Organisasi Profesi Guru

Presiden Jokowi memberi hormat kepada Guru-Guru se Indonesia.

Tema Gambar Slide 2

Deskripsi gambar slide bisa dituliskan disini dengan beberapa kalimat yang menggambarkan gambar slide yang anda pasang, edit slide ini melalui edit HTML template.

Tema Gambar Slide 3

Deskripsi gambar slide bisa dituliskan disini dengan beberapa kalimat yang menggambarkan gambar slide yang anda pasang, edit slide ini melalui edit HTML template.

Wednesday, November 8, 2017

459. BUANG

AKIBAT MEMBUANG WAKTU
Oleh: Drs. H. M. Yusron Hadi, M.M.

       Beberapa orang bertanya,”Mohon dijelaskan tentang “Akibat membuang dan menyia-nyiakan waktu menurut Al-Quran?” Profesor Quraish Shihab menjelaskannya.
      “Apakah akibatnya yang  akan  terjadi  apabila seseorang menyia-nyiakan dan membuang waktu?" Salah satu jawabannya adalah Al-Quran surah Al-Ashri, surah ke-103 ayat 1- 3.
     Allah memulai surah ini dengan bersumpah, “Wal ashr” (Demi masa), untuk   membantah sebagian orang yang menyalahkan waktu ketika gagal dalam pekerjaannya.
     Al-Quran surah Al-Ashri, surah ke-103 ayat 1-3.

وَالْعَصْرِ . إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ. إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ

      “Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan saling menasihati supaya menaati kebenaran dan saling menasihati supaya menetapi kesabaran”.  
       Para ulama berpendapat bahwa tidak ada yang dinamakan “waktu sial” dan “waktu mujur”, karena yang berpengaruh adalah kebaikan dan keburukan hasil usaha dan pekerjaan seseorang yang dikerjakannya sendiri.
       Allah bersumpah dengan kata “ashr”, yang arti harfiahnya adalah “memeras  sesuatu, sehingga ditemukan hal yang paling tersembunyi padanya”.
      “Demi waktu”, saat manusia mencapai hasilnya setelah memeras tenaga dan apa pun hasilnya, manusia tidak akan merugi, apabila dia beriman dan beramal saleh, saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran.  
     Kerugian tersebut akan disadari setelah “waktu berlalu”, yaitu ketika seorang manusia mendekati “waktu ashar” yakni mendekati berakhirnya kehidupan seseorang, karena “waktu ashar” adalah waktu ketika matahari akan terbenam.
     Agaknya itulah sebabnya, Allah mengaitkan kerugian manusia dengan  kata  “ashr”  untuk menunjuk “waktu secara umum”, dan untuk  mengisyaratkan bahwa penyesalan dan kerugian selalu datang kemudian.   
    Kata “khusr” mempunyai banyak arti, misalnya “rugi”,  “sesat”, “celaka”, “lemah”,  dan sebagainya, yang semuanya mengarah kepada “makna negatif yang tidak disenangi oleh siapa pun”. 
     Kata “khusr” dalam Al-Quran surah Al-Ashri, surah ke-103 ayat 1-3 berbentuk  “indefinitif” (nakirah), karena memakai “tanwin”, sehingga dibaca “khusrin”,  dan bunyi  “in” itulah yang disebut “tanwin”.
      Bentuk “indefinitif” atau bunyi “in” yang ada pada kata “kusrin” artinya “"keragaman  dan kebesaran”, sehingga kata “khusr” harus dipahami sebagai “kerugian”, “kesesatan”, atau “kecelakaan besar”.
      Kata “fi”, dalam bahasa Indonesia biasanya diterjemahkan dengan “di”, misalnya seseorang berkata,”Baju di lemari atau uang di saku”, tentunya yang dimaksudkan adalah bahwa baju berada “di dalam”  lemari dan uang berada “di dalam” saku.
     Yang tergambar dalam  benak kita adalah “keseluruhan bagian baju telah berada di dalam lemari”, sehingga “tidak sedikit pun bagian baju yang berada di luar lemari”.
      Yang dimaksudkan dengan, “manusia berada di dalam kerugian”, artinya “kerugian” adalah sebuah “wadah” dan manusia berada “di dalam wadah” tersebut, serta keberadaannya dalam wadah itu mengandung arti bahwa manusia berada dalam “kerugian total”, karena tidak ada satu sisi  pun dari diri dan usahanya yang luput dari kerugian, dan kerugian itu amat besar lagi beraneka ragam.
     Waktu adalah “modal utama” bagi manusia, apabila “waktu” tidak diisi dengan kegiatan yang baik, maka “waktu” akan berlalu, dan ketika “waktu” berlalu begitu saja,  maka modal akan hilang percuma dan sia-sia.
     Ali bin Abi Thalib berkata,”Rezeki yang tidak diperoleh pada hari ini, masih bisa      diharapkan hasilnya lebih banyak pada hari besok, tetapi “waktu” yang berlalu pada hari ini, tidak mungkin akan kembali besok”.  
      Apabila “waktu” tidak diisi dengan baik, maka manusia akan merugi, dan apabila “waktu” diisi dengan hal-hal yang negatif, maka manusia tetap berada dalam kerugian. 
      Nabi bersabda,”Dua kenikmatan yang sering kali disia-siakan dan dibiarkan hilang percuma oleh banyak orang adalah nikmat kesehatan dan nikmat kesempatan.”
Daftar Pustaka
1. Shihab, M.Quraish. Lentera Hati. Kisah dan Hikmah Kehidupan. Penerbit Mizan, 1994.   
2. Shihab, M. Quraish Shihab. Wawasan Al-Quran. Tafsir Maudhui atas Perbagai Persoalan Umat. Penerbit Mizan, 2009.
3. Shihab, M.Quraish. E-book Membumikan Al-Quran.
4. Al-Quran Digital, Versi 3.2. Digital Qur’an Ver 3.2
5. Tafsirq.com online.

459. BUANG

AKIBAT MEMBUANG WAKTU
Oleh: Drs. H. M. Yusron Hadi, M.M.

       Beberapa orang bertanya,”Mohon dijelaskan tentang “Akibat membuang dan menyia-nyiakan waktu menurut Al-Quran?” Profesor Quraish Shihab menjelaskannya.
      “Apakah akibatnya yang  akan  terjadi  apabila seseorang menyia-nyiakan dan membuang waktu?" Salah satu jawabannya adalah Al-Quran surah Al-Ashri, surah ke-103 ayat 1- 3.
     Allah memulai surah ini dengan bersumpah, “Wal ashr” (Demi masa), untuk   membantah sebagian orang yang menyalahkan waktu ketika gagal dalam pekerjaannya.
     Al-Quran surah Al-Ashri, surah ke-103 ayat 1-3.

وَالْعَصْرِ . إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ. إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ

      “Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan saling menasihati supaya menaati kebenaran dan saling menasihati supaya menetapi kesabaran”.  
       Para ulama berpendapat bahwa tidak ada yang dinamakan “waktu sial” dan “waktu mujur”, karena yang berpengaruh adalah kebaikan dan keburukan hasil usaha dan pekerjaan seseorang yang dikerjakannya sendiri.
       Allah bersumpah dengan kata “ashr”, yang arti harfiahnya adalah “memeras  sesuatu, sehingga ditemukan hal yang paling tersembunyi padanya”.
      “Demi waktu”, saat manusia mencapai hasilnya setelah memeras tenaga dan apa pun hasilnya, manusia tidak akan merugi, apabila dia beriman dan beramal saleh, saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran.  
     Kerugian tersebut akan disadari setelah “waktu berlalu”, yaitu ketika seorang manusia mendekati “waktu ashar” yakni mendekati berakhirnya kehidupan seseorang, karena “waktu ashar” adalah waktu ketika matahari akan terbenam.
     Agaknya itulah sebabnya, Allah mengaitkan kerugian manusia dengan  kata  “ashr”  untuk menunjuk “waktu secara umum”, dan untuk  mengisyaratkan bahwa penyesalan dan kerugian selalu datang kemudian.   
    Kata “khusr” mempunyai banyak arti, misalnya “rugi”,  “sesat”, “celaka”, “lemah”,  dan sebagainya, yang semuanya mengarah kepada “makna negatif yang tidak disenangi oleh siapa pun”. 
     Kata “khusr” dalam Al-Quran surah Al-Ashri, surah ke-103 ayat 1-3 berbentuk  “indefinitif” (nakirah), karena memakai “tanwin”, sehingga dibaca “khusrin”,  dan bunyi  “in” itulah yang disebut “tanwin”.
      Bentuk “indefinitif” atau bunyi “in” yang ada pada kata “kusrin” artinya “"keragaman  dan kebesaran”, sehingga kata “khusr” harus dipahami sebagai “kerugian”, “kesesatan”, atau “kecelakaan besar”.
      Kata “fi”, dalam bahasa Indonesia biasanya diterjemahkan dengan “di”, misalnya seseorang berkata,”Baju di lemari atau uang di saku”, tentunya yang dimaksudkan adalah bahwa baju berada “di dalam”  lemari dan uang berada “di dalam” saku.
     Yang tergambar dalam  benak kita adalah “keseluruhan bagian baju telah berada di dalam lemari”, sehingga “tidak sedikit pun bagian baju yang berada di luar lemari”.
      Yang dimaksudkan dengan, “manusia berada di dalam kerugian”, artinya “kerugian” adalah sebuah “wadah” dan manusia berada “di dalam wadah” tersebut, serta keberadaannya dalam wadah itu mengandung arti bahwa manusia berada dalam “kerugian total”, karena tidak ada satu sisi  pun dari diri dan usahanya yang luput dari kerugian, dan kerugian itu amat besar lagi beraneka ragam.
     Waktu adalah “modal utama” bagi manusia, apabila “waktu” tidak diisi dengan kegiatan yang baik, maka “waktu” akan berlalu, dan ketika “waktu” berlalu begitu saja,  maka modal akan hilang percuma dan sia-sia.
     Ali bin Abi Thalib berkata,”Rezeki yang tidak diperoleh pada hari ini, masih bisa      diharapkan hasilnya lebih banyak pada hari besok, tetapi “waktu” yang berlalu pada hari ini, tidak mungkin akan kembali besok”.  
      Apabila “waktu” tidak diisi dengan baik, maka manusia akan merugi, dan apabila “waktu” diisi dengan hal-hal yang negatif, maka manusia tetap berada dalam kerugian. 
      Nabi bersabda,”Dua kenikmatan yang sering kali disia-siakan dan dibiarkan hilang percuma oleh banyak orang adalah nikmat kesehatan dan nikmat kesempatan.”
Daftar Pustaka
1. Shihab, M.Quraish. Lentera Hati. Kisah dan Hikmah Kehidupan. Penerbit Mizan, 1994.   
2. Shihab, M. Quraish Shihab. Wawasan Al-Quran. Tafsir Maudhui atas Perbagai Persoalan Umat. Penerbit Mizan, 2009.
3. Shihab, M.Quraish. E-book Membumikan Al-Quran.
4. Al-Quran Digital, Versi 3.2. Digital Qur’an Ver 3.2
5. Tafsirq.com online.

459. BUANG

AKIBAT MEMBUANG WAKTU
Oleh: Drs. H. M. Yusron Hadi, M.M.

       Beberapa orang bertanya,”Mohon dijelaskan tentang “Akibat membuang dan menyia-nyiakan waktu menurut Al-Quran?” Profesor Quraish Shihab menjelaskannya.
      “Apakah akibatnya yang  akan  terjadi  apabila seseorang menyia-nyiakan dan membuang waktu?" Salah satu jawabannya adalah Al-Quran surah Al-Ashri, surah ke-103 ayat 1- 3.
     Allah memulai surah ini dengan bersumpah, “Wal ashr” (Demi masa), untuk   membantah sebagian orang yang menyalahkan waktu ketika gagal dalam pekerjaannya.
     Al-Quran surah Al-Ashri, surah ke-103 ayat 1-3.

وَالْعَصْرِ . إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ. إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ

      “Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan saling menasihati supaya menaati kebenaran dan saling menasihati supaya menetapi kesabaran”.  
       Para ulama berpendapat bahwa tidak ada yang dinamakan “waktu sial” dan “waktu mujur”, karena yang berpengaruh adalah kebaikan dan keburukan hasil usaha dan pekerjaan seseorang yang dikerjakannya sendiri.
       Allah bersumpah dengan kata “ashr”, yang arti harfiahnya adalah “memeras  sesuatu, sehingga ditemukan hal yang paling tersembunyi padanya”.
      “Demi waktu”, saat manusia mencapai hasilnya setelah memeras tenaga dan apa pun hasilnya, manusia tidak akan merugi, apabila dia beriman dan beramal saleh, saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran.  
     Kerugian tersebut akan disadari setelah “waktu berlalu”, yaitu ketika seorang manusia mendekati “waktu ashar” yakni mendekati berakhirnya kehidupan seseorang, karena “waktu ashar” adalah waktu ketika matahari akan terbenam.
     Agaknya itulah sebabnya, Allah mengaitkan kerugian manusia dengan  kata  “ashr”  untuk menunjuk “waktu secara umum”, dan untuk  mengisyaratkan bahwa penyesalan dan kerugian selalu datang kemudian.   
    Kata “khusr” mempunyai banyak arti, misalnya “rugi”,  “sesat”, “celaka”, “lemah”,  dan sebagainya, yang semuanya mengarah kepada “makna negatif yang tidak disenangi oleh siapa pun”. 
     Kata “khusr” dalam Al-Quran surah Al-Ashri, surah ke-103 ayat 1-3 berbentuk  “indefinitif” (nakirah), karena memakai “tanwin”, sehingga dibaca “khusrin”,  dan bunyi  “in” itulah yang disebut “tanwin”.
      Bentuk “indefinitif” atau bunyi “in” yang ada pada kata “kusrin” artinya “"keragaman  dan kebesaran”, sehingga kata “khusr” harus dipahami sebagai “kerugian”, “kesesatan”, atau “kecelakaan besar”.
      Kata “fi”, dalam bahasa Indonesia biasanya diterjemahkan dengan “di”, misalnya seseorang berkata,”Baju di lemari atau uang di saku”, tentunya yang dimaksudkan adalah bahwa baju berada “di dalam”  lemari dan uang berada “di dalam” saku.
     Yang tergambar dalam  benak kita adalah “keseluruhan bagian baju telah berada di dalam lemari”, sehingga “tidak sedikit pun bagian baju yang berada di luar lemari”.
      Yang dimaksudkan dengan, “manusia berada di dalam kerugian”, artinya “kerugian” adalah sebuah “wadah” dan manusia berada “di dalam wadah” tersebut, serta keberadaannya dalam wadah itu mengandung arti bahwa manusia berada dalam “kerugian total”, karena tidak ada satu sisi  pun dari diri dan usahanya yang luput dari kerugian, dan kerugian itu amat besar lagi beraneka ragam.
     Waktu adalah “modal utama” bagi manusia, apabila “waktu” tidak diisi dengan kegiatan yang baik, maka “waktu” akan berlalu, dan ketika “waktu” berlalu begitu saja,  maka modal akan hilang percuma dan sia-sia.
     Ali bin Abi Thalib berkata,”Rezeki yang tidak diperoleh pada hari ini, masih bisa      diharapkan hasilnya lebih banyak pada hari besok, tetapi “waktu” yang berlalu pada hari ini, tidak mungkin akan kembali besok”.  
      Apabila “waktu” tidak diisi dengan baik, maka manusia akan merugi, dan apabila “waktu” diisi dengan hal-hal yang negatif, maka manusia tetap berada dalam kerugian. 
      Nabi bersabda,”Dua kenikmatan yang sering kali disia-siakan dan dibiarkan hilang percuma oleh banyak orang adalah nikmat kesehatan dan nikmat kesempatan.”
Daftar Pustaka
1. Shihab, M.Quraish. Lentera Hati. Kisah dan Hikmah Kehidupan. Penerbit Mizan, 1994.   
2. Shihab, M. Quraish Shihab. Wawasan Al-Quran. Tafsir Maudhui atas Perbagai Persoalan Umat. Penerbit Mizan, 2009.
3. Shihab, M.Quraish. E-book Membumikan Al-Quran.
4. Al-Quran Digital, Versi 3.2. Digital Qur’an Ver 3.2
5. Tafsirq.com online.

459. BUANG

AKIBAT MEMBUANG WAKTU
Oleh: Drs. H. M. Yusron Hadi, M.M.

       Beberapa orang bertanya,”Mohon dijelaskan tentang “Akibat membuang dan menyia-nyiakan waktu menurut Al-Quran?” Profesor Quraish Shihab menjelaskannya.
      “Apakah akibatnya yang  akan  terjadi  apabila seseorang menyia-nyiakan dan membuang waktu?" Salah satu jawabannya adalah Al-Quran surah Al-Ashri, surah ke-103 ayat 1- 3.
     Allah memulai surah ini dengan bersumpah, “Wal ashr” (Demi masa), untuk   membantah sebagian orang yang menyalahkan waktu ketika gagal dalam pekerjaannya.
     Al-Quran surah Al-Ashri, surah ke-103 ayat 1-3.

وَالْعَصْرِ . إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ. إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ

      “Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan saling menasihati supaya menaati kebenaran dan saling menasihati supaya menetapi kesabaran”.  
       Para ulama berpendapat bahwa tidak ada yang dinamakan “waktu sial” dan “waktu mujur”, karena yang berpengaruh adalah kebaikan dan keburukan hasil usaha dan pekerjaan seseorang yang dikerjakannya sendiri.
       Allah bersumpah dengan kata “ashr”, yang arti harfiahnya adalah “memeras  sesuatu, sehingga ditemukan hal yang paling tersembunyi padanya”.
      “Demi waktu”, saat manusia mencapai hasilnya setelah memeras tenaga dan apa pun hasilnya, manusia tidak akan merugi, apabila dia beriman dan beramal saleh, saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran.  
     Kerugian tersebut akan disadari setelah “waktu berlalu”, yaitu ketika seorang manusia mendekati “waktu ashar” yakni mendekati berakhirnya kehidupan seseorang, karena “waktu ashar” adalah waktu ketika matahari akan terbenam.
     Agaknya itulah sebabnya, Allah mengaitkan kerugian manusia dengan  kata  “ashr”  untuk menunjuk “waktu secara umum”, dan untuk  mengisyaratkan bahwa penyesalan dan kerugian selalu datang kemudian.   
    Kata “khusr” mempunyai banyak arti, misalnya “rugi”,  “sesat”, “celaka”, “lemah”,  dan sebagainya, yang semuanya mengarah kepada “makna negatif yang tidak disenangi oleh siapa pun”. 
     Kata “khusr” dalam Al-Quran surah Al-Ashri, surah ke-103 ayat 1-3 berbentuk  “indefinitif” (nakirah), karena memakai “tanwin”, sehingga dibaca “khusrin”,  dan bunyi  “in” itulah yang disebut “tanwin”.
      Bentuk “indefinitif” atau bunyi “in” yang ada pada kata “kusrin” artinya “"keragaman  dan kebesaran”, sehingga kata “khusr” harus dipahami sebagai “kerugian”, “kesesatan”, atau “kecelakaan besar”.
      Kata “fi”, dalam bahasa Indonesia biasanya diterjemahkan dengan “di”, misalnya seseorang berkata,”Baju di lemari atau uang di saku”, tentunya yang dimaksudkan adalah bahwa baju berada “di dalam”  lemari dan uang berada “di dalam” saku.
     Yang tergambar dalam  benak kita adalah “keseluruhan bagian baju telah berada di dalam lemari”, sehingga “tidak sedikit pun bagian baju yang berada di luar lemari”.
      Yang dimaksudkan dengan, “manusia berada di dalam kerugian”, artinya “kerugian” adalah sebuah “wadah” dan manusia berada “di dalam wadah” tersebut, serta keberadaannya dalam wadah itu mengandung arti bahwa manusia berada dalam “kerugian total”, karena tidak ada satu sisi  pun dari diri dan usahanya yang luput dari kerugian, dan kerugian itu amat besar lagi beraneka ragam.
     Waktu adalah “modal utama” bagi manusia, apabila “waktu” tidak diisi dengan kegiatan yang baik, maka “waktu” akan berlalu, dan ketika “waktu” berlalu begitu saja,  maka modal akan hilang percuma dan sia-sia.
     Ali bin Abi Thalib berkata,”Rezeki yang tidak diperoleh pada hari ini, masih bisa      diharapkan hasilnya lebih banyak pada hari besok, tetapi “waktu” yang berlalu pada hari ini, tidak mungkin akan kembali besok”.  
      Apabila “waktu” tidak diisi dengan baik, maka manusia akan merugi, dan apabila “waktu” diisi dengan hal-hal yang negatif, maka manusia tetap berada dalam kerugian. 
      Nabi bersabda,”Dua kenikmatan yang sering kali disia-siakan dan dibiarkan hilang percuma oleh banyak orang adalah nikmat kesehatan dan nikmat kesempatan.”
Daftar Pustaka
1. Shihab, M.Quraish. Lentera Hati. Kisah dan Hikmah Kehidupan. Penerbit Mizan, 1994.   
2. Shihab, M. Quraish Shihab. Wawasan Al-Quran. Tafsir Maudhui atas Perbagai Persoalan Umat. Penerbit Mizan, 2009.
3. Shihab, M.Quraish. E-book Membumikan Al-Quran.
4. Al-Quran Digital, Versi 3.2. Digital Qur’an Ver 3.2
5. Tafsirq.com online.

459. BUANG

AKIBAT MEMBUANG WAKTU
Oleh: Drs. H. M. Yusron Hadi, M.M.

       Beberapa orang bertanya,”Mohon dijelaskan tentang “Akibat membuang dan menyia-nyiakan waktu menurut Al-Quran?” Profesor Quraish Shihab menjelaskannya.
      “Apakah akibatnya yang  akan  terjadi  apabila seseorang menyia-nyiakan dan membuang waktu?" Salah satu jawabannya adalah Al-Quran surah Al-Ashri, surah ke-103 ayat 1- 3.
     Allah memulai surah ini dengan bersumpah, “Wal ashr” (Demi masa), untuk   membantah sebagian orang yang menyalahkan waktu ketika gagal dalam pekerjaannya.
     Al-Quran surah Al-Ashri, surah ke-103 ayat 1-3.

وَالْعَصْرِ . إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ. إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ

      “Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan saling menasihati supaya menaati kebenaran dan saling menasihati supaya menetapi kesabaran”.  
       Para ulama berpendapat bahwa tidak ada yang dinamakan “waktu sial” dan “waktu mujur”, karena yang berpengaruh adalah kebaikan dan keburukan hasil usaha dan pekerjaan seseorang yang dikerjakannya sendiri.
       Allah bersumpah dengan kata “ashr”, yang arti harfiahnya adalah “memeras  sesuatu, sehingga ditemukan hal yang paling tersembunyi padanya”.
      “Demi waktu”, saat manusia mencapai hasilnya setelah memeras tenaga dan apa pun hasilnya, manusia tidak akan merugi, apabila dia beriman dan beramal saleh, saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran.  
     Kerugian tersebut akan disadari setelah “waktu berlalu”, yaitu ketika seorang manusia mendekati “waktu ashar” yakni mendekati berakhirnya kehidupan seseorang, karena “waktu ashar” adalah waktu ketika matahari akan terbenam.
     Agaknya itulah sebabnya, Allah mengaitkan kerugian manusia dengan  kata  “ashr”  untuk menunjuk “waktu secara umum”, dan untuk  mengisyaratkan bahwa penyesalan dan kerugian selalu datang kemudian.   
    Kata “khusr” mempunyai banyak arti, misalnya “rugi”,  “sesat”, “celaka”, “lemah”,  dan sebagainya, yang semuanya mengarah kepada “makna negatif yang tidak disenangi oleh siapa pun”. 
     Kata “khusr” dalam Al-Quran surah Al-Ashri, surah ke-103 ayat 1-3 berbentuk  “indefinitif” (nakirah), karena memakai “tanwin”, sehingga dibaca “khusrin”,  dan bunyi  “in” itulah yang disebut “tanwin”.
      Bentuk “indefinitif” atau bunyi “in” yang ada pada kata “kusrin” artinya “"keragaman  dan kebesaran”, sehingga kata “khusr” harus dipahami sebagai “kerugian”, “kesesatan”, atau “kecelakaan besar”.
      Kata “fi”, dalam bahasa Indonesia biasanya diterjemahkan dengan “di”, misalnya seseorang berkata,”Baju di lemari atau uang di saku”, tentunya yang dimaksudkan adalah bahwa baju berada “di dalam”  lemari dan uang berada “di dalam” saku.
     Yang tergambar dalam  benak kita adalah “keseluruhan bagian baju telah berada di dalam lemari”, sehingga “tidak sedikit pun bagian baju yang berada di luar lemari”.
      Yang dimaksudkan dengan, “manusia berada di dalam kerugian”, artinya “kerugian” adalah sebuah “wadah” dan manusia berada “di dalam wadah” tersebut, serta keberadaannya dalam wadah itu mengandung arti bahwa manusia berada dalam “kerugian total”, karena tidak ada satu sisi  pun dari diri dan usahanya yang luput dari kerugian, dan kerugian itu amat besar lagi beraneka ragam.
     Waktu adalah “modal utama” bagi manusia, apabila “waktu” tidak diisi dengan kegiatan yang baik, maka “waktu” akan berlalu, dan ketika “waktu” berlalu begitu saja,  maka modal akan hilang percuma dan sia-sia.
     Ali bin Abi Thalib berkata,”Rezeki yang tidak diperoleh pada hari ini, masih bisa      diharapkan hasilnya lebih banyak pada hari besok, tetapi “waktu” yang berlalu pada hari ini, tidak mungkin akan kembali besok”.  
      Apabila “waktu” tidak diisi dengan baik, maka manusia akan merugi, dan apabila “waktu” diisi dengan hal-hal yang negatif, maka manusia tetap berada dalam kerugian. 
      Nabi bersabda,”Dua kenikmatan yang sering kali disia-siakan dan dibiarkan hilang percuma oleh banyak orang adalah nikmat kesehatan dan nikmat kesempatan.”
Daftar Pustaka
1. Shihab, M.Quraish. Lentera Hati. Kisah dan Hikmah Kehidupan. Penerbit Mizan, 1994.   
2. Shihab, M. Quraish Shihab. Wawasan Al-Quran. Tafsir Maudhui atas Perbagai Persoalan Umat. Penerbit Mizan, 2009.
3. Shihab, M.Quraish. E-book Membumikan Al-Quran.
4. Al-Quran Digital, Versi 3.2. Digital Qur’an Ver 3.2
5. Tafsirq.com online.

459. BUANG

AKIBAT MEMBUANG WAKTU
Oleh: Drs. H. M. Yusron Hadi, M.M.

       Beberapa orang bertanya,”Mohon dijelaskan tentang “Akibat membuang dan menyia-nyiakan waktu menurut Al-Quran?” Profesor Quraish Shihab menjelaskannya.
      “Apakah akibatnya yang  akan  terjadi  apabila seseorang menyia-nyiakan dan membuang waktu?" Salah satu jawabannya adalah Al-Quran surah Al-Ashri, surah ke-103 ayat 1- 3.
     Allah memulai surah ini dengan bersumpah, “Wal ashr” (Demi masa), untuk   membantah sebagian orang yang menyalahkan waktu ketika gagal dalam pekerjaannya.
     Al-Quran surah Al-Ashri, surah ke-103 ayat 1-3.

وَالْعَصْرِ . إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ. إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ

      “Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan saling menasihati supaya menaati kebenaran dan saling menasihati supaya menetapi kesabaran”.  
       Para ulama berpendapat bahwa tidak ada yang dinamakan “waktu sial” dan “waktu mujur”, karena yang berpengaruh adalah kebaikan dan keburukan hasil usaha dan pekerjaan seseorang yang dikerjakannya sendiri.
       Allah bersumpah dengan kata “ashr”, yang arti harfiahnya adalah “memeras  sesuatu, sehingga ditemukan hal yang paling tersembunyi padanya”.
      “Demi waktu”, saat manusia mencapai hasilnya setelah memeras tenaga dan apa pun hasilnya, manusia tidak akan merugi, apabila dia beriman dan beramal saleh, saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran.  
     Kerugian tersebut akan disadari setelah “waktu berlalu”, yaitu ketika seorang manusia mendekati “waktu ashar” yakni mendekati berakhirnya kehidupan seseorang, karena “waktu ashar” adalah waktu ketika matahari akan terbenam.
     Agaknya itulah sebabnya, Allah mengaitkan kerugian manusia dengan  kata  “ashr”  untuk menunjuk “waktu secara umum”, dan untuk  mengisyaratkan bahwa penyesalan dan kerugian selalu datang kemudian.   
    Kata “khusr” mempunyai banyak arti, misalnya “rugi”,  “sesat”, “celaka”, “lemah”,  dan sebagainya, yang semuanya mengarah kepada “makna negatif yang tidak disenangi oleh siapa pun”. 
     Kata “khusr” dalam Al-Quran surah Al-Ashri, surah ke-103 ayat 1-3 berbentuk  “indefinitif” (nakirah), karena memakai “tanwin”, sehingga dibaca “khusrin”,  dan bunyi  “in” itulah yang disebut “tanwin”.
      Bentuk “indefinitif” atau bunyi “in” yang ada pada kata “kusrin” artinya “"keragaman  dan kebesaran”, sehingga kata “khusr” harus dipahami sebagai “kerugian”, “kesesatan”, atau “kecelakaan besar”.
      Kata “fi”, dalam bahasa Indonesia biasanya diterjemahkan dengan “di”, misalnya seseorang berkata,”Baju di lemari atau uang di saku”, tentunya yang dimaksudkan adalah bahwa baju berada “di dalam”  lemari dan uang berada “di dalam” saku.
     Yang tergambar dalam  benak kita adalah “keseluruhan bagian baju telah berada di dalam lemari”, sehingga “tidak sedikit pun bagian baju yang berada di luar lemari”.
      Yang dimaksudkan dengan, “manusia berada di dalam kerugian”, artinya “kerugian” adalah sebuah “wadah” dan manusia berada “di dalam wadah” tersebut, serta keberadaannya dalam wadah itu mengandung arti bahwa manusia berada dalam “kerugian total”, karena tidak ada satu sisi  pun dari diri dan usahanya yang luput dari kerugian, dan kerugian itu amat besar lagi beraneka ragam.
     Waktu adalah “modal utama” bagi manusia, apabila “waktu” tidak diisi dengan kegiatan yang baik, maka “waktu” akan berlalu, dan ketika “waktu” berlalu begitu saja,  maka modal akan hilang percuma dan sia-sia.
     Ali bin Abi Thalib berkata,”Rezeki yang tidak diperoleh pada hari ini, masih bisa      diharapkan hasilnya lebih banyak pada hari besok, tetapi “waktu” yang berlalu pada hari ini, tidak mungkin akan kembali besok”.  
      Apabila “waktu” tidak diisi dengan baik, maka manusia akan merugi, dan apabila “waktu” diisi dengan hal-hal yang negatif, maka manusia tetap berada dalam kerugian. 
      Nabi bersabda,”Dua kenikmatan yang sering kali disia-siakan dan dibiarkan hilang percuma oleh banyak orang adalah nikmat kesehatan dan nikmat kesempatan.”
Daftar Pustaka
1. Shihab, M.Quraish. Lentera Hati. Kisah dan Hikmah Kehidupan. Penerbit Mizan, 1994.   
2. Shihab, M. Quraish Shihab. Wawasan Al-Quran. Tafsir Maudhui atas Perbagai Persoalan Umat. Penerbit Mizan, 2009.
3. Shihab, M.Quraish. E-book Membumikan Al-Quran.
4. Al-Quran Digital, Versi 3.2. Digital Qur’an Ver 3.2
5. Tafsirq.com online.

459. BUANG

AKIBAT MEMBUANG WAKTU
Oleh: Drs. H. M. Yusron Hadi, M.M.

       Beberapa orang bertanya,”Mohon dijelaskan tentang “Akibat membuang dan menyia-nyiakan waktu menurut Al-Quran?” Profesor Quraish Shihab menjelaskannya.
      “Apakah akibatnya yang  akan  terjadi  apabila seseorang menyia-nyiakan dan membuang waktu?" Salah satu jawabannya adalah Al-Quran surah Al-Ashri, surah ke-103 ayat 1- 3.
     Allah memulai surah ini dengan bersumpah, “Wal ashr” (Demi masa), untuk   membantah sebagian orang yang menyalahkan waktu ketika gagal dalam pekerjaannya.
     Al-Quran surah Al-Ashri, surah ke-103 ayat 1-3.

وَالْعَصْرِ . إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ. إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ

      “Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan saling menasihati supaya menaati kebenaran dan saling menasihati supaya menetapi kesabaran”.  
       Para ulama berpendapat bahwa tidak ada yang dinamakan “waktu sial” dan “waktu mujur”, karena yang berpengaruh adalah kebaikan dan keburukan hasil usaha dan pekerjaan seseorang yang dikerjakannya sendiri.
       Allah bersumpah dengan kata “ashr”, yang arti harfiahnya adalah “memeras  sesuatu, sehingga ditemukan hal yang paling tersembunyi padanya”.
      “Demi waktu”, saat manusia mencapai hasilnya setelah memeras tenaga dan apa pun hasilnya, manusia tidak akan merugi, apabila dia beriman dan beramal saleh, saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran.  
     Kerugian tersebut akan disadari setelah “waktu berlalu”, yaitu ketika seorang manusia mendekati “waktu ashar” yakni mendekati berakhirnya kehidupan seseorang, karena “waktu ashar” adalah waktu ketika matahari akan terbenam.
     Agaknya itulah sebabnya, Allah mengaitkan kerugian manusia dengan  kata  “ashr”  untuk menunjuk “waktu secara umum”, dan untuk  mengisyaratkan bahwa penyesalan dan kerugian selalu datang kemudian.   
    Kata “khusr” mempunyai banyak arti, misalnya “rugi”,  “sesat”, “celaka”, “lemah”,  dan sebagainya, yang semuanya mengarah kepada “makna negatif yang tidak disenangi oleh siapa pun”. 
     Kata “khusr” dalam Al-Quran surah Al-Ashri, surah ke-103 ayat 1-3 berbentuk  “indefinitif” (nakirah), karena memakai “tanwin”, sehingga dibaca “khusrin”,  dan bunyi  “in” itulah yang disebut “tanwin”.
      Bentuk “indefinitif” atau bunyi “in” yang ada pada kata “kusrin” artinya “"keragaman  dan kebesaran”, sehingga kata “khusr” harus dipahami sebagai “kerugian”, “kesesatan”, atau “kecelakaan besar”.
      Kata “fi”, dalam bahasa Indonesia biasanya diterjemahkan dengan “di”, misalnya seseorang berkata,”Baju di lemari atau uang di saku”, tentunya yang dimaksudkan adalah bahwa baju berada “di dalam”  lemari dan uang berada “di dalam” saku.
     Yang tergambar dalam  benak kita adalah “keseluruhan bagian baju telah berada di dalam lemari”, sehingga “tidak sedikit pun bagian baju yang berada di luar lemari”.
      Yang dimaksudkan dengan, “manusia berada di dalam kerugian”, artinya “kerugian” adalah sebuah “wadah” dan manusia berada “di dalam wadah” tersebut, serta keberadaannya dalam wadah itu mengandung arti bahwa manusia berada dalam “kerugian total”, karena tidak ada satu sisi  pun dari diri dan usahanya yang luput dari kerugian, dan kerugian itu amat besar lagi beraneka ragam.
     Waktu adalah “modal utama” bagi manusia, apabila “waktu” tidak diisi dengan kegiatan yang baik, maka “waktu” akan berlalu, dan ketika “waktu” berlalu begitu saja,  maka modal akan hilang percuma dan sia-sia.
     Ali bin Abi Thalib berkata,”Rezeki yang tidak diperoleh pada hari ini, masih bisa      diharapkan hasilnya lebih banyak pada hari besok, tetapi “waktu” yang berlalu pada hari ini, tidak mungkin akan kembali besok”.  
      Apabila “waktu” tidak diisi dengan baik, maka manusia akan merugi, dan apabila “waktu” diisi dengan hal-hal yang negatif, maka manusia tetap berada dalam kerugian. 
      Nabi bersabda,”Dua kenikmatan yang sering kali disia-siakan dan dibiarkan hilang percuma oleh banyak orang adalah nikmat kesehatan dan nikmat kesempatan.”
Daftar Pustaka
1. Shihab, M.Quraish. Lentera Hati. Kisah dan Hikmah Kehidupan. Penerbit Mizan, 1994.   
2. Shihab, M. Quraish Shihab. Wawasan Al-Quran. Tafsir Maudhui atas Perbagai Persoalan Umat. Penerbit Mizan, 2009.
3. Shihab, M.Quraish. E-book Membumikan Al-Quran.
4. Al-Quran Digital, Versi 3.2. Digital Qur’an Ver 3.2
5. Tafsirq.com online.

459. BUANG

AKIBAT MEMBUANG WAKTU
Oleh: Drs. H. M. Yusron Hadi, M.M.

       Beberapa orang bertanya,”Mohon dijelaskan tentang “Akibat membuang dan menyia-nyiakan waktu menurut Al-Quran?” Profesor Quraish Shihab menjelaskannya.
      “Apakah akibatnya yang  akan  terjadi  apabila seseorang menyia-nyiakan dan membuang waktu?" Salah satu jawabannya adalah Al-Quran surah Al-Ashri, surah ke-103 ayat 1- 3.
     Allah memulai surah ini dengan bersumpah, “Wal ashr” (Demi masa), untuk   membantah sebagian orang yang menyalahkan waktu ketika gagal dalam pekerjaannya.
     Al-Quran surah Al-Ashri, surah ke-103 ayat 1-3.

وَالْعَصْرِ . إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ. إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ

      “Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan saling menasihati supaya menaati kebenaran dan saling menasihati supaya menetapi kesabaran”.  
       Para ulama berpendapat bahwa tidak ada yang dinamakan “waktu sial” dan “waktu mujur”, karena yang berpengaruh adalah kebaikan dan keburukan hasil usaha dan pekerjaan seseorang yang dikerjakannya sendiri.
       Allah bersumpah dengan kata “ashr”, yang arti harfiahnya adalah “memeras  sesuatu, sehingga ditemukan hal yang paling tersembunyi padanya”.
      “Demi waktu”, saat manusia mencapai hasilnya setelah memeras tenaga dan apa pun hasilnya, manusia tidak akan merugi, apabila dia beriman dan beramal saleh, saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran.  
     Kerugian tersebut akan disadari setelah “waktu berlalu”, yaitu ketika seorang manusia mendekati “waktu ashar” yakni mendekati berakhirnya kehidupan seseorang, karena “waktu ashar” adalah waktu ketika matahari akan terbenam.
     Agaknya itulah sebabnya, Allah mengaitkan kerugian manusia dengan  kata  “ashr”  untuk menunjuk “waktu secara umum”, dan untuk  mengisyaratkan bahwa penyesalan dan kerugian selalu datang kemudian.   
    Kata “khusr” mempunyai banyak arti, misalnya “rugi”,  “sesat”, “celaka”, “lemah”,  dan sebagainya, yang semuanya mengarah kepada “makna negatif yang tidak disenangi oleh siapa pun”. 
     Kata “khusr” dalam Al-Quran surah Al-Ashri, surah ke-103 ayat 1-3 berbentuk  “indefinitif” (nakirah), karena memakai “tanwin”, sehingga dibaca “khusrin”,  dan bunyi  “in” itulah yang disebut “tanwin”.
      Bentuk “indefinitif” atau bunyi “in” yang ada pada kata “kusrin” artinya “"keragaman  dan kebesaran”, sehingga kata “khusr” harus dipahami sebagai “kerugian”, “kesesatan”, atau “kecelakaan besar”.
      Kata “fi”, dalam bahasa Indonesia biasanya diterjemahkan dengan “di”, misalnya seseorang berkata,”Baju di lemari atau uang di saku”, tentunya yang dimaksudkan adalah bahwa baju berada “di dalam”  lemari dan uang berada “di dalam” saku.
     Yang tergambar dalam  benak kita adalah “keseluruhan bagian baju telah berada di dalam lemari”, sehingga “tidak sedikit pun bagian baju yang berada di luar lemari”.
      Yang dimaksudkan dengan, “manusia berada di dalam kerugian”, artinya “kerugian” adalah sebuah “wadah” dan manusia berada “di dalam wadah” tersebut, serta keberadaannya dalam wadah itu mengandung arti bahwa manusia berada dalam “kerugian total”, karena tidak ada satu sisi  pun dari diri dan usahanya yang luput dari kerugian, dan kerugian itu amat besar lagi beraneka ragam.
     Waktu adalah “modal utama” bagi manusia, apabila “waktu” tidak diisi dengan kegiatan yang baik, maka “waktu” akan berlalu, dan ketika “waktu” berlalu begitu saja,  maka modal akan hilang percuma dan sia-sia.
     Ali bin Abi Thalib berkata,”Rezeki yang tidak diperoleh pada hari ini, masih bisa      diharapkan hasilnya lebih banyak pada hari besok, tetapi “waktu” yang berlalu pada hari ini, tidak mungkin akan kembali besok”.  
      Apabila “waktu” tidak diisi dengan baik, maka manusia akan merugi, dan apabila “waktu” diisi dengan hal-hal yang negatif, maka manusia tetap berada dalam kerugian. 
      Nabi bersabda,”Dua kenikmatan yang sering kali disia-siakan dan dibiarkan hilang percuma oleh banyak orang adalah nikmat kesehatan dan nikmat kesempatan.”
Daftar Pustaka
1. Shihab, M.Quraish. Lentera Hati. Kisah dan Hikmah Kehidupan. Penerbit Mizan, 1994.   
2. Shihab, M. Quraish Shihab. Wawasan Al-Quran. Tafsir Maudhui atas Perbagai Persoalan Umat. Penerbit Mizan, 2009.
3. Shihab, M.Quraish. E-book Membumikan Al-Quran.
4. Al-Quran Digital, Versi 3.2. Digital Qur’an Ver 3.2
5. Tafsirq.com online.

459. BUANG

AKIBAT MEMBUANG WAKTU
Oleh: Drs. H. M. Yusron Hadi, M.M.

       Beberapa orang bertanya,”Mohon dijelaskan tentang “Akibat membuang dan menyia-nyiakan waktu menurut Al-Quran?” Profesor Quraish Shihab menjelaskannya.
      “Apakah akibatnya yang  akan  terjadi  apabila seseorang menyia-nyiakan dan membuang waktu?" Salah satu jawabannya adalah Al-Quran surah Al-Ashri, surah ke-103 ayat 1- 3.
     Allah memulai surah ini dengan bersumpah, “Wal ashr” (Demi masa), untuk   membantah sebagian orang yang menyalahkan waktu ketika gagal dalam pekerjaannya.
     Al-Quran surah Al-Ashri, surah ke-103 ayat 1-3.

وَالْعَصْرِ . إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ. إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ

      “Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan saling menasihati supaya menaati kebenaran dan saling menasihati supaya menetapi kesabaran”.  
       Para ulama berpendapat bahwa tidak ada yang dinamakan “waktu sial” dan “waktu mujur”, karena yang berpengaruh adalah kebaikan dan keburukan hasil usaha dan pekerjaan seseorang yang dikerjakannya sendiri.
       Allah bersumpah dengan kata “ashr”, yang arti harfiahnya adalah “memeras  sesuatu, sehingga ditemukan hal yang paling tersembunyi padanya”.
      “Demi waktu”, saat manusia mencapai hasilnya setelah memeras tenaga dan apa pun hasilnya, manusia tidak akan merugi, apabila dia beriman dan beramal saleh, saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran.  
     Kerugian tersebut akan disadari setelah “waktu berlalu”, yaitu ketika seorang manusia mendekati “waktu ashar” yakni mendekati berakhirnya kehidupan seseorang, karena “waktu ashar” adalah waktu ketika matahari akan terbenam.
     Agaknya itulah sebabnya, Allah mengaitkan kerugian manusia dengan  kata  “ashr”  untuk menunjuk “waktu secara umum”, dan untuk  mengisyaratkan bahwa penyesalan dan kerugian selalu datang kemudian.   
    Kata “khusr” mempunyai banyak arti, misalnya “rugi”,  “sesat”, “celaka”, “lemah”,  dan sebagainya, yang semuanya mengarah kepada “makna negatif yang tidak disenangi oleh siapa pun”. 
     Kata “khusr” dalam Al-Quran surah Al-Ashri, surah ke-103 ayat 1-3 berbentuk  “indefinitif” (nakirah), karena memakai “tanwin”, sehingga dibaca “khusrin”,  dan bunyi  “in” itulah yang disebut “tanwin”.
      Bentuk “indefinitif” atau bunyi “in” yang ada pada kata “kusrin” artinya “"keragaman  dan kebesaran”, sehingga kata “khusr” harus dipahami sebagai “kerugian”, “kesesatan”, atau “kecelakaan besar”.
      Kata “fi”, dalam bahasa Indonesia biasanya diterjemahkan dengan “di”, misalnya seseorang berkata,”Baju di lemari atau uang di saku”, tentunya yang dimaksudkan adalah bahwa baju berada “di dalam”  lemari dan uang berada “di dalam” saku.
     Yang tergambar dalam  benak kita adalah “keseluruhan bagian baju telah berada di dalam lemari”, sehingga “tidak sedikit pun bagian baju yang berada di luar lemari”.
      Yang dimaksudkan dengan, “manusia berada di dalam kerugian”, artinya “kerugian” adalah sebuah “wadah” dan manusia berada “di dalam wadah” tersebut, serta keberadaannya dalam wadah itu mengandung arti bahwa manusia berada dalam “kerugian total”, karena tidak ada satu sisi  pun dari diri dan usahanya yang luput dari kerugian, dan kerugian itu amat besar lagi beraneka ragam.
     Waktu adalah “modal utama” bagi manusia, apabila “waktu” tidak diisi dengan kegiatan yang baik, maka “waktu” akan berlalu, dan ketika “waktu” berlalu begitu saja,  maka modal akan hilang percuma dan sia-sia.
     Ali bin Abi Thalib berkata,”Rezeki yang tidak diperoleh pada hari ini, masih bisa      diharapkan hasilnya lebih banyak pada hari besok, tetapi “waktu” yang berlalu pada hari ini, tidak mungkin akan kembali besok”.  
      Apabila “waktu” tidak diisi dengan baik, maka manusia akan merugi, dan apabila “waktu” diisi dengan hal-hal yang negatif, maka manusia tetap berada dalam kerugian. 
      Nabi bersabda,”Dua kenikmatan yang sering kali disia-siakan dan dibiarkan hilang percuma oleh banyak orang adalah nikmat kesehatan dan nikmat kesempatan.”
Daftar Pustaka
1. Shihab, M.Quraish. Lentera Hati. Kisah dan Hikmah Kehidupan. Penerbit Mizan, 1994.   
2. Shihab, M. Quraish Shihab. Wawasan Al-Quran. Tafsir Maudhui atas Perbagai Persoalan Umat. Penerbit Mizan, 2009.
3. Shihab, M.Quraish. E-book Membumikan Al-Quran.
4. Al-Quran Digital, Versi 3.2. Digital Qur’an Ver 3.2
5. Tafsirq.com online.

458. MANFAAT

MEMANFAATKAN WAKTU
Oleh: Drs. H. M. Yusron Hadi, M.M.

       Beberapa orang bertanya,”Mohon dijelaskan tentang “Memanfaatkan waktu   menurut Al-Quran?” Profesor Quraish Shihab menjelaskannya.

     Al-Quran surah Al-Ashri, surah ke-103 ayat 1-3.

وَالْعَصْرِ . إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ. إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ

      “Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan saling menasihati supaya menaati kebenaran dan saling menasihati supaya menetapi kesabaran”.  
      Al-Quran memerintahkan umat Islam untuk memanfaatkan waktu semaksimal  mungkin, dan umat manusia dituntunnya untuk mengisi seluruh “ashr” (waktu) dengan berbagai amal perbuatan yang memaksimalkna semua daya yang dimilikinya.
      Al-Quran surah Adz-Dzariyat, surah ke-51 ayat 56.

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

      “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku”.
      Sebagian ulama berpendapat bahwa jin dan manusia diciptakan oleh Allah adalah untuk “beribadah” dalam pengertian yang sempit, pemahaman dan penerjemahan ini menimbulkan kerancuan, karena memahami kata “lam” dalam “li ya'budun”, kata “li” diartikan “agar”.
     Dalam bahasa Al-Quran, kata “lam” tidak selalu berarti “agar”, tetapi dapat  berarti  “kesudahannya” atau “akibatnya”, seperti dalam Al-Quran surat Al-Qashash, surah ke-28 ayat 8, yang  menguraikan dipungutnya Nabi Musa oleh keluarga Fir'aun.
      Al-Quran surah Al-Qashshas, surah ke-28 ayat 8.

فَالْتَقَطَهُ آلُ فِرْعَوْنَ لِيَكُونَ لَهُمْ عَدُوًّا وَحَزَنًا ۗ إِنَّ فِرْعَوْنَ وَهَامَانَ وَجُنُودَهُمَا كَانُوا خَاطِئِينَ
  
“Maka dipungutlah dia oleh keluarga Fir'aun yang akibatnya dia menjadi musuh dan kesedihan bagi mereka. Sesungguhnya Fir'aun dan Haman beserta tentaranya adalah orang-orang yang bersalah”.
    Apabila kata “lam” dalam Al-Quran surah Al-Qashshas, surah ke-28 ayat 8 diterjemahkan “agar”, maka artinya “Maka dipungutlah dia (Musa)  oleh keluarga Fir'aun “agar” dia menjadi musuh dan kesedihan bagi mereka.” 
     Kalimat seperti itu tidak logis, tetapi apabila kata “lam” dipahami sebagai “akibat atau kesudahan”, maka terjemahannya akan berbunyi, “Maka dipungutlah dia (Musa) oleh keluarga Fir'aun, dan kesudahannya adalah dia  menjadi musuh bagi mereka.”
           Dalam ayat 56 Al-Quran surah Adz-Dzariyat, surah ke-51 dapat disimpulkan bahwa Al-Quran menuntut agar kesudahan semua pekerjaan manusia hendaknya menjadi ibadah kepada Allah, apa pun jenis dan bentuknya.
      Al-Quran memerintahkan untuk melakukan kegiatan apa pun setelah menyelesaikan ibadah ritual, seperti dalam Al-Quran surah Al-Jumuah, surah ke-62 ayat 10.  

فَإِذَا قُضِيَتِ الصَّلَاةُ فَانْتَشِرُوا فِي الْأَرْضِ وَابْتَغُوا مِنْ فَضْلِ اللَّهِ وَاذْكُرُوا اللَّهَ كَثِيرًا لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

      “Apabila telah ditunaikan salat (Jumat), maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung”.
     Al-Quran  mengecam  orang  yang mengisi waktunya dengan bermain tanpa tujuan seperti anak kecil, melalaikan yang lebih penting seperti sebagian remaja, sekadar bersolek seperti sebagian wanita, menumpuk  kekayaan dan  memperbanyak  anak  dengan tujuan kebanggaan seperti dilakukan sebagian orang tua.   
      Al-Quran surah Al-Jumuah, surah ke-57 ayat 20.  

اعْلَمُوا أَنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرٌ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِي الْأَمْوَالِ وَالْأَوْلَادِ ۖ كَمَثَلِ غَيْثٍ أَعْجَبَ الْكُفَّارَ نَبَاتُهُ ثُمَّ يَهِيجُ فَتَرَاهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَكُونُ حُطَامًا ۖ وَفِي الْآخِرَةِ عَذَابٌ شَدِيدٌ وَمَغْفِرَةٌ مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانٌ ۚ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ

      “Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-bangga tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada adzab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu”.
      “Pekerjaan” atau “amal perbuatan” dalam bahasa Al-Quran, sering kali  ditampilkan dalam bentuk “indefinitif” (nakirah), yang dapat dipahami memberikan  makna “keumuman”, sehingga “amal perbuatan” yang dimaksudkan mencakup “segala macam pekerjaan”.
      Al-Quran surah Ali Imran, surah ke-3 ayat 195 menyatakan Allah tidak menyia-nyiakan amal perbuatan.

فَاسْتَجَابَ لَهُمْ رَبُّهُمْ أَنِّي لَا أُضِيعُ عَمَلَ عَامِلٍ مِنْكُمْ مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَىٰ ۖ بَعْضُكُمْ مِنْ بَعْضٍ ۖ فَالَّذِينَ هَاجَرُوا وَأُخْرِجُوا مِنْ دِيَارِهِمْ وَأُوذُوا فِي سَبِيلِي وَقَاتَلُوا وَقُتِلُوا لَأُكَفِّرَنَّ عَنْهُمْ سَيِّئَاتِهِمْ وَلَأُدْخِلَنَّهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ ثَوَابًا مِنْ عِنْدِ اللَّهِ ۗ وَاللَّهُ عِنْدَهُ حُسْنُ الثَّوَابِ

      “Maka Tuhan mereka memperkenankan permohonannya (dengan berfirman), "Sesungguhnya Aku tidak menyia-nyiakan amal orang-orang yang beramal di antaramu, baik laki-laki atau perempuan, (karena) sebagian kamu adalah turunan dari sebagian yang lain. Maka orang-orang yang berhijrah, yang diusir dari kampung halamannya, yang disakiti pada jalan-Ku, yang berperang dan yang dibunuh, pastilah akan Ku-hapuskan kesalahan-kesalahan mereka dan pastilah Aku masukkan mereka ke dalam surga yang mengalir sungai-sungai di bawahnya sebagai pahala di sisi Allah. Dan Allah pada sisi-Nya pahala yang baik”.
      Al-Quran surah Al-Anam, surah ke-6 ayat 135 memerintahkan bekerja sungguh-sungguh.

قُلْ يَا قَوْمِ اعْمَلُوا عَلَىٰ مَكَانَتِكُمْ إِنِّي عَامِلٌ ۖ فَسَوْفَ تَعْلَمُونَ مَنْ تَكُونُ لَهُ عَاقِبَةُ الدَّارِ ۗ إِنَّهُ لَا يُفْلِحُ الظَّالِمُونَ

      “Katakanlah,”Hai kaumku, berbuatlah sepenuh kemampuanmu, sesungguhnya aku pun berbuat (pula). Kelak kamu akan mengetahui, siapakah (di antara kita) yang akan memperoleh hasil yang baik dari dunia ini. Sesungguhnya, orang-orang yang dzalim itu tidak akan mendapat keberuntungan”.
      Al-Quran surah Alam-Nasrah, surah ke-94 ayat 5-6.

فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا

      “Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan”.
      Sesungguhnya bersama 1 kesulitan yang sama, terdapat 2 kemudahan yang berbeda, karena kata “al-ushr” terulang 2 kali dalam bentuk  “definitif” (ma'rufah),  yaitu menggunakan “al” atau “alif dan lam”, sedangkan kata “yusra” terulang 2 kali  dalam bentuk “indefinitif”, karena tidak menggunakan “alif dan lam”.
      Al-Quran surah Alam-Nasrah, surah ke-94 ayat 7.

فَإِذَا فَرَغْتَ فَانْصَبْ
   
  “Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain”.
     Kata “faraghta” terambil dari kata “faragha” ditemukan dalam Al-Quran sebanyak 6 kali dengan berbagai bentuk derivasinya, dan dari segi bahasa, kata “faraghta” artinya “kosong setelah sebelumnya penuh”, yang berisi material atau non-material.
     Seperti gelas yang penuh dengan air, kemudian airnya diminum atau tumpah  sehingga gelas menjadi kosong, atau hati yang gelisah penuh dengan ketakutan dan  kesedihan, kemudian “plong”, semuanya digambarkan dengan akar kata “faragha”. 
     Seseorang yang telah memenuhi waktunya dengan pekerjaan, kemudian dia menyelesaikan pekerjaannya, maka jarak waktu antara selesai pekerjaan pertama dengan dimulainya pekerjaan selanjutnya dinamakan “faragh”. 
     Apabila kita berada dalam “keluangan” (faragh),  sedangkan sebelumnya kita telah memenuhi waktu dengan kerja keras, maka itulah yang dimaksudkan dengan “fanshab”.
       Kata “fanshab” artinya “berat” atau “letih”, dan kata “fanshab” pada  mulanya  artinya “menegakkan sesuatu sampai nyata dan mantap”, seperti halnya gunung dalam surah Al-Ghasiyah, surah ke-88 ayat 17-19. 

أَفَلَا يَنْظُرُونَ إِلَى الْإِبِلِ كَيْفَ خُلِقَتْ وَإِلَى السَّمَاءِ كَيْفَ رُفِعَتْ وَإِلَى الْجِبَالِ كَيْفَ نُصِبَتْ

      “Maka apakah mereka tidak memperhatikan unta bagaimana diciptakan, Dan langit, bagaimana ditinggikan? Dan gunung-gunung bagaimana ditegakkan (sehingga menjadi nyata)?”
      Kalimat terakhir pada terjemahan dijelaskan dalam Al-Quran dengan kata yang berakar sama dengan “fanshab” yaitu “nushibat” dalam kalimat “Wa ilal jibali kaifa  nushibat”, dari kata “nushibat” dibentuk  kata “nashib” (nasib) yang artinya “bagian  tertentu yang diperoleh dari kehidupan yang telah ditegakkan sehingga menjadi nyata, jelas, dan sulit dielakkan”.
     Ayat Al-Quran ini tidak memberikan peluang kepada manusia untuk menganggur selama masih ada “waktu”, karena setelah selesai satu kesibukan, maka dituntut melakukan kesibukan yang lain untuk menghasilkan karya nyata.
     Nabi menganjurkan umat Islam meneladani sifat-sifat Allah sesuai dengan  kemampuannya sebagai makhluk Allah, dan salah satu contoh sikap Allah adalah selalu dalam kesibukan.
      Al-Quran surah Ar-Rahman, surah ke-55 ayat 29. 

يَسْأَلُهُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۚ كُلَّ يَوْمٍ هُوَ فِي شَأْنٍ

      “Semua yang ada di langit dan di bumi selalu meminta kepada-Nya. Setiap waktu Allah dalam kesibukan”.
Daftar Pustaka
1. Shihab, M.Quraish. Lentera Hati. Kisah dan Hikmah Kehidupan. Penerbit Mizan, 1994.   
2. Shihab, M. Quraish Shihab. Wawasan Al-Quran. Tafsir Maudhui atas Perbagai Persoalan Umat. Penerbit Mizan, 2009.
3. Shihab, M.Quraish. E-book Membumikan Al-Quran.
4. Al-Quran Digital, Versi 3.2. Digital Qur’an Ver 3.2
5. Tafsirq.com online.

458. MANFAAT

MEMANFAATKAN WAKTU
Oleh: Drs. H. M. Yusron Hadi, M.M.

       Beberapa orang bertanya,”Mohon dijelaskan tentang “Memanfaatkan waktu   menurut Al-Quran?” Profesor Quraish Shihab menjelaskannya.

     Al-Quran surah Al-Ashri, surah ke-103 ayat 1-3.

وَالْعَصْرِ . إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ. إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ

      “Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan saling menasihati supaya menaati kebenaran dan saling menasihati supaya menetapi kesabaran”.  
      Al-Quran memerintahkan umat Islam untuk memanfaatkan waktu semaksimal  mungkin, dan umat manusia dituntunnya untuk mengisi seluruh “ashr” (waktu) dengan berbagai amal perbuatan yang memaksimalkna semua daya yang dimilikinya.
      Al-Quran surah Adz-Dzariyat, surah ke-51 ayat 56.

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

      “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku”.
      Sebagian ulama berpendapat bahwa jin dan manusia diciptakan oleh Allah adalah untuk “beribadah” dalam pengertian yang sempit, pemahaman dan penerjemahan ini menimbulkan kerancuan, karena memahami kata “lam” dalam “li ya'budun”, kata “li” diartikan “agar”.
     Dalam bahasa Al-Quran, kata “lam” tidak selalu berarti “agar”, tetapi dapat  berarti  “kesudahannya” atau “akibatnya”, seperti dalam Al-Quran surat Al-Qashash, surah ke-28 ayat 8, yang  menguraikan dipungutnya Nabi Musa oleh keluarga Fir'aun.
      Al-Quran surah Al-Qashshas, surah ke-28 ayat 8.

فَالْتَقَطَهُ آلُ فِرْعَوْنَ لِيَكُونَ لَهُمْ عَدُوًّا وَحَزَنًا ۗ إِنَّ فِرْعَوْنَ وَهَامَانَ وَجُنُودَهُمَا كَانُوا خَاطِئِينَ
  
“Maka dipungutlah dia oleh keluarga Fir'aun yang akibatnya dia menjadi musuh dan kesedihan bagi mereka. Sesungguhnya Fir'aun dan Haman beserta tentaranya adalah orang-orang yang bersalah”.
    Apabila kata “lam” dalam Al-Quran surah Al-Qashshas, surah ke-28 ayat 8 diterjemahkan “agar”, maka artinya “Maka dipungutlah dia (Musa)  oleh keluarga Fir'aun “agar” dia menjadi musuh dan kesedihan bagi mereka.” 
     Kalimat seperti itu tidak logis, tetapi apabila kata “lam” dipahami sebagai “akibat atau kesudahan”, maka terjemahannya akan berbunyi, “Maka dipungutlah dia (Musa) oleh keluarga Fir'aun, dan kesudahannya adalah dia  menjadi musuh bagi mereka.”
           Dalam ayat 56 Al-Quran surah Adz-Dzariyat, surah ke-51 dapat disimpulkan bahwa Al-Quran menuntut agar kesudahan semua pekerjaan manusia hendaknya menjadi ibadah kepada Allah, apa pun jenis dan bentuknya.
      Al-Quran memerintahkan untuk melakukan kegiatan apa pun setelah menyelesaikan ibadah ritual, seperti dalam Al-Quran surah Al-Jumuah, surah ke-62 ayat 10.  

فَإِذَا قُضِيَتِ الصَّلَاةُ فَانْتَشِرُوا فِي الْأَرْضِ وَابْتَغُوا مِنْ فَضْلِ اللَّهِ وَاذْكُرُوا اللَّهَ كَثِيرًا لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

      “Apabila telah ditunaikan salat (Jumat), maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung”.
     Al-Quran  mengecam  orang  yang mengisi waktunya dengan bermain tanpa tujuan seperti anak kecil, melalaikan yang lebih penting seperti sebagian remaja, sekadar bersolek seperti sebagian wanita, menumpuk  kekayaan dan  memperbanyak  anak  dengan tujuan kebanggaan seperti dilakukan sebagian orang tua.   
      Al-Quran surah Al-Jumuah, surah ke-57 ayat 20.  

اعْلَمُوا أَنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرٌ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِي الْأَمْوَالِ وَالْأَوْلَادِ ۖ كَمَثَلِ غَيْثٍ أَعْجَبَ الْكُفَّارَ نَبَاتُهُ ثُمَّ يَهِيجُ فَتَرَاهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَكُونُ حُطَامًا ۖ وَفِي الْآخِرَةِ عَذَابٌ شَدِيدٌ وَمَغْفِرَةٌ مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانٌ ۚ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ

      “Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-bangga tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada adzab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu”.
      “Pekerjaan” atau “amal perbuatan” dalam bahasa Al-Quran, sering kali  ditampilkan dalam bentuk “indefinitif” (nakirah), yang dapat dipahami memberikan  makna “keumuman”, sehingga “amal perbuatan” yang dimaksudkan mencakup “segala macam pekerjaan”.
      Al-Quran surah Ali Imran, surah ke-3 ayat 195 menyatakan Allah tidak menyia-nyiakan amal perbuatan.

فَاسْتَجَابَ لَهُمْ رَبُّهُمْ أَنِّي لَا أُضِيعُ عَمَلَ عَامِلٍ مِنْكُمْ مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَىٰ ۖ بَعْضُكُمْ مِنْ بَعْضٍ ۖ فَالَّذِينَ هَاجَرُوا وَأُخْرِجُوا مِنْ دِيَارِهِمْ وَأُوذُوا فِي سَبِيلِي وَقَاتَلُوا وَقُتِلُوا لَأُكَفِّرَنَّ عَنْهُمْ سَيِّئَاتِهِمْ وَلَأُدْخِلَنَّهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ ثَوَابًا مِنْ عِنْدِ اللَّهِ ۗ وَاللَّهُ عِنْدَهُ حُسْنُ الثَّوَابِ

      “Maka Tuhan mereka memperkenankan permohonannya (dengan berfirman), "Sesungguhnya Aku tidak menyia-nyiakan amal orang-orang yang beramal di antaramu, baik laki-laki atau perempuan, (karena) sebagian kamu adalah turunan dari sebagian yang lain. Maka orang-orang yang berhijrah, yang diusir dari kampung halamannya, yang disakiti pada jalan-Ku, yang berperang dan yang dibunuh, pastilah akan Ku-hapuskan kesalahan-kesalahan mereka dan pastilah Aku masukkan mereka ke dalam surga yang mengalir sungai-sungai di bawahnya sebagai pahala di sisi Allah. Dan Allah pada sisi-Nya pahala yang baik”.
      Al-Quran surah Al-Anam, surah ke-6 ayat 135 memerintahkan bekerja sungguh-sungguh.

قُلْ يَا قَوْمِ اعْمَلُوا عَلَىٰ مَكَانَتِكُمْ إِنِّي عَامِلٌ ۖ فَسَوْفَ تَعْلَمُونَ مَنْ تَكُونُ لَهُ عَاقِبَةُ الدَّارِ ۗ إِنَّهُ لَا يُفْلِحُ الظَّالِمُونَ

      “Katakanlah,”Hai kaumku, berbuatlah sepenuh kemampuanmu, sesungguhnya aku pun berbuat (pula). Kelak kamu akan mengetahui, siapakah (di antara kita) yang akan memperoleh hasil yang baik dari dunia ini. Sesungguhnya, orang-orang yang dzalim itu tidak akan mendapat keberuntungan”.
      Al-Quran surah Alam-Nasrah, surah ke-94 ayat 5-6.

فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا

      “Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan”.
      Sesungguhnya bersama 1 kesulitan yang sama, terdapat 2 kemudahan yang berbeda, karena kata “al-ushr” terulang 2 kali dalam bentuk  “definitif” (ma'rufah),  yaitu menggunakan “al” atau “alif dan lam”, sedangkan kata “yusra” terulang 2 kali  dalam bentuk “indefinitif”, karena tidak menggunakan “alif dan lam”.
      Al-Quran surah Alam-Nasrah, surah ke-94 ayat 7.

فَإِذَا فَرَغْتَ فَانْصَبْ
   
  “Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain”.
     Kata “faraghta” terambil dari kata “faragha” ditemukan dalam Al-Quran sebanyak 6 kali dengan berbagai bentuk derivasinya, dan dari segi bahasa, kata “faraghta” artinya “kosong setelah sebelumnya penuh”, yang berisi material atau non-material.
     Seperti gelas yang penuh dengan air, kemudian airnya diminum atau tumpah  sehingga gelas menjadi kosong, atau hati yang gelisah penuh dengan ketakutan dan  kesedihan, kemudian “plong”, semuanya digambarkan dengan akar kata “faragha”. 
     Seseorang yang telah memenuhi waktunya dengan pekerjaan, kemudian dia menyelesaikan pekerjaannya, maka jarak waktu antara selesai pekerjaan pertama dengan dimulainya pekerjaan selanjutnya dinamakan “faragh”. 
     Apabila kita berada dalam “keluangan” (faragh),  sedangkan sebelumnya kita telah memenuhi waktu dengan kerja keras, maka itulah yang dimaksudkan dengan “fanshab”.
       Kata “fanshab” artinya “berat” atau “letih”, dan kata “fanshab” pada  mulanya  artinya “menegakkan sesuatu sampai nyata dan mantap”, seperti halnya gunung dalam surah Al-Ghasiyah, surah ke-88 ayat 17-19. 

أَفَلَا يَنْظُرُونَ إِلَى الْإِبِلِ كَيْفَ خُلِقَتْ وَإِلَى السَّمَاءِ كَيْفَ رُفِعَتْ وَإِلَى الْجِبَالِ كَيْفَ نُصِبَتْ

      “Maka apakah mereka tidak memperhatikan unta bagaimana diciptakan, Dan langit, bagaimana ditinggikan? Dan gunung-gunung bagaimana ditegakkan (sehingga menjadi nyata)?”
      Kalimat terakhir pada terjemahan dijelaskan dalam Al-Quran dengan kata yang berakar sama dengan “fanshab” yaitu “nushibat” dalam kalimat “Wa ilal jibali kaifa  nushibat”, dari kata “nushibat” dibentuk  kata “nashib” (nasib) yang artinya “bagian  tertentu yang diperoleh dari kehidupan yang telah ditegakkan sehingga menjadi nyata, jelas, dan sulit dielakkan”.
     Ayat Al-Quran ini tidak memberikan peluang kepada manusia untuk menganggur selama masih ada “waktu”, karena setelah selesai satu kesibukan, maka dituntut melakukan kesibukan yang lain untuk menghasilkan karya nyata.
     Nabi menganjurkan umat Islam meneladani sifat-sifat Allah sesuai dengan  kemampuannya sebagai makhluk Allah, dan salah satu contoh sikap Allah adalah selalu dalam kesibukan.
      Al-Quran surah Ar-Rahman, surah ke-55 ayat 29. 

يَسْأَلُهُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۚ كُلَّ يَوْمٍ هُوَ فِي شَأْنٍ

      “Semua yang ada di langit dan di bumi selalu meminta kepada-Nya. Setiap waktu Allah dalam kesibukan”.
Daftar Pustaka
1. Shihab, M.Quraish. Lentera Hati. Kisah dan Hikmah Kehidupan. Penerbit Mizan, 1994.   
2. Shihab, M. Quraish Shihab. Wawasan Al-Quran. Tafsir Maudhui atas Perbagai Persoalan Umat. Penerbit Mizan, 2009.
3. Shihab, M.Quraish. E-book Membumikan Al-Quran.
4. Al-Quran Digital, Versi 3.2. Digital Qur’an Ver 3.2
5. Tafsirq.com online.