Organisasi Profesi Guru

Presiden Jokowi memberi hormat kepada Guru-Guru se Indonesia.

Tema Gambar Slide 2

Deskripsi gambar slide bisa dituliskan disini dengan beberapa kalimat yang menggambarkan gambar slide yang anda pasang, edit slide ini melalui edit HTML template.

Tema Gambar Slide 3

Deskripsi gambar slide bisa dituliskan disini dengan beberapa kalimat yang menggambarkan gambar slide yang anda pasang, edit slide ini melalui edit HTML template.

Friday, November 10, 2017

464. ILMIAH

KEBENARAN ILMIAH AL-QURAN
Oleh: Drs. H. M. Yusron Hadi, M.M.


       Beberapa orang bertanya,”Mohon dijelaskan tentang “Bukti kebenaran ilmiah Al-Quran?” Profesor Quraish Shihab menjelaskannya
     Al-Quran adalah kitab petunjuk untuk manusia dan penjelasan tentang petunjuk serta pemisah antara kebenaran dan kebatilan seperti dalam Al-Quran surah Al-Baqarah, surah ke-2 ayat 185.

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَىٰ وَالْفُرْقَانِ ۚ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ ۖ وَمَنْ كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ ۗ يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

   “(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al-Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang batil). Karena itu, barangsiapa di antaramu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur”.
       Para ulama dalam membahas membahas hubungan Al-Quran dengan ilmu pengetahuan bukan dinilai dengan banyaknya cabang ilmu pengetahuan yang tersimpul di dalamnya, dan bukan dengan menunjukkan kebenaran teori ilmiah, tetapi pembahasan hendaknya diletakkan pada proporsi yang sesuai dengan kesucian Al-Quran dan logika ilmu pengetahuan itu sendiri.
     Membahas hubungan antara Al-Quran dengan ilmu pengetahuan bukan dengan membahas, “Apakah terdapat “teori relativitas”, tentang angkasa luar, dan ilmu komputer tercantum dalam Al-Quran?”.
     Tetapi yang lebih utama adalah melihat, “Adakah jiwa ayat Al-Quran yang menghalangi kemajuan ilmu pengetahuan atau mendorongnya, serta adakah satu ayat Al-Quran yang bertentangan dengan hasil penemuan ilmiah yang telah mapan?”
      Yaitu meletakkan Al-Quran pada sisi “psikologi sosial” bukan pada sisi “sejarah perkembangan ilmu pengetahuan”, misalnya anggaplah bahwa setiap ayat dari 6.226 ayat yang tercantum dalam Al-Quran mengandung suatu teori ilmiah, kemudian apakah hasilnya?
      Apakah keuntungan yang diperoleh dengan mengetahui teori-teori tersebut apabila masyarakat tidak diberikan “hidayah” atau petunjuk guna kemajuan ilmu pengetahuan atau menyingkirkan hal-hal yang dapat menghambatnya?
      Para ulama menjelaskan bahwa “Ilmu pengetahuan” adalah “sekumpulan masalah serta sekumpulan metode yang dipergunakan menuju tercapainya masalah tersebut”.
      sehingga kemajuan ilmu pengetahuan bukan hanya terbatas dalam bidang-bidang tersebut, tetapi bergantung pula pada sekumpulan syarat psikologis dan sosial yang mempunyai pengaruh negatif dan positif sehingga dapat menghambat kemajuan ilmu pengetahuan atau mendorongnya lebih jauh.
      Hal ini menunjukkan bahwa kemajuan ilmu pengetahuan tidak hanya dinilai dengan hasil yang dipersembahkannya kepada masyarakat, tetapi juga diukur dengan adanya suatu iklim yang dapat mendorong kemajuan ilmu pengetahuan itu.
     Sejarah membuktikan bahwa Galileo, ketika mengungkapkan penemuannya bahwa bumi ini beredar, tidak mendapatkan “perlawaan” dari suatu lembaga ilmiah, tetapi, masyarakatnya memberikan tantangan kepadanya atas dasar-dasar kepercayaan dogma agama Kristen, sehingga Galileo pada akhirnya menjadi korban dari penemuannya sendiri.
    Hal ini adalah akibat belum terwujudnya syarat sosial dan psikologis yang mendorongnya, dan dari segi inilah kita dapat menilai hubungan Al-Quran dengan ilmu pengetahuan, karena dalam Al-Quran tersimpul ayat-ayat yang menganjurkan untuk mempergunakan akal pikiran untuk mencapai hasil.
      Al-Quran surah Al-Baqarah, surah ke-2 ayat 242.

كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ آيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُون

       “Demikianlah Allah menerangkan kepadamu ayat-ayat-Nya supaya kamu memahami.”
     Al-Quran memerintahkan agar umat manusia mau berpikir dan menggunakan akalnya dengan baik, karena banyak ayat Al-Quran yang mendukung penjelasan ini dalam bentuk pertanyaan.

أَفَلَا تْعقِلُونَ‏ / أَفَلَا تَتَفَكَّرُونَ

    “Apakah kalian tidak berpikir?”
      Demikianlah Al-Quran telah membentuk satu iklim baru yang dapat mengembangkan akal pikiran manusia, serta menyingkirkan hal-hal yang dapat menghalangi kemajuannya.
Daftar Pustaka
1. Shihab, M.Quraish. Lentera Hati. Kisah dan Hikmah Kehidupan. Penerbit Mizan, 1994.   
2. Shihab, M. Quraish Shihab. Wawasan Al-Quran. Tafsir Maudhui atas Perbagai Persoalan Umat. Penerbit Mizan, 2009.
3. Shihab, M.Quraish. E-book Membumikan Al-Quran.
4. Al-Quran Digital, Versi 3.2. Digital Qur’an Ver 3.2
5. Tafsirq.com online.

464. ILMIAH

KEBENARAN ILMIAH AL-QURAN
Oleh: Drs. H. M. Yusron Hadi, M.M.


       Beberapa orang bertanya,”Mohon dijelaskan tentang “Bukti kebenaran ilmiah Al-Quran?” Profesor Quraish Shihab menjelaskannya
     Al-Quran adalah kitab petunjuk untuk manusia dan penjelasan tentang petunjuk serta pemisah antara kebenaran dan kebatilan seperti dalam Al-Quran surah Al-Baqarah, surah ke-2 ayat 185.

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَىٰ وَالْفُرْقَانِ ۚ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ ۖ وَمَنْ كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ ۗ يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

   “(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al-Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang batil). Karena itu, barangsiapa di antaramu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur”.
       Para ulama dalam membahas membahas hubungan Al-Quran dengan ilmu pengetahuan bukan dinilai dengan banyaknya cabang ilmu pengetahuan yang tersimpul di dalamnya, dan bukan dengan menunjukkan kebenaran teori ilmiah, tetapi pembahasan hendaknya diletakkan pada proporsi yang sesuai dengan kesucian Al-Quran dan logika ilmu pengetahuan itu sendiri.
     Membahas hubungan antara Al-Quran dengan ilmu pengetahuan bukan dengan membahas, “Apakah terdapat “teori relativitas”, tentang angkasa luar, dan ilmu komputer tercantum dalam Al-Quran?”.
     Tetapi yang lebih utama adalah melihat, “Adakah jiwa ayat Al-Quran yang menghalangi kemajuan ilmu pengetahuan atau mendorongnya, serta adakah satu ayat Al-Quran yang bertentangan dengan hasil penemuan ilmiah yang telah mapan?”
      Yaitu meletakkan Al-Quran pada sisi “psikologi sosial” bukan pada sisi “sejarah perkembangan ilmu pengetahuan”, misalnya anggaplah bahwa setiap ayat dari 6.226 ayat yang tercantum dalam Al-Quran mengandung suatu teori ilmiah, kemudian apakah hasilnya?
      Apakah keuntungan yang diperoleh dengan mengetahui teori-teori tersebut apabila masyarakat tidak diberikan “hidayah” atau petunjuk guna kemajuan ilmu pengetahuan atau menyingkirkan hal-hal yang dapat menghambatnya?
      Para ulama menjelaskan bahwa “Ilmu pengetahuan” adalah “sekumpulan masalah serta sekumpulan metode yang dipergunakan menuju tercapainya masalah tersebut”.
      sehingga kemajuan ilmu pengetahuan bukan hanya terbatas dalam bidang-bidang tersebut, tetapi bergantung pula pada sekumpulan syarat psikologis dan sosial yang mempunyai pengaruh negatif dan positif sehingga dapat menghambat kemajuan ilmu pengetahuan atau mendorongnya lebih jauh.
      Hal ini menunjukkan bahwa kemajuan ilmu pengetahuan tidak hanya dinilai dengan hasil yang dipersembahkannya kepada masyarakat, tetapi juga diukur dengan adanya suatu iklim yang dapat mendorong kemajuan ilmu pengetahuan itu.
     Sejarah membuktikan bahwa Galileo, ketika mengungkapkan penemuannya bahwa bumi ini beredar, tidak mendapatkan “perlawaan” dari suatu lembaga ilmiah, tetapi, masyarakatnya memberikan tantangan kepadanya atas dasar-dasar kepercayaan dogma agama Kristen, sehingga Galileo pada akhirnya menjadi korban dari penemuannya sendiri.
    Hal ini adalah akibat belum terwujudnya syarat sosial dan psikologis yang mendorongnya, dan dari segi inilah kita dapat menilai hubungan Al-Quran dengan ilmu pengetahuan, karena dalam Al-Quran tersimpul ayat-ayat yang menganjurkan untuk mempergunakan akal pikiran untuk mencapai hasil.
      Al-Quran surah Al-Baqarah, surah ke-2 ayat 242.

كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ آيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُون

       “Demikianlah Allah menerangkan kepadamu ayat-ayat-Nya supaya kamu memahami.”
     Al-Quran memerintahkan agar umat manusia mau berpikir dan menggunakan akalnya dengan baik, karena banyak ayat Al-Quran yang mendukung penjelasan ini dalam bentuk pertanyaan.

أَفَلَا تْعقِلُونَ‏ / أَفَلَا تَتَفَكَّرُونَ

    “Apakah kalian tidak berpikir?”
      Demikianlah Al-Quran telah membentuk satu iklim baru yang dapat mengembangkan akal pikiran manusia, serta menyingkirkan hal-hal yang dapat menghalangi kemajuannya.
Daftar Pustaka
1. Shihab, M.Quraish. Lentera Hati. Kisah dan Hikmah Kehidupan. Penerbit Mizan, 1994.   
2. Shihab, M. Quraish Shihab. Wawasan Al-Quran. Tafsir Maudhui atas Perbagai Persoalan Umat. Penerbit Mizan, 2009.
3. Shihab, M.Quraish. E-book Membumikan Al-Quran.
4. Al-Quran Digital, Versi 3.2. Digital Qur’an Ver 3.2
5. Tafsirq.com online.

464. ILMIAH

KEBENARAN ILMIAH AL-QURAN
Oleh: Drs. H. M. Yusron Hadi, M.M.


       Beberapa orang bertanya,”Mohon dijelaskan tentang “Bukti kebenaran ilmiah Al-Quran?” Profesor Quraish Shihab menjelaskannya
     Al-Quran adalah kitab petunjuk untuk manusia dan penjelasan tentang petunjuk serta pemisah antara kebenaran dan kebatilan seperti dalam Al-Quran surah Al-Baqarah, surah ke-2 ayat 185.

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَىٰ وَالْفُرْقَانِ ۚ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ ۖ وَمَنْ كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ ۗ يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

   “(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al-Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang batil). Karena itu, barangsiapa di antaramu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur”.
       Para ulama dalam membahas membahas hubungan Al-Quran dengan ilmu pengetahuan bukan dinilai dengan banyaknya cabang ilmu pengetahuan yang tersimpul di dalamnya, dan bukan dengan menunjukkan kebenaran teori ilmiah, tetapi pembahasan hendaknya diletakkan pada proporsi yang sesuai dengan kesucian Al-Quran dan logika ilmu pengetahuan itu sendiri.
     Membahas hubungan antara Al-Quran dengan ilmu pengetahuan bukan dengan membahas, “Apakah terdapat “teori relativitas”, tentang angkasa luar, dan ilmu komputer tercantum dalam Al-Quran?”.
     Tetapi yang lebih utama adalah melihat, “Adakah jiwa ayat Al-Quran yang menghalangi kemajuan ilmu pengetahuan atau mendorongnya, serta adakah satu ayat Al-Quran yang bertentangan dengan hasil penemuan ilmiah yang telah mapan?”
      Yaitu meletakkan Al-Quran pada sisi “psikologi sosial” bukan pada sisi “sejarah perkembangan ilmu pengetahuan”, misalnya anggaplah bahwa setiap ayat dari 6.226 ayat yang tercantum dalam Al-Quran mengandung suatu teori ilmiah, kemudian apakah hasilnya?
      Apakah keuntungan yang diperoleh dengan mengetahui teori-teori tersebut apabila masyarakat tidak diberikan “hidayah” atau petunjuk guna kemajuan ilmu pengetahuan atau menyingkirkan hal-hal yang dapat menghambatnya?
      Para ulama menjelaskan bahwa “Ilmu pengetahuan” adalah “sekumpulan masalah serta sekumpulan metode yang dipergunakan menuju tercapainya masalah tersebut”.
      sehingga kemajuan ilmu pengetahuan bukan hanya terbatas dalam bidang-bidang tersebut, tetapi bergantung pula pada sekumpulan syarat psikologis dan sosial yang mempunyai pengaruh negatif dan positif sehingga dapat menghambat kemajuan ilmu pengetahuan atau mendorongnya lebih jauh.
      Hal ini menunjukkan bahwa kemajuan ilmu pengetahuan tidak hanya dinilai dengan hasil yang dipersembahkannya kepada masyarakat, tetapi juga diukur dengan adanya suatu iklim yang dapat mendorong kemajuan ilmu pengetahuan itu.
     Sejarah membuktikan bahwa Galileo, ketika mengungkapkan penemuannya bahwa bumi ini beredar, tidak mendapatkan “perlawaan” dari suatu lembaga ilmiah, tetapi, masyarakatnya memberikan tantangan kepadanya atas dasar-dasar kepercayaan dogma agama Kristen, sehingga Galileo pada akhirnya menjadi korban dari penemuannya sendiri.
    Hal ini adalah akibat belum terwujudnya syarat sosial dan psikologis yang mendorongnya, dan dari segi inilah kita dapat menilai hubungan Al-Quran dengan ilmu pengetahuan, karena dalam Al-Quran tersimpul ayat-ayat yang menganjurkan untuk mempergunakan akal pikiran untuk mencapai hasil.
      Al-Quran surah Al-Baqarah, surah ke-2 ayat 242.

كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ آيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُون

       “Demikianlah Allah menerangkan kepadamu ayat-ayat-Nya supaya kamu memahami.”
     Al-Quran memerintahkan agar umat manusia mau berpikir dan menggunakan akalnya dengan baik, karena banyak ayat Al-Quran yang mendukung penjelasan ini dalam bentuk pertanyaan.

أَفَلَا تْعقِلُونَ‏ / أَفَلَا تَتَفَكَّرُونَ

    “Apakah kalian tidak berpikir?”
      Demikianlah Al-Quran telah membentuk satu iklim baru yang dapat mengembangkan akal pikiran manusia, serta menyingkirkan hal-hal yang dapat menghalangi kemajuannya.
Daftar Pustaka
1. Shihab, M.Quraish. Lentera Hati. Kisah dan Hikmah Kehidupan. Penerbit Mizan, 1994.   
2. Shihab, M. Quraish Shihab. Wawasan Al-Quran. Tafsir Maudhui atas Perbagai Persoalan Umat. Penerbit Mizan, 2009.
3. Shihab, M.Quraish. E-book Membumikan Al-Quran.
4. Al-Quran Digital, Versi 3.2. Digital Qur’an Ver 3.2
5. Tafsirq.com online.

464. ILMIAH

KEBENARAN ILMIAH AL-QURAN
Oleh: Drs. H. M. Yusron Hadi, M.M.


       Beberapa orang bertanya,”Mohon dijelaskan tentang “Bukti kebenaran ilmiah Al-Quran?” Profesor Quraish Shihab menjelaskannya
     Al-Quran adalah kitab petunjuk untuk manusia dan penjelasan tentang petunjuk serta pemisah antara kebenaran dan kebatilan seperti dalam Al-Quran surah Al-Baqarah, surah ke-2 ayat 185.

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَىٰ وَالْفُرْقَانِ ۚ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ ۖ وَمَنْ كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ ۗ يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

   “(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al-Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang batil). Karena itu, barangsiapa di antaramu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur”.
       Para ulama dalam membahas membahas hubungan Al-Quran dengan ilmu pengetahuan bukan dinilai dengan banyaknya cabang ilmu pengetahuan yang tersimpul di dalamnya, dan bukan dengan menunjukkan kebenaran teori ilmiah, tetapi pembahasan hendaknya diletakkan pada proporsi yang sesuai dengan kesucian Al-Quran dan logika ilmu pengetahuan itu sendiri.
     Membahas hubungan antara Al-Quran dengan ilmu pengetahuan bukan dengan membahas, “Apakah terdapat “teori relativitas”, tentang angkasa luar, dan ilmu komputer tercantum dalam Al-Quran?”.
     Tetapi yang lebih utama adalah melihat, “Adakah jiwa ayat Al-Quran yang menghalangi kemajuan ilmu pengetahuan atau mendorongnya, serta adakah satu ayat Al-Quran yang bertentangan dengan hasil penemuan ilmiah yang telah mapan?”
      Yaitu meletakkan Al-Quran pada sisi “psikologi sosial” bukan pada sisi “sejarah perkembangan ilmu pengetahuan”, misalnya anggaplah bahwa setiap ayat dari 6.226 ayat yang tercantum dalam Al-Quran mengandung suatu teori ilmiah, kemudian apakah hasilnya?
      Apakah keuntungan yang diperoleh dengan mengetahui teori-teori tersebut apabila masyarakat tidak diberikan “hidayah” atau petunjuk guna kemajuan ilmu pengetahuan atau menyingkirkan hal-hal yang dapat menghambatnya?
      Para ulama menjelaskan bahwa “Ilmu pengetahuan” adalah “sekumpulan masalah serta sekumpulan metode yang dipergunakan menuju tercapainya masalah tersebut”.
      sehingga kemajuan ilmu pengetahuan bukan hanya terbatas dalam bidang-bidang tersebut, tetapi bergantung pula pada sekumpulan syarat psikologis dan sosial yang mempunyai pengaruh negatif dan positif sehingga dapat menghambat kemajuan ilmu pengetahuan atau mendorongnya lebih jauh.
      Hal ini menunjukkan bahwa kemajuan ilmu pengetahuan tidak hanya dinilai dengan hasil yang dipersembahkannya kepada masyarakat, tetapi juga diukur dengan adanya suatu iklim yang dapat mendorong kemajuan ilmu pengetahuan itu.
     Sejarah membuktikan bahwa Galileo, ketika mengungkapkan penemuannya bahwa bumi ini beredar, tidak mendapatkan “perlawaan” dari suatu lembaga ilmiah, tetapi, masyarakatnya memberikan tantangan kepadanya atas dasar-dasar kepercayaan dogma agama Kristen, sehingga Galileo pada akhirnya menjadi korban dari penemuannya sendiri.
    Hal ini adalah akibat belum terwujudnya syarat sosial dan psikologis yang mendorongnya, dan dari segi inilah kita dapat menilai hubungan Al-Quran dengan ilmu pengetahuan, karena dalam Al-Quran tersimpul ayat-ayat yang menganjurkan untuk mempergunakan akal pikiran untuk mencapai hasil.
      Al-Quran surah Al-Baqarah, surah ke-2 ayat 242.

كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ آيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُون

       “Demikianlah Allah menerangkan kepadamu ayat-ayat-Nya supaya kamu memahami.”
     Al-Quran memerintahkan agar umat manusia mau berpikir dan menggunakan akalnya dengan baik, karena banyak ayat Al-Quran yang mendukung penjelasan ini dalam bentuk pertanyaan.

أَفَلَا تْعقِلُونَ‏ / أَفَلَا تَتَفَكَّرُونَ

    “Apakah kalian tidak berpikir?”
      Demikianlah Al-Quran telah membentuk satu iklim baru yang dapat mengembangkan akal pikiran manusia, serta menyingkirkan hal-hal yang dapat menghalangi kemajuannya.
Daftar Pustaka
1. Shihab, M.Quraish. Lentera Hati. Kisah dan Hikmah Kehidupan. Penerbit Mizan, 1994.   
2. Shihab, M. Quraish Shihab. Wawasan Al-Quran. Tafsir Maudhui atas Perbagai Persoalan Umat. Penerbit Mizan, 2009.
3. Shihab, M.Quraish. E-book Membumikan Al-Quran.
4. Al-Quran Digital, Versi 3.2. Digital Qur’an Ver 3.2
5. Tafsirq.com online.

464. ILMIAH

KEBENARAN ILMIAH AL-QURAN
Oleh: Drs. H. M. Yusron Hadi, M.M.


       Beberapa orang bertanya,”Mohon dijelaskan tentang “Bukti kebenaran ilmiah Al-Quran?” Profesor Quraish Shihab menjelaskannya
     Al-Quran adalah kitab petunjuk untuk manusia dan penjelasan tentang petunjuk serta pemisah antara kebenaran dan kebatilan seperti dalam Al-Quran surah Al-Baqarah, surah ke-2 ayat 185.

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَىٰ وَالْفُرْقَانِ ۚ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ ۖ وَمَنْ كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ ۗ يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

   “(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al-Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang batil). Karena itu, barangsiapa di antaramu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur”.
       Para ulama dalam membahas membahas hubungan Al-Quran dengan ilmu pengetahuan bukan dinilai dengan banyaknya cabang ilmu pengetahuan yang tersimpul di dalamnya, dan bukan dengan menunjukkan kebenaran teori ilmiah, tetapi pembahasan hendaknya diletakkan pada proporsi yang sesuai dengan kesucian Al-Quran dan logika ilmu pengetahuan itu sendiri.
     Membahas hubungan antara Al-Quran dengan ilmu pengetahuan bukan dengan membahas, “Apakah terdapat “teori relativitas”, tentang angkasa luar, dan ilmu komputer tercantum dalam Al-Quran?”.
     Tetapi yang lebih utama adalah melihat, “Adakah jiwa ayat Al-Quran yang menghalangi kemajuan ilmu pengetahuan atau mendorongnya, serta adakah satu ayat Al-Quran yang bertentangan dengan hasil penemuan ilmiah yang telah mapan?”
      Yaitu meletakkan Al-Quran pada sisi “psikologi sosial” bukan pada sisi “sejarah perkembangan ilmu pengetahuan”, misalnya anggaplah bahwa setiap ayat dari 6.226 ayat yang tercantum dalam Al-Quran mengandung suatu teori ilmiah, kemudian apakah hasilnya?
      Apakah keuntungan yang diperoleh dengan mengetahui teori-teori tersebut apabila masyarakat tidak diberikan “hidayah” atau petunjuk guna kemajuan ilmu pengetahuan atau menyingkirkan hal-hal yang dapat menghambatnya?
      Para ulama menjelaskan bahwa “Ilmu pengetahuan” adalah “sekumpulan masalah serta sekumpulan metode yang dipergunakan menuju tercapainya masalah tersebut”.
      sehingga kemajuan ilmu pengetahuan bukan hanya terbatas dalam bidang-bidang tersebut, tetapi bergantung pula pada sekumpulan syarat psikologis dan sosial yang mempunyai pengaruh negatif dan positif sehingga dapat menghambat kemajuan ilmu pengetahuan atau mendorongnya lebih jauh.
      Hal ini menunjukkan bahwa kemajuan ilmu pengetahuan tidak hanya dinilai dengan hasil yang dipersembahkannya kepada masyarakat, tetapi juga diukur dengan adanya suatu iklim yang dapat mendorong kemajuan ilmu pengetahuan itu.
     Sejarah membuktikan bahwa Galileo, ketika mengungkapkan penemuannya bahwa bumi ini beredar, tidak mendapatkan “perlawaan” dari suatu lembaga ilmiah, tetapi, masyarakatnya memberikan tantangan kepadanya atas dasar-dasar kepercayaan dogma agama Kristen, sehingga Galileo pada akhirnya menjadi korban dari penemuannya sendiri.
    Hal ini adalah akibat belum terwujudnya syarat sosial dan psikologis yang mendorongnya, dan dari segi inilah kita dapat menilai hubungan Al-Quran dengan ilmu pengetahuan, karena dalam Al-Quran tersimpul ayat-ayat yang menganjurkan untuk mempergunakan akal pikiran untuk mencapai hasil.
      Al-Quran surah Al-Baqarah, surah ke-2 ayat 242.

كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ آيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُون

       “Demikianlah Allah menerangkan kepadamu ayat-ayat-Nya supaya kamu memahami.”
     Al-Quran memerintahkan agar umat manusia mau berpikir dan menggunakan akalnya dengan baik, karena banyak ayat Al-Quran yang mendukung penjelasan ini dalam bentuk pertanyaan.

أَفَلَا تْعقِلُونَ‏ / أَفَلَا تَتَفَكَّرُونَ

    “Apakah kalian tidak berpikir?”
      Demikianlah Al-Quran telah membentuk satu iklim baru yang dapat mengembangkan akal pikiran manusia, serta menyingkirkan hal-hal yang dapat menghalangi kemajuannya.
Daftar Pustaka
1. Shihab, M.Quraish. Lentera Hati. Kisah dan Hikmah Kehidupan. Penerbit Mizan, 1994.   
2. Shihab, M. Quraish Shihab. Wawasan Al-Quran. Tafsir Maudhui atas Perbagai Persoalan Umat. Penerbit Mizan, 2009.
3. Shihab, M.Quraish. E-book Membumikan Al-Quran.
4. Al-Quran Digital, Versi 3.2. Digital Qur’an Ver 3.2
5. Tafsirq.com online.

464. ILMIAH

KEBENARAN ILMIAH AL-QURAN
Oleh: Drs. H. M. Yusron Hadi, M.M.


       Beberapa orang bertanya,”Mohon dijelaskan tentang “Bukti kebenaran ilmiah Al-Quran?” Profesor Quraish Shihab menjelaskannya
     Al-Quran adalah kitab petunjuk untuk manusia dan penjelasan tentang petunjuk serta pemisah antara kebenaran dan kebatilan seperti dalam Al-Quran surah Al-Baqarah, surah ke-2 ayat 185.

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَىٰ وَالْفُرْقَانِ ۚ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ ۖ وَمَنْ كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ ۗ يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

   “(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al-Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang batil). Karena itu, barangsiapa di antaramu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur”.
       Para ulama dalam membahas membahas hubungan Al-Quran dengan ilmu pengetahuan bukan dinilai dengan banyaknya cabang ilmu pengetahuan yang tersimpul di dalamnya, dan bukan dengan menunjukkan kebenaran teori ilmiah, tetapi pembahasan hendaknya diletakkan pada proporsi yang sesuai dengan kesucian Al-Quran dan logika ilmu pengetahuan itu sendiri.
     Membahas hubungan antara Al-Quran dengan ilmu pengetahuan bukan dengan membahas, “Apakah terdapat “teori relativitas”, tentang angkasa luar, dan ilmu komputer tercantum dalam Al-Quran?”.
     Tetapi yang lebih utama adalah melihat, “Adakah jiwa ayat Al-Quran yang menghalangi kemajuan ilmu pengetahuan atau mendorongnya, serta adakah satu ayat Al-Quran yang bertentangan dengan hasil penemuan ilmiah yang telah mapan?”
      Yaitu meletakkan Al-Quran pada sisi “psikologi sosial” bukan pada sisi “sejarah perkembangan ilmu pengetahuan”, misalnya anggaplah bahwa setiap ayat dari 6.226 ayat yang tercantum dalam Al-Quran mengandung suatu teori ilmiah, kemudian apakah hasilnya?
      Apakah keuntungan yang diperoleh dengan mengetahui teori-teori tersebut apabila masyarakat tidak diberikan “hidayah” atau petunjuk guna kemajuan ilmu pengetahuan atau menyingkirkan hal-hal yang dapat menghambatnya?
      Para ulama menjelaskan bahwa “Ilmu pengetahuan” adalah “sekumpulan masalah serta sekumpulan metode yang dipergunakan menuju tercapainya masalah tersebut”.
      sehingga kemajuan ilmu pengetahuan bukan hanya terbatas dalam bidang-bidang tersebut, tetapi bergantung pula pada sekumpulan syarat psikologis dan sosial yang mempunyai pengaruh negatif dan positif sehingga dapat menghambat kemajuan ilmu pengetahuan atau mendorongnya lebih jauh.
      Hal ini menunjukkan bahwa kemajuan ilmu pengetahuan tidak hanya dinilai dengan hasil yang dipersembahkannya kepada masyarakat, tetapi juga diukur dengan adanya suatu iklim yang dapat mendorong kemajuan ilmu pengetahuan itu.
     Sejarah membuktikan bahwa Galileo, ketika mengungkapkan penemuannya bahwa bumi ini beredar, tidak mendapatkan “perlawaan” dari suatu lembaga ilmiah, tetapi, masyarakatnya memberikan tantangan kepadanya atas dasar-dasar kepercayaan dogma agama Kristen, sehingga Galileo pada akhirnya menjadi korban dari penemuannya sendiri.
    Hal ini adalah akibat belum terwujudnya syarat sosial dan psikologis yang mendorongnya, dan dari segi inilah kita dapat menilai hubungan Al-Quran dengan ilmu pengetahuan, karena dalam Al-Quran tersimpul ayat-ayat yang menganjurkan untuk mempergunakan akal pikiran untuk mencapai hasil.
      Al-Quran surah Al-Baqarah, surah ke-2 ayat 242.

كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ آيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُون

       “Demikianlah Allah menerangkan kepadamu ayat-ayat-Nya supaya kamu memahami.”
     Al-Quran memerintahkan agar umat manusia mau berpikir dan menggunakan akalnya dengan baik, karena banyak ayat Al-Quran yang mendukung penjelasan ini dalam bentuk pertanyaan.

أَفَلَا تْعقِلُونَ‏ / أَفَلَا تَتَفَكَّرُونَ

    “Apakah kalian tidak berpikir?”
      Demikianlah Al-Quran telah membentuk satu iklim baru yang dapat mengembangkan akal pikiran manusia, serta menyingkirkan hal-hal yang dapat menghalangi kemajuannya.
Daftar Pustaka
1. Shihab, M.Quraish. Lentera Hati. Kisah dan Hikmah Kehidupan. Penerbit Mizan, 1994.   
2. Shihab, M. Quraish Shihab. Wawasan Al-Quran. Tafsir Maudhui atas Perbagai Persoalan Umat. Penerbit Mizan, 2009.
3. Shihab, M.Quraish. E-book Membumikan Al-Quran.
4. Al-Quran Digital, Versi 3.2. Digital Qur’an Ver 3.2
5. Tafsirq.com online.

Thursday, November 9, 2017

463. BUKTI 2

BUKTI KEBENARAN AL-QURAN
(Seri ke-2)
Oleh: Drs. H. M. Yusron Hadi, M.M.


       Beberapa orang bertanya,”Mohon dijelaskan tentang “Bukti kebenaran Al-Quran?” Profesor Quraish Shihab menjelaskannya
      Para ulama memberikan contoh tentang keseimbangan ayat-ayat  Al-Quran, yang dapat kita simpulkan berikut ini.
      Pertama, keseimbangan antara jumlah bilangan kata dengan antonimnya (lawan kata).
      Kata “Al-hayah” (hidup) dan kata “al-maut” (mati) masing-masing sebanyak 145 kali; kata “Al-naf” (manfaat) dan kata “al-madharrah” (mudarat) masing-masing sebanyak 50 kali;  kata “Al-har” (panas) dan “al-bard” (dingin) masing-masing 4 kali;  kata “Al-shalihat” (kebajikan) dan “al-sayyi'at” (keburukan) masing-masing 167 kali.
      Kata “Al-Thumaninah” (kelapangan / ketenangan) dan “al-dhiq” (kesempitan / kekesalan) masing-masing 13 kali;  kata “Al-rahbah” (cemas / takut) dan “al-raghbah” (harap / ingin) masing-masing 8 kali;  kata “Al-kufr” (kekufuran) dan kata “al-iman” (iman) dalam bentuk definite masing-masing 17 kali.
      Kata “Kufr” (kekufuran) dan kata “ima”n (iman) dalam bentuk indifinite masing-masing 8 kali;  dan kata “Al-shayf” (musim panas) dan “al-syita” (musim dingin) masing-masing 1 kali. 
      Kedua, keseimbangan jumlah bilangan kata dengan sinonimnya / makna yang dikandungnya.
      Kata “Al-harts” dan kata “al-zira'ah” (membajak/bertani) masing-masing 14 kali;  kata “Al-'ushb” dan kata “al-dhurur” (membanggakan diri/angkuh) masing-masing 27 kali; kata “Al-dhallun” dan kata “al-mauta” (orang sesat/mati [jiwanya]) masing-masing 17 kali; 
      Kata “Al-Qur'an”, kata “al-wahyu” dan kata “Al-Islam” (Al-Quran, wahyu dan Islam)masing-masing 70 kali;  kata “Al-aql” kata “al-nur” (akal dan cahaya) masing-masing 49 kali;  dan kata “Al-jahr” dan kata “al-'alaniyah” (nyata) masing-masing 16 kali. 
      Ketiga, keseimbangan antara jumlah bilangan kata dengan jumlah kata yang menunjuk kepada akibatnya.
      Kata “Al-infaq” (infak) dengan kata “al-ridha” (kerelaan) masing-masing 73 kali;  kata “Al-bukhl” (kekikiran) dengan kata “al-hasarah” (penyesalan) masing-masing 12 kali; kata “Al-kafirun” (orang-orang kafir) dengan kata “al-nar” / ”al-ahraq” (neraka / pembakaran) masing-masing 154 kali.
      Kata “Al-zakah” (zakat / penyucian) dengan kata “al-barakat” (kebajikan yang banyak) masing-masing 32 kali; dan kata “Al-fahisyah” (kekejian) dengan kata “al-ghadhb” (murka) masing-masing 26 kali. 
      Keempat, keseimbangan antara jumlah bilangan kata dengan kata penyebabnya.
      Kata “Al-israf” (pemborosan) dengan “al-sur'ah” (ketergesa-gesaan) masing-masing 23 kali; kata “Al-mau'izhah” (nasihat/petuah) dengan “al-lisan” (lidah) masing-masing 25 kali;  kata “Al-asra” (tawanan) dengan “al-harb’ (perang) masing-masing 6 kali;  • dan kata “Al-salam” (kedamaian) dengan “al-thayyibat” (kebajikan) masing-masing 60 kali. 
      Kelima, keseimbangan yang khusus.
(a) Kata “yaum” (hari) dalam bentuk tunggal sejumlah 365 kali, sebanyak hari-hari dalam setahun, sedangkan kata hari yang menunjuk kepada bentuk plural “ayyam” atau dua “yaumaini”, jumlah keseluruhannya hanya 30 kali, sama dengan jumlah hari dalam sebulan, serta kata yang berarti “syahr” (bulan) hanya terdapat 12 kali, sama dengan jumlah bulan dalam setahun. 
(b) Al-Quran menjelaskan bahwa langit ada 7 lapis, dan penjelasan ini diulanginya sebanyak 7 kali pula, yakni dalam ayat-ayat Al-Baqarah (2:29), Al-Isra'(17: 44), Al-Mukminun (23:86), Fushshilat (41:12), At-Thalaq (65:12), Al-Mulk (67: 3), dan Nuh (71:15). Penjelasan tentang terciptanya langit dan bumi dalam enam hari dinyatakan pula dalam 7 ayat.
(c) Kata-kata yang menunjuk kepada utusan Tuhan, yaitu “Rasul” (rasul), atau “nabiy” (nabi), atau “basyir” (pembawa berita gembira) atau “nadzir” (pemberi peringatan) keseluruhannya berjumlah 518 kali, dengan jumlah ini seimbang dengan jumlah penyebutan nama-nama nabi, rasul dan pembawa berita tersebut, yaitu 518 kali.
Pemberitaan gaib dalam Al-Quran ternyata terbukti benar.  
Al-Quran surah Yunus, surah ke-10 ayat  92 pemberitaan gaib dalam Al-Quran ternyata benar.

فَالْيَوْمَ نُنَجِّيكَ بِبَدَنِكَ لِتَكُونَ لِمَنْ خَلْفَكَ آيَةً ۚ وَإِنَّ كَثِيرًا مِنَ النَّاسِ عَنْ آيَاتِنَا لَغَافِلُونَ
     
      “Maka pada hari ini Kami selamatkan badanmu (Firaun) supaya kamu dapat menjadi pelajaran bagi orang-orang yang datang sesudahmu dan sesungguhnya kebanyakan dari manusia lengah dari tanda-tanda kekuasaan Kami”.
      Al-Quran surah Yunus, surah ke-10 ayat 92 menyatakan badan Firaun akan diselamatkan untuk pelajaran bagi generasi berikutnya, karena sebelumnya tidak seorang pun yang mengetahui hal tersebut, karena peristiwanya telah terjadi sekitar 1200 tahun Sebelum Masehi, dan pada tahun 1896 Masehi, ahli purbakala Loret menemukan sebuah mumi di Lembah Raja Luxor Mesir, yang dari data-data sejarah terbukti bahwa itu adalah Fir'aun yang bernama Maniptah yang pernah mengejar Nabi Musa.
     Pada tanggal 8 Juli 1908, Elliot Smith mendapatkan izin dari pemerintah Mesir untuk membuka pembalut tubuh Fir'aun itu, dan ternyata yang ditemukannya adalah satu jasad utuh, seperti yang diberitakan oleh Al-Quran melalui Nabi yang “ummi” (yang tidak pandai membaca dan menulis).
     Setiap orang yang pernah berkunjung ke Museum Kairo, akan dapat melihat Fir'aun tersebut, dan masih banyak ragam dan peristiwa gaib yang telah diungkapkan Al-Quran yang belum mungkin ditampilkan dalam tulisan ini. 
      Isyarat ilmiah dalam Al-Quran yag terbukti benar setelah dibuktikan dengan sains dan teknologi modern.
      Al-Quran surah Yunus, surah ke-10 ayat 5 menyatakan bahwa cahaya matahari bersumber dari dirinya sendiri, sedangkan sinar bulan adalah pantulan dari cahaya matahari.

هُوَ الَّذِي جَعَلَ الشَّمْسَ ضِيَاءً وَالْقَمَرَ نُورًا وَقَدَّرَهُ مَنَازِلَ لِتَعْلَمُوا عَدَدَ السِّنِينَ وَالْحِسَابَ ۚ مَا خَلَقَ اللَّهُ ذَٰلِكَ إِلَّا بِالْحَقِّ ۚ يُفَصِّلُ الْآيَاتِ لِقَوْمٍ يَعْلَمُونَ

      “Dia Allah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya dan ditetapkan-Nya manzilah-manzilah (tempat-tempat) bagi perjalanan bulan itu, supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu). Allah tidak menciptakan yang demikian itu melainkan dengan hak. Dia menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya) kepada orang-orang yang mengetahui”.
      Al-Quran surah Al-Baqarah, surah ke-2 ayat 223 menyatakan bahwa jenis kelamin bayi ditentukan oleh sperma pria, sedangkan wanita sekadar mengandungnya,  karena wanita hanya bagaikan “ladang”.

نِسَاؤُكُمْ حَرْثٌ لَكُمْ فَأْتُوا حَرْثَكُمْ أَنَّىٰ شِئْتُمْ ۖ وَقَدِّمُوا لِأَنْفُسِكُمْ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ وَاعْلَمُوا أَنَّكُمْ مُلَاقُوهُ ۗ وَبَشِّرِ الْمُؤْمِنِينَ

      “Istri-istrimu adalah (seperti) tanah tempat kamu bercocok-tanam, maka datangilah tanah tempat bercocok-tanammu itu bagaimana saja kamu kehendaki. Dan kerjakanlah (amal yang baik) untuk dirimu, dan bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa kamu kelak akan menemui-Nya. Dan berilah kabar gembira orang-orang yang beriman”.
     Dan masih banyak lagi lainnya yang semuanya baru diketahui belakangan ini, maka dari manakah Nabi Muhammad mengetahuinya kalau bukan dari Allah Yang Maha Mengetahui?
     Semua aspek tersebut memberikan bukti bahwa petunjuk dan pedoman yang disampaikan oleh Al-Quran adalah pasti benar, sehingga dengan demikian manusia yakin dan secara tulus ikhlas mengamalkan petunjuk dalam Al-Quran.
Daftar Pustaka
1. Shihab, M.Quraish. Lentera Hati. Kisah dan Hikmah Kehidupan. Penerbit Mizan, 1994.   
2. Shihab, M. Quraish Shihab. Wawasan Al-Quran. Tafsir Maudhui atas Perbagai Persoalan Umat. Penerbit Mizan, 2009.
3. Shihab, M.Quraish. E-book Membumikan Al-Quran.
4. Al-Quran Digital, Versi 3.2. Digital Qur’an Ver 3.2
5. Tafsirq.com online.       
6.

463. BUKTI 2

BUKTI KEBENARAN AL-QURAN
(Seri ke-2)
Oleh: Drs. H. M. Yusron Hadi, M.M.


       Beberapa orang bertanya,”Mohon dijelaskan tentang “Bukti kebenaran Al-Quran?” Profesor Quraish Shihab menjelaskannya
      Para ulama memberikan contoh tentang keseimbangan ayat-ayat  Al-Quran, yang dapat kita simpulkan berikut ini.
      Pertama, keseimbangan antara jumlah bilangan kata dengan antonimnya (lawan kata).
      Kata “Al-hayah” (hidup) dan kata “al-maut” (mati) masing-masing sebanyak 145 kali; kata “Al-naf” (manfaat) dan kata “al-madharrah” (mudarat) masing-masing sebanyak 50 kali;  kata “Al-har” (panas) dan “al-bard” (dingin) masing-masing 4 kali;  kata “Al-shalihat” (kebajikan) dan “al-sayyi'at” (keburukan) masing-masing 167 kali.
      Kata “Al-Thumaninah” (kelapangan / ketenangan) dan “al-dhiq” (kesempitan / kekesalan) masing-masing 13 kali;  kata “Al-rahbah” (cemas / takut) dan “al-raghbah” (harap / ingin) masing-masing 8 kali;  kata “Al-kufr” (kekufuran) dan kata “al-iman” (iman) dalam bentuk definite masing-masing 17 kali.
      Kata “Kufr” (kekufuran) dan kata “ima”n (iman) dalam bentuk indifinite masing-masing 8 kali;  dan kata “Al-shayf” (musim panas) dan “al-syita” (musim dingin) masing-masing 1 kali. 
      Kedua, keseimbangan jumlah bilangan kata dengan sinonimnya / makna yang dikandungnya.
      Kata “Al-harts” dan kata “al-zira'ah” (membajak/bertani) masing-masing 14 kali;  kata “Al-'ushb” dan kata “al-dhurur” (membanggakan diri/angkuh) masing-masing 27 kali; kata “Al-dhallun” dan kata “al-mauta” (orang sesat/mati [jiwanya]) masing-masing 17 kali; 
      Kata “Al-Qur'an”, kata “al-wahyu” dan kata “Al-Islam” (Al-Quran, wahyu dan Islam)masing-masing 70 kali;  kata “Al-aql” kata “al-nur” (akal dan cahaya) masing-masing 49 kali;  dan kata “Al-jahr” dan kata “al-'alaniyah” (nyata) masing-masing 16 kali. 
      Ketiga, keseimbangan antara jumlah bilangan kata dengan jumlah kata yang menunjuk kepada akibatnya.
      Kata “Al-infaq” (infak) dengan kata “al-ridha” (kerelaan) masing-masing 73 kali;  kata “Al-bukhl” (kekikiran) dengan kata “al-hasarah” (penyesalan) masing-masing 12 kali; kata “Al-kafirun” (orang-orang kafir) dengan kata “al-nar” / ”al-ahraq” (neraka / pembakaran) masing-masing 154 kali.
      Kata “Al-zakah” (zakat / penyucian) dengan kata “al-barakat” (kebajikan yang banyak) masing-masing 32 kali; dan kata “Al-fahisyah” (kekejian) dengan kata “al-ghadhb” (murka) masing-masing 26 kali. 
      Keempat, keseimbangan antara jumlah bilangan kata dengan kata penyebabnya.
      Kata “Al-israf” (pemborosan) dengan “al-sur'ah” (ketergesa-gesaan) masing-masing 23 kali; kata “Al-mau'izhah” (nasihat/petuah) dengan “al-lisan” (lidah) masing-masing 25 kali;  kata “Al-asra” (tawanan) dengan “al-harb’ (perang) masing-masing 6 kali;  • dan kata “Al-salam” (kedamaian) dengan “al-thayyibat” (kebajikan) masing-masing 60 kali. 
      Kelima, keseimbangan yang khusus.
(a) Kata “yaum” (hari) dalam bentuk tunggal sejumlah 365 kali, sebanyak hari-hari dalam setahun, sedangkan kata hari yang menunjuk kepada bentuk plural “ayyam” atau dua “yaumaini”, jumlah keseluruhannya hanya 30 kali, sama dengan jumlah hari dalam sebulan, serta kata yang berarti “syahr” (bulan) hanya terdapat 12 kali, sama dengan jumlah bulan dalam setahun. 
(b) Al-Quran menjelaskan bahwa langit ada 7 lapis, dan penjelasan ini diulanginya sebanyak 7 kali pula, yakni dalam ayat-ayat Al-Baqarah (2:29), Al-Isra'(17: 44), Al-Mukminun (23:86), Fushshilat (41:12), At-Thalaq (65:12), Al-Mulk (67: 3), dan Nuh (71:15). Penjelasan tentang terciptanya langit dan bumi dalam enam hari dinyatakan pula dalam 7 ayat.
(c) Kata-kata yang menunjuk kepada utusan Tuhan, yaitu “Rasul” (rasul), atau “nabiy” (nabi), atau “basyir” (pembawa berita gembira) atau “nadzir” (pemberi peringatan) keseluruhannya berjumlah 518 kali, dengan jumlah ini seimbang dengan jumlah penyebutan nama-nama nabi, rasul dan pembawa berita tersebut, yaitu 518 kali.
Pemberitaan gaib dalam Al-Quran ternyata terbukti benar.  
Al-Quran surah Yunus, surah ke-10 ayat  92 pemberitaan gaib dalam Al-Quran ternyata benar.

فَالْيَوْمَ نُنَجِّيكَ بِبَدَنِكَ لِتَكُونَ لِمَنْ خَلْفَكَ آيَةً ۚ وَإِنَّ كَثِيرًا مِنَ النَّاسِ عَنْ آيَاتِنَا لَغَافِلُونَ
     
      “Maka pada hari ini Kami selamatkan badanmu (Firaun) supaya kamu dapat menjadi pelajaran bagi orang-orang yang datang sesudahmu dan sesungguhnya kebanyakan dari manusia lengah dari tanda-tanda kekuasaan Kami”.
      Al-Quran surah Yunus, surah ke-10 ayat 92 menyatakan badan Firaun akan diselamatkan untuk pelajaran bagi generasi berikutnya, karena sebelumnya tidak seorang pun yang mengetahui hal tersebut, karena peristiwanya telah terjadi sekitar 1200 tahun Sebelum Masehi, dan pada tahun 1896 Masehi, ahli purbakala Loret menemukan sebuah mumi di Lembah Raja Luxor Mesir, yang dari data-data sejarah terbukti bahwa itu adalah Fir'aun yang bernama Maniptah yang pernah mengejar Nabi Musa.
     Pada tanggal 8 Juli 1908, Elliot Smith mendapatkan izin dari pemerintah Mesir untuk membuka pembalut tubuh Fir'aun itu, dan ternyata yang ditemukannya adalah satu jasad utuh, seperti yang diberitakan oleh Al-Quran melalui Nabi yang “ummi” (yang tidak pandai membaca dan menulis).
     Setiap orang yang pernah berkunjung ke Museum Kairo, akan dapat melihat Fir'aun tersebut, dan masih banyak ragam dan peristiwa gaib yang telah diungkapkan Al-Quran yang belum mungkin ditampilkan dalam tulisan ini. 
      Isyarat ilmiah dalam Al-Quran yag terbukti benar setelah dibuktikan dengan sains dan teknologi modern.
      Al-Quran surah Yunus, surah ke-10 ayat 5 menyatakan bahwa cahaya matahari bersumber dari dirinya sendiri, sedangkan sinar bulan adalah pantulan dari cahaya matahari.

هُوَ الَّذِي جَعَلَ الشَّمْسَ ضِيَاءً وَالْقَمَرَ نُورًا وَقَدَّرَهُ مَنَازِلَ لِتَعْلَمُوا عَدَدَ السِّنِينَ وَالْحِسَابَ ۚ مَا خَلَقَ اللَّهُ ذَٰلِكَ إِلَّا بِالْحَقِّ ۚ يُفَصِّلُ الْآيَاتِ لِقَوْمٍ يَعْلَمُونَ

      “Dia Allah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya dan ditetapkan-Nya manzilah-manzilah (tempat-tempat) bagi perjalanan bulan itu, supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu). Allah tidak menciptakan yang demikian itu melainkan dengan hak. Dia menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya) kepada orang-orang yang mengetahui”.
      Al-Quran surah Al-Baqarah, surah ke-2 ayat 223 menyatakan bahwa jenis kelamin bayi ditentukan oleh sperma pria, sedangkan wanita sekadar mengandungnya,  karena wanita hanya bagaikan “ladang”.

نِسَاؤُكُمْ حَرْثٌ لَكُمْ فَأْتُوا حَرْثَكُمْ أَنَّىٰ شِئْتُمْ ۖ وَقَدِّمُوا لِأَنْفُسِكُمْ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ وَاعْلَمُوا أَنَّكُمْ مُلَاقُوهُ ۗ وَبَشِّرِ الْمُؤْمِنِينَ

      “Istri-istrimu adalah (seperti) tanah tempat kamu bercocok-tanam, maka datangilah tanah tempat bercocok-tanammu itu bagaimana saja kamu kehendaki. Dan kerjakanlah (amal yang baik) untuk dirimu, dan bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa kamu kelak akan menemui-Nya. Dan berilah kabar gembira orang-orang yang beriman”.
     Dan masih banyak lagi lainnya yang semuanya baru diketahui belakangan ini, maka dari manakah Nabi Muhammad mengetahuinya kalau bukan dari Allah Yang Maha Mengetahui?
     Semua aspek tersebut memberikan bukti bahwa petunjuk dan pedoman yang disampaikan oleh Al-Quran adalah pasti benar, sehingga dengan demikian manusia yakin dan secara tulus ikhlas mengamalkan petunjuk dalam Al-Quran.
Daftar Pustaka
1. Shihab, M.Quraish. Lentera Hati. Kisah dan Hikmah Kehidupan. Penerbit Mizan, 1994.   
2. Shihab, M. Quraish Shihab. Wawasan Al-Quran. Tafsir Maudhui atas Perbagai Persoalan Umat. Penerbit Mizan, 2009.
3. Shihab, M.Quraish. E-book Membumikan Al-Quran.
4. Al-Quran Digital, Versi 3.2. Digital Qur’an Ver 3.2
5. Tafsirq.com online.       
6.

463. BUKTI 2

BUKTI KEBENARAN AL-QURAN
(Seri ke-2)
Oleh: Drs. H. M. Yusron Hadi, M.M.


       Beberapa orang bertanya,”Mohon dijelaskan tentang “Bukti kebenaran Al-Quran?” Profesor Quraish Shihab menjelaskannya
      Para ulama memberikan contoh tentang keseimbangan ayat-ayat  Al-Quran, yang dapat kita simpulkan berikut ini.
      Pertama, keseimbangan antara jumlah bilangan kata dengan antonimnya (lawan kata).
      Kata “Al-hayah” (hidup) dan kata “al-maut” (mati) masing-masing sebanyak 145 kali; kata “Al-naf” (manfaat) dan kata “al-madharrah” (mudarat) masing-masing sebanyak 50 kali;  kata “Al-har” (panas) dan “al-bard” (dingin) masing-masing 4 kali;  kata “Al-shalihat” (kebajikan) dan “al-sayyi'at” (keburukan) masing-masing 167 kali.
      Kata “Al-Thumaninah” (kelapangan / ketenangan) dan “al-dhiq” (kesempitan / kekesalan) masing-masing 13 kali;  kata “Al-rahbah” (cemas / takut) dan “al-raghbah” (harap / ingin) masing-masing 8 kali;  kata “Al-kufr” (kekufuran) dan kata “al-iman” (iman) dalam bentuk definite masing-masing 17 kali.
      Kata “Kufr” (kekufuran) dan kata “ima”n (iman) dalam bentuk indifinite masing-masing 8 kali;  dan kata “Al-shayf” (musim panas) dan “al-syita” (musim dingin) masing-masing 1 kali. 
      Kedua, keseimbangan jumlah bilangan kata dengan sinonimnya / makna yang dikandungnya.
      Kata “Al-harts” dan kata “al-zira'ah” (membajak/bertani) masing-masing 14 kali;  kata “Al-'ushb” dan kata “al-dhurur” (membanggakan diri/angkuh) masing-masing 27 kali; kata “Al-dhallun” dan kata “al-mauta” (orang sesat/mati [jiwanya]) masing-masing 17 kali; 
      Kata “Al-Qur'an”, kata “al-wahyu” dan kata “Al-Islam” (Al-Quran, wahyu dan Islam)masing-masing 70 kali;  kata “Al-aql” kata “al-nur” (akal dan cahaya) masing-masing 49 kali;  dan kata “Al-jahr” dan kata “al-'alaniyah” (nyata) masing-masing 16 kali. 
      Ketiga, keseimbangan antara jumlah bilangan kata dengan jumlah kata yang menunjuk kepada akibatnya.
      Kata “Al-infaq” (infak) dengan kata “al-ridha” (kerelaan) masing-masing 73 kali;  kata “Al-bukhl” (kekikiran) dengan kata “al-hasarah” (penyesalan) masing-masing 12 kali; kata “Al-kafirun” (orang-orang kafir) dengan kata “al-nar” / ”al-ahraq” (neraka / pembakaran) masing-masing 154 kali.
      Kata “Al-zakah” (zakat / penyucian) dengan kata “al-barakat” (kebajikan yang banyak) masing-masing 32 kali; dan kata “Al-fahisyah” (kekejian) dengan kata “al-ghadhb” (murka) masing-masing 26 kali. 
      Keempat, keseimbangan antara jumlah bilangan kata dengan kata penyebabnya.
      Kata “Al-israf” (pemborosan) dengan “al-sur'ah” (ketergesa-gesaan) masing-masing 23 kali; kata “Al-mau'izhah” (nasihat/petuah) dengan “al-lisan” (lidah) masing-masing 25 kali;  kata “Al-asra” (tawanan) dengan “al-harb’ (perang) masing-masing 6 kali;  • dan kata “Al-salam” (kedamaian) dengan “al-thayyibat” (kebajikan) masing-masing 60 kali. 
      Kelima, keseimbangan yang khusus.
(a) Kata “yaum” (hari) dalam bentuk tunggal sejumlah 365 kali, sebanyak hari-hari dalam setahun, sedangkan kata hari yang menunjuk kepada bentuk plural “ayyam” atau dua “yaumaini”, jumlah keseluruhannya hanya 30 kali, sama dengan jumlah hari dalam sebulan, serta kata yang berarti “syahr” (bulan) hanya terdapat 12 kali, sama dengan jumlah bulan dalam setahun. 
(b) Al-Quran menjelaskan bahwa langit ada 7 lapis, dan penjelasan ini diulanginya sebanyak 7 kali pula, yakni dalam ayat-ayat Al-Baqarah (2:29), Al-Isra'(17: 44), Al-Mukminun (23:86), Fushshilat (41:12), At-Thalaq (65:12), Al-Mulk (67: 3), dan Nuh (71:15). Penjelasan tentang terciptanya langit dan bumi dalam enam hari dinyatakan pula dalam 7 ayat.
(c) Kata-kata yang menunjuk kepada utusan Tuhan, yaitu “Rasul” (rasul), atau “nabiy” (nabi), atau “basyir” (pembawa berita gembira) atau “nadzir” (pemberi peringatan) keseluruhannya berjumlah 518 kali, dengan jumlah ini seimbang dengan jumlah penyebutan nama-nama nabi, rasul dan pembawa berita tersebut, yaitu 518 kali.
Pemberitaan gaib dalam Al-Quran ternyata terbukti benar.  
Al-Quran surah Yunus, surah ke-10 ayat  92 pemberitaan gaib dalam Al-Quran ternyata benar.

فَالْيَوْمَ نُنَجِّيكَ بِبَدَنِكَ لِتَكُونَ لِمَنْ خَلْفَكَ آيَةً ۚ وَإِنَّ كَثِيرًا مِنَ النَّاسِ عَنْ آيَاتِنَا لَغَافِلُونَ
     
      “Maka pada hari ini Kami selamatkan badanmu (Firaun) supaya kamu dapat menjadi pelajaran bagi orang-orang yang datang sesudahmu dan sesungguhnya kebanyakan dari manusia lengah dari tanda-tanda kekuasaan Kami”.
      Al-Quran surah Yunus, surah ke-10 ayat 92 menyatakan badan Firaun akan diselamatkan untuk pelajaran bagi generasi berikutnya, karena sebelumnya tidak seorang pun yang mengetahui hal tersebut, karena peristiwanya telah terjadi sekitar 1200 tahun Sebelum Masehi, dan pada tahun 1896 Masehi, ahli purbakala Loret menemukan sebuah mumi di Lembah Raja Luxor Mesir, yang dari data-data sejarah terbukti bahwa itu adalah Fir'aun yang bernama Maniptah yang pernah mengejar Nabi Musa.
     Pada tanggal 8 Juli 1908, Elliot Smith mendapatkan izin dari pemerintah Mesir untuk membuka pembalut tubuh Fir'aun itu, dan ternyata yang ditemukannya adalah satu jasad utuh, seperti yang diberitakan oleh Al-Quran melalui Nabi yang “ummi” (yang tidak pandai membaca dan menulis).
     Setiap orang yang pernah berkunjung ke Museum Kairo, akan dapat melihat Fir'aun tersebut, dan masih banyak ragam dan peristiwa gaib yang telah diungkapkan Al-Quran yang belum mungkin ditampilkan dalam tulisan ini. 
      Isyarat ilmiah dalam Al-Quran yag terbukti benar setelah dibuktikan dengan sains dan teknologi modern.
      Al-Quran surah Yunus, surah ke-10 ayat 5 menyatakan bahwa cahaya matahari bersumber dari dirinya sendiri, sedangkan sinar bulan adalah pantulan dari cahaya matahari.

هُوَ الَّذِي جَعَلَ الشَّمْسَ ضِيَاءً وَالْقَمَرَ نُورًا وَقَدَّرَهُ مَنَازِلَ لِتَعْلَمُوا عَدَدَ السِّنِينَ وَالْحِسَابَ ۚ مَا خَلَقَ اللَّهُ ذَٰلِكَ إِلَّا بِالْحَقِّ ۚ يُفَصِّلُ الْآيَاتِ لِقَوْمٍ يَعْلَمُونَ

      “Dia Allah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya dan ditetapkan-Nya manzilah-manzilah (tempat-tempat) bagi perjalanan bulan itu, supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu). Allah tidak menciptakan yang demikian itu melainkan dengan hak. Dia menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya) kepada orang-orang yang mengetahui”.
      Al-Quran surah Al-Baqarah, surah ke-2 ayat 223 menyatakan bahwa jenis kelamin bayi ditentukan oleh sperma pria, sedangkan wanita sekadar mengandungnya,  karena wanita hanya bagaikan “ladang”.

نِسَاؤُكُمْ حَرْثٌ لَكُمْ فَأْتُوا حَرْثَكُمْ أَنَّىٰ شِئْتُمْ ۖ وَقَدِّمُوا لِأَنْفُسِكُمْ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ وَاعْلَمُوا أَنَّكُمْ مُلَاقُوهُ ۗ وَبَشِّرِ الْمُؤْمِنِينَ

      “Istri-istrimu adalah (seperti) tanah tempat kamu bercocok-tanam, maka datangilah tanah tempat bercocok-tanammu itu bagaimana saja kamu kehendaki. Dan kerjakanlah (amal yang baik) untuk dirimu, dan bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa kamu kelak akan menemui-Nya. Dan berilah kabar gembira orang-orang yang beriman”.
     Dan masih banyak lagi lainnya yang semuanya baru diketahui belakangan ini, maka dari manakah Nabi Muhammad mengetahuinya kalau bukan dari Allah Yang Maha Mengetahui?
     Semua aspek tersebut memberikan bukti bahwa petunjuk dan pedoman yang disampaikan oleh Al-Quran adalah pasti benar, sehingga dengan demikian manusia yakin dan secara tulus ikhlas mengamalkan petunjuk dalam Al-Quran.
Daftar Pustaka
1. Shihab, M.Quraish. Lentera Hati. Kisah dan Hikmah Kehidupan. Penerbit Mizan, 1994.   
2. Shihab, M. Quraish Shihab. Wawasan Al-Quran. Tafsir Maudhui atas Perbagai Persoalan Umat. Penerbit Mizan, 2009.
3. Shihab, M.Quraish. E-book Membumikan Al-Quran.
4. Al-Quran Digital, Versi 3.2. Digital Qur’an Ver 3.2
5. Tafsirq.com online.       
6.

463. BUKTI 2

BUKTI KEBENARAN AL-QURAN
(Seri ke-2)
Oleh: Drs. H. M. Yusron Hadi, M.M.


       Beberapa orang bertanya,”Mohon dijelaskan tentang “Bukti kebenaran Al-Quran?” Profesor Quraish Shihab menjelaskannya
      Para ulama memberikan contoh tentang keseimbangan ayat-ayat  Al-Quran, yang dapat kita simpulkan berikut ini.
      Pertama, keseimbangan antara jumlah bilangan kata dengan antonimnya (lawan kata).
      Kata “Al-hayah” (hidup) dan kata “al-maut” (mati) masing-masing sebanyak 145 kali; kata “Al-naf” (manfaat) dan kata “al-madharrah” (mudarat) masing-masing sebanyak 50 kali;  kata “Al-har” (panas) dan “al-bard” (dingin) masing-masing 4 kali;  kata “Al-shalihat” (kebajikan) dan “al-sayyi'at” (keburukan) masing-masing 167 kali.
      Kata “Al-Thumaninah” (kelapangan / ketenangan) dan “al-dhiq” (kesempitan / kekesalan) masing-masing 13 kali;  kata “Al-rahbah” (cemas / takut) dan “al-raghbah” (harap / ingin) masing-masing 8 kali;  kata “Al-kufr” (kekufuran) dan kata “al-iman” (iman) dalam bentuk definite masing-masing 17 kali.
      Kata “Kufr” (kekufuran) dan kata “ima”n (iman) dalam bentuk indifinite masing-masing 8 kali;  dan kata “Al-shayf” (musim panas) dan “al-syita” (musim dingin) masing-masing 1 kali. 
      Kedua, keseimbangan jumlah bilangan kata dengan sinonimnya / makna yang dikandungnya.
      Kata “Al-harts” dan kata “al-zira'ah” (membajak/bertani) masing-masing 14 kali;  kata “Al-'ushb” dan kata “al-dhurur” (membanggakan diri/angkuh) masing-masing 27 kali; kata “Al-dhallun” dan kata “al-mauta” (orang sesat/mati [jiwanya]) masing-masing 17 kali; 
      Kata “Al-Qur'an”, kata “al-wahyu” dan kata “Al-Islam” (Al-Quran, wahyu dan Islam)masing-masing 70 kali;  kata “Al-aql” kata “al-nur” (akal dan cahaya) masing-masing 49 kali;  dan kata “Al-jahr” dan kata “al-'alaniyah” (nyata) masing-masing 16 kali. 
      Ketiga, keseimbangan antara jumlah bilangan kata dengan jumlah kata yang menunjuk kepada akibatnya.
      Kata “Al-infaq” (infak) dengan kata “al-ridha” (kerelaan) masing-masing 73 kali;  kata “Al-bukhl” (kekikiran) dengan kata “al-hasarah” (penyesalan) masing-masing 12 kali; kata “Al-kafirun” (orang-orang kafir) dengan kata “al-nar” / ”al-ahraq” (neraka / pembakaran) masing-masing 154 kali.
      Kata “Al-zakah” (zakat / penyucian) dengan kata “al-barakat” (kebajikan yang banyak) masing-masing 32 kali; dan kata “Al-fahisyah” (kekejian) dengan kata “al-ghadhb” (murka) masing-masing 26 kali. 
      Keempat, keseimbangan antara jumlah bilangan kata dengan kata penyebabnya.
      Kata “Al-israf” (pemborosan) dengan “al-sur'ah” (ketergesa-gesaan) masing-masing 23 kali; kata “Al-mau'izhah” (nasihat/petuah) dengan “al-lisan” (lidah) masing-masing 25 kali;  kata “Al-asra” (tawanan) dengan “al-harb’ (perang) masing-masing 6 kali;  • dan kata “Al-salam” (kedamaian) dengan “al-thayyibat” (kebajikan) masing-masing 60 kali. 
      Kelima, keseimbangan yang khusus.
(a) Kata “yaum” (hari) dalam bentuk tunggal sejumlah 365 kali, sebanyak hari-hari dalam setahun, sedangkan kata hari yang menunjuk kepada bentuk plural “ayyam” atau dua “yaumaini”, jumlah keseluruhannya hanya 30 kali, sama dengan jumlah hari dalam sebulan, serta kata yang berarti “syahr” (bulan) hanya terdapat 12 kali, sama dengan jumlah bulan dalam setahun. 
(b) Al-Quran menjelaskan bahwa langit ada 7 lapis, dan penjelasan ini diulanginya sebanyak 7 kali pula, yakni dalam ayat-ayat Al-Baqarah (2:29), Al-Isra'(17: 44), Al-Mukminun (23:86), Fushshilat (41:12), At-Thalaq (65:12), Al-Mulk (67: 3), dan Nuh (71:15). Penjelasan tentang terciptanya langit dan bumi dalam enam hari dinyatakan pula dalam 7 ayat.
(c) Kata-kata yang menunjuk kepada utusan Tuhan, yaitu “Rasul” (rasul), atau “nabiy” (nabi), atau “basyir” (pembawa berita gembira) atau “nadzir” (pemberi peringatan) keseluruhannya berjumlah 518 kali, dengan jumlah ini seimbang dengan jumlah penyebutan nama-nama nabi, rasul dan pembawa berita tersebut, yaitu 518 kali.
Pemberitaan gaib dalam Al-Quran ternyata terbukti benar.  
Al-Quran surah Yunus, surah ke-10 ayat  92 pemberitaan gaib dalam Al-Quran ternyata benar.

فَالْيَوْمَ نُنَجِّيكَ بِبَدَنِكَ لِتَكُونَ لِمَنْ خَلْفَكَ آيَةً ۚ وَإِنَّ كَثِيرًا مِنَ النَّاسِ عَنْ آيَاتِنَا لَغَافِلُونَ
     
      “Maka pada hari ini Kami selamatkan badanmu (Firaun) supaya kamu dapat menjadi pelajaran bagi orang-orang yang datang sesudahmu dan sesungguhnya kebanyakan dari manusia lengah dari tanda-tanda kekuasaan Kami”.
      Al-Quran surah Yunus, surah ke-10 ayat 92 menyatakan badan Firaun akan diselamatkan untuk pelajaran bagi generasi berikutnya, karena sebelumnya tidak seorang pun yang mengetahui hal tersebut, karena peristiwanya telah terjadi sekitar 1200 tahun Sebelum Masehi, dan pada tahun 1896 Masehi, ahli purbakala Loret menemukan sebuah mumi di Lembah Raja Luxor Mesir, yang dari data-data sejarah terbukti bahwa itu adalah Fir'aun yang bernama Maniptah yang pernah mengejar Nabi Musa.
     Pada tanggal 8 Juli 1908, Elliot Smith mendapatkan izin dari pemerintah Mesir untuk membuka pembalut tubuh Fir'aun itu, dan ternyata yang ditemukannya adalah satu jasad utuh, seperti yang diberitakan oleh Al-Quran melalui Nabi yang “ummi” (yang tidak pandai membaca dan menulis).
     Setiap orang yang pernah berkunjung ke Museum Kairo, akan dapat melihat Fir'aun tersebut, dan masih banyak ragam dan peristiwa gaib yang telah diungkapkan Al-Quran yang belum mungkin ditampilkan dalam tulisan ini. 
      Isyarat ilmiah dalam Al-Quran yag terbukti benar setelah dibuktikan dengan sains dan teknologi modern.
      Al-Quran surah Yunus, surah ke-10 ayat 5 menyatakan bahwa cahaya matahari bersumber dari dirinya sendiri, sedangkan sinar bulan adalah pantulan dari cahaya matahari.

هُوَ الَّذِي جَعَلَ الشَّمْسَ ضِيَاءً وَالْقَمَرَ نُورًا وَقَدَّرَهُ مَنَازِلَ لِتَعْلَمُوا عَدَدَ السِّنِينَ وَالْحِسَابَ ۚ مَا خَلَقَ اللَّهُ ذَٰلِكَ إِلَّا بِالْحَقِّ ۚ يُفَصِّلُ الْآيَاتِ لِقَوْمٍ يَعْلَمُونَ

      “Dia Allah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya dan ditetapkan-Nya manzilah-manzilah (tempat-tempat) bagi perjalanan bulan itu, supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu). Allah tidak menciptakan yang demikian itu melainkan dengan hak. Dia menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya) kepada orang-orang yang mengetahui”.
      Al-Quran surah Al-Baqarah, surah ke-2 ayat 223 menyatakan bahwa jenis kelamin bayi ditentukan oleh sperma pria, sedangkan wanita sekadar mengandungnya,  karena wanita hanya bagaikan “ladang”.

نِسَاؤُكُمْ حَرْثٌ لَكُمْ فَأْتُوا حَرْثَكُمْ أَنَّىٰ شِئْتُمْ ۖ وَقَدِّمُوا لِأَنْفُسِكُمْ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ وَاعْلَمُوا أَنَّكُمْ مُلَاقُوهُ ۗ وَبَشِّرِ الْمُؤْمِنِينَ

      “Istri-istrimu adalah (seperti) tanah tempat kamu bercocok-tanam, maka datangilah tanah tempat bercocok-tanammu itu bagaimana saja kamu kehendaki. Dan kerjakanlah (amal yang baik) untuk dirimu, dan bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa kamu kelak akan menemui-Nya. Dan berilah kabar gembira orang-orang yang beriman”.
     Dan masih banyak lagi lainnya yang semuanya baru diketahui belakangan ini, maka dari manakah Nabi Muhammad mengetahuinya kalau bukan dari Allah Yang Maha Mengetahui?
     Semua aspek tersebut memberikan bukti bahwa petunjuk dan pedoman yang disampaikan oleh Al-Quran adalah pasti benar, sehingga dengan demikian manusia yakin dan secara tulus ikhlas mengamalkan petunjuk dalam Al-Quran.
Daftar Pustaka
1. Shihab, M.Quraish. Lentera Hati. Kisah dan Hikmah Kehidupan. Penerbit Mizan, 1994.   
2. Shihab, M. Quraish Shihab. Wawasan Al-Quran. Tafsir Maudhui atas Perbagai Persoalan Umat. Penerbit Mizan, 2009.
3. Shihab, M.Quraish. E-book Membumikan Al-Quran.
4. Al-Quran Digital, Versi 3.2. Digital Qur’an Ver 3.2
5. Tafsirq.com online.       
6.