai penjelas terhadap ayat lainnya, maka kata “khalifah” yang hanya terulang 2 kali dan konteks pembicaraannya, kita dapat menarik beberapa kesimpulan makna, khususnya dengan memperhatikan ayat surah Shad yang menguraikan sebagian dari sejarah kehidupan Nabi Daud.
     Nabi Daud diceritakan oleh Al-Quran, berhasil membunuh Jalut, dan Allah memberikan Daud kekuasaan atau kerajaan dan hikmah serta mengajarkannya apa yang Allah kehendaki.
    Kekhalifahan yang dianugerahkan kepada Daud bertalian dengan kekuasaan mengelola wilayah tertentu. Hal ini diperolehnya berkat anugerah Allah yang mengajarkan kepadanya hikmah dan ilmu pengetahuan.
     Makna “pengelolaan wilayah tertentu”, atau pengelolaan yang  berkaitan dengan kekuasaan politik, dipahami pula pada ayat yang menggunakan bentuk “khulafa”, berbeda dengan kata “khalaif” yang tidak mengesankan adanya kekuasaan.
      Kesimpulannya, bahwa sejumlah orang yang tidak memiliki kekuasaan politik dinamai oleh Al-Quran “khalaif” , tanpa menggunakan bentuk mufrad atau tunggal.
     Bentuk mufrad atau tunggal tidak dipakai untuk makna tersebut agaknya mengisyaratkan bahwa kekhalifahan yang diemban oleh setiap orang tidak dapat terlaksana tanpa bantuan orang lain, berbeda dengan khalifah yang bermakna penguasa dalam bidang politik.
     Hal ini dapat terwujud dalam diri pribadi seseorang atau diwujudkannya dalam bentuk otoriter atau diktator.
      Nabi Adam dan Daud keduanya sebagai khalifah digambarkan oleh Al-Quran  pernah tergelincir, tetapi diampuni Tuhan, baca Al-Quran QS 2: 36, 37, dan QS 38: 22-25).
     Kesimpulannya, Pertama, kata “khalifah” digunakan oleh Al-Quran untuk siapa pun yang diberi kekuasaan untuk mengelola wilayah yang luas maupun terbatas.
    Dalam hal ini Daud (947-1000 S.M.) mengelola wilayah Palestina, sedangkan Nabi Adam secara potensial atau aktual diberi tugas mengelola bumi keseluruhannya pada awal masa sejarah kemanusiaan.
      Kedua, Bahwa seorang khalifah berpotensi dapat melakukan kekeliruan dan kesalahan akibat mengikuti hawa nafsu. Oleh karena itu, Nabi Adam dan Daud diperingatkan agar tidak mengikuti hawa nafsu.
       •     
     “Maka sekali-kali janganlah kamu dipalingkan daripadanya oleh orang yang tidak beriman kepadanya dan oleh orang yang mengikuti hawa nafsunya, yang menyebabkan kamu Jadi binasa”.
Daftar Pustaka
1. Shihab, M.Quraish. Lentera Hati. Kisah dan Hikmah Kehidupan. Penerbit Mizan, 1994.  
2. Shihab, M.Quraish. E-book Membumikan Al-Quran.
3. Al-Quran Digital, Versi 3.2. Digital Qur’an Ver 3.2

224. KHALIF

MEMAHAMI ARTI KATA KHALIFAH
Oleh: Drs. H. Yusron Hadi, M.M.


       Beberapa orang bertanya,”Apakah arti kata Khalifah? Mohon dijelaskan tentang arti kata Khalifah? Profesor Quraish Shihab menjelaskannya.
      Kata “khalifah” dalam bentuk tunggal terulang 2 kali dalam Al-Quran, yaitu dalam surah Al-Baqarah ayat 30 dan Shad ayat 26.
       Al-Quran surah Al-Baqarah, surah ke-2 ayat 30.
                     •           
      “Dan Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi”. Mereka berkata,” mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan menyucikan Engkau?” Tuhan berfirman, “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui”.
       Al-Quran surah Shad, surah ke-38 ayat 26.
        ••          •               
     “Hai Daud, Sesungguhnya Kami menjadikan kamu khalifah (penguasa) di muka bumi, Maka berilah keputusan (perkara) di antara manusia dengan adil dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena dia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah. Sesungguhnya orang-orang yang sesat dari jalan Allah akan mendapatkan azab yang berat, karena mereka melupakan hari perhitungan”.
      Ada dua bentuk plural yang digunakan oleh Al-Quran. pertama,“Khalaif” yang terulang sebanyak 4, yakni pada surah Al-An'am 165, Yunus 14, 73, dan Fathir 39.
     Kedua, “Khulafa” yang  terulang sebanyak 3 kali, yaitu pada surah Al-A'raf 7:69, 74, dan Al-Naml 27:62.
      Keseluruhan kata tersebut berakar dari kata “khulafa” yang pada mulanya berarti “dibelakang”, maka kata “khalifah” sering kali diartikan sebagai “pengganti”, karena yang menggantikan selalu berada atau datang di belakang, sesudah yang digantikannya.
    Para ulama menjelaskan bahwa seseorang menggantikan yang lain berarti melaksanakan sesuatu atas nama yang digantikan, bersama yang digantikannya maupun sesudahnya.
     Penggantian kekhalifahan dapat terlaksana akibat ketiadaan di tempat, kematian, atau ketidakmampuan orang yang digantikan, dan dapat juga akibat penghormatan yang diberikan kepada yang menggantikan.
      Para mufasir melihat perbedaan bentuk kata di atas, yaitu “khalifah”, “khalaif”, dan “khulafa” masing-masing mempunyai konteks makna tersendiri yang  berbeda.
     Kalau merujuk kepada Al-Quran untuk mengetahui kandungan makna kata khalifah, karena ayat Al-Quran berfungsi pula sebagai penjelas terhadap ayat lainnya, maka kata “khalifah” yang hanya terulang 2 kali dan konteks pembicaraannya, kita dapat menarik beberapa kesimpulan makna, khususnya dengan memperhatikan ayat surah Shad yang menguraikan sebagian dari sejarah kehidupan Nabi Daud.
     Nabi Daud diceritakan oleh Al-Quran, berhasil membunuh Jalut, dan Allah memberikan Daud kekuasaan atau kerajaan dan hikmah serta mengajarkannya apa yang Allah kehendaki.
    Kekhalifahan yang dianugerahkan kepada Daud bertalian dengan kekuasaan mengelola wilayah tertentu. Hal ini diperolehnya berkat anugerah Allah yang mengajarkan kepadanya hikmah dan ilmu pengetahuan.
     Makna “pengelolaan wilayah tertentu”, atau pengelolaan yang  berkaitan dengan kekuasaan politik, dipahami pula pada ayat yang menggunakan bentuk “khulafa”, berbeda dengan kata “khalaif” yang tidak mengesankan adanya kekuasaan.
      Kesimpulannya, bahwa sejumlah orang yang tidak memiliki kekuasaan politik dinamai oleh Al-Quran “khalaif” , tanpa menggunakan bentuk mufrad atau tunggal.
     Bentuk mufrad atau tunggal tidak dipakai untuk makna tersebut agaknya mengisyaratkan bahwa kekhalifahan yang diemban oleh setiap orang tidak dapat terlaksana tanpa bantuan orang lain, berbeda dengan khalifah yang bermakna penguasa dalam bidang politik.
     Hal ini dapat terwujud dalam diri pribadi seseorang atau diwujudkannya dalam bentuk otoriter atau diktator.
      Nabi Adam dan Daud keduanya sebagai khalifah digambarkan oleh Al-Quran  pernah tergelincir, tetapi diampuni Tuhan, baca Al-Quran QS 2: 36, 37, dan QS 38: 22-25).
     Kesimpulannya, Pertama, kata “khalifah” digunakan oleh Al-Quran untuk siapa pun yang diberi kekuasaan untuk mengelola wilayah yang luas maupun terbatas.
    Dalam hal ini Daud (947-1000 S.M.) mengelola wilayah Palestina, sedangkan Nabi Adam secara potensial atau aktual diberi tugas mengelola bumi keseluruhannya pada awal masa sejarah kemanusiaan.
      Kedua, Bahwa seorang khalifah berpotensi dapat melakukan kekeliruan dan kesalahan akibat mengikuti hawa nafsu. Oleh karena itu, Nabi Adam dan Daud diperingatkan agar tidak mengikuti hawa nafsu.
       •     
     “Maka sekali-kali janganlah kamu dipalingkan daripadanya oleh orang yang tidak beriman kepadanya dan oleh orang yang mengikuti hawa nafsunya, yang menyebabkan kamu Jadi binasa”.
Daftar Pustaka
1. Shihab, M.Quraish. Lentera Hati. Kisah dan Hikmah Kehidupan. Penerbit Mizan, 1994.  
2. Shihab, M.Quraish. E-book Membumikan Al-Quran.
3. Al-Quran Digital, Versi 3.2. Digital Qur’an Ver 3.2

224. KHALIF

MEMAHAMI ARTI KATA KHALIFAH
Oleh: Drs. H. Yusron Hadi, M.M.


       Beberapa orang bertanya,”Apakah arti kata Khalifah? Mohon dijelaskan tentang arti kata Khalifah? Profesor Quraish Shihab menjelaskannya.
      Kata “khalifah” dalam bentuk tunggal terulang 2 kali dalam Al-Quran, yaitu dalam surah Al-Baqarah ayat 30 dan Shad ayat 26.
       Al-Quran surah Al-Baqarah, surah ke-2 ayat 30.
                     •           
      “Dan Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi”. Mereka berkata,” mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan menyucikan Engkau?” Tuhan berfirman, “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui”.
       Al-Quran surah Shad, surah ke-38 ayat 26.
        ••          •               
     “Hai Daud, Sesungguhnya Kami menjadikan kamu khalifah (penguasa) di muka bumi, Maka berilah keputusan (perkara) di antara manusia dengan adil dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena dia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah. Sesungguhnya orang-orang yang sesat dari jalan Allah akan mendapatkan azab yang berat, karena mereka melupakan hari perhitungan”.
      Ada dua bentuk plural yang digunakan oleh Al-Quran. pertama,“Khalaif” yang terulang sebanyak 4, yakni pada surah Al-An'am 165, Yunus 14, 73, dan Fathir 39.
     Kedua, “Khulafa” yang  terulang sebanyak 3 kali, yaitu pada surah Al-A'raf 7:69, 74, dan Al-Naml 27:62.
      Keseluruhan kata tersebut berakar dari kata “khulafa” yang pada mulanya berarti “dibelakang”, maka kata “khalifah” sering kali diartikan sebagai “pengganti”, karena yang menggantikan selalu berada atau datang di belakang, sesudah yang digantikannya.
    Para ulama menjelaskan bahwa seseorang menggantikan yang lain berarti melaksanakan sesuatu atas nama yang digantikan, bersama yang digantikannya maupun sesudahnya.
     Penggantian kekhalifahan dapat terlaksana akibat ketiadaan di tempat, kematian, atau ketidakmampuan orang yang digantikan, dan dapat juga akibat penghormatan yang diberikan kepada yang menggantikan.
      Para mufasir melihat perbedaan bentuk kata di atas, yaitu “khalifah”, “khalaif”, dan “khulafa” masing-masing mempunyai konteks makna tersendiri yang  berbeda.
     Kalau merujuk kepada Al-Quran untuk mengetahui kandungan makna kata khalifah, karena ayat Al-Quran berfungsi pula sebagai penjelas terhadap ayat lainnya, maka kata “khalifah” yang hanya terulang 2 kali dan konteks pembicaraannya, kita dapat menarik beberapa kesimpulan makna, khususnya dengan memperhatikan ayat surah Shad yang menguraikan sebagian dari sejarah kehidupan Nabi Daud.
     Nabi Daud diceritakan oleh Al-Quran, berhasil membunuh Jalut, dan Allah memberikan Daud kekuasaan atau kerajaan dan hikmah serta mengajarkannya apa yang Allah kehendaki.
    Kekhalifahan yang dianugerahkan kepada Daud bertalian dengan kekuasaan mengelola wilayah tertentu. Hal ini diperolehnya berkat anugerah Allah yang mengajarkan kepadanya hikmah dan ilmu pengetahuan.
     Makna “pengelolaan wilayah tertentu”, atau pengelolaan yang  berkaitan dengan kekuasaan politik, dipahami pula pada ayat yang menggunakan bentuk “khulafa”, berbeda dengan kata “khalaif” yang tidak mengesankan adanya kekuasaan.
      Kesimpulannya, bahwa sejumlah orang yang tidak memiliki kekuasaan politik dinamai oleh Al-Quran “khalaif” , tanpa menggunakan bentuk mufrad atau tunggal.
     Bentuk mufrad atau tunggal tidak dipakai untuk makna tersebut agaknya mengisyaratkan bahwa kekhalifahan yang diemban oleh setiap orang tidak dapat terlaksana tanpa bantuan orang lain, berbeda dengan khalifah yang bermakna penguasa dalam bidang politik.
     Hal ini dapat terwujud dalam diri pribadi seseorang atau diwujudkannya dalam bentuk otoriter atau diktator.
      Nabi Adam dan Daud keduanya sebagai khalifah digambarkan oleh Al-Quran  pernah tergelincir, tetapi diampuni Tuhan, baca Al-Quran QS 2: 36, 37, dan QS 38: 22-25).
     Kesimpulannya, Pertama, kata “khalifah” digunakan oleh Al-Quran untuk siapa pun yang diberi kekuasaan untuk mengelola wilayah yang luas maupun terbatas.
    Dalam hal ini Daud (947-1000 S.M.) mengelola wilayah Palestina, sedangkan Nabi Adam secara potensial atau aktual diberi tugas mengelola bumi keseluruhannya pada awal masa sejarah kemanusiaan.
      Kedua, Bahwa seorang khalifah berpotensi dapat melakukan kekeliruan dan kesalahan akibat mengikuti hawa nafsu. Oleh karena itu, Nabi Adam dan Daud diperingatkan agar tidak mengikuti hawa nafsu.
       •     
     “Maka sekali-kali janganlah kamu dipalingkan daripadanya oleh orang yang tidak beriman kepadanya dan oleh orang yang mengikuti hawa nafsunya, yang menyebabkan kamu Jadi binasa”.
Daftar Pustaka
1. Shihab, M.Quraish. Lentera Hati. Kisah dan Hikmah Kehidupan. Penerbit Mizan, 1994.  
2. Shihab, M.Quraish. E-book Membumikan Al-Quran.
3. Al-Quran Digital, Versi 3.2. Digital Qur’an Ver 3.2

224. KHALIF

MEMAHAMI ARTI KATA KHALIFAH
Oleh: Drs. H. Yusron Hadi, M.M.


       Beberapa orang bertanya,”Apakah arti kata Khalifah? Mohon dijelaskan tentang arti kata Khalifah? Profesor Quraish Shihab menjelaskannya.
      Kata “khalifah” dalam bentuk tunggal terulang 2 kali dalam Al-Quran, yaitu dalam surah Al-Baqarah ayat 30 dan Shad ayat 26.
       Al-Quran surah Al-Baqarah, surah ke-2 ayat 30.
                     •           
      “Dan Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi”. Mereka berkata,” mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan menyucikan Engkau?” Tuhan berfirman, “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui”.
       Al-Quran surah Shad, surah ke-38 ayat 26.
        ••          •               
     “Hai Daud, Sesungguhnya Kami menjadikan kamu khalifah (penguasa) di muka bumi, Maka berilah keputusan (perkara) di antara manusia dengan adil dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena dia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah. Sesungguhnya orang-orang yang sesat dari jalan Allah akan mendapatkan azab yang berat, karena mereka melupakan hari perhitungan”.
      Ada dua bentuk plural yang digunakan oleh Al-Quran. pertama,“Khalaif” yang terulang sebanyak 4, yakni pada surah Al-An'am 165, Yunus 14, 73, dan Fathir 39.
     Kedua, “Khulafa” yang  terulang sebanyak 3 kali, yaitu pada surah Al-A'raf 7:69, 74, dan Al-Naml 27:62.
      Keseluruhan kata tersebut berakar dari kata “khulafa” yang pada mulanya berarti “dibelakang”, maka kata “khalifah” sering kali diartikan sebagai “pengganti”, karena yang menggantikan selalu berada atau datang di belakang, sesudah yang digantikannya.
    Para ulama menjelaskan bahwa seseorang menggantikan yang lain berarti melaksanakan sesuatu atas nama yang digantikan, bersama yang digantikannya maupun sesudahnya.
     Penggantian kekhalifahan dapat terlaksana akibat ketiadaan di tempat, kematian, atau ketidakmampuan orang yang digantikan, dan dapat juga akibat penghormatan yang diberikan kepada yang menggantikan.
      Para mufasir melihat perbedaan bentuk kata di atas, yaitu “khalifah”, “khalaif”, dan “khulafa” masing-masing mempunyai konteks makna tersendiri yang  berbeda.
     Kalau merujuk kepada Al-Quran untuk mengetahui kandungan makna kata khalifah, karena ayat Al-Quran berfungsi pula sebagai penjelas terhadap ayat lainnya, maka kata “khalifah” yang hanya terulang 2 kali dan konteks pembicaraannya, kita dapat menarik beberapa kesimpulan makna, khususnya dengan memperhatikan ayat surah Shad yang menguraikan sebagian dari sejarah kehidupan Nabi Daud.
     Nabi Daud diceritakan oleh Al-Quran, berhasil membunuh Jalut, dan Allah memberikan Daud kekuasaan atau kerajaan dan hikmah serta mengajarkannya apa yang Allah kehendaki.
    Kekhalifahan yang dianugerahkan kepada Daud bertalian dengan kekuasaan mengelola wilayah tertentu. Hal ini diperolehnya berkat anugerah Allah yang mengajarkan kepadanya hikmah dan ilmu pengetahuan.
     Makna “pengelolaan wilayah tertentu”, atau pengelolaan yang  berkaitan dengan kekuasaan politik, dipahami pula pada ayat yang menggunakan bentuk “khulafa”, berbeda dengan kata “khalaif” yang tidak mengesankan adanya kekuasaan.
      Kesimpulannya, bahwa sejumlah orang yang tidak memiliki kekuasaan politik dinamai oleh Al-Quran “khalaif” , tanpa menggunakan bentuk mufrad atau tunggal.
     Bentuk mufrad atau tunggal tidak dipakai untuk makna tersebut agaknya mengisyaratkan bahwa kekhalifahan yang diemban oleh setiap orang tidak dapat terlaksana tanpa bantuan orang lain, berbeda dengan khalifah yang bermakna penguasa dalam bidang politik.
     Hal ini dapat terwujud dalam diri pribadi seseorang atau diwujudkannya dalam bentuk otoriter atau diktator.
      Nabi Adam dan Daud keduanya sebagai khalifah digambarkan oleh Al-Quran  pernah tergelincir, tetapi diampuni Tuhan, baca Al-Quran QS 2: 36, 37, dan QS 38: 22-25).
     Kesimpulannya, Pertama, kata “khalifah” digunakan oleh Al-Quran untuk siapa pun yang diberi kekuasaan untuk mengelola wilayah yang luas maupun terbatas.
    Dalam hal ini Daud (947-1000 S.M.) mengelola wilayah Palestina, sedangkan Nabi Adam secara potensial atau aktual diberi tugas mengelola bumi keseluruhannya pada awal masa sejarah kemanusiaan.
      Kedua, Bahwa seorang khalifah berpotensi dapat melakukan kekeliruan dan kesalahan akibat mengikuti hawa nafsu. Oleh karena itu, Nabi Adam dan Daud diperingatkan agar tidak mengikuti hawa nafsu.
       •     
     “Maka sekali-kali janganlah kamu dipalingkan daripadanya oleh orang yang tidak beriman kepadanya dan oleh orang yang mengikuti hawa nafsunya, yang menyebabkan kamu Jadi binasa”.
Daftar Pustaka
1. Shihab, M.Quraish. Lentera Hati. Kisah dan Hikmah Kehidupan. Penerbit Mizan, 1994.  
2. Shihab, M.Quraish. E-book Membumikan Al-Quran.
3. Al-Quran Digital, Versi 3.2. Digital Qur’an Ver 3.2

224. KHALIF

MEMAHAMI ARTI KATA KHALIFAH
Oleh: Drs. H. Yusron Hadi, M.M.


       Beberapa orang bertanya,”Apakah arti kata Khalifah? Mohon dijelaskan tentang arti kata Khalifah? Profesor Quraish Shihab menjelaskannya.
      Kata “khalifah” dalam bentuk tunggal terulang 2 kali dalam Al-Quran, yaitu dalam surah Al-Baqarah ayat 30 dan Shad ayat 26.
       Al-Quran surah Al-Baqarah, surah ke-2 ayat 30.
                     •           
      “Dan Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi”. Mereka berkata,” mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan menyucikan Engkau?” Tuhan berfirman, “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui”.
       Al-Quran surah Shad, surah ke-38 ayat 26.
        ••          •               
     “Hai Daud, Sesungguhnya Kami menjadikan kamu khalifah (penguasa) di muka bumi, Maka berilah keputusan (perkara) di antara manusia dengan adil dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena dia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah. Sesungguhnya orang-orang yang sesat dari jalan Allah akan mendapatkan azab yang berat, karena mereka melupakan hari perhitungan”.
      Ada dua bentuk plural yang digunakan oleh Al-Quran. pertama,“Khalaif” yang terulang sebanyak 4, yakni pada surah Al-An'am 165, Yunus 14, 73, dan Fathir 39.
     Kedua, “Khulafa” yang  terulang sebanyak 3 kali, yaitu pada surah Al-A'raf 7:69, 74, dan Al-Naml 27:62.
      Keseluruhan kata tersebut berakar dari kata “khulafa” yang pada mulanya berarti “dibelakang”, maka kata “khalifah” sering kali diartikan sebagai “pengganti”, karena yang menggantikan selalu berada atau datang di belakang, sesudah yang digantikannya.
    Para ulama menjelaskan bahwa seseorang menggantikan yang lain berarti melaksanakan sesuatu atas nama yang digantikan, bersama yang digantikannya maupun sesudahnya.
     Penggantian kekhalifahan dapat terlaksana akibat ketiadaan di tempat, kematian, atau ketidakmampuan orang yang digantikan, dan dapat juga akibat penghormatan yang diberikan kepada yang menggantikan.
      Para mufasir melihat perbedaan bentuk kata di atas, yaitu “khalifah”, “khalaif”, dan “khulafa” masing-masing mempunyai konteks makna tersendiri yang  berbeda.
     Kalau merujuk kepada Al-Quran untuk mengetahui kandungan makna kata khalifah, karena ayat Al-Quran berfungsi pula sebagai penjelas terhadap ayat lainnya, maka kata “khalifah” yang hanya terulang 2 kali dan konteks pembicaraannya, kita dapat menarik beberapa kesimpulan makna, khususnya dengan memperhatikan ayat surah Shad yang menguraikan sebagian dari sejarah kehidupan Nabi Daud.
     Nabi Daud diceritakan oleh Al-Quran, berhasil membunuh Jalut, dan Allah memberikan Daud kekuasaan atau kerajaan dan hikmah serta mengajarkannya apa yang Allah kehendaki.
    Kekhalifahan yang dianugerahkan kepada Daud bertalian dengan kekuasaan mengelola wilayah tertentu. Hal ini diperolehnya berkat anugerah Allah yang mengajarkan kepadanya hikmah dan ilmu pengetahuan.
     Makna “pengelolaan wilayah tertentu”, atau pengelolaan yang  berkaitan dengan kekuasaan politik, dipahami pula pada ayat yang menggunakan bentuk “khulafa”, berbeda dengan kata “khalaif” yang tidak mengesankan adanya kekuasaan.
      Kesimpulannya, bahwa sejumlah orang yang tidak memiliki kekuasaan politik dinamai oleh Al-Quran “khalaif” , tanpa menggunakan bentuk mufrad atau tunggal.
     Bentuk mufrad atau tunggal tidak dipakai untuk makna tersebut agaknya mengisyaratkan bahwa kekhalifahan yang diemban oleh setiap orang tidak dapat terlaksana tanpa bantuan orang lain, berbeda dengan khalifah yang bermakna penguasa dalam bidang politik.
     Hal ini dapat terwujud dalam diri pribadi seseorang atau diwujudkannya dalam bentuk otoriter atau diktator.
      Nabi Adam dan Daud keduanya sebagai khalifah digambarkan oleh Al-Quran  pernah tergelincir, tetapi diampuni Tuhan, baca Al-Quran QS 2: 36, 37, dan QS 38: 22-25).
     Kesimpulannya, Pertama, kata “khalifah” digunakan oleh Al-Quran untuk siapa pun yang diberi kekuasaan untuk mengelola wilayah yang luas maupun terbatas.
    Dalam hal ini Daud (947-1000 S.M.) mengelola wilayah Palestina, sedangkan Nabi Adam secara potensial atau aktual diberi tugas mengelola bumi keseluruhannya pada awal masa sejarah kemanusiaan.
      Kedua, Bahwa seorang khalifah berpotensi dapat melakukan kekeliruan dan kesalahan akibat mengikuti hawa nafsu. Oleh karena itu, Nabi Adam dan Daud diperingatkan agar tidak mengikuti hawa nafsu.
       •     
     “Maka sekali-kali janganlah kamu dipalingkan daripadanya oleh orang yang tidak beriman kepadanya dan oleh orang yang mengikuti hawa nafsunya, yang menyebabkan kamu Jadi binasa”.
Daftar Pustaka
1. Shihab, M.Quraish. Lentera Hati. Kisah dan Hikmah Kehidupan. Penerbit Mizan, 1994.  
2. Shihab, M.Quraish. E-book Membumikan Al-Quran.
3. Al-Quran Digital, Versi 3.2. Digital Qur’an Ver 3.2

224. KHALIF

MEMAHAMI ARTI KATA KHALIFAH
Oleh: Drs. H. Yusron Hadi, M.M.


       Beberapa orang bertanya,”Apakah arti kata Khalifah? Mohon dijelaskan tentang arti kata Khalifah? Profesor Quraish Shihab menjelaskannya.
      Kata “khalifah” dalam bentuk tunggal terulang 2 kali dalam Al-Quran, yaitu dalam surah Al-Baqarah ayat 30 dan Shad ayat 26.
       Al-Quran surah Al-Baqarah, surah ke-2 ayat 30.
                     •           
      “Dan Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi”. Mereka berkata,” mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan menyucikan Engkau?” Tuhan berfirman, “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui”.
       Al-Quran surah Shad, surah ke-38 ayat 26.
        ••          •               
     “Hai Daud, Sesungguhnya Kami menjadikan kamu khalifah (penguasa) di muka bumi, Maka berilah keputusan (perkara) di antara manusia dengan adil dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena dia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah. Sesungguhnya orang-orang yang sesat dari jalan Allah akan mendapatkan azab yang berat, karena mereka melupakan hari perhitungan”.
      Ada dua bentuk plural yang digunakan oleh Al-Quran. pertama,“Khalaif” yang terulang sebanyak 4, yakni pada surah Al-An'am 165, Yunus 14, 73, dan Fathir 39.
     Kedua, “Khulafa” yang  terulang sebanyak 3 kali, yaitu pada surah Al-A'raf 7:69, 74, dan Al-Naml 27:62.
      Keseluruhan kata tersebut berakar dari kata “khulafa” yang pada mulanya berarti “dibelakang”, maka kata “khalifah” sering kali diartikan sebagai “pengganti”, karena yang menggantikan selalu berada atau datang di belakang, sesudah yang digantikannya.
    Para ulama menjelaskan bahwa seseorang menggantikan yang lain berarti melaksanakan sesuatu atas nama yang digantikan, bersama yang digantikannya maupun sesudahnya.
     Penggantian kekhalifahan dapat terlaksana akibat ketiadaan di tempat, kematian, atau ketidakmampuan orang yang digantikan, dan dapat juga akibat penghormatan yang diberikan kepada yang menggantikan.
      Para mufasir melihat perbedaan bentuk kata di atas, yaitu “khalifah”, “khalaif”, dan “khulafa” masing-masing mempunyai konteks makna tersendiri yang  berbeda.
     Kalau merujuk kepada Al-Quran untuk mengetahui kandungan makna kata khalifah, karena ayat Al-Quran berfungsi pula sebagai penjelas terhadap ayat lainnya, maka kata “khalifah” yang hanya terulang 2 kali dan konteks pembicaraannya, kita dapat menarik beberapa kesimpulan makna, khususnya dengan memperhatikan ayat surah Shad yang menguraikan sebagian dari sejarah kehidupan Nabi Daud.
     Nabi Daud diceritakan oleh Al-Quran, berhasil membunuh Jalut, dan Allah memberikan Daud kekuasaan atau kerajaan dan hikmah serta mengajarkannya apa yang Allah kehendaki.
    Kekhalifahan yang dianugerahkan kepada Daud bertalian dengan kekuasaan mengelola wilayah tertentu. Hal ini diperolehnya berkat anugerah Allah yang mengajarkan kepadanya hikmah dan ilmu pengetahuan.
     Makna “pengelolaan wilayah tertentu”, atau pengelolaan yang  berkaitan dengan kekuasaan politik, dipahami pula pada ayat yang menggunakan bentuk “khulafa”, berbeda dengan kata “khalaif” yang tidak mengesankan adanya kekuasaan.
      Kesimpulannya, bahwa sejumlah orang yang tidak memiliki kekuasaan politik dinamai oleh Al-Quran “khalaif” , tanpa menggunakan bentuk mufrad atau tunggal.
     Bentuk mufrad atau tunggal tidak dipakai untuk makna tersebut agaknya mengisyaratkan bahwa kekhalifahan yang diemban oleh setiap orang tidak dapat terlaksana tanpa bantuan orang lain, berbeda dengan khalifah yang bermakna penguasa dalam bidang politik.
     Hal ini dapat terwujud dalam diri pribadi seseorang atau diwujudkannya dalam bentuk otoriter atau diktator.
      Nabi Adam dan Daud keduanya sebagai khalifah digambarkan oleh Al-Quran  pernah tergelincir, tetapi diampuni Tuhan, baca Al-Quran QS 2: 36, 37, dan QS 38: 22-25).
     Kesimpulannya, Pertama, kata “khalifah” digunakan oleh Al-Quran untuk siapa pun yang diberi kekuasaan untuk mengelola wilayah yang luas maupun terbatas.
    Dalam hal ini Daud (947-1000 S.M.) mengelola wilayah Palestina, sedangkan Nabi Adam secara potensial atau aktual diberi tugas mengelola bumi keseluruhannya pada awal masa sejarah kemanusiaan.
      Kedua, Bahwa seorang khalifah berpotensi dapat melakukan kekeliruan dan kesalahan akibat mengikuti hawa nafsu. Oleh karena itu, Nabi Adam dan Daud diperingatkan agar tidak mengikuti hawa nafsu.
       •     
     “Maka sekali-kali janganlah kamu dipalingkan daripadanya oleh orang yang tidak beriman kepadanya dan oleh orang yang mengikuti hawa nafsunya, yang menyebabkan kamu Jadi binasa”.
Daftar Pustaka
1. Shihab, M.Quraish. Lentera Hati. Kisah dan Hikmah Kehidupan. Penerbit Mizan, 1994.  
2. Shihab, M.Quraish. E-book Membumikan Al-Quran.
3. Al-Quran Digital, Versi 3.2. Digital Qur’an Ver 3.2

223. Bagus

Seorang wanita berbincang dgn seorang ustadzah :

_"Ustadzah, saya tidak mau ikut pengajian ini lagi"_

_"Apa alasannya?"_, tanya ustadzah.

_"Saya lihat di pengajian ini perempuannya suka bergosip, laki²nya munafik, pengurusnya cara hidupnya tdk benar, jama'ahnya sibuk dg hpnya, dsb"_

_"Baiklah. Tapi sebelum kau pergi, tolong lakukan sesuatu untukku. Ambil segelas penuh air dan berjalanlah mengelilingi dalam masjid ini tanpa menumpahkan setetes air sekalipun ke lantai. Setelah itu engkau bisa meninggalkan masjid ini seperti keinginanmu."_

_"Itu mudah sekali!"_

Diapun melakukan apa yg dimintakan ustadzah, sementara pengajian sedang berlangsung.

Setelah selesai, dia berkata kepada ustadzah, bahwa dia siap utk pergi.

_"Sebelum kau pergi, ada 1 pertanyaan. Ketika kau tadi berjalan keliling dalam masjid, apa engkau mendengar orang bergosip, melihat orang munafik, melihat orang sibuk dg hpnya?"_

_"Tidak."_

_"Engkau tau mengapa?"_

_"Tidak."_

_"Karena engkau fokus pada gelasmu, memastikan tidak tersandung dan tidak ada air yg tumpah."_

Begitupun dgn kehidupan kita. *Ketika kita mengarahkan pandangan kita kepada Allah ﷻ yg kita imani*, maka :

• *Kita tidak akan punya waktu untuk melihat kesalahan orang lain*

• *Kita tidak akan punya waktu untuk menilai dan mengkritik orang lain.*

• *Kita tidak akan punya waktu untuk bergosip ria dengan orang lain*

• *Kita akan menolong orang lain dan fokus pada langkah kita menggapai ridhoNya*

Direndahkan tidak mungkin jadi sampah, disanjung tidak mungkin jadi rembulan.

Maka jangan risaukan omongan orang, sebab setiap orang membacamu dengan pemahaman dan pengalaman yang berbeda.

Teruslah melangkah selama engkau di jalan yang benar, meski terkadang kebaikan tidak selalu dihargai.

Tidak usah repot2 menjelaskan tentang dirimu, sebab yang menyukaimu tidak butuh itu dan yang membencimu tidak percaya itu.

Hidup bukan tentang siapa yang terbaik, tapi tentang siapa yang mau berbuat baik.

Jika dizhalimi orang jangan berpikir untuk membalas dendam, tapi berpikirlah cara membalas dengan kebaikan.

Jangan mengeluh, teruslah berdoa dan ikhtiar. Sibukkan diri dalam kebaikan hingga keburukan lelah mengikutimu.

Semoga bermanfaat....

222. TAFSIR

MASALAH TAFSIR AL-QURAN
Oleh: Drs. H. Yusron Hadi, M.M.


       Beberapa orang bertanya,”Bagaimanakah problematika tafsir ayat Al-Quran? Mohon dijelaskan tentang masalah tafsir ayat Al-Quran? Profesor Quraish Shihab menjelaskannya.
      Al-Quran berfungsi sebagai “huda” atau petunjuk, dan “furqan” atau pembeda, serta Al-Quran pada hakikatnya menempati posisi sentral dalam studi keislaman, dan menjadi tolok ukur untuk membedakan kebenaran dan kebatilan, termasuk dalam penerimaan dan penolakan setiap berita yang disandarkan kepada Nabi Muhammad.
      Keberadaan Al-Quran di tengah umat Islam, ditambah dengan keinginan mereka untuk memahami petunjuk dan mukjizatnya, telah melahirkan banyak disiplin ilmu keislaman dan metode penelitian.
     Hal ini dimulai dengan disusunnya kaidah “ilmu nahwu”, dan “ushul fiqh” serta lahirnya berbagai metode penafsiran Al-Quran, yang terakhir adalah metode “maudhui” atau “tauhidi”.
      Para ulama mempelajari berbagai disiplin ilmu yang didorong keinginan untuk memahami petunjuk, informasi, dan mukjizat Al-Quran.
     Al-Quran berbicara tentang berbagai aspek kehidupan dan menampilkan beraneka ragam masalah, yang merupakan pokok bahasan berbagai disiplin ilmu, maka kandungannya tidak dapat dipahami secara baik dan benar tanpa mengetahui hasil penelitian dan studi pada bidang yang dipaparkan oleh Al-Quran.
     Para ulama berpendapat, “Saya tidak mengetahui bagaimana seseorang dapat menafsirkan firman Allah yang berbunyi “Kana al-nas ummahwahidah” dalam Al-Quran surah Al-Baqarah, surah ke-2 ayat 213, kalau dia tidak mengetahui keadaan umat manusia dan sejarahnya, yaitu sejarah dan sosiologi.”
      Al-Quran surah Al-Baqarah, surah ke-2 ayat 213, “Manusia adalah umat yang satu. (Setelah timbul perselisihan), maka Allah mengutus para nabi sebagai pemberi kabar gembira dan pemberi peringatan, dan Allah menurunkan bersama mereka Kitab dengan benar, untuk memberi keputusan di antara manusia tentang perkara yang mereka perselisihkan. Tidaklah berselisih tentang Kitab itu melainkan orang yang telah didatangkan kepada mereka Kitab, yaitu setelah datang kepada mereka keterangan yang nyata, karena dengki antara mereka sendiri. Maka Allah memberi petunjuk orang yang beriman kepada kebenaran tentang hal yang mereka perselisihkan dengan kehendak-Nya. Allah selalu memberi petunjuk orang yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus”.
      Para ulama berpendapat bahwa hal ini berlaku pula dalam hubungannya dengan ayat yang berbicara tentang astronomi, embriologi, ekonomi, dan sebagainya.
     Begitu juga dengan pembuktian tentang mukjizat Al-Quran, para ulama berpendapat, “Tidak ada umat Islam saat ini, apalagi yang bukan berasal dari negara berbahasa Arab, yang dapat memahami kemukjizatan Al-Quran dengan membandingkan satu ayat dengan sepenggal kalimat berbentuk prosa atau puisi pra-Islam”.
     Hal tersebut menunjukkan bahwa tidak ada seorang pun saat ini yang dapat merasakan secara sempurna keindahan bahasa Al-Quran, yang merupakan salah satu mukjizatnya, sejak lunturnya kemampuan dan rasa kebahasaan orang Arab sendiri. Oleh karena itu, para ulama menyarankan untuk mencari pembuktian lain yang sesuai, yaitu melalui pendekatan sejarah agama.
      Semuanya membuktikan bahwa bahwa seluruh kelompok dan aliran yang berpredikat Islam, selalu merujuk kepada Al-Quran dan hadis, ketika memunculkan dan mempertahankannya pendapatnya. Artinya, Al-Quran menempati posisi sentral dalam studi keislaman.
     Sekarang ini, semua ulama dan pakar sepakat bahwa metode “ma'tsur”, yaitu memahami dan menafsirkan ayat Al-Quran dengan ayat yang lain atau dengan hadis Nabi Muhammad, dan pendapat para sahabat sebagai metode tafsir terbaik.
     Masalahnya, pendapat tersebut masih memiliki kelemahan dan memerlukan pemikiran yang serius.
     Misalnya, siapakah yang berwenang menetapkan bahwa ayat A ditafsirkan oleh ayat B? Apakah hanya Nabi sendiri, atau para sahabat, atau para ulama ? Apakah kriterianya yang harus dikandung oleh masing-masing ayat untuk maksud tersebut? Dan banyak pertanyaan lain.
     Semuanya masih memerlukan jawaban atau penjelasan yang konkret, karena mungkin saja terjadi penafsiran para ulama yang menggunakan ayat Al-Quran menempati posisi yang lebih tinggi dibandingkan dengan  penafsiran Nabi.
     Para ulama terdahulu menyatakan bahwa peringkat tertinggi dari penafsiran ayat Al-Quran adalah penafsiran ayat dengan ayat yang lain, kemudian penafsiran Nabi, dan terakhir adalah penafsiran para sahabat.
     Al-Quran berfungsi memberikan jalan keluar bagi perselisihan dan masalah masyarakat. Oleh karena itu, masyarakat  menanti pedoman dan petunjuk pemecahannya, dan tugas para ulama untuk menjelaskannya. 
Daftar Pustaka
1. Shihab, M.Quraish. Lentera Hati. Kisah dan Hikmah Kehidupan. Penerbit Mizan, 1994.  
2. Shihab, M.Quraish. E-book Membumikan Al-Quran.
3. Al-Quran Digital, Versi 3.2. Digital Qur’an Ver 3.2