Organisasi Profesi Guru

Presiden Jokowi memberi hormat kepada Guru-Guru se Indonesia.

Tema Gambar Slide 2

Deskripsi gambar slide bisa dituliskan disini dengan beberapa kalimat yang menggambarkan gambar slide yang anda pasang, edit slide ini melalui edit HTML template.

Tema Gambar Slide 3

Deskripsi gambar slide bisa dituliskan disini dengan beberapa kalimat yang menggambarkan gambar slide yang anda pasang, edit slide ini melalui edit HTML template.

Tuesday, November 7, 2017

455. WAKTU

MEMAHAMI MAKNA WAKTU
Oleh: Drs. H. M. Yusron Hadi, M.M.

       Beberapa orang bertanya,”Mohon dijelaskan tentang “Makna waktu menurut Al-Quran?” Profesor Quraish Shihab menjelaskannya.

      Kata “waktu” menurut KBBI V bisa diartikan “seluruh rangkaian saat ketika proses, perbuatan, atau keadaan berada atau berlangsung”, “lamanya (saat yang tertentu)”, saat yang tertentu untuk melakukan sesuatu”,”kesempatan”, “tempo”, “peluang”, “ketika”, “saat”, “hari (keadaan hari)”, dan “saat yang ditentukan berdasarkan pembagian bola dunia”.
     Al-Quran menggunakan beberapa kata untuk  menunjukkan makna-makna di atas. 
     Pertama, kata “Ajal” untuk menunjukkan “waktu berakhirnya sesuatu”, seperti berakhirnya usia manusia atau masyarakat.  
       Al-Quran surah Yunus, surah ke-10 ayat 49 menyatakan setiap umat mempunyai umur batas waktu.   

قُلْ لَا أَمْلِكُ لِنَفْسِي ضَرًّا وَلَا نَفْعًا إِلَّا مَا شَاءَ اللَّهُ ۗلِكُلِّ أُمَّةٍ أَجَلٌ ۚإِذَا جَاءَ أَجَلُهُمْ فَلَا يَسْتَأْخِرُونَ سَاعَةً ۖوَلَا يَسْتَقْدِمُونَ

        “Katakanlah,”Aku tidak berkuasa mendatangkan kemudaratan dan tidak (pula) kemanfaatan kepada diriku, melainkan apa yang dikehendaki Allah”. Tiap-tiap umat mempunyai ajal. Apabila telah datang ajal mereka, maka mereka tidak dapat mengundurkannya sesaat pun dan tidak (pula) mendahulukan (nya)”.
       Al-Quran surah Al-Qashas, surah ke-28 ayat 28.

قَالَ ذَٰلِكَ بَيْنِي وَبَيْنَكَ ۖأَيَّمَا الْأَجَلَيْنِ قَضَيْتُ فَلَا عُدْوَانَ عَلَيَّ ۖوَالَّهُ عَلَىٰ مَا نَقُولُ وَكِيلٌ

      “Dia (Musa) berkata,”Itulah (perjanjian) antara aku dan kamu. Mana saja dari kedua waktu yang ditentukan itu aku sempurnakan, maka tidak ada tuntutan tambahan atas diriku (lagi). Dan Allah adalah saksi atas apa yang kita ucapkan”.

       Al-Quran surah Al-Insan, ke-76 ayat 1.

قَالَ ذَٰلِكَ بَيْنِي وَبَيْنَكَ ۖأَيَّمَا الْأَجَلَيْنِ قَضَيْتُ فَلَا عُدْوَانَ عَلَيَّ ۖوَالَّهُ عَلَىٰ مَا نَقُولُ وَكِيلٌ
    
“Bukankah telah datang atas manusia satu waktu dari masa, sedang dia ketika itu belum merupakan sesuatu yang dapat disebut?”
      Kedua, kata “Dahr” digunakan untuk saat berkepanjangan yang dilalui alam semesta dalam kehidupan dunia ini, yaitu sejak diciptakan oleh Allah sampai punahnya alam semesta ini.  
      Al-Quran surah Al-Insan, surah ke-76 ayat 1. 

هَلْ أَتَىٰ عَلَى الْإِنْسَانِ حِينٌ مِنَ الدَّهْرِ لَمْ يَكُنْ شَيْئًا مَذْكُورًا
   
“Bukankah telah datang atas manusia satu waktu dari masa, sedangkan dia ketika itu belum merupakan sesuatu yang dapat disebut?”
      Al-Quran surah Al-Jatsiyah, surah ke-45 ayat 24. 

وَقَالُوا مَا هِيَ إِلَّا حَيَاتُنَا الدُّنْيَا نَمُوتُ وَنَحْيَا وَمَا يُهْلِكُنَا إِلَّا الدَّهْرُ وَمَا لَهُم بِذَلِكَ مِنْ عِلْمٍ إِنْ هُمْ إِلَّا يَظُنُّونَ ﴿٢٤﴾
   
“Dan mereka berkata,”Kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan di dunia saja, kita mati dan kita hidup dan tidak ada yang membinasakan kita selain masa”, dan mereka sekali-kali tidak mempunyai pengetahuan tentang itu, mereka tidak lain hanyalah menduga-duga saja”.
      Ketiga, kata “Waqt” digunakan  dalam  arti  “batas akhir  kesempatan  atau peluang  untuk menyelesaikan suatu peristiwa”.  Karena itu, sering kali Al-Quran  menggunakannya  dalam  konteks   kadar tertentu dari satu masa. 
      Al-Quran surah An-Nisa, surah ke-4 ayat 103.

فَإِذَا قَضَيْتُمُ الصَّلاةَ فَاذْكُرُوا اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَى جُنُوبِكُمْ فَإِذَا اطْمَأْنَنْتُمْ فَأَقِيمُوا الصَّلاةَ إِنَّ الصَّلاةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ كِتَابًا مَوْقُوتًا
   
  “Maka apabila kamu telah menyelesaikan shalat (mu), ingatlah Allah di waktu berdiri, di waktu duduk dan di waktu berbaring. Kemudian apabila kamu telah merasa aman, maka dirikanlah salat itu (sebagaimana biasa). Sesungguhnya salat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman”.
      Keempat, kata “Ashr” kata ini biasanya diartikan “waktu menjelang terbenammya  matahari”, dan dapat diartikan sebagai “masa” secara mutlak. Makna terakhir ini  diambil  berdasarkan asumsi bahwa “ashr” adalah hal yang terpenting  dalam kehidupan manusia.
     Kata  “ashr”  sendiri  bermakna  "perasan", seakan-akan  masa  harus  digunakan oleh manusia untuk memeras pikiran dan keringatnya, dan hal ini hendaknya dilakukan kapan pun sepanjang masa.
      Al-Quran surah Al-Ashari, surah ke-103 ayat 1-3.

وَالْعَصْرِ . إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ. إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ

      “Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan saling menasihati supaya menaati kebenaran dan saling menasihati supaya menetapi kesabaran”.  
      Para ulama menjelaskan bahwa pandangan Al-Quran tentang “waktu” mengandung pengertian berikut.
      Pertama, kata “ajal” memberikan kesan bahwa segala sesuatu mempunyai batas waktu, sehingga makhluk dalam semesta ini tidak ada yang abadi, yang kekal hanya   Allah Yang Maha Kuasa.
   Kedua, kata “dahr” memberikan kesan bahwa segala sesuatu yang ada sekarang ini, dahulunya tidak ada, sehingga keberadaannya menjadikannya terikat dan dibatasi oleh waktu.    
    Ketiga, kata “waqt” digunakan dalam konteks yang berbeda-beda dan diartikan sebagai batas akhir suatu kesempatan untuk menyelesaikan suatu pekerjaan, serta memberikan kesan agar manusia membuat jadwal kegiatan untuk menyelesaikan suatu pekerjaan tertentu.
    Keempat, kata “ashr” memberikan kesan bahwa saat-saat yang dialami oleh manusia harus diisi dengan kerja keras dan kerja cerdas dengan memeras pikiran.
   Demikianlah makna dan  kesan  yang  diperoleh  dari  akar serta  penggunaan  kata  yang  berarti  “waktu” dalam berbagai makna.  
     Daftar Pustaka
1. Shihab, M.Quraish. Lentera Hati. Kisah dan Hikmah Kehidupan. Penerbit Mizan, 1994.   
2. Shihab, M. Quraish Shihab. Wawasan Al-Quran. Tafsir Maudhui atas Perbagai Persoalan Umat. Penerbit Mizan, 2009.
3. Shihab, M.Quraish. E-book Membumikan Al-Quran.
4. Al-Quran Digital, Versi 3.2. Digital Qur’an Ver 3.2
5. Tafsirq.com online.

455. WAKTU

MEMAHAMI MAKNA WAKTU
Oleh: Drs. H. M. Yusron Hadi, M.M.

       Beberapa orang bertanya,”Mohon dijelaskan tentang “Makna waktu menurut Al-Quran?” Profesor Quraish Shihab menjelaskannya.

      Kata “waktu” menurut KBBI V bisa diartikan “seluruh rangkaian saat ketika proses, perbuatan, atau keadaan berada atau berlangsung”, “lamanya (saat yang tertentu)”, saat yang tertentu untuk melakukan sesuatu”,”kesempatan”, “tempo”, “peluang”, “ketika”, “saat”, “hari (keadaan hari)”, dan “saat yang ditentukan berdasarkan pembagian bola dunia”.
     Al-Quran menggunakan beberapa kata untuk  menunjukkan makna-makna di atas. 
     Pertama, kata “Ajal” untuk menunjukkan “waktu berakhirnya sesuatu”, seperti berakhirnya usia manusia atau masyarakat.  
       Al-Quran surah Yunus, surah ke-10 ayat 49 menyatakan setiap umat mempunyai umur batas waktu.   

قُلْ لَا أَمْلِكُ لِنَفْسِي ضَرًّا وَلَا نَفْعًا إِلَّا مَا شَاءَ اللَّهُ ۗلِكُلِّ أُمَّةٍ أَجَلٌ ۚإِذَا جَاءَ أَجَلُهُمْ فَلَا يَسْتَأْخِرُونَ سَاعَةً ۖوَلَا يَسْتَقْدِمُونَ

        “Katakanlah,”Aku tidak berkuasa mendatangkan kemudaratan dan tidak (pula) kemanfaatan kepada diriku, melainkan apa yang dikehendaki Allah”. Tiap-tiap umat mempunyai ajal. Apabila telah datang ajal mereka, maka mereka tidak dapat mengundurkannya sesaat pun dan tidak (pula) mendahulukan (nya)”.
       Al-Quran surah Al-Qashas, surah ke-28 ayat 28.

قَالَ ذَٰلِكَ بَيْنِي وَبَيْنَكَ ۖأَيَّمَا الْأَجَلَيْنِ قَضَيْتُ فَلَا عُدْوَانَ عَلَيَّ ۖوَالَّهُ عَلَىٰ مَا نَقُولُ وَكِيلٌ

      “Dia (Musa) berkata,”Itulah (perjanjian) antara aku dan kamu. Mana saja dari kedua waktu yang ditentukan itu aku sempurnakan, maka tidak ada tuntutan tambahan atas diriku (lagi). Dan Allah adalah saksi atas apa yang kita ucapkan”.

       Al-Quran surah Al-Insan, ke-76 ayat 1.

قَالَ ذَٰلِكَ بَيْنِي وَبَيْنَكَ ۖأَيَّمَا الْأَجَلَيْنِ قَضَيْتُ فَلَا عُدْوَانَ عَلَيَّ ۖوَالَّهُ عَلَىٰ مَا نَقُولُ وَكِيلٌ
    
“Bukankah telah datang atas manusia satu waktu dari masa, sedang dia ketika itu belum merupakan sesuatu yang dapat disebut?”
      Kedua, kata “Dahr” digunakan untuk saat berkepanjangan yang dilalui alam semesta dalam kehidupan dunia ini, yaitu sejak diciptakan oleh Allah sampai punahnya alam semesta ini.  
      Al-Quran surah Al-Insan, surah ke-76 ayat 1. 

هَلْ أَتَىٰ عَلَى الْإِنْسَانِ حِينٌ مِنَ الدَّهْرِ لَمْ يَكُنْ شَيْئًا مَذْكُورًا
   
“Bukankah telah datang atas manusia satu waktu dari masa, sedangkan dia ketika itu belum merupakan sesuatu yang dapat disebut?”
      Al-Quran surah Al-Jatsiyah, surah ke-45 ayat 24. 

وَقَالُوا مَا هِيَ إِلَّا حَيَاتُنَا الدُّنْيَا نَمُوتُ وَنَحْيَا وَمَا يُهْلِكُنَا إِلَّا الدَّهْرُ وَمَا لَهُم بِذَلِكَ مِنْ عِلْمٍ إِنْ هُمْ إِلَّا يَظُنُّونَ ﴿٢٤﴾
   
“Dan mereka berkata,”Kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan di dunia saja, kita mati dan kita hidup dan tidak ada yang membinasakan kita selain masa”, dan mereka sekali-kali tidak mempunyai pengetahuan tentang itu, mereka tidak lain hanyalah menduga-duga saja”.
      Ketiga, kata “Waqt” digunakan  dalam  arti  “batas akhir  kesempatan  atau peluang  untuk menyelesaikan suatu peristiwa”.  Karena itu, sering kali Al-Quran  menggunakannya  dalam  konteks   kadar tertentu dari satu masa. 
      Al-Quran surah An-Nisa, surah ke-4 ayat 103.

فَإِذَا قَضَيْتُمُ الصَّلاةَ فَاذْكُرُوا اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَى جُنُوبِكُمْ فَإِذَا اطْمَأْنَنْتُمْ فَأَقِيمُوا الصَّلاةَ إِنَّ الصَّلاةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ كِتَابًا مَوْقُوتًا
   
  “Maka apabila kamu telah menyelesaikan shalat (mu), ingatlah Allah di waktu berdiri, di waktu duduk dan di waktu berbaring. Kemudian apabila kamu telah merasa aman, maka dirikanlah salat itu (sebagaimana biasa). Sesungguhnya salat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman”.
      Keempat, kata “Ashr” kata ini biasanya diartikan “waktu menjelang terbenammya  matahari”, dan dapat diartikan sebagai “masa” secara mutlak. Makna terakhir ini  diambil  berdasarkan asumsi bahwa “ashr” adalah hal yang terpenting  dalam kehidupan manusia.
     Kata  “ashr”  sendiri  bermakna  "perasan", seakan-akan  masa  harus  digunakan oleh manusia untuk memeras pikiran dan keringatnya, dan hal ini hendaknya dilakukan kapan pun sepanjang masa.
      Al-Quran surah Al-Ashari, surah ke-103 ayat 1-3.

وَالْعَصْرِ . إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ. إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ

      “Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan saling menasihati supaya menaati kebenaran dan saling menasihati supaya menetapi kesabaran”.  
      Para ulama menjelaskan bahwa pandangan Al-Quran tentang “waktu” mengandung pengertian berikut.
      Pertama, kata “ajal” memberikan kesan bahwa segala sesuatu mempunyai batas waktu, sehingga makhluk dalam semesta ini tidak ada yang abadi, yang kekal hanya   Allah Yang Maha Kuasa.
   Kedua, kata “dahr” memberikan kesan bahwa segala sesuatu yang ada sekarang ini, dahulunya tidak ada, sehingga keberadaannya menjadikannya terikat dan dibatasi oleh waktu.    
    Ketiga, kata “waqt” digunakan dalam konteks yang berbeda-beda dan diartikan sebagai batas akhir suatu kesempatan untuk menyelesaikan suatu pekerjaan, serta memberikan kesan agar manusia membuat jadwal kegiatan untuk menyelesaikan suatu pekerjaan tertentu.
    Keempat, kata “ashr” memberikan kesan bahwa saat-saat yang dialami oleh manusia harus diisi dengan kerja keras dan kerja cerdas dengan memeras pikiran.
   Demikianlah makna dan  kesan  yang  diperoleh  dari  akar serta  penggunaan  kata  yang  berarti  “waktu” dalam berbagai makna.  
     Daftar Pustaka
1. Shihab, M.Quraish. Lentera Hati. Kisah dan Hikmah Kehidupan. Penerbit Mizan, 1994.   
2. Shihab, M. Quraish Shihab. Wawasan Al-Quran. Tafsir Maudhui atas Perbagai Persoalan Umat. Penerbit Mizan, 2009.
3. Shihab, M.Quraish. E-book Membumikan Al-Quran.
4. Al-Quran Digital, Versi 3.2. Digital Qur’an Ver 3.2
5. Tafsirq.com online.

455. WAKTU

MEMAHAMI MAKNA WAKTU
Oleh: Drs. H. M. Yusron Hadi, M.M.

       Beberapa orang bertanya,”Mohon dijelaskan tentang “Makna waktu menurut Al-Quran?” Profesor Quraish Shihab menjelaskannya.

      Kata “waktu” menurut KBBI V bisa diartikan “seluruh rangkaian saat ketika proses, perbuatan, atau keadaan berada atau berlangsung”, “lamanya (saat yang tertentu)”, saat yang tertentu untuk melakukan sesuatu”,”kesempatan”, “tempo”, “peluang”, “ketika”, “saat”, “hari (keadaan hari)”, dan “saat yang ditentukan berdasarkan pembagian bola dunia”.
     Al-Quran menggunakan beberapa kata untuk  menunjukkan makna-makna di atas. 
     Pertama, kata “Ajal” untuk menunjukkan “waktu berakhirnya sesuatu”, seperti berakhirnya usia manusia atau masyarakat.  
       Al-Quran surah Yunus, surah ke-10 ayat 49 menyatakan setiap umat mempunyai umur batas waktu.   

قُلْ لَا أَمْلِكُ لِنَفْسِي ضَرًّا وَلَا نَفْعًا إِلَّا مَا شَاءَ اللَّهُ ۗلِكُلِّ أُمَّةٍ أَجَلٌ ۚإِذَا جَاءَ أَجَلُهُمْ فَلَا يَسْتَأْخِرُونَ سَاعَةً ۖوَلَا يَسْتَقْدِمُونَ

        “Katakanlah,”Aku tidak berkuasa mendatangkan kemudaratan dan tidak (pula) kemanfaatan kepada diriku, melainkan apa yang dikehendaki Allah”. Tiap-tiap umat mempunyai ajal. Apabila telah datang ajal mereka, maka mereka tidak dapat mengundurkannya sesaat pun dan tidak (pula) mendahulukan (nya)”.
       Al-Quran surah Al-Qashas, surah ke-28 ayat 28.

قَالَ ذَٰلِكَ بَيْنِي وَبَيْنَكَ ۖأَيَّمَا الْأَجَلَيْنِ قَضَيْتُ فَلَا عُدْوَانَ عَلَيَّ ۖوَالَّهُ عَلَىٰ مَا نَقُولُ وَكِيلٌ

      “Dia (Musa) berkata,”Itulah (perjanjian) antara aku dan kamu. Mana saja dari kedua waktu yang ditentukan itu aku sempurnakan, maka tidak ada tuntutan tambahan atas diriku (lagi). Dan Allah adalah saksi atas apa yang kita ucapkan”.

       Al-Quran surah Al-Insan, ke-76 ayat 1.

قَالَ ذَٰلِكَ بَيْنِي وَبَيْنَكَ ۖأَيَّمَا الْأَجَلَيْنِ قَضَيْتُ فَلَا عُدْوَانَ عَلَيَّ ۖوَالَّهُ عَلَىٰ مَا نَقُولُ وَكِيلٌ
    
“Bukankah telah datang atas manusia satu waktu dari masa, sedang dia ketika itu belum merupakan sesuatu yang dapat disebut?”
      Kedua, kata “Dahr” digunakan untuk saat berkepanjangan yang dilalui alam semesta dalam kehidupan dunia ini, yaitu sejak diciptakan oleh Allah sampai punahnya alam semesta ini.  
      Al-Quran surah Al-Insan, surah ke-76 ayat 1. 

هَلْ أَتَىٰ عَلَى الْإِنْسَانِ حِينٌ مِنَ الدَّهْرِ لَمْ يَكُنْ شَيْئًا مَذْكُورًا
   
“Bukankah telah datang atas manusia satu waktu dari masa, sedangkan dia ketika itu belum merupakan sesuatu yang dapat disebut?”
      Al-Quran surah Al-Jatsiyah, surah ke-45 ayat 24. 

وَقَالُوا مَا هِيَ إِلَّا حَيَاتُنَا الدُّنْيَا نَمُوتُ وَنَحْيَا وَمَا يُهْلِكُنَا إِلَّا الدَّهْرُ وَمَا لَهُم بِذَلِكَ مِنْ عِلْمٍ إِنْ هُمْ إِلَّا يَظُنُّونَ ﴿٢٤﴾
   
“Dan mereka berkata,”Kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan di dunia saja, kita mati dan kita hidup dan tidak ada yang membinasakan kita selain masa”, dan mereka sekali-kali tidak mempunyai pengetahuan tentang itu, mereka tidak lain hanyalah menduga-duga saja”.
      Ketiga, kata “Waqt” digunakan  dalam  arti  “batas akhir  kesempatan  atau peluang  untuk menyelesaikan suatu peristiwa”.  Karena itu, sering kali Al-Quran  menggunakannya  dalam  konteks   kadar tertentu dari satu masa. 
      Al-Quran surah An-Nisa, surah ke-4 ayat 103.

فَإِذَا قَضَيْتُمُ الصَّلاةَ فَاذْكُرُوا اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَى جُنُوبِكُمْ فَإِذَا اطْمَأْنَنْتُمْ فَأَقِيمُوا الصَّلاةَ إِنَّ الصَّلاةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ كِتَابًا مَوْقُوتًا
   
  “Maka apabila kamu telah menyelesaikan shalat (mu), ingatlah Allah di waktu berdiri, di waktu duduk dan di waktu berbaring. Kemudian apabila kamu telah merasa aman, maka dirikanlah salat itu (sebagaimana biasa). Sesungguhnya salat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman”.
      Keempat, kata “Ashr” kata ini biasanya diartikan “waktu menjelang terbenammya  matahari”, dan dapat diartikan sebagai “masa” secara mutlak. Makna terakhir ini  diambil  berdasarkan asumsi bahwa “ashr” adalah hal yang terpenting  dalam kehidupan manusia.
     Kata  “ashr”  sendiri  bermakna  "perasan", seakan-akan  masa  harus  digunakan oleh manusia untuk memeras pikiran dan keringatnya, dan hal ini hendaknya dilakukan kapan pun sepanjang masa.
      Al-Quran surah Al-Ashari, surah ke-103 ayat 1-3.

وَالْعَصْرِ . إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ. إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ

      “Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan saling menasihati supaya menaati kebenaran dan saling menasihati supaya menetapi kesabaran”.  
      Para ulama menjelaskan bahwa pandangan Al-Quran tentang “waktu” mengandung pengertian berikut.
      Pertama, kata “ajal” memberikan kesan bahwa segala sesuatu mempunyai batas waktu, sehingga makhluk dalam semesta ini tidak ada yang abadi, yang kekal hanya   Allah Yang Maha Kuasa.
   Kedua, kata “dahr” memberikan kesan bahwa segala sesuatu yang ada sekarang ini, dahulunya tidak ada, sehingga keberadaannya menjadikannya terikat dan dibatasi oleh waktu.    
    Ketiga, kata “waqt” digunakan dalam konteks yang berbeda-beda dan diartikan sebagai batas akhir suatu kesempatan untuk menyelesaikan suatu pekerjaan, serta memberikan kesan agar manusia membuat jadwal kegiatan untuk menyelesaikan suatu pekerjaan tertentu.
    Keempat, kata “ashr” memberikan kesan bahwa saat-saat yang dialami oleh manusia harus diisi dengan kerja keras dan kerja cerdas dengan memeras pikiran.
   Demikianlah makna dan  kesan  yang  diperoleh  dari  akar serta  penggunaan  kata  yang  berarti  “waktu” dalam berbagai makna.  
     Daftar Pustaka
1. Shihab, M.Quraish. Lentera Hati. Kisah dan Hikmah Kehidupan. Penerbit Mizan, 1994.   
2. Shihab, M. Quraish Shihab. Wawasan Al-Quran. Tafsir Maudhui atas Perbagai Persoalan Umat. Penerbit Mizan, 2009.
3. Shihab, M.Quraish. E-book Membumikan Al-Quran.
4. Al-Quran Digital, Versi 3.2. Digital Qur’an Ver 3.2
5. Tafsirq.com online.

455. WAKTU

MEMAHAMI MAKNA WAKTU
Oleh: Drs. H. M. Yusron Hadi, M.M.

       Beberapa orang bertanya,”Mohon dijelaskan tentang “Makna waktu menurut Al-Quran?” Profesor Quraish Shihab menjelaskannya.

      Kata “waktu” menurut KBBI V bisa diartikan “seluruh rangkaian saat ketika proses, perbuatan, atau keadaan berada atau berlangsung”, “lamanya (saat yang tertentu)”, saat yang tertentu untuk melakukan sesuatu”,”kesempatan”, “tempo”, “peluang”, “ketika”, “saat”, “hari (keadaan hari)”, dan “saat yang ditentukan berdasarkan pembagian bola dunia”.
     Al-Quran menggunakan beberapa kata untuk  menunjukkan makna-makna di atas. 
     Pertama, kata “Ajal” untuk menunjukkan “waktu berakhirnya sesuatu”, seperti berakhirnya usia manusia atau masyarakat.  
       Al-Quran surah Yunus, surah ke-10 ayat 49 menyatakan setiap umat mempunyai umur batas waktu.   

قُلْ لَا أَمْلِكُ لِنَفْسِي ضَرًّا وَلَا نَفْعًا إِلَّا مَا شَاءَ اللَّهُ ۗلِكُلِّ أُمَّةٍ أَجَلٌ ۚإِذَا جَاءَ أَجَلُهُمْ فَلَا يَسْتَأْخِرُونَ سَاعَةً ۖوَلَا يَسْتَقْدِمُونَ

        “Katakanlah,”Aku tidak berkuasa mendatangkan kemudaratan dan tidak (pula) kemanfaatan kepada diriku, melainkan apa yang dikehendaki Allah”. Tiap-tiap umat mempunyai ajal. Apabila telah datang ajal mereka, maka mereka tidak dapat mengundurkannya sesaat pun dan tidak (pula) mendahulukan (nya)”.
       Al-Quran surah Al-Qashas, surah ke-28 ayat 28.

قَالَ ذَٰلِكَ بَيْنِي وَبَيْنَكَ ۖأَيَّمَا الْأَجَلَيْنِ قَضَيْتُ فَلَا عُدْوَانَ عَلَيَّ ۖوَالَّهُ عَلَىٰ مَا نَقُولُ وَكِيلٌ

      “Dia (Musa) berkata,”Itulah (perjanjian) antara aku dan kamu. Mana saja dari kedua waktu yang ditentukan itu aku sempurnakan, maka tidak ada tuntutan tambahan atas diriku (lagi). Dan Allah adalah saksi atas apa yang kita ucapkan”.

       Al-Quran surah Al-Insan, ke-76 ayat 1.

قَالَ ذَٰلِكَ بَيْنِي وَبَيْنَكَ ۖأَيَّمَا الْأَجَلَيْنِ قَضَيْتُ فَلَا عُدْوَانَ عَلَيَّ ۖوَالَّهُ عَلَىٰ مَا نَقُولُ وَكِيلٌ
    
“Bukankah telah datang atas manusia satu waktu dari masa, sedang dia ketika itu belum merupakan sesuatu yang dapat disebut?”
      Kedua, kata “Dahr” digunakan untuk saat berkepanjangan yang dilalui alam semesta dalam kehidupan dunia ini, yaitu sejak diciptakan oleh Allah sampai punahnya alam semesta ini.  
      Al-Quran surah Al-Insan, surah ke-76 ayat 1. 

هَلْ أَتَىٰ عَلَى الْإِنْسَانِ حِينٌ مِنَ الدَّهْرِ لَمْ يَكُنْ شَيْئًا مَذْكُورًا
   
“Bukankah telah datang atas manusia satu waktu dari masa, sedangkan dia ketika itu belum merupakan sesuatu yang dapat disebut?”
      Al-Quran surah Al-Jatsiyah, surah ke-45 ayat 24. 

وَقَالُوا مَا هِيَ إِلَّا حَيَاتُنَا الدُّنْيَا نَمُوتُ وَنَحْيَا وَمَا يُهْلِكُنَا إِلَّا الدَّهْرُ وَمَا لَهُم بِذَلِكَ مِنْ عِلْمٍ إِنْ هُمْ إِلَّا يَظُنُّونَ ﴿٢٤﴾
   
“Dan mereka berkata,”Kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan di dunia saja, kita mati dan kita hidup dan tidak ada yang membinasakan kita selain masa”, dan mereka sekali-kali tidak mempunyai pengetahuan tentang itu, mereka tidak lain hanyalah menduga-duga saja”.
      Ketiga, kata “Waqt” digunakan  dalam  arti  “batas akhir  kesempatan  atau peluang  untuk menyelesaikan suatu peristiwa”.  Karena itu, sering kali Al-Quran  menggunakannya  dalam  konteks   kadar tertentu dari satu masa. 
      Al-Quran surah An-Nisa, surah ke-4 ayat 103.

فَإِذَا قَضَيْتُمُ الصَّلاةَ فَاذْكُرُوا اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَى جُنُوبِكُمْ فَإِذَا اطْمَأْنَنْتُمْ فَأَقِيمُوا الصَّلاةَ إِنَّ الصَّلاةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ كِتَابًا مَوْقُوتًا
   
  “Maka apabila kamu telah menyelesaikan shalat (mu), ingatlah Allah di waktu berdiri, di waktu duduk dan di waktu berbaring. Kemudian apabila kamu telah merasa aman, maka dirikanlah salat itu (sebagaimana biasa). Sesungguhnya salat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman”.
      Keempat, kata “Ashr” kata ini biasanya diartikan “waktu menjelang terbenammya  matahari”, dan dapat diartikan sebagai “masa” secara mutlak. Makna terakhir ini  diambil  berdasarkan asumsi bahwa “ashr” adalah hal yang terpenting  dalam kehidupan manusia.
     Kata  “ashr”  sendiri  bermakna  "perasan", seakan-akan  masa  harus  digunakan oleh manusia untuk memeras pikiran dan keringatnya, dan hal ini hendaknya dilakukan kapan pun sepanjang masa.
      Al-Quran surah Al-Ashari, surah ke-103 ayat 1-3.

وَالْعَصْرِ . إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ. إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ

      “Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan saling menasihati supaya menaati kebenaran dan saling menasihati supaya menetapi kesabaran”.  
      Para ulama menjelaskan bahwa pandangan Al-Quran tentang “waktu” mengandung pengertian berikut.
      Pertama, kata “ajal” memberikan kesan bahwa segala sesuatu mempunyai batas waktu, sehingga makhluk dalam semesta ini tidak ada yang abadi, yang kekal hanya   Allah Yang Maha Kuasa.
   Kedua, kata “dahr” memberikan kesan bahwa segala sesuatu yang ada sekarang ini, dahulunya tidak ada, sehingga keberadaannya menjadikannya terikat dan dibatasi oleh waktu.    
    Ketiga, kata “waqt” digunakan dalam konteks yang berbeda-beda dan diartikan sebagai batas akhir suatu kesempatan untuk menyelesaikan suatu pekerjaan, serta memberikan kesan agar manusia membuat jadwal kegiatan untuk menyelesaikan suatu pekerjaan tertentu.
    Keempat, kata “ashr” memberikan kesan bahwa saat-saat yang dialami oleh manusia harus diisi dengan kerja keras dan kerja cerdas dengan memeras pikiran.
   Demikianlah makna dan  kesan  yang  diperoleh  dari  akar serta  penggunaan  kata  yang  berarti  “waktu” dalam berbagai makna.  
     Daftar Pustaka
1. Shihab, M.Quraish. Lentera Hati. Kisah dan Hikmah Kehidupan. Penerbit Mizan, 1994.   
2. Shihab, M. Quraish Shihab. Wawasan Al-Quran. Tafsir Maudhui atas Perbagai Persoalan Umat. Penerbit Mizan, 2009.
3. Shihab, M.Quraish. E-book Membumikan Al-Quran.
4. Al-Quran Digital, Versi 3.2. Digital Qur’an Ver 3.2
5. Tafsirq.com online.

455. WAKTU

MEMAHAMI MAKNA WAKTU
Oleh: Drs. H. M. Yusron Hadi, M.M.

       Beberapa orang bertanya,”Mohon dijelaskan tentang “Makna waktu menurut Al-Quran?” Profesor Quraish Shihab menjelaskannya.

      Kata “waktu” menurut KBBI V bisa diartikan “seluruh rangkaian saat ketika proses, perbuatan, atau keadaan berada atau berlangsung”, “lamanya (saat yang tertentu)”, saat yang tertentu untuk melakukan sesuatu”,”kesempatan”, “tempo”, “peluang”, “ketika”, “saat”, “hari (keadaan hari)”, dan “saat yang ditentukan berdasarkan pembagian bola dunia”.
     Al-Quran menggunakan beberapa kata untuk  menunjukkan makna-makna di atas. 
     Pertama, kata “Ajal” untuk menunjukkan “waktu berakhirnya sesuatu”, seperti berakhirnya usia manusia atau masyarakat.  
       Al-Quran surah Yunus, surah ke-10 ayat 49 menyatakan setiap umat mempunyai umur batas waktu.   

قُلْ لَا أَمْلِكُ لِنَفْسِي ضَرًّا وَلَا نَفْعًا إِلَّا مَا شَاءَ اللَّهُ ۗلِكُلِّ أُمَّةٍ أَجَلٌ ۚإِذَا جَاءَ أَجَلُهُمْ فَلَا يَسْتَأْخِرُونَ سَاعَةً ۖوَلَا يَسْتَقْدِمُونَ

        “Katakanlah,”Aku tidak berkuasa mendatangkan kemudaratan dan tidak (pula) kemanfaatan kepada diriku, melainkan apa yang dikehendaki Allah”. Tiap-tiap umat mempunyai ajal. Apabila telah datang ajal mereka, maka mereka tidak dapat mengundurkannya sesaat pun dan tidak (pula) mendahulukan (nya)”.
       Al-Quran surah Al-Qashas, surah ke-28 ayat 28.

قَالَ ذَٰلِكَ بَيْنِي وَبَيْنَكَ ۖأَيَّمَا الْأَجَلَيْنِ قَضَيْتُ فَلَا عُدْوَانَ عَلَيَّ ۖوَالَّهُ عَلَىٰ مَا نَقُولُ وَكِيلٌ

      “Dia (Musa) berkata,”Itulah (perjanjian) antara aku dan kamu. Mana saja dari kedua waktu yang ditentukan itu aku sempurnakan, maka tidak ada tuntutan tambahan atas diriku (lagi). Dan Allah adalah saksi atas apa yang kita ucapkan”.

       Al-Quran surah Al-Insan, ke-76 ayat 1.

قَالَ ذَٰلِكَ بَيْنِي وَبَيْنَكَ ۖأَيَّمَا الْأَجَلَيْنِ قَضَيْتُ فَلَا عُدْوَانَ عَلَيَّ ۖوَالَّهُ عَلَىٰ مَا نَقُولُ وَكِيلٌ
    
“Bukankah telah datang atas manusia satu waktu dari masa, sedang dia ketika itu belum merupakan sesuatu yang dapat disebut?”
      Kedua, kata “Dahr” digunakan untuk saat berkepanjangan yang dilalui alam semesta dalam kehidupan dunia ini, yaitu sejak diciptakan oleh Allah sampai punahnya alam semesta ini.  
      Al-Quran surah Al-Insan, surah ke-76 ayat 1. 

هَلْ أَتَىٰ عَلَى الْإِنْسَانِ حِينٌ مِنَ الدَّهْرِ لَمْ يَكُنْ شَيْئًا مَذْكُورًا
   
“Bukankah telah datang atas manusia satu waktu dari masa, sedangkan dia ketika itu belum merupakan sesuatu yang dapat disebut?”
      Al-Quran surah Al-Jatsiyah, surah ke-45 ayat 24. 

وَقَالُوا مَا هِيَ إِلَّا حَيَاتُنَا الدُّنْيَا نَمُوتُ وَنَحْيَا وَمَا يُهْلِكُنَا إِلَّا الدَّهْرُ وَمَا لَهُم بِذَلِكَ مِنْ عِلْمٍ إِنْ هُمْ إِلَّا يَظُنُّونَ ﴿٢٤﴾
   
“Dan mereka berkata,”Kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan di dunia saja, kita mati dan kita hidup dan tidak ada yang membinasakan kita selain masa”, dan mereka sekali-kali tidak mempunyai pengetahuan tentang itu, mereka tidak lain hanyalah menduga-duga saja”.
      Ketiga, kata “Waqt” digunakan  dalam  arti  “batas akhir  kesempatan  atau peluang  untuk menyelesaikan suatu peristiwa”.  Karena itu, sering kali Al-Quran  menggunakannya  dalam  konteks   kadar tertentu dari satu masa. 
      Al-Quran surah An-Nisa, surah ke-4 ayat 103.

فَإِذَا قَضَيْتُمُ الصَّلاةَ فَاذْكُرُوا اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَى جُنُوبِكُمْ فَإِذَا اطْمَأْنَنْتُمْ فَأَقِيمُوا الصَّلاةَ إِنَّ الصَّلاةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ كِتَابًا مَوْقُوتًا
   
  “Maka apabila kamu telah menyelesaikan shalat (mu), ingatlah Allah di waktu berdiri, di waktu duduk dan di waktu berbaring. Kemudian apabila kamu telah merasa aman, maka dirikanlah salat itu (sebagaimana biasa). Sesungguhnya salat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman”.
      Keempat, kata “Ashr” kata ini biasanya diartikan “waktu menjelang terbenammya  matahari”, dan dapat diartikan sebagai “masa” secara mutlak. Makna terakhir ini  diambil  berdasarkan asumsi bahwa “ashr” adalah hal yang terpenting  dalam kehidupan manusia.
     Kata  “ashr”  sendiri  bermakna  "perasan", seakan-akan  masa  harus  digunakan oleh manusia untuk memeras pikiran dan keringatnya, dan hal ini hendaknya dilakukan kapan pun sepanjang masa.
      Al-Quran surah Al-Ashari, surah ke-103 ayat 1-3.

وَالْعَصْرِ . إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ. إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ

      “Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan saling menasihati supaya menaati kebenaran dan saling menasihati supaya menetapi kesabaran”.  
      Para ulama menjelaskan bahwa pandangan Al-Quran tentang “waktu” mengandung pengertian berikut.
      Pertama, kata “ajal” memberikan kesan bahwa segala sesuatu mempunyai batas waktu, sehingga makhluk dalam semesta ini tidak ada yang abadi, yang kekal hanya   Allah Yang Maha Kuasa.
   Kedua, kata “dahr” memberikan kesan bahwa segala sesuatu yang ada sekarang ini, dahulunya tidak ada, sehingga keberadaannya menjadikannya terikat dan dibatasi oleh waktu.    
    Ketiga, kata “waqt” digunakan dalam konteks yang berbeda-beda dan diartikan sebagai batas akhir suatu kesempatan untuk menyelesaikan suatu pekerjaan, serta memberikan kesan agar manusia membuat jadwal kegiatan untuk menyelesaikan suatu pekerjaan tertentu.
    Keempat, kata “ashr” memberikan kesan bahwa saat-saat yang dialami oleh manusia harus diisi dengan kerja keras dan kerja cerdas dengan memeras pikiran.
   Demikianlah makna dan  kesan  yang  diperoleh  dari  akar serta  penggunaan  kata  yang  berarti  “waktu” dalam berbagai makna.  
     Daftar Pustaka
1. Shihab, M.Quraish. Lentera Hati. Kisah dan Hikmah Kehidupan. Penerbit Mizan, 1994.   
2. Shihab, M. Quraish Shihab. Wawasan Al-Quran. Tafsir Maudhui atas Perbagai Persoalan Umat. Penerbit Mizan, 2009.
3. Shihab, M.Quraish. E-book Membumikan Al-Quran.
4. Al-Quran Digital, Versi 3.2. Digital Qur’an Ver 3.2
5. Tafsirq.com online.

455. WAKTU

MEMAHAMI MAKNA WAKTU
Oleh: Drs. H. M. Yusron Hadi, M.M.

       Beberapa orang bertanya,”Mohon dijelaskan tentang “Makna waktu menurut Al-Quran?” Profesor Quraish Shihab menjelaskannya.

      Kata “waktu” menurut KBBI V bisa diartikan “seluruh rangkaian saat ketika proses, perbuatan, atau keadaan berada atau berlangsung”, “lamanya (saat yang tertentu)”, saat yang tertentu untuk melakukan sesuatu”,”kesempatan”, “tempo”, “peluang”, “ketika”, “saat”, “hari (keadaan hari)”, dan “saat yang ditentukan berdasarkan pembagian bola dunia”.
     Al-Quran menggunakan beberapa kata untuk  menunjukkan makna-makna di atas. 
     Pertama, kata “Ajal” untuk menunjukkan “waktu berakhirnya sesuatu”, seperti berakhirnya usia manusia atau masyarakat.  
       Al-Quran surah Yunus, surah ke-10 ayat 49 menyatakan setiap umat mempunyai umur batas waktu.   

قُلْ لَا أَمْلِكُ لِنَفْسِي ضَرًّا وَلَا نَفْعًا إِلَّا مَا شَاءَ اللَّهُ ۗلِكُلِّ أُمَّةٍ أَجَلٌ ۚإِذَا جَاءَ أَجَلُهُمْ فَلَا يَسْتَأْخِرُونَ سَاعَةً ۖوَلَا يَسْتَقْدِمُونَ

        “Katakanlah,”Aku tidak berkuasa mendatangkan kemudaratan dan tidak (pula) kemanfaatan kepada diriku, melainkan apa yang dikehendaki Allah”. Tiap-tiap umat mempunyai ajal. Apabila telah datang ajal mereka, maka mereka tidak dapat mengundurkannya sesaat pun dan tidak (pula) mendahulukan (nya)”.
       Al-Quran surah Al-Qashas, surah ke-28 ayat 28.

قَالَ ذَٰلِكَ بَيْنِي وَبَيْنَكَ ۖأَيَّمَا الْأَجَلَيْنِ قَضَيْتُ فَلَا عُدْوَانَ عَلَيَّ ۖوَالَّهُ عَلَىٰ مَا نَقُولُ وَكِيلٌ

      “Dia (Musa) berkata,”Itulah (perjanjian) antara aku dan kamu. Mana saja dari kedua waktu yang ditentukan itu aku sempurnakan, maka tidak ada tuntutan tambahan atas diriku (lagi). Dan Allah adalah saksi atas apa yang kita ucapkan”.

       Al-Quran surah Al-Insan, ke-76 ayat 1.

قَالَ ذَٰلِكَ بَيْنِي وَبَيْنَكَ ۖأَيَّمَا الْأَجَلَيْنِ قَضَيْتُ فَلَا عُدْوَانَ عَلَيَّ ۖوَالَّهُ عَلَىٰ مَا نَقُولُ وَكِيلٌ
    
“Bukankah telah datang atas manusia satu waktu dari masa, sedang dia ketika itu belum merupakan sesuatu yang dapat disebut?”
      Kedua, kata “Dahr” digunakan untuk saat berkepanjangan yang dilalui alam semesta dalam kehidupan dunia ini, yaitu sejak diciptakan oleh Allah sampai punahnya alam semesta ini.  
      Al-Quran surah Al-Insan, surah ke-76 ayat 1. 

هَلْ أَتَىٰ عَلَى الْإِنْسَانِ حِينٌ مِنَ الدَّهْرِ لَمْ يَكُنْ شَيْئًا مَذْكُورًا
   
“Bukankah telah datang atas manusia satu waktu dari masa, sedangkan dia ketika itu belum merupakan sesuatu yang dapat disebut?”
      Al-Quran surah Al-Jatsiyah, surah ke-45 ayat 24. 

وَقَالُوا مَا هِيَ إِلَّا حَيَاتُنَا الدُّنْيَا نَمُوتُ وَنَحْيَا وَمَا يُهْلِكُنَا إِلَّا الدَّهْرُ وَمَا لَهُم بِذَلِكَ مِنْ عِلْمٍ إِنْ هُمْ إِلَّا يَظُنُّونَ ﴿٢٤﴾
   
“Dan mereka berkata,”Kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan di dunia saja, kita mati dan kita hidup dan tidak ada yang membinasakan kita selain masa”, dan mereka sekali-kali tidak mempunyai pengetahuan tentang itu, mereka tidak lain hanyalah menduga-duga saja”.
      Ketiga, kata “Waqt” digunakan  dalam  arti  “batas akhir  kesempatan  atau peluang  untuk menyelesaikan suatu peristiwa”.  Karena itu, sering kali Al-Quran  menggunakannya  dalam  konteks   kadar tertentu dari satu masa. 
      Al-Quran surah An-Nisa, surah ke-4 ayat 103.

فَإِذَا قَضَيْتُمُ الصَّلاةَ فَاذْكُرُوا اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَى جُنُوبِكُمْ فَإِذَا اطْمَأْنَنْتُمْ فَأَقِيمُوا الصَّلاةَ إِنَّ الصَّلاةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ كِتَابًا مَوْقُوتًا
   
  “Maka apabila kamu telah menyelesaikan shalat (mu), ingatlah Allah di waktu berdiri, di waktu duduk dan di waktu berbaring. Kemudian apabila kamu telah merasa aman, maka dirikanlah salat itu (sebagaimana biasa). Sesungguhnya salat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman”.
      Keempat, kata “Ashr” kata ini biasanya diartikan “waktu menjelang terbenammya  matahari”, dan dapat diartikan sebagai “masa” secara mutlak. Makna terakhir ini  diambil  berdasarkan asumsi bahwa “ashr” adalah hal yang terpenting  dalam kehidupan manusia.
     Kata  “ashr”  sendiri  bermakna  "perasan", seakan-akan  masa  harus  digunakan oleh manusia untuk memeras pikiran dan keringatnya, dan hal ini hendaknya dilakukan kapan pun sepanjang masa.
      Al-Quran surah Al-Ashari, surah ke-103 ayat 1-3.

وَالْعَصْرِ . إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ. إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ

      “Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan saling menasihati supaya menaati kebenaran dan saling menasihati supaya menetapi kesabaran”.  
      Para ulama menjelaskan bahwa pandangan Al-Quran tentang “waktu” mengandung pengertian berikut.
      Pertama, kata “ajal” memberikan kesan bahwa segala sesuatu mempunyai batas waktu, sehingga makhluk dalam semesta ini tidak ada yang abadi, yang kekal hanya   Allah Yang Maha Kuasa.
   Kedua, kata “dahr” memberikan kesan bahwa segala sesuatu yang ada sekarang ini, dahulunya tidak ada, sehingga keberadaannya menjadikannya terikat dan dibatasi oleh waktu.    
    Ketiga, kata “waqt” digunakan dalam konteks yang berbeda-beda dan diartikan sebagai batas akhir suatu kesempatan untuk menyelesaikan suatu pekerjaan, serta memberikan kesan agar manusia membuat jadwal kegiatan untuk menyelesaikan suatu pekerjaan tertentu.
    Keempat, kata “ashr” memberikan kesan bahwa saat-saat yang dialami oleh manusia harus diisi dengan kerja keras dan kerja cerdas dengan memeras pikiran.
   Demikianlah makna dan  kesan  yang  diperoleh  dari  akar serta  penggunaan  kata  yang  berarti  “waktu” dalam berbagai makna.  
     Daftar Pustaka
1. Shihab, M.Quraish. Lentera Hati. Kisah dan Hikmah Kehidupan. Penerbit Mizan, 1994.   
2. Shihab, M. Quraish Shihab. Wawasan Al-Quran. Tafsir Maudhui atas Perbagai Persoalan Umat. Penerbit Mizan, 2009.
3. Shihab, M.Quraish. E-book Membumikan Al-Quran.
4. Al-Quran Digital, Versi 3.2. Digital Qur’an Ver 3.2
5. Tafsirq.com online.

455. WAKTU

MEMAHAMI MAKNA WAKTU
Oleh: Drs. H. M. Yusron Hadi, M.M.

       Beberapa orang bertanya,”Mohon dijelaskan tentang “Makna waktu menurut Al-Quran?” Profesor Quraish Shihab menjelaskannya.

      Kata “waktu” menurut KBBI V bisa diartikan “seluruh rangkaian saat ketika proses, perbuatan, atau keadaan berada atau berlangsung”, “lamanya (saat yang tertentu)”, saat yang tertentu untuk melakukan sesuatu”,”kesempatan”, “tempo”, “peluang”, “ketika”, “saat”, “hari (keadaan hari)”, dan “saat yang ditentukan berdasarkan pembagian bola dunia”.
     Al-Quran menggunakan beberapa kata untuk  menunjukkan makna-makna di atas. 
     Pertama, kata “Ajal” untuk menunjukkan “waktu berakhirnya sesuatu”, seperti berakhirnya usia manusia atau masyarakat.  
       Al-Quran surah Yunus, surah ke-10 ayat 49 menyatakan setiap umat mempunyai umur batas waktu.   

قُلْ لَا أَمْلِكُ لِنَفْسِي ضَرًّا وَلَا نَفْعًا إِلَّا مَا شَاءَ اللَّهُ ۗلِكُلِّ أُمَّةٍ أَجَلٌ ۚإِذَا جَاءَ أَجَلُهُمْ فَلَا يَسْتَأْخِرُونَ سَاعَةً ۖوَلَا يَسْتَقْدِمُونَ

        “Katakanlah,”Aku tidak berkuasa mendatangkan kemudaratan dan tidak (pula) kemanfaatan kepada diriku, melainkan apa yang dikehendaki Allah”. Tiap-tiap umat mempunyai ajal. Apabila telah datang ajal mereka, maka mereka tidak dapat mengundurkannya sesaat pun dan tidak (pula) mendahulukan (nya)”.
       Al-Quran surah Al-Qashas, surah ke-28 ayat 28.

قَالَ ذَٰلِكَ بَيْنِي وَبَيْنَكَ ۖأَيَّمَا الْأَجَلَيْنِ قَضَيْتُ فَلَا عُدْوَانَ عَلَيَّ ۖوَالَّهُ عَلَىٰ مَا نَقُولُ وَكِيلٌ

      “Dia (Musa) berkata,”Itulah (perjanjian) antara aku dan kamu. Mana saja dari kedua waktu yang ditentukan itu aku sempurnakan, maka tidak ada tuntutan tambahan atas diriku (lagi). Dan Allah adalah saksi atas apa yang kita ucapkan”.

       Al-Quran surah Al-Insan, ke-76 ayat 1.

قَالَ ذَٰلِكَ بَيْنِي وَبَيْنَكَ ۖأَيَّمَا الْأَجَلَيْنِ قَضَيْتُ فَلَا عُدْوَانَ عَلَيَّ ۖوَالَّهُ عَلَىٰ مَا نَقُولُ وَكِيلٌ
    
“Bukankah telah datang atas manusia satu waktu dari masa, sedang dia ketika itu belum merupakan sesuatu yang dapat disebut?”
      Kedua, kata “Dahr” digunakan untuk saat berkepanjangan yang dilalui alam semesta dalam kehidupan dunia ini, yaitu sejak diciptakan oleh Allah sampai punahnya alam semesta ini.  
      Al-Quran surah Al-Insan, surah ke-76 ayat 1. 

هَلْ أَتَىٰ عَلَى الْإِنْسَانِ حِينٌ مِنَ الدَّهْرِ لَمْ يَكُنْ شَيْئًا مَذْكُورًا
   
“Bukankah telah datang atas manusia satu waktu dari masa, sedangkan dia ketika itu belum merupakan sesuatu yang dapat disebut?”
      Al-Quran surah Al-Jatsiyah, surah ke-45 ayat 24. 

وَقَالُوا مَا هِيَ إِلَّا حَيَاتُنَا الدُّنْيَا نَمُوتُ وَنَحْيَا وَمَا يُهْلِكُنَا إِلَّا الدَّهْرُ وَمَا لَهُم بِذَلِكَ مِنْ عِلْمٍ إِنْ هُمْ إِلَّا يَظُنُّونَ ﴿٢٤﴾
   
“Dan mereka berkata,”Kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan di dunia saja, kita mati dan kita hidup dan tidak ada yang membinasakan kita selain masa”, dan mereka sekali-kali tidak mempunyai pengetahuan tentang itu, mereka tidak lain hanyalah menduga-duga saja”.
      Ketiga, kata “Waqt” digunakan  dalam  arti  “batas akhir  kesempatan  atau peluang  untuk menyelesaikan suatu peristiwa”.  Karena itu, sering kali Al-Quran  menggunakannya  dalam  konteks   kadar tertentu dari satu masa. 
      Al-Quran surah An-Nisa, surah ke-4 ayat 103.

فَإِذَا قَضَيْتُمُ الصَّلاةَ فَاذْكُرُوا اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَى جُنُوبِكُمْ فَإِذَا اطْمَأْنَنْتُمْ فَأَقِيمُوا الصَّلاةَ إِنَّ الصَّلاةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ كِتَابًا مَوْقُوتًا
   
  “Maka apabila kamu telah menyelesaikan shalat (mu), ingatlah Allah di waktu berdiri, di waktu duduk dan di waktu berbaring. Kemudian apabila kamu telah merasa aman, maka dirikanlah salat itu (sebagaimana biasa). Sesungguhnya salat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman”.
      Keempat, kata “Ashr” kata ini biasanya diartikan “waktu menjelang terbenammya  matahari”, dan dapat diartikan sebagai “masa” secara mutlak. Makna terakhir ini  diambil  berdasarkan asumsi bahwa “ashr” adalah hal yang terpenting  dalam kehidupan manusia.
     Kata  “ashr”  sendiri  bermakna  "perasan", seakan-akan  masa  harus  digunakan oleh manusia untuk memeras pikiran dan keringatnya, dan hal ini hendaknya dilakukan kapan pun sepanjang masa.
      Al-Quran surah Al-Ashari, surah ke-103 ayat 1-3.

وَالْعَصْرِ . إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ. إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ

      “Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan saling menasihati supaya menaati kebenaran dan saling menasihati supaya menetapi kesabaran”.  
      Para ulama menjelaskan bahwa pandangan Al-Quran tentang “waktu” mengandung pengertian berikut.
      Pertama, kata “ajal” memberikan kesan bahwa segala sesuatu mempunyai batas waktu, sehingga makhluk dalam semesta ini tidak ada yang abadi, yang kekal hanya   Allah Yang Maha Kuasa.
   Kedua, kata “dahr” memberikan kesan bahwa segala sesuatu yang ada sekarang ini, dahulunya tidak ada, sehingga keberadaannya menjadikannya terikat dan dibatasi oleh waktu.    
    Ketiga, kata “waqt” digunakan dalam konteks yang berbeda-beda dan diartikan sebagai batas akhir suatu kesempatan untuk menyelesaikan suatu pekerjaan, serta memberikan kesan agar manusia membuat jadwal kegiatan untuk menyelesaikan suatu pekerjaan tertentu.
    Keempat, kata “ashr” memberikan kesan bahwa saat-saat yang dialami oleh manusia harus diisi dengan kerja keras dan kerja cerdas dengan memeras pikiran.
   Demikianlah makna dan  kesan  yang  diperoleh  dari  akar serta  penggunaan  kata  yang  berarti  “waktu” dalam berbagai makna.  
     Daftar Pustaka
1. Shihab, M.Quraish. Lentera Hati. Kisah dan Hikmah Kehidupan. Penerbit Mizan, 1994.   
2. Shihab, M. Quraish Shihab. Wawasan Al-Quran. Tafsir Maudhui atas Perbagai Persoalan Umat. Penerbit Mizan, 2009.
3. Shihab, M.Quraish. E-book Membumikan Al-Quran.
4. Al-Quran Digital, Versi 3.2. Digital Qur’an Ver 3.2
5. Tafsirq.com online.

Monday, November 6, 2017

454. KADAR 3

MEMAHAMI MALAM “LAILATUL QADAR”
(Seri ke-3)
Oleh: Drs. H. M. Yusron Hadi, M.M.

       Beberapa orang bertanya,”Mohon dijelaskan tentang “Malam Lailatul Qadar  menurut Al-Quran?” Profesor Quraish Shihab menjelaskannya.
      Al-Quran surah Al-Qadar, surah ke-97 ayat 1-5.

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِمْ مِنْ كُلِّ أَمْرٍ سَلَامٌ هِيَ حَتَّىٰ مَطْلَعِ الْفَجْرِ

      “Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Quran) pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar”.  
      Sebagian ulama berpendapat bahwa malam “Lailatul Qadar” hanya muncul sekali yaitu pada waktu turunnya Al-Quran wahyu pertama kepada Nabi Muhammad pada zaman dahulu.
      Mayoritas ulama berpendapat bahwa malam “Lailatul Qadar” turun setiap tahun pada bulan Ramadan berdasarkan teks Al-Quran dan hadis Nabi yang memerintahkan umat Islam untuk menyambutnya, terutama pada sepuluh malam terakhir bulan Ramadan.
      Mayoritas ulama berpendapat bahwa kemuliaan malam “Lailatul Qadar” bukan hanya disebabkan Al-Quran ketika itu turun, tetapi karena adanya faktor intern pada malam itu sendiri. 
      Pendapat mayoritas ulama diperkuat dengan dengan penggunaan bentuk “kata kerja mudharik” (present tense) dalam ayat 4 surat Al-Qadar, surah ke-97, yang mengandung arti “kesinambungan” artinya “terjadinya sesuatu pada masa kini dan masa mendatang”.
      Para ulama berpendapat bahwa tidak semua orang dapat menjumpai malam “Lailatul Qadar”, meskipun orang tersebut tidak tidur pada malam itu, karena orang yang dapat menjumpai malam “Lailatul Qadar” hanya orang yang siap menyambutnya dengan hati yang bersih.
      Bagaikan air dengan minyak tidak mungkin bisa menyatu, sehingga kebaikan dan kemuliaan malam “Lailatul Qadar” hanya dapat diraih oleh orang yang tulus dan bersih hatinya, bukan oleh orang yang kotor hatinya.
     Bagaikan seorang tamu agung yang berkunjung ke satu tempat tertentu, maka tamu agung itu tidak akan datang menemui setiap orang yang berada di lokasi itu, meskipun setiap orang mendambakannya.
       Sehingga munculnya malam “Lailatul Qadar” terdapat pada bulan Ramadan, karena bulan Ramadan adalah bulan penyucian jiwa, maka Nabi memerintahkan untuk menyambutnya dalam sepuluh malam terakhir bulan Ramadan, setelah umat Islam menjalani 20 hari berpuasa Ramadan.
      Selama  20 hari berpuasa Ramadan diharapkan jiwa manusia sudah bersih dan suci sehingga memungkinkan malam “Lailatul Qadar” itu berkenan mampir menemuinya, karena Nabi menganjurkan untuk iktikaf dengan berdiam diri dan merenung di masjid pada 10 hari terakhir bulan Ramadan.  
     Turunnya para malaikat pada malam “Lailatul Qadar” akan menjumpai orang yang mempersiapkan diri menyambutnya, dan menjadikan orang itu akan  selalu  didampingi  oleh malaikat, sehingga jiwanya akan selalu terdorong untuk berbuat kebaikan dalam hidupnya.
      Al-Quran tidak memberikan tanda fisik kehadiran malam “Lailatul Qadar”, tetapi para ulama berpendapat berdasarkan hadis Nabi, maka tanda adanya malam “Lailatul Qadar” adalah langit bersih, sinar matahari pada pagi harinya terlihat putih bercahaya bagaikan bulan purnama, udara tenang, dan cuaca sejuk menyegarkan.
            Doa yang dianjurkan untuk dibaca ketika menyambut malam “Lailatul Qadar”, seperti dalam Al-Quran surah Al-Baqarah, ke-2 ayat 201.

وَمِنْهُمْ مَنْ يَقُولُ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

    “Dan di antara mereka ada orang yang berdoa,”Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka".

اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّى

      “Ya Allah, Engkau Maha Pemaaf dan Engkau mencintai orang yang meminta maaf, karenanya maafkanlah aku”.
      Para ulama menjelaskan tanda-tanda yang jelas kehadiran malam “Lailatul Qadar” bagi seseorang adalah perasaan kedamaian dan ketenangan yang ada dalam hatinya.
     Semoga kita semua mendapatkan berkah dari malam “Lailatul Qadar”, amin.

     Daftar Pustaka
1. Shihab, M.Quraish. Lentera Hati. Kisah dan Hikmah Kehidupan. Penerbit Mizan, 1994.   
2. Shihab, M. Quraish Shihab. Wawasan Al-Quran. Tafsir Maudhui atas Perbagai Persoalan Umat. Penerbit Mizan, 2009.
3. Shihab, M.Quraish. E-book Membumikan Al-Quran.
4. Al-Quran Digital, Versi 3.2. Digital Qur’an Ver 3.2
5. Tafsirq.com online.